100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
724 tayangan44 halaman

Panduan Lengkap Aplikasi Plaxis 2D

Modul ini membahas alur penggunaan program Plaxis 2D untuk analisis geoteknik. Terdapat penjelasan tentang tampilan awal, interface, pembuatan geometri, material, dan contoh penyelesaian masalah perkuatan tanah, cerucuk, dan drainase.

Diunggah oleh

ccmkcbnmuarajambi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
724 tayangan44 halaman

Panduan Lengkap Aplikasi Plaxis 2D

Modul ini membahas alur penggunaan program Plaxis 2D untuk analisis geoteknik. Terdapat penjelasan tentang tampilan awal, interface, pembuatan geometri, material, dan contoh penyelesaian masalah perkuatan tanah, cerucuk, dan drainase.

Diunggah oleh

ccmkcbnmuarajambi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL ALUR

APLIKASI PLAXIS 2D

Disusun Oleh:
Wisnu Ari Pradana
DAFTAR ISI
1. Tampilan Awal Plaxis.......................................................................................................................................1
2. pop up setelah memilih “start a new project’...................................................................................................1
3. Interface Pengoperasian Layout Kerja Plaxis ..................................................................................................3
4. Pembuatan Geometri........................................................................................................................................4
4.1 Membuat Geometri Dari “Create Borehole”..........................................................................................4
4.2 Membuat Geometri Dari “Create Soil” ..................................................................................................5
4.3 Membuat Geometri Dengan “Import Soil” ............................................................................................8
5. Pembuatan Material ...................................................................................................................................... 10
6. Study Case #1 Perkuatan Geotextile Untuk Timbunan................................................................................. 11
6.1 Pembuatan Geometri Di Plaxis ............................................................................................................ 11
6.2 Membuat Material ................................................................................................................................ 14
6.3 Membuat beban diatas timbunan ......................................................................................................... 16
6.4 Tahapan Meshing ................................................................................................................................. 17
6.5 Kondisi Muka Air Tanah ...................................................................................................................... 18
6.6 Membuat “Phase” pada Staged Construction....................................................................................... 19
6.7 Output Grafik ....................................................................................................................................... 21
7. Study Case #2 Perkuatan Cerucuk Untuk Timbunan .................................................................................... 24
7.1 Membuat file model geometri untuk perkuatan cerucuk ..................................................................... 24
7.2 Membuat material Cerucuk .................................................................................................................. 24
7.3 Material Cerucuk.................................................................................................................................. 25
7.4 Meshing................................................................................................................................................ 27
7.5 Staged Construction ............................................................................................................................. 28
7.6 Output................................................................................................................................................... 29
8. Study Case #3 Perbaikan Tanah Dasar dengan Drains ................................................................................. 30
8.1 Membuat geometri ............................................................................................................................... 30
8.2 Membuat Material ................................................................................................................................ 31
8.3 Memodelkan “drain” sebagai percepatan konsolidasi. ........................................................................ 33
8.4 Meshing Geometri................................................................................................................................ 33
8.5 Flow Conditions ................................................................................................................................... 34
8.6 Staged Construction ............................................................................................................................. 35

Halaman | ii
1. Tampilan Awal Plaxis
Pada tampilan awal setelah program dibuka akan menampilkan opsi untuk
a) membuat project baru dengan opsi : start a new project
b) atau membuka project yang sudah dibuat sebelumnya dengan opsi : open an existing project

2. pop up setelah memilih “start a new project’


akan muncul “project properties” yang menampilkan 3 tab bar yaitu “Project” , “Model” , dan
“Constants”. Pada tab Project ada beberapa kolom yang dapat diisi untuk keperluan kop dan bisa
disetting untuk default sehingga tidak perlu melakukan setting setiap membuka dan membuat
project baru dengan cara menchecklist kolom “set as default” , isi dari tab “project” adalah
meliputi :
a) title : untuk Judul Project
b) Company : nama perusahaan/instansi yang mengerjakan
c) Directory : Tempat file disimpan
d) File name : nama file plaxis
e) Comments : untuk memberikan kolom catatan terhadap file
f) Company logo : ruang untuk menempatkan logo perusahaan / instansi kita.

Halaman | 1
Sedangkan pada tab “model” akan berisi tentang pengaturan satuan yang akan digunakan meliputi
“Type”, “ Units” , dan “Contour”. Masing-masing penjelasannya adalah :
a) Untuk bagian “type” akan menjelaskan model yang kita buat apakah dominan ke “plane
strain” yaitu bagian yang membutuhkan interface dari potongan atau dominan ke
“axisymmetry” yaitu bagian yang membutuhkan interface dari tampak atas. selain itu juga
ada elements yang isinya adalah node dari penggambaran nantinya.
b) Untuk bagian “units” akan berpengaruh terhadap satuan yang digunakan untuk area kerja kita
nantinya dari panjang, gaya, waktu, berat jenis, tegangan, dan berat.
c) Untuk bagian “contour” merupakan batas layout kerja kita.

Dan pada tab “constants” akan berisi tentang berat jenis dari air “water” dan es “ice”, ditambah
lagi ada juga percepatan gravitasi, dimana nilai-nilai ini disarankan untuk default dari plaxis.

Halaman | 2
3. Interface Pengoperasian Layout Kerja Plaxis
Tampilan awal setelah mengklik “Ok” pada project properties dapat dilihat seperti gambar
dibawah.

a
b f
c h
g
d

ada beberapa bagian penting pada tampilan pertama yaitu :


a) Toolbar
Pada toolbar terdapat beberapa perintah yang terdiri dari “file” , “edit” , “soil” , “options” ,
“expert” , dan “help”.
b) Task
Sedangkan dibawah toolbar ada task yang bisa digunakan seperti membuat file baru, membuka
file, menyimpan file, undo, redo, zoom in, zoom out, dan move.
c) Prosedur kerja plaxis
Kemudian dibawahnya lagi adalah urutan penggunaan software plaxis yaitu dari pembuatan “soil
: pembuatan material dan geometri tanah”, “structure : menggambar perkuatan dan beban” ,
“mesh : untuk mengatur pembagian pias dari geometri” , “ flow conditions : menggambar muka
air tanah” , dan “staged construction : adalah bagian untuk memperhitungkan geometri yang
sudah dibuat”.
d) Selection explorer
Bagian untuk melakukan pengeditan terhadap geometri atau material yang dipilih dari layout
kerja akan muncul disini.
e) Model explorer
Sedangkan model explorer adalah untuk melakukan pengeditan berdasarkan kategori geometri /
material / perkuatan yang sudah kita buat.
f) Coordinates
Pada bagian coordinates berfungsi untuk mengetahui coordinates dari kursor kita waktu di layout
kerja, selain itu juga ada beberapa tools seperti rules untuk menampilkan penggaris disamping
layout kerja, origin untuk menampilkan axis awal, crosshair untuk menampilkan kursor bantu,
Halaman | 3
snap to object untuk membantu snap ke object, snap to grid untuk membantu cursor snap
terhadap grid, dan grid untuk menampilkan grid di area layout kerja, ditambah 1 perintah untuk
mengatur grid yaitu di simbol setelah grid.
g) Command line
Bagian ini berfungsi sebagai media untuk mengetahui langkah apa saja yang telah dilakukan per
step by step.
h) Layout kerja
Ini adalah interface dari lembar kerja yang digunakan untuk menggambar, menginput, hingga
melakukan output dari program Plaxis.
4. Pembuatan Geometri
Dalam pembuatan geometri di plaxis, terdapat 3 metode yang dapat diterapkan yaitu membuat
dari “create borehole”, membuat dari “create soil”, dan membuat dari “import soil”. Masing-
masing penjelasan dari cara pembuatannya dapat dilihat pada dibawah ini :
4.1 Membuat Geometri Dari “Create Borehole”
1. Pilih opsi seperti gambar

2. Tentukan koordinat letak borehole

3. Akan muncul pop up seperti gambar dibawah, lanjutkan dengan menambahkan “add” untuk tiap
lapisan yang ingin dibuat dan tambahkan muka air tanah pada opsi “head” disamping kiri
tampilan.

Halaman | 4
4. Pada contoh yang diberikan, adalah 3 lapisan tanah dengan masing-masing lapisan adalah 3
meter dan muka air tanah adalah -1.00m. jika sudah dibuat material tanah bisa diaplikasikan pada
opsi “material”.

5. Hasil dari pembuatan geometri menggunakan “create borehole” dapat dilihat pada gambar
dibawah ini dimana batas kanan kiri tergantung pada project properties yang dibuat pada
tampilan awal sebelumnya.

4.2 Membuat Geometri Dari “Create Soil”


1. Pindahlah tab task ke “structure” untuk memulai membuat geometri tanah yang diinginkan
menggunakan fitur “create soil”.

Halaman | 5
2. Pilih tools “create soil” yang ada, lalu akan muncul banyak opsi.

3. Perintah “create soil polygon” adalah untuk membuat geometri dengan bentuk yang tidak
beraturan sesuai dengan koordinat dan jarak yang kita inginkan. Namun harus diperhatikan untuk
membuat suatu area geometri maka masing-masing bagian harus tertutup satu sama lain. Contoh
dari pembuatan geometri menggunakan “create soil polygon” dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

4. Sedangkan perintah “create soil rectangle” adalah untuk membuat geometri secara beraturan
berbentuk rectangle.

Halaman | 6
5. Sedangkan untuk opsi “follow contour” digunakan untuk menyambungkan dua geometri yang
terpisah (merge).

6. Sebaliknya, fitur “cut polygon” digunakan untuk memotong geometri yang sudah dibuat
sebelumnya.

7. Dan fitur masing-masing dibawahnya sama namun hanya untuk membuat point atau garis
sebagai alat bantu sesuai yang kita inginkan.

Halaman | 7
4.3 Membuat Geometri Dengan “Import Soil”
1. Langkah pertama yang harus dibuat adalah membuat geometri di program Autocad, dalam
contoh ini dapat dilihat pada gambar dibawah.

2. Setelah penggambaran selesai, dilanjutkan dengan membuat perintah boundary creation dan
mengganti opsi “polyline” menjadi “region”.

3. Dilanjutkan dengan melakukan boundaries pada masing-masing area geometri yang sudah
dibuat.

Halaman | 8
4. Kemudian dilanjutkan dengan “Save as” sebagai file Dxf. Setelah itu buka program plaxis pilih
fitur opsi “import soil” dan ganti format menjadi Dxf. Lalu cari file yang tadi sudah disimpan
dan pilih oke, maka akan muncul pop up seperti dibawah ini.

5. Pilih saja “Ok” maka akan selesai untuk membuat geometri yang diimport dari autocad.

Halaman | 9
5. Pembuatan Material
a) Pilihlah opsi “show material”

b) Maka akan terbuka pop up seperti digambar bawah ini, untuk membuat material disesuaikan
dengan kategori seperti material tanah, tiang, geotextile, atau yang lainnya.

c) Dicontohkan untuk membuat material tanah pilihlah opsi “soil and interfaces” lalu klik
“New” pada bagian bawah. Dilanjutkan dengan memberi nama lapisan seperti lapisan ke
berapa dan kedalaman berapa.

Halaman | 10
d) Lanjutkan dengan pengisian nilai-nilai yang dibutuhkan baik dari pengujian laboratorium
ataupun hasil korelasi seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya.

6. Study Case #1 Perkuatan Geotextile Untuk Timbunan


Geometri perkuatan geotextile untuk timbunan dapat dilihat pada gambar dibawah ini,
selanjutnya akan dimodelkan menggunakan “create borehole” pada plaxis.

6.1 Pembuatan Geometri Di Plaxis


1. Setting project properties untuk “x max” sebesar 50m

Halaman | 11
2. Pilih opsi “create borehole” dan letakan cursor di coordinat “0,0”

3. Sesuaikan isi seperti gambar dibawah ini untuk lapisan dan masing-masing kedalaman

4. Untuk tanah timbunan, dapat dibuat menggunakan fitur “create soil rectangle”

5. Lalu klik pada tanah timbunan, pada kota toolbar sebelah kanan “selection explorer” ubah
coordinat bagian ujung bawah dari timbunan sesuai dengan yang diinginkan.

Halaman | 12
6. Memotong timbunan per 1.00 meter untuk timbunan bertahap dapat dilakukan dengan cara
memilih fitur “cut polygon” per 1.00 meter sesuai koordinatnya.

7. Membuat geotextile perlapisan timbunan, dengan cara memilih fitur dengan simbol dibawah ini.

Halaman | 13
8. Lalu diaplikasikan di lapisan timbunan yang sudah dipotong pada langkah sebelumnya.

6.2 Membuat Material


Lapisan
Parameter Tanah Nama Lapisan 2 Lapisan 3 Satuan
Lapisan 1 (Soft) (Medium) (Hard) Embankment

Model Material Model Mohr- Coloumb Mohr- Coloumb Mohr- Coloumb Mohr - Coloumb -
Jenis Perilaku Jenis Undrained (A) Undrained (A) Undrained (A) Drained -
Berat isi tanah diatas garis freatik ꝩ unsat 14.00 16.00 18.00 16.00 kN/m 3
Berat isi tanah dibawah garis freatik ꝩ sat 16.00 18.00 20.00 18.00 kN/m 3
Permeabilitas arah horizontal kx 0.000864 0.000864 0.000864 0.00864 m/hari
Permeabilitas arah vertikal ky 0.000864 0.000864 0.000864 0.00864 m/hari
Modulus Young E ref 20000 30000 50000 25000 kN/m 2
Angka Poisson v 0.4 0.4 0.1 0.3 -
Kohesi cref 15.0 25.0 50.0 20.0 kN/m 2
Sudut geser ɸ 4.0 10.0 15.0 5.0 °
Sudut dilatasi Ψ 0 0 0 0 °

Halaman | 14
1. Pilih fitur “show material” jika sudah pada pilihan “soil and interfaces” maka bisa dilanjutkan
dengan fitur material “new” untuk membuat data baru.

2. Lengkapi sesuai tabel diatas hingga semua lapisan dan timbunan sudah dibuat seperti gambar
dibawah ini. Jika lapisan tanah sudah selesai dibuat, dilanjutkan dengan fitur pembuatan
geotextile, yaitu dengan mengganti opsi “soil and interfaces” menjadi “geogrids” dan klik “new”
untuk membuat materialnya.

3. Geotextile yang direncanakan merupakan produk dari UnggulTex tipe “UW 250”, dengan
properties kekuatan “tensile strength” sebesar 52 kN/m. maka pada opsi EA1 dan EA2 diisi
dengan 52 kN/m.
Halaman | 15
4. Jika sudah selesai dibuat semua materialnya, maka bisa dilakukan drag & drop sesuai dengan
lapisan yang sudah dibuat.

6.3 Membuat beban diatas timbunan


1. Gunakan fitur “create load” lalu pilih yang “line load”

2. Lalu mulai terapkan pada atas timbunan dari ujung ke ujung seperti gambar dibawah ini.
Dilanjutkan dengan mengisi pada opsi “selection explorer” bagian “line load : Iq startref” sebesar
27kN/m/m (dengan asumsi beban perkerasan adalah 12 kN/m dan beban lalu lintas adalah 15
kN/m)

Halaman | 16
6.4 Tahapan Meshing
1. pilih opsi “generate mesh” dengan simbol seperti dibawah ini.

2. kemudian akan muncul pop up dengan opsi untuk memilih membagi hasil meshing seperti apa.
(perlu diketahui bahwa semakin bagus atau semakin kecil hasil mesh yang dipilih maka akan
berpengaruh pada waktu processing hasilnya, maka disarankan untuk menggunakan opsi
“medium” saja).

3. pilih fitur dengan simbol seperti dibawah ini untuk melihat hasil meshing.

4. maka akan muncul hasil meshing sesuai dengan yang kita pilih dan jika sudah lalu pilih “close”
untuk menutup.

Halaman | 17
5. dilanjutkan dengan memilih fitur “select point for curves” dengan logo dibawah ini. Dan
tempatkan pada ujung dari timbunan untuk mendapatkan arah longsoran yang diinginkan.

6. hasil dari curves yang dipilih dapat dilihat seperti gambar dibawah ini, dilanjutkan dengan klik
“update” untuk menutupnya.

6.5 Kondisi Muka Air Tanah


1. pada tab “flow conditions” kita tidak perlu menggambar muka air tanah lagi dikarenakan sudah
didefinisikan pada saat menggambarkan borehole sebelumnya.

Halaman | 18
6.6 Membuat “Phase” pada Staged Construction
1. klik 2x di pojok kanan pada “initial phase”, maka akan terbuka pop up seperti dibawah ini.

2. di tutorial akan dibuatkan perbandingan angka keamanan untuk kestabilan lereng kondisi existing
dan setelah dipasang geotextile dengan timbunan bertahap. Maka akan dibuat untuk kondisi
existing dulu seperti dibawah ini.

3. Setelah kondisi existing dibuat, maka dilanjutkan dengan pembuatan kondisi setelah dipasang
geotextile.

Halaman | 19
4. Jika sudah dibuat semua phase yang dibutuhkan maka dilanjutkan dengan running dengan fitur
“calculate” dengan simbol seperti dibawah ini.

5. Maka program plaxis akan memperhitungkan dengan otomatis.

Halaman | 20
6. Jika running sudah selesai maka dapat klik 2x pada phase yang sudah dibuat, untuk melihat angka
SF ditunjukan pada gambar dibawah ini.

Angka Keamanan (SF)

6.7 Output Grafik


1. Pilih fitur “output” dengan logo seperti dibawah ini.

2. Lalu dilanjutkan dengan klik fitur “curve manager” dengan memililih logo seperti ini.

3. Kemudian klik “new” untuk membuat grafik baru yang diinginkan. Sesuaikan pilihan dengan
gambar dibawah ini untuk dapat membentuk grafik angka keamanan, lalu klik “Ok”.

Halaman | 21
4. maka akan muncul grafik seperti dibawah ini, dan klik kanan untuk memilih “Setting”

5. Ubah toolbar ke samping curve yang telah dibuat, lalu klik bagian “phase” untuk “deselect all”
dan pilih yang bagian “Sf Timbunan + Beban Existing”, kemudian ubah nama grafik sesuai
dengan phase yang dibuat pada kolom “Curve Title”, dan klik “Ok”.

Halaman | 22
6. Dengan cara yang sama, pilih opsi “add curve” untuk menambahkan grafik lainnya yang
diinginkan, seperti “Sf Jangka Panjang Existing”, “Sf Timbunan + Beban + Geotextile” , dan “
Sf Jangka Panjang Geotextile”.

Halaman | 23
7. Study Case #2 Perkuatan Cerucuk Untuk Timbunan
Dikarenakan model geometri dan material tanah yang akan dibuat untuk perkuatan cerucuk
adalah sama dengan perkuatan geotextile, maka tanpa harus membuat baru kita bisa melakukan
“save as” pada file yang awal.
7.1 Membuat file model geometri untuk perkuatan cerucuk
1. Setelah dilakukan “save as” pada file project yang sebelumnya, maka bisa dilanjutkan dengan
menghapus perkuatan geotextile dengan cara memilih “geogrids” pada kotak model explorer
sebelah kanan lalu klik kanan dan delete.

7.2 Membuat material Cerucuk


1. Pilih opsi “show materials” lalu ganti kategori dari “soil and interfaces” menjadi “plates”, lalu
klik “New”. Untuk material cerucuk dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Perkuatan Cerucuk Bambu


Isotropic Yes - -
Modulus x EA 1 2083 kN/m
Modulus y EA 2 2083 kN/m
Modulus lentur EI 2500000 kN.m2.m
Dimensi D 0.1 m
Berat tiang w 0.1 kN/m
Poisson Ratio μ 0.01 -

Halaman | 24
7.3 Material Cerucuk
1. Gunakan fitur “create plate” sesuai dengan simbol dibawah ini.

2. Lalu dengan asumsi panjang bambu cerucuk adalah 6m, maka dapat pada tengah timbunan
kebawah lapisan tanah seperti pada gambar dibawah ini.

3. Setelah membuat 1 model perkuatan cerucuk, maka dilanjutkan dengan pemberian material yang
sudah dibuat, dengan cara “assign material” pada kotak “selection explorer”.

4. Dengan perencanaan pemasangan cerucuk adalah berjarak 2 meter, maka total jumlah cerucuk
untuk satu timbunan adalah sebanyak 15 buah, maka satu buah cerucuk yang sudah dimodelkan
dapat dicopy dengan cara memilih satu cerucuk lalu diikuti dengan klik fitur dengan simbol
seperti dibawah ini :

Halaman | 25
5. Karena akan dilakukan copy object kearah kanan sebanyak 7 buah dengan jarak 2 meter, maka
kota checkbox dapat disesuaikan dengan gambar dibawah ini. (lakukan juga dengan jarak -2
meter agar tercopy kearah kiri)

6. Sehingga hasil dari copy seperti gambar dibawah ini ;

Halaman | 26
7.4 Meshing
1. Setelah pembuatan geometri selesai lanjut pada tahap meshing, seperti langkah sebelumnya pada
perkuatan geotextile.

2. Pemilihan “select point for curves”

Halaman | 27
7.5 Staged Construction
1. Pada tahapan ini bisa langsung dilanjutkan analisa, namun untuk mempermudah pembacaan
maka perlu diganti judul setiap “phase” yang sebelumnya “geotextile” menjadi “cerucuk”

2. Maka program bisa langsung di running untuk menganalisa hasil perkuatan dengan cerucuk
seperti gambar dibawah ini.

Halaman | 28
7.6 Output
1. Untuk melihat hasil analisa bisa dengan cara yang sama pada langkah sebelumnya, atau dengan
grafik sebagai perbandingan seperti gambar dibawah ini.

Halaman | 29
8. Study Case #3 Perbaikan Tanah Dasar dengan Drains
Dalam study case ini akan dimisalkan timbunan jalan tol dengan lebar timbunan total adalah 25m
dengan asumsi beban sama maka dalam permodelan dapat digunakan setengah dari timbunan saja
yaitu 12.5m dengan tujuan untuk mempermudah permodelan, model geometri akan dibuat
menggunakan fitur “import soil” dari file yang dibuat dari autocad dan disimpan dalam format
“Dxf”.
8.1 Membuat geometri
Model geometri yang akan dibuat seperti gambar dibawah ini.

1. Untuk menggambar model dapat digunakan autocad sesuai dengan gambar geometri yang
diinginkan, dan dipastikan bahwa setiap area adalah region dengan fitur boundary creation dari
autocad agar bisa diimport.

Halaman | 30
3. Setelah gambar dibuat pada autocad, lakukan save as dengan pilihan format “Dxf”. Lalu buka
program bantu plaxis baru dan pilih fitur “import soil” dan cari file “Dxf” yang sudah dibuat tadi
lalu klik “Ok”.

8.2 Membuat Material


1. Langkah-langkah untuk membuat material sama dengan case sebelumnya, untuk case kali ini
dapat disesuaikan dengan tabel dibawah ini.
Lapisan
Parameter Tanah Nama Satuan
Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 Embankmen
Hardening Hardening
Model Material Model Soft Soil Soft Soil -
Soil Soil
Jenis Perilaku Jenis Undrained (A) Undrained (A) Drained Drained -
Berat isi tanah diatas garis freatik ꝩ unsat 8.00 15.00 17.00 16.00 kN/m 3
Berat isi tanah dibawah garis freatik ꝩ sat 12.00 18.00 20.00 19.00 kN/m 3
Permeabilitas arah horizontal kx 0.1 0.04752 7.128 3.499 m/hari
Permeabilitas arah vertikal ky 0.05 0.04752 7.128 3.499 m/hari
Secant stiffness in standard
drained triaxial test E 50 ref 35000 25000 kN/m 2
T angent stiffness for primary
oedometer loading E oed ref 35000 25000 kN/m 2
Unloading / reloading
stiffness E ur ref 105000 75000 kN/m 2
Power for stress-level
dependency of stiffness m 0.5 0.5
Modified compression index λ* 0.15 0.05
Modified swelling index k* 0.03 0.01
Kohesi cref 2.0 1.0 0.0 1.0 kN/m 2
Sudut geser ɸ 23.0 25.0 33.0 30.0 °

Halaman | 31
2. Setelah material dibuat, dilanjutkan dengan melakukan assign material terhadap geometri dengan
cara “drag n drop”.

3. Dengan perencanaan timbunan bertahap selama 2 kali, maka pada tanah timbunan lakukan “cut
polygon” pada tengah-tengah timbunan.

Halaman | 32
8.3 Memodelkan “drain” sebagai percepatan konsolidasi.
Karena dengan anggapan bahwa case #3 ini adalah perbaikan tanah lunak, maka salah satu alternatif
konsolidasi yang dapat dipakai adalah penggunaan “drain”.
1. Gunakan fitur “create hydraulic conditions” dan pilih fitu “create drain” seperti simbol dibawah
ini.

2. Dengan perencanaan kedalaman drains adalah 6 meter dan dipasang dengan jarak 2 meter, maka
dapat dibuat 1 model dan dilakukan “copy” sesuai jumlah yang direncanakan seperti gambar
dibawah ini.

8.4 Meshing Geometri


1. Dilanjutkan dengan “meshing” pilih fitur “generate mesh” dengan mesh option adalah “medium”.

Halaman | 33
2. Setelah dilakukanya “meshing” dapat dipilih fitur “select point for curves” dan tempatkan pada
ujung timbunan dan satunya pada bawah timbunan sebelah kiri.

8.5 Flow Conditions


Dikarenakan tidak menggunakan fitur borehole dalam menggambar geoemetri, maka dilakukan
permodelan muka air tanah.
1. Pindah bar ke “flow conditions” dan pilih fitur “create water level” dengan simbo seperti dibawah
ini.

2. Tarik garis dari paling kiri geometri menuju ke paling kanan geometri, dengan muka air -1.00
meter dari dasar timbunan.

Halaman | 34
8.6 Staged Construction
Dalam membuat “phase” kali ini yang menjadi fokus adalah tekanan air pori dan angka keamanan
untuk lereng berdasarkan tahap kondisi existing dan setelah perbaikan dengan Prefabricated
Vertical Drains (PVD).
1. Membuat “phase” seperti gambar dibawah ini untuk kondisi existing dan perbaikan
(improvement).

2. Sebelum dilakukan running program, pastikan pada bagian “groundwater flow” bagian Xmin
sudah diganti kedalam “closed”, hal ini dikarenakan geometri yang kita modelkan hanyalah
setengah dari seluruhnya.

Halaman | 35
3. Jika sudah semua, maka selanjutnya running program untuk mendapatkan hasilnya.

4. Untuk melihat hasilnya, kita dapat melihat kotak pada bagian bawah seperti gambar dibawah ini.

Kondisi Existing Kondisi Perbaikan


Membutuhkan Membutuhkan
waktu 17 Hari waktu 7 Hari

Halaman | 36
5. Selain itu, untuk melihat perbandingan dapat dilihat dengan memvisualkan tabel dengan cara ini.
Cara yang digunakan sama seperti case sebelumnya, namun untuk opsi sumbu X dan sumbu Y
dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Halaman | 37
Note Pelatihan Plaxis 2D
Wisnu Ari Pradana
1. Milestone Pelatihan
- Perkuatan timbunan menggunakan geotextile
- Perkuatan timbunan menggunakan cerucuk
- Perbaikan tanah dasar menggunakan drain
2. Penyebab kegagalan pada PPT slide 3
a. Kegagalan lereng
• Tanah kehilangan lekatan
• Adanya beban tambahan
• Gempa bumi
• Penambahan air hujan
b. Kegagalan sheetpile
• Kemampuan kapasitas sheetpile
• Interlocking antar elemen
• Beban tidak terprediksi
• Kehilangan tanah pasir akibat gerusan sungai
c. Kerusakan permukaan jalan
• Tanah mengalami differential settlement
• Beban tidak terprediksi
• Air pori tanah berlebih
• Tanah mengembang karena hujan dan panas
d. Soil structure interaction
• Diperuntukan untuk mengetahui kapasitas tiang dengan sistem trial error
• Untuk mengetahui reaksi tanah sekitar akibat beban diatasnya
• Mengetahui penurunan dan deformasi yang terjadi.
3. Metode Analisis
4. Klasifikasi Tanah
- SNI 8460 : 2017 : Gambar 2
- Metode ASTM (American Society for Testing and Material)
- Tanah kohesif dan non kohesif
5. Definisi tanah lunak
6. Perbedaan perbaikan dan perkuatan tanah
- Perbaikan tanah (soil improvement) bertujuan untuk memperbaiki sifat tanah dasar yang tidak
memenuhi persyaratan untuk mendukung bangunan (prefabricated vertical drain, soil
replacement, pemadatan tanah).
- Sedangkan perkuatan tanah (soil reinforcement) bertujuan untuk memberikan kekuatan kepada
tanah (stone column, soil nailing, jet grouting).
7. Uji permeabilitas dan uji hidrometer
- Uji hidrometer digunakan apabila tanah lolos saringan ayakan nomor 200 (0.074mm)
8. Uji triaxial untuk tanah lempung (kohesive)
- Unconsolidated Undrained (UU) : kuat geser tegangan total (tanpa pengukuran tekanan air
pori)
a) Air dibiarkan tidak keluar karena terjadi pembebanan yang berlangsung cepat
- Consolidated Undrained (CU) : pengukuran tekanan air pori
a) Tanah dibiarkan berkonsolidasi terlebih dahulu, setelah selesai dilanjutkan dengan
penambahan pembebanan yang berlangsung cepat sehingga sisa air tidak dapat keluar.
- Consolidated Drained (CD) : (tekanan air pori dijaga agar tidak meningkat) yang hasilnya
disebut sebagai kuat geser tegangan efektif.
a) Pemberian penambahan beban terjadi secara lambat dibandingkan keluarnya air dari pori
tanah.
9. Uji direct shear untuk tanah pasir (non kohesive)
10. Safety factor untuk lereng : SNI 8460 : 201 tabel 26 rekomendasi nilai faktor untuk lereng batuan
- Kondisi permanen : 1,5
- Kondisi sementara : 1,3
PLAXIS

1. Reference manual di web plaxis


2. Setting “VIP” untuk license information
3. Material tanah
a) Drained
• Material yang nilai permeabilitasnya tinggi
• Tingkat deformasi rendah
• Seperti tanah non kohesive / Nc soil clay
b) Undrained A
• Material yang nilai permeabilitasnya rendah
• Tingkat deformasi tinggi
• kekakuan dan kekuatan berdasarkan tegangan efektif (c’ : kohesi)
• Tanah lunak seperti lempung (Oc soil)
c) Undrained B
• Material yang nilai permeabilitasnya rendah
• Tingkat deformasi tinggi
• kekakuan berdasarkan tegangan efektif
• sedangkan kekuatannya berdasarkan undrained shear strength, tegangan total (Cu / Su)
• Tanah lunak seperti lempung (Oc soil)
d) Undrained C
• Pore pressure tidak dihitung
• Tingkat deformasi tinggi
• kekakuan dan kekuatan berdasarkan tegangan efektif (Cu / Su)
• Tanah lunak seperti lempung (Oc soil)
e) Non-Porous
• Material yang tidak mempertimbangkan pore pressure karena tidak berpori.
• Seperti material beton, plesteran.
4. Tipe-tipe lempung lunak
• Tegangan overburden efektif, Po’ : Z x (γsat – γwater)
• Tegangan pra-konsolidasi, Pc’ : Po’ x Z x γwater
• Jika Pc’ / Po’ = 1 (Normally Consolidated)
• Apabila Pc’ / Po’ >1 (Overconsolidated)
5. Material geotextile
• Tipe : UnggulTex tipe “UW 250” dengan properties tensile strength 52 kN/m.
6. Material plate (cerucuk)

• E : 25000 Mpa
• EI : 2083 kN/m
• EA : 2500000 kN.m2.m
• D : 0.1 m
• W : 0.1 kN/m
• Poisson ratio : 0.01
7. Initial phase
a) K0 Procedure
• Perhitungan langsung tegangan efektif awal, tekanan air pori, dan parameter yang telah
dibuat.
b) Field stress
• Perhitungan langsung tegangan efektif awal, tekanan air pori, dan parameter yang telah
dibuat berdasarkan tegangan keseluruhan geometri.
c) Gravity loading
• Tegangan inisial yang tidak digunakan untuk lapisan horizontal yang berlapis-lapis.
d) Flow only
• Menghitung tegangan berdasarkan tekanan air pori saja.
8. Pore pressure calculation
a) Phreatic
• Hitungan air pori berdasarkan muka air yang sudah dibuat
b) Steady state groundwater flow
• Hitungan air pori berdasarkan muka air tanah yang harus berdasarkan kondisi hidrolik
(berbeda beda elevasi).
9. Thermal calculations type
a) Ignore temperature
• Mengabaikan temperature sekitar
b) Earth gradient
• Menggunakan temperature bumi
c) Steady state thermal flow
• Menggunakan suhu dari air
10. Perbedaan analisa plastic dan analisa konsolidasi
• Analisa plastic (Short term)
Kondisi ketika pembebanan lebih cepat daripada keluarnya air pori
• Analisa Konsolidasi (Long term)
Kondisi ketika pembebanan lebih lama daripada keluarnya air pori
• Hasil SF long term cenderung lebih besar dikarenakan air pori pada tanah sedikitnya
sudah menghilang akibat konsolidasi bila dibandingkan analisa short term.

Anda mungkin juga menyukai