0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan15 halaman

Pemahaman Piramida Carroll dalam CSR

Bab ini menjelaskan model CSR dan piramida Carroll serta regulasi tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan. Teori stakeholder dan legitimasi digunakan untuk menganalisis penerapan CSR PT Pupuk Kaltim yang mempengaruhi lingkungan sekitar.

Diunggah oleh

Annisa Syahwa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan15 halaman

Pemahaman Piramida Carroll dalam CSR

Bab ini menjelaskan model CSR dan piramida Carroll serta regulasi tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan. Teori stakeholder dan legitimasi digunakan untuk menganalisis penerapan CSR PT Pupuk Kaltim yang mempengaruhi lingkungan sekitar.

Diunggah oleh

Annisa Syahwa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

MEMAHAMI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN PIRAMIDA


CARROLL SEBAGAI PIJAKAN PENELITIAN

Pada bab ini dijelaskan mengenai model implementasi Corporate Social

Responsibility dan piramida Carroll. Piramida Carroll dapat digunakan sebagai

pedoman tambahan dalam rangka melestarikan lingkungan dan

mensejahterakan masyarakat sekitar, karena semakin banyak perusahaan maka

semakin banyak pula lingkungan yang tereksploitasi demi kepentingan

perusahaan tersebut. Selanjutnya juga akan dijelaskan regulasi terkait tanggung

jawab perusahaan pada lingkungan sekitarnya yang wajib dipatuhi oleh semua

perusahaan, terutama PT Pupuk Kaltim yang merupakan subyek penelitian.

Dalam bab ini dijelaskan lebih mendalam mengenai piramida Carroll dan

kategori tanggung jawab sosial dalam piramida tersebut yang terdiri dari

economical responsibility (tanggung jawab ekonomi), legal responsibility

(tanggung jawab hukum), ethical responsibility (tanggung jawab etika), dan

philanthropic responsibility (tanggung jawab sukarela/ kedermawanan). Kategori

tanggung jawab sosial dalam piramida Carroll pada penelitian ini selanjutnya

disebut dalam istilah aslinya yaitu economic responsibility, legal responsibility,

ethical responsibility, dan philanthropic responsibility, selain itu PT Pupuk

Kalimantan Timur pada penelitian ini selanjutnya disebut dalam istilah PKT.

2.1 Teori yang mempengaruhi Corporate Social Responsibility

Corporate Social Responsibility (CSR) atau yang dikenal dengan Tanggung

-DZDE 6RVLDO 3HUXVDKDDQ PHUXSDNDQ VXDWX EHQWXN ³SHUDQ VHUWD´ GDQ

³NHSHGXOLDQ´ SHUXVDKDDQ WHUKDGDS DVSHN VRVLDO GDQ OLQJNXQJDQ %DQ\DN WHRUL

yang mendukung konsep CSR namun dalam menganalisis penerapan CSR yang

9
10

diperlukan dalam penelitian ini digunakan teori Stakeholder dan teori Legitimasi

yang dianggap berkaitan dengan topik yang diteliti.

2.1.1 Teori Stakeholder

Tanggung jawab perusahaan awalnya hanya mengukur sebatas indikator

ekonomi dalam laporan keuangan, dan sekarang bergeser untuk

memperhitungkan faktor-faktor sosial (dimensi sosial) kepada para pemangku

kepentingan. Teori stakeholder berpendapat bahwa perusahaan tidak hanya

beroperasi untuk entitasnya tersendiri, tetapi memberikan manfaat kepada para

pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan adalah semua pihak, baik

internal maupun eksternal yang memiliki hubungan yang terpengaruh dan

dipengaruhi, langsung atau tidak langsung oleh perusahaan, seperti pemerintah,

pesaing perusahaan, masyarakat, pekerja perusahaan dan lain-lain yang telah

sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perusahaan (Freeman, 1984).

Berdasarkan asumsi dasar dari teori stakeholder, perusahaan tidak dapat

melepaskan diri dari lingkungan sosial. Perusahaan perlu untuk

mempertahankan legitimasi dari pemangku kepentingan dan dukungan dalam

kerangka kebijakan dan pengambilan keputusan, sehingga dapat mendukung

pencapaian dalam tujuan perusahaan yang menjamin stabilitas dan

keberlanjutan. Aktivitas yang dilakukan perusahaan mempengaruhi banyak

pihak, sehingga manajemen perusahaan diharapkan untuk melakukan aktivitas

sesuai dengan yang diharapkan stakeholder dan melaporkannya kepada

stakeholder. Teori ini menyarankan semua stakeholder mempunyai hak untuk

mendapatkan informasi tentang bagaimana dampak aktivitas organisasi

terhadapnya (Deegan, 2000).

Keterkaitan antara perusahaan dan stakeholder dapat dilihat dari adanya

hubungan yang saling mempengaruhi antara satu sama lain, sehingga


11

perubahan pada salah satu pihak akan memicu dan mendorong terjadinya

perubahan pada pihak yang lainnya. Pemahaman mengenai teori stakeholder

diperlukan untuk mengetahui para pihak yang berkepentingan dalam kebijakan

perusahaan, termasuk kebijakan Corporate Social Responsibility (CSR) atau

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Manurung, 2012).

Menurut Daniri (2008), salah satu alasan konsep Corporate Social

Responsibility didasarkan pada Stakeholder Theory bahwa keberadaan

perusahaan bukan semata-mata bertujuan untuk melayani kepentingan

pemegang saham (shareholder) melainkan juga kepentingan-kepentingan pihak

lainnya (stakeholder) termasuk masyarakat. Penggunaan teori ini menekankan

bahwa tanggung jawab sosial yang dimiliki oleh perusahaan menuntut mereka

untuk mempertimbangkan semua kepentingan berbagai pihak yang terkena

dampak dari pelaksanaan Corporate Social Responsibility.

Stakeholder merupakan setiap individu atau kelompok yang mempunyai

kepentingan atau peran terhadap keberlanjutan perusahaan sehingga

mempengaruhi kebijakan perusahaan. Teori stakeholder dalam konsep CSR

memiliki gagasan tersediri, misalnya saja dengan istilah Social pada Corporate

Social Responsibility. Sebenarnya kepada siapa perusahaan harus bertanggung

jawab. Seringkali kontek stakeholder cenderung mengarah kepada stockholder

dan dimaksudkan untuk kelompok yang memiliki kekuasaan dan kepentingan

dalam operasional maupun pengambilan keputusan dari perusahaan. kadang-

kadang kepentingan ini mewakili aspek legal namun juga bisa mewakili aspek

moralitas (morality) seperti kelompok yang seharusnya diperhatikan dengan adil

atau yang pendapatnya menjadi suatu pertimbangan yang sangat penting bagi

perusahaan (Manurung, 2012).

Manajemen harus memutuskan kepentingan para stakeholder dan

mempertimbangkannya dalam proses pengambilan keputusan. Menurut Carroll


12

(1991) ada dua hal yang harus diperhatikan dalam memutuskan urgensi dan

kepentingannya yaitu VWDNHKROGHU¶VOHJLWLPDF\ dan kekuatan (power) stakeholder

itu sendiri.

Dalam sudut pandang CSR, legitimasi merupakan hal yang paling penting,

sedangkan dari pandangan manajemen, kekuatan merupakan hal yang

diutamakan. Dengan pandangan seperti ini, maka perusahaan harus

menentukan stakeholder yang memiliki legitimasi paling kuat terhadap

perusahaan, namun dengan tidak mengesampingkan stakeholder lainnya.

Walaupun metode win-win solution tidak selalu berhasil, namun hal ini

menggambarkan legitimasi dan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan dalam

jangka panjang. Stakeholder ini kemudian akan menjadi landasan bagi

perusahaan dalam menanggapi berbagai strategi yang akan dibuat, tindakan

yang akan dilakukan dan keputusan yang harus selalu mempertimbangkan

stakeholder dalam menjalankan bisnisnya (Manurung, 2012).

Teori ini terkait erat dengan teori legitimasi. Suatu perusahaan melalui

berbagai kebijakan dan kegiatan operasi yang dilakukannya memberikan

dampak kepada berbagai kelompok pemangku kepentingan, sehingga dengan

demikian perusahaan mungkin menemui tuntutan-tuntutan dari kelompok-

kelompok ini untuk memenuhi tanggungjawabnya (McWilliams dan Siegel, 2001).

2.1.2 Teori Legitimasi

Legitimasi dapat dianggap sebagai menyamakan persepsi atau asumsi

bahwa tindakan yang dilakukan oleh suatu entitas adalah merupakan tindakan

yang diinginkan, pantas ataupun sesuai dengan sistem norma, nilai,

kepercayaan dan definisi yang dikembangkan secara sosial (Suchman, 1995).

Legitimasi dianggap penting bagi perusahaan dikarenakan legitimasi masyarakat


13

kepada perusahaan menjadi faktor yang strategis bagi perkembangan

perusahaan ke depan.

2¶'RQRYan (2002) berpendapat legitimasi organisasi dapat dilihat sebagai

sesuatu yang diberikan masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang

diinginkan atau dicari perusahaan dari masyarakat. Dengan demikian legitimasi

memiliki manfaat untuk mendukung keberlangsungan hidup suatu perusahaan.

Legitimasi merupakan sistem pengelolaan perusahaan yang berorientasi pada

keberpihakan terhadap masyarakat (society), pemerintah individu dan kelompok

masyarakat (Gray et al., 1996). Oleh karena itu, operasi perusahaan harus

sesuai dengan harapan dari masyarakat.

Deegan, Robin dan Tobin (2002) menyatakan legitimasi dapat diperoleh

manakala terdapat kesesuaian antara keberadaan perusahaan tidak

mengganggu atau sesuai dengan eksistensi sistem nilai yang ada dalam

masyarakat dan lingkungan. Ketika terjadi pergeseran yang menuju

ketidaksesuaian, maka pada saat itu legitimasi perusahaan dapat terancam.

Teori ini merupakan bagian dari masyarakat di mana kegiatan yang dilakukan

harus berdasarkan pada norma atau aturan yang berlaku pada masyarakat

sekitarnya. Menurut Gray et al. (1996), dasar pemikiran teori ini adalah

organisasi atau perusahaan akan terus berlanjut keberadaannya jika masyarakat

menyadari bahwa organisasi beroperasi untuk sistem nilai yang sepadan dengan

sistem nilai masyarakat itu sendiri. Teori legitimasi mengatakan bahwa organisasi

secara terus menerus mencoba untuk meyakinkan bahwa mereka melakukan

kegiatan sesuai dengan batasan dan norma-norma masyarakat di mana mereka

berada.

Menurut teori ini suatu perusahaan beroperasi dengan ijin dari masyarakat, di

mana ijin ini dapat ditarik jika masyarakat menilai bahwa perusahaan tidak

melakukan hal-hal yang diwajibkan kepadanya. Dalam konteks ini CSR


14

dipandang sebagai suatu kewajiban yang disetujui antara perusahaan dengan

masyarakat. Adalah masyarakat yang telah memberikan ijin kepada perusahaan

untuk menggunakan sumber daya alam dan manusianya serta izin untuk

melakukan fungsi produksinya (Balbanes et al., 1998). Namun harus diingat

bahwa ijin tersebut tidaklah tetap sehingga kelangsungan hidup dan

pertumbuhan dari perusahaan bergantung pada bagaimana perusahaan secara

terus menerus berevolusi dan beradaptasi terhadap perubahan keinginan dan

tuntutan dari masyarakat (Walden dan Schwartz, 1997).

2.2 Corporate Social Responsibility (CSR)

2.2.1 Definisi CSR

Tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR)

sebagai sebuah gagasan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung

jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate

value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangan (financial) saja. Tapi tanggung

jawab perusahaan harus berdasarkan pada tripple bottom lines. Di sini bottom

lines lain selain finansial juga adalah sosial dan lingkungan, karena kondisi

keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara

berkelanjutan (sustainable). Keberlanjutan perusahaan hanya akan terjamin

apabila, perusahaan memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan hidup. Sudah

menjadi fakta bagaimana resistensi masyarakat sekitar di berbagai tempat dan

waktu muncul ke permukaan terhadap perusahaan yang dianggap tidak

memperhatikan aspek-aspek sosial, ekonomi dan lingkungan hidup (Daniri,

2008:4).

Mirza dan Imbuh (1997) mendeskripsikan tanggung jawab sosial sebagai

kewajiban organisasi yang tidak hanya menyediakan barang dan jasa yang baik

bagi masyarakat, tetapi juga mempertahankan kualitas lingkungan sosial maupun


15

fisik dan juga memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan komunitas di mana

mereka berada. Hal tersebut juga didukung oleh pendapat Kotler dan Nency

(2005) yang mendefinisikan bahwa CSR sebagai komitmen perusahaan untuk

meningkatkan kesejahteraan komunitas melalui praktik bisnis yang baik dan

mengkontribusikan sebagian sumber daya perusahaan sehingga memiliki

kemampuan untuk meningkatkan citra perusahaan karena jika perusahaan

menjalankan tata kelola bisnisnya dengan baik dan mengikuti peraturan yang

telah ditetapkan oleh pemerintah maka pemerintah akan memberikan

keleluasaan bagi perusahaan tersebut untuk beroperasi di wilayah mereka.

Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa tanggung jawab sosial

perusahaan adalah suatu bentuk komitmen atas pertanggungjawaban yang

seharusnya dilakukan perusahaan atas dampak positif maupun dampak negatif

yang ditimbulkan dari aktivitas operasionalnya, dan mungkin sedikit banyak

berpengaruh terhadap masyarakat internal maupun eksternal dalam lingkungan

perusahaan. CSR merupakan sebuah bentuk akuntabilitas perusahaan terhadap

lingkungan di sekitar dan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan.

Kepedulian tersebut dapat berupa aktivitas untuk menyediakan lingkungan

kerja yang aman bagi karyawannya, jaminan bahwa proses produksi tidak akan

mencemari lingkungan sekitar perusahaan, melakukan penempatan tenaga kerja

secara jujur, menghasilkan produk yang aman bagi para konsumen, menjaga

lingkungan sekitar wilayah perusahaan, serta menjalin hubungan yang baik

dengan pemerintah, sehingga perusahaan dapat terus melakukan kegiatan

operasionalnya demi keberlangsungan perusahaan tersebut.

2.2.2 Tujuan dan Manfaat CSR

Setelah mengetahui definisi mengenai CSR dan pengungkapan CSR, maka

berikut ini diuraikan mengenai tujuan dan manfaat pelaksanaan CSR. Tujuan
16

CSR menurut Rosmasita (2007:9) yaitu untuk meningkatkan citra perusahaan

dan mempertahankan, untuk membebaskan akuntabilitas organisasi atas dasar

asumsi adanya kontrak sosial di antara organisasi dan masyarakat, dan sebagai

perpanjangan dari pelaporan keuangan tradisional dan tujuannya adalah untuk

memberikan informasi kepada investor.

Sedangkan manfaat penerapan CSR menurut Daniri (2008:7) adalah bahwa

CSR di perusahaan akan menciptakan iklim saling percaya, yang akan

menaikkan motivasi dan komitmen karyawan. Pihak konsumen, investor,

pemasok dan stakeholders yang lain juga telah terbukti lebih mendukung

perusahaan yang dinilai bertanggungjawab sosial, sehingga meningkatkan

peluang pasar dan keunggulan kompetitif. Dengan segala kelebihan itu,

perusahaan yang menerapkan CSR akan menunjukkan kinerja yang lebih baik

serta keuntungan dan pertumbuhan yang meningkat.

Sule dan Kurniawan (2005) mengatakan bahwa terdapat beberapa manfaat

apabila perusahaan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan tanggung jawab

sosialnya, yaitu manfaat bagi perusahaan, citra positif perusahaan di antara

masyarakat dan pemerintah; manfaat bagi masyarakat, kepentingan masyarakat

yang terakomodasi dan hubungan antara perusahaan dan masyarakat akan lebih

erat; dan manfaat bagi pemerintah, membantu pemerintah dalam menjalankan

misi sosial dalam tanggung jawab sosial.

2.2.3 Pengungkapan CSR

Pengungkapan CSR merupakan informasi mengenai tanggung jawab sebuah

organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan-keputusan dan kegiatan-

kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk

perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan

dan kesejahteraan masyarakat, mempertimbangkan harapan stakeholder,


17

sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional,

serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh (Guidance on Social

Responsibility; Suharto, 2008).

Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social

responsibility (CSR) merupakan salah satu mekanisme yang dapat digunakan

untuk mengkomunikasikan perusahaan dengan stakeholders dan disarankan

bahwa CSR merupakan jalan masuk di mana beberapa organisasi

menggunakannya untuk memperoleh keuntungan atau memperbaiki legitimasi

2¶'RQRYDQ   2UJDQLVDVL PHQJXQJNDSNDQ NLQHUMD OLQJNXQJDQ PHUHND

dalam berbagai komponen untuk mendapatkan reaksi positif dari lingkungan dan

mendapatkan legitimasi atas usaha perusahaan (Hui dan Bowrey, 2008).

Gray et al. (1987) juga menjelaskan bahwa pengungkapan tanggung jawab

sosial adalah proses pengkomunikasian efek-efek sosial dan lingkungan atas

tindakan-tindakan ekonomi perusahaan pada masyarakat secara keseluruhan.

Oleh karena itu dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

dengan mengungkapkan informasi-informasi mengenai operasi perusahaan

sehubungan dengan lingkungan diharapkan perusahaan bisa mendapatkan

kepercayaan dari masyarakat bahwa dalam melaksanakan aktivitasnya,

perusahaan tidak hanya berfokus pada keuntungan semata melainkan

perusahaan juga memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan.

Pengungkapan tersebut dapat dilakukan dalam laporan tahunan perusahaan

atau dapat pula diungkapkan dalam laporan yang terpisah. Mengungkapkan

laporan CSR ke dalam laporan tahunan lebih lazim dilakukan oleh perusahaan-

perusahaan di Indonesia. Laporan tahunan merupakan alat yang digunakan

untuk melakukan pengungkapan dan pertanggungjawaban kinerja perusahaan

kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk masyarakat.


18

Hal tersebut juga dijelaskan oleh Guthrie (1990), bahwa pengungkapan CSR

merupakan pengadaan informasi keuangan dan non keuangan yang

berhubungan dengan interaksi organisasi dan lingkungan sosial, yang

dinyatakan dalam laporan tahunan perusahaan atau laporan sosial lainnya yang

terpisah.

2.3 Kebijakan Pemberlakuan CSR di Indonesia

Pentingnya CSR baru dirasakan setelah dikeluarkannya Keputusan Menteri

BUMN Nomor 05-MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik

Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan. Peraturan Menteri

BUMN memang secara tegas tidak menggunakan istilah CSR, namun program

kemitraan yang diatur sebetulnya identik dengan CSR.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan, dalam perspektif nasional, CSR

dipandang sebagai sesuatu yang dianggap penting dalam konteks bisnis. Hal ini

terbukti dengan munculnya berbagai peraturan perundang-undangan yang

diterbitkan oleh Pemerintah yang di dalamnya mengatur CSR. Menurut Adhari

(2015), berbagai peraturan perundang-undangan yang dimaksud antara lain

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya

disebut UU PT) beserta peraturan pelaksanaannya yakni Peraturan Pemerintah

No 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan

Terbatas (selanjutnya disebut PP CSR).

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM).

'DODP 3DVDO  E  GLQ\DWDNDQ EDKZD ³VHWLDS SHQDQDP PRGDO EHUNHZDMLEDQ

melaksanakan tanJJXQJ MDZDE VRVLDO SHUXVDKDDQ´ UU No. 19 Tahun 2003

tentang Badan Usaha Milik Negara yang di dalam Pasal 88 ayat (1) dinyatakan

³%801GDSDWPHQ\LVLKNDQVebagian laba bersihnya untuk keperluan pembinaan

usaha kecil dan NRSHUDVLVHUWDSHPELQDDQPDV\DUDNDWVHNLWDU%801´


19

Pasal 88 UU BUMN lebih lanjut dijabarkan dalam Peraturan Menteri Negara

Badan Usaha Milik Negara Nomor Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan

dan Bina Lingkungan (PKBL). PKBL terdiri dari program perkuatan usaha kecil

melalui pemberian pinjaman dana bergulir dan pendampingan (disebut Program

Kemitraan), serta program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat sekitar

(disebut Program Bina Lingkungan), dengan dana kegiatan yang bersumber dari

laba BUMN.

2.4 Piramida Carroll

Carroll (1991) menyatakan bahwa piramida meliputi seluruh perspektif dari

apa yang masyarakat harapkan lewat sebuah perusahaan, baik secara ekonomi

maupun sosial. Ide di balik piramida Carroll pertama kali diperkenalkan pada

tahun 1979 ketika Carroll bersama peneliti lain mencoba untuk membuat sebuah

teori fungsional yang bisa menjelaskan agar suatu perusahaan dapat mencapai

legitimasi sosial (Garriga dan Mele, 2004). Carroll kemudian mencapai

kesimpulan bahwa ekonomi, hukum, etika dan diskresioner (sekarang disebut

filantropis) merupakan kategori tanggung jawab yang harus dihadapi perusahaan

dalam kinerja CSR untuk mencapai tuntutan masyarakat serta penerimaan di

antara para peneliti. Empat tanggung jawab tersebut kemudian dibentuk dalam

sebuah piramida CSR (Carroll, 1991). Selama bertahun-tahun kemudian, Carroll

telah meninjau piramidanya dan memberikan revisi yang dibangun pada tahun

2004 di mana menurut Carroll hal tersebut lebih cocok untuk diterapkan dalam

konteks global.

Carroll (1979; 1991; 2004) menyatakan bahwa empat tanggung jawab

(economic, legal, ethical dan philanthropic) dibedakan untuk mencakup seluruh

pandangan terhadap CSR dan apa yang stakeholder harapkan dari perusahaan,

baik secara ekonomi maupun sosial. Kegunaan dan implementasi dari masing-
20

masing tanggung jawab yang berbeda tergantung kepada ukuran perusahaan,

bidang industri dan keadaan ekonominya. Carroll kemudian menunjukkan bahwa

ethical responsibility memiliki peranan yang besar terhadap perusahaan terutama

pada negara berkembang, namun menjadi sulit untuk diidentifikasi. Sebuah

perusahaan harus beroperasi sejalan dengan ketentuan dan etika yang ada dan

menganggap bahwa hal ini membawa dampak bagi perusahaan setara bahkan

lebih banyak dari legal responsibility.

Gambar 2.1
&DUUROO¶V&653\UDPLG

Be a good global Do what is desired


corporate citizen by stakeholders
Philanthropic
Responsibility

Do what is expected
Be ethical Ethical
by stakeholders
Responsibility

Do what is required by
Obey the law Legal
stakeholders
Responsibility

Be profitable Economic Do what is


Responsibility required by
stakeholders

Sumber: Carroll (2004: 116)

Berikut ini merupakan penjelasan empat tanggung jawab seperti yang

tercantum dalam gambar piramida di atas:


21

1. Economic Responsibility

Tanggung jawab ekonomis harus dilihat sebagai inti dari tanggung jawab,

oleh karena itu tanggung jawab ekonomis berada sebagai fondasi yang

melambangkan landasan (Carroll, 2004). Perolehan keuntungan dan

memaksimalkan penerimaan perusahaan dapat dipandang sebagai

tanggung jawab utama, hal ini yang kemudian memungkinkan

memberikan hasil yang signifikan kepada investor ataupun kepada

stakeholder lainnya, menciptakan lapangan pekerjaan, memproduksi

barang dan jasa yang diminta dengan tujuan mendapatkan keuntungan

(Carroll, 1979; 1991; 1998; 2004; Grafstrom et al., 2008).

2. Legal Responsibility

Sebuah perusahaan harus menunjukkan performa secara ekonomis yang

mengikuti beberapa hukum tertentu yang diatur oleh negara maupun

pemerintah setempat (Carroll 1979; 1991). Jika perusahaan beroperasi

pada lebih dari satu hukum negara, hal ini juga harus diikuti. Beroperasi di

bawah peraturan tertentu dapat membantu perusahaan untuk

meningkatkan hubungannya dengan para stakeholder. Carrolls kemudian

menjelaskan bahwa kadang-kadang perusahaan melihat peraturan

dengan cara yang berbeda dan peraturan atau hukum lebih cenderung

menyulitkan dibandingkan menolong kinerja ekonomisnya (Carroll, 1998).

3. Ethical Responsibility

Tanggung jawab etis memiliki dampak yang besar bagi perusahaan dan

reputasinya, seperti mengikuti norma yang tidak tertulis, aturan-aturan

dan harapan para stakeholder (Carroll, 1979; 1991; 2004). Tanggung

jawab etis menurut Carroll (2004) sulit dijelaskan terutama pada negara

berkembang yang standar etika dan norma-normanya sulit untuk

diidentifikasi. Sebuah perusahaan harus beroperasi sejalan dengan etika


22

yang ada dan peka terhadap etika yang bahkan lebih penting dari

tanggung jawab secara hukum. Kadang, norma etika dan nilai-nilai dapat

menjadi landasan dari peraturan dan hukum yang baru akan terbentuk

(Carroll, 1991).

4. Philanthropic Responsibility

Carroll (1991; 2004) menyatakan bahwa perbedaan antara ethical

responsibility dan philanthropic responsibility adalah philanthropic

responsibility tidak diharapkan pada pandangan legal maupun secara

etika, namun lebih dianggap sebagai kemauan dari stakeholder.

Philanthropic responsibility dapat dibedakan tergantung dari lokasi

perusahaan atau lokasi tempat perusahaan menjalankan kegiatannya

(Carroll, 2004). Philanthropic responsibility dapat berupa menyediakan

pusat-pusat penitipan anak bagi karyawan, program kedermawanan

untuk mempromosikan kesejahteraan manusia, amal dan bangunan

sekolah.

Manurung (2012) berpendapat bahwa pada tahap Economic Responsibility,

perusahaan melihat tanggung jawab ekonomis seperti perolehan keuntungan

sebagai prioritas utama, dan hanya mengerjakan apa yang diperlukan oleh

stakeholder. Demikian dengan tahap Legal Responsibility, perusahaan hanya

mengikuti peraturan yang berlaku dalam menjalankan kegiatan usahanya dan

CSR yang dilakukan hanya mengikuti apa yang diperlukan oleh stakeholder saja.

Ethical Responsibility mengikuti norma-norma yang tidak tertulis, aturan-aturan

dan memperhatikan apa yang sebenarnya diharapkan oleh stakeholder. Tahap

ini mengembangkan etika perusahaan ke tahap yang lebih baik karena bukan

hanya memberikan apa yang dibutuhkan oleh stakeholder saja, namun

perusahaan juga mengambil langkah-langkah untuk memenuhi apa yang

diharapkan oleh stakeholder.


23

Puncak piramida adalah Philanthropic Responsibility, pada tahap ini

perusahaan benar-benar memperhatikan apa yang sesungguhnya diinginkan

stakeholder. Perusahaan bukan hanya berorientasi pada keuntungan, hanya

mengikuti aturan yang ada atau mengikuti norma-norma yang tidak kelihatan,

namun benar-benar memperhatikan apa yang diinginkan oleh stakeholder,

sehingga performa CSR yang dilakukan menjadikan perusahaan tersebut

sebuah perusahaan yang sangat baik dalam skala global.

Anda mungkin juga menyukai