Strategi Kepala Madrasah Tingkatkan Kompetensi
Strategi Kepala Madrasah Tingkatkan Kompetensi
PROPOSAL
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember
Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam
Oleh:
NIM. T20193121
PROPOSAL
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember
Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam
Oleh
Disetujui Pembimbing
ii
DAFTAR ISI
iii
1. Judul Penelitian
2. Konteks Penelitian
Pendidikan yang berkualitas memerlukan strategi yang tepat dan efektif,
diantaranya bagaimana strategi mengembangkan pengetahuan peserta didik berdasarkan
kemampuan, sikap, sifat, serta tingkah laku sehingga dapat membuat peserta didik
mudah meresapi dan menelaah proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia (SDM) yang berkualitas tinggi. Selain itu, penerapan strategi pembelajaran
yang cocok di gunakan dalam kelas, peran profesional pendidik, kurikulum yang relevan,
sarana dan prasarana yang berstandart juga sangat berpengaruh dalam melaksanakan
pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadi faktor pendukung dalam berjalannya
proses pembelajaran agar dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif.
Pendidik merupakan tenaga profesional yang tugasnya mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik dlam
pendidikan formal. Tugas pendidik tersebut akan menjadi efektif jika pendidik memiliki
nilai profesionalitas yang tercermin dari kemampuan, kompetensi, kemahiran, kecakapan,
dan keterampilan yang memenuhi standart mutu pendidikan dan norma etik tertentu. 1
Disamping itu, pendidik juga bertugas untuk merancang pembelajaran (manager of
intruction) yaitu seorang pendidik berperan mengelolah seluruh proses belajar mengajar
dengan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif sehingga para peserta didik
dapat belajar secara efektif dan efisien.
Disamping pendidik meiliki peran mengelolah proses pembelajaran dengan baik,
kepala madarasah juga merupakan komponen pendidikan yang berperan penting dalam
meningkatkan kualitas pendidikan. Sehubung dengan yang tertuang dalam pasal 12 ayat 1
PP 28 tahun 1990 bahwa “kepala madrasah bertanggungjawab atas penyelenggaraan
1
Supriyadi, Strategi Belajar dan Mengajar (Surabaya, 2011) hal. 11.
1
kegiatan pendidikan, administrasi madrasah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya,
dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana.”
Yang mana dalam ayat tersebut kepala madrasah bertugas menyelenggarakan
kegiatan pendidikan juga bertugas meningkatkan dan mengembangkan mutu madrasah
antara lain dengan meningkatkan kompetensi para pendidiknya.
2
Andyarto, Efektivitas Pengelolaan Kelas, dalam Jurnal Pendidikan Penabur No. 01/Th. I/Maret 2002,67.
2
kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi maha
melihat.3
Berdasaran ayat diatas, peran pendidik memiliki amanat untuk memberikan ilmu
yang barokah kepada peserta didik. Disamping itu, seorang pendidik dituntut untuk
memiliki kompetensi agar dapat melaksanakan tugasnya. Jika seorang pendidik
berkompeten saat menjalankan tugasnya maka amanat yang ia jalankan akan berjalan
dengan efektif. Pendidik dituntut memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, serta
memiliki kemampuan agar dapat mewujudkan tujuan pendidikan nasional. 4 Yang mana
pendidikan nasional adalah ujung tombak untuk mencetak generasi yang berkualitas.
Pada pasal 10 ayat (1) UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang
menyatakan bahawa “kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 yaitu; guru
harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan
kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.”
Interpretasi daripada pasal diatas adalah untuk meningkatkan kompetensi
pendidik yang berkompenten, pendidik diharapkan dapat menerapkan empat kompetensi
yakni kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan,
kompetensi sosial yang dapat di peroleh oleh pendidik dengan mengikuti forum
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Hal tersebut dilakukan sebagai langkah agar
pendidik bisa menjadi tenaga yang profesional. Sejalan dengan pendapat yang
dikemukakan oleh mulyasa yang mengemukakan bahwa kompetensi pendidik merupakan
kemampuan personal, perpaduan, sosial dan spiritual yang secara keseluruahan
membentuk kompetensi dasar profesi guru, yang mendidik, pengembangan pribadi, dan
profesionatitas.5 Oleh karena itu, pendidik diharapkan dapat menjalankan tugasnya secara
profesional dengan menguasai empat kompetensi yang tergambar pada peraturan
pemerintah tersebut.
Kompetensi pedagogik ialah kemampuan dalam mengelolah proses pembelajaran
peserta didik, tidak hanya sekedar menyampaikan materi yang diajarkan tetapi pendidik
3
Al-qur’an dan Terjemahan Departemen Agama RI (Surah An-nisa, ayat 58)
4
FAJRIYAH, R. N. (2019). Strategi Pengembangan Kompetensi Kepribadian Guru Akidah Akhlak di MAN Kota Blitar.
Hal. 26
5
Mulyasa, E. (2007) Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Rosadakarya.
3
juga dituntut dapat memahami secara luas dan mendalam. 6 Pendidik secara terus menerus
belajar sebagai upaya meningkatkan dan mengembangkan kompetensi pedagogiknya
yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan, pelaksanaan kegiatan
pembelajaran serta pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimiliki oleh peserta didik.
Kompetensi kepribadian ialah kepribadian yang harus dimiliki pendidik seperti
berakhlak mulia, berwibawa, dan bisa menjadi teladan untuk peseta didiknya.
Kepribadian pendidik juga menjadi faktor yang sangat memengaruhi keberhasilan suatu
proses pembelajaran. Oleh sebab itu, pendidik harus menjaga tingkah laku dan
perbuatannya agar menjadi teladan untuk peserta didiknya.
Kompetensi sosial ialah kemampuan pendidik dalam berinteraksi dengan peserta
didik, orang tua peserta didik/wali peserta didik, masyarakat, serta warga sekolah lainnya.
Disamping tugasnya menyampaikan ilmu kepada peserta didik, seorang pendidik sama
seperti manusia lainnya yang diharapkan dapat memberikan contoh baik terhadap
lingkungannya dengan menjalankan hak dan kewajibannya sebagai bagian dari
masyarakat lainnya. 7
Kompetensi profesional ialah kemampuan pendidik dalam menguasai materi
pembelajaran dan mempunyai keahlian di bidang pendidikan. Menurut Standar Nasional
Pendidikan pada Pasal 28 ayat (3) butir c mengemukakan bahwa kompetensi profesional
merupakan kemampuan dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan
mendalam meliputi konsep, struktur dan metode keilmuan/teknologi/koheren dengan
bahan ajar.8 Pendidik yang profesional dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik.
Maka dari itu dalam mengajar diperlukan keterampilan yang dibutuhkan untuk
kelancaran proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.
Akan tetapi pada penelitian ini peneliti berfokus pada pengembangan kompetensi
professional. Yang mana kecakapan guru dalam mengajar perlu diterapkan dalam proses
meningkatkan prestasi kompetisi sains madrasah di MAN 2 Jember. Ali Imran juga
merumuskan kompetensi profesional dikategorikan menjadi tiga yaitu kemampuan
menguasai bahan bidang studi, kemampuan merencanakan proses belajar mengajar, dan
6
Jejen Musfah, Op. cit., h. 31.
7
Ibid., h. 52.
8
Wira Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2009), h.54.
4
kemampuan melaksanakan proses yang dirancang tersebut. Kepala madrasah berfokus
pada pengembangan kompetensi profesional pendidik di madrasah. Adapun cara yang
dilakukan kepala madrasah dengan menginformasikan pada pendidik tentang
pengembangan profesional, dengan mengkontribusikan materi profesionalisme,
berdiskusi dengan pendidik tentang isu-isu yang mutakhir yang berkaitan dengan kinerja
pendidik, dan dengan menekankan pendidik untuk mencoba praktik baru dalam
mengajar. Hal tersebut sehubung dengan yang dikemukakan oleh McEvoy dalam
bukunya (Seyfarth, 2002; 127) “kepala madrasah dan pendidik berdialog tentang
kepemimpinan untuk perencanaan dan pelaksanaan aktivitas pengembangan profesional
pendidik di madrasah.”9
Dari pemaparan diatas peniliti ingin meneliti bagaimana strategi kepala madrasah
dalam mengembangkan kompetensi profesional pendidik yang mana strategi tersebut
dilakukan dengan cara pendidikan atau pelatihan, seminar, workshop yang dilaksanakan
oleh pendidik di MAN 2 Jember terutama pada kompetensi profesional untuk
meningkatkan hasil prestasi Kompetensi Sains Madrasah peserta didik. Dewasa ini,
pendidik ditekankan dapat berkompeten dalam menyampaikan materi kepada peserta
didik agar tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif. Strategi yang dilakukan kepala
madrasah dalam meningkatkan kompetensi profesional pendidik mengadakan pelatihan
untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh pendidik. Karena itu, peneliti
berharap agar sejumlah aspek yang masih belum terterapkan bisa diagendakan pada
kurikulum tertulis (written curiculum) agar profesionalitas dapat dimiliki pendidik di
MAN 2 Jember.
Strategi yang dilakukan kepala madrasah dalam mengembangkan kompetensi
pendidik anatara lain dengan mengundang narasumber yang dianggap kompeten dalam
bidang kompetensi untuk memberikan pelatihan kepada para pendidik. Pelaksanaan
pelatihan, workshop atau seminar diadakan di madrasah (in-house training) yang
bertujuan agar semua pendidik mengikuti pelatihan tersebut sehiggga pemerataan ilmu
yang didapat oleh semua pendidik sama dan tidak terjadi adanya kesenjangan karena
9
Seyfarth, J. T. (2002). Human Resources; Management For Effective Schools. Boston: Allyn and Bacon. Thrid
Edition. H. 127.
5
apabila dilaksanakan diluar madrasah tidak semua guru dapat mengikuti pelatihan
tersebut.
Pelatihan sangat berpengaruh dalam efektivitas sebuah madrasah. Yang mana
pelatihan memberikan kesempatan kepada pendidik agar mendapat pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang dapat mengubah perilakunya yang nantiya dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa. Penyelenggaraan pelatihan profesional harus di
rencanakan sebaik mungkin agar nantinya dapat mencapai hasil yang telah diharapkan.
Demikian yang ditulis oleh Sherman, Bohlander, dan Chruden (1988: 399) “Pelatihan
merupakan suatu proses yang dimanfaatkan organisasi untuk mengubah perilaku pekerja,
yang berkontribusi pada keseluruhan misi orang, pengembangan profesional dan personal
individu yang terlibat”
Sehubung dengan pendapat yang dikemukakan oleh Dian Mahsunah (2012:19)
tentang beberapa strategi yang sampai saat ini dikembangkan oleh pemerintahan
Indonesia yang mana pendidik mengikuti pendidikan dan pelatihan seperti in-house
training (IHT) yang mana pelatihan ini merupakan pelatihan yang dilakukan secara
internal di MGMP ataupun madrasah yang ditetapkan sebagai tempat menyelenggarakan
pelatihan tersebut. Strategi pembinaan yang dilakukan dengan IHT ini dilakukan
berdasarkan kemampuan dalam meningkatkan kompetensi dan karir guru yang tidak
hanya dilakukan secara eksternal tetapi juga dapat dilakukan oleh pendidik yang telah
memiliki kompetensi kepada pendidik lainnya yang belum menguasai kompetensi.
Selanjutnya pendidik juga dapat mengikuti pelatihan berjenjang dan pelatihan
khusus. Yang mana pelatihan ini biasanya dilaksanakan di Balai Diklat Keagamaan
(BDK) dan lembaga lainnya. Program pelatihan ini disusun secara berjenjang mulai dari
jenjang dasar, jenjang menengah, lanjut, dan tinggi. Maka dari itu guru harus bisa
mempersiapkan secara matang apa saja hal-hal yang diperlukan dalam pelatihan tersebut
guna menghasilkan pelatihan kompetensi yang maksimal. Di MAN 2 Jember sendiri
peningkatan mutu peserta guna memperoleh hasil yang dinginkan pengelola olimpiade
mengadakan
Setelah melakukan wawancara dengan Bapak Moh. Khoirul Anam, S. E. selaku
guru ekonomi di MAN 2 Jember, pendidik dituntut untuk mengikuti Musyawarah Guru
Mata Pelajaran (MGMP) yang biasanya diselenggarakan forum yang memfasilitasi
6
berkumpulnya pendidik yang mata pelajarannya sama untuk berdiskusi tentang
bagaimana pengembangan profesionalitas kerja. Akan tetapi, dampak adanya covid-19
mengakibatkan kegiatan pelatihan yang biasanya dilakukan secara luring menjadi
terhambat. Namun para pendidik di Man 2 Jember mempunyai trobosan yakni mengikuti
MGMP, seminar, workshop maupun PLPG secara daring atau melalui via Zoom.10
Pelatihan kompetensi profesional juga diikuti oleh pendidik di MAN 2 Jember yang
meliputi cara membuka pembelajaran, cara penutupan pembelajaran, dan bagaimana cara
penyajian materi agak peserta didik tidak merasa jenuh saat pembelajaran.
Selain itu dalam meningkatkan prestasi akademik peserta didik kepala madrasah
juga berkontribusi mengikuti kompetisi sains madrasah pada tingkat kabupaten/kota
maupun provinsi. Kompetisi sains madrasah merupakan ajang lomba kompetisi sains
yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (KEMENAG RI).
Pelaksanaan KSM dilaksanakan secara bertahap dimulai dari tingkat kabupaten/kota
kemudian peserta yang lolos akan lanjut ke tingkat Provinsi yang pada akhirnya akan
mengikuti seleksi tingkat Nasional yang diikuti oleh seluruh Madrasah Aliyah Negeri dan
Swasta se-Indonesia. Pengikutsertaan tersebut adalah salah satu upaya yang dilakukan
pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam aspek
pendidikan terutama dalam bidang prestasi akademik peserta didik.
Dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan, MAN 2 Jember memiliki upaya
dalam melakukan pembinaan KSM diantaranya membentuk tim yang terdiri dari panitia
dan mentor yang kompeten di bidangnya seperti LBB, juara KSM tahun lalu, maupun
dosen yang kompeten dalam bidangnya. Sementara itu dalam pemilihan peserta KSM
diseleksi oleh Madrasah pada masing-masing pelajaran yang mendaftarkan diri untuk
mengikuti seleksi tahap Kabupaten/Kota. Pada tahun 2021 MAN 2 Jember meraih juara
tingkat kabupaten Jember yakni juara 1 KSM Biologi, juara harapan 1 KSM Geografi,
dan juara harapan 1 KSM Matematika.11 Dan pada tahun 2022 Kompetisi Sains
Madrasah diadakan oleh Ketua Tim Ahli KSM dari UIN Sunan Ampel Surabaya pada
tanggal 11 juli 2022 pada tingkat kabupaten/kota dan Man 2 Jember sendiri meraih Juara
10
Hasil wawancara dengan Bapak Moh. Khoirul Anam S. E selaku guru ekonomi di MAN 2 Jember pada tanggal 08-
09-2022 jam 10.30 WIB.
11
Hasil wawancara dengan Bapak Ulul Fiad Remdani, S. Pd selaku guru Matematika pada tanggal 13-09-2022 jam
12.25 WIB.
7
harapan 1 Matematika tingkat Provinsi dan masuk dalam 50 besar KSM Fisika tingkat
Provinsi. 12 Adapun dalam meningkatkan hasil yang lebih baik lagi pendidik Man 2
Jember
Dari hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut bagaimana strategi
kepala sekolah dalam pengembangan kompetensi profesional pendidik di MAN 2 Jember
seperti yang tertuang dalam judul penelitian ”Strategi Kepala Madrasah Dalam
Pengembangan Kompetensi Profesional Pendidik Untuk Meningkatkan Prestasi
Kompetisi Sains Madrasah Peserta Didik di MAN 2 Jember”.
3. Fokus Penelitian
Berdasarkan konteks penelitian diatas, maka fokus yang menjadi acuan peneliti
dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana strategi kepala madrasah dalam mengembangkan kompetensi profesional
pendidik untuk meningkatkan prestasi Kompetisi Sains Madrasah peserta didik di MAN
2 Jember?
2. Bagaimana hambatan-hambatan kepala madrasah dalam mengembangkan kompetensi
profesional untuk meningkatkan prestasi Kompetisi Sains Madrasah peserta didik di
MAN 2 Jember?
4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka tujuan yang menjadi acuan penelitian ini adalah:
12
Hasil wawancara dengan ibu Dwi isti, S. Pd. Selaku pembina KSM matematika pada tanggal 14 September 2022
Jam 13.30 WIB.
8
5. Manfaat Penelitian
Penelitian yang di lakukan ini di harapkan dapat memberikan manfaat secara:
1. Teoritis
Hasil penelitian ini di harapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi para pendidik
terhadap kompetensi profesional pendidik, menambah motivasi kerja pendidik serta dapat
menambah pengetahuan pendidik di MAN 2 Jember dalam mengembangkan prestasi peserta
didik.
2. Praktis
a. Bagi Kepala Madrasah
Hasil penelitian ini sebagai bahan masukan terhadap kepala sekolah dalam
mengimplementasikan kompetensi profesional guna meningkatkan prestasi belajar peserta didik
agar dapat meningkatkan mutu pembelajaran pada masa yang akan datang. Selain itu dapat
menjadi bahan masukan bagi kepala madrasah dalam menentukan kebijakan terutama dalam
meningkatkan kompetensi guru untuk meningkatkan prestasi Kompetisi Sains Madrasah peserta
didik di MAN 2 Jember.
Secara praktis hasil penelitian ini sebagai bahan sumbangasih pemikiran bagi para pendidik di
Man 2 Jember dalam meningkatkan kompetensi profesional pendidik untuk meningkatkan
prestasi kompetensi sains madrasah.
c. Bagi Peneliti:
Penelitian ini diharapankan dapat menambah wawasan dan pengalaman sebagai bahan bekal
pengetahuan dalam meningkatkan wawasan serta dapat menerapkan dalam masyarakat di masa
mendatang. Dan dapat mengetahui bagaimana strategi kepala madrasah dalam meningkatkan
kompetensi profesional pendidik
9
10
6. Definisi Istilah
Definisi istilah adalah penjelasan mengenai istilah-istilah penting yang menjadi fokus
dalam judul [Link] tujuan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara nulis dan
pembaca:
a. Strategi kepala madrasah adalah suatu cara ataupun kiat yang digunakan agar tujuan
tertentu dapat tercapai dengan baik, efektif, dan efisien. Adapun strategi kepala madrasah
merupakan faktor penentu keberhasilan peningkatan prestasi peserta didik. Dalam hal ini
strategi yang dilakukan oleh madrasah adalah dengan mengikutsertakan para pendidik
agar dapat meningkatkan kualitas pengetahuan peserta didik.
b. Pengembangan kompetensi profesional adalah kemampuan pendidik dalam segi
pengetahuan yang mana seorang pendidik dikatakan berkompeten jika memiliki
pengetahuan yang memadai. Selain itu, seorang pendidik yang berkompeten harus
mempunyai keterampilan yang dapat mengembangkan dirinya dan orang-orang di
sekitarnya. Kompetensi profesional merupakan kemampuan pendidik dalam memahami
dan menguasai materi. Pengembangan pendidik dapat dilakukan dengan banyak cara
salah satunya dengan mengikutsertakan pelatihan, seminar, workshop dan MGMP.
c. Prestasi KSM peserta didik adalah tingkat keberhasilan peserta didik dalam mencapai
tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dalam pelaksanaan pembelajaran sebagai tolak
ukur untuk menilai berhasil atau tidaknya pembelajaran di madrasah sebagai peniliaian
apakah peserta didik dapat menerima pelajaran dengan baik. Selain itu, upaya pendidik
dalam meningkatkan prestasi peserta didik dapat melalui peningkatan prestasi peserta
didik dalam bidang akademik salah satunya dengan mengikutisertakan peserta didik
dalam kompetensi sains madrasah (KSM). Kompetisi Sains Madrasah (KSM) merupakan
ajang kompetisi dalam bidang sains yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama
Republik Indonesia dengan tujuan agar dapat mengasah kompetisi peserta didik opada
kemampuan akademik dibidang sains.
11
7. KAJIAN PUSTAKA
a. Penelitian Terdahulu
1. Jurnal penelitian oleh Wiwu Ulandari dan rustan Santaria tahun 2020 tentang “Strategi
Pengembangan Profesionalitas Guru Melalui Pendidikan dan Pelatihan”. Jenis penelitian
yang digunakan kepustakaan ialah teori yang diambil dari data-data kepustakaan
kemudian dikaji untuk mendapatkan hasil yang objektif.
Dari hasil penelitian tersebut dalam mewujudkan tujuan dari pendidikan perlu adanya
strategi pengembangan yang tepat dalam rangka meningkatkan profesionalitas guru.
Pendidikan dan pelatihan merupakan strategi pengembangan yang bertujuan untuk
meningkatkan kompetensi guru baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.
2. Jurnal Penelitian oleh Panji Alam Muhamad Ikbal Tahun 2018 dengan judul “Manajemen
Pengembangan Kompetensi Profesional Guru di MAN 1 Garut”.
Hasil dari penelitian tersebut agar dapat mengetahui manajemen pengembangan
profesionali guru di Man 1 Garut. Setelah dilakukan penelitian dapat terlihat bahwa
kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, terbentuknya team work .
3. Skripsi Sahrul Autory Tahun 2019 dengan judul ”Strategi Kepala Sekolah dalam
Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru di MA Mathla’ul Anwar Gisting”.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kepala madrasah MA Mathla’ul Anwar Gisting
telah melakukan peningkatan kompetensi profesional dengan baik. Hal ini mengacu pada
indikator pelaksanaan penataran dan pelaksanaan supervisi akademik. Dimana dalam
melaksanaan penataran kepala sekolah mengadakan pelatihan-pelatihan untuk
memperdayakan kompetensi yng dimiliki guru dengan mengikutsertakan guru ke
pelatihan PLPG, mengadakan pengembangan kurikulum, dan melakukan peningkatan
profesional guru.
4. Jurnal Penelitian Eha Dahlia Institut Agama Islam Negeri Bengkulu Prodi Pendidikan
Agama Islam dengan judul “Strategi Peningkatan Kompetensi Guru dan Kualitas
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 8 Lubuklinggau”.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan
kualitatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa strategi yang dilakukan kepala sekolah
12
SMP Negeri 8 Lubuklinggau yaitu memotivasi guru untuk berkreasi dan berinovasi,
meningkatkan profesionalime guru, menerapkan kedisiplinan guru, karyawan dan siswa,
melakukan supervisi dengan baik, meningkatkan kualitas siswa dengan mengikuti ajang
perlombaan ekstrakulikuler maupun kurikuler, serta meningkatkan kualitas sarana dan
prasarana yang memadai.
13
Agar lebih mempermudah memahami penelitian ini, maka peneliti akan menguraikan
sebagai berikut:
Tabel 1.1
Persamaan dan perbedaan penelitian
No. Judul penelitian Persamaan Perbedaan
penelitian penelitian
1. Jurnal Wiwu Strategi dalam Pada penelitian
Ulandari, Rustan mengembangkan ini peneliti lebih
Santaria “Strategi profesionalitas fokus pada
Pengembangan guru dapat strategi kepala
Profesionalitas Guru dilakukan madrasah untuk
Melalui Pendidikan dengan meningkatkan
dan Pelatihan”, pendidikan dan prestasi kompetisi
Institut Agama Islam pelatihan yang sains madrasah
Negeri Palopo. bertujuan untuk sedangkan pada
meningkatkan jurnal tersebut
kompetensi peneliti berfokus
guru. pada bagaimana
strategi
pengembanagan
profesionalitas
guru.
2. Jurnal Panji Alam Pelaksanaan Di Man 2 Jember
Muhamad Ikbal pengembangan pelaksanaan
“Manajemen kompetensi kompetensi
Pengembangan pendidik profesional
Kompetensi dilakukan pendidik
Profesional Guru” melalui dilakukan dengan
penataran- mengikutsertajann
penataran,. pendidik dalam
14
No. Judul Penelitian Persamaan Perbedaan
Penelitian Penelitian
pelatihan, pelatihan, in-
supervisi, serta house training dan
memfasilitasi hlain sebagainya
pendidik.
dengam
menyediakan
program
workshop
3. Skripsi Sahrul Autory Persamaan pada Pada penelitian
“Strategi Kepala penelitian ini Sahrul lebih
Sekolah Dalam strategi yang menjelaskan
Meningkatkan dilakukan kepala Pelaksanaan
Kompetensi madrasah supervisi
Profesional Guru Di dengan akademik.
MA Mathla’ul Anwar melakukan
Gisting” UIN Raden penataran seperti
Intan Lampung. pelaihan PLPG
atau MGMP.
4. Partiningsih Persamaan dari Pada penelitian
Universitas Islam penelitian ini ini peneliti juga
Negeri Raden Intan dalam berfokus pada
Lampung Tahun 2018 mengadakan pengembangan
dengan judul MGMP dan kompetensi
“Pelatihan dan melakukan profesional
Pengembangan penilaian secara pendidik untuk
Profesionalisme Guru objektif. meningkatkan
di MAN 2 Bandar prestasi KSM
Lampung peserta didik di
Man 2 Jember.
15
No. Judul Penelitian Persamaan Perbedaan
Penelitian Penelitian
5. Eha Dahlia Institut Jurnal tersebut Dalam
Agama Islam Negeri lebih mengarah mengembangkan
Bengkulu Prodi kepada strategi kompetensi
Pendidikan Agama kepala sekolah pendidik kepala
Islam dalam sekolah
meningkatkan memotivasi guru,
kompetensi menerapkan
profesional guru disiplin guru serta
serta meningkatkan
melaksanakan kualitas siswa.
supervisi dengan
baik.
Dari hasil kajian penelitian terdahulu dapat peneliti simpulkan pendidik memiliki fokus
pada pengembangan kompetensi pendidik agar dapat meningkatkan kualitas hasil prestasi siswa
yang tinggi. Sedangkan pada penelitian ini fokus kajiannya mendeskripsikan bagaimana strategi
kepala sekolah dan pendidik dalam mengembangkan kompetensi profesional agar meningkatkan
prestasi peserta didik di MAN 2 Jember. Sehingga lebih menarik jika dilakukan penelitian
lanjutan agar kepala madrasah dapat memaksimalkan strategi pengembangan kompetensi
profesional secara efektif agar nantinya para pendidik di MAN 2 Jember dapat menghasilkan
peserta didik yang cerdas dan bermartabat.
16
b. Kajian Teori
1) Strategi Pengembangan Kompetensi Pendidik
13
Suparlan, Guru Sebagai Profesi, (Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2006), h.85.
14
Subandiah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Jakarta: PT RajaGrafindo, 1993), h.6.
15
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteritik, dan Implementasi, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2003), h. 38.
16
Piet A. Sahertian, Profil Pendidik Profesional, (Yogyakarta: Andi Offset, 1994), h. 56.
17
Dari pengertian diatas maka terdapat tiga aspek dalam kompetensi guru yaitu aspek
personal, aspek sosial, dan aspek profesional. Dari banyaknya analisis kompetensi guru
aspek personal dan aspek sosial umumnya menjadi satu karena solidaritas manusia dinilai
sebagai perwujudan dari pribadinya. Sebelum melaksanakan pembelajaran pendidik
terlebih dahulu harus membuat perencanaan pembelajaran untuk kedepannya seperti apa,
kemampuan menjalankan program belajar mengajar adalah kemampuan membuat
interaksi proses pembelajaran sesuai dengan kondisi serta program yang dibuat.
Secara substantive karakteristik professional minimum guru telah terakomodasi dalam
peraturan perundang-undangan yang mengatur standart kualifikasi akademik dan
kompetensi guru. Antaranya:
a. Menguasai karakter siswa mulai dari aspek fisik, moral, social, emosional, dan
intelektual.
b. Menguasai teori mengajar dan prinsip-prinsip pembelajaran.
c. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
d. Mengadakan kegiatan pengembangkan yang mendidik siswa.
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kegiatan penyelenggaraan
kegiatan pengembangan siswa yang mendidik.
f. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk memanifestasikan
kemampuan yang dimiliki siswa.
Dalam meningkatkan kualitas mengajar guru harus memiliki beberapa keterampilan yang
diterapkan dalam proses belajar mengajar diantaranya:
17
Wardani, I. G. K., Pemantapan Kemampuan Mengajar, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1998) h. 27.
18
Variasi dalam proses belajar mengajar itu sendiri terdapat tiga, yaitu:
1. variasi dalam gaya mengajar
2. variasi dalam penggunaan media dan bahan pelajaran yang digunakan
3. variasi dalam cara interaksi
c. Keterampilan dalam Menjelaskan Materi
Menjelaskan disini maksudnya penyusunan materi bahan ajar dalam tata urutan yang
terencana secara sistematis agar nantinya mudah dipahami oleh siswa.
d. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Membuka pelajaran meliputi beberapa hal berikut, yaitu:
1. Menarik perhatian siswa dengan media belajar yang tepat
2. Menciptakan motivasi
3. Memberikan acuan dan mengemukakan tujuan
18
Ibid., h.30.
19
5) Mendorong pendidik untuk dapat mengefisienkan waktu secara baik 19
Kepala madrasah juga bertugas memotivasi dan membuat orangtua siswa terlibat
aktif pada proses perkembangan madrasah khususnya sebagai penyandang dana dan
penyedia sarana lainnya yang sesuai dengan kebutuhan proses belajar mengajar.
Dalam meningkatkan kompetensi profesional pendidik, kepala sekolah memiliki
beberapa strategi diantaranya:
Prestasi belajar pencapaian siswa sangat penting bagi siswa, guru, maupun
sekolah. Oleh karena itu, dalam menentukan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari
berbagai aspek saat belajar mengajar berlangsung. Bagi siswa, prestasi belajar
menjadi bahan acuan atas keberhasilannya dalam mendalami pengetahuan dan
keterampilan yang dilakukan. Selain itu, prestasi belajar juga merupakan suatu
indikator yang dapat dijadikan sebagian acuan seberapa jauh pengetahuan yang
diharapkan sebelumnya telah dipahami untuk memaksimalkan hasil belajar.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Nasrun Harapan, dkk
yang dikutip oleh Syaiful Bahri tentang prestasi, yakni:
19
Mulyasa , Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 101.
20
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), h. 22.
20
Pembinaan yang dilakukan dalam beberapa langkah yang pertama adalah pembinaan
yang umum dilakukan oleh madrasah dengan memberikan soal-soal test yang setara
dengan soal olimpiade yang familiar, soal tersebut bisa diperoleh dari buku soal-soal
olimpiade tahun-tahun sebelumnya. Kedua, pelaksanaan pembinaan yang terdiri dari
tiga tahap yakni pre-test, treatment, dan post-test. (Gita, dkk.,2017). 21
21
Gita, I. N, Suryawan, P. P., & Artawan, I. G. N. Y. (2017). Pembinaan Olimpiade Matematika bagi Siswa dan Guru
di Desa Sambangan. International Journal of Community Service Learning.
https;//[Link]/10.23887/ijcsl.v1i1.11905
22
W. S. Winkel, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Pengajaran, (Jakarta:edia, 1987), h.43.
21
yang dimilikinya serta pengamalannya dapat mengarahkan serta membimbing siswa
secara baik untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Jadi, dengan demikian evaluasi dapat diartikan sebagai suatu proses yang
berhubungan dengan pengumpulan informasi yang dapat kita gunakan untuk
menentukan tingkat kemajuan pengajaran di masa yang akan datang. Keberhasilan
belajar peserta didik memerlukan data autentik yang bener adanya serta memiliki
keabsahan. Maka dari itu, setiap aktivitas yang berhubungan dengan peserta didik
menjadi acuan khusus di lembaga pendidikan.
23
Oemar hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), h. 210.
22
tes standart.24 Adapun dalam proses pembelajaran tes yang sering dipakai dapat
dikelompokkan menjadi tiga yaitu tes lisan, tes tertulis, dan tes tingkahlaku.
Faktor internal tersebut seperti IQ, kesehatan fisik, dan kempuan siswa itu sendiri
disamping itu ada faktor yang berasal dari luar siswa seperti lingkungan sekolah, guru,
lingkungan bermain, ataupun keluarga juga menjadi faktor yang penting dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa. Di sekolah guru memegang peran penting dalam
mendidik peserta didik agar tujuan dari kurikulum pendidikan dapat dicapai secar a
maksimal. Pendidik harus memperhatikan, membimbing, dan memberikan perhatian
kepada peserta didiknya dalam proses belajarnya, hal ini bertujuan agar siswa merasa
lebih diperhatikan tanpa merasa adanya pembedaan antara satu dengan lainnya.
Selain itu, pendidik juga bertugas sebagai pengelola kelas yang memiliki peranan
stategis untuk merencanakan kegiatan yang akan berlangsung selama pembelajaran di
kelas, mengimplimentasikan kegiatan yang direncanakan dengan subyek dan objek
peserta didik, serta menentukan solusi bila mana nantinya terdapat hambatan dan
tantangan yang muncul saat pembelajaran.25 Hal ini mendukung pendidik agar dapat
menguasai kelas supaya nantinya tidak terjadi salah persepsi antara peserta didik
dengan pendidik yang bukan hanya mengajar di kelas tetapi juga memberikan
24
Ibid., h. 86.
25
Andyarto, Efektivitas Pengelolaan Kelas, dalam jurnal Pendidikan Penabur No. 01/Th. I/Maret 2002, h.67.
23
dorongan kepada peserta didik baik berupa nonmateri seperti pujian, hadiah,
hukuman, maupun materi seperti pembelajaran yang tidak monoton.
Pengaruh pendidik sangat besar dalam mencapai prestasi belajar peserta didik
yang tinggi karena pendidik sosok tauladan bagi peserta didiknya. Inihal ini
menujukkan setiap bentuk perbuatan dan perilaku yang diberikan pendidik akan
menjadi contoh kepada peserta didik karena mereka merasa terikat psikologis dengan
pendidiknya. Dari pernyataan tersebut, dapat digambarkan bagan tentang pengaruh
kompetensi guru terhadap peningkatan belajar siswa.
Tinggi Tinggi
Rendah Rendah
Dari bagan diatas terlihat jika kompetensi yang pendidik miliki mumpuni dalam
proses pembelajaran maka prestasi belajar yang dihasilkan nanti akan lebih maksimal.
Di samping itu proses pengajaran yang tidak monoton akan berpengruh pada
penangkapan materi peserta didik yang nantinya akan berpengaruh pada hasil prestasi
peserta didik.
24
8. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang di gunakan adalah penelitian langsung (fiel research) yang mana
prosedur penelitiannya ialah menggali data dari lapangan yang kemudian di cermati lalu
disimpukan. Peneiti mendapatkan data tersebut melalui wawancara, observasi, dan
megumpulkan beberapa dokumentasi melalui informan lainnya. Setelah data informasi
terkumpul, peneliti menyajikan informasi tersebut dalam bentuk deskripsi.
b. Lokasi Penelitian
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan padapemilihan dan penentuan lokasi
penelitian yaitu tempat, pelaku atau objek, dan kegiatan. 27 Lokasi penelitian dalam
penyusunan skripsi ini adalah lembaga pendidikan MAN 2 Jember yang bertepatan di
Jalan Manggar No .72 Gebang poreng, Patrang, Jember. Yang mana letak sekolah
tersebut sangat strategis dekat dengan perkotaan.
26
[Link]. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif , (Bandung: Tarsito, 1966), h. 5.
27
Ibid., h. 43.
25
terkait strategi pengembangan kompetensi profesional pendidik yang ada di MAN 2
Jember.
c. Subyek Penelitian
Subjek peneitian merupakan bagian dari sumber yang digunakan peneliti untuk
memperoleh data-data penelitian Adapun dalam penelitian ini penentuan subjek
penelitian menggunakan purposive yakni penentuan yang dipilih dengan pertimbangan
dan tujuan tertentu. Tujuan pengambilan teknik tersebut ialah dengan mengambil
beberapa informan yang dianggap dapat memberikan informasi terkait dengan fokus
penelitian.
Adapun subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, peserta KSM dan waka
kurikulum di MAN 2 Jember yang menjadi sumber data dengan pertimbangan yang akan
dimintai data keterangan tentang bagaimana strategi kepala sekolah dan para pendidik
dalam meningkatkan kompetensi profesional guru untuk meningkatkan prestasi kompetisi
sains madrasah peserta didik.
Teknik pengumpulan data adalah cara seorang peneliti dalam mengumpulkan data
yang diperlukan dalam penelitian.28 Adapun penelitian ini ditulis menggunakan metode
pengumpulan data studi lapangan atau field reseach dan wawancara. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode yaitu:
a. Wawancara
Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang
dilakukan secara langsung atau tatap muka dengan tujuan tertentu. Teknik pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian kualitatif lebih efektif menggunakan teknik
wawancara, khususnya wawancara mendalam atau deep interview.
28
Nana Sujana, Menyusun Karya Tulis Ilmiah Untuk Memperoleh Angka Kredit (Bandung: Sinar Baru), h.7
26
Metode wawancara mendalam dibedakan menjadi tiga macam yaitu wawancara
terbuka, wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Akan tetapi pada
penelitian ini peneliti mengunakan wawancara tidak berstruktur. Wawancara tidak
berstruktur ialah wawancara yang tidak menggunakan pendoman wawancara yang susun
secara sistematis dan lengkap dalam pengumpulan data. Wawancara biasanya dilakukan
secara tatap muka, akan tetapi jika tidak memungkinkan bisa melalui via telfon atau
perantara lainnya. Peneliti melakukan wawancara secara face to face dengan kepala
sekolah dan guru di MAN 2 Jember guna mencari data terkait penelitian. Wawancara
tidak terstruktur dilakukan agar informan tidak canggung menyampaikan pendapatnya.
Tujuan wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh
data informasi tentang apa yang terjadi di lapangan. 29 Adapun data yang diperoleh dari
teknik wawancara ini adalah data-data tentang strategi pendidik dan kepala sekolah
dalam pengembangan kompetensi pendidik dalam meningkatkan prestasi peserta didik
yang bermutu di MAN 2 Jember.
e. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diteliti. 30 Observasi
atau pengamatan digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian, metode
observasi hampir digunakan pada suatu penelitian. Peneliti akan melakukan pengamatan
untuk mendapatkan data mengenai kondisi yang ada di MAN 2 Jember. Observasi
sebagai teknik pengumpulan data yang spesifik dibandingkan dengan teknik yang lain
seperti wawancara dan lainnya.31
Teknik pengumpulan data ini digunakan guna agar dapat mengamati bagaimana
program yang telah dilakukan dalam mengembangkan kompetensi profesional pendidik
untuk meningkatkan prestasi kompetisi sains madrasah di MAN 2 Jember.
29
Ulfatin Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003), hal. 180.
30
Cholid Narbuko dan Abu Acmadi, Metode Penelitian (Jakarta: Bumi Aksara, 2009) hal. 70.
31
Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif,dan R&D, (Bandung: Alfabeta,2020), hal.203.
27
f. Dokumentasi
e. Analisis Data
Analisis data merupakan cara mengelola data yang diperoleh dari lapangan yang
dimulai dari mengumpulkan data, memilah data, mengelompokkan data-data yang
penting kemudian menentukan data apa saja yang akan ditulis ke dalam penelitian. 33
Teknik yang digunakan adalah model interaktif dan berlangsung secara sistematis sampai
tuntas.34 Sehubung dengan pendapat Miles dan Huberman (2014) sebagaimana yang
dikutip ada empat macam tindakan dalam analisis data kualitatif sebgai berikut.35
Kondensasi data menurut Miles dan Huberman mengacu pada proses menyeleksi,
memfokuskan, menyederhanakan, serta merubah data yang terdapat pada catatan atau
ulasan lapangan secara tertulis. Adapun dalam kondensasi data mengacu pada proses
pemilihan (selecting), Memfokuskan (focusing), meringkas (abstracting),
menyederhanakan dan mentransformasikan (simplifying and transforming).
32
Sutrisno Hadi, Metodologi Research II (Yogyakarta:Andi Offest, 1994), hal. 136.
33
Lexy J. moleong, Metodelogi Peneltian Kualitatif, h. 248.
34
Sugiyono, Metode Penelitian, h. 244-245
35
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2007) h. 76.
28
2. Penyajian data (Data display)
Penarikan kesimpulan adalah upaya yang dilakukan peneliti saat mencari data di
lapangan. Dari pengumpulan data, pengolahan data, penyajian data hingga penarikan
kesimpulan. Kesimpulan awal yang dikemukakan bersifat sementara, dan akan berubah
jika tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data.
Namun jika kesimpulan didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten maka
kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kridibel atau dapat
dipercaya. 36
36
Hamid Patilima, hal. 101
29
f. Keabsahan Data
Dari hasil penelitian kualitatif terdapat beberapa hal yang diragukan seperti
subjektivitas peneliti yang termasuk hal dominan dalam penelitian. Alat penelitian yang
dilakukan dalam penelitian kualitatif Dalam memeriksa keabsahan data peneliti
menggunakan tiga teknik yaitu triangulasi sumber, triangulasi metode, dan triangulasi
waktu.
Triangulasi bisa diartikan sebagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang
sudah terkumpul. 37 Karena pada penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian
kualitatif maka menggunakan triangulasi data. Adapun tujuan dari penelitian kualitatif
yakni lebih pada pemahaman subjek terhadap lingkungan lapangan.
1. Triangulasi Sumber
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik menguji kredibilitas data dengan cara mengecek sumber yang
sama dengan teknik yang berbeda, pengecekan keabsahan data dilakukan agar
37
Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2008), h.85.
30
memperoleh hasil yang vald agar dapat dipercaya oleh semua pihak. Hasil pengamatan
yang didapat dengan menggunakan triangulasi teknik akan digabungkan dengan data
yang dikumpulkan dari beberapa sumber dengan teknik yang berbeda yakni observasi
dan dokumentasi.
g. Tahap-tahap Penelitian
Tahapan-tahapan pada penelitian ini adalah rencana pelaksanaan penelitian yang akan
dilakukan oleh peneliti, mulai dari penelitian, pembentukan dan pembangunan desain,
penelitian sebenarnya, dan sampai penulisan hasil laporan. 38 Adapun tahap-tahap dalam
penelitian ini yakni:39
1. Tahap pra-lapangan
Tahap pra-lapangan merupakan tahap apa saja yang harus dilakukan sebelum
peneliti masuk ke lapangan. Adapun dalam tahap ini terdapat beberapa langkah-
langkah yakni:
c) Mengurus perizinan
Peneliti harus mengurus perizinan terlebih dahulu pada pihak kampus UIN
KHAS Jember. Dengan adanya surat pengantar dari ketua program studi maka
38
Tim Penyusun, Pendoman Penulisan Karya Ilmiah, h.48.
39
Mundir, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif (Jember:STAIN Jember Press, 2013), h. 61.
31
peneliti memohon izin kepada kepala sekolah MAN 2 Jember untuk
melakukan penelitian. Dengan itu peneliti dapat langsung melakukan tahap-
tahap penelitian di MAN 2 Jember.
d) Memilih informan
Setelah mendapat perizinan kemudian melakukan penelitian dan menilai
lapangan agar dapat mengetahui latar belakang objek penelitian serta
lingkungan sekolah untuk mempermudah dalam penggalian data peneliti pada
tahap ini memilih informan.
e) Menyiapkan perlengkapan penelitian
Setelah memilih rancangan penelitian maka peneliti mempersiapkan alat-
alat yang diperlukan untuk mengumpulkan data yang berhubungan dengan
fokus penelitian.
2. Tahap pekerjaan lapangan
Pada tahap pekerjaan lapangan peneliti mulai mencari data ke tempat
penelitian. Peneliti mengumpulkan semua data-data yang diperlukan melalui
metode wawancara dan dokumentasi.
3. Tahap analisis data
Tahap analisis data merupakan tahap terakhir dari proses penelirtian yang
mana dalam tahap ini peneliti mengumpulkan data dari hasil wawancara,
observasi, dan dokumentasi yang kemudian dianalisis datanya untuk di tindak
lanjut menjadi laporan penelitian.
32
DAFTAR PUSTAKA
Andyarto, Efektivitas Pengelolaan Kelas, dalam Jurnal Pendidikan Penabur No. 01/Th. I/Maret
Andyarto, Efektivitas Pengelolaan Kelas, dalam jurnal Pendidikan Penabur No. 01/Th. I/Maret
2002
Djamarah Bahri Syaiful, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional,
1994)
Priansa Juni Donni, Menjadi Kepala Sekolah dan Guru Profesional, (Bandung:CV Pustaka Setia,
2017)
[Link]
Ketetapan majelis Perwakilan rakyat Republik Indonesia, (Jakarta: Gunung Ilmu Press, 1993)
Mulyana, Ulfatin, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003)
Mulyasa , Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010)
Mundir, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif (Jember:STAIN Jember Press, 2013)
33
Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif,dan R&D, (Bandung: Alfabeta,2020)
Sujana, Nana, Menyusun Karya Tulis Ilmiah Untuk Memperoleh Angka Kredit (Bandung: Sinar
Baru)
Wawancara dengan Bapak Moh. Khoirul Anam S. E selaku guru ekonomi di MAN 2 Jember
pada tanggal 08-09-2022 jam 10.30 WIB.
34