PROPOSAL
PERMOHONAN RENOVASI JALUR TRACKING KAWASAN
EKOWISATA MANGROVE, KELAURAHAN OESAPA BARAT,
KECAMATAN KELAPA LIMA, KOTA KUPANG
DINAS PERIKANAN KOTA KUPANG
NUSA TENGGARA TIMUR
2023
PEMERINTAH KOTA KUPANG
DINAS PERIKANAN
Jln. Timor Raya No. 124- Kel. Pasir Panjang Kota Kupang Telp. (0380) 826181
KUPANG
Kupang, 31 Agustus 2023
Nomor : Kepada Yth.
Lampiran : Menteri Kelautan dan Perikanan
Perihal : Permohonan Bantuan Dana di –
Renovasi Jalur Tracking Ekowisata Jakarta
Mangrove
Dengan Hormat,
Bersama ini kami sampaikan kepada Bapak bahwa dalam rangka Renovasi Jalur
Tracking Ekowisata mangrove menuju kawasan pariwisata yang berkelanjutan untuk
meningkatkan pendapatan asli daerah dan pengelolaan ekosistem mangrove yang lestari untuk
itu kami merencanakan renovasi jalur tracking kawasan ekowisata mangrove sebagai bentuk
pemeliharaan dan pemulihan lingkungan pesisir.
Demikian disampaikan atas bantuan dan kerjasama yang baik diucapkan terima kasih.
Kepala Dinas,
Ejbends H. D S. Doeka, [Link], [Link]
Pembina Utama Muda/ IVc
NIP. 19670327 199703 1 004
Tembusan : Yth
1. Komisi IV DPR - RI
2. Arsip
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kota Kupang adalah salah satu wilayah di pesisir Teluk Kupang yang memiliki
hutan mangrove di sebagian garis pantainya. Hutan mangrove di pesisir Kota Kupang
terletak di Kelurahan Oesapa dan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima yang memiliki
luas 28,67 ha (Matatula et al., 2019) dalam Radja, C. H., Toruan, L. N. L., & Kangkan,
A. L. (2023). Hutan mangrove yang berada di pesisir pantai kota kupang merupakan
bagian dari keberadaan mangrove yang berada pada Taman Wisata Alam Laut (TWAL)
yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 18/Kpts-II/1993
tanggal 28 Januari 1993. Disamping itu hutan mangrove merupakan areal tempat
penelitian, pendidikan, dan ekowisata (Massaut 1999 dan FAO 1994). Dengan
berpedoman tujuan utama, yaitu tercapainya pembangunan yang berkelanjutan yang
berwawasan lingkungan. Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan alam
adalah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di antara potensi itu adalah wisata bahari,
wisata alam, wisata budaya dan kerajinan yang tersebar di beberapa pulau. Salah satunya
adalah ekowisata mangrove yang terletak di kawasan pantai oesapa barat, kota kupang.
Hutan mangrove merupakan salah satu dari sekian banyak ekosistem hutan yang
sangat menguntungkan dan memberikan manfaat yang sangat berpengaruh pada hutan
mangrove itu sendiri. Tiga fungsi utama mangrove, yaitu fungsi fisik yang meliputi
mencegah abrasi, perlindungan terhadap angin dan ombak, menyimpan cadangan karbon
serta penghasil unsur hara. Hutan mangrove sebagai ekosistem hutan yang ada di pesisir
pantai, meskipun tidak mengalami perubahan akibat iklim (Matatula, dkk 2018), namun
pembentukan ekosistem berubah karena dari ekosistem itu sendiri atau disebut juga factor
edafis. Pengaruh dari salinitas, pasang surut, gelombang dan arus sungai setempat
maupun pantai menentukan perkembangan hamparan atau sebaran biomassa mangrove.
Seiring berjalannya waktu keadaan pertumbuhan mangrove di Kota Kupang berkurang,
dan juga kondisi ini memprihatinkan dan menjadi masalah di lingkungan pesisir.
Berangkat dari masalah yang ada di Kota Kupang, salah satu masalah yang
berkaitan erat dengan pembangunan yang berkelanjutan, lingkungan pesisir dalam hal ini
Hutan Mangrove menjadi perhatian yang kini banyak dilakukanya upaya-upaya untuk
menangani masalah tersebut. Masalah yang terjadi pada Kota Kupang sebagai Ibu Kota
Provinsi Nusa Tenggara Timur, yakni keadaan Hutan Mangrove itu sebagian besar
mengalami kerusakan dengan tingkatan yang berbeda, yaitu sebanyak 8.285,10 ha atau
20,40% (kategori rusak berat), 19.552,44 ha atau 48,14% (kategori rusak ringan), dan
12.776,57 ha atau 31,46% (kategori baik). Data ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap
hutan mangrove sangat tinggi karena hanya sepertiga dari total luas hutan mangrove yang
masih dalam kondisi baik, selebihnya telah mengalami kerusakan sebagai dampak dari
berbagai bentuk pemanfaatan (Lio, F. X. S., & Stanis, S, 2018).
Meskipun selama beberapa decade pemanfaatan mangrove menguntungkan
masyarakat,karena itu hutan ini menjadi saah satu lokasi mata pencaharian masyarakat,
untuk itu jika masalah-masalah ini tidak diupayakan, maka akan memperburuk keadaan
ekosistem ini. Cara untuk mengatasinya adalah Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi hutan
berdasarkan pada Pasal 41 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
(UU No. 41/1999) menyatakan bahwa rehabilitasi hutan dan lahan diselenggarakan
melalui kegiatan: (1) reboisasi, (2) penghijauan, (3) pemeliharaan, (4) pengayaan
tanaman dan (5) penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif dan sipil teknis, pada
lahan kritis dan tidak produktif. erikut merupakan peran penting rehabilitasi hutan
mangrove:
1. Menjaga roda perekonomian masyarakat sekitar
Rehabilitasi mangrove dapat menekan laju deforestasi khususnya pada ekosistem
mangrove sehingga dapat mencegah kehilangan biodiversitas yang lebih banyak serta
dapat mengembalikan biodiversitas yang sebelumnya hilang. Rehabilitasi dilakukan
dengan mengembalikan berbagai vegetasi mangrove sesuai dengan zona penyebarannya
melalui kegiatan penanaman. Kembalinya berbagai vegetasi tersebut tentunya akan
menyediakan habitat bagi beragam fauna di kawasan mangrove. Flora dan fauna di hutan
mangrove tersebut merupakan sumber penghasilan bagi masyarakat. Maka dari itu,
adanya kegiatan rehabilitasi dapat membuat roda perekonomian masyarakat terus
berjalan.
2. Mengembalikan fungsi mangrove sebagai sistem penyangga kehidupan
Sebagai sistem penyangga kehidupan, mangrove dapat menjadi pelindung
kawasan pesisir karena hutan mangrove mampu menjadi pemecah serta gelombang air
laut. Adanya rehabilitasi tentu saja dapat mengembalikan fungsi mangrove sebagai
pelindung kawasan sehingga kerusakan yang ditimbulkan oleh gelombang, abrasi, serta
badai dapat berkurang. Jika kawasan pesisir dapat terlindung maka kawasan di
belakangnya dapat dimanfaatkan untuk area pertanian masyarakat sekitar. Di samping itu,
mangrove juga berperan dalam menjaga kualitas air karena perakaran mangrove dapat
mengurangi materi tersuspensi dalam air kemudian mendeposisikannya sehingga dapat
meningkatkan oksigen terlarut. Perakarannya pun dapat menyerap dan mengurangi
polutan dalam sedimen lumpur serta mengatur pergerakan sedimen. Oleh karena itu,
rehabilitasi mangrove dapat turut berkontribusi dalam perbaikan kualitas air.
3. Mengembalikan fungsi mangrove sebagai penyimpan karbon
Menurut Rahma dkk. (2015) dalam Dinilhuda dkk. (2018), hutan mangrove
mampu mereduksi CO2 melalui mekanisme “sekuestrasi” yang merupakan penyerapan
karbon dari atmosfer dan penyimpanannya dalam bentuk biomassa yang mencapai 296
ton C/ha. Ketika hutan mangrove dipulihkan maka hutan mangrove pun dapat kembali
menjalankan fungsinya sebagai penyimpan karbon. Hal ini tentu saja dapat mengurangi
jumlah emisi karbon di udara sehingga dapat berkontribusi dalam mitigasi perubahan
iklim global.
4. Menyediakan berbagai sumber daya untuk masyarakat pesisir
Rehabilitasi mangrove akan memulihkan sumber daya alam berupa flora dan
fauna yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat peisisir. Berbagai jenis flora di hutan
mangrove dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan, contohnya Avicennia alba
yang bermanfaat untuk mengobati luka dan penyakit cacar serta Lumnitzera racemosa
yang dapat dimanfaatkan sebagai obat sariawan. Beberapa jenis tumbuhan seperti
Rhizopora mucronata dan Rhizopora apiculata dapat dimanfaatkan kayunya sebagai kayu
bakar dan bahan baku arang. Sementara itu, fauna yang mendominasi hutan mangrove
yaitu fauna dari kelompok Crustaceae contohnya udang, kepiting, dan lobster serta fauna
dari kelompok Molusca contohnya kerang dan siput. Jenis-jenis fauna tersebut
merupakan bahan makanan yang memiliki nilai gizi yang tinggi sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir.
Sejauh ini pengelolaan hutan mangrove belum maksimal, sehingga rehabilitasi
harus segera dilakukan, peran pemerintah dan stakeholder. Dengan demikian dengan
adanya perencanaan kegiatan rehabilitasi yang matang akan semakin meningkatkan
keberhasilan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove.
BAB II
GAMBARAN UMUM
B. Lokasi Kawasan Ekowisata
Lokasi Ekowisata Mangrove terletak di kawasan Oesapa Barat, kota Kupang,
Nusa Tenggara Timur Kupang. Destinasi ekowisata diresmikan dan di buka mulai bulan
februari 2016. Hutan mangrove awalnya dikembangkan dengan adanya bantuan IFAD
yakni organisasi yang bergerak di bidang pembangunan pesisir yang berpusat di Roma,
Italia yang memberikan suntikan dana kepada pemerintah kota kupang dan di kelola
dengan memberdayaan masyarakat setempat. Hutan mangrove ini memiliki luas kurang
lebih seluas 40.695 hektar.
Ekowisata Mangrove merupakan salah satu tempat wisata yang terletak di RT
02/RW 01 Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima. Kawasan hutan mangrove
ini dahulu menjadi tempat tambatan perahu para nelayan Oesapa selepas melaut. Lokasi
ini banyak ditumbuhi mangrove yang tumbuh sepanjang pesisir pantai dan menjadikan
kawasan mangrove di Kelurahan Oesapa Barat sebagai salah satu obyek wisata mangrove
dan alternatif destinasi wisata warga di wilayah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur
(NTT). Penetapan lokasi ini sebagai lokasi wisata merupakan Program pemberdayaan
masyarakat pesisir (Coastal Community Development Project (CCDP) yang diinisiasi
oleh Internasional Fund For Agriculture Development (IFAD) di kota Kupang, Nusa
Tenggara Timur (NTT). Kawasan ekowisata terutama komunitas mangrove pemerintah
kota Kupang menata tempat ini menjadi tempat yang baik untuk berwisata.
Gambar 1.1 Tampak Depan Pintu Masuk Kawasan
Pada kawasan ini terdapat jembatan atau jalur yang disediakan bagi pengunjung
untuk lebih leluasa mengamati berbagai jenis mangrove yang terdapat pada kawasan
ekowisata ini serta memberi kesempatan bagi pengunjung yang ingin masuk lebih jauh ke
dalam untuk menikmati indahnya lokasi mangrove dan lautan. Jembatan tersebut
memiliki panjang ±230 meter dan tinggi sekitar 4 meter yang terbuat dari kayu. Pada
pintu gerbang masuk kawasan mangrove tepatnya di samping kanan kawasan hutan
mangrove terdapat beberapa lokasi tempat tersedianya anakan mangrove yang di buat
oleh warga yang tinggal di sekitar kawasan.
C. Nama Program
Program ini kami beri nama Renovasi Jalur Tracking Ekowisata Mangrove,
Kelurahan Oesapa Barat, Kota Kupang
D. Tujuan Program
1. Conservation (perlindungan) yaitu sebagai upaya untuk tetap menjaga dan melindungi
kelestarian lingkungan pantai dari abrasi.
2. Restorvation (pengamanan) pengamanan terhadap abrasi, garis pantai sebagai batas
teritorial negara dan habitat di dalamnya.
3. Education (pendidikan) diharapkan proyek tersebut dapat dikembangkan dan dijadikan
sebagai laboratorium alam yang nantinya menjadi pusat penelitian mangrove.
4. Production (produksi) yaitu disamping sebagai penghasil bibit dan pemanfaatan kayu
mangrove, tetapi juga terdapat nilai produktif ekonomis pada habitat ikan, reptil dan
burung dalam hutan mangrove.
5. Pemulihan Lingkungan, yaitu setelah perlindungan dan pengamanan terlaksana maka
pemulihan kelestarian lingkungan akan terjadi.
BAB III
KEBUTUHAN BIAYA RENOVASI JALUR TRACKING DI KAWASAN EKOWISATA
MANGROVE, KELURAHAN OESAPA BARAT, KOTA KUPANG
Berdasarkan uraian di atas, untuk meningkatkan dan mengembangkan kondisi Ekowisata
Mangrove yang mengalami kerusakan perlu dilakukan renovasi. Melalui proposal ini kami
mengusulkan bantuan anggaran untuk Renovasi Kawasan Ekowisata Mangrove.
Adapun kebutuhan biaya renovasi kawasan ekowisata mangrove adalah sebagai berikut :
No Uraian Jumlah Biaya
1 Biaya Perencanaan Rp. 20.000.000,-
2 Biaya Renovasi Rp. 465.000.000,-
3 Biaya Pengawasan Rp. 15.000.000,-
Total Biaya Rp. 500.000.000,-
Kepala Dinas
Ejbends H. D. S Doeka, S. Sos, M. Si
Pembina Utama Muda IV/c
NIP. 19670327 199703 1 004