RESUME KULIAH FILSAFAT
Nama/NPM/Prodi : Sarah Febriyanti/2306282940/Ilmu Kesehatan THT-BKL
Narasumber : Prof. Dr. dr. Herkutanto, SH, FACLM
Hari/Tanggal/Jam : Selasa, 2 April 2024 / 10.00 – 12.00
Pengantar Hukum Kedokteran
Mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) bukan hanya sebuah pencapaian akademik bagi
dokter, tetapi juga awal dari serangkaian tanggung jawab profesional yang mendalam, termasuk
kecakapan dalam bidang medikolegal. Dalam realitas medis modern, praktisi medis berada di garis
depan interaksi dengan berbagai aspek hukum, mengingat praktik kedokteran kini sangat rentan
terhadap risiko kesalahan yang signifikan. Oleh karena itu, kesadaran dan pemahaman mendalam
tentang aspek hukum dalam praktik medis bukan hanya sebuah kebutuhan, melainkan suatu
kewajiban yang harus diemban dengan serius.
Kecakapan dalam berpikir kritis merupakan salah satu indikator kinerja dokter yang penting,
mengingat kompleksitas tantangan yang dihadapi dalam praktik sehari-hari. Pemahaman tentang
posisi hukum dokter, yang sangat bergantung pada profesionalisme dan kewenangan klinis,
menjadi esensial. Kewenangan ini bukan hanya sekedar hak yang diperoleh melalui pendidikan
dan pengalaman, namun juga sebuah tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan
pemahaman etik, disiplin, dan hukum yang tepat.
Pentingnya mengintegrasikan paradigma hukum dalam pendidikan medis bertujuan untuk
membekali dokter dengan kemampuan menghadapi tantangan hukum yang mungkin muncul.
Mengenal anatomi hukum, posisi hukum dokter, dan norma-norma hukum esensial bagi praktisi
kesehatan adalah bagian dari pembekalan tersebut. Norma hukum sendiri berfungsi sebagai
patokan atau standar perilaku, yang dapat dibagi menjadi norma kepercayaan, kesusilaan,
kesopanan, dan hukum.
Norma kepercayaan dan kesusilaan bersifat pribadi, mengatur hubungan individu dengan Tuhan
dan kesucian hidup pribadi. Pelanggaran dalam norma ini tidak menjadi masalah hukum negara,
tetapi lebih kepada masalah pribadi. Norma kesopanan dan hukum, di sisi lain,
mengatur hubungan antarindividu untuk mencapai kedamaian bersama, dengan sanksi negara bagi
yang melanggar.
Etika kedokteran, sebagai bagian dari norma kesusilaan, memegang peranan penting di dalam
praktik kedokteran. Pelanggaran terhadap etika kedokteran dapat menimbulkan masalah etika,
meskipun bukan berarti melanggar hukum negara. Dalam etika, tidak hanya dilihat dari sudut
benar atau salah, tetapi lebih kepada baik atau buruk. Meskipun Majelis Kode Etik Kedokteran
(MKEK) memiliki peran dalam mengatur etika profesi, namun tidak sebagai pengadil masalah
etika. Tujuan utama etika adalah untuk melakukan introspeksi diri dan meningkatkan kualitas
moral profesi.
Sementara itu, disiplin dalam praktik kedokteran diatur oleh lembaga seperti Majelis Kedokteran
Indonesia (MKDI), yang memiliki standar berdasarkan benar atau salah untuk menentukan
kualitas pelayanan dan perilaku profesional. Sasaran dari disiplin mencakup dokter yang memiliki
kekurangan keterampilan, mengalami masalah komunikasi, atau terlibat dalam pelecehan seksual.
Disiplin menekankan pada pengaturan perilaku dalam konteks profesi.
Hukum, sebagai norma yang bertujuan untuk menjaga kedamaian bersama, ditegakkan melalui
sistem peradilan. Hukum memiliki standar yang jelas mengenai benar dan salah, dengan tujuan
untuk mencegah konflik dan masalah, baik secara perdata maupun pidana. Pengadilan, dengan
kehadiran hakim, penggugat/jaksa, dan tergugat/terdakwa, berfungsi untuk menegakkan hukum.
Pemahaman dokter tentang posisi hukumnya dalam praktik kedokteran sangatlah penting untuk
menjalankan profesinya dengan benar. Profesionalisme dokter tidak hanya berkaitan dengan
pendidikan dan sertifikasi, tetapi juga dengan privilege dan kepercayaan yang diberikan oleh
masyarakat. Kecakapan medikolegal memungkinkan dokter untuk menghadapi tantangan hukum
dengan lebih baik, menghindari pelanggaran, dan menjalankan praktik medis yang etis dan
bertanggung jawab.
Pada akhirnya, integrasi antara pemahaman hukum, etika, dan disiplin dalam praktek kedokteran
membantu dokter tidak hanya dalam menyediakan pelayanan medis yang berkualitas, tetapi juga
dalam menjaga integritas profesi dan kepercayaan masyarakat. Kewajiban dokter setelah
memperoleh Surat Tanda Registrasi (STR) untuk kompeten dalam bidang medikolegal merupakan
fondasi penting dalam membangun praktik kedokteran yang profesional, etis, dan sesuai dengan
standar hukum yang berlaku.
Dalam konteks profesi kedokteran, terdapat kontrak sosial antara dokter dengan komunitas yang
seringkali mengalami berbagai tantangan. Untuk menjamin bahwa praktik kedokteran dilakukan
dengan standar profesional yang tinggi, diperlukan proses kredensial yang ketat sebelum dokter
diberikan hak untuk melakukan praktik medis, yang dikenal dengan istilah clinical privilege. Ini
merupakan wujud nyata dari pengakuan atas kompetensi dokter oleh otoritas berwenang di suatu
yurisdiksi. Undang-Undang Kesehatan No. 17 Tahun 2023 menyatakan bahwa setiap dokter harus
mendapatkan surat tanda registrasi yang mencakup clinical privilege sebelum mereka diizinkan
untuk praktik kedokteran. Ini menegaskan bahwa dokter harus menjalankan tanggung jawab
profesional mereka sesuai dengan standar kompetensi yang tinggi.
Proses kredensial ini dilakukan untuk menggambarkan secara spesifik kewenangan apa saja yang
dapat dilakukan oleh dokter tersebut. Proses ini bukan hanya sekedar formalitas administratif,
melainkan evaluasi mendalam terhadap kemampuan dan kompetensi medis dokter, termasuk bagi
dokter pendidikan pasca sarjana (PPDS) yang akan berpraktik di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (RSCM). Dokter yang telah mendapatkan clinical privilege akan mendapatkan
surat registrasi, yang menjadi syarat legal untuk mereka berpraktik di masyarakat. Proses
kredensial dan pemberian clinical privilege ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari
praktek kedokteran yang tidak kompeten.
Regulasi ini diimplementasikan melalui mekanisme kredensial untuk memastikan bahwa hanya
dokter yang memenuhi syarat yang dapat memberikan pelayanan medis kepada masyarakat. Ini
merupakan bentuk proteksi masyarakat dari risiko medis yang tidak perlu. Privilege yang diberikan
kepada dokter merupakan pengecualian atas larangan umum untuk melakukan praktek kedokteran,
yang dapat dicabut apabila dokter dianggap tidak lagi memenuhi standar profesional atau terbukti
melakukan malpraktik. Proses penilaian kredensial dan pemberian privilege ini dilakukan oleh
Komite Medik Rumah Sakit, yang bertanggung jawab untuk menjamin bahwa setiap tindakan
pelayanan yang diberikan sesuai dengan kompetensi dokter.
Sistem pendidikan kedokteran yang berlaku di berbagai negara umumnya membutuhkan waktu
antara 9 hingga 11 tahun untuk menjadi seorang dokter. Di Indonesia, terdapat percepatan dalam
proses pendidikan kedokteran untuk mengatasi kekurangan dokter, sebuah situasi yang tidak
umum di negara lain. Proses pendidikan ini mencakup magang atau apprenticeship, yang
merupakan bagian penting dari pelatihan praktisi klinis baru. Proses
magang ini diawasi langsung oleh mentor yang bertaruh reputasi dalam proses pengajaran dan
pembelajaran. Dalam dunia kedokteran, pembentukan kelompok profesional seperti kolegium
spesialis menjadi penting untuk menjamin standar profesionalisme dan kompetensi.
Peran kolegium dalam dunia kedokteran merupakan warisan yang telah ada sejak zaman
Majapahit, sementara asosiasi kedokteran modern baru terbentuk pada abad ke-20. Tujuan utama
dari organisasi profesi kedokteran lebih condong kepada urusan politik, sedangkan standar profesi
dipegang oleh kolegium. Oleh karena itu, kolegium dianggap memiliki peran penting dalam
menentukan standar profesi dan tidak seharusnya berada di bawah pengawasan Ikatan Dokter
Indonesia (IDI).
Dalam sistem hukum yang berlaku, dokter atau tenaga medis yang melakukan malpraktik bisa
dihukum dengan sanksi penjara atau denda yang signifikan, tergantung pada tingkat kerusakan
atau cedera yang ditimbulkan kepada pasien. Untuk mengatasi perselisihan antara praktik medis
dengan hukum, dibuatlah peraturan dimana dokter yang diduga lalai harus mendapatkan
rekomendasi dari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) sebelum proses
hukum dapat dilanjutkan. Ini merupakan upaya untuk memastikan bahwa penilaian terhadap
dugaan malpraktik dilakukan oleh pihak yang memahami nuansa praktek kedokteran.
Konsep etika dan profesionalisme dalam kedokteran sangat penting, mengingat kompleksitas dan
sensitivitas layanan yang diberikan. Proses kredensial dan penilaian kembali (re-kredensial)
menjadi mekanisme untuk memastikan bahwa dokter yang berpraktik di masyarakat memenuhi
standar profesional yang tinggi. Ini juga bertujuan untuk membangun dan menjaga kepercayaan
masyarakat terhadap profesi kedokteran. Setiap dokter, oleh karena itu, wajib menjalani proses
kredensial dengan serius dan memelihara kompetensi profesional mereka sepanjang karir mereka,
untuk memastikan bahwa mereka terus memberikan pelayanan kesehatan yang aman, etis, dan
berkualitas tinggi kepada masyarakat.