Vol. 3 No. 2, September 2022, Hal.
114-127
P-ISSN: 2746-0967, E-ISSN: 2721-656X
Dampak Politik Hukum dan Respon Masyarakat atas Pembaharuan
Undang-Undang Minerba
Nur Fadilah Al Idrus
Magister Ilmu Hukum, Program Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Indonesia
Corresponding E-mail: [Link].psc21@[Link]
INFOMASI ARTIKEL ABSTRAK
Perjalanan Artikel: Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
Dikirimkan: 06-06-2022 dan Batubara dianggap masih belum memiliki kemajuan dalam
Direview: 05-07-2022 menangani masalah yang terjadi dalam bidang pertambangan di
Direvisi: 04-08-2022 Indonesia. Pembaruan Undang-Undang Minerba menjadi Undang-
Diterima: 28-08-2022 Undang No. 3 Tahun 2020 diharapkan dapat memperbaiki
pertambangan minerba sehingga memiliki partisipasi nyata terhadap
DOI: masyarakat. Namun RUU yang dirancang tahun 2019 nyatanya
10.18196/jphk.v3i2.14898 mengalami resistensi dari masyarakat. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui bagaimana politik hukum pemerintah dan respon
masyarakat atas pembaruan UU Minerba. Penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan
sumber hukum yang berasal dari peraturan perundang-undangan,
buku, jurnal ilmiah dan website. Hasil penelitian menunjukan
bahwa politik hukum dalam UU Minerba mengarah pada
perkembangan hukum yang praktis serta mendukung sektor
pertambangan dan mengatur mengenai hak dan kewajiban serta
perlindungan pengusaha pertambangan dan lain sebagainya. Selain
itu politik hukum yang terlihat jelas yaitu mengenai pemberian
perlindungan ekonomi untuk rakyat dan Negara, sekalipun terdapat
kerugian yang ditimbulkan. Poin yang perlu diperhatikan dalam
UU Minerba yang baru yaitu terkait kewenangan pengelolaan serta
perizinan, perpanjangan izin operasi, hilirisasi atau peningkatan
nilai tambah, divestasi, tidak berdasarkan landasan tata ruang, serta
pertambangan rakyat, reklamasi dan pasca tambang. Respon
masyarakat terkait pembaruan perundangan ini tergolong menjadi
dua yaitu pro dan kontra. Pihak pro bernggapan bahwa pembaruan
ini lebih jelas dan sesuai. Sedangkan pihak yang kontra beranggapan
bahwa regulasi baru terkait minerba hanya untuk kepentingan
pemilik modal utama sehingga perlu dilakukan kritik. Selain itu,
pembentukan UU ini juga dianggap terlalu kilat dan tidak disertai
adanya keterlibatan masyarakat karena dilakukan pada saat wabah
Covid-19.
Kata Kunci : Perubahan; Kebijakan; Respon; Resistensi
1. Pendahuluan
Perundang-undangan merupakan sendi terpenting dalam menciptakan atau
membentuk hukum dalam sistem hukum nasional. Pembukaan UUD 1945
114
P-ISSN: 2746-0967, E-ISSN: 2721-656X
menjelaskan mengenai tujuan negara, konsep negara, serta kewajiban menjamin Hak
Asasi Manusia (HAM) warga negara Indonesia. Hal ini juga selaras dengan poin
utama pembangunan bangsa yaitu kesejahteraan rakyat Indonesia. Indonesia masih
menganut sistem Eropa Kontinental yang mengikuti tradisi dari civil law hingga saat
ini. Sistem ini merupakan sebuah sistem yang menerima hukum sebagai suatu
kerangka yang bersifat final. Dalam hal ini, hukum juga merupakan sesuatu yang telah
dibentuk oleh legislatif bukan oleh pengadilan.
Prinsip otonomi daerah dalam ruang lingkup hukum dinilai telah melibatkan
masyarakat dalam pembentukan hukum, sebagai contoh dalam pembentukan
perundang-undangan baru. Pembentukan perundang-undangan yang baru tentunya
dilakukan oleh pihak yang berwenang, akan tetapi urgensi pembentukan peraturan
perundangan tersebut perlu diperhatikan apakah hal tersebut layak untuk diterapkan
di masyarakat dari segala aspek. Dalam prosesnya, pembentukan peraturan
perundangan yang baru harus melalui beberapa tahap hingga mencapai pengesahan.
Proses tersebut antara lain perencanaan, penyusunan, pembahasan, dan pengesahan
atau penetapan perundangan (Fadli, 2018). Hal ini menjadi tahapan yang sah karna
diatur dalam regulasi aktif yaitu dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.
Apabila dikaitkan dengan urgensi dalam setiap pembuatan peraturan
perundangan dan kebijakan publik, maka dihendaki penggunaan sumber material.
Sumber material tersebut terdiri dari dua macam yaitu secara filosofis dan sosiologis.
Filosofis artinya setiap peraturan perundangan diharuskan menyesuaikan keadilan
untuk warga negara Indonesia. Sedangkan secara sosiologis berarti setiap peraturan
perundangan diharuskan melihat dan menyesuaikan keadaan objektif warga negara
Indonesia baik dibidang ekonomi, antropologi dan lain sebagainya. Hal yang tidak
kalah penting dan menjadi perhatian khusus ialah mengenai partisipasi setiap warga
negara Indonesia. Hal ini akan menimbulkan kelapangan warga serta respon yang
positif karna dilibatkan dalam proses pembentukan peraturan perundangan dan
kebijakan publik melalui komunikasi aktif dan terbuka serta implementasi peraturan
perundangan tersebut.
Aktivitas pertambangan Minerba di Indonesia telah ada sejak lama, karena itu
instrumen hukum yang mendukungnya tentu telah banyak dibentuk (Redi &
Marfungah, 2021). UU Minerba bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi
masyarakat dalam mengelola hasil alam di daerah setempat dengan pengawasan dari
pusat sehingga dapat menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan
berwawasan lingkungan (Kuswardani & Anggraini, 2021). Dasar dilakukannya
perubahan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara menjadi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan
Mineral dan Batu Bara dianggap perlu. UU No. 4 Tahun 2009 belum menunjukkan
adanya kemajuan mengenai kebutuhan hukum yang menjadi solusi atas tantangan
115
JURNAL PENEGAKAN HUKUM DAN KEADILAN VOL.3 NO. 2: 114-127
dan permasalahan yang ada dalam pertambangan mineral dan batubara. Hal tersebut
dianggap menjadi urgensi dilakukannya penyelarasan peraturan perundangan agar
menjadi efisien dan efektif.
Empat landasan penyusunan kebijakan mineral dan batu bara yaitu berupa
landasan filosofis, politis, hukum, dan strategis. Landasan ini diperjelas dalam
Keputusan Mentri ESDM RI Nomor 77.K/MB.01/ME3^.B/2022 tentang Kebijakan
Mineral dan Batubara Nasional. Landasan ini diperlukan karena dalam melihat peran
produksi yang penting bagi negara Indonesia ialah melalui pengelolaan pertambangan
berkelanjutan serta bertanggung jawab. Apabila hal tersebut berjalan dengan lancar
maka akan memberikan nilai tambah bagi kemakmuran dan kesejahteraan warga
negara Indonesia yang merupakan salah satu tugas pemerintah dan Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) (Pujianti, 2020). Peraturan perundangan atau kebijakan
biasanya dirumuskan oleh birokrat. Birokrat seharusnya bersifat independen terhadap
setiap warga negara Indonesia dalam menampung aspirasi masyarakat. Pada
kenyataanya, sebagai manusia biasa banyak aspek yang dapat mempengaruhi birokrat
dalam membentuk peraturan perundangan (Akili, 2012). Hal ini menimbulkan
pendapat bahwa peraturan perundangan yang dibuat hanyalah untuk kepentingan
beberapa golongan bukan untuk kepentingan seluruh warga Indonesia.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara sebelumnya diperkirakan menjadi solusi semua tantangan yang ada dalam
penyelenggaraan pertambangan. Namun, pada kenyataanya ternyata UU ini belum
menjadi solusi sehingga perlu disempurnakan atau direvisi. Pemerintah dan DPR
melakukan perubahan UU Minerba sebagai cara menata serta memperbaiki
pertambangan minerba. Penataan ini bertujuan agar pertambangan memiliki
partisipasi nyata terhadap masyarakat melalui asas manfaat, berwawasan lingkungan,
kepastian hukum, partisipasi, serta akuntabilitas. Penulis menggarisbawahi hal-hal
yang menjadi urgensi dalam revisi UU Minerba yaitu kewenangan perizinan,
perpanjangan izin, pengaturan terhadap izin pertambangan rakyat dan aspek
lingkungan, hilirisasi, divestasi, hingga pengaturan yang diklaim untuk memperkuat
BUMN.
Pasalnya regulasi terbaru terkait pertambangan minerba dibutuhkan agar dapat
meningkatkan nilai tambah produk sebagai penguat daya saing dengan negara lain.
Tujuan dari penguatan ini yaitu agar negara Indonesia dapat terbebas dan menjadi
penghasil bahan mentah karena selama ini Indonesia banyak mengalami kerugian
akibat unreporting transaksi pada pertambangan raksasa yang nilainya cukup besar.
Revisi UU ini dibuat untuk memberikan efek jera dan sebagai sanksi tegas pada pelaku
pelanggaran. Dalam konsep ideal, revisi UU ini dianggap perlu untuk kepentingan
bangsa dan negara Indonesia yang memiliki area pertambangan dengan jumlah begitu
besar. Adanya regulasi ini dianggap dapat membantu meningkatkan hilirisasi produk
tambang yang menjadi batu pijakan sebuah reindustrialisasi.
116
P-ISSN: 2746-0967, E-ISSN: 2721-656X
Proses pengesahan revisi UU Minerba oleh Dewan Perwakilan Rakyat dinilai
menggores keadilan karna dianggap mengabaikan aspirasi masyarakat Indonesia
yang sedang dalam keadaan darurat akibat pandemi Covid-19, sehingga revisi UU
dianggap menguntungkan beberapa pihak (Masnun, Wardhana, Perwitasari,
Lovisonnya, & Hasyyati, 2021; Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, 2021). Dalam
RUU Minerba di tahun 2019 penulis menggarisbawahi bahwa terdapat resistensi
rakyat Indonesia terhadap RUU tersebut. Resistensi ini ditandai dengan adanya
gelombang aksi demonstrasi penolakan rakyat Indonesia yang merupakan gabungan
dari mahasiswa serta masyarakat umum dengan topik Reformasi Dikorupsi. Melalui
tulisan ini, penulis perlu untuk mengetahui bagaimana politik hukum pemerintah
atas pembaruan UU Minerba dan respon masyarakat atas pembaruan UU Minerba.
2. Metodologi
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis
normatif yakni sebagai penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sebuah
bangunan sistem norma (Fajar & Achmad, 2019). Metode pendekatan yang digunakan
yaitu pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Bahan hukum primer
diperoleh melalui peraturan per undang-undangan dan bahan hukum sekunder
diperoleh melalui buku, jurnal ilmiah dan website. Bahan penelitian non hukum
diperoleh dari website dan media sosial. Bahan penelitian yang telah diperoleh
kemudian dianalisis secara deskriptif.
3. Analisis dan Hasil
Perubahan hukum menjadi urgensi yang berakibat pada bentuk tertulis yang
menjamin (Rahardjo, 1991), namun dalam hal adaptasi selalu menjadi permasalahan.
Dua bentuk perubahan hukum yang biasa terjadi terdiri dari dua sifat yaitu ratifikasi
dan proaktif. Perubahan hukum yang bersifat ratifikasi secara sederhana yaitu
sebelum perubahan hukum terjadi rakyat Indonesia telah melakukan praktiknya,
maka hukum menyesuaikan dengan yang terjadi. Perubahan hukum ini sering terjadi
atau diterapkan di Indonesia. Perubahan hukum yang bersifat proaktif merupakan
kebalikan dari ratifikasi. Sederhananya masyarakat belum melakukan praktiknya, tapi
telah ada ide yang terbentuk untuk perubahan sehingga perubahan hukum terjadi
terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan hukum dapat berlaku sebagai sarana rekayasa
masyarakat.
Langkah penting yang harus diambil sebagai solusi ialah secara konsepsional.
Dalam pembentukan kebijakan hukum salah satunya melakukan susunan Rancangan
Undang-Undang. Rancangan ini tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945 dan
berbagai peraturan perundang-undangan yang ada atau tidak tumpang tindih. Selain
itu, urgensi lain dalam pembentukan peraturan perundangan adalah menyesuaikan
perkembangan sosial kemasyarakatan mulai dari aspek ekonomi, pertanian, budaya,
dan lain sebagainya. Maka diperlukan kesadaran peranan Pemerintah dan DPR dalam
117
JURNAL PENEGAKAN HUKUM DAN KEADILAN VOL.3 NO. 2: 114-127
pencermatan terhadap kekuatan yang turut serta dalam proses pembentukan
peraturan perundangan agar tidak merugikan pihak tertentu.
UU Minerba merupakan sebuah perundangan yang mengatur hukum mengenai
bahan tambang mineral dan batu bara serta penyelenggaraan atau proses
pertambangannya. Hukum pertambangan merupakan salah satu bidang kajian hukum
yang mengalami perkembangan pesat (Ennandrianita, Isharyanto, & Handayani,
2018). Hal ini dapat dilihat dan dibuktikan dengan ditetapkannya berbagai regulasi
yang mengatur tentang pertambangan.
3.1. Poltik Hukum Pemerintah dalam Pembaruan Undang-Undang Minerba
Politik hukum di Indonesia berkaitan erat dengan peran penting politik hukum
dalam pembentukan peraturan perundangan. Politik hukum menjadi pedoman dasar
dalam proses penentuan, penetapan, pembentukan dan pengembangan nilai-nilai
dalam hukum nasional Indonesia. Politik hukum dalam pembentukan peraturan
Perundangan diartikan sebagai kebijakan politik yang diambil untuk menentukan
aturan hukum yang berlaku secara umum agar dapat memperkuat pembentukan
peraturan perundangan yang berkelanjutan (Sopiani & Mubaraq, 2020).
Politik hukum dalam UU Minerba mengarah pada perkembangan hukum yang
praktis dimana penyediaan pemerintah terkait regulasi yang mendukung hal praktis
pada sektor pertambangan yang mengatur mengenai hak dan kewajiban serta
perlindungan pengusaha pertambangan dan lain sebagainya. Kegiatan usaha yang
meningkat oleh para pihak swasta serta BUMN pada seketor pertambangan semakin
terlihat jelas karena diiringi oleh peningkatan kebutuhan bahan baku industri. UU
Minerba sebelumnya yang seperti penulis jabarkan diatas masih belum menjadi
solusi mengenai kebutuhan hukum dalam permasalahan pada lingkup
pertambangan serta perkembangan pertambangan minerba. Pengesahan UU Minerba
yang baru menghadirkan pihak yang pro serta kontra (Akbar, Rasyid, & Fuady, 2021).
Pihak yang pro terhadap revisi UU Minerba beranggapan urgensi pembaruan regulasi
yang lebih jelas karena regulasi sebelumnya dianggap tidak sesuai. Sedangkan pihak
yang kontra menganggap terbentuknya regulasi baru mengenai minerba hanya untuk
kepentingan pemilik modal utama dalam investasi pertambangan. Selain itu, proses
pembetukan regulasi ini dianggap terlalu kilat dari sisi formilnya, terutama karena
dilakukan pada saat pandemi Covid-19. Selain itu, pembaruan UU Minerba ini
dianggap terdapat cacat materil pada subtansi pasal-pasal a quo serta permasalahan
lain yang berhubungan dengan lingkungan dan kesehatan masyarakat serta
mengakibatkan rendahnya peraturan pada penerapan di masyarakat (Lelisari, Hamdi,
& Imawanto, 2021).
Dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara, salah satu politik
hukum yang terlihat jelas adalah mengenai pemberian perlindungan ekonomi untuk
rakyat dan Negara, sekalipun terdapat kerugian yang ditimbukan. Beberapa poin yang
118
P-ISSN: 2746-0967, E-ISSN: 2721-656X
memiliki urgensi dalam revisi atau UU Minerba yang baru ialah terkait beberapa hal
berikut:
a. Kewenangan pengelolaan serta perizinan. Dimana mengenai penguasaan
pertambangan mineral dan batubara, Pemerintah dan DPR sepakat bahwa
pemerintah pusat memiliki kuasa dalam hal fungsional kebijakan, pengurusan,
pengelolaan, pengawasan, jumlah produksi, penjualan serta harga. Saat ini arah
politik hukum pertambangan menjadi berubah dimana kewenangan perizinan
tidak lagi menjadi prioritas pemerintah daerah pasca perubahan UU Minerba yang
baru (Rahayu & Faisal, 2021b). Tetapi perlu diperhatikan adapula kewenangan
perizinan yang didelegasikan kepada pemerintah daerah misalnya dalam bantuan
skala kecil serta izin pertambangan rakyat. Kewenangan ini merupakan poltik
hukum yang sangat menonjol dalam revisi UU Minerba ini. Meskipun begitu arah
politik hukum dalam perubahan UU Minerba kembali berjalan mundur
mendistorsi esensi dari otonomi daerah dengan mengakusisi kewenangan
perizinan pertambangan sebagaimana dalam poin ini (Rahayu & Faisal, 2021a).
b. Perpanjangan izin operasi. Dalam UU Minerba lama izin dapat diperpanjang akan
tetapi dalam UU baru diganti menjadi dijamin (Darongke, Rumimpunu, & Roeroe,
2022). Penjaminan terkait operasi kontrak karya dan atau perjanjian karya
pengusahaan perkembangan barubara, pemegang izin usaha pertambangan, serta
pemegang izin usaha pertambangan khusus yang berkelanjutan sebagai operasi
dengan pertimbangan dalam hal upaya meningkatkan penerimaan negara dalam
Pasal 47, Pasal 83 dan Pasal 169, Pasal 169 A dan Pasal 169 B.
c. Hilirisasi atau peningkatan nilai tambah. Pengaturan terkait hilirisasi dalam revisi
UU Minerba ini terdapat melalui kegiatan serta pemurnian dalam negeri, yang
diperkhusus pada pemegang izin subsektor mineral dan juga diwajibkan
membangun fasilitas kemurnian tersebut dengan maksimal waktu diberikan yakni
ditahun 2023. Jangka waktu termasuk dalam intensif penyokong proyek hilirisasi
ini utamanya dalam perizinan untuk izin usaha pertambangan dan izin usaha
pertambangan khusus yang berkaitan erat dengan pengelolaan serta perizinan
pernyelenggaraan pertambangan. Selain itu, terdapat pula relaksasi ekspor produk
mineral logam yang masih belum dimurnikan dengan ketentuan waktu dalam
revisi UU Minerba ini sejak berlaku. Regulasi terkait dapat dilihat dalam Pasal 102,
Pasal 103, Pasal 47, Pasal 83 dan Pasal 170 (A).
d. Divestasi. Pemegang izin usaha pertambangan dan izin usaha pertambangan
khusus dalam tahapan operasi dalam memproduksi apabila saham tersebut milik
orang asing maka wajib menjalankan divestasi atas sahamnya sebanyak 51 persen
ke pemerintah pusat, pemerintah daerah, badan usaha milik negara, badan usaha
milik daerah yang dimana Pemerintah dan DPR telah sepakat mengenai regulasi
ini dalam Pasal 112.
e. Tidak berdasarkan landasan tata ruang. Muatan terkait substansi hukum dalam
revisi UU Minerba ditetapkan tidak atas dasar tata ruang yang tersedia melaikan
119
JURNAL PENEGAKAN HUKUM DAN KEADILAN VOL.3 NO. 2: 114-127
melalui ketetapan wilayah yang memiliki potensial pertambangan minerba serta
tidak memiliki ikatan dengan batasan dalam administrasi pemerintah yangmana
adalah bagian dari tata ruang nasional. Maka ini dikhwatirkan dapat menyebabkan
pemanfaatan serta eksplorasi pertambangan yang tidak sesuai prosedur yang
berlaku dan tidak adanya perlindungan terhadap lingkungan sekitar.
f. Pertambangan rakyat, reklamasi serta pasca tambang. Wilayah pertambangan
rakyat dalam UU Minerba yang lama berluaskan maksimal 25 hektar serta
kedalaman 25 meter yang direvisi menjadi maksimal luas 100 hektaredan
kedalaman 100 meter. Dalam hal reklamasi pasca pertambangan pemegang izin
usaha pertambangan serta pemegang izin usaha pertambangan khusus wajib
menjalankan reklamasi pasca tambang sebelum mengembalikan Wilayah Izin
Usaha Pertambangan (WIUP) serta Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUPK)
ataupun yang telah berakhir. Reklamasi ini wajib dilakukan hingga mencapai
keberhasilan 100 persen dan melakukan penempatan dana jaminan pasca tambang.
Berdasarkan point diatas, dapat dikatakan bahwa sebagian besar politik hukum
pemerintah dalam revisi UU Minerba ialah ada pada poin pertama mengenai
perizinan pengelolaan pertambangan. Padahal lokus dari pertambangan minerba ialah
terletak di daerah, sehingga daerah kabupaten atau kota seharusnya memiliki
wewenang dalam pengelolaan mineral dan batubara (Arinandaa & Aminah, 2021).
Menurut Berge (1983), figur izin merupakan sebuah tanda persetujuan dari pemerintah
yang diberikan berdasarkan peraturan perundang-undangan, namun dalam keadaan
tertentu dapat menyimpang. Dengan memberi izin, pemerintah memperkenankan
orang yang mengajukan permohonan untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu
yang sebenarnya dilarang (Nalle, 2012).
Pemegang kuasa perizinan operasi pertambangan yang beralih dari pemerintah
daerah ke pemerintah pusat tersebut menghadirkan dampak negatif. Dampak tersebut
diantaranya yaitu masyarakat tidak dapat melaporkan kepada pemerintah daerah
terkait penolakan terhadap aktivitas pertambangan yang dianggap dapat
menyebabkan kerusakan lingkungan hidup atau adanya konflik sengketa. Bahkan
apabila penolakan masyarakat terhadap aktivitas pertambangan dianggap menganggu
kegiatan usaha, maka masyarakat tersebut dapat dilaporkan dan dijatuhi pidana
sebagaimana diskriminasi pada Pasal 162 (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia,
2021). Apabila dilihat terkait regulasi di Indonesia yang mengatur mengenai
lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagaimana pasal 33 ayat (3) UUD 1945, pasal
28H UUD 1945, dan pasal 5 ayat 1 UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolalan
Lingkungan Hidup maka jenis usaha apapun yang berhubungan dengan aktivitas
lingkungan dan mempunyai potensi merubah dalam hal ini merusak atau mencemar
harus memperhatikan prinsip dan norma yang tercantum dalam peraturan
perundangan yang di atasnya dan yang berhubungan termasuk aktivitas industri
pertambangan di dalamnya (Sianipar, 2020).
120
P-ISSN: 2746-0967, E-ISSN: 2721-656X
Dalam Pasal 165 UU Minerba sebelumnya memuat sanksi pidana bagi pejabat
yang berpotensi korupsi dengan mengeluarkan izin dan melakukan penyalahgunaan
wewenang, namun dalam UU Minerba terbaru hal ini dihilangkan. Maka dapat
dikatakan apabila terdapat “penyalahgunaan wewenang dalam perizinan
pertambangan” tidak akan dikenakan sanksi pidana dan masyarakat yang
“menganggu” proses pertambangan diancam pidana. Hal ini jelas bertentangan
dengan penjelasan dalam naskah akademik UU Minerba yang baru dimana
menjelaskan bahwa “usaha pertambangan minerba seringkali merugikan kepentingan
masyarakat setempat. Masyarakat hanya menerima dampak negatif pertambangan,
karena pejabat setempat memberikan izin tanpa sepengetahuan atau persetujuan
masyarakat” dan juga bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 “equality before
the law”.
3.2. Respon Masyarakat Terhadap Undang-Undang Minerba
Sejarah mengenai pertambangan dahulu, memberikan dampak pada
aktivitasnya selain kerugian ekonomi, gejolak sosialpun muncul dan sangat
meresahkan. Eskalasi yang tinggi antara perusahaan pertambangan dan masyarakat
mengenai perubahan agraris maupun pencemaran lingkungan sekitar tetap terjadi.
Upaya perbaikan yang dilakukanpun, dianggap tidak subtantif. Sebagian besar
masyarakat menilai bahwa kewenangan pemerintah pusat dalam memberikan izin
pertambangan akan kental dengan konflik kepentingan (conflict of interest). Benturan
kepentingan dari pihak yang berkuasa dikhawatirkan merusak iklim investasi
pertambangan yang merugikan masyarakat. Apalagi banyak perusahaan
pertambangan yang tidak memperhatikan sisi kehidupan sosial masyarakat setempat
dan dampak lingkungan yang ada.
Masyarakat menilai perlunya menyampaikan kritik pada proses revisi UU
Minerba terutama pada pengesahan yang dianggap tidak melibatkan masyarakat
dari segi aspek tererbukaan informasi. Selain itu, pembahasan yang dilakukan
melalui media internet atau daring juga dilaksanakan dimasa pandemi Covid-19
yang memilki pembatasan terhadap partisipasi publik. Mengenai proses yang
tergolong cepat untuk waktu pembahasan UU Minerba tersebut dinilai penting
untuk dipertanyakan karena sifat dari suatu RUU seharusnya tidaklah mendesak
terlebih semua negara sedang mengalami krisis akibat Covid-19. Proses yang cepat
seperi ini dapat menimbulkan kecurigaan masyarakat mengenai kepentingan pemilik
konsesi pertambangan yang bermain dalam pengesahan tersebut. Hal ini dapat
dilihat juga dari adanya tujuh perusahaan besar yang sedang berusaha
memperpanjang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).
Kekuasaan hukum seharusnya digunakan untuk mengayomi semua rakyat
Indonesia. Hal ini guna mencapai tujuan hukum mengenai keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia serta sebagai cara untuk menunjang pembangunan secara
menyeluruh. Realita yang terlihat misalnya dalam revisi UU Minerba ini
121
JURNAL PENEGAKAN HUKUM DAN KEADILAN VOL.3 NO. 2: 114-127
menghadirkan kesan bahwa produk hukum yaitu regulasi juga terdapat yang kurang
sanggup dalam menjunjung tinggi tujuan hukum. Apabila ditelusuri lebih teliti dapat
terlihat sangat jelas mengenai sejarah reformasi apabila meyakini bahwa
tersungkurnya hukum di Indonesia sejauh ini dikarenakan oleh sistem politik yang
dinilai tidak demokratis. Bila ditinjau dalam artian teknisnya, pekerjaan hukum
bukanlah termasuk pekerjaan politik. Kebijakan hukum merupakan kristalisasi dari
kehendak persaingan politik sehingga hukum mencerminkan kehendak pengaturan
kekuasaan politik. Apabila poltik bersifat demokratis maka hukum akan bersifat
populistik, sebaliknya apabila politik bersifat otoriter maka hukum akan bersifat
konservatif. Realitanya produk hukum yakni regulasi yang lahir sebagai refleksi
dilatarbelakangi oleh pengaturan poltik (Marpaung, 2012). Pengaturan politik
demokratis hampir sering diikuti munculnya produk hukum yang otonom, sedangkan
konfigurasi politik yang bersifat otoriter selalu bersamaan dengan hadirnya produk
hukum yang berkarakter konservatif atau ortodoks.
Resistensi Masyarakat Terhadap UU Minerba
UU Minerba dibuat dengan tujuan memberi landasan hukum terhadap
pembaruan serta penataan kegiatan pengelolan dan pengusahaan pertambangan
minerba dengan penyesuaian lingkungan yang strategis. Dalam rangka revisi UU
Minerba menghadirkan kritik dimata masyarakat seperti penjelasan penulis
sebelumnya. Singkatnya karena pasal dalam UU tersebut jika ditelaah dengan
seksama terdapat lebih dari satu pasal yang diklaim berpihak pada pengusaha.
Polemik masyarakat mengenai UU Minerba yang baru ialah adanya resistensi serta
beberapa gugatan akibat berlakunya UU Minerba baru. Sorotan utama ialah ada
pada dampak yang dialami masyarakat sebagai akibat dari berlakunya UU Minerba
yang baru. UU baru ini menunjukan kurang jelasnya mekanisma keberatan atau
penolakan masyarakat terhadap aktivitas penambangan (Al Farisi, 2021). Secara lebih
rinci, dampak tersebut diantaranya yaitu:
a. Masyarakat tidak dapat mengadu pada pemerintah daerah dikarenakan seluruh
otoritas serta kewenangan pertambangan berada pada otoritas pemerintah pusat.
b. Masyarakat yang menolak perusahaan pertambangan dapat dipolisikan
sebagaimana terdapat dalam pasal 162. Beberapa warga negara Indonesia telah
mengalami hal ini. Kejadian pertama dialami oleh warga banyuwangi yang
memperjuangkan lingkungan hidup mereka sehingga dalam beberapa tahun
menolak adanya aktivitas petambangan emas di Gunung Tumpang Pitu yang
mengakibatkan kerusakan lingkungan. Salah satu warga yang berjuang
kemudian dilaporkan ke polisi dengan anggapan melanggar pasal 162 UU
Minerba. Warga bernama Paini digugat dengan adanya UU Minerba yang baru
ini. Paini menilai sejak PT Bumi Sukses Indo beroperasi menggali tambang emas,
warga sekitar mulai mengalami kekeringan setiap musim kemarau yang tidak
pernah terjadi sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi kepada warga di Bangka
Belitung yaitu Yaman yang berprofesi sebagai nelayan. Yaman dilaporkan
122
P-ISSN: 2746-0967, E-ISSN: 2721-656X
kepada polisi akibat menanyakan izin pertambangan yang beraktivitas di pesisir
laut Bangka. Hal ini dilakukan karena menganggap aktivitas pertambangan pasir
tersebut ada diwilayah tangkap ikan nelayan sehingga merugikan serta
berdampak pada lingkungan melalui tumpukan limbah di pesisir. Selain itu
pertambangan pasir ini juga menyebabkan perairan berubah menjadi berlumpur
dan hilangnya terumbu karang laut.
c. Kegiatan pertambangan yang bisa beroperasi walaupun berdampak pada
kegiatan yang memicu kerusakan lingkungan. Mengenai pengawasan
pertambangan minerba yang sekarang ada pada pemerintah pusat menimbulkan
anggapan mudahnya penerbitan mengenai izin berinvestasi. Masyarakat yang
beragrumen terkait penolakan terhadap pertambangan demi menyelamatkan
lingkungan ternyata memiliki resiko dipidana.
Hal yang tidak dapat dihindarkan bahwa banyak regulasi saat ini yang hanya
melayani kepentingan masyarakat atas dan belum dianggap adil kepada seluruh
masyarakat Indonesia karna masyarakat bawah sering mengklaim tidak mendapat
keadilan. Urgensi mengenai komposisi pada keanggotaan DPR yang berpengaruh
pada produk hukum utamanya regulasi yang dihasilkan karena akan berpengaruh
pada ketidakseimbangan. Maka dikatakan kebijakan dalam pembentukan suatu
produk hukum serta kekuatan politik suatu parlemen saling mempengaruhi. Kekuatan
atau pengaturan politik yang dalam pembentukan sebuah produk hukum sangat
berpengaruh terhadap hasilnya (Mahfuz, 2019).
Selanjutnya apabila diperjelas, UU Minerba yang baru menurut masyarakat
dianggap tidak menghadirkan pasal yang membela kepentingan masyarakat atau
dapat menjadi kontrol bagi kerakusan keuntungan pribadi tanpa mempedulikan
kelestarian lingkungan dan dampak negatif lain yang akan ditimbulkan. Hal ini jelas
tidak mencerminkan kesejateraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka revisi UU
Minerba dinilai perlu ditolak dengan Judicial Review guna terjadi pembatalan UU
tersebut karena kebijakan yang dibuat pemerintah terutama dalam penegakan
hukum serta pengimplementasian regulasi sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan
tanggung jawab pemerintah dalam pencapaian tujuan negara yang dinyatakan tegas
oleh pendiri negara dalam mengelola wilayah serta rakyatnya. Terlebih lagi
pentingnya penerapan mengenai tanggung jawab pada lingkungan hidup
masyarakat sekitar terkait dampak proses pertambangan agar tercipta pembangunan
berkelanjutan yang efektif.
Dalam hal menciptakan pembangunan berkelanjutan, proses pertambangan
atau pengoprasian kegiatan pertambangan diharuskan terlaksana dengan memenuhi
prinsip lingkungan hidup, transparansi, serta partisipasi masyarakat. Keputusan
Mentri ESDM RI Nomor 77.K/MB.01/ME3^.B/2022 tentang Kebijakan Mineral dan
Batubara Nasional lingkungan menyatakan bahwa kegiatan usaha pertambangan
minerba memberikan dampak ekonomi yang signifikan dalam pembangunan nasional.
Mengenai potensi pembahan rona lingkungan hidup akibat rencana kegiatan
123
JURNAL PENEGAKAN HUKUM DAN KEADILAN VOL.3 NO. 2: 114-127
pertambangan minerba menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Dalam Keputusan
Mentri ESDM ini menyatakan perlu dilakukan identifikasi komponen lingkungan
hidup yang berpotensi terkena dampak serta melaksanakan prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan. Indonesia telah mengadopsi prinsip pembangunan
berkelanjutan yang dinilai menyeimbangkan antara pembangunan sosial, ekonomi,
dan lingkungan hidup.
Prinsip tata kelola yang baik salah satunya ialah transparansi. Transparansi
dalam menyusun kebijakan publik misalnya dalam hal menyusun peraturan
perundang-undangan sangat diperlukan karena menyangkut hak masyarakat umum
sebagai warga negara Indonesia yang memiliki hak untuk mendapatkan informasi
sebagaimana yang terkandung dalam Pasal 28 F UUD 1945. Transparansi dalam
pembuatan peraturan perundang-undangan diperlukan mulai dari tahap awal hingga
akhir sehingga warga Negara Indonesia memiliki kesempatan untuk memberikan
pendapat dan berpartisipasi dalam pembentukan regulasi tersebut. Pembentukan UU
Minerba yang baru tidak mengahdirkan partisipasi publik yang meliputi akses atas
informasi, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan keadilan. Dalam naskah
akademik UU Minerba yang baru bahwa partisipasi dijadikan prinsip sebagai
landasan perubahannya. Tetapi partisipasi disini hanya sebatas konseptual karena
kenyataannya bertentangan. Hal ini didukung dengan pembahasan pebentukan UU
Minerba yang dilakukan saat pandemi COVID-19, yang mana hak masyarakat
berpartisipasi tidak maksimal karena harus berjuang melawan wabah Covid-19.
Resistensi masyarakat termasuk dalam partisipasi dengan mengkritik operasi
pertambangan dengan aksi non kekerasan yang merupakan kebebasan berpendapat
tetapi dalam UU Minerba yang baru bentuk partisipasi tersebut dapat dikenai
ancaman pidana apabila masyarakat menganggu operasi pertambangan.
Resistensi masyarakat juga terlihat dari berapa masyarakat yang sempat
melakukan gugatan terhadap UU Minerba. Pengesahan revisi Undang-Undang Nomor
3 Tahun 2020 pada tanggal 10 Juni 2020 yang disahkan oleh Presiden Joko Widodo
dianggap masyarakat menghadirkan ketidakadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal
ini kemudian menimbulkan polemik, beberapa masyarakat yang kontra akan revisi
UU Minerba mengajukan judicial review, yang dimana revisi UU ini dianggap terdapat
kepentingan terselubung yang tidak terakomodir. Beberapa penggugat menandai
tentang politik hukum mengenai pasal kewenangan yang mengalami peralihan dari
pemerintah daerah ke pemerintah pusat yang menimbulkan hambatan mengenai
hubungan masyarakat daerah yang ada disekitar kegiatan pertambangan. Kondisi ini
dapat dikatakan sebuah proses resentralisasi perizinan aktivitas pertambangan yang
pada masa sebelumnya dilandasi dengan asas desentralisasi dan otonomi daerah
(Kadir, 2021).
Hal lain yang tidak kalah penting yaitu tentang jaminan yang terdapat dalam
revisi UU Minerba yang dianggap tidak menghadirkan prinsip hidup yang baik
karena masyarakat seharusnya mempunyai ruang aspirasi terkait kerugian yang
124
P-ISSN: 2746-0967, E-ISSN: 2721-656X
mereka alami sebagai bentuk evaluasi . Selain itu perlu diperhatikan terkait pasal yang
dianggap menghadirkan kriminalisasi warga yang menolak kegiatan pertambangan
dilingkungannya. Setelah semua gugatan diterima dan penggelaran sidang oleh
Mahkamah Konstitusi (MK), yang akhirnya mendapat penolakan pada gugatan-
gugatan tersebut dalam waktu 1,5 tahun setelah revisi UU Minerba disahkan, namun
putusan MK bersifat final serta mengikat. Meskipun begitu masih terdapat masyarakat
yang tetap belum bisa menerima sepenuhnya mengenaai revisi UU Minerba ini.
4. Kesimpulan
Undang-Undang Minerba lama dianggap masih belum menjadi solusi
mengenai kebutuhan hukum dalam pertambangan serta perkembangan
pertambangan minerba. Hal tersebut dianggap menjadi urgensi penyelarasan UU
Minerba agar menjadi efisien dan efektif. Poin yang menjadi urgensi dalam revisi UU
Minerba yaitu kewenangan perizinan, perpanjangan izin, pengaturan terhadap Izin
Pertambangan Rakyat dan aspek lingkungan, hilirisasi, serta divestasi. Dari point
tersebut dapat dikatakan bahwa sebagian besar politik hukum pemerintah dalam
revisi UU Minerba ialah mengenai perizinan pengelolaan pertambangan yang
terpusat pada pemerintah pusat. Pemberian izin operasi tambang tanpa adanya
partisipasi masyarakat sekitar dapat berujung pada timbulnya kerusakan lingkungan.
Resistensi masyarakat terhadap kegiatan pertambangan sebagai bentuk
penolakan pertambangan karena terdapat dampak negatif yang ditimbulkan tetap
dianggap sebagai gangguan bagi pengusaha tambang dan dapat dipidanakan. Selain
itu, pembaruan UU Minerba tahun 2020 juga menghapus sanksi pidana bagi pejabat
yang berpotensi korupsi dengan mengeluarkan izin dan melakukan penyalahgunaan
wewenang dalam penerbitan perizinan. Hal ini jelas bertentangan dengan penjelasan
dalam naskah akademik UU Minerba yang baru dan juga bertentangan dengan Pasal
27 ayat (1) UUD 1945.
Respon masyarakat terhadap UU Minerba baru terlihat dari dua pandangan
yaitu pihak yang pro dan kontra. Pihak yang pro dengan revisi UU Minerba
beranggapan urgensi pembaharuan regulasi yang lebih jelas karena regulasi
sebelumnya dianggap tidak sesuai. Sedangkan pihak yang kontra menganggap
terbentuknya regulasi baru mengenai minerba hanya untuk kepentingan pihak
tertentu. UU Minerba yang baru menurut masyarakat dianggap tidak menghadirkan
pasal yang membela kepentingan masyarakat atau yang bisa menjadi kontrol bagi
kerakusan keuntungan pribadi tanpa mempedulikan kelestarian lingkungan dan
dampak negatif lain sehingga tidak mencerminkan kesejahteraan seluruh rakyat
Indonesia.
Daftar Pustaka
Akbar, R., Rasyid, C. A., & Fuady, M. I. N. (2021). Undang-Undang Minerba untuk
Kepentingan Rakyat atau Pemerintah? Bilancia: Jurnal Studi Ilmu Syariah Dan
Hukum, 15(2), 253–262. [Link]
125
JURNAL PENEGAKAN HUKUM DAN KEADILAN VOL.3 NO. 2: 114-127
Akili, R. (2012). Implemantasi Pembentukan Kebijakan Hukum melalui Proses
Legislasi dalam Rangka Pembangunan Hukum. Jurnal Legalitas, 5(1).
Al Farisi, M. S. (2021). Desentralisasi Kewenangan pada Urusan Pertambangan Mineral
dan Batubara dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020. Jurnal Ilmiah
Ecosystem, 21(1), 20–31. [Link]
Arinandaa, Z. D., & Aminah, A. (2021). Sentralisasi Kewenangan Pengelolaan dan
Perizinan dalam Revisi Undang-Undang Mineral dan Batu Bara. Jurnal Ilmu
Hukum Fakultas Hukum Universitas Riau, 10(1), 167–182.
Berge, J. B. J. M. ten. (1983). Nederlands Administratief Procesrecht. W.E.J Tjeenk Willink.
Darongke, F., Rumimpunu, D., & Roeroe, S. (2022). Efektivitas Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2020 dalam Pemberian Izin Usaha Pertambangan Mineral di
Indonesia. Lex Privatum, 10(3).
Ennandrianita, F., Isharyanto, & Handayani, I. G. A. K. R. (2018). Politik Hukum
Pertambangan Mineral dan Batubara saat Berlaku Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Jurnal Hukum Dan Pembangunan
Ekonomi, 6(2). [Link]
Fadli, M. (2018). Pembentukan Undang-Undang yang Mengikuti Perkembangan
Masyarakat. Jurnal Legislasi Indonesia, 15(1).
Fajar, M., & Achmad, Y. (2019). Dualisme Penelitian Hukum: Normatif & Empiris.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kadir, A. (2021). Penyelesaian Sengketa Administrasi Izin Usaha Pertambangan Pasca
Berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020. Sultra Research of Law, 3(2),
25–36. [Link]
Kuswardani, I. F., & Anggraini, Y. I. (2021). Revisi UU Minerba Sebagai Tonggak Baru
Pertumbuhan Ekonomi Bangsa. Jurnal Teknologi Sumberdaya Mineral (JENERAL), 2(1).
Lelisari, Hamdi, H., & Imawanto, I. (2021). Kemunduran Pengaturan Tanggung Jawab
Sosial Perusahaan dalam Sektor Pertambangan Mineral dan Batubara. Jurnal IUS
Kajian Hukum Dan Keadilan, 9(2), 404–423.
Mahfuz, A. L. (2019). Faktor yang Mempengaruhi Politik Hukum dalam Suatu
Pembentukan Undang-Undang. Jurnal Kepastian Hukum Dan Keadilan, 1(1), 43–57.
Marpaung, L. A. (2012). Pengaruh Konfigurasi Politik Hukum terhadap Karakter
Produk Hukum (Suatu Telaah dalam Perkembangan Hukum Pemerintahan
Daerah di Indonesia). Pranata Hukum, 7(1), 1–14.
Masnun, M. A., Wardhana, M., Perwitasari, D., Lovisonnya, I., & Hasyyati, A. A.
(2021). Politik Hukum Penguasaan Teknologi di Indonesia. Pandecta, 16(2).
Nalle, V. I. W. (2012). Hak Menguasai Negara Atas Mineral dan Batubara Pasca
Berlakunya Undang-Undang Minerba. Jurnal Konstitusi, 9(3).
Pujianti, S. (2020). Pemerintah: Perubahan UU Minerba Dilakukan Guna Memperbaiki
Kontribusi Sektor Pertambangan. Dikutip dari
[Link]
126
P-ISSN: 2746-0967, E-ISSN: 2721-656X
Rahardjo, S. (1991). Ilmu Hukum (Cetakan ke). Bandung: Citra Aditya Bakti.
Rahayu, D. P., & Faisal. (2021a). Eksistensi Pertambangan Rakyat Pasca Pemberlakuan
Perubahan Undang-Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Jurnal
Pembangunan Hukum Indonesia, 3(3), 337–353. [Link]
353
Rahayu, D. P., & Faisal, F. (2021b). Politik Hukum Kewenangan Perizinan
Pertambangan Pasca Perubahan Undang-Undang Minerba. Pandecta, 16(1), 164–
172.
Redi, A., & Marfungah, L. (2021). Perkembangan Kebijakan Hukum Pertam-bangan
Mineral dan Batubara di Indonesia. Undang: Jurnal Hukum, 4(2), 473–506.
Sianipar, D. A. (2020). Implikasi UU No. 3 Tahun 2020 Mengenai Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara terhadap
Pertanggungjawaban Perusahaan Pertambangan terhadap Kerusakan Lingkungan
Hidup (Skripsi, Universitas Atmajaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia).
Dikutip dari [Link]
Sopiani, S., & Mubaraq, Z. (2020). Politik Hukum Pembentukan Peraturan Perundang-
Undangan Pasca Perubahan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Jurnal Legislasi Indonesia, 17(2),
146–153. [Link]
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. (2021). Menyoal 4 Masalah UU Minerba yang
Merugikan Masyarakat Luas. Dikutip dari [Link]
masalah-uu-minerba-yang-merugikan-masyarakat-luas
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Mineral dan Batu Bara.
127