Puji syukur saya ucapkan kepada kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan E-Modul Flipbook Matematika.
Flipbook matematika ini hadir untuk memenuhi kebutuhan peserta didik sebagai
salah satu media pembelajaran untuk meningkatkan sumber daya manusia peserta
didik.
Materi pada E-Modul ini disusun berdasarkan Kurikulum 2013 dengan
menggunakan bahasa yang lebih mudah untuk dipahami peserta didik. Dengan
adanya Flipbook Matematika ini diharapkan peserta didik dapat meningkat minat
belajar matematika, selain itu juga diharapkan peserta didik dapat meningkatkan
kemampuan serta keterampilan dalam menyelesaikan permasalahan yang terdapat
pada E-Modul ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
membantu sehingga E-Modul ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis
menyadari bahwa E-Modul ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat
kekurangan di dalamnya, untuk itu penulis sangat menerima jika ada kritikan dan
saran yang sifatnya memabangun. Semoga E-Modul ini dapat bermanfaat bagi
semua orang.
Penulis juga berharap semoga E-Modul ini dapat menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi para pembacanya. Bahkan tidak hanya itu penulis berharap
peserta didik dapat mengimplemtasikan penggunakan E-Modul ini pada kehidupan
sehari- hari.
A. Pengertian Matriks
1. Definisi Matriks
Matriks dapat didefenisikan sebagai susunan berbentuk persegi
panjang dari elemen- elemen yang diatur berdasarkan baris dan kolom.
Perhatikan tabel dibawah ini. Dari tabel dibawah ini dapat kita
bentuk sebuah Matriks.
Tabel 1 : hasil perbandingan Grup A Liga Champions UEFA
2016/2017
Tim Main Menang Seri Kalah
Arsenal FC 6 4 2 0
Paris saint germain
6 3 3 0
FC
Ludogorets 6 0 3 3
FC Fale 6 0 2 4
Dari tabel 1 dapat kita buat sebuah matriks, dapat dilakukan
dengan cara kepala kolom, kolom pertama, dan garis pada tabel kita
hilangkan, kemudian susunlah lambang bilangan tersebut dan diberi
kurung atau kurung siku, maka datata dalam tabel tersebut menjadi
sebuah matriks sebagai berikut.
6 4 2 0
6 3 3 0
( )
6 0 3 3
6 0 2 4
2. Notasi, Elemen dan Ordo Matriks
Matriks dinotasikan dengan huruf capital, misalnya A,B atau C. jika
elemen matriks berupa huruf yang ditulis dengan huruf kecil, misalnya m,n.
sebuah matriks dengan m baris dan n kolom dapat disajikan sebagai berikut.
Perhatikan contoh berikut.
2 −5 1 3 6 𝑎 𝑐
𝐵 = (17 6 ) , 𝑃 = ( 0 − 8 51) , 𝑇 = (𝑏 )
𝑑
9 18 37 9 17
Matriks B, P, dan T tersebut memiliki ukuran yang berbeda. Ukuran
matriks tersebut disebut dengan ordo. Untuk menentukan ordo dari suatu
matriks ditentukan oleh banyaknya baris dan kolom.
3. Macam – macam matriks
Berikut adalah jenis – jenis matriks ditinjau dari banyak baris dan
kolom penyusunya :
a. Matriks Baris
Matriks yang hanya terdiri atas satu baris saja, misalnya :
𝐀 𝟏 𝐱 𝟐 = (𝟐 𝟓), 𝐁𝟏 𝐱 𝟑 = (𝟏 − 𝟖 𝟐𝟓), 𝐝𝐚𝐧 𝐂𝟏 𝐱 𝟒 = (−𝟐 𝟎 𝟏𝟒 𝟖)
b. Matriks Kolom
Matriks yang hanya terdiri atas satu kolom saja, misalnya:
𝟑
𝟐 𝟗
𝐏𝟐 𝐱 𝟏 =( −𝟗
) , 𝐐𝟑 𝐱 𝟏 = (−𝟏𝟕) , 𝐝𝐚𝐧 𝐑 𝟒 𝐱 𝟏 = ( )
−𝟏𝟕 𝟎
𝟖 𝟏𝟓
c. Matriks Persegi
Matriks yang banyak baris dan banyak kolomnya sama
𝟐 −𝟏 𝟖
𝟐 −𝟏
𝐀𝟐 𝐱 𝟐 = ( ) 𝐝𝐚𝐧 𝐓𝟑 𝐱 𝟑 = ( 𝟗 −𝟔 𝟏𝟓)
𝟎 𝟕
𝟐𝟑 𝟒 𝟎
d. Matriks Nol
Matriks nol adalah matriks yang seluruh elemennya nol, matriks
nol biasanya dinotasikan dengan huruf O
𝟎 𝟎
𝐎𝟏 𝐱 𝟐 = (𝟎 𝟎) 𝐝𝐚𝐧 𝐎𝟐 𝐱 𝟐 = ( )
𝟎 𝟎
e. Matriks Identitas
Matriks yang dapat dinotasikan dengan huruf I, yaitu matriks
persegi yang elemen diagonal utamanya 1 dan elemen lainnya 0.
𝟏 𝟎 𝟎
𝟏 𝟎
𝐈𝟐 𝐱 𝟐 = ( ) 𝐝𝐚𝐧 𝐈𝟑 𝐱 𝟑 = (𝟎 𝟏 𝟎)
𝟎 𝟏
𝟎 𝟎 𝟏
f. Matriks Segitiga Atas
Matriks segitiga atas adalah matriks persegi yang elemen –
elemennya dibawah diagonal utamanya adalah noll.
−𝟐 𝟐 𝟔
𝟐 −𝟏
𝐁𝟐 𝐱 𝟐 =( ) 𝐝𝐚𝐧 𝐂𝟑 𝐱 𝟑 = ( 𝟎 −𝟑 𝟒)
𝟎 𝟕
𝟎 𝟎 −𝟏
g. Matriks Segitiga Bawah
Matriks segitiga bawah adalah matriks persegi yang elemen –
elemenya diatas diagonal utamanya nol
𝟏 𝟎 𝟎
𝟖 𝟎
𝐌𝟐 𝐱 𝟐 = ( ) 𝐝𝐚𝐧 𝐍𝟑 𝐱 𝟑 = (𝟐 𝟗 𝟎)
𝟐 −𝟓
𝟓 𝟖 𝟏
4. Kesamaan Matriks
Dua matriks A dan B dapat dikatakan sama ( A = B ) jika ordo kedua matriks
sama dan elemen – elemennya yang seletak (bersesuaian) bernilai sama. Contoh
:
𝟏 𝟐 𝟏 𝟑 𝟎 𝟐 𝟏 𝟐
𝐄=( ),𝐅 = ( ),𝐆 = ( ) , 𝐝𝐚𝐧 𝐅 = ( )
−𝟗 𝟖 −𝟗 𝟔 −𝟗 𝟖 −𝟗 𝟖
Manakah di antara matriks-matriks tersebut yang sama?
Penyelesaian :
Matriks yang sama adalah E dan H, karena ordo kedua matriks sama dan
elemen-elemen keduanya yang seletak sama. Oleh karena itu, dapat ditulis E=H.
5. Transpos Matriks
Transpos suatu matriks adalah matriks baru yang diperoleh dengan
mengubah susunan kolom suatu matriks menjadi baris dan susunan baris
menjadi kolom. Transpos matriks A dapat ditulis dengan 𝐴𝑇 . Matriks yang
awalnya ber ordo 𝑚 × 𝑛 jika di transpos ordonya akan berubah menjadi 𝑛 × 𝑚.
Misalnya, diketahui matriks A dan P sebagai berikut :
𝟏 𝟒
𝟐 −𝟔 𝟐 𝟎 𝟏 𝟐 𝟑
𝐀=( ) → 𝑨𝑻 = ( ) 𝒅𝒂𝒏 𝑷 = ( 𝑻
) → 𝑷 = (𝟐 𝟓)
𝟎 𝟏 −𝟔 𝟏 𝟒 𝟓 𝟔
𝟑 𝟔
Contoh :
𝟑 𝟓 𝟏 −𝟒 𝟕
1. Tentukan transpos dari matriks 𝐀 = ( 𝟎 −𝟏 ) dan 𝑩 = (−𝟗 𝟎 𝟓)
−𝟐 𝟕
𝟑 −𝟐 𝟏
𝟒 −𝟔
Penyelesaian :
𝟑 𝟓
𝟑 𝟎 −𝟐 𝟒
𝐀 = ( 𝟎 −𝟏) → 𝑨𝑻 = ( )
−𝟐 𝟕 𝟓 −𝟏 𝟕 −𝟔
𝟒 −𝟔
𝟏 −𝟒 𝟕 𝟏 −𝟗 𝟑
𝑻
𝐁 = (−𝟗 𝟎 𝟓) → 𝑩 = (−𝟒 𝟎 −𝟐)
𝟑 −𝟐 𝟏 𝟕 𝟓 𝟏
B. Operasi Pada Matriks
1. Penjumlahan dan Pengurangan
Penjumlahan dan pengurangan pada matriks dapat dilakukan jika matriks
tersebut memiliki ordo yang sama. Untuk menentukan hasil penjumlahan
dan pengurangan pada matriks adalah dengan menjumlahkan atau
mengurangan tiap elemen – elemenya yang seletak. Contohnya :
Tabel 1. Konsumsi bahan bakar campuran bensin dan solar mesin I dan II
pada dua percobaan
Bahan Percobaan I Percobaan II Total
Bakar Mesin I Mesin II Mesin I Mesin II Mesin I Mesin II
Bensin 2L 3L 1L 4L 3L 7L
Solar 1L 2L 3L 1L 4L 3L
Jika data pada tabel tesebut ditulis dalam bentuk matriks, total konsumsi
bahan bakar kedua mesin dapat dituliskan sebagai berikut.
2 3 1 4 2 + 1 3 + 4 3 7
( )+( )= ( )= ( )
1 2 3 1 1 + 3 3 + 1 4 3
Hasil penjumlahan menunjukkan matriks hasil pernjumlahan berordo sama
dengan matriks yang dijumlahkan. Elemen-elemen pada matriks hasil
penjumlahan diperoleh dari penjumlahan elemen-elemen yang seletak pada
matriks yang dijumlahkan.
2. Perkalian Skalar dengan Matriks
Misalkan 𝑘 adalah suatu scalar dan A sdalah suatu matriks, maka 𝑘𝐴 adalah
sebuah matriks yang di dapatkan dengan cara mengalikan setiap elemen pada
matriks dengan scalar tersebut. Contohnya :
1. Diketahui
5 −2 6 −2 10 −20 5
𝑃=( ),𝑄 = ( ),𝑅 = ( ) , 𝑑𝑎𝑛
4 10 −1 8 −10 0 −40
−1 8 4
𝑆= ( ) . Tentukan ∶
18 −7 2
2
a. 2P b. 5R c. 3P – 2Q
3. Perkalian Matriks dengan Matriks
Dua matriks dapat dikalikan jika banyak kolom matriks pertama sama
dengan banyak baris matriks kedua. Matriks baru hasil perkalian tersebut
memiliki ordo banyak baris matriks pertama dikali banyak kolom matriks
kedua. Elemen – elemen hasil perkalian dua matriks diperoleh dengan cara
menjumlahkan hasil pekalian elemen – elemen baris pada matris pertama
dengan elemen – elemen kolom pada matriks kedua .
𝑎 𝑏 𝑒 𝑓 𝑎. 𝑒 + 𝑏. 𝑔 𝑎. 𝑓 + 𝑏. ℎ
( )( )=( )
𝑐 𝑑 𝑔 ℎ 𝑐. 𝑒 + 𝑑. 𝑔 𝑐. 𝑓 + 𝑑. ℎ
Contohnya :
1. Tentukan hasil perkalian kedua matriks berikut:
8
1 2 5 6 2 −4 7
a. ( ) 𝑑𝑎𝑛 ( ) b. ( ) 𝑑𝑎𝑛 (−1)
3 4 7 8 5 6 3
10
Penyelesaian:
1 2 5 6 1(5) + 2(7) 1(6) + 2(8)
a. ( )( ) = ( ) ( )
3 4 7 8 3(5) + 4(7) 3(6) + 4(8)
5 + 14 6 + 16
= ( ) ( )
15 + 28 18 + 32
19 22
= ( )
43 50
8 2(8) + (−4)(−1) + 7(10) 90
2 −4 7 16 + 4 + 70
𝑏. ( ) 𝑑𝑎𝑛 (−1) = ( )=( )=( )
5 6 3 5(8) + 6(−1) + 3(10) 40 − 6 + 30 64
10
C. Determinan dan Invers Matriks
1. Determinan Matriks berordo dua dan berordo tiga
Determinan matriks A dapat dinyatakan dengan det (A) atau |𝐴| . Matriks
yang memiliki determinan hanyala matriks persegi.
𝑎 𝑏
Misalkan diketahui matriks 𝐴 = ( ). Determinan A dapat didefinisikan
𝑐 𝑑
sebagai berikut.
𝑎 𝑏
det(𝐴) = | | = 𝑎𝑑 − 𝑏𝑐
𝑐 𝑑
Contohnya :
5 −2
1. Tentukan determinan matriks P = ( ) 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑡𝑟𝑖𝑘𝑠 𝑄 =
−4 3
−1 2 −3
(0 5 −4)
1 4 0
Penyelesaian:
5 −2
Det (P) = |P| = | | = 5(3) − (−2)(−4) = 15 − 8 = 7
−4 3
−1 2 −3 −1 2
Det (Q) = |Q| = | 0 5 −4| 0 5
1 4 0 1 4
= ((-1)(5)(0)+2(-4)(1)+(-3)(0)(4))-(1(5)(-3)+4(-4)(-1)+0(0)(2))
= (0-8+0)-(-15+16+0)
= -8 – 1 = -9
2. Adjoin Matriks Berordo Dua dan Berordo Tiga
𝑎 𝑏
Misalkan matriks A = ( ). Adjoin A ditulis adj(A) dan didefinisikan
𝑐 𝑑
sebagai berikut.
𝑑 −𝑏
𝑎𝑑𝑗 (𝐴) = ( )
−𝑐 𝑎
Sebelum mendefinisikan adjoin matriks berordo tiga, perhatikan penjelasan
mengenai minor dan kofaktor berikut.
Pengertian Minor, Kofaktor, dan Adjoin
𝑎 𝑏 𝑐
Jika A = (𝑑 𝑒 𝑓 ), maka minor dari matriks A dinyatakan oleh minor
𝑔 ℎ 𝑖
𝑎𝑖𝑗 atau 𝑀𝑖𝑓 didefinisikan sebagai determinan submatriks setelah baris ke-I danb
kolom ke-j pada matriks A dihilangkan. Minor dari matriks A tersebut antara
lain adalah sebagai berikut:
• Baris le-1 dan kolom ke-1 dihilangkan sehingga diperoleh matriks
𝑒 𝑓
( )
ℎ 𝑖
𝑒 𝑓
Jadi, minor 𝑎11 = |𝑀11 | = | | = 𝑒𝑖 − 𝑓ℎ
ℎ 𝑖
3. Invers Matriks Berordo Dua dan Berordo Tiga
Misalkan A dan B adalah matriks persegi yang berordo sama sedemikian
hingga hasil kali AB = BA = I, dengan I matriks identitas. Matriks B adalah
invers dari A dan sebaliknya, dituliskan 𝐵 = 𝐴−1 atau 𝐴 = 𝐵 −1 .
Contoh :
4 −7 −5 7
Diketahui matriks 𝑃 = ( ) dan 𝑄 = ( ). Tunjukkan bahwa
3 −5 −3 4
kedua matriks tersebut saling invers.
Penyelesaian:
4 −7 −5 7 −20 + 21 28 − 28 1 0
𝑃𝑄 = ( )( )=( )=( )
3 −5 −3 4 −15 + 15 21 − 20 0 1
−5 7 4 −7 −20 + 21 35 − 35 1 0
𝑄𝑃 = ( )( )=( )=( )
−3 4 3 5 −15 + 15 21 − 20 0 1
Oleh karena 𝑃𝑄 = 𝑄𝑃 = 𝐼, maka P = 𝑄 −1 dan Q = 𝑃 −1 . Jadi, kedua matriks
tersebut saling invers.
4. Menyelesaikan Persamaan Matriks dengan Matriks Invers
Misalkan diketahui persamaan matriks 𝐴𝑃 = 𝐵 dengan 𝐴 adalah matriks
persegi yang memiliki invers, maka matriks P dapat ditentukan dengan
mengalikan kedua ruas dari sebelah kiri dengan 𝐴−1 .
𝐴𝑃 = 𝐵
⇔ 𝐴−1 𝐴𝑃 = 𝐴−1 𝐵
⇔ 𝑃𝐼 = 𝐵𝐴−1
⇔ 𝑃= 𝐵𝐴−1
Dengan cara yang sama, diketahui persamaan matriks PA = B dengan A
matriks nonsingular, matriks P dapat ditentukan dengan mengalikan kedua ruas
darisebelah kanan dengan 𝐴−1 .
𝑃𝐴 = 𝐵
⇔ 𝑃𝐴𝐴−1 = 𝐵𝐴−1
⇔ 𝑃𝐼 = 𝐵𝐴−1
⇔ 𝑃= 𝐵𝐴−1
Contoh :
−2 1 1 1 0
Berdasarkan 𝑋 ( )= ( ) diperoleh persamaan XA = B,
−3 1 2 −3 −5
sehingga 𝑋 = 𝐵𝐴−1 .
Oleh karena banyak kolom matriks B tidak sama dengan banyak baris
matriks 𝐴−1 , maka 𝐵𝐴−1 tidak dapat diselesaikan. Jadi, tidak ada matriks X
yang memenuhi persamaan matriks tersebut.
D. Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear
1. Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel dengan
Menggunakan Matriks Invers dan Detereminan
Sistem persamaan linear dua variable dapat diselesaikan dengan
menggunakan matriks invers atau determinan (aturan Cramer). Langkah-
langkah untuk menentukan himpunan penyelesaian system persamaan linear
dua variable dengan menggunakan matriks invers adalah sebagai berikut:
a. Tulislah sistem persamaan ke dalam bentuk perkalian matriks, sehingga
diperoleh persamaan matriks.
Misalkan diketahui sistem persamaan 𝑎𝑥 + 𝑏𝑦 = 𝑐 dan 𝑝𝑥 + 𝑞𝑦 = 𝑟.
Sistem persamaan tersebut dapat dinyatakan ke dalam bentuk persamaan
matriks 𝐴𝑋 = 𝐵 berikut.
𝑎 𝑏 𝑥 𝑐
( )( ) = ( )
𝑝 𝑞 𝑦 𝑟
Selain menggunakan matriks invers, penyelesaian sistem persamaan linear
dua variable dapat ditentukan dengan menggunakan determinan atau aturan
Cramer. Langkah-langkah penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel
dengan menggunakan aturan Cramer adalah sebagai berikut.
b. Tentukan penyelesaiannya.
det(𝐴1 ) det(𝐴2 )
𝑥= ,𝑦 = , dengan det(A) ≠ 0
det(𝐴) det(𝐴)
𝐴𝑗 adalah matriks yang diperoleh dengan cara mengganti elemen-elemen di
kolom ke -j (j = 1, 2) dari matriks A dengan elemen-elemen di dalam matriks
𝑐
𝐵 = ( ).
𝑟
2. Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel dengan
Menggunakan Matriks Invers dan Determinan
Serupa dengan menentukan penyelesaian sistem persamaan linear dua
variabel, penyelesaian sistem persamaan linear tiga variabel dapat
ditentukan dengan menggunakan matriks invers atau determinan (aturan
Cramer).
Langkah-langkah menyelesaikan sistem persamaan linear tiga variabel
dengan menggunakan matriks invers adalah sebagai berikut.
a. Tulislah sistem persamaan ke dalam bentuk perkalian matriks
sehingga akan diperoleh persamaan matriks.
Misalkan diketahui sistem persamaan tiga variabel
𝑎𝑥 + 𝑏𝑦 + 𝑐𝑧 = 𝑑, 𝑘𝑥 + 𝑙𝑦 + 𝑚𝑧 = 𝑛, dan 𝑝𝑥 + 𝑞𝑦 + 𝑟𝑧 = 𝑠.
Persamaan tersebut dapat dinyatakan ke dalam bentuk persamaan
matriks AX = B berikut.
𝑎 𝑏 𝑐 𝑥 𝑑
(𝑘 𝑙 𝑚 ) (𝑦 ) = ( 𝑛 )
𝑝 𝑞 𝑟 𝑧 𝑠
b. Bagaimana menentukan penyelesaian sistem persamaan linear tiga
variabel dengan menggunakan determinan atau aturan Cramer?
Misalkan diketahui sistem persamaan tiga variabel
𝑎𝑥 + 𝑏𝑦 + 𝑐𝑧 = 𝑑, 𝑘𝑥 + 𝑙𝑦 + 𝑚𝑧 = 𝑛, dan 𝑝𝑥 + 𝑞𝑦 + 𝑟𝑧 = 𝑠.
Penyelesaian sistem persamaan linear tiga variabel tersebut adalah
sebagai berikut.
det(𝐴1 ) det(𝐴2 )
𝑥= ,𝑦 = , dengan det(A) ≠ 0
det(𝐴) det(𝐴)
𝐴𝑗 adalah matriks yang diperoleh dengan cara mengganti elemen-elemen di
kolom ke -j (j = 1, 2,3) dari matriks A dengan elemen-elemen di dalam matriks
𝑑
𝐵 = (𝑛).
𝑠