0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan2 halaman

Unsur dan Pembuktian TPPU di Indonesia

Diunggah oleh

rekyrefido12
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan2 halaman

Unsur dan Pembuktian TPPU di Indonesia

Diunggah oleh

rekyrefido12
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Reki Revydo Hasbuloh

Npm : 191000009

Pengertian dan Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang

Pencucian uang atau money laundering secara sederhana diartikan sebagai suatu
suatu proses menjadikan hasil kejahatan (proceed of crimes) atau disebut sebagai
uang kotor (dirty money) misalnya hasil dari obat bius, korupsi, penggelapan pajak,
judi, penyelundupan dan lain-lain yang dikonversi atau diubah ke dalam bentuk
yang tampak sah agar dapat digunakan dengan aman.
Tindak Pidana Pencucian Uang atau disingkat TPPU atau money laundering adalah
perbuatan pidana yang antara lain menempatkan, mentransfer, membayarkan, atau
membelanjakan, mengibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan,
dan menyembunyikan atau menyamarkan objek berupa harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), formulasi TPPU
mengalami perubahan, sehingga penjelasan unsur perbuatan pencucian uang
sebagai berikut:
1) "Setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan,
membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah
bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain
atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil
tindak pidana ...” (Pasal 3);
2) "Setiap orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul, sumber,
lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas
harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana ..." (Pasal 4);
3) "Setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan,
pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta
kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana ..." (Pasal 5).

Pembuktian Perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)

Pada Pasal 189 Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP),
untuk dapat menghukum terdakwa, hakim harus yakin atas dua alat bukti yang
disampaikan penuntut umum di sidang pengadilan. Dua alat bukti biasanya
disampaikan untuk masing-masing unsur tindak pidana.
Berdasarkan Pasal 68 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010, hukum acara
yang dipakai dalam pembuktian adalah hukum acara yang diatur dalam KUHAP
dan undang-undang lain yang juga mengatur hukum acara seperti Undang-Undang
TPPU, dan Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Untuk tindak pidana asal pembuktian dilakukan oleh jaksa penuntut
umum.
Sementara itu, dalam perkara TPPU dikenal adanya pembuktian terbalik,
yaitu terdakwa harus membuktikan bahwa harta kekayaan yang terkait dengan
perkara itu bukan berasal dari tindak pidana. Unsur yang harus dibuktikan oleh
terdakwa, yaitu objek perkara yang berupa harta kekayaan yang terkait dengan perkara bukan
berasal dari tindak pidana. Untuk unsur lainnya tetap harus
dibuktikan oleh jaksa penuntut umum.
Teori pembuktian atau sistem pembuktian yang dianut KUHAP ialah sistem
pembuktian menurut undang-undang secara negatif. Sistem pembuktian negatif
diperkuat oleh prinsip kebebasan kekuasaan kehakiman.
Indonesia menganut
sistem pembuktian yang disebut dengan sistem pembuktian negatif (negatief
wettelijk) seperti yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP. Menurut pasal ini untuk
dapat menghukum seseorang, hakim mendasarkan pada dua alat bukti yang sah
menurut undang-undang, dan terdapat keyakinan hakim, bahwa tindak pidana
benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Dalam perkembangan sistem pembuktian pidana juga mengenal sesuatu
yang baru, yakni sistem pembalikan beban pembuktian (Omkering van het
bewijslast). Sistem pembalikan beban pembuktian atau yang lebih dikenal
masyarakat dengan pembuktian terbalik merupakan sistem yang meletakkan beban
pembuktian pada tersangka.
Artinya, lazimnya jika merujuk pada KUHAP maka
yang berhak membuktikan kesalahan terdakwa ialah jaksa penuntut umum akan
tetapi sistem pembuktian terbalik terdakwa (penasihat hukum) akan membuktikan
sebaliknya terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan
tindak pidana yang didakwakan.

Pasal 77 dan 78 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan


dan Pemberantasan TPPU mengatur tentang pembalikan beban pembuktian atau
pembuktian terbalik. Pada Pasal 77 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010
mengatur bahwa untuk kepentingan pemeriksaan di pengadilan, terdakwa wajib
membuktikan bahwa Harta Kekayaannya bukan merupakan hasil tindak pidana.
Selanjutnya, berdasarkan Pasal 78 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010, hakim
memerintahkan terdakwa agar membuktikan, bahwa harta kekayaan yang terkait
dengan perkara bukan berasal atau terkait dengan tindak pidana asal yang disebut di
Pasal 2 ayat (1). Dengan demikian, kewajiban terdakwalah untuk membuktikan
bahwa harta kekayaan yang terkait dengan perkara TPPU bukan berasal dari tindak
pidana asal, misalnya korupsi.

Anda mungkin juga menyukai