Desain Taman Kota 3D Berbasis Urban
Desain Taman Kota 3D Berbasis Urban
PENERBIT :
YAYASAN PRIMA AGUS TEKNIK
Jl. Majapahit No. 605 Semarang
Telp. (024) 6723456. Fax. 024-6710144
Email : penerbit_ypat@[Link]
ii
Perancangan Taman Kota Berkonsep Urban Landscape Design
Berbantu Virtual 3D Komputer Grafis
Penyusun :
Edy Jogatama Purhita, [Link].
Anthonius Tyas Adi
Erwan Nur Hidayat
ISBN : 978‐623‐5734‐18‐7
Editor:
Indra Ava dianta
Penerbit :
Yayasan Prima Agus Teknik
Redaksi:
Jln Majapahit No 605 Semarang
Tlpn. (024) 6723456
Fax . 024‐6710144
Email: penerbit_ypat@[Link]
Distributor Tunggal:
UNIVERSITAS STEKOM
Jln Majapahit No 605 Semarang
Tlpn. (024) 6723456
Fax . 024‐6710144
Email: info@[Link]
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas rahmat,
berkat, dan bimbingan‐Nya, kami dapat menyelesaikan Monograf Penelitian
Perancangan Taman Kota Berkonsep Urban Landscape Design Berbantu Virtual 3D
Komputer Grafis. Dengan bantuan‐Nya, makalah kami dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada : Tuhan Yang Maha Esa, karena
rahmat dan penyertaan‐Nya yang selalu menyertai penyusun dan panitia dalam
pembuatan buku ini. Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada KEMDIKBUD yang
telah menyeponsori penelitiannya melalui program Penelitian Dosen Pemula (PDP)
tahun anggaran 2021. Pihak‐pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu,
karena bantuannya dapat selesailah buku ini dengan baik
Semoga dengan disusunnya buku ini, dapat menjadi rujukan dalam
pengembangan desain taman kota. Buku ini dapat digunakan mahasiswa dalam
memahami materi desain grafis arsitektur terkait taman kota.
Demikianlah buku ini kami buat. Kami menyadari bahwa penyusunan buku ini
jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kami menerima kritik dan saran agar nantinya juga
bisa menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakannya.
iv
DAFTAR ISI
Bab I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang ………………………………………………………………………...… 1
2. Identifikasi Masalah ……………………..…………………………………………… 2
v
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
1
Taman Tingkir berlokasi di Jl. Marditomo, Kelurahan Sidorejo Kidul, Kecamatan
Tingkir, Kota Salatiga. Taman ini dibuka pada tahun 2016 di lahan seluas kurang lebih
11.000m2 dan terletak tidak jauh dari kawasan pemukiman, sehingga memicu beragam
kegiatan pengguna ruang. (Widayanti & Hadi, 2019). Berbagai macam kegiatan yang
dilakukan oleh pengunjung taman, mulai dari balita sampai lanjut usia sangat beragam
seperti berolahraga, bermain, menunggu, hingga jual beli. Namun pengelolaan dan
pemeliharaan Taman Tingkir kurang baik, terlihat dari beberapa fasilitas yang dimiliki
oleh Taman Tingkir tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Contoh beberapa fasilitas
yang tidak terpakai atau tidak berfungsi sebagai mana mestinya antara lain adalah
kolam, alat fitness dan kandang burung. Dari segi akses di taman, area pejalan kaki atau
trotoar dibagian luar taman digunakan untuk para pedagang menjajakan dagangannya
dan persewaan mobil mainan anak anak, sehingga mengurangi kenyamanan pejalan
kaki saat melewati area trotoar. Untuk akses di dalam taman, pejalan kaki tidak
mengalami banyak gangguan seperti saat berjalan di luar taman, dan walaupun lahan
taman ini tidak rata, tetapi minimnya keberadaan tangga membuat akses untuk
penyandang disabilitas menjadi lebih mudah. Selain itu, papan penunjuk informasi pada
area taman hanya ada satu dan terletak didepan, padahal Taman Tingkir mempunyai 3
akses masuk dan keluar yaitu dari Jl. Marditomo, Jl Tritis Mukti dan Jl. Tritis Sari. Hal itu
dapat membuat pengunjung yang baru pertama kali mengunjungi Taman Tingkir
kebingungan.
Dalam segi kebersihan, taman ini sudah cukup bersih, namun lokasi pengelolaan
sampah berada didalam taman, sehingga ada satu titik di dalam taman yang terlihat
sampah menumpuk sangat banyak. Penempatan pembuangan sampah sudah tersebar di
banyak titik, dengan desain tempat sampah yang bisa dipisahkan jenis sampahnya.
Walaupun tersedia tempat sampah di banyak tempat, namun beberapa area tidak terisi
tong sampah yang sesusai dengan peruntukannya. Hal itu sangat mengurangi tingkat
keindahan pada Taman Tingkir. Pada saat hujan, di area bermain anak menjadi becek
karena alas taman bermain berupa tanah dan pasir. Selayaknya taman, Taman Tingkir
juga mempunyai tempat duduk dan tempat untuk meneduh. Penempatan tempat duduk
sangat strategis dan banyak tersedia di banyak tempat sehingga memudahkan
pengunjung untuk beristirahat. Tempat untuk berteduh sendiri disediakan berupa
pendapa. Aktifitas pada Taman Tingkir banyak terlihat pada saat pagi hingga sore, dan
taman ini ramai dikunjungi pada saat weekend dan hari libur nasional. Pada saat malam
2
hari, sangat jarang terlihat adanya aktifitas pada taman ini, padahal di dalam taman
terdapat Lapangan Basket. Sarana olahraga ini sebetulnya bisa digunakan pada saat
petang, tetapi karena kondisi pencahayaan dalam taman yang kurang memadai dan
kondisi lapangan yang kurang layak, maka sangat jarang orang yang beraktifitas di area
tersebut.
2. IDENTIFIKASI MASALAH
Disamping segala fasilitas yang ada, Taman Tingkir mulai melihatkan beberapa
kekurangan seiring dibukanya taman tersebut. Tidak adanya landmark yang menjadi
ciri khas taman tersebut, membuat Taman Tingkir seolah olah menjadi taman biasa yang
tidak ada ciri khasnya. Landmark sendiri berfungsi sebagai ciri atau tanda yang berbeda
dari suatu Kawasan. Dengan adanya landmark, diharapkan taman tersebut memiliki
keterhubungan yang kuat dan dapat didesain sesuai dengan fungsi yang ideal,
menghadirkan elemen dan fasilitas taman yang tepat sehingga menghadirkan fungsi
yang optimal dan mampu memberikan kepuasan, kesenangan, kenyamanan, dan
keamanan pada pengguna. (Radnawati, dkk, 2018).
Pada area playground, alas dari playground adalah tanah dan pasir. Material
tersebut dapat terbang tertiup angin dan akan becek saat setelah hujan turun. Hal
tersebut mengurangi tingkat keamanan dan kenyamanan dalam bermain. Seharusanya
pada tempat rekreasi kenyamanan merupakan hal yang harus diperhatikan. Suasana
nyaman diciptakan dengan desain yang responsif terhadap iklim dan ramah lingkungan.
(Dewi, dkk, 2017). Masalah selanjutnya terdapat pada para pedagang yang menjajakan
dagangannya. Tidak adanya area yang memadahi dan terkomplek, membuat pedagang
tidak tertata dengan rapi. Hal ini sangat disayangkan karena desain awal tidak membuat
kawasan pedagang yang berguna agar para pedagang tersebut terpusat. Area trotoar
yang seharusnya menjadi tempat lari atau berjalan menikmati susasana taman
terganggu dengan adanya persewaan mainan anak‐anak.
Tempat parkir yang kurang mamadai juga menjadi masalah pada taman ini.
Lokasi parkir saat ini berada di seputaran taman, kecuali di depan taman. Seharusnya
badan jalan di sekitar Taman Tingkir yang berukuran kurang lebih 1,5m bisa digunakan
untuk lokasi parkir, tetapi tempat tersebut digunakan untuk lokasi berjualan. Hal ini
membuat parkir kendaraan sepeda motor maupun mobil berada di jalan yang berakibat
lebar jalan yang berguna untuk arus kendaraan bermotor berkurang.
3
Masalah‐masalah yang dikemukakan di atas kurang menjadikan Taman Tingkir
sebagai taman kota yang sesuai dengan ciri ciri atau kriteria taman kota sebagai public
space. Guna riset pengembangan desain taman tingkir dalam perlu dirumuskan
masalahnya sebagaimana berikut :
Bagaimana membuat desain yang dapat membuat Taman Tingkir menjadi public
space yang lebih baik?
Apakah pendesainan ulang Taman Tingkir dengan konsep Urban Landscape Design
bisa mengakomodir kepentingan semua pengguna Taman Tingkir?
Tujuan riset pengembangan desain Taman Tingkir ini ini adalah untuk
menerapkan teknologi komputer rancang bangun 3D dalam mendesain ulang (redesign)
taman Tingkir dengan konsep Urban landscape design, dari segi fungsional dan estetika
yang nantinya juga bisa menjadi tengara atau landmark di Kota Salatiga, sehingga fungsi
Taman Tingkir sebagai public space dapat terpenuhi. Peneliti membatasi masalah
masalahnya terkait pembuatan desain virtual 3D fasilitas Taman Tingkir Kota Salatiga,
memuat produk desain berupa gambar dan video fasilitas Taman Tingkir Kota Salatiga,
Implementasi desain ulang Taman Tingkir sesuai kebijakan Pemkot Salatiga. Penelitian
ini diharapkan bisa menjadi masukan untuk Pemerintah kota Salatiga dalam
pengembangan taman Tingkir kedepannya.
4
BAB II
KAJIAN TEORI
5
2. Urban Landscape Design, Public Space, landmark.
Penelitian ini mengembangkan desain Taman Tingkir Kota Salatiga mengguna
konsep Urban Landscape Design. Kata Urban berasal dari bahasa latin ‘Urbs’ yang artinya
orang bebas dan beradab, tempat yang bermasyarakat, berbudaya, dan berpemerintah
(Permana& Fatimah, 2017). Kata urban juga dikaitkan dengan gedung‐gedung
perkotaan yang menjulang tinggi, sehingga secara keseluruhan akan terlihat susunan
garis‐garis perspektif menghubungkan titik‐titik obyek satu titik obyek lainnya.
Lansekap merupakan suatu sistem dalam kawasan yang menyeluruh yang di
dalamnya terdapat hubungan antara komponen biotik dan abiotik, termasuk komponen
pengaruh manusia. Urban Landscape Design secara garis besar yaitu memanfaatkan
sumberdaya dan tata guna lahan sekitar yang ada, dan membentuknya atau
ditrasnformasikan menjadi sebuah karya, taman atau bangunan yang dapat menunjang
aktivitas kehidupan sehari‐hari manusia dalam kehidupan sehari hari dan disukai
banyak orang. Bentuk desain taman yang dihasilkan dapat menghadirkan suatu wilayah
terpadu dengan pola pengembangan kota. Seiring waktu manusia perubahan maka
Urban Design tidak pernah sama ssetiap masanya karena juga mengikuti perubahan
(Syahputra & Arsitektur, 2018)(Ghassani & Arsitektur, 2019).
Taman Tingkir merupakan bagian dari Ruang Tebuka Hijau (RTH) Kota Salatiga.
Pengertian ruang menurut Permendagri No.1, 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka
Hijau Kawasan Perkotaan, adalah wadah meliputi darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagaisatu kesatuan wilayah, tempat manusia dan
makhluk hidup lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan
hidupnya. RTH dalam konsep taman kota memiliki peran menyelaraskan pola
kehidupan masyarakat perkotaan (Kustianingrum et al., 2013). Taman kota sebagai RTH
merupakan kawasan yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, menjadi tempat
tumbuhnya tanaman secara alamiah maupun sengaja ditanam oleh pemertintah kota,
dan digunakan memfasilitasi kepentingan masyarakat umum.
Taman Tingkir merupakan taman kota yang menjadi Public Space dan Landmark
Kota Salatiga. Public Space atau Ruang Publik merupakan ruang terbuka dengan akses
yang gratis untuk masyarakat umum, yang digunakan untuk melakukan interaksi social.
Fasilitas kota yang mampu menarik banyak pengunjung untuk melakukan berbagai
kegiatan individual maupun kelompok, baik bersifat informal maupun formal, bisa
6
untuk rekreasi serta mudah diakses oleh semua kalangan. Ruang publik yang
berkualitas tinggi memiliki kriteria punya sistem akses dan pergerakan yang jelas dan
mudah. Diantaranya adalah dengan menciptakan jalur akses yang jelas untuk
menghubungkan satu sama lain dengan integrasi moda transportasi, serta penggunaan
lahan dan keberadaan landmark sebagai orientasi (Nasution & Zahrah, 2017). Titik
Orientasi Visual (Landmark) adalah hal yang menonjol, penunjuk kejadian peristiwa
penting dan sesuatu yang mudah dilihat atau dikenal yang digunakan untuk
pembentukan citra pada lingkup kota dalam lansekap tertentu. Keistimewaan dan
keunikan citra tersebut akan menjadi pembeda dengan suatu hal lainnya sehingga
memancing perhatian masyarakat luas . (Radnawati et al., 2018) (Susilohadi et al, 2014)
7
untuk memanipulasi warna, dan lain‐lain. Adobe Photoshop memberikan kemudahan
dalam penyempurnaan sebuah gambar atau foto. Pada penelitian ini, Adobe Photoshop
digunakan untuk menyunting gambar hasil dari renderV‐Ray. Penyuntingan yang
dilakukan antara lain mengubah background dan mengatur tone warna.
Penerapan Teknologi Komputer Grafis dalam perancangan Virtual 3D taman
tingkir dapat digambarkan dalam bagan berikut (Gambar 2).
8
BAB II
METODE RISET PENGEMBANGAN DESAIN
9
berbantu teknologi komputer grafis dilakukan untuk menghasilkan produk desain.
Tahap selanjutnya adalah uji kelayakan produk desain. Pengujian dilakukan oleh
pengelola dan membagikan kuesioner ke pengunjung Taman Tingkir. Jika produk desain
dinilai tidak layak, maka akan dilakukan perancangan kembali. Dan jika produk dinilai
layak, maka produk bisa disajikan.
10
menguraikan bagaimana mencapai tujuan perancangan Taman Kota Tingkir yang
ditentukan selama fase Analisis dan memperluas landasan konseptual/teoritiknya untuk
implementasi konsep desain taman kota. Beberapa elemen dari Tahap Desain termasuk
membuat sketsa denah taman dan zonasinya, referensi gaya visual desain, identifikasi
komponen‐komponen taman kota secara virtual 3D. Keluaran fase ini adalan Naskah
kreatif Konsep Desain Taman Kota (Creative Brief) termasuk sketsa2 desain. Output dari
tahap Design akan menjadi masukan untuk tahap Development.
11
pemkot salatiga. Juga menjadi wahana informasi serta edukasi bagi pengguna Taman
tingkir. Prototype Desain Taman Tingkir akan dilakukan pengujian kelayakan desain
taman kota, dilakukan oleh pengelola dan membagikan kuesioner ke pengunjung Taman
Tingkir. Hal ini akan menjadi bahan penyempurnaan Desain sebelum
diimplementasikan sebagai produk final desain.
12
Penguji Eksternal : pengujian yang dilakukan oleh pihak User / Pengguna
Setelah produk redesain Taman Tingkir selesai divalidasi dan direvisi sesuai masukan
dari para penguji, tahap selanjutnya adalah uji coba lapangan, dalam hal ini adalah
pengunjung Taman Tingkir sebanyak 30 orang.
Data diperoleh dengan berbagai cara, seperti wawancara, penyebaran angket
atau kuesioner, observasi dan uji lapangan . Data‐data tersebut masuk dalam data
kualitatif dan data kuantitatif. Wawancara dilakukan kepada Dinas Lingkungan Hidup
bagian Pertamanan Kota Salatiga sebagai pengelola Taman Tingkir yang bertujuan
untuk memperoleh informasi tentang Taman Tingkir. Angket atau kuesioner diberikan
kepada validator untuk menilai produk pengembangan. Observasi dilakukan sebagai
proses dalam memperoleh informasi‐informasi yang diperlukan untuk melanjutkan
penelitian.
Intrumen berfungsi untuk pengambilan data. Data yang dihasilkan akan akurat
jika instrumen yang digunakan oleh peneliti valid. Instrumen yang akan digunakan
dalam pendesainan ulang Taman Tingkir adalah sebagai berikut :
- Wawancara, adalah metode pengumpulan data yang langsung kepada sumber data
melalui informasi lisan. Wawancara dilaksanakan antara peneliti dengan Kepala
Bagian Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup Kota [Link] wawancara ini
dapat diketahui informasi‐informasi mengenai Taman Tingkir.
- Kuisioner, digunakan untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat yang dapat
mendukung teori, informasi kebutuhan untuk pengembangan produk, serta
penilaian terhadap produk yang dibuat. Dalam kuisioner, responden yaitu meliputi
30 responden.
- Observasi, dilakukan pada saat jam operasional Taman Tingkir, observasi dilakukan
dengan tujuan untuk mengetahui apa saja kegiatan pera pengunjung, pemanfaatan
fasilitas taman dan kondisi di sekitar Taman Tingkir.
- Studi pustaka, adalah suatu cara untuk mendapatkan keterangan mengenai situasi
dengan cara mencari data melalui dokumentasi, buku‐buku referensi maupun
informasi digital dari internet. Sehingga diharapkan dapat mendukung dan
memudahkan dalam melakukan penelitian.
Validasi ahli dilakukan dengan responden dari para ahli dan user. Validasi
dilakukan untuk menguji kevalidan produk yang telah dibuat, sehingga diperoleh
masukan untuk perbaikan produk. Kriteria pengujiannya adalah (Tabel 2) :
13
Tabel 2. Kriteria Pengujian
Kriteria Penilaian Indikator
Urban Landscape Design Bentuk bangunan sudah sesuai
Pewarnaan bangunan sudah sesuai
Pemanfaatan ruang
Public Space Kelengkapan fasilitas
Kegunaan fasilitas
Tata letak fasilitas
Akses dan pergerakan di lingkungan taman
Dapat diakses semua kalangan
Taman Kota Mengakomodasi kebutuhan rekreasi
Sebagai penghias kota
Fungsi sosial bagi warga kota
Teknik analisis data yang diterapkan dalam pendesainan ulang ini adalah dengan
cara mengumpulkan data melalui instrument yang ada pada poin instrument
pengumpulan data, kemudian dikerjakan sesuai dengan prosedur penelitian dan
pengembangan. Adapun data yang diterapkan dalan penelitian dan pengembangan
redesain Taman Tingkir ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kauntitatif adalah
data yang dihasilkan dari kuesioner atau angket. Sedangkan data kualitatif diperoleh
dari hasil wawancara dengan pihak dari Dinas Lingkungan Hidup. Data yang diperoleh
melalui kuisioner terhadap pengunjung taman dan angket validasi akan diuraikan
secara naratif. Sedangkan kriteria untuk menentukan tingkat kevalidan produk tertera
pada tabel 3.
Tabel 3. Persentase Kelayakan
Persentase (%) Kriteria Validasi
76‐100 Valid ( Tidak perlu revisi)
56‐75 Cukup Valid (tidak perlu revisi)
40‐55 Kurang Valid (Revisi)
0‐39 Tidak Valid (Revisi)
Keterangan :
∑X : Jumlah nilai jawaban responden
∑Xi : Jumlah nilai ideal.
14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENGEMBANGAN DESAIN TAMAN KOTA
15
tempat yang dirancang khusus untuk memungkinkan anak‐anak bermain di sana.
Playground biasanya terletak di luar ruangan atau outdoor.
Pada Taman Tingkir, playground merupakan fasilitas yang ramai dikunjungi oleh
anak‐anak. Fasilitas bermain diantaranya Jungkat jungkit (gambar 8), tonggak
keseimbangan (gambar 9), ayunan (gambar 10) dan alat permainan anak lainnya. Tetapi
kondisi tempat bermain di taman ini kurang membuat anak‐anak nyaman dalam
16
bermain, pasalnya alas tempat bermain yang berupa pasir dan kerikil. Bahan tersebut
dapat tertiup angin dan becek pada saat [Link]‐titik titik tertentu juga terlihat
genangan air yang terlihat. Area bermain di Taman Tingkir tersedia dalam dua titik,
yaitu di bagian depan taman sebelah timur dan barat.
Fasilitas selanjutnya adalah pendopo dan gazebo. Fasilitas ini biasa digunakan
pengunjung untuk berkumpul atau sekedar beristirahat sembari melihat pemandangan
17
di area taman. Pendopo (gambar 11) juga sering digunakan sebagai sarana social untuk
pertemuan keluarga maupun komunitas sosial.
Pada tengah tengah taman tingkir terdapat sebuah bangunan yang cukup besar
dengan bentuk dasar lingkaran (gambar 12). Bangunan ini seolah olah menjadi pusat
kegiatan di Taman Tingkir. Bangunan ini berisi beberapa bangku dan alat‐alat fitness
(gambar 13) sebagai sarana olah raga. Ruang terbuka ditengah bangunan digunakan
sebagai tempat aktifitas fisik, diluar ruang misalnya senam, latihan beladiri maupun seni
pertunjukan.
18
Gambar 13. Alat Fitness
Fasilitas yang selalu kita jumpai pada setiap taman adalah bangku taman. Fasilitas
ini berfungsi sebagai tempat untuk duduk‐duduk sejenak untuk beristirahat sembari
menikmati pemandangan dalam taman. Pada Taman Tingkir, banyak tersedia bangku
taman. Bangku taman (gambar 14) disini terdiri dari bahan besi, beton dan kaca.
Berbentuk setengah tabung yang dibuat dari tong besi yang dipotong secara vertikal lalu
diisi beton sebagai alas duduk. Lalu kaca sendiri adalah botol kaca, botol kaca ini
berfungsi sebagai ornamen dalam kursi. Kursi ini ditopang dengan beton. Pembuatan
kursi ini adalah bentuk dari bagian dari recycle barang‐barang bekas.
19
Untuk tempat sampah (gambar 15), sebenarnya sudah banyak tersedia pada taman
ini. Tempat sampah sudah dibuat dengan tiga bagian yang memisahkan berbagai jenis
sampah. Tetapi beberapa tempat sampah tidak terisi dengan tong sampah, sehinga
pengunjung harus mencari ke tempat yang lain. Dan tempat sampahpun hanya berisi
satu tong sampah, dimana seharusnya berisi tiga tong sampah.
Beralih kebagian luar taman, taman ini dikelilingi oleh trotoar yang bisa berfungsi
sebagai tempat pejalan kaki dan jogging track. Sebenarnya, trotoar di Taman Tigkir
sudah masuk kedalam kategori aman dan nyaman, kerena sudah sesuai dengan
peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah (Nugroho, 2018). Pedagang yang
menjajakan dagangan atau jasanya di area trotoar membuat area trotoar menjadi lebih
sempit sehingga trotoar (gambar 16 dan 17). pada Taman Tingkir menjadi tidak aman
dan nyaman. Pejalan kaki juga harus berhati‐hati saat berjalan di trotoar taman ini,
dikarenakan persewaan mainan mobil yang berjalan di atas trotoar, bahkan sampai
kedalam taman (gambar 18).
Pengunjung yang membawa kendaraan pribadi berupa motor akan memakirkan
kendaraannya pada bahu jalan Taman Tingkir. Dikarenakan pada bahu jalan juga
terdapat gerobak pedagang, maka terlihat tidak rapi pada parkir motor ini. Lalu pada
parkir mobil (gambar 19), separuh lahan digunakan untuk wahana bermain anak.
20
Gambar 16. PKL Taman Tingkir
22
Gambar 20. Parkir Motor
23
Sentra Kuliner V
Ruang Baca V V
Pendopo V V V
Mushola V V V
Keran Air V V V V V V
Bangku Taman V V V V V V
Wifi V V
Panggung Budaya V
Arena Skate Board V
Jalan Pijat Refleksi V
Pusat Informasi V V V V
Bianglala V
Spot Foto V
Taman Bunga V
Galeri Foto V
Keterangan :
I. Taman Tingkir
II. Taman Flora Surabaya
III. Taman Indoneisa Kaya
IV. Taman Bungkul Surabaya
V. Alun‐alun batu
VI. Taman Foto Bandung
24
4 Arena bermain anak yang kurang nyaman dan aman. 24 6
5 Kurang nyamannya area pejalan kaki 12 15 3
6 Pedangang di sekitar Taman Tingkir tidak tertata rapi. 9 18 3
7 Area parkir pengunjung Taman Tingkir tidak tertata rapi. 3 24 3
8 Pohon pohon yang berada di dalam taman sudah 6 21 3
membuat taman teduh dan sejuk.
9 Taman Tingkir sudah pantas digunakan untuk Ruang 30
Publik.
10 Perlu adanya ciri khas pada desain Taman Tingkir. 12 18
25
4. HASIL PENGEMBANGAN DESAIN
Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan desain Taman
Tingkir dengan Konsep Urban Landscape Design sebagai Public Spacedan mengetahui
kelayakan dari produk desain yang dihasilkan. Produk yang dihasilkan dinyatakan layak
digunakan berdasarkan validasi oleh penguji dari pakar dan user.
Tahap ini diawali dengan mengumpulkan informasi yang berguna untuk penelitian
ini, dimulai dari observasi ke lapangan, melakukan wawancara terhadap pihak terkait,
menyebarkan kuesioner dan melakukan analisis perbandingan taman. Dari tahapan ini,
diperolehlah berbagai macam informasi yang berguna untuk penelitian ini seperti
berbagai masalah yang timbul pada Taman Tingkir. Selanjutnya adalah melakukan studi
pustaka guna mengumpulkan materi tentang Urban Design, Public Space, Taman Kota
dan literatur‐literatur pendukung lainnya.
Pada tahap kedua kegiatan yang dilakukan adalah mengkaji konsep‐konsep Urban
Landscape Design dan Public Space. Selain itu, melakukan identifikasi masalah yang ada
pada Taman Tingkir dan mencari solusi dari setiap masalah yang ada. Contoh masalah
adalah pada penataan Pedagang Kaki Lima di bagian luar Taman Tingkir. Solusinya
adalah menata supaya terlihat rapi dan tertata, karena PKL yang ada di Taman Tingkir
tidak mungkin dihilangkan sebab jika dihilangkan, akan menimbulkan masalah baru.
Setelah semua masalah dapat diketahui solusinya, langkah selanjutnya adalah
merancang konsep redesain Taman Tingkir dengan konsep Urban Landscape
Designsebagai Public Space.
Tahap pengembangan produk dilakukan dalam redesain Taman Tingkir mengacu
pada denah taman (gambar 21). Pembuatan desain dilakukan dengan menggunakan
software SketchUp 2017. Dibuat berdasarkan konsep Urban Landscape Design dan Public
Space seperti yang telah dirancang pada tahapan sebelumnya. Tahapan pertama dalam
proses desain adalah dengan membuat bangunan‐bangunan dengan konsep Urban
Design. Disini, bangunan yang dibuat adalah toilet, ruang informasi, bangku taman, rak
sepeda, mushola dll. Bangunan tersebut tidak dibuat pada 1 file sehingga setiap
bangunan mempunyai file sendiri. Setelah semua bangunan jadi, langkah selanjutya
adalah membuat 1 file yang nantinya berisi gabungan dari semua file bangunan. Desain
bangunan tidak dibuat pada 1 file agar pada saat desain pada gambar inti terhapus, kita
masih mempunyai file back‐up. Setelah desain dan bangunan sudah tertata dalam satu
rancangan bentuk menyeluruh, tahap selanjutnya adalah menentukan beberapa sudut‐
26
sudut pengambilan gambar untuk proses rendering. Proses ini bertujuan untuk
membuat hasil export gambar yang hampir meneyerupai aslinya.
27
dapat terlihat dengan jelas dari beberapa sudut. Video dibuat dengan resolusi 720p
(1280 x 720) dan frame rate 24fps dengan durasi sekitar 7 menit. Dengan resolusi
seperti yang telah disebutkan sebelumya, video tersebut sudah bisa diputar dengan baik
melalui smartphone, komputer jinjing maupun komputer personal dan layar televisi.
Konsep redesain pada penelitian ini adalah Urban Landscape Design. Konsep
urban sendiri mempunyai garis besar yaitu memanfaatkan sumber daya dan tata guna
lahan sekitar yang ada pada masa kini dan membentuknya menjadi sebuah karya atau
bangunan yang dapat menunjang aktifitas manusia dalam kehidupan sehari hari dan
nantinya akan dicintai banyak orang karena pada dasarnya bentukan desain yang telah
dihasilkan dapat meghadirkan suatu wilayah yang terpadu dengan pola perkembangan
kota. Selain itu, kata urban sendiri sering dikaitkan dengan gedung‐gedung perkotaan
yang menjulang tinggi. Oleh karena itu, beberapa bangunan dibuat dengan bentuk
menjulang atau tinggi.
Hal pertama yang dibahas pada taman ini adalah landmark, yang bertujuan
sebagai penanda atau ciri khas dari suatu wilayah. Taman Tingkir berlokasi di
Kecamatan Tingkir Kota [Link] melakukan observasi dari beberapa literatur,
Kecamatan Tingkir adalah cikal bakal lahirnya kesenian Drumblek, tepatnya berada di
kamoung Pancuran, Kelurahan Kutowingangun. Drumblek adalah sebuah kesenian yang
hampir mirip dengan Marching Band,akan tetapi alat‐alat yang digunakan kebanyakan
berasal dari barang bekas seperti tong besi atau blek, drum plastik dan bambu. Jenis
kesenian ini dicetuskan oleh Didik Subiantoro Masturi pada tahun [Link] awal mula
kemunculannya, kesenian ini hanya memakai pakaian sederhana dan juga sandal
theklek. Ciri khas itulah yang membuat warga Kampung Pancuran meraih penghargaan
dari MURI ( Museum Rekor Dunia Indonesia ) untuk kategori pawai dengan
menggunakan theklek dengan peserta terbanyak. Kampung Pancuran kemudian dikenal
juga sebagai barisan theklek sebagai ciri khasnya (Rohman, 2019).
Landmark pada Taman Tingkir dibuat dengan bentuk patung pemain drumblek
(gambar 22). Patung ini diletakkan pada bagian depan Taman Tingkir, atau pada jalan
masuk utama. Patung dibuat seperti monumen, yaitu patung ditopang dengan pilar,
sehingga patung terlihat tinggi. Hal tersebut akan membuat patung tersebut menjadi
menonjol dan mudah dilihat sehingga akan mendapat perhatian dari pengunjung.
28
Gambar 22. Landmark Taman Tingkir
Pada sekitar landmark, akan terlihat bentuk bangunan yang menjulang dari rendah
ke tinggi, hal ini merupakan gambaran dari gedung gedung perkotaan dari konsep Urban
Design. Pada bagian tengah bangunan ini, akan ada air mengalir yang bertujuan mengisi
kolam air kecil dibawahnya. Suara gemericik air akan membuat suasana hati
pengunjung nyaman saat mengunjungi taman ini.
Berlanjut kejalan masuk taman (gambar 23), pengunjung akan disuguhkan jalan
lurus dengan lampu dan pot yang menggantung. Bentuk tersebut bertujuan agar
pengunjung mendapatkan spot selfie yang bagus dalam taman.
29
Pada sebelah jalan masuk terdapat bangunan Pusat Informasi (gambar 24)..
Bangunan ini berfungsi sebagai pusat informasi pada taman ini sekaligus menjadi
tempat untuk orang yeng mengelola taman ini. Diletakkan di dekat pintu utama agar
orang dengan mudah untuk mendatanginya. Bangunan ini mempunyai ukuran 7,5m x
7,5m.
30
Di bagian belakang bangunan Pusat Informasi, terdapat gazebo yang berbentuk
lingkaran dengan diameter 13m. Kursi pada bangunan ini ditata melingkar dengan kursi
menghadap ke tengah‐tengah lingkaran. Fungsi dari gazebo ini bisa berbagai macam,
contohnya adalah sebagai tempat beristirahat sembari menikmati suasana taman dan
bisa juga untuk tempat berkumpul dalam skala kecil.
Berlalih ke bagian Timur Taman Tingkir, bagian ini terdapat tempat permainan
anak atau playground (gambar 26). Pada lokasi ini, alas yang digunakan adalah rumput
sintetis seluas 24m x 21m, sehingga nantinya rumput tidak akan mudah rusak karena
terinjak injak oleh pengunjung. Hal tersebut membuat minimnya masalah seperti
genangan air dan debu seperti yang terjadi pada saat ini.
Pada sisi timur Taman Tingkir sebelah belakang, terdapat lapangan olahraga
basket dan juga tempat untuk [Link] basket masih pada lokasi semula pada
taman ini. Lapanganini berukuan keseluruhan 31,6m x 20m, dengan ukuran lapangan
standart FIBA (International Basket Federation) yaitu 26m x 14m. Pada samping
lapangan ini, ditambahkan tribun kecil untuk pengujung yang ingin melihat ke arah
[Link] tersebut diharapkan dapat membuat lapangan basket terpakai lebih baik.
Untuk tempat alat‐alat fitness sendiri, bangunannya berukuran 10m x 5m.
31
Gambar 27. Lapangan Basket dan Tribun Mini
32
Gambar 29. Wahana Labirin
Pada bagian belakang taman, akan terlihat bangunan yang cukup besar. Bangunan
ini merupakan bangunan panggung terbuka atau open theatre (gambar30). Bangunan ini
berbentuk setengah lingkaran dengan ukuran 38m x 20m. Open Thatre ini menjadi
pembeda dari taman‐taman kota lain di Kota Salatiga. Bangunan ini memiliki latar
belakang berupa bentuk bangunan yang menjulang dari tinggi ke [Link]
tersebut diadaptasi dari bentuk dari alat musik [Link] musik tersebut adalah salah
satu musik yang membentuk melodi pada kesenian [Link] panggung ini
dapat menjadi panggung kesenian untuk warga Tingkir maupun warga Salatiga dan
sekitarnya. Sehingga ada tujuan lain untuk mengunjungi taman ini.
33
Gambar 31. Bangku Taman 1
Hal hal yang sering dijumpai pada taman antara lain seperti bangku taman dan
tong sampah. Ada 3 tipe bangku taman yang didesain : Tipe pertama (gambar 31) adalah
bangku besi yang ditopang pada pot di salah satu sisinya dengan ukuran 150 cm x 50
cm. Tipe bangku kedua (gambar 32) adalah bangku dengan bahan beton yang
mempunyai atap dengan ukuran keseluruhan 150 cm x 150 cm. Lalu tipe bangku ketiga
(gambar 33) adalah bangku dengan meja disebagain sisi, bangku ini memiliki atap alami
berupa pohon. Pohon yang digunakan adalah pohon Cersen atau dalam bahasa jawa
biasa disebut talok. Bangku ini memiliki dimensi 200 cm x 200 cm.
34
Gambar 33. Bangku Taman 3
Beralih kepada bagian luar Taman Tingkir, desain yang sangat diperhatikan adalah
penataan Pedagang Kaki Lima. Para pedagang ditata pada bagian timur taman, sehingga
pedagang terpusat disebelah timur taman. Desain dibuat dengan menggunakan
pondokan pondokan, atau biasa disebut sebahai shelter PKL (gambar 34). Shelter disini
berjumlah sebanyak 24 pondok dengan ukuran masing masing pondok sebesar 2m x
2m. Pedagang yang difasilitasi dengan lapak jualannya akan memudahkan
pengorganisasian dan pembinaannya. Disamping itu mereka juga tidak akan
sembarangan tempat menjual produknya.
Selanjutnya pada bagian parkir mobil, dibuatkan food court (gambar 35) sebanyak
5 buah dengan masing‐masing berukuran 6m x 3m. Sehingga semua kegiatan
perdagangan dapat terpusat disebelah timur taman. Ini merupakan fasilitas wisata
kuliner, makanan khas kota salatiga dapat dijajakan disini. Maraknya olahraga speda
yang memiliki komunitas pesepeda, taman tingkir diharapkan juga menjadi tujuan
pemberhentian para pesepeda untuk beristirahat maupun menikmati sajian dagangan
makanan dan minuman. Tempat parkir sepeda (gambar 36) dipindah dari posisi semula
yang berada diparkiran mobil, menjadi di dekat trotoar Taman Tingkir beserta parkir
motor lainnya. Pada desain pagar, gaya desain diambil dengan bentuk tinggi rendah
seperti pada equalizer pada musik.
35
Gambar 34. Food Court pada Parkir Mobil
Fasilitas peribadatan, ruang berdoa juga sediakan karena pengunjung muslim akan tetap
menjaga ibadahnya, sehingga membutuhkan mushola (gambar 39).
37
Gambar 39. Ruang berdoa atau mushola
38
social ini akan membutuhkan jumlah makanan dan minuman yang banyak. Sehingga
pemenuhan kebutuhannya bisa disediakan para pedagang di sekitarnya.
39
5. UJI VALIDASI DESAIN
Setelah semua produk desain jadi, tahap selanjutnya adalah melakukan uji validasi
oleh penguji ahli, yaitu Dosen Desain Grafis Universitas STEKOM. Berikut merupakan
hasil dari Uji Validasi Penguji Pengguna.
Tabel 4.4 Hasil Uji Validasi Penguji Ahli
Nilai Pengamatan
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
1 Urban Landscape Design
a. Bentuk bangunan sudah sesuai √
b. Pewarnaan bangunan sudah sesuai √
c. Pemanfaatan ruang √
2 Public Space
a. Kelengkapan fasilitas √
b. Kegunaan fasilitas √
c. Tata letak fasilitas √
d. Akses dan pergerakan di lingkungan taman √
e. Dapat diakses semua kalangan √
3 Taman Kota
a. Mengakomodasi kebutuhan rekreasi √
b. Sebagai penghias kota √
c. Fungsi sosial bagi warga kota √
Jumlah Skor 40 5
Total Skor 45
Skor Ideal 55
Persentase Kelayakan 81,8%
Dari hasil uji validasi oleh Penguji Internal di atas, dapat diketahui total skor dari
uji validasi. Dari total skor tersebut, dapat ditemukan nilai persentase sebesar 81,8%.
Angka persentase tersebut sudah Valid ( tidak perlu revisi ) seperti apa yang tertera
pada tabel 3.2.
Dikarenakan hasil dari uji validasi pertama adalah valid, maka dilakukan pengujian
tahap kedua yang dilakukan oleh Penguji Pengguna, yaitu Pengelola Bidang Pertamanan
Dinas Lingkungan Hidup Kota Salatiga. Berikut merupakan hasil dari Uji Validasi Penguji
Internal.
Dari hasil uji validasi oleh Penguji Pengguna (table 5.) , dapat diketahui total skor
dari uji validasi. Dari total skor tersebut, dapat ditemukan nilai persentase sebesar
76,4%. Angka persentase tersebut sudah Valid ( tidak perlu revisi ) seperti apa yang
tertera pada tabel 3.2. Dalam angket ini, penguji eksternal emmberikan saran berupa
penambahan railing guard untuk difabel, halte dan kolam retensi / sumur resapan air.
40
Tabel 4.5 Hasil Uji Validasi Penguji Pengguna
Nilai Pengamatan
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
1 Urban Landscape Design
d. Bentuk bangunan sudah sesuai √
e. Pewarnaan bangunan sudah sesuai √
f. Pemanfaatan ruang √
2 Public Space
f. Kelengkapan fasilitas √
g. Kegunaan fasilitas √
h. Tata letak fasilitas √
i. Akses dan pergerakan di lingkungan taman √
j. Dapat diakses semua kalangan √
3 Taman Kota
d. Mengakomodasi kebutuhan rekreasi √
e. Sebagai penghias kota √
f. Fungsi sosial bagi warga kota √
Jumlah Skor 6 36
Total Skor 42
Skor Ideal 55
Persentase Kelayakan 76,4%
Setelah produk selesai dirancang, peneliti juga menyebarkan kuesioner kedua atau
kuesioner setelah perancangan kepada para responden. Responden disini adalah
pengunjung Taman Tingkir yang berjumlah 30 orang. Penyebaran kuesioner ini
bertujuan untuk mengetahui apakah desain yang dibuat layak untuk para pengunjung
atau tidak. Kuesioner ini berisikan pernyatan terhadap hasil redesign yang telah dibuat
oleh penulis. Sebelum mengisi kuesioner, responden diperlihatkan produk desain yang
berupa gambar hasil render dari aplikasi SketchUp yang digabungkan menjadi satu
dalam sebuah booklet. Berikut merupakan hasil dari kuesioner kedua (table 4.) :
1) Pernyataan Landmark yang telah dibuat dapat menjadi ciri khas dari Taman Tingkir
dari 30 responden menyatakan 30% Sangat Setuju dan 70% Setuju.
2) Pernyataan Fasilitas yang telah dibuat sudah cukup untuk Taman Tingkirdari 30
responden menyatakan 26,7% Sangat Setuju dan 73,3% Setuju.
3) Pernyataan Fasilitas yang telah dibuat dapat menjangkau semua kalangandari 30
responden menyatakan 46,7% Sangat Setuju dan 53,3% Setuju.
4) Pernyataan Arena bermain anak atau playground yang lebih baikdari 30 responden
menyatakan 56,7% Setuju dan 43,3% Tidak Setuju.
41
5) Pernyataan Akses sirkulasi pedestrian ( pejalan kaki ) yang mencukupi33,3%
Sangat Setuju dan66,7% Setuju.
6) Pernyataan Pembuatan shelter PKL membuat pedagang lebih tertata dengan rapi
dari 30 responden menyatakan 33,3% Sangat Setuju, 53,3% Setuju dan 13,4%
Tidak Setuju.
7) Pernyataan Pembuatan shelter PKL membuat trotoar Taman Tingkir manjadi aman
dan nyamandari 30 responden menyatakan 40% Sangat Setuju dan60% Setuju.
8) Pernyataan Lokasi parkir yang terpusat membuat parkir lebih tertata dengan
rapidari 30 responden menyatakan 37,7% Sangat Setuju, 60% Setuju dan 33,3%
Tidak Setuju.
9) Pernyataan Halte memudahkan pengunjung yang menggunakan transportasi umum
dari 30 responden menyatakan 83,3% Sangat Setuju dan 16,7% Setuju.
10) Pernyataan Fasilitas yang telah dibuat menjadikan Taman Tingkir sebagai Public
Space yang lebih baikdari 30 responden menyatakan 90% Sangat Setuju dan 10%
Setuju.
Tabel 4.7 Hasil Kuesioner Pasca Desain
No Pernyataan SS S TS STS
1 Landmark yang telah dibuat dapat menjadi ciri khas 9 21
dari Taman Tingkir.
2 Fasilitas yang telah dibuat sudah cukup untuk Taman 8 22
Tingkir.
3 Fasilitas yang telah dibuat dapat menjangkau semua 14 16
kalangan.
4 Arena bermain anak atau playground yang lebih baik. 17 13
5 Akses sirkulasi pedestrian ( pejalan kaki ) yang 10 20
mencukupi.
6 Pembuatan shelter PKL membuat pedagang lebih 10 16 4
tertata dengan rapi.
7 Pembuatan shelter PKL membuat trotoar Taman 12 18
Tingkir manjadi aman dan nyaman.
8 Lokasi parkir yang terpusat membuat parkir lebih 11 18 1
tertata dengan rapi.
9 Halte memudahkan pengunjung yang menggunakan 25 5
transportasi umum.
10 Fasilitas yang telah dibuat menjadikan Taman 27 3
Tingkir sebagai Public Space yang lebih baik.
42
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
43
DAFTAR PUSTAKA
Anendawaty Roito Sagala, Adityas Prasetyo, Dwi Abdul Syakur, Nur Rahmah Amania,
Daisy Radnawati, Ray March Syahadat6, P. T. P. (2017). "Perencanaan Taman
Kota sebagai Salah Satu Atribut Kota Hijau di Kecamatan Gedenage,
Bandung".Jurnal Active, 5(3), 85–90.
Dewi, T. H. S., Nirawati, M. A., & Handayani, K. N. (2017). "Taman Bermain Dengan
Pendekatan Arsitektur Hijau Di Sukoharjo."Arsitektura, 13(1).
Firmantoro, K., Anton, A., & Nainggolan, E. R. (2016). "Animasi Interaktif Pengenalan
Hewan Untuk Pendidikan Anak Usia Dini."None, 13(2), 14–22.
Ghassani, R., & Arsitektur, J. (2019). "Pendekatan Konsep Urban Desain pada Rancangan
Apartemen Living City Pasteur di Kota Bandung."IV(3), 1–11.
Krisdianto, R. (2018). "Penerapan Media 3D Sketchup Pada Model Pembelajaran
Langsung Mata Pelajaran Menggambar Dengan Perangkat Lunak Di SMK Negeri 1
Bendo Magetan."Jurnal Kajian Pendidikan Teknik Bangunan, 2(2/JKPTB/18).
Kustianingrum, D., Sukarya, A. K., Nugraha, R. A., & Tyagarga, F. R. (2013). "Fungsi dan
Aktifitas Taman Ganesha Sebagai Ruang Publik di Kota Bandung."Jurnal Reka
Karsa, 1(2),1–14.
Maulana, H., & Zarassita, D. (2017). "Pembuatan Brand Mark dan Motion Graphic Logo
Pada Rebranding Project PT Astra Graphia Information Technology."Multinetics,
3(2), 18.
Nasution, A. D., & Zahrah, W. (2017). "Public Open Space’s Contribution to Quality of
Life: Does privatisation matters?"Asian Journal of Environment‐Behaviour
Studies, 2(5), 71.
Nugroho, Y. A. (2018). "Keamanan dan Kenyamanan Trotoar di Taman Tingkir Kota
Salatiga." Mintakat Jurnal Arsitektur, 18(1), 35‐48.
Permana, I. A., &Fatimah, I. S. (2017). "Redesign Taman Kota Kabupaten Bogor Dengan
Pendekatan Urban Landscape Design."Jurnal Arsitektur Lansekap, 39.
Radnawati, D., Febriani, Y., & Nurhayati, E. (2018). "Konsep bentuk kujang sebagai salah
satu identitas eksistensi budaya Sunda dalam perencanaan taman di Kota Bogor."
Jurnal Arsitektur Lansekap, 4(1), 90.
[Link]
Rohman, F. A. (2019). "Drumblek, Kesenian Barang Bekas Dari Salatiga Untuk Dunia."
Walasuji : Jurnal Sejarah Dan Budaya, 10(1), 11–22.
Study, E. (2011). "Studi evaluasi taman kota sebagai taman terapeutik studi kasus :
taman Cilaki Atas, Kota Bandung."3(2), 80–85.
Susilohadi, A. D., Soemardiono, B., & Kharismawan, R. (2014). "Konsep Perancangan
Menara Surabaya sebagai Landmark dalam Fenomena ‘Iconisation.’"Jurnal Sains
Dan Seni Pomits, 3(2), 19–21. Retrieved from
Syahputra, F. A., & Arsitektur, J. (2018). "Penerapan Tema Urban Landscape pada Ran‐
cangan Terminal Leuwi Panjang "Dwisasana Embara Parahyangan. III(1), 1–11.
Widayanti, F. T., & Hadi, T. S. (2019). "Kajian Bentuk Karakter Ruang Taman Tingkir
Sebagai Ruang Terbuka Hijau Perkotaan Kota Salatiga."Jurnal Planologi, 14(2),
117. [Link]
44