0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan49 halaman

Desain Taman Kota 3D Berbasis Urban

Dokumen ini membahas perancangan taman kota di Kota Salatiga dengan menggunakan metode desain virtual 3D. Taman Tingkir di Kota Salatiga memiliki beberapa kekurangan seperti kurangnya landmark, fasilitas yang tidak berfungsi dengan baik, dan alas playground yang kurang nyaman. Penelitian ini akan mengembangkan desain taman yang lebih baik dengan menggunakan metode virtual 3D.

Diunggah oleh

virdaeviyanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan49 halaman

Desain Taman Kota 3D Berbasis Urban

Dokumen ini membahas perancangan taman kota di Kota Salatiga dengan menggunakan metode desain virtual 3D. Taman Tingkir di Kota Salatiga memiliki beberapa kekurangan seperti kurangnya landmark, fasilitas yang tidak berfungsi dengan baik, dan alas playground yang kurang nyaman. Penelitian ini akan mengembangkan desain taman yang lebih baik dengan menggunakan metode virtual 3D.

Diunggah oleh

virdaeviyanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

7

PERANCANGAN TAMAN KOTA BERKONSEP


URBAN LANDSCAPE DESIGN BERBANTU
VIRTUAL 3D KOMPUTER GRAFIS

Edy Jogatama Purhita


Athonius Tyas Adi
Erwan Nur Hidayat
PERANCANGAN TAMAN KOTA BERKONSEP
URBAN LANDSCAPE DESIGN BERBANTU
VIRTUAL 3D KOMPUTER GRAFIS

Edy Jogatama Purhita


Athonius Tyas Adi
Erwan Nur Hidayat

PENERBIT :
YAYASAN PRIMA AGUS TEKNIK
Jl. Majapahit No. 605 Semarang
Telp. (024) 6723456. Fax. 024-6710144
Email : penerbit_ypat@[Link]
ii
Perancangan Taman Kota Berkonsep Urban Landscape Design
Berbantu Virtual 3D Komputer Grafis

Penyusun :
Edy Jogatama Purhita, [Link].
Anthonius Tyas Adi
Erwan Nur Hidayat

ISBN : 978‐623‐5734‐18‐7

Editor:
Indra Ava dianta

Desain Sampul dan Tata Letak :


Ayyub Nurmana

Penerbit :
Yayasan Prima Agus Teknik
Redaksi:
Jln Majapahit No 605 Semarang
Tlpn. (024) 6723456
Fax . 024‐6710144
Email: penerbit_ypat@[Link]

Distributor Tunggal:
UNIVERSITAS STEKOM
Jln Majapahit No 605 Semarang
Tlpn. (024) 6723456
Fax . 024‐6710144
Email: info@[Link]

Hak Cipta dilindungi Undang undang


Dilarang memperbanyak karya Tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa
ijin tertulis dan penerbit.

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas rahmat,
berkat, dan bimbingan‐Nya, kami dapat menyelesaikan Monograf Penelitian
Perancangan Taman Kota Berkonsep Urban Landscape Design Berbantu Virtual 3D
Komputer Grafis. Dengan bantuan‐Nya, makalah kami dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada : Tuhan Yang Maha Esa, karena
rahmat dan penyertaan‐Nya yang selalu menyertai penyusun dan panitia dalam
pembuatan buku ini. Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada KEMDIKBUD yang
telah menyeponsori penelitiannya melalui program Penelitian Dosen Pemula (PDP)
tahun anggaran 2021. Pihak‐pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu,
karena bantuannya dapat selesailah buku ini dengan baik
Semoga dengan disusunnya buku ini, dapat menjadi rujukan dalam
pengembangan desain taman kota. Buku ini dapat digunakan mahasiswa dalam
memahami materi desain grafis arsitektur terkait taman kota.
Demikianlah buku ini kami buat. Kami menyadari bahwa penyusunan buku ini
jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kami menerima kritik dan saran agar nantinya juga
bisa menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakannya.

Semarang, November 2021

Edy Jogatama Purhita

iv
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………… iii


DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………….. iv

Bab I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang ………………………………………………………………………...… 1
2. Identifikasi Masalah ……………………..…………………………………………… 2

Bab II. KAJIAN TEORI


1. Kajian Penelitian Yang Relevan ……..…………………………………………… 5
2. Urban Landscape Design, Public Space, landmark ……………………… 6
3. Perancangan Taman 3D virtual desain dengan komputer Grafis …… 7

Bab II. METODE RISET PENGEMBANGAN DESAIN


1. Kerangka Pikir Riset ……..………………………………………………….……… 9
2. Metode Pengembangan Desain ………………………….……………………… 10

Bab III. HASIL DAN PEMBAHASAN PENGEMBANGAN DESAIN TAMAN KOTA


1. Hasil Studi Lapangan ……..………………………………………………….……… 15
2. Perbandingan Fasilitas Taman Kota ….……………….……………………… 23
3. Angket Atau Kuisioner Pra ………………………………………………..… 24
4. Hasil Pengembangan Desain …………….……………………………………..… 26
5. Uji Validasi Desain …………….……………………………………………………..… 40

Bab IV. KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan dan Saran ……..………………………………………………….……… 43

DAFTAR PUSTAKA ……………….……..……………………………………………….……… 44

v
BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Urban Landscape Design atau desain lansekap perkotaan adalah pendekatan


dalam mendesain kota yang memberikan dampak positif pada penduduknya dengan
menyediakan lingkungan yang layak huni. Lansekap kota hadir dalam berbagai bentuk,
salah satunya adalah taman kota. Taman kota adalah salah satu fasilitas yang disediakan
oleh kota agar penduduk kota dapat melakukan beberapa kegiatan di dalamnya. Kota
Salatiga memiliki beberapa taman dengan fungsi rekreasi tetapi kurang berfungsi
sebagai ruang publik atau public space, salah satunya adalah Taman Tingkir (gambar 1.).
Public space sendiri mempunyai arti yaitu suatu ruang dimana seluruh masyarakat
mempunyai akses untuk menggunakannya. (Kustianingrum, Sukarya, Nugraha, &
Tyagarga, 2013). Ciri – ciri dari public space adalah terbuka dan mudah dicapai oleh
masyarakat untuk melakukan kegiatan ‐ kegiatan kelompok dan tidak selalu harus ada
unsur hijau, bentuknya berupa plasa, mall dan taman bermain. Ruang publik yang
berkualitas tinggi adalah ruang yang memiliki sistem akses dan pergerakan yang jelas
dan mudah. Hal itu dapat dicapai dengan menciptakanjalur yang jelas untuk
menghubungkan satu sama lain dengan integrasi moda transportasi serta penggunaan
lahan dan keberadaan landmark sebagai orientasi.

Gambar 1. Tampak atas area taman tingkir (google maps)

1
Taman Tingkir berlokasi di Jl. Marditomo, Kelurahan Sidorejo Kidul, Kecamatan
Tingkir, Kota Salatiga. Taman ini dibuka pada tahun 2016 di lahan seluas kurang lebih
11.000m2 dan terletak tidak jauh dari kawasan pemukiman, sehingga memicu beragam
kegiatan pengguna ruang. (Widayanti & Hadi, 2019). Berbagai macam kegiatan yang
dilakukan oleh pengunjung taman, mulai dari balita sampai lanjut usia sangat beragam
seperti berolahraga, bermain, menunggu, hingga jual beli. Namun pengelolaan dan
pemeliharaan Taman Tingkir kurang baik, terlihat dari beberapa fasilitas yang dimiliki
oleh Taman Tingkir tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Contoh beberapa fasilitas
yang tidak terpakai atau tidak berfungsi sebagai mana mestinya antara lain adalah
kolam, alat fitness dan kandang burung. Dari segi akses di taman, area pejalan kaki atau
trotoar dibagian luar taman digunakan untuk para pedagang menjajakan dagangannya
dan persewaan mobil mainan anak anak, sehingga mengurangi kenyamanan pejalan
kaki saat melewati area trotoar. Untuk akses di dalam taman, pejalan kaki tidak
mengalami banyak gangguan seperti saat berjalan di luar taman, dan walaupun lahan
taman ini tidak rata, tetapi minimnya keberadaan tangga membuat akses untuk
penyandang disabilitas menjadi lebih mudah. Selain itu, papan penunjuk informasi pada
area taman hanya ada satu dan terletak didepan, padahal Taman Tingkir mempunyai 3
akses masuk dan keluar yaitu dari Jl. Marditomo, Jl Tritis Mukti dan Jl. Tritis Sari. Hal itu
dapat membuat pengunjung yang baru pertama kali mengunjungi Taman Tingkir
kebingungan.
Dalam segi kebersihan, taman ini sudah cukup bersih, namun lokasi pengelolaan
sampah berada didalam taman, sehingga ada satu titik di dalam taman yang terlihat
sampah menumpuk sangat banyak. Penempatan pembuangan sampah sudah tersebar di
banyak titik, dengan desain tempat sampah yang bisa dipisahkan jenis sampahnya.
Walaupun tersedia tempat sampah di banyak tempat, namun beberapa area tidak terisi
tong sampah yang sesusai dengan peruntukannya. Hal itu sangat mengurangi tingkat
keindahan pada Taman Tingkir. Pada saat hujan, di area bermain anak menjadi becek
karena alas taman bermain berupa tanah dan pasir. Selayaknya taman, Taman Tingkir
juga mempunyai tempat duduk dan tempat untuk meneduh. Penempatan tempat duduk
sangat strategis dan banyak tersedia di banyak tempat sehingga memudahkan
pengunjung untuk beristirahat. Tempat untuk berteduh sendiri disediakan berupa
pendapa. Aktifitas pada Taman Tingkir banyak terlihat pada saat pagi hingga sore, dan
taman ini ramai dikunjungi pada saat weekend dan hari libur nasional. Pada saat malam

2
hari, sangat jarang terlihat adanya aktifitas pada taman ini, padahal di dalam taman
terdapat Lapangan Basket. Sarana olahraga ini sebetulnya bisa digunakan pada saat
petang, tetapi karena kondisi pencahayaan dalam taman yang kurang memadai dan
kondisi lapangan yang kurang layak, maka sangat jarang orang yang beraktifitas di area
tersebut.

2. IDENTIFIKASI MASALAH
Disamping segala fasilitas yang ada, Taman Tingkir mulai melihatkan beberapa
kekurangan seiring dibukanya taman tersebut. Tidak adanya landmark yang menjadi
ciri khas taman tersebut, membuat Taman Tingkir seolah olah menjadi taman biasa yang
tidak ada ciri khasnya. Landmark sendiri berfungsi sebagai ciri atau tanda yang berbeda
dari suatu Kawasan. Dengan adanya landmark, diharapkan taman tersebut memiliki
keterhubungan yang kuat dan dapat didesain sesuai dengan fungsi yang ideal,
menghadirkan elemen dan fasilitas taman yang tepat sehingga menghadirkan fungsi
yang optimal dan mampu memberikan kepuasan, kesenangan, kenyamanan, dan
keamanan pada pengguna. (Radnawati, dkk, 2018).
Pada area playground, alas dari playground adalah tanah dan pasir. Material
tersebut dapat terbang tertiup angin dan akan becek saat setelah hujan turun. Hal
tersebut mengurangi tingkat keamanan dan kenyamanan dalam bermain. Seharusanya
pada tempat rekreasi kenyamanan merupakan hal yang harus diperhatikan. Suasana
nyaman diciptakan dengan desain yang responsif terhadap iklim dan ramah lingkungan.
(Dewi, dkk, 2017). Masalah selanjutnya terdapat pada para pedagang yang menjajakan
dagangannya. Tidak adanya area yang memadahi dan terkomplek, membuat pedagang
tidak tertata dengan rapi. Hal ini sangat disayangkan karena desain awal tidak membuat
kawasan pedagang yang berguna agar para pedagang tersebut terpusat. Area trotoar
yang seharusnya menjadi tempat lari atau berjalan menikmati susasana taman
terganggu dengan adanya persewaan mainan anak‐anak.
Tempat parkir yang kurang mamadai juga menjadi masalah pada taman ini.
Lokasi parkir saat ini berada di seputaran taman, kecuali di depan taman. Seharusnya
badan jalan di sekitar Taman Tingkir yang berukuran kurang lebih 1,5m bisa digunakan
untuk lokasi parkir, tetapi tempat tersebut digunakan untuk lokasi berjualan. Hal ini
membuat parkir kendaraan sepeda motor maupun mobil berada di jalan yang berakibat
lebar jalan yang berguna untuk arus kendaraan bermotor berkurang.

3
Masalah‐masalah yang dikemukakan di atas kurang menjadikan Taman Tingkir
sebagai taman kota yang sesuai dengan ciri ciri atau kriteria taman kota sebagai public
space. Guna riset pengembangan desain taman tingkir dalam perlu dirumuskan
masalahnya sebagaimana berikut :
 Bagaimana membuat desain yang dapat membuat Taman Tingkir menjadi public
space yang lebih baik?
 Apakah pendesainan ulang Taman Tingkir dengan konsep Urban Landscape Design
bisa mengakomodir kepentingan semua pengguna Taman Tingkir?
Tujuan riset pengembangan desain Taman Tingkir ini ini adalah untuk
menerapkan teknologi komputer rancang bangun 3D dalam mendesain ulang (redesign)
taman Tingkir dengan konsep Urban landscape design, dari segi fungsional dan estetika
yang nantinya juga bisa menjadi tengara atau landmark di Kota Salatiga, sehingga fungsi
Taman Tingkir sebagai public space dapat terpenuhi. Peneliti membatasi masalah
masalahnya terkait pembuatan desain virtual 3D fasilitas Taman Tingkir Kota Salatiga,
memuat produk desain berupa gambar dan video fasilitas Taman Tingkir Kota Salatiga,
Implementasi desain ulang Taman Tingkir sesuai kebijakan Pemkot Salatiga. Penelitian
ini diharapkan bisa menjadi masukan untuk Pemerintah kota Salatiga dalam
pengembangan taman Tingkir kedepannya.

4
BAB II
KAJIAN TEORI

1. KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN :


Dalam penelitian terkait (table 1), Irfan Adi Permana dan Indung Sitti Fatimah
(2017) melakukan penelitian berjudul “Redesign Taman Kota Kabupaten Bogor dengan
Pendekatan Urban Landscape Design”. Penelitian tersebut menghasilkan desain taman
kota dengan konsep Urban Landscape Design memanfaatkan sumberdaya yang ada pada
masa kini dan membentuknya menjadi sebuah karya yang dapat dicintai oleh banyak
orang, karena desain yang dihasilkan adalah berdasarkan kebutuhan sumberdaya
manusia itu sendiri. Yudhistira Adi Nugroho (2018), melakukan penelitian terkait
Taman Tingkir kota Salatiga dengan fokus penelitannya pada Keamanan dan
Kenyamanan Trotoar di Taman Tingkir Kota Salatiga. Dari segi fisik, trotoar pada Taman
Tingkir sudah dalam kategori aman dan nyaman, akan tetapi PKL membuat trotoar pada
Taman Tingkir menjadi kurang aman dan nyaman.

Tabel 1. Perbandingan Penelitan terdahulu dengan Penelitian Sekarang


No Peneliti Judul Variabel Hasil
1 IrfanAdi Redesign Taman Variabel : Urban Landscape Design
Permana, Kota Kabupaten a. Taman Kota memanfaatkan
Indung Sitti Bogor dengan b. Urban sumberdaya yang ada
Fatimah Pendekatan Landscape pada masa kini dan
2017 Urban Landscape Design membentuknya menjadi
Design sebuah karya yang dapat
dicintai oleh banyak
orang karena desain
yang dihasilkan adalah
berdasarkan kebutuhan
sumberdaya manusia itu
sendiri.

2 Yudhistira Keamanan dan Variabel : Dari segi fisik, trotoar


Adi Kenyamanan a. Keamanan pada Taman Tingkir
Nugroho Trotoar di Taman Trotoar sudah dalam kategori
2018 Tingkir Kota b. Kenyamanan aman dan nyaman, akan
Salatiga Trotoar tetapi PKL membuat
trotoar pada Taman
Tingkir menjadi kurang
aman dan nyaman.

5
2. Urban Landscape Design, Public Space, landmark.
Penelitian ini mengembangkan desain Taman Tingkir Kota Salatiga mengguna
konsep Urban Landscape Design. Kata Urban berasal dari bahasa latin ‘Urbs’ yang artinya
orang bebas dan beradab, tempat yang bermasyarakat, berbudaya, dan berpemerintah
(Permana& Fatimah, 2017). Kata urban juga dikaitkan dengan gedung‐gedung
perkotaan yang menjulang tinggi, sehingga secara keseluruhan akan terlihat susunan
garis‐garis perspektif menghubungkan titik‐titik obyek satu titik obyek lainnya.
Lansekap merupakan suatu sistem dalam kawasan yang menyeluruh yang di
dalamnya terdapat hubungan antara komponen biotik dan abiotik, termasuk komponen
pengaruh manusia. Urban Landscape Design secara garis besar yaitu memanfaatkan
sumberdaya dan tata guna lahan sekitar yang ada, dan membentuknya atau
ditrasnformasikan menjadi sebuah karya, taman atau bangunan yang dapat menunjang
aktivitas kehidupan sehari‐hari manusia dalam kehidupan sehari hari dan disukai
banyak orang. Bentuk desain taman yang dihasilkan dapat menghadirkan suatu wilayah
terpadu dengan pola pengembangan kota. Seiring waktu manusia perubahan maka
Urban Design tidak pernah sama ssetiap masanya karena juga mengikuti perubahan
(Syahputra & Arsitektur, 2018)(Ghassani & Arsitektur, 2019).
Taman Tingkir merupakan bagian dari Ruang Tebuka Hijau (RTH) Kota Salatiga.
Pengertian ruang menurut Permendagri No.1, 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka
Hijau Kawasan Perkotaan, adalah wadah meliputi darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagaisatu kesatuan wilayah, tempat manusia dan
makhluk hidup lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan
hidupnya. RTH dalam konsep taman kota memiliki peran menyelaraskan pola
kehidupan masyarakat perkotaan (Kustianingrum et al., 2013). Taman kota sebagai RTH
merupakan kawasan yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, menjadi tempat
tumbuhnya tanaman secara alamiah maupun sengaja ditanam oleh pemertintah kota,
dan digunakan memfasilitasi kepentingan masyarakat umum.
Taman Tingkir merupakan taman kota yang menjadi Public Space dan Landmark
Kota Salatiga. Public Space atau Ruang Publik merupakan ruang terbuka dengan akses
yang gratis untuk masyarakat umum, yang digunakan untuk melakukan interaksi social.
Fasilitas kota yang mampu menarik banyak pengunjung untuk melakukan berbagai
kegiatan individual maupun kelompok, baik bersifat informal maupun formal, bisa

6
untuk rekreasi serta mudah diakses oleh semua kalangan. Ruang publik yang
berkualitas tinggi memiliki kriteria punya sistem akses dan pergerakan yang jelas dan
mudah. Diantaranya adalah dengan menciptakan jalur akses yang jelas untuk
menghubungkan satu sama lain dengan integrasi moda transportasi, serta penggunaan
lahan dan keberadaan landmark sebagai orientasi (Nasution & Zahrah, 2017). Titik
Orientasi Visual (Landmark) adalah hal yang menonjol, penunjuk kejadian peristiwa
penting dan sesuatu yang mudah dilihat atau dikenal yang digunakan untuk
pembentukan citra pada lingkup kota dalam lansekap tertentu. Keistimewaan dan
keunikan citra tersebut akan menjadi pembeda dengan suatu hal lainnya sehingga
memancing perhatian masyarakat luas . (Radnawati et al., 2018) (Susilohadi et al, 2014)

3. PERANCANGAN TAMAN 3D VIRTUAL DESIGN DENGAN KOMPUTER GRAFIS


Rancangan Desain akan dibuat secara virtual 3D, realitas maya desain Taman
Tingkir akan disajikan dengan menggunakan teknologi komputer grafis. Perangkat
lunak SketchUp digunakan dalam rancang bangun tiga dimensi (3D). Software ini
merupakan sebuah program grafis yang diproduksi oleh google. Program ini
memberikan hasil utama yang berupa gambar sketsa grafik 3 dimensi. Dalam pra‐
desain, parangkat ini lebih mudah digunakan untuk membuat objek 3 dimensi dengan
perbandingan pajang, lebar maupun tinggi dengan ukuran skalatif. Pengeditanya lebih
mudah dibanding bila menggunakan perangkat lunak grafis lain serta dapat
menghasilkan gambar yang cukup baik untuk keperluan presentasi, dan mampu
membuat visualisasi gambar 3D.
Perangkat lunak Adobe Premiere Pro adalah bagian dari Adobe System merupakan
program yang digunakan untuk menyunting video. Fasilitas software ini banyak dalam
memberikan efek editing dan plug‐in yang bekerja secara cepat. Kompatibel dengan
banyak format file audio maupun video. Software ini juga digunakan untuk melakukan
rendering project video. Perangkat lunak ini dalam penelitian digunakan untuk
menyunting (memotong atau menggabungkan) hasil Export file yang berupa video dari
aplikasi SketchUp.
Perangkat lunak Adobe Photoshop merupakan software yang digunakan untuk
pengolahan citra, mengedit dan memanipulasi image gambar atau foto. Fasilitas yang
disediakan sangat lengkap, yaitu berbagai macam tools untuk mengedit foto, fasilitas
filter untuk memberikan berbagai efek pada image gambar atau foto, serta fasilitas

7
untuk memanipulasi warna, dan lain‐lain. Adobe Photoshop memberikan kemudahan
dalam penyempurnaan sebuah gambar atau foto. Pada penelitian ini, Adobe Photoshop
digunakan untuk menyunting gambar hasil dari renderV‐Ray. Penyuntingan yang
dilakukan antara lain mengubah background dan mengatur tone warna.
Penerapan Teknologi Komputer Grafis dalam perancangan Virtual 3D taman
tingkir dapat digambarkan dalam bagan berikut (Gambar 2).

Gambar 2. Bagan Aplikasi Teknologi Komputer Grafis Perancangan Taman

8
BAB II
METODE RISET PENGEMBANGAN DESAIN

1. KERANGKA PIKIR RISET


Dari permasalahan yang dirumuskan, maka dilakukan tahap perencanaan desain
Taman Tingkir sebagaimana tergambar dalam kerangka piker penelitian dibawah
(gambar 3). Pada tahap ini, dilakukan Studi Literatur tentang teori dan penelitian terkait
perancangan taman maupun pemanfaatan teknologi dalam proses desain. Dilakukan
juga studi pendahuluan dengan Observasi langsung pada objek penelitian, lalu Interview
ke beberapa pihak, contohnya adalah warga sekitar dan Pemkot Salatiga selaku
pengelola Taman Tingkir. Instrumen penelitian berupa kuesioner dibagikan kepada
para pengunjung Taman Tingkir.

Gambar 3. Kerangka Pikir Penelitian

Tahap selanjutnya adalah tahap Perancangan. Dokumen Konsep Desain dari


tahap sebelumnya menjadi acuan dalam pendesainan ulang Taman Tingkir. Ide dan
gagasan desain masukan dari pengelola taman tingkir dalam hal ini Pemkot Salatiga juga
menjadi pertimbangan pengembangan Desain Taman. Proses perancangan desain

9
berbantu teknologi komputer grafis dilakukan untuk menghasilkan produk desain.
Tahap selanjutnya adalah uji kelayakan produk desain. Pengujian dilakukan oleh
pengelola dan membagikan kuesioner ke pengunjung Taman Tingkir. Jika produk desain
dinilai tidak layak, maka akan dilakukan perancangan kembali. Dan jika produk dinilai
layak, maka produk bisa disajikan.

2. METODA PENGEMBANGAN DESAIN


Metode pengembangan produk Virtual 3D Desain Taman Kota menggunakan 5
langkah ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementand Evaluation) (Gambar 4),
meliputi :

Gambar 4. Metode Pengembangan Produk Desain ADDIE

a) Fase Analisis (Analyze) :


Fase Analisis adalah dasar untuk semua fase Pengembangan Desain Taman Kota.
Selama fase ini, peneliti mendefinisikan masalah, mengidentifikasi sumber masalah, dan
menentukan solusi yang mungkin. Fase tersebut dapat mencakup teknik penelitian
khusus seperti analisis kebutuhan, analisis tujuan, dan analisis komparasi taman kota
lainnya. Keluaran dari fase ini adalah Naskah Akademik Study Pendahuluan Taman
Tingkir Kota Salatiga. Keluaran ini akan menjadi masukan untuk tahap Desain.

b) Tahap Desain (Design) :


Tahap Desain melibatkan penggunaan keluaran dari tahap Analisis untuk
merencanakan strategi dalam mengembangkan Desain Taman. Selama fase ini, peneliti

10
menguraikan bagaimana mencapai tujuan perancangan Taman Kota Tingkir yang
ditentukan selama fase Analisis dan memperluas landasan konseptual/teoritiknya untuk
implementasi konsep desain taman kota. Beberapa elemen dari Tahap Desain termasuk
membuat sketsa denah taman dan zonasinya, referensi gaya visual desain, identifikasi
komponen‐komponen taman kota secara virtual 3D. Keluaran fase ini adalan Naskah
kreatif Konsep Desain Taman Kota (Creative Brief) termasuk sketsa2 desain. Output dari
tahap Design akan menjadi masukan untuk tahap Development.

c) Fase Pengembangan (Develop) :


Tujuan dari tahap ini adalah untuk menghasilkan prototype virtual 3D Desain
Taman Tingkir. Selama tahap ini peneliti membangun dan mengembangkan rancang
bangun 3D komponen dengan bantuan perangkat lunak sketchup. Output sketcup dan
rendering Vray bisa berupa file Gambar yang akan diolah dengan software photoshop.
Rendering animasi 3D dari sketcup yang berupa video akan diolah menggunakan Adobe
Premiere untuk bisa disajikan dalam beragam media presentasi, publikasi dan
dokumentasi. Ini akan melibatkan perangkat keras komputer grafis dan perangkat lunak
pendukung lainnya.
Spesifikasi produk yang akan dikembangkan dalam penelitian ini yaitu :
a. Produk desain disajikan dalam bentuk gambar dengan format .jpg dengan dimensi
1280 pixels x 720 pixels. Gambar tersebut berisi hasil dari render beberapa area
dalam Taman Tingkir yang sudah didesain ulang. Nantinya gambar tersebut
digunakan untuk keperluan presentasi.
b. Selain gambar, produk desain juga disajikan dalam bentuk video dengan format .mp4
yang mempunyai resolusi 720p ( 1280 x 720 ) dan frame rate 24fps dengan durasi
kurang lebih 5 menit. Video ini nantinya dapat diputar melalui smartphone, televisi
atau personal computer. Pembuatan produk desain berupa video ditujukan agar
desain ulang Taman Tingkir dapat terlihat dengan jelas dari berbagai sudut.

d) Tahap Implementasi (Implement) :


Fase implementasi mengacu pada penyajian Desain Taman Tingkir kota Salatiga kepada
stakeholder terkait, baik untuk kepentingan informasi, presentasi maupun publikasi
Desain. Fase ini harus mempromosikan rancangan Desain Taman Tingkir, mendukung
informasi, referensi data dan analysa pengembangan Taman Tingkir bagi pengelola/

11
pemkot salatiga. Juga menjadi wahana informasi serta edukasi bagi pengguna Taman
tingkir. Prototype Desain Taman Tingkir akan dilakukan pengujian kelayakan desain
taman kota, dilakukan oleh pengelola dan membagikan kuesioner ke pengunjung Taman
Tingkir. Hal ini akan menjadi bahan penyempurnaan Desain sebelum
diimplementasikan sebagai produk final desain.

e) Tahap Evaluasi (Evaluate) :


Tahap ini mengukur keefektifan dan efisiensi penggunaan rancang bangun
virtual 3D desain Taman Tingkir. Evaluasi harus benar‐benar terjadi di seluruh proses
desain taman kota, dalam setiap tahap desain, antara tahapan desain, dan setelah
implementasi desain. Uji coba produk perlu dilakukan agar produk yang dihasilkan
benar‐benar [Link] coba produk juga merupakan salah satu langkah yang harus
dikerjakan oleh peneliti dalam mengambil penelitian model [Link] uji
coba produk, ada lima hal yang harus diperhatikan, yaitu : desain uji coba, subjek uji
coba, jenis data, instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Penelitian ini merupakan kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan
secara individu. Kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan observasi lapangan,
membuat redesain Taman Tingkir dan menguji kelayakan produk desain dengan cara
validasi oleh beberapa pakar. Pelaksanaan uji kelayakan dilakukan dengan cara
menyerahkan produk pengembangan beserta sejumlah angket penilaian kepada
validator untuk menilai layak atau tidaknya produk pengembangan serta memberikan
kritik dan saran perbaikan. Alur uji coba desain dapat digambarkan sebagaimana
berikut (gambar 5) ;

Gambar 5. Bagan Alur Uji Coba Desain


Penguji Internal : pengujian yang dilakukan oleh pakar yang berhubungan dengan
materi desain.

12
Penguji Eksternal : pengujian yang dilakukan oleh pihak User / Pengguna
Setelah produk redesain Taman Tingkir selesai divalidasi dan direvisi sesuai masukan
dari para penguji, tahap selanjutnya adalah uji coba lapangan, dalam hal ini adalah
pengunjung Taman Tingkir sebanyak 30 orang.
Data diperoleh dengan berbagai cara, seperti wawancara, penyebaran angket
atau kuesioner, observasi dan uji lapangan . Data‐data tersebut masuk dalam data
kualitatif dan data kuantitatif. Wawancara dilakukan kepada Dinas Lingkungan Hidup
bagian Pertamanan Kota Salatiga sebagai pengelola Taman Tingkir yang bertujuan
untuk memperoleh informasi tentang Taman Tingkir. Angket atau kuesioner diberikan
kepada validator untuk menilai produk pengembangan. Observasi dilakukan sebagai
proses dalam memperoleh informasi‐informasi yang diperlukan untuk melanjutkan
penelitian.
Intrumen berfungsi untuk pengambilan data. Data yang dihasilkan akan akurat
jika instrumen yang digunakan oleh peneliti valid. Instrumen yang akan digunakan
dalam pendesainan ulang Taman Tingkir adalah sebagai berikut :
- Wawancara, adalah metode pengumpulan data yang langsung kepada sumber data
melalui informasi lisan. Wawancara dilaksanakan antara peneliti dengan Kepala
Bagian Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup Kota [Link] wawancara ini
dapat diketahui informasi‐informasi mengenai Taman Tingkir.
- Kuisioner, digunakan untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat yang dapat
mendukung teori, informasi kebutuhan untuk pengembangan produk, serta
penilaian terhadap produk yang dibuat. Dalam kuisioner, responden yaitu meliputi
30 responden.
- Observasi, dilakukan pada saat jam operasional Taman Tingkir, observasi dilakukan
dengan tujuan untuk mengetahui apa saja kegiatan pera pengunjung, pemanfaatan
fasilitas taman dan kondisi di sekitar Taman Tingkir.
- Studi pustaka, adalah suatu cara untuk mendapatkan keterangan mengenai situasi
dengan cara mencari data melalui dokumentasi, buku‐buku referensi maupun
informasi digital dari internet. Sehingga diharapkan dapat mendukung dan
memudahkan dalam melakukan penelitian.
Validasi ahli dilakukan dengan responden dari para ahli dan user. Validasi
dilakukan untuk menguji kevalidan produk yang telah dibuat, sehingga diperoleh
masukan untuk perbaikan produk. Kriteria pengujiannya adalah (Tabel 2) :

13
Tabel 2. Kriteria Pengujian
Kriteria Penilaian Indikator
Urban Landscape Design Bentuk bangunan sudah sesuai
Pewarnaan bangunan sudah sesuai
Pemanfaatan ruang
Public Space Kelengkapan fasilitas
Kegunaan fasilitas
Tata letak fasilitas
Akses dan pergerakan di lingkungan taman
Dapat diakses semua kalangan
Taman Kota Mengakomodasi kebutuhan rekreasi
Sebagai penghias kota
Fungsi sosial bagi warga kota

Teknik analisis data yang diterapkan dalam pendesainan ulang ini adalah dengan
cara mengumpulkan data melalui instrument yang ada pada poin instrument
pengumpulan data, kemudian dikerjakan sesuai dengan prosedur penelitian dan
pengembangan. Adapun data yang diterapkan dalan penelitian dan pengembangan
redesain Taman Tingkir ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kauntitatif adalah
data yang dihasilkan dari kuesioner atau angket. Sedangkan data kualitatif diperoleh
dari hasil wawancara dengan pihak dari Dinas Lingkungan Hidup. Data yang diperoleh
melalui kuisioner terhadap pengunjung taman dan angket validasi akan diuraikan
secara naratif. Sedangkan kriteria untuk menentukan tingkat kevalidan produk tertera
pada tabel 3.
Tabel 3. Persentase Kelayakan
Persentase (%) Kriteria Validasi
76‐100 Valid ( Tidak perlu revisi)
56‐75 Cukup Valid (tidak perlu revisi)
40‐55 Kurang Valid (Revisi)
0‐39 Tidak Valid (Revisi)

Rumus yang digunakan adalah :


Σ
Persentase x 100%
Σ

Keterangan :
∑X : Jumlah nilai jawaban responden
∑Xi : Jumlah nilai ideal.

14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENGEMBANGAN DESAIN TAMAN KOTA

1. HASIL STUDI LAPANGAN


Tahapan studi lapangan (field study) digunakan untuk memperoleh data dari
objek penelitian, yaitu Taman Tingkir. Yang diamati dalam observasi ini adalah aktifitas
pengunjung, fungsi fasilitas yang ada, kondisi fasilitas dan kondisi di dalam dan luar
Taman Tingkir. Dari hasil pengamatan tentang aktifitas pengunjung dapat terlihat
bahwa pengunjung Taman Tingkir menikmati beberapa fasilitas yang ada seperti
playground, gazebo, pendopo dan bangku taman.

Gambar 6. Kondisi saat ini kolam air mancur


Berdasarkan hasil pengamatan, ada beberapa fasilitas yang terlihat mangkrak,
antara lain kolam ikan, alat fitness dan sangkar burung. Kolam ikan dan air mancur
(gambar 6) pada Taman Tingkir dibangun dengan cukup besar, lokasinya di dalam
taman tingkir adalah bagian depan. Kolam ini hanya berisi air dibagian pinggir.
Sedangkan di tengah hanya ada rerumputan dan bangunan air mancur yang tidak
menyala terletak di tepat tengah kolam tersebut. Fasilitas selanjutnya yang terbengkalai
adalah sangkar burung (gambar 7). Pada awal pembuatan sangkar ini berbagai macam
burung, tetapi sekarang hanya tersisa sangkarnya saja, padahal sangkar burung ini
berukuran cukup besar.
Selayaknya taman kota, Taman Tingkir juga mempunyai fasilitas yang sering kita
jumpai di taman taman kota lainnya, yaitu playground (gambar 8). Playground adalah

15
tempat yang dirancang khusus untuk memungkinkan anak‐anak bermain di sana.
Playground biasanya terletak di luar ruangan atau outdoor.

Gambar 7. Sangkar burung

Gambar 8. Jungkat‐jungkit di arena bermain anak.

Pada Taman Tingkir, playground merupakan fasilitas yang ramai dikunjungi oleh
anak‐anak. Fasilitas bermain diantaranya Jungkat jungkit (gambar 8), tonggak
keseimbangan (gambar 9), ayunan (gambar 10) dan alat permainan anak lainnya. Tetapi
kondisi tempat bermain di taman ini kurang membuat anak‐anak nyaman dalam

16
bermain, pasalnya alas tempat bermain yang berupa pasir dan kerikil. Bahan tersebut
dapat tertiup angin dan becek pada saat [Link]‐titik titik tertentu juga terlihat
genangan air yang terlihat. Area bermain di Taman Tingkir tersedia dalam dua titik,
yaitu di bagian depan taman sebelah timur dan barat.

Gambar 9. Tonggak Keseimbangan di arena bermain anak

Gambar 10. Genangan air pada arena bermain anak

Fasilitas selanjutnya adalah pendopo dan gazebo. Fasilitas ini biasa digunakan
pengunjung untuk berkumpul atau sekedar beristirahat sembari melihat pemandangan

17
di area taman. Pendopo (gambar 11) juga sering digunakan sebagai sarana social untuk
pertemuan keluarga maupun komunitas sosial.

Gambar 11. Pendopo Taman Tingkir

Pada tengah tengah taman tingkir terdapat sebuah bangunan yang cukup besar
dengan bentuk dasar lingkaran (gambar 12). Bangunan ini seolah olah menjadi pusat
kegiatan di Taman Tingkir. Bangunan ini berisi beberapa bangku dan alat‐alat fitness
(gambar 13) sebagai sarana olah raga. Ruang terbuka ditengah bangunan digunakan
sebagai tempat aktifitas fisik, diluar ruang misalnya senam, latihan beladiri maupun seni
pertunjukan.

Gambar 12. Outdoor Lounge

18
Gambar 13. Alat Fitness

Fasilitas yang selalu kita jumpai pada setiap taman adalah bangku taman. Fasilitas
ini berfungsi sebagai tempat untuk duduk‐duduk sejenak untuk beristirahat sembari
menikmati pemandangan dalam taman. Pada Taman Tingkir, banyak tersedia bangku
taman. Bangku taman (gambar 14) disini terdiri dari bahan besi, beton dan kaca.
Berbentuk setengah tabung yang dibuat dari tong besi yang dipotong secara vertikal lalu
diisi beton sebagai alas duduk. Lalu kaca sendiri adalah botol kaca, botol kaca ini
berfungsi sebagai ornamen dalam kursi. Kursi ini ditopang dengan beton. Pembuatan
kursi ini adalah bentuk dari bagian dari recycle barang‐barang bekas.

Gambar 14. Bangku Taman

19
Untuk tempat sampah (gambar 15), sebenarnya sudah banyak tersedia pada taman
ini. Tempat sampah sudah dibuat dengan tiga bagian yang memisahkan berbagai jenis
sampah. Tetapi beberapa tempat sampah tidak terisi dengan tong sampah, sehinga
pengunjung harus mencari ke tempat yang lain. Dan tempat sampahpun hanya berisi
satu tong sampah, dimana seharusnya berisi tiga tong sampah.

Gambar 15. Tempat Sampah

Beralih kebagian luar taman, taman ini dikelilingi oleh trotoar yang bisa berfungsi
sebagai tempat pejalan kaki dan jogging track. Sebenarnya, trotoar di Taman Tigkir
sudah masuk kedalam kategori aman dan nyaman, kerena sudah sesuai dengan
peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah (Nugroho, 2018). Pedagang yang
menjajakan dagangan atau jasanya di area trotoar membuat area trotoar menjadi lebih
sempit sehingga trotoar (gambar 16 dan 17). pada Taman Tingkir menjadi tidak aman
dan nyaman. Pejalan kaki juga harus berhati‐hati saat berjalan di trotoar taman ini,
dikarenakan persewaan mainan mobil yang berjalan di atas trotoar, bahkan sampai
kedalam taman (gambar 18).
Pengunjung yang membawa kendaraan pribadi berupa motor akan memakirkan
kendaraannya pada bahu jalan Taman Tingkir. Dikarenakan pada bahu jalan juga
terdapat gerobak pedagang, maka terlihat tidak rapi pada parkir motor ini. Lalu pada
parkir mobil (gambar 19), separuh lahan digunakan untuk wahana bermain anak.

20
Gambar 16. PKL Taman Tingkir

Gambar 17. Persewaan Mainan Anak

Gambar 18. Mainan Mobil Memasuki Area Taman


21
Pada saat akhir pekan, pengunjung Taman Tingkir begitu banyak, hal itu membuat
parkir mobil terlihat penuh. Jika lahan parkir mobil sudah tidak ada, maka pengunjung
yang datang menggunakan mobil akan mencari lokasi parkir di bahu jalan, atau bahkan
tidak jadi berkunjung ke Taman Tingkir. Hal tersebut sangat disayangkan apabila
pengunjung batal mengunjungi Taman Tingkir.

Gambar 19. Lahan Parkir Mobil

Wawancara dilakukan oleh penulis kepada pengelola Taman Tingkir. Taman


Tingkir dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Salatiga bagian Pertamanan dan JPU.
Kepala bidang Pertamanan dan JPU adalah Bapak Junirispinuddin, S.T.,M.T. Beliau
bertugas sebagai kepala bidang Pertamanan dan JPU sejak Januari 2020. Dalam
wawancara tidak terstruktur ini, penulis menanyakan kolam yang ada pada bagian
depan Taman Tingkir. Dan beliau menjelaskan bahwa kolam tersebut adalah kolam
retensi, kolam itu berfungsi sebagai penadah air hujan agar air tersebut tidak mengalir
ke arah luar taman. Sebetulnya ada alternatif lain selain membangun kolam retensi,
yaitu dengan cara membuat sumur resapan.
Pengunjung yang membawa kendaraan pribadi berupa motor akan memakirkan
kendaraannya pada bahu jalan Taman Tingkir. Dikarenakan pada bahu jalan juga
terdapat gerobak pedagang, maka terlihat tidak rapi pada parkir motor [Link] pada
parkir mobil, separuh lahan digunakan untuk wahana bermain anak.

22
Gambar 20. Parkir Motor

2. PERBANDINGAN FASILITAS TAMAN KOTA


Analisa tersebut digunakan untuk mengetahui apa saja fasilitas‐fasilitas dalam
taman kota tersebut. Dari tabel 4.1 dapat kita ketahui bahwa fasilitas yang ada atau
banyak tersedia di taman kota antara lain Area Kesehatan, Playground, Bangku Taman,
Pendopo, Musholla, Air Mancur dan Keran Air. Lalu ada fasilitas pada suatu taman yang
jarang dibuat dalam pembuatan taman kota, beberapa fasilitas tersebut adalah,
Bianglala, Open Thatre, Green House, Outbond, Sentra Kuliner, Taman Bunga, Arena
Skate Board dan Galeri Foto. Fasilitas‐fasilitas yang jarang muncul diatas dapat
digunakan menjadi pembeda dalam desain suatu taman. Sehingga taman itu mempunyai
ciri khas sendiri di [Link] adalah hasil tentang fasilitas taman dari berbagai
kota (Tabel 4.).
Tabel 4.1 Analisa Perbandingan Fasilitas Taman Kota
Fasilitas I II III IV V VI
Area Kesehatan V V
Area Outbond V
Green House V
Kandang Rusa V
Sangkar Burung V V
Kolam Ikan V V
Air Mancur V V V
Playground V V V V V V

23
Sentra Kuliner V
Ruang Baca V V
Pendopo V V V
Mushola V V V
Keran Air V V V V V V
Bangku Taman V V V V V V
Wifi V V
Panggung Budaya V
Arena Skate Board V
Jalan Pijat Refleksi V
Pusat Informasi V V V V
Bianglala V
Spot Foto V
Taman Bunga V
Galeri Foto V

Keterangan :
I. Taman Tingkir
II. Taman Flora Surabaya
III. Taman Indoneisa Kaya
IV. Taman Bungkul Surabaya
V. Alun‐alun batu
VI. Taman Foto Bandung

3. ANGKET ATAU KUESIONER PRA DESAIN


Pada penelitian ini, kuesioner dibagikan dua kali pada pengunjung Taman
[Link] pertama dilakukan pada saat sebelum perancangan, sedangkan
kuesioner kedua dibagikan setelah produk desain jadi dan telah divalidasi oleh dosen
pakar dan [Link] dibagikan kepada 30 [Link] disini adalah para
pengujnung Taman Tingkir yang berusia lebih dari 17 tahun baik laki‐laki maupun
perempuan. Kuesioner pertama berisikan pernyataan‐pernyataan tentang kondisi
Taman Tingkir berdasarkan dari hasil observasi pada objek penelitian yang dilakukan
oleh peneliti.
Tabel 4.6 Kuesioner Pra Desain
No Pernyataan SS S TS STS
1 Fasilitas yang tersedia di Taman Tingkir sudah lengkap. 24 6
2 Semua fasilitas tidak berfungsi sebagaimana mestinya. 12 18
3 Ada titik‐titik tertentu di dalam Taman Tingkir yang 3 27
mengurangi keindahan taman.

24
4 Arena bermain anak yang kurang nyaman dan aman. 24 6
5 Kurang nyamannya area pejalan kaki 12 15 3
6 Pedangang di sekitar Taman Tingkir tidak tertata rapi. 9 18 3
7 Area parkir pengunjung Taman Tingkir tidak tertata rapi. 3 24 3
8 Pohon pohon yang berada di dalam taman sudah 6 21 3
membuat taman teduh dan sejuk.
9 Taman Tingkir sudah pantas digunakan untuk Ruang 30
Publik.
10 Perlu adanya ciri khas pada desain Taman Tingkir. 12 18

Dari hasil kuesioner diatas, dapat diuraikan sebagai mana berikut :


- Pernyataan fasilitas yang tersedia di Taman Tingkir sudah lengkap dari 30
responden menyatakan 80% Sangat Setuju dan 20% Setuju.
- Pernyataan semua fasilitas tidak berfungsi sebagaimana mestinya dari 30 responden
menyatakan 40% Sangat Setuju dan 60% Setuju.
- Pernyataan ada titik‐titik tertentu di dalam Taman Tingkir yang mengurangi
keindahan taman dari 30 responden menyatakan 10% Sangat Setuju dan 90%
Setuju.
- Pernyataan Arena bermain anak yang kurang nyaman dan aman dari 30 responden
menyatakan 80% Setuju dan 20% Tidak Setuju.
- Pernyataan kurang nyamannya pejalan kaki dari 30 responden menyatakan 40%
Sangat Setuju, 50% Setuju dan 10% Tidak Setuju.
- Pernyataan pedangang di sekitar Taman Tingkir tidak tertata dengan rapi dari 30
responden menyatakan 30% Sangat Setuju, 60% Setuju dan 10% Tidak Setuju.
- Pernyataan Area parkir pengunjung Taman Tingkir tidak tertata dengan rapi dari 30
responden menyatakan 10% Sangat Setuju, 80% Setuju dan 10% Tidak Setuju.
- Pernyataan pohon pohon yang berada di dalam taman sudah membuat taman teduh
dan sejuk dari 30 responden menyatakan 10% Sangat Setuju, 70% Setuju dan 20%
Tidak Setuju.
- Pernyataan Taman Tingkir sudah pantas digunakan untuk Ruang Publik dari 30
responden menyatakan 100% Sangat Setuju.
- Pernyataan perlu adanya ciri khas pada desain Taman Tingkir dari 30 responden
menyatakan 40% Sangat Setuju dan 60% Setuju.

25
4. HASIL PENGEMBANGAN DESAIN
Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan desain Taman
Tingkir dengan Konsep Urban Landscape Design sebagai Public Spacedan mengetahui
kelayakan dari produk desain yang dihasilkan. Produk yang dihasilkan dinyatakan layak
digunakan berdasarkan validasi oleh penguji dari pakar dan user.
Tahap ini diawali dengan mengumpulkan informasi yang berguna untuk penelitian
ini, dimulai dari observasi ke lapangan, melakukan wawancara terhadap pihak terkait,
menyebarkan kuesioner dan melakukan analisis perbandingan taman. Dari tahapan ini,
diperolehlah berbagai macam informasi yang berguna untuk penelitian ini seperti
berbagai masalah yang timbul pada Taman Tingkir. Selanjutnya adalah melakukan studi
pustaka guna mengumpulkan materi tentang Urban Design, Public Space, Taman Kota
dan literatur‐literatur pendukung lainnya.
Pada tahap kedua kegiatan yang dilakukan adalah mengkaji konsep‐konsep Urban
Landscape Design dan Public Space. Selain itu, melakukan identifikasi masalah yang ada
pada Taman Tingkir dan mencari solusi dari setiap masalah yang ada. Contoh masalah
adalah pada penataan Pedagang Kaki Lima di bagian luar Taman Tingkir. Solusinya
adalah menata supaya terlihat rapi dan tertata, karena PKL yang ada di Taman Tingkir
tidak mungkin dihilangkan sebab jika dihilangkan, akan menimbulkan masalah baru.
Setelah semua masalah dapat diketahui solusinya, langkah selanjutnya adalah
merancang konsep redesain Taman Tingkir dengan konsep Urban Landscape
Designsebagai Public Space.
Tahap pengembangan produk dilakukan dalam redesain Taman Tingkir mengacu
pada denah taman (gambar 21). Pembuatan desain dilakukan dengan menggunakan
software SketchUp 2017. Dibuat berdasarkan konsep Urban Landscape Design dan Public
Space seperti yang telah dirancang pada tahapan sebelumnya. Tahapan pertama dalam
proses desain adalah dengan membuat bangunan‐bangunan dengan konsep Urban
Design. Disini, bangunan yang dibuat adalah toilet, ruang informasi, bangku taman, rak
sepeda, mushola dll. Bangunan tersebut tidak dibuat pada 1 file sehingga setiap
bangunan mempunyai file sendiri. Setelah semua bangunan jadi, langkah selanjutya
adalah membuat 1 file yang nantinya berisi gabungan dari semua file bangunan. Desain
bangunan tidak dibuat pada 1 file agar pada saat desain pada gambar inti terhapus, kita
masih mempunyai file back‐up. Setelah desain dan bangunan sudah tertata dalam satu
rancangan bentuk menyeluruh, tahap selanjutnya adalah menentukan beberapa sudut‐

26
sudut pengambilan gambar untuk proses rendering. Proses ini bertujuan untuk
membuat hasil export gambar yang hampir meneyerupai aslinya.

Gambar 21. Denah Taman Tingkir


Untuk gambar sendiri, ukuran gambar yang dibuat adalah 1280 pixels x 720
pixels. Ukuran tersebut dipilih karena ukuran gambar tersebut sudah dianggap cukup
untuk ditampilkan pada presentasi. Selain gambar, hasil redesain dari Taman Tingkir
juga bisa dilihat dalam bentuk video. Pembuatan video ini bertujuan agar hasil redesain

27
dapat terlihat dengan jelas dari beberapa sudut. Video dibuat dengan resolusi 720p
(1280 x 720) dan frame rate 24fps dengan durasi sekitar 7 menit. Dengan resolusi
seperti yang telah disebutkan sebelumya, video tersebut sudah bisa diputar dengan baik
melalui smartphone, komputer jinjing maupun komputer personal dan layar televisi.
Konsep redesain pada penelitian ini adalah Urban Landscape Design. Konsep
urban sendiri mempunyai garis besar yaitu memanfaatkan sumber daya dan tata guna
lahan sekitar yang ada pada masa kini dan membentuknya menjadi sebuah karya atau
bangunan yang dapat menunjang aktifitas manusia dalam kehidupan sehari hari dan
nantinya akan dicintai banyak orang karena pada dasarnya bentukan desain yang telah
dihasilkan dapat meghadirkan suatu wilayah yang terpadu dengan pola perkembangan
kota. Selain itu, kata urban sendiri sering dikaitkan dengan gedung‐gedung perkotaan
yang menjulang tinggi. Oleh karena itu, beberapa bangunan dibuat dengan bentuk
menjulang atau tinggi.
Hal pertama yang dibahas pada taman ini adalah landmark, yang bertujuan
sebagai penanda atau ciri khas dari suatu wilayah. Taman Tingkir berlokasi di
Kecamatan Tingkir Kota [Link] melakukan observasi dari beberapa literatur,
Kecamatan Tingkir adalah cikal bakal lahirnya kesenian Drumblek, tepatnya berada di
kamoung Pancuran, Kelurahan Kutowingangun. Drumblek adalah sebuah kesenian yang
hampir mirip dengan Marching Band,akan tetapi alat‐alat yang digunakan kebanyakan
berasal dari barang bekas seperti tong besi atau blek, drum plastik dan bambu. Jenis
kesenian ini dicetuskan oleh Didik Subiantoro Masturi pada tahun [Link] awal mula
kemunculannya, kesenian ini hanya memakai pakaian sederhana dan juga sandal
theklek. Ciri khas itulah yang membuat warga Kampung Pancuran meraih penghargaan
dari MURI ( Museum Rekor Dunia Indonesia ) untuk kategori pawai dengan
menggunakan theklek dengan peserta terbanyak. Kampung Pancuran kemudian dikenal
juga sebagai barisan theklek sebagai ciri khasnya (Rohman, 2019).
Landmark pada Taman Tingkir dibuat dengan bentuk patung pemain drumblek
(gambar 22). Patung ini diletakkan pada bagian depan Taman Tingkir, atau pada jalan
masuk utama. Patung dibuat seperti monumen, yaitu patung ditopang dengan pilar,
sehingga patung terlihat tinggi. Hal tersebut akan membuat patung tersebut menjadi
menonjol dan mudah dilihat sehingga akan mendapat perhatian dari pengunjung.

28
Gambar 22. Landmark Taman Tingkir

Pada sekitar landmark, akan terlihat bentuk bangunan yang menjulang dari rendah
ke tinggi, hal ini merupakan gambaran dari gedung gedung perkotaan dari konsep Urban
Design. Pada bagian tengah bangunan ini, akan ada air mengalir yang bertujuan mengisi
kolam air kecil dibawahnya. Suara gemericik air akan membuat suasana hati
pengunjung nyaman saat mengunjungi taman ini.
Berlanjut kejalan masuk taman (gambar 23), pengunjung akan disuguhkan jalan
lurus dengan lampu dan pot yang menggantung. Bentuk tersebut bertujuan agar
pengunjung mendapatkan spot selfie yang bagus dalam taman.

Gambar 23. Jalan Masuk dalam Taman

29
Pada sebelah jalan masuk terdapat bangunan Pusat Informasi (gambar 24)..
Bangunan ini berfungsi sebagai pusat informasi pada taman ini sekaligus menjadi
tempat untuk orang yeng mengelola taman ini. Diletakkan di dekat pintu utama agar
orang dengan mudah untuk mendatanginya. Bangunan ini mempunyai ukuran 7,5m x
7,5m.

Gambar 24. Pusat Informasi

Gambar 25. Gazebo

30
Di bagian belakang bangunan Pusat Informasi, terdapat gazebo yang berbentuk
lingkaran dengan diameter 13m. Kursi pada bangunan ini ditata melingkar dengan kursi
menghadap ke tengah‐tengah lingkaran. Fungsi dari gazebo ini bisa berbagai macam,
contohnya adalah sebagai tempat beristirahat sembari menikmati suasana taman dan
bisa juga untuk tempat berkumpul dalam skala kecil.
Berlalih ke bagian Timur Taman Tingkir, bagian ini terdapat tempat permainan
anak atau playground (gambar 26). Pada lokasi ini, alas yang digunakan adalah rumput
sintetis seluas 24m x 21m, sehingga nantinya rumput tidak akan mudah rusak karena
terinjak injak oleh pengunjung. Hal tersebut membuat minimnya masalah seperti
genangan air dan debu seperti yang terjadi pada saat ini.

Gambar 26. Playground

Pada sisi timur Taman Tingkir sebelah belakang, terdapat lapangan olahraga
basket dan juga tempat untuk [Link] basket masih pada lokasi semula pada
taman ini. Lapanganini berukuan keseluruhan 31,6m x 20m, dengan ukuran lapangan
standart FIBA (International Basket Federation) yaitu 26m x 14m. Pada samping
lapangan ini, ditambahkan tribun kecil untuk pengujung yang ingin melihat ke arah
[Link] tersebut diharapkan dapat membuat lapangan basket terpakai lebih baik.
Untuk tempat alat‐alat fitness sendiri, bangunannya berukuran 10m x 5m.

31
Gambar 27. Lapangan Basket dan Tribun Mini

Gambar 28. Alat‐alat Fitness

Beralih ke bagian tengah lapangan, peneliti menempatkan wahana labirin kecil


yang berdiameter 30m di tengah wahana (gambar 29). Labirin tersebut terdapat air
mancur [Link] ini berfungsi sebagai tempat bermain anak bersama
[Link] keamanan, wahana labirin ini hanya dibuat dengan tinggi 1 [Link]
saat sampai tengah wahana labirin, pengunjung bisa duduk‐duduk sembari menikmati
suara gemercik air pada air mancur ini.

32
Gambar 29. Wahana Labirin

Pada bagian belakang taman, akan terlihat bangunan yang cukup besar. Bangunan
ini merupakan bangunan panggung terbuka atau open theatre (gambar30). Bangunan ini
berbentuk setengah lingkaran dengan ukuran 38m x 20m. Open Thatre ini menjadi
pembeda dari taman‐taman kota lain di Kota Salatiga. Bangunan ini memiliki latar
belakang berupa bentuk bangunan yang menjulang dari tinggi ke [Link]
tersebut diadaptasi dari bentuk dari alat musik [Link] musik tersebut adalah salah
satu musik yang membentuk melodi pada kesenian [Link] panggung ini
dapat menjadi panggung kesenian untuk warga Tingkir maupun warga Salatiga dan
sekitarnya. Sehingga ada tujuan lain untuk mengunjungi taman ini.

Gambar 30. Panggung Terbuka

33
Gambar 31. Bangku Taman 1
Hal hal yang sering dijumpai pada taman antara lain seperti bangku taman dan
tong sampah. Ada 3 tipe bangku taman yang didesain : Tipe pertama (gambar 31) adalah
bangku besi yang ditopang pada pot di salah satu sisinya dengan ukuran 150 cm x 50
cm. Tipe bangku kedua (gambar 32) adalah bangku dengan bahan beton yang
mempunyai atap dengan ukuran keseluruhan 150 cm x 150 cm. Lalu tipe bangku ketiga
(gambar 33) adalah bangku dengan meja disebagain sisi, bangku ini memiliki atap alami
berupa pohon. Pohon yang digunakan adalah pohon Cersen atau dalam bahasa jawa
biasa disebut talok. Bangku ini memiliki dimensi 200 cm x 200 cm.

Gambar 32. Bangku Taman 2

34
Gambar 33. Bangku Taman 3

Beralih kepada bagian luar Taman Tingkir, desain yang sangat diperhatikan adalah
penataan Pedagang Kaki Lima. Para pedagang ditata pada bagian timur taman, sehingga
pedagang terpusat disebelah timur taman. Desain dibuat dengan menggunakan
pondokan pondokan, atau biasa disebut sebahai shelter PKL (gambar 34). Shelter disini
berjumlah sebanyak 24 pondok dengan ukuran masing masing pondok sebesar 2m x
2m. Pedagang yang difasilitasi dengan lapak jualannya akan memudahkan
pengorganisasian dan pembinaannya. Disamping itu mereka juga tidak akan
sembarangan tempat menjual produknya.
Selanjutnya pada bagian parkir mobil, dibuatkan food court (gambar 35) sebanyak
5 buah dengan masing‐masing berukuran 6m x 3m. Sehingga semua kegiatan
perdagangan dapat terpusat disebelah timur taman. Ini merupakan fasilitas wisata
kuliner, makanan khas kota salatiga dapat dijajakan disini. Maraknya olahraga speda
yang memiliki komunitas pesepeda, taman tingkir diharapkan juga menjadi tujuan
pemberhentian para pesepeda untuk beristirahat maupun menikmati sajian dagangan
makanan dan minuman. Tempat parkir sepeda (gambar 36) dipindah dari posisi semula
yang berada diparkiran mobil, menjadi di dekat trotoar Taman Tingkir beserta parkir
motor lainnya. Pada desain pagar, gaya desain diambil dengan bentuk tinggi rendah
seperti pada equalizer pada musik.

35
Gambar 34. Food Court pada Parkir Mobil

Gambar 35. Shelter PKL

Gambar 36. Rak Sepeda


36
Gambar 37. Pagar Taman
Fasilitas Umum yang sangat penting adalah Toilet (gambar 38.), pengunjung akan
lama berada di taman tingkir sehingga dibutuhkan fasilitas untuk kencing maupun cuci
tangan. Fasilitas ini membutuhkan perawatan kebersihan yang senantiasa terjaga juga
kenyamanan.

Gambar 38. Pagar Taman

Fasilitas peribadatan, ruang berdoa juga sediakan karena pengunjung muslim akan tetap
menjaga ibadahnya, sehingga membutuhkan mushola (gambar 39).

37
Gambar 39. Ruang berdoa atau mushola

Melengkapi fasilitas public untuk meningkatkan pengetahuan, disediakan perpustakaan kecil


(gambar 40). Ruang baca yang bias diisi buku‐buku terkait kota salatiga dan budaya tradisinya,
maupun pengetahuan‐pengetahuan umum lainnya.

Gambar 40. Perpustakaan Kecil

Tradisi masyarakat melakukan rekreasi secara berkelompok, maupun


menyelenggarakan pertemuan keluarga dan komunitas. Kegiatan ini difasilitasi Pendopo
besar (gambar 41) yang dapat menampung pengunjung antara 30‐50 orang. Pertemuan

38
social ini akan membutuhkan jumlah makanan dan minuman yang banyak. Sehingga
pemenuhan kebutuhannya bisa disediakan para pedagang di sekitarnya.

Gambar 41. Pendopo besar

Public space mempersyaratkan kemudahan akses, sehingga jalur transportasi umum


diarahkan melewati taman tingkir. Oleh karenanya dibutuhkan Halte (gambar 42)
sebagai tempat pemberhentian angkutan kota dan pengunjunjung menunggunya.

Gambar 42. Halte Angkutan Kota

39
5. UJI VALIDASI DESAIN
Setelah semua produk desain jadi, tahap selanjutnya adalah melakukan uji validasi
oleh penguji ahli, yaitu Dosen Desain Grafis Universitas STEKOM. Berikut merupakan
hasil dari Uji Validasi Penguji Pengguna.
Tabel 4.4 Hasil Uji Validasi Penguji Ahli
Nilai Pengamatan
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
1 Urban Landscape Design
a. Bentuk bangunan sudah sesuai √
b. Pewarnaan bangunan sudah sesuai √
c. Pemanfaatan ruang √
2 Public Space
a. Kelengkapan fasilitas √
b. Kegunaan fasilitas √
c. Tata letak fasilitas √
d. Akses dan pergerakan di lingkungan taman √
e. Dapat diakses semua kalangan √
3 Taman Kota
a. Mengakomodasi kebutuhan rekreasi √
b. Sebagai penghias kota √
c. Fungsi sosial bagi warga kota √
Jumlah Skor 40 5
Total Skor 45
Skor Ideal 55
Persentase Kelayakan 81,8%
Dari hasil uji validasi oleh Penguji Internal di atas, dapat diketahui total skor dari
uji validasi. Dari total skor tersebut, dapat ditemukan nilai persentase sebesar 81,8%.
Angka persentase tersebut sudah Valid ( tidak perlu revisi ) seperti apa yang tertera
pada tabel 3.2.
Dikarenakan hasil dari uji validasi pertama adalah valid, maka dilakukan pengujian
tahap kedua yang dilakukan oleh Penguji Pengguna, yaitu Pengelola Bidang Pertamanan
Dinas Lingkungan Hidup Kota Salatiga. Berikut merupakan hasil dari Uji Validasi Penguji
Internal.
Dari hasil uji validasi oleh Penguji Pengguna (table 5.) , dapat diketahui total skor
dari uji validasi. Dari total skor tersebut, dapat ditemukan nilai persentase sebesar
76,4%. Angka persentase tersebut sudah Valid ( tidak perlu revisi ) seperti apa yang
tertera pada tabel 3.2. Dalam angket ini, penguji eksternal emmberikan saran berupa
penambahan railing guard untuk difabel, halte dan kolam retensi / sumur resapan air.

40
Tabel 4.5 Hasil Uji Validasi Penguji Pengguna
Nilai Pengamatan
No Aspek yang diamati
1 2 3 4 5
1 Urban Landscape Design
d. Bentuk bangunan sudah sesuai √
e. Pewarnaan bangunan sudah sesuai √
f. Pemanfaatan ruang √
2 Public Space
f. Kelengkapan fasilitas √
g. Kegunaan fasilitas √
h. Tata letak fasilitas √
i. Akses dan pergerakan di lingkungan taman √
j. Dapat diakses semua kalangan √
3 Taman Kota
d. Mengakomodasi kebutuhan rekreasi √
e. Sebagai penghias kota √
f. Fungsi sosial bagi warga kota √
Jumlah Skor 6 36
Total Skor 42
Skor Ideal 55
Persentase Kelayakan 76,4%

Setelah produk selesai dirancang, peneliti juga menyebarkan kuesioner kedua atau
kuesioner setelah perancangan kepada para responden. Responden disini adalah
pengunjung Taman Tingkir yang berjumlah 30 orang. Penyebaran kuesioner ini
bertujuan untuk mengetahui apakah desain yang dibuat layak untuk para pengunjung
atau tidak. Kuesioner ini berisikan pernyatan terhadap hasil redesign yang telah dibuat
oleh penulis. Sebelum mengisi kuesioner, responden diperlihatkan produk desain yang
berupa gambar hasil render dari aplikasi SketchUp yang digabungkan menjadi satu
dalam sebuah booklet. Berikut merupakan hasil dari kuesioner kedua (table 4.) :
1) Pernyataan Landmark yang telah dibuat dapat menjadi ciri khas dari Taman Tingkir
dari 30 responden menyatakan 30% Sangat Setuju dan 70% Setuju.
2) Pernyataan Fasilitas yang telah dibuat sudah cukup untuk Taman Tingkirdari 30
responden menyatakan 26,7% Sangat Setuju dan 73,3% Setuju.
3) Pernyataan Fasilitas yang telah dibuat dapat menjangkau semua kalangandari 30
responden menyatakan 46,7% Sangat Setuju dan 53,3% Setuju.
4) Pernyataan Arena bermain anak atau playground yang lebih baikdari 30 responden
menyatakan 56,7% Setuju dan 43,3% Tidak Setuju.

41
5) Pernyataan Akses sirkulasi pedestrian ( pejalan kaki ) yang mencukupi33,3%
Sangat Setuju dan66,7% Setuju.
6) Pernyataan Pembuatan shelter PKL membuat pedagang lebih tertata dengan rapi
dari 30 responden menyatakan 33,3% Sangat Setuju, 53,3% Setuju dan 13,4%
Tidak Setuju.
7) Pernyataan Pembuatan shelter PKL membuat trotoar Taman Tingkir manjadi aman
dan nyamandari 30 responden menyatakan 40% Sangat Setuju dan60% Setuju.
8) Pernyataan Lokasi parkir yang terpusat membuat parkir lebih tertata dengan
rapidari 30 responden menyatakan 37,7% Sangat Setuju, 60% Setuju dan 33,3%
Tidak Setuju.
9) Pernyataan Halte memudahkan pengunjung yang menggunakan transportasi umum
dari 30 responden menyatakan 83,3% Sangat Setuju dan 16,7% Setuju.
10) Pernyataan Fasilitas yang telah dibuat menjadikan Taman Tingkir sebagai Public
Space yang lebih baikdari 30 responden menyatakan 90% Sangat Setuju dan 10%
Setuju.
Tabel 4.7 Hasil Kuesioner Pasca Desain
No Pernyataan SS S TS STS
1 Landmark yang telah dibuat dapat menjadi ciri khas 9 21
dari Taman Tingkir.
2 Fasilitas yang telah dibuat sudah cukup untuk Taman 8 22
Tingkir.
3 Fasilitas yang telah dibuat dapat menjangkau semua 14 16
kalangan.
4 Arena bermain anak atau playground yang lebih baik. 17 13
5 Akses sirkulasi pedestrian ( pejalan kaki ) yang 10 20
mencukupi.
6 Pembuatan shelter PKL membuat pedagang lebih 10 16 4
tertata dengan rapi.
7 Pembuatan shelter PKL membuat trotoar Taman 12 18
Tingkir manjadi aman dan nyaman.
8 Lokasi parkir yang terpusat membuat parkir lebih 11 18 1
tertata dengan rapi.
9 Halte memudahkan pengunjung yang menggunakan 25 5
transportasi umum.
10 Fasilitas yang telah dibuat menjadikan Taman 27 3
Tingkir sebagai Public Space yang lebih baik.

42
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian pengembangan redesain taman Tingkir mengguna‐


kan Teknologi Komputer grafis ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
Redesign Taman Tingkir dengan Konsep Urban Landscape Desain sebagai Public
Space dengan pemanfaatan teknologi komuter grafis mampu memberikan gambaran
nyata secara maya (virtual). Hasil pengembangan redesain Taman Tingkir masuk
kategori Valid dengan skor rata rata yang diberikan oleh Penguji ahli yaitu 81,8%. Dan
skor rata rata yang diberikan oleh Penguji Pengguna adalah 76,4%, skor tersebut masuk
dalam kategori valid. Sehingga hasil redesain Taman Tingkir dapat digunakan sebagai
pedoman atau acuan dalam pembuatan desain Taman Kota dengan Konsep Urban
Landscape Design. Respon pengunjung yang diambil dari keusioner yang disebarkan
setelah melihat produk desain yang telah divalidasi adalah pengunjung merasa puas
dengan hasil redesain Taman Tingkir. Hal itu ditunjukkan dengan lebih dari 90 % dalam
setiap pernyataan yang diajukan, responden memilih pada pilihan bagian Setuju dan
Sangat Setuju.
Pembahasan tentang redasain taman kota membutuhkan sudut pandang yang
menyeluruh, sehingga semakin banyaknya tema atau konsep dari berbagai kategori
yang berbeda. Pengungkapan fakta‐fakta lainnya yang berhubungan dengan desain
taman kota dapat dijadikan sebagai tambahan wawasan yang selama ini belum
terungkap. Redesign Taman Tingkir dengan Konsep Urban Landscape Desain sebagai
Public Space dengan pemanfaatan teknologi komuter grafis masih membahas hal‐hal
yang bersifat umum, perlu pendalaman yang lebih detail lagi mengenai penelitian ini.
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, dapat memicu munculnya penelitian
penelitian sejenis yang mengangkat sudut pandang berbeda tentang taman kota.
Tentunya bagi para pelaku yag terjun dalam dunia desain taman kota semakin memacu
untuk lebih banyak berkontribusi dan memberikan informasi tentang desain taman kota
melalui berbagai media yang beragam.

43
DAFTAR PUSTAKA

Anendawaty Roito Sagala, Adityas Prasetyo, Dwi Abdul Syakur, Nur Rahmah Amania,
Daisy Radnawati, Ray March Syahadat6, P. T. P. (2017). "Perencanaan Taman
Kota sebagai Salah Satu Atribut Kota Hijau di Kecamatan Gedenage,
Bandung".Jurnal Active, 5(3), 85–90.
Dewi, T. H. S., Nirawati, M. A., & Handayani, K. N. (2017). "Taman Bermain Dengan
Pendekatan Arsitektur Hijau Di Sukoharjo."Arsitektura, 13(1).
Firmantoro, K., Anton, A., & Nainggolan, E. R. (2016). "Animasi Interaktif Pengenalan
Hewan Untuk Pendidikan Anak Usia Dini."None, 13(2), 14–22.
Ghassani, R., & Arsitektur, J. (2019). "Pendekatan Konsep Urban Desain pada Rancangan
Apartemen Living City Pasteur di Kota Bandung."IV(3), 1–11.
Krisdianto, R. (2018). "Penerapan Media 3D Sketchup Pada Model Pembelajaran
Langsung Mata Pelajaran Menggambar Dengan Perangkat Lunak Di SMK Negeri 1
Bendo Magetan."Jurnal Kajian Pendidikan Teknik Bangunan, 2(2/JKPTB/18).
Kustianingrum, D., Sukarya, A. K., Nugraha, R. A., & Tyagarga, F. R. (2013). "Fungsi dan
Aktifitas Taman Ganesha Sebagai Ruang Publik di Kota Bandung."Jurnal Reka
Karsa, 1(2),1–14.
Maulana, H., & Zarassita, D. (2017). "Pembuatan Brand Mark dan Motion Graphic Logo
Pada Rebranding Project PT Astra Graphia Information Technology."Multinetics,
3(2), 18.
Nasution, A. D., & Zahrah, W. (2017). "Public Open Space’s Contribution to Quality of
Life: Does privatisation matters?"Asian Journal of Environment‐Behaviour
Studies, 2(5), 71.
Nugroho, Y. A. (2018). "Keamanan dan Kenyamanan Trotoar di Taman Tingkir Kota
Salatiga." Mintakat Jurnal Arsitektur, 18(1), 35‐48.
Permana, I. A., &Fatimah, I. S. (2017). "Redesign Taman Kota Kabupaten Bogor Dengan
Pendekatan Urban Landscape Design."Jurnal Arsitektur Lansekap, 39.
Radnawati, D., Febriani, Y., & Nurhayati, E. (2018). "Konsep bentuk kujang sebagai salah
satu identitas eksistensi budaya Sunda dalam perencanaan taman di Kota Bogor."
Jurnal Arsitektur Lansekap, 4(1), 90.
[Link]
Rohman, F. A. (2019). "Drumblek, Kesenian Barang Bekas Dari Salatiga Untuk Dunia."
Walasuji : Jurnal Sejarah Dan Budaya, 10(1), 11–22.
Study, E. (2011). "Studi evaluasi taman kota sebagai taman terapeutik studi kasus :
taman Cilaki Atas, Kota Bandung."3(2), 80–85.
Susilohadi, A. D., Soemardiono, B., & Kharismawan, R. (2014). "Konsep Perancangan
Menara Surabaya sebagai Landmark dalam Fenomena ‘Iconisation.’"Jurnal Sains
Dan Seni Pomits, 3(2), 19–21. Retrieved from
Syahputra, F. A., & Arsitektur, J. (2018). "Penerapan Tema Urban Landscape pada Ran‐
cangan Terminal Leuwi Panjang "Dwisasana Embara Parahyangan. III(1), 1–11.
Widayanti, F. T., & Hadi, T. S. (2019). "Kajian Bentuk Karakter Ruang Taman Tingkir
Sebagai Ruang Terbuka Hijau Perkotaan Kota Salatiga."Jurnal Planologi, 14(2),
117. [Link]

44

Anda mungkin juga menyukai