0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan17 halaman

Panduan Lengkap Antibiotik Kloramfenikol dan Makrolida

Dokumen ini membahas tentang berbagai jenis antibiotik seperti kloramfenikol, tiamfenikol, eritromisin, azitromisin, klaritromisin dan klindamisin. Dokumen ini menjelaskan indikasi, dosis, efek samping dari masing-masing antibiotik tersebut.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan17 halaman

Panduan Lengkap Antibiotik Kloramfenikol dan Makrolida

Dokumen ini membahas tentang berbagai jenis antibiotik seperti kloramfenikol, tiamfenikol, eritromisin, azitromisin, klaritromisin dan klindamisin. Dokumen ini menjelaskan indikasi, dosis, efek samping dari masing-masing antibiotik tersebut.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANTIBIOTIKA

(KLORAMFENIKOL-
MAKROLIDA)
APT. NOVI MILASARI, [Link]
KLORAMFENIKOL

• Kloramfenikol merupakan antibiotik yang ditemukan pada tahun 1947 dari kultur
Streptomyces venezuelae yang tidak diproduksi secara sintetik. Kloramfenikol merupakan
antibakteri pertama yang berspektrum luas, dengan mekanisme kerja menghambat sintesis
protein dan bersifat bakteriostatik.
• Kloramfenikol mencegah sintesis protein. Kloramfenikol merupakan antibiotik
berspektrum luas, menghambat bakteri Gram-positif dan negatif aerob dan anaerob.
• Penggunaan kloramfenikol untuk penanganan infeksi S. typhi, H. influenzae, E. coli, C.
psitacci, serta beragam spesies bakteri Neisseria, Staphylococcus,
Streptococcus, dan Rickettsia.
DATA FARMAKOKINETIK
KLORAMFENIKOL
• Bioavailability : 75-90%
• Protein binding : 60%
• Metabolism : Liver
• Excretion : Kidney (5-15%), feces (4%)
KLORAMFENIKOL

• Dosis
oral, injeksi intravena atau infus: 50 mg/kg bb/hari dibagi dalam 4 dosis
• Efek Samping:
Kelainan darah yang reversibel dan ireversibel seperti anemia aplastik (dapat berlanjut
menjadi leukemia), neuritis perifer, neuritis optik, eritema multiforme, mual, muntah,
diare, stomatitis, glositis, hemoglobinuria nokturnal.
• infeksi yang disebabkan oleh Salmonella sp., Hemophilus influenzae (terutama infeksi
meningeal), Rickettsia, lyphogranuloma-psittacosis, dan bakteri Gram negatif penyebab
bakterimia meningitis
TIAMFENIKOL

• Dosis:
Dewasa, anak-anak, dan bayi berusia di atas 2 minggu, 50 mg/kg bb sehari dalam dosis terbagi
3-4 kali [Link] prematur, 25 mg/kg bb sehari dalam dosis terbagi 4 kali sehari. Bayi
berusia di bawah 2 minggu, 25 mg/kg bb sehari dalam dosis terbagi 4 kali sehari.
• Efek Samping:
Diskrasia darah (anemia aplastik, anemia hipoplastik, trombositopenia dan granulositopenia),
gangguan saluran pencernaan (mual, muntah, glositis, stomatitis dan diare), reaksi hipersensitif
(demam, ruam angioedema, dan urtikaria), sakit kepala, depresi mental, neuritis optik dan
sindrom grey.
MAKROLIDA
ERITROMISIN

• Eritromisin memiliki spektrum antibakteri yang mirip dengan penisilin, sehingga obat ini
digunakan sebagai alternatif pada pasien yang alergi terhadap penisilin. Indikasi eritromisin
mencakup infeksi saluran napas. Eritromisin memiliki aktivitas yang lemah
terhadap Hemophilus influenzae. Eritromisin juga aktif terhadap klamidia dan mikoplasma.
• Eritromisin menyebabkan mual, muntah dan diare pada beberapa pasien. Untuk infeksi
ringan hingga sedang, efek samping ini dapat dihindarkan dengan pemberian dosis rendah
(250 mg 4 kali sehari)
• Indikasi : sebagai alternatif untuk pasien yang alergi penisilin untuk pengobatan pneumonia,
sifilis, uretritis non gonokokus, prostatitis kronik, acne vulgaris, dan profilaksis difetri.
• Dosis : oral: DEWASA dan ANAK di atas 8 tahun, 250-500 mg tiap 6 jam atau 0,5-1 g tiap 12
jam (lihat keterangan di atas); pada infeksi berat dapat dinaikkan sampai 4 g/hari. ANAK sampai
2 tahun, 125 mg tiap 6 jam; 2-8 tahun 250 mg tiap 6 jam. Untuk infeksi berat dosis dapat
digandakan. Acne: 250 mg dua kali sehari, kemudian satu kali sehari setelah 1 [Link]
stadium awal, 500 mg 4 kali sehari selama 14 [Link] intravena: infeksi berat pada dewasa
dan anak, 50 mg/kg bb/hari secara infus kontinu atau dosis terbagi tiap 6 jam; infeksi ringan 25
mg/kg bb/hari bila pemberian per oral tidak memungkinkan.
• Efek Samping : mual, muntah, nyeri perut, diare; urtikaria, ruam dan reaksi alergi lainnya;
gangguan pendengaran yang reversibel pernah dilaporkan setelah pemberian dosis besar;
aritmia dan nyeri dada.
AZITROMISIN

• Azitromisin adalah makrolida yang aktivitas nya terhadap bakteri Gram positif sedikit lebih
lemah dibanding eritromisin, tetapi lebih aktif terhadap bakteri Gram negatif
seperti Hemophilus influenzae. Kadar plasma azitromisin sangat rendah, tapi kadarnya dalam
jaringan jauh lebih tinggi. Waktu paruh azitromisin yang panjang dalam jaringan memungkinkan
obat ini diberikan dalam dosis satu kali [Link] dapat digunakan untuk Lyme disease.
• Indikasi: infeksi-infeksi yang disebabkan oleh organisme yang peka, infeksi saluran nafas atas
(tonsillitis, pharingitis), infeksi saluran nafas bawah (bronchitis, pneumonia), infeksi kulit &
jaringan lunak, penyakit hubungan seksual (Sexually Transmitted Disease), urethritis, cervicitis yang
berkaitan dengan Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum dan Neisseria gonorrhoea.
• Dosis : 500 mg sekali sehari selama 3 hari. ANAK di atas 6 bulan, 10 mg/kg bb sekali
sehari selama 3 hari; berat badan 15-25kg, 200mg sekali sehari selama 3 hari; berat badan
26-35 kg, 300 mg sekali sehari selama 3 hari; berat badan 36-45 kg, 400 mg sekali sehari
selam 3 hari. Infeksi klamidia genital tanpa komplikasi dan urethritis non-gonococcal, 1 g
sebagai dosis tunggal.
KLARITROMISIN

• Klaritromisin merupakan derivat eritromisin dengan aktivitas yang lebih kuat


dibandingkan dengan senyawa induknya. Kadar dalam jaringan lebih tinggi daripada kadar
eritromisin. Obat ini diberikan dua kali sehari.
• Indikasi : infeksi saluran napas bagian atas (seperti: faringitis/tonsillitis yang
disebabkan Staphylococcus pyogenes dan sinusitis maxillary akut yang disebabkan
oleh Streptococcus pneumoniae), infeksi ringan dan sedang pada kulit dan jaringan lunak,
otitis media; terapi tambahan untuk Helicobacter pylori pada tukak duodenum
• Dosis : oral: 250 mg tiap 12 jam selama 7 hari, pada infeksi berat dapat ditingkatkan
sampai 500 mg tiap 12 jam selama 14 hari. ANAK dengan berat badan kurang dari 8 kg,
7,5 mg/kg bb dua kali sehari; 8-11 kg (1-2 tahun), 62,5 mg dua kali sehari; 12-19 kg (3-6
tahun), 125 mg dua kali sehari; 20-29 kg (7-9 tahun), 187,5 mg dua kali sehari; 30-40 kg
(10-12 tahun), 250 mg dua kali [Link] intravena: 500 mg dua kali sehari pada vena
besar; tidak dianjurkan untuk anak-anak.
KLINDAMISIN

• Indikasi : mengatasi berbagai infeksi bakteri, seperti infeksi pada paru, kulit, darah, organ reproduksi wanita

• Dosis : Dewasa
150–300 mg atau 400–450 mg (jika infeksi berat) tiap 6 jam.

• Anak
3–6 mg/kgBB tiap 6 jam.

• Efek samping yang mungkin terjadi setelah menggunakan clindamycin adalah:

1. Gangguan pencernaan, mual, muntah, rasa seperti logam di mulut, atau diare

2. Nyeri saat menelan

3. Nyeri sendi

4. Rasa panas di area dada (heartburn)

5. Bercak putih di dalam mulut

6. Keputihan yang kental dan berwarna putih

7. Bengkak, rasa gatal, atau sensasi terbakar pada vagina

8. Iritasi pada area kulit yang diolesi clindamycin topikaL

Anda mungkin juga menyukai