Sejarah Kesarjanaan Barat Al-Qur'an
Sejarah Kesarjanaan Barat Al-Qur'an
kekalahan yang dialami oleh orang-orang Kristen dalam Perang Salib, para sarjana
Barat mulai memulai interaksi mereka dengan al-Qur’an untuk mengetahui lebih
lanjut tentang ajaran Islam. Selama hampir sepuluh abad, kaum Orientalis telah
berbagai tuduhan kontroversial yang tidak berdasar terkait dengan al-Qur’an. Jika
dilihat lebih dekat, menjadi jelas bahwa bahkan di antara para peneliti Barat
berlangsung dialektika yang tak ada habisnya. Dialektika ini, baik berupa dukungan
maupun kritik, membuat kajian al-Qur'an tampak lebih hidup dan dinamis di Barat.1
Ketertarikan para peneliti Barat untuk mempelajari Islam secara umum dan
mempelajari al-Qur'an secara khusus telah berlangsung sangat lama. Sejak abad ke-
12, para sarjana Barat mulai melakukan kajian terhadap al-Qur’an, yang di sisi lain
masih bersifat pembelaan dan penuh nuansa polemik. Studi ini pertama
kali dipelopori oleh para sarjana Yahudi dan Kristen yang memulai gerakan yang
bahasa Eropa. Dan orang pertama yang memiliki ide untuk menerjemahkan al-Qur’an
ke dalam bahasa Latin adalah Petrus Venerabilis, Kepala Biara Cluny di Prancis.2
1
Ihwan Agustono, “Potre Perkembangan Metodologis Kelompok Orientalis Dalam Studi Al-
Qur’an”, Studia Quranika 4, no.2 (Januari 2019).
2
Evi Yanti, “Kajian Sarjana Barat Terhadap Pendekatan Studi Al-Qur’an”, [Link],
[Link] sarjana barat terhadap pendekatan studi al-quran/ (17 Juni 2023)
16
17
Saat berkunjung ke Spanyol pada tahun 1142 Masehi Petrus terpesona dengan
kalangan Katolik yang berbahasa Arab mereka hidup di bawah pemerintahan dinasti
bahasa Latin. Proyek ini direalisasikan oleh Pedro de Toledo, Herman de Dalmatie,
pendeta Inggris Robert Kennet dan dibantu oleh seorang Muslim dengan nama
penerjemah teks bahasa Arab ke bahasa Spanyol, kemudian orang lain mengedit
terjemahannya. Kemudian proyek itu selesai pada tahun 1143 M. Kemudian, kajian
al-Qur’an diikuti oleh berbagai kajian Islam yang lebih sering menggunakan metode
filologis.3
Sejak seperempat terakhir abad ke-20, Studi tentang al-Qur’an telah meningkat
tokoh-tokoh yang tidak kalah modern seperti Fazrul Rahman, Quraish Shihab, Farid
Esack, Asghar Ali Engineer dan lain-lain.4 Tak mau kalah dengan sarjana Muslim,
sama. Hal ini terbentuk oleh munculnya kajian al-Qur’an Timur dari Barat, seperti
Arthur Jhon Arberry, Richard Martin, John Wansbrough, Andrew Rippin, Jane
karya mereka yamg berkaitan dengan kajian al-Qur'an tersebar dalam bentuk artikel
yang disajikan dalam berbagai seminar, artikel yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah
3
Ibid.
4
Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsuddin, “Studi Al-Qur’an Kontemporer: Wacana Baru
Berbagai Metode Tafsir”, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 1.
18
Berbeda dengan kajian tafsir dalam tradisi Islam, dikemukakan bahwa kajian
al-Qur'an dalam tradisi orientalis Barat memiliki bidang kajian dan ruang lingkup
yang lebih bervariasi dari pada kajian tafsir. Kajian tersebut meliputi kajian teks al-
sebelumnya.6 Dari sekian banyak cabang kajian ini, apabila dikelompokkan maka
kajian al-Qur’an dalam tradisi keilmuan Barat pada umumnya terbagi menjadi dua
topik utama, yaitu: Pertama, kajian al-Qur'an sebelum kodifikasi (kajian al-Qur'an
sebagai tradisi lisan); dan kedua, kajian al-Qur'an setelah kodifikasi (kajian al-Qur'an
sebagai teks tertulis). Tema pertama ini, menurut beberapa orientalis Barat,
merupakan kelemahan tradisi kajian al-Qur'an di dunia Islam, karena belum banyak
disikapi oleh para mufassir Islam, padahal di dunia Barat ia selalu mewarnai kajian-
kajian dari para akademisi studi al-Qur’an, terlepas dari beragamnya fakta yang
Dunia Barat
pertama dan paling representatif, Qadhi Baha'uddin Ibnu Syaddad dalam bukunya,
5
Abdullah Saeed, The Qur’an: an Introdution, terj. Sulkhah dan Sahiron Syamsuddin,
Pengantar Studi al-Qur’an (Yogyakarta: Baitul Hikmah Press, 2016), 153-165.
6
Yusuf Rahman, “Trend Kajian al-Qur’an di Dunia Barat”, Studia Insania 1, no. (1 April
2013), 1-2.
7
Zayad Abd. Rahman, “Angelika Neuwirth: Kajian Intertekstualitas dalam QS. Al-Rahman
dan Mazmur 136”, Empirisma 24, no. 1 (Januari 2015), 113.
19
pasukan Muslim dan Kristen, terutama setelah Alfonso VI. 1085 berhasil
menaklukkan Toledo.8
Akibat dari peristiwa tersebut, lahirlah gerakan tobat dan penghapusan dosa
yang berpusat di Biara Cluny. Ritual suci itu diprakarsai langsung oleh otoritas gereja
dan para pendeta Venesia di bawah pimpinan Santo Peter the Venerable dari Prancis
(1092-1156). Dari tempat suci Kristen ini tumbuh semacam tradisi keagamaan baru
yang khas Kristen Spanyol, dengan semua kitab dan upacara ritualnya. Mereka juga
mendirikan sekte Kristen Katolik sebagai agama resmi yang langsung dan murni.
menjadikan Santo James (Ya’kub, saudara Isa Al-Masih Menurut Perjanjian baru)
sebagai sosok pelindung baru bagi umat Kristiani di Spanyol. Bahkan, mereka juga
Kemudian gerakan Kristen Cluny memulai perang suci (perang salib) melawan
Kristen Spanyol yang dianggap sesat dan kemudian melawan Muslim Spanyol.
Padahal, bangsa Eropa yang menjadi penduduk asli Andalusia, meski umumnya
peradaban ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari mereka yang berbicara bahasa
Arab, mengenakan pakaian Arab, mempraktikkan adat Arab, dan kuliah di universitas
Arab. Bahasa Arab dikenal dan digunakan oleh mereka tidak hanya sebagai bahasa
8
Qasim Assamurai, Al-Istisyraaqu Bainal Maudhu’iyyati wal-Ifti’aaliyyah, terj. Syuhudi
Ismail, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), 29.
9
Ibid, 29.
20
sehari-hari, tetapi juga sebagai bahasa ilmiah. Bahkan raja Spanyol sendiri, Raja Peter
I dari Aragon (lahir tahun 1104), hanya bisa membaca dan menulis dalam bahasa
Arab. Orang-orang Spanyol Kristen benar-benar terpesona oleh peradaban Islam yang
agung.10
dipisahkan dari peristiwa Perang Salib segera setelah adanya gesekan politik dan
agama antara Islam dan Barat-Kristen di Palestina. Permusuhan politik antara Islam
dan Barat semakin memuncak pada era Nur al-Dîn Mahmud al-Zanki (1118-1174) 11
mempersatukan Mesir dan Syria di bawah panji-panji Islam. 12 Konflik agama dan
Muslim. Ini meninggalkan kebencian yang mendalam dan memaksa dunia Barat
muncul, pertama, dari kebutuhan Barat untuk menolak Islam, dan kedua, untuk
menemukan alasan kekuatan yang memotivasi umat Islam, terutama setelah jatuhnya
Konstantinopel pada tahun 857 (1453 M) serta tibanya pasukan Turki Usmani ke
10
Agustono, Potre, 164.
11
Carole Hillenbrand, The Crusade: Islamic perspectives, terj. Heryadi, Perang Salib: Sudut
Pandang Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 2007), 30.
12
W. Montgomery Watt, The Influence of Islam on medieval Europe, terj. Hendro Prasetyo,
Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1995), 82.
13
Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan, 28.
21
teolog terletak pada kebutuhan mereka untuk memahami kaum intelektual Semit yang
berhubungan dengan Taurat dan Injil. Untuk tujuan ini, mereka melakukan upaya
serius dalam mempelajari bahasa Ibrani, Aram dan Arab, serta literatur bahasa-bahasa
tersebut. Dalam konteks ini, maksudnya adalah pengetahuan bahasa Arab tidak boleh
lebih rendah dari pengetahuan bahasa Ibrani untuk menerjemahkan Kitab Suci dari
bahasa Ibrani ke bahasa Latin dengan terjemahan yang baik. Bahkan, Schultens,
Orientalisme muncul dari penjajahan Eropa atas negara-negara Arab dan Muslim di
Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tenggara serta kebutuhan mereka untuk
memahami adat istiadat dan agama bangsa-bangsa jajahan itu demi memperkokoh
kekuasaan dan dominasi ekonomi mereka pada bangsa-bangsa jajahan. Semua ini
mereka. Beberapa dari mereka menggabungkan semua faktor dan tujuan tersebut dan
Kajian tentang Timur ternyata bermanfaat jika antara lain digunakan dalam
14
Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan, 32.
15
Ibid, 32.
16
Ibid, 32-33.
22
dan walikota diharuskan membuka sekolah yang mengajarkan bahasa Timur di setiap
ibu kota dan menunjuk seorang guru profesional untuk mengajar bahasa oriental di
memiliki bukti induktif (pengamatan atau data yang spesifik), logika dan argumentasi
hal ini, setiap orang membela dan mempertahankan pendapat yang dianggap benar.
Dengan kata lain, setiap orang berhak untuk mengajukan suatu pendirian dengan
mengajukan argumentasi. Semua pendapat harus diterima untuk diskusi lebih lanjut.
Baru jika memang keliru, pendapat-pendapat tersebut disanggah. Patut dicatat bahwa
Pertengahan. Mereka juga tidak menyebutkan pemikiran Islam dalam Gereja Katolik
Semua ini dapat dibuktikan dengan dokumen palsu Kaisar Konstantinus dan para
Provokasi semacam inilah yang diyakini menjadi salah satu faktor dari lahirnya
tersebut, bahasa Arab dianggap sebagai bahasa yang harus dipelajari dan karena itu
17
Assmurai, Bukti-bukti Kebohongan, 33.
18
Ibid, 33.
23
tahun 1076, di Chartres (Prancis) pada tahun 1117 dan di Oxford (Inggris). Pada
tahun 1167 dan Universitas Paris pada tahun 1170. Perhatian Eropa terhadap
Roma pada tahun 1303, di Florence pada tahun 1321, dan di Gregory pada tahun
1553. Di Prancis pada tahun 1217, di Montpellier pada tahun 1220, dan di Bordeaux
pada tahun 1441. Adapun Cambridge, pengajaran bahasa Inggris dimulai pada 1209
dengan pengajaran bahasa Arab. Di bagian lain Eropa, pengajaran bahasa Arab
Dari uraian di atas jelas bahwa gerakan orientalis yang tujuan utamanya
mengkaji peradaban Islam dan bahasa Arab memang menjadi sumber inspirasi bagi
generasi masyarakat Eropa dan Barat sekaligus sebagai tindak lanjut dari tragedi
Perang Salib. Lambat laun, penelitian itu dikaitkan dengan materi ilmiah yang diakui
akademisi. Orientalisme hampir dapat dijumpai pada setiap Universitas Barat, hal ini
dapat dilihat dengan banyaknya jumlah sarjana dan pengkaji di berbagai bidang
spesifikasi ketimuran yang memperoleh dana sebagai jaminan masa depan mereka
19
Agustono, Potre, 165-166.
20
Ibid, 166-167.
24
ideologis, bidang ilmu ini memiliki keuntungan yang sangat besar bagi negara-negara
Barat. Memang, perhatian serius dan dukungan penuh yang diberikan kepada
Studi Ketimuran oleh penguasa dan pihak Gereja merupakan indikasi yang jelas
tentang tujuan dan manfaat Studi Oriental. Selain itu, Mustafa Maufur menjelaskan
bahwa fenomena ini merupakan bukti nyata bahwa gerakan orientalisme hampir
digunakan para orientalis dalam mengkaji al-Qur'an, mulai dari tahap awal Studi al-
Qur'an di Barat hingga saat ini (abad ke-20), penegasan definisi Terminologi Studi al-
Qur'an dari Perspektif Orientalis. Menurut Manfred S. Kroop, Qur’anic studies atau
lebih khusus lagi academic study of the Qur’an (kajian akademik tentang al-Qur'an)
adalah bentuk penelitian akademik yang fokus pada pemahaman dan analisis teks
serta sejarah al-Qur'an. Tujuan utamanya adalah untuk mengkaji dan menunjukkan
sejauh mana teks dan sejarah al-Qur'an dapat diungkap dan dipahami dengan bantuan
22
akal manusia. Selain itu, dari pengertian di atas dapat ditegaskan bahwa objek
penelitian dalam Qur’anic studies adalah teks al-Qur'an. Hal ini Sangat penting untuk
membedakan studi al-Qur'an dari studi Tafsir yang objeknya adalah penafsiran
21
Mustafa Maufur, Orientalisme Serbuan Ideologi dan Intelektual, (Jakarta: Pustaka Kautsar,
1995) 18.
22
Manfred S. Kroop (ed.), Results of Contemporary Research on the Qur’an: The Question of
a Historico-Critical Text of the Qur’an, (Beirut: Orient-Institute Beirut, 2007), 1.
25
penafsiran manusia terhadap teks al-Qur'an. Meskipun dalam konteks Kesarjanaan al-
mempelajari al-Qur'an secara khusus telah ada sejak lama. Sejak abad ke-12, para
orientalis telah mulai mempelajari al-Qur’an, namun masih sangat bersifat sangat
apologetik dan penuh dengan nuansa polemik. Kajian yang dipelopori oleh para
sarjana Yahudi dan Kristen, kajian ini biasanya mengambil bentuk awalnya sebagai
disertai dengan beberapa catatan tambahan atau komentar singkat yang bernada
provakatif dan sangat memojokkan Islam yang kala itu sedang berkembang pesat di
Inggris pada akhir periode ini, yaitu tahun 1779. Meski nama bidang kajian
orientalisme baru diberikan pada abad ke 18, namun telah aktif sejak abad ke-8.
Padahal, kajian serius tentang Orientalisme baru bisa ditelusuri kembali ke abad ke-
16.25 Oleh karena itu, perkembangan Orientalisme dibagi menjadi empat fase: Fase
pertama dimulai pada abad ke-16. Pada fase ini dapat dikatakan bahwa Orientalisme
merupakan simbol dari gerakan anti-Islam yang dipimpin oleh Yudais dan Kristen.
Bagi orang Eropa, Islam adalah trauma yang tidak akan pernah berakhir. Southern
menulis dalam bukunya Western Views of Islam in the Middle Ages bahwa Kristen
23
M. Amin Abdullah, Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift untuk M.
Amin Abdullah, ed. Moch. Nur Ikhwan dan Ahmad Muttaqin, (Yogyakarta: CISForm, 2013), 96.
24
Agustono, Potre, 169.
25
Hamid Fahmy Zarkasyi, “Tradisi Orientalis dan Framework Studi Al-Qur’an”, Jurnal
Tsaqafah 7, no. 1 (April 2011) 5.
26
yang sesat (misguided version of Christianity). Bahkan tidak sedikit yang menulis
bahwa Muhammad adalah penyebar wahyu palsu. penipu, tidak jujur, dll, semua
Fase kedua Orientalisme terjadi pada abad ke-17 dan ke-18 Masehi. Fase kedua
bisa menjadi peradaban yang andal selama 7 abad. Selama periode ini, raja dan ratu
ketimuran. Meski Barat membutuhkan Islam, api permusuhan tetap menyala. Oleh
karena itu, mereka tidak hanya mengumpulkan informasi tentang Timur, tetapi juga
Fase ketiga Orientalisme adalah abad ke-19 dan seperempat pertama abad ke-
20, fase ini merupakan fase terpenting Orientalisme baik bagi umat Islam maupun
Orientalis itu sendiri. Karena pada saat itu, Barat sebenarnya menguasai negara-
negara Muslim secara politik, militer, budaya, dan ekonomi. Mungkin karena orang-
mudah mendapatkan materi tentang Islam. Oleh karena itu, pada waktu yang hampir
berubah dari fase caci maki menjadi serangan yang sistematis dan ilmiah. Tetapi
sistematis dan ilmiah tidak berarti sempurna dan bias. 28 Fase keempat Orientalisme
26
Zarkasyi, Tradisi, 5.
27
Ibid, 5.
28
Ibid, 6.
27
ditandai dengan Perang Dunia II. Islam dan ummat Islam adalah topik penelitian
yang populer, terutama di Amerika. Penelitian ini tidak hanya melayani tujuan
akademik tetapi juga politik dan ekonomi. sekali lagi pada fase ini kajian
Orientalisme kembali berubah lagi dari sentimen keagamaan yang vulgar ke sentimen
selalu siap merubah hypotesanya. Faktanya memang orang orang Barat non-Muslim
baru saja mulai memperlembut (sikapnya terhadap Islam) dan bahkan menarik kata
‘tidak’nya”.30
menyusul dan juga diperkenalkan di Perancis. Menurutnya, pada masa itu orientalis
lebih banyak menggunakan metode filologis dalam melakukan berbagai kajian Islam.
Metode ini diterapkan pada berbagai karya dan manuskrip keIslaman. termasuk Kitab
bahasa Eropa modern agar lebih mudah untuk dikonsumsi oleh mereka, sebagaimana
yang lazim dilakukan oleh para pendahulu mereka. Inilah salah bentuk pendekatan
filologi kesarjanaan Barat ketika itu. Bahkan, Endress dengan tegas menyebutkan
bahwa pada akhir abad ke-18, pendekatan oriental-filologi ini secara masif mulai
dimunculkan (the rise of oriental philology).31 Namun demikian, metode filologi ini
Islam yang selalu berujung pada berbagai pandangan negatif seputar Islam dan al-
29
Zarkasyi, Tradisi, 6.
30
W. Cantwell Smith, On Understanding Islam-Selected Studies, (the Hague: Mounton
Publishers 1981), 296.
31
Agustono, Potre, 170.
28
Pada abad ke-19, atau sejak memasuki periode orientalisme yang kedua,
kajian al-Qur’an di Barat mulai mengalami perubahan signifikan, dari kajian yang
murni bersifat apologetik dan polemik menjadi kajian yang mulai menapaki sifat
akademis tentang al-Qur'an dimulai pada abad ke-18, meski belum masif.
Menurut mayoritas sarjana Barat, studi akademis pertama tentang al-Qur'an pada
abad ke-19 ditandai dengan karya Abraham Geiger “What Did Mohammad Gather
from Judaism?” Yang terbit pada 1833. Walaupun dipenuhi dengan berbagai
kontroversi, karya Geiger ini menurut Angelika Neuwirth dianggap sebagai karya
akademik pertama tentang Qur’anic studies yang pernah ditulis oleh seorang
orientalis di Barat. Hal ini karena ia mulai meninggalkan sifat apologetiknya dan
(kritik historis).33
Pendekatan kritik historis ini awalnya diterapkan pada Bibel oleh para sarjana
Barat (Biblical Criticism). Ketika pendekatan ini diterapkan pada Bibel, pendekatan
ini bertugas memisahkan berbagai legenda dan mitos dari fakta sejarah yang
sebenarnya. Dia juga memeriksa mengapa para penulis Bibel melaporkan versi yang
berbeda dan akhirnya mencoba untuk menentukan mana yang betul-betul perkataan
Yesus dan mana yang merupakan tambahan-tambahan dari luar. Dalam pendekatan
ini, ada beberapa jenis kritik lain yang berkaitan dengan metode kritik historis, antara
32
Abdullah, Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift untuk M. Amin
Abdullah, 97.
33
Agustono, Potre, 170-171.
29
lain kritik teks (textual criticism) contoh karya: "The Collection of the Qur'an: A
karya: "Studies in Semitic Philology" oleh William Wright, kritik sastra (literary
criticism) contoh karya: "The Qur'an as Text" oleh Stefan Wild, kritik bentuk (form
criticism) contoh karya: “The Qur'an and the Bible: Text and Commentary” oleh
Gabriel Said Reynolds, dan kritik redaksi (redaction criticism) contoh karya: “The
Origins of the Koran: Classic Essays on Islam's Holy Book” oleh Ibn Warraq. Model
pendekatan inilah yang kemudian ingin diterapkan para orientalis terhadap teks al-
Qur’an.34
menunjukkan pengaruh tradisi Yahudi dan Kristen yang terkandung dalam al-Qur’an.
Dengan kata lain, Geiger mencoba mengatakan bahwa al-Qur’an bukanlah produk
terinspirasi (jiplak) dari tulisan Yahudi-Kristen dan tradisi Jahiliyah. Baginya, al-
Qur’an tidak lebih dari tiruan dari kitab-kitab yang ada sebelumnya yang diadopsi
oleh Muhammad. Adapun bukti yang ia hadirkan berupa kumpulan kata-kata yang ia
peroleh dari analisis filologis ayat-ayat al-Qur’an, yang menurutnya memiliki banyak
kesamaan dengan kosa kata yang diyakininya berasal dari tradisi Yahudi-Kristen.35
34
Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an; Kajian Kritis (Jakarta: Gema
Insani Press, 2005), 44-47.
35
Abraham Geiger, Judaism and Islam. A Prize Essay (Banglore: Madras: Printed at the
M.D.C.S.P.C.K. press and sold at their depository, Vepery, 1898) 75-151.
30
kembali ke zaman kuno akhir dan mempertanyakan orisinalitas dan historisitas dari
kitab suci ini, sedangkan metode filologis ia pergunakan untuk menganalisa setiap
kata atau frase dalam al-Qur’an yang dicurigainya merupakan hasil imitasi dari
mencoba mencari asal-usul al-Qur'an dalam kitab-kitab dan tradisi keagamaan yang
Para Orientalis yang semasa Geiger, seperti Theodor Noldeke dengan sebuah
karya Geschichte des Qorâns yang diterbitkan tahun 1860 (disebut Târikh al-Qur'ân
dalam edisi bahasa Arab), Arthur Jeffery dengan karyanya The Foreign Vocabulary of
the Qur'an (terbit tahun 1938 ), Juga karya Juedische Elements in the Quran (Elemen
Yahudi dalam al-Qur’an) oleh H. Hirschfeld yang diterbitkan pada tahun 1878, dan
beberapa karya serupa dari periode ini tampaknya konsisten menggunakan model
pendekatan kritik historis ini. Secara umum, para orientalis ini yang disebut oleh
Yusuf Rahman kelompok "old orientalism", ini sampai pada suatu kesimpulan yang
sama dengan fokus pada studi tentang what is behind the text (apa yang berada di
balik teks al-Qur’an), mereka tampak sepakat bahwa al-Qur'an bukanlah wahyu
yang terinspirasi oleh tradisi yang sudah ada sebelumnya. Dalam bahasa yang lebih
36
Agustono, Potre, 172.
37
Rahman, Trend, 1-2.
31
Fazlur Rahman dalam The Major Themes of the Qur’an menyebutkan 3 tipe
karya-karya yang mencoba untuk membuat urutan kronologis dari ayat-ayat al-
Qur’an. Ketiga, karya-karya yang bertujuan untuk menjelaskan semua atau hanya
sebagian aspek tertentu saja di dalam ajaran al-Qur'an.38 Dalam kajian orientalisme,
pendekatan semacam itu yang selalu menghubungkan al-Qur’an dengan teks Yahudi
dan Nasrani juga disebut sebagai teori peminjaman dan keterpengaruhan (theoris of
orientalis, namun dengan titik fokus yang berbeda. Jika pada periode sebelumnya
kajian al-Qur’an diwarnai dengan pertanyaan terkait dan penelitian tentang asal usul
genetik al-Qur’an dalam tradisi Yahudi-Kristen, maka setelah Perang Dunia kedua
pada periode ini sosok pribadi Nabi Muhammad dijadikan sebagai titik pusat utama
Muhammad at Medina (terbit 1956). Ada juga Mohammed und der Koran oleh Rudi
Paret (1901-1983), diterbitkan pada tahun 1957, dan Mohamet oleh Maxime
Rodinson (diterbitkan 1961), yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh
Anne Carter pada tahun 1971. Hampir semua karyanya tersebut secara lugas
menyatakan dengan tegas bahwa al-Qur’an tidak lain adalah cermin atau gambaran
38
Nur Fahrizi dan Muhammad zubir, “Historitas dan Otentisitas Al-Qur’an (Studi Komparatif
Antara Arthur Jeffery Dengan Manna’ Al-Qathan)” QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies 1, no.
2 (2022), 185-186
39
Syamsudin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta: Gema Insani, 2008), 6.
32
sebagai salah satu objek kajian yang penting, dan tidak dapat dipisahkan dari bidang
kajian al-Qur'an. Ringkasnya, pada periode ini, Qur’anic scholarship telah bergeser
Kajian al-Qur’an pada akhir abad ke-20 ditandai dengan sebuah karya
kontroversial yang berpengaruh besar bagi kajian al-Qur’an di Barat era sesudahnya,
tidak terjadi pada abad pertama Hijriah seperti yang diyakini umat Islam sebelumnya,
melainkan pada abad kedua Hijriah, karena memang tidak ada bukti sejarah yamg
netral, terlepas dari sumber-sumber Islamm yang dimotivasi oleh kepentingan atau
motif keagamaan.41
criticism) untuk mengkritisi kualitas semua sumber pengetahuan sejarah Islam yang
ditulis oleh para ulama Muslim dan diyakini kebenarannya secara umum. Dia
melakukan ini untuk sepenuhnya melindungi tradisi sejarah Islam dari berbagai
pengaruh teologis. Oleh karena itu pertanyaan pertamanya, yang tidak pernah
40
Agustono, Potre, 173.
41
John Wansbrough, Qur’anic Studies: Source and Methods of Scriptual Interpretation, (New
York: Prometheus Books, 2004), 61.
33
ditanyakan oleh umat Islam, adalah, “what is the evidence?” Ketika pertanyaan
tersebut diajukan ke al-Qur'an, itu adalah: “Bukti apakah yang ada untuk mendukung
Apakah ada bukti-bukti netral yang tidak sarat muatan kepentingan keagamaan yang
menurutnya disusupi dan ditambahkan pada redaksi orisinil dari kitab al-Qur’an.
Menurut Wansbrough, genetika al-Qur'an sendiri berasal dari tradisi Yahudi dan
Nasrani yang dipinjam oleh Nabi.43 Dari sini jelas bahwa intertekstualitas
Wansbrough dalam mengkaji al-Qur'an tidak jauh berbeda dengan para orientalis
periode sebelumnya.
Salah satu tokoh viral dikalangan Muslim maupun Non Muslim yang
tentang Islam terutama kajian orisinalitas terhadap al-Qur’an ialah Arthur Jeffery. Dia
dikenal sebagai ahli sejarah Timur Tengah dan professor bahasa Semit di School of
Oriental Studies di Kairo.44 Arthur Jeffery mulai mempelajari kritik historis al-Qur’an
sejak tahun 1926 dengan menbumpulkan informasi yang bisa didapatkan dari
berbagai sumber seperti tafsir, hadits, kamus qira’ah, karya-karya filologi dan
42
Yusuf Rahman, “Pendekatan Tradisionalis dan Revisionis dalam Kajian Sejarah
Pembentukan al-Qur’an dan Tafsir pada Masa Islam Awal”, Journal of Qur’an and Hadith Studies 4,
no. 1 (2015) 136.
43
Muhammad Alfatih Suryadilaga, “Kajian atas Pemikiran John Wansbrough tentang al-
Qur’an dan Nabi Muhammad”, Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam 7, no. 1 (April 2011) 95.
44
Muhammad Luthfi Dhulkifli, Kontroversi Surat Al-Fatihah Dalam Pandangan Arthur
Jeffery, Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur’an Dan Al-Hadits 13, no. 2, (Desember 2019).
34
menyangka bahwa seorang Australia termasuk dalam kelompok orientalis Islam yang
mungkin setingkat dan sekelas dengan Theodore Noldeke, Rev Mingana, Snouck
yang melakukan studi kritis terhadap al-Qur'an atau studi Islam secara umum
1940), [Link]. Clair-Tisdall (1859-1928), Louis Cheikho (1859- 1927), Paul Casanova
45
Taufik Adnan Amal, Rekontruksi Sejarah Al-Qur’an (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi,
2011), 435.
46
Nur Fahrizi dan Muhammad zubir, “Historitas dan Otentisitas Al-Qur’an (Studi Komparatif
Antara Arthur Jeffery Dengan Manna’ Al-Qathan)” QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies 1, no.
2 (2022), 188.
35
dan lain-lain.47
1. Abraham Geiger
Abraham Geiger lahir pada tahun 1810. Dia adalah tokoh Reformasi
Yahudi yang memulai kegiatan usahanya di Breslau, Frankfurt dan Berlin. Pada
Di sana ia banyak belajar filologi, Arkeologi, Filsafat dan Studi Bible. Setelah
namanya sebagai pakar dunia Timur. Dengan tulisan ini ia juga memperoleh
47
Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an; Kajian Kritis (Jakarta: Gema
Insani Press, 2005), 47-48.
48
Wendi Parwanto. "Pemikiran Abraham Geiger Tentang al-Qur'an (Studi Atas Akulturasi
Linguistik, Doktri Dan Kisah Dalam Al-Qur'an Dari Tradisi Yahudi)”, Ilmu Ushuluddin 18, no. 1
(Januari-Juni 2019) 52.
36
yang membahas historis kritis terhadap konsep origin al-Qur’an. Dikenal sebagai
mencoba mereformasi di tubuh Yahudi agar menjauh dari konsep agama ritualis.
Geiger juga menjadi pelopor pengakuan kedudukan wanita dalam ruang sosial
oleh agama Yahudi dalam hal-hal berikut: (1) linguistik, keimanan dan doktrin,
(2) peraturan-peraturan hukum dan moral, (3) pandangan tentang kehidupan, dan
kosa kata al-Qur’an yang diadopsi dari bahasa Ibrani, di antaranya; sakinah,
49
Ibid, 52.
50
Sara E. Karesh dan Mitchell M. Hurvitz, Encyclopedia of Judaism, (New York: Facts on
File, Inc., 2006), 168.
51
Geiger, Judaism, 45-72.
37
taagut, furqan, ma’un, masani, malakut, darasa, tabut, jannatu ‘adn, taurat,
keagamaan yang diadopsi Nabi Muhammad dari ajaran sebelum Islam, seperti;
tentang penciptaan langit dan bumi beserta segala isinya dalam enam hari. Ia
mengatakan bahwa dalam hal ini pemikiran Nabi Muhammad sejalan dengan
ajaran Bibel. Namun di ayat lain, Nabi Muhammad juga mengatakan bahwa
bumi diciptakan selama dua hari. Ayat ini menurut Abraham, kontradiktif dengan
ayat pertama. Maka dari itu, ia menganggap Nabi Muhammad sangat sedikit
2. Thedore Noldeke
sastra Yunani, dan mendalami tiga bahasa Semmit, yaitu Arab, Suryani, dan
Ibrani. Noldeke termasuk ilmuwan yang berumur panjang sekitar 94 tahun, dan
52
Ibid, 53.
53
Lenni Lestari, "Abraham Geiger dan Kajian al-Qur'an Telaah Metodologi atas Buku Judaism
and Islam", Suhuf 7, no. 1, (Juni 2014) 48.
54
Abdurrahman Badawi, Mawsu al-Mutasyriqin, terj. Amroeni Drajat, Ensiklopedi Tokoh
Orientalis (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2003), 413.
38
Theodor Noldeke lahir pada 2 Maret 1837 di kota Harburg, sejak 1977
menengah di kota Lingen sejak tahun 1849 hingga 1866. Di kota Lingen inilah
bawah arahan ayahnya, dengan mempelajari sastra klasik, yunani, dan latin
alasannya adalah ketika Noldeke hendak masuk Unversitas Gottingen pada tahun
terlebih dahulu menekunni dua bahasa Semit, yaitu Arab dan Persia beserta
sastranya.55
Noldeke meraih gelar sarjana pertama pada usia 20 tahun, setelah itu ia
Wina dan menetap di sana selama satu tahun (1856-1857) untuk mempelajari dan
dingin tahun 1857 hingga musim semi tahun 1858. Di sinilah Noldeke
orientalis yang sangat mumpuni, seperti Dozy, Juynboll, Matyys de Vries, dan
Kuenen. Setelah menetap di Leiden, Noldeke pergi menuju Goeta, Jerman untuk
55
Badawi, Ensiklopedia, 413-414.
39
Noldeke tidak baik, sejak kecil hingga akhir hayatnya selalu dirundung penyakit,
bahasa Semit di Universitas Kiel. Pada musim semi tahun 1872, dia diangkat
posisi yang sama, di antaranya Universitas Berlin tahun 1875, Universitas Wina
tahun 1879 untuk yang kedua kalinya, dan Universitas Leipzig tahun 1888. Pada
musim bunga tahun 1920, Noldeke pindah ke kota Karlsruhe kawasan Rien Atas,
tinggal di rumah anaknya yang ketika itu menjadi direktur Jawatan Kareta Api
yang dinikahi tahun 1864, meninggal terlebih dahulu pada tahun 1916. Dari
yang selama ini diyakini umat Islam salah. Ia mengatakan bahwa al-Qur’an tidak
dengan seni menulis yang saat itu dianggap sebagai bukti orang yang berilmu.
56
Ibid, 414-415.
57
Badawi, Ensiklopedia, 416-417.
58
Theodor Noldeke, The Geschichte des Qorans, terj. Wolfgan H. Behn, The History of The
Qur’an, edisi baru (Leiden: Brill, 2003), 3.
40
ummī bagi Muhammad. Menurutnya, tidak benar adanya anggapan umum bahwa
kata ummī dipahami sebagai kebalikan dari “orang yang bisa membaca dan
menulis”. Yang benar adalah bahwa ummī lebih baik dipahami sebagai kebalikan
dari "orang yang mengetahui kitab suci".59 Theodor Nöldeke berkata: “Setelah
menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan kata ummī bukan sebagai kebalikan
dari “orang yang bisa menulis”, tetapi sebagai kebalikan dari “orang-orang yang
memiliki dua karakterisik dalam mengimpor ajaran dari kitab Yahudi dan
menurut pemahamannya yang terbatas, karena dia tidak bisa melihat kitab-kitab
59
Muhammad Rafi, “Theodor Noldeke: Sarjana German Pelopor Kajian Sejarah Al-Qur'an”,
tafsiralqur'[Link], [Link] theodor noldeke sarjana german pelopor kajian sejarah al-
quran/ (26 Juni 2023)
60
Muhammad Rafi, “Theodor Noldeke: Sarjana German Pelopor Kajian Sejarah Al-Qur'an”,
tafsiralqur'[Link], [Link] theodor noldeke sarjana german pelopor kajian sejarah al-
quran/ (26 Juni 2023)
41
mengatakan bahwa al-Qur’an terpengaruh oleh agama Yahudi. Ada beberapa hal,
pertama, dalam hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin, yang kedua,
kehidupan.
3. Jhon Wansbrough
memulai karir akademiknya pada tahun 1960. Saat itu ia bekerja sebagai
ini ditulis oleh John Wansbrough dalam kurun 1968 sampai Juli 1972 dan dicetak
oleh Oxford University Press pada tahun 1977. Karya lain yang ditulis John
61
Theodor Noldeke, The Geschichte des Qorans, terj. Wolfgan H. Behn, The History of The
Qur’an, edisi baru (Leiden: Brill, 2003), 14.
62
Suryadilaga, Kajian atas Pemikiran Jhon Wansbrough, 91-92.
42
Symposium fur Rudolf Suhnel, “Arabic Rethoric and Qur’anic Exegesis”, dalam
Islamic Salvation History. Dari sini nampak bahwa John Wansbrough sangat
intens dalam mengkaji al-Qur’an dan yang terkait di dalamnya. Sampai di sini,
tidak banyak hal yang ditemukan berkenaan dengan pribadi John Wansbrough
Secara umum karya John Wansbrough memberikan kritik yang tajam atas
imitasi (tiruan) dari kenabian Nabi Musa as. yang dikembangkan secara teologis
disusun sebagai teologi Islam tentang kenabian.64 Oleh karena itu, pemikiran
lainnya baik di kalangan orientalis Barat maupun umat Islam pada khususnya.
64
John Wansbrough, Quranic Studies: Source and Methods of Scriptual Interpretation
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 56-57.
43
tokoh yang lebih cocok untuk masalah ini. Wansbrough memiliki pendapat
awal Islam, khususnya proses turunnya wahyu dan era kodifikasi al-Qur’an.
Tidak ada bukti literal atau manuskrip sederhana yang dapat memberikan fakta
berlanjut ketika ternyata ada perbedaan pendapat antara masa nabi dan para
penulis al-Qur'an pada masa Utsman. Kedua, dia percaya bahwa satu-satunya
bukti yang valid adalah al-Qur'an. Konsekuensi dari pandangan ini, Wansbrough
bahwa sistem kodifikasi al-Qur'an sama dengan sistem kodifikasi Kitab Suci dan
65
Ulfiana, "Otentisitas Al-Qur'an Perspektif John Wansbrough", Ushuluna: Jurnal Ilmu
Ushuluddin 5, no. 2, (Desember 2019), 215-216.