0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan28 halaman

Sejarah Kesarjanaan Barat Al-Qur'an

Dokumen ini membahas sejarah kajian al-Qur'an di Barat sejak abad ke-12. Kajian ini pertama kali dilakukan oleh sarjana Yahudi dan Kristen untuk memahami ajaran Islam. Kajian ini kemudian berkembang dengan munculnya berbagai pendekatan dan metode baru.

Diunggah oleh

agilmunawar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan28 halaman

Sejarah Kesarjanaan Barat Al-Qur'an

Dokumen ini membahas sejarah kajian al-Qur'an di Barat sejak abad ke-12. Kajian ini pertama kali dilakukan oleh sarjana Yahudi dan Kristen untuk memahami ajaran Islam. Kajian ini kemudian berkembang dengan munculnya berbagai pendekatan dan metode baru.

Diunggah oleh

agilmunawar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KESARJANAAN BARAT DALAM STUDI Al-QUR’AN

A. Sejarah Kesarjanaan Barat Dalam Studi Al-Qur’an

Studi tentang al-Qur’an memiliki sejarah panjang di Barat. Dimulai dengan

kekalahan yang dialami oleh orang-orang Kristen dalam Perang Salib, para sarjana

Barat mulai memulai interaksi mereka dengan al-Qur’an untuk mengetahui lebih

lanjut tentang ajaran Islam. Selama hampir sepuluh abad, kaum Orientalis telah

memperkenalkan berbagai model pendekatan, karakteristik pemikiran, hingga

berbagai tuduhan kontroversial yang tidak berdasar terkait dengan al-Qur’an. Jika

dilihat lebih dekat, menjadi jelas bahwa bahkan di antara para peneliti Barat

berlangsung dialektika yang tak ada habisnya. Dialektika ini, baik berupa dukungan

maupun kritik, membuat kajian al-Qur'an tampak lebih hidup dan dinamis di Barat.1

Ketertarikan para peneliti Barat untuk mempelajari Islam secara umum dan

mempelajari al-Qur'an secara khusus telah berlangsung sangat lama. Sejak abad ke-

12, para sarjana Barat mulai melakukan kajian terhadap al-Qur’an, yang di sisi lain

masih bersifat pembelaan dan penuh nuansa polemik. Studi ini pertama

kali dipelopori oleh para sarjana Yahudi dan Kristen yang memulai gerakan yang

dimulai oleh Gerbert de Aurilac untuk menerjemahkan al-Qur’an ke dalam beberapa

bahasa Eropa. Dan orang pertama yang memiliki ide untuk menerjemahkan al-Qur’an

ke dalam bahasa Latin adalah Petrus Venerabilis, Kepala Biara Cluny di Prancis.2

1
Ihwan Agustono, “Potre Perkembangan Metodologis Kelompok Orientalis Dalam Studi Al-
Qur’an”, Studia Quranika 4, no.2 (Januari 2019).

2
Evi Yanti, “Kajian Sarjana Barat Terhadap Pendekatan Studi Al-Qur’an”, [Link],
[Link] sarjana barat terhadap pendekatan studi al-quran/ (17 Juni 2023)

16
17

Saat berkunjung ke Spanyol pada tahun 1142 Masehi Petrus terpesona dengan

kalangan Katolik yang berbahasa Arab mereka hidup di bawah pemerintahan dinasti

Islam. Petrus kemudian menggunakannya untuk menerjemahkan al-Qur’an ke dalam

bahasa Latin. Proyek ini direalisasikan oleh Pedro de Toledo, Herman de Dalmatie,

pendeta Inggris Robert Kennet dan dibantu oleh seorang Muslim dengan nama

samaran Muhammad. Seorang Muslim yang identitasnya misterius, ia bekerja sebagai

penerjemah teks bahasa Arab ke bahasa Spanyol, kemudian orang lain mengedit

terjemahannya. Kemudian proyek itu selesai pada tahun 1143 M. Kemudian, kajian

al-Qur’an diikuti oleh berbagai kajian Islam yang lebih sering menggunakan metode

filologis.3

Sejak seperempat terakhir abad ke-20, Studi tentang al-Qur’an telah meningkat

secara signifikan. Di kalangan umat Islam yang mempelajari al-Qur’an terdapat

tokoh-tokoh yang tidak kalah modern seperti Fazrul Rahman, Quraish Shihab, Farid

Esack, Asghar Ali Engineer dan lain-lain.4 Tak mau kalah dengan sarjana Muslim,

kajian al-Qur’an non-Muslim di dunia Barat menunjukkan kecenderungan yang

sama. Hal ini terbentuk oleh munculnya kajian al-Qur’an Timur dari Barat, seperti

Arthur Jhon Arberry, Richard Martin, John Wansbrough, Andrew Rippin, Jane

Dammen McAuliffe, Gabriel Saod Reynolds dan Angelika Neurwirth. Karya-

karya mereka yamg berkaitan dengan kajian al-Qur'an tersebar dalam bentuk artikel

yang disajikan dalam berbagai seminar, artikel yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah

internasional, buku dan lain-lain.5

3
Ibid.

4
Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsuddin, “Studi Al-Qur’an Kontemporer: Wacana Baru
Berbagai Metode Tafsir”, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), 1.
18

Berbeda dengan kajian tafsir dalam tradisi Islam, dikemukakan bahwa kajian

al-Qur'an dalam tradisi orientalis Barat memiliki bidang kajian dan ruang lingkup

yang lebih bervariasi dari pada kajian tafsir. Kajian tersebut meliputi kajian teks al-

Qur’an, sejarah al-Qur’an, periodisasi al-Qur’an, kandungan al-Qur’an, persoalan

otentisitas al-Qur’an, serta hubungan al-Qur’an dengan teks-teks keagamaan

sebelumnya.6 Dari sekian banyak cabang kajian ini, apabila dikelompokkan maka

kajian al-Qur’an dalam tradisi keilmuan Barat pada umumnya terbagi menjadi dua

topik utama, yaitu: Pertama, kajian al-Qur'an sebelum kodifikasi (kajian al-Qur'an

sebagai tradisi lisan); dan kedua, kajian al-Qur'an setelah kodifikasi (kajian al-Qur'an

sebagai teks tertulis). Tema pertama ini, menurut beberapa orientalis Barat,

merupakan kelemahan tradisi kajian al-Qur'an di dunia Islam, karena belum banyak

disikapi oleh para mufassir Islam, padahal di dunia Barat ia selalu mewarnai kajian-

kajian dari para akademisi studi al-Qur’an, terlepas dari beragamnya fakta yang

menjadi titik fokusnya.7

B. Faktor yang Melatarbelakangi Munculnya Gerakan Pengkajian al-Qur’an di

Dunia Barat

Ada beberapa pendapat yang juga menganalisis faktor-faktor yang

melatarbelakangi gerakan kajian al-Qur'an di bidang akademik Barat. Pendapat

pertama dan paling representatif, Qadhi Baha'uddin Ibnu Syaddad dalam bukunya,

An-Nawadir as-Sulthaniyyah wa al-Mahasin al-Yusufiyyah, bahwa lahirnya

5
Abdullah Saeed, The Qur’an: an Introdution, terj. Sulkhah dan Sahiron Syamsuddin,
Pengantar Studi al-Qur’an (Yogyakarta: Baitul Hikmah Press, 2016), 153-165.
6
Yusuf Rahman, “Trend Kajian al-Qur’an di Dunia Barat”, Studia Insania 1, no. (1 April
2013), 1-2.

7
Zayad Abd. Rahman, “Angelika Neuwirth: Kajian Intertekstualitas dalam QS. Al-Rahman
dan Mazmur 136”, Empirisma 24, no. 1 (Januari 2015), 113.
19

Orientalisme disebabkan oleh perang berdarah yang berkecamuk di Andalusia antara

pasukan Muslim dan Kristen, terutama setelah Alfonso VI. 1085 berhasil

menaklukkan Toledo.8

Akibat dari peristiwa tersebut, lahirlah gerakan tobat dan penghapusan dosa

yang berpusat di Biara Cluny. Ritual suci itu diprakarsai langsung oleh otoritas gereja

dan para pendeta Venesia di bawah pimpinan Santo Peter the Venerable dari Prancis

(1092-1156). Dari tempat suci Kristen ini tumbuh semacam tradisi keagamaan baru

yang khas Kristen Spanyol, dengan semua kitab dan upacara ritualnya. Mereka juga

mendirikan sekte Kristen Katolik sebagai agama resmi yang langsung dan murni.

Gereja mengklaim bahwa kekristenan Spanyol yang ada dinodai oleh

percampurannya dengan unsur-unsur Islam. Para pendeta biara Cluny juga

menjadikan Santo James (Ya’kub, saudara Isa Al-Masih Menurut Perjanjian baru)

sebagai sosok pelindung baru bagi umat Kristiani di Spanyol. Bahkan, mereka juga

berhasil menyebarkan propaganda tentang kesucian gereja Saint James di kota

Santiago melalui cabang cabang biara mereka di seluruh Eropa.9

Kemudian gerakan Kristen Cluny memulai perang suci (perang salib) melawan

Kristen Spanyol yang dianggap sesat dan kemudian melawan Muslim Spanyol.

Padahal, bangsa Eropa yang menjadi penduduk asli Andalusia, meski umumnya

menganut agama Kristen, banyak dipengaruhi oleh budaya Islam. Hegemoni

peradaban ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari mereka yang berbicara bahasa

Arab, mengenakan pakaian Arab, mempraktikkan adat Arab, dan kuliah di universitas

Arab. Bahasa Arab dikenal dan digunakan oleh mereka tidak hanya sebagai bahasa

8
Qasim Assamurai, Al-Istisyraaqu Bainal Maudhu’iyyati wal-Ifti’aaliyyah, terj. Syuhudi
Ismail, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), 29.

9
Ibid, 29.
20

sehari-hari, tetapi juga sebagai bahasa ilmiah. Bahkan raja Spanyol sendiri, Raja Peter

I dari Aragon (lahir tahun 1104), hanya bisa membaca dan menulis dalam bahasa

Arab. Orang-orang Spanyol Kristen benar-benar terpesona oleh peradaban Islam yang

agung.10

Pendapat kedua, W. Montgomerry Watt dalam karyanya The Influence of Islam

on medieval Europe yang menyatakan bahwa lahirnya orientalisme tidak dapat

dipisahkan dari peristiwa Perang Salib segera setelah adanya gesekan politik dan

agama antara Islam dan Barat-Kristen di Palestina. Permusuhan politik antara Islam

dan Barat semakin memuncak pada era Nur al-Dîn Mahmud al-Zanki (1118-1174) 11

dan Salâhhuddîn al-Ayyubi (1138-1193), sosok gagah berani yang berhasil

mempersatukan Mesir dan Syria di bawah panji-panji Islam. 12 Konflik agama dan

politik berlanjut sebagai akibat kekalahan beruntun pasukan Kristen melawan

Muslim. Ini meninggalkan kebencian yang mendalam dan memaksa dunia Barat

untuk membalas kekalahan mereka.13

Pendapat ketiga, menurut misionaris kristen bahwa kelahiran Orientalisme

muncul, pertama, dari kebutuhan Barat untuk menolak Islam, dan kedua, untuk

menemukan alasan kekuatan yang memotivasi umat Islam, terutama setelah jatuhnya

Konstantinopel pada tahun 857 (1453 M) serta tibanya pasukan Turki Usmani ke

perbatasan Wina. Islam merupakan benteng yang mencegah penyebaran agama

10
Agustono, Potre, 164.

11
Carole Hillenbrand, The Crusade: Islamic perspectives, terj. Heryadi, Perang Salib: Sudut
Pandang Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 2007), 30.

12
W. Montgomery Watt, The Influence of Islam on medieval Europe, terj. Hendro Prasetyo,
Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1995), 82.

13
Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan, 28.
21

Kristen.14 Beberapa percaya bahwa asal mula Orientalisme, terutama di kalangan

teolog terletak pada kebutuhan mereka untuk memahami kaum intelektual Semit yang

berhubungan dengan Taurat dan Injil. Untuk tujuan ini, mereka melakukan upaya

serius dalam mempelajari bahasa Ibrani, Aram dan Arab, serta literatur bahasa-bahasa

tersebut. Dalam konteks ini, maksudnya adalah pengetahuan bahasa Arab tidak boleh

lebih rendah dari pengetahuan bahasa Ibrani untuk menerjemahkan Kitab Suci dari

bahasa Ibrani ke bahasa Latin dengan terjemahan yang baik. Bahkan, Schultens,

seorang orientalis Belanda, dalam disertasinya berargumen tentang keunggulan

bahasa Arab dalam menafsirkan Injil.15

Pendapat keempat, Najib al-Aqiqi dalam al-Mustasyrikun menyatakan bahwa

Orientalisme muncul dari penjajahan Eropa atas negara-negara Arab dan Muslim di

Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tenggara serta kebutuhan mereka untuk

memahami adat istiadat dan agama bangsa-bangsa jajahan itu demi memperkokoh

kekuasaan dan dominasi ekonomi mereka pada bangsa-bangsa jajahan. Semua ini

mendorong mereka untuk mempromosikan studi Orientalisme dalam berbagai

bentuknya di universitas-universitas dengan perhatian dan dukungan dari pemerintah

mereka. Beberapa dari mereka menggabungkan semua faktor dan tujuan tersebut dan

menambahkan alasan tambahan yang mendukung atau menyebabkan lahirnya

Orientalisme dan Studi Ketimuran.16

Kajian tentang Timur ternyata bermanfaat jika antara lain digunakan dalam

kegiatan komersial, pekerjaan misionaris, dan kekristenan di kalangan umat Islam.

14
Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan, 32.

15
Ibid, 32.

16
Ibid, 32-33.
22

Karenanya, dalam institusi-institusi keagamaan, seperti Vatikan dan gereja-gereja

besar, para pengikutnya diseluruh Eropa mulai membuka sekolah-sekolah yang

mengajarkan bahasa Arab pada biarawan-biarawan penginjil. Para Raja, gubernur,

dan walikota diharuskan membuka sekolah yang mengajarkan bahasa Timur di setiap

ibu kota dan menunjuk seorang guru profesional untuk mengajar bahasa oriental di

universitas. bahwa mereka baik-baik saja.17

Setiap pihak yang mengungkapkan pendapat-pendapat di atas sama-sama

memiliki bukti induktif (pengamatan atau data yang spesifik), logika dan argumentasi

yang dianggap untuk mendukung dan membenarkan pendapat masing-masing. Dalam

hal ini, setiap orang membela dan mempertahankan pendapat yang dianggap benar.

Dengan kata lain, setiap orang berhak untuk mengajukan suatu pendirian dengan

mengajukan argumentasi. Semua pendapat harus diterima untuk diskusi lebih lanjut.

Baru jika memang keliru, pendapat-pendapat tersebut disanggah. Patut dicatat bahwa

dalam evaluasi historis dan argumen-argumen logis, mereka tidak menyebutkan

pengaruh pemikiran Islam terhadap pemikiran keagamaan Kristen di Abad

Pertengahan. Mereka juga tidak menyebutkan pemikiran Islam dalam Gereja Katolik

dan bekas-bekasnya di Vatikan dalam kekuasaan keagamaan dan keduniawian.

Semua ini dapat dibuktikan dengan dokumen palsu Kaisar Konstantinus dan para

uskup Roma terdahulu.18

Provokasi semacam inilah yang diyakini menjadi salah satu faktor dari lahirnya

gerakan orientalisme di kalangan kesarjanaan Barat. berangkat dari hal

tersebut, bahasa Arab dianggap sebagai bahasa yang harus dipelajari dan karena itu

17
Assmurai, Bukti-bukti Kebohongan, 33.

18
Ibid, 33.
23

dimasukkan dalam kurikulum universitas Eropa, misalnya di Bologna (Italia) pada

tahun 1076, di Chartres (Prancis) pada tahun 1117 dan di Oxford (Inggris). Pada

tahun 1167 dan Universitas Paris pada tahun 1170. Perhatian Eropa terhadap

peradaban Islam semakin meningkat. Misalnya, pengajaran bahasa Arab dimulai di

Roma pada tahun 1303, di Florence pada tahun 1321, dan di Gregory pada tahun

1553. Di Prancis pada tahun 1217, di Montpellier pada tahun 1220, dan di Bordeaux

pada tahun 1441. Adapun Cambridge, pengajaran bahasa Inggris dimulai pada 1209

dengan pengajaran bahasa Arab. Di bagian lain Eropa, pengajaran bahasa Arab

dimulai setelah abad ke-15.19

Dari uraian di atas jelas bahwa gerakan orientalis yang tujuan utamanya

mengkaji peradaban Islam dan bahasa Arab memang menjadi sumber inspirasi bagi

generasi masyarakat Eropa dan Barat sekaligus sebagai tindak lanjut dari tragedi

Perang Salib. Lambat laun, penelitian itu dikaitkan dengan materi ilmiah yang diakui

secara internasional, yang menjadi wacana populer di kalangan

akademisi. Orientalisme hampir dapat dijumpai pada setiap Universitas Barat, hal ini

dapat dilihat dengan banyaknya jumlah sarjana dan pengkaji di berbagai bidang

spesifikasi ketimuran yang memperoleh dana sebagai jaminan masa depan mereka

dan kontribusi dalam menjaga keberlangsungan dunia akademik. mereka dan

membantu menjaga keberlangsungan akademi. 20

Semua spesialis di bidang orientalisme telah mengalami betapa sempurna

kekuasaan, kekuatan pemerintah, parlemen dan seminari gereja yang memposisikan

segala kemungkinan dalam undang-undang mereka, demi terlaksananya berbagai

19
Agustono, Potre, 165-166.

20
Ibid, 166-167.
24

kajian, penelitian, interpolasi, dan untuk memelihara minat pengetahuan serta

semangat praktisi terhadap kajian-kajian orientalisme. Juga, secara politis dan

ideologis, bidang ilmu ini memiliki keuntungan yang sangat besar bagi negara-negara

Barat. Memang, perhatian serius dan dukungan penuh yang diberikan kepada

Studi Ketimuran oleh penguasa dan pihak Gereja merupakan indikasi yang jelas

tentang tujuan dan manfaat Studi Oriental. Selain itu, Mustafa Maufur menjelaskan

bahwa fenomena ini merupakan bukti nyata bahwa gerakan orientalisme hampir

selalu merepresentasikan ideologis dan intelektual Barat sebagai anak kandung

imperialisme terhadap dunia Timur (orrent).21

C. Perkembangan Metodologis Kesarjanaan Barat dalam Studi al-Qur’an

Sebelum memulai analisis mendalam terhadap berbagai pendekatan yang

digunakan para orientalis dalam mengkaji al-Qur'an, mulai dari tahap awal Studi al-

Qur'an di Barat hingga saat ini (abad ke-20), penegasan definisi Terminologi Studi al-

Qur'an dari Perspektif Orientalis. Menurut Manfred S. Kroop, Qur’anic studies atau

lebih khusus lagi academic study of the Qur’an (kajian akademik tentang al-Qur'an)

adalah bentuk penelitian akademik yang fokus pada pemahaman dan analisis teks

serta sejarah al-Qur'an. Tujuan utamanya adalah untuk mengkaji dan menunjukkan

sejauh mana teks dan sejarah al-Qur'an dapat diungkap dan dipahami dengan bantuan
22
akal manusia. Selain itu, dari pengertian di atas dapat ditegaskan bahwa objek

penelitian dalam Qur’anic studies adalah teks al-Qur'an. Hal ini Sangat penting untuk

membedakan studi al-Qur'an dari studi Tafsir yang objeknya adalah penafsiran

21
Mustafa Maufur, Orientalisme Serbuan Ideologi dan Intelektual, (Jakarta: Pustaka Kautsar,
1995) 18.

22
Manfred S. Kroop (ed.), Results of Contemporary Research on the Qur’an: The Question of
a Historico-Critical Text of the Qur’an, (Beirut: Orient-Institute Beirut, 2007), 1.
25

penafsiran manusia terhadap teks al-Qur'an. Meskipun dalam konteks Kesarjanaan al-

Qur'an di Barat, penafsiran merupakan bagian dari Studi al-Qur'an.23

Ketertarikan non-Muslim dalam mempelajari Islam secara umum dan

mempelajari al-Qur'an secara khusus telah ada sejak lama. Sejak abad ke-12, para

orientalis telah mulai mempelajari al-Qur’an, namun masih sangat bersifat sangat

apologetik dan penuh dengan nuansa polemik. Kajian yang dipelopori oleh para

sarjana Yahudi dan Kristen, kajian ini biasanya mengambil bentuk awalnya sebagai

gerakan menerjemahkan al-Qur'an ke dalam beberapa bahasa Eropa, dan seringkali

disertai dengan beberapa catatan tambahan atau komentar singkat yang bernada

provakatif dan sangat memojokkan Islam yang kala itu sedang berkembang pesat di

berbagai wilayah Kristen.24

Menurut Gerhard Endress, istilah “Orientalisme” pertama kali muncul di

Inggris pada akhir periode ini, yaitu tahun 1779. Meski nama bidang kajian

orientalisme baru diberikan pada abad ke 18, namun telah aktif sejak abad ke-8.

Padahal, kajian serius tentang Orientalisme baru bisa ditelusuri kembali ke abad ke-

16.25 Oleh karena itu, perkembangan Orientalisme dibagi menjadi empat fase: Fase

pertama dimulai pada abad ke-16. Pada fase ini dapat dikatakan bahwa Orientalisme

merupakan simbol dari gerakan anti-Islam yang dipimpin oleh Yudais dan Kristen.

Bagi orang Eropa, Islam adalah trauma yang tidak akan pernah berakhir. Southern

menulis dalam bukunya Western Views of Islam in the Middle Ages bahwa Kristen

23
M. Amin Abdullah, Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift untuk M.
Amin Abdullah, ed. Moch. Nur Ikhwan dan Ahmad Muttaqin, (Yogyakarta: CISForm, 2013), 96.

24
Agustono, Potre, 169.

25
Hamid Fahmy Zarkasyi, “Tradisi Orientalis dan Framework Studi Al-Qur’an”, Jurnal
Tsaqafah 7, no. 1 (April 2011) 5.
26

yang sesat (misguided version of Christianity). Bahkan tidak sedikit yang menulis

bahwa Muhammad adalah penyebar wahyu palsu. penipu, tidak jujur, dll, semua

bersumber dari ajaran agama yang dianutnya.26

Fase kedua Orientalisme terjadi pada abad ke-17 dan ke-18 Masehi. Fase kedua

ini merupakan fase penting Orientalisme karena merupakan gerakan yang

bersamaan dengan modernisasi Barat. Barat tertarik mempelajari bagaimana Islam

bisa menjadi peradaban yang andal selama 7 abad. Selama periode ini, raja dan ratu

Eropa setuju untuk mendukung pengumpulan semua jenis informasi tentang

ketimuran. Meski Barat membutuhkan Islam, api permusuhan tetap menyala. Oleh

karena itu, mereka tidak hanya mengumpulkan informasi tentang Timur, tetapi juga

menyebarkan informasi negatif tentang Timur kepada masyarakat Barat.27

Fase ketiga Orientalisme adalah abad ke-19 dan seperempat pertama abad ke-

20, fase ini merupakan fase terpenting Orientalisme baik bagi umat Islam maupun

Orientalis itu sendiri. Karena pada saat itu, Barat sebenarnya menguasai negara-

negara Muslim secara politik, militer, budaya, dan ekonomi. Mungkin karena orang-

orang Barat datang ke negara-negara Muslim dan menguasainya, mereka dengan

mudah mendapatkan materi tentang Islam. Oleh karena itu, pada waktu yang hampir

bersamaan lembaga-lembaga studi keislaman dan ketimuran didirikan di mana-mana.

Dengan berdirinya pusat-pusat studi keislaman, kerangka penelitian orientalis

berubah dari fase caci maki menjadi serangan yang sistematis dan ilmiah. Tetapi

sistematis dan ilmiah tidak berarti sempurna dan bias. 28 Fase keempat Orientalisme

26
Zarkasyi, Tradisi, 5.

27
Ibid, 5.

28
Ibid, 6.
27

ditandai dengan Perang Dunia II. Islam dan ummat Islam adalah topik penelitian

yang populer, terutama di Amerika. Penelitian ini tidak hanya melayani tujuan

akademik tetapi juga politik dan ekonomi. sekali lagi pada fase ini kajian

Orientalisme kembali berubah lagi dari sentimen keagamaan yang vulgar ke sentimen

yang lebih ringan.29 Cantwell Smith terang-terangan mengatakan “Pencarian ilmu

selalu siap merubah hypotesanya. Faktanya memang orang orang Barat non-Muslim

baru saja mulai memperlembut (sikapnya terhadap Islam) dan bahkan menarik kata

‘tidak’nya”.30

Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1792, istilah “Orientalisme”

menyusul dan juga diperkenalkan di Perancis. Menurutnya, pada masa itu orientalis

lebih banyak menggunakan metode filologis dalam melakukan berbagai kajian Islam.

Metode ini diterapkan pada berbagai karya dan manuskrip keIslaman. termasuk Kitab

Suci al-Qur’an. Tidak jarang karya-karya tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai

bahasa Eropa modern agar lebih mudah untuk dikonsumsi oleh mereka, sebagaimana

yang lazim dilakukan oleh para pendahulu mereka. Inilah salah bentuk pendekatan

filologi kesarjanaan Barat ketika itu. Bahkan, Endress dengan tegas menyebutkan

bahwa pada akhir abad ke-18, pendekatan oriental-filologi ini secara masif mulai

dimunculkan (the rise of oriental philology).31 Namun demikian, metode filologi ini

tetap tidak dapat dipisahkan dari semangat polemik-apologetik Kristiani terhadap

Islam yang selalu berujung pada berbagai pandangan negatif seputar Islam dan al-

29
Zarkasyi, Tradisi, 6.

30
W. Cantwell Smith, On Understanding Islam-Selected Studies, (the Hague: Mounton
Publishers 1981), 296.

31
Agustono, Potre, 170.
28

Qur’an. Kajian-kajian apologetik semacam ini berlangsung kira-kira enam abad,

hingga akhir abad ke-18.32

Pada abad ke-19, atau sejak memasuki periode orientalisme yang kedua,

kajian al-Qur’an di Barat mulai mengalami perubahan signifikan, dari kajian yang

murni bersifat apologetik dan polemik menjadi kajian yang mulai menapaki sifat

akademisnya. Bahkan, beberapa Sarjana Barat modern mengatakan bahwa studi

akademis tentang al-Qur'an dimulai pada abad ke-18, meski belum masif.

Menurut mayoritas sarjana Barat, studi akademis pertama tentang al-Qur'an pada

abad ke-19 ditandai dengan karya Abraham Geiger “What Did Mohammad Gather

from Judaism?” Yang terbit pada 1833. Walaupun dipenuhi dengan berbagai

kontroversi, karya Geiger ini menurut Angelika Neuwirth dianggap sebagai karya

akademik pertama tentang Qur’anic studies yang pernah ditulis oleh seorang

orientalis di Barat. Hal ini karena ia mulai meninggalkan sifat apologetiknya dan

beralih ke pendekatan baru yang lebih deskriptif, yaitu pendekatan historical-criticism

(kritik historis).33

Pendekatan kritik historis ini awalnya diterapkan pada Bibel oleh para sarjana

Barat (Biblical Criticism). Ketika pendekatan ini diterapkan pada Bibel, pendekatan

ini bertugas memisahkan berbagai legenda dan mitos dari fakta sejarah yang

sebenarnya. Dia juga memeriksa mengapa para penulis Bibel melaporkan versi yang

berbeda dan akhirnya mencoba untuk menentukan mana yang betul-betul perkataan

Yesus dan mana yang merupakan tambahan-tambahan dari luar. Dalam pendekatan

ini, ada beberapa jenis kritik lain yang berkaitan dengan metode kritik historis, antara

32
Abdullah, Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift untuk M. Amin
Abdullah, 97.

33
Agustono, Potre, 170-171.
29

lain kritik teks (textual criticism) contoh karya: "The Collection of the Qur'an: A

Reconsideration of Western Views in Light of Recent Methodological Developments"

oleh Muhammad Mustafa al-Azami, kajian filologis (philological study) contoh

karya: "Studies in Semitic Philology" oleh William Wright, kritik sastra (literary

criticism) contoh karya: "The Qur'an as Text" oleh Stefan Wild, kritik bentuk (form

criticism) contoh karya: “The Qur'an and the Bible: Text and Commentary” oleh

Gabriel Said Reynolds, dan kritik redaksi (redaction criticism) contoh karya: “The

Origins of the Koran: Classic Essays on Islam's Holy Book” oleh Ibn Warraq. Model

pendekatan inilah yang kemudian ingin diterapkan para orientalis terhadap teks al-

Qur’an.34

Abraham Geiger sendiri memanfaatkan kritik historis ini, yang dalam

prakteknya ia padukan dengan metode filologi, sebagai alat analisis untuk

menunjukkan pengaruh tradisi Yahudi dan Kristen yang terkandung dalam al-Qur’an.

Dengan kata lain, Geiger mencoba mengatakan bahwa al-Qur’an bukanlah produk

transenden (wahyu dari Tuhan) melainkan karangan Nabi Muhammad yang

terinspirasi (jiplak) dari tulisan Yahudi-Kristen dan tradisi Jahiliyah. Baginya, al-

Qur’an tidak lebih dari tiruan dari kitab-kitab yang ada sebelumnya yang diadopsi

oleh Muhammad. Adapun bukti yang ia hadirkan berupa kumpulan kata-kata yang ia

peroleh dari analisis filologis ayat-ayat al-Qur’an, yang menurutnya memiliki banyak

kesamaan dengan kosa kata yang diyakininya berasal dari tradisi Yahudi-Kristen.35

34
Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an; Kajian Kritis (Jakarta: Gema
Insani Press, 2005), 44-47.

35
Abraham Geiger, Judaism and Islam. A Prize Essay (Banglore: Madras: Printed at the
M.D.C.S.P.C.K. press and sold at their depository, Vepery, 1898) 75-151.
30

Dengan pendekatan kritis historis, maka Geiger berusaha membawa al-Qur’an

kembali ke zaman kuno akhir dan mempertanyakan orisinalitas dan historisitas dari

kitab suci ini, sedangkan metode filologis ia pergunakan untuk menganalisa setiap

kata atau frase dalam al-Qur’an yang dicurigainya merupakan hasil imitasi dari

tradisi-tradisi sebelumnya. Dalam konteks inilah, Geiger dianggap sebagai orang

pertama yang merintis kajian berdasarkan intertekstualitas al-Qur'an, yakni ketika ia

mencoba mencari asal-usul al-Qur'an dalam kitab-kitab dan tradisi keagamaan yang

sudah ada sebelumnya.36

Para Orientalis yang semasa Geiger, seperti Theodor Noldeke dengan sebuah

karya Geschichte des Qorâns yang diterbitkan tahun 1860 (disebut Târikh al-Qur'ân

dalam edisi bahasa Arab), Arthur Jeffery dengan karyanya The Foreign Vocabulary of

the Qur'an (terbit tahun 1938 ), Juga karya Juedische Elements in the Quran (Elemen

Yahudi dalam al-Qur’an) oleh H. Hirschfeld yang diterbitkan pada tahun 1878, dan

beberapa karya serupa dari periode ini tampaknya konsisten menggunakan model

pendekatan kritik historis ini. Secara umum, para orientalis ini yang disebut oleh

Yusuf Rahman kelompok "old orientalism", ini sampai pada suatu kesimpulan yang

sama dengan fokus pada studi tentang what is behind the text (apa yang berada di

balik teks al-Qur’an), mereka tampak sepakat bahwa al-Qur'an bukanlah wahyu

transenden dari Tuhan, melainkan merupakan hasil karya Nabi Muhammad

yang terinspirasi oleh tradisi yang sudah ada sebelumnya. Dalam bahasa yang lebih

ekstrem, al-Quran dikatakan sebagai tiruan dari teks Yahudi-Kristen.37

36
Agustono, Potre, 172.

37
Rahman, Trend, 1-2.
31

Fazlur Rahman dalam The Major Themes of the Qur’an menyebutkan 3 tipe

karya orientalis tentang al-Qur’an. Pertama, karya-karya yang berusaha

menunjukkan keterpengaruhan al-Qur’an dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Kedua,

karya-karya yang mencoba untuk membuat urutan kronologis dari ayat-ayat al-

Qur’an. Ketiga, karya-karya yang bertujuan untuk menjelaskan semua atau hanya

sebagian aspek tertentu saja di dalam ajaran al-Qur'an.38 Dalam kajian orientalisme,

pendekatan semacam itu yang selalu menghubungkan al-Qur’an dengan teks Yahudi

dan Nasrani juga disebut sebagai teori peminjaman dan keterpengaruhan (theoris of

borrowing and influence).39

Memasuki periode ketiga, pendekatan kritik historis terus mewarnai kajian

orientalis, namun dengan titik fokus yang berbeda. Jika pada periode sebelumnya

kajian al-Qur’an diwarnai dengan pertanyaan terkait dan penelitian tentang asal usul

genetik al-Qur’an dalam tradisi Yahudi-Kristen, maka setelah Perang Dunia kedua

pada periode ini sosok pribadi Nabi Muhammad dijadikan sebagai titik pusat utama

dalam kajian al-Qur’an. Perkembangan pemikiran ini dipimpin oleh W. Montgomery

Watt (1909-2006) dalam karyanya Muhammad at Mecca (terbit 1961) dan

Muhammad at Medina (terbit 1956). Ada juga Mohammed und der Koran oleh Rudi

Paret (1901-1983), diterbitkan pada tahun 1957, dan Mohamet oleh Maxime

Rodinson (diterbitkan 1961), yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh

Anne Carter pada tahun 1971. Hampir semua karyanya tersebut secara lugas

menyatakan dengan tegas bahwa al-Qur’an tidak lain adalah cermin atau gambaran

38
Nur Fahrizi dan Muhammad zubir, “Historitas dan Otentisitas Al-Qur’an (Studi Komparatif
Antara Arthur Jeffery Dengan Manna’ Al-Qathan)” QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies 1, no.
2 (2022), 185-186

39
Syamsudin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta: Gema Insani, 2008), 6.
32

nyata dari perkembangan psikologi sosok pribadi Muhammad. Perubahan cara

pandang orientalis terhadap kajian al-Qur'an telah menjadikan tradisi Syria

sebagai salah satu objek kajian yang penting, dan tidak dapat dipisahkan dari bidang

kajian al-Qur'an. Ringkasnya, pada periode ini, Qur’anic scholarship telah bergeser

menjadi “The life of Muhammad’s scholarship”. 40

Kajian al-Qur’an pada akhir abad ke-20 ditandai dengan sebuah karya

kontroversial yang berpengaruh besar bagi kajian al-Qur’an di Barat era sesudahnya,

yaitu kajian al-Qur’an: Qur’anic Studies: Source and Method of Scriptural

Interpretation karya Jhon Wansbrough (diterbitkan 1977). Dalam kajian itu,

Wansbrough juga menggunakan kritik historis untuk mempertanyakan otentisitas dan

keakuratan berbagai informasi kesejarahan yang terkandung dalam al-Qur’an.

Misalnya, ketika ia mempertanyakan proses kanonisasi al-Qur’an, yang menurutnya

tidak terjadi pada abad pertama Hijriah seperti yang diyakini umat Islam sebelumnya,

melainkan pada abad kedua Hijriah, karena memang tidak ada bukti sejarah yamg

netral, terlepas dari sumber-sumber Islamm yang dimotivasi oleh kepentingan atau

motif keagamaan.41

Pendekatan historis ini ia gabungkan dengan metode kritik sumber (source

criticism) untuk mengkritisi kualitas semua sumber pengetahuan sejarah Islam yang

ditulis oleh para ulama Muslim dan diyakini kebenarannya secara umum. Dia

melakukan ini untuk sepenuhnya melindungi tradisi sejarah Islam dari berbagai

pengaruh teologis. Oleh karena itu pertanyaan pertamanya, yang tidak pernah

40
Agustono, Potre, 173.

41
John Wansbrough, Qur’anic Studies: Source and Methods of Scriptual Interpretation, (New
York: Prometheus Books, 2004), 61.
33

ditanyakan oleh umat Islam, adalah, “what is the evidence?” Ketika pertanyaan

tersebut diajukan ke al-Qur'an, itu adalah: “Bukti apakah yang ada untuk mendukung

penjelasan tradisionil tentang kodifikasi al-Qur’an dan sejarah permulaan Islam?

Apakah ada bukti-bukti netral yang tidak sarat muatan kepentingan keagamaan yang

dapat menjelaskan bagaimana agama ini muncul?”.42

Selain metode kritik sumber, Wansbrough juga menggunakan metode analisis

sastra untuk mengidentifikasi faktor eksternal, termasuk sabda Nabi, yang

menurutnya disusupi dan ditambahkan pada redaksi orisinil dari kitab al-Qur’an.

Menurut Wansbrough, genetika al-Qur'an sendiri berasal dari tradisi Yahudi dan

Nasrani yang dipinjam oleh Nabi.43 Dari sini jelas bahwa intertekstualitas

Wansbrough dalam mengkaji al-Qur'an tidak jauh berbeda dengan para orientalis

periode sebelumnya.

Salah satu tokoh viral dikalangan Muslim maupun Non Muslim yang

menggunakan kajian kritik historis dan yang telah membuat pemecahan-pemecahan

tentang Islam terutama kajian orisinalitas terhadap al-Qur’an ialah Arthur Jeffery. Dia

dikenal sebagai ahli sejarah Timur Tengah dan professor bahasa Semit di School of

Oriental Studies di Kairo.44 Arthur Jeffery mulai mempelajari kritik historis al-Qur’an

sejak tahun 1926 dengan menbumpulkan informasi yang bisa didapatkan dari

berbagai sumber seperti tafsir, hadits, kamus qira’ah, karya-karya filologi dan

42
Yusuf Rahman, “Pendekatan Tradisionalis dan Revisionis dalam Kajian Sejarah
Pembentukan al-Qur’an dan Tafsir pada Masa Islam Awal”, Journal of Qur’an and Hadith Studies 4,
no. 1 (2015) 136.

43
Muhammad Alfatih Suryadilaga, “Kajian atas Pemikiran John Wansbrough tentang al-
Qur’an dan Nabi Muhammad”, Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam 7, no. 1 (April 2011) 95.

44
Muhammad Luthfi Dhulkifli, Kontroversi Surat Al-Fatihah Dalam Pandangan Arthur
Jeffery, Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur’an Dan Al-Hadits 13, no. 2, (Desember 2019).
34

manuskrip-manuskrip al-Qur’an.45 Sebelum kehadiran Arthur Jeffery, tidak ada yang

menyangka bahwa seorang Australia termasuk dalam kelompok orientalis Islam yang

mungkin setingkat dan sekelas dengan Theodore Noldeke, Rev Mingana, Snouck

Hurgronje atau Goldziher. Di Melbourne, Australia muncul sebagai salah satu

orientalis Islam terkemuka, terutama melalui kritiknya terhadap al-Qur’an mushaf,

yang kini beredar luas di tangan umat Islam.46

D. Tokoh-Tokoh Kesarjanaan Barat dalam Studi al-Qur’an

Kalangan Orientalis mengkaji al-Qur'an dari berbagai perspektif, tentu yang

dikaji bersumber dari teks-teks al-Qur’an sendiri. Di antara nama-nama Orientalis

yang melakukan studi kritis terhadap al-Qur'an atau studi Islam secara umum

adalah Abraham Geiger (1810-1874), Gustave Weil (1808-1889), William Muir

(1819-1905), Theodor Nӧldeke (1836-1930), Friedrich Schwally (w. 1919), Edward

Sell (1839-1932), Hartwig Hirscfeld (1854-1934), David S. Margoliouth (1858-

1940), [Link]. Clair-Tisdall (1859-1928), Louis Cheikho (1859- 1927), Paul Casanova

(1861-1926), Julius Wellhausen (1844-1918), Charles Cutley Torrey (1863-1956),

Leone Caetani (1869-1935), Joseph Horovits (1874-1931), Richard Bell (1876-1953),

Alphonse Mingana (1881-1937), Israel Schapiro (1882-1957), Siegmund Fraenkel

(1885-1925), Tor Andrae (1885-1947), Arthur Jeffery (1893-1959), Regis Blachere

(1900-1973), W. Montgomery Watt, Kenneth Cragg, John Wansbrough (1928-2002),

45
Taufik Adnan Amal, Rekontruksi Sejarah Al-Qur’an (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi,
2011), 435.
46
Nur Fahrizi dan Muhammad zubir, “Historitas dan Otentisitas Al-Qur’an (Studi Komparatif
Antara Arthur Jeffery Dengan Manna’ Al-Qathan)” QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies 1, no.
2 (2022), 188.
35

S.M. Zwemmer, Andrew Rippin, C. Luxenberg, Danial A. Madigan, Harald Motzki,

dan lain-lain.47

1. Abraham Geiger

a. Biografi Abraham Geiger

Abraham Geiger lahir pada tahun 1810. Dia adalah tokoh Reformasi

Yahudi yang memulai kegiatan usahanya di Breslau, Frankfurt dan Berlin. Pada

usia 17 ia sudah aktif dengan mengambil bagian dalam menulis Mishnah,

perbedaan hukum Talmud dengan Bible, dan Kamus Bahasa Ibrani-

Mishnaic. Pada April 1829 Geiger memulai studinya di Universitas Heidelberg.

Di sana ia banyak belajar filologi, Arkeologi, Filsafat dan Studi Bible. Setelah

menjalani satu semester ia memutuskan untuk pindah ke University of Bonn. Di

tempa tersebut ia bersama rekan-rekannya mengikuti kelompok pemuda Yahudi

yang dipersiapkan untuk menjadi Rabbi. Terbukti kemudian ia masuk dan

ditunjuk sebagai Rabbi di kota Wiesbedan pada tahun 1832.48

Ia mengkaji intensif mengenai dunia Timur dan kemudian keseriusannya ia

tuangkan dalam karya "Was hat Mohammed aus dem Judenthume

aufgenommen?". Artikel ini memenangkan kontes essay dan mengukuhkan

namanya sebagai pakar dunia Timur. Dengan tulisan ini ia juga memperoleh

gelar doktor di University of Marburg. Tulisan ini kemudian karya utamanya

47
Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an; Kajian Kritis (Jakarta: Gema
Insani Press, 2005), 47-48.
48
Wendi Parwanto. "Pemikiran Abraham Geiger Tentang al-Qur'an (Studi Atas Akulturasi
Linguistik, Doktri Dan Kisah Dalam Al-Qur'an Dari Tradisi Yahudi)”, Ilmu Ushuluddin 18, no. 1
(Januari-Juni 2019) 52.
36

yang membahas historis kritis terhadap konsep origin al-Qur’an. Dikenal sebagai

pembaharu Yahudi, Geiger bersama gurunya Leopold Zunz (1794-1886)

mencoba mereformasi di tubuh Yahudi agar menjauh dari konsep agama ritualis.

Geiger juga menjadi pelopor pengakuan kedudukan wanita dalam ruang sosial

dan ritual yang sebelumnya terasing dari tradisi Yahudi.49

Bersama Samuel Holdheim ia mengembangkan konsep masyarakat Yahudi

yang sosialis, modern dan terintegrasi. Ia berupaya menyusun aturan untuk

mengelola identitas dan norma masyarakat Yahudi sebagai bagian dari

masyarakat perkotaan sebagai kelompok jaringan global Yahudi. Abraham

Geiger menghembuskan nafas terakhirnya di Berlin pada tahun 1874 setelah

berjuang keras meraih sukses di dunia akademis dan menuntaskan perjuangan

reformasi sosialis Yahudi.50

b. Pemikiran Abraham Geiger

Deskripsi pemikiran Abraham Geiger tentang al-Qur`an terlihat dalam

bukunya Judaism and Islam, Geiger menjelaskan bahwa al-Qur’an terpengaruh

oleh agama Yahudi dalam hal-hal berikut: (1) linguistik, keimanan dan doktrin,

(2) peraturan-peraturan hukum dan moral, (3) pandangan tentang kehidupan, dan

(4) cerita-cerita dalam al-Qur’an. 51 Berikut beberapa deskripsi pemikrian Geiger

tentang keterpengaruhan al-Qur`an dari Tradisi Yahudi. Menurut Geiger, ada 14

kosa kata al-Qur’an yang diadopsi dari bahasa Ibrani, di antaranya; sakinah,

49
Ibid, 52.

50
Sara E. Karesh dan Mitchell M. Hurvitz, Encyclopedia of Judaism, (New York: Facts on
File, Inc., 2006), 168.

51
Geiger, Judaism, 45-72.
37

taagut, furqan, ma’un, masani, malakut, darasa, tabut, jannatu ‘adn, taurat,

jahannam, rabbani, sabt, dan ahbar.52

Abraham Geiger menganggap ada beberapa aspek keimanan dan doktrin

keagamaan yang diadopsi Nabi Muhammad dari ajaran sebelum Islam, seperti;

tentang penciptaan langit dan bumi beserta segala isinya dalam enam hari. Ia

mengatakan bahwa dalam hal ini pemikiran Nabi Muhammad sejalan dengan

ajaran Bibel. Namun di ayat lain, Nabi Muhammad juga mengatakan bahwa

bumi diciptakan selama dua hari. Ayat ini menurut Abraham, kontradiktif dengan

ayat pertama. Maka dari itu, ia menganggap Nabi Muhammad sangat sedikit

pengetahuannya tentang Bibel, sehingga akhirnya tidak sejalan lagi.53

2. Thedore Noldeke

a. Biografi Theodor Noldeke

Noldeke merupakan pemimpin dari tokoh-tokoh Orientalis Jerman yang

tidak ada bandingnya karena benar-benar mencurahkan segala kemampuan

intelektualnya bagi pengkajian ketimuran. Dia juga memusatkan kajian pada

sastra Yunani, dan mendalami tiga bahasa Semmit, yaitu Arab, Suryani, dan

Ibrani. Noldeke termasuk ilmuwan yang berumur panjang sekitar 94 tahun, dan

dengan usia yang panjang itu, menjadikannya menempati posisi tertinggi di

antara para orientalis Jerman, bahkan di antara semua orientalis.54

52
Ibid, 53.
53
Lenni Lestari, "Abraham Geiger dan Kajian al-Qur'an Telaah Metodologi atas Buku Judaism
and Islam", Suhuf 7, no. 1, (Juni 2014) 48.

54
Abdurrahman Badawi, Mawsu al-Mutasyriqin, terj. Amroeni Drajat, Ensiklopedi Tokoh
Orientalis (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2003), 413.
38

Theodor Noldeke lahir pada 2 Maret 1837 di kota Harburg, sejak 1977

masuk ke dalam wilayah Hamburg, kemudian diangkat menjadi pengawas

sekolah menengah di Hamburg, kemuadian diangkat menajadi pengawas sekolah

menengah di kota Lingen sejak tahun 1849 hingga 1866. Di kota Lingen inilah

(1849-1853), Noldeke mempersiapkan diri untuk memasuki pendidikan tinggi di

bawah arahan ayahnya, dengan mempelajari sastra klasik, yunani, dan latin

namun akhirnya dia tertarik pada kajian bahasa-bahasa Semit. Di antara

alasannya adalah ketika Noldeke hendak masuk Unversitas Gottingen pada tahun

1853, ayahnya menitipkan kepada sahabatnya, H. Ewald, pakar bahasa-bahasa

Semit, terutama bahasa Ibrani, Ewald kemudian mengarahkan Noldeke agar

terlebih dahulu menekunni dua bahasa Semit, yaitu Arab dan Persia beserta

sastranya.55

Noldeke meraih gelar sarjana pertama pada usia 20 tahun, setelah itu ia

mulai mengadakan berbagai penelitian di luar Jerman. pertama Noldeke pergi ke

Wina dan menetap di sana selama satu tahun (1856-1857) untuk mempelajari dan

meneliti mansukrip-manuskrip yang tersimpan di Perpustakaan Wina. setelah

hampir setahun di Wina, Noldeke Kemudian pindah ke Leiden, dari musim

dingin tahun 1857 hingga musim semi tahun 1858. Di sinilah Noldeke

menjumpai manuskrip-manuskrip Arab yang amat banyak, sekaligus para

orientalis yang sangat mumpuni, seperti Dozy, Juynboll, Matyys de Vries, dan

Kuenen. Setelah menetap di Leiden, Noldeke pergi menuju Goeta, Jerman untuk

meneliti manuskrip-mansukrip di sana selama satu bulan. kondisi kesehatan

55
Badawi, Ensiklopedia, 413-414.
39

Noldeke tidak baik, sejak kecil hingga akhir hayatnya selalu dirundung penyakit,

namun anehnya, Noldeke dikarunia umur panjang hingga lebih 94 tahun.56

Pada tahun 1864-1872, Noldeke ditunjuk sebagai Guru Besar bahasa-

bahasa Semit di Universitas Kiel. Pada musim semi tahun 1872, dia diangkat

menjadi guru besar di Universitas Strassburg hingga tahun 1920. padahal

sebelumnya, sejumlah universitas sudah mengundangnya berkali-kali untuk

posisi yang sama, di antaranya Universitas Berlin tahun 1875, Universitas Wina

tahun 1879 untuk yang kedua kalinya, dan Universitas Leipzig tahun 1888. Pada

musim bunga tahun 1920, Noldeke pindah ke kota Karlsruhe kawasan Rien Atas,

tinggal di rumah anaknya yang ketika itu menjadi direktur Jawatan Kareta Api

selama sepuluh tahun, hingga meninggalnya pada 25 Desember 1930. Istrinya,

yang dinikahi tahun 1864, meninggal terlebih dahulu pada tahun 1916. Dari

perkawinannya itu Noldeke dikarunia sepuluh anak putra-putri.57

b. Pemikiran Theodor Noldeke

Dalam banyak tulisannya, Theodor Nöldeke ingin membuktikan bahwa apa

yang selama ini diyakini umat Islam salah. Ia mengatakan bahwa al-Qur’an tidak

orisinal, Muhammad bukanlah seorang yang ummi, melainkan ia sangat akrab

dengan seni menulis yang saat itu dianggap sebagai bukti orang yang berilmu.

Berkat itulah ia mampu menduplikasi ajaran Kristen dan Yahudi. 58 Dengan

menggunakan pendekatan filologis, Noldeke menawarkan kesimpulan yang

berbeda dengan pandangan pada umumnya tentang predikat

56
Ibid, 414-415.
57
Badawi, Ensiklopedia, 416-417.

58
Theodor Noldeke, The Geschichte des Qorans, terj. Wolfgan H. Behn, The History of The
Qur’an, edisi baru (Leiden: Brill, 2003), 3.
40

ummī bagi Muhammad. Menurutnya, tidak benar adanya anggapan umum bahwa

kata ummī dipahami sebagai kebalikan dari “orang yang bisa membaca dan

menulis”. Yang benar adalah bahwa ummī lebih baik dipahami sebagai kebalikan

dari "orang yang mengetahui kitab suci".59 Theodor Nöldeke berkata: “Setelah

kami menelaah secara saksama terhadap seluruh ayat-ayat al-Qur’an, kami

mendapatkan kesimpulan bahwa kata ‫ ﺍﻻﻣﻲ‬adalah kebalikan dari ‫ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﺍﻫﻞ‬ini

menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan kata ummī bukan sebagai kebalikan

dari “orang yang bisa menulis”, tetapi sebagai kebalikan dari “orang-orang yang

mengetahui kitab suci”.60

Noldeke menyimpulkan bahwa dalam penulisa al-Qur’an, Muhammad

memiliki dua karakterisik dalam mengimpor ajaran dari kitab Yahudi dan

Kristen: Pertama, ia menuliskan kedua ajaran tersebut menjadi al-Qur’an

menurut pemahamannya yang terbatas, karena dia tidak bisa melihat kitab-kitab

tersebut secara harfiah. Kedua, ketika menyusun al-Qur'an, Muhammad tidak

memperhitungkan ideologi luar tertentu, karena ia bermaksud untuk menciptakan

ideologinya sendiri. Contoh konkritnya adalah keberadaan Ka'bah dan ajakan

haji. Noldeke mengatakan bahwa itu mengandung unsur-unsur kepercayaan

pagan (menyembah berhala) yang kemudian menjadi kepercayaan Arab dan

aslinya berasal dari ajaran Ibrahim. Muhammad mengambilnya, tetapi benar-

59
Muhammad Rafi, “Theodor Noldeke: Sarjana German Pelopor Kajian Sejarah Al-Qur'an”,
tafsiralqur'[Link], [Link] theodor noldeke sarjana german pelopor kajian sejarah al-
quran/ (26 Juni 2023)

60
Muhammad Rafi, “Theodor Noldeke: Sarjana German Pelopor Kajian Sejarah Al-Qur'an”,
tafsiralqur'[Link], [Link] theodor noldeke sarjana german pelopor kajian sejarah al-
quran/ (26 Juni 2023)
41

benar mengubahnya dan mengadaptasinya agar sesuai dengan cerita Yahudi

sebanyak yang dia ingat.61

Pemikiran yang disampaikan Noldeke ini sebenarnya merupakan sebuah

pengembangan dari pemikir sebelumnya yaitu Abraham Geiger, yang

mengatakan bahwa al-Qur’an terpengaruh oleh agama Yahudi. Ada beberapa hal,

pertama, dalam hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin, yang kedua,

peraturan-peraturan hukum dan moral, dan ketiga, tentang pandangan terhadap

kehidupan.

3. Jhon Wansbrough

a. Biografi Jhon Wansbrough

John Wansbrough adalah seorang ahli tafsir terkemuka di London. Ia

memulai karir akademiknya pada tahun 1960. Saat itu ia bekerja sebagai

pengajar di jurusan sejarah School of Oriental and African Studies (SOAS

University of London). Ia kemudian menjadi dosen Bahasa Arab di Jurusan

Sastra Timur Tengah. John Wansbrough sempat menjabat sebagai direktur di

universitas tempatnya bekerja.62

John Wansbrough adalah seorang pemikir yang produktif, sebagaimana

dibuktikan oleh banyaknya literatur yang telah ditulisnya. Salah satunya

adalah Quranic Studies: Source and Methods of Scriptural Interpretation. Buku

ini ditulis oleh John Wansbrough dalam kurun 1968 sampai Juli 1972 dan dicetak

oleh Oxford University Press pada tahun 1977. Karya lain yang ditulis John

Wansbrough adalah “A Note on Arabic Rethoric” dalam Lebende Antike:

61
Theodor Noldeke, The Geschichte des Qorans, terj. Wolfgan H. Behn, The History of The
Qur’an, edisi baru (Leiden: Brill, 2003), 14.
62
Suryadilaga, Kajian atas Pemikiran Jhon Wansbrough, 91-92.
42

Symposium fur Rudolf Suhnel, “Arabic Rethoric and Qur’anic Exegesis”, dalam

Buletin of the School of Oriental and African Studies, Majas al-Qur’an:

Peripharastic Exegesis, The Sectarian Millieu: Content and Composition of

Islamic Salvation History. Dari sini nampak bahwa John Wansbrough sangat

intens dalam mengkaji al-Qur’an dan yang terkait di dalamnya. Sampai di sini,

tidak banyak hal yang ditemukan berkenaan dengan pribadi John Wansbrough

dan aktivitas keilmuannya di SOAS University of London, walaupun sudah

dilakukan penelusuran lewat internet melalui search engine.63

Secara umum karya John Wansbrough memberikan kritik yang tajam atas

kenabian Muhammad dan al-Qur’an. Kenabian Muhammad dianggap sebagai

imitasi (tiruan) dari kenabian Nabi Musa as. yang dikembangkan secara teologis

untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Arab. al-Qur’an bagi John Wansbrough

bukan merupakan sumber biografis Muhammad melainkan sebagai konsep yang

disusun sebagai teologi Islam tentang kenabian.64 Oleh karena itu, pemikiran

yang dilontarkan John Wansbrough banyak berseberangan dengan pemikir

lainnya baik di kalangan orientalis Barat maupun umat Islam pada khususnya.

b. Pemikiran Jhon Wansbrough

John Wansbrough mengkritik sejarah Islam. Aspek yang dibahas dimulai

dari keberadaan agama Islam (kekuasaan Islam, sejarah al-Qur'an, riwayat

hidup Nabi). Menurutnya, sumber-sumber agama Islam harus memperhatikan

“kritik historis” untuk memperoleh gambaran Islam yang benar tanpa

mengidealkan umat Islam kontemporer. Selain Wansbrough, tidak ada lagi


63
Suryadilaga, Kajian atas Pemikiran Jhon Wansbrough, 92.

64
John Wansbrough, Quranic Studies: Source and Methods of Scriptual Interpretation
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 56-57.
43

tokoh yang lebih cocok untuk masalah ini. Wansbrough memiliki pendapat

tentang al-Qur'an yaitu;

Pertama, skeptisisme umat Islam dan Islamolog Barat terhadap sejarah

awal Islam, khususnya proses turunnya wahyu dan era kodifikasi al-Qur’an.

Tidak ada bukti literal atau manuskrip sederhana yang dapat memberikan fakta

sejarah tentang komposisi al-Qur'an pada periode klasik. Keraguan mereka

berlanjut ketika ternyata ada perbedaan pendapat antara masa nabi dan para

penulis al-Qur'an pada masa Utsman. Kedua, dia percaya bahwa satu-satunya

bukti yang valid adalah al-Qur'an. Konsekuensi dari pandangan ini, Wansbrough

dapat mengkaji Islam hanya dari al-Qur'an. Ketiga, Wansbrough menganggap

bahwa sistem kodifikasi al-Qur'an sama dengan sistem kodifikasi Kitab Suci dan

Taurat. Bahkan, Wansbrough menguji orisinalitas al-Qur’an berdasarkkan the

Old statesment dan New Statesment.65

65
Ulfiana, "Otentisitas Al-Qur'an Perspektif John Wansbrough", Ushuluna: Jurnal Ilmu
Ushuluddin 5, no. 2, (Desember 2019), 215-216.

Anda mungkin juga menyukai