Sekretariat : Jl. Wijaya Kusuma No.
17, Tomang, Jakarta 14440 Telp 021-56962581 Faks 021-5671800
SURAT KEPUTUSAN
No. 020/SK/KIFI/2023
TENTANG
NASKAH AKADEMIK PROGRAM STUDI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA
Menimbang :
a. Naskah Akademik yang merupakan acuan dasar dalam penyusunan berbagai kebijakan dan
peraturan dalam rangka pengembangan program profesi Apoteker Spesialis Farmasi
Interna dengan tujuan untuk mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam
penyelenggaraan Pendidikan setara Spesialis Farmasi Interna dan pendayagunaan Spesialis
Farmasi Interna.
b. Berdasarkan pertimbangan poin a, maka diperlukan pembuatan Naskah Akademik untuk
program studi Apoteker Spesialis Farmasi Interna.
Mengingat :
a. Surat Keputusan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia Nomor : Kep.
065/[Link]/1822/VIII/2019 Tentang Susunan Kepengurusan Kolegium Ilmu Farmasi
Indonesia Ikatan Apoteker Indonesia.
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
pasal 51 ayat (1) Untuk mengembangkan cabang disiplin ilmu dan standar pendidikan
Tenaga Kesehatan, setiap organisasi profesi dapat membentuk Kolegium masing-masing
Tenaga Kesehatan, ayat (2) Kolegium masing-masing Tenaga Kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan badan otonom di dalam Organisasi Profesi dan ayat (3)
Kolegium masing-masing Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bertanggung jawab kepada Organisasi Profesi
c. Anggaran Dasar Ikatan Apoteker Indonesia pasal 25 ayat (4) Apabila dianggap perlu,
pengurus dapat membentuk Dewan, Badan, Komite, Tim atau Panitia untuk mendukung
tugas dan fungsi pengurus.
d. Ikatan Apoteker Indonesia telah melaksanakan pertemuan terkait pembentukan Kolegium
dimaksud dengan Komite Farmasi Nasional, Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi
Indonesia dan Persatuan Ahli Farmasi Indonesia pada tangal 17 November 2015 bertempat
di Bandung.
Menetapkan : NASKAH AKADEMIK PROGRAM STUDI APOTEKER SPESIALIS
FARMASI INTERNA
PERTAMA : Menetapkan Naskah Akademik yang terlampir sebagai Naskah Akademik
Program Studi Apoteker Spesialis Farmasi Interna
KEDUA : Apabila terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, akan dibetulkan
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan
Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 18 Juni 2023
Ketua KIFI,
Prof. Dr. apt. Keri Lestari, [Link].
NA : 27041969032596
Lampiran SK Nomor 020/SK/KIFI/2023 tanggal 18 Juni 2023
NASKAH AKADEMIK PROGRAM STUDI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA
TATA NASKAH AKADEMI APOTEKER
SPESIALIS FARMASI INTERNA ASFI
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………… 1
BAB I. PENDAHULUAN ……………………………………………………….. 3
I.1. Latar Belakang ……………………………………………………………… 3
I.2. Identifikasi Masalah ……………………………………………………….. 6
I.3. Tujuan Penyusunan Naskah Akademik Apoteker Spesialis Farmasi
Interna (ASFI)…………………………………………………………………. 6
I.4. Metode Penyusunan Naskah Akademik ASFI ………………………… 7
BAB II. KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIS EMPIRIS APOTEKER SPESIALIS
PENYAKIT DALAM …………………………………………………………. 8
II.1. Kajian Teoritis …………………………………………………………….. 8
II.1.1. Latar Berkembangnya ASFI di Indonesia …………………………… 8
II.1.2. Defisini ASFI …………………………………………………………….. 8
II.1.3. Peran ASFI ……………………………………………………………… 8
II.2. Kajian terhadap praktek penyelenggaraan, kondisi yang ada, serta
permasalahan yang dihadapi masyarakat ……………………………… 9
II.2.1. Kajian terhadap Pendidikan ASFI di beberapa Negara ………. 9
II.2.2. Kajian terahadap Kondisi yang ada serta permasalahan yang
dihadapi masyarakat ……………………………………………… 9
II.3. Kajian Implikasi Sistem Baru Terhadap Aspek Kehidupan Masyarakat
………………………………………………..……………………………… 10
II.3.1. Pendidikan ASFI …………………………………………………… 10
II.3.1.1. Program studi ASFI …………………………………………. 10
II.3.1.2. ASFI …………………………………………………………… 10
II.3.2. Pemenuhan Kebutuhan ASFI pada Masa Transisi ……………… 11
II.3.3. Perhimpunan ASFI ………………………………………………… 12
II.3.4. Kolegium ASFI ……………………………………………………. 13
BAB III. Evaluasi dan Analisis peraturan perundang-undangan terkait …………… 14
BAB IV. Landasan filosofis, landasan sosiologis, dan yuridis ……………………… 15
IV.1. Landasan Filosifis ……………………………………………………… 15
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 1
IV.2. Landasan Sosiologis …………………………………………………… 16
IV.2.1. Pemerataan pelayanan ………………………………………… 16
IV.2.2. Pemerataan Pendidikan ……………………………………….. 17
IV.3. Landasan Yuridis ………………………………………………… 17
BAB V. Jangkauan, arah pengaturan dan kondisi yang diinginkan ………………. 23
V.1. Jangkauan …………………………………………………………………. 23
V.2. Arah Pengaturan Peraturan ………………………………………………. 23
V.3. Kondisi yang diinginkan …………………………………………………… 24
BAB VI. KURIKULUM PROGRAM STUDI APOTEKER SPESIALIS FARMASI
INTERNA (ASFI) …………………………………………………………….. 26
VI.1. Profil program studi ASFI ………………………………………………… 26
VI.2. Kompetensi ASFI ………………………………………………………….. 26
VI.2.1. Kompetensi Utama …………………………………………… 26
VI.2.2.1. Area Patologis ………………………………….… 38
VI.3. Struktur Kurikulum……………………………………………………… 41
VI.4. Metode pembelajaran …………………………………………………… 42
VI.5. Metode evaluasi …………………………………………………………... 42
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 2
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Ekspansi peran apoteker di pelayanan kesehatan rumah sakit begitu
besar dalam beberapa dekade terakhir. Evolusi profesi dari pemberi obat
menjadi pemberi pelayanan telah menjadikan apoteker bagian integral dalam
profesional pemberi asuhan. Peran apoteker dalam penjaminan mutu pelayanan
juga terlihat dari standar akreditasi nasional. Perkembangan teknologi farmasi
dan kedokteran serta perubahan gaya hidup mengubah tuntutan masyarakat
terhadap pelayanan kefarmasian yang lebih menekankan praktek pengobatan
yang aman, pencegahan kesalahan pengobatan, pelaporan dan pencegahan
efek samping, evaluasi dan tindak lanjut pengobatan, pemberian informasi klinis
praktis dan pelayanan ke rumah pasien. Evolusi ini juga terjadi di dunia
kedokteran dan apoteker dapat melangkah sesuai dengan perkembangan
profesi kedokteran.
Pada abad ke 19, spesialisasi di dunia kedokteran menjadi sebuah
keharusan sebagai hasil realisasi 2 kondisi. Pertama, adanya dorongan untuk
meningkatkan ilmu lebih dalam untuk bidang tertentu, yang hanya bisa dicapai
dengan spesialisasi. Kedua, adalah suatu pemahaman bahwa bentuk pelayanan
kesehatan masyarakat luas akan lebih baik bila dilakukan dalam klasifikasi yang
spesifik, mengumpulkan individu pada satu kelas yang sama, dan
memisahkannya dari kelas lain berdasarkan kategori individu. Adanya
spesialisasi di profesi kedokteran memberikan peluang untuk pembagian antara
dokter umum dan dokter spesialis, dimana dokter umum dapat merujuk ke
spesialis ketika berhadapan dengan pasien kompleks. Pembagian bidang
pelayanan memberi kesempatan pasien-pasien kompleks mendapatkan
pelayanan lebih spesifik.
Peran apoteker di rumah sakit diatur melalui Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Pelayanan Kefarmasian di Rumah
Sakit meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat manajerial berupa
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 3
pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
dan kegiatan pelayanan farmasi klinik. Dalam Artikelnya, Herman, Handayani &
Siahaan (2013) menjabarkan kualifikasi dan pengembangan yang dibutuhkan
apoteker dalam menjalankan perannya di rumah sakit (Tabel 1).
Tabel 1. Peran dan Kualifikasi Apoteker di Rumah Sakit
Herman, Handayani & Siahaan (2013) dalam pembahasannya
menyebutkan bahwa praktek Farmasi klinis di rumah sakit belum berjalan baik
atau bahkan belum berjalan di sebagian rumah sakit karena fokus utama pihak
manajemen rumah sakit masih pada pelayanan kefarmasian secara umum
meliputi pelayanan resep, obat tersedia dan percepatan waktu tunggu. Waktu
yang terbagi beresiko menyebabkan kemampuan apoteker untuk pekerjaan
pelayanan kefarmasian yang berhubungan dengan farmasi klinis dan drug safety
kurang berkembang.
Bila potret difokuskan pada pelayanan farmasi klinis, apoteker
menghadapi tantangan besar dalam hal penguasaan materi. Joseph Dipiro,
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 4
dalam bukunya yang berjudul Pharmacotherapy: a Pathophysiologic approach
memiliki setidaknya 16 seksi dan lebih dari 80 bab penyakit yang harus dikuasai
oleh seorang apoteker. Apoteker fresh graduate pun langsung terbebani
ekspektasi penguasaan materi, tanpa adanya sistim rujukan berjenjang yang
dapat melindungi profesi dan pasien. Sebagai akibatnya apoteker dipaksa untuk
mencoba melakukan semua hal sekaligus, dan ada penelitian bahwa apoteker
bergumul dengan itu. Studi (Brata et al., 2021) mengenai kemampuan
mahasiswa farmasi dalam memberikan rekomendasi pasien batuk kronis dalam
simulasi, hanya 55% dari 183 mahasiswa yang memberikan rekomendasi tepat.
Peran apoteker dalam pelayanan klinis dapat dikembangkan dengan
adanya spesialisasi. Seperti pada dunia kedokteran, spesialisasi memberi
kesempatan bagi apoteker untuk meningkatkan ilmu dan paparan praktek pada
bidang tertentu, yang berdampak pula pada peningkatan kompetensi dan
kualitas layanan apoteker.
Pertanyaan berikutnya adalah jenis spesialisasi apa yang dapat
meningkatkan kompetensi tersebut? Data 100 Penyakit diagnosis primer
layanan rawat jalan dan inap JKN tahun 2018 di Indonesia menunjukkan
penyakit terkait penyakit dalam, seperti hipertensi, diabetes, gangguan elektrolit
dan gagal ginjal kronis banyak terjadi. 10 besar diagnosis sekunder pun banyak
didominasi oleh bidang penyakit dalam. Oleh karena itu bidang penyakit dalam
dapat menjadi wadah yang baik bagi apoteker dalam meningkatkan kualitas
pelayanannya dalam wujud apoteker spesialis farmasi interna.
ANALISA SWOT
Strengths (6)
• Pasien di penyakit dalam lebih banyak jumlah nya dibandingkan
penyakit lainnya
• Apt minat farmasi klinik semakin banyak, seiring dengan perminatan
lebih fokus kasus penyakit dalam sehingga profesionalisme lebih cepat
tercapai
• Pola pengobatan penyakit dalam berbeda antara satu dokter dengan
dokter lain
• Guideline pengobatan penyakit dalam berkembang pesat
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 5
• Peraturan perundang-undangan menguatkan dan menuntut peran
apoteker farmasi klinik
• Akreditasi menegaskan peran apoteker farmasi klinik
Weakness (4)
• Sarana dan fasilitas tidak mendukung
• Pedoman dan panduan belum ada atau belum terlaksana
• Apoteker farmasi klinik belum berkompeten
• Pendidikan magister farmasi klinik belum seragam antara universitas
Oportunities ( 5)
• Banyak nya permasalahan terkait obat
• Kejadian medication error
• Kebutuhan informasi obat
• Kebutuhan konseling terkait obat
• Sistem penjaminan kesehatan memposisikan obat menjadi biaya
operasional
Threats (2)
• Profesi lain belum menerima peran apoteker dalam kolaboratif
• Pimpinan rumah sakit tidak mendukung peran apoteker dalam
kolaboratif
I.2. Identifikasi Masalah
Permasalahan yang dihadapi saat ini di Indonesia adalah tidak adanya
sistim rujukan berjenjang dalam pelayanan kefarmasian, khususnya di rumah
sakit. Banyak kasus interna dengan permasalahan terkait obat di Indonesia
berpotensi tidak tertangani dengan baik tanpa adanya apoteker spesialis
farmasi interna. Di sisi lain, di Indonesia sendiri belum ada pendidikan formal
di Indonesia untuk menghasilkan seorang apoteker spesialis farmasi interna
yang memiliki kompetensi memadai sebagai bagian integral dalam pelayanan
kesehatan.
I.3. Tujuan Penyusunan Naskah Akademik ASFI
Naskah akademik ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam
merumuskan berbagai kebijakan yang terkait dengan sistem pendidikan dan
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 6
profesi spesialis farmasi interna di Indonesia serta pengembangan organisasi
profesi bagi spesialis farmasi interna.
Naskah akademik ini merupakan dasar untuk menetapkan berbagai
peraturan dan kebijakan. Peraturan dan kebijakan tersebut bertujuan untuk
mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban para pihak dalam
penyelenggaraan pendidikan setara spesialis farmasi interna
Naskah Akademik ini diharapkan dapat :
1. Memberikan pemahaman bagi segenap pemangku kepentingan
(stakeholders), khususnya pemerintah dan organisasi profesi lain tentang
apoteker spesialis farmasi interna
2. Digunakan sebagai bahan dan landasan dalam menyusun pola
pengembangan Pendidikan apoteker spesialis farmasi interna di
Indonesia.
3. Memberikan kerangka hukum (legal framework) bagi perumusan ketentuan
atau pasal-pasal dalam Rancangan Peraturan Perundang-Undangan
tentang Pendidikan apoteker spesialis farmasi interna di Indonesia.
4. Memberikan kesempatan apoteker bekerja dan diakui tingkat keahliannya,
meningkatkan keselamatan pasien dan pengelolaan masalah kompleks
lebih efektif dalam bidang penyakit dalam
5. Meningkatkan pengakuan profesi apoteker sebagai tenaga ahli dalam
pelayanan kesehatan, khususnya di bidang penyakit dalam.
I.4. Metode Penyusunan Naskah Akademik ASFI
Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan naskah akademik apoteker
spesialis farmasi interna ini adalah metode deskriptif-analitis dengan langkah-
langkah berikut:
1. Studi kepustakaan berupa kajian dan review terhadap berbagai data &
informasi yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan, dokumen
negara, buku, majalah ilmiah, publikasi nasional dan internasional yang
terkait dengan penyelenggaraan pendidikan tinggi farmasi dan praktik
kefarmasian;
2. Fact finding dan konsultasi pakar untuk memperoleh fakta dan data terkait
kebutuhan pelayanan farmasi di bidang penyakit dalam;
3. Analisis data dan informasi menggunakan metode deskriptif-analitis,
disajikan dalam bentuk narasi;
4. Penyusunan naskah akademik apoteker spesialis farmasi interna
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 7
BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIS EMPIRIS APOTEKER SPESIALIS
FARMASI INTERNA
II.1. Kajian Teoritis
II.1.1. Latar Berkembangnya ASFI di Indonesia
Kebutuhan akan keberadaan apoteker spesialis farmasi interna di
Indonesia didasarkan atas hal-hal berikut:
a) Kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi dan mutu
pelayanan farmasi klinis secara umum.
b) Kondisi apoteker di Indonesia yang secara legal merupakan
apoteker general dan harus menguasai seluruh bidang ilmu
pelayanan farmasi klinis sekaligus.
c) Kebutuhan akan pelayanan kefarmasian pasien penyakit dalam
yang kompleks, khususnya di rumah sakit.
d) Perkembangan obat-obat baru yang memiliki profil farmakologi
dan monitoring faktor keamanan yang lebih kompleks dan
membutuhkan perhatian lebih.
II.1.2. Definisi ASFI
Apoteker Spesialis farmasi interna adalah apoteker yang
telah menyelesaikan program spesialis farmasi klinik dalam bidang
farmasi interna serta mendapat pengakuan dari Kolegium
pengampu cabang keilmuan terkait.
II.1.3. Peran ASFI
Peran Apoteker Spesialis Farmasi Interna meliputi, tetapi tidak
terbatas pada:
a) Menjadi advokat yang efektif dan sumber informasi terkait obat
yang kolaboratif dengan klinisi pada bidang penyakit dalam
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 8
b) Sebagai pemberi layanan farmasi klinik efektif dan efisien di
bidang penyakit dalam kompleks, yang tidak dapat secara
optimal diberikan oleh apoteker.
c) Penulis dan presentator topik terkait pengobatan pasien
penyakit dalam
d) Inisiator pengembangan sistim, fasilitas, prosedur operasional,
dan lain hal terkait pelayanan kefarmasian pasien penyakit
dalam, sebagai bentuk peningkatan mutu pelayanan
e) Sebagai preseptor atau edukator, pasien, keluarga pasien,
peserta didik, dan profesional lain dalam usaha peningkatan
pelayanan dan kompetensi pihak terkait
f) Sebagai peneliti, baik secara mandiri maupun berkolaborasi
dengan profesional lain di bidang penyakit dalam.
II.2. Kajian terhadap praktek penyelenggaraan, kondisi yang ada, serta
permasalahan yang dihadapi masyarakat
II.2.1. Kajian terhadap Pendidikan ASFI di beberapa Negara
Internal Medicine Pharmacy telah menjadi bagian dari
postgraduate year two (PGY2) dalam pendidikan farmasi di
Amerika Serikat. Di negara lain seperti Kanada, sertifikasi
kompetensi khusus seperti edukator insulin dan merokok.
II.2.2. Kajian terahadap Kondisi yang ada serta permasalahan yang
dihadapi masyarakat
Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kefarmasian penyakit
dalam yang lebih kompleks terlihat dalam beberapa penelitian
berikut ini:
a) Penelitian Tozawa et al., (2002) yang menyebutkan bahwa
pasien hemodialisis dapat diresepkan lebih dari 10 obat
untuk berbagai indikasi, yang tidak hanya memiliki resiko
efek samping dan interaksi obat, tetapi juga mempengaruhi
kualitas hidup pasien
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 9
b) Evaluasi Ontario-based MedsCheck Diabetes (MCD)
medication review program tahun 2018 menunjukkan 97%
pasien diabetes yang telah dilakukan kajian awal oleh
apoteker, tidak dilakukan kajian lanjutan.
c) Survey McCullough et al. (2021) yang menemukan bahwa
clinical pharmacy specialist memiliki peran mayor dalam
manajemen pengobatan komprehensi.
d) Diagnosis bidang penyakit dalam berada dalam 100 besar
diagnosa primer dan sekunder penyakit rawat jalan dan
rawat inap di era JKN 2014-2018.
e) Sirosis hepatik dan gagal ginjal menjadi bagian penyakit
katastropik dengan salah satu klaim terbesar di era JKN.
II.3. Kajian Implikasi Sistem Baru Terhadap Aspek Kehidupan Masyarakat
Keberadaan apoteker spesialis farmasi interna dapat berdampak positif pada
peningkatan mutu pelayanan kefarmasian pasien penyakit dalam. Hal ini juga
berdampak pada kepuasan klinisi dan profesional lain, serta kepuasan kerja
apoteker sendiri seperti yang terlihat pada studi McCullough et al. (2021).
II.3.1. Pendidikan ASFI
II.3.1.1. Program studi ASFI
Pada saat ini sudah ada pendidikan Magister
Farmasi klinis yang dilaksanakan oleh berbagai
perguruan tinggi di Indonesia. Namun program yang
diampu adalah program akademik,sehingga secara
profesi tetaplah sebagai apoteker. Melalui program studi
apoteker spesialis farmasi interna, diharapkan apoteker
dapat mencapai kerangka kualifikasi nasional indonesia
(KKNI) level 8 dari sisi farmasi. Dengan demikian materi
yang masuk dalam pendidikan apoteker spesialis farmasi
interna haruslah sudah terspesialisasi untuk pelayanan
pasien penyakit dalam. Sehingga Program Pendidikan
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 10
Apoteker Spesialis farmasi interna ini akan menjadi salah
satu konsentrasi dari Program Studi yang berdiri sendiri.
II.3.1.2. ASFI
Dengan perjalanan waktu, pesatnya perkembangan
spesialisasi kedokteran dan kebutuhan professional
apoteker klinis di Indonesia, menjadikan keterlibatan
apoteker dalam pelayanan farmasi klinik di rumah sakit
menjadi lebih luas dan dalam dengan kekhususan
kompetensi klinis tentunya. Berikut adalah beberapa
regulasi yang memuat keterlibatan seorang apoteker
dalam sebuah tim interdisiplin tenaga kesehatan, yaitu:
a. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 79 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan
Pelayanan Geriatrik Di Rumah Sakit
b. PMK RI nomor 8 tahun 2015 tentang Program
Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit
c. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 28 Tahun 2021 tentang Pedoman
Penggunaan Antibiotik.
Menilik 2 (dua) Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia diatas, untuk dapat mengoptimalkan
pencapaian tujuan dari regulasi tersebut dibutuhkan
keterlibatan apoteker klinis dengan kekhususan
kompetensi klinis atau memiliki kemampuan spesialisasi
farmasi klinik dibidang penyakit dalam.
II.3.2. Pemenuhan Kebutuhan ASFI pada Masa Transisi
Selama dalam masa transisi, akan dilakukan pengangkatan
bagi apoteker yang bekerja di rumah bidang penyakit dalam selama
3 tahun atau lebih sebagai pioneer apoteker spesialis farmasi
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 11
interna. Pengangkatan dilakukan oleh kolegium. Apoteker spesialis
farmasi interna pertama akan menjadi edukator dan preseptor
apoteker yang ingin menempuh program studi apoteker farmasi
spesialis farmasi interna.
II.3.3. Perhimpunan ASFI
Seluruh Apoteker di Indonesia bernaung di bawah satu
organisasi profesi yaitu Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), dimana IAI
memiliki beberapa perhimpunan yang disebut sebagai himpunan
seminat yang dibentuk sesuai dengan tempat bekerjanya. Salah
satu himpunan seminat yang dibentuk adalah Himpunan Seminat
Farmasi Rumah Sakit (HISFARSI) yang dibentuk pada saat Pan
Pacific Congress tahun 1997 di Bali yang kemudian
menyelenggarakan kongres pertamanya di Jakarta pada tahun
2005. Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit Indonesia adalah
bagian integral dari Ikatan Apoteker Indonesia dan merupakan satu-
satunya organisasi para Apoteker Seminat Farmasi Rumah Sakit,
yang merupakan perwujudan dari hasrat murni dan keinginan luhur
para anggotanya, yang menyatakan untuk menyatukan diri dalam
upaya mengembangkan profesi luhur kefarmasian rumah sakit
Indonesia pada umumnya dan martabat anggota pada khususnya.
Sebagai tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit. Apoteker
Spesialis Farmasi interna merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari Apoteker Indonesia yang masuk dibawah koordinasi HISFARSI.
Pembentukan Apoteker Spesialis farmasi interna bertujuan untuk
meningkatkan keahlian profesi apoteker, identifikasi dan pengakuan
keahlian apoteker dalam praktik klinik bidang kedokteran nuklir,
menciptakan kesempatan bagi apoteker dan menyiapkan profesi
untuk perubahan ke depan dalam rangka mendukung pelayanan
kesehatan terpadu dan lebih profesional.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 12
II.3.4. Kolegium ASFI
Program pendidikan apoteker spesialis farmasi interna
diampu oleh Kolegium Spesialis farmasi interna. Majelis Kolegium
ini merupakan forum diskusi yang mengarahkan dan
mengkoordinasikan program spesialisasi yang diselenggarakan
oleh kolegium agar dapat mencapai hasil yang optimal, untuk
kemaslahatan seluruh masyarakat.
Tugas Kolegium :
a. Menentukan jenis pendidikan lanjutan Apoteker Spesialis
b. Menentukan Standar Pendidikan
c. Menentukan Standar Kompetensi dan tingkatan kompetensi
d. Menjaga baku mutu pendidikan
e. Menetapkan akreditasi Institusi Pendidikan dan rumah Sakit
f. Melakukan evaluasi akhir terhadap kompetensi peserta didik
melalui ujian nasional
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 13
BAB III
EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT
Dalam penyususnan naskah akademik ini paling tidak kami menilai terdapat
beberapa regulasi atau peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia dan dapat
dijadikan dasar perlunya pendirian program profesi apoteker spesialis nterna.
Berikut daftar peraturan perundangan tersebut yang kami susun berdasarkan Jenis
dan hierarki peraturan perundang-undangan diatur dalam UndangUndang Nomor 12
tahun 2011, yang terdiri atas :
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 12/PUU-VIII/2010
tentang putusan permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945,
4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
5. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
6. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2021 tentang
Penyelenggaraan Bidang Perumahsakitan
8. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 Tentang
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 76 Tahun 2016 Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014
tentang Penyelenggaraan Pelayanan Geriatrik Di Rumah Sakit
11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2015
tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit
12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2021
tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 14
BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS, LANDASAN SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS
IV.1. Landasan Filosifis
Pembelajaran farmasi klinik mengikuti Filosofi belajar empat pilar UNESCO
(The Four Pillars of Learning - UNESCO) yaitu:
1. “Learning to know” merupakan kemampuan pembelajar untuk
memahami alam, manusia dan lingkungannya, kehidupannya, serta
merasakan “senangnya” mengetahui, menemukan dan memahami suatu
proses (knowledge, cognitive). Pada dasarnya pilar ini meletakkan dasar
belajar sepanjang hayat.
2. “Learning to do” merupakan ketrampilan untuk mengaplikasikan
pengetahuan dalam praktik/kehidupan sehari-hari, belajar memecahkan
masalah dalam berbagai situasi, serta belajar berkerjasama dalam tim,
mengambil inisiatif, dan mengambil risiko (practice, psychomotoric,
attitudes). 3.
3. “Learning to life together” mengacu pada kemampuan memahami diri
sendiri dan orang lain, mengembangkan empati, respek, dan apresiasi
terhadap orang lain dalam berkehidupan bersama, menghargai
perbedaan nilai dan budaya, kesediaan untuk menyelesaikan konflik
melalui dialog, serta kemampuan untuk bekerjasama (team work,
collaboration, growing interdependence). 4.
4. “Learning to be” mengacu pada pengembangan kepribadian individu
(pembelajar) secara utuh melalui penguasaan pengetahuan,
ketrampilan, dan nilai-nilai yang kondusif untuk pengembangan
kepribadian, dalam dimensi intelektual, moral, kultural, maupun fisik
(experience, affective, attitude, behavior).
Keempat pilar pembelajaran ini saling mendukung satu sama lain
sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan. Oleh karena itu keempat pilar ini
diaplikasikan sebagai prinsip dasar dan diintegrasikan kedalam setiap
bidang pembelajaran. FIP Council (2000) merekomendasikan program
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 15
pendidikan sarjana farmasi (first degree education programmes) harus
memberikan ilmu-ilmu dasar (natural sciences), ilmu farmasetika
(pharmaceutical sciences), dan ilmu kesehatan (healthcare sciences) secara
seimbang untuk membangun landasan esensial bagi kemampuan
menjalankan praktik kefarmasian dalam lingkup pelayanan kesehatan
bersama profesi kesehatan lainnya. FIP Education Taskforce (2010)
mengidentifikasi empat area kompetensi pelayanan kefarmasian yaitu
Pharmaceutical care competencies, Pharmaceutical public health
competencies, Organisation & management competencies, dan
Professional/ personal competencies.
Peran pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) sangat penting
dalam upaya mencapai keberhasilan terapi yaitu sebagai komplemen bagi
komponen “health care” lainnya. Hepler & Strand (1990). mendefinisikan
pharmaceutical care is the responsible provision of drug therapy for the
purpose of achieving definite outcomes that improve a patient’s quality of life.
Definisi ini berfokus pada tanggung jawab penyediaan layanan pengobatan
dengan tujuan mencapai “outcomes” tertentu untuk memperbaiki kualitas
hidup pasien. Definisi ini selanjutnya diadopsi oleh FIP dengan penambahan
yang bermakna menjadi “memperbaiki atau mempertahankan kualitas hidup
pasien (that improve or maintain a patient’s quality of life). Pendekatan inilah
yang menumbuhkan kesadaran bahwa kepakaran profesi farmasi
dibutuhkan untuk mencapai tujuan terapi (efficacy) serta meningkatkan
keamanan penggunaan obat (safety).
IV.2. Landasan Sosiologis
IV.2.1. Pemerataan pelayanan
Undang Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa adalah
hak setiap warga negara untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan; yang diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai
tingkatan upaya pelayanan kesehatan yang terjangkau dan
bermutu. Pasal 5, ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 16
tentang Kesehatan menetapkan bahwa setiap orang mempunyai
hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman,
bermutu, dan terjangkau. Dengan demikian, peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan sangat terkait dengan ketersediaan sarana
dan tenaga apoteker, apoteker spesialis, termasuk apoteker
spesialis khusus dalam tingkat pelayanan kesehatan tersier. Upaya
kesehatan tersier merupakan upaya kesehatan rujukan unggulan
yang terdiri dari pelayanan kesehatan perorangan tersier dan
pelayanan kesehatan masyarakat tersier
IV.2.2. Pemerataan Pendidikan
Dengan terbitnya UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 36 tahun
2014 tentang Tenaga Kesehatan, selanjutnya dilakukan penataan
kembali tentang pendidikan apoteker dan pentingnya pendidikan
apoteker spesialis di Indonesia. Untuk mencapai pemerataan
pelayanan sekunder maupun tersier, diperlukan adanya
penyebaran dan percepatan kenaikan jumlah apoteker spesialis.
Hal ini dimungkinkan dengan sistem pendidikan profesional yang
non formal, yang berjenjang dan terstruktur
IV.3. Landasan Yuridis
“Setiap warga negara memiliki hak asasi manusia atas kesehatan,
hidup sejahtera lahir dan batin”, kalimat ini adalah bunyi dari Pasal 28H ayat
(1) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
merupakan hak dasar dari rakyat Indonesia.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 17
Kesehatan dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009
tentang kesehatan di definisikan sebagai keadaan sehat, baik secara fisik,
mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk
hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dimana pada undang-undang
ini disebutkan bahwa Praktik kefarmasian salah satu jenis pelayanan
kesehatan dengan definisi dari praktik kefarmasian tersebut tercantum
dalam pasal 108 ayat 1.
Pada perkembangannya definisi praktik kefarmasian yang pada
awalnya tertuang dalam pasal 108 ayat 1 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, namun karena adanya
gugatan ke Mahkamah Konstitusi untuk permohonan Pengujian Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan terhadap Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka berdasarkan Putusan
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 12/PUUVIII/2010, definisi
Praktik kefarmasiaan meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu
sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi
obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus
dilakukan oleh tenaga kefarmasian dan dalam hal tidak ada tenaga
kefarmasian, tenaga kesehatan tertentu dapat melakukan praktik
kefarmasian secara terbatas, antara lain, dokter dan/atau dokter gigi, bidan,
dan perawat yang melakukan tugasnya dalam keadaan darurat yang
mengancam keselamatan jiwa dan diperlukan tindakan medis segera untuk
menyelamatkan pasien.
Praktik Kefarmasian yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 36
tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 108 ayat 1 dan Putusan Mahkamah
Konstitusi Republik Indonesia Nomor 12/PUU-VIII/2010 dirseperti
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 18
diutarakan diatas, secara garis besar mencakup dalam 4 (empat) kelompok
area wilayah praktik kefarmasian, yaitu:
a. Praktik produksi sediaan farmasi
Praktik produksi sediaan farmasi meliputi praktik pembuatan termasuk
pengendalian mutu sediaan farmasi.
b. Praktik pengelolaan sediaan farmasi
Praktik pengelolaan perbekalan farmasi Praktik pengelolaan sediaan
farmasi Praktik pengelolaan perbekalan farmasi meliputi praktik
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian sediaan
farmasi
c. Praktik pelayanan kefarmasian
Praktik pelayanan kefarmasian merupakan suatu pelayanan langsung
dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan
Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien, meliputi praktik pelayanan
obat berdasarkan resep dan pelayanan informasi obat.
d. Praktik penelitian dan pengembangan sediaan farmasi Praktik
penelitian dan pengembangan sediaan farmasi Praktik penelitian dan
pengembangan sediaan farmasi
Objek yang menjadi kewenagan apoteker dalam melaksanakan
praktik kefarmasian adalah pelayanan kesehatan yang terkait dengan
sediaan farmasi yang terdiri dari obat, bahan obat, obat tradisional, dan
kosmetika.
Dalam definisi praktik kefarmasian berdasarkan Putusan Mahkamah
Konstitusi Republik Indonesia Nomor 12/PUU-VIII/2010 ditegaskan bahwa
praktik kefarmasian harus dilakukan oleh tenaga kefarmasian.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 19
Tenaga kefarmasian yang dimaksud menurut pasal 11 ayat 6 Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan adalah apoteker
dan Tenaga Teknis Kefarmasian.
Definisi dari apoteker dapat ditemui dalam Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
pasal 1 ayat 5. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai
apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. Kewenangan
apoteker sebagai tenaga kesehatan adalah melaksanakan praktik
kefarmasian pada fasilitas kefarmasian.
Merujuk pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Pendidikan Tinggi dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang
Tenaga Kesehatan pasal 21, apoteker dikelompokkan kedalam kelompok
tenaga kesehatan profesi.
Merujuk pada pasal 25 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Pendidikan Tinggi, kelompok tenaga kesehatan profesi dapat meningkatkan
kemampuan spesialisasi dalam cabang ilmu tertentu dengan mengikuti
Program spesialis yang merupakan pendidikan keahlian lanjutan yang dapat
bertingkat dan diperuntukkan bagi lulusan program profesi yang telah
berpengalaman sebagai profesional untuk mengembangkan bakat dan
kemampuannya menjadi spesialis. Program spesialis dapat diselenggarakan
oleh Perguruan Tinggi bekerja sama dengan Kementerian, Kementerian lain,
LPNK dan/atau organisasi profesi yang bertanggung jawab atas mutu
layanan profesi.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2021
tentang Penyelenggaraan Bidang Perumahsakitan menyatakan bahwa
pelayanan kefarmasian merupakan salahsatu dari 4 (empat) jenis pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit umum atau rumah sakit khusus.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 20
Berdasarkan pasal 9 dan pasal 13 ayat 4 Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 47 Tahun 2021, pelayanan kefarmasian terdiriri atas :
a. Pengelolaan alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai
yang dilakukan oleh instalasi farmasi sistem satu pintu;
b. Pelayanan farmasi klinik
Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan informasi obat yang
ditetapkan oleh klinisi sebagai regimen farmakoterapi seorang pasien,
berbasis pada kondisi klinis terkini pasien tersebut yang dilakukan oleh
apoteker klinis secara mandiri, aktif, professional dan berkolaborasi
dengan tim interdisiplin dalam rangka mengoptimalkan keluaran
farmakoterapi dan meminimalkan efek yang tidak diinginkan dari
farmakoterapi yang diterima pasien.
Dalam rangka meningkatkan mutu layanan profesi, apoteker sebagai
tenaga kesehatan profesi yang diberikan kewenangan untuk memberikan
pelayanan kefarmasian dituntut untuk dapat mengembangkan bakat dan
kemampuannya guna meningkatkan kemampuan spesialisasi dalam
cabang ilmu tertentu. Salahsatunya adalah dengan mengikuti program
mengister farmasi klinik dan spesialis farmasi rumah sakit yang telah
diselenggarakan oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia maupun luar
Indonesia, tentunya dengan harapan dapat meningkatkan kualitas
pelayanan farmasi klinik kepada pasien di fasilitas kesehatan pada umumnya
dan di rumah sakit khususnya.
Dengan perjalanan waktu, pesatnya perkembangan spesialisasi
kedokteran dan kebutuhan professional apoteker klinis di Indonesia,
menjadikan keterlibatan apoteker dalam pelayanan farmasi klinik di rumah
sakit menjadi lebih luas dan dalam dengan kekhususan kompetensi klinis
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 21
tentunya. Berikut adalah beberapa regulasi yang memuat keterlibatan
seorang apoteker dalam sebuah tim interdisiplin tenaga kesehatan, yaitu:
a. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014
tentang Penyelenggaraan Pelayanan Geriatrik Di Rumah Sakit
b. PMK RI nomor 8 tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi
Antimikroba di Rumah Sakit
c. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2021
tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik.
Menilik 3 (tiga) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
diatas, untuk dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan dari regulasi
tersebut dibutuhkan keterlibatan apoteker klinis dengan kekhususan
kompetensi klinis atau memiliki kemampuan spesialisasi farmasi klinik
dibidang penyakit dalam.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 22
BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN KONDISI YANG DIINGINKAN
V.1. Jangkauan
Naskah akademik apoteker spesialis farmasi interna ini diharapkan
dapat melahirkan peraturan yang dapat menjangkau berbagai pihak yang
berkepentingan dengan keberadaan apoteker spesialis farmasi interna, baik
pihak lembaga di bawah Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi
sebagai penghasil apoteker spesialis farmasi interna maupun Rumah Saki,
Perguruan Tinggi, dan lembaga lainnya sebagai pengguna lulusan apoteker
spesialis farmasi interna. Naskah akademik ini diharapkan dapat menjadi
acuan dalam merumuskan berbagai kebijakan yang terkait dengan sistem
pendidikan dan profesi apoteker spesialis farmasi interna di Indonesia serta
pengembangan organisasi profesi.
V.2. Arah Pengaturan Peraturan
Naskah akademik ini merupakan dasar untuk menetapkan berbagai
peraturan dan kebijakan. Peraturan dan kebijakan tersebut bertujuan untuk
mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban para pihak dalam
penyelenggaraan pendidikan dan pendayagunaan apoteker spesialis
farmasi interna. Para pihak tersebut adalah Kementerian Riset, Teknologi
dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi,
Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota, Institusi Perguruan Tinggi, dan
Rumah sakit sebagai lahan praktek peserta didik serta organisasi profesi.
Peraturan dan Kebijakan Spesialis Radiofarmasi harus memuat hal-hal
penting, yaitu:
a. Pengaturan tentang Pendirian Program Studi spesialis farmasi interna di
Perguruan Tinggi, baik untuk pendidikan reguler maupun untuk
pendidikan masa transisi.
b. Jaminan perlindungan hukum bagi penyelenggara pendidikan spesialis
farmasi interna, bagi wahana tempat diselenggarakannya pendidikan
spesialis farmasi interna dan bagi apoteker spesialis, baik saat masih
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 23
menjadi peserta didik maupun saat sudah selesai masa pendidikan dan
menjalankan perannya sebagai spesialis farmasi interna.
c. Pengaturan tentang kewajiban pemerintah, peran organisasi profesi dan
calon peserta didik serta sebagai apoteker spesialis farmasi interna
setelah menyelesaikan pendidikannya baik pendidikan masa transisi
maupun pendidikan reguler.
d. Adanya pengaturan mengenai standar kompetensi dan kewenangan
pelayanan kesehatan yang boleh dilakukan oleh apoteker spesialis
farmasi interna yang disertai dengan sanksi yang diberikan apabila
apoteker spesialis farmasi interna memberikan pelayanan yang diluar
kewenangan dan kompetensinya.
e. Diakuinya Organisasi Profesi Spesialis farmasi interna
f. Pengaturan tentang pendidikan masa transisi dan pendidikan regular
termasuk standar sumber daya yang harus dipenuhi untuk dapat
menyelenggarakan Pendidikan Spesialis farmasi interna.
g. Penetapan indikator pencapaian tujuan diselenggarakannya pendidikan
Spesialis farmasi interna di Indonesia
H. Pada penyusunan berbagai peraturan yang terkait dengan Spesialis
farmasi interna perlu memperhatikan berbagai pedoman dan peraturan
yang sudah berlaku.
V.3. Kondisi yang diinginkan
Dengan terbentuknya Peraturan dan Kebijakan Spesialis farmasi interna ini
diharapkan:
a. Pendidikan Spesialis farmasi interna mampu menghasilkan tenaga
spesialis yang siap bekerja di Rumah sakit
b. Pelayanan kesehatan penyakit dalam di Indonesia meningkat, pasien
pasien kompleks penyakit dalam memperoleh mutu lebih baik
c. Pelayanan kesehatan yang sifatnya promotif dan preventif baik pada
tingkat individu, keluarga maupun masyarakat akan mendorong
peningkatan peran dan kemandirian masyarakat dalam mengatasi
berbagai faktor risiko dan permasalahan kesehatan terkait penyakit
dalam.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 24
d. Adanya pengembangan sistim rujukan apoteker umum, dengan apoteker
spesialis farmasi interna, maupun dengan spesialis farmasi lain di masa
depan.
e. Adanya kolaborasi yang saling menguatkan antara apoteker spesialis
farmasi interna dan klinisi, serta profesi lain dalam meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan pasien penyakit dalam
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 25
BAB VI
KURIKULUM PROGRAM STUDI APOTEKER SPESIALIS INTERNA
VI.1. Profil program studi ASFI
VI.2. Kompetensi ASFI
VI.2.1. Kompetensi Utama
No Area Kompetensi Kompetensi Keterampilan Uraian
1 Profesionalisme Mampu melakukan Keterampilan dalam Menunjukkan pemahanan komprehensif pada bidang
praktik yang penguasaan penyakit dalam sesuai pedoman tatalaksana yang
professional dalam patofisiologi, berlaku.
tatalaksanana pasien penatalaksanaan
penyakit dalam non penyakit yang Mampu menganalisa perjalanan penyakit pasien
critical berdasarkan mendasari penyakit dalam dan memberikan rekomendasi terapi
keputusan mitra klinis keputusan klinis spesifik berdasarkan analisa tersebut.
sesuai perundang- bidang penyakit Mampu memberikan solusi atau rekomendasi problem
undangan dan kode dalam terkait obat yang tidak dapat diselesaikan oleh apoteker
etik Apoteker. atau profesional kesehatan lain di bidang penyakit
dalam.
Berkontribusi aktif sebagai profesional spesialis
kefarmasian untuk memberikan saran dan dukungan
kepada profesional kesehatan, pasien dan caregiver.
Memberikan pendidikan dan pelatihan kefarmasian
untuk profesional kesehatan, pasien dan caregiver.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 26
Kolaborasi dalam Menjadi advokat yang efektif dan sumber informasi
Penatalaksanaan terkait obat yang kolaboratif dengan klinisi pada bidang
Pasien penyakit dalam
Sebagai pemberi layanan farmasi klinik efektif dan
efisien di bidang penyakit dalam kompleks, yang tidak
dapat secara optimal diberikan oleh apoteker
2 Mawas Diri dan Mampu berkolaborasi Keterampilan Terkait
Mampu mengumpulkan dan mengelola semua informasi
Pengembangan aktif dalam tim Interprofessional spesifik terkait pasien yang dibutuhkan oleh seorang
Diri interdisiplin Collaboration apoteker Spesialis Farmasi Interna dalam rangka
mengantisipasi, mencegah, mendeteksi dan/atau
menyelesaikan permasalahan-permasalahan terkait
dengan pengobatan (Medication-Related Problems) dan
membuat keputusan yang tepat berbasis bukti, serta
memberikan rekomendasi professional sebagai salah
satu Professional Pemberi Asuhan (PPA) pada sebuah
tim interdisiplin di fasilitas pelayanan kesehatan dalam
bingkai konsep Patient-Centered Medication Therapy.
Mampu menentukan atau memutuskan jenis/item
permasalahan-permasalahan terkait dengan
pengobatan (Medication-Related Problems) yang
muncul selama pengobatan pasien-pasien dewasa
dengan problem medis atau masalah kesehatan terkait
penyakit dalam, yang terdiri dari :
1. Penggunaan obat tanpa indikasi medis
2. Pasien belum menerima terapi sesuai dengan
kondisi medisnya
3. Terapi yang diberikan tidak sesuai dengan kondisi
medis pasien
4. Proses imunisasi yang belum komplit
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 27
5. Regimen terapi (dosis, jadwal pemberian obat,
bentuk sediaan, rute pemberian, dan cara
pemberian obat kepada pasien) yang tidak tepat.
6. Duplikasi terapi
7. Pasien menerima resep obat pemicu alergi
8. Reaksi Obat yang tidak diinginkan (ROTD)
9. Interaksi obat potensial yang terjadi signifikan
secara klinik (obat-obat, obat-penyakit, obat-nutrien
dan obat-pemeriksaan laboratorium).
10. Tidak tercapai tujuan farmakoterapi karena
keadaan social, obat swamedikasi, maupun terapi
komplementer/alternative yang digunakan oleh
pasien secara bersamaan dengan terapi medis
11. Pasien tidak mendapatkan manfaat pengobatan
secara maksimal dari sebuah peresepan
12. Tidak tercapai tujuan farmakoterapi karena
masalah keuangan
13. Pemahaman yang salah dari pasien terhadap terapi
yang diterimanya
14. Pasien tidak patuh menggunakan obat
Mampu mendisain regimen farmakoterapi dengan
mempertimbangkan goal/tujuan terapi berbasis EBM
(Evidence-Based Medicine) untuk pengobatan pasien-
pasien dewasa dengan problem medis atau masalah
kesehatan terkait penyakit dalam; yang terintegrasi
informasi terkait data-data spesifik pasien, informasi
tentang penyakit dan standar pengobatannya, issue-
issue etika dan kualitas hidup pasien serta pertimbangan
prinsip-prinsip farmakoekonomi.
Mampu menunjukkan manajemen waktu yang efektif.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 28
Keterampilan
komunikasi personal,
interpersonal dan Mampu mengelola konflik secara efektif.
kerja sama dalam Mampu menunjukkan keterampilan negosiasi yang
tim interdisiplin efektif.
Mampu menggunakan keterampilan dan gaya
komunikasi yang efektif.
Mampu menghargai perspektif berbagai tenaga
kesehatan lain.
Mampu menunjukkan manfaat kepemimpinan
profesional personal secara luas demi kepentingan
pasien.
Keterampilan Mampu merangkum kemampuan pribadi dan
mengevaluasi diri menganalisa kekurangan diri untuk dilakukan perbaikan
yang berkelanjutan (dalam pengetahuan, nilai, kualitas, keterampilan, dan
dan peningkatan perilaku).
kinerja pribadi dalam
pelayanan Mampu secara efektif menggunakan proses evaluasi diri
kefarmasian kepada untuk mengembangkan arah, tujuan, dan rencana
pasien penyakit pengembangan profesi.
dalam Mampu secara efektif terlibat dalam proses evaluasi diri
terhadap capaian rencana dan tujuan yang ditetapkan.
Mampu menggunakan umpan balik konstruktif dari
orang lain untuk membangun diri.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 29
Mampu Menunjukkan kompetensi dan sikap positif pada
membimbing calon pengembangan diri dalam meningkatkan mutu terapi
apoteker klinis pasien interna.
spesialis interna
atau apoteker umum Mendemonstrasikan keterampilan komunikasi
yang melakukan interpersonal dan mampu bekerja sama dalam tim yang
praktek klinik di diperlukan dalam meningkatkan mutu terapi pasien
bidang penyakit interna.
dalam Mendemonstrasikan pengembangan kompetensi pribadi
melalui evaluasi diri dan pembelajaran mandiri dalam
meningkatkan mutu terapi pasien interna.
Mendemonstrasikan keterampilan manajemen pada
penatalaksanaan terapi pasien interna.
Mampu mengidentifikasi sumber daya yang dibutuhkan,
merencanakan dan mengimplementasikan program
untuk meningkatkan mutu pelayanan pasien interna.
Memiliki kemampuan mengelola pelayanan dan
pekerjaan secara efektif dan efisien dalam kaitanya
dengan pelayanan pasien interna.
Mampu Mampu mensintesis penelitian, baik secara mandiri
meningkatkan maupun berkolaborasi dengan profesi lain dalam upaya
kualitas pelayanan untuk meningkatkan mutu pelayanan pasien interna
kefarmasian di
bidang penyakit
dalam melalui
penelitian
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 30
3 Komunikasi Efektif Mampu melakukan Keterampilan Mampu menjelaskan pendapat dan menyampaikan
komunikasi secara berkomunikasi efektif informasi secara verbal dan non verbal dengan cara
efektif dengan tenaga membangun kepercayaan tanpa menimbulkan
kesehatan lain dan kecemasan atau efek lain yang merugikan.
pasien.
Keterampilan Mampu menjelaskan kondisi klinis yang signifikan dari
komunikasi terapetik pasien (the significance of physical findings) yang dapat
dengan pasien digunakan untuk mengasesmen pasien-pasien dewasa
dengan problem medis atau masalah kesehatan terkait
penyakit dalam
Mampu mengkomunikasikan rencana terapi pasien
penyakit dalam secara terstruktur, dan edukatif kepada
pasien
Mampu menggunakan teknik edukasi yang efektif
kepada pasien untuk memberikan konseling kepada
pasien dan/atau keluarga pasien, termasuk informasi
terkait farmakoterapi yang diberikan, efek samping obat,
kepatuhan minum obat, penggunaan obat yang tapat,
penyimpanan dan cara pemberian obat yang benar.
Keterampilan Mampu mengkomunikasikan rekomendasi terapi obat
komunikasi dengan bidang penyakit dalam kepada profesional interdisiplin
tenaga Kesehatan secara terstruktur dan argumentatif kepada profesional
interdisiplin lain
Mampu menjamin bahwa informasi terkait pasien
dewasa dengan masalah farmakoterapi penyakit dalam
tersampaikan kepada mitra klinis dalam tim interdisiplin
diwaktu yang tepat.
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 31
Mampu mengkomunikasikan kondisi terkini pasien
kepada mitra klinis
Keterampilan Mampu menunjukkan empati kepada pasien dan kerabat
komunikasi secara pasien dan memberikan dorongan positif untuk
non verbal mendukung terapi pasien penyakit dalam secara holistik
4 Landasan Ilmiah Mampu Mampu Mampu menjelaskan tanda dan gejala, epidemiologi,
Ilmu Farmasi, mengintepretasikan menggunakan data faktor resiko, patofisiologi, perjalanan klinis (clinical
Homedik, data subyektif dan epidemiolgi bidang course), etiologi, dan penatalaksanaan dari penyakit-
Biomedik, obyektif pasien penyakit penyakit dalam penyakit yang seringkali ditemukan pada pasien-pasien
Humaniora dan dalam dewasa dengan problem medis atau masalah kesehatan
Kesehatan terkait penyakit dalam.
Masyarakat
Mampu menilai Mampu menjelaskan dan mengkondisikan rekomendasi
prognosis pasien pasien berdasarkan prognosis pasien penyakit dalam
penyakit dalam
Mampu Menilai Mampu melakukan analisa komprehensif kondisi pasien
kondisi pasien beserta faktor pemberat yang mempengaruhi
berdasarkan penatalaksanaan terapi pasien penyakit dalam
patofisiologi
penyakit, beserta
hubungan antar
penyakit untuk
pasien kompleks di
bidang penyakit
dalam
Mampu melakukan Mampu Memiliki pengetahuan komprehensif mengenai
penilaian klinis dari mengidentifikasi penatalaksanaan terapi pasien dalam, dan
intepretasi data mengaplikasikannya secara individual kepada pasien
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 32
subyektif dan obyektif masalah terkait obat Mampu membandingkan kondisi pasien penyakit dalam,
yang dilakukan yang terjadi dengan penatalaksanaan yang ada
Mampu menjelaskan problem medis utama yang
diidentifikasi dari pasien sebelum membuat keputusan
propesional terkait dengan pelayan farmasi klinik yang
akan diberikan .
Mampu menjelaskan hasil interpretasi data dari kondisi
klinis yang signifikan dari pasien (the significance of
physical findings) yang digunakan untuk mengasesmen
pasien-pasien dewasa dengan problem medis atau
masalah kesehatan terkait penyakit dalam
Mampu merencanakan, Mendesain regimen Mampu menjelaskan goal/tujuan spsesifik dari
mengaplikasikan, dan famakoterapi farmakoterapi untuk pasien-pasien dewasa dengan
memodifikasi plan of berbasis bukti problem medis atau masalah kesehatan terkait penyakit
care pasien penyakit dalam, yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip EBM
dalam berdasarkan (Evidence-Based Medicine) yang terintegrasi dengan
data-data spesifik pasien, penyakit dan informasi
spesifik terkait terapi standar pengobatannya, etik serta
kualitas hidup pasien.
Mampu memberikan Mampu mendokumentasikan aktivitas klinik yang
rekomendasi atau dilakukan melalui SOAP apoteker klinis dalam CPPT
solusi berdasarkan (catatan perkembangan pasien terintegrasi).
problem medik dan
terapi pasien Kemampuan melakukan rekomendasi kepada klinisi dan
tim interdisiplin lain
Mampu mendisain ulang regimen dan rencana
monitoring farmakoterapi jika diperlukan, berdasarkan
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 33
evaluasi data hasil monitoring dan keluaran
farmakoterapi (outcome therapy).
Mampu melakukan edukasi terhadap rekomendasi
kepada pasien atau kerabat pasien
5 Keterampilan Mampu melakukan Mengumpulkan dan Mampu Mengumpulkan dan menganalisis informasi
Apoteker keterampilan klinis menganalisis terkait pasien saat admisi atau transfer antar ruangan
apoteker spesialis informasi terkait atau pasien pulang pada area patologis praktik
interna pasien saat admisi pelayanan apoteker klinis penyakit dalam.
atau transfer antar
ruangan atau pasien
pulang pada area Mampu mengumpulkan dan mengelola semua informasi
patologis praktik spesifik terkait pasien yang dibutuhkan oleh seorang
pelayanan apoteker apoteker Spesialis Farmasi Interna dalam rangka
klinis penyakit mengantisipasi, mencegah, mendeteksi dan/atau
dalam. menyelesaikan permasalahan-permasalahan terkait
Mendisain regimen dengan pengobatan (Medication-Related Problems) dan
farmakoterapi membuat keputusan yang tepat berbasis bukti, serta
berbasis bukti pada memberikan rekomendasi professional sebagai salah
area patologis satu Professional Pemberi Asuhan (PPA) pada sebuah
praktik pelayanan tim interdisiplin di fasilitas pelayanan kesehatan dalam
apoteker klinis bingkai konsep Patient-Centered Medication Therapy.
penyakit dalam.
Mendisain rencana Mampu Mendisain rencana monitoring farmakoterapi
monitoring berbasis bukti pada area patologis praktik pelayanan
farmakoterapi apoteker klinis penyakit dalam
berbasis bukti pada
area patologis
praktik pelayanan
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 34
apoteker klinis
penyakit dalam
Merekomendasikan Mampu Merekomendasikan atau mengkomunikasikan
atau regimen dan rencana monitoring farmakoterapi yang
mengkomunikasikan telah didisain sebelumnya ke mitra klinis pada area
regimen dan patologis praktik pelayanan apoteker klinis penyakit
rencana monitoring dalam.
farmakoterapi yang
telah didisain Mampu merekomendasikan terapi non farmakologi
sebelumnya ke mitra untuk meningkatkan outcome pasien penyakit dalam.
klinis pada area
patologis praktik
pelayanan apoteker
klinis penyakit dalam
Mengimplementasik Mampu Mengimplementasikan regimen dan rencana
an regimen dan monitoring farmakoterapi yang sebelumnya telah
rencana monitoring disepakati bersama mitra klinis pada area patologis
farmakoterapi yang praktik pelayanan apoteker klinis penyakit dalam.
sebelumnya telah
disepakati bersama
mitra klinis pada
area patologis
praktik pelayanan
apoteker klinis
penyakit dalam
Mengevaluasi Mampu Mengevaluasi perkembangan klinis pasien dan
perkembangan klinis jika perlu dapat mendisain ulang regimen dan rencana
pasien dan jika perlu monitoring farmakoterapi pada area patologis praktik
dapat mendisain pelayanan apoteker klinis penyakit dalam
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 35
ulang regimen dan
rencana monitoring
farmakoterapi pada
area patologis
praktik pelayanan
apoteker klinis
penyakit dalam
Mengkomunikasikan Mampu Mengkomunikasikan kondisi terkini pasien
kondisi terkini pasien kepada mitra klinis pada area patologis praktik
kepada mitra klinis pelayanan apoteker klinis penyakit dalam.
pada area patologis
praktik pelayanan
apoteker klinis
penyakit dalam
Mendokumentasikan Mampu Mendokumentasikan aktivitas klinik yang
aktivitas klinik yang dilakukan saat memberikan layanan farmasi klinik pada
dilakukan saat area patologis praktik pelayanan apoteker klinis penyakit
memberikan layanan dalam.
farmasi klinik pada
area patologis Mampu melakukan Pelaporan Efek Samping Obat.
praktik pelayanan Mampu melakukan Pelaporan insiden keselamatan
apoteker klinis pasien di rumah sakit.
penyakit dalam
Mampu melakukan pelaporan kegiatan farmasi klinik.
Menjalankan Mampu Menjalankan kewenangan otorisasi pemberian
kewenangan obat pada area patologis praktik pelayanan apoteker
otorisasi pemberian klinis penyakit dalam
obat pada area
patologis praktik
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 36
pelayanan apoteker
klinis penyakit dalam
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 37
IV.2.1.1. Area patologis
Patologis
Area 1
Kompetensi 1.1 Bone/Joint and Rheumatology
Kompetensi 1.1.a Connective tissue disorders
Kompetensi 1.1.b Rheumatoid arthritis
Kompetensi 1.2 Cardiovascular
Kompetensi 1.2.a Acute coronary syndromes (excluding AMI)
Kompetensi 1.2.b Acute myocardial infarction
Kompetensi 1.2.c Advanced cardiac life support
Kompetensi 1.2.d Atrial arrhythmias
Kompetensi 1.2.f Cerebral ischemia (including ischemic stroke)
Kompetensi 1.2.g Chronic coronary artery disease
Kompetensi 1.2.h Disorders of lipid metabolism
Kompetensi 1.2.i Heart failure
Kompetensi 1.2.j Hypertension
Kompetensi 1.2.k Peripheral arterial (atherosclerotic) disease
Kompetensi 1.2.l Pulmonary arterial hypertension
Kompetensi 1.2.m Valvular heart disease
Kompetensi 1.2.n Venous embolism and thrombosis
Kompetensi 1.2.o Ventricular arrhythmias
Kompetensi 1.3 Dermatologic
Kompetensi 1.3.a Psoriasis
Kompetensi 1.3.b Urticaria
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 38
Kompetensi 1.4 Endocrine
Kompetensi 1.4.a Adrenal disorders
Kompetensi 1.4.b Diabetes insipidus
Kompetensi 1.4.c Diabetes mellitus
Kompetensi 1.4.d Diabetic ketoacidosis
Disorders of pituitary gland (e.g., GH
Kompetensi 1.4.e
deficiency, SIADH, acromegaly)
Kompetensi 1.4.f Metabolic syndrome
Kompetensi 1.4.g Obesity
Kompetensi 1.4.h Parathyroid disorders
Kompetensi 1.4.i Relative adrenal insufficiency
Kompetensi 1.4.j Thyroid disorders
Kompetensi 1.5 Fluid and Electrolyte/Nutrition
Kompetensi 1.5.a Acid-base disorders
Kompetensi 1.5.b Electrolyte abnormalities
Kompetensi 1.5.c Nutrition support
Kompetensi 1.6 Gastrointestinal
Kompetensi 1.6.a Chronic liver disease and cirrhosis
Kompetensi 1.6.b Hepatitis
Kompetensi 1.6.c Inflammatory bowel disease
Kompetensi 1.6.d Irritable bowel syndrome
Kompetensi 1.6.e Pancreatitis
Kompetensi 1.6.f Upper gastrointestinal bleeding
Kompetensi 1.7 Genitourinary
Kompetensi 1.7.a Urinary incontinence
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 39
Kompetensi 1.8 Hematologic
Kompetensi 1.8.a Anemias
Kompetensi 1.8.b Drug-induced hematologic disorder
Kompetensi 1.8.c Venous thromboembolism
Kompetensi 1.9 Immunologic
Kompetensi 1.9.a Allergic reactions
Kompetensi 1.9.b Stevens-Johnson syndrome
Kompetensi 1.9.c Organ transplantation
Kompetensi 1.10 Infectious Diseases
Kompetensi 1.10.a Antimicrobial prophylaxis, non surgical
Kompetensi 1.10.b Community acquired pneumonia
Kompetensi 1.10.c Gastrointestinal infections
Kompetensi 1.10.d Human immunodeficiency virus infection
Kompetensi 1.10.e Infectious endocarditis
Kompetensi 1.10.f Intra-abdominal infections, non surgical
Kompetensi 1.10.g Mycobacterial diseases
Kompetensi 1.10.h Nosocomial pneumonia
Kompetensi 1.10.i Other viral diseases
Kompetensi 1.10.j Sexually transmitted diseases
Kompetensi 1.10.k Skin and soft tissue infections
Kompetensi 1.10.l Systemic fungal infections
Kompetensi 1.10.m Upper respiratory tract infections
Kompetensi 1.10.n Urinary tract infections
Kompetensi 1.10.o Sepsis
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 40
Kompetensi 1.10.p Tropical infections
Kompetensi 1.11 Renal
Kompetensi 1.11.a Acute renal failure
Kompetensi 1.11.b Chronic renal failure
Dialysis (managing associated complications
Kompetensi 1.11.c
and drug dosing)
Kompetensi 1.11.d Glomerulonephritis
Kompetensi 1.12 Respiratory
Kompetensi 1.12.a Asthma
Chronic obstructive airway disease (other than
Kompetensi 1.12.b
asthma)
VI.3. Struktur Kurikulum
No Kode Mata Mata Kuliah SKS
Kuliah
Semester I
1 Dasar-dasar ilmu penyakit dalam 2
2 Jurnal reading 1
3 Asuhan kefarmasian pada Endocrine 2
4 Asuhan kefarmasian pada gastrointestinal 2
Asuhan kefarmasian pada renal 2
Asuhan kefarmasian pada keseimbangan 2
elektrolit dan nutritsi
Stase 3
Semester II
Asuhan kefarmasian pada infeksi 2
Asuhan kefarmasian pada hematologi 2
Asuhan kefarmasian pada respiratori 2
Asuhan kefarmasian pada genitourinary 2
Asuhan kefarmasian pada Kardiovaskular I * 2
Stase 3
Semester III
Asuhan kefarmasian pada Kardiovaskular II ** 2
Asuhan kefarmasian pada bone/ joint and 2
reumatologi
Asuhan kefarmasian pada imunologi 2
Asuhan kefarmasian pada dermatologi 2
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 41
Stase 3
Seminar usulan penelitian 2
Semester IV
Seminar hasil penelitian 2
Tesis 3
Karya ilmiah (jurnal/minimal jurnal nasional 1
terakreditasi)
42
Keterangan :
*Acute coronary syndromes, AMI, Advanced cardiac life support, atrial
arrhythmias, cerebral ischemia, chronic coronary artery disease, disorders
of lipid metabolism.
**heart failure, hypertension, peripheral arterial (artherosclerotic) disease,
pulmonary arterial hypertension, valvular heart disease, venous embolism
and thrombosis, ventricular arrhythmias
VI.4. Metode pembelajaran
Metode pembelajaran yang dilaksasnakan pada prodi ASI meliputi kegiatan
akademik maupun aktivitas professional, diantaranya :
1. Pembacaan jurnal
2. Menghadiri perkuliahan pada program pascasarjana
3. Berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah
4. Diskusi dan tutorial
5. Memberikan tutorial kepada mahasiswa program sarjana
6. Publikasi di jurnal bereputasi
VI.5. Metode evaluasi
Metode evaluasi pembelajaran pada program ASI dilaksanakan dengan
metode evaluasi multi disiplin meliputi :
1. Pertanyaan pilhan ganda, essay tulis, dan oral.
2. Presentasi kasus
3. Review Jurnal
4. Evaluasi logbook
5. OSCE
NASKAH AKADEMI APOTEKER SPESIALIS FARMASI INTERNA 42
6. Ujian Sidang Thesis
Penentuan kelulusan dilakukan secara nasional dengan
Uji kompetensi ASFI oleh KIFI
Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 18 Juni 2023
Ketua KIFI,
Prof. Dr. apt. Keri Lestari, [Link].
NA : 27041969032596