BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Trauma Kepala
a. Definisi Trauma Kepala
Trauma kepala didefinisikan sebagai cedera pada kulit kepala,
tengkorak, dan otak, baik yang disadari maupun tidak, akibat pukulan
atau benturan yang tiba-tiba pada kepala (9).
Trauma kepala yakni rangkaian peristiwa patofisiologis sesudah
trauma kepala yang mungkin melibatkan komponen apapun, termasuk
kulit kepala, tulang, serta jaringan otak, ataupun kombinasinya,(10)
Trauma kepala adalah cedera mekanis yang menyerang kepala
langsung maupun tak langsung serta menyebabkan kerusakan jaringan
otak, yang mengakibatkan gangguan neurologis sehingga menimbulkan
rasa sakit (11).
b. Etiologi Trauma Kepala
Di Indonesia, insiden trauma kepala per tahun diperkirakan
mencapai 500.000. Dari jumlah tersebut, 10 persen meninggal sebelum
mencapai rumah sakit. Dari pasien yang tiba di rumah sakit, 80%
mengalami cedera otak traumatis ringan, 10% mengalami trauma
sedang, dan 10% mengalami trauma otak traumatis berat. Menurut
Riskesdas (2018), prevalensi trauma kepala di Indonesia adalah 11,9%.
Cedera kepala menempati urutan ketiga setelah cedera ekstremitas
9
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
10
bawah dan atas, dengan prevalensi masing-masing 67,9% dan 32,7%.
Angka kejadian cedera kepala di Provinsi Bali sebesar 10,7%, dengan
insiden cedera kepala tertinggi di Gorontalo sebesar 17,9% (2).
Trauma kepala dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu:
1) Trauma Primer, terjadi akibat trauma pada kepala secara langsung
maupun tidak langsung (akselerasi dan deselerasi).
2) Trauma Sekunder, terjadi akibat trauma saraf (melalui akson) yang
meluas, hipertensi intrakranial, hipoksia, hiperkapnea, atau
hipotensi sistemik.
c. Tingkat Keparahan Trauma Kepala
Penurunan tingkat kesadaran yakni indikator penting untuk
menilai serta memutuskan level keparahan serta kerusakan otak
disebabkan cedera kepala. Guna mencari tahu level kesadaran seseorang
bisa diukur memakai Glasgow Coma Scale (GCS). GCS yakni skala
yang mengukur level kesadaran seseorang, dan meliputi tiga aspek,
respons membuka mata, respons verbal, dan respons motorik.
Tabel 1: Glasgow Coma Scale
Eye Opening Score
Mata terbuka spontan 4
Mata membuka ketika diajak berbicara 3
Mata membuka sedikit setelah dirangsang nyeri 2
Tidak membuka mata 1
Verbal Response Score
Orientasi baik 5
Bicara kacau / disorientasi 4
Mengeluarkan kata-kata yang tidak tepat 3
Mengeluarkan suara yang tidak ada artinya 2
Tidak ada jawaban 1
Motoric Response Score
Menuruti Perintah 6
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
11
Melokalisir nyeri 5
Menghindari nyeri 4
Gerakan fleksi abnormal 3
Gerakan ekstensi abnormal 2
Tidak ada gerakan 1
Berdasarkan nilai Glasgow Coma Scale (GCS), trauma kepala
diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu:
1) Trauma Kepala Ringan (GCS 14 – 15), berdasarkan CT Scan otak
tidak terdapat kelainan, dengan lama rawat di rumah sakit < 48 jam.
2) Trauma Kepala Sedang (GCS 9 – 13), ditemukan kelainan
berdasarkan CT Scan Otak dan memerlukan tindakan operasi serta
dirawat di rumah sakit setidaknya selama 48 jam.
3) Trauma Kepala Berat (GCS ≤ 8), bila dalam jangka waktu > 48 jam
paska trauma atau setelah pembedahan tidak terjadi peningkatan
kesadaran (Dewi, 2016)
d. Penatalaksanaan Trauma Kepala
Penatalaksanaan awal pasien dengan trauma kranioserebral
terutama untuk memantau sesegera mungkin, mencegah cedera
kranioserebral sekunder, memperbaiki keadaan umum semaksimal
mungkin, dan membantu penyembuhan sel-sel otak yang sakit. Untuk
penanganan pasien trauma kepala, mengembangkan kriteria yang
disesuaikan dengan tingkat keparahan cedera, yaitu ringan, sedang, dan
berat. Penatalaksanaan pasien dengan cedera otak traumatis meliputi
survei primer dan survei sekunder.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
12
Dalam pengelolaan investigasi awal, area prioritas meliputi: A
(airway), B (breathing), C (circulation), D (disability), dan E
(exposure/environmental control), diikuti dengan resusitasi. Untuk
pasien dengan cedera kranioserebral, terutama cedera kranioserebral
berat, pemeriksaan awal sangat penting untuk mencegah cedera otak
sekunder dan mempertahankan homeostasis otak. Jalan nafas yang
bersih (airway) adalah hal pertama yang harus diperhatikan. Obstruksi
jalan napas sering terjadi pada pasien koma dan mungkin disebabkan
oleh benda asing, muntah, lidah jatuh, atau patah tulang wajah. Upaya
untuk membuka jalan napas harus melindungi tulang belakang leher
(kontrol serviks), yaitu leher tidak boleh hiperekstensi, fleksi, atau
diputar. Status peredaran darah dapat dinilai secara cepat dengan
memeriksa tingkat kesadaran dan nadi (sirkulasi). Tindakan lain yang
dapat dilakukan antara lain mencari perdarahan luar, menilai warna dan
suhu kulit, serta mengukur tekanan darah.
Denyut nadi perifer yang teratur, penuh, dan lambat biasanya
menunjukkan volume darah yang relatif normal. Tekanan darah sistolik
harus dipertahankan di atas 100 mmHg pada pasien dengan trauma otak
traumatis untuk mempertahankan perfusi serebral yang memadai.
Denyut nadi dapat digunakan untuk memperkirakan secara kasar
tekanan darah sistolik. Jika nadi radial teraba, tekanan darah sistolik
melebihi 90 mm Hg. Jika nadi femoralis teraba, tekanan darah sistolik
lebih besar dari 70 mmHg. Sedangkan jika nadi hanya teraba di arteri
karotis, maka tekanan darah sistoliknya hanya sekitar 50 mmHg. Jika
ada pendarahan luar, segera berikan tekanan pada luka untuk
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
13
menghentikan pendarahan. Setelah pemeriksaan awal, hal selanjutnya
yang harus dilakukan adalah pemulihan.
Pemeriksaan neurologis pada pasien cedera otak traumatik
meliputi respon membuka mata, respon motorik, respon bicara, refleks
cahaya pupil, gerakan mata (grup fonem mata boneka, refleks
oculocephalic), tes kalori hipotermik (refleks bilik mata depan), dan
refleks kornea. Tidak semua orang dengan trauma kepala memerlukan
rawat inap. Indikasi rawat inap meliputi: fasilitas CT scan, hasil CT
scan abnormal, semua luka tembus, riwayat kehilangan kesadaran,
penurunan kesadaran, sakit kepala sedang sampai berat, keracunan
alkohol/obat, kebocoran alkohol (rhinorrhea-otorrhea), co-injury yang
signifikan, GCS Kurang dari 3 hal yang dilakukan dalam terapi ini
dapat berupa pemberian cairan infus, hiperventilasi, manitol, steroid,
furosemid, barbiturat, dan antikonvulsan. Indikasi pembedahan pada
pasien cedera otak traumatik dengan hematoma intrakranial > 30 ml,
pergeseran garis tengah > 5 mm, fraktur tengkorak terbuka, dan fraktur
depresi tengkorak dengan kedalaman > 1 cm dan kedalaman > 1 cm
(ATLS, 2018).
2. Tumor Otak
a. Definisi
Tumor intrakranial atau tumor otak adalah suatu massa abnormal
dari jaringan didalam kranium, dimana sel-sel tumbuh dan membelah
dengan tidak dapat dikendalikan oleh mekanisme yang mengontrol
selsel normal (12).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
14
Tumor intrakranial atau tumor otak merupakan pertumbuhan
massa abnormal di dalam kranium yang berasal dari otak atau struktur
lain seperti meningen atau saraf kranialis. Massa abnormal tersebut
memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang tidak terkontrol. Tumor
intrakranial dapat bersifat jinak atau ganas, namun karena efek desak
ruang, tumor jinak dapat menyebabkan gangguan neurologis berat
bahkan kematian (13)
b. Etiologi Tumor Otak
Menurut Brunner, & Suddarth (2013), penyebab terjadinya tumor
intracranial yaitu:
1) Riwayat trauma kepala
Trauma yang berulang menyebabkan terjadinya meningioma
(neoplasma selaput otak). Pengaruh trauma pada patogenesis
neoplasma susunan saraf pusat belum diketahui gejala klinis.
2) Faktor genetik
Tujuan susunan saraf pusat primer merupakan komponen
besar dari beberapa gangguan yang diturunkan sebagai kondisi
autosomal, dominan termasuk sklerasis tuberose,
neurofibromatosis.
3) Paparan zat kimia yang bersifat karsinogenik dan virus
Pada binatang telah ditemukan bahwa karsinogen kimia dan
virus menyebabkan terbentuknya neoplasma primer susunan saraf
pusat tetapi hubungannya dengan tumor pada manusia masih belum
jelas.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
15
c. Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul pada pasien dengan kanker otak tergantung
dari lokasi dan tingkat pertumbuhan tumor. Kombinasi gejala yang
sering ditemukan adalah peningkatan tekanan intrakranial (sakit kepala
hebat disertai muntah proyektil), defisit neurologis yang progresif,
kejang, penurunan fungsi kognitif. Pada glioma derajat rendah gejala
yang biasa ditemui adalah kejang, sementara glioma derajat tinggi lebih
sering menimbulkan gejala defisit neurologis progresif dan tekanan
intra kranial meningkat .
d. Penatalaksanaan
Menurut Black & Hawks (2014), penatalaksanaan tumor intrakranial
dapat meliputi:
1) Pembedahan
Jika hasil CT-Scan didapati adanya tumor, dapat dilakukan
pembedahan. Ada pembedahan total dan parsial, hal ini tergantung
jenis tumornya. Pada kasus abses seperti loculated abscess,
pembesran abses walaupun sudah diberi antibiotik yang sesuai,
ataupun terjadi impending herniation. Sedangkan pada subdural
hematoma, operasi dekompresi harus segera dilakukan jika terdapat
subdural hematoma akut dengan middle shift > 5 mm. Operasi juga
direkomendasikan pada subdural hematoma akut dengan ketebalan
lebih dari 1 cm.
2) Radioterapi
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
16
Ada beberapa jenis tumor yang sensitif terhadap radioterapi,
seperti low grade glioma. Selain itu radioterapi juga digunakan
sebagai lanjutan terapi dari pembedahan parsial.
3) Kemoterapi
Terapi utama jenis limpoma adalah kemoterapi. Tetapi untuk
oligodendroglioma dan beberapa astrocytoma yang berat,
kemoterapi hanya digunakan sebagai terapi tambahan.
4) Antikolvusan
Mengontrol kejang merupakan bagian terapi yang penting
pada pasien dengan gejala klinis kejang. Pasien SOL sering
mengalami peningkatan tekanan intrakranial, yang salah satu gejala
klinis yang sering terjadi adalah kejang. Phenytoin
(300400mg/kali) adalah yang paling umum digunakan. Selain itu
dapat juga digunakan carbamazepine (600-1000mg/hari),
phenobarbital (90- 150mg/hari) dan asam valproat
(750-1500mg/hari).
5) Antibiotik
Jika dari hasil pemeriksaan diketahui adanya abses, maka
antibiotik merupakan salah satu terapi yang harus diberikan.
Berikan antibiotik intravena, sesuai kultur ataupun sesuai data
empiris yang ada. Antibiotik diberikan 4-6 minggu atau lebih, hal
ini disesuaikan dengan hasil pencitraan, apakah ukuran abses sudah
berkurang atau belum. Carbapenem, fluorokuinolon, aztreonam
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
17
memiliki penetrasi yang bagus ke sistem saraf pusat, tetapi harus
memperhatikan dosis yang diberikan (tergantung berat badan dan
fungsi ginjal) untuk mencegah toksisitas.
6) Kortikosteroid
Kortikosteroid mengurangi edema peritumoral dan
mengurangu tekana intrakranial. Efeknya mengurangi sakit kepala
dengan cepat. Dexamethasone adalah kortikosteroid yang dipilh
karena aktivitas 9 mineralkortikoid yang minimal. Dosisnya dapat
diberikan mulai dari 16mg/hari, tetapi dosisnya dapat ditambahkan
maupun dikurangi untuk mencapai dosis yang dibutuhkan untuk
mengontrol gejala neurologik.
7) Head up 30-45˚
Berfungsi untuk mengoptimalkan venous return dari kepala,
sehingga akan membantu mengurangi TIK. 8. Menghindari
terjadinya hiperkapnia: PaCO2 harus dipertahankan dibawah 40
mmHg, karena hiperkapnia dapat menyebabkan terjadinya
peningkatan aliran darah ke otak sehingga terjadi peningkatan TIK,
dengan cara hiperventilasi ringan disertai dengan analisa gas darah
untuk menghindari global iskemia pada otak.
8) Diuretika Osmosis
Manitol 20% dengan dosis 0,25-1 gr/kgBB diberikan cepat
dalam 30-60 menit untuk membantu mengurangi peningakatan TIK
dan dapat mencegah edema serebri.
3. Kraniotomi
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
18
a. Definisi
Kraniotomi yakni tiap tindakan bedah dengan membuka sebagian
tulang tengkorak (kranium) untuk mengakses struktur intrakranial
(Brain & Spine Foundation, 2012).
Kraniotomi artinya membuat lubang (-otomi) di tulang kranium.
Operasi diadakan di rumah sakit dengan departemen bedah saraf serta
ICU (Encyclopedia of Surgery, 2012).
Kraniotomi yakni proses pembedahan otak dengan cara membuat
lubang ditengkorak untuk melihat dan mengobati berbagai masalah
yang terjadi didalamnya. Prosedur ini umumnya dilakukan oleh dokter
bedah saraf. Kraniotomi bukanlah operasi kecil, sehingga penting bagi
medis, paramedis dan tim lain yang berkecimpung didalamnya untuk
mengetahui beberapa informasi seputar operasi ini sebelum
menjalaninya. Selama prosedur, dokter akan mengangkat bagian
tengkorak untuk memvisualisasikan dan mengevakuasi otak dengan
lebih baik. Setelah tengkorak terbuka selesai, itu akan disambungkan
kembali melalui metode yang disebut flap tulang. Ukuran tengkorak
yang diangkat bisa besar atau kecil, tergantung pada tingkat keparahan
penyakit otak yang dialami pasien.
b. Indikasi
1) Segera (emergency)
a) Hematoma ekstraserebral (epidura, subdura) dengan efek desak
ruang (ketebalan lebih dari 10 mm, dan atau dengan garis tengah
yang bergeser lebih dari 5 mm, dan atau ada penyempitan cisterna
perimencephalic atau ventriculus tertius).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
19
b) Hematoma intraserebral dengan efek pendesakan dan dilokasi
yang dapat dilakukan tindakan bedah.
c) Fraktur terbuka, dengan fragmen impresi, dengan atau tanpa
robekan dura.
d) Tanda-tanda kompresi saraf optik.
2) Elektif / terprogram
a) Fraktur impresi tertutup, dengan defisit neurologik
minimal dan pasien stabil.
b) Hematoma intrakranial dengan efek masa dan defisit
neurologik yang minimal, dan pasien stabil.
c. Komplikasi Pasca Bedah
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada pasien pasca bedah
intrakranial atau kraniotomi adalah sebagai berikut: a) Peningkatan
tekanan intrakranial
b) Perdarahan dan syok hipovolemik
c) Nyeri pasca kraniotomi sering terjadi dan derajat nyerinya mulai dari
sedang hingga berat. Nyeri ini dapat dikontrolidengan penggunaan
scalp infiltrations, pemblokiranisarafikulit kepala, pemberian
parexocib dan morphine. (Keputusan Menteri Kesehatan, 2010).
d) Infeksi meningitis bakterial di sekitar 0,8i– 1,5 % dari sekelompok
individu yang menjalani kraniotomi (disitasi oleh Hendra 2012).
e) Kejang
f) Kematian
4. Hemodinamik
a. Definisi
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
20
Hemodinamik adalah studi tentang pergerakan darah dan
kekuatan yang terlibat. Hemodinamik erat kaitannya dengan mekanisme
peredaran darah di dalam tubuh (14). Hemodinamik berhubungan
dengan volume jantung dan pembuluh darah. Hemodinamik ini diatur
oleh sistem saraf simpatis dan parasimpatis (15).
Sistem peredaran darah terdiri dari jantung dan sistem vaskular
yang luas, dan fungsi utamanya adalah untuk mengangkut oksigen,
nutrisi dan zat lain, dan panas ke seluruh tubuh. Dalam konteks medis,
istilah hemodinamik mengacu pada ukuran dasar fungsi kardiovaskular,
seperti tekanan arteri atau curah jantung. Penilaian utama status
hemodinamik dilakukan dengan menilai denyut jantung (HR) dan
tekanan darah rata-rata (BP) sebagai pengganti perfusi jaringan
(Truijen, et al. 2017).
b. Komponen Hemodinamik
Susanto (2015) berpendapat bahwa hemodinamik adalah ilmu
yang mempelajari sirkulasi darah dan kekuatan yang bekerja di
dalamnya. Hemodinamik erat kaitannya dengan mekanisme peredaran
darah di dalam tubuh.
Hemodinamik dapat dipantau secara invasive dan noninvasive.
Pemantauan hemodinamik noninvasive mencakup beberapa komponen
tersebut meliputi tekanan darah, nadi, denyut jantung, pernapasan,
perfusi perifer, keluaran urine, saturasi oksigen, dan indikator lainnya
(15).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
21
c. Tujuan Pemantauan Hemodinamik
Tujuan pemantauan hemodinamik adalah untuk mendeteksi secara
dini, mengidentifikasi kelainan fisiologis, dan memantau pengobatan
yang diberikan untuk memperoleh informasi tentang Homeostasis
tubuh. Pemantauan hemodinamik bukan merupakan tindakan terapeutik,
tetapi hanya memberikan informasi kepada dokter, dan informasi ini
perlu disesuaikan berdasarkan penilaian klinis pasien untuk
memberikan pengobatan yang optimal.
Dasar pemantauan hemodinamik adalah perfusi jaringan yang
adekuat sebagai cerminan status hemodinamik. Seperti menyeimbangkan
suplai oksigen dan kebutuhan oksigen, menjaga nutrisi, suhu tubuh dan
keseimbangan elektrokimia, manifestasi klinis gangguan hemodinamik
adalah gangguan fungsi organ, jika tidak ditangani dengan benar akan
jatuh ke dalam kegagalan organ ganda (15).
Pada penelitian ini, hemodinamik yang dinilai yaitu antara lain: a.
Tekanan Darah
Tekanan darah adalah kekuatan yang diberikan darah pada
dinding pembuluh darah dan tergantung pada jumlah dan ketegangan
darah yang terkandung di dalam pembuluh atau pertahanan dinding
pembuluh (betapa mudahnya mereka diregangkan). Selama ventrikel
sistolik, satu sisi bekuan darah memasuki arteri dari ventrikel,
sementara hanya sekitar sepertiga dari bekuan tersebut meninggalkan
arteri dan memasuki arteriola. Tidak ada darah yang memasuki arteri
selama diastole, dan darah terus meninggalkan arteri didorong oleh
recoil elastis. Tekanan maksimum (tekanan darah sistolik) yang
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
22
diberikan pada arteri selama sistole ketika darah dikeluarkan kedalam
pembuluh darah, yang rata-rata 120 mmHg, sedangkan tekanan darah
diastolik rata-rata adalah 80 ml. Selama pengukuran tekanan darah
rutin, tekanan darah sistolik dan diastolik arteri dicatat, yang dapat
digunakan sebagai dasar untuk menilai tekanan darah rata-rata
(Sherwood, 2014).
b. Denyut Jantung (Heart Rate)
Denyut jantung atau denyut nadi adalah alirah darah yang teraba
dengan jelas di berbagai titik di tubuh. Darah mengalir melalui tubuh
dalam suatu jalur yang terus menerus. Denyut nadi merupakan indikator
status sirkulasi .
Denyut nadi adalah kontraksi dari ventikel kiri jantung yang
menimbulkan gelombang darah. Ketika arteri seseorang, seperti yang
terjadi karena usia tekanan yang lebih besar diperlukan untuk
memompa darah ke arteri (16)
Denyut nadi mencerminkan jumlah kontraksi ventrikel per unit
waktu dan berfluktuasi secara substansial dengan variasi dalam
permintaan system untuk oksigen. Pemantauan denyut jantung istirahat
adalah metode klinis sederhana dan non-invasive terkait dengan
prognosis kesehatan. Peningkatan denyut jantung dengan mudah dapat
diukur dengan menyasar denyut nadi. Denyut nadi adalah denyut
jantung yang dihantarkan lewat arteri dan dirasakan sebagai denyut (8).
Denyut nadi merupakan suatu gelombang yang teraba pada arteri
bila darah di pompa keluar jantung. Denyut nadi dapat dirasakan atau
diraba pada arteri yang dekat dengan permukaan tubuh, seperti arteri
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
23
temporalis yang terletak di atas tulang temporal, arteri dorsalis pedis
yang terletak di belokan mata kaki, arteri brachialis yang terletak
didepan lipatan sendi siku, arteri radialis yang terletak di depan
pergelangan tangan, dan arteri karotis yang terletak di ketinggian tulang
rawan tiroid. Frekuensi denyut nadi untuk orang normal jumlahnya
sama dengan denyut jantung (17)
Banyak hal yang mempengaruhi frekuensi denyut nadi
diantaranya adalah jenis kelamin, umur, posisi tubuh, dan aktivitas fisik.
Frekuensi denyut nadi istirahat anak laki-laki lebih rendah daripada
anak perempuan seusianya. Pada umur 2-7 tahun anak lakilaki memiliki
rata-rata denyut nadi istirahat sebanyak 97 denyut permenit, sedangkan
anak perempuan memiliki rata-rata 105 denyut. Anak laki-laki pada usia
8-14 tahun, mempunyai rata-rata frekuensi denyut nadi istirahat 76
denyut permenit sedangkan anak perempuan sebanyak 94 denyut
permenit. Rata-rata denyut nadi istirahat anak lakilaki pada umur 21-28
tahun adalah 73 denyut per menit sedangkan anak perempuan sebesar
80 denyut per menit. Orang laki-laki pada usia tua yaitu 70-77 tahun,
mempunyai rata-rata frekuensi denyut nadi istirahat 67 denyut permenit,
sedangkan perempuan 81 denyut permenit. Pengaruh umur terhadap
frekuensi denyut nadi istirahat dapat dilihat dari denyut nadi istirahat.
Denyut nadi normal dapat dikategorikan sesuai umur yaitu: dewasa 60-
80, anak 80-100 dan bayi 100-140 (8).
c. Pernafasan (Respirasi)
Pernapasan adalah gerakan bernapas yang terdiri dari inhalasi dan
ekspirasi, yaitu gerakan dada dan jalan napas saat udara masuk dan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
24
keluar dari rongga dada. Faktor yang mempengaruhi pernapasan adalah
olahraga, aktivitas, stres (kecemasan), peningkatan suhu tubuh, dan
peningkatan tekanan intrakranial. Tingkat pernapasan normal untuk
orang dewasa adalah 16-24 napas permenit. Takipnea yaitu sesak nafas
dengan frekuensi lebih dari 24 kali/menit atau nafas lambat. Tingkat di
bawah 16 denyut permenit, atau apnea adalah keadaan berhenti
bernapas.
5. Dexmedetomidine
Dexmedetomidine adalah agonis 2 adrenergik selektif dengan siifat
anxiolitik, sedatif, dan analgesik. Obat ini adalah golongan α2-agonis yang
potensi sebagai obat anestesi adalah dengan menurunkan aktivitas
nonadrenergik sentral. Deksmedetomidine lebih spesifik untuk α2 reseptor
dan mempunyai efek yang lebih besar sebagai obat premedikasi.
Pemberiannya mengakibatkan kebutuhan akan agen anestesi inhalasi atau
propofol menjadi lebih kecil, meskipun dapat terjadi terlambat bangun.
Obat ini diduga juga mempunyai peranan dalam melemahkan respon
simpatoadrenal pada saat induksi anestesi. a. Farmakologi
Dexmedetomidine
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
25
Gambar 1 Struktur Dexmedetomidine
Farmakologi dexmedetomidine adalah sebagai obat anestesi.
Dexmedetomidine bekerja sebagai agonis alfa. Nama kimia
dexmedetomidine adalah 1H-imidazole, 4- (S)- (1- (-dimethylphenyl)
ethyl)-monohydrochloride. Formula molekulernya C13H16N2.
b. Farmakodinamika
Dexmedetomidine (Precedex) digunakan untuk sedasi prosedural
pada pasien anak dan dewasa. Dexmedetomidine disukai untuk sedasi
prosedural dan ICU serta di ruang operasi untuk prosedur singkat dan
intubasi fiberoptik terjaga. Dexmedetomidine merupakan agonis alfa 2
reseptor yang mempunyai efek sedatif, anxiolytic, narcotic, analgesic,
dan sympatholytic. Hal ini terjadi karena inhibisi jaras simpatik pusat
dengan cara blokade reseptor alfa di batang otak, sehingga
menginhibisi pelepasan norepinephrine. Kemudian efek analgesik
yang dihasilkan dexmedetomidine dipercaya dimediasi oleh
mekanisme yang sama pada batang otak dan medula spinalis. Obat ini
sangat paten dan sangat selektif terhadap α2-adrenoseptor dengan
rasio α2:α1 adalah 1620:1. Hal ini menjadikan dexmedetomidine
delapan kali lebih selektif terhadap α2-adrenoceptor daripada
clonidine.
Awalnya dexmedetomidine hanya digunakan secara intravena
sebagai sedasi pada pasien deA wasa dengan ventilasi mekanik yang
dirawat di ICU selama 24 jam. Pada tahun 2008, indikasi tambahan
diberikan di Amerika Serikat dimana dexmedetomidine boleh
digunakan sebagai sedasi pada pasien yang tidak terintubasi sebelum
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
26
dan atau selama pembedahan dan tindakan lain. Pasien yang menerima
dexmedetomidine akan lebih mudah dibangunkan dari anestesi dan
lebih dilaporkan lebih jarang mengalami depresi pernapasan.
Walaupun memiliki efek minimum depresi pernapasan, penggunaan
dexmedetomidine juga memiliki efek samping seperti bradikardi,
hipotensi, sinus arrest, dan hipertensi flash, terutama bila digunakan
pada pasien usia 65 tahun ke atas. Pada ibu hamil dan menyusui,
pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, serta penggunaan pada
anak-anak, diperlukan kehati-hatian.
c. Efek Sedatif
Sedasi menggunakan dexmedetomidine menyerupai tidur alami
atau fisiologis. Efek sedatif dan hipnotisnya dipercaya dimediasi oleh
aktivasi pre- dan post-synapse reseptor-α2 di lokus sereleus dan
dexmedetomidine dipercaya mempengaruhi jalur tidur endogen. Efek
sedatif dexmedetomidine tergantung dari konsentrasi obat di dalam
tube, konsentrasi tube antara 0,2-0,3 ng/ mL akan menghasilkan efek
sedatif yang signifikan dan dalam.
Diindikasikan untuk sedasi pada pasien yang tidak diintubasi,
sebelum dan/atau selama pembedahan dan prosedur lainnya: 1) Beban
1 mcg/kg IV selama 10 menit
2) Pemeliharaan 0,6 mcg/kg/jam untuk efek titrasi IV (biasanya 0,2-1
mcg/kg/jam), (Medscape, 2021).
Dexmedetomidine memiliki beberapa karakteristik yang
membuat penggunaannya untuk sedasi prosedural sangat menarik.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
27
Selain itu, pasien dapat mengikuti perintah dan merespons rangsangan
verbal dan sentuhan tetapi cepat tertidur jika tidak dirangsang. Itu
memang memberikan beberapa pereda nyeri, seperti ketamin, tetapi
tidak pada tingkat yang sama. Hal ini membuat penggunaan analgesik
lain diperlukan untuk prosedur yang lebih menyakitkan. Efek
kardiovaskular minimal terlihat dan termasuk penurunan resistensi
vaskular sistemik. Bradikardia parah telah dilaporkan. Onset kerja
relatif cepat dan waktu paruh peka konteks kira-kira 4 menit setelah
infus 10 menit. Dexmedetomidine adalah 1600 kali lebih selektif untuk
alpha2 dari alpha1 reseptor dan karena itu memiliki efek samping
yang sangat sedikit dan memberikan hasil yang dapat diprediksi
(Medscape, 2020).
Premedikasi dengan obat agonis α2-adrenergic menghasilkan
sedasi dan ansiolisis sementara, juga menurunkan denyut jantung dan
tekanan darah selama anestesi dan kebutuhan opioid setelah operasi.
Prototipikal α2-agonist, telah berhasil digunakan untuk premedikasi
rawat jalan dan dapat mengurangi kehilangan darah intraoperatif, serta
kebutuhan anestesi dan analgesik. Dexmedetomidine adalah α2agonist
yang lebih selektif dan memiliki durasi kerja yang lebih pendek
daripada clonidine. Karena potensinya yang tinggi dan aksi agonis
selektif pada α2-receptors, dexmedetomidine dapat diterima secara
lebih luas pada anestesi rawat jalan. Meskipun efek hemodinamik akut
dari obat IV ini dapat membatasi penggunaannya untuk premedikasi,
dexmedetomidine terbukti menjadi tambahan yang berharga selama
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
28
operasi karena efek anestesi dan analgesiknya yang hemat dan
kemampuannya untuk mengurangi nyeri pasca operasi. Pemberian
dexmedetomidine selama prosedur juga telah dilaporkan efektif untuk
mengurangi respon hipertensi (Miller’s Anesthesia, 7th edition).
d. Efek Analgesik
Mekanisme analgesik dexmedetomidine belum sepenuhnya
diketahui. Efek analgesik dexmedetomidine dipercaya dimediasi oleh
pengikatan reseptor-α2 di sentral dan medula spinalis. Transmisi nyeri
ditekan oleh hyperpolarizes interneuron dan penurunan pelepasan
transmiter pronociceptive seperti substansi P dan glutamate sehingga
menimbulkan efek analgesik.
e. Efek Kardiovaskuler
Dexmedetomidine memiliki respons hemodinamika biphasic
yang khas, pada konsentrasi tube rendah menyebabkan hipotensi dan
pada konsentrasi tube tinggi akan menyebabkan hipertensi. Ketika
dexmedetomidine diberikan secara bolus intravena, konsentrasi obat di
dalam tube akan tinggi, sehingga mengaktivasi reseptor-α2 di otot
polos pembuluh darah yang akan menyebabkan vasokonstriksi perifer
dan terjadilah hipertensi. Hal ini juga diikuti dengan penurunan denyut
jantung yang kemungkinan disebabkan refleks baroreceptor.
Penjelasan lain yang mungkin menyebabkan penurunan denyut
jantung adalah karena stimulasi reseptor-α2 presinaps yang
menyebabkan penurunan pelepasan norepinephrine. Setelah beberapa
menit, ketika konsentrasi dexmedetomidine di dalam tube menurun,
efek vasoconstriction mulai berkurang. Dalam waktu bersamaan,
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
29
dexmedetomidine juga mengaktivasi reseptor-α2 di sel endotel
pembuluh darah, sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan tekanan
darah.
Ada minat yang cukup besar saat ini dalam α2-agonis karena
efek analgesik dan sedatifnya. Ini kelas termasuk dexmedetomidine
dan clonidine, dengan yang terakhir menjadi α2-agonis yang kurang
spesifik dan kurang poten. Efek dexmedetomidine yang diketahui
dengan baik untuk menurunkan tekanan darah sistemik memerlukan
pertimbangan yang cermat jika digunakan pada pasien yang sangat
bergantung pada jaminan tekanan perfusi, terutama pada fase
pemulihan obat bius (Miller’s Anesthesia, 7th edition).
f. Efek Respirasi
Dexmedetomidine tidak menyebabkan depresi pernapasan atau
gangguan jalan napas. Untuk itu, dexmedetomidine bisa digunakan
sebagai sedasi setelah pasien diekstubasi. Pada konsentrasi terapeutik
dalam tube sampai dengan 2,4 ng/ mL, efek depresi pernapasan
dilaporkan minimum. Pada suatu studi yang membandingkan antara
remifentanil dan dexmedetomidine pada subyek sehat, didapatkan
bahwa tidak ada efek depresi pernapasan hingga konsentrasi tube 2,4
ng/ mL pada penggunaan dexmedetomidine.
g. Farmakokinetik
Melalui jalur pemberian secara intravena, dexmedetomidine
menunjukkan karakteristik distribusi yang cepat dengan waktu paruh
sekitar 6 menit, waktu paruh eliminasi akhir sekitar 2 jam, volume
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
30
distribusi tetap sekitar 118 liter, dan concurrence (CL) sekitar 39 L/
jam.
Walaupun cara pemberian dexmedetomidine terdaftar hanya
secara intravena, berbagai rute yang lain telah diinvestigasi dengan
bioavailable 16% ketika diberikan via oral, 65% via nasal, dan 82%
via buccal. Dexmedetomidine dilaporkan memiliki absorpsi yang baik
pada pemberian melalui mukosa nasal dan buccal. Hal ini bisa
menjadi sebuah keuntungan ketika digunakan pada anak yang tidak
kooperatif atau pasien geriatrik.
Dexmedetomidine merupakan obat yang sangat terikat dengan
protein. Di dalam tube, 94 dexmedetomidine diikat oleh albumin dan
α1-glikoprotein. Studi prepemasaran dengan radioaktif menunjukkan
bahwa dexmedetomidine menyebar secara cepat dan luas ke seluruh
tubuh. Studi preklinis pada binatang, menemukan bahwa
dexmedetomidine segera melewati sawar darah otak dan sawar
plasenta dengan waktu paruh distribusi obat adalah 6 menit.
Hampir seluruh dexmedetomidine mengalami bertransformasi
lengkap dan hanya menyisakan sedikit sekali dexmedetomidine yang
tidak berubah yang diekskresikan melalui urine dan feses.
Dexmedetomidine mengalami glucuronidase dan hydroxylase oleh
enzim sitokrom P450 di dalam microsome hepar, dan N-metilasi di
hepar menjadi metabolit inaktif yang akan diekskresikan melalui
ginjal.
Waktu paruh eliminasi akhir dexmedetomidine adalah sekitar 2
jam dan concurrence diperkirakan sekitar 39 L/ jam. Eliminasi
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
31
dexmedetomidine sekitar 95 melalui urine, sisanya diekskresikan
melalui feses.
a) Formulasi Dexmedetomidine
Formulasi dexmedetomidine tersedia dalam bentuk injeksi
intravena yang harus diencerkan terlebih dahulu sebelum
digunakan. Bentuk Sediaan di Indonesia obat dexmedetomidine
tersedia dalam bentuk injeksi. Kekuatan sediaan adalah 100 mcg/
ml dan 200 mcg/ ml.
b) Cara Penggunaan
Dexmedetomidine hanya diberikan melalui jalur intravena
dan harus diberikan menggunakan alat infus yang terukur. Dalam
penyiapan obat dexmedetomidine harus menggunakan teknik
aseptik. 2 ml dexmedetomidine diencerkan dengan 48 ml cairan
salin normal menjadi 50 ml kemudian dikocok hingga tercampur
rata. Setelah diencerkan, dexmedetomidine harus segera
digunakan dan harus dibuang setelah 24 jam. Jangan lupa
perhatikan apakah terdapat partikel dan perubahan warna pada
obat yang sudah diencerkan sebelum digunakan.
Dexmedetomidine harus diberikan hanya oleh petugas yang
memiliki kompetensi dalam bidang anestetik atau perawatan
pasien di ICU. Karena terdapat efek farmakologi berupa
hipotensi, bradikardi, dan sinus arrest, maka pasien yang
mendapatkan terapi dexmedetomidine harus dipantau secara
terusmenerus.
c) Cara Penyimpanan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
32
Dexmedetomidine sebaiknya disimpan dalam suhu ruangan
15–30 ˚C. Menurut TGA, dexmedetomidine sebaiknya disimpan
di bawah suhu 25 ˚C. Dexmedetomidine harus segera digunakan
setelah diencerkan untuk mengurangi risiko kolonisasi bakteri.
Jika dibutuhkan untuk disimpan sementara, maka simpan obat
pada suhu 2-8 ˚C, namun tidak boleh lebih dari 24 jam.
d) Indikasi dan Dosis
Indikasi dexmedetomidine awalnya adalah sebagai sedasi
sampai dengan 24 jam pada pasien ICU yang menggunakan
ventilasi mekanik. Kemudian dexmedetomidine diizinkan untuk
digunakan sebagai sedasi pada pasien yang tidak terintubasi
sebelum dan atau selama pembedahan dan tindakan lain. Dosis
dexmedetomidine yang diberikan bersifat individual dan dapat di
titrasi sesuai respons klinis.
e) Efek samping
Dexmedetomidine dapat menyebabkan efek samping berupa
hipotensi, hipertensi, bradikardi, mual, mual, mulut kering, dan
hipoksia. Dexmedetomidine berinteraksi dengan obat anestetik,
sedatif, hipnotis, dan opioid.
Efek samping terbanyak yang ditimbulkan oleh penggunaan
dexmedetomidine adalah hipotensi, bradikardi, dan hipertensi.
Hipertensi disebabkan oleh sub tipe reseptor-α pada otot polos
pembuluh darah. Hipertensi ini biasanya tidak membutuhkan
pengobatan dan dapat dicegah dengan menurunkan kecepatan
pemberian obat atau meniadakan dosis inisiasi. Hipotensi dan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
33
bradikardi disebabkan karena stimulasi reseptor-α di presinaps
sehingga pelepasan norepinephrine menurun dan aliran simpatik
pusat juga menurun. Efek samping lainnya yang dapat disebabkan
oleh dexmedetomidine adalah muntah, demam, takikardi, mulut
kering, hipoksia, somnolent, dan haus, namun efek samping
tersebut cukup jarang.
f) Kontraindikasi
Penggunaan dexmedetomidine adalah pada pasien dengan
riwayat hipersensitivitas terhadap obat ini. Penggunaan perlu
peringatan khusus pada ibu hamil dan menyusui, pasien dengan
gangguan fungsi hati dan ginjal, serta penggunaan pada anakanak.
Pengawasan klinis pada penggunaan dexmedetomidine
dibutuhkan untuk menilai efek merugikan yang ditimbulkan oleh
obat. Pengawasan yang dilakukan mencakup pemantauan EKG,
tekanan darah dan saturasi oksigen.
6. General Anestesi
a. Definisi Anestesi
Anestesi yakni istilah dari dua kata Yunani yaitu "an" serta
"esthesia", dan bersama-sama artinya "hilangnya rasa atau hilangnya
sensasi". Ahli saraf mendefinisikan istilah sebagai hilangnya sensasi
patologis di bagian tubuh tertentu. Istilah anestesi awalnya diciptakan
oleh Oliver Wendell Holmes (1809-1894) untuk proses "eterifikasi"
Morton (1846) untuk menggambarkan keadaan penghilang rasa sakit
selama operasi. Saat ini, ketika kata tunggal anestesi digunakan, itu
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
34
berarti anestesi umum. Anestesi umum adalah keadaan tidak sadar
tanpa rasa sakit yang reversibel karena pemberian.
Anestesi adalah penghilang rasa sakit dan dibagi menjadi
anestesi umum dengan kehilangan kesadaran tergantung pada jenis
yang digunakan, sedangkan anestesi regional dan lokal adalah
penghilang rasa sakit di bagian tubuh tanpa kehilangan kesadaran. (18)
Anestesi yakni kegiatan menghilangkan rasa sakit saat
melakukan pembedahan serta banyak prosedur lain yang
menyebabkan rasa sakit tubuh (19)
Dari beberapa definisi anestesi menurut para ahli maka dapat
disimpulkan bahwa Anestesi yakni sebuah tindakan menghilangkan
rasa sakit pada saat pembedahan atau melakukan tindakan prosedur
lainnya yang menyebabkan rasa sakit dengan cara trias anestesi yaitu
hipnotik, analgetik, relaksasi.
Klasifikasi ASA diperkenalkan pada tahun 1960 oleh American
Society of Anesthesiologists sebagai deskripsi sederhana yang
menunjukkan indikasi kondisi fisik pasien dalam kaitannya dengan
apakah pembedahan harus segera/cito atau elektif. Klasifikasi ini
sangat berguna dan harus diterapkan pada pasien yang menjalani
operasi, meskipun banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil
sesudah operasi.
Tabel 2: Klasifikasi ASA
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
35
b. Jenis Anestesi
1) Anestesi Umum (General Anesthesia)
Anestesi umum (General Anesthesia) yakni keadaan tidak
sadar dengan sifat sementara diikuti hilangnya nyeri di tubuh
disebabkan pemberian obat anesthesia. Adapun teknik anestesi
umum meliputi anestesi umum intravena, anestesi umum inhalasi,
dan anestesi imbang (Balanced Anesthesia). Anestesi umum
meliputi:
a) Anestesi Umum Intravena
Merupakan salah satu teknik anestesi umum dengan
menyuntikkan obat anestesi parenteral langsung ke pembuluh
darah vena. Teknik anestesi umum intravena terdiri dari
anestesi intravena klasik, anestesi intravena total, dan
anestesi-analgesia neurolept.
b) Anestesi Intravena Klasik
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
36
Penggunaan kombinasi obat ketamin dengan sedasi
(diazepam dengan midazolam) komponen trias anestesia
yang terpenuhi yaitu hipnotik dan analgesia.
c) Anestesi Intravena Total (TIVA)
Pemakaian kombinasi obat anestesi intravena dengan
khasiat hipnotik, analgetik, serta relaksasi otot berimbang
komponen trias anestesia yang terpenuhi yaitu hipnotik,
analgesia, serta relaksasi otot.
d) Anestesi-Analgesia Neurolept
Pemakaian kombinasi obat neuroleptik dengan
analgetik opiate secara intravena, komponen trias anestesia
yang terpenuhi yaitu hipnotikringan dan analgesia ringan.
2) Anestesi Umum Inhalasi
Yakni salah satu teknik anestesia umum dengan emberikan
kombinasi obat anestesia inhalasi yang berbentuk gas ataupun
cairan yang mudah menguapmelalui alat atau media anestesia
langsung ke udara inspirasi
3) Anestesi Imbang (Balanced Anesthesia)
Yakni teknik anestesia menggunakan kombinasi obatobatan
baik obat anestesia intravena ataupun obat anestesia inhalasi
ataupun kombinasi teknik anestesia umum dengan anestesia
regional guna menggapai trias anestesia yang optimal serta
berimbang.
c. Prosedur tindakan General Anestesi
1) Pasien disiapkan sesuai pedoman evaluasi pra anesthesia;
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
37
2) Pasang alat bantu yang dibutuhkan (monitor EKG, tekanan
darah);
3) Siapkan alat-alat, obat anestesi, dan obat resusitasi;
4) Siapkan alat bantu napas manual ataupun alat bantu napas
mekanik. Siapkan mesin anestesi dan sistem sirkuitnya, serta gas
anestesi yang digunakan;
5) Induksi bisa diadakan dengan obat anestesi intravena ataupun
inhalasi;
6) Pengelolaan jalan napas sesuai pedoman (lakukan intubasi dan
pasang pipa endotrakeal);
7) Rumatan anestesi dapat menggunakan obat-obatan yang
dibutuhkan sesuai trias anesthesia;
8) Pernapasan pasien dikendalikan dengan mekanik ataupun dengan
bantuan tangan, berikan suplai oksigen menurut kebutuhan;
9) Pantau tanda vital kontinu serta periksa analisis gas darah bila ada
indikasi;
10) Selesai operasi, pemberian obat-obatan anestesi dihentikan (bila
anestesi dilakukan secara inhalasi, hentikan pemberian gas
inhalasi serta berikan oksigen 100% (4-8 liter per menit) selama
2-5 menit;
11) Pengakhiran anestesi yang menggunakan obat pelumpuh otot
diberikan obat penawar pelumpuh otot (neostigmine
dikombinasikan atropine);
12) Sesudah kelumpuhan otot pulih serta pasien mampu bernapas
spontan, diadakan ekstubasi pipa endotrakeal;
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
38
13) Pemindahan pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan
diadakan jika ventilasi Oksigenasi adekuat serta hemodinamik
stabil;
14) Pemantauan pra serta intra anesthesia dicatat atau
didokumentasikan dalamrekam medik pasien.
d. Rumatan Anestesi
1) General Anestesi
Premedikasi
a) Sedasi (diazepam, diphenhidramin, promethazine,
midazolam)
b) Analgetik Opiat (pethidine, morphine, fentanyl, analgetik
non opiate)
c) Anti Kolinergik (atropine sulfat)
d) Antiemetik (ondansentron, metoclopramide)
e) Profilaksis Aspirasi (cimetidine, ranitidine, antasida)
2) Obat Anestesi Intravena (ketamine, tiopenton,
propofol, diazepam, midazolam, pethidine, morphine,
fentanyl).
3) Obat Anestesi Inhalasi (N2O, halotan, enfluran,
isofluran, sevofluran, desfluran).
4) Obat Pelumpuh Otot
e. Resiko Komplikasi Anestesi
1) Ansietas : Ketakutan akan tindakan pembedahan;
2) Gangguan kardiovaskuler : Penurunan curah jantung;
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
39
3) Gangguan respirasi : Pola nafas tidak efektif;
4) Gangguan termoregulasi : Hipotermi;
5) Gastrointestinal : Rasa mual dan muntah;
6) Resiko infeksi : Luka insisi post operasi;
7) Nyeri : Proses kontraksi Terputusnya kontinuitas jaringan kulit; 8) Resiko
Jatuh : Efek obat anestesi, Blok pada saraf motoric.
B. Kerangka Teori
Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di Bab II, maka kerangka teori
dalam penelitian ini digambarkan seperti dibawah ini:
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
40
Trauma Kepala Tumor Otak
Kraniotomi
Anestesi Umum
Pemberian
DexmedetomidineIV
Hemodinamik Stabil / Pemantauan
Tidak Stabil Hemodinamik
1. Tekanan Darah
[Link]
[Link] Oksigen (SPO2)
Gambar 2 Kerangka Teori
Sumber : Miller’s Anesthesia, 7th edition , Robert Hotman Sirait (2020), ATLS
(2019).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
41
C. Kerangka Konsep Variabel Bebas
Variab el Terikat
Pemberian
Dexmedetomidine IV Hemodinamik
Variabel Pengganggu
1. Suhu Ruangan Operasi > 22˚C
2. Perdarahan
3. Operasi yang lebih dari 2 jam
4. Penggunaan obat
antihipertensi
Keterangan:
= iiYang diteliti
= ii Yang tiitidak diteliti
Gambar 3 Kerangka Konsep
D. Hipotesis
Ha : Ada perbedaan hemodinamik pasien kraniotomi trauma dan kraniotomi
tumor terhadap penggunaan dexmedetomidine.
Ho : Tidak ada perbedaan hemodinamik pasien kraniotomi trauma dan
kraniotomi tumor terhadap penggunaan dexmedetomidine.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
42
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta