0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan19 halaman

Efektivitas Metode Langsung Bahasa Arab

Dokumen ini membahas tentang efektivitas pengajaran guru dan pembelajaran siswa dalam menggunakan metode langsung untuk pembelajaran bahasa Arab. Dokumen ini juga membahas faktor-faktor penghambat dalam pembelajaran bahasa Arab menggunakan metode tersebut.

Diunggah oleh

Laily Hidayati Ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan19 halaman

Efektivitas Metode Langsung Bahasa Arab

Dokumen ini membahas tentang efektivitas pengajaran guru dan pembelajaran siswa dalam menggunakan metode langsung untuk pembelajaran bahasa Arab. Dokumen ini juga membahas faktor-faktor penghambat dalam pembelajaran bahasa Arab menggunakan metode tersebut.

Diunggah oleh

Laily Hidayati Ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkan oleh

lebih dari dua ratus juta umat manusia (Ghazzani, 1992). Bahasa Arab digunakan secara

resmi oleh kurang lebih 20 negara. Bahasa arab juga merupakan bahasa kitab suci dan

tuntunan agam islam sedunia. Maka dari itu, tentu saja bahasa Arab merupakan bahasa

yang paling besar signifikasinya bagi ratusan jutaan muslim sedunia, baik yang

berkebangsaan Arab maupun tidak.1

Bahasa adalah sebagai alat komunikasi dan penghubung dalam pergaulan manusia

sehari-hari, baik antara individu dengan individu, individu dengan masyarakat dan

individu dengan Tuhan.2 Peranan bahasa Arab bagi umat Islam khususnya sangat

penting, karena bahasa merupakan kunci pembuka bagi pemahaman dan studi islami dari

sumber-sumber aslinya (Al Qur’an dan Hadits), maka tidak salah jika dikatakan bahwa

studi islam tidak bisa terlepas dari studi bahasa Arab.3

Untuk itu, lembaga-lembaga pendidikan menjadikan pembelajaran bahasa Arab

sebagai tujuan yaitu untuk menghasilkan ahli bahasa Arab dan sastra Arab serta pengajar

yang mampu mengajarkan bahasa Arab.4

Masalahnya adalah bagaimana meningkatkan kualitas berbahasa Arab yang masih

dianggap oleh sebagian peserta didik sebagai bahasa yang sulit, bahkan memandangnya

1
Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pembelajarannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 1
2
Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pembelajaran Agama dan Bahasa Arab, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1997), hlm. 187
3
Umar Asasuddin Sokah DID TEFL, Problematika Pembelajaran Bahasa Arab dan Inggris: Suatu
TinjauanTeoritis, (Yogyakarta: CV. Cahaya, 1982), hlm. 136
4

A. Akrom Malibary, Pembelajaran Bahasa Arab di Madrsah Aliyah, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1978),
hlm. 2
menjadi momok. Hal ini merupakan tantangan yang harus segera dicari solusinya. Disini

peran guru dan pakar bahasa Arab sangat dibutuhkan.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang akan penulis bahas dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana efektivitas mengajar guru ketika menggunakan metode langsung dalam

pembelajaran bahasa Arab di kelas Mustawal Ula Pondok Pesantren Syaikh

Zainuddin?

2. Bagaimana efektivitas belajar murid ketika guru menggunakan metode langsung

dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas tersebut?

3. Apa saja faktor penghambat yang dihadapi guru dan peserta didik dalam pembelajaran

bahasa Arab yang menggunakan metode langsung tersebut dan apa solusinya?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui efektivitas mengajar guru dan efektivitas belajar murid dalam

pembelajaran bahasa Arab yang menggunakan metode langsung di kelas Mustawal

Ula Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin.

2. Untuk mengetahui faktor penghambat yang dialami oleh guru dan peserta didik dalam

pembelajaran bahasa Arab yang menggunakan metode langsung di kelas Mustawal

Ula Pondok Pesantren Al Muhsin Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. memberikan sumbangsih pemikiran bagi perkembangan keilmuan Islam khususnya

dalam ilmu bahasa Arab.


2. Dapat dijadikan sebagai suatu masukan dan sebagai bahan alternatif untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan

Islam.

E. Tinjauan Pustaka

Sebenarnya sudah banyak penelitian-penelitian ilmiah yang membahas masalah

metodologi pembelajaran bahasa asing, karena masalah ini bila diteliti tidak akan ada

habis-habisnya dan merupakan masalah yang cukup menarik untuk diteliti.

Di antara buku-buku yang mengkaji tentang metodologi pembelajaran bahasa yaitu

apa yang pernah ditulis oleh DR. Mulyanto Sumardi dengan judul ” Pembelajaran

Bahasa Asing: Sebuah Tinjauan dari Segi Metodologi”, di dalamnya membahas berbagai

macam metode pembelajaran bahasa asing dan sedikit sejarah tentang metode

pembelajaran. Prof. Dr. Azhar Arsyad dengan bukunya “Bahasa Arab dan Metode

Pembelajarannya: Beberapa Pokok Pikiran”, di dalamnya banyak membahas tentang

kedudukan bahasa Arab dan berbagai macam metode alternatif dalam pembelajaran

bahasa Arab. Metode Belajar Mengajar Bahasa Arab yang ditulis oleh Dra. Juwairiyah

Dahlan, di dalamnya membahas tentang kegunaan bahasa Arab, problematika

pembelajarannya dan berbagai metode pembelajaran bahasa Arab.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Tinjauan tentang Efektivitas

Efektivitas dalam suatu kegiatan berkenaan dengan sejauh mana apa yang

direncanakan dapat terlaksana. Bila ada 10 jenis kegiatan yang direncanakan dan

tercapai hanya 4 kegiatan, maka efektivitas kegiatan tersebut masih belum memadai.

Demikian pula bila ada 10 tujuan yang dinginkan dan tercapai hanya 5 tujuan, maka

usaha untuk mencapai tujuan tersebut masih dianggap kurang efektif.

Di dalam bidang pendidikan, efektivitas ini dapat ditinjau dari 2 segi yaitu

efektivitas mengajar guru dan efektivitas belajar murid. Efektivitas mengajar guru

terkait dengan sejauh mana jenis-jenis kegiatan pembelajaran yang direncanakan

dapat dilaksanakan dengan baik. Sedangkan efektivitas belajar murid terkait dengan

sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran yang diinginkan tercapai melalui kegiatan

pembelajaran yang ditempuh.5

Mengingat pengajaran merupakan suatu proses yang dinamis untuk mencapai

tujuan yang telah dirumuskan, maka kita dapat menentukan dua kriteria yang bersifat

umum yaitu criteria ditinjau dari sudut prosesnya dan kriteria ditinjau dari sudut hasil

yang dicapai. Kriteria dari sudut proses menekankan kapada pengajaran sebagi suatu

proses haruslah merupakan interaksi dinamis sehingga siswa, sebagai subjek yang

belajar mampu mengembangkan potensinya melalui belajar sendiri, dan tujuan yang

telah ditetapkan tercapai secara efektif. Sedangkan kriteria dari segi hasil atau produk

menekankan kepada tingkat penguasaan tujuan oleh siswa baik dari segi kualitas

maupun kuantitas.
5
Henyat Soetopo dan Wasty Sumanto, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Bina Aksara, 1989)
hlm. 50-51
Untuk mengukur keberhasilan pengajaran dari sudut prosesya, dapat dikaji

melalui beberapa persoalan diantara adalah:

a. Apakah pengajaran direncanakan dan dipersiapkan terlebih dahulu dengan

melibatkan siswa secara sistematik ataukah suatu proses yang dipersiapkan bersifat

otomatis dari guru disebabkan telah menjadi pekerjaan rutin.

b. Apakah kegiatan siswa dimotivasi guru sehingga ia melakukan kegiatan belajar

dengan penuh kesadaran, kesungguhan dan tanpa paksaan untuk memperoleh

tujuan yang telah ditetapkan.

c. Apakah proses pengajaran dapat melibatkan semua siswa dalam kelas atau hanya

sebagian saja yang aktif belajar.

d. Apakah suasana pengajaran menyenangkan dan merangsang siswa untuk belajar

atau suasananya mencemaskan, menakutkan dan membosankan.

e. Apakah kelas memiliki sarana pembelajaran yang cukup sehingga menjadi

laboraturium belajar atau kurang mempunyai sarana pembelajaran.6

Sedangkan pengajaran dari sudut hasil menurut Mudlofir adalah Efektivitas

dapat diukur dari jumlah siswa yang berhasil mencapai seluruh tujuan belajar dalam

waktu yang telah ditentukan. Spesifikasi jumlah tersebut dinyatakan dalam jumlah

prosentase. Berapa besarnya prosentase dikatakan efektif tergantung kepada standart

kriteria keberhasilan yang sudah ditentukan oleh pengajar yang berrsangkutan.7

Disini digunakan kriteria sebagaimana yang lazim digunakan dalam penilaian

di perguruan tinggi, yaitu:

a. 80 – 100 : Sangat baik

b. 66 – 79 : Baik

6
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Grasindo, 2002), hlm. 34--37
7
Mudlofir, Teknologi Instruksional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1990) hlm. 145-146
c. 56 – 65 : Cukup baik

d. 40 – 55 : Kurang

Dengan berdasarkan pada kriteria di atas, maka dapat ditentukan bahwa

apabila keberhasilan mencapai:

a. 80 – 100 : Sangat efektif

b. 66 – 79 : Efektif

c. 56 – 65 : Cukup efektif

d. 40 – 55 : Kurang efektif

2. Pembelajaran Bahasa Arab

Pembelajaran adalah suatu usaha mengubah seseorang agar ia dapat

berperilaku tertentu. Dalam pembelajaran ada kesengajaan. Hal ini merupakan ciri

khas suatu pembelajaran. Pembelajaran terjadi setelah usaha tertentu dibuat untuk

mengubah suatu keadaan semula menjadi keadaan yang diharapkan. 8 Sedangkan

menurut Nana Sudjana, “Pembelajaran adalah operasionalisasi dari kurikulum

pembelajaran di sekolah terjadi apabila terdapat interaksi antara peserta didik dengan

lingkungan belajar yang diatur oleh pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran”.9

Adapun yang dimaksud dengan pembelajaran bahasa Arab adalah

operasionalisasi dari kurikulum pembelajaran dalam bidang studi bahasa Arab yaitu

bagaimana proses pembelajaran bahasa Arab itu.

3. Dasar Pengajaran Bahasa Arab

Di dalam pendidikan pada umumnya dan pembelajaran pada khususnya,

segala kegiatan berpegang pada ukuran, norma atau nilai yang diyakini sebagai suatu

yang baik. Agama, filsafat hidup, pandangan terhadap seseorang dan masyarakat,

kesusilaan kesemuanya adalah merupakan sumber- sumber norma pendidikan dan

8
A. Tresna Sastrawijaya, Pengembangan Program Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 14
9
15 Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar… , hlm. 10
pembelajaran, sekaligus juga merupakan dasar bertindak, menilai dan berpikir bagi

setiap individu yang terlibat dalam proses pendidikan dan pembelajaran. 10

Dasar pembelajaran bahasa Arab berangkat dari agama, karena kitab suci

agama Islam adalah Al Qur’an yang menggunakan bahasa Arab. Jadi, sebagai seorang

muslim harus mengetahui bahasa kitab sucinya. Selain itu, bahasa Arab juga

merupakan sumber pengetahuan bagi literatur-literatur yang berbahasa Arab.

4. Faktor-Faktor Pembelajaran Bahasa Arab

Dalam pembelajaran, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu

faktor siswa, faktor guru, faktor tujuan, faktor bahan (materi), faktor metode, faktor

media dan faktor evaluasi. Dalam hal ini, penulis akan memfokuskan pembahasan

pada faktor metode, khususnya metode langsung.

5. Metode Langsung dalam Pembelajaran Bahasa Arab.

Seperti yang telah diungkapkan dalam faktor-faktor pembelajaran bahwa

metode sangat banyak maka seorang guru akan berhasil untuk mencapai tujuan jika

dia memperhatikan faktor-faktor tersebut, dalam hal ini metodenya.

Berbicara mengenai metode, tentu tidak akan terlepas berbicara mengenai

pendekatan (approach), sebab metode adalah sebuah rencana yang menyeluruh yang

berhubungan dengan penyajian materi pelajaran secara teratur dan tidak saling

bertentangan dan didasarkan atas suatu pendekatan. Untuk itu, dalam mempelajari

metode pembelajaran bahasa Arab kita harus mengetahui pendekatan yang digunakan

dalam pembelajaran itu sendiri, karena pendekatan yang digunakan akan sangat

mempengaruhi terhadap metode yang diterapkan.

10
Imansyah Alipandie, Didaktik Metodik Pendidikan Umum, (Surabaya: Usaha Nasional), hlm. 52
Dalam pembelajaran bahasa Arab, kita mengenal adanya 2 pendekatan yang

sering digunakan, yaitu Nazhariyyatul Wahdah (Integrated System) dan Nazhariyyatul

Furu’(Separated System). Nazhariyyatul Wahdah (Integrated System) adalah sebuah

pendekatan yang dimaksudkan agar dalam pembelajaran bahasa, kita harus melihat

bahwa bahasa itu adalah suatu yang tunggal atau utuh, bukan sebagai bagian-bagian

atau segi-segi yang terpisah dan masing-masing berdiri sendiri. Sedangkan

Nazhariyyatul Furu’(Separated System) justru sebaliknya, dalam arti bahasa itu

sendiri terdiri dari berbagai aspek, baik gramatika, morfologi, sintaksis, semantik,

leksikal, stilistik yang harus diajarkan terpisah-pisah sesuai dengan cabangnya

masing-masing.11

Dalam perspektif metodologis, 2 pendekatan pembelajaran bahasa seperti

disebut di atas, mempunyai implikasi metodik yang berbeda. Pendekatan

Nazhariyyatul Wahdah tentu saja sangat cocok apabila menggunakan Metode

Langsung (Direct Method) dan Metode Audio Lingual (Aural Oral Approach),

sedangkan Nazhariyyatul Furu’ tentu saja sangat relevan kalau dalam proses

edukasinya menggunakan Metode Grammar, Translation, Grammar Translation dan

Reading Method.12

Metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai

tujuan. Jika metode yang digunakan tepat, maka semakin efektif pencapaian tujuan

tersebut.

Metode Langsung (Direct Method) adalah suatu cara menyajikan materi

pelajaran bahasa asing khususnya bahasa Arab, di mana guru langsung menggunakan

bahasa Arab sebagai bahasa pengantar tanpa menggunakan bahasa peserta didik dalam

11
Syamsuddin Asrofi, Pembelajaran Bahasa Arab di Perguruan Tinggi Agama: Telaah Kritits dalam Perspektif
Metodologis, Jurnal Al-Arabiyah Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Volume 1 No 1,
Yogyakarta 2004, hal: 66
12
Ibid, hal: 66
pembelajaran. Metode ini dikatakan metode langsung karena selama pelajaran, guru

menggunakan bahasa asing yang diajarkan serta berasumsi bahwa proses belajar

bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu, yaitu dengan menggunakan bahasa

secara langsung dan intensif dalam berkomunikasi dan dengan menyimak dan

berbicara, sedangkan membaca dan mengarang juga dikembangkan.

Metode ini muncul akibat dari ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran bahasa

dengan metode gramatika terjemah dikaitkan dengan tuntutan kebutuhan nyata di

masyarakat. Menjelang pertengahan abad ke-19, hubungan antar negara di Eropa

mulai terbuka sehingga menyebabkan adanya kebutuhan untuk bisa saling

berkomunikasi aktif diantar mereka. Untuk itu, mereka membutuhkan cara baru

belajar bahasa kedua, karena metode yang ada dirasa tidak praktis dan tidak efektif.

Maka pendekatan-pendekatan baru mulai dicetuskan oleh para ahli bahasa di Jerman,

Inggris, Perancis dan lain- lain, yang membuka jalan bagi lahirnya metode baru yang

disebut metode langsung. Diantara para ahli itu adalah Francois Gouin (1880-1992)

seorang guru bahasa latin dari Perancis yang mengembangkan metode berdasarkan

pengamatannya pada penggunaan bahasa ibu oleh anak-anak. Metode ini memperoleh

popularitas pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika. Pada waktu yang sama,

metode ini juga digunakan untuk pengajaran bahasa Arab, baik di negeri Arab maupun

negeri-negeri Islam di Asia termasuk Indonesia.13

Di Indonesia, penerapan metode langsung dimulai di Padang Panjang oleh

Ustadz abdullah Ahmad, Madrasah Adabiyah (1909), dua bersaudara Zaenuddin

Labay El-Yunusi dan Rahmah Labay El- Yunusiah, Diniyah Putra (1915) dan Diniyah

Putri (1923) dan Ustradz Mahmud Yunus, Normal School (1931) kemudian

ditumbuhkembangkan oleh K.H Imam Zarkasyi di Kuliyatul Mu’allimin Al Islamiyah

Gontor Ponorogo. Dalam sistem pengajaran ini, pelajaran agama pada tahun pertama
13
Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2004), hlm. 35-36
diberikan sebagai dasar dan dengan bahasa Indonesia. Sementara itu, sebagian besar

perhatian siswa dicurahkan kepada pelajaran bahasa Arab dengan metode langsung.

Pada tahun kedua, ilmu tata bahasa Arab (Nahwu Sharaf) mulai diberikan dalam

bahasa Arab dengan metode induktif, disamping latihan intensif qira’ah, insaya’ dan

muhadatsah. Pelajaran agama juga disajikan dalam bahasa Arab. Dalam nasa belajar

enam tahun (pasca sekolah dasar), seorang lulusan perguruan Islam modern ini telah

mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab, lisan dan tulis serta mampu membaca

buku berbahasa Arab dalam berbagai subjek pengetahuan.14

Ciri-ciri metode langsung menurut Mulyanto Sumardi dalam bukunya

”Pembelajaran Bahasa Asing (Sebuah Tinjauan dari Segi Metodologi) adalah sebagai

berikut:

a. Materi pelajaran diberikan kata demi kata, kemudian struktur kalimat.

b. Gramatikal diajarkan hanya bersifat sambil lalu, siswa tidak dituntut

menghafal rumus-rumus gramatikal tetapi yang utama adalah siswa

mampu mengucapkan bahasa secara baik.

c. Dalam proses pembelajaran, senantiasa menggunakan alat Bantu (alat

peraga), baik alat peraga langsung, tidak langsung (benda tiruan) maupun

peraga melalui simbol-simbol atau gerakan tertentu.

d. Setelah masuk kelas, peserta didik benar-benar dikondisikan untuk

menerima dan bercakap-cakap dalam bahasa Arab dan dilarang

menggunakan bahasa lain.15

Menurut Ahmad Fuad Effendy dalam bukunya “Metodologi Pembelajaran

Bahasa Arab”, ciri-ciri metode langsung adalah sebagai berikut:

14
Ibid…, hlm. 24
15
Mulya Sumardi, Pembelajaran Bahasa Asing (Sebuah Tinjauan dari Segi Metodologi),(Jakarta: Bulan
Bintang, 1974), hlm. 33
a. Materi pelajaran terdiri dari buku teks yang berisi daftar kosa kata dan

penggunaannya dalam kalimat.

b. Gramatika diajarkan dengan metode induktif, yaitu berangkat dari contoh-

contoh kemudian diambil kesimpulan.

c. Arti konkret diajarkan dengan menggunakan benda-benda (alat peraga),

sedangkan arti yang abstrak diajarkan dengan asosiasi.

d. Banyak latihan-latihan mendengarkan dan menirukan secara cepat dengan

pola tanya jawab terencana dalam pola interaksi yang bervariasi dengan

tujuan agar dapat dicapai penguasaan bahasa secara otomatis.

e. Guru dan peserta didik sama-sama aktif, tapi guru berperan memberikan

stimulus berupa contoh ucapan, peragaan dan pertanyaan, sedangkan

peserta didik hanya merespons dalam bentuk menirukan, menjawab

pertanyaan dan memperagakan ulang.

f. Sistem pembelajaran berawal dari kelas yang dijadikan sebagai “kolam

bahasa”.

Diantara kelebihan metode ini adalah sebagai berikut:

a. Pelajar terampil menyimak dan berbicara.

b. Pelajar menguasai pelafalan dengan baik seperti atau mendekati penutur

asli.

c. Pelajar mengetahui banyak kosa kata dan pemakaiannya dalam kalimat.

d. Pelajar memiliki keberanian spontanitas dalam berkomunikiasi.

e. Pelajar menguasai tatabahasa secara fungsional tidak sekedar teoritis,

artinya berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya.16

16
Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab…, hlm.36-38
BAB III

METODELOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Untuk memperoleh data-data yang valid, metode penelitian yang penulis gunakan

adalah:

1. Metode Penentuan Subjek

Yang dimaksud dengan subjek penelitian adalah sumber tempat memperoleh

keterangan penelitian.

Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah:


a. Kepala Bagian Tata Usaha Pondok Pesantren Syaikh Zaenuddin

b. Kepala Bagian Administrasi dan Keuangan.

c. Kepala Bidang Keputrian.

d. Kepala Bidang Kesantrian.

e. Kepala Bidang Perpustakaan.

f. Kepala Bidang Kebersihan.

g. Kepala Bidang Perlengkapan.

h. Ustadz bahasa Arab di kelas Mustawal Ula

i. Mahasiswa dan mahasiswi (peserta didik) di kelas Mustawal Ula

2. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah:

a. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

mengamati suatu fenomena yang diteliti, misalnya perilaku seseorang, bahasa yang

diucapkan seseorang dan sebagainya.1723

Dalam penelitian ini, observasi merupakan metode utama mengumpulkan data

mengenai letak geografis, situasi dan kondisi pondok pesantren Al muhsin dan

proses pembelajaran di kelas khusus (Mustawal Ula) Pondok Pesantren Syaikh

Zaenuddin

b. Wawancara

Wawancara penulis gunakan untuk memperoleh data mengenai tujuan

berdirinya, fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawab pengurus, profil guru

bahasa Arab, sarana dan fasilitas Pondok Pesantren Syaikh Zaenuddin.

c. Dokumentasi

17
Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data mengenai sejarah

berdirinya, struktur organisasi, daftar guru, jadwal kuliah, daftar santriwan dan

santriwati di kelas Mustawal Ula Pondok Pesantren Syaikh Zaenuddin.

d. Kuisioner

Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data-data yang bersumber dari

peserta didik di kelas khusus (Mustawal Ula) Pondok Pesantren Syaikh Zaenuddin

yaitu mengenai tanggapan peserta didik terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan

proses pembelajaran bahasa Arab.

3. Metode Analisis Data

a. Metode Deskriptif Non Statistik

Metode ini digunakan untuk menganalisa data kualitatif, data yang bukan

berupa angka yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi yang

dilakukan dengan cara induktif dan deduktif. Induktif adalah menarik cara berpikir

yang berangkat dari fakta-fakta khusus, peristiwa-peristiwa konkret, kemudian

ditarik generalisasi yang mempunyai sifat-sifat umum.1824Sedangkan deduktif yaitu

cara menarik kesimpulan yang berangkat dari fakta yang bersifat umum dan bertitik

tolak dari pengetahuan yang umum itu hendak menilai sesuatu yang bersifat khusus.

b. Metode Deskriptif Analisa Statistik

Metode ini digunakan untuk menganalisa data yang berupa angka, yaitu hasil

angket yang telah dilaksanakan sebelumnya. Di sini akan menggunakan statistik

sederhana yaitu dengan menggunakan Table Prosentase/ Distribusi Frekuensi

Relatif.

Adapun rumusnya :

P= f x 100%
N

18
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Jakarta: Andi Offset,1998), hal. 3
P : Prosentase jawaban responden

f : Frekuensi jawaban responden

N : Jumlah responden.19

Selanjutnya, dalam menganalisa tes menggunakan statistik dengan rumus

yaitu:

ΣfX
Mx ═
N

Mx : Mean yang dicari

ΣfX : Jumlah perkalian antara nilai yang ada dengan frekuensi

N : Number of Cases (banyak skor) itu sendiri.20

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah menyelesaikan penelitian tentang “Efektivitas Metode Langsung dalam

Pembelajaran Bahasa Arab Mahasiswa Program Khusus Pendidikan Pondok Pesantren

Departemen Agama RI (Analisis Proses di Pondok Pesantren Al Muhsin Yogyakarta),

maka penulis dapat menarik kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:

19
Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 43
20
Ibid, hlm. 84
1. Efektivitas mengajar guru ketika menggunakan metode langsung dalam

pembelajaran bahasa Arab di kelas Mustawal Ula cukup baik. Hal tersebut dapat

dibuktikan dengan beberapa indikator-indikator, yaitu:

a. Guru merencanakan dan mempersiapkan kegiatan pembelajaran.

Hal ini dapat dibuktikan dengan silabus pembelajaran bahasa Arab di kelas

tersebut.

b. Guru selalu memotivasi peserta didik agar selalu belajar bahasa Arab baik di

dalam kelas maupun di luar kelas.

c. Proses pengajaran belum melibatkan semua siswa di kelas tersebut, akan tetapi

melibatkan sebagian besar peserta didik.

d. Suasana pembelajaran bebas terkendali dan menyenangkan.

e. Sarana dan media pembelajaran kurang lengkap. Hal tersebut dapat

menghambat pembelajaran.

f. Peserta didik dapat menerima materi yang disampaikan guru. Hal ini

dibuktikan dari hasil angket yang menunjukkan bahwa (80%) peserta didik

dapat memahami pelajaran yang diberikan (20% faham dan 60% cukup

paham).

2. Efektivitas belajar murid dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas Mustawal Ula

yang menggunakan metode langsung juga baik. Hal ini dibuktikan dengan hasil

(nilai) ujian, mencapai rata-rata 75, 5. Berdasarkan kriteria yang lazim digunakan di

pergururan tinggi, angka 75, 5 termasuk dalam kriteria efektif.

3. Faktor penghambat menurut peserta didik adalah sebagai berikut:

a. Terbatasnya perbendaharaan kosakata (mufrodat) peserta didik.

b. Peserta didik sering menemukan istilah-istilah asing (kontemporer).

c. Penyampaian dan penjelasan materi oleh guru terlalu cepat.


4. Faktor penghambat menurut guru adalah sebagai berikut:

a. Durasi waktu pembelajaran hanya satu jam (kurang).

b. Jumlah peserta didik terlalu banyak dalam satu kelas

[Link] fasilitas (sarana) yang mendukung pembelajaran bahasa Arab

misalnya laboraturium bahasa.

d. Belum adanya komunitas berbahasa atau club bahasa

5. Solusi dari faktor penghambat peserta didik adalah sebagai berikut:

a. Peserta didik harus senantiasa menambah perbendaharaan kosa kata baru setiap

hari, baik yang berasal kamus, guru maupun pengurus pondok.

b. Peserta didik mencatat istilah-istilah kontemporer (asing) kemudian mencari

artinya dalam kamus bahasa Arab atau langsung menanyakannya kepada guru

bahasa Arab serta menghafalkannya.

c. Peserta didik berkoordinasi dengan guru agar penyampaian dan penjelasan

materi pelajaran tidak terlalu cepat (pelan dan jelas) sehingga mudah dipahami.

DAFTAR PUSTAKA

Abror, Indal, Mengukir Prestasi di Jalur Khusus, Yogyakarta:Pendi Pontren Depag RI, 2007.

Alipandie, Imansyah, Didaktik Metodik Pendidikan Umum, Surabaya:Usaha Nasional.


Asrofi, Syamsuddin , “Pembelajaran Bahasa Arab di Perguruan Tinggi Agama: Telaah Kritits

dalam Perspektif Metodologis”, Jurnal Al-Arabiyah Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah UIN

Sunan Kalijaga, Volume 1 No 1, Yogyakarta: 2004.

Arsyad, Azhar, Bahasa Arab dan Metode Pembelajarannya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

2003.

Bahri, Syaiful Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta,

1996.

Fuad, Ahmad Effendy, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat, 2004.

Guntur, Henry Tarigan, Metodologi Pembelajaran Bahasa I. Bandung: Angkasa,1991.

Malibary, Akrom., Pembelajaran Bahasa Arab di Madrsah Aliyah, Jakarta: PT. Bulan Bintang,

1978.

Mudlofir, M. SC, Teknologi Instruksional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.,1990.

Sastrawijaya, [Link], Pengembangan Program Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 1991.

Soetopo, Henyat dan Wasty Sumanto, Pembinaan dan Pengembangan

Kurikulum. Jakarta: Bina Aksara, 1989.

Sudaryanto, Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa: Suatu Pengantar dan Pedoman

Singkat dan Praktis, Yogyakrta: 1999.

Sudijono, Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.

Sudjana, Nana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Grasindo, 2002.

Sumardi, Mulya, Pembelajaran Bahasa Asing (Sebuah Tinjauan dari Segi Metodologi).

Jakarta: Bulan Bintang, 1974.

Sutrisno, Hadi, Metodologi Research, Jakarta: Andi Offset, 1998.


Umar, Asasuddin Sokah DID TEFL, Problematika Pembelajaran Bahasa Arab dan Inggris:

Suatu Tinjauan Teoritis. Yogyakarta: CV. Cahaya, 1982.

Yusuf, Tayar dan Syaiful Anwar, Metodologi Pembelajaran Agama dan Bahasa Arab. Jakarta:

Raja Grafindo Persada, 1997.

Zainuddin, Muhadi, Buku Panduan Pondok Pesantren Aji Mahasiswa Al Muhsin, Yogyakarta:

2001.

Anda mungkin juga menyukai