Estimasi Bijih Besi Laterit di Kalimantan
Estimasi Bijih Besi Laterit di Kalimantan
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
OLEH:
AXEL CAKRAWALA
D061 19 1101
MAKASSAR
2023
1
KEMENTERIAN PENDIDIKAN KEBUDAYAAN RISET DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik (S.T)
pada Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
OLEH :
AXEL CAKRAWALA
D061 19 1101
MAKASSAR
2023
ii
ESTIMASI SUMBERDAYA BIJIH BESI LATERIT
MENGGUNAKANMETODE ORDINARY KRIGING PADA BLOK X
PT. SEBUKU IRON LATERITIC ORES, KABUPATEN KOTABARU,
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Disetujui Oleh,
Penasihat Akademik Pemohon
Mengetahui,
Ketua Departemen Teknik Geologi Fakultas
TeknikUniversitas Hasanuddin
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
Ordinary Kriging Pada Blok X PT. Sebuku Iron Lateritic Ores, Kabupaten
dengan bantuan-Nya.
Proposal magang industri ini dibuat agar dapat melakukan penelitian pada
PT. Sebuku Iron Lateritic Ores. Penyusunan proposal ini tak lepas dari bantuan
2. Bapak Prof. Dr. Eng. Adi Maulana S.T., [Link] selaku Dosen
Penasihat Akademik.
penulis.
iv
6. Seluruh Pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian
Dalam penyusunan proposal ini, penulis sadar bahwa masih banyak terdapat
saran dan masukan yang membangun terhadap proposal ini. Akhir kata semoga
proposal ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun bagi semua pihak yang
berkepentingan lainnya.
Penulis
v
DAFTAR ISI
vi
2.2.2. Genesa Endapan Nikel Laterit ......................................................... 19
[Link]. Definisi dan Tipe Endapan Nikel Laterit ............................ 19
[Link]. Genesa Tipe Endapan Laterit .............................................. 19
[Link] Asal Bijih Besi .............................................................................. 20
[Link] Asal Bijih Besi .............................................................................. 22
[Link] .............................................................................................. 25
2.5.1. Analisis Statistik Univarian............................................................. 25
2.5.2. Analisis Statistik Bivarian ............................................................... 27
2.5.3. Analisis Statistik Spasial ................................................................. 27
[Link] Ordinary Kriging.......................................................................... 28
[Link] Model Blok .................................................................................. 30
[Link] Sumberdaya Mineral ............................................................... 32
vii
BAB I
PENDAHULUAN
Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam baik
kekayaan alam mineral tambang maupun non tambang. Kekayaan alam ini harus
merupakan salah satu tahapan yang perlu dilakukan dalam mencari sumberdaya
emas yang memiliki nilai ekonomis aspek, yaitu aspek teknis dan aspek ekonomis.
eksplorasi, apakah sumberdaya laterit tersebut layak atau tidak secara ekonomis
untuk ditambang.
terdapat besi laterit dengan karakteristik berbeda dengan laterit di tempat lain.
Laterit di Pulau Sebuku memiliki kandungan nikel yang rendah namun dengan
kandungan besi yang tinggi. Kebutuhan dan permintaan hasil tambang dari tahun
ke tahun semakin meningkat. Keadaan ini harus diimbangi dengan eksplorasi dan
Bijih besi adalah produk residual pelapukan kimia pada batuan ultramafik.
Proses ini berlangsung selama jutaan tahun dimulai ketika batuan ultramafik
pembentukannya endapan bijih besi laterit terbagi menjadi beberapa zona dengan
1
ketebalan dan kadar yang bervariasi. Daerah yang mempunyai intensitas
tergantung pada faktor-faktor batuan dasar (source rock), laju pelapukan, struktur
PT. Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) merupakan salah satu tambang bijih
pada keberhasilan proses penaksiran sumberdaya biji besi berdasarkan data geologi
yang telah diperoleh selama kuliah di lapangan pada kondisi nyata di industri
Kalimantan Selatan” pada PT. Sebuku Iron Lateritic Ores dan diharapkan
mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dan menambah ilmu baru
2
1.2. Maksud dan Tujuan
pertambangan.
Berikut adalah tujuan dilakukannya magang tugas akhir di PT. Sebuku Iron
Lateritic Ores :
Waktu kegiatan magang industri direncakan pada bulan Maret 2023 – Mei
magang tugas akhir ini dilakukan pada PT. Sebuku Iron Lateritic Ores.
1.5. Pembimbing
Pada pelaksanaan magang tugas akhir ini, peserta kegiatan akan dibimbing
3
1. Pihak perusahaan tempat pelaksanaan kegiatan Magang Industri yaitu PT.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
LU dan 117° 31’ 39” - 117° 35’ 55” BT. Geologi Pulau Sebuku masuk dalam Peta
dalam Anak Cekungan Asam-asam dan anak Cekungan Pasir (Rustandi dkk.,
1995).
Pegunungan Kukusan. Kedua anak cekungan tersebut, pada bagian Barat dibatasi
oleh Pegunungan Meratus, Timur oleh Tinggian Pulau Laut, Selatan oleh Laut
Jawa, dan Utara oleh Tinggian Lintang Paternosfer. (Rustandi, dkk., 1995).
Pulau Sebuku dapat dibagi menjadi 2 satuan, yaitu Satuan morfologi Pedataran, dan
1
[Link]. Satuan Geomorfologi Pedataran
dari 50 mdpl, dengan titik terendah 0 mdpl merupakan garis pantai. Kemiringan
medan pada satuan morfologi ini maksimum 11% atau sudut lereng tidak lebih dari
70. Secara umum, satuan morfologi dataran ini masih dapat dipisahkan menjadi
satuan morfologi dataran kering bergelombang dan dataran berair. Pola aliran
Bentang alam dataran ini disusun oleh beraneka ragam batuan, yakni material lepas
berukuran lempung hingga kerikil, serta batuan setengah padu dan batuan padu
menempati ketinggian antara 50 mdpl hingga 150 mdpl dengan kemiringan lereng
lebih dari 11%. Sungai-sungai di satuan morfologi ini sebagian bersifat musiman
yang hanya berarir di musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau menjadi
berupa batuan-batuan padu yang berumur tua dari Jura hingga Tersier, antara lain
batupasir, lava basal, gabro, dan basal. Batuan-batuan ini pada bagian
6
permukaannya telah mengalami pelapukan kuat dan pada singkapan batuan segar
terdapat banyak kekar-kekar terbuka yang dapat meluluskan air dari daerah resapan
pada bagian atasnya. Khusus untuk daerah pantai, setidaknya dapat dijumpai 3
(tiga) kelompok, yaitu Pantai bertebing terjal (cliff), Pantai berawa payau dan
menurut Rustandi, dkk (1995) secara umum terbagi menjadi 4 formasi yaitu Batuan
Aluvium.
Gambar 2.1. Peta Geologi Regional Pulau Sebuku, Lembar Kotabaru, Kalimantan Selatan
(Rustandi, dkk, 1995).
7
[Link]. Batuan Ultramafik (Mub)
Batuan ultramafik adalah batuan tertua yang terbentuk saat Zaman Jura.
Batuan ini terdiri dari harzburgit, dunit, dan piroksenit yang telah mengalami
serpentinisasi, gabro, dan basal. Batuan ini tersingkap sangat luas dari utara hingga
selatan bagian timur pulau (Rustandi dkk., 1986 dalam U.R Irfan 2015).
1986).
dangkal. Diendapkan secara tidak selaras di atas batuan ultramafik (Mub) dan
batugamping, gabro, dan diabas yang menghalus ke arah atas. Ketebalan formasi ini
ditemukan di daerah perbukitan. Memiliki litologi yang terdiri dari lava basalt,
breksi polimik, dan tuf. Komponen breksi terdiri dari basalt, rijang, batulanau, dan
8
[Link]. Formasi Tanjung (Tet)
atas batuan-batuan yang berumur Kapur (Formasi Pitap dan Formasi Haruyan).
Formasi ini diendapkan di lingkungan fluvial di bagian bawah dan beralih ke deltadi
bagian atas dengan perkiraan ketebalan 1.500 meter. Litologinya terdiri dari
Endapan ini merupakan hasil erosi dari batuan-batuan lebih tua yang
prosesnya masih berlangsung hingga masa kini. Endapan Aluvium banyak terdapat
sebagai endapan rawa, sungai, dan pantai yang tersebar di sepanjang barat Pulau
Sebuku. Endapan yang berumur paling muda ini terdiri atas kerakal, kerikil, pasir,
dapat dibagi menjadi 3 zona, yaitu zona barat laut – barat dan sentral, zona tenggara
Zona tenggara sendiri terdiri atas Pegunungan Meratus, Pulau Laut, dan
9
MeratusBobaris dan Pulau Laut (Gambar 2.4.). Komposisi batuan di Kompleks
Meratus terdiri atas batuan metamorf tekanan tinggi (Sekis Hauran dan Filit
Palaihari), batuan ultramafik (Ofiolit Meratus), dan batuan bancuh yang berisi
rijang, batugamping, dan basaltdi dalam matriks lempung. Rentang umur batuan di
Kegiatan tektonik Pulau Laut dan Pulau Sebuku (Rustandi dkk (1995))
Pada zaman Kapur Awal atau mungkin lebih tua, terjadi kegiatan
magmatisme. Magma ini menerobos batuan yang dihasilkan pada zaman Jura.
Semua batuan tersebut merupakan alas Formasi Pitap dan anggotanya yang berumur
Kapur Awal bagianatas. Pada Kapur Akhir bagian bawah terjadi kegiatan tektonik
10
Pada Kapur Akhir bagian atas terjadi genang laut, sementara itu terjadi
sedimen dan fasies vulkanik. Pada awal Paleosen terjadi pengangkatan yang
menghasilkan Formasi Tanjung bagian atas. Pada Kala Oligosen genang laut
mencapai puncaknya dan terbentuklah paparan karbonat yang sangat luas sehingga
dihasilkan Formasi Berai yang menutupi seluruh batuan yang lebih [Link] ini
1995).
laut pada Miosen Tengah dan terbentuklah endapan darat yang menyusun Formasi
Warukin. Pada Miosen Akhir, terjadi lagi kegiatan tektonik yang kuat yang
yang memisahkan Cekungan Barito dan Pasir serta berbagai anak cekungan. Pada
Pulau Laut dan Pulau Sebuku umumnya berupa sesar dan lipatan. Sesar naik
hampir barat-timur, dan sesar turun memiliki arah relatif utara-selatan. Arah sumbu
lipatan dalam batuan sedimen Pra-Tersier maupun Tersier, umumnya memiliki arah
timur laut-barat daya atau hampir utara-selatan. Perlipatan pada batuan Pra-Tersier
11
memiliki kemiringan sekitar 40° - 70°, dengan sudut terkecilnya sekitar 25°.
Sedangkan perlipatan pada batuan Tersier memiliki kemiringan sekitar 10° - 20°.
Sesar naik berarah timur laut-barat daya yang searahdengan sumbu lipatan, dengan
kemiringan 45° ke arah barat mengangkat batuan tua naik ke atas Formasi Pitap,
yang diduga terjadi pada Kapur Atas. Sesar naik yang lebih muda mengakibatkan
tersesarkannya Formasi Pitap ke atas Formasi Pamaluan, yang diduga terjadi lebih
tua dari Miosen. Kemudian, sesar turun berarah hampir utaraselatan, dengan bagian
timurnya relatif lebih naik daripada bagian barat, membuat tersingkapnya batuan-
dari ofiolit, yang terjadi akibat adanya gaya deformasi tektonik dari lempeng yang
menunjam di sebelah timur Sulawesi yang terjadi pada kala Miosen–Pliosen. Dapat
struktur sesar anjakkan (Gambar 2.4) dengan struktur minor berupa sesargeser, sesar
12
naik dan perlipatan (Div. Eksplorasi PT. SILO, 2013). Daerah penelitian
orientasi baratlaut-tenggara
pelapukan yang kuat pada daerah-daerah tropis, lembab, dan hangat yang kaya akan
lempung kalolinit sebagai oksida dan oksihidroksida dari Fe dan Al. Laterit penting
lapuk merupakan proses yang terjadi pada pembentukan endapan laterit, dimana
proses ini memiliki penyebaran unsur-unsur yang tidak merata dan menghasilkan
konsentrasi bijih yang sangat bergantung pada migrasi air tanah. Ketebalan profil
laterit ditentukan oleh keseimbangan kadar pelapukan kimia di dasar profil dan
pemindahan fisik ujung profil karena erosi. Tingkat pelapukan kimia bervariasi
antara 10 – 50 m per juta tahun, biasanya sesuai dengan jumlah air yang melalui
13
profil, dan 2 – 3 kali lebih cepat dalam batuan ultrabasa daripada batuan asam.
Disamping jenis batuan asal, intensitas pelapukan, dan struktur batuan yang sangat
unsur selama pelapukan akan sangat membantu dalam menentukan zonasi bijih di
permukaan dengan kuat tersusun oleh humus dan limonit. Mineral - mineral
terbentuk pada kondisi asam dekat permukaan dengan relief relatif datar. Secara
Sifat fisik zona Medium Grade Limonite (MGL) tidak jauh berbeda
dengan zona overburden. Tekstur sisa batuan induk mulai dapat dikenali dengan
hadirnya fragmen batuan induk, yaitu peridotit atau serpentinit. Rata-rata berukuran
lempung - pasir halus. Ketebalan zona ini berkisar antara 0 - 6 meter. Umumnya
singkapan zona ini terdapat pada lereng bukit yang relatif datar. yang membedakan
c) Zona Saprolit
14
batuan induk yang teralterasi, sehingga mineral penyusun, tekstur dan struktur
batuan dapat dikenali. Derajat serpentinisasi batuan asal laterit akan mempengaruhi
memberikan zona saprolit dengan init batuan sisa yang keras, pengisian celah oleh
menghasilkan zona saprolit yang relatif homogen dengan sedikit kuarsa atau
garnierit.
Zona batuan induk berada pada bagian paling bawah dari profil laterit.
Batuan induk ini merupakan batuan yang masih segar dengan pengaruh proses-
Besi dan alumina laterit tidak dapat di pisahkan dari proses pembentukan
15
nikel laterit, salah satu produk laterit adalah besi dan almunium. Pada profil laterit
terakumulasinya unsur-unsur yang kurang mobile, seperti Fe dan Al. Batuan dasar
dari pembentukan nikel laterit adalah batuan peridotit dan dunit, yang komposisinya
berupa mineral olivin dan piroksin. Faktor yang sangat mempengaruhi sangat
banyak salah satunya adalah pelapukan kimia. Karena adanya pelapukan kimia
maka mineral primer akan terurai dan larut. Faktor lain yang sangat mendukung
adalah air tanah, air tanah akan melindi mineral-mineral sampai pada batas antara
limonit dan saprolit, faktor lain dapat berupa PH+, topografi dan lain-lain. Endapan
besi banyak terkonsentrasi pada zona limonit. Pada zona ini di dominasi oleh
(FeS2) yang relatif tinggi, dan mineral-mineral hydrous silicates lainnya (mineral
magmatisme berupa gravity settling dari besi dalam batuan dunit, kemudian diikuti
akibatterobosan batuan beku dioritik. Jenis cebakan bijih besi primer didominasi
magnetit– hematite dan sebagian berasosiasi dengan kromit – garnet, yang terdapat
dengan batuan peridotit yang telah mengalami pelapukan. Proses pelapukan berjalan
16
air tanah dan cuaca, sehingga menghasilkan tanah laterit yang kadang-kadang
kerakal.
Besi laterit merupakan jenis cebakan endapan residu yang dihasilkan oleh
tipe laterit umumnya terdapat didaerah puncak perbukitan yang relative landai atau
mempunyai kemiringan lereng dibawah 10%, sehingga menjadi salah satu factor
utama dimana proses pelapukan secara kimiawi akan berperan lebih besar daripada
proses mekanik. Sementara struktur dan karakteristik tanah relatif dipengaruhi oleh
daya larut mineral dan kondisi aliran air tanah. Adapun profil lengkap tanah laterit
tersebut dari bagian atas ke bawah adalah sebagai berikut : zone limonit, zone
pelindian (leaching zone) dan zone saprolit yang terletak di atas batuan asalnya
(ultrabasa).
Zona pelindian yang terdapat diantara zona limonit dan zona saprolit ini
hanya terbentuk apabila aliran air tanah berjalan lambat pada saat mencapai kondisi
saturasi yang sesuai untuk membentuk endapan bijih. Pengendapan dapat terjadi di
suatu daerah beriklim tropis dengan musim kering yang lama. Ketebalan zona ini
sangat beragam karena dikendalikan oleh fluktuasi air tanah akibat peralihan musim
pembentukan zona saprolit dengan inti batuan sisa yang keras sebagai bentukan dari
17
peridotit/piroksenit yang sedikit terserpentinisasikan, sementara batuan dengan
gejala serpentinit yang kuat dapat menghasilkan zona saprolit. Fluktuasi air tanah
yang kaya CO2 akan mengakibatkan kontak dengan saprolit batuan asal dan
melarutkan mineral mineral yang tidak stabil seperti serpentin dan piroksin. Unsur
Mg, Si, dan Ni dari batuan akan larut dan terbawa aliran air tanah dan akan
Unsur-unsur yang tertinggal seperti Fe, Al, Mn, CO, dan Ni dalam zona limonit
hematit, goetit, manganit dan lain-lain. Akibat pengurangan yang sangat besar dari
Ni-unsur Mg dan Si tersebut, maka terjadi penyusutan zona saprolit yang masih
residu di zona laterit bawah akan naik sampai 10 kali untuk membentuk pengayaan
Fe2O3 hingga mencapai lebih dari 72% dengan spinel-krom relative naik hingga
sekitar 5% .
Besi laterit terbentuk dari pelapukan mineral utama berupa olivin dan
piroksin. Mineral ini merupakan golongan mineral oksida hidroksida non silikat,
mineral ini terbentuk dari unsur besi dan oksida atau FeO (ferrous oxides) kemudian
mengalami proses oksidasi menjadi Fe2O3 lalu mengalami presipitasi atau proses
pada kondisi asam sangat rendah, oleh karena itu pada profil laterit banyak
18
2.2.2. Nikel laterit
Laterit berasal dari bahasa latin yaitu later, yang artinya bata (membentuk
bongkah - bongkah yang tersusun seperti bata yang berwarna merah bata) (Guilbert
dan Park, 1986). Hal ini dikarenakan tanah laterit tersusun oleh fragmen - fragmen
Laterit merupakan produk akhir dari pelapukan dan dalam hal ini
dibedakan oleh kehadiran dari Fe (besi) pada bagian atas dan lapisan kaya Al
(aluminium) danbersifat keras dan oksidasi terjadi di atas lapisan kaya silika.
pada bedrock. Bedrock ini akan berubah menjadi serpentin akibat larutan residual
pada waktu proses pembekuan magma (proses serpentinisasi) dan akan merubah
sebagian besar unsur Ca, Mg dan Si akan mengalami dekomposisi dan beberapa
terkayakan secra supergen (Ni, Mn, Co, Zn) atau terkayakan secara relatif (Fe, Cr,
Air resapan yang mengandung CO2 (dari udara) meresap kebawah sampai
ke permukaan air tanah melindi mineral-mineral primer yang tidak stabil (olivin,
piroksin dan serpentin). air meresap secara perlahan sampai mencapai batas limonit
zone dan saprolit zone, kemudian mengalir secara lateral. Proses ini menghasilkan
Ca dan Mg yang larut disusul dengan Si yang cenderung membentuk koloid dari
19
baru melalui pengendapan kembali unsur-unsur tersebut. Semua hasil pelarutan
akan turun ke bagian bawah mengisi celah-celah dan pori-pori batuan. Muka air
memungkinkan penetrasi air tanah yang lebih dalam. zona saprolit dalam hal ini
bongkah-bongkah yang ada dalam zona ini akan terlindi dan ikut bersama-sama
dengan aliran air tanah dan sedikit demi sedikit zona saprolit atas akan berubah sifat
porositasnya dan akan menjadi zona limonit. Untuk unsur-unsur yang sukar atau
tidak mudah larut akan tinggal pada tempatnya dan sisanya akan turun ke bawah
bersama larutan sebagai larutan koloid. Bahan-bahan seperti Fe, Ni dan Co akan
membentuk konsentrasi residu dan konsentrasi celah pada zona yang disebut zona
saprolit, berwarna coklat kuning kemerahan. Batuan asal ultramafik pada zona ini
kadar Ni dapat Naik. Dalam hal ini Ni dapat mensubtitusi Mg dalam serpentin atau
juga mengendap dalam rekahan bersama dengan larutan yang mengandung Mg dan
dari batuan ultramafik begitu banyak dan beragam, akibatnya kondisi alamiah dari
tiap profil berbeda secara detail dari satu tempat ke tempat lainnya dalam hal
20
Faktor – faktor utama yang mempengaruhi efisiensi dan kinerja dari
pelapukan kimia, berdampak pada model alamiah profil, antara lain iklim,
topografi, drainase, tektonik, tipe batuan induk, struktur, stabilitas mineral (struktur
kristal, titik lebur), reaksi potensial (Reduksi/Oksidasi), ukuran butir dan bukaan
batuan (Porositas), kondisi pH, tingkat pemindahan suatu unsur ke arah vertikal,
klimaks (temperatur, curah hujan, naik-turunnya muka air tanah), peran permukaan
merata.
tidak terganggu.
kimia dan mekanik yang disebabkan oleh udara, air, panas dan dingin akan
21
2.4 Batuan Asal Bijih Besi
(ultramafic rock) kaya akan mineral – mineral mafik (ferro – magnesian) seperti
lebih 45% silica. Batuan ultramafik umumnya mengandung > 18% Mg O , tinggi
Fe O, rendah kalium, dan biasanya terdiri dari lebih besar dari 90% mafik mineral
klasifikasi untuk batuan ultramafik. Di mana dalam klasifikasi ini batuan intrusi
mineraloginya, yang terbagi dalam empat jenis mineral Jenis batuan ultrabasa
meliputi :
a. Dunit
kasar atau phaneritic. Batuan beku ultramafic dikenal juga dengan ultrabasic.
Kandungan silikanya rendah (kurang dari 45%) dan lebih banyak mineral mafic
(mineral berwarna gelap kaya magnesium dan besi). Batuan ultramafic umumnya
22
terbentuk di mantel bumi, dari kedalaman sekitar 12 mil (sekitar 20 kilometer) di
bawah permukaan hingga setebal ratusan mil ke dalam perut bumi, muncul ke
geologis cukup tua, seperti Karangsambung dan Bayat di Jawa Tengah, Sulawesi
[Ca(Mg,Fe)Si2O6].
perubahan iklim global melalui batu dipercepat pelapukan. Hal ini akan melibatkan
penyebaran jumlah besar dunit ditumbuk halus di daerah tropis dikenal dekat
sumber dunit.
b. Piroksenit
banyaknya batuan ultramafik yang umum. Bedasarkan pada tipe piroksen , piroksen
23
Lokasi keterdapatan tubuh – tubuh piroksenit dapat disederhanakan
fakta yang jelas pada lokasi ini batuan batuan ultramafik menembus sisa
dari mineral –mineral mafik yang berat selama masa kristalisasi batuan
dan sabuk – sabuk orogen (ural area, Himalaya, New Zealand, New
c. Peridotit
Batuan ini mengandung kurang dari 45% silika, kaya akan magnesium,
yang mencerminkan proporsi tinggi olivin yang kaya magnesium, zat besi yang
cukup. Peridotit adalah batuan beku ultra basa plutonik yang terjadi akibat dari
permukaan bumi. Dapat diketahui apabila peridotit adalah batuan plutonik yaitu
dari ukuran kristalnya yang besar-besar. Batu ini berwarna gelap agak kehijauan
karena Olivin sebagai mineral mayoritas yang menyusun batuan ini. Kunci untuk
24
komposisi antara mineral Olivin dan Piroksen pada batuan tersebut adalah sekitar
70% : 30%. Apabila kandungan Olivinnya > 90% maka batuan itu sudah
peridotit adalah batuan induk bijih nikel. Menurut Vinogradov batuan ultrabasa
rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut terdapat
dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin. Berdasarkan sifatnya yang
fleksibel, tidak berubah bila terkena udara, ketahanannya terhadap oksidasi dan
kemampuannya untuk mempertahankan sifat- sifat aslinya pada suhu ekstrim, nikel
banyak digunakan dalam sektor industri. Sekitar 70% dari produksi nikel digunakan
2.5. Geostatistika
variogram eksperimental dengan variogram teori (Amri dkk. 2018). Variogram juga
sekalian digunakan untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai sampel dan jarak
antara pasangan sampel yang diamati (Martin dkk. 2009). Meski demikian,
menggambarkan letak data meliputi nilai rerata (mean), modus, nilai tengah
25
menggambarkan penyebaran (variabilitas) data tercermin pada nilai variansi dan
simpangan baku. Standard Error (SE) asalah nlai yang mengukur seberapa tepat
sampel terhadap rata-rata sampel yang ada. Nilai standard error kecil (mendekati
nol) mengindikasikan data sampel akurat atau representatif. Oleh karena itu,
standard error dapat digunakan untuk menentukan dan mengontrol jumlah dari
(skewness), kurtosis, dan keofisien variasi (coef icient variation, CV). Angka
taksimeri suatu penyebaran data. Skewness atau ukuran kemiringan kurva adalah
kecendrungan distribusi data dilihat dari ukuran simetris atau tidaknya suatu
distribusi normal.
Pada distribusi normal, nilai kurtosis sama dengan 0 (nol). Nilai kurtosis
positif menunjukkan distribusi yang relatif runcing sedangkan nilai kurtosis yang
keheterogenankelompok data. Semakin besar nilai keofisien variasi, maka sifat data
26
yang akan muncul dari sejumlah data. Keofisien variasi dengan nilai lebih dari 0,5
juga menunjukan bahwa sampel sangat erratic sehingga dapat mempengaruhi hasil
penaksiran akhir.
buah kumpulan berbeda tetapi terletak pada lokasi yang sama. Statistika bivariat
dua peubah dalam suatu grafik x-y. Variabel yang diestimasi disebut variabel
adalah keofisien korelasi (r) dan root mean squared error (RMSE). Nilai keofisien
korelasi (r) berkisar -1 ≤ r ≤ +1, apabila nilai koefisien korelasi mendekati +1 atau
mendekati nilai 0 (nol) maka tidak ada korelasi antar variabel. Koefisien korelasi
(r) merupakan akar keofisien determenasi yang mendekati satu menunjukan ukuran
nilai yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesalahan atau error. Semakin kecil
nilai RMSE (mendekati nol) menunjukan akurasi dari nilai prediksi yang diperoleh
antar sampel adalah variogram. Variogram terdiri dari dua jenis yaitu variogram
27
eksperimental dan variogram model. Hubungan antara variogram eksperimental
mendapatkan nilai parameter yang terdiri dari nugget ef ect (Co), sill, dan range (a).
diplot pada suatu koordinat Kartesian berupa jarak antar pasangan data (h) dan
penaksiran sumberdaya yang akurat apabila dilakukan pada nilai koefisien varinsi
yang kecil. Menurut Journel (1983) penggunaan koefisien variasi data sebagai
kriteria untuk penggunaan metode geostatistik linear dan nonlinear. Kim (1988)
antara 0,5-1,5. Penggunaan teknik OK pada koefisien variasi kurang dari 0,5
variasi lebih dari 1,5 teknik kriging linear tidak memberikan hasil yang memuaskan
estimasi dan proses pengolahan, metode ordinary kriging dibagi menjadi dua
macam yaitu block kriging dan point kriging. Metode point kriging adalah metode
28
kriging yang mempunyai ukuran blok/area sangat kecil atau berupa titik, sedangkan
metode block kriging merupakan susunan dari beberapa titik yang membentuk
blok-blok ukuran besar sesuai dengan ukuran dimensi estimasi yang diinginkan.
kriging (OK) yaitu mencari koevariansi antar sampel dengan sampel, C (ij)
kemudian kovariansi antara sampel dengan blok, C(iv) berdasarkan hubungan C(h)
merupakan kombinasi linear antara λ1, λ2,……, λn dan z1, z2,…….,zn. Untuk
merupakan fungsi konfigurasi titik sampel dan korelasi spasial. Hubungan antara
variogram dan kadar sampel yang dipakai dalam penaksiran direpresentasikan pada
secara global (Davis, 1997). Variansi kriging atau variansi estimasi adalah
kesalahan yang terjadi karena akibat kesalahan dalam penilaian suatu blok.
Kesalahan ini merupakan selisih mutlak antara nilai sesungguhnya yang tidak
pernah diketahui dengan nilai taksiran. Semakin kecil nilai variansi estimasi, maka
menggunakan satu sampel dengan nilai dari sampel tersebut diektensikan ke dalam
suatu volume, dikenal dengan istilah ekstensi dan varians ekstensi. Sedangkan
diekstensikan ke suatu volume yang dikenal dengan estimasi dan variansi estimasi
29
(Darijanto, 2000). Variansi kriging atau variansi estimasi bukan merupakan presisi
menyebar) disekitar blok yang ditaksir. Variansi kriging tidak tergantung pada nilai
data tetapi pada jumlah sampel/ sampel yang digunakan dalam penaksiran serta
bahwa semakin kecil nilai variansi kriging (secara relatif), semakin banyak sampel
yang digunakan oleh suatu blok dan semakin merata pula penyebaran sampel
disekitar blok yang ditaksir, sehingga semakin besar tingkat kepercayaan kepada
didasarkan pada kerangka model blok. Ukuran blok model meruoakan fungsi
digunakan. Sketsa blok model 3D dapat dilihat pada gambar 2.4 di bawah ini.
1300N, ke arah timur missal 150E– 600E, dan ketinggiann missal 1075m-1400m.
Gambar 2.7 Model blok tiga dimensi (Hustrulid & Kutcha, 1995).
30
Gambar 2.8 dibawah merupakan cntoh ukuran blok (10 x 2 x 5)m berturut-
turut ke arah utara, timur dan vertikal sebagai satuan penambangan terkecil
Gambar 2.8 Model blok tiga dimensi (Hustrulid & Kutcha, 1995).
daerah penelitian, informasi geologi, kadar mineral, jenis batuan (rock), massa jenis
(density), presentasi blok sebagai bagian bijih (ore), tonase setiap blok, jumlah
minimum komposit. Model blok adalah model komputer yang membagi cebakan
mineral secara komputer didasarkan pada kerangka model blok. Model berbentuk
balok dengan dimensi tertentu yang diperoleh dari data lubang bor. Blok memberi
informasi yang diperoleh dari data lubang bor, seperti kadar logam, tipe batuan,
densitas, dan nilai blok. Blok umumnya berbentuk balok dengan panjang sisi +1/2-
1/3 jarak lubang bor. Blok dapat berukuran 25 x 25 x 15 m (15 m, umumnya tinggi
jenjang penambangan).
31
2.8. Klasifikasi Sumberdaya Mineral
mineral terbagi menjadi 3 kategori yaitu sumberdaya mineral tereka, tertunjuk, dan
berdasarkan dua kriteria yang menjadi dasar klasifikasi yaitu keyakinan terhadap
Sumberdaya mineral dengan tingkat keyakinan geologi yang paling tinggi masuk
yang digunakan sebagai bahan pertimbangan. Namun jika tidak memenuhi syarat
Gambar 2.9 Korelasi hasil eksplorasi, sumberdaya mineral dan cadangan bijih (KCMI, 2011).
32
pengklasifikasian sumberdaya emas epithermal akan menggunakan nilai
jarak rata-rata antar sampel yang kemudian akan dianilisis menggunakan histogram
inferred.
33
BAB III
METODE DAN TAHAPAN PENELITIAN
untuk penulisan skripsi sangat tergantung dari kesiapan metode dan tahapan yang
digunakan.
Metode penelitian pada penelitian skripsi ini terdiri dari lima tahap, yaitu:
penyusunan laporan.
Metode studi pustaka yang berkaitan dengan studi, meliputi: Endapan bijih
yaitu tahap persiapan, tahap penelitian lapangan, tahap analisa laboratorium, dan
34
3.2.1. Tahap Persiapan
penelitian. Dalam studi pustaka ini juga dilakukan interpretasi peta topografi yang
Secara umum, tahapan analisis data yaitu menganalisis data lapangan seperti
data pengeboran yang dilakukan dengan berupa rekapitulasi data pengeboran yang
digunakan sebagai acuan pembuatan model geologi dan estimasi sumberdaya yang
memberikan gambaran berupa estimasi sumberdaya emas dan blok model 3D.
Pengolahan data akhir, yaitu data yang telah diperoleh dianalisa secara detail
35
sumberdaya emas berdasarkan analisis data pengeboran yang diolah menggunakan
PENDAHULUAN
Observasi Lapangan
Pengambilan Data
Analisis
Data
Penyusunan Laporan
36
BAB IV
PERENCANAAN WAKTU DAN BIAYA
direncanakan yaitu selama 4 bulan, dalam kurun waktu bulan Maret – Mei 2023
perusahaan.
maka anggaran biaya yang diperlukan sekitar Rp. 7.172.000,- (Tujuh Juta Seratus
Tujuh Puluh Dua Ribu Rupiah). Secara rinci perencanaan biaya penelitian adalah
sebagai berikut:
37
A. Administrasi
B. Akomodasi
1. Transportasi Rp 5.000.000,00
C Pengolahan Data
TOTAL Rp 7.172.000,00
38
BAB V
PENUTUP
kegiatan pada PT. Sebuku Iron Lateritic Ores dan diajukan sebagai bahan
pertimbangan, semoga mendapat perhatian dan dukungan yang baik dari segenap
melakukan magang industri pada PT. Sebuku Iron Lateritic Ores, akan
39
DAFTAR PUSTAKA
Rustandi, E., Nila, E.s., Sanyoto, P., dan Margono, U., 1995. Geologi Lembar
Kotabaru. Bandung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
N.A. Amri, Hartono, H.T. Siri. 2018. Kriging by Partition : Case of Ciurug Gold
Vein
Ulva Ria I., Alimuddin I., dan Pasali I. B., 2019. The Influence of Topography to
the Distribution of Ni-Laterite deposits of Manguruh Area, Sebuku
Island, South Kalimantan. IOP Publisher.
40