KONSEP TERAPI BEHAVIORISTIK
Mata Kuliah Dasar-Dasar Intervensi
Dosen:
Drs. Mierrina, [Link]., Psikolog.
Oleh
Muhammad Syaiful Islam (G1.5/J71218053)
PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2020
A. Sejarah perkembangan
Pendekatan behavioral berakar dari eksperimen psikologi dan penelitian mengenai proses belajar
pada manusia dan hewan. Sebelum tahun 1960-an, behavioral belum dapat diterima dalam ranah
pikologi, sosial, pendidikan, atau psikiatri, tetapi sejak 1970-an behavioral mulai digunakan
secara luas dalam bisnis dan industri, pengasuhan anak, meningkatkan penampilan atlet, dan lain
sebagainya (Sharf, 2012).Adapun yang dimaksud pada tahun 60-an adalah dipublikasikannya
tulisan tentang H.J. Eysenck tentang terapi behavior pada tahun 1952. Di bawah pimpinan H.J.
Eysenck, Jurusan Psikologi di Institut Psikiatri yang memiliki dua bidang yaitu bidang
penelitian dan bidang pengajaran klinis serta tulisan dari B.F. Skinner pada tahun 1953 yang
menulis buku Science and Human Behavior, ia menjelaskan tentang peranan dari teori operant
conditioning di dalam perilaku manusia.
Penelitian-penelitian diatas berpengaruh pada Principles of Behavior Modification dari Bandura
(1969). Perkembangan yang pesat membawa terapi behavior untuk pertama kalinya ditulis dalam
publikasi ilmiah yaitu Behavior Research and Therapy dan Journal of Applied Behavior
Analysis. Akhir tahun 1960-an dimasukkan elemen baru dalam konsep terapi perilaku yaitu
imitation learning and modeling di mana pada saat yang sama, psikologi juga memberi perhatian
pada imitation. Tahun 1960-an dan di tahun 1970-an awal, Albert Bandura mengganti titik tekan
perhatiannya pada teknik perilaku baru yaitu participant modeling. Perkembangan selanjutnya
adalah digagasnya teori dan metode cognitive-behavioral dengan pendekatan A-BCs oleh Albert
Allis pada tahun 1970-an. Kontributor dari pendekatan baru ini adalah Aaron T. Beck (1976),
Donald Meichenbaum (1977) dan Albert Bandura dengan konsep yang dikemukakan adalah self-
efficacy, manifestasi dari pendekatan belajar sosial (social learning approach). Social learning
theory merupakan kombinasi dari classical dan operant conditioning
sampai pada akhirnya di awal 80-an muncul neo-behaviorisme sebagai pembaruan dari
behaviorisme yang menekankan pada classical conditioning dalam etiologi dan perlakuan
(treatment) terhadap neurosis, di mana konsep baru ini berlawanan dengan sebutan black
box/black boxes. Corey (2005) mengemukakan bahwa dalam perkembangan konsep ini di tahun
tahun 1980-an peran emosi ditekankan, dua hal yang sangat penting untuk dikembangkan dalam
behaviorisme adalah ; (1) cognitive behavior therapy sebagai kekuatan utama, dan (2)
mengaplikasikan teknik terapi behavioral untuk mencegah dan memberi perlakuan pada medical
disorders.1
B. Konsep dasar Behavioristik
Conditioning and learning memegang peranan yang sangat penting dalam pendekatan
behavoristik, terutama dalam memahami urutan terbentuknya tingkah laku. Landasan dalam
pendekatan behavior menurut pandangan Aubrey J. Yates (1970) adalah sebagai berikut :
1
Sanyata, “Teori Dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik Dalam Konseling.”
Psikodinamika dan psikiatri tidak mampu menyelesaikan seluruh tingkah laku yang salah
suai.
Tingkah laku abnormal yang tidak disebabkan gangguan organik terjadi karena
kekeliruan belajar. Individu memperoleh tingkah laku baru yang dipandang menyimpang
melalui proses belajar.
Konsep-konsep seperti ketidaksadaran, id, ego, super ego, insight dan self, tidak
digunakan dalam memahami dan menyembuhkan penyimpangan tingkah laku.
Simptom merupakan penyimpangan tingkah laku yang penyembuhannya dilakukan
dengan menghilangkan tingkah laku tersebut, dan bukan sekedar mengganti simptom.
Penelitian tentang sebab-sebab terjadinya simptom dan mencari stimulus yang
menyebabkan terjadinya simptom sangat diperlukan bagi penyembuhannya
C. Tujuan dan kegunaan Behavioristik
Menurut Corey (1986) tujuan pendekatan behavioristik adalah sebagai refleksi masalah konseli,
dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling dan sebagai kerangka untuk menilai hasil
konseling. Karakateristik pendekatan behavioristik yang dikemukakan oleh Eysenck, adalah
pendekatan tingkah laku yang ;
Didasarkan pada teori yang dirumuskan secara tepat dan konsisten yang mengarah
kepada kesimpulan yang dapat diuji.
Berasal dari hasil penelaahan eksperimental yang secara khusus direncanakan untuk
menguji teori-teori dan kesimpulannya.
Memandang simptom sebagai respons bersyarat yang tidak sesuai (un-adaptive
conditioned responses)
Memandang simptom sebagai bukti adanya kekeliruan hasil belajar
Memandang bahwa simptom-simptom tingkah laku ditentukan berdasarkan perbedaan
individual yang terbentuk secara conditioning dan autonom sesuai dengan lingkungan
masing-masing
Menganggap penyembuhan gangguan neurotik sebagai pembentukan kebiasaan (habit)
yang baru
Menyembuhkan simptom secara langsung dengan jalan menghilangkan respon bersyarat
yang keliru dan membentuk respon bersyarat yang diharapkan
Menganggap bahwa pertalian pribadi tidaklah esensial bagi penyembuhan gangguan
neurotik, sekalipun untuk hal-hal tertentu yang kadang-kadang diperlukan.2
D. Teknik terapi behavirostik: . Systematic desentisization
Terapi ini secara besar memiliki tiga fase utama:
Pertama, klien diajarkan teknik relaksasi otot (deep muscle relaxation) dan latihan
pernapasan. Tahap ini sangat penting karena adanya penghambatan timbal balik, di mana
2
Satrio prabowo and Cahyawulan, “PENDEKATAN BEHAVIORAL: DUA SISI MATA PISAU.”
satu respon dihambat karena tidak kompatibel dengan yang lain. dalam kasus fobia, rasa
takut diikuti dengan ketegangan dan ketegangan itu tidak kompatibel dengan relaksasi.
Kedua, klien menciptakan hierarki rasa takut dimulai dengan stimuli yang menimbulkan
kecemasan (rasa takut) paling kecil dan terus berlanjut hingga tahap stimuli yang paling
menimbulkan rasa takut.
Ketiga, klien mempraktekkan teknik relaksasi ketika dihadapkan dengan stimuli yang
tidak diinginkan, dimulai dari yang ringan hingga yang paling ditakutkan. Ketika klien
merasa nyaman atau tidak takut lagi dengan stimuli tersebut, klien kemudian melanjutkan
ke tahap berikutnya. Apabila klien menjadi jengkel atau tidak nyaman, ia dapat kembali
ke tahap sebelumnya dan melakukan relaksasi [Link] terus dihadapkan dengan situasi
yang ditakutkan hingga kecemasan tidak muncul lagi, yang mana jika itu terjadi maka
dapat dikatakan bahwa terapi tersebut berhasil.3
DAFTAR PUSTAKA
3
Inad, “Terapi Psikologis: Systematic Desensitization Therapy.”
Inad, lina. “Terapi Psikologis: Systematic Desensitization Therapy.” [Link], 2017.
Sanyata, Sigit. “Teori Dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik Dalam Konseling.” Jurnal
Paradigma 7, no. 14 (2012).
Satrio prabowo, Arga, and wening Cahyawulan. “PENDEKATAN BEHAVIORAL: DUA SISI
MATA PISAU.” Insight: Jurnal Bimbingan Konseling 1 (2016).