0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan17 halaman

PAK Dewasa dalam Pelayanan Gereja

Dokumen ini membahas tentang pentingnya pendidikan orang dewasa (PAK Dewasa) dalam masyarakat adat Doromena. Pendidikan orang dewasa bertujuan untuk membantu orang dewasa mengembangkan potensi diri, menanggapi perubahan peran sosial, dan memecahkan masalah pribadi dan sosial.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan17 halaman

PAK Dewasa dalam Pelayanan Gereja

Dokumen ini membahas tentang pentingnya pendidikan orang dewasa (PAK Dewasa) dalam masyarakat adat Doromena. Pendidikan orang dewasa bertujuan untuk membantu orang dewasa mengembangkan potensi diri, menanggapi perubahan peran sosial, dan memecahkan masalah pribadi dan sosial.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENERAPAN NILAI KEBIJAKAN LOKAL DEKOI-DEKOI

MENURUT PERSPEKTIF PAK DEWASA DALAM

MASYARAKAT ADAT DOROMENA

PROPOSAL SKRIPSI

OLEH:

NAMA : YOSINA SABATINI DIAWAITOU

NIM : 2020.04.0228

SEMESTER : VII B

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN PROTESTAN

NEGERI (STAKPN) BURERE SENTANI

JAYAPURA

2023
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

PAK Dewasa (Adult Religious Education) merupakan istilah yang berkembang di

Amerika Serikat. Istilah ini pertama kalinya dikenal dengan “Adult Religious

Education.” Menunjuk pada usaha gereja dalam mendidik warganya, untuk kategori

usia dewasa dan dalam berbagai setting dan bentuk. Jika hal tersebut ditujukan kepada

orang dewasa, maka istilah yang dipakai adalah Adult Christian (Religious) Education

(PAK Dewasa) atau Adult religious Education. Pendidikan orang dewasa (POD)

merupakan bidang pelayanan yang sangat strategis oleh karena bagaimanapun orang

dewasa adalah orang Kristen garis depan yang menghadapi dunia ini dengan segala

tantangannya, terutama dalam pekerjaan masing-masing. Orang dewasa masih

membutuhkan pendidikan dan pembinaan dalam gereja agar mereka dapat hidup

sebagai orang Kristen yang bertanggung jawab dalam dunia kerjanya (dalam profesi

apapun ) Gordon G. Dankenwald dan Sharon B. Merriam, mengatakan bahwa Adult

Education menaruh perhatian pada memberi pertolongan kepada orang-orang dewasa

untuk mengembangkan potensinya, atau merundingkan perubahan dalam peranan

sosialnya (sebagai pekerja, pensiunan dan lain-lain), dengan demikian menolong

mereka memperoleh pemenuhan diri yang lebih besar dalam kehidupan pribadi dan

juga menolong mereka memecahkan masalah-masalah pribadi dan social. Sedangkan

menurut Boehlke, dalam catatan Andar Ismail, merumuskan bahwa PAK Dewasa

ialah usaha sengaja dari gereja-gereja di bawah pimpinan Roh Kudus untuk membuka

kesempatan belajar buat orang dewasa sehingga mereka dapat melayani Tuhan sesuai

dengan bakat dan minat pribadi, kebutuhan keluarga, gereja, masyarakat umum dan

dunia alam sekitarnya. Hal yang sama dikemukakan oleh UNESCO mengenai definisi

pendidikan orang dewasa, bahwa pendidikan orang dewasa sebagai keseluruhan

proses pendidikan yang diorganisasikan; apa pun isi, tingkatan, dan metode baik

formal maupun tidak, yang melanjutkan atau menggantikan pendidikan semula di


sekolah, akademi, dan universitas serta latihan kerja, yang membuat orang yang

dianggap dewasa oleh masyarakat mengembangkan kemampuannya, dan

mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam perspektif rangkap

perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial,

ekonomi dan budaya yang seimbang dan bebas. Oleh karenanya, Pendidikan orang

dewasa mempunyai ciri mengarahkan orang dewasa untuk mengembangkan

kemampuannya dalam pemahaman dan perkembangan diri, tanggung jawab dan

dalam menjawab persoalan-persoalan dirinya. Seperti yang diungkapkan oleh Craig

Sidjabat menyatakan beberapa alasan mengapa orang dewasa perlu mendapatkan

pembinaan :

1. Untuk perubahan diri mereka Kehidupan orang dewasa tidak saja diwarnai

perkembangan, tetapi juga perubahan (transformation). Dalam terang iman

Kristen, perubahan kepribadian itu ialah ke arah yang lebih menyerupai

Kristus, yang tidak lepas dari pekerjaan Roh Allah. Dalam rangka perubahan

diri, diperlukan fasilitator pembelajaran orang dewasa.

2. Untuk Pengembangan diri mereka Orang dewasa berkembang dalam berbagai

aspek kehidupan dalam artian holistic. Itu sesuai dengan ajaran Alkitab tentang

manusia yang memiliki dimensi jasmani, jiwa, dan roh. Selain itu, manusia

juga mempunyai dimensi individual dan sosial. Oleh sebab itu, pembinaan

orang dewasa patut menyentuh dan memperkaya aspek pengetahuan,

pengertian, perasaan, sikapsikap, minat-minat, relasi-relasi, dan perilaku

(ketrampilan) sosial, kultural, serta terutama aspek kerohanian.

3. Untuk Tugas dan Tanggung jawab Hidup Orang dewasa mempunyai banyak

tugas dan tanggung jawab, termasuk terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga

dekat dan jauh, terhadap lembaga tempat mereka berkarya, serta terhadap

masyarakat dan lingkungan alamnya. Pendidikan hidup bertanggung jawab

(education for responsible living) itu sangat tepat bagi warga jemaat dewasa.
4. Untuk Menjawab kebutuhan Gereja Gereja diutus Allah ke tengah dunia

adalah untuk menjadi saksiNya, yaitu memberitakan berbagai ragam hikmat

Allah (Ef.3:10, 1 Ptr 2:9-10) dan dalam rangka menjadikan segala bangsa

murid Yesus hingga akhir zaman (Mat.28:19-20). Agar berita Injil itu dapat

disampaikan kepada banyak orang, pemimpin gereja patutlah mengelola

program-program pelatihan.

Menurut Knowles, dalam bukunya Nuhamara dijelaskan bahwa ia memandang orang dewasa dalam

hubungannya dengan empat kategori kunci, yakni : self concept (Konsep diri) yang artinya bahwa

orang dewasa pada umumnya melihat drinya sebagai orang yang mandiri, mempunyai rasa identitas

individual. Ia berbeda dengan orang dewasa lainnya. Ia lebih mampu mengarahkan dirinya sendiri

daripada diarahkan oleh orang lain, dengan kata lain ia sudah tahu siapa dirinya dengan kekurangan

dan kelebihannya. Experience (pengalaman), orang dewasa telah mempunyai pengalaman

dibandingkan ketika masih usia anak, ia mempunyai lebih banyak pengalaman dan latar belakang

pengalaman yang berbeda secara kualitatif; readiness to learn (kesiapan belajar), kesiapan belajar bagi

orang dewasa berkaitan dengan pemenuhan dan penyelesaian “tugas perkembangan” dalam periode

kehidupan seseorang. Yang terakhir Orientation to learn (orientasi terhadap belajar) artinya bahwa

orang dewasa secara khas ingin belajar sesuatu agar dapat diterapkan langsung dalam persoalan besar

dan kecil yang dihadapinya. Atas dasar ini ia menggambarkan suatu pendekatan generik terhadap

pendidikan orang dewasa. Jadi yang dimaksudkan dengan PAK Dewasa adalah keseluruhan proses

pendidikan yang dilakukan secara sengaja, sistematis, dan berkelanjutan. Proses pendidikan ini

diterapkan kepada warga gereja yang secara usia telah dewasa dan telah mempunyai peranan sosial,

agar dapat menjalani kehidupan spiritual dengan baik dan benar, sehingga berdampak positif bagi

orang lain, baik dalam gereja, masyarakat dan dimanapun berada.

Pertama-tama kita akan melihat signifikansi pendidikan orang dewasa dalam [Link] harus

diakui bahwa pelayanan gereja kepada setiap kelompok/kategori usia mempunyai signifikansi yang

khusus,demikian pula pendidikan orang [Link] beberapa signifikansi yang menurut pendapat

saya sangat penting untuk diperhatikan.


1. Pendidian orang dewasa merupakan bidang pelayanan yang sangat strategis

oleh Karena bagaimanapun orang dewasa adalah orang Kristen garis depan

yang menghadapi dunia ini dengan segala tantangannya,terutama dalam

pekerjaan [Link] dewasa masih membutuhkan pendidikan dan

pembinaan dalam gereja agar mereka dapat hidup sebagai orang Kristen yang

bertanggung jawab dalam dunia kerjanya (dalam profesi apa pun).

Bagaimana,tidak ada batas pertumbuhan karena setiap orang harus menjalani

pendidikan seumur [Link] sebagaimana dikatakan oleh banyak

orang merupakan “ a lifelong process”, karena itu kita mengenal istilah

“lifelong education.

2. Bagaimanapun juga orang dewasa dalam gereja adalah agen dari pelaksanan

tugas panggilan [Link] karena itu,orang dewasa perlu terus didikan agar

ia semakin mampu dan terdorong untuk terus mengembangkan misi/tugas

gereja agar terlibat dalam pelayanan,kesaksian,dan [Link]

contoh: kita memang mengakui pentingnya pendidikan bagi anak,akan tetapi

orang tualah yang memiliki primacy (keutamaan) baik dalam hak maupun

kewajiaban dalam mendidik [Link] karena itu,adalah tugas

gereja untuk mendidik dan mempersiapkan orang tua,agar mereka menyadari

dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya untuk mendidik anak-

[Link] kata lain,pendidikan orang dewasa penting dalam rangka

memampukan orang dewasa untuk menjadi agen pelaksanan tugas dan

panggilan gereja dalam dunia dalam berbagai bidang pelayanan gereja

maupun menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab dalam bidang

pekerjaan/profesi masing-masing.

3. Dunia dimana orang Kristen dan gereja ditempatkan adalah dunia yang penuh

dengan berbagai [Link] karena itu,orang dewasa perlu

diperlengkapi dengan pemahaman terhadap permasalahan-permasalahan

tersebut,dan mencoba meninjaunya dari perspektif atau sudut pandang


kristiani yang berdasarkan Alkitab,dan didorong untuk turut serta dalam

[Link] ini sedang hangat-hangatnya diselenggarakan apa

yang disebut “ pendidikan Oikumenis” yang antara lain mencoba memahami

apa persoalan bersama dari umat manusia di suatu tempat tertentu dan

memberi jalan [Link] lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah

pendidikan perdamaian,oleh karena memang kita hidup dalam dunia yang

terkoyak-koyak karena konflik yang disertai [Link] lagi kita bicara

tentang pendidikan untuk tanggung jawab kelestarian lingkungan yang

berhadapan dengan pemanasan global.

Namun untuk mengerti arti kedewasaan (maturitas) secara utuh (holistik) perlu dipahami baik dari

aspek psikologis, sosiologis, ekonomis dan spiritual. Dewasa secara psikologis artinya mapan dalam

pemikiran atau cara berpikir, bahkan dalam mengelola emosi serta dalam menyatakan sikap bijak

ketika mengambil keputusan. Dewasa secara sosiologis, maksudnya mampu menempatkan diri dengan

baik dalam relasi dengan komunitas tempatnya berada, sekurang-kurangnya dalam lingkup keluarga.

Dewasa secara Kultural, yaitu mampu memahami dan melakukan peran menurut adat dan tradisi yang

berlaku di dalam masyarakat tempat orang dewasa itu bertumbuh. Dewasa secara ekonomis, yaitu

dalam arti mempunyai atau bahkan menciptakan pekerjaan sehingga bertanggung jawab menghidupi

diri sendiri dan/atau keluarganya. Dewasa secara spiritual, yaitu memiliki kemantapan rohani serta

berkomitmen kepada Tuhan dan firmanNya, dengan mengasihi Dia melalui totalitas kehidupan.

Dalam setiap kebudayaan pembedaan terhadap usia dewasa tidak selalu sama. Di masyarakat

Amerika, umur 21 tahun telah disebut awal masa dewasa. Sedangkan dalam konteks masyarakat

Indonesia, orang dewasa ialah pribadi yang telah mencapai usia 22 tahun ke atas.
Karena orang dewasa terus bertumbuh dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam memenuhi

kebutuhan manusia yang hierarki,misalnya untuk aktualisasi diri serta pencarian dan menjalani hidup

secara bermakna,maka pendidikan orang dewasa sangat penting dalam rangka itu. Maka teori motivasi

Maslow akan sangat berguna,maupun Viktor Frankl tentang “ the will to meaning”. Ini tentu saja

hanya sebagian dari alasan mengapa PAK Dewasa menjadi penting. Alasan orang dewasa belajar

adalah motivasi batinnya. Pendidikan tidak mengenal usia bagi yang ingin terus belajar, namun

kadang kurang kesempatan bagi orang dewasa. Tidak menutup kemungkinan, orang dewasa bisa

mengembangkan kemampuannya lewat belajar.

Orang yang dewasa telah dianggap matang bila dapat memahami segala sesuatu dan mampu

mengaplikasikan atau menerapkan dengan baik norma-norma dan mengendalikan dirinya di tengah-

tengah keluarga, masyarakat, gereja dan bangsa. Orang dewasa harus memiliki kesadaran yang

tinggi dan memahami visi serta kebijakannya ke depan dalam membangun kehidupan yang lebih

sejahtera. Pendidikan Agama Kristen bukanlah sekedar memahami, mengetahui, dan melakukan

tetapi PAK kepada orang dewasa juga meliputi keterlibatan orang dewasa dalam membangun PAK

khususnya dalam dirinya dan orang-lain. Seiring dengan tugas dan tanggungjawab orang dewasa

dalam hidupnya, orang dewasa tidak hanya bertanggungjawab dalam hal-hal duniawi tetapi juga

untuk kehidupan rohani anak-anak mereka, dan berdampak bagi masyarakat, gereja dan sekitar.
B. Identifikasi Masalah

1. PAK Dewasa sangat penting dalam gereja dan masyarakat ?

2. Orang Dewasa masih membutuhkan pendidikan dan pembinaan?

3. Orang Dewasa sangat perlu pendidikan agar semakin mampu dalam

melakukan tugas panggilan gereja yaitu bersaksi,bersekutu dan melayani?

4. Orang Dewasa perlu diperlengkapi dengan pemahaman supaya bias mengatasi

masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat ?

5. Orang Dewasa membutuhkan pendidikan Agama Kristen (PAK) agar bias

membangun PAK dakam dirinya maupun orang lain?

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Nilai Kebijaksanan Lokal Dekoi-Dekoi Menurut Perspektif PAK

Dewasa

2. Bagaimana penerapan Nilai kebijaksanan Lokal Dekoi-Dekoi dalam

Masyarakat Adat Doromena secara khusus di kalangan Dewasa


D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk :

1. Ingin mengetahui bagaimana Nilai Kebijaksanan Lokal Dekoi-Dekoi Menurut

Perspektif PAK Dewasa

2. Ingin mengetahui Bagaimana penerapan Nilai kebijaksanan Lokal Dekoi-

Dekoi dalam Masyarakat Adat Doromena secara khusus di kalangan Dewasa

E. Manfaat Penelitian

1. Untuk meningkatkan PAK Dewasa dalam kinerja orang dewasa

2. Hasil penelitian ini diharapkan supaya PAK Dewasa dan Nilai Kebijaksanaan

Lokal Dekoi-Dekoi dalam masyarakat Adat Doromena semakin meningkat

3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi

perkembangan ilmu pengetahuan PAK Dewasa

4. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk kegiatan

penelitian berikutnya.

F. Definisi Operasional

1. Penerapan Nilai

Sebagai wargaa negara Indonesia,sudah seharusnya nilai-nilai yang

terkandung dalam Pancasila bias diterpkan dalam kehidupan kita sehari-

[Link] menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari

agar dapat mewujudkan pola hidup yang bersahaja,menjunjung

perdamaian,menghindari kekerasan,bersikap terbuka dan menghindari sikap

kedaerahan yang berlebihan.

Dengan kata lain,menerapkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan

sehari-hari untuk menjadi kerukunan dan perdamaian bangsa


[Link] ,Pancasila adalah lima dasar dari Negara Kesatuan

Republik Indonesia sekaligus rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa

serta bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila ialah

ketuhanan,kemanusiaan,persatuan,kerakyatan ,dan [Link],apa saja

contoh penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari?

Berikut ini contoh penerapan nilai-nilai Pancasila di kehidupan

sehari-hari:

1. Nilai Ketuhanan

Pancasila sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa

mengandung nilai [Link] dari Pendidikan

Kewarganegaraan;Kecakapan Berbangsa dan bernegara oleh

Aa Nurdiaman,perwujudan nilai sila pertama Pancasila

yakni:

 Meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan

sifat-sifatnya yang Maha sempurna.

 Bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan

cara menjalankan semua perintah-Nya sekaligus

menjauhi segala larangan-Nya.

 Saling menghormati dan menoleransi antarpemeluk

Agama yang berbeda-beda.

 Menjaga kebebasan bersama menjalankan ibadah

sesuai Agama dan kepercayaan masing-masing.

2. Nilai Kemanusiaan

Sila kedua Pancasila,Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

mengandung nilai kemanusiaan,yakni bangsa Indonesia

diakui dan didiperlakukan sesuai harkat dan martabatnya


sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sama derajat,hak dan

kewajibannya tanpa membeda-bedakan berdasarkan

agama,suku,ras,atau keturunannya.

Contohnya penerapan nilaikemanusiaan Pancasila yaitu:

 Mengakui adanya harkat dan martabat manusia.

 Mengakui keberadaan manusia sebagai makhluk

yang paling mulia diciptakan Tuhan.

 Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan berlaku

adil terhadap sesame manusia.

 Tenggang rasa dan tidak semena-mena terhadap

orang lain.

3. Nilai Persatuan

Makna sila ketiga Pancasila “ Persatuan Indonesia” adalah

kebulatan utuh dari berbagai aspek kehidupan,baik dari

ideology,politik,social,budaya dan pertahanan keamanan

yang terwujud dalam satu wadah bernama Indonesia.

Nilai kesatuan dalam sila ketiga Pancasila dapat diwujudkan

sehari-hari lewat sikap dan perilaku:

 Menempatkan persatuan,keatuan,kepentingan dan

keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan

pribadi dan golongan.

 Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan bangsa.

 Menumbuhkan raasa rela berkorban untuk

kepentingan bangsa dan negara.

 Mengaku keragaman suku dan budaya bangsa serta

mendorongnya kea rah persatuan dan kesatuan.


4. Nilai kerakyatan

Nilai Pancasila sila keempat adalah nilai kerakyatan,dengan

manusia Indonesia memiliki kedudukan,hak dan kewajiban

sama sebagai warga masyarakat dan warga negara.

Berikut penerapan nilai kerakyatan dalam Pancasila:

 Mengaku kedaulatan negara ada di tangan rakyat.

 Mengaku manusia Indonesia sebagai warga

masyarakat dan warga negara punya kedudukan,hak

dan kewajiban yang sama.

 Bermusyawarah untuk mencapai mufakat untuk hal-

hal yang menyangkut kepentingan bersama dengan

diliputi semangat kekeluargaan.

 Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat

daripada kepentingan pribadi atau golongan

 Mengutamakan musyawarah dalam setiap

pengambilan keputusan,

5. Nilai Keadilan

Keadilan merupakan satu di antara tujuan NKRI sebagai

negara [Link] mencapainya,nilai keadilan pada sila

kelima Pancasila perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-

hari,yakni:

 Berlaku adil pada semua orang sesuai hak dan

kewajibannya.

 Merawat keseimbangan hak dan kewajiban diri

sendiri

 Menghormati hak-hak orang lain


 Memberikan pertolongan pada orang yang

membutuhkan secara adil

 Mengembangkan perbuatan-perbuatan terpuji yang

mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan

gotong royong

 Mendukung kemajuan dan pembangunan

bangsa,baik material maupun spiritual.

2. Kebijakan Lokal Dekoi-Dekoi

Kearifan lokal ataau kebijakan lokal merupakan bagian dari budaya

masyarakat yang tidak terpisahkan dengan masyarakat [Link]

diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita bahkan melalui tindakan

nyata yang paling sederhana dari lingkungan keluarga dan menjadi

pengetahuan temuan masyarakat lokal malalui pengalaman yang

diintegrasikan pemahaman budaya dan keadaan alam suatu tempat.

Beberapa contoh manfaat kebijakan local yang pernah dialami dari

hasil pembelajaran dalam keluarga atau kebijakan lokal yang diajarkan oleh

orang tua untuk kelestarian lingkungan meliputi:

a. Kulit buah-buahan tidak dibuang tetapi dimanfaatkan sebagai

pupuk melalui diproses dengan pemyimpanan hingga

membusuk pada tanaman atau bunga dihalaman [Link]

buah-buahan akan menjadi pupuk alamiah bagi tanaman

ataupun [Link] itu,ada kulit buah-buahan yang dipakai

sebagai pakan ternak,contohnya kulit pisang.

b. Jerigen bekas bimoli biasanya dimanfaatkan sebagai alat

untuk menampung air dan dipakai untuk menyiram tanaman

ataupun tumbuhan yang memiliki potensi disekitarnya


Kebijakan lokal juga memiliki manfaat untuk kelestarian lingkungan

masyarakat setempat agar tidak menggunakan pestisida untuk mematikan

gulma/rumput yang menganggu tanaman tetapi gulma/rumput yang tumbuh disela-

sela tanaman dibersihkan secara hati-hati,baik dalam pekarangan maupun

[Link] masyarakat yang membersihkan area kebun tanpa pestisida

merupakan hal yang sangat berguna karena menjaga tanah tempat berkebun tetap

subur dan tidak terkontaminasi oleh pestisida.

3. PAK Dewasa

4.

G. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

b. Identifikasi Masalah

c. Perumusan Masalah

d. Tujuan Penelitian

e. Manfaat peneltian
f. Definisi Operasional

g. Sistematika Penulisan

BAB II KAJIAN TEORI

a. Kajian Teori

b. Paradigm berpikir

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

a. Metode Penelitian

b. Variable Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

a. Hasil Penelitian

b. Pembahasan

BAB V PENUTUP

a. Kesimpulan

b. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORI

a. Kajian Teori

Pembahasan kearifan lokal (local wisdom) di nilai-nilai moral cenderung mengendur seiring dengan

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan budaya yang menyertainya dan lahirnya

pemahaman akan pentingnya nilai-nilai tersebut kenyataan [Link] ini juga membuat orang menyadari

betapa rapuh dan cepat berlalunya dunia kita, Kenali batas toleransi bumi menentang campur tangan

manusia. Kearifan lokal mengacu pada semakin beragamnya kekayaan budaya berkembang dalam
masyarakat di mana Anda dikenal, dipercaya, dan diakui faktor penting yang dapat meningkatkan

kohesi social. Quaritch Wales merumuskan kearifan lokal atau local genius sebagai “the sum of the

cultural characteristic which the vast majority of a people have in common as a result of their

experiences in early life”. Pokok pikiran yang terkandung dalam definisi tersebut adalah ;

1. karakter budaya

2. kelompok pemilik budaya

3. pengalaman hidup yang lahir dari karakter budaya

Kearifan Lokal merupakan sesuatu bahagian dari sebuah budaya yang ada didalam suatu masyarakat

yang tidak dapat dijauhkan dari masyarakat itu sendiri, kearifan lokal tersebut dapat dikatakan sebagai

sebuah nilai-nilai yang ada kearifan lokal di Indonesia sudah terbukti ikut menentukan atau berperan

dalam suatu kemajuan masyarakatnya. Menurut Sibarani (dalam Daniah) Local Wisdom adalah suatu

bentuk pemahaman yang ada dalam untuk mengatur kehidupan masyarakat atau yang biasa disebut

dengan kearifan lokal (local wisdom). Kearifan lokal digunakan oleh masyarakat sebagai pengontrol

kehidupan sehari-hari dalam hubungan keluarga, dengan sesama saudara, serta dengan orang-orang

dalam lingkungan yang lebih luas. Adapun karakteristik kearifan lokal, yaitu

1. harus menggabungkan pengetahuan kebajikan yang mengajarkan orang tentang etika dan

nilai-nilai moral

2. kearifan lokal harus mengajar orang untuk mencintai alam, bukan untuk menghancurkannya

3. kearifan local harus berasal dari anggota komunitas yang lebih tua

Kearifan lokal dapat berbentuk nilai, norma, etika,kepercayaan, adat-istiadat, hukum, adat, aturan-

aturan [Link], nilai-nilai yang relevan dengan kearifan lokal, antara lain nilai kejujuran,

tanggung jawab, disiplin, kreatif, serta kerja keras. Kearifan lokal dilihat dari kamus Inggris

Indonesia, terdiri dari 2 kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Lokal berarti setempat dan

wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain maka kearifan local dapat dipahami sebagai

gagasan-gagasan, nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan,

bernilai baik,yang tertanam dan diikuti oleh anggota-anggota masyarakatnya.


Etika Kristen merupakan pengajaran tentang perilaku dan sikap orang Kristen, dimana Allah adalah

pusat dan Kristus adalah sebagai teladan untuk mempraktekkan nilai-nilai iman dalam kehidupan

sehari-hari, serta Alkitab menjadi dasar atau petunjuk orang Kristen dalam melihat semua aturan-

aturan yang baik dan benar. Oleh karena itu, etika Kristen adalah pengajaran atau aturan-aturan yang

berguna bagi orang Kristen untuk dapat mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang salah,

contoh konkret yang diberikan Alkitab ialah Kitab Roma 7:7 “Jika demikian, apakah yang hendak kita

katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku

telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak

mengatakan: Jangan mengingini. Karakter berharga di mata Tuhan. Itulah sebabnya Allah menuntut

setiap orang percaya untuk menumbuhkan karakterkarakter sesuai dengan perintah Allah, sehingga

setiap orang semakin serupa dan segambar dengan-Nya. Berikut rangkum beberapa ayat Alkitab

tentang karakter. Roma 5:3-4 “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam

kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan

menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dalam Galatia 5:22-23 “Tetapi buah

Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

kelemahlembutan, penguasaan diri. Dalam hal ini, Alkitab memberikan penjelasan atau pertimbangan

mengenai prilaku yang baik dan yang buruk sehingga orang Kristen bisa membedakan mana yang

buruk dan mana yang baik.

Anda mungkin juga menyukai