PENERAPAN NILAI KEBIJAKAN LOKAL DEKOI-DEKOI
MENURUT PERSPEKTIF PAK DEWASA DALAM
MASYARAKAT ADAT DOROMENA
PROPOSAL SKRIPSI
OLEH:
NAMA : YOSINA SABATINI DIAWAITOU
NIM : 2020.04.0228
SEMESTER : VII B
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN PROTESTAN
NEGERI (STAKPN) BURERE SENTANI
JAYAPURA
2023
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
PAK Dewasa (Adult Religious Education) merupakan istilah yang berkembang di
Amerika Serikat. Istilah ini pertama kalinya dikenal dengan “Adult Religious
Education.” Menunjuk pada usaha gereja dalam mendidik warganya, untuk kategori
usia dewasa dan dalam berbagai setting dan bentuk. Jika hal tersebut ditujukan kepada
orang dewasa, maka istilah yang dipakai adalah Adult Christian (Religious) Education
(PAK Dewasa) atau Adult religious Education. Pendidikan orang dewasa (POD)
merupakan bidang pelayanan yang sangat strategis oleh karena bagaimanapun orang
dewasa adalah orang Kristen garis depan yang menghadapi dunia ini dengan segala
tantangannya, terutama dalam pekerjaan masing-masing. Orang dewasa masih
membutuhkan pendidikan dan pembinaan dalam gereja agar mereka dapat hidup
sebagai orang Kristen yang bertanggung jawab dalam dunia kerjanya (dalam profesi
apapun ) Gordon G. Dankenwald dan Sharon B. Merriam, mengatakan bahwa Adult
Education menaruh perhatian pada memberi pertolongan kepada orang-orang dewasa
untuk mengembangkan potensinya, atau merundingkan perubahan dalam peranan
sosialnya (sebagai pekerja, pensiunan dan lain-lain), dengan demikian menolong
mereka memperoleh pemenuhan diri yang lebih besar dalam kehidupan pribadi dan
juga menolong mereka memecahkan masalah-masalah pribadi dan social. Sedangkan
menurut Boehlke, dalam catatan Andar Ismail, merumuskan bahwa PAK Dewasa
ialah usaha sengaja dari gereja-gereja di bawah pimpinan Roh Kudus untuk membuka
kesempatan belajar buat orang dewasa sehingga mereka dapat melayani Tuhan sesuai
dengan bakat dan minat pribadi, kebutuhan keluarga, gereja, masyarakat umum dan
dunia alam sekitarnya. Hal yang sama dikemukakan oleh UNESCO mengenai definisi
pendidikan orang dewasa, bahwa pendidikan orang dewasa sebagai keseluruhan
proses pendidikan yang diorganisasikan; apa pun isi, tingkatan, dan metode baik
formal maupun tidak, yang melanjutkan atau menggantikan pendidikan semula di
sekolah, akademi, dan universitas serta latihan kerja, yang membuat orang yang
dianggap dewasa oleh masyarakat mengembangkan kemampuannya, dan
mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam perspektif rangkap
perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial,
ekonomi dan budaya yang seimbang dan bebas. Oleh karenanya, Pendidikan orang
dewasa mempunyai ciri mengarahkan orang dewasa untuk mengembangkan
kemampuannya dalam pemahaman dan perkembangan diri, tanggung jawab dan
dalam menjawab persoalan-persoalan dirinya. Seperti yang diungkapkan oleh Craig
Sidjabat menyatakan beberapa alasan mengapa orang dewasa perlu mendapatkan
pembinaan :
1. Untuk perubahan diri mereka Kehidupan orang dewasa tidak saja diwarnai
perkembangan, tetapi juga perubahan (transformation). Dalam terang iman
Kristen, perubahan kepribadian itu ialah ke arah yang lebih menyerupai
Kristus, yang tidak lepas dari pekerjaan Roh Allah. Dalam rangka perubahan
diri, diperlukan fasilitator pembelajaran orang dewasa.
2. Untuk Pengembangan diri mereka Orang dewasa berkembang dalam berbagai
aspek kehidupan dalam artian holistic. Itu sesuai dengan ajaran Alkitab tentang
manusia yang memiliki dimensi jasmani, jiwa, dan roh. Selain itu, manusia
juga mempunyai dimensi individual dan sosial. Oleh sebab itu, pembinaan
orang dewasa patut menyentuh dan memperkaya aspek pengetahuan,
pengertian, perasaan, sikapsikap, minat-minat, relasi-relasi, dan perilaku
(ketrampilan) sosial, kultural, serta terutama aspek kerohanian.
3. Untuk Tugas dan Tanggung jawab Hidup Orang dewasa mempunyai banyak
tugas dan tanggung jawab, termasuk terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga
dekat dan jauh, terhadap lembaga tempat mereka berkarya, serta terhadap
masyarakat dan lingkungan alamnya. Pendidikan hidup bertanggung jawab
(education for responsible living) itu sangat tepat bagi warga jemaat dewasa.
4. Untuk Menjawab kebutuhan Gereja Gereja diutus Allah ke tengah dunia
adalah untuk menjadi saksiNya, yaitu memberitakan berbagai ragam hikmat
Allah (Ef.3:10, 1 Ptr 2:9-10) dan dalam rangka menjadikan segala bangsa
murid Yesus hingga akhir zaman (Mat.28:19-20). Agar berita Injil itu dapat
disampaikan kepada banyak orang, pemimpin gereja patutlah mengelola
program-program pelatihan.
Menurut Knowles, dalam bukunya Nuhamara dijelaskan bahwa ia memandang orang dewasa dalam
hubungannya dengan empat kategori kunci, yakni : self concept (Konsep diri) yang artinya bahwa
orang dewasa pada umumnya melihat drinya sebagai orang yang mandiri, mempunyai rasa identitas
individual. Ia berbeda dengan orang dewasa lainnya. Ia lebih mampu mengarahkan dirinya sendiri
daripada diarahkan oleh orang lain, dengan kata lain ia sudah tahu siapa dirinya dengan kekurangan
dan kelebihannya. Experience (pengalaman), orang dewasa telah mempunyai pengalaman
dibandingkan ketika masih usia anak, ia mempunyai lebih banyak pengalaman dan latar belakang
pengalaman yang berbeda secara kualitatif; readiness to learn (kesiapan belajar), kesiapan belajar bagi
orang dewasa berkaitan dengan pemenuhan dan penyelesaian “tugas perkembangan” dalam periode
kehidupan seseorang. Yang terakhir Orientation to learn (orientasi terhadap belajar) artinya bahwa
orang dewasa secara khas ingin belajar sesuatu agar dapat diterapkan langsung dalam persoalan besar
dan kecil yang dihadapinya. Atas dasar ini ia menggambarkan suatu pendekatan generik terhadap
pendidikan orang dewasa. Jadi yang dimaksudkan dengan PAK Dewasa adalah keseluruhan proses
pendidikan yang dilakukan secara sengaja, sistematis, dan berkelanjutan. Proses pendidikan ini
diterapkan kepada warga gereja yang secara usia telah dewasa dan telah mempunyai peranan sosial,
agar dapat menjalani kehidupan spiritual dengan baik dan benar, sehingga berdampak positif bagi
orang lain, baik dalam gereja, masyarakat dan dimanapun berada.
Pertama-tama kita akan melihat signifikansi pendidikan orang dewasa dalam [Link] harus
diakui bahwa pelayanan gereja kepada setiap kelompok/kategori usia mempunyai signifikansi yang
khusus,demikian pula pendidikan orang [Link] beberapa signifikansi yang menurut pendapat
saya sangat penting untuk diperhatikan.
1. Pendidian orang dewasa merupakan bidang pelayanan yang sangat strategis
oleh Karena bagaimanapun orang dewasa adalah orang Kristen garis depan
yang menghadapi dunia ini dengan segala tantangannya,terutama dalam
pekerjaan [Link] dewasa masih membutuhkan pendidikan dan
pembinaan dalam gereja agar mereka dapat hidup sebagai orang Kristen yang
bertanggung jawab dalam dunia kerjanya (dalam profesi apa pun).
Bagaimana,tidak ada batas pertumbuhan karena setiap orang harus menjalani
pendidikan seumur [Link] sebagaimana dikatakan oleh banyak
orang merupakan “ a lifelong process”, karena itu kita mengenal istilah
“lifelong education.
2. Bagaimanapun juga orang dewasa dalam gereja adalah agen dari pelaksanan
tugas panggilan [Link] karena itu,orang dewasa perlu terus didikan agar
ia semakin mampu dan terdorong untuk terus mengembangkan misi/tugas
gereja agar terlibat dalam pelayanan,kesaksian,dan [Link]
contoh: kita memang mengakui pentingnya pendidikan bagi anak,akan tetapi
orang tualah yang memiliki primacy (keutamaan) baik dalam hak maupun
kewajiaban dalam mendidik [Link] karena itu,adalah tugas
gereja untuk mendidik dan mempersiapkan orang tua,agar mereka menyadari
dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya untuk mendidik anak-
[Link] kata lain,pendidikan orang dewasa penting dalam rangka
memampukan orang dewasa untuk menjadi agen pelaksanan tugas dan
panggilan gereja dalam dunia dalam berbagai bidang pelayanan gereja
maupun menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab dalam bidang
pekerjaan/profesi masing-masing.
3. Dunia dimana orang Kristen dan gereja ditempatkan adalah dunia yang penuh
dengan berbagai [Link] karena itu,orang dewasa perlu
diperlengkapi dengan pemahaman terhadap permasalahan-permasalahan
tersebut,dan mencoba meninjaunya dari perspektif atau sudut pandang
kristiani yang berdasarkan Alkitab,dan didorong untuk turut serta dalam
[Link] ini sedang hangat-hangatnya diselenggarakan apa
yang disebut “ pendidikan Oikumenis” yang antara lain mencoba memahami
apa persoalan bersama dari umat manusia di suatu tempat tertentu dan
memberi jalan [Link] lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah
pendidikan perdamaian,oleh karena memang kita hidup dalam dunia yang
terkoyak-koyak karena konflik yang disertai [Link] lagi kita bicara
tentang pendidikan untuk tanggung jawab kelestarian lingkungan yang
berhadapan dengan pemanasan global.
Namun untuk mengerti arti kedewasaan (maturitas) secara utuh (holistik) perlu dipahami baik dari
aspek psikologis, sosiologis, ekonomis dan spiritual. Dewasa secara psikologis artinya mapan dalam
pemikiran atau cara berpikir, bahkan dalam mengelola emosi serta dalam menyatakan sikap bijak
ketika mengambil keputusan. Dewasa secara sosiologis, maksudnya mampu menempatkan diri dengan
baik dalam relasi dengan komunitas tempatnya berada, sekurang-kurangnya dalam lingkup keluarga.
Dewasa secara Kultural, yaitu mampu memahami dan melakukan peran menurut adat dan tradisi yang
berlaku di dalam masyarakat tempat orang dewasa itu bertumbuh. Dewasa secara ekonomis, yaitu
dalam arti mempunyai atau bahkan menciptakan pekerjaan sehingga bertanggung jawab menghidupi
diri sendiri dan/atau keluarganya. Dewasa secara spiritual, yaitu memiliki kemantapan rohani serta
berkomitmen kepada Tuhan dan firmanNya, dengan mengasihi Dia melalui totalitas kehidupan.
Dalam setiap kebudayaan pembedaan terhadap usia dewasa tidak selalu sama. Di masyarakat
Amerika, umur 21 tahun telah disebut awal masa dewasa. Sedangkan dalam konteks masyarakat
Indonesia, orang dewasa ialah pribadi yang telah mencapai usia 22 tahun ke atas.
Karena orang dewasa terus bertumbuh dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam memenuhi
kebutuhan manusia yang hierarki,misalnya untuk aktualisasi diri serta pencarian dan menjalani hidup
secara bermakna,maka pendidikan orang dewasa sangat penting dalam rangka itu. Maka teori motivasi
Maslow akan sangat berguna,maupun Viktor Frankl tentang “ the will to meaning”. Ini tentu saja
hanya sebagian dari alasan mengapa PAK Dewasa menjadi penting. Alasan orang dewasa belajar
adalah motivasi batinnya. Pendidikan tidak mengenal usia bagi yang ingin terus belajar, namun
kadang kurang kesempatan bagi orang dewasa. Tidak menutup kemungkinan, orang dewasa bisa
mengembangkan kemampuannya lewat belajar.
Orang yang dewasa telah dianggap matang bila dapat memahami segala sesuatu dan mampu
mengaplikasikan atau menerapkan dengan baik norma-norma dan mengendalikan dirinya di tengah-
tengah keluarga, masyarakat, gereja dan bangsa. Orang dewasa harus memiliki kesadaran yang
tinggi dan memahami visi serta kebijakannya ke depan dalam membangun kehidupan yang lebih
sejahtera. Pendidikan Agama Kristen bukanlah sekedar memahami, mengetahui, dan melakukan
tetapi PAK kepada orang dewasa juga meliputi keterlibatan orang dewasa dalam membangun PAK
khususnya dalam dirinya dan orang-lain. Seiring dengan tugas dan tanggungjawab orang dewasa
dalam hidupnya, orang dewasa tidak hanya bertanggungjawab dalam hal-hal duniawi tetapi juga
untuk kehidupan rohani anak-anak mereka, dan berdampak bagi masyarakat, gereja dan sekitar.
B. Identifikasi Masalah
1. PAK Dewasa sangat penting dalam gereja dan masyarakat ?
2. Orang Dewasa masih membutuhkan pendidikan dan pembinaan?
3. Orang Dewasa sangat perlu pendidikan agar semakin mampu dalam
melakukan tugas panggilan gereja yaitu bersaksi,bersekutu dan melayani?
4. Orang Dewasa perlu diperlengkapi dengan pemahaman supaya bias mengatasi
masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat ?
5. Orang Dewasa membutuhkan pendidikan Agama Kristen (PAK) agar bias
membangun PAK dakam dirinya maupun orang lain?
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Nilai Kebijaksanan Lokal Dekoi-Dekoi Menurut Perspektif PAK
Dewasa
2. Bagaimana penerapan Nilai kebijaksanan Lokal Dekoi-Dekoi dalam
Masyarakat Adat Doromena secara khusus di kalangan Dewasa
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk :
1. Ingin mengetahui bagaimana Nilai Kebijaksanan Lokal Dekoi-Dekoi Menurut
Perspektif PAK Dewasa
2. Ingin mengetahui Bagaimana penerapan Nilai kebijaksanan Lokal Dekoi-
Dekoi dalam Masyarakat Adat Doromena secara khusus di kalangan Dewasa
E. Manfaat Penelitian
1. Untuk meningkatkan PAK Dewasa dalam kinerja orang dewasa
2. Hasil penelitian ini diharapkan supaya PAK Dewasa dan Nilai Kebijaksanaan
Lokal Dekoi-Dekoi dalam masyarakat Adat Doromena semakin meningkat
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi
perkembangan ilmu pengetahuan PAK Dewasa
4. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk kegiatan
penelitian berikutnya.
F. Definisi Operasional
1. Penerapan Nilai
Sebagai wargaa negara Indonesia,sudah seharusnya nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila bias diterpkan dalam kehidupan kita sehari-
[Link] menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
agar dapat mewujudkan pola hidup yang bersahaja,menjunjung
perdamaian,menghindari kekerasan,bersikap terbuka dan menghindari sikap
kedaerahan yang berlebihan.
Dengan kata lain,menerapkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan
sehari-hari untuk menjadi kerukunan dan perdamaian bangsa
[Link] ,Pancasila adalah lima dasar dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia sekaligus rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa
serta bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila ialah
ketuhanan,kemanusiaan,persatuan,kerakyatan ,dan [Link],apa saja
contoh penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari?
Berikut ini contoh penerapan nilai-nilai Pancasila di kehidupan
sehari-hari:
1. Nilai Ketuhanan
Pancasila sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
mengandung nilai [Link] dari Pendidikan
Kewarganegaraan;Kecakapan Berbangsa dan bernegara oleh
Aa Nurdiaman,perwujudan nilai sila pertama Pancasila
yakni:
Meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan
sifat-sifatnya yang Maha sempurna.
Bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan
cara menjalankan semua perintah-Nya sekaligus
menjauhi segala larangan-Nya.
Saling menghormati dan menoleransi antarpemeluk
Agama yang berbeda-beda.
Menjaga kebebasan bersama menjalankan ibadah
sesuai Agama dan kepercayaan masing-masing.
2. Nilai Kemanusiaan
Sila kedua Pancasila,Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
mengandung nilai kemanusiaan,yakni bangsa Indonesia
diakui dan didiperlakukan sesuai harkat dan martabatnya
sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sama derajat,hak dan
kewajibannya tanpa membeda-bedakan berdasarkan
agama,suku,ras,atau keturunannya.
Contohnya penerapan nilaikemanusiaan Pancasila yaitu:
Mengakui adanya harkat dan martabat manusia.
Mengakui keberadaan manusia sebagai makhluk
yang paling mulia diciptakan Tuhan.
Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan berlaku
adil terhadap sesame manusia.
Tenggang rasa dan tidak semena-mena terhadap
orang lain.
3. Nilai Persatuan
Makna sila ketiga Pancasila “ Persatuan Indonesia” adalah
kebulatan utuh dari berbagai aspek kehidupan,baik dari
ideology,politik,social,budaya dan pertahanan keamanan
yang terwujud dalam satu wadah bernama Indonesia.
Nilai kesatuan dalam sila ketiga Pancasila dapat diwujudkan
sehari-hari lewat sikap dan perilaku:
Menempatkan persatuan,keatuan,kepentingan dan
keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan
pribadi dan golongan.
Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan bangsa.
Menumbuhkan raasa rela berkorban untuk
kepentingan bangsa dan negara.
Mengaku keragaman suku dan budaya bangsa serta
mendorongnya kea rah persatuan dan kesatuan.
4. Nilai kerakyatan
Nilai Pancasila sila keempat adalah nilai kerakyatan,dengan
manusia Indonesia memiliki kedudukan,hak dan kewajiban
sama sebagai warga masyarakat dan warga negara.
Berikut penerapan nilai kerakyatan dalam Pancasila:
Mengaku kedaulatan negara ada di tangan rakyat.
Mengaku manusia Indonesia sebagai warga
masyarakat dan warga negara punya kedudukan,hak
dan kewajiban yang sama.
Bermusyawarah untuk mencapai mufakat untuk hal-
hal yang menyangkut kepentingan bersama dengan
diliputi semangat kekeluargaan.
Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat
daripada kepentingan pribadi atau golongan
Mengutamakan musyawarah dalam setiap
pengambilan keputusan,
5. Nilai Keadilan
Keadilan merupakan satu di antara tujuan NKRI sebagai
negara [Link] mencapainya,nilai keadilan pada sila
kelima Pancasila perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari,yakni:
Berlaku adil pada semua orang sesuai hak dan
kewajibannya.
Merawat keseimbangan hak dan kewajiban diri
sendiri
Menghormati hak-hak orang lain
Memberikan pertolongan pada orang yang
membutuhkan secara adil
Mengembangkan perbuatan-perbuatan terpuji yang
mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan
gotong royong
Mendukung kemajuan dan pembangunan
bangsa,baik material maupun spiritual.
2. Kebijakan Lokal Dekoi-Dekoi
Kearifan lokal ataau kebijakan lokal merupakan bagian dari budaya
masyarakat yang tidak terpisahkan dengan masyarakat [Link]
diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita bahkan melalui tindakan
nyata yang paling sederhana dari lingkungan keluarga dan menjadi
pengetahuan temuan masyarakat lokal malalui pengalaman yang
diintegrasikan pemahaman budaya dan keadaan alam suatu tempat.
Beberapa contoh manfaat kebijakan local yang pernah dialami dari
hasil pembelajaran dalam keluarga atau kebijakan lokal yang diajarkan oleh
orang tua untuk kelestarian lingkungan meliputi:
a. Kulit buah-buahan tidak dibuang tetapi dimanfaatkan sebagai
pupuk melalui diproses dengan pemyimpanan hingga
membusuk pada tanaman atau bunga dihalaman [Link]
buah-buahan akan menjadi pupuk alamiah bagi tanaman
ataupun [Link] itu,ada kulit buah-buahan yang dipakai
sebagai pakan ternak,contohnya kulit pisang.
b. Jerigen bekas bimoli biasanya dimanfaatkan sebagai alat
untuk menampung air dan dipakai untuk menyiram tanaman
ataupun tumbuhan yang memiliki potensi disekitarnya
Kebijakan lokal juga memiliki manfaat untuk kelestarian lingkungan
masyarakat setempat agar tidak menggunakan pestisida untuk mematikan
gulma/rumput yang menganggu tanaman tetapi gulma/rumput yang tumbuh disela-
sela tanaman dibersihkan secara hati-hati,baik dalam pekarangan maupun
[Link] masyarakat yang membersihkan area kebun tanpa pestisida
merupakan hal yang sangat berguna karena menjaga tanah tempat berkebun tetap
subur dan tidak terkontaminasi oleh pestisida.
3. PAK Dewasa
4.
G. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Identifikasi Masalah
c. Perumusan Masalah
d. Tujuan Penelitian
e. Manfaat peneltian
f. Definisi Operasional
g. Sistematika Penulisan
BAB II KAJIAN TEORI
a. Kajian Teori
b. Paradigm berpikir
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
a. Metode Penelitian
b. Variable Penelitian
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Hasil Penelitian
b. Pembahasan
BAB V PENUTUP
a. Kesimpulan
b. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II KAJIAN TEORI
a. Kajian Teori
Pembahasan kearifan lokal (local wisdom) di nilai-nilai moral cenderung mengendur seiring dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan budaya yang menyertainya dan lahirnya
pemahaman akan pentingnya nilai-nilai tersebut kenyataan [Link] ini juga membuat orang menyadari
betapa rapuh dan cepat berlalunya dunia kita, Kenali batas toleransi bumi menentang campur tangan
manusia. Kearifan lokal mengacu pada semakin beragamnya kekayaan budaya berkembang dalam
masyarakat di mana Anda dikenal, dipercaya, dan diakui faktor penting yang dapat meningkatkan
kohesi social. Quaritch Wales merumuskan kearifan lokal atau local genius sebagai “the sum of the
cultural characteristic which the vast majority of a people have in common as a result of their
experiences in early life”. Pokok pikiran yang terkandung dalam definisi tersebut adalah ;
1. karakter budaya
2. kelompok pemilik budaya
3. pengalaman hidup yang lahir dari karakter budaya
Kearifan Lokal merupakan sesuatu bahagian dari sebuah budaya yang ada didalam suatu masyarakat
yang tidak dapat dijauhkan dari masyarakat itu sendiri, kearifan lokal tersebut dapat dikatakan sebagai
sebuah nilai-nilai yang ada kearifan lokal di Indonesia sudah terbukti ikut menentukan atau berperan
dalam suatu kemajuan masyarakatnya. Menurut Sibarani (dalam Daniah) Local Wisdom adalah suatu
bentuk pemahaman yang ada dalam untuk mengatur kehidupan masyarakat atau yang biasa disebut
dengan kearifan lokal (local wisdom). Kearifan lokal digunakan oleh masyarakat sebagai pengontrol
kehidupan sehari-hari dalam hubungan keluarga, dengan sesama saudara, serta dengan orang-orang
dalam lingkungan yang lebih luas. Adapun karakteristik kearifan lokal, yaitu
1. harus menggabungkan pengetahuan kebajikan yang mengajarkan orang tentang etika dan
nilai-nilai moral
2. kearifan lokal harus mengajar orang untuk mencintai alam, bukan untuk menghancurkannya
3. kearifan local harus berasal dari anggota komunitas yang lebih tua
Kearifan lokal dapat berbentuk nilai, norma, etika,kepercayaan, adat-istiadat, hukum, adat, aturan-
aturan [Link], nilai-nilai yang relevan dengan kearifan lokal, antara lain nilai kejujuran,
tanggung jawab, disiplin, kreatif, serta kerja keras. Kearifan lokal dilihat dari kamus Inggris
Indonesia, terdiri dari 2 kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Lokal berarti setempat dan
wisdom sama dengan kebijaksanaan. Dengan kata lain maka kearifan local dapat dipahami sebagai
gagasan-gagasan, nilai-nilai, pandangan-pandangan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan,
bernilai baik,yang tertanam dan diikuti oleh anggota-anggota masyarakatnya.
Etika Kristen merupakan pengajaran tentang perilaku dan sikap orang Kristen, dimana Allah adalah
pusat dan Kristus adalah sebagai teladan untuk mempraktekkan nilai-nilai iman dalam kehidupan
sehari-hari, serta Alkitab menjadi dasar atau petunjuk orang Kristen dalam melihat semua aturan-
aturan yang baik dan benar. Oleh karena itu, etika Kristen adalah pengajaran atau aturan-aturan yang
berguna bagi orang Kristen untuk dapat mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang salah,
contoh konkret yang diberikan Alkitab ialah Kitab Roma 7:7 “Jika demikian, apakah yang hendak kita
katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku
telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak
mengatakan: Jangan mengingini. Karakter berharga di mata Tuhan. Itulah sebabnya Allah menuntut
setiap orang percaya untuk menumbuhkan karakterkarakter sesuai dengan perintah Allah, sehingga
setiap orang semakin serupa dan segambar dengan-Nya. Berikut rangkum beberapa ayat Alkitab
tentang karakter. Roma 5:3-4 “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam
kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan
menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dalam Galatia 5:22-23 “Tetapi buah
Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri. Dalam hal ini, Alkitab memberikan penjelasan atau pertimbangan
mengenai prilaku yang baik dan yang buruk sehingga orang Kristen bisa membedakan mana yang
buruk dan mana yang baik.