0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan13 halaman

Kebijakan MFK Puskesmas Labuapi

Program ini menetapkan kebijakan manajemen fasilitas dan keselamatan UPT Puskesmas Labuapi. Kebijakan ini mencakup perencanaan, identifikasi risiko, penanganan bahan berbahaya, dan evaluasi program untuk menjamin keselamatan pasien, staf dan pengunjung.

Diunggah oleh

Gusti Puwadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan13 halaman

Kebijakan MFK Puskesmas Labuapi

Program ini menetapkan kebijakan manajemen fasilitas dan keselamatan UPT Puskesmas Labuapi. Kebijakan ini mencakup perencanaan, identifikasi risiko, penanganan bahan berbahaya, dan evaluasi program untuk menjamin keselamatan pasien, staf dan pengunjung.

Diunggah oleh

Gusti Puwadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK BARAT

DINAS KESEHATAN
UPT PUSKESMAS LABUAPI
Jalan TGH. Lopan, Gg. Permas, Labuapi Kode Pos : 83361
Tlpn./HP. 087 884 274 43 E-mail: [Link]@[Link]

KEPUTUSAN KEPALA UNIT PELAKSANA TEKNIS PUSKESMAS LABUAPI


Nomor : /Kep/PKM-LA/ I/2023

TENTANG
PROGRAM MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN
UPT PUSKESMAS LABUAPI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,


KEPALA UNIT PELAKSANA TEKNIS PUSKESMAS LABUAPI

Menimbang : a. bahwa untuk mendukung terwujudnya Visi dan Misi UPT


Puskesmas Labuapi dan dalam rangka mengahadapi tuntutan
akan pelayanan kesehatan yang berkualitas serta
mengutamakan keselamatan pasien, staf serta pengunjung
antisipasi situasi kondisi yang sangat dinamis baik internal
maupun eksternal maka perlu adanya kebijakan manajemen
fasilitas dan keselamatan sebagai pedoman dalam
pelaksanaan pelayanan di UPT Puskesmas Labuapi;
b. bahwa untuk maksud huruf a perlu ditetapkan Program
Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) yang
ditetapkan dengan Keputusan Kepala UPT Puskesmas
Labuapi.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009


tentang Kesehatan ;
2. KMK Nomor 432/Menkes/SK/IV/2007 Tahun 2007 tentang
Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
di Puskesmas;
3. KMK Nomor 1087/Menkes/SK/VIII/2010 Tahun 2010
tentang Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di
Puskesmas;
4. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara RI
Nomor 17 Tahun 2014, tentang Pedoman Umum
Penyelenggaraan Pelayanan Publik
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575 / Menkes /Per /
XI /2005 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen
Kesehatan.;
6. Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 97 tahun 2015 tentang
Peta Jalan Sistem Informasi Kesehatan Tahun 2015-2019;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 44
Tahun 2016 tentang Manajemen Puskesmas;
8. Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 43 tahun 2019 tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat
9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 4
Tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu
Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan.

MEMUTUSKAN

Menetapkan: KEPUTUSAN KEPALA UNIT PELAKSANA TEKNIS PUSKESMAS


LABUAPI TENTANG PROGRAM MANAJEMEN FASILITAS DAN
KESELAMATAN UPT PUSKESMAS LABUAPI.

KESATU : Memberlakukan Kebijakan Manajemen Fasilitas Dan


Keselamatan sebagaimana dalam terlampir dalam Keputusan
ini.
KEDUA : Keputusan ini berlaku sejak ditetapakan dan apabila
dikemudian hari ditemukan kekeliruan dalam penetapan
keputusan ini maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di Labuapi
Pada tanggal Januari 2023

KEPALA UNIT PELAKSANA TEKNIS


PUSKESMAS LABUAPI

ROHAYATI
Lampiran :
KEPUTUSAN KEPALA UNIT PELAYANAN TEKNIS
PUSKESMAS LABUAPI.
Nomor : /Kep/PKM-LA/I/2023
Tanggal : 3 Januari 2023
Tentang : PROGRAM MANAJEMEN FASILITAS DAN
KESELAMATAN UPT PUSKESMAS LABUAPI.

PROGRAM MENEJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN


DI UPT PUSKESMAS LABUAPI

A. KEPEMIMPINAN DAN PERENCANAAN


1. Puskesmas mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
ketentuan tentang pemeriksaan fasilitas ;
2. Puskesmas menyediakan fasilitas yang aman, berfungsi dan supportif bagi
pasien, keluarga, staf dan pengunjung ;
3. Puskesmas menerapkan manajemen fasilitas dan keselamatan yang efektif
meliputi perencanaan, pendidikan dan pemantauan yang multi disiplin
meliputi :
- Merencanakan ruang, peralatan dan sumber daya yang dibutuhkan agar
aman dan efektif untuk menunjang pelayanan klinis yang diberikan ;
- Seluruh staf dididik tentang fasilitas, cara mengurangi risiko, dan
bagaimana memonitor dan melaporkan situasi yang menimbulkan risiko;
- Kriteria kinerja digunakan untuk mengevaluasi sistem yang penting dan
untuk mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan ;
- Rencana keselamatan dan keamanan ;
- Rencana penanganan bahan berbahaya ;
- Rencana manajemen emergensi ;
- Rencana pengamanan/penanggulangan kebakaran ;
4. Puskesmas menetapkan rencana induk atau rencana tahunan untuk
mengelola risiko terhadap pasien, keluarga, pengunjung dan staf meliputi :
a. Keselamatan dan keamanan
Keselamatan : Suatu tingkatan keadaan tertentu dimana gedung,
halaman/ground dan peralatan Puskesmastidak menimbulkan bahaya
atau risiko bagi pasien, staf dan pengunjung ;

Keamanan : Proteksi dari kehilangan, pengrusakan dan kerusakan, atau


akses serta penggunaan oleh mereka yang tidak berwenang ;

b. Bahan berbahaya : penanganan, penyimpanan, dan penggunaan bahan


radioaktif dan bahan berbahaya lainnya harus dikendalikan dan limbah
bahan berbahaya dibuang secara aman ;
c. Manajemen Emergensi Tanggapan terhadap wadah, bencana dan
keadaan emergensi direncanakan dan efektif ;
d. Pengamanan kebakaran properti dan penghuninya dilindungi dari
kebakaran dan asap ;
e. Peralatan medis peralatan dipilih, dipilihara dan digunakan sedemikian
rupa untuk mengurangi risiko ;
f. Sistem utilitas Listrik, air dan sistem pendukung lainnya dipelihara
untuk meminimalkan risiko kegagalan pengoperasian ;
g. Rencana tersebut ditulis dan di up to date yang merefleksikan keadaan
sekarang atau keadaan terkini dalam lingkungan Puskesmas. Ada proses
untuk mereview dan mengupdate ;
5. Komite risiko fasilitas/lingkungan yang kompeten mengawasi perencanaan
dan pelaksanaan program untuk mengelola risiko dilingkungan pelayanan
Program pengawasan meliputi :
a. Merencanakan semua aspek dari program ;
b. Melaksanakan program ;
c. Mendidik staf ;
d. Memonitor dan mengevaluasi uji coba program;
e. Melakukan evaluasi dan revisi program secara berkala;
f. Memberikan laporan tahunan ke badan pengelola tentang pencapaian
program;
g. Menyelenggarakan pengorganisasian dan pengelolaan secara konsisten
dan terus menerus;
6. Puskesmas membuat monitoring yang menyediakan data insiden, cidera dan
kejadian lainnya yang mendukung perencanaan dan pengurangan risiko
lebih lanjut;

B. KESELAMATAN DAN KEAMANAN


1. Tim MFK Melakukan identifikasi daerah berisiko keselamatan dan keamanan;
2. Tim MFK melakukan pemeriksaan seluruh gedung pelayanan pasien
dan mempunyai rencana untuk mengurangi risiko yang nyata serta
menyediakan fasilitas fisik aman bagi pasien, keluarga, staf dan
pengunjung ;
3. Untuk menjamin keamanan, semua staf, pengunjung, dan lainnya di
Puskesmas diidentifikasi yang sementara atau tetap atau langkah
identifikasi lain, juga seluruh area yang seharusnya aman, dan
dipantau;
4. Puskesmas merencanakan dan menganggarkan untuk meningkatkan
atau mengganti sistem, bangunan atau komponen berdasarkan hasil
inspeksi terhadap fasilitas dan tetap mematuhi peraturan
perundangan;
5. Tim MFK menganalisa situasi, dengan melihat sumber daya yang kita
miliki, sumber dana yang tersedia dan bahan potensial apa yang
mengancam keselamatan dan keamanan bekerja di Puskesmas;
6. Memonitor, mengendalikan , mengevaluasi dan merencanakan
pengembangan K3 Puskesmas;
7. Melaksanakan sosialisasi keselamatan dan keamanan kerja kepada
seluruh karyawan dalam bentuk pelatihan, leaflet, poster,
penyuluhan dan lain – lain;
8. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi
ketentuan dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), termasuk
penggunaan alat pelindung diri (APD), serta selalu mengacu pada
pencegahan dan pengendalian infeksi;
9. Seluruh staf Puskesmas harus bekerja sesuai dengan standar profesi,
pedoman/panduan dan standar prosedur opersional yang berlaku,
serta sesuai dengan etika profesi dan etika Puskesmas yang berlaku;

C. BAHAN BERBAHAYA
1. Puskesmas mempunyai rencana tentang inventaris, penanganan,
penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya serta pengendalian
dan pembuangan bahan dan limbah berbahaya;
2. Puskesmas mengidentifikasi dan mengendalikan secara aman bahan
dan limbah berbahaya sesuai rencana
3. Identifikasi dan pengendalian bahan berbahaya dan limbah diproses
untuk :
- Inventarisasi bahan dan limbah berbahaya,
- Penanganan, penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya,
- Pelaporan dan investigasi dari tumpahan, paparan (exporuse) dan
insiden lainnya
- Pembuangan limbah berbahaya yang benar sesuai dengan SPO yang
ada,
- Peralatan dan prosedur perlindungan yang benar pada saat
penggunaaan, ada tumpahan (spill) atau paparan (exposure).
- Pendokumentasian meliputi izin dan perizinan/lisensi atau
ketentuan persyaratan lainnya.
- Pemasangan label yang benar pada bahan dan limbah berbahaya.
4. Puskesmas memastikan bahwa setiap badan usaha yang
menggunakan bahan – bahan berbahaya harus mempunyai lembar
data pengaman;
5. Setiap bahan berbahaya dan beracun (B3) pada wadah atau
kemasan harus dicantumkan penandaan yang meliputi nama
dagang, bahan aktif, isi berat netto, kalimat peringatan dan tanda
atau simbol bahaya;
6. Puskesmas memastikan bahwa bahan berbahaya dan beracun
tersebut terpisah dari bahan – bahan lain dan jauh dari api;
7. Puskesmas harus mengetahui sifat dan karakteristik dari
penanganan, penyimpanan dan penggunaan B3 tersebut yang
meliputi :
1. Identifikasi Potensial Bahaya
a. Identifikasi dan penilaian resiko dilaksanakan oleh petugas
yang berkompeten (Petugas terkait, Gudang, Laboratorium,
radiologi dan Apotik)

b. Penentuan penanganan bahan / material dilaksanakan secara


manual atau mekanis ditetapkan berdasarkan hasil identifikasi

2. Sistem Pengangkutan, Penyimpanan Dan Pembuangan

a. Sistem pengangkutan bahan material yang diterima untuk


pemindahan dari pengangkutan ke dalam gudang dilakukan
secara manual yang dilaksanakan dengan perlakuan yang
benar guna menghindari tumpahan atau ceceran.

b. Pemindahan ini dilakukan dengan tenaga manusia dengan


mempergunakan alat bantu troli. Pemindahan secara mekanis
pada umumnya tidak dilakukan mengingat berat bahan yang
diangkut tidaklah terlalu berat.

c. Penyimpanan

- Untuk penyimpanan bahan kimia harus dipersiapkan tempat


khusus menurut spesifikasi (jenis)
- Penyimpanan Bahan – bahan kimia tidak dibenarkan
dicampur dengan bahan lainnya (Gudang / penempatan
harus terpisah dari bahan lain) dilengkapi dengan label B3
dan MSDS yang sesuai
- Setiap bahan material yang disimpan didalam gudang diberi
label yang jelas sesuai dengan spesifikasi, khusus dengan
bahan–bahan B3 harus diberi label peringatan yang jelas
untuk diketahui bahaya dari masing – masing bahan dan
cara penanganan.
3. Pemindahan dan Penggunaan
a. Dalam pengambilan bahan material dari gudang untuk
dipergunakan di lokasi kerja harus memperhatikan aspek K3
(menghindari tumpahan, kebocoran, ceceran dan kerusakan)
sesuai dengan petunjuk pedoman teknis yang berlaku
b. Petugas pelaksana yang menangani pemindahan dan
penggunaan harus memperhatikan aspek K3 dan harus
mengenakan APD, alat bantu yang memadai dan apabila
terjadi tumpahan atau ceceran pada saat pemindahan harus
ditangani sesuai dengan instruksi kerja dan pedoman kerja
yang berlaku.

4. Pengendalian Barang – Barang Rusak Dan kadaluwarsa

Bahan – bahan yang diindentifikasi telah mengalami kerusakan


dan kadaluwarsa ditempatkan di tempat yang aman secara
khusus, tidak dapat dipergunakan, tercatat dan
penanganannya harus sesuai dengan instruksi kerja

5. Pembuangan dan Penyimpanan Barang bekas yang dinyatakan


tidak dapat dipergunakan lagi harus disimpan sesuai ketentuan
yang berlaku, ditempatkan secara khusus dan tercatat agar tidak
dipergunakan lagi.
a. Khusus wadah bekas bahan B3 harus di beri label dengan jelas
sesuai sifat bahan tersebut (beracun, iritasi, korosif dan lain–
lain)
b. Wadah bekas bahan kimia cair disimpan dan tidak dibenarkan
dipakai untuk kegiatan lain
c. Penanganan limbah padat dan limbah cair sesuai dengan
Peraturan Perundangan yang berlaku (Peraturan Lingkungan
Hidup).
d. Melaksanakan sosialisasi penanganan, penyimpanan dan
penggunaan bahan berbahaya dan beracun (B3) kepada seluruh
karyawan dalam bentuk pelatihan, penyuluhan dan lain–lain;
e. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi
ketentuan dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja),
termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD), serta selalu
mengacu pada pencegahan dan pengendalian infeksi;
f. Seluruh staf Puskesmas harus bekerja sesuai dengan standar
profesi, pedoman/panduan dan standar prosedur opersional
yang berlaku, serta sesuai dengan etika profesi, visi misi,
komitmen dan tata nilai Puskesmas Kampus.
D. KESIAPAN MENGHADAPI BENCANA
1. Puskesmas membuat rencana dan program penanganan kedaruratan
dan program menanggapi bila terjadi kedaruratan komunitas, wabah
dan bencana alam atau bencana lainnya. Rencana tersebut berisikan
proses untuk :
a. Menetapkan jenis, kemungkinan dan konsekuensi dari bahaya,
ancaman dan kejadian
b. Menetapkan peran Puskesmas dalam kejadian tersebut
c. Strategi komunikasi pada kejadian
d. Pengelolaan sumber daya pada waktu kejadian, termasuk alternatif
tempat pelayanan
e. Pengelolaan kejadian klinis pada waktu kejadian, termasuk
alternatif tempat pelayanan
f. Identifikasi dan penugasan peran dan tanggungjawab staf pada
waktu kejadian
g. Proses untuk mengelola keadaan darurat/kedaruratan bila terjadi
pertentangan antara tanggungjawab staf secara pribadi dengan
tanggungjawab puskesmas dalam hal penugasan staf untuk
pelayanan pasien.
2. Puskesmas melakukan uji coba/simulasi penanganan/menanggapi
kedaruratan, wabah dan bencana.
Rencana kesiapan menghadapi bencana diujicoba melalui :

a. Uji coba tahunan seluruh rencana penanggulangan bencana baik


secara internal maupun sebagai bagian dan dilakukan bersama
dengan masyarakat atau
b. Uji coba sepanjang tahun terhadap elemen kritis dari c) sampai
dengan g) dari rencana tersebut
3. Bila Puskesmas mengalami bencana secara nyata, mengaktifasi
rencana yang ada, dan setelah itu diberi pengarahan yang tepat, dan
situasi ini digambarkan setara dengan uji coba tahunan.

E. PENGAMANAN KEBAKARAN
1. Puskesmas melaksanakan program untuk memastikan bahwa seluruh
penghuni di puskesmas aman dari kebakaran, asap dan kedaruratan
lainnya ;
2. Puskesmas menjamin penghuni Puskesmas tetap aman sekalipun
terjadi kebakaran atau asap dengan melaksanakan program antara lain:
a. Pencegahan kebakaran melalui pengurangan risiko kebakaran,
seperti penyimpanan dan penanganan secara aman bahan mudah
terbakar, termasuk gas medik, seperti oksigen - Bahaya yang terkait
dengan setiap pembangunan didalam atau berdekatan dengan
bangunan yang dihuni pasien
b. Jalan keluar yang aman dan tidak terhalang bila terjadi kebakaran
c. Sistem peringatan dini, sistem deteksi dini, seperti, deteksi asap
(smoke detector), alarm kebakaran, dan patroli kebakaran,
d. Mekanisme penghentian/supresi (suppression) seperti selang air,
supresan kimia (chemical suppressants) atau sistem penyeburan
(spinkler).
3. Puskesmas secara teratur melakukan uji coba pengamanan kebakaran
dan asap, meliputi setiap peralatan yang terkait untuk deteksi dini dan
penghentian (suppression) dan mendokumentasikan hasilnya ;
4. Rencana pengamanan kebakaran Puskesmas mengidentifikasi :
a. Frekuensi pemeriksaan, uji coba dan pemeliharaan sistem
perlindungan dan pengamanan kebakaran, sesuai ketentuan
b. Rencana evakuasi yang aman dari fasilitas bila terjadi kebakaran atau
ada asap.
c. Proses untuk melakukan uji coba semua bagian dari rencana, dalam
jangka waktu 12 bulan
d. Pendidikan yang perlu bagi staf untuk dapat melindungi secara efektif
dan mengevakuasi pasien bila terjadi kedaruratan dan
e. Partisipasi semua staf dalam uji coba pengamanan kebakaran
sekurang-kurangnya setahun sekali.
5. Seluruh pemeriksaan, uji coba dan pemeriksaan didokumentasikan
6. LARANGAN MEROKOK
a. Puskesmas membuat larangan merokok dengan menggunakan
stiker – stiker disetiap ruangan dan membuat larangan merokok
diperaturan Puskesmas;
b. Puskesmas menyusun dan mengimplenmentasikan kebijakan
larangan merokok terhadap pasien, keluarga, staf dan pengunjung
tanpa terkecuali;
c. Puskesmas secara teratur melakukan monitoring larangan
merokok kepada setiap pasien, keluarga, staf dan pengunjung yang
kedapatan merokok disekitar lingkungan Puskesmas. Lingkungan
Puskesmas adalah semua Ruang Unit Kerja yang ada didalam
batas Pagar Puskesmas;
d. Bagi pasien, keluarga, staf dan pengunjung yang kedapatan
merokok akan diberikan pengarahan dan masukan oleh tim MFK
serta membayar denda Rp. 50.000 ;
e. Puskesmas melindungi kesehatan masyarakat, sudah seharusnya
bebas dari asap rokok karena asap rokok dapat menimbulkan
penyakit yang fatal dan penyakit yang dapat menurunkan kualitas
hidup akibat penggunaan rokok;
f. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau
terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau
yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha
dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.
F. PERALATAN MEDIS
1. Pengadaan Alat Medis

a. Puskesmas merencanakan dan mengimplementasikan program untuk


pengadaan alat medis untuk menjamin ketersediaan dan
berfungsi/layak pakainya peralatan medis tersebut;
b. Fasilitas yang rusak atau sudah tidak dapat diperbaiki kembali segera
dimutasi kebagian logistik dan dibuat berita acara pergantian barang
oleh bagian teknisi medis;
c. Untuk penambahan (pengadaan) alat medis baru disebabkan oleh :
- Adanya alat baru yang diperlukan pada pelayanan medis
- Kurangnya fasilitas alat medis yang diperlukan, sehingga mengajukan
penambahan alat medis yang baru kepada Ka TU. Ka TU melakukan
koordinasi dengan unit kerja untuk menentukan spesifikasi alat yang
ingin diadakan.
- Ka TU mengajukan permohonan Puskesmas melalui Adm & Keuangan
untuk pengadaan alat medis yang baru.
d. Untuk penggantian alat yang lama :

- Pergantian alat medis harus diajukan oleh pengguna kepada Ka TU


yang menyatakan bahwa alat tersebut sudah tidak layak pakai tidak
dapat dipergunakan lagi.
- Mengajukan permohonan pergantian alat yang lama oleh pengguna
kepada Kepala Puskesmas melalui adm & keuangan.
- Setiap pergantian dan pengadaan barang yang dilakukan pencatatan
ke inventaris alat masing – masing bagian.

2. Pemeliharaan Alat Medis

a. Puskesmas merencanakan dan mengimplementasikan program untuk


pemeriksaan, uji coba dan pemeliharaan peralatan medis dan
mendokumentasikan hasilnya. Untuk menjamin ketersediaan dan
berfungsi / layak pakainya peralatan medis,

- Melakukan inventarisasi peralatan medis


- Melakukan pemeriksaan peralatan medis secara teratur
- Melakukan uji coba peralatan medis sesuai dengan penggunaan dan
ketentuaannya
- Melaksanakan pemeliharaan preventif.
b. Puskesmas mengumpulkan data hasil monitoring terhadap program
manajemen peralatan medis. Data tersebut digunakan dalam menyusun
rencana kebutuhan jangka panjang Puskesmas untuk peningkatan dan
penggantian peralatan;
c. Setiap kerusakan pada fasilitas Puskesmas segera dibuat memo
permintaan perbaikan barang atau memo permintaan pergantian barang;
d. Fasilitas yang sudah tidak dapat diperbaiki kembali segera dimutasi
kebagian logistik dan dibuat berita acara pergantian barang;
e. Pemeriksaan hasil uji coba dan setiap kali pemeliharaan
didokumentasikan.
f. Pengadaan dan pergantian alat medis dilaksanakan oleh bagian logistik,
bekerja sama dengan bagian teknisi medis;
g. Setiap pergantian dan pengadaan barang yang dilakukan pencatatan ke
inventaris alat masing – masing bagian;
h. Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat
rutin bulanan minimal satu bulan sekali;
i. Laporan intern dan ekstern dilakukan setiap bulan

3. Penggunaan Produk dan Peralatan yang dalam proses penarikan

a. Puskesmas mempunyai sistem penarikan kembali produk/peralatan;


b. Puskesmas mempunyai proses identifikasi, penarikan dan
pengembalikan atau pemusnahan produk dan peralatan medis yang
ditarik oleh pihak pabrik atau supplair;
c. Puskesmas membuat prosedur yang mengatur penggunaan setiap
produk atau peralatan yang ditarik kembali; 4. Pengendalian dalam
penggunaan barang -barang rusak dan kadaluarsa harus diidentifikasi
secara benar, barang yang sudah rusak atau kadaluarsa disimpan
ditempat yang aman secara khusus, tidak dipergunakan, tercatat dan
penanganannya harus sesuai dengan instruksi kerja;
d. Pemeliharaan alat medis merupakan suatu upaya yang dilakukan agar
peralatan kesehatan tersebut dapat bertahan lebih lama;
e. Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat
rutin bulanan minimal satu bulan sekali;
f. Laporan intern dan ekstern dilakukan setiap bulan.

G. SISTEM UTILITI (SISTEM PENDUKUNG)


a. Air minum dan listrik yang tersedia 24 jam sehari, tujuh hari seminggu,
melalui sumber reguler atau alternatif, untuk memenuhi kebutuhan;
b. Puskesmas memiliki proses emergensi untuk melindungi penghuni
Puskesmas dari kejadian terganggunya, terkontaminasi atau kegagalan
sistem pengadaan air minum dan listrik
c. Puskesmas melakukan uji coba sistem emergensi dari air minum dan
listrik secara teratur sesuai dengan sistem dan hasilnya
didokumentasikan untuk menghadapi keadaan emergensi tersebut,
puskesmas :

- Mengidentifikasi peralatan, sistem dan tempat yang potensial


menimbulkan risiko tertinggi terhadap pasien dan staf (sebagai contoh,
mengidentifikasi area yang memerlukan pencahayaan, pendinginan,
dan air bersih untuk membersihkan dan mensterilkan perbekalan)
- Melakukan asesmen dan meminimalisasi risiko dari kegagalan sistem
pendukung di tempat-tempat tersebut
- Merencanakan sumber darurat listrik dan air bersih untuk tempat
tersebut dan kebutuhannya
- Melakukan uji coba ketersediaan dan keandalan sumber darurat
listrik dan air
- Mendokumentasikan hasil uji coba
- Memastikan bahwa pengujian alternatif sumber air dan listrik
dilakukan minimal/sekurang-kurangnya setiap tahun atau lebih
sering jika diharuskan oleh peraturan perundangan atau kondisi
sumber listrik dan air. Kondisi sumber listrik dan air yang
mengharuskan peningkatan frekuensi pengujian meliputi :
1. Perbaikan berulang dari sistem air
2. Seringnnya kontaminasi terhadap sumber air
3. Jaringan listrik yang tidak bisa diandalkan dan
4. Padamnya listrik yang tak terduga dan berulang
d. Puskesmas melakukan identifikais sistem listrik, limbah, ventilasi, gas
medis dan sistem kunci lainnya secara teratur diperiksa, dipelihara, dan
bila perlu ditingkatkan untuk menghindari bahaya.
e. Puskesmas mempunyai proses sistem pemeriksaan yang teratur dan
melakukan pencegahan dan pemeliharaan lainnya. Selama uji coba,
perhatian ditujukan pada komponen kritis (sebagai contoh, swiches dan
relays) dari sistem tersebut.
f. Sumber listrik emergensi dan cadangan diuji coba dalam lingkungan yang
direncanakan dan mensimulasikan beban aktual yang dibutuhkan.
Peningkatan dilakukan sesuai kebutuhan, misalnya penambahan
pelayanan listrik diarea yang punya peralatan baru.
g. Petugas atau otoritas yang ditetapkan memonitor mutu air secara teratur
h. Puskesmas menyusun proses pemantauan kualitas air secara teratur,
meliputi pemeriksaan biologis/biological air yang digunakan untuk
hemodialis.
i. Pemantauan dapat dilakukan oleh staf yang ditunjuk oleh Kepala
Puskesmas, seperti staf dari Kesling.
j. Puskesmas mengumpulkan data hasil monitoring program manajemen
sistem utiliti/pendukung.

- Data tersebut digunakan untuk merencanakan kebutuhan jangka


panjang puskesmas untuk peningkatan atau penggantian sistem
utiliti/pendukung.

- Pemantauan sistem yang esensial/penting membantu Puskesmas


mencegah terjadinya masalah dan menyediakan informasi yang
diperlukan untuk membuat keputusan dalam perbaikan sistem dan
dalam merencanakan peningkatan atau penggantian sistem
utiliti/pendukung. Data hasil monitoring didokumentasikan.

H. PENDIDIKAN STAF
1. PERENCANAAN

a. Puskesmas Kampus menetapkan Sumber Daya Manusia dengan


berbagai kompetensi.
b. Puskesmas menetapkan pendidikan, keterampilan, pengetahuan dan
persyaratan lain bagi seluruh staf atau dalam menetapkan jumlah staf
atau perpaduan staf yang mendukung Visi, Misi, Tujuan, Nilai – Nilai
serta Komitmen Puskesmas Kampus.
2. ORIENTASI DAN PENDIDIKAN
Seluruh staf, baik klinis maupun non klinis diberikan orientasi tentang
Puskesmas. Adapun orientasi staf tersebut meliputi:

- Visi, Misi, Komitmen, dan Tata nilai Puskesmas


- Patien Safety
- Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
- Keselamatan Kerja
- Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana dan lain–lain.

Ditetapkan di Labuapi
Pada tanggal 3 Januari 2023

KEPALA UNIT PELAKSANA TEKNIS


PUSKESMAS LABUAPI

ROHAYATI

Anda mungkin juga menyukai