0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan1 halaman

Puisi Kerinduan Iftahul Yusro

Puisi ini menceritakan tentang kerinduan akan masa lalu dan kenangan indah bersama orang terkasih. Puisi ini juga mengandung unsur nostalgia akan masa lalu indah yang telah berlalu.

Diunggah oleh

If
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan1 halaman

Puisi Kerinduan Iftahul Yusro

Puisi ini menceritakan tentang kerinduan akan masa lalu dan kenangan indah bersama orang terkasih. Puisi ini juga mengandung unsur nostalgia akan masa lalu indah yang telah berlalu.

Diunggah oleh

If
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SECANGKIR RINDU

Pada senja sore itu, angin meniup telingaku

Aroma kopi yang ku seduh seperti aroma rindu yang kurengkuh kembali

Yang pulang dari petualangan jauh dunia

Membawa rasa yang pernah singgah dan kini menjelma rupa dalam bingkai kelopak mata

Membawa ku lari dan terbang bersama

Menuju ruang waktu dahulu kala

Lembar demi lembar ku pandang wajah eloknya

Peti kayu tiba-tiba nampak di ujung kanan

Melipat bibirku dan kelopak mata bersamaan

Mengingatkan musim semi di negeri seberang

Bersama kenangan bunga tulip dan sampan

Pada ragamu ku berbisik, pun pada angin

Jangan begitu cepat kau dayung sampan Tuan!

Karena ku tak ingin terbangun dalam mimpi berupa ingatan kerinduan

Secangkir kerinduan begitu berharga dari lautan rasa yang kusimpan di ujung pusara

Pancaran senja yang menghiasi sungai impian

Kini mengalir pada hilir kenangan

Dan berakhir di telaga kautsar

Sampai jumpa di telaga penuh cinta Tuan.

Sukorejo, Pasuruan 5 Maret 2021

“Menulis sebuah puisi adalah hiburan ku dalam mengisi kepenatan kuliah, dsb. Aku
sempat berfikir menulis puisi ini sangat mudah tapi setelah aku piker-pikir lagi tidak cukup
mudah karena puisi menyatu dengan jiwa dan rasamu. Dia tidak akan hadir begitu saja, karena
puisi membutuhkan waktu yang tepat untuk lahir dan tertuang dalam bingkai aksara.”

Anda mungkin juga menyukai