0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan17 halaman

Laporan ECT: Definisi dan Prosedur

Diunggah oleh

Nanda Budiyansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan17 halaman

Laporan ECT: Definisi dan Prosedur

Diunggah oleh

Nanda Budiyansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

TERAPI ELECTROCONVULSIVE THERAPY (ECT)

Disusun Oleh:

NAMA : NANDA BUDIYANSYAH

NIM : S21082

KELAS : S21B

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA

TAHUN AKADEMIK 2024/2025


LAPORAN PENDAHULUAN

TERAPI ELECTROCONVULSIVE THERAPY (ECT)

1. Definisi
ECT (Electro Confulsive Terapy) adalah tindakan dengan
menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik
tonik maupun klonik Terapi elektrokonvulsif menginduksi kejang grand
mal secara buatan dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang
dipasang pada satu atau kedua pelipis (Stuart, 2019).
Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan suatu jenis pengobatan
somatik dimana arus listrik digunakan pada otak melalui elektroda yang
ditempatkan pada pelipis. Arus tersebut cukup untuk menimbulkan kejang
granmal, yang darinya diharapkan efek yang terapeutik tercapai. ECT
adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan
menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik yaitu
bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda
yang ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang
grandmall (Riyadi & Teguh, 2019).
Terapi Kejang Listrik adalah suatu terapi dalam ilmu psikiatri yang
dilakukan dengan cara mengalirkan listrik melalui suatu elekktroda yang
ditempelkan di kepala penerita sehingga menimbulkan serangan kejang
umum (Riyadi & Teguh, 2019). Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan
suatu jenis pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan pada otak
melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis. Arus tersebut cukup
menimbulkan kejang grand mal, yang darinya diharapkan efek yang
terapeutik tercapai (Riyadi & Teguh, 2019).
2. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja terapeutik ECT masih belum banyak diketahui.
Salah satu teori yang brkaitan dengan hal ini adalah teori neurofisiologi.
Teori ini mempelajari aliran darh serebral, suplai glukosa dan oksigen,
serta permea bilitas sawar otak akan meningkat. Setelah kejang, aliran
darah dan metabolisme glukosa menurun. Hal ini paling jelas dilihat pada
lobus frontalis. Beberapa penelitian mengatakan bahwa derajat penurunan
metabolisme serebral berhubungan dengan respon terapeutik. Teori lain
adalah teori neurokimiawi yang memusatkan perhatian pad perubahan
neurotrasmiter dan second messenger. Hampir semua pada sistem
neurotrasmiter dipengaruhi oleh ECT. Ahir ahir ini mulai berkembang
neuroplastisitas yang berhubungan dengan stimulasi kejang [Link]
percobaan hewan,di jumpai plastisitas sinaps, dihipotalamus,yakni
pertumbuhan serabut saraf, peningkatan konektifitas jaras saraf, dan
terjadinya neurogenesis.
3. Jenis
Terdapat 2 jenis ECT antara lain:
a. ECT konvensional
ECT konvensional ini menyebabkan timbulnya kejang pada
pasien sehingga tampak tidak manusiawi. Terapi konvensional
ini di lakukan tanpa menggunakan obat-obatan anastesi seperti
pada ECT premedikasi.
b. ECT pre-medikasi
Terapi ini lebih manusiawi dari pada ECT
konvensional,karena pada terapi ini di berikan obat-obatan
anastesi yang bisa menekan timbulnya kejang yang terjadi pada
pasien.
4. Frekuensi
Frekuensi pemberian ECT tergantung pada keadaan pemberita yang
dapat di perlakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Pemberian ECT secara blok 2-4 hari berturut-turut 1-2 kali sehari.
b. Dua sampai tiga kali seminggu.
c. ECT “maintanance’ sekali tiap 2-4 minggu.
d. Pasien dengan gangguan depresi berat di berikan antara 5-10 kali.
e. Untuk pasien yang mengalami gangguan di polar,mania,dengan
Gangguan skizofrenia,pasien baru mendapat respon yang maksimum
setelah 20-25 kali tindakan ECT.
5. Indikasi
a. Pasien dengan penyakit depresif mayor yang tidak berespon terhadap
antidepresan atau yang tidak dapat meminum obat.
b. Pasien dengan bunuh diri akut yang cukup lama tidak menerima
pengobatan untuk mencapai efek terapeutik.
c. Gangguan skizofrenia: skizofrenia katatonik tipe stupor atau tipe
excited memberikan respons yang baik dengan ECT.
6. Kontraindikasi
Tidak ada kontraindikasi yang mutlak. Pertimbangkan resiko
prosedur dengan bahaya yang akan terjadi jika pasien tidak diterapi.
Penyakit neurologik bukan suatu kontraindikasi.
a. Resiko sangat tinggi:
1. Peningkatan tekanan intrakranial (karena tumor otak, infeksi
sistem saraf pusat), ECT dengan singkat meningkatkan tekanan
SSP dan resiko herniasi tentorium.
2. Infark miokard: ECT sering menyebabkan aritmia berakibat fatal
jika terdapat kerusakan otot jantung, tunggu hingga enzim dan
EKG stabil.
b. Resiko sedang:
1. Osteoatritis berat, osteoporosis, atau fraktur yang baru, siapkan
selama terapi (pelemas otot) dan ablasio retina.
2. Penyakit kardiovaskuler (misalnya hipertensi, angina, aneurisma,
aritmia), berikan premedikasi dengan hati-hati, dokter spesialis
jantung hendaknya ada disana.
3. Infeksi berat, cedera serebrovaskular, kesulitan bernafas yang
kronis, ulkus peptik akut, feokromasitoma.
7. Efek Samping
a. Kematian, angka kematian yang disebabkan ECT adalah bervariasi
antara 1-1.000 dan 1-10.000 pasien. Resiko ini sama dengan resiko
karena pemberian anastesi umum. Kematian biasanya karena
komplikasi kardiovaskuler.
b. Efek sistemik, pada pasien dengan gangguan jantung, dapat terjadi
arritmia jantung sementara. Arritmia ini terjadi karena bradikardia
post ictal yang sementara dan dapat dicegah dengan peningkatan
dosis premedikasi anti kolinerjik. Arritmia dapat juga terjadi karena
hiperaktifitas simpathetiksewaktu kejang atau saat pasien sadar
kembali. Dilaporkan pula adanya reaksi toksis dan allergi terhadap
obat yang digunakan untuk prosedur ECT premedikasi, tetapi
frekwensinya sangat jarang.
c. Efek cerebral, pada pemberian ECT bilateral dapat terjadi amnesia
dan acute confusion. Fungsi memori akan membaik kembali 1-6
bulan setelah ECT, tetapi ada pasien yang melaporkan tetap
mengalami gangguan memori (Tomb, 2019).
8. Peran Perawat Dalam Pelaksanaan ECT
a. Peran perawat dalam persiapan klien sebelum tindakan ECT
b. Persiapan alat
1. Konvulsator
2. Mesin Anestesi
3. Bed Side Monitor
4. Suction
5. Infus Set
6. Airway Equipment
7. Bite Block
8. Atracurium, Propovol, Sevoflurane
9. Bantal/Ganjal Bahu
10. Stetoskop
c. Prosedur pelaksanaan
Menurut pendapat Stuart (2019) berikut prosedur pelaksanaan
terapi kejang listrik:
1. Berikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang prosedur.
2. Dapatkan persetujan tindakan.
3. Pastikan status puasa pasien, untuk makanan padat 6 jam sebelum
tindakan, untuk makanan cair /minum 4 jam sebelum tindakan.
4. Minta pasien melepaskan perhiasan, jepit rambut, kaca mata, dan
alat bantu pendengaran. Semua gigi palsu dilepaskan, tambahan gigi
parsial dipertahankan.
5. Pakaikan baju yang longgar dan nyaman.
6. Kosongkan kandung kemih pasien.
7. Berikan obat praterapi.
8. Pastikan obat dan peralatan yang diperlakukan tersedia dan siap
pakai. 9. Bantu pelaksanaan ECT
 Tenangkan pasien.
 Dokter atau ahli anastesi memberikan oksigen untuk
menyiapkan pasien bila terjadi apnea karena relaksan otot.
 Berikan obat.
 Pasang spatel lidah yang diberi bantalan untuk melindungi gigi
pasien.
 Pasang elektroda.
Kemudian berikan stimulus sesuai dosis.
 Pantau pasien selama masa pemulihan.
9. Edukasi Nyeri
a. Peran perawat setelah ECT
Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan perawat untuk
membantu klien dalam masa pemulihan setelah tindakan ECT
dilakukan yang telah dimodifikasi dari pendapat Stuart (2019).
 Bantu pemberian oksigen dan pengisapan lendir sesuai
kebutuhan.
 Pantau tanda-tanda vital.
 Setelah pernapasan pulih kembali, atur posisi miring pada
pasien sampai sadar. Pertahankan jalan napas paten.
 Jika pasien berespon, orientasikan pasien.
 Ambulasikan pasien dengan bantuan, setelah memeriksa
adanya hipotensi postural.
 Izinkan pasien tidur sebentar jika diinginkannya.
 Berikan makanan ringan.
 Libatkan dalam aktivitas sehari-hari seperti biasa, orientasikan
pasien sesuai kebutuhan.
 Tawarkan analgesik untuk sakit kepala jika diperlukan.
Jika terjadi kehilangan memori dan kekacauan mental
sementara yang merupakan efek samping ECT yang paling
umum hal ini penting untuk perawat hadir saat pasien sadar
supaya dapat mengurangi ketakutanketakutan yang disertai
dengan kehilangan memori. Implementasi keperawatan yang
harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Berikan ketenangan dengan mengatakan bahwa kehilangan
memori tersebut hanya sementara.
2. Jelaskan kepada pasien apa yang telah terjadi.
3. Reorientasikan pasien terhadap waktu dan tempat.
4. Biarkan pasien mengatakan ketakutan dan kecemasannya
yang berhubungan dengan pelaksanaan ECT terhadap dirinya.
5. Berikan sesuatu struktur perjanjian yang lebih baik pada
aktivitas-aktivitas rutin pasien untuk meminimalkan
kebingungan.
10. Neurotranmiter
Neurotranmiter adalah alah satu dari kelas zat kimia yang
membawa pesan antar neuron. Biasanya neuron pengirim melepaskan
sejumlah kecil neurotransmitter, yang mengaktifkan reseptor pada neuron
penerima. Aktivasi reseptor kemudian memulai serangkaian perubahan
kimia di neuron penerima, dan jika cukup reseptor yang diaktifkan, neuron
penerima mungkin menjadi aktif dan mengirim pesan bersama.
Berbagai jenis neurotransmitter telah diidentifikasi, termasuk
asetikolin, dopamine, erotin dan norepinefrin. Bisanya, reseptor saraf
khusus hanya menanggapi satu jenis neurotransmiter. Hal ini
memungkinkan untuk spesialisasi tingkat tinggi dalam pengiriman pesan
antara neuron: satu neuron dapat merespon kuat terhadap neurotransmiter
tertentu sementara mungkin relative tidak sensitive.
Ketidakseimbangan neurotransmiter terlibat dalam beberapa
penyakit seperti penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinon, dan berbagai
penyakit kejiwaan seperti kizofrenia dan depresi. Banyak obat bekerja
dengan mengubah tingkat neurotransmiter tertentu dalam otak.
Faktor-faktor seperti gangguan dalam neurotransmiter dan
abnormalitas atau kerusakan-kerusakan otak yang mendasar dikaitkan
dengan berbagai gangguan psikologi. Untuk beberapa gangguan, seperti
Alzheimer, proses-proses biologis berperan secara langsung. Namun
demikian untuk berbagai gangguan lain penyebab yang tepat tidak
diketahui. Pada kasus-kasus lain seperti skizofrenia, faktor-faktor biologis
terutama genetis, tampaknya berinteraki dengan faktor-faktor lingkungan
pembuat strees dalam perkembangan gangguan (Nevid, 2019).
11. Tahapan Fase ECT
a. Fase Laten: 2” – 5”, Tremor yang kuat.
b. Fase Tonik: 10”, Kejang Tonik Seluruh Otot.
c. Fase Klonik: 30”, Kejang Klonik Menyeluruh.
d. Fase Diam, Belum bernafas dan belum sadar.
e. Fase Bernafas Spontan.
f. Fase Sadar, tapi masih disorientasi.
g. Fase Tidur ½ - 1 Jam h. Fase Sadar Penuh.
PRE ECT

TUJUAN DAN
DIAGNOSA INTERVENSI RASIONAL
KRITERIA HASIL
KEPERAWATAN
Ansietas b.d Krisis Setelah dilakukan 1. Gunakan 1. Dengan pendekatan
Situasional tindakan pendekatan yang yang tenang lebih
keperawatan menenangkan merasa nyaman
diharapkan klien 2. Jelaskan semua 2. Penjelasan yang
mampu mengontrol prosedur ECT dan diberikan sebelum
kecemasan sehingga apa yang akan ECT akan membuat
dapat dilakukan dirasakan selama klien tenang dan
tindakan ECT, prosedur siap untuk
dengan kriteria hasil: 3. Temani klien saat melakukan tindakan
1. Klien mampu tindakan untuk ECT
mengungkapkan mengurangi 3. Dengan menemani
kecemasannya kecemasan memberi Klien maka dapat
2. Klien mampu keamanan membuat
melakukan teknik 4. Instruksikan klien ketenangan dan
napas untuk dapat
dalam untuk menggunakan mengeksplorasikan
mengurangi teknik relaksasi isi perasaan klien
napas dalam 4. Teknik relaksasi
5. Bantu klienuntuk akan membuat klien
mengenal situasi
yang menimbulkan
kecemasan

kecemasan 6. Dengan ungkapan lebih rileks dalam


3. Ekspresi wajah perasaan klien dengan keadaan yang
menunjukkan penuh perhatian nyaman dan aman
berkurangnya 7. Identifikasi tingkat 5. Agar klien dapat
kecemasan kecemasan mengetahui dan
dapat mengontrol
masalah dari
kecemasan
6. Untuk memberikan
kepercayaan diri dan
dapat mengevaluasi
masalah perasaan
klien
7. Identifikasi
kecemasan akan
mengetahui tingkat
kecemasan yang
dirasakan klien

INTRA ECT
TUJUAN DAN
DIAGNOSA INTERVENSI RASIONAL
KRITERIA
KEPERAWATAN
HASIL
Bersihan jalan napas Setelah dilakukan 1. Posisikan klien 1. Posisi semi
Tidak efektif b.d tindakan semi fowler fowler/kepala lebih
peningkatan sekret keperawatan 2. Keluarkan sekret tinggi akan
diharapkan jalan dengan alat bantu memaksimalkan
napas terhindar dari suction ventilasi dan untuk
sekret, dengan 3. Auskultasi suara memudahkan
kriteria hasil : napas pengeluaran sekret
1. Jalan napas dan catat adanya 2. Suction merupakan
pasien dan tidak suara napas Tindakan untuk
ditemukan sekret, tambahan mengeluarkan
irama normal, 4. Berikan O2 bila sekret pada pasien
frekuensi napas yang mengalami
diperlukan
normal penurunan
5. Monitor respirasi
kesadaran
3. Monitor respirasi
bertujuan untuk
mengetahui
respirasi klien
4. Mempermudah
jalan napas dan
pengeluaran sekret
5. Untuk mengetahui
pola respirasi klien

Pola napas tidak Setelah dilakukan 1. Posisikan 1. Proses ventilasi


efektif b.d Efek agen tindakan klien untuk akan
farmakologis,obat keperawatan memaksimalkan memaksimalkan
anestesi diharapkan ventilasi dengan posisi
ketidakefektifan 2. Pasang mayo kepala lebih tinggi
pola napasdapat bila perlu 2. Untuk
teratasi dengan 3. Lakukan pengeluaran
kriteria hasil : fisioterapi dada sekret
1. Klien mampu bila perlu 3. Agar sekret
mengeluarkan 4. Keluarkan dapat keluar dan
sputum sekret dengan memberikan
2. Manunjukkan jalan suction kelegaan
napas yang paten 5. Auskultasi 4. Dengan
3. TTV dalam adanya suara dikeluarkan
batas normal napas tambahan sekret
6. Berikan mempermudah
bronkodilator jalan napas
bila diperlukan 5. Mengetahui
7. Pertahankan suara napas
kepatenan tambahan
jalan napas 6. Melegakan dan
8. Monitor TTV mempertahankan
(TD, nadi, RR jalan napas
dan suhu) 7. Ekspirasi dan
inspirasi klien
membaik
8. Mengetahui
tekanan darah,
nadi, respirasi
dan suhu
Resiko aspirasi b.d Setelah dilakukan 1. Monitor tingkat 1. Mempermudah
peningkatan sekret tindakan kesadaran monitoring kondisi klien
keperawatan 2. Lakukan suction 2. Sekret dapat
diharapkan jika diperlukan membersihkan jalan
ketidakefektifan 3. Hindari makan jika napas dari sekret
pola napas dapat residu indikasi masih sehingga dapat mencegah
teratasi dengan banyak resiko aspirasi
kriteria hasil : 4. Posisikan kepala 3. Makan saat residu
1. Klien dapat 30-40º (semi fowler) banyak menyebabkan
bernapas dengan jalan napas terhambat
mudah 4. Mencegah aspirasi
2. Jalan napas paten
dan tidak ada suara
napas tambahan
Resiko cidera Setelah dilakukan 1. Jaga keamanan 1. Untuk
b.d perubahan tindakan saat klien diruang ECT memberikan
fungsi keperawatan 2. Sediakan keselamatan
psikomotor diharapkan lingkungan yang aman 2. Dengan
ketidakefektifan dan nyaman lingkungan yang
pola napas dapat 3. Temani klien nyaman dan aman,
teratasi dengan setelah ECT mencegah cidera
kriteria hasil : 4. Anjurkan klien 3. Melindungi
1. Klien untuk istirahat terlebih klien dari resiko
terbebas dari dahulu untuk cidera dan
risiko jatuh mengurangi pusing memberikan
2. Perawat kenyamann
mampu 4. Istirahat yang
mencegah cukup setelah post
cidera ECT akan
memaksimalkan
tenaga setelah efek
samping ECT
POST ECT

DIAGNOSA TUJUAN DAN


INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN KRITERIA
HASIL
Risiko Jatuh b.d Setelah dilakukan 1. Jaga keamanan saat 1. Untuk memberikan
kondisi pasca tindakan klien di ruang ECT keselamatan
tindakan ECT keperawatan 2. Sediakan 2. Dengan lingkungan
diharapkan klien yang nyaman dan
lingkungan
tidak mengamani aman serta
yang aman dan
Risiko jatuh, yaman mencegah cidera
3. Temani klien
setelah ECT

dengan kriteria 4. Anjurkan klien untuk 3. Melindungi klien


hasil : istirahat terlebih dahulu dari resiko cidera
1. Klien terbebas untuk mengurangi dan memberikan
dari risiko jatuh pusing kenyamanan
2. Perawat 4. Istirahat yang cukup
mampu setelah post ECT
mencegah jatuh akan
mamaksimalkan
tenaga setelah efek
samping ECT
Nyeri Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat nyeri 1. Tingkat nyeri
akut b.d agen tindakan secara komprehensif dirasakan oleh klien
injuri fisik keperawatan 2. Ajarkan mengontrol agar mempermudah
pasca diharapkan klien nyeri dengan cara tarik dalam pemberian
tindakan ECT mampu napas dalam intervensi sesuai
3. Berikan analgetik program
mengontrol nyeri
bila perlu
dan mampu untuk
2. Tarik napas
tarik napas dalam
dalam dapat
mengontrol nyeri
dan membuat klien
rileks
3. Pemberian
analgetik dapat
mengurangi nyeri
DAFTAR PUSTAKA

Nevid, Jeffrey S. [Link]. (2019). Psikologi abnormal jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Steiger H, Bruce KR, Groleau P. (2019). Neural circuits, neurotransmitters, and


behavior: serotonin and temperament in bulimic syndromes. Curr Top
Behav Neurosci.

Maramis. W.F. (2019). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta: EGC.

Tomb, David. (2019). Buku Saku Psikiatri, edisi 6. Jakarta:


EGC.

Gloria M. Bulecheck. 2019. Nursing Interventions


Classification. Edisi 6. Alih Bahasa, Intansari,
Roxsana Devi. Yogjakarta: Mocomedia.

Anda mungkin juga menyukai