0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan10 halaman

Dampak Pertumbuhan Penduduk pada Lingkungan

Dokumen ini membahas tentang hubungan antara jumlah penduduk dan kualitas lingkungan serta pentingnya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan untuk generasi masa depan. Dokumen ini juga membahas tentang latar belakang dan kegunaan dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) bagi proyek-proyek yang berpotensi memberikan dampak lingkungan.

Diunggah oleh

Nadiatun Nisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan10 halaman

Dampak Pertumbuhan Penduduk pada Lingkungan

Dokumen ini membahas tentang hubungan antara jumlah penduduk dan kualitas lingkungan serta pentingnya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan untuk generasi masa depan. Dokumen ini juga membahas tentang latar belakang dan kegunaan dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) bagi proyek-proyek yang berpotensi memberikan dampak lingkungan.

Diunggah oleh

Nadiatun Nisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

PENDUDUK DAN KUALITAS LINGKUNGAN

Pada umumnya kita sudah memahami kaitan antara kepadatan serta jumlah penduduk
dan kondisi lingkungan, di mana kota yang sangat padat penduduknya selalu memiliki
kualitas udara yang jelek, kotor dan berbau tidak sedap, serta kualitas air yang buruk pula.
Keadaan ini dapat kita saksikan di kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta, di mana
keadaan lingkungan menjadi sangat buruk bukan hanya karena jumlah penduduk yang sangat
padat tetapi juga karena perkembangan industri pengolahan yang sangat pesat.
Keadaan di atas tampaknya menyarankan untuk adanya penekanan laju pertumbuhan
jumlah penduduk agar kondisi lingkungan tidak menjadi terlalu buruk. Dengan kata lain
program keluarga berencana tampaknya dapat dipakai untuk menanggulangi masalah
pencemaran, di samping pungutan-pungutan atau pajak-pajak terhadap limbah perusahaan
yang dibuang, peraturan-peraturan serta kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya yang
dimaksudkan untuk mencegah pencemaran lingkungan.
Bertambahnya jumlah penduduk akan berarti bertambahnya tenaga kerja yang
bersama-sama dengan faktor produksi lain dan perbaikan teknologi mampu menghasilkan
luaran (output). Namun kita sudah memahami bahwa derajat pencemaran merupakan fungsi
dari tingkat luaran. Jadi pertumbuhan jumlah penduduk berakibat pada memburuknya
kualitas lingkungan lewat hubungan antara pertumbuhan jumlah penduduk dan tersedianya
tenaga kerja serta hubungan antara tersedianya tenaga kerja dan tingkat produksi (luaran) dan
pencemaran dalam perekonomian. Apakah bahasan di atas dapat kita terima seluruhnya? 1.
Suatu studi tentang faktor-faktor pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa ternyata
sumbangan pertumbuhan tenaga kerja terhadap peningkatan produksi barang dan jasa hanya
sekitar ¼ sampai 1/3 dari pertumbuhan produksi setinggi 3% sampai 4% per tahun. Dengan
demikian dapat diartikan pula bahwa pertumbuhan jumlah penduduk juga hanya
menyumbang sedikit saja terhadap pertambahan pencemaran lingkungan.”
Dengan adanya pewarisan sumber daya alam secara luas kepada generasi mendatang
oleh generasi yang sekarang, maka perhatian terhadap masa mendatang telah menjadi pokok
pembicaraan yang penting dalam ekonomi sumber daya alam dan lingkungan. Pewarisan
sumber daya alam terhadap generasi mendatang sangat bermacam- macam bentuk dan
jenisnya. Pewarisan itu bukan saja mengenal besarnya persediaan SDA yang disisakan, tetapi
juga mengenai bagaimana kita benar-benar dapat memberi manfaat baik bagi masyarakat saat
ini maupun masyarakat di masa yang akan datang. Dengan kata lain kita menghadapi masalah
intergenerasi (intergeneration problem) dalam menggunakan sumber daya alam. Namun bila
sumber daya alam dinyatakan sebagai warisan generasi yang terdahulu, biasanya akan ada
kecenderungan bagi generasi yang diwarisi untuk menguras sumber daya alam. Oleh karena
itu hendaknya dinyatakan bahwa sumber daya alam ini merupakan titipan dari generasi yang
akan datang, sehingga generasi yang dititipi akan lebih berhati-hati dalam memanfaatkan
titipan tersebut.

1
Suparmoko, Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, (Yogyakarta: BPEF, 2010), Hal. 249
Jadi lebih tepat bila dikatakan bahwa alam kita ini bukan meru- pakan warisan dari
para pendahulu kita tetapi lebih merupakan titipan dari generasi mendatang, sehingga kita
harus memeliharanya baik-baik. Oleh karenanya ada “Option demand” yang merupakan
kesediaan seseorang orang untuk membayar kelestarian sumber daya alam dan lingkungan
dengan harapan dia akan dapat melihatnya atau menggunakannya seandainya daerah tertentu
telah dirombak walaupun demi pembangunan.
Siapakah yang seyogyanya harus mengelola sumber daya alam? Kalau suatu daerah
pengelolaannya diserahkan kepada swasta, maka daerah itu akan dikelola dengan tujuan
untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin, sehingga lebih cenderung daerah
tersebut diambil sumber daya alamnya bila daerah itu mengandung sumber daya alam seperti
batu bara, ataupun batu kerikil. Lain halnya dengan daerah alami yang mempunyai keindahan
alam. Hal ini sangat mudah dimengerti karena daerah yang alami itu lebih banyak
mengandung sifat barang publik, sebaiknya dikelola oleh pemerintah sedangkan pengambilan
sumber daya alam dari dalam bumi di suatu lokasi tersebut lebih bersifat barang privat
sehingga tampak baik dikelola oleh swasta. Untuk barang publik lebih sulit bagi pengelola
untuk mendapatkan keuntungan karena biasanya sulit sekali untuk memaksakan orang yang
menikmati keindahan atau keaslian pemandangan di daerah itu untuk melakukan pembayaran
(exclusion principles tidak berlaku)”, namun tidak demikian untuk barang privat seperti batu
kerikil atau kayu hutan yang ada di suatu daerah, karena kalau ada seseorang yang
mengambilnya dapat dipaksakan untuk melakukan pembayaran. Jadi pengelolaan daerah
yang masih asli alami seyogyanya diserahkan kepada sektor pemerintah, karena memang
tujuan pemerintah bukanlah mencari keuntungan tetapi lebih bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan setiap anggota masyarakatnya2.
B. Latar Belakang Perlunya AMDAL
Permasalahan lingkungan hidup dari tahun ke tahun masih memunculkan pekerjaan rumah
bagi pemerintah sebagai pemangku kebijakan dan masyarakat sebagai pihak yang diatur
melalui peraturan-perundangan. Menurut Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) yang dimaksud
dengan “Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri,
kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.”
Sedangkan menurut Pasal 1 angka (2) UUPPLH bahwa “perlindungan dan pengelolaan
lingkungan adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan
penegakan hukum.” Amanat pasal itu memiliki makna bahwa terdapat korelasi antara negara,
wujud perbuatan hukumnya berupa kebijakan (policy making), serta sistem tata kelola
lingkungan yang bertanggungjawab.
Sebagai upaya pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup adalah
melalui mekanisme perizinan lingkungan. Hal tersebut sebagai bentuk pengaturan
pengelolaan lingkungan hidup antara manusia dan lingkungan hidup. Semua aktivitas yang
2
Ibid., Hal. 250
berkaitan dengan kepemilikan potensi alam dan dikuasai negara harus dengan izin. Perizinan
bertujuan untuk mengarahkan agar aktivitas yang berpengaruh kepada lingkungan hidup itu
terselenggara secara baik. Dalam arti tidak menimbulkan kerugian, baik terhadap manusia
maupun lingkungan. Perizinan lingkungan digunakan oleh pemerintah sebagai suatu
instrumen untuk mempengaruhi dalam hubungan antara warga negara dan penguasa, dengan
harapan warga negara mau dan mampu mengikuti cara yang dianjurkan guna mencapai
tujuan konkret yang telah ditetapkan.
Pengertian Izin Lingkungan menurut Pasal 1 angka (35) UUPPLH yaitu “Izin yang diberikan
kepada setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang wajib Amdal dan UKL-
UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup-Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup) dalam
rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh
izin usaha dan/atau kegiatan”. Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal
atau UKL-UPL wajib memiliki Izin Lingkungan. Perizinan Lingkungan lebih khususnya Izin
Lingkungan diterbitkan oleh Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan
kewenangannya. Dalam ketentuan Pasal 36 UUPPLH disebutkan bahwa setiap usaha
dan/atau kegiatan yang wajib memiliki Amdal atau UKL-UPL wajib memiliki Izin
Lingkungan.
Permasalahan muncul ketika terdapat usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha
dan/atau kegiatan dengan kata lain telah melakukan operasional kegiatan, tetapi belum
memiliki dokumen lingkungan hidup dan Izin Lingkungan, sementara dokumen lingkungan
hidup Amdal dan UKL-UPL disusun oleh penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan pada
tahap perencanaan atau belum terdapat aktivitas konstruksi dan belum dimulai operasional
kegiatan. Kebijakan pemerintah terhadap usaha dan/atau kegiatan yang sudah mempunyai
izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki dokumen lingkungan hidup dan Izin
Lingkungan melalui upaya pemutihan dan penegakan hukum berupa penerbitan Peraturan
Menteri dan Surat Edaran Menteri.
Selanjutnya sebagai upaya penegakan hukum, pemerintah menerbitkan Surat Edaran Menteri
Lingkungan Hidup No. B-14134/MENLH/KP/12/2013 tanggal 27 Desember 2013 tentang
arahan pelaksanaan Pasal 121 UUPPLH yang menyebutkan bahwa bagi usaha dan/atau
kegiatan yang sudah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki dokumen
lingkungan hidup dan ketentuan penyusunan dokumen lingkungan hidup tidak dilaksanakan
akan dikenakan sanksi administratif berupa Teguran Tertulis yang isinya memerintahkan
kepada penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan untuk membuat dokumen lingkungan
hidup. Selanjutnya apabila penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan tidak menyelesaikan
kewajiban menyusun dokumen lingkungan hidup, sampai batas waktu yang ditentukan pada
tanggal 27 Desember 2015, maka akan dikenakan sanksi pidana sesuai dengan Pasal 109
UUPPLH. Adapun isi dari Pasal 109 UUPPLH menyebutkan bahwa “setiap orang yang
melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa memiliki Izin Lingkungan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 36 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan
paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp. [Link],00 (satu miliar rupiah)
dan paling banyak Rp. [Link],00 (tiga miliar rupiah).”
C. MAKSUD DAN KEGUNAAN AMDAL

Dari uraian di atas sudah jelas kiranya bahwa tujuan atau maksud dibuatnya AMDAL adalah
agar dapat diperkirakan apa yang akan terjadi dengan dilakukannya suatu kegiatan atau suatu
proyek, sehingga nantinya dapat dilakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk
menanggulangi atau mencegah kemungkinan timbulnya hal-hal atau dampak yang negatif
terhadap lingkungan. Dengan kata lain akan dapat dilakukan tindakan-tindakan pengelolaan
lingkungan yang baik.

Kegiatan pengelolaan lingkungan akan dapat dilakukan setelah disusun rencana pengelolaan
lingkungan sebagai hasil dari analisis dampak lingkungan. Analisis dampak lingkungan
seyogyanya jangan dijadikan sebagai satu-satunya pedoman dalam pengelolaan lingkungan,
sebab nantinya setelah proyek pembangunan itu dilaksanakan banyak faktor yang semula
dianggap tidak berubah akan mengalami perubahan; atau perkiraan akan terjadinya dampak
tidak seperti yang digambarkan sebelumnya.

Jadi mungkin sekali dampak yang diduga dalam analisis dampak lingkungan akan berbeda
dengan dampak yang benar-benar terjadi. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang tepatnya
perkiraan dampak dalam AMDAL, atau karena pelaksana proyek tidak melakukan rencana
pembangunan dengan semestinya. Untuk mengatasi penyimpangan-penyimpangan yang
mungkin terjadi, seyogyanya dilakukan pemantauan pelaksanaan pembangunan dan juga
dampak pembangunan yang timbul sedini mungkin sejak awal pembangunan, secara terus-
menerus dan teratur. Oleh karena itu AMDAL tidak boleh berdiri sendiri tetapi harus selalu
diikuti dengan pemantauan dampak lingkungan dan rencana pengelolaan lingkungan serta
aktivitas pengelolaan lingkungan. Sekali lagi apabila semua kegiatan ini dilaksanakan, berarti
kita membuat AMDAL.

Sudah dikatakan sebelumnya bahwa untuk dilaksanakannya suatu proyek, diperlukan adanya
studi kelayakan lingkungan di samping studi kelayakan ekonomi, finansial, sosial dan teknis.
Apabila suatu proyek dinyatakan layak tidak merusak lingkungan atau hanya sedikit merusak
lingkungan, maka pemerintah dapat memberikan izin untuk dilaksanakannya proyek tersebut.
Proyek ini dapat merupakan proyek swasta maupun proyek pemerintah sendiri. Hal yang
diharapkan dalam AMDAL ini sebagai studi kelayakan lingkungan adalah mengenai
tersedianya sumber daya alam dan kemungkinan pengendalian menyusutnya sumber daya
alam itu karena proyek, serta bagaimana kondisi biologis serta geologi yang mungkin
berubah setelah adanya proyek itu dapat dikelola dengan baik.

Jadi dengan dasar berbagai studi kelayakan itu, pemerintah dapat mengambil keputusan untuk
proyek-proyek swasta terutama atas dasar dampaknya terhadap lingkungan hidup; sedangkan
untuk proyek pemerintah semua aspek kelayakan harus menjadi perhatiannya. Hal ini
memang karena untuk proyek swasta, semua risiko kecuali kondisi lingkungan ada di pundak
swasta sendiri; sedangkan untuk proyek pemerintah risiko baik finansial maupun lingkungan
sepenuhnya ada di pundak pemerintah.

Keputusan yang diambil oleh pemerintah dapat mencakup larangan pembangunan proyek,
persetujuan pembangunan proyek sesuai usulan, atau izin pembangunan proyek dengan
penyesuaian tertentu, semuanya berdasarkan hasil Evaluasi Dampak Lingkungan (AMDAL).

Pemerintah dapat menilai apakah proyek tersebut berpotensi melebihi batas standar yang
ditoleransi dalam dampaknya terhadap lingkungan, apakah terdapat risiko eksternalitas
negatif yang signifikan yang dapat menyebabkan konflik antara individu atau kelompok, dan
apakah proyek tersebut berpotensi memberikan dampak yang merugikan bagi masyarakat.
Dengan menggunakan AMDAL, pemerintah dapat berperan dalam mencegah kerusakan
terhadap sumber daya alam dan lingkungan, baik yang secara langsung maupun tidak
langsung terkait dengan proyek tersebut.

D. PENYUSUNAN AMDAL

Menyusun AMDAL sama artinya dengan membuat dugaan mengenai apa yang akan terjadi
terhadap lingkungan hidup bila suatu proyek dibangun. Karena kemampuan seseorang dan
banyak aspek yang harus diperhatikan dalam menganalisis dampak lingkungan suatu proyek,
maka harus dilibatkan banyak ahli yang multidisiplin, misalnya harus ada ahli biologi, ahli
hukum, ahli sosiologi, ahli teknik lingkungan, dokter kesehatan masyarakat, ahli ekonomi
lingkungan dan sebagainya.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menyusun AMDAL adalah: Membuat langkah
pendahuluan yaitu menyusun rona awal lingkungan, membuat dugaan dampak, baru
membuat laporan AMDAL. Dalam langkah pendahuluan ini sebuah tim peneliti harus
disusun terlebih dahulu, kemudian mempelajari peraturan dan perundang-undangan
pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, macam proyek dan lokasi proyek, serta
mempelajari dokumen ataupun literatur yang bersangkutan dengan proyek yang akan
dikembangkan.
Mengenai rona lingkungan awal yang dimaksud ialah memulai studi lapangan diikuti dengan
analisis laboratorium. Dalam tahap ini secara rinci akan dibuat metodologi AMDAL yang
akan digunakan sesuai dengan proyeknya, menetapkan lingkungan yang akan diteliti beserta
ukuran-ukuran yang akan dipakai. Di samping itu akan ditetapkan pula metode analisisnya;
setelah itu pelaksanaan tugas lapangan dan analisis laboratorium dilaksanakan.
Langkah yang sangat penting adalah pembuatan dugaan terhadap dampak lingkungan yang
mungkin timbul dari adanya proyek tersebut. Namun demikian langkah ini cukup sulit,
karena tergantung pada keahlian dan pengalaman si peneliti. Dalam tahap ini peneliti harus
mencoba membandingkan keadaan sebelum dan sesudah proyek atau keadaan tanpa dan
dengan proyek. Di samping itu perlu diketahui bagaimana rencana pemerintah pusat dan
rencana pemerintah daerah di lokasi proyek tersebut. Dalam tahap ini harus sudah disusun
cara-cara menanggulangi dampak negatif yang mungkin timbul.
Sebagai langkah berikutnya ialah menyusun laporan AMDAL yang merupakan titik
kulminasi dari kegiatan pendugaan, yaitu suatu pendapat tim peneliti secara keseluruhan
mengenai dampak lingkungan yang akan ditimbulkan oleh adanya suatu proyek. Pendapat ini
sudah didukung dengan data dan informasi yang lengkap atas dasar penelitian dan
pengamatan yang sudah dilaksanakan.
E. Pendugaan Dampak Lingkungan

Dalam upaya untuk mengevaluasi dampak suatu proyek berfokus ada aspek-aspek yang dapat
diklasifikasikan sebagai dampak sosial ekonomi, yang kemudian akan dinilai dalam bentuk
nilai uang. Evaluasi dampak proyek sangat bergantung pada kemampuan peneliti untuk
memperhatikan dengan cermat berbagai dampak yang terjadi. Secara umum, perlu dibedakan
antara dampak yang langsung terlihat (direct impacts) dan dampak yang tidak langsung
(indirect impacts), atau antara dampak utama (primary impacts) dan dampak sekunder
(secondary impacts). Dalam berbagai dampak tersebut, ada yang dapat dengan mudah diukur
secara finansial (tangible impacts) dan ada juga yang sulit untuk diukur dalam bentuk nilai
uang (intangible impacts). Dari sudut pandang ekonomi, adanya suatu proyek akan dapat
menimbulkan biaya (korban) maupun manfaat. Korban dari adanya suatu proyek seringkali
berupa pengeluaran yang langsung dilaksanakan oleh proyek sebagai biaya, dan korban yang
berupa kehilangan sesuatu yang ada sebelurnnya (foregone earnings) karena digantikan
dengan jenis barang baru . Manfaat dari pelaksanaan proyek dapat berupa penghasilan produk
atau barang baru, seperti peningkatan produksi padi, pembangunan pembangkit listrik tenaga
air, pembuatan tempat rekreasi baru seperti danau atau tempat pemancingan, serta penciptaan
lapangan kerja baru.
Untuk menilai kelayakan suatu proyek dari perspektif ekonomi, penting untuk menilai dan
membandingkan nilai semua konsekuensi negatif dan positif yang timbul. Hal ini berlaku
baik untuk proyek yang bersifat publik maupun individual. Namun, dalam proyek individual
atau swasta, ada kecenderungan untuk hanya memperhitungkan biaya yang secara langsung
dikeluarkan oleh pihak terkait sebagai biaya pribadi. Biaya atau dampak yang mungkin
ditanggung oleh pihak lain di luar perusahaan dianggap sebagai biaya eksternal dan sering
tidak dimasukkan dalam perhitungan biaya mereka. Oleh karena itu, sering kali harga jual
produk yang dihasilkan oleh perusahaan cenderung lebih rendah, dan proyek tersebut
tampaknya layak untuk dilanjutkan. Namun, agar keputusan mengenai kelayakan suatu
proyek benar-benar mencerminkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, semua jenis
biaya dan manfaat harus diperhitungkan. Biaya eksternal harus diinternalisasi agar
mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Ini berarti bahwa biaya eksternal harus dimasukkan
ke dalam perhitungan, sehingga keputusan mengenai proyek tersebut lebih akurat.
F. Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) merupakan sebuah konsep yang muncul pada
tahun 1990-an. Kajian Lingkungan Hidup Strategis merupakan suatu pendekatan dalam
mengkaji dampak lingkungan bukan hanya pada tahapan proyek, melainkan juga pada
tahapan penyusunan kebijakan, rencana, dan program. Meskipun kajian lingkungan pada
tahap proyek telah lama dilakukan melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal)
dan memiliki peraturan perundang-undangannya di Indonesia, namun kajian untuk tahap
kebijakan, rencana, dan program baru mulai berkembang.

Negara-negara di Eropa telah mengadopsi pendekatan KLHS dan menerapkannya dalam


banyak kebijakan dan rencana pembangunan. Di Indonesia, KLHS juga mulai
dipertimbangkan sejak 1999 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan BAPPENAS.
Beberapa contoh KLHS di Indonesia antara lain KLHS Malioboro di Provinsi DIY, serta
beberapa KLHS oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (BPLHD)
Jawa Barat, seperti KLHS untuk JADETABEK, Kawasan Cipamatuh, Ciayu Maja Kuning,
dan Kota Padang.

Menurut The International Association of Impact Assessment (IAIA, 2002), Kajian


Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) memiliki kualifikasi tinggi jika mampu memenuhi tiga
hal berikut:

1. Menginformasikan keputusan strategis yang tengah diformulasikan

KLHS harus mampu memberikan informasi yang relevan dan akurat kepada para pengambil
keputusan dalam proses formulasi kebijakan. Keputusan tersebut juga harus mengadopsi
prinsip keberlanjutan, yang berarti mempertimbangkan dampak lingkungan dalam jangka
panjang.

2. Mendorong munculnya alternatif penghidupan yang lebih baik

KLHS diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi dan solusi yang dapat mendorong
munculnya alternatif penghidupan yang lebih baik bagi masyarakat. Hal ini dapat berupa
perubahan kebijakan, program, atau proyek yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

3. Berlangsung secara demokratis

KLHS seharusnya melibatkan partisipasi masyarakat secara luas dan transparan. Prosesnya
harus demokratis, di mana pendapat dan masukan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat
lokal dan kelompok terdampak, menjadi bagian integral dari kajian tersebut.

Tujuan KLHS adalah untuk menghasilkan kebijakan, rencana, dan program yang melalui
proses partisipatif, transparan, dan akuntabel, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan
hidup dan keberlanjutan. Prinsip-prinsip KLHS, sebagaimana yang diletakkan oleh Sadler
dan Verheem (1996) serta Sadler dan Brook (1998), antara lain adalah:

1. Sesuai kebutuhan (fit-for the purpose)

2. Berorientasi pada tujuan (objectives led)

3. Bermotif keberlanjutan (sustainability driven)

4. Lingkupnya komprehensif (comprehensive scope)

5. Relevan dengan kebijakan (decision relevant)

6. Terpadu (integrated)

7. Transparan (transparent)

8. Partisipatif (participative)

9. Akuntabel (accountable)

10. Efektif biaya (cost effective)

Dalam konteks Indonesia, KLH (2007) menekankan tiga nilai penting yang harus dianut
dalam aplikasi KLHS:

1. Keterkaitan (interdependency): Penyelenggaraan KLHS harus mempertimbangkan


keterkaitan antar komponen, unsur, lokal dan global, sektor, daerah, dan lainnya. KLHS harus
diterapkan secara komprehensif dan holistik.
2. Keseimbangan (equilibrium): KLHS harus didasari oleh nilai-nilai keseimbangan,
seperti keseimbangan antara kepentingan sosial ekonomi dan lingkungan hidup,
keseimbangan antara kepentingan jangka panjang dan jangka pendek, serta keseimbangan
antara pusat dan daerah.
3. Keadilan (justice): Nilai keadilan harus membatasi akses dan kontrol terhadap sumber
daya alam, modal, atau pengetahuan. Hal ini bertujuan agar hasil KLHS dalam bentuk
kebijakan, rencana, dan program tidak menyebabkan marginalisasi kelompok masyarakat
tertentu.
UNEP (2002) dan Sadler (2005) mengidentifikasi empat model pendekatan atau kelembagaan
KLHS:
1. KLHS dengan kerangka dasar AMDAL (EIA Mainframe)
Dalam model ini, KLHS secara formal ditetapkan sebagai bagian dari peraturan perundang-
undangan AMDAL atau melalui peraturan lain namun memiliki prosedur yang terkait dengan
AMDAL.
2. KLHS sebagai kajian penilaian keberlanjutan lingkungan (Environmental Appraisal
Style).
Model ini menggunakan proses yang terpisah dengan sistem AMDAL. Prosedur dan
pendekatannya telah dimodifikasi sehingga memiliki karakteristik sebagai penilaian
lingkungan.
4. KLHS sebagai kajian terpadu atau penilaian keberlanjutan (Integrated
Assessment/Sustainability Appraisal)
KLHS ditempatkan sebagai bagian dari kajian yang lebih luas untuk menilai atau
menganalisis dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup secara terpadu. Beberapa pihak
mungkin menempatkan model ini bukan sebagai KLHS tetapi sebagai Kajian Terpadu untuk
Jaminan Keberlanjutan (ISA).
5. KLHS sebagai pendekatan untuk pengelolaan berkelanjutan sumberdaya alam
(Sustainable Resource Management)
KLHS diaplikasikan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan dan dilaksanakan sebagai
bagian tak terpisahkan dari hierarki sistem perencanaan penggunaan lahan dan sumber daya
alam serta sebagai bagian strategi spesifik pengelolaan sumber daya alam.
Berdasarkan perkembangan pendekatan di atas, KLH (2007) menilai bahwa untuk Indonesia,
pendekatan yang tepat haruslah kontekstual disesuaikan dengan:
1. Kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang menjadi fokus kajian.
2. Lingkup dan karakter Kebijakan Rencana Pembangunan (KRP) pemerintah pusat,
provinsi, Kabupaten/Kota yang akan ditelaah.
3. Kapasitas institusi dan sumber daya manusia aparatur pemerintah.
4. Kemauan politik (political will) yang kuat untuk menghasilkan KRP yang lebih
berkualitas.
Secara keseluruhan, KLHS merupakan pendekatan yang penting dalam mengintegrasikan
aspek lingkungan hidup dan keberlanjutan dalam proses pengambilan keputusan
pembangunan. Dengan berbagai model pendekatan yang telah dikemukakan, penting bagi
Indonesia untuk memilih pendekatan yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan lokal, serta
didukung oleh kapasitas institusi dan kemauan politik yang kuat. Dengan demikian,
diharapkan KLHS dapat menjadi alat yang efektif dalam mewujudkan pembangunan yang
berkelanjutan dan berdaya guna bagi lingkungan dan masyarakat.

Anda mungkin juga menyukai