IA
BUKU KERJA
SENSOR MODULE
TRAINING
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat pertolongan-Nya
penulis dapat menyelesaikan penyusunan buku panduan ini. Adapun tujuan disusunnya buku ini
adalah untuk membantu proses pembelajaran di sekolah, karena buku ini berisi materi yang praktis
agar guru maupun siswa mendapatkan gambaran secara jelas terkait trainer “Sensor Module
Training”.
Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan buku ini sehingga buku ini dapat diselesaikan. Buku ini masih jauh dari kata
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
penyempurnaan buku ini.
Semoga buku ini memberikan informasi yang bermanfaat dalam mengembangkan keterampilan
serta menambah wawasan bagi kita semua.
Tim Penyusun
PT Dwida Jaya Tama
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................................. ii
BAB I PHOTOELECTRIC SENSOR ............................................................................................... 1
A. Tujuan ........................................................................................................................ 1
B. Materi .......................................................................................................................... 1
C. Alat dan Bahan ........................................................................................................... 2
D. Langkah Kerja ............................................................................................................. 2
BAB II LIMIT SWITCH .................................................................................................................. 3
A. Tujuan ........................................................................................................................ 3
B. Materi .......................................................................................................................... 3
C. Alat dan Bahan ........................................................................................................... 4
D. Langkah Kerja ............................................................................................................. 4
BAB III PROXIMITY SENSOR ...................................................................................................... 5
A. Tujuan ........................................................................................................................ 5
B. Materi .......................................................................................................................... 5
C. Alat dan Bahan ........................................................................................................... 7
D. Langkah Kerja ............................................................................................................. 7
BAB IV ROTARY ENCODER ......................................................................................................... 9
A. Tujuan ........................................................................................................................ 9
B. Materi .......................................................................................................................... 9
C. Alat dan Bahan ........................................................................................................... 9
D. Langkah Kerja ............................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................... 13
ii
BAB I
PHOTOELECTRIC SENSOR
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan praktikum ini diharapkan siswa dapat:
1. Mengenal photoelectric sensor.
2. Mampu menggunakan photoelectric sensor.
3. Mampu membuat rangkaian dengan menggunakan photoelectric sensor.
B. Teori
Sensor photoelectric adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan suatu
objek yang biasanya berbentuk padat. Alat ini menggunakan energi cahaya yang berasal dari
energi listrik sebagai penginderanya. Terdapat 4 jenis sensor fotoelektrik yang tersedia:
a. Pemantulan Langsung (Direct Reflection)
Transmitter dan receiver ditempatkan bersama-sama dan menggunakan cahaya yang
dipantulkan langsung dari objek untuk melakukan deteksi. Pemilihan photosensor jenis
ini harus mempertimbangkan warna dan tipe permukaan objek (kasar, licin, buram,
terang). Dengan permukaan buram, jarak sensing akan dipengaruhi oleh warna objek.
Warna-warna terang berpengaruh terhadap jarak sensor maksimum dan warna gelap
berpengaruh terhadap jarak sensing minimum. Jika permukaan obyek mengkilap, efek
permukaan yang lebih penting daripada warna. Pada data teknik (katalog), jarak sensor
yang tertera merupakan uji dengan menggunakan kertas putih (matte).
b. Refleksi dengan reflektor (Reflection with Reflector)
Transmitter dan receiver ditempatkan bersama-sama dan membutuhkan reflektor.
Obyek terdeteksi karena memotong cahaya antara sensor dan reflektor, sehingga receiver
tidak menerima cahaya. Photocells ini memungkinkan jarak sensor lebih jauh. Dengan
adanya reflector sinar yang dipancarkan akan dipantulkan sepenuhnya ke receiver.
c. Pemantulan terpolarisasi dengan reflektor (Polarized Reflection with Reflector)
Mirip dengan pemantukan dengan reflektor, photocells ini menggunakan perangkat
anti-refleks. Jadi reflector tidak mengkilap. Sensor ini mendasarkan fungsi pada sebuah
pita cahaya terpolarisasi, memberikan keuntungan dan deteksi akurat bahkan ketika
permukaan obyek sangat mengkilap. Data teknik tidak ada karena sangat dipengaruhi
oleh pemantulan acak (benda apa saja).
d. Through Beam
Transmitter dan Receiver ditempatkan secara terpisah dan deteksi obyek terjadi
ketika memotong sinar antara transmitter dan receiver sehingga receiver kehilangan
cahaya sesaat. Photocells ini memiliki jarak sensor terpanjang.
Gambar 1. Ilustrasi Sensor Photoelectric.
1
Tipe Output:
a. Light ON: Receiver menerima sinar maka output/keluaran ON, ketika sinar terpotong oleh objek
maka output/keluaran OFF.
b. Dark ON: Receiver menerima sinar maka output/keluaran OFF, ketika sinar terpotong oleh
objek maka output/keluaran ON.
Pada tipe Direct Reflection, output NO untuk Light On dan output NC untuk Dark
On. Untuk tipe sensor yang lain, output NO Dark On dan output NC Light On.
Sensing Distance (Sn):
Ruang/jarak di mana keberadaan objek dapat dirasakan. Untuk tipe Direct Reflection yaitu
jarak maksimum antara fotosel dan objek. Kemudian untuk tipe reflection adalah jarak antara unit
dan reflektor.
Power On Delay:
Ini adalah selang waktu yanng dibutuhkan antara tersedianya daya dan operasi pada
output. Hal ini untuk menghindari switching (pensaklaran kejut) yang tidak diinginkan saat sensor
diberi supply.
C. Alat dan Bahan
No. Nama Jumlah
1. Kabel Penghubung Secukupnya
2. Sensor Module trainer 1 Buah
D. Langkah Kerja
Menyalakan sensor Photoelectric Direct Reflection.
1. Pastikan kondisi sekitar aman dan kering. Letakkan trainer pada permukaan yang datar.
2. Hubungkan kabel AC trainer pada stop kontak.
3. Nyalakan Power Switch.
4. Hubungkan Power Supply DC (+) ke Sensor Photoelectric (+) dengan menggunakan kabel
penghubung merah, dan Power Supply DC (-) ke Sensor Photoelectric (-) dengan
menggunakan kabel penghubung kuning.
5. Selanjutnya, hubungkan Output pada Sensor Photoelectric (OUT) ke Pilot Lamp (+) dengan
menggunakan kabel penghubung hijau, dan hubungkan kutub Pilot Lamp (-) ke pada power
Supply (-) menggunakan kabel penghubung kuning.
6. Cobalah sensor tersebut dengan beberapa benda seperti logam, kayu, plastik, dan bahan
lainnya melewati didepan sensor. Amati apa yang terjadi!
Gambar 2. Ilustrasi Pengkawatan Sensor Photoelectric.
2
BAB II
LIMIT SWITCH
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan praktikum ini diharapkan siswa dapat:
1. Mengenal limit switch.
2. Mampu menggunakan limit switch.
3. Mampu membuat rangkaian dengan menggunakan limit switch.
B. Teori
Limit switch (saklar pembatas) adalah saklar atau perangkat elektromekanis yang
mempunyai tuas aktuator sebagai pengubah posisi kontak terminal (dari Normally Open/ NO ke
Close, atau sebaliknya dari Normally Close/NC ke Open).
Gambar 3. Ilustrasi Pengkawatan Sensor Photoelectric.
Posisi kontak akan berubah ketika tuas aktuator tersebut terdorong atau tertekan oleh suatu
objek. Sama dengan saklar pada umumnya, limit switch juga hanya mempunyai 2 kondisi, yaitu
menghubungkan atau memutuskan aliran arus listrik. Dengan kata lain hanya mempunyai
kondisi ON atau Off. Namun sistem kerja limit switch berbeda dengan saklar pada umumnya, jika
pada saklar umumnya sistem kerjanya akan diatur/dikontrol secara manual oleh manusia (baik
diputar atau ditekan). Sedangkan limit switch dibuat dengan sistem kerja yang berbeda, limit
switch dibuat dengan sistem kerja yang dikontrol oleh dorongan atau tekanan (kontak fisik) dari
gerakan suatu objek pada aktuator, sistem kerja ini bertujuan untuk membatasi gerakan ataupun
mengendalikan suatu objek/mesin tersebut, dengan cara memutuskan atau menghubungkan
aliran listrik yang melalui terminal kontaknya. Limit switch mempunyai beberapa jenis atau tipe
aktuator yang disesuaikan dengan kebutuhan pengoperasiannya di lapangan, Limit switch biasa
digunakan pada aplikasi seperti:
1. Pintu gerbang otomatis, dimana limit switch berguna untuk mematikan motor listrik sebelum
pintu gerbang tersebut menabrak pagar pembatas saat membuka atau menutup.
2. Pintu panel listrik sebagai saklar otomatis, apabila pintu panel dibuka maka lampu akan nyala
untuk penerangan (seperti pada kulkas).
3. Hoist sebagai pembatas pengangkatan barang.
4. Tutup/cover mesin sebagai safety, apabila cover dibuka maka mesin akan mati.
5. Sistem transfer seperti pada trolly dan conveyor sebagai pembatas maju dan mundurnya
(forward reverse).
6. Sistem kontrol mesin sebagai sensor untuk mengetahui posisi up/down.
3
C. Alat dan Bahan
No. Nama Jumlah
1. Kabel Penghubung Secukupnya
2. Sensor Module trainer 1 Buah
D. Langkah Kerja
Melakukan percobaan dengan Limit Switch.
1. Pastikan kondisi sekitar aman dan kering. Letakkan trainer pada permukaan yang datar.
2. Hubungkan kabel AC trainer pada stop kontak.
3. Nyalakan Power Switch.
4. Hubungkan Power Supply DC (+) ke Limit Switch Thermoplastic roller lever (NO-kiri) dengan
menggunakan kabel penghubung merah, dan Power Supply DC (-) ke Pilot Lamp (-) dengan
menggunakan kabel penghubung kuning.
5. Hubungkan Pilot Lamp (+) ke Limit Switch Thermoplastic roller lever (NO-kanan) dengan
menggunakan kabel penghubung merah.
6. Kemudian lakukan uji coba dengan menggerakkan roller ke kanan/ke kiri. Amati apa yang
terjadi.
Gambar 4. Ilustrasi Pengkawatan Limit Swith.
4
BAB III
PROXIMITY SENSOR
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan praktikum ini diharapkan siswa dapat:
1. Mengenal proximity sensor.
2. Mampu menggunakan proximity sensor.
3. Mampu membuat rangkaian dengan menggunakan proximity sensor.
B. Teori
Proximity adalah sensor yang mendeteksi keberadaan suatu obyek dalam jarak tertentu
tanpa adanya sentuhan fisik. Pada umumnya proximity untuk medeteksi benda-benda logam, tapi
ada pula yang bisa mendeteksi benda plastik. Oleh karena itu ada beberapa jenis proximity:
1. Proximity Induktif (deteksi metal)
Sensor proximity induktif adalah salah satu jenis sensor yang dapat digunakan untuk
mendeteksi ada atau tidaknya suatu objek tanpa adanya kontak fisik. Objek yang dapat
terdeteksi oleh sensor proximity induktif adalah jenis-jenis logam seperti tembaga, baja,
alumunium dan lain-lain. Simbol dan bentuk sensor proximity induktif dapat dilihat pada
gambar 5 dan kontruksi Sensor Proximity Induktif dapat dilihat pada gambar 6.
Gambar 5. Simbol dan Bentuk Fisik Sensor Proximity induktif.
Gambar 6. Kontruksi Sensor Proximity Induktif.
Sensor proximity induktif bekerja dengan menggunakan koil elektromagnetik yang
akan mendeteksi kehadiran suatu objek (logam) logam. Sensor proximity induktif bekerja
dengan menggunakan medan listrik yang akan mendeteksi kehadiran suatu objek (logam).
Gambar 7. Kontruksi Sensor Proximity Induktif.
Pada Gambar 7. sensor proximity induktif terdiri dari beberapa komponen dasar:
• Probe induktif atau piring berfungsi sebagai pemancar medan listrik.
• Osilator berfungsi untuk menghasilkan sinyal yang akan dipancarkan oleh probe melalui
permukaan sensor. Ketika sensor induktif tidak mendeteksi objek (logam) yang mendekat
pada permukaan sensor proximity induktif, kondisi frekuensi sinyal osilator akan lemah
atau normal, seiring mendekatnya objek (logam) pada permukaan sensor proximity
5
induktif, kondisi frekuensi sinyal osilator akan mulai semakin kuat sampai jarak
jangkauan sensor proximity induktif, serta frekuensi sinyal osilator akan semakin
melemah ketika objek (logam) menjauh dari jarak jangkauan pada permukaan sensor
proximity induktif.
• Detektor level sinyal berfungsi sebagai pendeteksi perubahan sinyal osilator ketika probe
induktif mendeteksi objek (logam) kemudian dikeluarkan pada output.
Gambar 8. Sensor Proximity Induktif Gambar 9. Sensor Proximity Induktif tidak
terkena objek. terkena objek.
Prinsip Kerja Sensor Proximity Induktif membutuhkan sumber tegangan V(+) dan V(-)
(10-30VDC) untuk bekerja. Sensor proximity induktif bekerja seperti saklar pada
umumnya. Pada gambar 8, jika permukaan pendeteksi sensor proximity induktif terkena
objek (logam) pada jarak 0mm – 4mm, maka LED indikator menyala dan Vout akan
mengeluarkan tegangan. Sedangkan pada gambar 9, jika permukaan pendeteksi sensor
proximity induktif tidak terkena objek (logam) pada jarak lebih dari 4mm, maka LED
indikator mati dan Vout tidak akan mengeluarkan tegangan.
2. Proximity Capasitif (deteksi non metal)
Sensor proximity kapasitif adalah salah satu jenis sensor yang dapat digunakan untuk
mendeteksi ada atau tidaknya suatu objek tanpa adanya kontak fisik. Objek yang dapat
terdeteksi oleh sensor proximity kapasitif yaitu metal maupun non-metal misal kayu, plastik,
kaca, dan lain-lain. Simbol dan bentuk fisik sensor proximity kapasitif dapat dilihat pada
gambar 10.
Gambar 10. Simbol dan bentuk fisik Sensor Kapasitif .
Sensor proximity kapasitif bekerja dengan menggunakan medan listrik yang akan
mendeteksi kehadiran suatu objek. Pada gambar 11, sensor proximity kapasitif terdiri dari
beberapa komponen dasar:
Gambar 11. Komponen Sensor Proximity Kapasitif.
6
• Probe kapasitif atau piring berfungsi sebagai pemancar medan listrik.
• Osilator berfungsi untuk menghasilkan sinyal yang akan dipancarkan oleh probe melalui
permukaan sensor. Ketika sensor kapasitif tidak mendeteksi objek yang mendekat pada
permukaan sensor proximity kapasitif, maka kondisi frekuensi sinyal osilator akan lemah
atau normal. Seiring mendekatnya objek pada permukaan sensor proximity kapasitif
kondisi frekuensi sinyal osilator akan mulai semakin kuat sampai jarak jangkauan sensor
proximity kapasitif, serta frekuensi sinyal osilator akan semakin melemah ketika objek
menjauh dari jarak jangkauan pada permukaan sensor proximity kapasitif.
• Detektor level sinyal berfungsi sebagai pendeteksi perubahan sinyal osilator ketika probe
kapasitif mendeteksi objek kemudian dikeluarkan pada output.
Prinsip Kerja Sensor Proximity Kapasitif membutuhkan sumber tegangan V(+) dan V(-)
(10-30VDC) untuk bekerja. Sensor proximity kapasitif bekerja seperti saklar pada umumnya.
Gambar 12. Sensor Proximity Kapasitif Gambar 13. Sensor Proximity Kapasitif
terkena objek . tidak terkena objek .
Pada gambar 12, jika permukaan pendeteksian sensor proximity kapasitif terkena objek
metal atau non-metal pada jarak 0mm – 8mm, maka LED indikator menyala dan Vout akan
mengeluarkan tegangan. Sedangkan pada gambar 13, jika permukaan pendeteksian sensor
proximity kapasitif tidak terkena objek metal atau non-metal pada luar jarak lebih dari 8mm
maka LED indikator mati dan Vout tidak akan mengeluarkan tegangan = 0 V.
C. Alat dan Bahan
No. Nama Jumlah
1. Kabel Penghubung Secukupnya
2. Sensor Module trainer 1 Buah
D. Langkah Kerja
Cara menyalakan sensor Proximity Inductive.
1. Pastikan kondisi sekitar aman dan kering. Letakkan trainer pada permukaan yang datar.
2. Hubungkan kabel AC trainer pada stop kontak.
3. Nyalakan Power Switch.
4. Hubungkan Power Supply DC (+) ke Sensor Proximity Inductive (+) dengan menggunakan kabel
penghubung merah, dan Power Supply DC (-) ke Sensor Proximity Inductive (-) dengan
menggunakan kabel penghubung kuning.
5. Selanjutnya hubungkan Output pada Sensor Proximity Inductive (OUT) ke Pilot Lamp (+) dengan
menggunakan kabel penghubung hijau, dan hubungkan kutub Pilot Lamp (-) pada power
Supply (-) menggunakan kabel penghubing kuning.
6. Cobalah sensor tersebut dengan beberapa benda seperti logam, kayu, plastik, dan bahan
lainnya melewati didepan sensor. Amati apa yang terjadi.
7
Gambar 14. Diagram percobaan sensor Proximity Inductive.
8
BAB IV
ROTARY ENCODER
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan praktikum ini diharapkan siswa dapat:
1. Mengenal rotary encoder.
2. Mampu menggunakan rotary encoder.
3. Mampu membuat rangkaian dengan menggunakan rotary encoder.
B. Teori
Rotary encoder adalah divais elektromekanik yang dapat memonitor gerakan dan posisi.
Rotary encoder umumnya menggunakan sensor optik untuk menghasilkan serial pulsa yang dapat
diartikan menjadi gerakan, posisi, dan arah. Sehingga posisi sudut suatu poros benda berputar
dapat diolah menjadi informasi berupa kode digital oleh rotary encoder untuk diteruskan oleh
rangkaian kendali. Rotary encoder umumnya digunakan pada pengendalian robot, motor drive,
dsb.
Rotary encoder tersusun dari suatu piringan tipis yang memiliki lubang-lubang pada bagian
lingkaran piringan. LED ditempatkan pada salah satu sisi piringan sehingga cahaya akan menuju
ke piringan. Di sisi yang lain suatu photo-transistor diletakkan sehingga photo-transistor ini dapat
mendeteksi cahaya dari LED yang berseberangan. Piringan tipis tadi dikopel dengan poros motor,
atau divais berputar lainnya yang ingin kita ketahui posisinya, sehingga ketika motor berputar
piringan juga akan ikut berputar. Apabila posisi piringan mengakibatkan cahaya dari LED dapat
mencapai photo-transistor melalui lubang-lubang yang ada, maka photo-transistor akan mengala-
mi saturasi dan akan menghasilkan suatu pulsa gelombang persegi. Gambar 15 menunjukkan
bagan skematik sederhana dari rotary encoder. Semakin banyak deretan pulsa yang dihasilkan
pada satu putaran menentukan akurasi rotary encoder tersebut, akibatnya semakin banyak
jumlah lubang yang dapat dibuat pada piringan menentukan akurasi rotary encoder tersebut.
Gambar 15. Blok penyusun rotary encoder .
C. Alat dan Bahan
No. Nama Jumlah
1. Kabel Penghubung Secukupnya
2. Sensor Module trainer 1 Buah
9
D. Langkah Kerja
Cara menyalakan sensor Proximity Inductive.
1. Pastikan kondisi sekitar aman dan kering. Letakkan trainer pada permukaan yang datar.
2. Hubungkan kabel AC trainer pada stop kontak.
3. Nyalakan Power Switch.
4. Hubungkan Power Supply DC (+) ke Rotary Encoder (+) dengan menggunakan kabel
penghubung merah, dan Power Supply DC (-) ke Rotary Encoder (-) dengan menggunakan
kabel penghubung kuning.
5. Pada output Rotary Encoder (A) hubungkan dengan Counter (IN-A) dengan kabel penghubung
hijau.
6. Pada output Rotary Encoder (B) hubungkan dengan Counter (IN-B) dengan kabel penghubung
hijau.
7. Pada output Rotary Encoder (0) hubungkan dengan Counter (0) dengan kabel penghubung
hijau.
8. Kemudian atur Counter dengan menekan tombol “MD” selama 3 detik untuk masuk ke menu
setelan.
9. Untuk memindah menu gunakan tombol “MD”.
10. Atur “In” (Counter Input Mode) to “Ud-C” (pengaturan awal).
Mode Description
Menghitung naik hingga nilai maksimum hingga “reset” hidup.
Menghitung naik sampai nilai yang ditentukan, dan perhitungan berhenti
sampai tombol “reset” di hidupkan.
Ketika perhitungan sampai nilai yang ditentukan, perhitungan akan me-reset
secara otomatis dan output akan aktif.
Ketika perhitungan sampai nilai yang ditentukan, Output otomatis aktif. Dan
ketika di non-aktifkan, perhitungan akan mereset ulang.
11. Atur CPS (Max counting speed) ke “SY”
atau “I0Y”. [default 30cps].
12. Atur dP (posisi titik desimal).
13. Atur rSt (reset) [default 20msec].
14. Pada menu SIG (input logic) ke nPn.
15. Pada menu Strt (Startup Value) [default
000000].
16. Pada menu dAta (memory protection)
[Default: CLr].
17. Pada menu LoCy (key lock level)
[default:[Link]].
18. Untuk kembali pada counter tekan
tombol “MD” selama 3 detik.
Gambar 16. Diagram percobaan Rotary Encoder.
10
DAFTAR PUSTAKA
Rasyid, Abdurrahman. 2020. Pengertian Sensor Proximity Kapasitif . https://
[Link]/2020/12/[Link], diakses 29 Oktober
2021 pukul 10.27
Rasyid, Abdurrahman. 2020. Pengertian Sensor Proximity Induktif . https://
[Link]/2020/12/[Link], diakses 29 Oktober
2021 pukul 14.31
Rizqiawan, Arwindra. 2009. Sekilas Rotary Encoder. [Link]
sekilas-rotary-encoder/, diakses 30 Oktober 2021 pukul 08.44
11