0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan14 halaman

Kebutuhan Air Bersih dan Standar Kualitas

Dokumen ini membahas tentang pengertian air bersih dan karakteristiknya serta sumber air baku dan kebutuhan air bersih. Dokumen ini juga menjelaskan parameter kualitas air bersih secara fisik, kimia, dan biologi.

Diunggah oleh

Marselinus Eda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan14 halaman

Kebutuhan Air Bersih dan Standar Kualitas

Dokumen ini membahas tentang pengertian air bersih dan karakteristiknya serta sumber air baku dan kebutuhan air bersih. Dokumen ini juga menjelaskan parameter kualitas air bersih secara fisik, kimia, dan biologi.

Diunggah oleh

Marselinus Eda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori


Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan
manusia. Pengelolaan sumber daya air yang baik akan membantu dalam pemenuhan
kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Perusahaan Air Minum Daerah adalah
instansi yang berfungsi sebagai pengelola sumber daya air yang ada di daerah.
PDAM berperan sangat penting untuk pendistribusian air bersih bagi masyarakat.

2.1.1. Pengertian Air Bersih


Air bersih merupakan sumber daya alam yang sangat dibutuhkan saat ini.
Dengan bertambahnya jumlah populasi penduduk dan semakin berkembangnya
suatu wilayah mengakibatkan kebutuhan akan air bersih semakin meningkat.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2019 tentang
Sumber Daya Air mendefinisikan air minum adalah air yang melalui pengolahan
atau tanpa pengolahan yang memenuhi syarat Kesehatan dan dapat langsung
diminum.

2.1.2. Karakteristik Air Bersih


Air bersih adalah air sehat yang dipergunakan untuk kegiatan manusia dan
harus bebas dari kuman-kuman penyebab penyakit, bebas dari bahan-bahan kimia
yang dapat mencemari air bersih. Air merupakan kebutuhan dasar hidup manusia
yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa bagi seluruh bangsa Indonesia
(Undang-undang RI No.17, 2019)
Karakteristik yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas air bersih
diantaranya: karakteristik fisik, karakteristik kimia, dan karakteristik
mikrobiologis. Parameter air bersih dapat dilihat pada beberapa tabel berikut:

Tabel 2.1 Parameter Fisik Dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Untuk Media Air Untuk Keperluan Higiene Sanitasi
No. Parameter Wajib Unit Standar Baku Mutu (kadar maksimum)
1 Kekeruhan NTU 25
2 Warna TCU 50
3 Zat padat terlarut (total dissolved solid) Mg/l 1000
oc
4 Suhu Suhu udara ±3
5 Rasa Tidak berasa
6 Bau Tidak berbau
Sumber: (Permenkes RI No.32 tahun 2017)

Tabel 2.2 Parameter Kimia Dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi

No. Parameter Unit Standar Baku Mutu (kadar


maksimum)
Wajib
1 Ph Mg/l 6,5 – 8,5
2 Besi Mg/l 1
3 Flourida Mg/l 1,5
4 Kesadahan (CaCO3) Mg/l 500
5 Mangan Mg/l 0,5
6 Nitrat, sebagai N Mg/l 10
7 Nitrit, sebagai N Mg/l 1
8 Sianida Mg/l 0,1
9 Deterjen Mg/l 0,05
10 Pestisida total Mg/l 0,1
Tambahan
1 Air raksa Mg/l 0,001
2 Arsen Mg/l 0,05
3 Kadmium Mg/l 0,005
4 Kromium (valensi 6) Mg/l 0,05
5 Selenium Mg/l 0,01
6 Seng Mg/l 15
7 Sulfat Mg/l 400
8 Timbal Mg/l 0,05
9 Benzene Mg/l 0,01
10 Zat organik (KMNO4) Mg/l 10
Sumber: (Permenkes RI No.32 tahun 2017)

Tabel 2.3 Parameter Biologi Dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi

[Link] Unit Standar Baku Mutu


Wajib (kadar maksimum)
1 Total coliform CFU / 100 ml 50
2 E. coli CFU / 100 ml 0
Sumber: (Permenkes RI No.32 tahun 2017)
2.1.3. Sumber Air Baku
Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku
adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan
air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum
(Peraturan Pemerintah No.16,2005).
Pemanfaatan sumber daya air yang dipergunakan oleh PDAM Tirta
Komodo berasal dari beberapa mata air yang ada di Kota Ruteng. Air baku yang
telah memenuhi kualitas air bersih sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan di
Indonesia, yakni Kemenkes-RI Nomor 907/ Menkes/ SK/ VII/ 2002 dan
Permenkes-RI Nomor 492/ Menkes/ Per/ IV/ 2010 tentang persyaratan kualitas air
minum dan pengawasan kualitas air minum, kemudian didistribusikan ke pelanggan
melalui reservoir, dan pipa distribusi.

2.1.4. Kebutuhan Air Bersih


PDAM sebagai pengelola air bersih telah memiliki debit pengaliran
tertentu yang telah dianalisis sehingga dapat memenuhi kebutuhan air di daerah
pelayanannya. Kebutuhan air PDAM dapat dihitung dan dianalisis dengan rumus
untuk mengetahuinya. Kebutuhan air dapat dihitung dengan rumus:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛𝑖 𝑋 𝑃𝑒𝑚𝑎𝑘𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑅𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑃𝑒𝑟ℎ𝑎𝑟𝑖


𝑄(𝑑𝑒𝑏𝑖𝑡) = …..…… (2.1.)
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢(𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘)

Keterangan:
Q = debit pengaliran (m3)

Noerbambang dan Morimura (2000;64) menerangkan bahwa perkiraan


debit atau laju aliran air bersih dalam sistem instalasi adalah berdasarkan pada
jumlah pemakai tidak terlalu sulit, karena hanya menjumlahkan berapa
penghuni/pemakai yang perlu dilayani oleh sistem instalasi distribusi. Metode ini
didasarkan pada jumlah pemakaian air sehari. Besarnya debit pada instalasi pipa
distribusi dapat dihitung dengan rumus:

𝑄𝑑
Qh = ………………………………………..……………...….. (2.2.)
𝑇

Keterangan:
Qh = Pemakaian air rata-rata (m3/jam)
Qd = Pemakaian rata-rata sehari (m3)
T = Jangka waktu pemakaian (jam)

[Link]. Kebutuhan Air Domestik


Kebutuhan air domestik merupakan kebutuhan air bersih untuk rumah
tangga dan hidran umum. Jumlah kebutuhan didasarkan pada banyaknya penduduk,
persentase yang diberi air dan cara pembagian air yaitu dengan sambungan rumah
atau melalui kran umum. Kebutuhan perorang perhari disesuaikan dengan standar
yang biasa digunakan serta kriteria pemakaian berdasarkan pada kategori kotanya
(Salilama, dkk, 2019).
Kebutuhan air domestik untuk kota dibagi dalam beberapa kategori, yaitu:
• Kota kategori I (Kota Metropolitan)
• Kota kategori II (Kota Besar)
• Kota kategori III (Kota Sedang)
• Kota kategori IV (Kota Kecil)
Standar kebutuhan untuk tiap kategori dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Perencanaan Air Bersih untuk Tiap Kategori Kota

KATEGORI KOTA BERDASARKAN JUMLAH PENDUDUK


(JIWA)
100.000
500.000 s/d 20.000 s/d
URAIAN >1.000.000 s/d <20.000
1.000.000 100.000
500.000
Kota Kota Kota
Kota Besar Desa
Metropolitan Sedang Kecil
1 2 3 4 5 6
1. Konsumsi Unit Sambungan
> 150 150 – 120 90 - 120 80 – 120 60 – 80
Rumah (SR) (liter/org/hari)
2. Konsumsi Unit Hidran (HU)
20 – 40 20 – 40 20 - 40 20 – 40 20 – 40
(liter/org/hari)
3. Konsumsi unit non domestik
a. Niaga Kecil 600 – 900 600 – 900 600
(liter/unit/hari)
b. Niaga Besar 1000 – 5000 1000 – 5000 1500
(liter/unit/hari)
c. Industri Besar 0,2 – 0,8 0,2 – 0,8 0,2 – 0,8
(liter/detik/ha)
d. Pariwisata 0,1 – 0,3 0,1 – 0,3 0,1 – 0,3
(liter/detik/ha)
Lanjutan Tabel 2.4 Perencanaan Air Bersih untuk Tiap Kategori Kota
4. Kehilangan Air (%) 20 – 30 20 – 30 20 - 30 20 – 30 20 – 30
1.15 - 1.15 - 1.15 -
1.15 - 1.25 1.15 - 1.25
5. Faktor Hari Maksimum 1.25 1.25 1.25
*harian *harian
*harian *harian *harian
1.75 - 2.0 1.75 - 2.0 1.75 - 2.0
1.75 - 2.0 1.75 - 2.0
6. Faktor Jam Puncak *hari *hari *hari
*hari maks *hari maks
maks maks maks
7. Jumlah Jiwa Per SR (Jiwa) 5 5 5 5 5
8. Jumlah Jiwa Per HU (Jiwa) 100 100 100 100 – 200 200
[Link] Tekan di Penyediaan
10 10 10 10 10
Distribusi (Meter)
10. Jam Operational (Jam) 24 24 24 24 24
11. Volume Reservoir (%Max
15 – 25 15 – 25 15 - 25 15 – 25 15 – 25
Day Demand)
50 : 50 50 : 50
12. SR : HU s/d s/d 80 : 20 70 : 30 70 : 30
80 : 20 80 : 20
13. Cakupan Pelayanan (%) 90 90 90 90 70
Sumber: (Kriteria Perencanaan Air Bersih Ditjen Cipta Karya Dinas PU, 1996)

[Link]. Kebutuhan Air Non Domestik


Kebutuhan air non domestik ditentukan oleh banyaknya konsumen non
domestik yang meliputi fasilitas seperti perkantoran, industri, sekolah, hotel, dan
lainnya. Kebutuhan air non domestik untuk setiap fasilitas dapat dilihat pada Tabel
2.5.
Tabel 2.5 Pemakaian Air Sesuai Penggunaan Gedung

No. Penggunaan Gedung Pemakaian Air Satuan


1 Rumah Sakit 500 liter/tempat tidur pasien/hari
2 Sekolah Dasar 40 liter/siswa/hari
3 SLTP 50 liter/siswa/hari
4 SMU/SMK dan lebih tinggi 80 liter/siswa/hari
5 Ruko/Rukan 100 liter/penghuni dan pegawai/hari
6 Kantor/Pabrik 50 liter/pegawai/hari
7 Toserba, toko pengecer 5 liter/m2
8 Restoran 15 liter/kursi
9 Hotel Bintang 250 liter/tempat tidur/hari
10 Hotel Melati/Penginapan 150 liter/tempat tidur/hari
11 Gd. pertunjukan, Bioskop 10 liter/kursi
12 Gd. Serba Guna 25 liter/kursi
Lanjutan Tabel 2.5 Pemakaian Air Sesuai Penggunaan Gedung
13 Stasiun, terminal 3 liter/penumpang tiba dan pergi/hari
liter/orang, (belum dengan air
14 Peribadatan 5
wudhu)/hari
Sumber:( 1)
Hasil pengkajian puslitbang permukiman [Link] tahun 2002
2)
Permen kesehatan RI NO: 986/Menkes/Per/IX/1992)

2.1.5. Fluktasi Kebutuhan Air


Kebutuhan air tidak selalu sama untuk setiap saat tetapi akan berfluktasi.
Fluktasi yang terjadi tergantung pada suatu aktivitas penggunaan air dalam
keseharian oleh masyarakat (Pratama.s, 2011;15).
Fluktasi kebutuhan air pada suatu tempat sangat dipengaruhi oleh kondisi
populasi, dan secara umum menunjukan bahwa semakin padat penduduk akan
menurunkan beban puncak. Pemukiman di daerah suburban akan memberikan
beban puncak jam-jam yang lebih besar dibandingkan di kota-kota besar. Selain itu
fluktasi kebutuhan air di suatu wilayah ditentukan oleh faktor setempat dan kondisi
dari penyediaan air itu sendiri. Sebagai bahan perbandingan diketahui pula fluktasi
kebutuhan air yang dikeluarkan oleh DPU Jenderal Cipta Karya Direktorat Air
Bersih tahun 1988, tiap jam dapat dilihat pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6 Fluktasi Kebutuhan Air Cipta Karya

Jam Koefisien Jam Koefisien


01 0.18 13 1.20
02 0.18 14 1.44
03 0.18 15 1.44
04 0.18 16 1.44
05 0.18 17 1.44
06 0.96 18 2.40
07 1.44 19 1.08
08 1.92 20 1.08
09 1.92 21 0.72
10 1.44 22 0.42
11 1.20 23 0.18
12 1.20 24 0.18
Pada umumnya kebutuhan air dibagi dengan tiga kelompok:
a. Kebutuhan Harian Rata-Rata
Kebutuhan harian rata-rata adalah kebutuhan air untuk keperluan domestik
dan nondomestik termasuk kehilangan air. Biasanya dihitung berdasarkan
kebutuhan air rata-rata per orang per hari dihitung dari pemakaian air setiap
jam selama sehari (24 jam)
b. Kebutuhan Jam Puncak Maksimum
Kebutuhan jam puncak maksimum adalah pemakaian air tertinggi dalam
satu hari. Kebutuhan air pada jam puncak berdasarkan air harian rata-rata
dengan menggunakan faktor pengali
c. Kebutuhan Puncak Harian Maksimum
Kebutuhan puncak harian maksimum adalah banyaknya air yang
dibutuhkan terbesar dalam satu tahun. Kebutuhan harian maksimum
dihitung berdasarkan kebutuhan air harian rata-rata dengan faktor pengali
1,15 x kebutuhan air rata-rata.

2.1.6. Proyeksi Jumlah Penduduk


Proyeksi jumlah penduduk dimasa yang akan datang dapat ditentukan
dengan menggunakan metode matematik dan metode komponen.

[Link]. Metode Matematik


Metode matematik sering disebut juga dengan metode tingkat
pertumbuhan penduduk (Growth Rates). Metode ini merupakan estimasi dari total
penduduk dengan menggunakan tingkat pertumbuhan penduduk secara matematik,
atau tingkat lanjutnya melalui fitting kurva yang menyajikan gambaran matematis
dari perubahan jumlah penduduk, seperti kurva logistik. Proyeksi berdasarkan
tingkat pertumbuhan penduduk mengasumsikan pertumbuhan yang konstan baik
untuk model aritmatik, geometrik, atau eksponensial untuk mengestimasi jumlah
penduduk (Badan Pusat Statistik, 2010).

a. Metode Aritmatik
Proyeksi penduduk dengan metode aritmatik mengasumsikan bahwa jumlah
penduduk pada masa depan akan bertambah dengan jumlah yang sama setiap
tahun (Badan Pusat Statistik, 2010).
Persamaan yang digunakan pada proyeksi aritmatik adalah:
𝑃𝑡 = 𝑃0 [1 + 𝑟𝑡] ……….………………………………..……. (2.3.)
1 𝑃
𝑟 = 𝑡 [𝑃𝑡 − 1]……………….……………………..……….... (2.4.)
0

Keterangan:
Pt = jumlah penduduk setelah tahun ke-t (jiwa)
Po = jumlah penduduk saat ini (jiwa)
r = laju pertumbuhan penduduk
t = periode waktu antara tahun saat ini dan tahun t (tahun)

b. Metode Geometrik
Proyeksi penduduk dengan metode geometrik menggunakan asumsi bahwa
jumlah penduduk akan bertambah secara geometrik menggunakan dasar
perhitungan bunga majemuk (Adioetomo dan Samosi, 2010). Laju
pertumbuhan penduduk (rate of growth) dianggap sama untuk setiap tahun
(Badan Pusat Statistik, 2010).
Berikut adalah persamaan yang digunakan pada metode geometrik:
𝑃𝑡 = 𝑃0 (1 + 𝑟)𝑡 ……………………………………………….... (2.5.)
1
𝑃 𝑡
𝑟= (𝑃𝑡 ) − 1 ……………………………………….….………. (2.6.)
0

Keterangan:
Pt = jumlah penduduk setelah tahun ke-t (jiwa)
Po = jumlah penduduk saat ini (jiwa)
r = laju pertumbuhan penduduk
t = periode waktu antara tahun saat ini dan tahun t (tahun)

c. Metode Eksponensial
Adioetomo dan Samosir (2010) menerangkan bahwa metode eksponensial
menggambarkan pertumbuhan penduduk yang terjadi secara sedikit-sedikit
sepanjang tahun, berbeda dengan metode geometrik yang mengasumsikan
bahwa pertambahan penduduk hanya terjadi pada satu saat selama kurun waktu
tertentu (Badan Pusat Statistik, 2010).
Untuk menghitung proyeksi jumlah penduduk dengan metode eksponensial
menggunakan persamaan:
𝑃𝑡 = 𝑃0 𝑒 𝑟𝑡 ………………………………...………..…………… (2.7.)
1 𝑃
𝑟 = 𝑡 𝑙𝑛 (𝑃𝑡 ) ………………………………..………....………… (2.8.)
0

Keterangan:
𝑃𝑡 = jumlah penduduk setelah tahun ke-t (jiwa)
𝑃0 = jumlah penduduk saat ini (jiwa)
r = laju pertumbuhan penduduk
r = periode waktu antara tahun saat ini dan tahun t (tahun)
e = bilangan pokok dari sistem logaritma natural (ln) yang
besarnya adalah 2,7182818

Dari ketiga metode penghitungan jumlah penduduk di atas juga dapat


dihitung perkiraan waktu ketika jumlah penduduk mencapai dua kali lipat (doubling
time) (Badan Pusat Statistik, 2010). Persamaan yang digunakan untuk menghitung
waktu penggandaan adalah:
1
Aritmatik: 𝑡 = 𝑟 ……………………………………………………….……. (2.9.)
𝑙𝑜𝑔 2
Geometrik: 𝑡 = 𝑙𝑜𝑔(1+𝑟) ………………………………………….……..…. (2.10.)
𝑙𝑛2
Eksponensial: 𝑡 = ………………………………….………….……...… (2.11)
𝑟

[Link]. Metode Komponen


Metode komponen berbasis pada pengertian bahwa perubahan penduduk
suatu wilayah pada periode tertentu merupakan akumulasi dari kejadian kelahiran
dan kematian (natural increase) serta net migrasi (Badan Pusat Statistik, 2010).
Persamaan yang digunakan pada metode komponen adalah:
𝑃𝑡 = 𝑃0 + (𝐿 − 𝑀) + (𝑀𝑖𝑔𝐼𝑛 − 𝑀𝑖𝑔𝑂𝑢𝑡) ……………………… (2.12.)

Keterangan:
Pt = jumlah penduduk pada tahun t
po = jumlah penduduk saat ini
L = jumlah kelahiran
M = jumlah kematian
MigIn = jumlah migrasi masuk
MigOut = jumlah migrasi keluar

Kriteria dalam pemilihan metode terbaik untuk menentukan proyeksi jumlah


penduduk yang ada dengan menggunakan rumus Standar Deviasi (SD). Standar
deviasi menginformasikan seberapa jauh variasi data terhadap nilai rata-ratanya.
Semakin besar nilai standar deviasi semakin bervariasi data (heterogen) dan
begitupun sebaliknya. Menurut Sugiyono (2013:57) Standar deviasi/simpangan
baku dari data yang telah disusun dalam tabel hasil pengolahan Food Recall, dapat
dihitung dengan rumus sebagai berikut:
∑(𝑥𝑖−𝑥)2
𝑠=√ ………………….…………………………………………… (2.13.)
𝑛

Keterangan:
𝑠 = standar deviasi
𝑥𝑖 = variabel interdependen X (jumlah penduduk)
𝑥 = Rata-rata penduduk
𝑛 = Jumlah Data

2.1.7. Perhitungan Proyeksi Kebutuhan Air Bersih


Sesuai dengan Millenium Development Goals (MDG) pedoman yang
perlu diketahui selain proyeksi jumlah penduduk dalam memproyeksi jumlah
kebutuhan air bersih adalah (Surti dan Yunus, 2021):
a. Tingkat pelayanan masyarakat
Cakupan pelayanan air bersih kepada masyarakat rata-rata tingkat
nasional adalah 80% dari jumlah penduduk.
Cp = 80% × Pn …….…………………………...... (2.13.)
Keterangan:
Cp = Cakupan pelayanan air bersih,
Pn = Jumlah penduduk pada tahun n proyeksi
b. Pelayanan langsung/sambungan rumah
Jumlah penduduk yang mendapatkan air bersih melalui sambungan
rumah adalah :
SI = 80% × Cp ….…………………………..…… (2.14.)

Keterangan:
Sl = Konsumsi air dengan sambungan langsung,
Cp = Cakupan pelayanan air bersih
c. Sambungan tak langsung atau sambungan bak umum
Sambungan tak langsung atau sambungan bak umum adalah sambungan
untuk melayani penduduk tidak mampu dimana sebuah bak umum dapat
melayani kurang lebih 100 jiwa atau sekitar 20 keluarga. Jumlah
penduduk yang mendapatkan air bersih melalui sambungan tak
langsung atau bak umum dihitung dengan rumus:
Sb = 20% × Cp ….………………...………...…… (2.15.)
Keterangan:
Sb = Konsumsi air bak umum,
Cp = Cakupan pelayanan air bersih
d. Konsumsi air bersih
Konsumsi kebutuhan air bersih sesuai dengan Departemen Permukiman
dan Prasarana Wilayah, 2002 diasumsikan sebagai berikut:
1. Konsumsi air bersih untuk sambungan rumah / sambungan langsung
sebanyak 140 lt/orang/hari.
2. Konsumsi air bersih untuk sambungan tak langsung / bak umum
untuk masyarakat kurang mampu sebanyak 30 lt/orang/hari
3. Konsumsi air bersih non rumah tangga (kantor, sekolahan, tempat
ibadah, industri, pemadam kebakaran dan lain-lain) ditentukan
sebesar 15% dari jumlah pemakaian air untuk sambungan rumah
dan bak umum dengan rumus sebagai berikut:
Kn = 15% (Sl + Sb) ………………...…...…...… (2.16.)
Keterangan:
Kn = Konsumsi air untuk non rumah tangga,
Sl = Konsumsi air dengan sambungan langsung,
Sb = Konsumsi air dari bak umum

e. Kehilangan Air
Kehilangan air diasumsikan sebesar 20% dari total kebutuhan air bersih.
Perkiraan kehilangan jumlah air ini disebabkan adanya sambungan pipa
yang bocor, pipa yang retak dan akibat kurang sempurnanya waktu
pemasangan, pencucian pipa, kerusakan water meter, pelimpah air di
menara air, dan lain-lain.
Lo = 20% × Pr ….…...……………………...…… (2.17.)
Keterangan:
Lo = Kehilangan air,
Pr = Produksi air
f. Analisis Kebutuhan Air PDAM
Analisis produksi air total yang dibutuhkan oleh PDAM adalah jumlah
konsumsi air sambungan langsung ditambah dengan konsumsi air dari
bak umum dan konsumsi air untuk non rumah tangga kemudian
dijumlahkan dengan kehilangan air akibat kebocoran pipa atau
penggelontoran air.
Pr = Sl + Sb + Kn + Lo …….…………….….....… (2.18.)
Keterangan:
Pr = Produksi air,
Sl = Konsumsi air dengan sambungan langsung,
Sb = Konsumsi air dari bak umum,
Kn = Konsumsi air untuk non rumah tangga,
Lo = Kehilangan air.
g. Analisis Kebutuhan Harian Maksimum
Kebutuhan harian maksimum adalah banyaknya air yang dibutuhkan
terbesar dalam satu tahun. Kebutuhan air pada harian maksimum
digunakan untuk mengetahui berapa kapasitas pengolahan (produksi)
dan dihitung berdasarkan kebutuhan air rata-rata sebagai berikut:
Ss = f1 x Sr ….…………………….……...…..…... (2.19.)
Keterangan:
Ss = Kebutuhan harian maksimum
Sr = Jumlah total kebutuhan air Domestik dan Non Domestik
f1 = factor maksimum day 1,15
h. Analisis Pemakaian Air pada Waktu Jam Puncak
Pemakaian air pada waktu jam puncak adalah pemakaian air tertinggi
pada jam-jam tertentu dalam suatu hari. Kebutuhan air pada waktu jam
puncak digunakan untuk mengetahui berapa kapasitas distribusi dari
besarnya diameter pipa dan dihitung berdasarkan kebutuhan air rata-rata
sebagai berikut:
Debit Waktu Puncak = f2 x Sr ….…………...….… (2.20.)
Keterangan:
Sr = Jumlah total kebutuhan air Domestik dan Non Domestik
f2 = factor peak hour 1,5

2.2. Tinjauan Pustaka


Ada banyak penelitian terdahulu yang dilakukan yang menjadi acuan dan
referensi dalam penulisan penelitian ini. Tukimin (2004) mengevaluasi
ketersediaan dan kebutuhan air bersih, potensi air, minat konsumen dalam
berlangganan air serta melakukan rencana pengembangan air bersih dari mata air
Ciseupan Cibeber guna memenuhi kebutuhan air di Cimahi selatan. Metode yang
digunakan pada penelitian ini adalah survey dengan menyebarkan angket kepada
150 responden.
Gumilar (2015), merumuskan strategi dalam pengembangan ZAMP untuk
kelompok pelanggan rumah tangga di Bogor. Metode yang digunakan pada
penelitian ini adalah survey. Survey yang dilakukan pada kelompok pelanggan
rumah tangga menengah (R3-R5) dan menengah keatas (R6-R8) di wilayah
eksisting ZAMP dan rencana pengembangan ZAMP di taman Yasmin, terdapat
kesamaan karakteristik di kedua wilayah yang menunjukan adanya potensi
pengembangan.
Djanti (2007), merencanakan pengembangan sistem penyediaan air bersih
yang meliputi cakupan dan tahapan pelayanan air minum, serta sistem distribusi
dengan memperhatikan kemampuan jaringan perpipaan yang ada sampai dengan 10
tahun kedepan. Metode yang digunakan untuk memproyeksikan jumlah penduduk
digunakan metode eksponensial, untuk memproyeksikan kebutuhan air didasarkan
pada proyeksi jumlah penduduk dan proyeksi kebutuhan air penduduk. Menentukan
panjang dan diameter pipa transmisi dapat menggunakan rumus Hazzen Williams.
Sedangkan untuk pipa distribusi digunakan program EPANET 2.0. Dari hasil
perencanaan tersebut diketahui jumlah penduduk Desa Sentolo pada tahun 2016
mencapai 20.030 jiwa, Desa Banguncipto mencapai 9.287 jiwa, dan Desa Salamrejo
mencapai 12.959 jiwa. Besarnya debit air yang diperlukan berdasarkan proyeksi
jumlah penduduk adalah 78,73 l/dtk. Sumber air yang digunakan berasal dari Kali
Progo. Berdasarkan letak sumber maka sistem pengalirannya adalah secara
gravitasi.
Wayan (2009) mengkaji mengenai sumber air untuk memenuhi kebutuhan
air minum di Kota Ampana dan memilih alternatif sumber air yang paling optimal
dari potensi sumber daya air yang ada. Metode yang digunakan yaitu survey
pendahuluan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan, lalu pengolahan data
dengan menggunakan rumus- rumus empiris dari kajian pustaka. Kesimpulan yang
didapat dari penelitian ini menunjukan bahwa jika air Sungai Ampana dan Sungai
Sansarino digunakan untuk kebutuhan air minum, maka sampai proyeksi tahun
2007 belum mampu untuk mencukupi kebutuhan air Kota Ampana.

2.3. Keaslian Penelitian


Penelitian mengenai judul “Kajian Potensi Pengembangan
Ketersediaan Air PDAM Dibandingkan Dengan Jumlah Penduduk
Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa
Tenggara Timur” adalah asli dilakukan oleh peneliti berdasarkan referensi jurnal
dan buku-buku serta penelitian terdahulu. Hal yang membedakan penelitian ini
dengan penelitian terdahulu dapat dilihat dari lokasi penelitian serta obyek yang
diteliti, dimana penelitian ini baru pertama kali dilakukan oleh peneliti untuk
wilayah Kota Ruteng.

Anda mungkin juga menyukai