100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
133 tayangan44 halaman

Psikologi Militer untuk Perwira TNI AD

Dokumen ini membahas tentang psikologi militer dalam operasi militer dan kehidupan militer. Dokumen ini juga membahas topik seperti kepemimpinan militer, kesiapan tempur prajurit, dan pengelolaan trauma mental prajurit.

Diunggah oleh

Dave Saladan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
133 tayangan44 halaman

Psikologi Militer untuk Perwira TNI AD

Dokumen ini membahas tentang psikologi militer dalam operasi militer dan kehidupan militer. Dokumen ini juga membahas topik seperti kepemimpinan militer, kesiapan tempur prajurit, dan pengelolaan trauma mental prajurit.

Diunggah oleh

Dave Saladan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RAHASIA

MARKAS BESAR ANGKATAN DARAT


DINAS PSIKOLOGI

NASKAH SEKOLAH
tentang

PSIKOLOGI MILITER
untuk

PENDIDIKAN PERWIRA TNI AD


Nomor : 54 - A - 07

DISAHKAN DENGAN KEPUTUSAN KEPALA DINAS PSIKOLOGI ANGKATAN DARAT


NOMOR KEP/ 02 / III / 2019 tanggal 04-03-2019

DILARANG MEMPERBANYAK ATAU MENGUTIP SEBAGIAN ATAU SELURUH ISI HANJAR


TANPA IZIN KEPALA DINAS PSIKOLOGI ANGKATAN DARAT

RAHASIA
RAHASIA

MARKAS BESAR ANGKATAN DARAT


DINAS PSIKOLOGI

KEPUTUSAN KADISPSIAD
Nomor : Kep/02/ III/2019

tentang

PENGESAHAN NASKAH SEKOLAH


UNTUK PENDIDIKAN PERWIRA TNI AD
SEBANYAK 26 (DUA PULUH ENAM) JUDUL

KEPALA DINAS PSIKOLOGI ANGKATAN DARAT

Menimbang : Bahwa untuk kelancaran jalannya pendidikan perlu


segera
mengeluarkan keputusan tentang Naskah Sekolah untuk
Pendidikan Perwira TNI AD.

Mengingat : 1. Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor


Ke/72/XII/2013
Tanggal 13 Desember 2013 tentang Petunjuk Induk
Pendidikan TNI AD;

2. Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor


Kep /685/ IX/ 2015 tanggal 18 September 2015, tentang
Petunjuk Teknis Paket Instruksi;

3. Keputusan Kepala staf Angkatan Darat Nomor


Kep/548/VI/2016 tanggal 24 Juni 2016 tentang petunjuk Teknis
tentang Tulisan Dinas

4. Keputusan Kasad Nomor Kep/ 17 / VII / 2016 Tanggal 17


Juli 2016 tentang Organisasi dan Tugas Dinas Psikologi
Angkatan Darat ( Orgas Dispsiad ) Uji Coba;

5. Keputusan Kasad Nomor Kep / 1003 / XI / 2018 tanggal


28 November 2018, tentang Pengesahan Buku Himpunan
Mater Pelajaran yang menjadi tanggung jawab Pembina Materi
(LKT); dan

6. Pertimbangan Staf Kepala Dinas Psikologi Angkatan


Darat.

MEMUTUSKAN

RAHASIA
RAHASIA
Menetapkan : 1. Mengesahkan :

a. Daftar judul bahan ajaran untuk Pendidikan Perwira


TNI AD
Seperti tersebut pada lampiran I Keputusan ini.

b. Isi bahan ajaran sesuai judul bahan ajaran seperti


tersebut pada lampiran III keputusan ini.

2. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

3. Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam


keputusan ini akan segera diadakan pembetulan seperlunya.

Salinan. Keputusan ini dilampirkan dalam setiap naskah


sekolah yang telah disahkan.

Ditetapkan di Bandung
Pada tanggal 4 - 3 - 2019

Kepala Dinas Psikologi Angkatan Darat

Dr. Eri R Hidayat, MBA,MHRMC.


Kepada Yth : Brigadir Jenderal TNI
Komandan Kodiklatad

Tembusan :

1. Irjenad
2. Aspers Kasad
3. Dirdik Kodiklatad

RAHASIA
RAHASIA

MARKAS BESAR ANGKATAN DARAT Lampiran Keputusan Kadispsiad


DINAS PSIKOLOGI Nomor Kep / 02 / III / 2019
Tanggal 04 Maret 2019

DAFTAR JUDUL BAHAN AJARANDAN NOMOR KODE


NASKAH SEKOLAH PENDIDIKAN PERWIRA TNI AD

NO JUDUL BAHAN AJARAN NOMOR KODE KETERANGAN


1 2 3 4

1. KODE ETIK 54-A-01 NASKAH SEKOLAH


2. KOMPETENSI KONSELOR 54-A-02 NASKAH SEKOLAH
3. PSIKOLOGI UMUM 54-A-03 NASKAH SEKOLAH
4. PSIKOLOGI PERKEMBANGAN 54-A-04 NASKAH SEKOLAH
5. PSIKOLOGI KEPRIBADIAN 54-A-05 NASKAH SEKOLAH
6. PSIKOLOGI KELOMPOK 54-A-06 NASKAH SEKOLAH
7. PSIKOLOGI MILITER 54-A-07 NASKAH SEKOLAH
8. PSIKOLOGI KELUARGA 54-A-08 NASKAH SEKOLAH
9. PSIKOLOGI KEPEMIMPINAN 54-A-09 NASKAH SEKOLAH
10. PSIKOLOGI POSITIF 54-A-10 NASKAH SEKOLAH
11. OBSERVASI DALAM KELOMPOK 54-A-11 NASKAH SEKOLAH
12. WAWANCARA DALAM KONSELING 54-A-12 NASKAH SEKOLAH
13. ILMU PERNYATAAN 54-A-13 NASKAH SEKOLAH
14. KONSELING INDIVIDUAL 54-A-14 NASKAH SEKOLAH
15. KONSELING KELOMPOK 54-A-15 NASKAH SEKOLAH
16. PROSES KONSELING 54-A-16 NASKAH SEKOLAH
17. MPP 54-A-17 NASKAH SEKOLAH
18. PSIKOLOGI KOMUNIKASI 54-A-18 NASKAH SEKOLAH
19. PEMBINAAN SATUAN (BINSAT) 54-A-19 NASKAH SEKOLAH
20. PSIKOLOGI KEPEMIMPINAN DASAR 54-A-20 NASKAH SEKOLAH
21. TEORI KEPEMIMPINAN 54-A-21 NASKAH SEKOLAH
22. KEPEMIMPINAN TNI 54-A-22 NASKAH SEKOLAH
23. PSIKOLOGI KEPEMIMPINAN MADYA 54-A-23 NASKAH SEKOLAH
24. PSIKOLOGI MASSA 54-A-24 NASKAH SEKOLAH
25. BERPIKIR KRITIS 54-A-25 NASKAH SEKOLAH
26. PSIKOLOGI BELAJAR 54-A-26 NASKAH SEKOLAH

Kepala Dinas Psikologi Angkatan Darat

Dr. Eri [Link],MBA,MHRMC.


Brigadir Jenderal TNI

RAHASIA
RAHASIA

DAFTAR ISI

Halaman
BAB I PENDAHULUAN
1. Umum ...............................1
2. Maksud dan Tujuan ...............................1
3. Ruang Lingkup dan Tata Urut ...............................2
4. Pengertian …. ...............................2

BAB II PSIKOLOGI DALAM OPERASI MILITER


5. Umum ...............................3
6. Operasi Militer - Konvensional.. ...............................3
7. Siklus Penyebaran Prajurit ... ...............................4
8. Fungsi Komponen Dukungan Psikologi.. ...............................6
9. Tugas dan Aktivitas Psikologi.. ...............................6
10. Operasi Perdamaian. ...............................9
11. Stress ... .............................10
12. Stress Appraisal . .............................11
13. Model Stress dalam Operasi Perdamaian .................................. 12
14. Moril .. .............................13

BAB III TERAPAN PSIKOLOGI DALAM KEHIDUPAN MILITER TNI AD


15. Umum .............................19
16. Tugas Pokok .. .............................20
17. Fungsi .. .............................20
18. Pembinaan Psikologi .. .............................21

BAB IV PSIKOLOGI KESEHATAN MENTAL


19. Pengelolaan Terhadap Trauma .............................22
20. Pendekatan Pencegahan untuk Manajemen Trauma dan
Pengobatan ........................................................................................ 23
21. Psychological Debriefing .. .............................23
22. Manajemen PTSD dalam Angkatan Militer ................................. 26
23. Dampak dan Pengelolaan PTSD dalam Militer dan
Kesejahteraan Sosial ................................................................. 28

BAB V KEPEMIMPINAN MILITER


24. Kepribadian Pemimpin .............................29
25. Pemimpin yang Sukses dengan Kecerdasan Emosi dan Modal
Psikologis (Psycological Capital) ....................................................... 30

BAB VI KESIAPAN TEMPUR MILITER


26. Kesiapan Prajurit Tempur .............................32
27. Kesiapan Keadaan Pikiran . .............................34
28. Faktor yang Terlibat dalam Kesalahan Combat.......................... 35

BAB VII PENUTUP


29. Penutup ..................................................................................... 37

RAHASIA
RAHASIA

RAHASIA
RAHASIA
MARKAS BESAR ANGKATAN DARAT Lampiran III Keputusan Kadispsiad
DINAS PSIKOLOGI Nomor Kep / 02 / III / 2019
Tanggal 04 Maret 2019

PSIKOLOGI MILITER

BAB I

PENDAHULUAN

1. Umum.

a. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Dalam


penerapannya ilmu psikologi dapat diaplikasikan dalam beragam bidang
kajian, salah satunya yaitu psikologi militer. Psikologi militer merupakan
aplikasi atau penerapan dari teori-teori, prinsip-prinsip, dan teknik-teknik
psikologi untuk kepentingan praktis di lin gkungan militer.

b. Psikologi militer diterapkan dalam konseling, perawatan stress dan


kejenuhan dari anggota-anggota militer atau keluarganya, maupun perawatan
trauma pasca operasi militer. Kegunaan lain dari psikologi militer adalah untuk
membantu tercapainya hasil operasi militer. Dalam peran yang paling
mutakhir, Psikologi Militer diadaptasi untuk keperluan mengenai perawatan
kesehatan mental sebagai dampak dari lingkungan militer yang memiliki
tingkat stress tinggi, perawatan PTSD (Post Traumatic Syndrom Disorder),
serta penyaluran kembali pasca tugas (post deployment).

c. Dalam APA (American Psychological Association), psikologi militer


jelas sama besarnya dengan semua cabang psikologi lainnya yaitu aplikasi-
aplikasi psikologi untuk masalah-masalah militer. Tujuan utama dari psikologi
militer adalah untuk membantu pertahanan negara dengan memberikan
kontribusi kepada kesiapan, kemampuan dan efektivitas personel dan sistem
sosioteknikal.

2. Maksud dan Tujuan

a. Maksud. Hanjar ini disusun dengan maksud untuk memberikan


gambaran dan penjelasan tentang Psikologi Militer sebagai materi pelajaran
pada Pendidikan Perwira di Lingkungan TNI AD.

RAHASIA
RAHASIA

RAHASIA
2

b. Tujuan. Hanjar tentang Psikologi Militer ini disusun dengan tujuan


untuk digunakan sebagai pedoman bagi Guru Militer (Gumil) dan Peserta
Didik (Serdik) dalam proses belajar mengajar pada Pendidikan Perwira agar
tujuan pelajaran dapat tercapai.

3. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Hanjar Psikologi Militer ini meliputi
pokok-pokok materi dalam psikologi militer, yang disusun dengan tata urut
sebagai berikut :
a. Pendahuluan.
b. Psikologi Dalam Operasi Militer.
c. Terapan Psikologi Dalam Kehidupan Militer TNI AD.
d. Psikologi Kesehatan Mental.
e. Kepemimpinan Militer.
f. Kesiapan Tempur Militer
g. Penutup.

4. Pengertian.

a. Psikologi. Psikologi berasal dari kata psyche yang diartikan dengan


jiwa dan perkataan logos yang diartikan ilmu atau ilmu pengetahuan (science).
Sehingga psikologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan jiwa atau ilmu
jiwa.

b. Psikologi militer merupakan kajian terapan psikologi sebagai aplikasi


dari penelitian teknologi, prinsip, dan metode psikologi dalam lingkungan
militer untuk mengatasi tantangan yang mengarah pada peningkatan
kemampuan pasukan dan mencegah berkurangnya potensi kemampuan
pasukan karna efek kegiatan pasukan lawan.

c. Trauma. Jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa
traumatik.

d. Stress. Suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam


mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut
terdapat batasan atau penghalang.

e. Moril. Keadaan percaya diri dan positif dari pikiran seorang individu
dan motivasi persisten (kesediaan) untuk terlibat dalam tujuan bersama
kelompok, terutama ketika dihadapkan dengan kondisi yang menantang
(seperti operasi militer).
3

BAB II
PSIKOLOGI DALAM OPERASI MILITER

5. Umum. Dalam militer, psikologi digunakan sebagai bagian dari


perspektif dukungan kesehatan militer. Psikologi militer sebagai aplikasi dari
penelitian teknologi, prinsip, dan metode psikologi dalam lingkungan militer untuk
mengatasi tantangan yang mengarah pada peningkatan kemampuan pasukan dan
mencegah berkurangnya potensi kemampuan pasukan karna efek kegiatan pasukan
lawan. Tujuan umum psikologi militer dalam organisasi militer adalah untuk
menyediakan dan menerapkan metode-metode psikologis yang terbukti secara
ilmiah dan sarana untuk berkontribusi pada tugas-tugas organisasi militer dalam
membantu kekuatan personel militer untuk mencapai misi operasionalnya dengan
berkontribusi antara lain untuk mengembangkan kemampuan, kesiapan tempur,
efektivitas operasional dan mengembangkan kekuatan.

6. Operasi Militer - Konvensional

Dalam perang konvensional, seorang prajurit militer akan dikerahkan


baik sebagai individu, grup atau tim kekuatan militer yang merupakan bagian
dari dimensi suatu operasi atau disebut “human dimension”. Prajurit yang
dikerahkan dalam perang konvensional akan dihadapkan pada resiko yang
tinggi baik dari segi ancaman psikis maupun ancaman fisik.
Ancaman psikis yang akan dihadapi oleh prajurit yang melaksanakan
perang konvensional contohnya adalah trauma. Setiap orang akan
menghadapi trauma yang berbeda dan penerimaan yang berbeda pula
terhadap trauma tersebut. Prajurit tersebut bisa saja menjadi termotivasi
penuh namun juga bisa mengalami demotivasi (penurunan motivasi) akibat
tekanan atau tantangan yang dihadapi dalam perang konvensional. Dimana
mereka harus mampu mengambil keputusan yang menyangkut nyawa atau
kehidupan orang lain dan mengoperasikan alat peralatan militer. Prajurit bisa
saja mendapat cidera, sakit, kehilangan harapan dan munculnya tekanan
untuk meyakini sesuatu atau hal-hal spiritual lainnya.
Dukungan kesehatan pertahanan untuk pasukan militer
mengembangkan pemahaman yang jelas tentang dimana dukungan
psikologis militer akan diperlukan atau peran psikologi militer diberikan dalam
hal waktu, ruang, sumber daya dan tujuan. Dukungan psikologi diberikan
bukan hanya sebagai “reactive discipline” tetapi juga proaktif untuk
memastikan kesiapan tempur. Dukungan psikologi akan diperlukan untuk
memastikan kesiapan pengerahan prajurit tempur, melakukan perawatan
guna mendukung kesiapan tempur, dan memberikan bantuan terhadap
personel yang mengalami trauma. Dalam hal ini, dukungan terhadap prajurit
diberikan baik secara individu dan tim, serta pada saat akan dikerahkan,
4

selama pertempuran hingga setelah pertempuran, yaitu untuk penyesuaian


diri kembali ke lingkungan sosialnya.

7. Siklus Penyebaran Prajurit

Penyebaran personel militer beserta keluarganya dimulai sejak mereka


harus menjalani pelatihan tugas tertentu, termasuk tindakan-tindakan
administratif yang ditujukan untuk penempatan, keberangkatan secara fisik
yang jauh dari rumah, kembali ke rumah, dan penyesuaian kembali terhadap
kehidupan sehari-hari serta antisipasi untuk penugasan yang akan
diperintahkan selanjutnya. Siklus penyebaran prajurit dapat dilihat sebagai
suatu proses berkelanjutan yang melewati empat fase, dimana fase tersebut
dimulai dari rumah dan di akhiri di rumah. Empat fase penyebaran prajurit
tersebut, meliputi:

a. Pre-deployment (saat turunnya perintah keberangkatan).


b. Deployment (periode dari keberangkatan hingga kembali).
c. Reunion (ketika prajurit kembali ke rumah).
d. Post-deployment (pasca kembali dari penugasan, yaitu penyesuaian
terhadap kehidupan sehari-hari di lingkungan sosialnya).

Dalam fase ini, Logan juga mengusulkan tujuh tahap yang membahas
aspek emosi dari penyebaran prajurit yang mempengaruhi baik secara
individu dari prajurit maupun keluarganya. Tujuh fase emosi tersebut,
meliputi :

a. Anticipation of loss, yang mulai dialami sejak enam minggu sebelum


keberangkatan. Reaksi yang mungkin muncul seperti :
1) Kegelisahan.
2) Kesedihan.
3) Iritabilitas.
4) Kemarahan dan kebencian (pasangan).
5) Rasa bersalah (anggota militer).

b. Detachment and withdraw, yaitu sikap menarik diri yang terjadi


beberapa hari saat sebelum keberangkatan. Reaksi yang mungkin muncul
seperti :
1) Keputusasaan.
2) Pengambilan keputusan bisa menjadi semakin sulit.
3) Ambivalensi tentang hubungan seksual.
4) Emotional Distancing.

c. Emotional Disorganization, Terjadi selama enam minggu pertama saat


penugasan. Reaksi yang mungkin muncul seperti :
1) Rasa bersalah.
5

2) Kehilangan arah dan tujuan.


3) Kesedihan dan penarikan diri dari teman.
4) Kewalahan dengan tanggung jawab.
5) Kesulitan tidur.
6) Gelisah, marah, bingung, tidak teratur, ragu-ragu, mudah
tersinggung.

d. Recovery and Stabilization, yaitu fase pemulihan dan stabilisasi. Durasi


bervariasi antara tahap tiga dan lima. Reaksi yang mungkin muncul seperti :
1) Mendirikan pola keluarga baru dan menetap dalam rutinitas.
2) Lebih nyaman dengan reorganisasi peran dan tanggung jawab.
3) Sumber dukungan baru yang dibudidayakan.
4) Kebanggaan dalam kemampuan untuk mengatasi sendiri.

e. Anticipation of Homecoming, antisipasi kepulangan terjadi selama


enam minggu terakhir penugasan. Kemungkinan reaksi yang terjadi seperti :
1) Perasaan gembira dan ketakutan.
2) Reevaluasi pernikahan dan pengaruhnya pada keluarga.
3) Kegelisahan, panik untuk menyelesaikan proyek.
4) Kebingungan.
5) Perubahan selera.
6) Keputusan mungkin menjadi lebih sulit untuk dibuat.
7) Iritabilitas.

f. Renegotiation of the Marriage Contract, yang dimaksud adalah


bernegosiasi ulang terhadap diri dengan kehidupan pernikahan yang terjadi
selama enam minggu setelah berakhirnya penugasan. Reaksi yang mungkin
terjadi seperti :
1) Jarak emosional.
2) Kehilangan kebebasan dan kemandirian.
3) Menetapkan rutinitas baru.
4) Renegosiasi asumsi dan harapan pernikahan.
5) Penyesuaian dalam peran dan tanggung jawab.

g. Reintegration and Stabilization, reintegrasi dan stabilisasi terjadi enam


hingga dua belas minggu setelah berakhirnya penyebaran. Reaksi yang
mungkin terjadi seperti :
1) Rutinitas baru telah ditetapkan.
2) Santai, perasaan nyaman.
3) Rasa menjadi pasangan dan bagian dari keluarga lagi.
4) Kembali ke jalur emosional dan dapat menikmati kehangatan
dan kedekatan menikah.
6

8. Fungsi Komponen Dukungan Psikologi.

Menurut Australian Army, fungsi dukungan psikologi militer dapat


mengacu pada force preparation (persiapan kekuatan angkatan), force
maintenance (pemeliharaan kekuatan), force enhancement (peningkatan
kekuatan) dan force transition (transisi kekuatan).

a. Force Preparation, persiapan kekuatan diberikan ketika fase pre-


deployment. Fungsi ini bertujuan untuk membantu perkembangan kesiapan
psikis dari prajurit baik secara individu, tim, ataupun kontingen.

b. Force Maintenance, pemeliharaan kekuatan diberikan dengan tujuan


untuk meminimalisir terjadinya permasalahan seperti berpura-pura sakit,
gangguan mental, desertasi, pembunuhan sesama pasukan sendiri (saudara),
da, cedera yang diakibatkan oleh diri sendiri.

c. Force Enhancement, peningkatan kekuatan dari prajurit baik secara


individual, team, dan unit/kontingen dapat dioptimalkan melalui proses yang
berkelanjutan dan akan dapat dilihat sebagai tingkatan. Peningkatan kekuatan
dan pemeliharaan kekuatan diberikan pada saat fase deployment.

d. Force Transition, pada fase transisi yang terjadi pasca penugasan,


biasanya terdapat tantangan dalam penyesuaian diri kembali. Seperti
penyesuaian terhadap kehidupan berkeluarga, bersosial dengan masyarakat,
dan pengalaman-pengalaman yang melelahkan atau menyebabkan rekasi
stress. Dalam tahap ini intervensi dapat diimplementasikan untuk membantu
mengembangkan reintegrasi, motivasi untuk bekerja, dan komitmen terhadap
militer, yang sekaligus menyiapkan kesiapan psikis untuk menghadapi
penugasan selanjutnya. Force transition ini diberikan pada fase post-
deployment.

9. Tugas dan Aktivitas Psikologi

Tugas dan aktivitas psikologi dalam militer guna mendukung


keberhasilan pencapaian tujuan, meliputi :
a. Rekruitmen dan seleksi, yaitu merekrut dan menyeleksi personel yang
sesuai dengan kebutuhan tenaga militer disesuaikan dengan potensi dan
pribadi yang dimiliki dari calon personel sesuai dengan jumlah kebutahan.

b. Memonitor dan menguji kesehatan mental untuk tugas militer, hal


tersebut perlu dilakukan guna memastikan kesehatan mental personel
terhadap kesanggupan melaksanakan kewajiban sebagai prajurit militer
sesuai dengan tugas dan tanggung jawab dari jabatan yang dibutuhkan.
7

c. Psychological measurement. Penilaian psikologis yaitu kegiatan


penilaian psikologis seperti survey kesiapan psikis menghadapi pertempuran,
seleksi dan klasifikasi psikologi, dan penilaian-penilaian lainnya.

d. Training in psychological skills, yaitu memberikan pelatihan


pengembangan keterampilan psikologis dari personel yang dapat mendukung
kesiapan tempur, kesiapan tugas, pengembangan ketahanan diri, dan
kesehatan mental serta kesejahteraan diri secara umum.

e. Psychological preparation of soldier for combat, persiapan psikologis


bagi tentara yang akan melaksanakan pertempuran. Dalam kegiatan ini para
prajurit akan mendapatkan edukasi terkait teknik meningkatkan performa,
menentukan tujuan yang semuanya bertujuan agar mampu mengaplikasikan
peran militer dengan baik.

f. Resilience, yaitu berkaitan dengan ketahanan diri prajurit. Prajurit akan


diberikan training yang mencakup aspek psychological first aid yaitu
keterampilan dasar untuk mengobati dan mengelola efek stres akut untuk
membantu mempertahankan mental prajurit, mengatur semangat/gairah
hidup, kontrol diri terhadap rasa marah dan lelah, penggunaan alkohol dan
narkoba, keterampilan membina hubungan relasi hidup, menangani korban
meninggal (mayat).

g. Psychology consultant, berperan sebagai konsultan untuk komandan.


Dalam hal ini memungkinkan saran psikologis terhadap rantai komando yang
berkontribusi pada kesiapan kekuatan, operasi yang efektif.

h. Medical Psychological services, biasanya diberikan dalam operasi


konvensional ketika seseorang mengalami kehilangan anggota badan dan
terutama ketika manajemen nyeri diperlukan.

i. Therapeutic Interventions, dukungan psikologi yang diberikan terhadap


prajurit yang mengalami stress, perawatan psikologis untuk yang terluka,
konseling terhadap anggota dan keluarganya yang berkabung atau
kehilangan.

j. Suicide prevention, yaitu bentuk upaya pencegahan bunuh diri.

k. Crisis and hostage negotiation, yaitu krisis negosiasi dan sandera.

l. Morale and motivation, yaitu bentuk upaya dalam rangka meningkatkan


dan menjaga semangat dan motivasi prajurit.
8

m. Support to civilians, upaya dalam memberikan dukungan untuk warga


sipil yang berada dalam daerah konflik agar meminimalisir tingkat stress pada
warga.

n. Assistance with training, memberikan bantuan dengan pelatihan


terhadap prajurit yang membutuhkan.

o. Psychological research, melakukan penelitian psikologis guna


pengembangan informasi terkait keadaan yang terus berkembang.

p. Minimising psychological effects of nuclear and chemical and biological


warfare, yaitu melakukan kegiatan untuk meminimalkan efek psikologis dari
perang nuklir, kimia dan biologi dalam rangka membantu mengembalikan
kehidupan psikis agar kembali normal.

q. Conduct after capture, memastikan kelangsungan hidup yang sukses


sehingga prajurit dapat kembali dengan martabatnya dan mampu beradaptasi
dalam jangka panjang setelahnya.

r. Family support of the deployed soldier to enhance resilience, yaitu


membantu tumbuhnya dukungan keluarga dari prajurit yang dikerahkan untuk
meningkatkan ketahanan prajurit.

s. Debriefing after trauma or critical incident stress management, yaitu


dengan melakukan debriefing pasca trauma atau manajemen stress yang
dialami oleh prajurit.

t. Repatriation

u. Organizational dynamics, yaitu membantu satuan dalam mengelola


dinamika organisasi yang terjadi.

v. Organizational optimization, melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat


membantu mengoptimalisasi organisasi.

w. Team building/integration of multiational forces, membangun tim /


integrasi kekuatan multiasional

x. Unit cohesion

y. Leadership development atau pengembangan kepemimpinan

z. Human engineering, yaitu penerapan prinsip ergonomics, yaitu


mempelajari interaksi efektif antara manusia dengan ata/mesin teknologi yang
9

digunakan agar sistem dapat berjalan efektif baik bagi pekerjaan itu sendiri
maupun manusia yang bekerja.

aa. Accident investigation, yaitu melakukan investigasi kecelakaan

bb. Demobilization and readjustment, yaitu melakukan demobilisasi dan


penyesuaian kembali

cc. Dealing with the death or injury of a service member, yaitu membantu
prajurit dalam menghadapi kejadian yang berurusan dengan kematian atau
cedera anggota tubuh

dd. Care of veterans, yaitu memberikan perawatan terhadap veteran


dengan memperhatikan kesejahteraan dari para veteran.

ee. Rebuilding the mental fitness of soldiers for military duty, membangun
kembali kebugaran mental para prajurit untuk tugas militer

ff. Defensive Psy Ops

gg. Psychological record keeping, yaitu melakukan penyimpanan catatan


psikologis

Tuntutan operasi konvensional membutuhkan seorang psikolog yang cocok


dengan profil tertentu, karena militer berbeda dengan lingkungan sipil. Selain
pengetahuan yang berkaitan dengan materi pelajaran psikologi, seorang psikolog
militer harus memiliki pengetahuan tentang peperangan secara umum dan
pelaksanaan operasi konvensional secara khusus. Selanjutnya seorang psikolog
militer harus memiliki pengetahuan tentang budaya lingkungan militer, komando, dan
sistem kontrol militer serta berbagai sistem pendukungnya. Secara personal,
psikolog militer harus memiliki intelegensi yang mumpuni, dengan referensi khusus
untuk kecerdasan emosional, kematangan emosi, independen, mudah
menyesuaikan diri, mudah beradaptasi, kreatif, inovatif, teliti dan dinamis.

10. Operasi Perdamaian

Operasi pemelihara perdamaian adalah operasi yang bertujuan


memelihara perdamaian antar pihak yang berkonflik dan sering dianggap
sebagai bantalan dengan intensitas stres yang lebih rendah daripada situasi
pertempuran tradisional. Namun demikian, pasukan pemelihara perdamaian
berada pada situasi zona perang yang berpotensi traumatis. Situasi ini dapat
menyebabkan stres, membangkitkan munculnya proses fisiologis, psikologis,
perilaku atau sosial yang tidak diinginkan (Driskell, Salas & Johnston, 2006).
10

Operasi pemelihara perdamaian melibatkan personil militer dan sipil.


Sifat dari operasi pemeliharaan perdamaian telah menjadi semakin kompleks
dan penuh tekanan. Ini adalah hipotesis bahwa stresor yang dialami anggota
mungkin memiliki efek merusak pada moral mereka dan pada kohesi dari
kekuatan, salah satu dampaknya menyebabkan penyalahgunaan alkohol dan
narkoba.
Operasi pemeliharaan perdamaian memiliki dua tugas, yaitu untuk
menghentikan permusuhan, sehingga menciptakan kondisi damai melalui negosiasi,
dan / atau untuk mengawasi penyelesaian sementara atau akhir yang dinegosiasikan
oleh para pihak yang terlibat. Dalam upaya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang
disebutkan di atas, PBB mengerahkan dua kategori kekuatan, yaitu misi pengamat
(terutama terdiri dari perwira bersenjata ringan) dan pasukan perdamaian (terdiri dari
infanteri dengan unsur-unsur pendukung logistik yang diperlukan). Pada tingkat
psikologis dan sosial, prajurit penjaga perdamaian dihadapkan dengan periode
panjang pemisahan dari keluarga dan teman, perasaan isolasi, kebosanan dan
emosi yang tidak terduga seperti ketakutan, kemarahan, depresi, keadaan sibuk dan
apatis.

11. Stress

Stress terjadi diawali dengan hadirnya tekanan. Stressor atau sumber


stres bisa saja merupakan kekuatan di lingkungan, fisik, psikologis atau
keduanya, yang menimpa individu. Lamerson dan Kelloway mengembangkan
model konseptual dari stresor yang melekat dalam penempatan peacekeeper.
Model konseptual tersebut menunjukkan bahwa stresor tempur (misalnya
menyaksikan kematian orang lain, penyanderaan) serta stresor kontekstual
(misalnya peningkatan tingkat stres perkawinan, keluarga dan keuangan)
memainkan peran penting dalam pengembangan stres seorang peacekeeper.
Model ini mengakui kerentanan pribadi dalam batas tertentu, yang dapat
mengakibatkan reaksi negatif individu terhadap peacekeeping. Model ini juga
memperhatikan adanya moderator (misalnya kohesi) yang memengaruhi
hubungan antara paparan terhadap stresor dan pengalaman stres berikutnya
11

12. Stress Appraisal.


Penilaian terhadap suatu keadaan yang dapat menyebabkan stres
disebut stress appraisals. Menilai suatu keadaan yang dapat mengakibatkan
stress tergantung dari dua faktor, yaitu faktor yang berhubungan dengan
orangnya (Personal factors) dan faktor yang berhubungan dengan situasinya.
Personal factors didalamnya termasuk intelektual, motivasi, dan personality
characteristics. Sedangkan faktor situasi yang mempengaruhi stress
appraisals, yaitu:
a. Kejadian yang melibatkan tuntutan yang sangat tinggi dan mendesak
sehingga menyebabkan ketidaknyamanan.
b. Life transitions, dimana kehidupan mempunyai banyak kejadian penting
yang menandakan berlalunya perubahan dari kondisi atau fase yang satu ke
yang lain, dan menghasilkan perubahan substansial dan tuntutan yang baru
dalam kehidupan kita.
c. Timing juga berpengaruh terhadap kejadian-kejadian dalam kehidupan
kita, dimana apabila kita sudah merencanakan sesuatu yang besar dalam
kehidupan kita dan timing-nya meleset dari rencana semula, juga dapat
menimbulkan stres.
d. Ambiguity, yaitu ketidakjelasan akan situasi yang terjadi
e. Desirability, ada beberapa kejadian yang terjadi diluar dugaan kita
f. Controllability, yaitu apakah seseorang mempunyai kemampuan untuk
mengubah atau menghilangkan stressor. Seseorang cenderung menilai suatu
situasi yang tidak terkontrol sebagai suatu keadaan yang lebih stressful,
daripada situasi yang terkontrol.

Ancaman merupakan konsep kunci dalam memahami stress. Lazarus


mengungkapkan bahwa individu yang tidak akan merasakan suatu kejadian
sebagai suatu gangguan bila stressor tersebut diinterpretasikan sebagai hal
yang wajar. Ancaman adalah suatu penilaian subjektif dari pengaruh negatif
yang potensial dari stressor. Transactions yang mengarah pada kondisi stres
umumnya melibatkan proses assesment yang disebut sebagai cognitive
appraisals (Lazarus & Folkman, 1986). Cognitive appraisals adalah suatu
proses mental, dimana ada dua faktor yang dinilai oleh seseorang: (1) apakah
sebuah tuntutan mengancam kesejahteraannya dan (2) resources yang
tersedia untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Ada dua macam penilaian yang dilakukan individu untuk menilai


apakah suatu kejadian yang dapat atau tidak menimbulkan stress bagi
individu, yaitu:

a. Primary appraisals yaitu penilaian pada waktu kita mendeteksi suatu


kejadian yang potensial untuk menyebabkan stres. Peristiwa yang diterima
sebagai keadaan stres selanjutnya akan dinilai menjadi tiga akibat yaitu harm
loss (tidak berbahaya), threat (ancaman) dan challenge (tantangan).
12

b. Secondary appraisals mengarah pada resources yang tersedia pada


diri kita atau yang kita miliki untuk menanggulangi stres.

c. Coping Stress

Coping didefinisikan sebagai segala usaha untuk mengurangi stres,


yang merupakan proses pengaturan atau tuntutan (eksternal maupun internal)
yang dinilai sebagai beban yang melampaui kemampuan seseorang. Sarafino
(2006) menambahkan bahwa coping adalah proses dimana individu
melakukan usaha untuk mengatur (management) situasi yang dipersepsikan
adanya kesenjangan antara usaha (demands) dan kemampuan (resources)
yang dinilai sebagai penyebab munculnya situasi stres.
Menurut Sarafino (2006) usaha coping sangat bervariasi dan tidak
selalu dapat membawa pada solusi dari suatu masalah yang menimbulkan
situasi stres. Individu melakukan proses coping terhadap stres melalui proses
transaksi dengan lingkungan, secara perilaku dan kognitif. Proses coping
terhadap stres memiliki dua fungsi utama yang terlihat dari bagaimana gaya
menghadapi stres, yaitu :

1) Emotional-Focused Coping.
Coping ini bertujuan untuk melakukan kontrol terhadap respon
emosional terhadap situasi penyebab stres, baik dalam pendekatan
secara behavioral maupun kognitif. Lazarus dan Folkman (1986)
mengemukakan bahwa individu cenderung menggunakan Emotional-
Focused Coping ketika individu memiliki persepsi bahwa stresor yang
ada tidak dapat diubah atau diatasi.

2) Problem-Focused Coping
Coping ini bertujuan untuk mengurangi dampak dari situasi stres
atau memperbesar sumber daya dan usaha untuk menghadapi stres.
Lazarus dan Folkman, mengemukakan bahwa individu cenderung
menggunakan Problem-Focused Coping ketika individu memiliki
persepsi bahwa stressor yang ada dapat diubah.

13. Model Stress dalam Operasi Perdamaian.

Pada model stress ini dijelaskan proses di mana stres ditafsirkan.


Variabel yang disajikan dalam proses ini adalah organisasi, variabel konteks
sosial, dan variabel pribadi. Kepemimpinan adalah contoh dari variabel
konteks sosial di lingkungan militer, sedangkan karakteristik kepribadian
adalah contoh dari variabel pribadi. Semua contoh ini menunjukkan variabel
yang mungkin mempengaruhi bagaimana pemicu stres diproses dalam
lingkungan militer.
13

Dalam proses ini, ada tiga kelas variabel hasil. Ini termasuk kinerja,
penyesuaian sosial, dan kesehatan. Pada konteks militer, tugas dan fungsi
individu dan kelompok dimasukkan di bawah judul “kinerja”. Selain itu,
diperlukan bahwa tentara melakukan tugas fisik dan mental dengan cepat dan
akurat, sambil mempertahankan kinerja yang efektif selama jangka waktu
yang lama di bawah kondisi yang merugikan. Stres dalam militer juga dapat
berkontribusi pada berbagai masalah penyesuaian sosial, seperti
penyalahgunaan alkohol. Akhirnya, menurut model, stres dapat memiliki
pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan fisik dan mental prajurit di
lingkungan militer. Kesehatan anggota pasukan menjadi perhatian militer
karena kesehatan dapat mempengaruhi kinerja dan pencapaian tujuan
organisasi.

14. Moril

Manning mendefinisikan semangat sebagai "antusiasme dan


ketekunan yang mana anggota kelompok terlibat dalam kegiatan yang
ditentukan dari kelompok itu". Britt dan Dickenson mengutip definisi lain, yaitu
"keadaan psikologis pikiran, ditandai dengan rasa kesejahteraan. Berdasarkan
kepercayaan diri dan kelompok primer”. Definisi moril adalah semangat dan
keadaan percaya diri yang positif dari pikiran seorang individu dan motivasi
persisten (kesediaan) untuk terlibat dalam tujuan bersama kelompok,
terutama ketika dihadapkan dengan kondisi yang menantang (seperti operasi
militer).

a. Faktor-faktor yang Memengaruhi Moril.

1) Kohesi.
Kohesi adalah kontributor yang sangat penting untuk moral daripada
sinonim atau terkait tetapi konsep independen. Becker mendefinisikan kohesi
sebagai "... pengikatan kelompok sebagai entitas ke dalam rasa 'we-ness'
14

(identitas kelompok), menghasilkan rasa afiliasi. Ini merupakan indikator


pengalaman kelompok yang positif”. Kohesi dibangun atas dasar
kepercayaan, rasa hormat, dan persahabatan. Dukungan sosial digambarkan
sebagai pengaruh yang menenangkan dari teman, keluarga, dan kenalan -
kelompok utama. Kohesi dapat ditawarkan dalam bentuk saran, bantuan
materi, cinta, rasa hormat, penerimaan atau dukungan emosional. Dukungan
sosial meminimalkan efek stresor lainnya sehingga memastikan keadaan
pikiran yang positif dan motivasi terus-menerus untuk terlibat dalam tujuan
bersama kelompok (moral). Ketika diterima oleh kelompok, prajurit lebih
cenderung merasa penting, layak dan dicintai, dan hasil selanjutnya adalah
tentara yang lebih optimis dan percaya diri yang mampu menyesuaikan diri
dengan lingkungan yang penuh stres. Kebalikannya juga benar: kurangnya
keakraban dengan orang lain dapat memunculkan rasa permusuhan dan
penghinaan. Dalam sebuah penelitian tentang aspek perang yang paling
menakutkan yang dilakukan di antara para prajurit Israel pada tahun 1974,
Shalit menemukan bahwa rasa takut akan bahaya atau kematian dinilai jauh
kurang penting daripada rasa takut membiarkan orang lain jatuh.

2) Esprit de corps.
Esprit de corps didefinisikan sebagai "ikatan antara tentara dan
kelompok sekunder mereka” - di luar ikatan kelompok utama. Prajurit harus
bangga dengan lembaga atau organisasi tempat dia berada dan dapat
mengidentifikasi diri dengan organisasi. Semangat korps adalah bagian dari
apa yang membuat seorang prajurit terus berperang dan berusaha mencapai
tujuan organisasi.

3) Kepemimpinan.

Pemimpin yang dapat menginspirasi, memotivasi dan mempertahankan


moral orang lain adalah inti dari kekuatan militer yang efektif. Seorang
pemimpin yang baik dapat memperkuat dedikasi terhadap misi dan visi dari
unit dengan menunjukkan kinerja yang ditentukan di bawah tekanan. Juga
penting bagi seorang pemimpin untuk menjadi seseorang dengan siapa orang
lain akan bangga untuk berafiliasi. Ini menyiratkan bahwa penampilan fisik
dan keterampilan pemimpin serta keterampilan teknis dan interpersonal harus
menjadi standar yang sangat tinggi. Keamanan, rasa memiliki dan layak
difasilitasi oleh kepemimpinan yang baik sehingga menumbuhkan
kepercayaan diri, yang merupakan karakteristik yang sangat penting dari
seorang prajurit.
Pemimpin kelompok utama memiliki tanggung jawab yang berat untuk
mencapai keseimbangan sempurna antara menanamkan disiplin dan
menghormati hirarki militer di satu sisi, dan menganugerahkan rasa
kekeluargaan, kepedulian, penghargaan terhadap keterampilan dan nilai
prajurit serta kesetiaan pribadi pada lain. Kepemimpinan juga memiliki
pengaruh besar pada semua faktor lain yang memengaruhi semangat kerja.
15

Dengan demikian pemimpin harus mengadopsi gaya kepemimpinan dan


melakukan kegiatan yang mempromosikan kesatuan unit dan moral yang
kuat. Mereka juga harus memproyeksikan keyakinan dan komitmen untuk
tujuan yang lebih besar.

4). Tujuan bersama


Individu bertindak berbeda ketika berhubungan dengan manusia lain
karena mereka akan bertindak ketika mereka sendiri. Manusia 'bersemangat'
dengan kehadiran manusia lain. Jarak dekat saja, bagaimanapun, bukan
merupakan kelompok, sementara tujuan bersama tidak menjadi bagian dari
kelompok dengan tugas tertentu berarti bahwa orang akan berinteraksi
dengan dan mempengaruhi satu sama lain, sehingga mempersepsikan diri
mereka untuk menjadi kelompok dengan tujuan bersama dan berbagi nasib.
Mengetahui tujuan atau sasaran sesuatu membangun motivasi untuk
perilaku tertentu. Melakukan tugas secara membabi buta tanpa mengetahui
tujuan atau signifikansinya mengarah pada kebosanan dan sedikit kepuasan
dalam arti tujuan. Agar kekuatan pertahanan menjadi efektif, tentaranya harus
mengetahui dan memahami tujuan organisasi serta tujuan dan peran spesifik
mereka sendiri dalam misi yang lebih besar. Setiap prajurit harus diyakinkan
akan perlunya berjuang. Ketika kelompok jatuh, mempercayai penyebab yang
sedang diperjuangkan adalah apa yang membuat prajurit tetap dalam
peperangan. Ini menyiratkan bahwa tujuan bersama dan mempercayai
penyebab yang sedang diperebutkan merupakan faktor paling penting kedua
setelah kohesi mempengaruhi moral.

5) Resilience.
Ketahanan memiliki pengaruh pada semangat kerja, terutama dalam
hal motivasi untuk bertahan di tengah-tengah situasi yang menantang.
Ketahanan didefinisikan sebagai "...kemampuan untuk pulih dari atau
menyesuaikan dengan mudah pada kemalangan atau berubah ...". Ketahanan
berarti kemampuan individu untuk mengatasi dalam situasi sulit. Orang yang
tahan uji mengalami lebih banyak harapan, positivisme, dan optimisme secara
keseluruhan dan dengan demikian lebih mampu mengatasi tuntutan (mampu
melewati masa-masa sulit). Orang yang tahan banting juga dapat mempelajari
keterampilan dan pengetahuan baru, dan cenderung menjadi sakit mental
atau fisik selama masa-masa sulit. Penting untuk dicatat bahwa ketahanan
dapat ditingkatkan dan dikembangkan untuk mencapai manfaat baik bagi
individu maupun organisasi.
Mengatasi kesulitan dengan hasil yang berhasil dengan sukses
meningkatkan ketahanan, yang pada akhirnya memungkinkan mengatasi
kesulitan masa depan dengan lebih baik. Berurusan dengan hal-hal yang
menyebabkan stres selama pelatihan adalah cara untuk mengembangkan
ketahanan. Ini adalah kualitas yang dibutuhkan oleh tentara untuk mengatasi
selama operasi militer.
16

Ada juga hubungan antara kepemimpinan yang baik dan keterampilan


mengatasi; dengan demikian, meningkatkan ketahanan. Jika seorang
pemimpin dapat membimbing / nya unit nya melalui situasi yang menantang,
pencapaian mengatasi tantangan seperti membangun ketahanan individual.
Psikolog militer dapat memainkan peran dalam proses pemilihan personil
untuk fungsi-fungsi tertentu di militer dengan penilaian psikometrik untuk
menentukan ketahanan mereka (atau kekuatan ego).

6) Kesiapsiagaan dan pelatihan.


Pelatihan harus mempersiapkan prajurit untuk tuntutan dan tekanan
perang, dan karenanya harus tangguh dan realistis di semua tingkatan.
Selama dalam situasi pertempuran yang sulit tidak ada waktu untuk berdebat
dan memecahkan masalah; melaikan diperlukan tindakan tegas dan cepat.
Marching mengajarkan keseragaman dan mengikuti perintah, meningkatkan
kebugaran dan ketahanan fisik, serta ketekunan dalam situasi yang
membosankan dan kurang menguntungkan.

7) Disiplin.
Disiplin adalah salah satu faktor penting dalam persiapan untuk
penyebaran. Disiplin membangun harga diri dan kepercayaan diri. Tentara
beroperasi dalam kelompok yang membutuhkan kerja sama yang erat, dan ini
membutuhkan rasa saling percaya dan hormat. Disiplin adalah cara untuk
membangun dan mempertahankan kepercayaan dan rasa saling menghormati
satu sama lain karena menunjukkan pertimbangan bagi orang lain. Disiplin
militer juga diarahkan untuk mengajarkan keseragaman - mempromosikan
kerja sama dan mengurangi individualitas dan yang paling penting,
menanamkan resistensi terhadap ketakutan. Demikian juga disiplin
merupakan kontributor terhadap kesatuan unit dan semangat korps. Mengikuti
standar, proses dan tradisi kekuatan pertahanan menunjukkan bukti komitmen
kepada organisasi.

8) Kondisi Kerja.
Lingkungan militer dicirikan oleh kondisi yang menantang. 'Kelelahan
bertempur' adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan titik
dimana sumber daya fisik dan emosional seseorang untuk mengatasi stres
perang telah habis. Kondisi merugikan yang berkepanjangan memiliki efek
negatif pada semangat kerja. Kondisi buruk seperti itu termasuk unsur-unsur
seperti debu, kebisingan, cuaca yang keras, kekurangan makanan dan air
serta kurang tidur. Van Dyk menemukan bahwa kondisi ramai atau kurangnya
privasi, fasilitas wudhu yang tidak mencukupi, beban kerja yang berat dan jam
kerja yang panjang merupakan salah satu penyebab stres operasional utama
bagi tentara. Perencanaan dan pengendalian operasional harus mencakup
upaya untuk meminimalkan kondisi kerja yang merugikan.
17

b. Faktor mengenai musuh yang memengaruhi moril pasukan.

Mengetahui informasi tentang musuh juga merupakan salah satu


prinsip utama yang diajarkan di militer. Terlepas dari faktor-faktor yang
dijelaskan di atas, ada juga faktor-faktor mengenai musuh yang berpengaruh
pada semangat kerja, diantaranya :

1) Kehadiran musuh.
Musuh didefinisikan sebagai "lawan yang dianggap berperilaku dalam
mode yang benar-benar mengancam tujuan kita”. Musuh secara aktif
menantang keadaan atau tindakan yang kita inginkan, dan keuntungannya
dianggap sebagai kerugian kita. Kehadiran musuh dengan niat jahat
menciptakan tujuan bersama dan menimbulkan adanya tekanan kuat untuk
bersatu. Dengan demikian kehadiran musuh memiliki pengaruh positif pada
tingkat moral.

2) Kemampuan musuh.
Kemampuan musuh, seperti persenjataan, pelatihan, kekuatan, order
of battle, dan efisiensi (catatan keberhasilan sebelumnya) bisa memiliki efek
negatif pada semangat kerja. Seperti tingkat moral, doktrin dan taktik,
kepemimpinan, kemampuan mereka untuk mencapai kejutan pada kekuatan
sendiri, dukungan logistik dan sikap penduduk lokal terhadap musuh, jika
musuh dianggap lebih kuat dari pasukan sendiri, tentara mungkin
menganggap pertempuran itu sia-sia dan kurang motivasi untuk terlibat dalam
tujuan organisasi.

3) Kalah dalam pertempuran.


Ini adalah salah satu faktor pemecah moril terbesar dalam perang.
Kekalahan seperti itu termasuk adanya beberapa korban yang artinya
kehilangan anggota kelompok. Ini memiliki pengaruh traumatis besar pada
tentara dan dapat menyebabkan hilangnya motivasi positif untuk bertahan.

4) Tidak ada keyakinan dalam tujuan misi.


Situasi bermasalah lainnya dalam perang terjadi ketika musuh yang
diidentifikasi oleh para pemimpin politik negara tidak dianggap sebagai musuh
oleh para prajurit dalam pertempuran. Apalagi jika prajurit sampai berpikiran
yang disebut UUUU, yaitu the unwilling, led by the unqualified, doing the
unnecessary for the ungrateful yang artinya bahwa mereka yang tidak mau,
dipimpin oleh yang tidak berkualifikasi, melakukan hal yang tidak perlu bagi
yang tidak tahu berterima kasih.
18

5) Operasi psikologis yang dilakukan musuh.


Potensi PsyOps musuh juga akan mempengaruhi moral pasukan
mereka sendiri. Kemampuan musuh dan modus dalam hal ini juga harus
dipertimbangkan, serta bagaimana cara mengatasinya. Meskipun faktor-faktor
ini mengenai musuh mungkin memiliki efek yang serius, hubungan dengan
kelompok utama masih dianggap lebih penting daripada musuh untuk
pemeliharaan moral. Hubungan ini menyiratkan bahwa orang lebih termotivasi
untuk berbuat baik bagi mereka yang mereka nilai daripada menyakiti mereka
yang menentang mereka.
Dengan demikian, maka diperlukan intervensi psikologis terhadap
pasukan untuk menjaga semangat perjuangan. Intervensi tersebut dilakukan
disetiap fase penugasan, dimulai dari fase pre-deployment hingga de-
mobilisation. Intervensi yang dapat dilakukan terhadap pasukan tersebut
meliputi :

 Pendekatan multi-profesional tim (MPT).


 Memperkuat semangat, fokus pada mendukung kekompakan
kelompok, esprit the corps dan disiplin untuk mempertahankan
semangat kekuatan - khususnya setelah periode-periode yang
penuh dengan stres dari para korban.
 Penilaian dan pemantauan moril prajurit.
 Pemberdayaan pemimpin.
 Pemberdayaan anggota dengan pengetahuan tentang faktor-faktor
alternative.
 Dukungan anggota keluarga dan hubungan mereka dengan
anggota di medan perang.
 Mental hygiene, mengacu pada pencegahan energi negatif.

Actions to apply to sustain morale


Factors Psychological plan : activities

 Drill Sustaining
Cohesion morale to
 Physical training
support combat
 Sport day readiness
Esprit de corps
 Songs competition
 Psycho-education
Leadership  Scenario training
 Team building
 Proper information
Shared purpose  Strategic work session
 Strategic vision and goals
Resilience  Psychoeducation
 Family support programs
19

 Communication with family


 Support plans to member’s family
 Psychological debriefing
 Training for specific terrain
 Know the enemy
 Self-confidence in own ability and
Preparedness
weaponry
and training
 Internal competition on fitness, drill,
etc.
 Psychological debriefing
 Zero tolerance on mistakes,
misconduct
Discipline
 Competition for best troop, instructor,
peloton, etc.
 Good food
 Hot water
Working
 Good medical support
conditions
 Sport facilities
 Feeling safe
 Political briefings
 Religion, cultural, language training
 Political support
Environmental
 Know terrain, weather
intelligence
 How to deal with population
 Clear mission goal
 Proper equipment

BAB III
TERAPAN PSIKOLOGI DALAM KEHIDUPAN MILITER TNI AD

15. Umum.

Psikologi Angkatan Darat sebagai salah satu fungsi khusus berperan


menyelenggarakan fungsi psikologi kepada satuan-satuan jajaran TNI AD
sebagai perwujudan dari pembinaan dan penggunaan psikologi .
20

16. Tugas Pokok.

Psikologi Angkatan Darat memiliki tugas pokok menyelenggarakan


pembinaan psikologi prajurit meliputi penyiapan, pengembangan,
pemeliharaan dan perawatan kondisi psikologi prajurit baik secara perorangan
maupun dalam hubungan satuan sehingga terpelihara motivasi, semangat,
psikologi kepemimpinan dan kinerja satuan yang optimal, dalam rangka
mendukung tugas pokok angkatan darat.

17. Fungsi.
Dalam rangka melaksanakan tugas pokoknya, psikologi Angkatan
Darat menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :

a. Fungsi Utama.

1) Penyiapan psikologi. Menyelenggarakan segala usaha,


pekerjaan, dan kegiatan pemeriksaan psikologi dalam rangka
penerimaan, pemilahan dan penyediaan data psikologi yang aktual dari
setiap prajurit dan PNS Angkatan Darat.

2) Pengembangan Psikologi. Menyelenggarakan segala usaha,


pekerjaan dan kegiatan pengembangan kompetensi perilaku, psikologi
kepemimpinan, psikologi manajerial serta keterampilan dan wawasan
psikologi terapan bagi prajurit Angkatan Darat dalam rangka
melaksanakan tugasnya.
3) Pemeliharaan Psikologi. Menyelenggarakan segala usaha,
pekerjaan, dan kegiatan pemeliharaan psikologi prajurit dan iklim
satuan Angkatan Darat agar terpelihara motivasi, semangat,
kepemimpinan dan mendukung tercapainya kinerja satuan yang
optimal.
4) Perawatan Psikologi. Menyelengarakan segala usaha,
pekerjaan, dan kegiatan pencegahan dan penanganan permasalahan
psikologi maupun penyimpangan perilaku yang dihadapi prajurit
Angkatan Darat dan keluarganya agar tercapai kondisi psikologi yang
optimal.

a. Fungsi Organik Militer.

Menyelenggarakan segala usaha, pekerjaan, dan kegiatan yang


berkenaan dengan pengamanan, operasi, personel, logistik teritorial,
perencanaan dan pengawasan kegiatan serta pangkalan psikologi Angkatan
Darat.
21

b. Fungsi Organik Pembinaan.


1) Pembinaan fungsi psikologi. Menyelenggarakan segala usaha,
pekerjaan, dan kegiatan pembinaan kemampuan profesi dan organisasi
psikologi guna mendukung pelaksanaan tugas psikologi Angkatan
Darat.
2) Pembinaan Materiil Psikologi. Menyelenggarakan segala usaha,
pekerjaan dan kegiatan pembinaan penelitian, pengkajian, dan
pengembangan metode, sistem, dan materiil psikologi untuk
memperoleh ketepatan pengukuran.

18. Pembinaan Psikologi.

Keberhasilan pelaksanaan tugas psikologi Angkatan Darat sangat


tergantung pada pembinaan fungsi-fungsinya yang dilaksanakan melalui
penentuan tujuan dan pola pembinaan yang akan dilaksanakan.

a. Pembinaan Dukungan Psikologi Dalam OMP.


1) Operasi Tempur. Menyiapkan tim psikologi dalam pembinaan
penyiapan, pemeliharaan, dan perawatan psikologi bagi prajurit dan
satuan sebelum, selama, dan sesudah operasi tempur.
2) Operasi Intelijen. Menyiapkan tim psikologi dalam pembinaan
penyiapan, pemeliharaan dan perawatan psikologi bagi prajurit dan
satuan sebelum, selama dan sesudah operasi intelijen.
3) Operasi Teritorial. Menyiapkan tim psikologi dalam pembinaan
penyiapan, pemeliharaan dan perawatan psikologi bagi prajurit dan
satuan sebelum, selama dan sesudah operasi teritorial.

b. Pembinaan Dukungan Psikologi Dalam OMSP.


1) Mengatasi gerakan separatis bersenjata. Menyiapkan tim
psikologi dalam mendukung satuan tugas operasi melalui
pengembangan, pemeliharaan dan perawatan kondisi psikologi prajurit
dan satuan serta mempengaruhi kondisi psikologi gerakan separatis
bersenjata.
2) Mengatasi pemberontakan bersenjata. Menyiapkan tim psikologi
dalam mendukung satuan tugas operasi melalui pengembangan,
pemeliharaan dan perawatan kondisi psikologi prajurit dan satuan serta
mempengaruhi kondisi psikologi pemberontakan bersenjata.
3) Mengatasi aksi terorisme. Menyiapkan tim psikologi dalam
mendukung satuan tugas operasi melalui pengembangan,
pemeliharaan dan perawatan kondisi psikologi prajurit dan satuan serta
mempengaruhi kondisi psikologi aksi terorisme.
4) Mengamankan wilayah perbatasan. Menyiapkan tim psikologi
dalam mendukung satuan tugas operasi melalui pengembangan,
22

pemeliharaan dan perawatan kondisi psikologi prajurit dan satuan serta


mempengaruhi kondisi psikologi prajurit diwilayah perbatasan
5) Mengamankan tugas perdamaian dunia sesuai dengan
kebijakan politik luar negeri. Menyiapkan tim psikologi dalam
mendukung satuan tugas operasi melalui pengembangan,
pemeliharaan dan perawatan kondisi psikologi prajurit dan satuan serta
mempengaruhi kondisi psikologi prajurit yang melaksanakan
perdamaian.
6) Memberdayakan wilhan dan kekuatan pendukungnya.
Menyiapkan tim psikologi dalam mendukung satuan tugas operasi
melalui pengembangan, pemeliharaan dan perawatan kondisi psikologi
prajurit dan satuan serta mempengaruhi kondisi psikologi prajurit
diwilayah pertahanan.
7) Membantu pemerintah didaerah. Menyiapkan tim psikologi
dalam mendukung satuan tugas operasi melalui pengembangan,
pemeliharaan dan perawatan kondisi psikologi prajurit dan satuan serta
mempengaruhi kondisi psikologi prajurit untuk membantu pemerintah
daerah.
8) Membantu menanggulangi akibat bencana alam. Menyiapkan
tim psikologi dalam mendukung satuan tugas operasi melalui
pengembangan, pemeliharaan dan perawatan dalam rangka
penanggulangan bencana alam, pengungsian dan pemberian bantuan
kemanusiaan.

BAB IV
PSIKOLOGI KESEHATAN MENTAL

19. Pengelolaan Terhadap Trauma.

Trauma adalah peristiwa yang menyedihkan secara psikologis yang


berada di luar jangkauan pengalaman manusia biasa. Trauma sering
melibatkan rasa takut, dan rasa tidak berdaya. Selain itu, Trauma itu adalah
pengalaman yang menginduksi respon stres yang luar biasa intens dan
berkepanjangan. Dalam keadaan seperti itu dapat merusak tingkat kesehatan
suatu komunitas, misalnya, dalam kondisi perang, bencana, dll.
Trauma memengaruhi pikiran, emosi, perilaku, dan reaksi fisik mereka.
Trauma juga mengacu pada pengalaman yang tak terkendali yang secara
psikologis berdampak pada terciptanya perasaan tidak berdaya, kerentanan,
dan kehilangan kontrol diri. Hasil traumatis ini dapat mengakibatkan gangguan
psikologis seperti ‘Post Traumatic Stress Disorder’, ‘Acute Stress Disorder’
and ‘Combat Stress Reaction’ dalam operasi militer.
23

Peristiwa traumatis atau stres, seperti kondisi perang biasanya


menyebabkan tekanan psikologis di beberapa tentara. Gejala-gejala tersebut
dapat dengan mudah kita pahami dengan berdasarkan kecemasan atau rasa
takut. Kasujja dan Van Dyk (2013) menyebutkan bahwa trauma dapat
memberi dampak terhadap emosi, kognitif dan perilaku prajurit. Saddock,
menjelaskan perbedaan dimensi dari trauma yang terjadi pada prajurit,
meliputi :
a. Affect, yaitu sering mengalami gangguan seperti mood swing, depresi,
kecenderungan bunuh diri dan mudah marah.
b. Impulse control, yaitu gangguan dalam mengontrol dorongan yag
mengarah pada pengambilan resiko, penyalahgunaan obat-obatan terlarang,
perilaku merusak diri seperti memotong pergelangan tangan.
c. Gangguan makan yang mengarah pada body image dan kebingungan
identitas diri.
d. Frequent somatisation, seperti marah yang meledak-ledak, konflik
psikis, dan terus menerus merasa bersalah.

20. Pendekatan Pencegahan Untuk Manajemen Trauma Dan Pengobatan.

Pendekatan ini mendasar pada model Job Demand-Resources dari


Baker dan Demoruti yang berfokus pada permintaan dan sumber daya yang
ada pada individu prajurit untuk pekerjaan yang spesifik. Dalam penerapannya
di militer, pendekatan ini berfokus pada beberapa dimensi yang meliputi :
a. Assessment and proper job fit pada prajurit, melakukan penilaian dan
kecocokan yang tepat antara kemampuan prajurit dan kebutuhan pekerjaan.
b. Memperhitungkan faktor resiko yang akan dialami agar dapat
mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
c. Memperhatikan peran ketahanan dan kepemimpinan dalam
pencegahan trauma dengan memberikan pelatihan-pelatihan yang dapat
meningkatkan kemampuan yang dimiliki.
d. Memberikan psiko-edukasi, seperti dengan memberikan pengetahuan
gejala-gejala psikis dan cara manajemen gangguan yang terjadi.

21. Psychological Debriefing.

Psychological debriefing adalah intervensi jangka pendek dan singkat yang


bertujuan untuk mengurangi tekanan jangka panjang dan mencegah munculnya
stres pasca trauma. PD juga telah didefinisikan sebagai kegiatan kelompok yang
terstruktur dan terencana yang diselenggarakan untuk meninjau secara rinci fakta,
pikiran, kesan dan reaksi setelah insiden kritis. PD diimplementasikan dalam waktu
tiga hari setelah peristiwa traumatis, intervensi kelompok dilakukan oleh tenaga
profesional dari kesehatan mental.
Psychological debriefing bertujuan untuk mencegah perkembangan
respon stres abnormal dan mencoba untuk mempromosikan respon stres
24

yang normal. Selain itu, PD bertujuan untuk mencegah efek setelah trauma,
seperti PTSD dan CSR, merangsang kohesi kelompok, menormalkan reaksi,
mempercepat pemulihan normal, merangsang ventilasi emosional dan
mempromosikan pegangan kognitif pada situasi.
Terdapat beberapa model pelaksanaan psychological debriefing,
dimana setiap model memiliki ciri khasnya masing-masing. Beberapa model
dari psychological debriefing diantaranya :

a. Mitchell’s Model.
Mitchell mengembangkan salah satu model PD dengan model aslinya
terdiri dari "paket intervensi krisis multi-komponen yang komprehensif,
sistematis dan terintegrasi". Paket ini dikembangkan untuk penggunaan
intervensi individu maupun kelompok. Model ini dikenal sebagai model CISM.
Model CISM terdiri dari banyak elemen termasuk pendidikan pra-krisis,
penilaian, menjinakkan, CISD dan spesialis tindak lanjut. CISD adalah
pendekatan terstruktur yang terdiri dari tujuh fase. Fase-fase ini termasuk
yang berikut:
1) Fase pengantar, peserta diperkenalkan ke model CISD dan
komponennya. Mereka juga diberitahu bahwa kerahasiaan berlaku
untuk seluruh sesi dan bahwa mereka seharusnya merasa bebas untuk
mengatakan apa pun yang mereka inginkan.
2) Fase faktual, tujuannya adalah untuk menetapkan fakta-fakta
dari insiden tertentu. Ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan
spesifik.
3) Fase pemikiran, peserta didorong untuk mendiskusikan makna
pribadi acara tersebut bagi mereka
4) Fase reaksi, peserta mendiskusikan reaksi emosional, fisik dan
perilaku yang dihasilkan dari peristiwa traumatis. Ini adalah fase
terdalam dari PD.
5) Fase penilaian gejala, fasilitator akan mencari gejala fisik, emosi,
kognitif atau perilaku PTSD dan gangguan psikologis lainnya yang
terkait dengan peristiwa traumatic
6) Fase informasi, fasilitator memberikan saran khusus mengenai
reaksi yang dapat diharapkan oleh individu sebagai akibat dari stressor
7) Fase re-entry, semua masalah yang dibahas dirangkum dan
perhatian lebih lanjut diberikan untuk masalah tertentu jika diperlukan

b. Dyregrov’s Model.
Model Dyregeov ini dibuat berdasar dari model Mitchell, hanya terdapat
3 perbedaan utama antara dua model ini, diantaranya :
1) Model Mitchell memulai diskusi dengan di mana peristiwa
traumatis dimulai, sedangkan Dyregrov memulai diskusinya dengan
menggali apa yang terjadi sebelum peristiwa itu terjadi.
2) Dyregrov fokus pada proses pengambilan keputusan kognitif
individu saat kejadian tersebut terjadi.
25

3) Dyregrov juga fokus pada informasi sensorik dengan


mengajukan pertanyaan seperti 'Apa yang Anda dengar, cium, rasakan
dan lihat?’. Dyregrov lebih menekankan pada reaksi dan tanggapan
individu daripada model Mitchell.

c. Raphael’s Model.
Raphael memulai proses pembekalan dengan berfokus pada faktor-
faktor sebelum peristiwa traumatis. Namun, fokusnya lebih pada pelatihan dan
persiapan individu yang diterima sebelum kejadian. Modelnya juga
menyarankan beberapa area yang mungkin berguna selama intervensi,
seperti :
1) Pemicu stres yang dialami orang tersebut secara pribadi, seperti
konflik kematian dan orang yang selamat.
2) Frustrasi yang dapat meningkatkan stressor. Misalnya,
keterampilan, pelatihan, atau peralatan yang tidak memadai yang dapat
membantu mencegah insiden tersebut.
3) Hubungan khusus dengan teman dan kolega yang mengalami
kejadian yang sama

d. Frontline Treatment.
Model ini didasarkan pada prinsip kedekatan dan harapan di mana
harapannya adalah bahwa tentara akan kembali ke tugas aktif sesegera
mungkin. Model ini mengikuti panduan sebagai berikut:
1) Temui kebutuhan fisiologis individu terlebih dahulu.
2) Beri tindakan bagi individu sesegera mungkin.
3) Sediakan bantuan sementara dari stressor.
4) Gunakan kontak manusia untuk meyakinkan, mengklarifikasi
dan berbagi emosi.
5) Memanusiakan dan melegitimasi ketakutan.
6) Biarkan ekspresi kesedihan, rasa bersalah dan rasa malu, tetapi
tantanglah depresiasi diri.
7) Sampaikan kepada individu harapan pemulihan penuh dan
kembali ke tugas.
8) Promosikan dukungan sosial yang akan memungkinkan
reintegrasi korban di dalam unitnya.
9) Jangan mengubah status prajurit sebagai anggota tim tempur
sampai upaya yang tepat untuk membalikkan dampak traumatis dari
stres telah dibuat dan terbukti tidak berhasil.

e. Battlemind, psychological debriefing with focus on time-driven


Battlemind Psychological Debriefing.
26

Time-Driven Battlemind Psychological Debriefing model terdiri dari lima


fase yang meliputi :
1) Fase pengenalan, memperkenalkan program dan tujuannya
serta memberi harapan positif untuk program ini. Selama fase ini aturan
dasar untuk sesi juga ditetapkan. Penting bagi fasilitator untuk
menjelaskan kepada peserta bahwa mereka harus kembali bertugas
setelah sesi selesai.
2) Fase peristiwa, fasilitator menetapkan peristiwa yang telah
menempatkan unit di bawah tekanan. Fasilitator meminta para anggota
untuk mendiskusikan satu atau dua peristiwa khusus yang mungkin
terjadi selama penempatan yang mungkin sulit bagi mereka untuk
dipikirkan. Fasilitator harus mengumpulkan sebanyak mungkin
informasi tentang insiden dari kelompok, tetapi tidak boleh membiarkan
kelompok terlalu terlibat dalam satu titik.
3) Fase reaksi, meminta peserta berbagi reaksi mereka untuk
menormalkan reaksi mereka. Fase ini dimulai dengan berfokus pada
respon kognitif anggota dan berlanjut ke tanggapan emosional mereka.
4) Fase self-help dan buddy-aid, berfokus pada identifikasi tiga
gejala utama: kemarahan, penarikan diri dan masalah tidur. Tujuannya
adalah untuk menormalkan gejala-gejala ini.
5) Fase fokus battlemind. Berfokus pada membantu kelompok
menjadi siap secara psikologis untuk melanjutkan penyebaran mereka.

22. Manajemen PTSD Dalam Angkatan Militer.

PTSD (post-traumatic stress disorder) adalah gangguan kecemasan


yang dapat terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang
menakutkan/mengerikan, sulit dan tidak menyenangkan dimana terdapat
penganiayaan fisik atau perasaan terancam (American Psychological
Association, 2004). PTSD termasuk kategori gangguan kecemasan yang
membuat penderitanya tidak bisa melupakan atau sebaliknya tidak mau
mengingat pengalaman traumatis tersebut, serta berpikir negatif terhadap diri
sendiri dan dunia sekitarnya. Kondisi ini umumnya ditandai dengan mimpi
buruk, merasa terisolir, kesal, memiliki perasaan bersalah, sulit
berkonsentrasi, serta sulit tidur atau insomnia. Peristiwa yang dapat
dikategorikan sebagai peristiwa traumatik. Pada umumnya mengandung tiga
buah elemen sebagai berikut (Jaffe, Segal, & Dumke, 2005) :

a. Kejadian tersebut tidak dapat diprediksi (It was unexpected)


b. Orang yang mengalami kejadian tersebut tidak siap dihadapkan pada
kondisi kejadian demikian (The person was unprepared)
c. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang tersebut untuk mencegah
terjadinya peristiwa tersebut (There was nothing the person could do to
prevent it from happening)
27

Pengalaman hidup apapun yang terlalu "mengguncang" dapat memicu


PTSD, terutama jika peristiwa tersebut dilihat sebagai sesuatu yang tidak
dapat diduga dan dikendalikan / dikontrol (Smith & Segal. 2008). Smith &
Segal menyebutkan peristiwa traumatik yang dapat mengarah kepada
munculnya PTSD termasuk:
a. Perang (War)
b. Pemerkosaan (Rape)
c. Bencana alam (Natural disasters)
d. Kecelakaan mobil / Pesawat (A car or plane crash)
e. Penculikan (Kidnapping)
f. Penyerangan fisik (Violent assault)
g. Penyiksaan seksual / fisik (Sexual or physical abuse)
h. Prosedur medikal - terutama pada anak-anak (Medical procedures -
especially in kids)

Secara umum gejala PTSD dibagi menjadi tiga macam, yaitu:


a. Intrusive symptoms, secara berkelanjutan memiliki pikiran atau ingatan
yang tidak menyenangkan mengenai peristiwa traumatik tersebut.
Terulangnya bayangan mental akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami.
b. Avoidance symptoms, berusaha keras untuk menghindari pikiran,
perasaan atau pembicaraan, menghindari tempat atau orang-orang yang
dapat mengingatkan kembali mengenai peristiwa traumatik tersebut.
c. Hyper-arousal symptoms, sulit untuk tidur atau tidur tapi dengan
gelisah, mudah/lekas marah atau meledak-ledak, memiliki kesulitan untuk
berkonsentrasi, selalu merasa seperti sedang diawasi atau merasa seakan-
akan bahaya mengincar di setiap sudut, menjadi gelisah, tidak tenang, atau
mudah "terpicu"/sangat "waspada", terlalu siaga/waspada yang disertai
ketergugahan/keterbangkitan secara kronis.
Jika PSTD tidak ditangani dengan benar, maka akan mempengaruhi
kepribadian seseorang (perubahan kepribadian). Seperti paranoid (mudah
curiga) misalnya. Kesulitan hal ini adalah jarang sekali penderita dengan
kesadarannya datang ke para ahli. Apalagi stigma yang beredar di
masyarakat bahwa psikiater identik dengan orang sakit jiwa atau gila. Jenis
tingkatan PTSD, Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) terbagi atas tiga
jenis, yaitu:
a. PTSD akut, yaitu dimana tanda dan gejalanya terjadi pada rentang
waktu 1-3 bulan. Namun, biasanya berakhir dalam kurun waktu satu bulan.
Jika dalam waktu lebih dari satu bulan, individu tersebut harus segera
menghubungi pelayanan kesehatan terdekat.
b. PTSD kronik, yaitu dimana tanda dan gejalanya berlangsung lebih dari
tiga bulan dan jika tidak ada treatment yang dilakukan maka dapat bertambah
berat sehingga akan mengganggu kehidupan sehari-hari orang tersebut.
c. PTSD with delayed onset, walaupun sebenarnya tanda dan gejala
PTSD muncul pada saat setelah trauma, ada kalanya tanda dan gejalanya
baru muncul minimal enam bulan bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa
28

traumatik itu terjadi. Hal ini timbul pada saat memperingati hari kejadian
traumatis tersebut atau bisa juga karena individu mengalami kejadian
traumatis lain yang akan mengingatkan dia terhadap peristiwa traumatis masa
lalunya (APA, 2000; Sadock & Sadock, 2007 dalam Erwina, 2010).

23. Dampak dan Pengelolaan PTSD dalam Militer dan Kesejahteraan Sosial

PTSD berpotensi menyebabkan personel yang mengalami PTSD


meninggalkan pekerjaan utama mereka. Dilema tentara yang tidak mau mencari
bantuan sebagai akibat dari stigma yang mungkin melekat untuk mendapatkan
bantuan psikologis setelah peristiwa traumatis. Apabila dikaitkan dengan
kekhawatiran konsekuensi karir yang merugikan, pelayanan terhadap gejala
kejiwaan dan stigma yang terkait dengan penyakit mental di unit pelayanan yang
telah membuat penderita PTSD enggan memeriksan gangguan yang dialaminya.
Dilihat menurut sifatnya, dalam kehidupan militer bergantung pada ketersediaan dan
kemampuan personelnya untuk menjalankan misinya, namun efek psikologis dari
peristiwa traumatis pada tentara dapat menghambat pelaksanaan tugasnya tersebut.
Sehingga hal tersebut mendorong kebutuhan untuk melakukan pemeriksaan rutin
terhadap personel militer yang masih tugas aktif terkait trauma dan gejala PTSD,
depresi dan penggunaan zat terlarang. Dampak PTSD juga dapat terjadi di tingkat
masyarakat dan mempengaruhi anggota keluarga militer karena PTSD
memnyebabkan perubahan pada sikap dan perilaku dari penderita.
Sebuah model yang berguna yang dapat dilakukan secara konsisten guna
mengelola ancaman PTSD di kalangan militer khususnya prajurit yang hendak tugas
operasi. Pengelolaan tersebut dimulai dari penyaringan pra-penyebaran, pelatihan
kesadaran, konseling pasca-insiden, skrining dan penilaian pasca-penyebaran,
pembekalan dan penilaian tindak lanjut yang dilengkapi dengan psikoedukasi
berkelanjutan. Pentingnya penyaringan pra-penyebaran sebagai strategi
pencegahan terbaik dalam menghindari PTSD dibahas, terutama sebelum
penyebaran (hal. 206), mencatat bahwa sebagian besar tentara tidak menyadari
penyebab dan gejala PTSD, dan kesadaran bahwa pelatihan keterampilan dan
wawasan kritis untuk mengidentifikasi, mengelola, mengoordinasi, dan memfasilitasi
insiden dan gejala PTSD di tingkat komandan bawah sangat diperlukan sebelum
situasi menjadi kritis.

BAB V

KEPEMIMPINAN MILITER
29

24. Kepribadian Pemimpin

Para pemimpin masa depan harus dilengkapi dengan keterampilan dan


kompetensi yang berkaitan dengan peningkatan kecerdasan emosional untuk
memastikan perdamaian dan stabilitas atas yang dipimpinnya. Peran dan
struktur kepribadian dari individu pemimpin sangat memengaruhi ia dalam
menentukan arah langkah kepemimpinannya.
Menurut Teori Kepribadian Jung, Personality atau kepribadian berasal
dari kata persona yang merujuk pada topeng yang biasa digunakan paran
pemain sandiwara di zaman Romawi. Kata personality dalam bahasa Inggris
berasal dari bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya
‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam theater. Para artis itu bertingkah laku
sesuai dengan ekspresi topeng yang dipakainya, seolah-olah topeng itu
mewakili ciri kepribadian tertentu. Jadi konsep awal pengertian personality
(pada masyarakat awam) adalah tingkah laku yang ditampakkan ke
lingkungan sosial- kesan mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkap
oleh lingkungan sosial. Menurut Jung, kepribadian adalah kesatuan yang di
dalamnya terdapat semua pikiran, perasaan dan tingkah laku baik yang
disadari maupun tidak disadari yang saling berinteraksi satu sama lainnya.
Struktur kepribadian yang ia sebut psyche menurut Jung terdiri dari :

a. Ego.

Ego merupakan jiwa sadar yang terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran
dan perasaan-perasaan sadar. Ego bekerja pada tingkat conscious. Dari ego
lahir perasaan identitas dan kontinuitas seseorang. Ego seseorang adalah
gugusan tingkah laku yang umumnya dimiliki dan ditampilkan secara sadar
oleh orang-orang dalam suatu masyarakat. Ego berperan penting dalam
menentukan persepsi, pikiran, perasaan dan ingatan yang bisa masuk
kedalam kesadaran. Ego merupakan bagian manusia yang membuat ia sadar
pada dirinya.

b. Personal Unconscious.

Struktur psyche ini merupakan wilayah yang berdekatan dengan ego.


Terdiri dari pengalaman-pengalaman yang pernah disadari tetapi dilupakan
dan diabaikan dengan cara repression. Pengalaman-pengalaman yang
kesannya lemah juga disimpan kedalam personal unconscious. Penekanan
kenangan pahit kedalam personal unconscious dapat dilakukan oleh diri
sendiri secara mekanik namun bisa juga karena desakan dari pihak luar yang
kuat dan lebih berkuasa. Pengalaman yang tidak disetujui ego untuk muncul
kepada kesadaran tidak hilang tetapi disimpan dalam personal
[Link] unconscious berisikan pengalaman pengalaman yang
ditekan, dilupakan, dan yang gagal menimbulkan kesan sadar.

c. Collective Unconscious.
30

Konsep asli Jung yang paling kontroversial, merupakan suatu sistem


psikis yang paling kuat dan paling berpengaruh pada kasus-kasus patologik
yang mengungguli ego dan ketidaksadaran pribadi. Isi utama dari
ketidaksadaran kolektif adalah arsetip yang dapat muncul ke kesadaran dalam
wujud simbolisasi.

Collective unconscious terdiri dari beberapa Archetype, yang


merupakan ingatan ras akan suatu bentuk pikiran universal yang diturunkan
dari generasi ke generasi. Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran-
gambaran yang berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan, yang dianut oleh
generasi tertentu secara hampir menyeluruh dan kemudian ditampilkan
berulang-ulang pada beberapa generasi berikutnya. Beberapa archetype yang
dominan seakan terpisah dari kumpulan archetype lainnya dan membentuk
satu sistem sendiri. Collective unconscious merupakan kesadaran yang
bersifat universal yang membentuk kepribadian seseorang diantaranya:
1) Persona yang merupakan topeng yang dipakai manusia sebagai
respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat
serta terhadap kebutuhan archetypal sendiri.
2) Anima & Animus merupakan elemen kepribadian yang secara
psikologis berpengaruh terhadap sifat bisexual manusia. Anima adalah
archetype sifat kewanitaan / feminine pada laki-laki, sedangkan Animus
adalah archetype sifat kelelakian / maskulin pada perempuan.
3) Shadow adalah archetype yang terdiri dari insting-insting primitif
dari seseorang, sisi gelap individu.
4) Self, yang secara bertahap menjadi titik pusat dari kepribadian
yang secara psikologis didefinisikan sebagai totalitas psikis individual
dimana semua elemen kepribadian terkonstelasi disekitarnya. Self
membimbing manusia kearah self-actualization, merupakan tujuan
hidup yang terus-menerus diperjuangkan manusia tetapi jarang
tercapai.

25. Pemimpin yang Sukses dengan Kecerdasan Emosi dan Modal Psikologis
(Psychological Capital).

Agar sukses dalam memimpin, ternyata tidak cukup hanya cerdas pikiran
saja. Orang-orang yang karirnya sukses, ternyata bukan orang yang paling cerdas,
ada orang yang demikian pandai, namun begitu ia bicara, ia malah selalu menyerang
pendapat orang lain. Ketika selesai berbicara dengan orang itu, energi mereka sering
terkuras habis. Karirnya tidaklah berkembang pesat. Sebaliknya, ada orang yang
peduli, baik, pandai memperhatikan perasaan orang lain, dan orang inilah yang
ternyata karirnya berkembang cepat. Kecerdasan emosi dan psikologi kapital yang
dimiliki sang pemimpin lah yang membuatnya sukses menjadi seorang pimpinan.

a. Kecerdasan Emosi
31

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam memonitor


perasaan dan emosinya baik pada dirinya maupun orang lain. Ia akan mampu
membedakan dua hal itu, dan kemudian menggunakan informasi itu untuk
membimbing pikiran dan tindakannya. Kecakapan ini ternyata mampu mendukung
kinerja melalui dimensi penilaian diri (self awareness), pengaturan diri (self control),
motivasi (motivation), empati (emphaty), dan keahlian sosial (social skill).
Penilaian diri yang akurat ini mendorong timbulnya semangat juang,
pandangan jauh, mempertinggi tujuan hidup seseorang, dan mampu
memberikan arah dan arti dalam kehidupan ini. Pengaturan diri, yang
dinamakan dengan pengelolaan keadaan dan impuls internal, akan memicu
perasaan positif, dan di saat yang sama dapat menekan perasaan negatif.
Kecerdasan emosi adalah istilah untuk mendeskripsikan serangkaian
kemampuan, kompetensi, dan ketrampilan non-kognitif yang mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk berhasil menghadapi tuntutan dan tekanan
lingkungan. Oleh karena itu, kecerdasan emosi merupakan faktor penting
dalam menentukan kemampuan seseorang untuk berhasil dalam hidupnya.
Kecerdasan emosi dewasa ini dipandang sebagai hal yang mendasar untuk
bertahan di lingkungan kerja dan merupakan kemampuan utama dalam
kepemimpinan dan manajerial.

b. Modal Psikologis (Psychological capital).

Modal Psikologis (Psychological capital) didefinisikan sebagai keadaan


perkembangan psikologis individu yang positif yang ditandai oleh (1) memiliki
keyakinan (self efficacy) untuk mengambil dan menempatkan upaya yang
diperlukan untuk berhasil dalam tugas-tugas yang menantang; (2) membuat
atribusi postif (optimism) tentang keberhasilan sekarang dan di masa depan;
(3) tekun menuju tujuan dan ketika diperlukan mengarahkan kembali ke tujuan
(hope) agar berhasil; dan (4) ketika dilanda oleh masalah dan kesulitan,
mempertahankan dan bangkit kembali (resilience) untuk mencapai sukses.
1) Self Efficacy, efikasi diri mengacu pada keyakinan akan kemampuan
individu untuk menggerakkan motivasi, kemampuan kognitif, dan tindakan
yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan situasi (Bandura dan Woods)
efikasi diri secara umum menggambarkan suatu penilaian dari seberapa baik
seseorang dapat melakukan suatu perbuatan pada situasi yang beraneka
ragam.
2) Optimism, adalah suatu pandangan secara menyeluruh, melihat hal
yang baik, berpikir positif dan mudah memberikan makna bagi diri. Individu
yang optimis mampu menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari yang telah
lalu, tidak takut pada kegagalan, dan berusaha untuk tetap bangkit mencoba
lagi bila kembali gagal.
3) Hope yaitu harapan, dimana dimensi hope ini memberikan kontribusi
yang signifikan dengan positive PsyCap dan telah menunjukkan bahwa
perannya dalam tempat kerja itu penting. Selain itu, Youssef dan Luthans
32

(2007) menemukan bahwa hal tersebut memiliki efek positif pada employee
satisfaction, organizational commitment dan work happiness.
4) Resiliency didefinisikan sebagai kemampuan orang untuk
memanipulasi lingkungan mereka dengan sukses untuk melindungi mereka
dari konsekuensi negatif dari kejadian buruk. Resiliency yang juga
berkontribusi positif terhadap performance dan work engagement karena
orang yang mempunyai resiliency tinggi mempunyai kemungkinan dapat
bertahan pada saat keadaan sesulit apapun dan bangkit kembali untuk
mencapai tujuan utama.

BAB VI
KESIAPAN TEMPUR MILITER

26. Kesiapan Prajurit Tempur

Dalam kehidupan realitas dari konflik tidak dapat diprediksi, ancaman bahaya,
situasi kritis, ragam serangan bisa datang sewaktu-waktu. Maka dari itu kesiapan
tentara untuk siap tempur dan siap terlibat dalam penugasan luas termasuk dalam
wilayah perdamaian perlu diperhatikan dan dipersiapkan. Seperti tentara yang
bertugas dalam misi perdamaian terlepas dari tujuan operasi perdamaian adalah
untuk memastikan resolusi dan permukiman yang damai, banyak operasi
perdamaian di Afrika meningkat menjadi situasi konflik. Dalam situasi seperti ini, misi
operasi perdamaian menjadi konflik bersenjata dimana tentara diminta untuk terlibat
dalam kekerasan dan brutal.

a. Kesiapan Prajurit

Tingkat kesiapan prajurit dipersiapkan secara psikologis dan fisik


melalui pelatihan dan intervensi psikologis yang ditujukan untuk
mengembangkan kemampuan seorang prajurit guna melakukan tugas militer
yang diberikan dengan baik. Deployment Readiness Quick Reference Guide
menyatakan bahwa “prajurit yang terlatih dan dilengkapi dengan baik, disiplin,
mental dan fisik yang tangguh, cerdas, fleksibel, dan penuh kasih akan
mewakili keefektifan kekuatan dan kemampuan masa depan”
Tentara berkualitas tinggi, termotivasi dan terlatih dalam jumlah dan
peringkat yang diperlukan sangat penting bagi CR (Dunn, 2013). Tingkat
kesiapan prajurit didukung oleh komponen seperti kesiapan personel,
kesiapan material, kesiapan unit dan keadaan pikiran prajurit. Griffith
berpendapat bahwa perilaku pemimpin yang positif, seperti pertimbangan,
rasa hormat, dan pengakuan, berfungsi sebagai peningkatan terhadap
kesejahteraan dan identifikasi seorang tentara dengan pemimpin, unit, dan
organisasi militer. Ada sejumlah faktor yang berperan saat menentukan
33

pengaruh kepemimpinan dalam operasi militer. Kehadiran seorang pemimpin


dianggap memiliki atribut seperti:
1) Military bearing yang dilihat sebagai proyeksi kehadiran komandan
yang memberi perintah dan citra profesional otoritas
2) Kebugaran fisik yaitu memiliki tubuh yang sehat, memiliki kekuatan,
dan ketahanan yang sehat, kemampuan untuk mempertahankan kesehatan
emosional dan kemampuan berpikir konseptual di bawah tekanan yang
berkepanjangan.
3) Tersusun dan percaya diri memproyeksikan kepercayaan diri dan
keyakinan dalam kemampuan unit untuk berhasil dalam apa pun yang
dilakukannya, mampu menunjukkan ketenangan melalui pengendalian emosi
yang stabil.
4) Ketahanan seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk pulih
dengan cepat dari kemunduran, guncangan, cedera, stres dan kesulitan
sambil mempertahankan misi dan fokus organisasi.

b. Kesiapan Materi.

Peralatan fungsional yang terawat dan bisa diandalkan sangat penting


untuk keberhasilan suatu operasi. Dunn (2013) berpendapat bahwa peralatan
yang tidak dapat diandalkan dapat menghambat keefektifan dan efisiensi
prajurit yang paling termotivasi dan terampil. Oleh karena itu penting bagi
militer untuk memastikan perawatan peralatan. Ini memerlukan perawatan
terus menerus dan perbaikan peralatan.
Persepsi tentara untuk menjadi prajurit yang siap tempur tidak cukup
hanya percaya dengan kemampuannya sendiri tetapi juga kepercayaan
terhadap sumber daya yang diberikan yaitu alat peralatannya. Misalnya dalam
pelaksanaan patroli, prajurit akan merasa mantap ketika ia bisa membawa
senjata yang sudah dipastikan dalam keadaan baik dan bisa diandalkan.
Pengetahuan tentang kemudahan servis berfungsi untuk meringankan beban
pikiran prajurit dan meningkatkan kepercayaan diri prajurit (perasaan siap
beraksi). Ada dua faktor yang terlibat dalam kesiapan peralatan yaitu jumlah
dan jenis peralatan yang digunakan dan status operasional peralatan.

c. Kesiapan Unit

Dari perspektif militer, orang tidak dapat melihat kesiapan tempur


dengan hanya peduli pada level individu dan tidak melihat unit secara
keseluruhan. Konsep kesiapan tempur adalah keadaan kesiapan di mana unit
melakukan peran yang ditugaskan. Unit kesiapan mengacu pada
"kemampuan unit untuk memberikan output yang dirancang". Kesiapan unit
dapat dipengaruhi oleh banyak faktor yang dapat dianalisis secara subyektif
dan obyektif. Blankmeyer mengatakan bahwa faktor-faktor ini dapat bervariasi
mulai dari peningkatan tempo operasional hingga jumlah dana pelatihan yang
tersedia, retensi personil dengan keterampilan khusus dan kualitas rekrutan
34

baru. Faktor yang menarik untuk penelitian ini diantaranya pelatihan, kesatuan
unit dan kinerja unit dalam persiapan untuk operasi perdamaian.
Pelatihan tidak hanya membahas komponen fisik prajurit, namun
Pelatihan juga mengembangkan disiplin, ketahanan, kesatuan unit, dan
toleransi untuk ketidakpastian. Komandan bertanggung jawab untuk melatih
unit bawahan langsung mereka karena komandan memiliki wewenang untuk
menciptakan kondisi pelatihan yang meminta bawahan agar memulai sendiri
dan kreatif mengatasi tantangan baik dalam kehidupan militer. Kesiapan unit
membutuhkan waktu dan perencanaan yang tepat serta yang paling penting
adalah membuat pelatihan sepraktis mungkin dengan situasi nyata yang akan
digunakan oleh tentara (Dunn, 2013), dan jenis peralatan yang sesuai dengan
lingkungan sangat penting.
Pelatihan untuk standar yang tinggi sangat penting baik dalam masa
damai dan perang. Walsh mengatakan, "tentara dan unit akan bertarung
sebaik atau semiskin mereka dilatih". Setiap operasi pemeliharaan
perdamaian menawarkan kondisi unik yang dapat mempengaruhi kemampuan
tempur secara berbeda, tergantung pada sifat (seperti pergeseran tiba-tiba
dari pemeliharaan perdamaian ke penegakan perdamaian), durasi dan
variabel lain yang terlibat dalam operasi, keterampilan yang berbeda-beda
seperti prajurit dari unit penggelaran.

27. Kesiapan Keadaan Pikiran.

Bester dan Stanz (2007) mengandaikan bahwa ketika mempersiapkan


operasi, kekuatan militer berutang sebanyak keadaan pikiran tentara seperti
halnya untuk pelatihan dan peralatan operasionalnya. Kompleksitas operasi
membutuhkan tentara yang secara fisik dan psikologis siap untuk menahan
bencana yang disajikan oleh operasi dan kemungkinan tantangan non-militer
(seperti pemisahan dari orang yang dicintai).
Ketakutan dan reaksi tentara terhadap lingkungan yang tidak dapat
diprediksi tersebut dipengaruhi oleh tingkat kesiapan, keadaan pikiran prajurit
dan tingkat ketangguhan pada saat itu. Penelitian menunjukkan bahwa
dukungan dari istri / pasangan dan unit militer, terutama kepemimpinan,
memiliki pengaruh yang besar pada kesiapan tempur prajurit dan kemampuan
untuk berhasil dalam operasi. Meskipun hubungan yang harmonis antara
keluarga prajurit dan unit dalam mempertahankan keadaan pikiran prajurit
untuk mencapai siap tempur, diakui bahwa baik unit dan pasangan menuntut
komitmen emosional dan energi prajurit.
Konflik antara kebutuhan unit dan kebutuhan pasangan dapat
menghambat kelincahan mental prajurit yang penting bagi kesiapan tempur.
Beberapa dimensi yang mempengaruhi keadaan pikiran prajurit tidak terbatas
pada batin/psikis, kekuatan ego, kepercayaan diri, self-efficacy, sifat tahan
banting, kesopanan dan komponen lain dari kepribadian (Parrewė & Ganster,
2011). Komponen psikologis ini berdampak pada kesediaan prajurit untuk
35

bertempur, sebuah kekuatan komitmen di mana seorang prajurit siap mati


untuk unit dan negaranya.

28. Faktor Yang Terlibat Dalam Kesalahan Combat.

Penelitian menunjukkan bahwa dukungan dari pasangan suami-istri


dan unit militer, terutama kepemimpinan, memiliki pengaruh besar pada CR
prajurit dan kemampuan untuk berhasil dalam operasi.

a. Hubungan prajurit dengan pasangan.

Sebagai keluarga, prajurit dan pasangan hidup, berfungsi dengan cara


sistemik di mana kedua belah pihak berbagi ikatan emosional, memberikan
kepuasan bersama untuk kebutuhan masing-masing tanpa mengorbankan
lingkungan emosional yang diperlukan untuk pertumbuhan. Anggapan ini
terutama berlaku untuk keluarga Afrika di mana interaksi antara anggota
keluarga didasarkan pada batas dan peran yang telah ditetapkan secara hati-
hati yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Kirkland dan Katz
mengungkapkan sinergi positif yang tercipta diantara unit dan keluarga yang
dialami oleh prajurit adalah sinergi yang didapat oleh prajurit untuk
memperkuat kemampuannya dan berfungsi dengan sukses.
Peningkatan fungsi prajurit meningkatkan tingkat kinerja unit dan
stabilitas keluarga. Ketika ada unit yang terintegrasi dengan baik dan integrasi
keluarga yang stabil di mana peningkatan prajurit yang optimal akan terjadi.
Keluarga yang telah dipersiapkan dengan baik, diinformasikan dan stabil di
masa lalu terbukti menjadi instrumental dalam penciptaan tentara yang siap
tempur. Pasangan yang tinggal di rumah bisa bangga dan percaya diri dalam
kemampuannya menangani urusan keluarga selama penempatan tentara.

b. Hubungan prajurit dengan Unit.


36

Menurut Bartone, unit prajurit dapat mempengaruhi bagaimana pengalaman


ditafsirkan. Hubungan prajurit dengan unitnya sangat penting bagi keadaan pikiran
prajurit dalam mempersiapkan operasi dan hubungan ini dapat meluas ke pasangan
prajurit. Tentara yang mengalami kepercayaan dan rasa hormat dari pemimpin
mereka memiliki semangat yang kuat, harga diri dan komitmen untuk unit mereka.
Mereka berbagi sikap positif mereka dengan pasangan dan anak-anak mereka
Sebaliknya pasangan akan memperkuat komitmen prajurit terhadap unit tersebut.
Bagaimana unit memperlakukan prajuritnya dapat memengaruhi
kesediaan prajurit untuk berpartisipasi dalam operasi eksternal. Fakta bahwa
tentara berbagi pengalaman unit hari-hari mereka dengan pasangan mereka.
Pengalaman-pengalaman ini mendorong persepsi pasangan tentang unit
tersebut.

c. Peran “Hardiness” Sebagai Faktor Penengah.

Kekerasan adalah sumber daya perlawanan ketika dihadapkan dengan


situasi yang menekan (Kardum, Hudek-Knežević, & Krapić, 2012). Kekerasan
dianggap memiliki efek mediasi terhadap pencapaian kesiapan tempur,
dengan memungkinkan tentara untuk mengatasi tantangan baik dari
hubungan prajurit dengan pasangan dan hubungan prajurit dengan unit.
Maddi berpendapat bahwa individu yang memiliki sifat keras sering kali terlibat
aktif dalam situasi apa pun, terkait kehidupan atau pekerjaan. Individu
tersebut secara aktif mencoba untuk mempengaruhi hasil dari peristiwa
kehidupan mereka dan mereka memiliki kemampuan untuk menahan keadaan
positif atau negatif mereka. Sebuah studi oleh Britt, Adler dan Bartone tentang
efek kekerasan pada tentara yang berpartisipasi dalam operasi perdamaian
menegaskan bahwa tentara yang lebih tinggi pada tingkat kekerasannya
mampu menemukan makna lebih dalam kegiatan mereka meskipun sifatnya
kompleks daripada mereka yang memliki tingkat kekerasan yang rendah.
Kekerasan adalah perspektif keseluruhan yang mempengaruhi bagaimana
seseorang memandang diri (kepercayaan diri dan self-efficacy), yang lain
(kohesi vertikal dan horizontal), bekerja (kinerja unit dalam operasi
pemeliharaan perdamaian), dan bahkan lingkungan operasional.
Mekanisme ini dipengaruhi oleh tiga komponen kekerasan yang saling
terkait (yaitu komitmen, kontrol dan tantangan). Tanpa urutan tertentu,
"komponen komitmen adalah kecenderungan untuk melibatkan diri dalam
(daripada mengalami keterasingan dari) apa pun yang dilakukan atau
dijumpai, kontrol adalah kecenderungan untuk merasakan dan bertindak
seolah-olah seseorang itu berpengaruh (bukannya tidak berdaya) dalam
menghadapi berbagai kemungkinan kehidupan "dan tantangan adalah
keyakinan bahwa perubahan daripada stabilitas adalah normal dalam
kehidupan dan bahwa antisipasi perubahan adalah insentif
RAHASIA

menarik untuk pertumbuhan daripada ancaman terhadap keamanan".


Usaha militer untuk meningkatkan ketahanan di antara prajurit dapat dimulai
dari tahap awal persiapan untuk operasi (misalnya Pelatihan).

BAB VII
PENUTUP

29. Penutup. Demikian Naskah Sekolah tentang Psikologi Militer disusun


sebagai Bahan Ajaran untuk dipedomani oleh para Perwira Siswa dan Guru Militer
dalam Proses Belajar dan Mengajar materi pelajaran Psikologi Militer.

Kepala Dinas Psikologi Angkatan


Darat,

Dr. Eri R. Hidayat, MBA. MHRMC.


Brigadir Jenderal TNI

RAHASIA

Anda mungkin juga menyukai