Pada pembelajaran di dalam kelas peranan guru tidak akan dapat diganti oleh
teknologi yang paling canggih sekalipun. Peran ini tidak bisa di gantikan oleh tekonologi
karena dalam proses belajar mengajar bukan hanya sekedar proses mempelajari sesuatu,
tetapi merupakan kontak sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya yang mana di
dalam kelas merupakan kontak sosial antara guru dengan murid. Oleh karena itu, penting
sekali gunanya memilih tehnik yang guru gunakan dalam mengajar, peranan guru sangat
menentukan dalam berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Bahkan dalam pengajaran
kontekstual, kehadiran guru yang berkualitas atau guru yang profesional sangat penting dan
sangat dibutuhkan, sebab tanpa kehadiran mereka tehnik serta pendekatan yang digunakan
dalam mengajar tidak akan menjadi sia- sia.
Ahir-ahir ini pembelajaran kontekstual telah dikembangkan di negara negara maju
dengan nama yang bermacam macam. Di Belanda disebut “Realistic Mathematics Education”
(RME), di Amerika dinamakan “Contextual Teaching and Learning” (CTL).
Dalam sistem kontekstual proses pendidikan yang dimana peran guru merupakan sarana
dalam membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan
cara menghubungkan pembelajaran yang di berikan oleh guru dengan konteks kehidupan
mereka seharu-sehari yaitu dengan konteks di lingkungan pribadinya, sosialnya, dan
budayanya, Dalam mencapai tujuan tersebut guru akan berperan menuntun peserta didik
melalui kedelapan komponen utama: melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan
pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berfikir kritis dan kreatif,
memelihara /merawat pribadi siswa, mencapai standart yang tinggi dan menggunakan
penilaian autentik.
Sementara itu Dr Nurhadi [Link] dan Drs Agus Gerrad Senduk [Link] (2002: 13)
memberikan definisi sebagai berikut :
Pengajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata
ke dalam kelas dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari hari; sementara siswa
memperoleh pengetahuan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari prosses
mengkontruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sebagai
anggota masyarakat.
Pada sistem pembelajaran kontekstual ini membantu guru mengaitkan materi
pelajaran dengan dunia nyata dan mengharapkan penerapannya dalam kehidupan mereka
sehari- hari. Pembelajaran kontekstual juga mengajak siswa untuk menerapkan dan
mengalaminya sendiri tentang apa yang sedang dipelajarinya, oleh karena itu pembelajaran
kontekstual merupakan pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan
pengalaman sesungguhnya. Selain itu dalam pembelajaran ini guru mampu menciptakan/
mengenalkan pengetahuan dan keterampilan siswa yang diperoleh sedikit demi sedikit dari
pengalamannya, berangkat dari pengetahuan sebelumnya.
Pada penerapannya, Pembelajaran kontekstual terfokus pada guru yang kan memainkan
peran yang sangat penting dalam keberhasilan pembelajaran di dalam kelas. Oleh karena itu
sebelum menggunakan strategi tertentu, seorang guru harus lebih dulu mempersiapkan diri
untuk bisa di terima kehadirannya oleh siswa. Dalam penerapan sistem pembelajaran
kontekstual di dalam kelas guru harus memperhatikan komponen- komponen demi
keberhasilan sistem pembelajaran kontekstual. Komponen- komponen dibagi menjadi
beberapa pokok bahasan yang diambil dari Nurhadi dan Senduk (2003) serta Johnson (2007)
sebagaimana dibahas berikut ini.
a. Konstruktivisme
Pandangan kontruktivis ini merupakan landasan berfikir filosofis pembelajaran
kontekstual yaitu bahwa pengetahuan itu dibangun sedikit demi sedikit dan siswa harus
memberi makna terhadap pengetahuan tersebut melalui pengalaman nyata. Siswa diminta
untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dan menemukan sesuatu yang berguna
bagi dirinya dalam kehidupan nyata. Hal ini karena guru tidak akan pernah mampu
memberikan semua pengetahuan ke dalam benak murid. Karena itulah siswa harus
mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri sesuai dengan pengalamannya. Untuk
itu guru hanya bertugas menfasilitasi mereka dengan jalan : a) menjadikan pengetahuan
bermakna bagi siswa, b) membiarkan siswa menerapkan dan menemukan idenya sendiri,
c) menyadarkan mereka agar menerapkan materi mereka sendiri dalam belajar.
b. Menemukan (Inquiry)
Sebagaimana telah disebutkan di depan bahwa menemukan sesuatu merupakan inti
dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Misalnya ketika sedang membahas
materi mengenai binatang melata, siswa diminta untuk melihat sendiri binatang melata
dan menemukan beberapa hal yang berkaitan dengan binatang tersebut, bukan hanya dari
gambar di buku. Metode ini tidak hanya cocok untuk pelajaran “science” tetapi bisa juga
untuk bidang bidang lain, misalnya Bahasa Indonesia: bagaimana cara menulis paragraph
yang baik dengan mencari contoh contoh paragraph yang baik, pelajaran PPKn misalnya,
dapat dengan cara mencari pelaku sejarah dan berdialog langsung dengan mereka.
[Link] (questioning)
Bertanya sebenarnya merupakan induk dan strategi utama dari pembelajaran
kontekstual (lihat Johnson 2002 dan Nurhadi 2003). Hal ini juga merupakan awal dari
sebuah pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang selalu berawal dari
bertanya atau ketidaktahuan. Dalam sistem ini siswa diharapkan selalu bertanya untuk
mencari tahu tentang suatu hal yang sedang menjadi topik dari pembelajaran yang
sedang berlangsung. Sering sekali peserta didik tidak bertanya bukan karena mereka
tidak memiliki pertanyaan, tetapi mereka tidak terbiasa bertanya atau menanyakan
sesuatu ketika mereka sedang dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu suasana
belajar mengajar harus diciptakan sedemikian rupa sehingga peserta didik merasa
nyaman untuk menanyakan sesuatu yang menarik untuk ditanyakan.
d. Masyarakat-Belajar (learning community).
Dalam system pembelajaran kontekstual hasil belajar siswa diperoleh dengan cara
bekerja sama dengan orang lain dengan cara “sharing” pengalaman. Dalam hal ini yang
cepat belajar mengajari yang lambat belajar dan yang tahu memberi tahu yang belum
tahu. Dalam masyarakat belajar anggota kelompok dapat saling terlibat dalm komunikasi
sehingga mereka akan saling belajar antara satu dengan yang lainnya.
e. Pemodelan (modeling)
Maksud dari pemodelan ini adalah bahwa dalam beberapa mata pelajaran tertentu ada
model yang bisa ditirukan. Pada dasarnya pemodelan adalah membahasakan gagasan
yang difikirkan oleh siswa, dan mendemontrasikan bagaimana guru menginginkan
siswanya melakukan sesuatu. Dalam hal ini contoh sangat perlu, tapi dilakukan untuk
sekedar ditiru, melainkan untuk menjadi acuan untuk pencapaian kompetensi siswa
(Nurhadi dan Senduk 2002). Perlu diingat bahwa dalam pembelajaran kontekstual guru
bukan satu satunya model, model dapat dirancang dengan mengambil siswa. Seorang
siswa dapat ditunjuk untuk menjadi model dalam melakukan sesuatu. Dengan saling
membantu antara satu dengan yang lain, suasana kondusif akan tercipta dan proses
belajar mengajar akan merupakan sesuatu yang bermanfaat dan menyenangkan.
f. Refleksi (reflection)
Refleksi merupakan hasil dari befikir tentang apa yang baru dipelajarinya atau berfikir
ke belakang tentang apa apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Dengan refleksi
ini siswa diharapkan mempunyai kesadaran terhadap apa apa yang telah dilakukan dan
bagaimana melakukan sesuatu yang akan datang. Misalnya ketika pelajaran berakhir
siswa berkata “Wah kalau begini, selama ini saya mempunyai anggapan yang salah
terhadap bagaimana belajar “speaking” yang baik”. Dengan refleksi ini diharapkan
mereka akan menggunakan cara yang baru dan benar sesuai dengan contoh contoh yang
telah dibicarakan. Dengan peserta didik merefleksikan apa apa yang telah mereka
pelajari, mereka akan dengan sendirinya menemukan atau menarik simpulan sendiri
terhadap apa yang harus dan tidak harus dilakukan.
g. Penilaian yang Sebenarnya (authentic asseessment)
Dalam menilai siswa kita harus menggunakan berbagai sumber sebagai bahan
pertimbangan untuk mengukur kemampuan mereka. Yang diukur bukan hanya
pengetahuan mereka, tetapi juga keterampilannya. Bagaimana proses mereka belajar dan
bagaimana mereka mempraktikkan keterampilan yang mereka miliki juga merupakan
bagian dari pembelajaran kontekstual yang harus dinilai. Pendek kata, guru mempunyai
tugas yang cukup menantang dalam menilai siswa, sebab mereka harus dilihat dari
berbagai aspek, bukan hanya hasil ujian (baik tengah atau akhir semester) seperti yang
kebanyakan berlaku pada saat ini. Dengan penilaian yang semacam ini, peserta didik
diharapkan akan memperoleh manfaat dari nilai yang mereka terima, bukan sekedar
menerima nilai dan setelah itu tidak tahu apa makna nilai yang mereka punya.