Sejarah Manado
Manado, adalah kota terbesar kedua di Sulawesi setelah Makassar. Kota yang indah. Terletak di tepi pantai.
Sebelah barat berview laut biru, yang dihiasi tiga pulau eksotik : Bunaken, Manado Tua dan Siladen, yang
terkenal dengan pesona wisata bawah lautnya.
Sebelum maju dan berkembang besar, Manado adalah bagian dari wilayah Minahasa. Sampai tahun 1947,
Manado masih merupakan wilayah Minahasa. Wenang adalah nama pertama sebelum berubah menjadi Man-
ado
di dalam dokumen dan surat-surat penting bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda, nama Manado banyak ter-
cantum dan lebih dikenal dibanding Wenang. Tahun 1623, nama Manado mulai dikenal dan digunakan di
dalam surat-surat resmi. Itulah alasannya sehingga Wenang diganti menjadi Manado.
Walaupun terdiri dari berbagai versi berbeda, tetapi yang pasti kata Manado adalah bahasa lokal di Sulawesi
Utara yang hampir punah. Nama Manado yang dikenal saat ini berasal dari kata Manarow atau Manadou (ba-
hasa daerah Minahasa), yang artinya “dijauh”; suatu sebutan yang hampir sama dengan bahasa Sangihe,
yaitu Manaro, yang artinya juga “dijauh” atau “negeri yang jauh”
Kronologis Terbentuknya Kota Manado
Tanggal 1 Juli 1919 : dimulai dari adanya besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Dengan besluit itu,
Gewest Manado ditetapkan sebagai Staatsgemeente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alatnya antara
lain Dewan gemeente atau Gemeente Raad yang dikepalai oleh seorang Walikota (Burgemeester)
Hari jadi Kota Manado yang ditetapkan pada tanggal 14 Juli 1623, merupakan momentum yang mengemas
tiga peristiwa bersejarah sekaligus yaitu tanggal 14 yang diambil dari peristiwa heroik yaitu peristiwa Merah
Putih 14 Februari 1946, di mana putra daerah ini bangkit dan menentang penjajahan Belanda untuk memper-
tahankan kemerdekaan Indonesia, kemudian bulan Juli yang diambil dari unsur yuridis yaitu bulan Juli 1919,
yaitu munculnya Besluit Gubernur Jenderal tentang penetapan Gewest Manado sebagai Staatgemeente
dikeluarkan dan tahun 1623 yang diambil dari unsur historis yaitu tahun di mana Kota Manado dikenal dan
digunakan dalam surat-surat resmi. Berdasarkan ketiga peristiwa penting tersebut, maka tanggal 14 Juli
1989, Kota Manado merayakan HUT-nya yang ke-367. Sejak saat itu hingga sekarang tanggal tersebut terus
dirayakan oleh masyarakat dan pemerintah Kota Manado sebagai hari jadi Kota Manado.
Lambang Manado
1. Arti Lambang
Bentuk serta arti lambang Kota Manado adalah : berbentuk perisai, yang memiliki delapan sub bentuk
- Burung Manguni dalam sikap terbang melambangkan kebudayaan asli suku Minahasa.
- Bungken atau tombak berikatan pita merah bertuliskan ‘Sitou Timou Tumou Tou’ yang artinya Manusia
Hidup Untuk Memanusiakan Orang Lain.
- Laut, Tombak, Darat dan Pegunungan serta Pohon Kelapa, Langit dan Bintang melambangkan kesatuan
Geografis Kota Manado.
1. Di bagian bawahnya nampak gambar laut, melambangkan Kota Manado merupakan bandar pelabuhan dan
perdagangan, tombak bertiga puncak melambangkan ketiga “pakasaan” yang merupakan asal usul Kota
Manado yaitu: Pakasaan Ares, Pakasaan Wenang, Titiwungen, dan Pakasaan Singkil.
2. Empat garisan gelombang melambangkan suku-suku Sangihe Talaud, Minahasa, Bolaang Mongondow,
dan Gorontalo yang merupakan unsur utama penduduk Sulawesi Utara (Sulut) dengan Kota Manado sebagai
Ibukota Propinsi Sulut.
3. Pegunungan melambangkan keadaan bumi Kota Manado.
4. Pohon kelapa kanan, berpelapah sembilan buah dengan helai daun masing-masing daun lima buah melam-
bangkan Proklamasi Indonesia 1945.
5. Kelar-kelar pohon kelapa empat belas banyaknya pohon kelapa, dua buah dan pohon kelapa kiri
berpelepah delapan dengan lima helai daun masing-masing dari satu pelepah yang ujung dengan enam helai
daun disertai kedua bendera merah putih pada kiri kanannya, ke semuanya melambangkan Aksi Merah Putih
14 Februari 1946 yang bermaksud mempertahankan Kedaulatan Negara Proklamasi 1945.
6. Pohon kelapa dengan masing-masing mempunyai lima buah melambangkan Pancasila. Batang melam-
bangkan Pancasila selaku dasar dan tujuan dari pola petahanan dan penyelenggaraan Kota Manado.
SELAYANG PANDANG MANADO
TENTANG
Kota Manado adalah ibu kota dari provinsi Sulawesi Utara. Kota Manado seringkali disebut sebagai
Menado. Manado terletak di Teluk Manado, dan dikelilingi oleh daerah pegunungan. Kota ini memiliki
408.354 penduduk pada Sensus 2010, menjadikannya kota terbesar kedua di Sulawesi setelah Makassar.
Jumlah penduduk di Manado diperkirakan (berdasarkan Januari 2014) adalah 430.790.
GEOGRAFIS
Kota Manado terletak di ujung jazirah utara pulau Sulawesi, pada posisi geografis 124°40′ – 124°50′ BT dan
1°30′ – 1°40′ LU. Iklim di kota ini adalah iklim tropis dengan suhu rata-rata 24° – 27 °C. Curah hujan rata-
rata 3.187 mm/tahun dengan iklim terkering di sekitar bulan Agustus dan terbasah pada bulan Januari. Inten-
sitas penyinaran matahari rata-rata 53% dan kelembaban nisbi ±84 %.
WILAYAH DARATAN
Luas wilayah daratan adalah 15.726 hektare. Manado juga merupakan kota pantai yang memiliki garis pantai
sepanjang 18,7 kilometer. Kota ini juga dikelilingi oleh perbukitan dan barisan pegunungan. Wilayah
daratannya didominasi oleh kawasan berbukit dengan sebagian dataran rendah di daerah pantai. Interval ket-
inggian dataran antara 0-40% dengan puncak tertinggi di gunung Tumpa.
WILAYAH PERAIRAN
Wilayah perairan Kota Manado meliputi pulau Bunaken, pulau Siladen dan pulau Manado Tua. Pulau
Bunaken dan Siladen memiliki topografi yang bergelombang dengan puncak setinggi 200 meter. Sedangkan
pulau Manado Tua adalah pulau gunung dengan ketinggian ± 750 meter. Sementara itu perairan teluk Man-
ado memiliki kedalaman 2-5 meter di pesisir pantai sampai 2.000 meter pada garis batas pertemuan pesisir
dasar lereng benua. Kedalaman ini menjadi semacam penghalang sehingga sampai saat ini intensitas
kerusakan Taman Nasional Bunaken relatif rendah.
AGAMA
Agama yang dianut adalah Kristen Protestan, Islam, Katolik, Hindu, Buddha dan agama Konghucu.
Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk yang beragama Kristen 62,10 persen, Ka-
tolik 5,02 persen, sedangkan Muslim 31,30 persen dan sisanya beragama lain. Meski begitu heterogennya,
namun masyarakat Manado sangat menghargai sikap hidup toleran, rukun, terbuka dan dinamis. Karenanya
kota Manado memiliki lingkungan sosial yang relatif kondusif dan dikenal sebagai salah satu kota yang re-
latif aman di Indonesia. Sewaktu Indonesia sedang rawan-rawannya disebabkan goncangan politik sekitar
tahun 1999 dan berbagai kerusuhan melanda kota-kota di Indonesia. Kota Manado dapat dikatakan relatif
aman. Hal itu tercermin dari semboyan masyarakat Manado yaitu Torang samua basudara yang artinya “Kita
semua bersaudara”.
BAHASA
Bahasa digunakan sebagai bahasa sehari-hari di Manado dan wilayah sekitarnya disebut bahasa Manado Ba-
hasa Manado menyerupai bahasa Indonesia tetapi dengan logat yang khas. Beberapa kata dalam dialek Man-
ado berasal dari bahasa Lokal, bahasa Belanda, bahasa Portugis dan bahasa asing lainnya.
PENDUDUK
Saat ini mayoritas penduduk kota Manado berasal dari suku Minahasa, karena wilayah Manado merupakan
berada di tanah/daerah Minahasa. Penduduk asli Manado adalah sub suku Tombulu dilihat dari beberapa
nama kelurahan di Manado yang berasal dari bahasa Tombulu, misalnya: Wenang (Pohon Wenang/Mahawe-
nang – bahan pembuat kolintang), Tumumpa (turun), Mahakeret (Berteriak), Tikala Ares (Walak Ares
Tombulu, di mana kata ‘ares’ berarti dihukum), Ranotana (Air Tanah), Winangun (Dibangun), Wawonasa
(wawoinasa – di atas yang diasah), Pinaesaan (tempat persatuan), Pakowa (Pohon Pakewa), Teling (Bulu/
bambu untuk dibuat peralatan), Titiwungen (yang digali), Tuminting (dari kata Ting-Ting: Lonceng, kata
sisipan -um- berarti menunjukkan kata kerja, jadi Tuminting: Membunyikan Lonceng), Pondol (Ujung),
Wanea (dari kata Wanua: artinya negeri), dll.; sedangkan daerah Malalayang adalah suku Bantik, suku
bangsa lainnya yang ada di Manado saat ini yaitu suku Sangir, suku Gorontalo, suku Mongondow, suku
Arab, suku Babontehu, suku Talaud, suku Tionghoa, suku Siau dan kaum Borgo. Karena banyaknya komuni-
tas peranakan arab, maka keberadaan Kampung Arab yang berada dalam radius dekat Pasar ’45 masih berta-
han sampai sekarang dan menjadi salah satu tujuan wisata agama. Selain itu terdapat pula penduduk suku
Jawa, suku Batak, suku Makassar dan suku Minangkabau Suku Aceh.