Identifikasi Task Commitment Anak Berbakat
Identifikasi Task Commitment Anak Berbakat
Fadhilah Suralaga
Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
[Link]@[Link]
Abstrak
Pelayanan khusus pendidikan bagi anak berbakat intelektual perlu diperhatikan dengan serius
karena anak berbakat intelektual (gifted children) merupakan asset bangsa yang bukan hanya bisa
memberikan kinerja terbaik bagi dirinya tetapi juga bagi masyarakat dan bangsa. Sesuai dengan
konsep ‘Three ring Renzulli’, unsur keberbakaan terdiri dari tiga unsur yaitu kemampuan di atas
rata-rata, kreativitas dan task commitment yang cukup tinggi. Untuk memberikan layanan yang
tepat, anak berbakat perlu diidentifikasi; selain tes inteligensi sebagai pengukur tingkat
kemampuan intelektual dan tes kreativitas, dalam mengidentifikasi anak berbakat perlu digunakan
alat ukur yang dapat mengukur unsur non intelektual keberbakatan. Tujuan penelitian ini adalah
menelaah konsep keberbakatan serta mengembangkan alat ukur task commitmen sebagai salah
satu unsur non intelektual. Alat ukur ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi anak berbakat,
baik oleh guru atau para penanggung jawab pendidikan anak berbakat intelektual. Dari subjek 665
siswa kls 2 dari dua SMU unggulan di Jakarta, sampel penelitian terpilih secara purposive yaitu
yang telah mengikuti Tes Inteligensi (TIKI-T dengan skor IQ minimal 120) dan Tes Kreativitas
Verbal (CQ minimal 110), sebanyak 63 orang. Skala Task Commitment yang berhasil
dikembangkan meliputi lima dimensi terdiri dari 41 item.
Keyword: keberbakatan, anak berbakat, task commitment, alat ukur
Pendahuluan
Konsep 'US Office Education' tersebut mengakui bahwa kemampuan anak berbakat
meliputi variasi kemampuan yang luas. Namun biasanya seseorang hanya berbakat
istimewa dalam salah satu atau beberapa bidang saja. Perumusan konsep tersebut juga
menekankan bahwa anak berbakat mampu mencapai prestasi yang tinggi, tetapi ada anak
yang bakatnya masih merupakan potensi; konsep ini memberi pengakuan terhadap adanya
Anak Berbakat yang kurang berprestasi atau underachiever (Munandar, 1995).
Konsep lain tentang keberbakatan yang juga dikembangkan di Indonesia dan di
banyak negara lain adalah yang dikemukakan oleh Renzulli 1981 (dalam Munandar 1982;
Hawadi, 2004). Ia menyatakan bahwa keberbakatan tidak hanya ditentukan oleh satu
kriteria saja, tetapi ada tiga unsur penting yang harus dimiliki seseorang untuk dapat
dikatakan sebagai orang berbakat, yaitu:
a. Kemampuan di atas rata-rata (above average ability).
b. Kreativitas (creativity).
c. Pengikatan diri terhadap tugas (task commitment).
Konsep keberbakatan Renzulli disebut Three Ring Model atau 'Model Tiga
Lingkaran' (gambar 1). Renzulli menyebut setiap lingkaran sebagai suatu 'cluster', yang
masing-masingnya saling berinteraksi, sehingga prestasi unggul dari anak berbakat
dapat terwujud. Ketiga'cluster' tersebut digambarkan sebagai berikut :
Apabila kita perhatikan konsep Renzulli (1981) yaitu "Task Commitment represent
energy brought to bear on a particular problem (task) or specific performance area",
maka kluster 'task commitment' disini tidak hanya dilihat sebagai unsur masukan yang
menentukan atau menjadi ciri penentu keberbakatan, tetapi juga sebagai unsur yang
diperlukan untuk memproses keberbakatan menjadi keluaran. Dalam posisi 'task
commitment' sebagai penentu keberbakatan, maka apabila seorang siswa memiliki 'task
commitment' yang rendah meskipun memiliki ciri yang menonjol dari segi inteligensi
dan kreativitas, ia tidak dapat digolongkan sebagai anak berbakat. Sementara bila 'task
commitment' diletakkan dalam posisi sebagai unsur yang diperlukan untuk memproses
keberbakatan sehingga menghasilkan prestasi unggul, maka siswa yang berinteligensi
dan kreativitas cukup tinggi tetapi memiliki prestasi belajar sedang atau rendah (under
achiever) tetap dapat disebut sebagai anak berbakat.
Hal ini sejalan dengan definisi keberbakatan menurut USOE seperti telah
dikemukakan terdahulu, bahwa "anak berbakat adalah mereka yang karena memiliki
kemampuan-kemampuan unggul, mampu memberikan prestasi yang tinggi",
mengisyaratkan adanya bakat yang masih merupakan potensi yang belum terwujud.
Konsep tersebut mengakui adanya anak berbakat yang berprestasi kurang (under
achiever), yang mungkin disebabkan oleh rendahnya tingkat 'task commitrnent' yang
dimiliki. Agar dapat memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan anak berbakat,
perlu diidentifikasi dengan alat ukur yang tepat; untuk itu pengembangan alat ukur task
commitment sebagai salah satu unsur non intelektual perlu dilakukan.
Dari lima karakteristik motivasi berprestasi di atas, Yaumil Achir (1990) telah
mengembangkan skala pengikatan diri anak berbakat terhadap tugas yang terdiri dari
enam dimensi dengan penambahan dimensi kemampuan bersikap kreatif dan ingin
tahu. Penulis sendiri menganggap bahwa sikap kreatif dan ingin tahu merupakan aspek
kreativitas yang dapat diukur tersendiri
Karakteristik atau ciri-ciri yang telah disebutkan di atas sebenarnya tidak hanya
dimiliki oleh anak berbakat, karena anak normal (berkemampuan rata-rata) juga dapat
memilikinya, hanya anak berbakat biasanya memiliki ciri-ciri tersebut pada tingkat
yang lebih tinggi.
Perlu diingat pula, meskipun ciri-ciri tersebut dikumpulkan dari penelitian para ahli,
mungkin ada ciri lain yang belum terdaftar di sana. Tidak pula semua ciri tersebut
dimiliki oleh setiap anak berbakat, karena masing-masing anak bisa memilikinya dalam
kadar yang berbeda-beda.
Utami Munandar menegaskan bahwa anak berbakat tidak hanya memiliki ciri-ciri
yang positif. Meskipun mereka menunjukkan kecenderungan tertentu yang dalam
lingkungan yang baik dapat berkembang menjadi ciri-ciri positif, tetapi dalam
lingkungan yang kurang menguntungkan ciri tersebut dapat berkembang menjadi ciri
yang negatif, seperti:
Metode
Subjek penelitian adalah siswa kelas 2 dari dua SMU unggulan di Jakarta berjumlah
655 siswa. Sampel dipilih dengan tehnik purposive sampling, dengan kriteria siswa
yang telah mengikuti tes inteligensi dan memiliki skor IQ minimal 120 (bila diambil
yang minimal 130 maka jumlahnya menjadi lebih sedikit); dan tes kreativitas verbal
dengan CQ minimal 110. Sampel yang memenuhi kriteria berjumlah 63 siswa.
Instrumen yang digunakan untuk diuji adalah skala Task Commitment Yaumil
Achir, dalam bentuk skala Likert, terdiri dari 50 item. Uji validitas instrumen pertama
dilakukan adalah uji validitas konten dengan analisis konten oleh dua orang pakar
psikologi Pendidikan; selanjutnya dilakukan uji validitas konstruk untuk menentukan
apakah item-item pada skala betul-betul mengukur konstruk yang hendak diukur
(Kerlinger, 1986). Pengujian validitas internal (Internal Concistency) dilakukan
dengan menghitung korelasi masing-masing item dengan item total pada setiap sub
skala dengan menggunakan rumus korelasi ‘Pearson Product Moment’, sedangkan
pengujian reliabilitas dilakukan dengan tehnik Alpha Cronbach. Perhitungan uji
validitas dan reliabilitas item dilakukan dengan menggunakan program SPSS/PC.
Penyusunan skala ini dalam bentuk skala Likert terdiri dari 50 item seperti dapat
dilihat pada kisi-kisi berikut.
Setuju :( S )
Netral : (N )
Tidak Setuju : ( TS )
Sangat Tidak Setuju : (STS)
:
Tabel 2
Rentang Validitas dan reliabilitas sub skala
Dalam penelitian yang penulis lakukan, skala “Task Commitment” (Pengikatan Diri Anak
Berbakat Terhadap Tugas) selain menghilangkan 10 item dari dimensi keenam, dimodifikasi
kembali dengan cara memperbaiki kalimat dan melakukan uji validitas dan reliabilitas kembali
terhadap item-item tersebut, karena dengan menghilangkan 10 bulir dalam dimensi keenam
berarti telah mengubah konstruk “Task Commitment” yang dibangun dalam skala tersebut.
Dalam pelaksanaan pengukuran “Task Commitment” siswa berbakat intelektual yang
menjadi subjek penelitian, diberikan instrumen (skala) yang berisi 50 item, masing-masing 10
item untuk tiap dimensi, terdiri dari item favorable dan unfavorable.
Hasil uji validitas dan reliabilitas menolak sembilan item, sehingga skala Task
Commitment terdiri atas 41 item saja. Tingkat validitas dan reliabilitas item-item tersebut dapat
dilihat pada tabel 3 berikut.
Tabel 3
HASIL UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS
2. Kemampuan
menetapkan “goal”
di atas rata-rata 4 4 559 . 7539
7 7 . 659
18 18 . 489
20 20 . 532
24 24 . 493
28 28 . 671
3. Kemampuan
belajar dengan
disiplin dan 32 32 . 558
terencana 33 - . 377 Tidak reliabel
41 41 . 454
45 26 .720
4. Kemampuan
belajar secara 3 3 . 650
mandiri 5 5 . 586
6 6 . 588 . 7513
21 21 . 635
25 - . 020 Tidak valid
29 29 . 432
34 34 . 646
35 35 . 521
37 37 . 422
39 39 . 685
5. Ketangguhan/
keuletan 10 10 . 549
15 15 . 313
19 19 . 411 . 4760
22 - . 327 Tidak reliabel
26 - . 270 Tidak reliabel
36 36 . 517
38 - . 110 Tidak valid
40 - . 294 Tidak reliabel
43 33 . 605
47 11 . 453
8 8 518
11 - . 084 Tidak valid
12 - . 386 . 8000 Tidak reliabel
16 - . 144 Tidak valid
27 27 . 738
30 30 . 627
44 12 . 748
46 38 . 706
48 40 . 714
49 25 . 522
Skala Task Commitment yang telah direvisi kemudian digunakan menjadi alat ukur
dalam mengidentifikasi anak berbakat yang dijaring untuk masuk di kelas akselerasi atau kelas
percepatan belajar, baik pada tingkat SD, SMP atau SMA. Reni Akbar Hawadi (2004) sebagai
ahli dan aktifis keberbakatan, menyatakan bahwa skala Task commitment yang dikembangkan
oleh penulis, selanjutnya disebut dengan Skala TC-YA/FS untuk siswa SMU dan Skala TC-
Rendi (Reni – Fadhilah) untuk murid Sekolah Dasar.
Skala Task Commitment dengan nama Skala- YA/FS dan Skala TC Rendi digunakan
dalam mengidentifikasi anak berbakat selama bertahun-tahun hingga sekarang, dengan diberi
norma skor sehingga secara lengkap pengidentifikasian anak berbakat adalah:
Bagi AB siswa SD : taraf kemampuan/kecerdasan IQ minimal 120 (Skala Wechsler);
taraf kreativitas CQ 110 ke atas (Skala TKF Utami Munandar) dan taraf pengikatan diri
terhadap tugas TC 132 ke atas (Skala TC Rendi). Sementara untuk siswa berbakat tingkat
SMU: taraf kecerdasan dengan IQ 120 ke atas (Skala TIKI); tingkat kreativitas CQ 110 (Skala
TKV URH); dan tingkat pengikatan diri terhadap tugas TC 126 ke atas (Skala YA/ FS Revisi)
(Hawadi 2004).
Pilihan Jawaban
No. Pernyataan
SS S N TS STS
1. Bagi saya sudah jelas bidang studi yang akan saya
tekuni.
2. Untuk dapat nilai baik, saya belajar beberapa hari
sebelum ulangan.
3. Saya belajar secara teratur sesuai rencana.
4. Saya tidak mampu bersaing dengan teman sekelas
untuk meraih prestasi tinggi.
5. Tugas-tugas sekolah membosankan saya.
6. Waktu saya sering terbuang percuma.
7. Saya merasa kurang puas dengan nilai sedang, karena
itu saya berusaha meraih nilai tinggi.
8. Ulangan yang hasilnya jelek mematahkan semangat
saya.
9. Bila akan ulangan, kegiatan lain saya batasi.
10. Saya ragu untuk memutuskan pendidikan apa yang
saya akan pilih nantinya.
11. Saya senang mengambil inisiatif untuk menggerakkan
program ekstra kurikuler.
12. Kalau suatu pelajaran dianggap lebih sulit, belajar
lebih tekunpun tidak ada gunanya.
13. Saya belum memiliki tujuan-tujuan tertentu yang
perlu saya kejar.
14. Saya belum dapat menguasai diri sendiri untuk belajar
serius.
15. Saya bisa membuat keputusan untuk diri saya sendiri.
16. Biasanya saya kokoh dalam usaha saya mendapatkan
sesuatu yang saya inginkan.
17. Saya tidak suka membuat rencana belajar secara
terjadwal.
18. Saya tidak memiliki potensi yang dapat mendukung
keberhasilan di manapun
19. Saya sering ragu-ragu hingga perlu dorongan orang
lain untuk memantapkan diri.
20. Catur wulan depan saya akan masuk kelompok
‘sepuluh besar’ dalam kelas saya.
21. Saya membuat jadwal belajar harian di rumah.
22. Bila saya menginginkan sesuatu, saya kejar sampai
dapat.
23. Bagi saya belum jelas apa yang saya lakukan setelah lulus
SMU.
24. Bagi saya Catur Wulan depan tidak memberi harapan untuk
peningkatan nilai rapor,
25. Saya mencoba menyelesaikan kesulitan saya sendiri sedari
kecil.
26. Untuk saya prestasi tinggi adalah dambaan utama.
27. Terus terang, saya adalah orang yang mudah putus asa.
28. Saya tidak berani menetapkan target nilai di atas rata-rata
29. Saya dapat merencanakan belajar tetapi belum dapat
melaksanakan dengan tertib.
30. Saya senang menghadapi tugas yang menantang.
31. Saya belum mampu meramalkan masa depan saya.
32. Saya merasa cukup mempunyai kemampuan untuk meraih
prestasi lebih tinggi dari siswa lain.
33. Dalam banyak hal saya tergantung pada orang tua.
34 Saya mudah tergoda untuk melakukan kegiatan yang
menyenangkan sekalipun kurang bermanfaat
35. Saya merasa tidak tenang bila tugas saya belum selesai.
36. Bila perlu, saya sanggup hidup jauh dari orang tua.
37. Remaja dapat mengukur waktunya sendiri.
38. Saya kurang tangguh menghadapi tugas-tugas yang berat.
39. Dari pengalaman saya menyadari bahwa membuat rencana
belajar adalah percuma.
40. Setelah jatuh, saya sulit bangkit kembali.
41. Saya harus mencapai sesuatu yang terbaik walaupun dengan
pengorbanan.
Pilihan Jawaban
No. Pernyataan
SS S N TS STS
1. Bagi saya sudah jelas bidang studi yang akan saya
tekuni.
2. Untuk dapat nilai baik, saya belajar beberapa hari
sebelum ulangan.
3. Saya belajar secara teratur sesuai rencana.
4. Saya tidak mampu bersaing dengan teman sekelas
untuk meraih prestasi tinggi.
5. Tugas-tugas sekolah membosankan saya.
6. Waktu saya sering terbuang percuma.
7. Saya merasa kurang puas dengan nilai sedang, karena
itu saya berusaha meraih nilai tinggi.
8. Ulangan yang hasilnya jelek mematahkan semangat
saya.
9. Bila akan ulangan, kegiatan lain saya batasi.
10. Saya ragu untuk memutuskan pendidikan apa yang
saya akan pilih nantinya.
11. Saya senang mengambil inisiatif untuk
menggerakkan program ekstra kurikuler.
12. Kalau suatu pelajaran dianggap lebih sulit, belajar
lebih tekunpun tidak ada gunanya.
13. Saya belum memiliki tujuan-tujuan tertentu yang
perlu saya kejar.
14. Saya belum dapat menguasai diri sendiri untuk
belajar serius.
15. Saya bisa membuat keputusan untuk diri saya sendiri.
16. Biasanya saya kokoh dalam usaha saya mendapatkan
sesuatu yang saya inginkan.
17. Saya tidak suka membuat rencana belajar secara
terjadwal.
18.* Saya tidak memiliki kemampuan tinggi yang dapat
mendukung keberhasilan saya
19. Saya sering ragu-ragu hingga perlu dorongan orang
lain untuk memantapkan diri.
20.* Semester depan saya akan masuk kelompok ‘lima
besar’ dalam kelas saya.
21. Saya membuat jadwal belajar harian di rumah.
22. Bila saya menginginkan sesuatu, saya kejar sampai
dapat.
No Pernyataan SS S N TS STS
23.* Belum jelas bagi saya, apa yang akan saya lakukan setelah
lulus SMU.
24.* Bagi saya, semester depan tidak memberi harapan untuk
peningkatan prestasi
25.* Saya biasa mencoba menyelesaikan kesulitan saya sendiri
sejak kecil.
26. Untuk saya, prestasi tinggi adalah dambaan utama.
27.* Saya adalah orang yang mudah putus asa.
28. Saya tidak berani menetapkan target nilai di atas rata-rata
29. Saya dapat merencanakan belajar tetapi belum dapat
melaksanakan dengan tertib.
30. Saya senang menghadapi tugas yang menantang.
31. Saya belum mampu meramalkan masa depan saya.
32. Saya merasa cukup mempunyai kemampuan untuk meraih
prestasi lebih tinggi dari siswa lain.
33.* Dalam banyak hal saya tergantung pada orang lain
34 Saya mudah tergoda untuk melakukan kegiatan yang
menyenangkan sekalipun kurang bermanfaat
35. Saya merasa tidak tenang bila tugas saya belum selesai.
36. Bila perlu, saya sanggup hidup jauh dari orang tua.
37.* Remaja dapat mengatur waktunya sendiri.
38. Saya kurang tangguh menghadapi tugas-tugas yang berat.
39. Dari pengalaman, saya menyadari bahwa membuat rencana
belajar adalah percuma.
40. Setelah jatuh, saya sulit bangkit kembali.
41. Saya harus mencapai sesuatu yang terbaik walaupun
dengan pengorbanan.
*Item yang direvisi
Referensi
Hawadi. R. A. Ed (2004). Akselerasi A-Z Informasi Program Percepatan Belajar dan Anak
Berbakat Intelektual. Jakarta: Grasindo.
Munandar S.C.U. (1982). Pemanduan Anak Berbakat- Suatu Studi Penjajakan. Jakarta: CV.
Rajawali
Munandar S.C.U. (1995). Bunga Rampai Anak-anak Berbakat- Pembinaan dan
Pendidikannya. Jakarta: CV. Rajawali.
Renzulli, J.S., Reis, S. M., Smith., L.H. (1981). The Revolving Door Identification Model.
Connecticut: Creative Learning Press.
Semiawan, C., Munandar A.S., Munandar. S.C.U., (1987). Memupuk Bakat dan Kreativitas
Siswa Sekolah Menengah. Jakarta: PT. Gramedia.