0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan16 halaman

RKS Rehabilitasi Ruang Kelas SDN Ciangir

Dokumen ini berisi rencana kerja dan syarat-syarat rehabilitasi ruang kelas SD. Mencakup spesifikasi umum proyek, penjelasan umum, jadwal kerja, penentuan ukuran, keselamatan kerja, dan pengawasan proyek.

Diunggah oleh

muhsin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan16 halaman

RKS Rehabilitasi Ruang Kelas SDN Ciangir

Dokumen ini berisi rencana kerja dan syarat-syarat rehabilitasi ruang kelas SD. Mencakup spesifikasi umum proyek, penjelasan umum, jadwal kerja, penentuan ukuran, keselamatan kerja, dan pengawasan proyek.

Diunggah oleh

muhsin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

REHABILITASI SEDANG / BERAT RUANG KELAS

I. SPESIFIKASI UMUM

Pasal 1
Lingkup Pekerjaan
1. Kegiatan : Pengelolaan Pendidikan Sekolah Dasar
Nama Pekerjaan : Rehabilitasi Sedang / Berat Ruang Kelas SDN Ciangir
Lokasi Pekerjaan : Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya
2. Jenis pekerjaan beserta uraian volume Pekerjaan dapat dipelajari pada Spesifikasi Teknis,
RAB dan Gambar Rencana yang dijadikan pedoman untuk membuat penawaran.
3. Volume dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) serta Analisa Satuan Pekerjaan bersifat
mengikat.
4. Bila terjadi perbedaan antara gambar dan ketidaksesuaian antara penjelasan gambar dan
bestek, maka bestek yang mengikat pekerjaan ini.
5. Jika diperlukan untuk kejelasan dalam pelaksanaan pekerjaan, maka Kontraktor harus
membuat gambar detail (Shop Drawing) yang disetujui oleh Direksi sebelum pekerjaan
tersebut dilaksanakan.
6. Apabila pada saat pembangunan / pelaksanaan pekerjaan terhadap perubahan pada
bagian kontruksi, maka Kontraktor harus membuat revisi yang disahkan oleh Direksi.

Pasal 2
Penjelasan Umum
1. Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor / Pelaksana wajib mempelajari terlebih dahulu
dengan saksama Gambar Kerja, Rencana Kerja dan Syarat-syarat beserta Berita Acara
Penjelasan Pekerjaan.
Kontraktor / Pelaksana diwajibkan melaporkan kepada staff pegawai dari Direksi
Pekerjaan, setiap ada perbedaan ukuran dari gambar-gambar, termasuk antara gambar
dan RKS untuk mendapatkan persetujuan. Bila tidak, maka akibat dari kelalaian tersebut
dalam hal ini akan menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari pihak Kontraktor.
2. Penyerahan Lapangan / Area / Tempat Pekerjaan akan diserahkan kepada Kontraktor
segera sesudah dikeluarkannya Surat Penunjukan Keputusan (SPK), dalam keadaan

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


1
seperti waktu pemberian penjelasan pekerjaan.
Kontraktor harus memahami benar tentang :
a. Letak pekerjaan yang akan dilaksanakan,
b. Batas-batas Pensil / Kavling maupun keadaanya pada waktu itu,
c. Segala sesuatu yang ada dilokasi pekerjaan,
d. Gambar-gambar Rencana dan Metode pelaksanaan yang telah disepakati bersama.
3. Kontraktor wajib menyerahkan hasil pekerjaan, sehingga selesai dengan lengkap, yaitu
membuat, memasang, serta memesan, maupun menyediakan bahan-bahan bangunan,
alat-alat kerja dan pengangkutan dengan pelaksanaan.
4. Kontraktor wajib menyediakan dokumen kontrak berupa gambar-gambar, RKS, Kontrak,
Berita Acara seperti yang telah ditentukan.
5. Kontraktor dapat dimintakan membuat gambar-gambar penjelasan dan perincian bagian-
bagian khusus dengan semua biaya atas beban Kontraktor sesuai dengan perintah Direksi
Pekerjaan. Setelah gambar-gambar tersebut disetujui oleh Direksi Pekerjaan, maka akan
menjadi kelengkapan gambar-gambar pelaksanaan.
6. Setiap pekerjaan yang akan dimulai pelaksanaannya maupun yang sedang dilaksanakan,
Kontraktor wajib berhubungan dengan Direksi. Untuk mendapatkan pengesahan /
persetujuan pekerjaan dengan mengajukan request pekerjaan.
7. Setiap usulan perubahan dari Kontraktor ataupun persetujuan pengesahan dari Direksi
Pekerjaan dianggap berlaku sah, serta mengikat jika dilakukan secara tertulis.
8. Semua bahan yang akan digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan proyek ini harus benar-
benar baru dan diteliti mengenai mutu, ukuran dan lain-lain yang sesuai dengan standar
/ peraturan-peraturan yang digunakan didalam RKS ini. Semua bahan-bahan tersebut
mendapatkan persetujuan dan pengesahan dari Pengguna Jasa sebelum dimulai
pelaksanaannya.
9. Pengawasan terus menerus terhadap pelaksanaan, penyelesaian, perapihan, harus
dilakukan oleh tenaga-tenaga dari pihak pelaksana yang benar-benar ahli.
10. Semua barang-barang yang tidak berguna selama pelaksanaan pembangunan harus
dikeluarkan dari lapangan / lokasi pekerjaan.
11. Setiap minggu, Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan, berupa time
schedule seluruh pekerjaan / tahapan pekerjaan mulai minggu kedua sejak SPK di

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


2
keluarkan sehingga penyerahan I (pertama).
12. Cara-cara menimbun bahan-bahan dilapangan / di gudang harus memenuhi syarat teknis
dan dapat dipertanggung jawabkan.

Pasal 3
Jadwal Rencana Kerja
Paling lambat 1 (satu) minggu setelah diterimanya Surat Penunjukan Keputusan (SPK),
Kontraktor diharuskan mengajukan :
a. Jadwal Pelaksanaan (time schedule) secara terinci yang digambarkan diagram blok
(barchart),
b. Jadwal Pengadaan Tenaga Kerja
c. Jadwal Pengadaan Bahan dan Peralatan Kerja,
d. Jadwal waktu penyerahan Shop Drawing serta contoh bahan / peralatan.
Bahan-bahan yang tersebut diatas harus mendapat persetujuan dari Pemberi Tugas, sebagai
dasar / patokan Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan dan wajib mengikutinya.

Pasal 4
Penentuan Ukuran
1. Kontraktor wajib memberitahukan kepada Direksi Pekerjaan, sebagian pekerjaan yang
akan dimulai untuk dicek terlebih dahulu ketentuan peil-peil dan ukurannya.
2. Kontraktor diwajibkan senantiasa mencocokkan ukuran-ukuran satu sama lain dalam tiap
pekerjaan dan segera melaporkan secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan. Setiap
terdapat selisih / perbedaan ukuran untuk diberikan keputusan pembetulannya. Tidak
dibenarkan kontraktor membetulkan sendiri kekeliruan tersebut tanpa persetujuan
Direksi Pekerjaan.
3. Kontraktor betanggung jawab atas tempat pelaksanaan pekerjaan menurut peil-peil dan
ukuran yang ditentukan dalam gambar kerja.
4. Mengingat setiap kesalahan selalu akan mempengaruhi bagian-bagian pekerjaan
selanjutnya, maka ketepatan peil dan ukuran tersebut mutlak perlu diperhatikan
sungguh-sungguh. Kelalaian kontraktor dalam hal ini tidak akan ditolerir dan Direksi
Pekerjaan yang ditunjuk oleh Pemberi Tugas berhak untuk membongkar pekerjaan atas
biaya kontraktor.

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


3
Pasal 5
Jalan Masuk dan Keluar
1. Pembuatan dan pemakaian jalan masuk ke tempat pekerjaan menjadi tanggung jawab
pihak Kontraktor yang disesuaikan dengan kebutuhan proyek tersebut.
2. Kontraktor diwajibkan membersihkan kembali jalan masuk pada waktu penyelesaian, dan
memperbaiki segala kerusakan yang diakibatkan dan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
3. Perijinan tentang jalan keluar masuk proyek menjadi tanggung jawab Kontraktor
termasuk biaya yang timbul.

Pasal 6
Keselamatan Kerja
1. Kecelakaan yang timbul selama pekerjaan menjadi beban Kontraktor.
2. Kontraktor diwajibkan menyediakan kotak P3K yang berisi sesuai kebutuhan, lengkap
dengan petugas yang telah terlatih dalam hal pertolongan pertama.
3. Kecelakaan-kecelakaan yang timbul akibat bencana alam, segala pembiayaan menjadi
beban Kontraktor.
4. Pelaksana diwajibkan menyediakan alat pemadam kebakaran.
5. Kontraktor diwajibkan memperhatikan kesehatan keryawan-karyawannya.
6. Sejauh tidak disebutkan dalam RKS ini, maka Kontaktor harus mengikuti semua ketentuan
umum lainya yang dikeluarkan oleh Jawatan Instansi Pemerintah Casu Quo (CQ)
Undang-undang Kesehatan Kerja dan lain sebagainya termasuk semua perubahan-
perubahan yang berlaku.
Pasal 7
Pengamanan
1. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang terjadi di lapangan
mengenai:
a. Kerusakan-kerusakan yang timbul akibat kelalaian / kecerobohan yang disengaja
ataupun tidak.
b. Penggunaan sesuatu yang keliru atau salah.
c. Kehilangan-kehilangan bagian alat-alat/bahan-bahan yang ada di daerahnya.
2. Terhadap suatu kejadian sebagaimana disebut di atas, Kontraktor harus melaporkan
kepada Direksi Pekerjaan dalam waktu paling lambat 24 (dua puluh empat) jam untuk
diusut dan diselesaikan persoalannya lebih lanjut.
3. Untuk mencegah kejadian-kejadian tersebut diatas, Kontraktor harus mengadakan

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


4
pengamanan, antara lain : penjagaan, penerangan sementara, dan sebagainya.
4. Setiap pekerjaan harus memakai pengaman, seperti helm, dan lain-lainnya yang dianggap
perlu.

Pasal 8
Pengawasan
1. Setiap saat Direksi Pekerjaan harus dapat dengan mudah mengawasi, memeriksa, dan
menguji setiap bagian pekerjaan, bahan, dan peralatan.
2. Bagian-bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan tetapi luput dari pengawasan Direksi
Pekerjaan menjadi tanggung jawab Kontraktor. Pekerjaan tersebut jika diperlukan harus
segera dibongkar sebagian atau seluruhnya, dan semua biaya yang diakibatkan tersebut
adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor.
3. Jika kontraktor perlu melaksanakan pekerjaan diluar jam kerja normal sehingga
diperlukan pengawasan oleh Direksi Pekerjaan. Permohonan oleh Kontraktor untuk
mengadakan pemeriksaan tersebut harus dengan surat, disampaikan kepada Direksi
Pekerjaan. Biaya pengawasan tambahan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di
Depnaker.
4. Wewenang dalam memberikan keputusan yang ada ditangan petugas-petugas Direksi
Pekerjaan adalah terbatas pada soal-soal yang jelas tercantum / dimaksudkan di dalam
gambar-gambar RKS dan Risalah Penjelasan. Penyimpangan haruslah seijin Pemilik
Proyek.

Pasal 9
Pemeriksaan dan Penyediaan Bahan dan Barang
1. Bila di dalam RKS disebutkan nama dan pabrik pembuatan dari suatu bahan dan barang,
maka ini dimaksudkan menunjukan standar minimal mutu / kualitas bahan dan barang
yang digunakan.
2. Setiap barang dan bahan yang akan digunakan harus disampaikan kepada Direksi
Pekerjaan oleh Kontraktor untuk mendapatkan persetujuan Pengguna Jasa. Waktu
penyampaiannya dilaksanakan jauh sebelum pekerjaan dimulai.
3. Setiap usulan yang tidak sesuai petunjuk RKS, serta gambar-gambar dan risalah
penjelasan harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Pengguna Jasa.
4. Contoh-contoh dan barang yang akan digunakan dalam pekerjaan harus diajukan dan
diadakan Kontraktor atas biaya Pelaksanaan, dan setelah disetujui oleh Pengguna Jasa

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


5
maka sesuai contoh bahan dan barang tanpa mengikat jumlah tersebut yang sudah
disetujui akan dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan nanti.
5. Contoh bahan dan barang tersebut disimpan oleh Direksi Pekerjaan untuk dijadikan dasar
patokan bila ternyata bahan dan barang yang dipakai tidak sesuai dengan contoh, baik
kualitas maupun sifat.
6. Dalam mengajukan Harga Penawaran, Kontraktor harus memasukkan sejumlah keperluan
biaya untuk pengujian berbagai bahan dan barang tanpa mengikat jumlah tersebut.
Kontraktor tetap bertanggung jawab pula atas biaya pengujian bahan dan barang.

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


6
II. SYARAT-SYARAT TEKNIS ADMINISTRASI

Pasal 1
Peraturan Umum
1. Kontraktor harus mentaati dengan tertib segala peraturan hukum yang berlaku dan
semua syarat-syarat yang berhubungan dengan pelaksanaan dari pekerjaan sejauh tidak
bertentangan dengan peraturan atau persyaratan yang dikeluarkan oleh jawatan
kesehatan kerja.
2. Apabila ada beberapa hal dari persyaratan umum yang dituliskan kembali dalam
dokumen tender ini, berarti hanya meminta perhatian khusus dan tidak menghilangkan
hal-hal lainnya dari persyaratan umum yang ada. Tetapi apabila ada ketentuan yang
berlainan, maka yang berlaku adalah ketentuan dalam dokumen tender ini.

Pasal 2
Surat Perjanjian Kontrak
1. Untuk melaksanakan pekerjaan, pemberi tugas dan Kontraktor akan membuat surat
perjanjian kontrak yang ditandatangani oleh kedua belah pihak.
2. Pada surat perjanjian kontrak dilampirkan dokumen sebagai berikut :
a. Jaminan pelaksanaan;
b. Surat perintah kerja;
c. Seluruh dokumen penawaran untuk pekerjaan ini beserta lampiran-lampirannya;
d. Berita acara rapat pemberian penjelasan pekerjaan;
e. Dokumen tender beserta lampirannya dan gambar-gambar.

Pasal 3
Dokumen Tender, Gambar dan Petunjuk
1. Apabila dianggap perlu, kontraktor harus membuat gambar kerja (shop drawing)
pelaksanaan untuk pekerjaan ini. Gambar-gambar tersebut sebelum dilaksanakan harus
mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari pengawas lapangan.
2. Kontraktor bertanggung jawab atas tepatnya pelaksanan pekerjaan menurut ukuran-
ukuran yang tercantum dalam gambar kerja dan RKS ini.
3. Kontraktor wajib mencocokkan ukuran-ukuran satu sama lain dan segera memberi tahu
kepada pengawas lapangan apabila terdapat perbedaan ukuran antara gambar-gambar
maupun yang terdapat dilapangan.
4. Kontraktor wajib mengadakan pemeriksaan menyeluruh terhadap gambar yang ada.

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


7
III. SYARAT-SYARAT TEKNIS KHUSUS

Pasal 1
Lingkup Pekerjaan
Lingkup Pekerjaan Rehabilitasi Sedang / Berat Ruang Kelas adalah sebagai berikut:
1. Pekerjaan Persiapan;
2. Pekerjaan Struktur;
3. Pekerjaan Pasangan Bata, Plesteran dan Lantai;
4. Pekerjaan Kusen, Pintu, Jendela;
5. Pekerjaan Pengecatan;
6. Pekerjaan Pemberesan.

Pasal 2
Pekerjaan Persiapan
1. Pekerjaan Papan Nama Proyek
a. Penyedian barang / jasa wajib membuat papan nama pekerjaan sesuai ketentuan
yang berlaku dengan persetujuan pengguna barang / jasa.
b. Papan nama pekerjaan menggunakan bahan Bender.
c. Papan nama dipasang pada tempat yang jelas dan mudah dibaca.
2. Pekerjaan Uitzet / Pengukuran
a. Ukuran-ukuran pokok dan ukuran tinggi (elevasi) telah ditetapkan dalam gambar
rencana.
b. Jika terdapat perbedaan antara gambar utama dengan gambar perincian, maka yang
mengikat adalah ukuran-ukuran pada gambar utama atau sesuai persetujuan dari
Direksi Pekerjaan.
c. Sebagai ukuran pokok, titik 0,00 disesuaikan dengan ukuran gambar rencana.
d. Dengan ketentuan tersebut, Kontraktor, Perencana, Direksi Pekerjaan, dan Konsultan
Pengawas agar menetapkan patok titik 0,00 tersebut di lapangan yang dibuat dari
patok beton yang sifatnya permanen dan dipelihara selama pelaksanaan
pembangunan atau tanda lainnya yang bersifat permanen selama pelaksanaan
pekerjaan.
e. Penetapan ukuran dan sudut siku-siku tetap dijaga dengan menggunakan alat
Waterpass dan Theodolit atau berpedoman pada bangunan yang telah ada.

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


8
f. Setelah ukuran ditetapkan, baru dilanjutkan dengan pemasangan papan bouwplank.
Kayu papan yang digunakan minimal dari kayu kelas kuat II dengan ukuran ± 2/20
cm dan usuk 4/6. Bouwplank dipasang dari titik luar Bangunan dengan jarak kurang
lebih 2 meter atau sesuai kondisi lapangan.
g. Perlengkapan peralatan perancah kerja agar dipersiapkan lebih awal sebelum
memulai proses pekerjaan.
3. Sewa Direksi Keet
a. Kantor Direksi Keet dengan luas sekitar 9 m2 (atau disesuaikan dengan kondisi yang
memungkinkan di lapangan) untuk ruang kerja Direksi atau Konsultan Pengawas atau
kegiatan rutin rapat di lapangan dan lain-lain, dengan perlengkapan sebagai berikut :
- Meja rapat lengkap kursi untuk ± 15 orang,
- 2 stel meja tulis dan tempat duduk,
- Almari atau rak penyimpan alat - alat Kantor atau pengawasan,
- Papan tulis atau white board ukuran 90 x 120 cm,
- Sepatu karet dan helm proyek,
- Kotak P3K beserta isinya.
b. Kantor Direksi harus terang, aman, dan nyaman serta selalu terjaga kebersihannya.
Penempatan atau lokasi dari kantor Direksi harus mendapatkan persetujuan dari
Direksi Pekerjaan.
4. Listrik dan Air Kerja
Penyediaan listrik dan air kerja untuk kebutuhan pelaksanaan pekerjaan menjadi
tanggung jawab penyedia barang / jasa.
5. Pekerjaan Bongkaran
a. Sebelum pekerjaan bongkaran dimulai Penyedia Jasa terlebih dahulu minta ijin
kepada pemilik bangunan saat / waktu yang tepat untuk melaksanakan pekerjaan.
b. Kontraktor tidak boleh mengganggu kegiatan aktifitas kerja dilingkungan proyek.
c. Agar dikoordinasikan dengan pemilik bangunan maupun Konsultan Pengawas, waktu
yang tepat untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
d. Dalam melaksanakan pembongkaran Penyedia Jasa harus hati-hati, kerusakan akibat
kelalaian sendiri menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa sendiri.
e. Memperhatikan keselamatan lingkungan pekerjaan.

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


9
f. Semua pembongkaran harus menggunakan cara dan alat-alat khusus yang tidak akan
merusak bagian-bagian yang tidak diisyaratkan dibongkar.
g. Tidak diperkenankan menggunakan bahan peledak atau alat yang dapat
membahayakan orang lain, kecuali atas rekomendasi Kanisius.
h. Semua puing dan sisa bongkaran harus dibuang secepatnya di luar kawasan proyek
atau atas persetujuan Pengawas, sisa bongkaran tersebut harus dikumpulkan di
suatu tempat diareal proyek.
i. Untuk bongkaran genteng, kayu, plywood dan paku harus dikumpulkan sebagai
berikut :
- Semua paku yang menepel pada kayu harus dicabut dan dikumpulkan.
- Semua kayu harus dikumpulkan menurut ukuranya dan disusun berdiri sesuai
dengan panjangnya.
- Untuk papan dan plywood harus dikumpulkan dengan ditumpuk sesuai dengan
ukuranya .
j. Kontraktor wajib memperbaiki atau mengganti dengan yang baru apabila ada bagian-
bagian bangunan yang rusak akibat pembongkaran tersebut dengan semua biaya
ditanggung Kontraktor
k. Semua sisa puing/sisa bongkaran tidak diperkenankan di daur ulang untuk pekerjaan
yang baru kecuali atas persetujuan Pengawas.
l. Halaman atau lapangan kerja terutama dimana lokasi tempat bangunan harus
dibersihkan terlebih dahulu dari pembongkaran bangunan lama. Sisa pembongkaran
dibuang dari lokasi site secepatnya sebelum dilaksanakan uitzet. Segala biaya
pembongkaran dan pembersihan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
6. Penyelenggaraan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK).
Seksi ini mencakup ketentuan-ketentuan yang disyaratkan dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 14 tahun 2021 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun
2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 2 tahun 2017 tentang Jasa
Konstruksi dan Permen PUPR Nomor 10 tahun 2021 tentang Pedoman Sistem
Manajemen Konstruksi (SMKK), meliputi komponen kegiatan penerapan SMKK yang
merupakan penjelasan pengelolaan SMKK paling sedikit terdiri atas Risiko Keselamatan
Konstruksi, Unit Keselamatan Konstruksi (UKK) dan Biaya Penerapan SMKK berikut

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


10
dibawah ini:
a. Penyiapan dokumen penerapan SMKK;
b. Sosialisasi, promosi, dan pelatihan;
c. Alat pelindung kerja dan alat pelindung diri;
d. Asuransi dan perizinan;
e. Personel keselamatan konstruksi;
f. Fasilitas sarana, prasarana, dan alat kesehatan;
g. Rambu dan perlengkapan lalu yang diperlukan atau manajemen lalu lintas;
h. Konsultasi dengan ahli terkait Keselamatan Konstruksi;
i. Kegiatan dan peralatan terkait dengan pengendalian Risiko Keselamatan Konstruksi,
termasuk biaya pengujian/pemeriksaan lingkungan.

Pasal 3
Pekerjaan Struktur
1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan / peralatan dan alat bantu
yang diperlukan untuk terlaksananya pekerjaan ini dengan baik.
b. Pekerjaan ini meliputi seluruh pekerjaan struktur bangunan yaitu:
- Pekerjaan Balok Praktis
2. Persyaratan Bahan
a. Semen Portland :
Harus memakai semen portland tipe II atas persetujuan Direksi lapangan dan harus
memenuhi SNI 2049-2015. Semen yang telah mengeras sebagian / seluruhnya tidak
dibenarkan untuk digunakan. Penyimpanan semen Portland harus diusahakan
sedemikian rupa sehingga bebas dari kelembaban, bebas dari air dengan lantai
terangkat dari tanah dan tumpukan sesuai dengan syarat penumpukan semen .
b. Pasir beton :
Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan bahan organis,
lumpur dan sebagainya, dan harus memenuhi komposisi butir serta kekerasan yang
dicantumkan dalam SNI 2847-2013.
c. Koral Beton / Split :
Digunakan Koral yang bersih, bermutu baik, tidak berpori serta mempunyai gradasi

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


11
kekerasan sesuai dengan syarat-sayarat SNI 2847-2013. Penyimpanan / penimbunan
pasir koral beton harus dipisahkan satu dengan yang lainnya, hingga kedua bahan
tersebut dijamin mendapatkan perbandingan adukan beton yang tepat.
d. Air
Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tak mengandung minyak, asam,
alkali dan bahan-bahan organis/bahan lain yang dapat merusak beton dan harus
memenuhi NI – 3 pasal 10. Apabila dipandang perlu Direksi lapangan dapat minta
kepada Pemborong supaya air yang dipakai diperiksa dilaboratorium pemeriksaan
bahan yang resmi dan sah atas biaya Pemborong.
e. Besi Beton U-24 :
Digunakan mutu tulangan : Notasi (f) memakai BJTP24 dan notasi (D) memakai
BJTD40. Besi harus bersih dari lapisan minyak / lemak dan bebas dari cacat seperti
serpih-serpih. Penampang besi harus bulat serta memenuhi persyaratan SNI 2847-
2013. Bila dipandang perlu Pemborong diwajibkan untuk memeriksa mutu besi beton
ke laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya Pemborong.
3. Syarat-syarat pelaksanaan
a. Pekerjaan pembesian
- Pembesian atau perakitan tulangan balok praktis dikerjakan ditempat lain yang
lebih nyaman.
- Perakitan balok praktis harus sesuai dengan gambar kerja.
- Selanjutnya adalah pemasangan tulangan utama, sebelum pemasangan sengkang,
terlebih dahulu dibuat tanda pada tulangan utama dengan kapur.
- Selanjutnya adalah pemasangan sengkang, setiap pertemuan antara tulangan
utama dan sengkang diikat oleh kawat dengan system silang.
- Setelah tulangan selesai dirakit, besi tulangan diangkut ke lokasi yang akan
dipasang.
- Setelah besi terpasang pada posisinya dan cukup kaku, lalu dipasang beton deking
sesuai ketentuan. Beton deking ini berfungsi sebagai selimut beton.
b. Pekerjaan Bekisting
- Pasang bekisting untuk balok praktis menggunakan kayu kelas III seperti kayu
albasia.

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


12
- Bekisting dipasang dalam 2 sisi, sisi depan dan sisi belakang, dipasang dengan
multiplek 12 mm sebagai bahan bekisting + tulangan kayu kaso 4/6.
- Ukur bekisting menggunakan meteran agar mendapatkan hasil yang sesuai, setelah
itu kemudian letakkan bekisting pada tempat yang sudah ditentukan.
- Bekisting diberikan skor dari kayu reng 3/4 sebagai penguat tekanan saat coran
dituangkan, antar skor diberi jarak sekitar 30cm dengan skor lainnya.
- Pemasangan skor dapat menggunakan paku sebagai perekatnya, kemudian paku
dipakukan dengan menggunakan palu.
c. Pekerjaan Pengecoran
- Sebelum pengecoran terlebih dahulu harus diperiksa kekuatan acuan yang sudah
dipasang / difabrikasi, semua ukuran sudah sesuai rencana.
- Pengecoran beton untuk balok praktis dilakukan menggunakan mutu beton K-175.
- Setelah area siap, lakukan pengecoran beton. Tuang adukan beton ke area
pengecoran, adukan beton diratakan dan dipadatkan sehingga beton tidak ada
sarang tawon / keropos.

Pasal 4
Pekerjaan Pasangan Bata, Plesteran, dan Lantai
1. Lingkup Pekerjaan
Bagian ini meliputi seluruh pekerjaan plesteran 1PC : 5 PS dan acian pada seluruh dinding
bata seperti yang dijelaskan dalam gambar pelaksanaan.
2. Persyaratan Bahan
a. Pasir
- Semua pasir yang dipakai untuk pekerjaan struktur dengan spesifikasi ini harus pasir
alam yang berasal dari Gunung Berapi yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
- Tempat penimbunan penyimpanan harus bersih dari sampah organik, sampah
kimia, bebas dari banjir serta tidak terkontaminasi dengan bahan lainnya, seperti air
laut/garam dan lain-lainnya yang akan menurunkan mutu pasangan batu.
b. Semen dan air sesuai syarat yang ditentukan pada Pasal Pasangan Bata.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Bersihkan permukaan dinding batu bata dari noda-noda debu, minyak, cat dan bahan-
bahan lain yang dapat mengurangi daya ikat plesteran agar benar-benar siap untuk

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


13
dilakukan pekerjaan plesteran.
b. Bentuk screed sementara bila mungkin (untuk pembentukan dasar yang permanen)
untuk menjamin adanya ketebalan yang sama, permukaan yang datar / rata, contour
dan profil-profil akurat.
c. Basahi seluruh permukaan bidang plesteran untuk peresapan. Jangan menjenuhkan
permukaan dan jangan dipasang plesteran sampai permukaan air yang terlihat
tersebut telah kering.
d. Letakkan / tempelkan campuran plesteran dengan tebal 15 mm selama 2,5 jam
(maksimal) setelah proses pencampuran, kecuali selama udara panas / kering, kurangi
waktu penempatan itu sesuai yang diperlukan untuk mencegah pengerasan yang
bersifat sementara dari plesteran.
e. Pekerjaan plesteran harus lurus, sama rata, datar maupun tegak lurus.
f. Untuk mendapatkan permukaan yang rata dan ketebalan sesuai dengan yang
disyaratkan, maka dalam memulai pekerjaan plesteran harus dibuat terlebih dahulu
“kepala plesteran”.
Pasal 5
Pekerjaan Kusen, Pintu, Jendela
1. Lingkup pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan dan peralatan yang
dipergunakan untuk melaksanakan pembuatan dan pemasangan pekerjaan kusen,
pintu dan jendela aluminium seperti yang ditunjukkan dalam gambar rencana
b. Pekerjaan ini dilaksanakan pada kusen, pintu dan jendela atau bagian bangunan
seperti yang ditunjukkan dalam gambar rencana.
2. Persyaratan bahan
a. Type pintu type P1 menggunakan kusen alumunium 4 warna’’, bingkai daun pintu
alumunium warna 30/100, engsel pintu 4’’, lever handle, lock case, cylinder, dan
sandblast.
b. Type jendela J1 menggunakan kusen alumunium 4 warna’’, bingkai daun jendela
alumunium warna 30/70, friction stay, casement handle, dan sandblast.
c. Type bouvenligh BV1 menggunakan kusen alumunium 4 warna’’.
d. Partisi folding gate.
3. Syarat-syarat pelaksanaan

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


14
a. Semua pengerjaan harus dilaksanakan oleh tukang-tukang terbaik dengan standar
pengerjaan yang disetujui Manager Proyek.
b. Pemasangan sambungan harus tepat tanpa cela sedikitpun, tak ada sekrup / penguat
yang terlihat dari luar.
c. Semua detail pertemuan harus runcing (adu manis), halus dan rata, bersih dari
goresan serta cacat-cacat yang mempengaruhi permukaan aluminium.
d. Pemasangan harus sesuai dengan gambar-gambar dan persyaratan teknis.
Setiap sambungan dengan dinding atau benda yang berlainan sifatnya harus diberi "Sealant".
Tanda-tanda dan cacat akibat proses anodizing, yaitu "Crack" atau "Gripper" yang timbul
dipermukaan aluminium harus dihilangkan.

Pasal 6
Pekerjaan Pengecatan
1. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengecatan dinding seperti yang dinyatakan dalam gambar dan
petunjuk Konsultan Pengawas, antara lain :
a. Pengecatan seluruh dinding bangunan bagian luar seperti dalam gambar dan petunjuk
Konsultan Pengawas.
b. Pengecatan dinding bangunan bagian dalam seperti dalam gambar dan petunjuk
Konsultan Pengawas.
2. Pesyaratan bahan
a. Pengecatan Dinding baru, Ex Dulux
3. Syarat-syarat pelaksanaan
a. Pekerjaan harus dilaksanakan dengan cara “full system” sesuai dengan ketentuan
pabrik.
b. Sebelum dilakukan pengecatan pada permukaan dinding tersebut, maka harus
diperhatikan permukaan plesterannya dari :
- Profil yang diminta sesuai dengan gambar sudah dilakukan, berdasarkan peil-peil
yang ditentukan.
- Permukaan plesteran harus datar dan sempurna sesuai dengan pola yang telah
ditentukan.
- Permukaan plesteran telah diberi lapisan aci dengan hasil yang rata dan halus.

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


15
- Seluruh bidang pengecatan sudah bersih dari segala noda-noda atau kotoran /
debu.
c. Pengecatan dilakukan dengan menggunakan alat kuas atau roller, dimana penggunaan
alat-alat tersebut disesuaikan dengan keadaan lokasinya dengan mutu yang baik.
d. Setiap kali lapisan pada cat akhir harus dihindarkan terjadinya sentuhan-sentuhan
selama 1,5 sampai 1 jam. Pengecatan akhir harus dilakukan secara ulang paling sedikit
selama 2 (dua) jam kemudian.

Pasal 7
Pekerjaan Pemberesan
Sebelum diadakan Serah Terima Pekerjaan, Kontraktor pelaksana wajib membersihkan semua
bagian Pekerjaan. Terutama Pembongkaran Stagger yang masih terpasang, pembesihan
semua Bekas tumpahan cat areal pengecatan, lantai dinding, pintu / jendela, dan lain-lain.
Kontraktor Pelaksana juga harus membersihkan barang bekas dan peralatan kerja. Semua sisa
material yang tidak digunakan lagi harus dibawa ke luar dari lingkungan pekerjaan, sehingga
halaman benar-benar bersih dan rapih. Adapun pelaksanaan pembersihan :
1. Pada saat penyelesaian Pekerjaan, tempat kerja harus ditinggal dalam keadaan bersih dan
siap untuk dipakai Pemilik. mengembalikan bagian-bagian dari tempat kerja yang tidak
diperuntukkan dalam Dokumen Kontrak ke kondisi semula.
2. Pada saat pembersihan akhir, semua pekerjaan struktur saluran harus diperiksa ulang
untuk mengetahui kerusakan fisik yang mungkin ditemukan sebelum pembersihan akhir.
Lokasi yang diperkeras di tempat kerja dan semua lokasi diperkeras untuk umum yang
bersebelahan langsung dengan tempat kerja harus disikat sampai bersih.
3. Permukaan lainnya harus dibersihkan dan semua kotoran yang terkumpul kemudian
dibuang.
4. Barang bongkaran atau material yang masih digunakan seperti bekas kayu kuda-kuda
harus disimpan dengan rapih dan ditempatkan sesuai persetujuan owner.

Pejabat Pembuat Komitmen


PPK

Ir. Hj. ELY SUMINAR, M.P.


NIP. 19690303 199703 2 006

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)


16

Anda mungkin juga menyukai