0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan7 halaman

Terapi Wicara untuk Anak Autis Usia Dini

Dokumen ini membahas pelaksanaan terapi wicara dalam menstimulasi kemampuan berkomunikasi anak autis usia 5-6 tahun di SLB Autis Center Kota Bengkulu. Terapi wicara dilakukan menggunakan metode Glen Doman dan ABA untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan interaksi sosial anak.

Diunggah oleh

Anggita Dewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan7 halaman

Terapi Wicara untuk Anak Autis Usia Dini

Dokumen ini membahas pelaksanaan terapi wicara dalam menstimulasi kemampuan berkomunikasi anak autis usia 5-6 tahun di SLB Autis Center Kota Bengkulu. Terapi wicara dilakukan menggunakan metode Glen Doman dan ABA untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan interaksi sosial anak.

Diunggah oleh

Anggita Dewi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PELAKSANANAN TERAPI WICARA DALAM MENSTIMULASI KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI ANAK

AUTIS USIA 5-6 TAHUN DI SLB AUTIS CENTER KOTA BENGKULU

Mata Kuliah Terapi Autisme

Nama :

Anggita Dewi Amalia

201131010

Prodi Tasawuf Dan Psikoterapi 6A

Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta


2023

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Gangguan autis adalah masalah perkembangan anak yang amat komplek. yang mengakibatkan
anak autis sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Anak autis terbagi dalam tiga komponen
yaitu ringan, sedang dan berat. Salah satu gangguan yang dialami oleh anak autis adalah
ketidakmampuan individu untuk berkomunikasi atau berbicara dengan orang lain, bahkan dengan orang
tua atau saudaranya sendiri. Anak autis bersikap seperti tampak tuli, mengoceh tanpa arti, membeo,
hidup dalam dunianya sendiri, atau dunia khayalan, seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada dalam
lingkungan hidup disekitarnya.

Hampir semua anak autis mengalami gangguan bicara dan berbahasa, ada anak yang dapat
berbicara lancar tetapi tidak dapat berkomunikasi, dapat berbicara tetapi dengan kemampuan terbatas,
dan tidak dapat berbicara sama sekali, Maka dari itu dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa
dan berkomunikasi pada anak autis diperlukan pemberian stimulasi.

Salah satu terapi atau stimulasi yang diberikan pada anak autis dapat berupa terapi
medikamentosa dan non medikamentosa. Tujuan terapi autis adalah untuk mengurangi masalah
perilaku dan meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya terutama dalam penguasaan
bahasa. Penderita autis yang dideteksi dini serta langsung mendapat perawatan dapat hidup mandiri
tergantung dari jenis gangguan autistik umur saat terdeteksi dan ditangani. Salah satu penanganan
terapi dalam mengatasi gangguan komunikasi pada anak autis adalah terapi wicara. Terapi wicara adalah
suatu keharusan bagi autis, karena semua penyandang autis mempunyai keterlambatan bicara dan
kesulitan berbahasa.

Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan peneliti diketahui 11 anak dengan usia 6-10 tahun
keterampilan berkomunikasi dan berpikirnya cukup baik dan 21 anak dengan usia 2-5 tahun.
keterampilan berkomunikasi belum baik. karena 21 anak tersebut mengalami jenis autisaloof (menarik
diri dari kontak sosial dan cenderung untuk menyendiri di pojok) dan tidak rutin mengikuti terapi wicara.
Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa sebagian besar anak autis usia 5-6 tahun kemampuan
berbicara atau berkomunikasinya masih kurang baik.

Terapi wicara di Autis Center Kota Bengkulu dengan metode yang menarik perhatian. anak
dilatih untuk mengenal nama-nama panggilan orang terdekatnya, mengenal nama-nama benda yang
sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, melatih respon anak ketika dipanggil, dan melatih
menganal warna. Meskipun pelatihan terapi wicara yang diterapkan di Autis Center Kota Bengkulu
sudah mengandung aspek-aspek kemampuan berbicara seperti bahasa ekresif dan resptif, namun hasil
keluaran yang ditunjukkan anak autis belum maksimal.
BAB II

Pembahasan

A. Pengertian

Gangguan spektrum autisme adalah gangguan perkembangan pervasif yang memiliki


karakteristik berupa kesulitan dalam komunikasi sosial dengan perilaku, minat serta aktivitas yang
terbatas dan pola yang repetitif.

Tanda dan gejala gangguan spektrum autisme

 Kesulitan dalam interaksi dan komunikasi sosial.

Sebagai contoh, anak kurang merespon atau menoleh jika dipanggil, kurang kontak mata, gangguan
bahasa seperti bicara kata yang kurang dimengerti.

 Tidak bersosialisasi.

Kurang keinginan anak untuk berbagi, atau bermain dengan teman sebaya. Cenderung cuek dengan
orang lain.

 Minat dan pola perilaku yang terbatas.

Melakukan kegiatan yang itu-itu saja, tidak bervariasi. Sebagai contoh, jika bermain senang
menjejerkan semua barang, memainkan sesuatu tidak sesuai fungsinya, seperti mobil-mobilan
hanya diputar-putar rodanya. Terdapat rutinitas kegiatan yang monoton.

 Gerakan repetitif.

Terdapat gerakan tubuh tidak bertujuan yang dilakukan berulang-ulang, contoh seperti jalan jinjit,
mengepak-ngepak tangan (flapping) dan body rocking.

 Gangguan sensori.

Respon indera cenderung hipersensitif atau hiposensitif terhadap rangsangan.

B. Jenis-jenis Terapi Autisme

Ada sejumlah terapi kepada anak yang sudah didiagnosis mengalami gangguan spektrum autisme.

1. Terapi Fisik (Fisioterapi)

Beberapa penyandang autis memiliki kemampuan tumbuh kembang bagian motorik yang tertunda.
Fisioterapi ini dapat membantu anak autis melatih koordinasi serta kekuatan otot. Terapi autisme ini
dilakukan oleh terapis khusus yang bersertifikat.
2. Terapi Bermain

Anak autisme punya cara bermain yang berbeda dengan anak lainnya. Kemungkinan, si kecil akan
fokus pada satu bagian mainan, misalnya hanya pada roda mobil-mobilan. Anak dengan autis
umumnya juga tidak mau bermain dengan anak lain. Dengan terapi bermain ini, anak akan dilatih
cara berkomunikasi dan bersosialisasi.

Anak-anak dengan autisme memiliki cara bermain yang berbeda dari anak-anak lain. Mereka
kemungkinan akan fokus pada bagian mainan (seperti roda) ketimbang keseluruhan mainan.
Biasanya mereka juga tidak mau bermain dengan anak-anak lain. Anak autis perlu pertolongan
ketika akan bermain. Dengan terapi bermain, anak dapat melatih kemampuan bersosialisasi dan
berkomunikasi.

3. Terapi Visual

Tidak dimungkiri bahwa sebagian besar anak dengan kondisi autis cenderung sebagai pemikir visual.
Oleh sebab itu, cara belajar dengan menggunakan gambar dapat membantu anak. Terapi visual atau
Picture Exchange Communication System dapat membuatnya lebih anak jadi mudah memahami
sesuatu. Pada proses terapi ini, terapis dapat memberi beberapa gambar binatang dan
menyebutkan namanya. Nantinya, anak diminta untuk menuju gambar binatang yang tepat.

4. Terapi Wicara

Gejala autis juga bisa ditandai dengan kesulitan berbicara. Anak dapat sulit mengungkapkan
keinginannya secara lisan atau mencoba memahami orang lain.

Dengan demikian, anak yang mengalami kesulitan berbicara dapat diberikan terapi wicara Untuk
membantunya, terapi autisme tersebut bisa Anda lakukan di rumah dengan cara mengajaknya
bernyanyi, atau meningkatkan artikulasi bicara dengan melatih otot bibir atau wajah menggunakan
cermin.

5. Terapi Okupasi

Perkembangan motorik lambat juga dapat dialami anak dengan autism spectrum disorder. Bila
demikian, anak membutuhkan terapi okupasi. Terapi okupasi masih berhubungan dengan terapi
sensori integrasi dan keduanya dapat diberikan untuk meningkatkan perkembangan motorik anak.

Pada dasarnya terapi okupasi dapat membentuk anak untuk mampu menjalani kehidupan sehari-
hari. Bila di rumah, terapi seperti memegang sisir atau mainan dengan benar dapat membantunya.
Selain itu, teknik terapi ini juga bisa membantu anak mengatasi hipersensitivitas terhadap cahaya,
sentuhan, maupun suara.
BAB III

Review Jurnal

A. Judul

“ PELAKSANANAN TERAPI WICARA DALAM MENSTIMULASI KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI ANAK AUTIS


USIA 5-6 TAHUN DI SLB AUTIS CENTER KOTA BENGKULU “

B. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tahapan pelaksanaan terapi wicara dalam menstimulasi
kemampuan berkomunikasi anak autis usia 5-6 tahun di SLB Autis Center Kota Bengkulu dan untuk
mengetahui hambatan pada pelaksanaan terapi wicara dalam menstimulasi kemampuan berkomunikasi
anak autis usia 5-6 tahun di SLB Autis Center Kota Bengkulu.

C. Metode

Penelitian ini menggunakan termasuk dalam jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Penelitian ini dilaksanakan di SLB Autisme Center Kota Bengkulu. Informan penelitian sebanyak 5 orang
yang terdiri dari Kepala PAUD Negeri Pembina I Bengkulu, guru dan wali murid.

Sampel penelitian adalah 15 orang dengan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini "Total
Sampling" yaitu teknik pengambilan sampel dengan mengambil seluruh populasi, Teknik pengumpulan
data menggunakan wawancara, observasi dan doumentasi, teknik analisis data dari konsep Miles dan
Huberamn, proses analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai
tuntas sehingga datanya sudah jenuh.

D. Hasil

Pelaksanaan terapi wicara pada anak autis di Autis Center Kota Bengkulu menggunakan terapi Glen
Doman dan terapi ABA (Applied Behavior Analysis. Pelaksanaan metode yang digunakan merupakan
pelaksanaan metode dasar karena digunakan untuk anak usia kurang dari 6 tahun. Metode glenn doman
digunakan untuk menstimulasi jaringan otak yang sehat agar bisa berfungsi dengan baik dan mengganti
fungsi otak yang cidera atau tidak berfungsi.

Pada pelaksanaan metode Glen Doman, anak diajarkan melihat tulisan seperti halnya dengan gambar
dengan cara yang santai dan menyenangkan, karena rangkaian kata menurut anak adalah simbol dari
benda yang diucapkannya. Dalam terapi ini anak diajarkan membaca permulaan bukan dengan cara
mengeja seperti cara konvensional yang banyak diterapkan di sekolah-sekolah. Metode ini
menggunakan cara memperkenalkan huruf kepada anak.

Pada pelaksanaan metode ABA (Applied Behavior Analysis). metode ini mengajarkan kedisiplinan
dimana pada kurikulumnya telah dimodifikasi dari aktivitas sehari hari dan dilaksanakan secara
konsisten untuk meningkatkan perilaku yang signifikan. Kepatuhan dan kontak mata merupakan kunci
utama dalam penerapan metode ABA (Applied Behavior Analysis).

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa setelah dilakukan pengukuran tingkat kemampuan bicara
responden sebelum dilakukan terapi wicara maka peneliti kemudian mulai melaksanakan program
terapi wicara. Setelah mendapat terapi wicara kemudian dilakukan pengukuran ulang kemampuan
bicara dan hasilnya terdapat perubahan peningkatan kemampuan bicara.

Kemampuan berbicara anak juga dapat dapat disebabkan anak sering diajak berinteraksi dengan
lingkungan, sang ibu dan keluarga sering membawa anak mereka untuk bersosialisasi dengan lingkungan
sekitar maupun lingkungan diluar sehingga anak menyerap beberapa kosakata dari sosialisasi tersebut.
Di dalam rumah, anggota keluarga saling mendukung dan perduli dalam memberikan kasih sayang,
selalu mengajari anak mereka agar mampu melakukan kemampuan bicara. Kemampuan bicara seorang
anak juga dapat dipengaruhi oleh faktor biologis anak dimana faktor biologis anak yang satu dengan
yang lainnya berbeda.

Hasil penelitian juga diketahui kemampuan bicara setelah dilakukan terapi wicara menunjukkan bahwa
responden yang mendapat terapi mengalami peningkatan kemampuan bicara. Hal ini terlihat dari
responden yang sudah mampu bereaksi saat dipanggil, mampu menyebut nama-nama keluarga
terdekatnya, dapat menyebutkan nama-nama benda yang ada dilingkungannya.
Daftar Pustaka

Yanti, N., B. Husnul, S. Fitriani. 2020. Penanganan Terapi Wicara Dalam Menstimulasi
Kemampuan Komunikasi Anak Autis Usia 5-6 di SLB Autis Center Kota Bengkulu. Journal of
Early Childhood Islamic Education 4 (1): 78-85.

Anda mungkin juga menyukai