PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI KLINIK
STUDI KASUS TBC
KELOMPOK 2A
Ruth Thea Septine Muhammad Fadly Anditho
20190430038 20190430042
Rafi Rahmatika Andini Delisha Dwita S.
20190430039 20190430044
Valen Tri Agusti Nata Nindya Maskurisna
20190430040 20190430045
Tanti Ayu Triwahyuni Intan Sarafina Putri
20190430041 20190430046
DATABASE PASIEN
•Nama : Ny A
•Usia : 55 tahun
•BB : 43 Kg
•Keluhan : Batuk-batuk sejak 3 bulan yang lalu, berat badan semakin menurun, berkeringat
sepanjang malam, 1 minggu ini didapatkan batuk darah
•Tanggal 02 maret 2018, pasien datang ke poli TB di RS, dan dilakukan pemeriksaan sputum,
didapatkan hasil BTA 3+, dan oleh dokter paru didiagnosis TB paru kategori I
•Tanggal 03 maret 2018, pasien mulai diberikan obat TB dalam bentuk FDC dan dirawat jalan.
•Pada bulan september 2018, pemeriksaan BTA –
•Diagnosis : TB paru kategori I
Data Klinis Bulan (2018)
Maret Mei Juni Juli
Batuk-batuk ++ + + + Parameter Nilai Bulan (2018)
Normal
Nyeri sendi + + +
Maret Mei Juli
Nafsu makan + + +
berkurang SGOT 0 – 32 13 30 50
Sklera kuning + U/l
Kesemutan + + + SGPT 0 – 33 9 29 75
U/l
Asam urat 2,6-6,5 10,3 10,1
NO OBAT RUTE DOSIS Bulan Perawatan (2018)
Mar Apr Mei Jun Juli Agus
1 4 FDC (HRZE) PO 1x 3 tab V v √ √ √
2 2 FDC (HR) PO 1x2 tab v √ √ √
3 Curcuma Tab PO 1x1 tab v v v V
4 Vitamin B6 PO 1x1 tab v v v v V
5 Na-Diklofenac PO 3x1 tab v v v
Analisa Kasus
Dari pengamatan data klinis, pasien mengeluhkan batuk pada bulan Maret. Namun, pada bulan
Mei – Juli, keluhan batuk sudah mulai berkurang, tetapi seiring berjalan nya waktu, pada bulan Mei –
Juni pasien mulai merasakan nyeri sendi, nafsu makan berkurang, dan kesemutan. Dan pada bulan
Juli mulai timbul skrela kuning
Untuk parameter data lab, kadar SGOT, SGPT dan asam urat meningkat melebihi batas normal.
Pasien di diagnosis TB Paru Kategori I, yang di beri pengobatan terapi intensif 4FDC (Rifampicin,
Isoniazid, Pyrazinamide dan Ethambutol) untuk 2 bulan (Mei-April). Kemudian di lanjutkan dengan
terapi lanjutan 2FDC (Rifampicin dan Isoniazid) untuk 4 bulan
Pasien mengeluhkan nyeri sendi, nafsu makan berkurang, kesemutan dan sklera kuning setelah
pemakaian OAT, keluhan-keluhan tersebut merupakan eso dari penggunaan OAT, maka dengan eso
tersebut diberikanlah terapi untuk mengurangi eso yang dikeluhkan pasien.
•Untuk mengurangi nyeri sendi diberikan terapi Diklofenak tablet, 3 x 1 tablet
•Untuk menambah nafsu makan diberikan terapi Curcuma tablet, 1 x 1 tablet
•Untuk mengurangi kesemutan diberikan terapi Vitamin B6, 1 x 1 tablet
Pendahuluan Tuberculosis
Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang
penyakit parenkim paru. Pengertian Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular langsung yang
disebabkan karena kuman TB yaitu Myobacterium Tuberculosis. Mayoritas kuman TB
menyerang paru, akan tetapi kuman TB juga dapat menyerang organ Tubuh yang lainnya.
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium Tuberculosis). Sumber penularan penyakit Tuberkulosis adalah penderita
Tuberkulosis BTA positif pada waktu batuk atau bersin. Penderita menyebarkan kuman ke
udara dalam bentuk droplet (percikan dahak).
Zainita, A.P. and Ekwantini, R.D., 2019. PENERAPAN BATUK EFEKTIF DALAM MENGELUARKAN SEKRET
PADA PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI DI KELUARGA
(Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta)
Patofisiologi
Tempat masuk kuman Mycobacterium Tuberculosis adalah saluran pernafasan,
saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis (TBC)
terjadi melalui udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil
tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas dengan
melakukan reaksi inflamasi bakteri dipindahkan melalui jalan nafas, basil tuberkel yang
mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu
sampai tiga basil, gumpalan yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan
cabang besar bronkhus dan tidak menyebabkan penyakit.
Patofisilogi
Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala
Pneumonia akut.
Setelah berada dalam ruang alveolus, basil tuberkel ini membangkitkan reaksi
peradangan. Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah.
Organisme yang lolos melalui kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah
dalam jumlah kecil, yang kadang-kadang dapat menimbulkan lesi pada berbagai
organ lain.
Komplikasi yang dapat timbul akibat Tuberkulosis terjadi pada sistem
pernafasan dan di luar sistem pernafasan. Pada sistem pernafasan antara lain
menimbulkan pneumothoraks, efusi pleural, dan gagal nafas, sedang diluar sistem
pernafasan menimbulkan Tuberkulosis usus, Meningitis serosa, dan Tuberkulosis
milier.
Zainita, A.P. and Ekwantini, R.D., 2019. PENERAPAN BATUK EFEKTIF DALAM
MENGELUARKAN SEKRET PADA PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PEMENUHAN
KEBUTUHAN OKSIGENASI DI KELUARGA (Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes
Yogyakarta)
a. Pengobatan TB harus selalu meliputi pengobatan tahap awal dan tahap
lanjutan dengan maksud:
• Tahap Awal: Pengobatan diberikan setiap hari. Paduan pengobatan pada tahap ini adalah
dimaksudkan untuk secara efektif menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien
dan meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman yang mungkin sudah resistan sejak
sebelum pasien mendapatkan pengobatan.
• Tahap Lanjutan: Pengobatan tahap lanjutan bertujuan membunuh sisa sisa kuman yang
masih ada dalam tubuh, khususnya kuman persister sehingga pasien dapat sembuh dan
mencegah terjadinya kekambuhan
( KEMINKE,2017)
S/O PROBLEM MEDIK TERAPI ASSEMENT MONOTORING
Batuk-batuk TB kategori I 4 FDC ( HRZE ) . Pasien Ny. A mengalami Batuk berdarah
- Berat badan (Isoniazid, batuk-batuk selama 3 bulan dan 1
menurun Pyrazinamid, minggu didapatkan batuk darah,
- Berkeringat Etambutol, berat badan menurun, berkeringat
sepanjang Rifampisin) sepanjang malam , batuk
malam 2 FDC (HR) berdarah maka diberikan
- Batuk (Isoniazid, combinasi 4 FDC tb paru dan
Berdarah Rifampicin) didiagnosis ketegori 1.
disebabkan adanya M.
tuberculosis menyebabkan
batuk selama 3 bulan,
menurunan berat badan,
berkeringat sepanjang malam,
dan batuk berdarah selama 1
minggu. Setelah dilakukan
pemeriksaan sputum didapatkan
hasil BTA 3+.
S/O PROBLEM TERAPI ASSEMENT MONOTORING
MEDIK
Pengkombinasian hiperurisemia - Sehingga diatasi dengan Asam urat
OAT Pirazinamid dan pemberian OAT yaitu 4 FDC
Etambutol ini dapat (HRZE) selama 2 bulan pertama
meningkatkan
1x 3 tablet selama
reabsorbsi asam
Asam urat fase intensif, dan dan
dilanjutkan 2 FDC (HR) 2 tab,3 x
seminggu pada fase lanjutan
selama 4 bulan
- Pirazinamid dan Etambutol
akan menghambat
pertukaran ion Asam urat
pada tubulus ginjal
sehingga asam urat yang
seharusnya dikeluarkan
namun menjadi
terreabsorbsi kembali
kedalam darah.
Pembahasan
Pasien mendapatkan terapi OAT 4 FDC (HRZE) pada 2 bulan awal dan 4
bulan terakhir. menurut guideline pada pasien yang memiliki berat badan 43
kg diberikan terapi 4 FDC 1 x 3 tablet selama 2 bulan awal pada fase intensif
dan dilanjutkan pemberian OAT 2 FDC (HR) 3 tablet setiap 3 x 1 minggu
selama 4 bulan pada fase lanjutan. Sedangkan terapi yang telah diterima
pasien bahwa pasien mendapat hanya 2 tablet OAT 2 FDC (HR) selama 3
x 1 minggu. Jadi terapi yang diterima pasien belum sesuai dengan guidline
yang ada
S/O PROBLEM TERAPI ASSESMENT MONOTORING
MEDIK
Nyeri sendi Hiperurisemi Diklofenac Pasien megalami nyeri pada Nyeri sendi, asam
a bagian sendi selama 3 bulan pada urat
O : Asam urat > 6,5 saat mengkonsumsi kombinasi
obat TB yaitu 4 FDC salah satunya
yaitu pyrazinamide. Pyrazinamid
dapat
menghambat sekresi tubular ginjal
sehingga menyebabkan
hiperuricemia, untuk
mengontrol kadar asam urat
pasien diberikan Diclofenac 3 x 1
tablet. (WHO. Treatment Of
Tubeculosis. 4th
edition)
S/O PROBLEM MEDIK TERAPI ASSESMENT MONITORIN
Pirazinamid dan Etambutol akan
menghambat pertukaran ion Asam urat
pada tubulus ginjal sehingga asam
urat yang seharusnya dikeluarkan
namun menjadi terreabsorbsi kembali
kedalam darah. Pengkombinasian
OAT Pirazinamid dan Etambutol ini
dapat meningkatkan reabsorbsi asam
urat hingga 2x lipat
(Putra, 2009).
S/O PROBLEM MEDIK TERAPI ASSESMENT MONITORING
Kesemutan Neuropati Perifer Vitamin B6 OAT yang mempunyai efek Gejala kesemutan /
samping berupa kesemutan neuropati
adalah Isoniazid menyebabkan
menghambat proses metabolisme
dari piridoksin ( vit b 6), jadi Perlu
ditambahkan vitamin b6 agar
pasien tidak mengalami neuropati
perifer yang disebabkan
kurangnya piridoksin ( vit b 6 ),
untuk mengatasinya diberikan
vitamin B6 1 x
1 tablet
S/O PROBLEM MEDIK TERAPI ASSESMENT MONITORING
Sklera kuning, Hepatitis Curcumin 1x Obat OAT Monitoring
nafsu makan 1tablet (Rifampicin,Isoniazid, SGOT,SGPT dan
berkurang Pyrazinamid,Etambutol) berat badan
O : SGOT, SGPT Dimetabolisme dihepar pasien.
sehingga penggunaan
jangka Lama dapat
menyebabkan kerusakan
heparuntuk mengatasi hal
tersebut pasien diberikan
terapi curcumin 1 x 1 tablet
KEMENKES,2017
th
Farmacotherapy Handbook 9 edition : Tuberculosis
NCBI: Evidence-Based Tuberculosis Diagnosis
(KEMENKES, 2017)
(KEMENKES,2017)
PEMBAHASAN
Pasien atas nama Ny. A terdiagnosis penyakit TBC kategori 1 pada bulan Maret, dan mendapatkan
pengobatan lini pertama hingga bulan April. Namun pada bulan Juli terjadi peningkatan SGOT SGPT. Hal ini
menunjukkan bahwa pengobatan tersebut memberikan efek samping berupa Hepatotoksik.
Efek hepatotoksik berhubungan dengan proses farmakokinetik yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme
dan ekskresi. Tanda hepatotoksik adalah peningkatan enzim-enzim transaminase dalam serum yang terdiri
dari Serum Glutamat Oxaloacetate Transaminase (SGOT) yang disekresikan secara paralel dengan Serum
Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT). SGPT lebih spesifik untuk mendeteksi kerusakan hepar
(Prihatni, 2005). Semakin tinggi peningkatan kadar SGOT dan SGPT, semakin tinggi tingkat kerusakan
sel-sel hati (Cahyono, 2009). Tanda hepatotoksik berupa peningkatan enzim-enzim transaminase
dalam serum yaitu peningkatan kadar enzim SGPT dan SGOT.
Lalu pada bulan Mei terjadi peningkatan kadar Asam urat pada Ny.A, dikarenakan Obat anti
tuberculosis (OAT) yang digunakan yakni Pirazinamid dan Etambutol akan menghambat pertukaran
ion Asam urat pada tubulus ginjal sehingga asam urat yang seharusnya dikeluarkan namun menjadi
terreabsorbsi kembali kedalam darah. Pengkombinasian OAT Pirazinamid dan Etambutol ini dapat
meningkatkan reabsorbsi asam urat hingga 2x lipat (Putra, 2009).
DATABASE PASIEN
•Nama : Tn S
•Usia : 62 tahun
•BB : 48 Kg
•Keluhan : batuk-batuk sejak 2 bulan yang lalu yang dirasakan semakin memberat, lemas,
hilang nafsu makan
•RPD : bulan Oktober 2017, pasien didiagnosa TB paru, dan mulai diberikan obat anti TB.
pada bulan Januari 2018, pasien putus berobat dan tidak lagi kontrol pada poli TB
•Tanggal Mei 2018, pasien datang ke poli TB, didapatkan hasil pemeriksaan BTA 3+
•Diagnosis dokter : TB paru kategori II
Data Klinis Data Lab
Data Klinis Bulan (2018) Parameter Nilai Bulan (2018)
Normal
Apri Mei Juni Agus
Maret Mei Juli
Batuk-batuk ++ + + +
SGOT 0 – 32 15 78 89
Nafsu makan + + +
U/l
berkurang
SGPT 0 – 33 19 99 90
Sklera kuning + + + U/l
Asam urat 2,6-6,5
Kesemutan + + +
Pemberian Terapi
NO OBAT RUTE DOSIS Bulan Perawatan (2018)
Apr Mei Jun Juli Agus Sept Okt
1 4 FDC (HRZE) PO 1x 3 tab V v
2 Streptomisin inj 750 mg IM 1 x 1 minggu v v
3 4 FDC (HRZE) PO 1x3 tab V
4 2 FDC (HR) PO 3 tab, 3 x seminggu √ √ √ V
5 Ethambutol PO 3 tab, 3 kali seminggu v v v V
6 Curcuma Tab PO 1x1 tab V v v V V
7 Vitamin B6 PO 1x1 tab v v v v V V
S/O Problema Terapi Assessment Monitoring
medik
Batuk-batuk TB kategoti 2 April : •Pasien mengalami batuk-batuk lagi karena •Frekuensi batuk
sejak 2 bulan •4 FDC pasien putus berobat dan tidak lagi kontrol •Nafsu makan menurun (eso dari
yang lalu yang (1x3 tab) pada poli TB sehingga hasil pemeriksaan HRZ)
dirasakan (INH BTA 3+ •Kesemutan (eso dari 4 FDC)
semakin Rifampin •Pemberian tablet 4 FDC sebanyak 3 tablet
memberat, Pirozinamid sudah sesuai, karena 3 tablet FDC
lemas, hilang Etambutol diberikan pada tahap pengobatan intensif
nafsu makan Streptomisin IM pada pasien yang memiliki berat antara
(1x1 minggu) 38-54 kg selama 56 hari/2 bulan (April dan
Mei). Sementara, Tn S memiliki berat
badan 48 kg.
Streptomizin sudah sesuai 1 x 1 seminggu
S/O Problema Terapi Assessment Monitoring
medik
Batuk batuk, nafsu TB kategoti 2 Mei: •Neuropati perifer disebabkan oleh •Kesemutan
makan berkurang, sklera •4 FDC efek samping 4 FDC (isoniazid). •SGOT dan SGPT
kuning, kesemutan (1x3 tab) Untuk pengobatannya dapat diberikan •Sklera kuning
(INH vitamin B6 (piridoxin). •Nafsu makan
Rifampisin (PIONAS, antituberkulosis)
Pirozinamid •Sklera kuning terjadi karena efek
Etambutol ) samping dri obat 4 FDC, yaitu
•Streptomisin IM (1x1 gangguan fungsi hati yang
minggu) menyebabkan kadar bilirubin dalam
•Vitamin B 6 (1x1 tab) darah berlebihan.
•Berkurangnya nafsu makan
disebabkan karena eso dari HRZ
(isoniazid, rifampisin, pirazinamid)
untuk mengatasinya OAT dapat
diminum pada malam hari sebelum
tidur dan setelah makan.
(PIONAS, Antituberculosis)
S/O Problema medik Terapi Asesment Monitoring
nafsu makan TB paru kategori 2 Juni: •Pemberian tablet 4 FDC sebanyak 3 tablet •Frekuensi batuk
berkurang, sklera •4 FDC sudah sesuai, karena 3 tablet FDC diberikan •Nafsu makan
kuning (1x3 tab) pada tahap pengobatan intensif pada pasien •Sklera Kuning
(INH yang memiliki berat antara 38-54 kg selama 28 •Intensitas batuk
Rifampin hari. Sementara, Tn S memiliki berat badan 48 •SGOT
Pirozinamid kg. •SGPT
Etambutol ) (PIONAS, antituberkulosis)
•Curcuma tab •Pemberian curcuma tab diharapkan dapat
(1x1 tab) memperbaiki sklera kuning karena curcuma
•Vit B 6 (1x1 tab) berfungsi sebagai proteksi liver (GSOT, SGPT)
• dan memperbaiki nafsu makan.
Daftar Pustaka
● Zainita, A. P., & Ekwantini, R. D. (2019). PENERAPAN BATUK EFEKTIF DALAM MENGELUARKAN SEKRET
PADA PASIEN TUBERKULOSIS DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI DI KELUARGA (Doctoral
dissertation, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta).
● KNCV Tubercolosis Foundation Indonesia
● Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Matzke, G. R., Wells, B. G., & Posey, L. M. (2014). Pharmacotherapy: A
Pathophysiologic Approach, ed. McGraw-Hill Medical, New York.
● Depkes RI (2009) EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS PADA PASIEN TUBERKULOSIS
PARU DI INSTALASI RAWAT INAP BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI –
DESEMBER 2010
● Comparisons of physical properties and rates of rifampicin dissolution in Fixed Dose Combination (2FDC) tablet
against rifampicin tablet ,Normalitasari Ayu Department of Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Ahmad
Dahlan, Yogyakarta, Indonesia