0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
61 tayangan288 halaman

Konversi Dollar ke Rupiah dalam Investasi

Diunggah oleh

dwiyohandri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
61 tayangan288 halaman

Konversi Dollar ke Rupiah dalam Investasi

Diunggah oleh

dwiyohandri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TIME Value of MONEY

JOHN SUARLIN, [Link].


TIME--VALUE OF MONEY
TIME
 Bunga majemuk
◦ Nilai setelah n tahun (F) atas pembayaran P
dengan bunga tahunan, i konstan,

compound-amount factor

◦ Nilai sekarang (P) untuk pengeluaran di masa


datang (F):

Present-value factor
NILAI MATA UANG
FUNGSI WAKTU
TIME--VALUE OF MONEY
TIME
 Rasionalisasi investasi
◦ Investasi tinggi
 Suku bunga cukup rendah
 Kondisi makro-ekonomi stabil
 Lifetime lama (20-30 tahun).
◦ Investasi rendah
 Suku bunga boleh tinggi jika payback period < 3
tahun.
TIME--VALUE OF MONEY
TIME
 Anuitas
◦ Nilai terakumulasi S atas pembayaran regular tahunan
(anuitas) R selama n tahun dengan bunga i,

compound-amount factor

◦ Saving anuitas R untuk mendapatkan nilai terakumulasi


setelah n tahun sebesar S,

sinking-fund factor
TIME--VALUE OF MONEY
TIME
 Biaya kapital teranualisasi
◦ Nilai investasi saat ini P atas pembayaran tahunan A selama
periode n dengan bunga i;

present-value series factor

◦ Cicilan yang dibayar setiap akhir tahun A atas pinjaman P


selama n tahun dengan bunga i;

annualisation atau capital-recovery factor.


TIME--VALUE OF MONEY
TIME
PERHITUNGAN FINANSIAL
TIME--VALUE OF MONEY
TIME
 Efek inflasi
DEFINISI
 Grass-root plant:
◦ Pabrik yang dibangun di lokasi baru.
 Battery limit (BL):
◦ Area yang membatasi pabrik,
◦ Tidak termasuk: fasilitas penyimpanan berukuran besar,
utilitas umum, gedung administrasi.
 Total Capital Investment (TCI):
◦ Jumlah dana yang diperlukan untuk mendesain, membangun
dan mengoperasikan pabrik;
◦ Terdiri dari:
 fixed-capital
 working-capital.
FIXED CAPITAL
 Kapital untuk medesain dan membangun
pabrik yang siap distartup,
 Biasanya dibayarkan ke kontraktor,
 Terdiri dari:
◦ Biaya langsung
◦ Biaya tak-langsung.
BREAKDOWN FIXED CAPITAL
RENTANG FIXED-
FIXED-CAPITAL
Component Range, %
Direct costs
Purchased equipment 15-40
Purchased equipment installation 6-14
Instrumentation and controls (installed) 2-8
Piping (installed) 3-20
Electrical (installed) 2-10
Buildings (including services) 3-18
Yard improvements 2-5
Service facilities (installed) 8-20
Land 1-2
Total direct costs
Indirect costs
Engineering and supervision 4-21
Construction expense 4-16
Contractor’s fee 2-6
Contingency 5-15
Total fixed-capital investment
WORKING CAPITAL
 Kapital di bulan-bulan awal proses produksi sampai diperoleh
income;
 Komponen:
◦ Bahan mentah dan bahan lain di stock (~ inventori satu bulan
produksi);
◦ Produk akhir di stock (beberapa hari) dan produk semiakhir di
proses;
◦ Piutang;
◦ Uang cash untuk pengeluaran operasi bulanan seperti gaji, upah,
dan pembelian bahan mentah;
◦ Hutang;
◦ Pajak.
 Biasanya direkoveri di akhir proyek.
WORKING CAPITAL
 Taksiran awal:

◦ k = 0,05 (produk tunggal dan sederhana),


0,15 (produk petrokimia),
0,30 (proses dengan rentang kualitas produk
yang lebar dengan pasar yang canggih),
+ 0,10 untuk biaya start-up (taksiran kontraktor).
TOTAL CAPITAL INVESTMENT
(TCI)
METODE ESTIMASI BIAYA
1. Rasio turnover
2. Biaya investasi per satuan kapasitas
3. Faktor pangkat terhadap rasio kapasitas
4. Faktor Lang
5. Faktor persentasi delivered-equipment
cost
6. Estimat unit-cost
7. Estimat item detail
METODE RASIO TURNOVER
 Untuk order-of-magnitude estimate;
 Data:
◦ Rasio turnover;

 Gross annual sales = annual production rate x


average selling price of the commodites;
 Kebalikan rasio turnover = rasio kapital atau rasio
investasi;
 Rasio turnover  5 (industri kimia ~ 1).
METODE RASIO TURNOVER
ESTIMASI BIAYA ITEM ALAT
 Biaya alat:

= Harga rujukan tipe standar (carbon steel, temperatur dan


tekanan sedang)
Fm = Faktor koreksi bahan
Fp = Faktor koreksi tekanan
Ft = Faktor koreksi temperatur
SHELL AND TUBE
HEAT EXCHANGER
GASKETED PLATE AND FRAME AND
DOUBLE PIPE HEAT EXCHANGER
VERTICAL
PRESSURE VESSEL
HORIZONTAL
PRESSURE VESSEL
COLUMN PLATE
FAKTOR KOREKSI
FURNACE
ALAT LAIN
ALAT LAIN
ALAT LAIN
ALAT LAIN
ANALISIS PROFITABILITAS

JOHN SUARLIN, [Link].


DEFINISI
INDEKS PROFITABILITAS TRADISIONAL

• Rate of return
• Payback period
RATE OF RETURN

• Profit tahunan yang dihasilkan oleh satu unit kapital yang


diinvestasikan,

• Annual net profit sebelum atau sesudah tax;


• Dapat menggunakan net profit di tahun ketiga;
• Kapital yang diinvestasikan: original total capital
investment, fixed-capital, depreciated investment,
average investment, dll;
• Disebut juga engineer’s method, du Pont method,
capitalized earning rate.
RATE OF RETURN

• Jika menggunakan fixed-capital

– Turnover ratio = S/Fc = rasio penjualan kotor tahunan terhadap


fixed-capital investment.
– CR = Fc/S = capital ratio.
– Turnover ratio  5 (industri kimia  1);
• ROI setelah pajak = 15-20%;
• ROI sebelum pajak = 30-40%.
• Digunakan untuk menilai proyek kecil.
PAYBACK PERIOD

• Waktu minimum untuk merekoveri investasi kapital awal;


• Berdasarkan profit rata-rata dan depresiasi rata-rata;
• Profit rata-rata = income - operating cost (tidak termasuk
depresiasi);
• Investasi kapital awal = biaya kapital tetap awal yang
mengalami depresiasi;
• Disebut juga payback time, payout period, payoff period,
cash recovery period dan years to payout.
PAYBACK PERIOD
• Tanpa efek time-value of money:

• Dengan efek time-value of money

• Payback period < 5 tahun (proyek kecil < 3 tahun; proyek


berisiko tinggi < 2 tahun);
INDEKS PROFITABILITAS MODERN

• Menggunakan cash flow di seluruh lifecycle


proyek;
– Net present value (NPV)
– Discounted cash flow rate of return (DCFRR)
– Capitalized cost
NET PRESENT VALUE

• Untuk menilai profitabilitas jangka panjang;


• Merupakan profit sesungguhnya setiap tahun;
• Cash flow CFn yang diterima di tahun n dibawa
ke present value CFn,o:

• Cumulative cash flow dalam net present value


(NPV):
NET PRESENT VALUE

• Analisis net present value


– Objektif: memaksimalkan NPV,
– Merekoveri initial investment,
– Menghasilkan nilai tambah setelah break-even
point,
– Ukuran nilai total yang dicapai pada periode yang
lama,
– Tergantung pada asumsi suku bunga.
NET PRESENT VALUE

• Analisis net present value (lanjutan)


– Proyek profitable:
• NPV positif dengan suku bunga cukup tinggi (misal
10%);
• Proyek terbaik: NPV paling tinggi;
• Evolusi NPV dapat mengusulkan proyek retrofit atau
penghentian proyek.
DISCOUNTED CASH FLOW RATE OF RETURN
(DCFRR)
• Perhitungan NPV pada berbagai suku bunga
memungkinkan diperolehnya suku bunga dimana net
present value akumulatif di akhir proyek bernilai nol
(disebut discounted cash-flow rate of return (DCFRR));
• DCFRR: ukuran suku bunga maksimum yang dibayar
sebuah proyek dan masih break even di akhir umur
proyek;
• Disebut pula internal rate of return (IRR), investors’
return on investment, profitability index, interest rate of
return, atau discounted cashflow.
DISCOUNTED CASH FLOW RATE OF RETURN
(DCFRR)
• DCFRR dihitung sebagai suku bunga dimana net present value
di akhir proyek menjadi nol:

r = DCFRR;
• Menggunakan nilai setelah pajak yang dikoreksi dengan
inflasi;
• Untuk membandingkan kinerja kapital berbagai proyek;
• Ukuran profitabilitas maksimum;
• Proyek dengan DCFRR terbesar paling disukai.
CAPITALIZED COST
• Untuk membandingkan alternatif yang berupa
pilihan investasi pada sebuah proyek
– Misal pilihan antara stainless steel dan mild steel
pada reaktor;
• Capitalized cost = biaya pembelian alat mula-mula
+ biaya pergantian alat secara terus-menerus yang
terkena akumulasi bunga;
• Jika biaya operasi sama, alternatif yang
memberikan capitalized cost terendah dipilih.
CAPITALIZED COST

K = capitalised costs,
Cv = original cost of equipment,
CR = replacement cost,
Vs = salvage value di akhir umur manfaat,
n = umur manfaat taksiran;
= capitalised-cost factor.
ANALISIS SENSITIVITAS
• Menguji pengaruh ketidakpastian komponen biaya (seperti biaya
bahan baku) pada feasibility sebuah proyek;
• Prosedur:
– Investasi dan cash flow dihitung dengan menggunakan nilai berbagai
faktor yang paling mungkin terjadi (kasus dasar);
– Cash flow dan kriteria ekonomi dihitung dengan menggunakan
rentang eror setiap faktor; misalnya error 10% harga jual;
– Hasilnya menunjukkan seberapa sensitif cash flow dan kriteria
ekonomi terhadap error pada angka prediksi setiap faktor;
• Memberi informasi tentang derajat resiko dalam membuat keputusan
mengenai kinerja prediksi.
METODE BIAYA INVESTASI PER
SATUAN KAPASITAS

JOHN SUARLIN, [Link].


METODE BIAYA INVESTASI PER SATUAN
KAPASITAS
• Untuk order-of-magnitude estimate;
• Data:
– Fixed-capital investment per satuan kapasitas produksi tahunan;

fixed - capital investment


Fixed - capital investment  . kapasitas produksi tahunan
kapasitas prod tahunan
METODE BIAYA INVESTASI PER SATUAN
KAPASITAS

Time base 1991


METODE FAKTOR PANGKAT TERHADAP RASIO
KAPASITAS
• Untuk order-of-magnitude estimate;
• Data:
– Fixed-capital investment pabrik sejenis yang ada
– Kapasitas pabrik sejenis yang ada
– Eksponen
Fcn = Fc(R)n
R = rasio kapasitas fasilitas baru terhadap
kapasitas fasilitas lama;
METODE FAKTOR PANGKAT TERHADAP RASIO
KAPASITAS

Time base 1991


METODE FAKTOR LANG
• Untuk study estimate;
• Data:
– Purchase cost of equipment (PCE) alat utama
• Alat utama:
– berada dalam battery limit (tangki penyimpan,
reaktor, kolom, heat exchanger, pompa,
kompresor, akumulator, knock-out drum dll.);
• Faktor tergantung jenis pabrik proses;
METODE FAKTOR LANG

• Kp = faktor pengali Lang;


• PCE = purchase cost of equipment.

Jenis Faktor untuk


pabrik FC TCI
Solid-processing plant 3,9 4,6
Solid-fluid-processing plant 4,1 4,9
Fluid-processing plant 4,8 5,7
METODE PERSENTASI DELIVERED-
DELIVERED-EQUIPMENT
COST
• Untuk preliminary estimate;
• Data:
– Biaya alat terkirim (delivered equipment cost);
• Estimasi item lain pada total direct plant cost:
– Persentasi dari delivered-equipment cost;
• Estimasi komponen biaya investasi lain:
– Persentasi dari delivered-equipment cost;
– Persentasi dari total direct plant cost,
– Persentasi dari total direct and indirect plant costs,
– Persentasi dari total capital investment,
METODE PERSENTASI DELIVERED-
DELIVERED-EQUIPMENT
COST

D. R. Woods, Financial Decision Making in the Process Industry, Prentice Hall, Englewood Cliffs, NJ, 1975, p. 184.
METODE PERSENTASI DELIVERED-
DELIVERED-EQUIPMENT
COST
METODE PERSENTASI DELIVERED-
DELIVERED-EQUIPMENT
COST
METODE FAKTOR
LANG--CHILTON
LANG
• Untuk preliminary estimate;
• Data:
– Biaya alat terkirim (delivered equipment cost);
• Estimasi biaya alat terintalasi:
– Persentasi dari delivered equipment cost;
• Estimasi biaya item lain pada total direct plant cost:
– Persentasi dari biaya alat terinstalasi;
• Estimasi komponen biaya investasi lain:
– Persentasi dari total direct plant cost.
METODE
MODULAR GUTHRIE
• Untuk preliminary estimate;
• Data:
– FOB purchase cost alat utama dari bahan carbon steel, tekanan
sedang;
• Modul:
1. Total bare-modul cost
2. Site development cost
3. Building cost
4. Offsite facility cost
• Estimasi contingency, contractor fee, auxiliary,dan
industrial building
– Faktor dari jumlah keempat modul (1,18)
METODE
MODULAR GUTHRIE
• Perhitungan bare-modul cost:
– Biaya bahan total ditambahkan ke FOB purchase cost
dengan menggunakan faktor; diperoleh biaya modul M;
– Biaya tenaga kerja (ereksi dan setting) L ditambahkan
sebagai faktor atau dihitung dari rasio L/M; diperoleh M +
L = X (biaya modul langsung);
– Biaya modul tak-langsung (freight, tax, insurance,
engineering, dan field expense) ditambahkan ke (M + L);
diperoleh bare-module cost;

Total bare - module cost   bare - module cost 


i  alat
i
METODE
MODULAR GUTHRIE
METODE
MODULAR GUTHRIE
METODE
MODULAR GUTHRIE

• CTBM = total bare-module cost


• Csite = site development cost
= 10-20% CTBM (grass-root plant)
= 4-6% CTBM (perluasan)
• Cbuilding = building cost
= 10% CTBM (alat berada di dalam ruang)
= 20% CTBM (gedung non-proses, grass-roots plant)
= 5% CTBM (gedung non-proses, perluasan)
• Coffsite facilities = lihat tabel
+ 5% CTBM (utilitas lain)
• Contingency (15%);
18%
• Contractor fee (3%)
• Cwc = working capital
= 15% CTCI
= 17,6% CTPI
METODE UNIT-
UNIT-COST ESTIMATE
• Untuk definitive dan preliminary cost estimate;
• Data:
– Rekaman riwayat biaya yang akurat;
– Estimat harga beli secara detail (dari quotation, index-corrected cost record, data
publikasi);
• Estimasi biaya instalasi alat:
– Persentasi dari delivered-equipment cost.
• Estimasi biaya beton, baja, pipa, jaringan listrik, instrumentasi, isolasi, dll.,
– Kebutuhan bahan dan jam tenaga kerja (dari gambar)
– Unit cost material atau unit cost tenaga kerja per jam;
• Estimasi biaya engineering:
– Jumlah gambar atau spesifikasi
– Unit cost per gambar atau spesifikasi;
• Estimasi construction expense, contractor’s fee, dan contingency
– Faktor dari proyek terdahulu;
METODE UNIT-
UNIT-COST ESTIMATE
METODE ITEM DETAIL
• Setiap item didefinisikan secara hati-hati;
• Kebutuhan alat dan bahan dihitung dari gambar dan
spesifikasi lengkap;
• Biaya alat dan bahan bersumber dari data biaya terkini
atau dari quotation;
• Biaya instalasi diestimasi dari labor rate, efisiensi, dan
perhitungan employee-hour;
• Estimat engineering, drafting, field supervision
employee-hour, dan field-expense harus terinci;
• Survei lokasi untuk meminimalisasi error saat
pengembangan lokasi dan estimat biaya konstruksi.
PURCHASED EQUIPMENT
• Perhitungan biaya:
– Penawaran dari fabrikator atau supplier;
– Biaya dari arsip purchase order masa lalu;
– Publikasi di engineering journal.
ESTIMASI PURCHASED EQUIPMENT
DENGAN SKALA
• Six-tenths-factor rule

• Digunakan jika tidak ada informasi lain;


• Tidak berlaku jika rasio kapasitas > 10;
• Alat dikatakan sama jika jenis konstruksi, bahan
konstruksi, rentang operasi, dan variabel lain sama.
Perencanaan Laba:
COST-VOLUME-PROFIT ANALYSIS

Minggu 2

John Suarlin, [Link].


Kita akan belajar apa saja?
analisis biaya total
vs
analisis biaya marginal
ANALISIS BIAYA TOTAL
(dalam ribuan rupiah)
Penjualan 120.000
Biaya bahan50.000
Biaya buruh15.000
Biaya umum pabrik10.000 (+)
Total75.000
Biaya pemasaran20.000
Biaya umum dan adm15.000 (+)
Total seluruh biaya 110.000(-)
LABA 10.000
•Sebagai gambaran, yaitu jika dari tabel di atas dibuat
analisis biaya per satuan sebagai berikut:
Misalnya satuan barang yang terjual = 100.000 unit
Harga penjualan per satuan = Rp. 1.200
Biaya per satuan = Rp. 1.100 (-)
Laba per satuan = Rp. 100

•Jika satuan barang yang terjual adalah 80.000 unit,


maka
Penjualan = 80.000 x Rp. 1.200 = Rp. 96.000.000
Biaya = 80.000 x Rp. 1.100 = Rp. 88.000.000 (-)
Laba Rp. 8.000.000
Analisis Biaya Marginal
biaya dipisahkan menurut sifatnya
BIAYA TETAP

Rp P = biaya tetap
pada kapasitas
produksi

0 Volume (unit)
BIAYA VARIABEL
Q = biaya
Rp variabel
untuk A unit
α = biaya
variabel per
Q unit
α
0 A Volume (unit)
PENJUALAN
S = hasil
Rp penjualan
A unit
γ = harga jual
S per unit

γ
0 A Volume (unit)
ANALISIS BIAYA MARGINAL
(dalam ribuan rupiah)
Penjualan120.000
Biaya bahan 50.000
Biaya buruh 15.000
Biaya umum pabrik variabel 4.000
Biaya Adm. Variabel 6.000
Biaya penj. Variabel 8.000 (+)
Total Biaya Variabel83.000 (-)
Kontribusi 37.000
Biaya Tetap27.000 (-)
LABA10.000
Misalnya satuan barang yang terjual = 100.000 unit
Maka perincian biaya per satuan adalah sbb:

Harga penjualan per satuan = Rp. 1.200


Biaya variabel per satuan= Rp. 830 (-)
Kontribusi= Rp. 370
Biaya tetap= Rp. 270 (-)
LABA= Rp. 100
Jika satuan barang yang terjual = 80.000 unit

maka,
Penjualan = 80.000 x Rp. 1.200 = Rp. 96.000.000
Biaya variabel = 80.000 x Rp. 830= Rp. 66.400.000 (-)
Kontribusi= Rp. 29.600.000
Biaya tetap= Rp. 27.000.000 (-)
LABA= Rp. 2.600.000
• Berdasarkan Analisis Biaya Total,
laba yang dicapai sebesar Rp.
8.000.000

• Jelas bahwa analisis biaya total


untuk perencanaan laba dapat
menyesatkan manajemen
• Kesalahan yang terlihat adalah pada besarnya
laba, dimana biaya total dianggap
sebagai biaya yang berubah secara
proporsional dengan banyaknya barang
yang terjual
1. ANALISIS CVP DENGAN METODE
KUANTITATIF
NOTASI YANG DIGUNAKAN
NOTASI KETERANGAN
P Penjualan
HJ atau p Harga Jual atau penjualan per unit
BV Total Biaya Variabel
bv Biaya Variabel Satuan
BT Total Biaya Tetap
bt Biaya Tetap Satuan
X atau Q Jumlah unit
persamaan 1

( HJ  bv ).Q  BT  L
2. ANALISIS CVP DENGAN
METODE MARGIN KONTRIBUSI
CONTRIBUTION MARGIN
PER UNIT (CMU)

CMU  HJ  bv
subtitusi ke persamaan 1 menjadi

(CMU .Q)  BT  L
CONTRIBUTION MARGIN (CM)

CM  P  BV
CONTRIBUTION MARGIN RATIO
(CMR)

P  BV
CMR 
P

p  bv
CMR 
p
MARGIN OF SAFETY
MS UNIT  X AKTUAL  X BEP

MS (Rp)  PAKTUAL  PBEP


MARGIN SAFETY RATIO

MSUNIT
MSUNIT 
X AKTUAL

MS

Rp
MS Rp
P
CARA PENDEKATAN KONTRIBUSI
Kontribusi adalah selisih antara hasil
penjualan dengan seluruh biaya variabel

Contoh perhitungan kontribusi per satuan


barang adalah sebagai berikut
Harga jual = Rp.500
Biaya variabel = Rp.300 (-)
Kontribusi = Rp.200
• Untuk menghitung besarnya tingkat penjualan agar
dapat menutup seluruh biaya dan laba yang diinginkan,
digunakan rumusan sebagai berikut:

Jumlah satuan barang yang harus dibuat / dijual :

Biaya tetap  Laba yang diinginkan



Kontribusi per satuan
• Jika biaya tetap adalah = Rp. 7.500.000
• Laba yang diinginkan = Rp. 4.500.000

• Jumlah satuan barang yang harus dibuat /


dijual adalah

7.500.000  4.500.000
 60.000 unit
200
Kelebihan Pendekatan Kontribusi

Titik impas dapat dihitung


Dapat digunakan untuk mencari kombinasi
penjualan yang menghasilkan laba
terbesar
Memperhitungkan faktor pembatas
3. ANALISIS CVP DENGAN METODE
GRAFIK

bagaimana caranya?
GRAFIK BIAYA TOTAL
Rp
BIAYA TOTAL

BIAYA VARIABEL

P BIAYA TETAP

0 Volume (unit)
P = BIAYA TETAP PADA KAPASITAS PRODUKSI
BEP
PENJUALAN
Rp
BIAYA TOTAL
BEP

BIAYA VARIABEL

P BIAYA TETAP

0 Volume (unit)
P = BIAYA TETAP PADA KAPASITAS PRODUKSI
PEMETAAN BEP
Daerah Laba PENJUALAN
Rp
BIAYA TOTAL
BEP

BIAYA VARIABEL

P BIAYA TETAP

0 Volume (unit)
Daerah
Rugi
P = BIAYA TETAP PADA KAPASITAS PRODUKSI
Graphics Method
Breakeven
378
336
294
252
$(000)

210
168
126 Fixed costs
84
42
0
0 1000 2000 3000 4000 5000
Units
lihat kembali persamaan 1
( HJ  bv ).Q  BT  L

break even point adalah keadaan


dimana Laba = 0, jadi
( HJ  bv).Q  BT  0
Contoh:
Produksi dan penjualan = 100.000 unit
Biaya yang dikeluarkan:
Biaya variabel = Rp. 40.000.000
Biaya tetap = Rp. 24.000.000
Harga penjualan per satuan Rp. 1.000
Rp. 24.000.000
BEP ( Rp)   Rp .40.000.000
Rp. 40.000.000
1-
Rp. 100.000.00 0

Rp. 24.000.000
BEP (unit) 
Rp. 1.000/unit - Rp. 400/unit
 40.000 unit
Analisis Sensitivitas
• Analisis Biaya, Volume dan Laba dinyatakan
sebagai struktur untuk menjawab suatu variasi
skenario “apa – jika.

• “apa” yang terjadi untuk laba “jika” terjadi:


– Perubahan harga jual
– Perubahan volume
– Perubahan Struktur Biaya
• Biaya Variabel per unit (bv) berubah
• Biaya tetap berubah
Operating Leverage
• Operating Leverage (OL) akibat dimana biaya tetap
merubah laba bersih jika unit terjual berubah,
dinyatakan sebagai perubahan marjin kontribusi)

– OL = Contribution Margin atau marjin kontribusi


Operating Income laba

OL= MK/ L

– Catatan: 2 item ini identik kecuali biaya tetap


Akibat dari bauran penjualan dalam
BEP
• Formula diasumsikan untuk produk tunggal
yang diproduksi dan dijual
• Skenario yang lebih realistik menyangkut
beberapa produk yang terjual pada volume
yang berbeda dan biaya yang berbeda.
• Untuk lebih sederhana dua produk
ditampilkan dan bisa untuk lebih banyak
produk lagi dengan mudah.
Akibat bauran penjualan dalam CVP
• Rata-rata berbobot MK harus dikalkulasi (pada kasus ini untuk
dua produk)

Weighted ( Product #1 CMu x Product #1 Q ) + ( Product #2 CMu x Product #2 Q )


Average =
CMu Total Units Sold (Q) for Both Products

• MK baru digunakan dalam persamaan CVP


Multi- Fixed Costs

Product = Weighted Average CM per unit


BE
• PT Alfan membuat barang X, Y dan Z.
• Tabel berikut menunjukkan barang mana yang
memberikan kontribusi terbesar:

BARANG
X Y Z
Harga jual per satuan 10.000 12.000 16.000
Biaya variabel per satuan 5.500 7.500 8.000
Kontribusi per satuan 4.500 4.500 8.000
Lama pengolahan (jam) 2 3 4
Kontribusi/satuan/jam 2.250 1.500 2.000
Maksimal penjualan 5.000 4.000 2.500
Biaya tetap Rp. 30 juta per kuartal
• Jika hanya memperhatikan kontribusi maka barang Z
dipilih sebagai barang prioritas, karena kontribusi per
satuannya terbesar, yaitu Rp. 8.000

• Akan tetapi jika satu kuartal perusahaan hanya mempunyai


24.000 jam pengolahan, yang dalam hal ini merupakan
faktor pembatas, manajemen dihadapkan pada pertanyaan:
“bagaimana kombinasi penjualan diputuskan, agar
diperoleh laba yang paling besar?

• Dengan cara pendekatan kontribusi maka prioritas adalah


barang yang kontribusi per faktor pembatasnya adalah
terbesar, sehingga dalam contoh ini urutan prioritasnya
menjadi:
• Prioritas 1 barang X (Rp. 2.250)
• Prioritas 2 barang Z (Rp. 2.000)
• Prioritas 3 barang Y (Rp. 1.500)

• Berdasarkan urutan prioritas tsb, maka jam


pengolahan sebesar 24.000 jam dialokasikan sbb:

– Barang X sebanyak 5.000unit x 2 jam = 10.000 jam


– Barang Z sebanyak 2.500unit x 4 jam = 10.000 jam
– Sisa : 4.000 jam digunakan untuk barang Y sebanyak:
4.000 jam / 3 jam = 1.333 satuan
Dengan keputusan tsb, diperoleh
gambaran laba sbb:
Prioritas Barang Satuan Kontribusi Keterangan
1 X 5.000 22.500.000 5000 X Rp. 4.500

2 Z 2.500 20.000.000 2.500 x Rp. 8.000

3 Y 1.333 5.998.500 1.333 x Rp. 4.500

Jumlah Kontribusi = Rp. 48.498.500


Biaya Tetap = Rp. 30.000.000 (-)
LABA = Rp. 18.498.500
PENGARUH PAJAK PADA BEP
Laba sebelum pajak (100%)= Rp. 24.000.000
Pajak (40%) = Rp. 9.600.000
Laba Bersih (60%) = Rp. 14.400.000

Laba bersih = laba sebelum pajak – pajak


Pajak = laba sebelum pajak x rate pajak
Laba bersih = laba sebelum pajak – (laba sebelum pajak
x rate pajak)
Laba bersih = laba sebelum pajak (1 – rate pajak)
Laba sebelum pajak = laba bersih : (1 – rate pajak)
• PT AYO MAJU memproduksi dan
menjual tas. Kapasitas per tahun
10.000 unit. Biaya tetap per tahun
Rp. 30 juta. Harga jual tas per unit
Rp. 10.000. Laba bersih setelah
pajak 20% jika terjual sesuai
kapasitas Rp. 24. juta
• Pertanyaan: hitunglah BEP dalam
unit dan rupiah
laba setelah pajak
Laba sebelum pajak 
1 - 20%
Rp. 24.000.000

0,8
 Rp . 30.000.000
biaya tetap  laba sebelum pajak
Penjualan 
kontribusi / unit
Rp. 30 juta  Rp. 30 juta
10.000 unit 
(Rp. 10.000 - bv)
100 juta - 60 juta  Rp. 10.000 bv
bv (biaya variabel / unit)  Rp. 4.000

Rp. 30 juta
BEP (unit)   5.000 unit
Rp. 10.000 - Rp.4.000
Rp.30 juta
BEP(Rp)   Rp.50 juta
Rp. 4.000
1-
Rp. 10.000
BEP PRODUK JAMAK (MULTIPLE
PRODUCT)
• Yang harus diketahui :
– Biaya tetap
– Biaya variabel / unit setiap jenis produk
– Harga jual / unit setiap jenis produk
– Sales mix (campuran penjualan)
• Istilah:
– HP (hypotthetical package)
Sebuah nilai yang mewakili keseluruhan produk
(harga jual / penjualan atau biaya variabel)
BEP PRODUK JAMAK
dalam rupiah
HP Biaya Variabel
V
HP Pendapatan Penjualan
Biaya Tetap
BEP (Rp) 
(1 - V)

dalam unit
BEP (Rp)
BEP (unit) 
HP Pendapatan Penjualan
NorthStar company mengharapkan Product mix di bawah
ini untuk dijual pada periode mendatang. Diketahui sales
mix yang diharapkan 1 produk A = 2 produk B.
Biaya tetap = Rp. 1.600.000

Produk Harga Jual / unit Biaya Variabel / unit


A Rp. 180 Rp. 100
B Rp. 110 Rp. 70

Pertanyaan:
1. Berapa BEP dalam unit dan Rp.
2. Berapa penjualan yang terjadi jika profit Rp. 400.000
1. Mencari V seluruh produk
2. Mencari BEP (Rp)
3. Mencari BEP(unit)
• BEP untuk Produk A = 10.000 x 1 unit A = 10.000
• BEP untuk Produk B = 10.000 x 2 unit B = 20.000

Cara yang sama untuk profit Rp. 400.000

• BEP untuk Produk A = 12.500 x 1 unit A = 12.500


• BEP untuk Produk B = 12.500 x 2 unit B = 25.000
SOAL 1
• Bryum company memproduksi 2 jenis produk Whistles & Bells
dengan data sebagai berikut:
WHISTLES BELLS TOTAL (Rp.)
UNIT JML (Rp.) UNIT JML (Rp.)
Penjualan 10.000 10.000.000 8.000 10.000.000 20.00.000
Biaya Tetap 2.000.000 5.600.000 7.600.000
Biaya Variabel 6.000.000 3.000.000 9.000.000
Total Biaya 8.000.000 8.600.000 16.600.000
Operating Income 2.000.000 1.400.000 3.400.000

Hitunglah:
1. BEP dalam unit dan rupiah untuk produk Whistles sebagai produk tunggal
2. BEP dalam unit dan rupiah untuk produk Bells sebagai produk tunggal
3. BEP dalam unit dan rupiah untuk produk Whistles dan Bells jika sales mix =
4:3
SOAL 2
• Puma Company membuat 2 buah tipe produk sepatu yaitu: sepatu
pria dan sepatu wanita
Sepatu Pria Sepatu Wanita

Harga Jual / Unit Rp. 20.000 Rp. 15.000

Biaya Variabel / Unit Rp. 12.000 Rp. 10.000

Biaya Tetap Rp. 372 Juta

• Manajemen memiliki target keuntungan di masa akan datang


Rp. 93 juta. Diharapkan setiap penjualan 2 unit sepatu pria
akan terjual 3 unit sepatu wanita selama periode tsb.
• Hitunglah
[Link] dalam unit masing – masing produk
[Link] penjualan masing – masing produk untuk target keuntungan tsb
Akhir dari Presentasi

terimakasih
Minggu 3

Tarif Biaya Overhead dan


Analisis Variansi

dianm@[Link]

Analisis Biaya Dian Mardi Safitri


Faktor – Faktor yang Harus Dipertimbangkan
dalam Memilih Dasar Tarif Overhead
Dasar yang harus digunakan:
Keluaran fisik (unit produk langsung)
Biaya bahan langsung (untuk unit yang
pemakaian bahannya berbeda – beda)
Biaya pekerja langsung (untuk unit yang tarif
biaya pekerjanya berbeda – beda menurut
keahliannya)
Jam kerja langsung (bila gaji pekerja semua
sama)
Jam pemakaian mesin (bila memakai mesin –
mesin)
Pemilihan Tingkat Kegiatan
Kapasitas teoritis ( = 100% )
Kapasitas praktis ( <100%, ada kelonggaran
untuk rusak, cacat, listrik mati, dll)
Kapasitas aktual yang diharapkan (% dari
kapasitas praktis, disesuaikan dengan order
yang datang)
Kapasitas normal (rata – rata, untuk
perhitungan anggaran dan perhitungan tarif)
Dasar Keluaran Fisik
Dipakai bila perusahaan
memproduksi satu jenis barang
saja
Merupakan metode yang paling
sederhana, dihitung dengan cara:

estimasi overhead pabrik


 overhead pabrik per unit
estimasi unit produksi
Dasar Biaya Bahan Langsung
Prosentase overhead pabrik hampir
selalu sama dengan prosentase biaya
bahan langsung

Dihitung dengan cara:

estimasi overhead pabrik


x100  % overhead per biaya bahan langsung
estimasi biaya bahan
Dasar Biaya Pekerja Langsung
estimasi overhead pabrik
x100  % biaya pekerja langsung
estimasi biaya pekerja langsung

Metode ini relatif mudah digunakan, dan


menguntungkan dalam kondisi:
– Terdapat hubungan langsung antara biaya
pekerja langsung dengan overhead pabrik
– Tarif pembayaran per jam untuk pekerjaan
yang sama dapat dibandingkan
Dasar Jam Kerja Langsung

estimasi overhead pabrik


 tarif per jam kerja langsung
estimasi jam kerja langsung

Digunakan untuk menanggulangi


kelemahan kedua penggunaan
dasar sebelumnya
Dasar Pemakaian Mesin
estimasi overhead pabrik
 tarif per jam mesin
estimasi jam pemakaian mesin

• Biasanya dipakai pada perusahaan


yang padat modal
• Jam pemakaian mesin yang diharapkan
terpakai diperkirakan terlebih dahulu
Kelebihan atau Kekurangan
Penerapan Overhead Pabrik
• Kekurangan (underapplied)
• Kelebihan (overapplied)
• Saldo kekurangan atau kelebihan
penerapan overhead pabrik harus dianalisis
dengan teliti,
sebab merupakan sumber informasi utama bagi
pihak manajemen untuk mengendalikan dan menilai
efisiensi operasi dan pemakaian kapasitas produksi
yang tersedia dalam suatu masa kerja tertentu
Analisis Varians (2 Varians)
1. Varians pengeluaran (spending variances)
Yaitu varians / selisih yang terjadi karena faktor
anggaran atau beban

2. Varians kapasitas menganggur (idle


capacity variances)
Yaitu varians / selisih yang terjadi karena faktor
– faktor volume atau kegiatan produksi
Minggu 4

Job Costing

dianm@[Link]

Analisis Biaya Dian Mardi Safitri


Job Costing vs Process Costing
Job Construction, printing, special equipment
manufacturing, shipbuilding, medical
Costing services, custom furniture manufacturers,
advertising agencies, accounting firms, etc.

Process Chemical industry, bottling companies,


plastics, food products, and paper products,
Costing cement manufacturing, brick production, etc.
Actual vs Normal Costing

Actual Costing Normal Costing


Pencatatan biaya Biaya Bahan langsung Biaya Bahan langsung dan
langsung dan Tenaga langsung Tenaga langsung aktual
aktual
Tarif biaya biaya overhead aktual estimasi biaya overhead
overhead
jumlah aktual dasar alokasi estimasi jumlah dasar alokasi
Alokasi biaya Tarif alokasi aktual x Estimasi tarif x jumlah
overhead jumlah aktual dari aktual dari dasar alokasi
dasar alokasi
Sistem Kalkulasi Biaya Pesanan
• Biaya dibebankan ke masing – masing
pekerjaan .
• Pekerjaan dapat berupa pesanan, kontrak,
unit produksi, yang dilaksanakan untuk
memenuhi spesifikasi pelanggan
• Tepat bagi perusahaan percetakan,
penerbitan, atau setiap organisasi yang
menghasilkan barang atau jasa yang
dilakukan menurut persyaratan spesifik
pelanggan
Perhitungan Biaya Manufaktur
dengan Job Costing
1. Identifikasi objek biaya
2. Identifikasi biaya langsung
3. Pilih dasar alokasi biaya untuk pengalokasisan
biaya tidak langsung
4. Identifikasi biaya tak langsung yang berkaitan
dengan setiap dasar alokasi biaya
5. Hitung setiap tarif aktual biaya overhead
6. Hitung biaya tak langsung yang dialokasikan
dalam job
7. Hitung biaya total
Contoh: Biaya Reparasi Mobil
• Mekanik mengumpulkan biaya reparasi,
suku cadang dan jam tenaga kerja
langsung yang dihabiskan dalam
mereparasi mobil.

• Biaya overhead yang dibebankan


menggunakan tarif overhead
Contoh Kasus 1
• Suatu perusahaan meubel menerima pesanan sebanyak ± 20
pesanan perbulannya.
• Perusahaan tersebut memiliki pekerja 12 orang meliputi 7 orang
operator dengan upah sebesar Rp 3.500 per jam dan 5 orang helper
dengan upah sebesar Rp 3.000 per jam.
• Jam kerja 8 jam per hari. 1 bulan 25 hari kerja.
• Biaya overhead keseluruhan perbulan Rp 7,5 juta. Biaya bahan per
bulan Rp 10 juta. Biaya administrasi per bulan Rp 4 juta. Biaya
pemasaran Rp 5,5 juta.
• Suatu pesanan membutuhkan bahan 2 macam : bahan utama
(multipleks 12 mm) @ Rp250.000 sebanyak 4 lembar. Bahan rangka
(Kaso) @ Rp 100.000 sebanyak 8 batang. Bahan lain-lain Rp
200.000
• Pekerjaan dilakukan oleh 5 orang operator selama 12 hari dan 3
helper selama 6 hari.
• Kemudian pesanan tersebut dijual dengan harga Rp 10 juta. Alokasi
biaya overhead ke pesanan didasarkan atas jumlah jam kerja
langsung dibanding jumlah jam kerja keseluruhan.
• Pesanan yang sudah jadi dijual dengan harga Rp 10 juta.
Bahan Upah Overhead
Bahan utama Operator jml jam kerja langsung/jml
multipleks 12mm =5 orang . 12 hari . 8 jam kerja keseluruhan x
= Rp250.000 . 4 jam . Rp 3.500 per biaya overhead
lembar jam =((5org.12hr.8jam)+(3org.6h
= Rp1.000.000 =Rp 1.680.000 r.8jam))/
Bahan rangka (Kaso) Helper ((7org.25hr.8jam)+(5org.2
=Rp 100.000 . 8 =3 orang . 6 hari . 8 5hr.8jam)) x Rp 7,5 juta
batang jam . Rp 3.000 per ={(480+144)/(1400+1000)} x
=Rp800.000 jam Rp7,5 jt
= Rp 432.000 =(624/2400) x Rp 7,5 juta
Bahan lain-lain = Rp 1,95 juta
=Rp 200.000
Total Bahan = Rp Total Upah = Rp Total overhead = Rp
2.000.000 2.112.000 1.950.000
Biaya Manufaktur = Rp 6.062.000
Penjualan pesanan Rp 10.000.000
Biaya Manufaktur Rp 6.062.000 (-)
Laba KotorRp 3.938.000
Contoh Kasus 2
• Suatu bengkel mobil mengkalkulasi biayanya berdasarkan mobil
yang dikerjakan perbaikan dan pemeliharaannya.

• Pada tanggal 18 April 2006 ada 20 mobil yang dikerjakan.

• 10 diantaranya hanya mengganti oli, 5 mobil tune up dan 5


lainnya perbaikan besar yang memerlukan teknisi lebih dari
seorang dan waktu lebih dari sehari.

• Untuk jasa penggantian oli, konsumen hanya dibebani biaya


pembelian oli saja dengan ongkos kerja dari marjin keuntungan
oli tersebut.

• Untuk tune up konsumen dibebani dengan biaya penggantian


part dan biaya tenaga kerja langsung per jam nya Rp 6.000.

• Ongkos kerja termasuk biaya overhead dan marjin keuntungan


bengkel tersebut.
Kerjakan…
Buat Job Cost sheet dan hitung laba untuk
salah satu order tune-up dan perkiraan biaya,
jika harga part Rp 50.000, dikerjakan oleh
seorang teknisi selama 2 jam.

– Ongkos yang dibebani ke konsumen Rp 10.000 per


jam.
– Pembebanan biaya overhead didasarkan tarif biaya
overhead Rp 1000 per jam kerja langsung
– Tarif biaya Overhead Variabel Rp 650/jam tenaga
kerja langsung.
– Biaya Overhead Tetap Rp 1.102.500
• Jumlah teknisinya sebanyak 15 orang
dengan jam kerja efektif 7 jam kerja
(sebulan 30 hari kerja)
• Biaya overhead aktual Rp 3,2 juta
dengan jam aktual 3.000 jam kerja
langsung.

• Hitung variansi biaya overhead


(varians pengeluaran dan varians
kapasitas menganggur)
Menghitung Biaya Overhead Total

BOV = Rp 650 x 2 jam = Rp 1.300


BOT = Rp 1.102.500 +
Total Rp 1.103.800
Job Cost sheet

Tune Up
BAHAN UPAH OVERHEAD

Part Rp 50.000 2 jam x Rp 6.000 Rp 1.000 x 2 jam

Rp 50.000 Rp 12.000 Rp 2.000

Biaya Per pesanan Rp 64.000


Perhitungan Ongkos dan Laba untuk
Jasa Tune Up
• Ongkos yang dibebankan kepada
konsumen = biaya part + Ongkos kerja
Ongkos yang dibebankan kepada konsumen =
Rp 50.000 + Rp 20.000 = Rp 70.000

• Laba = Ongkos yang dibebankan kepada


konsumen – Biaya Tune up
Laba = Rp 70.000 – Rp 64.000
Laba = Rp 6.000
Hitung Variansi Biaya Overhead
(Varians Pengeluaran & Varians Kapasitas Menganggur)

Biaya overhead aktual (BOA)Rp 3.200.000


Pembebanan Biaya Overhead SV
BOT = Rp 1.102.500
BOV = Rp 650 x 3.000jam (+) = Rp 3.052.000
Penerapan Biaya Overhead
3.000jam x Rp 1.000 Rp 3.000.000 ICV

Spending variance = + 148.000 (TM)


Idle Capacity Variance = + 52.000 (TM)
ESTIMASI BIAYA
KAPITAL

JOHN SUARLIN, [Link].


AKURASI ESTIMASI BIAYA
 Tergantung pada:
 Ukuran detail desain;
 Akurasi data biaya yang ada;
 Waktu preparasi estimat.
TIPE ESTIMASI
BIAYA KAPITAL
1. Order-of-magnitude estimate (ratio estimate)
 Berdasarkan data biaya terdahulu untuk proses yang serupa;
 Akurasi > 30%;
2. Study estimate (factored estimate)
 Berdasarkan informasi item utama alat;
 Akurasi hingga  30%;
3. Preliminary estimate (budget authorization estimate; scope estimate)
 Berdasarkan data yang memadai sehingga estimate dianggarkan;
 Akurasi  20%;
4. Definitive estimate (project control estimate)
 Berdasarkan data yang hampir lengkap namun sebelum gambar dan
spesifikasi lengkap;
 Akurasi  10%;
5. Detailed estimate (contractor’s estimate)
 Berdasarkan gambar, spesifikasi dan survey lapangan yang lengkap;
 Akurasi  5%.
BIAYA ESTIMASI (tahun 1990)
Biaya proyek < $2.000.000 $2.000.000- $10.000.000-
$10.000.000 $100.000.000
Order-of- $3.000 $6.000 $13.000
magnitude
estimate
Study estimate $20.000 $40.000 $60.000

Preliminary $50.000 $80.000 $130.000


estimate
Definitive estimate $80.000 $160.000 $320.000

Detailed estimate $200.000 $520.000 $1.000.000

Max S. Peters dan Klaus D. Timmerhaus, PLANT DESIGN AND


ECONOMICS FOR CHEMICAL ENGINEERS, McGraw-Hill, Inc., 1991
BIAYA ESTIMASI
BIAYA KAPITAL
 Biaya alat dan infrastruktur;
 Fixed-capital (Fc):
 lahan dan pengembangannya,
 desain pabrik,
 pembelian alat,
 pembangunan pabrik dan bangunan lain,
 contingency.
 Working-capital (Fw):
 starting-up produksi (biaya manufaktur di bulan-bulan
awal produksi).
BIAYA OPERASI
 Biaya operasi pabrik:
 Bahan mentah
 Utilitas (energi)
 Pemeliharaan
 Tenaga kerja
 Biaya overhead administratif
 Pemasaran
 Provisi
 dll.
BIAYA OPERASI
 Biaya tetap: tidak berhubungan dengan laju produksi,
 capital charge (depresiasi),
 gaji,
 asuransi,
 pemeliharaan periodik
 pajak.
 Biaya variabel: proporsional dengan laju produksi,
 bahan mentah,
 bahan kimia,
 utilitas dan transportasi,
 royalti
 biaya pemeliharaan.
CASH FLOW
 Elemen penyusun:
 Capital sources and sinks
 Total capital investment,
 Operating cost.
 Keuntungan:
 Menghitung variasi elemen biaya terhadap
waktu (harga, laju suku bunga, perilaku pasar,
depresiasi).
ELEMEN FORMASI PROFIT
DAN CASH FLOW
CAPITAL SOURCES AND
SINKS
 Source:
 Kredit dan pinjaman bank,
 Stock,
 Input kapital lain
 Net cash flow dari penjualan produk.
 Sink:
 Pengembalian kredit dan hutang lain,
 Pembayaran dividend ke shareholder.
TOTAL
CAPITAL INVESTMENT (TCI
(TCI))
 Fixed-capital investment:
 Direkoveri setelah beberapa tahun dengan menggunakan
biaya depresiasi D,
 Depresiasi fixed-capital
 Diatur oleh peraturan

 Tergantung pada sistem perpajakan

 10-20% fixed-capital.

 Working-capital investment
 Dikonsumsi di tahun pertama operasi.
OPERATING COST (C
( Co)
 Semua pengeluaran terkait proses
manufaktur, seperti bahan mentah, utilitas,
tenagah kerja, contingency;
 Tidak termasuk depresiasi fixed-capital.
PROSEDUR PERHITUNGAN
CASH FLOW
 Hitung gross profit GP:

S = revenue dari penjualan; Co = biaya operasi.

 Hitung net profit before tax Pbt

 Hitung net profit after tax Pat

 Hitung net cashflow CF:


CASH FLOW KUMULATIF SELAMA
LIFE CYCLE PABRIK
CASH FLOW KUMULATIF SELAMA
LIFECYCLE PABRIK

 AB: pembebasan lahan;


 BC: fixed-capital investment;
 CD: working-capital untuk memulai produksi;
 OD: total capital investment;
 Repayment investasi awal dimulai dengan produksi pertama (waktu
nol);
 Cash flow berakumulasi sampai titik dimana produksi berhenti;
 Investasi kapital awal direkoveri di akhir lifecycle sebagai salvage value
(FG);
 Di fasa awal operasi cash flow digunakan untuk membayar kembali
investasi total (cash flow akumulatif bernilai negatif).
 Cash flow akumulatif negatif habis menjadi nol pada break-even point
(E).
 Interval waktu untuk mengembalikan investasi kapital awal disebut
payback time.
CONTOH – ESTIMASI HARGA
JUAL PROFITABLE
 Pabrik baru untuk produk kimia spesialitas didesain
dengan laju produksi 1000 ton/tahun. Taksir harga
jual profitable sehingga diperoleh ROI setelah pajak
minimum 20%.Asumsikan:
 Total capital investment TCI =1.000.000 USD,
 fixed-capital Fc = 800.000 USD,
 working-capital Fw =200.000 USD;
 Depresiasi berupa garis lurus selama 8 tahun;
 Biaya operasi tahunan CO =200.000 USD/tahun;
 Laju pajak t = 0,35.
SOLUSI – ESTIMASI HARGA
JUAL YANG PROFITABLE
 ROI after tax: rasio antara profit setelah pajak dan
investasi kapital total (fixed-capital + working-capital):
ROIat = Pat/TCI = [S – (Co + D)](1 – t)/(FC + FW)
 Net profit after tax
Pat = ROIat • TCI = 0,20 • 1.000.000 = 200.000 USD/tahun.
 Depresiasi linear selama 8 tahun
D = 800.000/8 = 100.000 USD/tahun.
 Pat = Pbt(1 – t) = [S – (Co + D)](1 – t)
200.000 = [S – (200.000 + 100.000)](1 – 0,35)  S =
607.692 USD
 Maka, harga jual profitable minimal = 608.000
USD/ton.
PURCHASED COST OF
EQUIPMENT (PCE)
INDEKS HARGA
 Nilai indeks untuk titik waktu tertentu yang
menunjukkan biaya pada waktu itu relatif terhadap
waktu dasar;
 Untuk mengupdate data biaya masa lalu untuk
mendapatkan data biaya saat ini;
 Perubahan biaya akibat perubahan kondisi
ekonomi;
 Kecenderugan dalam jangka waktu lama
digambarkan oleh kurva atau persamaan.
MARSHALL AND SWIFT
EQUIPMENT COST
 Mengupdate biaya item semua alat;
 Rata-rata berbobot untuk delapan industri proses; pembobotan
berdasarkan nilai produk total
 Industri kimia (48%),
 Petroleum (22%),
 Kertas (10%),
 Karet dan plastik (8%);
 Cat (5%),
 Kaca (3%),
 Semen (2%),
 Keramik (2%).
 Rujukan = 100 (1926);
 Memperhitungkan biaya mesin dan alat utama plus biaya instalasi,
perkakas, furniture kantor, dan alat minor yang lain.
 Diupdate setiap bulan di majalah Chemical Engineering;
MARSHALL AND SWIFT
EQUIPMENT COST
CHEMICAL ENGINEERING PLANT
COST
 Biaya konstruksi pabrik kimia;
 Faktor bobot:
 Alat (61%)
 Alat yang difabrikasil (37), mesin proses (14), pipa, valve, fitting (20),
instrumentasi dan kontrol (7), pompa dan kompresor (7), alat listrik
dan bahan (5), structural support, isolasi, cat (10);
 Ereksi dan instalasi (22%);
 Rekayasa dan supervisi (10%);

 Gedung, bahan dan tenaga kerja (7%).

 Rujukan = 100 (1957);


 Diupdate setiap bulan di jurnal Chemical Engineering;
CHEMICAL ENGINEERING PLANT
COST
DEPRESIASI KAPITAL
 Pengurangan nilai item alat yang dimulai
tepat setelah alat dibayar;
 Cara mentransfer nilai kapital ke biaya
produk atau jasa;
 Di bawah kantor pajak pemerintah.
DEPRESIASI KAPITAL
 Keuntungan:
 Dapat menghitung expense dan profit yang
dihemat dari pajak;
 Prosedur perhitungan rekoveri investasi kapital
awal;
 Untuk pergantian kapital kadaluwarsa dengan
investasi yang baru.
DEPRESIASI KAPITAL
 Salvage value:
 Uang yang diperoleh dari penjualan alat yang
masih memiliki nilai di akhir manfaatnya.
 Scrap value:
 Nilai suatu alat di akhir manfaatnya, namun tidak
dapat dijual, hanya dibuang atau dibongkar.
DEPRESIASI LINEAR
 Depresiasi kapital dibagi menjadi bagian-
bagian yang sama selama umur manfaat
taksirannya.

 Vi = nilai awal;
 Vs = salvage value;
 n = waktu operasi.
DEPRESIASI AKSELERASI
 Declining-balance method:
 Menggunakan faktor f tetap terhadap nilai properti
setiap tahun;
 Misal d1 = Vi.f
d2 = V1.f
 Salvage value n tahun: Vs = Vi(1 – f)n;
 Faktor persentasi: f = (1 – Vs/Vi)1/n;
 Laju depresiasi cepat.
DEPRESIASI AKSELERASI
 Double-declining method:
 f dua kali faktor garis lurus;
 Depresiasi di tahun awal manfaat lebih tajam;
 Digunakan untuk alat berteknologi tinggi seperti
perangkat otomasi dan komputer.
CONTOH DEPRESIASI

 Sebuah alat dibeli dengan harga 50000 .


Setelah dimanfaatkan selama 10 tahun, alat
ini akan dijual seharga nilai sekarang 5000
. Hitung nilai buku setelah 5 tahun manfaat
dengan menggunakan metode garis lurus,
declining-balance dan double-declining.
JAWAB DEPRESIASI
 Metode garis lurus:
 Depresiasi tahunan
d =(50000 – 5000)/10 = 4500 /tahun.
 Setelah 5 tahun, nilai asset
Va = 50000 – 5x4500 = 22500 .
JAWAB DEPRESIASI
 Declining-balance method:
 f = 1-(5000/50000 )1/10 = 0,2589;
 Setelah 5 tahun, nilai asset
Va = 50000 x (1 – 0,2589)5 = 11178 ;
 Jauh lebih rendah dari metode garis lurus.
JAWAB DEPRESIASI
 Double-declining method:
 f = 2 x (4500/50000) = 0,2;
 Setelah 5 tahun, nilai asset
Va = 50000 x (1 – 0,2)5 = 16383 ;
 Antara metode garis lurus dan declining-balance.
BIAYA OPERASI
 Biaya pembuatan dan pengiriman produk;
 Disebut pula
 Biaya produksi total;
 Biaya manufakturing.
UNSUR BIAYA OPERASI
 Manufacturing cost
 Direct production cost
 Fixed charge
 Plant overhead cost
 General expense
 Administrasi
 Distribusi dan pemasaran
 Riset dan pengembangan
 Financial charge
MANUFACTURING COST
 Direct production cost
 Bahan mentah
 Operating labour
 Direct supervisory dan clerical labour
 Utilitas
 Maintenance
 Operating supply
 Laboratory charge.
 Patent dan royalty.
MANUFACTURING COST
 Fixed cost
 Depresiasi
 Local tax
 Asuransi
 Sewa
 Plant overhead cost
 Safety dan proteksi
 Plant and payroll overhead
 Control laboratory
 Packaging
 Storage facility
GENERAL EXPENSE
(SUPLEMENTARY COST)
 Administrative cost
 Executive salary dan clerical wage
 Engineering and legal cost
 Komunikasi
 Office maintenance.
 Marketing, distribution dan selling
 Sales office
 Marketing dan advertising
 Shipment
 Research dan Pengembangan
 Financial interest
BAHAN MENTAH
 50-60% total biaya operasi;
 Time variable dan highly uncertain;
 Sumber harga: jurnal khusus seperti
Chemical Market Reporter, dan Internet sites;
 Termasuk freight and transportation fee.
UTILITAS
 Steam, air, refrijeran, gas bumi, bahan bakar cair,
listrik dll;
 Dihitung dari neraca massa dan energi;
 Menggunakan integrasi panas untuk mendapatkan
konsumsi energi terendah;
 Konsumsi aktual diperoleh dengan margin operasi
20-25%;
 Combined heat and power production berbiaya
sangat rendah;
 10 - 20% total biaya operasi.
UTILITAS
UTILITAS
OPERATING LABOUR
 Biaya tenaga operator;
 Estimasi biaya
 Flowsheet;
 Waktu kerja = 40 jam/minggu;
 Lima shift untuk mengantisipasi sakit, cuti,
training, dll.
OPERATING LABOUR
ESTIMASI BIAYA OPERASI
ESTIMASI BIAYA OPERASI
ESTIMASI BIAYA OPERASI
Cost Allocation:
Joint Products and Byproducts
by : John Suarlin, [Link].
Joint Processes and Costs
• Sebuah proses yang menghasilkan satu atau lebih produk
disebut joint process.
• Produknya disebut joint products.
• Biaya Prosesnya disebut joint costs.

• The split-off point adalah titik pada joint process dimana


produk yang terpisah dapat diidentifikasi
• Biaya yang terlibat setelah titik proses disebut separable
costs.

 Joint products yang mempunyai nilai penjualan yang lebih kecil dari
main product disebut by-products.
Main Products and Byproducts
Joint Process Flowchart
BIAYA BERSAMA

Biaya Bersama
(Joint Cost ) Biaya Terpisah
(Separable Cost )
Biaya aktivitas persiapan
Biaya aktivitas pemasakan
Produk A Produk A'

Produk B
Titik Pemisahan
(Split-off Point ) Produk C Produk C'
 Biaya bersama hanya mencakup biaya aktivitas yang dikeluarkan
untuk mengolah bahan baku sampai dengan titik pemisahan.

 Setelah titik pemisahan, berbagai macam produk yang dihasilkan


ada yang dapat dijual tanpa memerlukan proses pengolahan lebih
lanjut (Produk B) dan ada yang memerlukan pengolahan lebih
lanjut (produk A menjadi produk A’ dan Produk C menjadi
Produk C’).

 Biaya aktivitas yang dikeluarkan sejak titik pemisahan sampai suatu


produk dalam kondisi siap untuk dijual disebut biaya terpisah
(separable costs).
Nilai jual (kuantitas kali harga jual per unit) setiap
produk bersama ini relatif sama, sehingga tidak ada di
antara produk-produk yang dihasilkan tersebut
dianggap sebagai produk utama atau pun produk
sampingan.
AKUNTANSI PRODUK BERSAMA
(JOINT PRODUCT ACCOUNTING)
AKUNTANSI PRODUK BERSAMA

Masalah pokok akuntansi biaya bersama adalah penentuan


proporsi total biaya aktivitas (yang dikeluarkan sejak bahan
baku dikonsumsi oleh berbagai aktivitas sampai dengan saat
produk-produk dapat dipisahkan identitasnya) yang harus
dibebankan kepada berbagai macam produk bersama.
METODE ALOKASI BIAYA BERSAMA
 Biaya bersama dapat dialokasikan kepada setiap
produk bersama dengan menggunakan salah satu
dari empat metode di bawah ini:
 Metode nilai jual relatif
 Metode unit fisik
 Metode rata-rata biaya per unit
 Metode rata-rata tertimbang
METODE NILAI JUAL RELATIF

 Metode nilai jual relatif adalah metode alokasi biaya bersama ke


produk bersama berdasarkan perbandingan nilai jual relatif
produk bersama.

 Metode ini banyak digunakan untuk mengalokasikan biaya


bersama kepada produk bersama.
 Dasar pikiran metode ini adalah bahwa harga jual suatu produk
merupakan perwujudan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam
mengolah produk tersebut.

 Jika salah satu produk terjual lebih tinggi dari pada produk
yang lain, hal ini karena biaya yang dikeluarkan untuk produk
tersebut lebih banyak bila dibandingkan dengan produk yang
lain.

 Oleh karena itu menurut metode ini, cara yang logis untuk
mengalokasikan biaya bersama adalah berdasarkan pada nilai
jual relatif setiap produk bersama yang dihasilkan.
CONTOH 1

Misalkan biaya bersama yang dikeluarkan oleh PT El Sari selama


satu periode akuntansi berjumlah Rp750.000. Jumlah dan harga
jual per unit produk yang dihasilkan perusahaan tampak dalam
Gambar 2 berikut ini.
Biaya Biaya
Kos per
Kuantitas Nilai Jual Bersama Kg
Produk Relatif Alokasian Produk
Harga Nilai Jual (4) Ö
Produk yang (5) x Bersama
Bersama Dihasilkan Jual/kg (2) x (3) 1.000.000) 750.000) (6) Ö ((2)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

A 15.000 kg Rp10,00 Rp150.000 15% Rp112.500 Rp7,50


B 20.000 Rp17,50 350.000 35% 262.500 13,13
C 25.000 Rp12,00 300.000 30% 225.000 9,00
D 10.000 Rp20,00 200.000 20% 150.000 15,00
70.000 kg Rp1.000.000 100% Rp750.000

GAMBAR 2
CONTOH 2

 Pemakaian metode nilai jual relatif dalam mengalokasikan


biaya bersama ini akan menghasilkan persentase laba bruto
dari hasil penjualan yang besarnya sama untuk setiap jenis
produk bersama yang bersangkutan.

 Dari data dalam Gambar 2 misalnya jumlah unit produk yang


dijual selama periode akuntansi berjumlah seperti disajikan
dalam Gambar 3.
Unit yang terjual 10.000 15.000 20.000 8.000 53.000

Hasil penjualan Rp100.000 Rp262.500Rp240.000 Rp160.000 Rp762.500

Kos produk yang dijual 75.000


Biaya 196.875 180.000 120.000 571.000

Laba bruto Rp25.000 Rp65.625 Rp60.000 Rp40.000 Rp190.625

Persentase laba bruto


dari hasil penjualan 25% 25% 25% 25% 25%

GAMBAR 3
CONTOH 3
 Bila setelah titik pemisahan di antara produk bersama masih
memerlukan pengolahan lebih lanjut.

 Misalkan biaya bersama selama satu periode akuntansi berjumlah


Rp3.000.000.
 Harga jual per kg dan jumlah produk yang diproduksi selama periode
akuntansi tampak dalam Gambar 13.4 berikut ini.

 Produk A setelah terpisah dari produk B memerlukan biaya tambahan


(separable cost) sebesar Rp100 per kg.

 Alokasi biaya bersama dapat dilakukan seperti tampak dalam Gambar 4


berikut ini:
Nilai Jual
Hipotetis
Biaya x Jumlah Nilai Jual Alokasi
Pengolah yang Hipotetis Biaya Biaya
Kos per
an per kg Nilai Jual Diproduk Relatif (%) Bersama Kg
Jumlah si
Setelah Hipotetis Produk
Harga yang (6) X
Ö (7) X
Ö
Produk Saat Bersama
Jual per Diproduk (4) x (5) 4.500.000 3.000.000 (8) Ö ((5)
Bersama Terpisah (2) x- (3)
kg si
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

A Rp400 Rp100 Rp300 10.000 kg Rp3.000.000 66,7 Rp2.000.000 Rp200


B 250 0 250 6.000 kg 1.500.000 33.3 Rp1.000.000 167

Rp4.500.000 100,0 Rp3.000.000

GAMBAR 4
METODE UNIT FISIK
 Metode unit fisik adalah metode alokasi biaya bersama ke
produk bersama berdasarkan perbandingan unit fisik produk
bersama yang dihasilkan.

 Jika unit fisik produk bersama berbeda satu dengan lainnya,


dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya bersama ke
produk bersama adalah equivalent unit tiap-tiap produk
bersama yang dihasilkan.
 Untuk menggambarkan pemakaian metode ini,
misalkan 10.000 barrels minyak mentah (crude oil)
diolah dalam proses penyulingan (refinery).
 Hasil produksi pengolahan tersebut setelah
dikurangi dengan kerugian sebanyak 200 barrels
(akibat susut atau hilang dalam proses) tampak
dalam Gambar 5.
HASIL PENGOLAHAN SETIAP 10.000 BARREL MINYAK
MENTAH
Produk Kuantitas (barrels) Persentase

Gasoline 2.600 26,52


Bensin 200 2,04
Kerosin 1.000 10,21
Minyak pelumas 300 3,06
Minyak bakar 5.000 51,03
Gas 300 3,06
Produk-produk lain 400 4,08

Jumlah 9.800 100,0

GAMBAR 5
ALOKASI BIAYA BERSAMA DENGAN METODE UNIT
FISIK
Misalkan selama pengolahan 10.000 barells minyak mentah tersebut, biaya bahan
baku yang dipakai berjumlah Rp15.000.000. Alokasi biaya bahan baku tampak
pada Gambar 5.

Kuantitas (Tidak
Termasuk Jumlah Alokasi biaya
yang Hilang) Bahan
Produk Dalam Barrel Persentase Baku

Gasoline 2.600 26,52 Rp 3.978.000


Bensin 200 2,04 306.000
Kerosene 1.000 10,21 1.531.500
Minyak pelumas 300 3,06 459.000
Minyak bakar 5.000 51,03 7.645.500
Gas 300 3,06 459.000
Produk-produk lain 400 4,08 512.000
9.800 100,00 Rp15.000.000
METODE RATA-RATA BIAYA PER UNIT

 Metode rerata biaya per unit adalah metode alokasi biaya


bersama ke produk bersama berdasarkan rerata biaya per unit
yang dihitung dengan membagi total biaya bersama dengan
total kuantitas produk bersama yang dihasilkan.

 Metode ini hanya dapat digunakan bila produk bersama yang


dihasilkan diukur dalam unit yang sama.
 Pada umumnya metode ini digunakan oleh perusahaan
yang menghasilkan beberapa macam produk yang sama
dari satu proses bersama tetapi mutunya berlainan.

 Dalam metode ini biaya setiap produk dihitung sesuai


dengan proporsi kuantitas yang diproduksi. Jalan pikiran
yang mendasari pemakaian metode ini adalah karena
semua produk dihasilkan dari proses yang sama, maka
tidak mungkin biaya untuk memproduksi satu unit
produk berbeda satu sama lain.
CONTOH 5
Perusahaan penggergajian kayu menghasilkan berbagai macam mutu kayu.
Data kegiatan perusahaan selama satu periode akuntansi adalah sebagai
berikut:

a. Jumlah produksi 762.000 m3


b. Biaya bersama Rp22.860.000
c. Rerata biaya per 1.000 m3 = Rp30.000 ( Rp22.860.000 ÷ 762)

Rerata biaya per 1.000 m3 digunakan untuk menghitung biaya berbagai


macam kayu yang mempunyai mutu yang berbeda-beda sesuai dengan
proporsi kuantitasnya masing-masing disajikan pada Gambar berikut
ALOKASI BIAYA BERSAMA DENGAN METODE
RERATA BIAYA PER UNIT
Kuantitas yang Rerata Biaya biaya
Mutu Kayu Diproduksi per 1.000 m3 Produk

Utama 76.200 m3 Rp30.000 Rp 2.286.000


No. 1 381.000 m3 30.000 11.430.000
No. 2 152.400 m3 30.000 4.572.000
No. 3 152.400 m3 30.000 4.572.000

Jumlah 762.000 m3 Rp22.860.000


METODE RERATA TERTIMBANG
 Metode rerata tertimbang adalah metode alokasi biaya bersama ke produk
bersama berdasarkan rerata tertimbang biaya per unit yang dihitung
dengan membagi total biaya bersama dengan total angka penimbang.

 Jika dalam metode rerata biaya per unit, dasar yang dipakai dalam
mengalokasikan biaya bersama adalah kuantitas produksi, maka dalam
metode rerata tertimbang kuantitas produksi ini dikalikan dulu dengan
angka penimbang dan hasil kalinya baru dipakai sebagai dasar alokasi.
 Penentuan angka penimbang untuk setiap produk
didasarkan pada jumlah bahan yang dipakai, sulitnya
pembuatan produk, waktu yang dikonsumsi, dan
pembedaan jenis tenaga kerja yang dipakai untuk tiap
jenis produk yang dihasilkan.

 Jika yang dipakai sebagai angka penimbang adalah harga


jual produk maka metode alokasinya disebut metode
nilai jual relatif.
CONTOH 5
 Biaya bersama yang dikeluarkan selama satu periode
akuntansi berjumlah Rp64.500.000. Jumlah produk yang
dihasilkan dan angka penimbang tiap produk disajikan pada
Gambar 7

Jumlah yang Alokasi


Diproduksi x Biaya Bersama
Produk Jumlah yang Angka Angka Penimbang [(4) ÷ 215.000] x
Diproduksi Penimbang (2) x (3) 64.500.000

(1) (2) (3) (4) (5)

A 40.000 3 120.000 Rp36.000.000


B 35.000 2 70.000 21.000.000
C 25.000 1 25.000 7.500.000

215.000 Rp64.500.000
Perusahaan memproses bahan dalam ukuran batch 1.000 galon. Tiap batch
menghasilkan 400 galon produk utama X, 500 galon produk utama Y dan 100
galon produk sampingan Z. Bahan ditambahkan diawal proses. Produk
gabungan (joint product) terjadi di akhir proses. Pendapatan produk sampingan
digunakan untuk mengurangi biaya gabungan saat produksi berlangsung. Biaya
gabungan diberikan pada produk utama menggunakan metode nilai pasar (net
realizable value).
Produk X dijual dengan harga $8 per galon dan memiliki biaya pemisahan
tambahan sebesar $2 per galon. Produk Y dijual dengan harga $11 per galon
dan memiliki biaya pemisahan tambahan sebesar $3 per galon. Produk
sampingan Z dijual dengan harga $1 per galon. Biaya produksi gabungan
$ 4.200.
Hitung biaya gabungan untuk produk X,Y dan Z, dengan :
 Metode physical unit (satuan fisik).
 Metode nilai pasar (net realizable value) dengan proses tambahan.
 Metode nilai pasar dengan laba kotor yang sama.
Departementalisasi Biaya
Overhead
by : John Suarlin, [Link].
Terminologi
• Supporting (Service) Department –
melayani departemen produksi/lainnya di
dalam perusahaan
• Operating (Production) Department –
melakukan kegiatan yang secara lengsung
menambah nilai pada produk/jasa
Metode Alokasi Support Costs ke
Departemen Produksi

1. Direct / langsung
2. Step-Down / bertahap
3. Reciprocal / bolak-balik
Direct Method
Step-Down Method
Reciprocal Method
Pilih metode yang mana?

• Metode Reciprocal paling akurat


• Metode Direct langsung dan Step-Down
lebih sederhana dan mudah
• Metode langsung paling banyak digunakan
Contoh Kasus…
• Informasi biaya untuk
perpustakaan Trisakti dapat
dilihat pada tabel berikut.
• Sebagai tambahan biaya lain-lain,
ditemukan biaya sewa bangunan
sebesar $24.000 yang
dialokasikan dengan dasar area.
Gaji dialokasikan berdasarkan
jumlah tenaga kerja
Penunjang Operasional

Cleaning service Ruang media Ruang buku Administrasi Total

Biaya langsung:

- Gaji $ 24.000 $ 36.000 $ 50.000 $ 70.000 $ 180.000


- Biaya $ 6.000 $ 8.000 $ 15.000 $ 25.000 $ 54.000
Sewa
bangunan
Dasar alokasi:

- Area 500 500 1.200 300 2500


(meter2)
- Jumlah 1 1 2 1 5
tenaga
Kerja
Hitung :
1. Alokasi biaya ke tiap departemen dan hitung total biaya
untuk tiap departemen.

2. Alokasi biaya departemen penunjang ke departemen


operasional dengan menggunakan metode langsung.

3. Alokasi biaya departemen penunjang ke departemen


operasional secara bertahap yang diawali oleh departemen
penunjang dengan biaya langsung terbesar.

4. Alokasi biaya departemen penunjang ke departemen


operasional dengan menggunakan metode reciprocal/bolak
balik.
Alokasikan biaya ke tiap departemen dan hitung
total biaya untuk tiap departemen.

Biaya Operasional Penunjang


langsung:
Ruang Buku Administrasi Cleaning Ruang Media
service
Gaji $50,000 $70,000 $24,000 $36,000

Biaya sewa $11,520 $2,880 $4,800 $4,800


bangunan
$61,520 $72,880 $28,800 $40,800
Total Overhead
Alokasikan dg metode langsung
Biaya langsung: Operasional Penunjang
Ruang Buku Administrasi Cleaning Ruang Media
service
Gaji $50,000 $70,000 $24,000 $36,000
dr cleaning service $16,000 $8,000 X
dr ruang media $24,000 $12,000 X
Total Overhead 1 $90,000 $90,000

biaya sewa $11,520 $2,880 $4,800 $4,800


bangunan
dr cleaning service $3,840 $960 X
dr ruang media $3,840 $960 X
Total Overhead 2 $19,200 $4,800

Total Overhead $109,200 $94,800


Alokasikan secara bertahap (departemen
penunjang dengan biaya langsung terbesar.
Biaya Operasional Penunjang
langsung:
Ruang Buku Administrasi Cleaning Ruang Media
service
Gaji $50,000 $70,000 $24,000 $36,000

biaya sewa $11,520 $2,880 $4,800 $4,800


bangunan
$61,520 $72,880 $28,800 $40,800
Total Overhead
Metode bertahap
(dimulai dari Ruang Media)

dr ruang Ruang Cleaning Total


Administrasi
Media Buku service alokasi

Gaji (alokasi
2 1 1 4 orang
orang)

$18,000 $9,000 $9,000

biaya sewa
1200 300 500 2000 m2
bangunan

$2,880 $720 $1,200


dr R. Media Ruang Buku Administrasi Cleaning service
Gaji $68,000 $79,000 $33,000
biaya sewa bangunan $14,400 $3,600 $6,000
$82,400 $82,600 $39,000

dr cleaning service Ruang Buku Administrasi


Gaji 2 1
$22,000 $11,000
biaya sewa bangunan 1200 300
$4,800 $1,200

Total setelah alokasi dr cleaning service


Ruang Buku Administrasi
Gaji $90,000 $90,000

biaya sewa bangunan $19,200 $4,800


$109,200 $94,800
Materi Perkuliahan
KONSEP BIAYA & HARGA
POKOK PRODUKSI

Minggu 1

John Suarlin, [Link].


johnsuarlin@[Link]
Terminologi Biaya
Istilah Bahasa Istilah Bahasa Definisi
Inggris Indonesia

Cost Biaya Sumber daya yang


dikeluarkan untuk suatu
tujuan
Actual Cost Biaya aktual Biaya yang telah timbul

Budgeted Cost Biaya yang Biaya yang diperkirakan


dianggarkan

Cost Object Obyek biaya Segala hal yang


menimbulkan biaya
PENGGOLONGAN BIAYA
Menurut keterlibatan biaya dalam pembuatan
produk
– Biaya Bahan Langsung
– Biaya Biaya Buruh Langsung
– Biaya Tak Langsung Pabrik
• Biaya Bahan Tak Langsung
• Biaya Buruh Tak Langsung
– Biaya Komersial
• Biaya Penjualan
• Biaya Umum / Administrasi
PENGGOLONGAN BIAYA
Menurut perubahan dalam volume produksi

• Biaya tetap
– Biaya yang tidak tergantung pada perubahan volume
produksi sampai tingkat tertentu
• Biaya variabel
– Biaya yang berubah sebanding dengan perubahan
volume produksi
PENGELOMPOKAN BIAYA PRODUKSI
Menurut keterlibatan biaya dalam
pembuatan produk di dalam
pabrik:

•Biaya bahan baku langsung


•Biaya buruh langsung
•Biaya umum pabrik (overhead
pabrik)
–Biaya bahan baku tidak langsung
–Biaya Buruh tak langsung
(mandor, manajer pabrik)
–Biaya Utilitas (listrik, air, telepon,
dll)
Perilaku Biaya
Total Dollars Cost per Unit
Change in
Variable proportion with Unchanged in
Costs output relation to
More output = More cost
output

Change inversely
Fixed Costs Unchanged in with output
More output = lower cost
relation to
per unit
output
Other Cost Considerations

• Biaya Primer = biaya tenaga


kerja + biaya bahan langsung

• Biaya Konversi = biaya


bahan langsung + Biaya
overhead pabrik
Hubungan Biaya dengan Produk
Bahan langsung + Pekerja langsung = Biaya Primer

+
Bahan + Pekerja + Biaya tidak = Overhead pabrik
tidak langsung tidak langsung langsung lain

Biaya pabrikasi

Beban pemasaran + Beban administrasi = Beban komersial

Biaya operasi total


HARGA POKOK PRODUKSI
pada perusahaan industri pabrik

Harga Pokok Produksi =


Persediaan Awal Barang ½ Jadi +Bahan Mentah Yang Dipakai + Upah Buruh Langsung + Biaya Umum Pabrik –
Persediaan Akhir Barang ½ Jadi

Bahan Mentah Yang Dipakai =


Persediaan Awal + Pembelian – Persediaan Akhir
Cost of Goods Manufactured
(Harga Pokok Produksi)

Cellular Products
Schedule of Cost of Goods Manufactured
For the Year Ended December 31, 2007 (in thousands) Menghitung Biaya Bahan
Direct Materials:
Beginning Inventory, January 1 $ 11,000 Langsung
Add: Purchases 73,000
Cost of Direct Materials Available for Use 84,000
Less: Ending Inventory, December 31 8,000
Direct Materials Used
Direct Labor
76,000
9,000
Akumulasi Biaya Produksi
Manufacturing Overhead:
Indirect Labor 7,000
untuk periode berjalan
Supplies 2,000
Heat, Light & Power 5,000
Depreciation - plant building 2,000
Depreciation - plant equipment 3,000
Miscellaneous 1,000
Total Manufacturing Overhead Costs 20,000
Manufacturing costs incurred during 2007 105,000 Penyesuaian Biaya Produksi
Add: Beginning WIP, January 1 6,000
Total Manufacturing Costs to account for 111,000 periode berjalan untuk
Less: Ending WIP, December 31 7,000
Cost of Goods Manufactured $ 104,000 menghitung unit yang
diselesaikan
PT. ALFAN
HARGA POKOK PRODUKSI
PERIODE 1 JANUARI – 31 DESEMBER 2006
DALAM JUTAAN DOLAR

BIAYA BAHAN BAKU LANGSUNG


Persediaan awal xxx
Pembelian xxx (+)
Bahan Tersedia xxx
Persediaan akhir xxx (-)
Biaya bahan dipakai xxx
BIAYA BURUH LANGSUNG xxx
BIAYA UMUM PABRIK
Gaji buruh tidak langsung xxx
Utilitas xxx
Pemeliharaan xxx
Penyusutan xxx
Supplies pabrik xxx (+)
Total xxx (+)
JUMLAH BIAYA PRODUKSI xxx
Persediaan awal barang ½ jadi xxx (+)
Jumlah xxx
Persediaan akhir barang ½ jadi xxx (-)
HARGA POKOK PRODUKSI xxx
“INCOME
STATEMENT”
perhitungan rugi laba
PENGERTIAN INCOME STATEMENT

• Income statement menunjukkan prestasi


perusahaan dalam jangka waktu tertentu.

• Prestasi perusahaan antara lain dapat diukur


dengan besarnya laba yang diperoleh.

• Dimana laba pada dasarnya adalah selisih antara


pendapatan dengan biaya – biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan
tersebut
POS – POS YANG TERDAPAT DALAM
INCOME STATEMENT

• Penjualan
• Laba kotor atas penjualan (gross on sale)
• Biaya operasi
– Biaya penjualan (selling expenses)
– Biaya umum (general expenses)
• Laba operasi (operating profit)
• Pendapatan dan biaya lain (other income and
other expenses)
• Laba sebelum pajak (profit before tax)
• Laba bersih (net profit) NIAT=net income after
tax
HARGA POKOK PENJUALAN
untuk perusahaan dagang
HPP = Persediaan Awal + Pembelian
Bersih – Persediaan Akhir
Dari rumus di atas, jelas sekali bahwa besarnya
persediaan awal dan akhir sangat mempengaruhi
besarnya HPP. Besarnya nilai persediaan sangat
bergantung dari cara menilainya.

Umumnya dikenal 3 cara menilai persediaan, yaitu:


•Metode FIFO (First In First Out)
•Metode LIFO (Last In First Out)
•Metode Average
HARGA POKOK PENJUALAN
untuk perusahaan industri pabrik

Harga Pokok Penjualan =


Persediaan Awal Barang Jadi + Harga Pokok Produksi –
Persediaan Akhir Barang Jadi

Harga Pokok Produksi =


Persediaan Awal Barang ½ Jadi + Bahan Mentah Yang Dipakai +
Upah Buruh Langsung + Biaya Umum Pabrik – Persediaan Akhir
Barang ½ Jadi

Bahan Mentah Yang Dipakai =


Persediaan Awal + Pembelian – Persediaan Akhir
LANGKAH PERHITUNGAN INCOME
STATEMENT
LANGKAH 1
Penjualan Kotor – (Retur + Potongan Penjualan) – Harga Pokok
Penjualan = Laba Kotor

LANGKAH 2
Laba Kotor – Biaya Operasi = Laba Operasi

LANGKAH 3
Laba Operasi +Penghasilan / Pendapatan Lain – Biaya Lain =
Laba Sebelum Bunga dan Pajak

LANGKAH 4
Laba Sebelum Bunga dan Pajak – Bunga = Laba Sebelum
Pajak

LANGKAH 5
Laba Sebelum Pajak – Pajak = Laba Bersih (Net Profit)
Income Statement

Cellular Products
Income Statement
For the Year Ended December 31, 2007 (in thousands)
Revenues $210,000
Cost of Goods Sold
Beginning Finished Goods, January 1 22,000 Dari perhitungan
Cost of Goods Manufactured 104,000
Cost of Goods Available for sale 126,000
harga pokok
Ending Finished Goods, December 31 18,000 produksi
Cost of Goods Sold 108,000
Gross Profit 102,000
Operating Costs: Biaya yang
Marketing, distribution, and customer-service 70,000
Total operating costs 70,000 dikeluarkan
Operating Income $32,000
secarap periodik
Perhitungan Income Statement
Penjualan bersih XX
Harga pokok penjualan
XX (-)
Laba kotor XX
Biaya operasi
Biaya penjualan XX
Biaya umum/adm XX (+)
Total biaya operasi XX (-)
Laba operasi XX
Non operasi
Pendapatan XX
Biaya XX (-)
Total biaya non operasi
XX (+/-)
Laba sebelum bunga dan pajak
XX
Bunga XX (-)
Laba sebelum pajak XX
Pajak perseroan XX (-)
BALANCED SHEET
neraca
Pendahuluan
• Setiap perusahaan memerlukan dua macam
informasi tentang perusahaannya, yaitu:
– Berapa nilai perusahaannya (NERACA)
– Berapa laba atau ruginya (INCOME STATEMENT)

• Informasi ini berguna untuk:


• Mengetahui besarnya modal yang tertanam dalam
perusahaan
• Mengetahui maju mundurnya perusahaan
• Dasar perhitungan pajak
• Menjelaskan keadaan perusahaan sewaktu – waktu
memerlukan kredit dari bank atau pihak lain
• Dasar menentukan kebijaksanaan yang akan ditempuh
• Menarik para peminat saham
Pengertian Akunting
Kecakapan (art) mencatat (recording),
menggolongkan (classifying), dan
mengikhtisarkan (summarizing) transaksi
– transaksi yang bersifat finansial menurut
cara tertentu dan dinyatakan dalam uang,
serta menafsirkan (interpreting) hasil -
hasilnya
Persamaan Akuntansi
 Dalam perusahaan, jumlah nilai harta yang dimiliki selalu sama
dengan hak atas harta itu. Hak pemilik atas harta dalam akunting
disebut MODAL

 Jadi, persamaan akunting dirumuskan sebagai berikut: HARTA =


MODAL

 Apabila perusahaan meminjam uang dari pihak lain untuk membeli


asset bagi perusahaan, atau membelinya dengan kredit, orang – orang
kepada siapa perusahaan meminjam atau membeli dengan kredit
disebut KREDITUR

 Dalam persamaan akunting, hak kreditur atas harta penjam disebut


UTANG (LIABILITIES)

 Jika terjadi demikian, maka persamaan akunting menjadi


HARTA = UTANG ©+2009
MODAL
Pearson Prentice Hall. All rights reserved.
Pengertian Neraca
• Neraca menunjukkan posisi
keuangan perusahaan pada suatu
saat tertentu, biasanya pada akhir
suatu periode pembukuan.

• Di dalam neraca ditunjukkan


berapa jumlah HARTA yang
dimiliki, serta berapa UTANG dan
MODAL perusahaan tersebut.
Kelompok HARTA
1. Harta Lancar (current asset)
– Setiap harta perusahaan yang digunakan dalam
operasi perusahaan dalam jangka waktu relatif
singkat, yakni tidak lebih dari satu tahun,
– Artinya perubahan dari uang tunai menjadi
barang dan kemudian menjadi uang tunai tidak
lebih dari 1 tahun
• Yang termasuk harta lancar adalah:
• Uang tunai / kas dan bank
• Surat – surat berharga
• Piutang dagang
• Persediaan barang
• Biaya dibayar di muka
Kelompok HARTA
2. Harta Tetap (Fixed Asset)
harta perusahaan yang terlibat lebih dari 1
tahun. Nilai harta tetap pada neraca
menunjukkan tendensi menurun akibat
adanya depresiasi kecuali pada tanah yang
umumnya menunjukkan nilau konstan,
kecuali apabila ada perubahan

• Yang termasuk harta tetap adalah:


• Peralatan pabrik, peralatan kantor
• Kendaraan, mesin
• Bangunan, tanah
Kelompok UTANG
1. Utang Lancar/Jangka Pendek
Utang yang jangka waktu pelunasannya kurang
dari 1 tahun

Yang termasuk utang lancar adalah


• Utang dagang (account payable)
• Biaya yang masih harus dibayar
• Pendapatan diterima di muka
• Utang bank jangka pendek
Kelompok UTANG
2. Utang Jangka Panjang (longterm liabilities)
Utang yang kewajiban pelunasannya lebih dari 1
tahun. 1 – 5 tahun disebut kredit jangka
menengah. Diatas 5 tahun kredit jangka panjang

• Yang termasuk utang jangka panjang adalah:


– Kredit investasi
– obligasi
Kelompok MODAL

• Merupakan hak pemilik atas harta


perusahaan dan seringkali disebut
Capital
• Yang termasuk kelompok modal
adalah:
– Modal saham
– Laba ditahan
Cost Flows Visualized

© 2009 Pearson Prentice Hall. All rights reserved.


Soal 1: Lengkapi Data yang Kurang
KASUS 1 KASUS 2

dalam ribuan
Accounts Receivable, 12/31 Rp6,000 Rp2,100
Seorang auditor
Harga Pokok Penjualan A Rp20,000
keuangan mencoba
Accounts Payable, 1/1 Rp3,000 Rp1,700
merekonstruksi data
Accounts Payable, 12/31 Rp1,800 Rp1,500
dari 2 pembayar pajak
Persediaan Barang Jadi, 12/31 B Rp5,200
yang hilang sebagian.
Gross Margin Rp11,300 C
Data yang masih ada
Barang 1/2 Jadi, 1/1 Rp0 Rp800
adalah sebagai berikut:
Barang 1/2 Jadi, 12/31 Rp0 Rp3,000
Persediaan Barang Jadi, 1/1 Rp4,000 Rp4,000
Bahan Langsung Terpakai Rp8,000 Rp12,000
Buruh Langsung Rp3,000 Rp5,000
Anda diminta Biaya Pabrikasi Tak Langsung Rp7,000 D
melengkapi data Pembelian Bahan Baku Rp9,000 Rp7,000
yang kurang Pendapatan Rp32,000 Rp31,800
Accounts Receivable, 1/1 Rp2,000 Rp1,400
Soal 2: PT. INO
• PT INO selama bulan juni 2007 berhasil menjual barang
produksinya sebanyak 150 unit dengan harga jual @ Rp
40.000
• Persediaan yang ada pada PT. INO terdiri dari:
Per 1 Juni 2004 Persediaan Per 30 Juni 2004
Rp. 66.000 Bahan baku Rp. 192.000

Rp. 162.000 Produk ½ jadi Rp. 96.000

Rp. 108.000 Produk jadi Rp. 204.000

• PT INO selama bulan Juni 2007 berhasil menjual barang


produksinya sebanyak 150 unit dengan harga jual @ Rp
40.000
• Biaya Produksi dan Biaya Operasi selama bulan
Juni 2007 adalah sebagai berikut:
Pembelian bahan baku Rp. 1.050.000

Biaya tenaga kerja langsung Rp. 720.000

Ongkos angkut pembelian bahan baku Rp. 54.000

Potongan pembelian bahan baku Rp. 18.000

Biaya pemasaran

Gaji bagian pemasaran Rp. 780.000

Iklan/promosi Rp. 166.000

Biaya lain bagian promosi Rp. 100.000

Biaya umum pabrik/overhead

Upah tenaga kerja tak langsung Rp. 105.000

Depresiasi Rp. 50.000


• Buatlah Laporan Harga Pokok
Biaya lain pabrik Rp. 270.000 Produksi
Biaya umum dan administrasi • Buatlah Laporan Rugi-Laba
Gaji pegawai kantor Rp. 564.000

Biaya lain bagian umum Rp. 120.000

Pajak penghasilan 20%

Anda mungkin juga menyukai