Pertemuan Ke-8
ACTIVITY BASED
COSTING
“Activity Based Costing (ABC) adalah
pendekatan penentuan biaya produk yang
membebankan biaya ke produk atau jasa
berdasarkan konsumsi sumber daya oleh
aktivitas.”
Dasar pemikiran pendekatan biaya ini adalah bahwa produk
atau jasa perusahaan dilakukan oleh aktivitas, dan aktivitas
yang dibutuhkan tersebut menggunakan sumber daya yang
menyebabkan timbulnya biaya.
Sumber daya dibebankan ke aktivitas, kemudiaan aktivitas
dibebankan ke objek biaya berdasarkan penggunaannya.
ABC memperkenalkan hubungan sebab akibat antara pemicu
biaya (cost-driver) dengan aktivitas.
Contoh:
• Biaya pembelian dibebankan pada unsur-unsur yang dibeli
• Biaya perancangan produk dibebankan pada produk-produk
baru yang dirancang
• Biaya pemberian bantuan kepada pelanggan dibebankan
pada individu pelanggan.
Istilah-Istilah dalam
Activity Based Costing
“ “ “
1. Aktivitas adalah 2. Sumber daya 3. Unsur biaya
pekerjaan yang adalah unsur adalah jumlah
dilakukan dalam ekonomis yang dibayarkan
suatu badan yang untuk sumber
usaha, dapat dibebankan daya yang
berupa kegiatan, atau dikonsumsi oleh
gerakan, atau digunakan aktivitas dan
serangkaian dalam terkandung
pekerjaan. pelaksanaan dalam “cost-pool”.
aktivitas.
Istilah-Istilah dalam
Activity Based Costing
“ “ “
4. Cost-pool adalah 5. Pemicu biaya 6. Objek biaya
aktivitas tertentu (cost driver) adalah produk,
dimana biaya adalah faktor- jasa, atau unit
dikelompokkan. faktor yang organisasi
Departemen pada menyebabkan dimana biaya
sebuah perusahaan perubahan dibebankan
seringkali biaya untuk beberapa
merupakan cost- aktivitas. tujuan
pool. manajemen.
Pembebanan
Cost Driver
Biaya
Biaya Cost Pool Objek Biaya
Motor Listrik
Perakitan Lemari Es
Penanganan Bahan
Supervisi
Pengepakan
Pengepakan Bahan
Mesin
Cuci
Inspeksi Akhir
Cost Driver
Dalam sistem ABC, sangatlah penting untuk mengidentifikasi dengan jelas
aktivitas yang menjadi pemicu biaya (cost-driver). Secara umum, terdapat
dua jenis pemicu biaya yang bisa dikenali, yaitu:
Pemicu Sumber Daya (Resources Driver)
Pemicu sumber daya digunakan untuk membebankan biaya
sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas ke cost pool
tertentu. Contoh cost driver jenis ini adalah luas lantai pabrik,
jumlah tenaga kerja, jumlah kamar yang tersedia.
Pemicu Aktivitas (Activity Driver)
Adalah ukuran frekuensi dan intensitas permintaan suatu
aktivitas terhadap objek biaya. Contoh: jumlah suku cadang
yang berbeda digunakan dalam produk akhir untuk mengukur
konsumsi aktivitas penanganan bahan atas setiap produk.
Cost Driver
“ Cost driver digunakan untuk menghitung biaya sumber daya ke
produk dari setiap unit aktivitas. Kemudian setiap biaya sumber daya
dibebankan ke produk atau jasa dengan mengalikan biaya setiap
aktivitas dengan kuantitas setiap aktivitas yang dikonsumsi selama
periode tertentu.
Sumber Daya
Cost Driver Aktivitas Kinerja
Objek Biaya
Activity Cost Driver
Pemicu aktivitas (activity driver) merupakan dasar-dasar yang digunakan
untuk mengalokasikan biaya dari suatu aktivitas ke produk, pelanggan, atau
objek biaya final (final cost object) lainnya. Activity cost drivers adalah suatu
ukuran kuantitatif dari output aktivitas. Contoh:
AKTIVITAS ACTIVITY COST DRIVER
- Menjalankan mesin - Jam mesin
- Mengeset mesin - Jam mengeset
- Penjadwalan produksi - Menjalankan produksi
- Penerimaan bahan - Bahan yang diterima
- Pendukung produk-produk yang ada - Sejumlah produk
- Memperkenalkan produk-produk baru - Jumlah produk baru yang dikenalkan
- Pemeliharaan mesin - Jam pemeliharaan
- Modifikasi karakteristik produk - Pemberitahuan perubahan teknik
Activity Based Costing (ABC) adalah metode penetapan biaya (costing) yang
dirancang demi menyediakan informasi biaya bagi manager untuk keputusan
strategis dan keputusan lainnya yang mungkin akan mempengaruhi kapasitas
dan juga biaya tetap.
Tujuan dari ABC adalah memahami overhead dan profitabilitas produk serta
konsumen. Dalam penetapan dan alokasi biaya, metode ABC memiliki
perbedaan dengan metode biaya tradisional.
Dengan ABC, biaya overhead pabrik dibebankan ke objek biaya seperti produk
atau jasa dengan mengidentifikasi sumber daya, aktivitas dan memproduksi
output.
Keunikan Metode ABC Dibanding Metode Tradisional
1) Biaya produksi dan nonproduksi dibebankan ke produk
2) Beberapa biaya produksi tidak dimasukkan ke biaya produk.
3) Terdapat sejumlah pool biaya overhead, di mana setiap pool
dialokasikan ke produk dan objek costing lainnya dengan
menggunakan ukuran aktivitas masing-masing yang khusus.
4) Dasar alokasi biasanya berbeda dengan dasar alokasi dalam
sistem akuntansi biaya tradisional.
5) Tarif overhead atau tingkat aktivitas disesuaikan dengan
kapasitas aktivitas dan bukan dengan kapasitas yang
dianggarkan.
“Dalam ABC, biaya hanya akan dibebankan ke
produk apabila ada alasan yang mendasar
bahwa biaya tersebut dipengaruhi oleh produk
yang dibuat. Dalam ABC, produk hanya
dibebani biaya kapasitas yang digunakan dan
tidak dibebani oleh biaya kapasitas yang tidak
digunakan”
Perbandingan Biaya Produk secara Tradisional
dan Activity Based Costing (ABC)
Metode Tradisional Metode ABC
Tujuan Tingkat persediaan Pembebanan biaya produksi
Lingkup Tahap produksi Tahap desain, produksi, pengembangan
Biaya bahan baku, tenaga kerja
Fokus Biaya overhead
langsung
Periode Periode akuntansi Daur hidup produk
Teknologi yang
Metode manual komputerisasi
digunakan
Kapan ABC diperlukan?
“ Sistem ABC hanya diimplementasikan jika:
1. Sistem penjadwalan yang sudah terotomatisasi di pabrik
2. Persaingan yang semakin ketat meningkatkan biaya kesalahan
yang disebabkan kekeliruan dalam penetuan harga jual.
3. Diversifitas produk sangat tinggi dalam hal volume, ukuran, dan
kompleksitas produk.
4. Jika manfaat menggunakan sistem tersebut lebih besar
daripada biayanya.
Keunggulan Metode ABC
1) Dapat mengatasi diversitas volume dan produk
sehingga biaya produknya lebih akurat
2) Mengidentifikasi biaya overhead dengan
kegiatan yang menimbulkan biaya tersebut.
3) Dapat mengurangi biaya yang mengidentifikasi
aktivitas yang tidak bernilai tambah
4) Memberikan kemudahan kepada manajemen
dalam melakukan pengambilakan keputusan
Kelemahan Sistem ABC
1) Mengaharuskan manajer melakukan perubahan radikal dalam cara
berfikir mereka mengenai biaya, yang pada awalnya sulit bagi manajer
untuk memahami ABC.
2) Memerlukan biaya ekstra dalam pengumpulan data yang diperlukan
dalam perhitungan biaya, karena sistem ABC menghendaki data-data
yang tidak biasa dikumpulkan oleh suatu perusahaan.
3) Sistem ABC, menghendaki pengalokasian biaya overhead pabrik, seperti
asuransi dan biaya penyusutan pabrik ke pusat-pusat aktivitas yang
lebih sulit dilakukan secara akurat karena semakin banyaknya pusat
aktivitas.
4) Tidak menunjukkan biaya yang akan dihindari dengan menghentikan
pembuatan lebih sedikit produk.
5) Implementasi sistem ABC belum dikenal baik sehingga persentase
Proses Alokasi Biaya Dua Tahap
“
Perhitungan biaya produk dengan sistem ABC dapat dilakukan
dengan dua tahap alokasi. Alokasi ini membabnkan biaya sumber
daya perusahaan, yang disebut biaya overhead pabrik, ke cost-pool,
dan kemudian ke objek biaya berdasarkan bagaimana suatu objek
biaya menggunakan sumber daya tersebut.
Dalam proses pembebanan biaya overhead dengan metode ABC,
terdapat dua tahap yang harus dipersiapkan. Dua tahap pembebanan
tersebut adalah:
1. Biaya overhead dibebankan pada aktivitas
2. Membebankan biaya aktivitas pada produk
Tahap 1 : Biaya Overhead
dibebankan pada Aktivitas
Dalam tahap ini diperlukan 5 langkah yang dilakukan,
yaitu:
a. Mengidentifikasi aktivitas
b. Menentukan biaya yang terkait dengan masing-
masing aktivitas
c. Mengelompokkan aktivitas yang seragam menjadi
satu:
• Aktivitas berlevel unit
• Aktivitas berlevel batch
• Aktivitas berlevel produk
• Aktivitas berlevel fasilitas
d. Menggabungkan biaya aktivitas yang
dikelompokkan
e. Menghitung tarif per kelompok aktivitas
Tahap 2 : Membebankan Biaya
Aktivitas pada Produk
Setelah penelusuran dan pembebanan biaya
aktivitas selesai dilakukan, langkah selanjutnya
adalah membebankan biaya aktivitas tersebut ke
masing-masing produk yang menggunakan cost
driver.
Setelah tarif per kelompok aktivitas diketahui, maka
dapat dilakukan perhitungan biaya overhead yang
dibebankan pada produk sebagai berikut:
Overhead yg dibebankan = Tarif Kelompok x Jumlah
konsumsi tiap produk
Contoh 1:
“
PT KFC membuat 2 jenis produk, yang diberi kode KF dan FC. Taksiran
biaya yang berkaitan dengan proses produksi kedua produk tersebut adalah
sebagai berikut.
Keterangan KF FC
Unit yang diproduksi 10.000 unit 20.000 unit
Jam tenaga kerja langsung per unit produk 4 jam 2 jam
Jam kerja mesin per unit produk 2 jam 4 jam
Kebutuhan bahan per unit produk 2 kg 1 kg
Harga bahan langsung per kg Rp 20.000 Rp 10.000
Upah tenaga kerja langsung per jam Rp 5.000 Rp 5.000
Contoh 1:
“
Biaya overhead menurut kelompok aktivitas dan pemicu biaya aktivitas
(cost driver activity) pada periode tersebut adalah sebagai berikut:
Kelompok Aktivitas Biaya Aktivitas Pemicu Biaya Aktivitas
a. Tenaga listrik Rp 40.000.000 Jam kerja langsung
b. Pemeliharaan Rp 70.000.000 Jam kerja mesin
c. Penanganan material Rp 60.000.000 Banyaknya bahan
d. Inspeksi Rp 30.000.000 Unit produksi
Total Rp 200.000.000
Jika biaya overhead yang dikeluarkan oleh PT KFC dihitung
menggunakan metode Konvesional atau Tradisional, maka akan
menghasilkan alokasi sebagai berikut.
Biaya Bahan Baku Langsung
Produk Kebutuhan/Produk Harga Biaya/Unit Produk
KF 2 kg Rp 20.000 Rp 40.000
FC 1 kg Rp 10.000 Rp 10.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung
Produk JKL/unit produk Upah/JKL Biaya/Unit Produk
KF 4 jam Rp 5.000 Rp 20.000
FC 2 jam Rp 5.000 Rp 10.000
Biaya overhead yang dikeluarkan untuk membuat seluruh produk tersebut adalah
Rp200.000.000, dimana penetapan biaya overhead didasarkan pada jam kerja
langsung (JKL). Sedangkan jumlah jam kerja langsung adalah 80.000 jam,
sehingga didapat tarif biaya overhead sebesar Rp 2.500 per JKL (Rp200.000.000 :
80.000 jam).
Biaya Overhead Pabrik
Produk JKL/unit produk Upah/JKL Biaya/Unit Produk
KF 4 jam Rp 2.500 Rp 10.000
FC 2 jam Rp 2.500 Rp 5.000
Dengan perhitungan tersebut, besarnya biaya produksi per unit produk dengan
metode biaya tradisional atau konvensional, adalah:
Jenis Biaya KF FC
Biaya Bahan baku 40.000 10.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung 20.000 10.000
Biaya Overhead Pabrik 10.000 5.000
Biaya Produksi per Unit Produk 70.000 25.000
Jika biaya overhead yang dikeluarkan oleh PT KFC dihitung menggunakan
metode Activity Based Costing, maka akan menghasilkan alokasi sebagai
berikut.
Kelompok Aktivitas Biaya Aktivitas Pemicu Biaya Aktivitas Tarif Per Satuan
a. Tenaga listrik Rp 40.000.000 80.000 Jam kerja langsung Rp 500/JKL
b. Pemeliharaan Rp 70.000.000 100.000 Jam kerja mesin Rp 700/JKM
c. Penanganan material Rp 60.000.000 40.000 Banyaknya bahan Rp 1.500/kg
d. Inspeksi Rp 30.000.000 30.000 Unit produksi Rp 1.000/unit produk
Total Rp 200.000.000
Catatan:
• Jumlah jam tenaga kerja langsung (JKL) yang diperlukan untuk menghasilkan
10.000 unit KF adalah 40.000 JKL (4 jam x 10.000 unit), dan untuk 20.000 unit FC
adalah 40.000 JKL (2 jam x 20.000 unit), sehingga total JKL adalah sebesar 80.000
jam.
• 100.000 JKM -> KF 20.000 jam (2 jam x 10.000 unit) + FC 80.000 jam (4 jam x 20.000
unit)
• 40.000 kg bahan -> KF 20.000 kg (2kg x 10.000 unit) + FC 20.000 kg (1kg x 20.000 unit)
Alokasi Biaya per produk
Kelompok Aktivitas Tarif per Satuan
KF FC
a. Tenaga listrik Rp 500/JKL Rp 2.000 Rp 1.000
b. Pemeliharaan Rp 700/JKM Rp 1.400 Rp 2.800
c. Penanganan material Rp 1.500/kg Rp 3.000 Rp 1.500
d. Inspeksi Rp 1.000/unit produk Rp 1.000 Rp 1.000
Total Rp 7.400 Rp 6.300
Catatan:
• Karena setiap unit KF membutuhkan 4 JKL, maka biaya tenaga listrik yang
dialokasikan untuk KF adalah Rp 2.000 per unit KF (Rp500 x 4 JKL). Sedangkan
setiap unit FC membutuhkan 2 JKL sehingga biaya tenaga kerja listrik yang
dialokasikan untuk FC adalah Rp 1.000 per unit KF (Rp 500 x 2 JKL)
• Pemeliharaan -> KF = 1.400 per unit (Rp700 x 2 JKM); FC = 2.800 per unit (Rp700
x 4 JKM)
• Penanganan material -> KF = 3.000 per unit (Rp 1.500 x 2 kg); FC 1.500 per unit
(Rp1.500 x 1kg)
Dengan alokasi biaya overhead per unit produk tersebut, maka biaya produksi untuk
setiap unit produk dengan metode Activity Based Costing adalah:
Jenis Biaya KF FC
Biaya Bahan baku 40.000 10.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung 20.000 10.000
Biaya Overhead Pabrik 7.400 6.300
Biaya Produksi per Unit Produk 67.400 26.300
Jika dibuat tabel perbandingan biaya produksi menurut metode tradisional dan
metode ABC, akan terlihat sebagai berikut:
Tradisional ABC
Kelompok Aktivitas
KF FC KF FC
Biaya Bahan baku 40.000 10.000 40.000 10.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung 20.000 10.000 20.000 10.000
Biaya Overhead Pabrik 10.000 5.000 7.400 6.300
Biaya Produksi per Unit Produk 70.000 25.000 67.400 26.300
Perbandingan Metode Tradisional dan ABC
• Dari tabel perbandingan tersebut, terlihat bahwa perbedaan pokok
antara metode tradisional dan metode ABC terletak pada alokasi biaya
overhead. Sedangkan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung akan menghasilkan alokasi biaya yang sama menurut
kedua metode.
• Metode tradisional menetapkan biaya produksi sebesar Rp 70.000 per
unit KF dan sebesar Rp25.000 per unit FC. Sedangkan sistem ABC
menetapkan biaya produksi sebesar Rp 67.400 per unit KF dan sebesar
Rp 26.300 per unit FC.
• Dengan sistem tradisional, PT KFC mungkin menetapkan harga jual
sebesar Rp 71.000 per unit KF dan sebesar Rp 26.000 per unit FC,
karena tingkat persaingan yang ketat. Dengan demikian laba kotr
sebesar Rp 1.000 per unit produk. Jika PT KFC menghadapi persaingan
yang sangat ketat, maka dengan sistem ABC perusahaan dapat
menetapkan harga jual sebesar Rp 70.000 per unit KF dan sebesar Rp
Contoh 2:
PT DMS memproduksi mesin cetak (printer) dengan tiga model, yaitu Model
“
P-123, Model P-234, dan Model P-345. Kapasitas normal perusahaan per
tahunnya pada anggaran tahun 2020 adalah 80.000 jam mesin. Berikut
anggaran biaya dan penggunaan aktivitas untuk masing-masing model
produk.
Keterangan Model P-123 Model P-234 Model P-345 Total
Unit yang diproduksi 50.000 40.000 30.000
Biaya bahan langsung per unit Rp1.050.000 Rp1.225.000 Rp1.850.000
Biaya tenaga kerja langsung per unit Rp780.000 Rp910.000 Rp1.050.000
Jam mesin per unit 2 3 5 80.000
Penerimaan pesanan 100 350 300 750
Pesanan produksi 12 20 30 62
Batch produksi 5 6 9 20
Inspeksi 10 10 20 40
Contoh 2:
“
Anggaran biaya overhead pabrik (BOP) pada kapasitas normal (80.000 jam
mesin) untuk tahun 2020 adalah Rp30.000.000.000. Berikut perinciannya:
Elemen BOP Pemicu Biaya Jumlah
Biaya penyusutan Jam mesin Rp14.000.000.000
Biaya penerimaan pesanan Penerimaan pesanan Rp4.800.000.000
Biaya desain Pesanan produksi Rp6.200.000.000
Biaya set-up Jumlah batch Rp2.000.000.000
Biaya inspeksi Jumlah inspeksi Rp3.000.000.000
Total Rp30.000.000.000
Langkah pertama yaitu menghitung biaya aktivitas untuk masing-masing
model mesin pencetak (printer).
• Biaya Penyusutan
Rp14.000.000.000
Biaya penyusutan per jam mesin =
80.000 jam mesin
= Rp175.000 per jam mesin
Berdasarkan perhitungan tersebut, berikut pembebanan biaya penyusutan
untuk masing-masing model mesin pencetak (printer).
Keterangan Model P-123 Model P-234 Model P-345
Jam mesin per produk (1) 2 3 5
Biaya penyusutan per jam mesin (2) Rp175.000 Rp175.000 Rp175.000
Biaya penyusutan per produk (3) = (1) x (2) Rp350.000 Rp525.000 Rp875.000
• Biaya Penerimaan Pesanan
Rp4.800.000.000
Biaya penerimaan pesanan per
=
pesanan 750 kali
= Rp6.400.000 per pesanan
Berdasarkan perhitungan tersebut, berikut pembebanan biaya penerimaan
pesanan untuk masing-masing model mesin pencetak (printer).
Keterangan Model P-123 Model P-234 Model P-345
Penerimaan pesanan (1) 100 350 300
Biaya penerimaan pesanan per pesanan (2) Rp6.400.000 Rp6.400.000 Rp6.400.000
Total biaya penerimaan pesanan (3)=(1)x(2) Rp640.000.000 Rp2.240.000.000 Rp1.920.000.000
Unit produk (4) 50.000 40.000 30.000
Biaya penerimaan pesanan per unit produk (5) =
Rp12.800 Rp56.000 Rp64.000
(3) / (4)
• Biaya Desain
Rp6.200.000.000
Biaya desain per order produksi =
62 kali
= Rp100.000.000 per order produksi
Berdasarkan perhitungan tersebut, berikut pembebanan biaya desain untuk
masing-masing model mesin pencetak (printer).
Keterangan Model P-123 Model P-234 Model P-345
Pesanan produksi (1) 12 20 30
Biaya desain per order produksi (2) Rp100.000.000 Rp100.000.000 Rp100.000.000
Total biaya desain (3) = (1) x (2) Rp1.200.000.000 Rp2.000.000.000 Rp3.000.000.000
Unit produk (4) 50.000 40.000 30.000
Biaya desain per produk (5) = (3) / (4) Rp24.000 Rp50.000 Rp100.000
• Biaya Set-Up
Rp2.000.000.000
Biaya Set-Up per Set-Up =
20 kali
= Rp100.000.000 per set-up
Berdasarkan perhitungan tersebut, berikut pembebanan biaya set-up untuk
masing-masing model mesin pencetak (printer).
Keterangan Model P-123 Model P-234 Model P-345
Batch produksi (1) 5 6 9
Biaya set-up per set-up (2) Rp100.000.000 Rp100.000.000 Rp100.000.000
Total biaya set-up (3) = (1) x (2) Rp500.000.000 Rp600.000.000 Rp900.000.000
Unit Produk (4) 50.000 40.000 30.000
Biaya set-up per produk (5) = (3) / (4) Rp10.000 Rp15.000 Rp30.000
• Biaya Inspeksi
Rp3.000.000.000
Biaya Inspeksi per Inspeksi =
40 kali
= Rp75.000.000 per set-up
Berdasarkan perhitungan tersebut, berikut pembebanan biaya set-up untuk
masing-masing model mesin pencetak (printer).
Keterangan Model P-123 Model P-234 Model P-345
Inspeksi (1) 10 10 20
Biaya inspeksi per inspeksi (2) Rp75.000.000 Rp75.000.000 Rp75.000.000
Total biaya inspeksi (3) = (1) x (2) Rp750.000.000 Rp750.000.000 Rp1.500.000.000
Unit Produk (4) 50.000 40.000 30.000
Biaya inspeksi per produk (5) = (3) / (4) Rp15.000 Rp18.750 Rp50.000
Berdasarkan perhitungan biaya setiap aktivitas, langkah berikutnya adalah
menghitung biaya overhead pabrik untuk masing-masing model mesin
pencetak (printer).
Elemen BOP Model P-123 Model P-234 Model P-345
Biaya penyusutan Rp350.000 Rp525.000 Rp875.000
Biaya penerimaan pesanan Rp12.800 Rp56.000 Rp64.000
Biaya desain Rp24.000 Rp50.000 Rp100.000
Biaya set-up Rp10.000 Rp15.000 Rp30.000
Biaya inspeksi Rp15.000 Rp18.750 Rp50.000
BOP per unit Rp411.000 Rp664.750 Rp1.119.000
Langkah terakhir dari sistem ABC adalah menghitung biaya produk untuk
masing-masing mesin pencetak (printer).
Keterangan Model P-123 Model P-234 Model P-345
Biaya bahan langsung per unit Rp1.050.000 Rp1.225.000 Rp1.850.000
Biaya tenaga kerja langsung per unit Rp780.000 Rp910.000 Rp1.050.000
Biaya overhead pabrik per unit Rp411.000 Rp664.750 Rp1.119.000
Biaya produk per unit Rp2.241.000 Rp2.799.750 Rp4.019.000
Berdasarkan perhitungan biaya produk dengan sistem ABC, dapat diketahui
bahwa biaya produk per unit untuk model Model P-123 sebesar
Rp2.241.000, Model P-234 sebesar Rp2.799.750, dan model P-345 sebesar
Rp4.019.000.
Activity Based
Management (ABM)
“Activity Based Management (ABM) adalah
pengelolaan aktivitas untuk meningkatkan
nilai (value) yang diterima oleh pelanggan, dan
untuk meningkatkan laba melalui
peningkatan nilai (value) tersebut.”
ABM menggunakan ABC seagai sumber
informasi utamanya.
Keunggulan ABM dibanding
Metode Tradisional
1) ABM mengukur efektivitas proses dan
aktivitas (termasuk aktivitas bisnis kunci)
serta mengidentifikasi bagaimana proses dan
aktivitas tersebut bisa diperbaiki untuk
menurunkan biaya dan meningkatkan nilai
(value) bagi pelanggan.
2) ABM memperbaiki fokus manajemen dengan
cara mengalokasikan sumber daya demi
menambah nilai aktivitas kunci, pelanggan
kunci, produk kunci, dan metode untuk
mempertahankan keunggulan kompetitif
perusahaan.
ABM menggunakan analisis cost driver, analisis aktivitas, dan
penilaian kinerja.
Analisis cost driver adalah pengujian kuantitatif, dan penjelasan
dampak dari cost driver. Analisis cost driver mencakup lingkup
benchmarking, diagram sebab akibat, dan analisis pareto.
• Benchmarking adalah upaya mencari praktek terbaik dalam
industri sejenis dan industri silang untuk meningkatkan kinerja
perusahaan dalam hal tugas, aktivitas, atau proses.
• Diagram Sebab Akibat memetakan penyebab yang dapat
mempengaruhi aktivitas, proses, atau hasil yang diharapkan.
• Analisis Pareto adalah alat manajemen yang menunjukkan 20%
cost driver penting yang mempengaruhi 80% biaya yang
dikeluarkan perusahaan.
ABM berfokus pada pengidentifikasian aktivitas yang dapat
dieliminasi dan menyakinkan bahwa aktivitas yang diperlukan sudah
dijalankan secara efisien. Untuk memperbaiki operasi, manajemen
harus menghilangkan aktivitas yang tidak efisien dan tidak perlu,
menentukan cost driver aktivitas, serta mengubah level cost driver.
Dalam menganalisis aktivitas ini, manajemen berfokus pada penilaian
yang dilakukan perusahaan dan membaginya menjadi dua kelompok
besar, yaitu:
a. Aktivitas bernilai tambah adalah aktivitas yang memberi
kontribusi terhadap customer value dan memberikan kepuasan
kepada pelanggan atau organisasi yang membutuhkannya.
Misalnya, aktivitas perancangan produk, pemrosesan oleh tenaga
kerja langsung, penambahan bahan langsung atau pengiriman
produk.
b. Aktivitas tidak bernilai tambah adalah aktivitas yang tidak
memberikan kontribusi terhadap customer value atau terhadap
Terima
Kasih