MAKALAH
HASIL HUTAN BUKAN KAYU
“ROTAN”
Disusun Oleh
NAMA : SULFIANI
NIM : M1A12207
KELAS : D
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN DAN ILMU LINGKUNGAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesui
dengan waktu yang ditetapakan. Sholawat serta salam tak lupa pula kita
hanturkan, kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita
dari zaman jahilia menuju zaman terang menerang seperti yang kita rasakan saat
ini yang telah banyak membagi ilmu sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah yang berjudul “ Radiasi Surya ” ini diajukan sebagai salah satu
tugas dari mata kuliah Klimatologi dan dibuat berdasarkan studi pustaka.
Penulis sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
terdapat kesalahan-kesalahan yang patut penulis perbaiki, oleh karena itu saran
dan kritik yang bersifat konstruktif sangat penulis nantikan dari para pembaca.
Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dari
para pembaca pada umumnya.
Kendari, 9 Oktober 2023
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................
Daftar Isi ..............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................
1.1. Latar Belakang .......................................................................................
1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................
1.3. Tujuan .....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................
2.1.
Pengertian Rotan.....................................................................................
2.2.
Jenis rotan dan bagaimana potensi rotan.................................................
2.3.
proses atau cara dalam pengolahan rotan................................................
2.4.
Faktor-faktor yang akan mempengaruhi hasil dari
produk rotan............................................................................................
2.5. Bagaimana keadaan industri rotan..........................................................
BAB III PENUTUP ............................................................................................
3.1. Kesimpulan .............................................................................................
3.2. Saran .......................................................................................................
Daftar Pustaka ....................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara penghasil hutan terkenal di dunia, baik
dari hasil hutan kayu maupun dari hasil hutan non-kayu. Hasil-hasil hutan
nonkayu yang banyak terdapat di Indonesia adalah seperti rotan, bermacam-
macam getah, biji-bijian lemak, kayu gaharu, dan kayu mahal (fancy wood).
Hasil hutan non-kayu di Indonesia sudah sejak lama dimanfaatkan penduduk
di sekitar hutan Untuk memenuhi kelangsungan hidup sehari-hari. Kegiatan
pemungutan dan pengusahaan hasil hutan non-kayu mempunyai peranan yang
cukup besar dalam mengurangi pengangguran dan sebagai sumber mata
pencaharian. Salah satu hasil hutan non kayu yang dikenal oleh masyarakat di
sekitar hutan adalah rotan (Gautama, 2008).
Indonesia adalah Negara penghasil rotan terbesar di dunia. Luas hutan
rotan di Indonesia sebesar 13,20 juta hektar tergolong kedalam 8 marga dan
306 jenis daripadanya 51 jenis yang sudah dimanfaatkan. Jenis yang memiliki
harga yang tinggi adalah Calamus dan Daemonorops, yang terdapat juga di
Maluku.
Ditinjau dari klasifikasi tumbuhan penghasil kayu, sebagian dari
produk rotan ini sebenarnya termasuk kayu. Namun demikian karena
dominasinya berasal dari kelompok tumbuhan monokotil, maka tidak relevan
untuk dimasukkan dalam kelompok kayu yang senyatanya memang berasal
dari tumbuhan dikotil dan konifer.
Rotan tumbuh liar di dalam hutan atau ada yang sengaja ditanam.
Rotan dapat dipanen setiap saat, dengan memperhatikan bagian bawah
batangnya tidak tertutup oleh kelopak, daun sudah mengering, duri dan
kelopak daun sudah rontok.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini, yaitu :
1. Apa yang dimaksud sebagai rotan ?
2. Apa saja jenis rotan dan bagaimana potensi rotan ?
3. Bagaimana proses atau cara dalam pengolahan rotan ?
4. Faktor-faktor apa saja yang akan mempengaruhi hasil dari produk rotan ?
5. Bagaimana keadaan industri rotan ?
1.3. Tujuan
Adapun tujuan pada makalah ini, adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud sebagai rotan.
2. Untuk mengetahui apa saja jenis rotan dan bagaimana potensi rotan.
3. Untuk mengetahui bagaimana proses atau cara dalam pengolahan rotan
4. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang akan mempengaruhi hasil
dari produk rotan.
5. Untuk mengetahui bagaimana keadaan industri rotan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Rotan
Rotan adalah serat alam yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan
baku industri. Secara umum, rotan adalah jenis material sustainable yang
memiliki karakteristik utama lentur sehingga mudah dilengkungkan. Rotan
juga sulit untuk dipatahkan dan memiliki kekuatan empat kali lipat lebih kuat
daripada kemampuan kayu. Setiap jenis rotan memiliki kekuatan dan
kelenturan yang berbeda – beda. Di Indonesia terdapat delapan marga rotan
yang terdiri atas kurang lebih 300 sampai 350 jenis. Jenis rotan yang biasa
dimanfaatkan oleh industri diantaranya adalah : rotan tohiti, rotan mandola
dan rotan manau (Maharani et al, 2012).
Rotan adalah sekelompok palma dari puak (tribus) calameae yang
memiliki habitus memanjat, terutama Calamus, Daemonorops, dan
Onocalanus. Puak calameae semdiri terdiri dari sekitar 6oo anggota, dengan
daerah persebaran di bagian tropis seperti Afrika, Asia, dan Australasi.
Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5cm, beruas-ruas
panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang,
keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora,
sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur.
Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan
mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan
hidup di alam bebas. Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai
salah satu menunya.
Kulit rotan adalah limbah dari pemanenan hasil hutan nonkayu (rotan)
yang dapat diekstrak menjadi selulosa. Selain berharga murah dan belum
banyak dimanfaatkan, kulit rotan mengandung serat yang dapat diperkecil
ukurannya menjadi nanopartikel melalui proses penggilingan mekanik,
pemanasan berstirer dan ultrasonikasi (Nikmatin et al, 2018).
2.2. Jenis Rotan dan Potensi Rotan
Keanekaragaman jenis rotan adalah ukuran yang menyatakan variasi
jenis tumbuhan dari suatu komunitas yang dipengaruhi oleh jumlah dan
kelimpahan dari masing masing jenis. Diperkirakan lebih dari 516 jenis rotan
terdapat di Asia Tenggara, yang berasal dari 8 genera, yaitu untuk genus
Calamus 333 jenis, Daemonorops 122 jenis, Khorthalsia 30 jenis, Plectocomia
10 jenis, Plectocomiopsis 10 jenis, Calopspatha 2 jenis, Bejaudia 1 jenis dan
Ceratolobus 6 jenis. Dari 8 genera tersebut dua genera rotan yang bernilai
ekonomi tinggi adalah Calamus dan Daemonorops. Pengelompokan jenis-jenis
rotan lazimnya didasarkan atas persamaan ciri yang dimiliki setiap jenis.
Penentuan jenis rotan dapat melalui identifikasi berdasarkan karakter
morfologi organ tanaman, yaitu: akar, batang, daun, bunga, buah dan alat-alat
tambahan (Kunut et al, 2014).
Jenis rotan jumlahnya sampai puluhan, ada yang komersial
(mempunyai nilai tinggi dalam perdagangan), dan non-komersial atau hanya
lokal saja digunakan (diperdagangkan). Ada 2 familia penghasil rotan, terdiri
atas 8 genus dan puluhan spesies, yaitu :
1. Familia Palmae, ada 7 genus yaitu : Calamus, Daemonorops, Korthalsia,
Ceratolobus, Myrialepsis, Plectoconia dan Plectocomiopsia.
2. Familia Thypaceae dengan satu genus yaitu Freytimetia.
Rotan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Calamus asperimus
Blume, Calamus caesius Blume dan Calamus scipionum Loure. Batang C.
caesius banyak digunakan sebagai bahan baku untuk tirai, kursi dan
pembuatan anyaman, sedangkan C. asperimus dan C. scipionum masih belum
banyak dikenal dan dimanfaatkan (Handayani et al, 2014).
Jenis rotan alam yang diidentifikasikan dan mempunyai nilai
komersial lebih dari 25 jenis, misalnya: manau, tohiti, mandola, lambang,
semambu, sega, embulu, sueti, batang, tarumpu, koboo, sabut, kertes, perdas,
lacak, seel, slimit, cacing, sampulut, irit, jermasin, lilin, cincin, udang, runti,
jernang, lasio, antik dan datu. Jenis-jenis rotan alam umumnya dipungut pada
umur 7-12 tahun. Adapun jenis rotan yang sudah ditanam ada 5 jenis, yaitu
rotan manau, irit, sega, tohiti, dan manis. Jenis-jenis rotan tanaman ini sudah
ada yang mulai dipanen dengan umur tebang 5-10 tahun saja.
2.3. Proses Atau Cara Pengolahan Rotan
Proses pengolahan rotan termasuk proses pengolahan rotan rumahan
secara tradisional. Cara pengolahan pada masyarakat tersebut yaitu, rotan
diambil di hutan atau kebun dipilih rotan yang sudah masak tebang. Cara
membedakan rotan yang siap dipanen dengan rotan yang masih muda
biasanya masyarakat setempat melihat langsung dari warna daun rotan.
Setelah mendapatkan rotan yang siap dipanen, cara pengambilannya yaitu
dengan memotong bagian pangkal pohon rotan, ditarik sampai seluruh bagian
rotan terlihat, kemudian rotan digosokkan pada batang pohon atau kayu terus
kemudian memotong bagian ujung rotan, rotan tersebut digulung (Siska et al,
2015).
Rotan harus melalui beberapa proses sebelum material tersebut bisa
diolah dan dianyam menjadi sebuah perabot atau dekorasi. Beberapa langkah
hampir sama dengan proses kayu. Rotan yang masih berbentuk
'lonjoran/batang' dengan panjang mencapai 6-10 meter masih sangat basah.
Proses pertama adalah dengan menjemur batangan-batangan rotan tersebut
hingga agak kering karena pada waktu dikirim ke pabrik pengolahan sebagian
rotan tersebut masih berwarna hijau kekuningan. Pengawetan menjadi satu
proses penting untuk rotan untuk mencegah serangan jamur dan serangga
dengan metode perendaman.
Baru kemudian setelah rotan direndam selama beberapa jam, proses
pengeringan dengan menggunakan ruang dan sistem pengeringan yang sama
dengan kayu dilakukan. Rotan ditumpuk di dalam ruang Kiln Dry sedemikian
rupa agar sirkulasi udara panas merata ke seluruh tumpukan rotan. Setelah
dikeringkan selama 10-15 hari rotan mulai diproses di ruang mesin. beberapa
batang rotan yang bengkok diluruskan dengan mesin khusus.
Dari proses ini batangan rotan (diameter sekitar 30-40mm) dikupas
dan kulitnya dipisahkan untuk dijadikan bahan baku anyaman atau pengikat
kontruksi, sedangkan batangan dan 'daging'nya diproses lebih lanjut untuk
membuat ∅ batang rotan sama dari ujung hingga pangkalnya.
Batangan ini nantinya akan diproses lagi untuk dibelah menjadi
material anyaman yang disebut 'pitrit'. Tergantung dari kualitas batang rotan
tersebut. Apabila berwarna terang dan berdiameter besar (>25mm) maka akan
diproses menjadi pitrit, jika lebih kecil dari 25mm batangan tersebut biasanya
akan digunakan sebagai rangka kursi atau meja.
Karakter elastis tersebut yang menjadikan daya tarik rotan untuk
dibuat berbagai macam produk craft dan mebel. Karena rotan mempunyai sifat
yang fleksibel, terdapat berbagai macam keuntungan dalam pengolahannya
menjadi sebuah produk furnitur. Rotan dapat ditempel menggunakan lem dan
dapat digabungkan dengan material lain dengan cara dipaku. Rotan
mempunyai beberapa kriteria dari segi pengolahan, dari bahan mentah
menjadi bahan yang siap diolah menjadi produk furnitur. Rotan mentah, masih
mengandung air getah dan berwarna hijau atau kekuning-kuningan. Kemudian
mengalami tahap penggorengan, penjemuran dan pengeringan, maka jenis
tersebut dikenal sebagai rotan asalan atau rotan Washed and Sulfure
(Kusnaedi et al, 2013).
Rotan yang dijadikan sebagai bahan baku industri produk jadi rotan
adalah rotan yang yang telah melalui pengolahan. Kegiatan pengolahan adalah
pengerjaan lanjutan dari rotan bulat (rotan asalan) menjadi barang setengah
jadi dan barang jadi atau siap dipakai atau dijual. Tahapan pengolahan rotan
adalah sebagai berikut :
1. Penggorengan
Tujuan penggorengan adalah untuk menurunkan kadar air agar
cepat kering dan juga untuk mencegah terjadinya serangan jamur. Cara
penggorengannya adalah potongan-potongan rotan diikat menjadi suatu
bundelan, kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang sudah disiapkan
campuran solar dengan minyak kelapa.
2. Penggosokan dan Pencucian
Setelah rotan digoreng, ditiriskan beberapa menit, kemudian
digosok dengan kain perca (sabut kelapa) atau karung goni yang dicampur
dengan serbuk gergaji, agar sisa kotoran terutama getah yang masih
menempel pada kulit rotan dapat dilepaskan, sehingga kulit rotan menjadi
bersih dan akan dihasilkan warna rotan yang bewarna cerah dan
mengkilap.
3. Pengeringan
Setelah rotan dicuci lalu dikeringkan dengan cara dijemur pada
panas matahari sampai kering dengan kadar air berkisar 15% – 19%. Pada
rotan manau (Calamus manan Miq.) dan rotan semambu (Calamus
scipionum Bur). Menunjukkan bahwa lama pengeringan secara alami dari
kedua jenis rotan tersebut berkisar 22 hari sampai 65,3 hari
4. Pengupasan dan Pemolesan
Pengupasan dan pemolesan umumnya dilakukan pada rotan besar
pada keadaan kering, gunanya adalah untuk menghilangan kulit rotan
tersebut, sehingga diameter dan warna menjadi lebih seragam dan merata.
5. Pengasapan
Pengasapan dilakukan agar warna rotan menjadi kuning merata dan
mengkilap. Pengasapan dilakukan pada rotan kering yang masih berkulit
(alami), pengasapan pada dasarnya adalah proses oksidasi rotan dengan
belerang (gas SO2) agar warna kulit rotan menjadi lebih putih. Waktu
pengasapan sekitar 12 jam dan menghabiskan sekitar 7,5 kg belerang atau
1,8 gr/batang rotan (Rachman 1990 dalam Jasni et al., 2005).
6. Pengawetan
Pengawetan rotan adalah proses perlakuan kimia atau fisis terhadap
rotan yang bertujuan meningkatkan masa pakai rotan. Selain berfugsi
untuk mencegah atau memperkecil kerusakan rotan akibat oganisme
perusak, juga memperpanjang umur pakai rotan. Bahan pengawet yang
digunakan harus bersifat racun terhadap organisme perusak baik pada
rotan basah maupun rotan kering, permanen dalam rotan, aman dalam
pengangkutan dan penggunaan, tidak bersifat korosif, tersedia dalam
jumlah banyak dan murah. Serangan bubuk rotan dapat dikenal karena
adanya tepung halus bekas gerekan bubuk tersebut. Serangga ini paling
banyak ditemukan menyerang rotan antara lain Dinoderus
minutus Farb., Heterobostrychus aequalis Wat., dan Minthea sp.
7. Pembengkokan
Pembengkokan atau pelengkungan rotan dilakukan pada rotan
berdiameter besar sesuai dengan pengunaannya. Cara pembengkokan ini
dilakukan dengan cara rotan tersebut dilunakkan dengan uap air panas
yang disebut steaming dengan tabung berbentuk silinder (steamer) agar
jaringan rotan menjadi lunak sehingga mudah dibengkokan.
2.4. Faktor- Faktor Yang Akan Mempengaruhi Hasil Dari Produk Rotan
Produk merupakan seperangkat atribut. Baik yang berwujud maupun tidak
berwujud. Di dalamnya terdapat warna, harga, nama pabrik, nama toko, pabrik
yang diterima oleh pembeli untuk memenuhi kebutuhanya (Lathiifa et al,
2013). Produk biasanya diikuti oleh serangkaian atribut yang menyertai
produk meliputi beberapa hal, yaitu;
1. Kualitas Produk, adalah salah satu sarana “positioning” utama bagi para
pemasar. Memiliki dampak langsung terhadap cara kerja sebuah produk.
Maka dari itu, kualitas berhubungan erat dengan nilai serta kepuasan
pelanggan.
2. Fitur Produk, adalah sebubuah tingkatan model yang lebih tinggi dari
produk dasar untuk mendiferensiasikan produk perusahaan dengan produk
pesaing.
3. Style dan Desain Produk, desain memiliki jangkauan yang luas daripada
style karena tidak hanya mempertimbangkan penampilan, namun juga
memiliki tujuan untuk memperbaiki kinerja produk, mengurangi biaya
produksi dan menambah keunggulan bersaing.
4. Merek. Merupakan sebuah nama, istilah, tanda, lambang atau desain, atau
kombinasi semua ini, yang menunjukkan identitas pembuat atau penjual
produk atau jasa. Konsumen akan memandang merek sebagai bagian
penting dari produk dan juga penetapan merek bisa menambah nilai suatu
produk.
5. Kemasan. Merupakan bagian dari produk yang melibatkan perancangan
dan produksi wadah/pembungkus untuk sebuah produk. Fungsi utamanya
adalah menyimpan dan melindungi produk. Kemasan yang inovatif bisa
memberikan manfaat kepada perusahaan melebihi pesang dan mendorong
penjualan.
6. Label. Ide utamanya adalah penanda sederhana yang ditempelkan pada
produk yang menjadi bagian kemasan. Label juga dapat menggambarkan
beberapa hal tentang produk seperti; siapa yang membuat, dimana dibuat,
kapan produk dibuat, kandungannya, cara pemakaian dan cara
menggunakan produk dengan aman dan baik.
7. Pelayanan Pendukung Produk. Hal ini adalah elemen lain dalam strategi
produk. Penawaran yang diberikan perusahaan biasanya meliputi beberapa
pelayanan pendukung.
Sejak dari hutan, pemungutan, pengangkutan, penumpukan dan
pengolahannya di pabrik, semuanya memungkinkan adanya pengaruh
terhadap produk hasil olahan rotan.
Adanya faktor-faktor yang berpengaruh tersebut adalah :
1. Asal bahan, terutama tua mudanya, jenis dan ukuran.
2. Adanya cacat, baik cacat alami, cacat pungutan maupun caca prosesing
(mekanis dan biologis)
3. Proses pengolahan awal (rotan mentah), pada proses penggorengan
dan pengasapan
4. Proses pengolahan lanjutan, sejak dari proses pengolahan komponen-
komponen rotan sampai menjadi produk-produk jadi rotan.
Untuk mengatasi (meminimalkan) pengaruh faktor-faktor tersebut
dapat dilakukan antara lain dengan :
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SDM
2. Mengketatkan proses seleksi kualitas rotan
3. Mengerjakan (memproses) rotan dengan cermat dan benar
Gautama, I. (2008). Analisi Biaya dan Proses Pemanenan Rotan Alam di Desa
Mambue Kabupaten Luwu Utara. Jurnal Hutan dan Masyarakat, 3(1): 8202.
Maharani, N. Y., & Handojo, O. (2012). Eksplorasi struktur dan
kombinasi material produk furnitur rotan. Product Design, 1(1): 161-451.
Nikmatin, S., Purwanto, S., & Maddu, A. (2018). Analisis Struktur
Selulosa Kulit Rotan Sebagai Filler Bionano Komposit Dengan Difraksi
Sinar-X. Jurnal Sains Materi Indonesia, 13(2): 97-102.
Kunut, A. A., Sudhartono, A., & Toknok, B. (2014). Keanekaragaman jenis
rotan (Calamus spp.) di kawasan hutan lindung wilayah Kecamatan Dampelas
Sojol, Kabupaten Donggala. Warta Rimba, 2(2): 102-108.
Handayani, F., & Linda, M. R. (2014). Struktur Anatomi Batang Tiga
Jenis Rotan Genus Calamus dari Kawasan Tembawang Kabupaten Kubu
Raya. Jurnal Protobiont, 3(1).
Kusnaedi, I., & Pramudita, A. S. (2013). Sistem bending pada proses
pengolahan kursi rotan Cirebon. Jurnal Rekajiva, 2(1).
Siska, L., Zainal, S., & Sirait, S. M. (2015). Etnobotani rotan sebagai bahan
kerajinan anyaman masyarakat sekitar kawasan Taman Wisata Alam Bukit
Kelam Kabupaten Sintang. Jurnal Hutan Lestari, 3(4).
Lathiifa, S., & Ali, H. (2013). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Diferensisasi Produk & Perilaku Konsumen: Produk, Harga, Promosi,
Distribusi. Magister Management UMB, 1(1), 1-18