0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan29 halaman

Pemenuhan Kebutuhan Mobilitas dan ROM

Diunggah oleh

ipouauwati03
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan29 halaman

Pemenuhan Kebutuhan Mobilitas dan ROM

Diunggah oleh

ipouauwati03
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Pemenuhan Kebutuhan Mobilitas Fisik dan Terapi Range of


Motion (ROM)
1. Konsep Pemenuhan Kebutuhan Mobilitas Fisik
a. Definisi Mobilisasi
Mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak
secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya. (Azizah, &
Wahyuningsih, 2020).
b. Jenis Mobilisasi
Menurut (Risnah, dkk 2022) ada dua jenis mobilitas yaitu :
1) Mobilitas Penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan
interaksi sosial dan menjalankan kegiatan sehari-hari. Mobilitas
penuh ini merupakan fungsi saraf motorik valunter dan sensorik
untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
2) Mobilitas Sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara
bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan
sensorik pada area tubuuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus
cidera atau patah tulang dengan pemasangan traksi.
c. Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi
Mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
diantaranya :
1) Gaya hidup : Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi
kemampuan mobilitas seseorang karena gaya hidup berdampak
pada perilaku atau kebiasaan sehari-hari.
2) Proses penyakit / Cidera : Proses penyakit atau cidera dapat
mempengaruhi kemampuan mobilitas karena dapat
mempengaruhi fungsi sistem tubuh.

7
8

3) Tingkat energi : Energi adalah sumber untuk melakukan


mobilitas. Maka dari itu dibutuhkan energi yang cukup agar
seseorang dapat melakukan mobilitas dengan baik.
4) Usia dan status perkembangan : Terdapat perbedaan kemampuan
mobilitas pada tingkat usia yang berbeda, hal ini dikarenakan
kemampuan atau kematangan fungsi alat gerak sejalan dengan
perkembangan usia.
d. Perubahan sistem tubuh akibat imobilisasi
Dampak dari imobilisasi dalam tubuh dapat mempengaruhi
sistem tubuh, seperti perubahan pada metabolisme tubuh,
ketidakseimbangan cairan elektrolit, gangguan dalam kebutuhan
nutrisi, gangguan fungsi gastrointestinal, perubahan sistem
pernapasan, perubahan kardiovaskuler, perubahan sistem
muskuloskletal, perubahan kulit, perubahan eliminasi (buang air besar
dan kecil) dan perubahan perilaku.
e. Tanda dan Gejala Gangguan Mobilitas
Menurut Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017) data mayor dan
minor pada diagnosa keperawatan gangguan mobilitas fisik yaitu :
Tabel 2. 1
Tanda dan Gejala Mayor Minor Gangguan Mobilitas Fisik
Tanda dan Gejala Mayor
Subyektif Objektif
1. Mengeluh sulit menggerakkan 1. Kekuatan otot menurun
ekstremitas 2. Rentang gerak (ROM)
menurun
Tanda dan Gejala Minor
Subyektif Objektif
1. Nyeri saat bergerak 1. Sendi kaku
2. Enggan melakukan pergerakan 2. Gerakan tidak terkoordinasi
3. Merasa cemas saat bergerak 3. Gerakan terbatas
4. Fisik lemah

f. Metode Penilaian Kekuatan Otot


1) Manual Muscle Testing (MMT)
Manual Muscle Testing (MMT) merupakan metode yang
digunakan untuk pemeriksaan kekuatan otot yang bertujuan dalam
perawatan kesehatan medis, terapi fisik dan rehabilitasi, setelah
9

adanya cidera atau trauma (Rehatta, 2021). MMT merupakan


metode pemeriksaan kekuatan otot yang digunakan pada masalah
patologis dan cidera neurologis atau cidera fisik (fraktur, stroke,
post polio sindrom, disabilitas pasca bedah) (Cuthberth & Jr,
2017). Dalam pemeriksaan MMT dilakukan observasi, palpasi,
dan dorongan untuk menentukan kekuatan otot (Bohannon, 2019).
Tabel 2. 2
Penilaian Kekuatan Otot dengan MMT
Derajad 5 Kekuatan normal dimana seluruh gerakan dapat
dilakukan otot dengan tahanan maksimal dari proses
yang dilakukan berulang-ulang tanpa menimbulkan
kelelahan.
Derajad 4 Dapat melakukan ROM secara penuh dan dapat
melawan tahanan ringan.
Derajad 3 Dapat melakukan ROM secara penuh dengan
melawan gaya berat (gravitasi) tetapi tidak dapat
melawan tahanan.
Derajad 2 Dengan bantuan atau menyangga sendi dapat
melakukan ROM secara penuh.
Derajad 1 Kontraksi otot minimal terasa/teraba pada
otot bersangkutan tanpa menimbulkan gerakan.
Derajad 0 Tidak ada kontraksi otot sama sekali.
Sumber : (Rehatta, 2021).
g. Penatalaksanaan Gangguan Mobilitas
Adapula penatalaksanaan gangguan mobilitas yakni dengan
melakukan Range of motion (ROM). Penyembuhan gangguan
mobilitas fisik pada fraktur setelah dilakukan operasi penyembuhan
tulang maka harus secepat mungkin dilakukan Range Of Motion
(ROM). Latihan rentang gerak (ROM) adalah pergerakan maksimal
mungkin bisa dilakukan oleh sendi tersebut.

2. Konsep Terapi Range of Motion (ROM)


a. Definisi Range of Motion (ROM)
Range Of Motion (ROM) adalah latihan rentang gerak sendi
untuk memperlancar aliran darah perifer dan mencegah kekakuan otot
atau sendi (Yazid & Sidabutar, 2022)
ROM diartikan sebagai latihan gerak atau mobilisasi yang dapat
10

membantu pasien yang mengalami keterbatasan gerak untuk


mendapatkan kembali kekuatan otot untuk bergerak. Untuk itu perlu
adanya proses penyembuhan salah satunya dengan melakukan
mobilisasi. Ambulasi dini sangat penting dilakukan pada pasien-
pasien pasca operasi karena jika pasien membatasi pergerakannya di
tempat tidur dan sama sekali tidak melakukan ambulasi pasien akan
semakin sulit untuk mulai berjalan (Oktaviani, 2019).
b. Tujuan Range of Motion (ROM)
Tujuan memberikan latihan ROM secara dini adalah untuk
memperbaiki dan mencegah kekakuan otot, memelihara atau
meningkatkan fleksibilitas sendi, memelihara atau meningkatkan
pertumbuhan tulang serta dapat mencegah kontraktur. Selain itu
latihan gerak sendi bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot dan
ketahanan otot (endurance) sehingga dapat memperlancar serta suplai
oksigen dan aliran darah untuk jaringan serta akan mempercepat
proses penyembuhan (Hidayah et al, 2022).
Latihan ROM pasif dilakukan dua kali dalam sehari pada pasien
stroke non hemoragik yang mengalami hemiparase dan didapatkan
hasil pasien mengalami peningkatan kekuatan otot pada ekstremitas
setelah dilakukan penerapan ROM pasif dua kali sehari dalam tiga hari
(Mardiyanti Cicilia, dkk. 2020).
c. Manfaat Range of Motion (ROM)
Menurut Purwani (2018) dilakukannya ROM secara teratur dan
berkala dapat memberikan manfaat antara lain :
1) Mempertahankan fungsi tubuh
2) Memperlancar peredaran darah sehingga menyembuhkan luka
3) Membantu pernafasan menjadi lebih baik
4) Memperlancar eliminasi alvi dan urine
5) Mempertahankan tonus otot
6) Mengembalikan aktivitas tertentu, sehingga pasien dapat kembali
normal atau dapat memenuhi kebutuhan gerak harian
7) Memberi kesempatan perawat dan pasien untuk berinteraksi.
11

d. Jenis-jenis Range of Motion (ROM)


1) ROM Aktif (AROM)
ROM aktif adalah isotonik (terjadi kontriksi dan pergerakan
otot) yang dilakukan klien dengan menggerakkan masing-masing
persendiannya sesuai rentang geraknya yaitu normal. Dalam
menjalankan ROM aktif, perawat harus memberikan motivasi
dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi
secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal. Disini,
pasien menggunakan kekuatan otot 75% untuk melatih kelenturan
dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-otot
nya secara aktif.
2) ROM Pasif (PROM)
ROM pasif adalah perawat atau petugas lain turut membantu
menggerakkan persendian klien sesuai dengan kemampuan
rentang geraknya dan energi yang dikeluarkan klien untuk latihan
berasal dari orang lain, perawatan atau alat mekanik. Dalam
menjalankan ROM pasif, perawat melakukan gerakan persendian
sesuai dengan rentang gerak normal untuk pasien dengan
kekuatan otot 50%. Ada beberapa indikasi latihan pasif pada klien
seperti tidak mampu melakukan semua atau beberapa rentang
gerak dengan mandiri. Pasien tirah baring total, pasien dengan
paralisis ekstremitas total, dan pasien semi koma dan tidak sadar
(Li et al., 2021).
ROM pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot
dan persendian dengan menggerakkan otot individu lain secara
pasif, misalnya perawat membantu mengangkat dan
menggerakkan kaki pasien. Sendi yang digerakkan pada ROM
pasif adalah seluruh persendian tubuh atau hanya pada
ekstremitas yang terganggu dan klien tidak mampu
melaksanakannya secara mandiri (Ditasari, 2022).
12

e. Gerakan ROM
Tabel 2. 3
Gerakan ROM pada pasien Post ORIF Fraktur Tibia
Gerak Sendi
Lutut :
Fleksi : Arahkan tumit ke belakang menuju belakang paha sambil menekuk lutut
Ekstensi : Arahkan kembali tumit diluruskan
Kaki :
Inversi : Putar kaki ke dalam sehingga telapak kaki menghadap ke kaki lainnya
Eversi : Putar kaki mengahadap keluar sehingga bagian telapak kaki
menjauhi kaki lainnya
Pergelangan Kaki :
Dorso Fleksi : Arahkan telapak dan jari kaki ke atas atau kearah dada
Plantar Fleksi : Arahkan telapak dan jari kaki ke bawah atau kebelakang
Jari Kaki :
Fleksi : Tekuk jari kaki kebawah
Ekstensi : Luruskan jari kaki keatas

f. Indikasi ROM
Indikasi ROM yaitu kelemahan otot, fase rehabilitasi fisik, klien
dengan tirah baring lama, pasien yang mengalami gangguan
mobilitas, fisik, pasien yang mengalami keterbatasan rentang gerak
(Cookson & Stirk, 2019).
g. Kontraindikasi ROM
Terdapat tiga kontraindikasi ROM yaitu trombus atau emboli
pada pembuluh darah, kelainan sendi atau tulang, dan pasien fase
imobilisasi karena penyakit jantung.
h. Prosedur Pelaksanaan Range Of Motion (ROM)
Menurut Potter dan Perry (2017) latihan rentang gerak dibagi
menjadi menjadi bagian leher, bahu, lengan bawah, telapak tangan,
jari tengah, ibu jari, pinggul, lutut, pergelangan kaki, kaki, dan ibu jari
kaki. Rentang gerak yang dilakukan disesuaikan dengan intervensi
dalam masalah keperawatan utama pada ekstremitas bawah :
13

Tabel 2. 4
Standar Operasional Prosedur Range Of Motion (ROM)
1. Pengertian :
Latihan range of motion (ROM) adalah kegiatan latihan yang bertujuan untuk
memelihara fleksibilitas, mobilitas sendi, dan meningkatkan kekuatan otot.
2. Tujuan :
a. Mempertahankan fleksibilitas dan mobilitas sendi
b. Mengembalikan kontrol motorik
c. Meningkatkan / mempertahankan integritas ROM sendi dan jaringan lunak
d. Membantu sirkulasi dan meningkatkan kekuatan otot
e. Menurunkan pembentukan kontraktur terutama pada ekstremitas yang mengalami
paralisis
3. Persiapan pasien :
a. Memberi salam, memperkenalkan diri dan mengidentifikasi pasien dengan
pemeriksaan identitas pasien secara cermat
b. Menjelaskan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan, memberi kesempatan
kepada pasien untuk bertanya dan menjawab seluruh pertanyaan pasien
c. Memeriksa tekanan darah dan mengukur skala nyeri
d. Menjaga privasi pasien
e. Mengatur posisi senyaman mungkin untuk pasien.
4. Persiapan alat :
a. Handuk kecil
b. Lotion / baby oil
5. Cara kerja :
a. Kaji pasien dan rencanakan program latihan yang sesuai untuk pasien
b. Memberitahu pasien tentang Latihan yang akan dilakukan, area yang akan digerakkan
dan peran pasien dalam latihan
c. Jaga privasi pasien
d. Jaga / atur pakaian yang menyebabkan hambatan pergerakan
e. Angkat selimut sebagaimana diperlukan
f. Anjurkan pasien berbaring dalam posisi yang nyaman
g. Latihan rentang gerak dilakukan 2 kali dan sehari selama 15-20 menit
h. Lakukan 13atihan sebagaimana dengan cara berikut.

1) Latihan sendi bahu


• Pasien dalam posisi telentang
• Satu tangan perawat menopang dan
memegang siku, tangan yang lainnya
memegang pergelangan tangan
• Luruskan siku pasien, gerakan lengan
pasien menjauhi dari tubuhnya kearah
perawat (abduksi)
• Kemudian gerakkan lengan pasien
mendekati tubuhnya (adduksi)
• Gerakkan lengan bawah ke bawah
sampai menyentuh tempat tidur,
telapak tangan menghadap ke bawah
(rotasi internal)
• Turunkan dan kembalikan ke posisi
semula dengan siku tetap lurus
• Gerakkan lengan bawah ke belakang
sampai menyentuh tempat tidur,
telapak tangan menghadap ke atas
(rotasi eksternal)
• Turunkan dan kembalikan ke posisi
semula dengan siku tetap lurus
14

• Hindari penguluran yang berlebihan


pada bahu
• Lakukan pengulangan sebanyak 10
kali atau sesuai toleransi

2) Latihan sendi siku


• Pasien dalam posisi terlentang
• Perawat memegang pergelangan
tangan pasien dengan satu tangan,
tangan lainnya menahan lengan
bagian atas
• Posisi tangan pasien supinasi,
kemudian lakukan gerakan menekuk
(fleksi) dan meluruskan (ekstensi)
siku
• Instruksikan agar pasien tetap rileks
• Pastikan gerakan yang diberikan
berada pada midline yang benar
• Perhatikan rentang gerak sendi yang
dibentuk, apakah berada dalam jarak
yang normal atau terbatas
• Lakukan pengulangan sebanyak 10
kali

3) Latihan lengan
• Pasien dalam posisi terlentang
• Perawat memegang area siku pasien
dengan satu tangan, tangan yang lain
menggenggam tangan pasien
14atihan luar (telentang/supinasi) dan
14atihan dalam (telungkup/pronasi)
• Instruksikan agar pasien tetap rileks
• Lakukan pengulangan sebanyak 10
kali

4) Latihan sendi pergelangan tangan


• Pasien dalam posisi telentang
• Perawat memegang lengan bawah
pasien dengan satu tangan, tangan
lainnya memegang pergelangan
tangan pasien, serta tekuk
pergelangan tangan pasien ke atas dan
ke bawah
• Instruksikan agar pasien tetap rileks
• Lakukan pengulangan sebanyak 10
kali
15

5) Latihan sendi jari-jari tangan


• Pasien dalam posisi telentang
• Perawat memegang pergelangan
tangan pasien dengan satu tangan,
tangan lainnya membantu pasien
membuat gerakan
mengepal/menekuk jari-jari tangan
dan kemudian meluruskan jari-jari
tangan pasien
• Perawat memegang telapak tangan
dan keempat jari pasien dengan satu
tangan, tangan lainnya memutar ibu
jari tangan.
• Tangan perawat membantu
melebarkan jari-jari pasien kemudian
merapatkan 15atihan
• Instruksikan agar pasien tetap rileks
• Lakukan pengulangan sebanyak 10
kali

6) Latihan sendi pangkal paha


• Pasien dalam posisi telentang
• Letakkan satu tangan perawat di
bawah lutut pasien dan satu tangan
pada tumit
• Jaga posisi kaki pasien lurus, angkat
kaki kurang lebih 8cm dari tempat
tidur, gerakkan kaki menjauhi badan
pasien
• Gerakkan kaki mendekati badan
pasien, 15atihan ke posisi semula
kemudian letakkan satu tangan
perawat pada pergelangan kaki dan
satu tangan yang lain di atas lutut
• Putar kaki menjauhi perawat
• Putar kaki kearah perawat
• Kembali ke posisi semula
• Hindari pengangkatan yang
berlebihan pada kaki
• Lakukan pengulangan sebanyak 10
kali atau sesuai toleransi
16

7) Latihan sendi lutut


• Pasien dalam posisi telentang
• Satu tangan perawat dibawah lutut
pasien dan pegang tumit pasien
dengan tangan yang lain
• Angkat kaki, tekuk pada lutut dan
pangkal paha
• Lanjutkan menekuk lutut kea rah dada
sejauh mungkin
• Ke bawahkan kaki dan luruskan lutut
dengan mengangkat kaki ke atas
• Instruksikan agar pasien tetap rileks
• Pastikan gerakan yang diberikan
berada pada midline yang benar
• Perhatikan rentang gerak sendi yang
dibentuk, apakah berada dalam jarak
yang normal atau terbatas
• Lakukan pengulangan sebanyak 10
kali

8) Latihan sendi pergelangan kaki


• Pasien dalam posisi telentang
• Perawat memegang separuh bagian
atas kaki pasien dengan satu jari dan
pegang pergelangan kaki dengan
tangan satunya
• Putar kaki ke dalam sehingga telapak
kaki menghadap ke kaki lainnya
(inversi)
• Kembalikan ke posisi semula
• Putar kaki keluar sehingga bagian
telapak kaki menjauhi kaki yang lain
(efersi)
• Kembalikan ke posisi semula
• Kemudian letakkan satu tangan
perawat pada telapak kaki pasien dan
satu tangan yang lain di atas
pergelangan kaki, jaga kaki lurus dan
rileks
• Tekuk pergelangan kaki, arahkan jari-
jari kaki kearah dada pasien (dorso
fleksi)
• Kembalikan ke posisi semula
• Tekuk pergelangan kaki menjauhi
dada pasien (plantar fleksi)
• Kembalikan ke posisi semula
• Instruksikan agar pasien tetap rileks
• Lakukan pengulangan sebanyak 10
kali
17

9) Latihan sendi jari-jari kaki


• Pasien dalam posisi telentang
• Perawat memegang pergelangan kaki
pasien dengan satu tangan, tangan
lainnya membantu pasien membuat
gerakan menekuk jari-jari kaki dan
kemudian meluruskan jari-jari kaki
pasien
• Tangan perawat membantu
melebarkan jari-jari kaki pasien
kemudian merapatkan 17atihan
• Instruksikan agar pasien tetap rileks
• Lakukan pengulangan sebanyak 10
kali

6. Evaluasi :
a. Kaji pengaruh atau efek latihan pada
pasien terutama hemodinamik pasien
b. Atur pasien pada posisi yang nyaman dan
benahi selimut pasien

Sumber : Rino M. (2021)

B. Hasil Review Literature Range of Motion (ROM)


1. Pertanyaan Klinis (PICOT)
a. Problem : Gangguan mobilitas fisik akibat Kerusakan
Integritas Struktur Tulang
b. Intervention : Range Of Motion (ROM) Pasif
c. Comparation : Tidak dilakukan
d. Outcome : Mobilitas Fisik meningkat dengan kriteria hasil
Kekuatan Otot pada pasien meningkat
e. Time : 2 kali sehari selama 15-20 menit
Sehingga dapat dirumuskan masalah klinis dari permasalahan yang
ditemukan yaitu “Apakah penerapan Range of Motion (ROM) dapat
meningkatkan kekuatan otot pada Pasien Post ORIF Fraktur Tibia?”
18

2. Penelusuran Evidence Based Nursing

Science Direct Pubmed Google Scholar

4 3 80

1 1 3

Gambar 2. 1
Hasil penelusuran EBN

Pencarian artikel dengan kata kunci Range of Motion, fraktur tibia,


gangguan mobilitas fisik, ditetapkan menggunakan jurnal yang sudah
terpublikasi baik nasional maupun internasional dengan batasan tahun
terbit antara 2018-2023. Cara penelusuran artikel diperoleh secara
elektronik menggunakan database Science Direct, Pubmed, Google
Scholar. Hasil penelusuran dari data base Science Direct didapatkan hasil
sebanyak 5 artikel yang relevan. Dua artikel tidak digunakan karena artikel
berbayar sehingga penulis tidak mempunyai akses, dan satu artikel
memiliki metodologi yang tidak sesuai. Dari data base Pubmed didapatkan
hasil sebanyak 3 artikel yang relevan. Dua artikel tidak digunakan karena
tidak dijelaskan mengenai lama durasi dan frekuensi dari intervensi. Dari
data base Google Scholar didapatkan hasil sebanyak 80 artikel yang
relevan. Artikel lainnya tidak digunakan karena waktu yang sudah lebih
dari 5 tahun, metodologi yang tidak sesuai, dan tidak dijelaskan mengenai
lama durasi dan frekuensi intervensi.
3. Hasil Literature Review
Tabel 2. 5 Literature Review Range of Motion (ROM)

No. Judul Jurnal Problem/ Intervention Comparasion Outcome Time/ Lama


Population Penelitian
1. Pengaruh Range Of [Link] Pasien post operasi Intervensi penelitian Tidak ada Hasil penelitian Tahun 2021
Motion (ROM) [Link]/SNPPKM/article/ ORIF pada tahun menggunakan pemeriksaan kelompok didapatkan perbedaan
terhadap Kekuatan view/820/30 2020 dengan jumlah kekuatan otot yang pembanding. rata- rata sebelum dan
sampel 18 dilakukan dengan setelah dilakukan
Otot pada Pasien Post
Jurnal Seminar Nasional responden. menggunakan pengujian pemberian ROM total
Operasi Open Penelitian dan Pengabdian otot dengan SOP Range of 18 responden
Reduction Internal Kepada Masyarakat, ISSN Motion (ROM). mengalami peningkatan
Fixation (ORIF) 2809-2767, 06 Oktober Pengukuran kekuatan otot kekuatan otot dengan
2021 pada hari pertama post rata-rata peningkatan
operasi atau 6-8 jam post sebesar 1,78.
Peneliti: operasi. Peneliti Kekuatan otot pada
Diana Agustina, Tophan memberikan latihan ROM pasien post operasi
Heri Wibowo, Danang Tri pada hari pertama post Open Reduction
Yudono operasi secara pasif yang Internal Fixation
dilakukan sebanyak 2 kali (ORIF) sebelum
Metode: (pagi dan sore) selama 15- diberikan range of
Jenis penelitian kuantitatif 45 menit). Hari ke dua dan motion (ROM)
dengan Desain Pre ke tiga peneliti meminta memiliki rata-rata
experimental one grup pasien untuk melakukan kekuatan otot adalah
pretestposttest design ROM secara aktif sesuai 2,39. Kekuatan otot
yang diajarkan peneliti pada pasien post operasi
pada hari pertama. Open Reduction
Internal Fixation
(ORIF) sesudah
diberikan range
ofmotion (ROM)
memiliki rata-rata
kekuatan otot adalah
4,17.

19
No. Judul Jurnal Problem/ Intervention Comparasion Outcome Time/ Lama
Population Penelitian
Hasil uji wilcoxon
didapatkan nilai p value
(0,0001) < 0.05 hal ini
menunjukkan bahwa
ada pengaruh range of
motion (ROM) terhadap
kekuatan otot pada
pasien post operasi
Open Reduction
Internal Fixation
(ORIF).
2. Pengaruh Range Of [Link] Populasi adalah Intervensi yang dilakukan Tidak ada Hasil penelitian di Tahun 2021
Motion Aktif terhadap .php/jab/article/view/343 pasien Post op adalah latihan ROM Aktif kelompok ketahui bahwa nilai
Pemulihan Kekuatan Fraktur dengan selama 3 hari berturut-turut, pembanding. rata-rata pemulihan
Otot dan Sendi Pasien [Link] jumlah 84 orang dilakukan dihari kedua kekuatan otot dan sendi
Post Op Fraktur jab.v10i2.343 dengan sampel setelah post-operasi selama pasien post op fraktur
Ekstremitas dalam penelitian 10-15 menit, dapat diulangi ekstremitas sebelum
Jurnal Keperawatan Vol 10, adalah 15 orang sebanyak 3 kali dalam diberikan terapi adalah
No 2, September 2021 sehari. Untuk mendapatkan 30.20 Mean sedangkan
p-ISSN: 2302-8416 hasil yang maksimal, ROM nilai rata-rata pemulihan
e-ISSN: 2654-2552 harus diulang sekitar 8 kali kekuatan otot dan sendi
dan dikerjakan minimal 2 pasien post op fraktur
Peneliti: kali sehari ekstremitas sesudah
Rino M, Jufri Al Fajri diberikan terapi adalah
35.80 dan hasil t-test p-
Metode: value = 0,000 < 0,005.
Penelitian pre eksperiment Kesimpulan dari
dengan desain penelitian penelitian ini Ada
one group pretest dan Pengaruh pemulihan
posttest. kekuatan otot dan sendi
pasien post op fraktur
ekstremitas, pentingnya
terapi ROOM pada

20
No. Judul Jurnal Problem/ Intervention Comparasion Outcome Time/ Lama
Population Penelitian
pasien Post Op Fraktur
Ekstermitas diharapkan
dapat digunakan bagi
pasien meningkat sistem
kekuatan otot dan
pemulihan aktivitas
mobilisasi lebih baik.
3. Efektifitas ROM Pasif [Link] Terapi range of Tahap kerja: dibagian Tidak ada Hasil penelitian Tahun 2022
Terhadap Tonus Otot work/g4mdzn4aenhn7k7hk motion ini dilakukan lengan atau pundak dimulai kelompok menunjukan tonus otot
Pasien Post-Operasi kpdhwvjq4/access/waybac pada 3 pasien pada dengan mengarahkan pembanding. pada hari pertama dari
Fraktur Ekstremitas k/[Link] penderita dengan tangan keatas den ketiga pasien dengan
[Link]/[Link]/kreativitas/a gangguan mobilitas mengarahkan kebawah lalu nilai rata-rata 2 lebih
rticle/download/7329/pdf fisik dengan pasien selanjutnya dilakukan rendah dibanding
post operasi fraktur mengarah ke samping dengan hari ketiga
Jurnal Kreativitas ekstermitas selama 3 kanan dan kiri lalu kembali dengan hasil tonus otot
Pengabdian Masyarakat hari kea rah bawah lagi. Jika 4. Hal ini menunjukkan
p-ISSN : 2615- 0921 dibagian lutut, dilakukan bahwa pasien
e-ISSN: 2622-6030 dengan cara mengarahkan mengalami perbaikan.
Vol 5, No 2, Oktober 2022 kaki keatas ditekuk Dapat disimpulkan
Hal 3627-3639 selanjutnya diarahkan latihan range of motion
kebawah lagi. Lalu pasif pada tonus otot
Peneliti: mengarahkan kaki ke terbukti efektif
Junizar Djamaludin, Dewi samping kanan dan kiri lalu dilakukan untuk pasien
Kusumaningsih, Heru kembali kebawah kembali. dengan gangguan
Prasetyo Dengan catatan tidak mobilitas post op fraktur
dipaksakan selama latihan, esktermitas
Metode: dan latihan ini dianjurkan
Pre eksperimental sesering mungkin.
rancangan pretest-posttest
with one group design.
4. Incidence and risk [Link] Populasi adalah Para peneliti Tidak ada Hasil dari ini Tahun 2021
factors for decreased [Link]/ pasien pasca operasi mendemonstrasikan kelompok penelitian menunjukkan
range of motion of the articles/10.1186/s13018- fraktur ekstremitas Berdasarkan informasi di pembanding. bahwa ada pengaruh
knee joint after surgery 021-02700-2 bawah (fraktur atas, kami merancang studi yang signifikan antara

21
No. Judul Jurnal Problem/ Intervention Comparasion Outcome Time/ Lama
Population Penelitian
for closed tibial plateau femur dan fraktur retrospektif ini dengan dua sebelum pemberian
fracture in adults DOI : cruris) yang dirawat tujuan: pertama, untuk Range of Motion dan
[Link] di Ruang Bedah mendeskripsikan kejadian setelah diberikan
018-021-02700-2 sebanyak 30 penurunan ROM sendi lutut perlakuan Range of
responden sampel setelah operasi pada tindak Motion menunjukkan
Peneliti : diambil dengan lanjut 1 tahun dan kedua, Lima puluh tujuh pasien
Junyong Li, Junzhe Zhang, teknik purposive untuk menyelidiki faktor mengalami penurunan
Kuo Zhao, Yanbin Zhu, sampling. risiko terkait untuk ROM sendi lutut pada
Hongyu Meng terjadinya penurunan ROM follow-up 1 tahun dalam
sendi lutut. penelitian ini. Itu
Metode : kejadian keseluruhan
Quasy experimental with adalah 25,9%. Prediktor
control group pretest post independen penurunan
test design. ROM setelah operasi,
seperti yang
diidentifikasi dalam
analisis multivariat,
adalah politrauma
ortopedi (rasio odds =
3,23; CI 95% = 1,68–
6,20; p = 0,000), tipe
fraktur
(Schatzker V-VI) (rasio
odds = 2,52; 95% CI =
1,16–5,47; p = 0,019),
dan reduksi terbuka dan
fiksasi internal
pendekatan (rasio odds
= 2,10; 95% CI = 1,07–
4,12; p = 0,031).
5. A randomized [Link] Pasien yang dirawat Pasien akan diberikan Terdapat Hasil penelitian ini Tahun 2020
controlled clinical trial di ICU sebanyak 109 posisi supinasi dan peneliti kelompok menunjukkan bahwa
102-022-00489-z
of the effects of range orang (35 kelompok berada dekat tubuh pasien. pembanding latihan ROM dan pijat
of motion exercises
kontrol, 38 Kemudian diberikan latihan yakni kelompok dapat memiliki

22
No. Judul Jurnal Problem/ Intervention Comparasion Outcome Time/ Lama
Population Penelitian
and massage on muscle Peneliti: kelompok pijat , dan ROM disesuaikan dengan kontrol , pengaruh yang
strength in critically ill Elham Rahiminezh D, 36 kelompok ROM) kondisi pasien baik aktif kelompok pijat, signifikan terhadap
patients Mehdi Sadeghi, Mehdi, maupun pasif. ROM dan kelompok kekuatan otot pasien
Ahmadinejad, Mahlaga diberikan dimulai dari ROM yang dirawat di
Dehghan ekstremitas atas yakni Intensive Care Unit
gerakan : fleksi, ekstensi, (ICU). Hal ini
Metode: abduksi bahu, fleksi dan dikarenakan pasien
Penelitian yang digunakan
ekstensi siku, fleksi dan yang dirawat di ICU
adalah randomized clinicall
ekstensi pergelangan tidak dapat bergerak
trial
tangan, sendi ibu jari dan dalam waktu yang lama
jari. Sedangkan latihan yang mengakibatkan
ROM pada ekstremitas otot menjadi lemah
bawah meliputi fleksi dan dalam waktu yang lama.
ekstensi lutut, dorsofleksi
pergelangan kaki , fleksi
plantar.

Dari table 2.3 hasil dari review literature dapat disimpulkan bahwa Terapi Range of Motion bertujuan untuk meningkatkan kekuatan
otot post operasi ditandai dengan mobilitas fisik yaitu pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak
(ROM) meningkat, nyeri menurun, gerakan terbatas menurun, dan kelemahan fisik menurun. Range of Motion dilakukan pada pasien
post operasi dengan durasi 15-20 menit, frekuensi dua kali per hari, dan dilakukan selama tiga hari perawatan. Terapi Range of Motion
adalah metode yang efektif, murah, mudah dilakukan oleh pasien dan keluarga secara mandiri.

23
24

C. Konsep Asuhan Keperawatan Pasien Fraktur Tibia dengan Diagnosa


Keperawatan Utama : Gangguan Mobilitas Fisik
1. Web of Causation (WOC)

Gambar 2.2 Web Of Caution Fraktur


25

2. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan yang
dilakukan secara komprehensif, disini semua data di kumpulkan secara
sistematis guna menentukan status kesehatan klien saat ini. Secara umum
pengkajian pada fraktur meliputi menurut (Dewi, 2020) :
a. Identitas klien berupa : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, status perkawinan, suku bangsa, tanggal
masuk, nomor registrasi dan diagnosa keperawatan.
b. Keluhan utama, pada umumnya keluhan pada fraktur adalah rasa
nyeri, kelemahan otot dan keterbatasan mobilitas fisik.
c. Riwayat penyakit sekarang, berupa kronologi kejadian terjadinya
penyakit sehingga bisa terjadi penyakit seperti sekarang.
d. Riwayat penyakit dahulu, ditemukan kemungkinan penyebab fraktur
dan petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung.
e. Riwayat penyakit keluarga merupakan salah satu faktor predisposisi
terjadinya fraktur.
f. Riwayat psikososial merupakan respon emosi klien terhadap penyakit
yang di derita dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat yang
mempengaruhi dalam kehidupan sehari-hari.
g. Pola-pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada fraktur biasanya klien merasa takut akan mengalami
kecacatan, maka klien harus menjalani penatalaksanaan untuk
membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu diperlukan
pengkajian yang meliputi kebiasaan hidup klien, seperti
penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme
kalsium, penggunaan alkohol, klien melakukan olahraga atau
tidak.
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi yang lebih dari
kebutuhan sehari-hari seperti : kalsium, zat besi, protein, vitamin
C untuk membantu proses penyembuhan.
26

3) Pola aktifitas
Pola aktifitas adanya nyeri dan gerak yang terbatas, aktifitas
klien menjadi berkurang dan butuh bantuan dari orang lain.
4) Pemeriksaan Fisik
Terdapat dua pemeriksaan umum pada fraktur yaitu
gambaran umum dan keadaan lokal berupa :
a) Keadaan umum yaitu baik atau buruknya yang dicatat adalah
tanda-tanda seperti berikut ini :
(1) Kesadaran klien yaitu apatis, sopor, koma, gelisah dan
komposmentis.
(2) Kesakitan, keadaan penyakit yaitu akut, kronik, ringan,
sedang, berat, dan pada kasus fracture biasanya akut.
b) Tanda- tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik
fungsi maupun bentuk.
c) Pemeriksaan dari kepala ke ujung jari kaki atau tangan harus
diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal
terutama mengenai status neurovaskuler.

3. Diagnosis Keperawatan
Menurut (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017) bahwa diagnosa
keperawatan utama yang muncul pada kasus fraktur antara lain :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas
tulang, penurunan kekuatan otot, penurunan massa otot, gangguan
muskuloskeletal.
c. Gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan faktor
mekanis gesekan
d. Risiko infeksi dengan faktor risiko peningkatan paparan organisme
patogen lingkungan.
27

4. Intervensi Keperawatan
Perencanaan keperawatan adalah proses keperawatan untuk
mengarahkan tindakan keperawatan dalam usaha membantu,
meringankan, memecahkan masalah, atau untuk memenuhi kebutuhan
pasien. Suatu perencanaan yang tertulis dengan baik akan memberi
petunjuk dan arti pada asuhan keperawatan karena perencanaan adalah
sumber informasi bagi semua yang terlibat dalam asuhan keperawatan
pasien. Rencana keperawatan yang dibuat berdasarkan diagnosis yang
tepat, diharapkan dapat mencapai tujuan sehingga mendukung dan
mencapai status kesehatan pasien secara fektif dan efisien (Induniasih &
Hendarsih, 2016).
Menurut (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018) bahwa intervensi yang
dilakukan pada salah satu diagnosa utama yang muncul pada kasus fraktur
pada tabel berikut.
Tabel 2. 6 Intervensi Keperawatan
DIAGNOSA
NO. TUJUAN RENCANA TINDAKAN
KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama Manajemen Nyeri (I.08238)
agen pencedera fisik …x24 jam diharapkan tingkat nyeri menurun Observasi:
dengan kriteria hasil:
- Monitor lokasi, karakteristik, durasi frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
Tingkat Nyeri : L.08066 Hal.145
- Monitor skala nyeri
Kriteria
Awal Target Terapeutik:
Hasil
Keluhan - Berikan tehnik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis, TENS,
1 5
Nyeri 28nalgesi, akupresure, terapi 28nalg, biofeedback, terapi pijat, aroma
Meringis 1 5 terapi, tehnik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
Gelisah 1 5 - Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan,
Frekuensi 1 5 pencahayaan, kebisingan)
Nadi - Fasilitasi istirahat dan tidur
Tekanan 1 5 Edukasi:
Darah
- Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
1: Meningkat
- Jelaskan strategi meredakan nyeri
2: Cukup meningkat
- Ajarkan tehnik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
3: Sedang Kolaborasi:

- Kolaborasi pemberian analgesic, jika perlu

28
4: Cukup menurun

5: Menurun
2. Gangguan mobilitas Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama Dukungan Ambulasi (I.05173)
fisik b.d kerusakan …x24 diharapkan mobilitas fisik membaik dengan Observasi:
integritas struktur kriteria hasil:
- Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
tulang Mobilitas Fisik : L.05042 Hal.65
- Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan

Kriteria
- Monitor frekuensi jantung dan tekanan darahsebelum memulai mobilisasi
Awal Target Terapeutik
Hasil
Nyeri 1 5 - Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu mis. pagar tempat tidur

Kecemasan 1 5 - Fasilitasi melakukan pergerakan

Gerakan - Berikan terapi Range of Motion untuk meningkatkan mobilitas fisik dan
1 5
terbatas meningkatkan kekuatan otot ekstremitas bawah dilakukan selama 15-20

Kelemahan menit dengan frekuensi 2 kali per hari. Tahapannya :


1 5
fisik • Lutut

1: Menurun Fleksi : Arahkan tumit ke belakang menuju belakang paha, sambil


menekuk lutut
2: Cukup menurun
Ekstensi : Arahkan kembali tumit diluruskan menjauhi paha
3: Sedang Lakukan pengulangan tiap gerakan masing-masing 10 kali

4: Cukup meningkat • Pergelangan Kaki


Dorso fleksi : Arahkan telapak dan jari kaki ke atas atau kearah dada
5: Mening
Plantar fleksi : Arahkan telapak dan jari kaki ke bawah atau belakang

29
Lakukan pengulangan tiap gerakan masing-masing 10 kali
• Kaki
Inversi : Putar kaki ke dalam sehingga telapak kaki menghadap ke kaki
lainnya
Eversi : Putar kaki menghadap keluar sehingga bagian telapak kaki
menjauhi kaki yang lain
Lakukan pengulangan tiap gerakan masing-masing 10 kali
• Jari kaki
Fleksi : Tekuk jari kaki ke bawah
Ekstensi : Luruskan jari kaki ke atas
Lakukan pengulangan tiap gerakan masing-masing 10 kali
- Libatkan keluarga untuk memberi dukungan dan memotivasi pasien dalam
melakukan terapi Range of Motion secara mandiri saat di rumah.
Edukasi:

- Jelaskan maksud dan tujuan melakukan mobilisasi


- Ajarkan terapi Range of Motion untuk meningkatkan kekuatan otot dan
mobilitas pada ekstremitas bawah
- Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus di lakukan seperti duduk di
tempat tidur, di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur
Kolaborasi:

- Kolaborasi dengan fisioterapiterkait latihan rentang gerak

30
3. Gangguan integritas Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama Perawatan Luka (I.14564)
kulit b.d faktor …x24 jam diharapkan integritas kulit dan jaringan
Observasi:
mekanis (penekanan membaik dengan kriteria hasil:
pada tonjolan Integritas Kulit dan Jaringan : L.14125 Hal.33 - Monitor karakteristik luka (drainase, warna, ukuran, bau).

tulang) KriteriaHasil Awal Target - Monitor tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, tumor, dolor, fungsiolesa)

Kerusakan Terapeutik:

lapisankulit 1 5 - Lepaskan balutan dan plester secara perlahan


Nyeri 1 5
- Bersihkan luka dengan cairan NACL 0.9% sesuai kebutuhan
Perdarahan 1 5
- Pasang balutan sesuai jenis luka
Kemerahan 1 5
- Pertahankan teknik seteril saatperawatan luka
Pigmentasi
1 5 Edukasi:
Abnormal
1: Meningkat - Jelaskan tanda dan gejala infeksi kepada klien dan keluarga

2: Cukup meningkat

3: Sedang

4: Cukup menurun
5. Menurun
5. Risiko Infeksi Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama Pencegahan Infeksi (I.14539)
…x24 diharapkan tingkat infeksi membaik dengan Observasi:
kriteria hasil:
- Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
Tingkat Infeksi : L.14137 Hal. 139

31
Kriteria Terapeutik:
Awal Target
Hasil
- Batasi jumlah pengunjung
Demam 1 5
- Berikan perawatan kulit pada area edema
Kemerahan 1 5
- Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan
Nyeri
1 5 pasien
Bengkak - Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi
1 5
Kadar Sel Edukasi:
1 5
Darah Putih - Jelaskan tanda dan gejala infeksi
1: Menurun
- Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
2: Cukup menurun - Ajarkan etika batuk

3: Sedang - Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi


- Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
4: Cukup meningkat
- Anjurkan meningkatkan asupan cairan
5: Meningkat

32
33

5. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah di susun pada tahap perencanaan ukuran intervensi
keperawatan yang diberikan kepada klien terkait dengan dukungan,
pengobatan, tindakan untuk memperbaiki kondisi, pendidikan untuk klien
keluarga atau tindakan untuk mencegah masalah kesehatan yang muncul
dikemudian hari (Supratti & Ashriady, 2016).
Untuk kesuksesan pelaksanaan implementasi keperawatan agar sesuai
dengan rencana keperawatan perawat harus mempunyai kemampuan
kognitif (intelektual) kemampuan dalam hubungan interpersonal, dan
keterampilan dalam melakukan tindakan. Proses pelaksanaan
implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien,faktor-faktor lain
yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan (Supratti & Ashriady, 2016).
Komponen yang terdapat pada implementasi adalah :
a. Tindakan observasi
Tindakan observasi yaitu tindakan yang ditujukan untuk
mengumpulkan dan menganalisis data status kesehatan klien.
b. Tindakan terapeutik
Tindakan terapeutik adalah tindakan yang secara lansung dapat
berefek memulihkan status kesehatan klien atau dapat mencegah
perburukan masalah kesehatan klien.
c. Tindakan edukasi
Tindakan edukasi merupakan tindakan yang ditujukan untuk
meningkatkan kemampuam klien merawat dirinya dengan membantu
klien memperoleh perilaku baru yang dapat mengatasi masalah.
d. Tindakan kolaborasi
Tindakan kolaborasi adalah tindakan yang membutuhkan kerjasama
baik dengan perawat lainnya maupun dengan profesi kesehatan
lainnya seperti dokter, analis, ahli gizi, farmasi.
34

6. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan suatu aktivitas tindakan perawat
untuk mengetahui efektivitas tindakan yang telah dilakukan terhadap
pasien evaluasi asuhan keperawatan merupakan fase akhir dari proses
keperawatan terhadap asuhan keperawatan yang di berikan (Andi
Parellangi, 2017). Terdapat dua jenis evaluasi menurut (Fitrianti, 2018):
a. Evaluasi Formatif (Proses)
Evaluasi formatif berfokus pada aktivitas proses keperawatan dan
hasil tindakan keperawatan. Evaluasi formatif ini dilakukan segera
setelah perawat mengimplementasikan rencana keperawatan guna
menilai keefektifan tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
Perumusan evaluasi formatif ini meliputi 4 komponen yang dikenal
dengan istilah SOAP, yakni subjektif, objektif, analisis data dan
perencanaan :
1) S (subjektif) yaitu Data subjektif dari hasil keluhan klien, kecuali
pada klien yang afasia.
2) O (objektif) yaitu Data objektif dari hasi observasi yang
dilakukan oleh perawat.
3) A (analisis) yaitu Masalah dan diagnosis keperawatan klien yang
dianalisis atau dikaji dari data subjektif dan data objektif.
4) P (perencanaan) yaitu Perencanaan kembali tentang
pengembangan tindakan keperawatan, baik yang sekarang
maupun yang akan datang dengan tujuan memperbaiki keadaan
kesehatan klien.s
b. Evaluasi Sumatif (Hasil)
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah semua
aktivitas proses keperawatan selesai dilakukan. Evaluasi sumatif ini
bertujuan menilai dan memonitor kualitas asuhan keperawatan yang
telah diberikan. Ada 3 kemungkinan evaluasi yang terkait dengan
pencapaian tujuan keperawatan, yaitu:
1) Tujuan tercapai atau masalah teratasi jika klien menunjukan
perubahan sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
35

2) Tujuan tercapai sebagian atau masalah teratasi sebagian atau klien


masih dalam proses pencapaian tujuan jika klien menunjukkan
perubahan pada sebagian kriteria yang telah ditetapkan.
3) Tujuan tidak tercapai atau masih belum teratasi jika klien hanya
menunjukkan sedikit perubahan dan tidak ada kemajuan sama
sekali.

Anda mungkin juga menyukai