Bagian Analytical Development (Andev) di PT.
Konimex, yang berada dalam naungan
departemen R&D, memulai prosesnya dengan permintaan atau revisi dokumen metode analisis
serta permintaan pengujian sampel dari R&D, baik untuk bahan baku maupun produk jadi.
Andev akan menentukan apakah riset metode diperlukan atau tidak. Jika tidak, pengujian sampel
dilakukan secara internal atau eksternal, dan dokumen dibuat. Untuk analisis yang memerlukan
riset, akan dilakukan pengadaan peralatan dan bahan serta riset metode analisis. Pilihan validasi
atau verifikasi metode analisis akan dipertimbangkan kembali, verifikasi diperlukan jika metode
mengikuti prosedur yang ada di kompendia tanpa perubahan.
Hasil dari kegiatan ini adalah dokumen Metode Analisis Produk (MAP). Terdapat dua
jenis baku pembanding yang digunakan dalam riset dan pelaksanaan metode analisis, yaitu Baku
Pembanding Primer (BPP) dan Baku Pembanding Sekunder (BPS). BPP biasanya diperoleh dari
instansi resmi seperti BPOM, USP, EU Pharmacopoeia, dan kompendia lainnya. BPP digunakan
untuk menetapkan karakteristik dari BPS, yang kemudian dapat digunakan dalam analisis rutin
sampel sebagai Baku Kerja atau Working Standard.
Aktivitas yang dilakukan di bagian Andev meliputi:
1. Riset Metode Analisis
Riset metode analisis merupakan tahapan penting untuk mengetahui karakteristik
sampel yang akan dianalisis, termasuk sifat fisika kimia, polaritas, dan kelarutan, serta
komposisi analit (zat aktif) dan komposisi basis/plasebo (produk tanpa analit). Pada tahap
ini, referensi yang tepat dipilih berdasarkan Farmakope Indonesia VI atau kompendia dari
negara lain seperti USP. Jika tidak tersedia referensi dalam kompendia, metode analisis
dari pemasok dapat digunakan sebagai acuan. Sumber acuan tambahan seperti jurnal juga
dicari untuk mengetahui titik kritis dari analisis dan hasil analisis, seperti profil
kromatogram.
Output dari kegiatan riset ini adalah data riset sampel yang mencakup referensi
pustaka yang diacu, preparasi sampel, kondisi pengujian, hasil percobaan, dan kriteria
penerimaan. Selain itu, personel di Andev akan menyusun protokol validasi atau
verifikasi metode analisis.
2. Validasi Metode Analisis
Metode analisis yang mengikuti semua langkah dalam kompendia tanpa
modifikasi hanya memerlukan verifikasi. Verifikasi diperlukan untuk memastikan bahwa
metode analisis yang telah disahkan dapat digunakan pada sampel, dengan parameter
yang diuji adalah presisi dan akurasi. Di sisi lain, validasi metode analisis diperlukan
ketika tidak memungkinkan untuk mengikuti metode yang ada dalam kompendia, dengan
tujuan memverifikasi bahwa metode tersebut memenuhi syarat untuk aplikasi analisis.
Parameter yang diuji dalam validasi metode analisis meliputi:
a. Spesifisitas
Spesifisitas merupakan kemampuan metode analisis untuk membedakan analit
dari komponen lain yang ada, seperti matriks, degradan, dan pengotor. Spesifisitas
dianalisis melalui tiga prosedur yang meliputi:
1) Uji Plasebo
Metode analisis dievaluasi untuk memastikan bahwa tidak ada respons
atau sinyal yang dihasilkan dari sampel plasebo, sehingga sinyal yang
terdeteksi hanya berasal dari analit yang sedang diteliti. Dengan demikian,
uji plasebo membantu menentukan spesifisitas metode analisis, yaitu
kemampuannya untuk membedakan antara analit yang diinginkan dengan
bahan lain yang mungkin ada dalam sampel.
2) Stress Test
Prosedur di mana sampel yang diuji secara sengaja dikenakan pada
kondisi yang ekstrim atau stres, seperti perubahan suhu, kelembaban, pH,
atau cahaya, untuk mengevaluasi respons atau sinyal yang dihasilkan.
Tujuan dari stress test adalah untuk memastikan bahwa metode analisis
dapat membedakan antara analit yang sedang diteliti dengan potensial
interaksi atau gangguan dari kondisi eksternal atau faktor lingkungan yang
mungkin mempengaruhi sampel. Stress test di Konimex dilakukan dengan
analisis sampel pada pH 2 dan pH 12.
Dalam konteks spesifisitas, stress test membantu untuk
menentukan apakah metode analisis dapat membedakan antara analit
dengan baik, bahkan ketika sampel dikenakan pada kondisi ekstrim yang
mungkin mempengaruhi struktur atau sifat dari analit atau komponen lain
dalam sampel. Hasil dari stress test digunakan untuk mengevaluasi tingkat
spesifisitas metode analisis tersebut.
3) Uji Purity/Kemurnian
Uji purity bertujuan untuk memastikan bahwa analit yang diuji
memiliki kemurnian yang memadai sesuai dengan kriteria penerimaan
yang ditetapkan. Prosedur uji purity melibatkan perbandingan profil atau
sifat fisikokimia dari analit yang diuji dengan profil atau sifat yang
diketahui dari analit yang murni atau standar referensi. Metode analisis
yang digunakan harus mampu mendeteksi dan membedakan antara analit
yang murni dengan kontaminan atau ketidakmurnian lain yang mungkin
hadir dalam sampel.
Kriteria penerimaan biasanya telah ditetapkan sebelumnya
berdasarkan standar atau peraturan yang berlaku, dan hasil uji purity akan
dibandingkan dengan kriteria ini. Jika hasil uji memenuhi atau melebihi
kriteria penerimaan, maka analit tersebut dianggap cukup murni dan sesuai
untuk penggunaan yang dimaksud. Namun, jika hasil uji tidak memenuhi
kriteria penerimaan, maka mungkin diperlukan langkah-langkah tambahan
untuk meningkatkan kemurnian analit tersebut atau memvalidasi metode
analisis yang lebih sensitif.
b. Akurasi
Akurasi adalah tingkat kedekatan hasil pengukuran dengan nilai
sebenarnya, yang biasanya diekspresikan sebagai persen recovery yang dihitung
dari nilai RSD (Relative Standard Deviation). Langkah-langkah untuk
mengevaluasi akurasi meliputi:
1) Membuat campuran dengan kandungan zat aktif yang diketahui dengan
pasti.
2) Membandingkan hasil pengukuran dengan konsentrasi yang tercantum
pada label.
3) Membandingkan hasil dengan hasil yang diperoleh dari metode yang telah
terbukti akurat.
4) Menambahkan zat aktif atau kontaminan ke dalam sampel untuk
mengevaluasi respons analitiknya.
c. Presisi
Presisi adalah tingkat kedekatan antar hasil uji yang diketahui, yang
diukur dengan menghitung RSD. Metode analisis dianggap presisi jika memenuhi
tiga kriteria berikut:
1) Repeatability
Analis melakukan minimal 6 replikasi sampel pada kondisi yang sama
pada hari yang sama. Metode dikatakan memenuhi syarat jika hasil
pengulangan menunjukkan tingkat konsistensi yang baik, seperti yang
dinyatakan dalam nilai RSD.
2) Intermediate
Sampel diuji oleh analis yang berbeda, menggunakan alat yang berbeda,
atau pada hari yang berbeda, dan kemudian dibandingkan nilai RSD-nya
untuk menentukan apakah terdapat perbedaan signifikan. Analisis statistik
seperti uji ANOVA juga dilakukan.
3) Reproducibility
Uji presisi dilakukan di antara laboratorium yang berbeda untuk
membandingkan konsistensi hasil antar lab. Biasanya, langkah ini tidak
dilakukan karena seringkali diintegrasikan dengan transfer metode
analisis.
Hubungan Akurasi dan Presisi
d. Linearitas dan Rentang
Linearitas adalah kemampuan metode pengujian untuk memberikan hasil
yang berbanding secara proporsional dengan konsentrasi analit dalam sampel. Ini
diuji dengan menambahkan analit ke dalam sampel dalam kisaran sekitar 20%
dari konsentrasi sampel (80-120%), dan kemudian memeriksa apakah respons
metode tersebut masih bersifat linear dalam rentang ini. Rentang adalah interval
di antara konsentrasi atas dan bawah di mana metode pengujian masih
menunjukkan presisi, akurasi, dan linearitas yang dapat diterima.
e. LoD - LoQ
Limit of Detection (LoD) adalah jumlah terkecil analit yang dapat
terdeteksi dengan metode yang sedang divalidasi tanpa perlu dilakukan secara
kuantitatif. Umumnya, LoD diuji untuk menentukan batas deteksi pengotor pada
bahan baku serta senyawa hasil degradasi pada produk jadi.
Limit of Quantification (LoQ) adalah jumlah terkecil analit pada sampel
yang dapat diukur dengan akurasi dan presisi yang dapat diterima. Biasanya, LoQ
diuji untuk pengujian kuantitatif pengotor pada bahan baku dan senyawa hasil
degradasi pada produk jadi.
f. Kesesuaian Sistem
Uji kesesuaian sistem diperlukan jika prosedur analisis menggunakan
kromatografi. Prosedur pengujiannya adalah sebagai berikut:
1) Siapkan larutan standar yang sesuai dengan keperluan metode analisis.
2) Periksa larutan standar sebanyak minimal 5 kali dengan menggunakan
metode yang sedang diuji.
3) Hitung parameter berikut:
- Relative Standard Deviation (RSD) dari hasil pengukuran, dengan
persyaratan RSD ≤ 2,0%.
- Resolusi antara puncak terdepan dan terbelakang, dengan persyaratan
nilai resolusi > 2,0.
- Faktor ekor (Tailing factor) dari puncak kromatografi, dengan
persyaratan faktor ekor ≤ 2,0.
- Faktor kapasitas (Capacity factor), dengan persyaratan faktor
kapasitas > 1,0.
- Lempeng teoritis (N) > 750.
g. Robustness
Robustness adalah kemampuan metode analisis untuk tetap stabil dan
tidak terpengaruh oleh variasi kecil yang disengaja. Sebagai contoh, jika dalam
sebuah proses titrasi ditambahkan 1 atau 2 mL reagen lebih, namun hasilnya tetap
konsisten dan tidak berubah signifikan, demikian juga jika terjadi sedikit
penambahan atau pengurangan reagen.
Dalam pedoman CPOB, penilaian robustness umumnya berkaitan dengan
stabilitas larutan. Misalnya, penilaian robustness dapat dilakukan dengan
membandingkan berapa lama larutan pembanding tetap stabil setelah disimpan,
dibandingkan dengan larutan baku pembanding. Dengan kata lain, jika larutan
pembanding masih tetap stabil dalam jangka waktu yang sama atau lebih lama
daripada baku pembandingnya, maka metode analisis tersebut dapat dikatakan
memiliki robustness yang baik.
3. Transfer Metode Analisis
Andev akan melakukan transfer metode analisis ke bagian QC untuk digunakan sebagai
prosedur rutin. Persyaratan yang harus dipenuhi adalah RSD ≤ 2% dan hasil statistiknya
harus baik. Transfer metode dilakukan melalui tiga cara:
a. Co-Validasi
Bagian QC terlibat dalam proses validasi, khususnya dalam uji presisi
intermediate dan/atau reproducibility.
b. Comparative Testing
Transfer metode dilakukan dengan masing-masing laboratorium melakukan
pengerjaan yang berbeda (minimal 6 kali pengulangan preparasi). RSD dihitung
untuk masing-masing laboratorium dan harus kurang dari atau sama dengan 2.0%,
sementara hasil statistiknya harus memenuhi syarat.
c. Transfer Waiver Bagian QC
Bagian QC dianggap mampu melaksanakan pengujian tanpa perlu melakukan uji
komparasi. Hal ini dapat dilakukan jika:
1) Komposisi produk baru mirip dengan produk yang sudah ada.
2) Metode analisis sesuai dengan metode farmakope.
3) Metode yang dianalisis mirip dengan metode yang sudah digunakan QC
untuk memeriksa setidaknya 10 batch.
4) Analis yang melakukan riset validasi maupun verifikasi dipindahkan dari
Andev ke QC.