Untuk Siswa SMP Kelas Viii: Pengembangan Soal Berpikir Kritis
Untuk Siswa SMP Kelas Viii: Pengembangan Soal Berpikir Kritis
KELAS VIII
Rosida Rakhmawati M.
Pendidikan Matematika IAIN Raden Intan Lampung
email: oci_rosida@[Link]
Abstrak
PENDAHULUAN
55
semua timbul satu pertanyaan besar yaitu ’bagaimana siswa mampu berpikir kritis
kalau kita tidak membiasakan siswa dengan permasalah yang membutuhkan
pemikiran yang kritis.
Perlunya mengemas masalah matematika dalam balutan berpikir kritis atau
menyajikan masalah yang memaksa siswa untuk berpikir kritis tentunya punya
efek potensial terhadap efektivitas belajar dan adanya nuansa intertwining
dengan materi yang lain. Kwek. (2011) salahsatu temun dari penelitiannya yaitu
perlu ditekankan, bahwa pada abad 21 pemikiran yang kritis punya peluang untuk
menciptakan efektivitas waktu dalam pembelajaran. Temuan ini menjadi salah satu
acuan peneliti untuk mengembangkan soal berpikir kritis sebagai salah satu
langkah untuk menciptakan pembelajaran yang efektif.
Kebanyakan orang mendefinisikan bepikir kritis sebagai berpikir pada
level tinggi atau juga dimaknai berpikir tingkat tinggi. Berpikir kritis juga sering
dipahami sebagai berpikir yang rumit dan cenderung hanya cocok pada level
mahasiswa. Dampak dari pemahaman definisi diatas, banyak orang
mengidentikkan berpikir kritis diberlakukan untuk soal-soal yang susah.
Pandangan-pandangan ini yang harus kita rubah, kita harus berpikir dari sisi
proses dalam berpikir kritis itu, kemudian kita juga harus berpikir sisi tujuan dan
juga dari sisi manfaat.
Menurut Zdravkovich (2004:3) dapat dikatakan bahwa berpikir kritis
adalah berpikir yang akurat, relevan, wajar dan juga teliti dalam konteks
menganalisis masalah, mensintesis, generalisasi, menerapkan konsep,
menafsirkan, mengevaluasi mendukung argumen dan hipotesis, memecahkan
masalah, dan juga dalam membuat keputusan. Sangat kompleks sekali keahlian
yang dimiliki oleh siswa ketika kita memandang berpikir kritis itu dari segi proses,
Jika kita mengkaji pemahaman diatas maka sangat penting rasanya untuk kita
mengembangkan soal berpikir kritis dan layaknya soal berpikir kritis itu
mendominasi dalam masalah matematika.
Caroselli (2009:1) menyatakan “by critical thinking, we refer to thought
processes that are quick, accurate, and assumption-free”. Makna diatas tentunya
menambah keyakinan kita bahwa kebiasaan berpikir kritis berefek pada kecakapan
seorang siswa atau dapat kita katakan berpikir kritis akan berefek potensial
56
terhadap hasil belajar siswa, dimana kecepatan dan ketepatan dalam
menyelesaikan masalah matematika dan membiasakan kita berargumen atau
berkomunikasi matematika dengan berbagai sudut pandang sesuai dengan konteks
masalah. Berpikir kritis tidak bisa dilepaskan dari proses penalaran matematika
untuk mendapatkan “kebenaran” dari sebuah masalah matematika.
Berpikir kritis eratkaitannya dengan penalaran dalam matematika (Duncan,
2010 dan Wood, 2002). Banyak orang “takut” dengan matematika alasannya
adalah bahwa matematika itu sulit, dan bagi orang-orang yang menyukai
matematika, rekomendasinya untuk orang yang mau belajar matematika adalah
“penalaran”. Hal ini sejalan dengan informasi yang didapat dari hasil PISA
2012 mengungkap bahwa siswa dengan
Performance yang baik adalah siswa dengan reasoning yang berkembang
dengan baik (OECD, 2013:4). AACU (2010) menyatakan berpikir kritis adalah
kebiasaan berpikir yang ditandai dengan semangat untuk memperoleh
pengetahuan lebih banyak atau berusaha untuk menangkap pengetahuan dengan
baik dalam rangka merumuskan pendapat atau kesimpulan.
Beberapa pendapat diatas menyiratkan bahwa berpikir kritis mengajak
siswa untuk 1) Mampu menggunakan penalarannya secara matematik, 2) Teliti
dalam menganalisi masalah, 3) Berpikir secara akurat, 4) Memberikan semangat
untuk memperoleh pengetahuan yang banyak, 5) Memberikan kebebasan berpikir
untuk memberikan kesimpulan yang tentunya didasari tanggung jawab.
Kesimpulan ini menjadi dasar pemikiran bahwa salah satu cara untuk
menciptakan pembelajaran yang efektif dan bermakna bagi siswa adalah dengan
menghadirkan soal berpikir kritis pada siswa, dimana soal berpikir kritis ini dibuat
melalui prosedur development research atau dalam proposal penelitian ini dikenal
dengan pengembangan soal berpikir kritis.
57
your advantage; 3) your understanding of the content of mathematics and, if
necessary, the area to which it is being applied (Mason., et al, 2010:133). Faktor-
faktor diatas mengisyaratkan bahwa ketiga komponen yang meliputi kemampuan
kompetensi, kepercayaan diri dan pemahaman tentang isi matematika mempunyai
efek besar terhadap keberhasilan dalam matematika. Oleh sebab itu kita harus
memiliki ketiga komponen diatas. Situasi dalam kehidupan nyata tidak terlepas
dari konteks berpikir kritis, banyak konteks yang bisa kita cermati seperti yang
dinyatakan Paul dan Elder (2002) menyatakan bahwa berpikir kritis berlaku untuk
setiap bagian kehidupan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan indikator soal berpikir
kritis diantaranya memperhatikan kata kunci pertanyaan, kemudian mengetahui
dasar dalam berpikir kritis dan juga mengetahui nilai-nilai yang mencerminkan
berpikir kritis yang baik. Snyder, L dan Snyder, M (2008:95) menyatakan bahwa
pertanyaan berpikir kritis mempunyai kata kunci yang meliputi: 1) what do you
think about this?, 2) why do you think that?, 3) what is your knowledge based
upon?, 3) what does it imply and presuppose?, 4) what explains it, connects to it,
leads from it?, 5) how are you viewing it? 6) should it be viewed differently.
Pernyataan diatas mengisyaratkan bahwa kita harus memperhatikan kata kunci
pada pertanyaan apabila kita ingin mengarahkan siswa untuk berpikir kritis.
Kemudian menurut Ennis (1995:4) ada enam dasar dalam berpikir kritis yaitu
focus, reasons, inference, situation, clarity, dan overview. Kemudian Duncan
(2010) meyatakan berpikir kritis yang baik harus memenuhi nilai diantaranya
yaitu:kejelasan,akurasi,konsistensi, relevansi, dan alasan yang baik.
Informasi diatas dapat kita simpulkan bahwa soal berpikir kritis memiliki
indikator sebagai berikut: 1) berbentuk essay, 2) berbentuk open ended, 3)
mempunyai konteks yang meliputi: Personal problems, troubling emotions, bad
habits, financial matters, responsibilities, future plans, our beliefs and values,
personal relationships, key decisions, politics in our life, opportunities,
health, security, our experience, personal fulfillment, 4) pertanyaan
memuat penalaran, 5) memuat intertwining.
58
1. Soal berbentuk essay
Harapannya adalah dengan soal berbentuk essay kita dapat melihat proses
identifikasi masalah, proses yang baik atau strategi penyelesaian yang detail
2. Soal berbentuk open ended
Soal berbentuk open ended mengarahkan siswa untuk penalaran dan juga
memungkinkan strategi penyelesaian yang berbeda antara satu siswa dengan
siswa yang lain
3. Soal mempunyai konteks. konteks masalah dapat meliputi: Personal problems,
troubling emotions, bad habits, financial matters, responsibilities, future
plans, our beliefs and values, personal relationships, key decisions, politics in
our life, opportunities, health, security, our experience, personal fulfillment
4. Konteks/situasi yang beragam akan terlihat bahwa matematika itu luas dan
memberikan keluasaan siswa untuk memandang masalah dari sudut pandang
yang berbeda
5. Pertanyaan memuat penalaran
Hal ini dilakukan agar siswa fokus dalam melihat permasalahan
matematika yang disajikan dan memungkinkan untuk melakukan overview
6. Memuat intertwining
Hal ini dilakukan sebagi langkah agas siswa dapat menganalis dan
mengklarifikasi masalah sehingga strategi penyelesaian yang tepat dapat
dipilih
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, peneliti mengembangkan soal berpikir kritis
berdasarkan prosedur development research tipe formative research. Soal yang
akan dikembangkan adalah soal pada pokok bahasan lingkaran. Berikut ini
langkah-langkah pengembangan materi:
59
High Field Test
Resiistance User Acceptance, Implementability
to Revision Organizational Acceptance
Rivese
Small Group
Effectiveness, Appeal Implementability
Rivese
Expert Review
Ctent, Design, One-to-One
Technical Quality Clarity, Appeal, Obvious errors
Low Rivese
Resiistance Self-Evaluation
to Revision Obvious errors
1. Self Evaluation
a. Analisis
Tahap ini merupakan tahap dimana peneliti melakukan analisi terhadap
karakteristik siswa, karakteristik soal berpikir kritis, dan juga menganalisis
tuntutan kurikulum KTSP, sehingga soal yang dihadirkan mengadaptasi dari
basis soal PISA.
b. Desain
Tahap desain yang dimaksud adalah mendesain soal berpikir kritis pada
berhubungan dengan perubahan serta keterkaitan ruang dan bentuk, kuantitas
data dan bentuk aljabar. Desain awal soal dinamakan prototipe pertama.
Penelitian ini menghasilkan tiga prototipe yaitu prototipe pertama (hasil
self evaluation), prototipe kedua (revisi dari expert review dan one-to-one) dan
prototipe ketiga sebagai prototipe akhir (revisi dari small group), dimana
masing-masing prototipe fokus pada tiga karakteristik yaitu: conten, konstruks dan
bahasa.
60
Tabel 1. Karakteristik yang Menjadi Fokus Prototipe
Soal berpikir kritis yang dikembangkan memperhatikan
1. Standar Kompetensi yang diharapkan.
Content 2. Indikator
3. Karakteristik sisiwa SMP
Soal berpikir kritis sesuai dengan indikator yang ditentukan yaitu: 1)
berbentuk
essay, 2) berbentuk open ended, 3) mempunyai konteks yang meliputi:
Konstruks Personal problems, troubling emotions, bad habits, financial matters,
responsibilities, future plans, our beliefs and values, personal relationships,
key decisions, politics in our life, opportunities, health, security, our
experience, personal fulfillment, 4) pertanyaan memuat penalaran, 5)
memuat intertwining
1. Rumusan kalimat komunikatif.
2. Kalimat menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta sesuai ejaan
Bahasa yang disempurnakan (EYD).
3. Rumusan kalimat tidak menimbulkan penafsiran ganda
61
penelitian. Tahap ini siswa diminta untuk menyelesaikan dan mengomentari
soal yang telah direvisi berdasarkan masukan dari expert judgement dan one-to-
one (prototipe kedua). Hasil dari uji small group akan dijadikan dasar untuk
merevisi soal prototipe kedua. Hasil revisi tersebut dinamakan prototipe ketiga
(produk).
Analisis Data
1. Analisis Dokumen
Dokumen jawaban siswa dianalisis secara deskriptif. Analisis deskriptif
tersebut menceritakan hasil kerja siswa dengan berbagai strategi penyelesaian
soal dan juga kesalahan/kekeliruan siswa dalam menjawab soal.
62
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
63
4) Statistika dan Peluang
3. Prototyping (validasi, evaluasi, revisi)
Perangkat soal yang dihasilkan pada setiap prototipe, divalidasi dengan
menggunakan teknik triangulasi. Penilaian panelis kevaliditasan soal-soal pada
tiap prototipe yang dilihat adalah konten, konstruks dan bahasa, dikonsultasikan
dan diperiksa oleh beberapa pakar dalam bidang matematika. Selain itu, peneliti
meminta pendapat dari beberapa panelis dan teman sejawat yang sudah
berpengalaman dalam pendidikan matematika dan soal model PISA.
Pada tahap expert reviews kebanyakan dibenahi masalah EYD, kalimat
dalam soal, tata letak (lay-out), beberapa angka dan skema, sehingga peneliti
merevisi sesuai dengan yang disarankan oleh validator.
4. One-to-one
Soal diberikan secara paralel maka peneliti merevisi redaksi beberapa soal,
mengganti angka-angka yang belum sesuai, memberi keterangan sumber gambar
yang dikutip, membenahi tata letak dan tampilan soal, dan memberikan keterangan
pada tabel. Pada tahap one-to-one hasil yang dicapai siswa yang berkemampuan
tinggi cukup baik walaupun masih ada kesalahan yang dibuat. Siswa yang
berkemampuan sedang memperoleh nilai kemampuan berpikir kritis yang baik,
sedangkan siswa yang berkemampuan rendah mencapai nilai kemampuan berpikir
kritis kurang.
5. Small Group
Soal model PISA pada konten Quantity untuk mengukur kemampuan
berfikir kritis pada protipe kedua diujicobakan pada small group yang terdiri dari 5
orang siswa kelas VIII.2 SMP PGRI 2 Bandar Lampung, diminta untuk
mengamati serta mengerjakan soal-soal yang diberikan. Pada tahap ini, hasil yang
dicapai oleh siswa tidak berbeda jauh dengan hasil yang dicapai siswa pada tahap
one-to-one. Dua orang siswa berkemampuan tinggi termasuk pada kategori
kemampuan penalaran yang sangat baik, satu orang siswa termasuk pada kategori
kemampuan penalaran yang baik sedang dua orang termasuk pada kategori
kemampuan berpikir kritis yang cukup.
64
6. Uji coba Field Test
Penelitian ini diujicobakan sebanyak dua kali pertemuan pada bulan Mei
2015 di Kelas VIII.3 SMP PGRI 2 Bandar Lampung dengan jumlah siswa
sebanyak 30 orang yang terdiri dari 15 laki-laki dan 15 perempuan bertujuan untuk
melihat efek potensial soal-soal model PISA terhadap kemampuan berpikir kritis
siswa.
Tabel 3 Distribusi Skor Rata Rata Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa
Interval Skor Frekuensi Presentase Kategori
48-61 5 16,7 Sangat Baik
32-47 9 30 Baik
16-31 12 40 Cukup
0-15 4 13,3 Kurang
Jumlah 30 100
Rata-rata 30,43 Cukup
Setelah melalui proses pengembangan yang terdiri dari 3 tahap besar, tiga
siklus prototype dan proses revisi berdasarkan saran validator dan ujicoba pada
siswa, diperoleh perangkat soal yang dikembangkan dapat dikategorikan valid dan
praktis. Valid tergambar dari hasil penilaian validator, dimana hampir semua
validator menyatakan baik berdasarkan konten (sesuai dengan Kompetensi Dasar,
Indikator dan Framework dari soal model PISA pada konten Quantity ), konstruk
(mengembangkan kemampuan berpikir kritis, meliputi: mengidentifikasi
pernyataan dan menentukan cara matematis yang relevan dengan masalah;
memberikan penjelasan dengan menggunakan model; membuat pola hubungan
antar pernyataan; membuat pernyataan yang mendukung atau menyangkal
argumen (contoh penyangkal), dan bahasa (sesuai dengan EYD, tidak berbelit-
belit, tidak mengandung penafsiran ganda, batasan pertanyaan dan jawaban jelas,
dan menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh seluruh orang yang
membacanya). Soal dikategorikan praktis tergambar dari hasil uji coba, dimana
semua siswa dapat menggunakan perangkat soal dengan baik. Dari hasil analisis
data tes soal untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa pada soal model
PISA pada konten Quantity dapat diketahui bahwa 5 Siswa (16.7%) yang
termasuk dalam kategori memiliki kemampuan penalaran matematis yang sangat
baik, ada 9 siswa (30%) termasuk dalam kategori memiliki kemampuan penalaran
matematis yang baik, ada 12 siswa (40%) termasuk dalam kategori memiliki
65
kemampuan penalaran matematis yang cukup, dan ada 4 siswa (13,3%) termasuk
dalam kategori memiliki kemampuan penalaran matematis yang kurang. Secara
keseluruhan ada 14 siswa (46,7%) memiliki kemampuan penalaran matematis
dengan kategori baik.
Secara umum, dari hasil tes dalam dua kali pertemuan diketahui bahwa
kemampuan berpikir kritis siswa sebagian sudah cukup baik, siswa yang termasuk
pada kategori memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik sudah mampu
mengidentifikasi pernyataan dan menentukan cara matematis yang relevan dengan
masalah; memberikan penjelasan dengan menggunakan model; membuat pola
hubungan antar pernyataan; membuat pernyataan yang mendukung atau
menyangkal argumen (contoh penyangkal) pada sebagian besar soal. Namun di
beberapa soal siswa terlihat masih belum mampu mencapai kemampuan kognitif
yang ada pada level tinggi seperti yang terjadi pada soal nomor 4 dan 7. Pada soal
ini tidak seorang pun siswa yang mampu memberikan pernyataan yang
mendukung argumen dengan sempurna. Siswa yang termasuk pada kategori
memiliki kemampuan berpikir kritis yang kurang masih sangat kesulitan
memahami makna soal, sehingga bisa terlihat di sini kemampuan membaca
(literasi) matematika siswa masih sangat rendah. Mereka yang termasuk pada
kategori ini memerlukan waktu yang lama dalam memahami makna soal sehingga
juga mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi permasalahan dan otomatis
kesulitan juga dalam menentukan cara matematis yang relevan untuk
menyelesaikan masalah. Terlihat bahwa siswa kebanyakan mengalami kesulitan
dalam mengubah dari situasi nyata ke dalam situasi matematis, sehingga berakibat
pada gagalnya siswa menyelesaikan permasalahan karena tidak mempunyai
kemampuan penalaran yang baik. Hal ini bisa jadi disebabkan karena mereka
tidak terbiasa diberikan soal-soal latihan yang mengimplementasikan situasi
nyata, sehingga kemampuan berpikir kritis matematis mereka pun jarang terlatih
secara optimal. Dari analisis dokumen yang didapat pada tes soal model PISA
untuk mengukur kemampuan berpikir kritis matematis dari tahap one-to-one
sampai pada tahap field test, soal-soal model PISA pada konten Quantity juga
berhasil menimbulkan kemampuan berpikir kritis, dari mulai mengidentifikasi
permasalahan dalam soal, menghubungkannya dengan situasi matematis yang
66
sesuai, sampai dengan menyelesaikan permasalahan, membuat generalisasi
bahkan sampai kepada proses justifikasi suatu pernyataan. Dari pembahasan
beberapa soal di atas, pada akhirnya hasil tes kemampuan penalaran matematis
pada soal model PISA pada konten Quantity, secara keseluruhan dengan nilai
rata-rata kemampuan penalaran matematis 30,43 termasuk pada kategori
kemampuan penalaran matematis yang cukup, walaupun masih ada beberapa
siswa yang masuk pada kategori kurang.
Namun perbedaan dalam konten, konteks dan komponen soal- soal yang
biasa dikerjakan siswa di kelas dengan soal yang diberikan pada studi berskala
internasional menjadi kendala besar bagi siswa. Kompetensi yang diberikan
kepada siswa kita masih sebatas untuk mengolah informasi tetapi belum sampai
pada kompetensi kritis untuk mengevaluasi teks, mengajukan hipotesis terhadap
suatu gagasan, atau untuk mensintesis gagasan. Hal ini dapat menjadi bahan bagi
para pelaku pendidikan untuk melakukan pengembangan kurikulum pada jenjang
pendidikan dasar untuk mengarahkan kompetensi kepada pembekalan
kemampuan literasi yang menjadi saran bagi pengembangan kemampuan berpikir
siswa sesuai dengan perkembangannya. Penekanan harus diberikan kepada
keterampilan yang lebih mendorong melatih kemampuan berpikir siswa dengan
menjamin adanya konsistensi di antara unsur-unsur tujuan, isi, proses, dan
evaluasi pendidikan. Pengembangan ini adalah bentuk upaya untuk membekali
siswa kita dengan kemampuan atau kompetensi yang dibutuhkan dalam konteks
globalisasi sekarang ini.
KESIMPULAN
Berdasarkan kajian teoretik dan temuan analisis sementara sesuai data yang
terkumpul, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Prototype perangkat soal yang dikembangkan dikategorikan valid dan praktis.
2. Dengan nilai rata-rata 30,43 soal dapat dikatakan memiliki efek potensial
terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Sebagian dari siswa
masih memiliki kemampuan berpikir kritis matematis yang kurang karena
kesulitan dalam mengidentifikasi permasalahan yang diberikan pada soal. Soal
model PISA yang didesain dengan konten yang dapat melatih kemampuan
67
siswa sehingga dapat digunakan untuk proses optimasi berpikir kritis
matematis siswa.
DAFTAR PUSTAKA
68
England: Pearson Education, Inc.
Nuh, Mohammad. 2014. 14 April. Soal UN Berstandar Internasional. Koran
Jakarta, digital edition. (Online), [Link]
soal%20un%20berstandar%20internasional, diakses 18 april 2014
OECD. 2013. PISA 2012 Results in Focus What 15-Year-Olds Know and What
They Can Do With What They Know. (Online),
[Link]
diakses 20 Maret 2014.
Paul, Richard W& Elder, Linda. 2002. Critical Thinking: Tools for Taking
Charge of Your Professional and Personal Life. USA: Pearson Education,
Inc.
Ruseffendi.1980. Pengantar kepada mengembangkan kompetensi guru
matematika untuk meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
_____. 1991. Pengantar kepada Pembantu Guru Mengembangkan
Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika dalam Pengajaran
Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
_____.2006. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya
dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
Snyder, Lisa Gueldenzoph & Snyder, Mark J. 2008. Teaching Critical
Thinking and Problem Solving Skills. The Delta Pi Epsilon Journal. L(2),.
Sudjana, Nana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Tessmer, Martin. 1993. Planing and Conducting Formative Evaluations.
London: Kogen Page.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif.
Jakarta:Kencana.
Wood, Robin. 2002. Critical Thinking.
[Link]
diakses 7 Maret 2014.
Zdravkovich, Vera. 2004. 2004-2005 The Year of Critical Thinking
Handbook of Critical Thinking Resources. Maryland: Prince George’s
Community College Faculty Members.
[Link] ausubel_limas_1.pdf,
69