Bangkitan dan Tarikan Lalu Lintas
Bangkitan dan Tarikan Lalu Lintas
TINJAUAN PUSTAKA
memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan
dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona. Pergerakan
lalu lintas merupakan fungsi tata guna lahan yang menghasilkan aliran lalu lintas.
Bangkitan dan tarikan perjalanan terlihat secara diagram pada Gambar 2.1.
Hasil keluaran dari perhitungan bangkitan dan tarikan lalu lintas berupa jumlah
kendaraan, orang atau angkutan barang per satuan waktu, misalnya kendaraan/jam.
Dapat dengan mudah dihitung jumlah orang atau kendaraan yang masuk atau keluar
dari suatu luas tanah tertentu dalam satu hari (atau satu jam) untuk mendapatkan
5
6
bangkitan dan tarikan pergerakan. Bangkitan dan tarikan lalu lintas tersebut tergantung
Jenis tata guna lahan yang berbeda (pemukiman, pendidikan, dan komersial)
3. Lalu lintas pada waktu tertentu (sekolah menghasilkan arus lalu lintas pada
pagi dan siang hari, pertokoan menghasilkan arus lalu lintas di sepanjang
hari).
a. Perjalanan
Pergerakan satu arah dari zona asal ke zona tujuan, termasuk pergerakan
berjalan kaki. Berhenti secara kebetulan tidak dianggap sebagai tujuan perjalanan,
dengan perjalanan pulang dan pergi, dalam ilmu transportasi biasanya analisis
Pergerakan yang salah satu atau kedua zona (asal dan/atau tujuan) perjalanan
Pergerakan yang baik asal maupun tujuan pergerakan adalah bukan rumah.
d. Bangkitan perjalanan
asal dan/atau tujuan adalah rumah atau pergerakan yang dibangkitkan oleh pergerakan
e. Tarikan perjalanan
guna lahan atau zona (Tamin, 2000). Tarikan pergerakan tersebut berupa tarikan lalu
yang mempunyai tujuan yang berbeda. Untuk lebih jelasnya jenis pergerakan dapat
dibagi dua yaitu pergerakan berbasis rumah dan pergerakan berbasis bukan rumah
Berdasarkan asal dan akhir pergerakan, terdapat dua macam pergerakan yaitu
home based dan non-home based, berdasar sebab pergerakan diklasifikasikan sebagai
- dll.
9
orang setiap hari, sedangkan tujuan lain sifatnya hanya sebagai pilihan dan tidak
rutin dilakukan.
2. Berdasarkan Waktu
pergerakan pada jam sibuk dan jam tidak sibuk. Proporsi pergerakan yang
Pergerakan pada selang jam sibuk pagi hari terjadi antara pukul 07.00 sampai
dengan pukul 09.00. Untuk jam sibuk pada sore hari terjadi pada waktu antara
pukul 03.00 sampai dengan pukul 05.00. Untuk jam tidak sibuk berlangsung
3. Pemilihan moda
motor dan mobil) atau angkutan umum (bus, becak dan lain-lain). Dalam
beberapa kasus, mungkin terdapat sedikit pilihan atau tidak ada pilihan sama
sekali. Orang yang ekonominya lemah mungkin tidak mampu membeli sepeda
itu, keluarga berpenghasilan kecil yang tidak mempunyai mobil atau sepeda
moda saja disebut dengan captive terhadap moda tersebut. Sedangkan yang
mempunyai banyak pilihan moda disebut dengan choice. Faktor lain yang
Menurut Tamin (2000), model perencanaan transportasi yang populer saat ini
ada 4 (empat) tahap. Model ini memiliki beberapa seri sub-model yang masing-masing
harus dilakukan secara terpisah dan berurutan. Sub-model itu dapat dijelaskan sebagai
berikut:
2.2.1. Aksesibilitas
perjalanan, selain juga menghitung jumlah perjalanan itu sendiri. Aksesibilitas dapat
memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan
dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona.
pergerakan memperlihatkan banyaknya lalu lintas yang dibangkitkan oleh setiap tata
11
guna lahan, sedangkan sebaran pergerakan menjelaskan ke mana dan dari mana lalu
lintas tersebut.
Jika terjadi interaksi antara 2 (dua) tata guna lahan dalam suatu kota, maka
(karena pilihan ini dapat menghindarkan dari terjadinya perjalanan). Keputusan harus
ditetapkan dalam hal pemilihan moda, secara sederhana moda berkaitan dengan jenis
transportasi yang digunakan. Salah satu pilihannya adalah dengan berjalan kaki atau
pribadi atau kendaraan umum. Jika terdapat lebih dari satu jenis moda, maka yang
Dalam kasus ini, pemilihan moda dan rute dilakukan bersama-sama. Untuk
pribadi, diasumsikan bahwa orang akan memilih moda transportasinya dulu kemudian
rutenya. Seperti pemilihan moda, pemilihan rute juga tergantung pada alternatif
informasi yang cukup (misalnya tentang kemacetan jalan) sehingga mereka dapat
2.2.6. Arus Lalu Lintas Dinamis (Arus Lalu Lintas pada Jaringan Jalan)
Arus lalu lintas berinteraksi dengan sistem jaringan transportasi. Jika arus lalu
lintas meningkat pada ruas jalan tertentu, waktu tempuh pasti bertambah (karena
kecepatan menurun). Arus maksimum yang dapat melewati suatu ruas jalan biasa
disebut kapasitas ruas jalan tersebut. Arus maksimum yang dapat melewati suatu titik
(biasanya pada persimpangan dengan lampu lalu lintas) biasa disebut arus jenuh.
a. Pendapatan
b. Pemilik kendaraan
e. Aksesibilitas
olahraga, belanja dan bertamu yang terjadi di atas sebidang tanah (kantor, pabrik,
pertokoan, rumah dan lain-lain). Potongan lahan ini bisa disebut tata guna lahan, untuk
Bangkitan pergerakan bukan saja beragam dalam jenis tata guna lahan, tetapi
juga tingkat aktivitasnya. Semakin tinggi tingkat penggunaan sebidang tanah, semakin
Perubahan nilai satu variabel tidak selalu terjadi dengan sendirinya, namun
perubahan nilai variabel itu dapat pula disebabkan oleh berubahnya variabel lain yang
berhubungan dengan variabel tersebut. Untuk mengetahui pola perubahan nilai suatu
variabel yang disebabkan oleh variabel lain diperlukan alat analisis yang
memungkinkan kita untuk membuat perkiraan (prediction) nilai variabel tersebut pada
nilai tertentu variabel yang mempengaruhinya. Salah satu cara untuk menghasilkan
model tarikan perjalanan adalah dengan menggunakan teknik analisis regresi (Sudjana,
1996).
14
Teknik analisis regresi adalah suatu teknik berdasarkan metode statistik, yang
dapat digunakan untuk menghasilkan hubungan dalam bentuk numerik untuk melihat
bagaimana dua variabel (simple regresi) atau lebih (multiple regresi) saling terkait,
(Tamin, 2000).
Analisis regresi linear adalah metode statistik yang dapat digunakan untuk
mempelajari hubungan antar sifat permasalahan yang sedang diselidiki. Model analisis
regresi linear dapat memodelkan hubungan antara dau peubah atau lebih. Pada model
ini terdapat peubah tidak bebas (Y) yang mempunyai hubungan fungsional dengan satu
atau lebih peubah bebas (X) (Iskahar dan Sulfah Anjarwati, 2005). Bentuk matematis
Y = a + bX (2-1)
Keterangan :
a : intercept (konstanta)
Dalam regresi linear berganda, persamaan regresi mempunyai lebih dari satu
variabel independen. Untuk memberi simbol variabel independen yang terdapat dalam
persamaan regresi linear berganda adalah dengan melanjutkan simbol yang digunakan
pada regresi sederhana, yaitu dengan menambah tanda bilangan pada setiap variabel
independen tersebut, dalam hal ini X1, X2,…., Xn. Bentuk umum dari persamaan
Keterangan:
a : konstanta
mengetahui pola hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat (Hosmer and
Lemeshow, 2000). Berdasarkan pola hubungannya, analisis regresi terbagi atas analisis
regresi linear dan analisis regresi non-linear. Menurut (Hasan, 1999) suatu model
Contoh model regresi nonlinear dalam antara lain model parabola, kuadratik, hiperbola,
dan lain-lain. Menurut Montgomery dan Peck (1992) model regresi nonlinear dalam
fungsi dalam parameter tersebut. Contoh model regresi nonlinear dalam parameter
adalah model regresi logistik. Model regresi nonlinear dalam parameter menurut
Keterangan :
Salah satu tahapan terpenting di dalam analisis trip generation (bangkitan dan
hubungan antara variabelnya baik antara sesama variabel bebas (pada regresi berganda)
maupun antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas (pada regresi berganda dan
sederhana).
permasalahan ataupun dengan variabel yang lainnya dapat digunakan dengan suatu
teori korelasi. Apabila X dan Y menyatakan dua variabel yang sedang diamati maka
diagram pencar menggambarkan titik lokasi (X,Y) menurut sistem koordinat. Apabila
semua titik di dalam diagram pencar nampak berbentuk sebuah garis, maka korelasi
korelasi tersebut disebut korelasi positif atau korelasi langsung. Sebaliknya apabila Y
17
atau korelasi terbalik. Apabila tidak terlihat adanya hubungan antara variabel, maka
korelasi (r). Nilai r berkisar antara –1 dan +1. Tanda (+) dan tanda (-) dipakai untuk
korelasi positif dan korelasi negatif. Dalam penelitian ini tahapan analisis korelasi
menentukan tingkat kinerja segmen jalan. Nilai DJ menunjukkan kualitas kinerja arus
lalu lintas dan bervariasi antara nol sampai dengan satu. Nilai yang mendekati nol
menunjukkan arus yang tidak jenuh yaitu kondisi arus yang lengang dimana kehadiran
kendaraan lain tidak mempengaruhi kendaraan yang lainnya. Nilai yang mendekati 1
menunjukkan kondisi arus pada kondisi kapasitas, kepadatan arus sedang dengan
kecepatan arus tertentu yang dapat dipertahankan selama paling tidak satu jam. DJ
Keterangan:
DJ : derajat kejenuhan
C : kapasitas, skr/jam
Kapasitas (C) didefinisikan sebagai arus maksimum melalui suatu titik di jalan
yang dapat dipertahankan per satuan jam pada kondisi tertentu. Untuk jalan dua-lajur
dua arah, kapasitas ditentukan untuk arus dua arah (kombinasi dau arah), tetapi untuk
jalan dengan banak lajur, arus dipisahkan per arah dan kapasitas ditenukan per lajur.
Untuk tipe jalan 2/2TT, C ditentukan untuk total arus dua arah. Untuk jalan dengan tipe
4/2T, 6/2T, dan 8/2T, arus ditentukan secara terpisah per arah dan kapasitas ditentukan
Keterangan:
C : kapasitas, skr/jam
FCLJ : faktor penyesuaian kapasitas terkait lebar lajur atau jalur lalu lintas
FCPA : faktor penyesuaian kapasitas terkait pemisahan arah, hanya pada jalan tak
terbagi
FCHS : faktor penyesuaian kapasitas terkait KHS pada jalan berbahu atau berkereb
Kapasitas dasar (C0) ditetapkan secara empiris dari kondisi Segmen Jalan yang
ideal, yaitu Jalan dengan kondisi geometrik lurus, sepanjang 300m, dengan lebar lajur
19
rata-rata 2,75m, memiliki kereb atau bahu berpenutup, ukuran kota 1-3Juta jiwa, dan
Nilai C0 disesuaikan dengan perbedaan lebar lajur atau jalur lalu lintas (FC LJ),
pemisahan arah (FCPA), Kelas hambatan samping pada jalan berbahu (FC HS), dan
ukuran kota (FCUK). Besar nilai masing-masing FC ditunjukkan dalam Tabel 2.2
Tabel 2.2 Faktor Penyesuaian Kapasitas Akibat Perbedaan Lebar Jalur atau
Jalur Lalu Lintas, FCLJ
Tabel 2.3 Faktor Penyesuaian Kapasitas Terkait Pemisahan Arah Lalu Lintas,
FCPA
Tabel 2.4 Faktor Penyesuaian Kapasitas Akibat KHS Pada Jalan Berbahu, FCHS
FCHS
Tabel 2.5 Faktor Penyesuaian Kapsitas Akibat KHS pada Jalan Berkereb
dengan Jarak dari Kereb ke Hambatan Samping Terdekat Sejauh
LKP, FCHS,
FCHS
≤ 0,1 0,86
0,1 – 0,5 0,90
0,5 – 1,0 0,94
1,0 – 3,0 1,00
> 3,0 1,04
Untuk segmen ruas jalan eksisting, jika kondisinya sama dengan kondisi dasar
(ideal), maka semua faktor penyesuaian menjadi 1,0 dan kapasitas menjadi sama
22
dengan kapasitas dasar. FCHS untuk jalan 6-lajur dapat ditentukan dengan
menggunakan nilai FCHS untuk jalan 4/2T yang dihitung menggunakan persamaan (2-
6).
Keterangan:
Ekr untuk kendaraan ringan adalah satu dan ekr untuk kendaraan berat dan
sepeda motor ditetapkan sesuai dengan yang ditunjukkan dalam Tabel 2.7 dan Tabel
2.8.
Tabel 2.8 Ekivalen Kendaraan Ringan untuk Jalan Terbagi dan Satu Arah
Nilai VB jenis KR ditetapkan sebagai kriteria dasar untuk kinerja segmen jalan,
10-15% lebih tinggi dari tipe kendaraan lainnya. VB dihitung menggunakan persamaan
(2-7).
Keterangan:
Jika kondisi eksisting sama dengan kondisi dasar (ideal), maka semua faktor
VBD (km/jam)
2/2TT 44 40 40 42
Nilai penyesuaian kecepatan arus bebas akibat lebar jalur lalau lintas efektif
Tabel 2.10 Nilai Penyesuaian Kecepatan Arus Bebas Dasar akibat Lebar
Jalur Lalu Lintas Efektif, VBL
Per lajur
5 -9,5
6 -3
7 0
2/2TT 3
8
9 4
10 6
11 7
Sumber : PKJI 2014
menjandi dua bagian yaitu jalan dengan bahu jalan serta kereb, jalan dengan
Untuk jalan dengan kereb, faktor penyesuaian arus bebas akibat hambatan
samping untuk jalan berkereb dengan jarak kereb ke penghalang terdekat. Nilai
FVBHS
Ukuran kota adalah besarnya jumlah penduduk sautu kota yang dinyatakan
dalam juta jiwa. Menentukan nilai faktor ukuran kota dapt ditentukan
Tingkat pelayanan merupakan besarnya arus lalu lintas yang dapat dilewatkan
Tingkat Batas
Karakteristik Lalu Lintas Lingkup Q/C
Pelayanan
Kondisi arus lalu lintas bebas dengan kecepatan 0,00-0,20
A
tinggi dan volume lalu lintas rendah
Arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai 0,21-0,44
B
dibatasi oleh kondisi lalu lintas
Arus stabil, tetapi kecepatan, gerak kendaraan 0,45-0,74
C
dikendalikan
Arus mendekati tidak stabil, keceptan masih 0,75-0,84
D
dapat dikendalikan, Q/C masih dapat ditolerir
Arus tidak stabil, kecepatan terkadang berhenti, 0,85-1,00
E
permintaan sudah mendekati kapasitas
Arus dipaksakan, kecepatana rendah, volume >1,00
F
diatas kapasitas,antrian panjang (macet)
Sumber : PKJI 2014
28
perkiraan bangkitan dan tarikan pergerakan lalu lintas yang akan terjadi. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui tarikan perjalanan dari kendaraan yang ada di
sekolah.
masalah kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu terjadinya
Andri Asto Rumanga (2014) dalam penelitian yang berjudul “Analisis Model
Bangkitan Tarikan pada Sekolah Swasta di Zona Pinggiran Kota di Kota Makassar”
melakukan penelitian pada lima sekolah swasta yang berada di pinggiran kota
Makassar dengan metode survei. Data hasil survey dianalisis dengan regresi untuk
mendapatkan model yang terbaik berdasarkan nilai determinasi R Square (R2). Hasil
0,978, dimana Y adalah moda pengantar siswa, X3 adalah luas sekolah, X6 adalah luas
kelas dan X13 adalah perbandingan jumlah guru dengan jumlah kelas. Sedangkan
model terbaik untuk meramalkan bangkitan pergerakan moda penjemput siswa pada
1,4369) X13 dengan nilai R2 (R Square) sebesar 0,789, dimana Y adalah moda
29
pengantar siswa, X3 adalah luas sekolah, X6 adalah luas kelas dan X13 adalah
Tarikan Pada Tata Guna Lahan Sekolah Menengah Atas Swasta di Palembang”
melakukan penelitian pada sepuluh SMA swasta yang ada di Palembang dengan
metode survei kemudian data dianalisis dengan model regesi agar mendapatkan model
yang terbaik. Dari hasil penelitian didapatkan faktor–faktor yang mempengaruhi Trip
Generation pergerakan pada SMA di kota Palembang untuk kendaraan pengantar siswa
memiliki kesamaan dengan Trip Generation kendaraan penjemput siswa yaitu pada
mobil pribadi, motor dan angkutan umum adalah jumlah siswa dan kapasitas kelas.
Moda mobil pribadi adalah kapasitas kelas. Moda motor adalah luas kelas. Dan moda
angkutan umum adalah jumlah siswa, jumlah kelas, dan kapasitas kelas. Sedangkan
model terbaik untuk meramalkan trip attraction didapat modelnya adalah Y = 327,8 +
adalah jumlah guru, X4 adalah jumlah kelas dan X9 adalah jumlah kendaraan guru.
Haggie Septo Tobing (2013) dalam penelitian yang berjudul “Bangkitan dan
tinjau, karena penyebab dari perjalanan adalah adanya kebutuhan manusia untuk
30
melakukan kegiatan. Setiap kegiatan mempunyai pergerakan dari zona asal dan zona
tujuan, dimana zona asal adalah hasil perilaku dari pergerakan, sedangkan zona tujuan
adalah zona yang menarik pergerakan pelaku yang melakukan kegiatan. Metode
bangkitan dan tarikan di gunakan untuk memprediksi pergerakan masa yang akan
dating sedangkan sasaran yang ingin dicapai yaitu mengidentifikasi pola pergerakan
yang terdapat di area Kecamatan Medan Labuhan, dengan cara menganalisis jumlah
tujuan bekerja, tujuan sekolah yang didapatkan dengan cara survey dan wawancara.
Kemudian dilakukan analisis dengan metode Furness. Dari hasil analisis data dengan
menggunakan metode Furness maka pertumbuhan atau model bangkitan dan tarikan
perjalanan didapatkan pada iterasi ke-5, sehingga diketahui nila kenaikan (E) sebesar
1,18 berdasarkan tujuan ke sekolah dan 1,20 berdasarkan tujuan bekerja. Sedangkan
dari hasil penelitian langsung di lapangan, bangkitan dan tarikan perjalanan di kawasan
Medan Labuhan masaih layak kaena dipengaruhi oleh pergerakan aktifitas tujuan
W.Y. SZETO, Jonathan Yeung, Ryan C.P. WONG, [Link] (2015) dalam
jurnal yang berjudul “Trip Attraction, Trip Distribution, and Modal Split for
dalam Ching Ming Festival di China yang mana tiap tahunnya jumlah pengunjung
menyebabkan kemacetan lalu lintas. Dalam penelitian ini digunakan model regresi
non-linear untuk memprediksi jumlah pengunjung dari zona asal dan zona tujuan dari
tersebut dan moda transportasi yang digunakan. Dari model regresi, deviasi jumlah hari
dari tanggal festival adalah faktor penting yang mempengaruhi jumlah pengunjung
pada tanggal tersebut. Hal tersebut dapat membantu untuk mengidentifikasi tanggal
yang akan menarik terlalu banyak pengunjung, sehingga melebihi kapasitas fasilitas
transportasi yang ada. Untuk mendapatkan data, metode yang digunakan adalah survei
pengunjung dan kuisioner yang dilakukan pada sepuluh pintu masuk Columbarium.
Berdasarkan hasil analisis dengan model regresi non – linear didapatkan nilai puncak
pada festival sebesar 0,59. Dari model logit, pengunjung memilih lokasi yang dekat
dengan Columbarium dan memiliki akses langsung ke Columbarium. Hal ini dapat
membantu untuk merencanakan lokasi baru yang dapat menyediakan transportasi yang
berpindah dari lokasi utama yang semula padat menjadi tidak padat.
Joni Arliansyah dan Yusuf Hartono (2015) dalam jurnal “Trip Attraction Model
Using Radial Basis Function Neural Networks”, penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui tarikan pada tempat wisata yang ada di Palembang dengan menggunakan
metode matriks asal tujuan dan untuk pengembangan fasilitas perkotaan dan
Function Neural Networks (RBFNN). Data yang digunakan pada penelitian ini berasal
dari survei asal tujuan dan tata guna lahan dan menggunakan 85 set data tata guna
lahan-tarikan perjalanan. RBFNN adalah jaringan saraf tiruan yang terdiri dari tiga
lapisan, yaitu input, hidden dan output. Pada penelitin juga menggunakan model
32
analisis regresi yang mana nantinya akan dibandingkan dengan model RBFNN, hasil
perbandingan antara RBFNN dan analisis regresi menunjukan bahwa model RBFNN
melakukan lebih baik dari model analisis regresi dalam memprediksi tarikan
perjalanan. Namun hasil dari kedua model ini menunjukan bahwa jumlah siswa, jumlah
guru, luas gedung sekolah dan jumlah kantor merupakan variabel penting.
Andri Asto Rumanga (2014) dalam penelitian yang berjudul “Analisis Moedel
pada lima sekolah swasta yang berada di pinggiran kota Makassar dengan metode
survei. Data hasil survey dianalisis dengan regresi untuk mendapatkan model yang
terbaik berdasarkan nilai determinasi R Square (R2). Hasil analisis menunjukan model
terbaik untuk meramalkan tarikan pergerakan moda pengantar siswa pada sekolah
0,8167) X13 dengan nilai R2 (R Square) sebesar 0,978, dimana Y adalah moda
pengantar siswa, X3 adalah luas sekolah, X6 adalah luas kelas dan X13 adalah
perbandingan jumlah guru dengan jumlah kelas. Sedangkan model terbaik untuk
meramalkan bangkitan pergerakan moda penjemput siswa pada sekolah swasta di kota
R2 (R Square) sebesar 0,789, dimana Y adalah moda pengantar siswa, X3 adalah luas
sekolah, X6 adalah luas kelas dan X13 adalah perbandingan jumlah guru dengan
jumlah kelas.