Kecemasan
Defenisi Kecemasan
Kecemasan adalah suatu perasaan takut yang berasal dari eksternal atau internal sehingga tubuh
memiliki respons secara perilaku, emosional, kognitif, dan fisik (Videbeck, 2014). Kecemasan adalah
perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respon otonom (sumber tidak diketahui
oleh individu) sehingga individu akan meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi (NANDA, 2015).
Kecemasan yang dirasakan oleh pasien yang pra operasi sectio caesarea tentunya menjadi perhatian
khusus dari tenaga kesehatan. Apabila tidak diatasi maka dapat berdampak pada masalah psikologis
yang lebih berat. Sehingga, dalam mengatasi hal ini digunakan terapi non farmakologi seperti terapi
perilaku dan terapi kognitif (Stuart, 2013)
Penyebab Kecemasan
Menurut Stuart (2013) terdapat tiga faktor penyebab terjadinya kecemasan, yaitu :
a. Faktor biologis/fisiologis, berupa ancaman yang mengancam akan kebutuhan sehari-hari seperti
kekurangan makanan, minuman, perlindungan dan keamanan. Otak mengandung reseptor
khusus untuk benzodiazepine, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam
gama-aminobutirat (GABA), yang berperan penting dalam mekanisme terjadinya ansietas. Selain
itu riwayat keluarga mengalami ansietas memiliki efek sebagai faktor predisposisi ansietas.
b. Faktor psikososial, yaitu ancaman terhadap konsep diri, kehilangan benda/orang berharga, dan
perubahan status sosial/ekonomi.
c. Faktor perkembangan, ancaman yang menghadapi sesuai usia perkembangan, yaitu masa bayi,
masa remaja dan masa dewasa.
Selain tiga hal di atas, Jiwo (2015) menambahkan bahwa individu yang menderita penyakit kronik seperti
diabetes melitus, kanker, penyakit jantung dapat menyebabkan terjadinya kecemasan. Penyakit kronik
dapat menimbulkan kekhawatiran akan masa depan, selain itu biaya pengobatan dan perawatan yang
dilakukan juga akan menambah beban pikiran.
Respons terhadap Kecemasan
Menurut Stuart (2013) ada 4 respons tubuh terkait kecemasan yaitu respons fisiologis, respons perilaku,
respons afektif, dan respons kognitif.
Tabel 2.1
Respons Fisiologis
System tubuh respon
Kardiovaskuler Palpitasi
Jantung “berdebar”
Tekanan darah meningkat
Rasa ingin pingsan
pernafasan Napas cepat
Sesak napas
Tekanan pada dada
Napas dangkal
Pembengkakan pada tenggorokan
Sensasi tercekik
Terengah-engah
neuromuskular Refleks meningkat
Reaksi terkejut
Mata berkedip-kedip
Insomnia
Tremor
Gelisah, modar-mandir
Wajah tegang
Kelemahan umum
Tungkai lemah
Neuromuscular Gerakan yang janggal
gastrointestine Kehilangan nafsu makan
Menolak makan
Rasa tidak nyaman pada abdomen
23
Mual
Nyeri di ulu hati
diare
Saluran kemih Tidak dapat menahan kencing
Tabel 2.2 Respons Perilaku, Kognitif, dan Afektif
System tubuh Respon
Perilaku Gelisah
Ketegangan fisik
Reaksi terkejut
Bicara cepat
Kurang koordinasi
Menarik diri
Hiperventilasi
Sangat waspada
Kognitif Konsentrasi buruk
Pelupa
Hambatan berpikir
Lapang persepsi menurun
Kreativitas menurun
Bingung
Mimpi buruk
Afektif Tidak sabar
Mudah terganggu
Gelisah
Gugup
Ketakutan
Kekhawatiran
Rasa bersalah
Patofisiologi Kecemasan
Sistem syaraf pusat menerima suatu persepsi ancaman. Persepsi ini timbul akibat adanya rangsangan
dari luar dan dalam yang berupa pengalaman masa lalu dan faktor genetik. Kemudian rangsangan
dipersepsi oleh panca indra, diteruskan dan direspon oleh sistem syaraf pusat melibatkan jalur cortex
cerebri – limbic system – reticular activating system – hypothalamus yang memberikan impuls kepada
kelenjar hipofise untuk mensekresi mediator hormonal terhadap target organ yaitu kelenjar adrenal
yang kemudian memicu saraf otonom melalui mediator hormonal yang lain (Owen, 2016).
Tingkat Kecemasan
Menurut Halter (2014) ada 4 klasifikasi tingkat kecemasan yaitu kecemasan ringan, kecemasan sedang,
kecemasan berat, dan panik.
a. Kecemasan Ringan
Penyebab dari kecemasan ringan biasanya karena pengalaman kehidupan sehari-hari dan
memungkinkan individu menjadi lebih fokus pada realitas. Individu akan mengalami
ketidaknyamanan, mudah marah, gelisah, atau adanya kebiasaan untuk mengurangi ketegangan
(seperti menggigit kuku, menekan jari-jari kaki atau tangan). Menurut Asmadi (2008) respons
fisiologis yang terjadi pada kecemasan ringan yaitu nadi dan tekanan dara sedikit meningkat,
adanya gangguan pada lambung, muka berkerut, dan bibir bergetar. Respons kognitif dan afektif
yang terjadi yaitu gangguan konsentrasi, tidak dapat duduk tenang, dan suara kadang-kadang
meninggi.
b. Sedang
Pada kecemasan sedang, lapang pandang individu menyemit. Selain itu individu mengalami
penurunan pendengaran, penglihatan, kurang menangkap informasi dan menunjukkan
kurangnya perhatian pada lingkungan. Terhambatnya kemampuan untuk berpikir jernih, tapi
masih ada kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah meskipun tidak optimal.
Respons fisiologis yang dialami yaitu jantung berdebar, meningkatnya nadi dan respiratory rate,
keringat dingin, dan gejala somatik ringan (seperti gangguan lambung, sakit kepala, sering
berkemih). Terdengar suara sedikit bergetar. Kecemasan ringan atau kecemasan sedang dapat
menjadi sesuatu yang membangun karena kecemasan yang terjadi merupakan sinyal bahwa
individu tersebut membutuhkan perhatian atau kehidupan individu tersebut dalam keadan
bahaya.
c. Kecemasan Berat
Seseorang yang mengalami ansietas berat hanya mampu fokus pada satu hal dan mengalami
kesulitan untuk memahami apa yang terjadi. Pada level ini individu tidak memungkinkan untuk
belajar dan memecahkan masalah, bahkan bisa jadi individu tersebut linglung dan bingung.
Gejala somatik meningkat, gemetar, mengalami hiperventilasi, dan mengalami ketakutan yang
besar.
d. Panik
Individu yang mengalami panik sulit untuk memahami kejadian di lingkungan sekitar dan
kehilangan rangsangan pada kenyataan. Kebiasaan yang muncul yaitu mondar-mandir,
mengamuk, teriak, atau adanya penarikan dari lingkungan sekitar. Adanya halusinasi dan
persepsi sensorik yang palsu (melihat seseorang atau objek yang tidak nyata). Tidak
terkoordinasinya fisiologis dan adanya gerakan impulsif. Pada tahap panik ini individu dapat
mengalami kelelahan.
Alat Ukur Kecemasan
Ada beberapa alat ukur ansietas yang digunakan dalam penelitian, yaitu :
a. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)
merupakan salah satu kuesioner yang mengukur skala ansietas yang masih digunakan sampai
saat ini. Kuesioner terdiri atas 14 item, Masing-masing item terdiri atas 0 (tidak terdapat) sampai
4 skor (terdapat). Apabila jumlah skor <17 tingkat ansietas ringan, 18-24 tingkat ansietas sedang,
dan 25-30 tingkat stres berat (Nursalam, 2013)
b. Taylor Manifest Anxiety Scale (T-MAS)
T-MAS merupakan kuesioner yang dirancang untuk mengukur skala ansietas pada individu
(Oxford Index, 2017). T-MAS terdiri atas 38 pernyataan yang terdiri atas kebiasaan dan emosi
yang dialami. Masingmasing item terdiri atas “ya” dan “tidak”.
c. Depression, Anxiety Stress Scale (DASS)
DASS terdiri atas pertanyaan terkait tanda dan gejala depresi, ansietas dan stres. Kuesioner
DASS ada dua jenis yaitu DASS 42 dan DASS 21. DASS 42 terdiri atas 42 pertanyaan sedangkan
DASS 21 terdiri atas 21 pertanyaan, masing-masing gangguan (depresi, ansietas, dan stres)
terdapat 7 pertanyaan. Masing-masing item terdiri atas 0 (tidak terjadi dalam seminggu
terakhir) sampai 3 (sering terjadi dalam waktu seminggu terakhir).
d. Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS)
Kuesioner SAS terdiri atas 20 pernyataan terkait gejala ansietas. Masingmasing pernyataan
terdapat 4 penilaian yang terdiri dari 1 (tidak pernah), 2 (jarang), dan 3 (kadang-kadang), dan 4
(sering). Klasifikasi tingkat ansietas berdasarkan skor yang diperoleh yaitu 20-40 (tidak cemas),
41-60 (ansietas ringan), 61-80 (ansietas sedang), dan 81-100 (ansietas berat).
e. Anxiety Visual Analog Scale (Anxiety VAS)
Suatu alat untuk mengukur tingkat kecemasan dengan menggunakan garis horizontal berupa
skala sepanjang 10cm atau 100mm. Penilaiannya yaitu ujung sebelah kiri mengidentifikasikan
“tidak ada kecemasan” dan semakin ke arah ujung sebelah kana kecemasan yang dialami luar
biasa.
Komunikasi terapeutik
Defenisi komunikasi terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu klien
beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis dan belajar bagaimana berhubungan dengan
orang lain. Komunikasi terapeutik dilakukan secara sadar, tujuan dan kegiatannya difokuskan untuk
kesembuhan klien (Suryani, 2015).
Tujuan komunikasi terapeutik
Tujuan dari komunikasi terapeutik menurut (Suryani, 2015) adalah:
1. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri.
2. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan saling bergantung
dengan orang lain
3. Meningkatkan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan pasien serta mencapai
tujuan yang realistik.
4. Menjaga harga diri.
5. Bina bubungan saling percaya.
Prinsip Komunikasi Terapeutik
Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik adalah:
1. Perawat harus mengenal dirinya yang berarti menghayati, memahami dirinya sendiri serta nilai
yang dianut.
2. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan saling menghargai.
3. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental.
4. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa
takut.
5. Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk
mengubah dirinya baik sikap, tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
6. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secar bertahap untuk mengetahui dan
mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan maupun frustasi.
7. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.
8. Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan dapat mempertahankan
konsistensinya.
9. Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya simpati bukan
tindakan yang terapeutik.
10. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik.
11. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan orang lain
tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan suatu keadaan sehat fisik
mental, spiritual dan gaya hidup.
12. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap menggangu.
13. Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi.
14. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan
berdasarkan prinsip kesejahteran manusia.
15. Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab atas diri sendiri atas tindakan yang
dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Hambatan Komunikasi Terapeutik
Hambatan komunikasi terapeutik dalam hal kemajuan hubungan perawat-klien terdiri dari tiga jenis
utama yaitu :
a. Resisten
Resisten adalah upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab ansietas yang
dialaminya. Resisten merupakan ketidaksediaan klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk
berubah telah dirasakan. Perilaku resisten biasanya diperlihatkan oleh klien selama fase kerja,
karena fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaian masalah.
b. Tranferens
Tranferens adalah respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sikap terhadap
perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam kehidupannya dimasa lalu. Ada dua
jenis utama reaksi bermusuhan dan tergantung.
c. Kontertranferens
Merupakan kebutuhan terapeutik yang dibuat oleh perawat bukan oleh klien. Kontertranferens
merujuk pada respon emosional spesifik oleh perawat terhadap klien yang tidak tepat dalam isi
maupun konteks hubungan terapeutik atau ketidaktepatan dalam intensitas (Hamid, 2013).
Fase-fase komunikasi terapeutik
Fase-fase dalam komunikasi terapeutik sebagai berikut:
a. Fase pra-interaksi
1. Mengumpulkan data tentang klien
2. Mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri
3. Membuat rencana pertemuan dengan pasien (kegiatan, waktu, tempat)
b. Fase orientasi/perkenalan
1. Memberi salam
2. Memperkenalkan diri perawat
3. Menanyakan nama pasien
4. Menyepakati pertemuan (kontrak)
5. Menghadapi kontrak
6. Memulai percakapan awal
7. Menyepakati masalah pasien
8. Mengakhiri perkenalan
c. Fase kerja
1. Meningkatakan pengertian dan pengenalan pasien akan dirinya, perlakunya, perasaannya
dan pikirannya. Tujuan ini sering disebut tujuan kognitif
2. Mengembangkan, meningkatkan dan mempertahankan kemampuan pasien secara mandiri
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tujuan ini sering disebut tujuan afektif atau tujuan
psikomotor
Videbeck,SI .2014. Psychiatric-mental health nursing.5th edition. Lippinoclt
Williams&Wilkins:Philadelphia
Nanda (2015). Diagnosa Keperawatan : Defenisi dan Klasifikasi 2015-2017. Buku Kedokteran: ECG
Stuart. 2013. Priciple and practice of psichyatric nusing(10th edition. St. Lousi: Mosby
Owen (2016). Hubungan Tingkat Kecemasan Pre Operasi. Jurnal Kedokteran Universitas Jember.
Halter, M.J. (2014) .Varcarolis Foundation of Psychiatric Mental Health Nursing. Diakses pada
laman:[Link]
Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Nursalam., & Efendi, F. (2013). Pendidikan dalam keperawatan. Jakarta: Salemba [Link].
(2015). Komunikasi Teraupetik: Teori Dan Praktik. Jakarta: ECG
Hamid. (2013). Hubungan anatara Kemampuan Komunikasi Teraupetik Perawat dengan Pasien Pre
[Link]: Buku Kedokteran ECG hal:2