0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan3 halaman

Karakteristik Design Thinker yang Efektif

Dokumen ini membahas karakteristik seorang design thinker dan proses double diamonds dalam design thinking yang terdiri atas empathize, define, ideate, prototype dan testing dengan menggunakan pola pikir divergen dan konvergen. Dokumen ini juga membandingkan design thinking dengan scientific thinking serta menyarankan beberapa referensi untuk mempelajari lebih lanjut tentang design thinking dan kreativitas.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan3 halaman

Karakteristik Design Thinker yang Efektif

Dokumen ini membahas karakteristik seorang design thinker dan proses double diamonds dalam design thinking yang terdiri atas empathize, define, ideate, prototype dan testing dengan menggunakan pola pikir divergen dan konvergen. Dokumen ini juga membandingkan design thinking dengan scientific thinking serta menyarankan beberapa referensi untuk mempelajari lebih lanjut tentang design thinking dan kreativitas.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Karakteristik Seorang Design Thinker

Untuk dapat menerapkan pola pikir Design Thinking, seseorang perlu menerapkan sikap-sikap
tertentu, di antaranya (Speicher, 2016; Roterberg, 2018):

1. Memiliki empati tinggi - memanusiakan manusia, menjunjung tinggi kesetaraan.


2. Berpikir integratif - dapat menyatukan potongan-potongan informasi, fakta, dan data
menjadi sebuah solusi (sintesis).
3. Optimistik - percaya bahwa ada solusi yang lebih baik daripada apa yang ada
sekarang; kegagalan/kesalahan adalah kesempatan untuk belajar.
4. Eksperimentalis - berani mencoba hal yang sama sekali baru, berani gagal dan/atau
melakukan kesalahan, menyemangati munculnya ide-ide liar.
5. Kolaboratif - dapat bekerja bersama berbagai pihak yang lintas bidang, juga memiliki
pengalaman lintas bidang; saling menghargai dan membangun ide.
6. Gembira - kreativitas lebih mudah muncul dalam situasi gembira, maka kegiatan
kerja tim dan mengembangkan ide perlu dibuat jadi menyenangkan.

Double Diamonds dalam Design Thinking - Video 1


Proses Design Thinking terdiri atas dua bagian, yaitu “ruang masalah” yang
mencakup fase empathize dan define, serta “ruang solusi” yang mencakup
fase ideate, prototype dan testing (Lindberg et al, 2010, dalam Roterberg, 2018). Baik
ketika memahami masalah maupun mengembangkan solusi, proses Design Thinking
menggunakan cara berpikir divergen-konvergen atau Diverge-Converge. Diverge yaitu
sebuah proses di mana kita “berpikir melebar”, menampung semua informasi dan ide
seluas-luasnya. Sebaliknya proses converge adalah “berpikir mengerucut”, yaitu
mengorganisasi dan menyeleksi sehingga diperoleh informasi atau ide paling bermakna
untuk ditindaklanjuti pada fase berikutnya. Ketika divisualisasikan dalam diagram, pola
divergen-konvergen ini mirip intan kembar atau double diamonds; dari situlah asal
namanya.
Konsep Double Diamond pada Design Thinking dapat Anda pelajari dengan menonton
video-video ini:
Service Design Academy: The Double Diamond

DESIGN THINKING
DOUBLE DIAMONDS
Divergent thinking : coming up with new ideas and to come up with new ideas you have to reach up
Convergent thinking : thinking about ideas and reflecting on them and coming up with decisions.
Seperti yang telah Anda ketahui setelah menonton video, pada Design Thinking terdapat dua
“intan” divergen-konvergen dengan elemen penting yang berbeda. Intan pertama berfokus pada
proses memahami masalah. Dimulai dengan tahapan divergen, perancang melakukan proses
riset untuk mendapatkan berbagai temuan. Semua temuan ini harus dihimpun, tidak perlu
distrukturkan terlebih dahulu. Berangkat dari temuan tersebut, perancang memulai tahapan
konvergen untuk menstrukturkan hasil temuan dan membingkai masalah dengan sudut pandang
tertentu. Masalah yang telah terfokuskan ini menjadi titik awal dari intan kedua.
Intan kedua adalah proses menciptakan solusi atas fokus permasalahan dari intan pertama. Pada
tahapan divergen, perancang mengembangkan ide-ide kreatif dan imajinatif sebanyak-banyaknya
sebagai alternatif solusi. Semua ide ini kemudian dikelompokkan, ditimbang dan dikerucutkan
melalui tahapan konvergen sehingga terpilih 1-2 ide prioritas yang dirasa paling sesuai sebagai
solusi. Setelah melalui proses pengembangan, ide-ide prioritas ini dapat lanjut dieksekusi
menjadi prototipe, yang pada gilirannya perlu diujicobakan agar mendapatkan masukan dari
pengguna.
Design Thinking vs
Scientific Thinking
Menurut Luka (2014), Design Thinking berkebalikan
dengan Scientific Thinking (Pola Pikir Ilmiah) dalam hal pengolahan
hipotesis. Walaupun keduanya bekerja dengan menguji
hipotesis, Scientific Thinking lebih berfokus pada “apa yang
benar/salah”, sedangkan Design Thinking berfokus pada “apa yang
bisa dilakukan”, dengan kata lain mencari solusi/inovasi. Dalam
konteks ini, Design Thinking sebenarnya dapat melengkapi Scientific
Thinking karena kreativitas dan atribut-atribut lain dari Design
Thinking dapat memberi nilai tambah dalam pengambilan keputusan.
Untuk memahami lebih dalam mengenai Design Thinking dan
kreativitas, silakan mempelajari pustaka berikut:

 [Link]. An Introduction to Design Thinking: Process


Guide. Tautan unduh: [Link] ›
MichaelShanks › files (Links to an external site.)
 Kelley, D., Kelley, T. (2022). Creative Confidence: Unleashing
the Creative Potential Within Us All.
IDEO. [Link] (Links to an
external site.)
 Brown, T. (2009). Change by Design: How Design Thinking
Transforms Organizations and Inspires Innovations. Harper-
Collins.
 Roterberg, C.M. (2018) Handbook of Design Thinking: Tips and
Tools for How To Design Thinking. Tautan
unduh: [Link]
 Pressman, A. (2019) Design Thinking: A Guide to Creative
Problem Solving for Everyone. Routledge.

Anda mungkin juga menyukai