0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
166 tayangan44 halaman

Tata Cara Pengangkatan Pengurus RT/RW

Diunggah oleh

husnadi Husnadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
166 tayangan44 halaman

Tata Cara Pengangkatan Pengurus RT/RW

Diunggah oleh

husnadi Husnadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUPATI BOGOR

PERATURAN BUPATI BOGOR


NOMOR 31 TAHUN 2012
TENTANG
TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN
PENGURUS LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA/KELURAHAN,
RUKUN WARGA DAN RUKUN TETANGGA

BUPATI BOGOR,
Menimbang : a. bahwa keberadaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
(LPM), Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) sangat
diperlukan dalam membantu kelancaran pelaksanaan
tugas Pemerintah Desa dan Kelurahan;
b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan pada Pasal 10 dan
Pasal 33 Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 9
Tahun 2011 tentang Lembaga Kemasyarakatan di Desa
dan Kelurahan, perlu mengatur tata cara Pembentukan,
pengangkatan dan pemberhentian pengurus Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Rukun Warga (RW) dan
Rukun Tetangga (RT);
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan
Bupati tentang Tata Cara Pembentukan, Pengangkatan dan
Pemberhentian Pengurus Lembaga Pemberdayaan
Masyarakat Desa/Kelurahan, Rukun Warga dan Rukun
Tetangga;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang
Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam
Lingkungan Propinsi Djawa Barat (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 1950 Nomor 8) sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1968 tentang
Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten
Subang dengan Mengubah Undang-Undang Nomor 14
Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah
Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Djawa Barat
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1968
Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 2851);
2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
[Link]-Undang .........
-2-
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana
telah beberapa kali diubah, terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4587);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2005 tentang
Kelurahan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 159, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4588);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4737);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2008 tentang
Kecamatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Republk Indonesia
Nomor 4826);
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007
tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan;
9. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 3 Tahun 2003
tentang Pembentukan Kecamatan (Lembaran Daerah
Kabupaten Bogor Tahun 2003 Nomor 127);
10. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 9 Tahun 2006
tentang Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Bogor
Tahun 2006 Nomor 254, Tambahan Lembaran Daerah
Kabupaten Bogor Nomor 24);
11. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 7 Tahun 2008
tentang Urusan Pemerintahan yang menjadi Kewenangan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Bogor
Tahun 2008 Nomor 7);
12. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 9 Tahun 2008
tentang Susunan dan Kedudukan Organisasi Perangkat
Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2008
Nomor 9);
13. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 24 Tahun 2008
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan (Lembaran
Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2008 Nomor 24);
[Link] .........
-3-
14. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 25 Tahun 2008
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kelurahan (Lembaran
Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2008 Nomor 25);
15. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 10 Tahun 2009
tentang Kelurahan (Lembaran Daerah Kabupaten Bogor
Tahun 2009 Nomor 10);
16. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 9 Tahun 2010
tentang Pembentukan Sekretariat Daerah (Lembaran
Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2010 Nomor 9);
17. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 9 Tahun 2011
tentang Lembaga Kemasyarakatan di Desa dan Kelurahan
(Lembaran Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2011
Nomor 57);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG TATA CARA


PEMBENTUKAN, PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN
PENGURUS LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DESA/KELURAHAN, RUKUN WARGA DAN RUKUN
TETANGGA.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Kabupaten Bogor.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Bogor.
3. Bupati adalah Bupati Bogor.
4. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kabupaten
Bogor.
5. Kecamatan adalah Perangkat Daerah sebagai unsur
pelaksana kewilayahan pada tingkat kecamatan dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah.
6. Camat adalah pemimpin dan koordinator penyelenggaraan
pemerintahan di wilayah kerja kecamatan yang dalam
pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan kewenangan
pemerintahan dari Bupati untuk menangani sebagian
urusan otonomi daerah dan menyelenggarakan tugas umum
pemerintahan.
7. Keputusan Camat adalah naskah dinas dalam bentuk dan
susunan produk hukum yang dikeluarkan oleh Camat dan
bersifat penetapan.
8. Kelurahan adalah perangkat daerah sebagai unsur
pelaksana kewilayahan pada tingkat kelurahan dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah
[Link]………
-4-
9. Lurah adalah pejabat yang diberikan kewenangan
berdasarkan keputusan Bupati untuk mengepalai
penyelenggaraan pemerintahan di Kelurahan.
10. Keputusan Lurah adalah naskah dinas dalam bentuk dan
susunan produk hukum yang dikeluarkan oleh Lurah dan
bersifat penetapan.
11. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki
batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan
asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
12. Pemerintahan Desa adalah kegiatan pemerintahan yang
dilaksanakan oleh Pemerintah Desa dan Badan
Permusyawaratan Desa.
13. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.
14. Badan Permusyawaratan Desa selanjutnya disebut BPD
adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi
dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan desa.
15. Lembaga Kemasyarakatan adalah lembaga yang dibentuk
oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan
mitra Pemerintah Desa dan Lurah dalam memberdayakan
masyarakat.
16. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan yang
selanjutnya disingkat LPMD/LPMK adalah lembaga
kemasyarakatan yang dibentuk atas prakarsa masyarakat
untuk membantu Pemerintah Desa/Kelurahan dalam
menampung aspirasi masyarakat, merencanakan dan
melaksanakan pembangunan, serta
menumbuhkembangkan swadaya masyarakat dalam
pembangunan.
17. Rukun Warga yang selanjutnya disingkat RW adalah
lembaga kemasyarakatan yang dibentuk dari beberapa RT
melalui musyawarah pengurus RT untuk
mengkoordinasikan kegiatan RT.
18. Rukun Tetangga yang selanjutnya disingkat RT adalah
lembaga kemasyarakatan yang dibentuk melalui
musyawarah masyarakat setempat, untuk memelihara dan
melestarikan nilai-nilai kehidupan yang berdasarkan
kegotong-royongan dan kekeluargaan serta untuk
membantu meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas
pemerintahan, pembangunan, kemasyarakatan di
Desa/Kelurahan serta meningkatkan peran serta
masyarakat dalam pembangunan.
19. Pejabat adalah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan
Pemerintah Daerah.
[Link] .........
-5-
20. Kepala Desa adalah pemimpin penyelenggaraan
pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan di desa.
21. Kepala Dusun atau sebutan lainnya adalah perangkat desa
yang merupakan unsur pelaksana kewilayahan.
22. Peraturan Desa adalah Peraturan Perundang-undangan
yang dibuat oleh BPD bersama Kepala Desa.
23. Peraturan Kepala Desa adalah keputusan yang bersifat
mengatur yang merupakan pelaksanaan dari peraturan
desa, atau kebijakan kepala desa yang menyangkut
pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.
24. Keputusan Kepala Desa adalah keputusan yang bersifat
menetapkan yang merupakan pelaksanaan dari peraturan
desa, peraturan Kepala Desa atau kebijakan Kepala Desa
yang menyangkut pemerintahan, pembangunan dan
kemasyarakatan.
25. Kepala Keluarga adalah :
a. orang yang bertempat tinggal dengan orang lain baik
mempunyai hubungan darah maupun tidak, yang
bertanggung jawab terhadap keluarga;
b. orang yang bertempat tinggal seorang diri;atau
c. kepala kesatrian, asrama, rumah yatim piatu dan lain-
lain dimana beberapa orang bertempat tinggal bersama-
sama.
26. Peristiwa kependudukan adalah kejadian yang dialami
penduduk yang harus dilaporkan karena membawa akibat
terhadap penerbitan atau perubahan kartu keluarga, Kartu
tanda Penduduk, Kartu Identitas Anak dan Surat
keterangan kependudukan lainnya meliputi perubahan
alamat, pindah datang, perubahan status tinggal terbatas
menjadi tinggal tetap, serta tinggal sementara.
27. Pembinaan dan pengawasan adalah kegiatan pemberian
pedoman, standar pelaksanaan, perencanaan, penelitian,
pengembangan, bimbingan, pendidikan dan pelatihan,
konsultasi, supervisi, monitoring, pengawasan umum dan
evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan Pemerintahan
Desa/Kelurahan dan Lembaga Kemasyarakatan.

BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 2
(1) Maksud dari Peraturan Bupati ini adalah memberikan
pedoman dalam pelaksanaan pembentukan, pengangkatan
dan pemberhentian pengurus LPMD/LPMK, RW dan RT.
(2)Tujuan ………
-6-
(2) Tujuan Peraturan Bupati ini antara lain :
a. memelihara dan melestarikan nilai-nilai kehidupan
masyarakat Indonesia yang berdasarkan kegotong
royongan dan kekeluargaan;
b. meningkatkan kelancaran keberhasilan pembangunan di
Desa/Kelurahan;
c. meningkatkan potensi swadaya gotong royong
masyarakat dalam usaha meningkatkan kesejahteraan
masyarakat; dan
d. meningkatkan keberhasilan pelaksanaan pembangunan
Desa/Kelurahan dengan melibatkan seluruh komponen
masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian dan tindak lanjut hasil pembangunan yang
bertumpu pada kepentingan masyarakat.

BAB III
PEMBENTUKAN
Pasal 3
Untuk membantu kelancaran tugas dan sebagai mitra Kepala
Desa/Lurah dalam penyelenggaraan pemerintahan,
pembangunan serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat
di desa dan kelurahan dibentuk LPMD/LPMK, RW dan RT.

BAB IV
LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA/KELURAHAN
Bagian Kesatu
Tata Cara Pembentukan
Pasal 4
(1) Pembentukan LPMD/LPMK di desa dan kelurahan
dilakukan atas prakarsa masyarakat dan/atau atas
prakarsa masyarakat yang difasilitasi Pemerintah
Desa/Kelurahan melalui musyawarah mufakat.
(2) Musyawarah Mufakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
diikuti oleh para Ketua RW, Ketua RT, tokoh masyarakat,
Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan
Desa/Kelurahan setempat serta dihadiri oleh pejabat.
(3) Hasil musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
dituangkan dalam berita acara dan disampaikan kepada
Kepala Desa/Lurah untuk mendapat penetapan.
(4) Pembentukan LPMD sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa.
(5) Pembentukan LPMK sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
ditetapkan dengan Keputusan Camat.
Bagian Kedua ………
-7-
Bagian Kedua
Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Pengurus
Paragraf 1
Susunan Organisasi
Pasal 5
(1) Susunan organisasi pengurus LPMD/LPMK terdiri dari :
a. ketua;
b. sekretaris;
c. bendahara; dan
d. ketua Bidang.
(2) Jumlah bidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf d, terdiri dari :
a. bidang Pendidikan;
b. bidang Kesehatan;
c. bidang Perekonomian dan Pembangunan;
d. bidang Pemuda dan Olahraga;
e. bidang Keagamaan;
f. bidang Pemberdayaan Perempuan; dan
g. bidang Kesejahteraan Sosial.
(3) Bidang-bidang sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
disesuaikan dengan kebutuhan.

Paragraf 2
Tugas Pengurus
Pasal 6
(1) Ketua LPMD/LPMK mempunyai tugas membantu Kepala
Desa/Lurah dalam penyusunan rencana kerja
pembangunan secara partisipatif, menggerakan swadaya
gotong royong masyarakat, melaksanakan dan
mengendalikan pembangunan.
(2) Sekretaris LPMD/LPMK mempunyai tugas membantu Ketua
dalam penyelenggaraan administrasi dan pelayanan
ketatausahaan.
(3) Bendahara LPMD/LPMK mempunyai tugas membantu
Ketua dalam melaksanakan pengelolaan administrasi
keuangan LPMD/LPMK.
(4) Ketua Bidang LPMD/LPMK mempunyai tugas membantu
Ketua dalam pelaksanaan kegiatan sesuai bidangnya
masing-masing.

Paragraf 3 ………
-8-
Paragraf 3
Fungsi Pengurus
Pasal 7
(1) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (1), Ketua LPMD/LPMK mempunyai fungsi :
a. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat
dalam pembangunan;
b. menumbuhkembangkan dan menggerakkan partisipasi
serta swadaya masyarakat;
c. penanaman dan pemupukan rasa persatuan dan
kesatuan masayarakat dalam kerangka memperkokoh
Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan
d. mengkoordinasikan, mengendalikan dan mengevaluasi
kegiatan LPMD/LPMK;
(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (2), Sekretaris LPMD/LPMK mempunyai fungsi :
a. mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan;
b. melakukan pengumpulan dan pengelolaan data;
c. peningkatan kualitas dan percepatan pelayanan
pemerintah kepada masyarakat; dan
d. melakukan pengelolaan administrasi dan pelaporan;
(3) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (3), Bendahara LPMD/LPMK mempunyai
fungsi:
a. menerima, mencatat, menyimpan dan mengeluarkan
serta mempertanggungjawabkan keuangan
LPMD/LPMK; dan
b. mengadakan pencatatan hasil swadaya dan/atau hasil
gotong-royong masyarakat dalam kegiatan
pembangunan.
(4) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (4), Ketua Bidang LPMD/LPMK mempunyai
fungsi :
a. menyusun rencana, melaksanakan dan
mempertanggungjawabkan kegiatan pembangunan
sesuai bidangnya masing-masing;
b. penggalian, pendayagunaan dan pengembangan potensi
sumberdaya alam serta keserasian lingkungan
lingkungan hidup;
c. melakukan koordinasi dengan bidang lainnya demi
terwujudnya keserasian pelaksanaan pembangunan;
d. penyelarasan berbagai kegiatan di bidang pendidikan,
kesehatan, perekonomian dan keagamaan; dan
e. memberikan saran dan pendapat kepada ketua.

Bagian Ketiga ………


-9-
Bagian Ketiga
Persyaratan menjadi Pengurus
Pasal 8
Pengurus LPMD/LPMK harus memenuhi syarat-syarat :
a. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. setia dan taat kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Kepada Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
c. berdomisili dan mempunyai identitas sebagai warga di
wilayah setempat;
d. berpendidikan paling rendah tamatan Sekolah Dasar
dan/atau sederajat;
e. berusia paling rendah 21 (dua puluh satu) tahun untuk
laki-laki dan 19 (sembilan belas) tahun untuk perempuan
atau pernah menikah;
f. berkelakuan baik, jujur dan adil;
g. sehat jasmani dan rohani;
h. tidak dicabut hak pilihnya sesuai dengan putusan
pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap;
i. tidak merangkap sebagai pengurus lembaga
kemasyarakatan lainnya;
j. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di
Desa/Kelurahan setempat; dan
k. diusulkan oleh ketua RW dan bersedia dicalonkan menjadi
anggota atau pengurus LPMD/LPMK.

Bagian Keempat
Tata Cara Pengangkatan Pengurus
Pasal 9
(1) Pengangkatan pengurus LPMD/LPMK dilakukan secara
musyawarah mufakat yang dihadiri Kepala Desa/Lurah
atau yang mewakili.
(2) Peserta musyawarah adalah keterwakilan dari unsur
pengurus RT, pengurus RW, pengurus PKK, pengurus
Karang Taruna, pengurus Lembaga Kemasyarakatan lainnya
serta tokoh masyarakat yang memenuhi keterwakilan
masyarakat dengan memperhatikan keadilan dan
kesetaraan gender.
(3) Musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilaksanakan untuk :
a. membentuk panitia musyawarah;
b. melakukan musyawarah pengangkatan pengurus
LPMD/LPMK.
(4)Panitia ………
-10-
(4) Panitia Musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
huruf a terdiri dari Ketua, Sekretaris dan beberapa anggota
sesuai kebutuhan.
(5) Panitia Musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (4),
ditetapkan oleh Kepala Desa/Lurah.
(6) Tugas Panitia Musyawarah sebagaimana dimaksud pada
ayat (4), yaitu :
a. menyampaikan tata cara musyawarah pengangkatan
pengurus LPMD/LPMK;
b. menerima nama-nama calon pengurus;
c. melaksanakan musyawarah pengangkatan pengurus
LPMD/LPMK; dan
d. membuat dan melaporkan berita acara hasil
musyawarah.
(7) Calon pengurus LPMD/LPMK yang akan dipilih
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf b adalah
anggota masyarakat yang merupakan keterwakilan masing-
masing RW serta diusulkan oleh masing-masing Ketua RW
dan telah dimusyawarahkan terlebih dahulu di RW yang
bersangkutan.

Pasal 10
(1) Musyawarah pengangkatan pengurus LPMD/LPMK
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, adalah untuk
memilih Ketua, Sekretaris dan Bendahara.
(2) Musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dinyatakan sah apabila dihadiri sekurang kurangnya 2/3
(dua per tiga) dari jumlah yang diundang dan apabila
jumlah peserta tidak memenuhi quorum, maka musyawarah
pengangkatan pengurus LPMD/LPMK dapat ditunda atau
dilakukan musyawarah kembali paling lama 1 (satu) minggu
terhitung sejak musyawarah sebelumnya.
(3) Apabila dalam musyawarah kedua sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), tetap tidak memenuhi quorum, maka
pemilihan pengurus LPMD/LPMK dapat dilanjutkan dan
dianggap sah.
(4) Apabila dalam musyawarah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), tidak tercapai kata mufakat, maka dilakukan
pemilihan atau voting dengan mekanisme suara terbanyak.
(5) Ketua, Sekretaris dan Bendahara terpilih sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), bertugas menyusun kepengurusan
lainnya.
(6) Hasil musyawarah pemilihan pengurus LPMD/LPMK
dituangkan dalam Berita Acara Hasil Musyawarah serta
ditandatangani panitia dan disampaikan kepada Kepala
Desa/Lurah paling lama 2 (dua) hari setelah pelaksanaan
musyawarah untuk mendapat pengesahan.
(7) Pengurus LPMD/LPMK terpilih sebagaimana dimaksud pada
ayat (6) dikukuhkan oleh Kepala Desa/Lurah.
Bagian Kelima ………
-11-
Bagian Kelima
Hak, Kewajiban dan Larangan Pengurus
Paragraf 1
Hak dan Kewajiban Pengurus
Pasal 11
(1) Pengurus LPMD/LPMK mempunyai hak :
a. mendapatkan informasi kegiatan pembangunan di
desa/kelurahan;
b. mengajukan usul dan pendapat dalam musyawarah
LPMD/LPMK; dan
c. memperoleh biaya operasional penunjang kegiatan.
(2) Pengurus LPMD/LPMK mempunyai kewajiban :
a. menampung aspirasi masyarakat dalam perencanaan
pembangunan desa/kelurahan;
b. melakukan sosialisasi berbagai kegiatan pembangunan
yang ada di desa/kelurahan;
c. melaksanakan musyawarah LPMD/LPMK; dan
d. berperan aktif melaksanakan keputusan musyawarah
LPMD/LPMK.

Paragraf 2
Larangan Pengurus
Pasal 12
Pengurus LPMD/LPMK dilarang :
a. merangkap jabatan sebagai Kepala Desa, Ketua atau
anggota BPD, dan/atau pengurus lembaga kemasyarakatan
lainnya;
b. bersikap dan bertindak tidak adil, diskriminatif,
meresahkan masyarakat serta mempersulit dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat;
c. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan, norma dan adat istiadat setempat;
dan
d. menghasut masyarakat untuk kepentingan pribadi,
kelompok atau golongannya.

Bagian Keenam ………


-12-
Bagian Keenam
Pemberhentian dan Pergantian Pengurus
Pasal 13
(1) Pengurus LPMD/LPMK berhenti atau diberhentikan karena :
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri;
c. pindah tempat tinggal dan menjadi penduduk di wilayah
lain;
d. melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12; dan
e. tidak melaksanakan tugas dan fungsinya;
(2) Apabila terdapat pengurus LPMD/LPMK yang berhenti atau
diberhentikan sebelum masa bhaktinya berakhir, paling
lambat dalam 1 (satu) bulan harus dilakukan
pengisian/pergantian pengurus.
(3) Mekanisme pergantian pengurus, dilakukan secara
musyawarah mufakat melalui rapat pengurus setelah
dikonsultasikan dengan Kepala Desa/Lurah.
(4) Masa bhakti pengurus pengganti sesuai dengan sisa masa
bhakti pengurus yang diganti.
(5) Hasil musyawarah pergantian pengurus LPMD/LPMK,
dituangkan dalam berita acara musyawarah pengurus dan
disampaikan kepada Kepala Desa/Lurah paling lama 2 (dua)
hari setelah pelaksanaan musyawarah untuk mendapat
pengesahan.

Bagian Ketujuh
Musyawarah LPMD/LPMK
Pasal 14
(1) Musyawarah pengurus LPMD/LPMK adalah musyawarah
yang diikuti oleh seluruh pengurus LPMD/LPMK dan
merupakan sarana dalam pengambilan keputusan.
(2) Musyawarah sebagaimana dimaksud ayat (1) berfungsi
untuk :
a. penentuan dan perumusan program kerja;
b. membahas secara teknis pelaksanaan kegiatan
pembangunan;
c. melakukan evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan
yang dilaksanakan; dan
d. membahas pemberhentian dan pergantian pengurus.
(3) Musyawarah sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf a, huruf
b dan huruf c, dilaksanakan paling sedikit 2 (dua) kali
dalam setahun.
(4) Musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dinyatakan sah dan dapat menetapkan suatu keputusan
apabila disetujui sekurang-kurangnya ½ (satu per dua)
ditambah 1 (satu).
BAB V ………
-13-
BAB V
RUKUN WARGA
Bagian Kesatu
Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan
Paragraf 1
Tata Cara Pembentukan
Pasal 15
(1) Pembentukan RW dapat berasal dari Pembentukan RW
baru, Pemekaran dari 1 (satu) RW menjadi 2 (dua) RW atau
lebih dan/atau penggabungan dari beberapa RW atau
bagian RW yang bersandingan.
(2) Pembentukan RW sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berasal dari prakarsa masyarakat setelah
mendapatkan pertimbangan dari Kepala Desa/Lurah.
(3) Setiap RW paling sedikit terdiri dari 3 (tiga) RT untuk desa
dan 5 (lima) RT untuk kelurahan.
(4) Bagi wilayah pemukiman tertentu yang tidak memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tetapi
mempunyai jarak yang cukup jauh dari RW terdekat, dapat
dibentuk RW baru yang terdiri dari sekurang-kurangnya 2
(dua) RT.

Pasal 16
(1) Pembentukan RW sebagaimana dimaksud dalam pasal 15
dilakukan melalui musyawarah oleh para pengurus RT,
pengurus RW setempat serta tokoh masyarakat yang
dipimpin oleh ketua RW dan dihadiri oleh Kepala
Desa/Lurah.
(2) Musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilaksanakan apabila di hadiri oleh paling sedikit 2/3 (dua
per tiga) dari jumlah pengurus RT dan dihadiri Pengurus
RW setempat.
(3) Pengurus RT yang mempunyai hak suara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) adalah Ketua, Sekretaris dan
Bendahara.
(4) Pembentukan RW dinyatakan sah apabila disetujui
sekurang-kurangnya ½ (satu per dua) ditambah 1 (satu)
dari jumlah yang hadir dalam musyawarah tersebut.
(5) Hasil musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dituangkan dalam berita acara dan disampaikan kepada
Kepala Desa/Lurah untuk mendapat penetapan.
(6) Pembentukan RW di desa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan dengan Peraturan Desa dan pembentukan
RW di kelurahan ditetapkan dengan Keputusan Camat.
Pasal 17 .........
-14
Pasal 17
Nama-nama RW diberi nomor berdasarkan nomor urut
pembentukan di setiap Desa/Kelurahan dan dapat diikuti nama
wilayah, nama perumahan, komplek, asrama atau sejenisnya.

Paragraf 2
Penghapusan dan Penggabungan
Pasal 18
(1) Penghapusan atau penggabungan RW dapat dilakukan
apabila dalam satu RW tidak lagi memenuhi persyaratan
jumlah RT akibat dari perpindahan penduduk, bencana
alam dan peristiwa-peristiwa kependudukan lainnya.
(2) Penghapusan atau penggabungan RW di Desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Desa
dan penghapusan atau penggabungan RW di Kelurahan
ditetapkan dengan Keputusan Camat.

Bagian Kedua
Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Pengurus
Paragraf 1
Susunan Organisasi
Pasal 19
(1) Susunan Organisasi Pengurus RW terdiri dari :
a. ketua;
b. sekretaris;
c. bendahara; dan
d. seksi.
(2) Jumlah seksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d
dapat terdiri dari :
a. seksi Kesejahteraan Sosial;
b. seksi Pembangunan; dan
c. seksi Ketentraman dan Ketertiban.
(3) Seksi-seksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
disesuaikan dengan kebutuhan.

Paragraf 2 .........
-15-
Paragraf 2
Tugas Pengurus
Pasal 20
(1) Ketua RW mempunyai tugas membantu Kepala Desa/Lurah
dalam pelayanan kepada masyarakat.
(2) Sekretaris RW mempunyai tugas membantu ketua RW
dalam menyelenggarakan administrasi dan pelayanan
ketatausahaan.
(3) Bendahara RW mempunyai tugas membantu Ketua RW
dalam melaksanakan pengelolaan administrasi keuangan
RW.
(4) Ketua Seksi mempunyai tugas membantu Ketua RW dalam
memimpin dan mengendalikan kegiatan pada seksinya
masing-masing.

Paragraf 3
Fungsi Pengurus
Pasal 21
(1) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 20 ayat (1), Ketua RW mempunyai fungsi :
a. memelihara kerukunan hidup warga;
b. menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Kepala
Desa/Lurah;
c. mengkoordinasikan pelaksanaan tugas ketua RT di
wilayahnya; dan
d. menyampaikan laporan pelaksanaan tugas dan
fungsinya kepada Kepala Desa/Lurah.
(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 20 ayat (2), Sekretaris RW mempunyai fungsi:
a. mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan;
b. melakukan pengumpulan dan pengolahan data; dan
c. melakukan pengelolaan administrasi dan pelaporan.
(3) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 20 ayat (3), Bendahara RW mempunyai fungsi :
a. menerima, mencatat, menyimpan dan mengeluarkan
serta mempertanggungjawabkan keuangan RW; dan
b. melakukan pencatatan hasil swadaya dan/atau hasil
gotong-royong masyarakat dalam kegiatan
pembangunan.

(4)Untuk ………
-16-
(4) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 20 ayat (4) Ketua Seksi mempunyai fungsi :
a. menyusun rencana, melaksanakan dan
mempertangungjawabkan kegiatan sesuai seksinya
masing-masing;
b. melakukan koordinasi dengan seksi lainnya demi
terwujudnya keserasian pelaksanaan tugas;
c. melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah
dilakukan; dan
d. memberikan saran dan pendapat kepada ketua
dan/atau sekretaris.

Bagian Ketiga
Persyaratan menjadi Pengurus
Pasal 22
Pengurus RW harus memenuhi syarat-syarat :
a. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan kepada Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
c. berdomisili dan mempunyai identitas sebagai warga di
wilayah setempat.
d. berpendidikan paling rendah tamatan Sekolah Dasar
dan/atau sederajat;
e. berusia paling rendah 21 (dua puluh satu) tahun untuk
laki-laki dan 19 (sembilan belas) tahun untuk perempuan
atau pernah menikah;
f. berkelakuan baik, jujur dan adil;
g. sehat jasmani dan rokhani;
h. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di
desa/kelurahan setempat;
i. tidak dicabut hak pilihnya sesuai dengan putusan
pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap; dan
j. tidak merangkap sebagai pengurus lembaga
kemasyarakatan lainnya.

Bagian Keempat
Tata Cara Pengangkatan Pengurus
Pasal 23
(1) Pemilihan Pengurus RW dilakukan secara musyawarah
mufakat yang di fasilitasi oleh panitia dan disaksikan oleh
Kepala Desa/Lurah atau unsur wilayah setempat.
(2) Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk
berdasarkan rapat pengurus RW paling lambat 1 (satu)
bulan sebelum berakhirnya masa bhakti kepengurusan RW.
(3) Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari
Ketua, Sekretaris dan beberapa anggota sesuai kebutuhan.
(4)Panitia ………
-17-
(4) Panitia Musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
ditetapkan oleh Kepala Desa/Lurah.
(5) Tugas panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (2), yaitu :
a. melakukan sosialisasi tentang rencana pemilihan
pengurus RW;
b. menerima nama-nama calon pengurus RW;
c. memimpin musyawarah mufakat dalam pemilihan
pengurus RW; dan
d. membuat dan melaporkan berita acara hasil
musyawarah pemilihan Kepala Desa/Lurah.

Pasal 24
(1) Musyawarah Pemilihan Pengurus RW sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 diikuti oleh seluruh pengurus RT
dan perwakilan tokoh masyarakat yang ada di lingkungan
RW setempat.
(2) Pengurus RT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
mempunyai hak suara adalah Ketua, Sekretaris dan
Bendahara.
(3) Musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dinyatakan sah apabila dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per
tiga) dari jumlah yang diundang dan apabila jumlah peserta
tidak memenuhi quorum, maka dilakukan musyawarah
kembali paling lama 1 (satu) minggu setelah musyawarah
sebelumnya.
(4) Apabila dalam musyawarah kedua sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) tetap tidak memenuhi quorum, maka
pemilihan pengurus RW dapat dilanjutkan dan dianggap
sah.

Pasal 25
(1) Musyawarah pemilihan Pengurus RW sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 24 dilakukan untuk menetapkan
Ketua, Sekretaris dan Bendahara.
(2) Apabila dalam musyawarah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak tercapai kata mufakat, maka dilakukan
musyawarah dengan mekanisme suara terbanyak.
(3) Ketua, Sekretaris dan Bendahara terpilih bertugas
menyusun kepengurusan lainnya.
(4) Hasil musyawarah pemilihan pengurus RW dituangkan
dalam berita acara hasil musyawarah serta ditandatangani
panitia dan disampaikan kepada Kepala Desa/Lurah paling
lama 2 (dua) hari setelah pelaksanaan musyawarah untuk
mendapat pengesahan.
(5) Pengurus RW terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
selanjutnya ditetapkan oleh Kepala Desa/Lurah dalam
Surat Keputusan.
Bagian Kelima ………
-18-
Bagian Kelima
Hak, Kewajiban dan Larangan Pengurus
Paragraf 1
Hak dan Kewajiban Pengurus
Pasal 26
(1) Pengurus RW mempunyai hak:
a. menyampaikan saran dan pertimbangan kepada Kepala
Desa atau Lurah atau pengurus RT mengenai hal-hal
yang berhubungan dengan kelancaran pelaksanaan
tugas pemerintahan, pembangunan dan
kemasyarakatan;
b. mengajukan usul dan pendapat dalam musyawarah RW;
c. mendapatkan informasi kegiatan pembangunan di
wilayah kerjanya; dan
d. memperoleh biaya operasional penunjang kegiatan.
(2) Pengurus RW mempunyai kewajiban:
a. memimpin dan mengayomi masyarakat di wilayah
kerjanya;
b. melaksanakan tugas dan fungsinya;
c. melaksanakan keputusan musyawarah RW;
d. melaksanakan musyawarah RW;
e. menyampaikan laporan pertanggungjawaban
pelaksanaan tugas RW dalam musyawarah RW; dan
f. melaporkan permasalahan yang timbul dalam
masyarakat kepada Kepala Desa/Lurah untuk mendapat
penyelesaian.

Paragraf 2
Larangan Pengurus
Pasal 27
Pengurus RW dilarang :
a. merangkap jabatan sebagai Kepala Desa, Ketua atau
anggota BPD, dan/atau pengurus lembaga kemasyarakatan
lainnya;
b. bersikap dan bertindak tidak adil, diskriminatif,
meresahkan masyarakat serta mempersulit dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat;
c. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan, norma dan adat istiadat setempat;
dan
d. menghasut masyarakat untuk kepentingan pribadi,
kelompok atau golongannya;
Bagian Keenam ………
-19-
Bagian Keenam
Pemberhentian dan Pergantian Pengurus
Pasal 28
(1) Pengurus RW berhenti atau diberhentikan karena :
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri;
c. pindah tempat tinggal dan menjadi penduduk di wilayah
lain;
d. melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
27; dan
e. tidak melaksanakan tugas dan fungsinya;
(2) Apabila terdapat pengurus RW yang berhenti atau
diberhentikan sebelum masa bhaktinya berakhir, paling
lama 1 (satu) bulan, harus dilakukan pengisian/pergantian
pengurus.
(3) Tata cara pergantian pengurus, dilakukan secara
musyawarah mufakat melalui rapat pengurus setelah
dikonsultasikan dengan Kepala Desa/Lurah.
(4) Dalam hal Ketua RW berhenti atau diberhentikan, maka
sekretaris melaksanakan tugas sampai terpilihnya Ketua
RW yang baru.
(5) Masa bhakti pengurus pengganti sesuai dengan sisa masa
bhakti pengurus yang diganti.
(6) Hasil musyawarah pergantian pengurus RW, dituangkan
dalam berita acara musyawarah pengurus dan disampaikan
kepada Kepala Desa/Lurah paling lama 2 (dua) hari setelah
pelaksanaan musyawarah untuk mendapat pengesahan.

Bagian Ketujuh
Musyawarah RW
Pasal 29
(1) Musyawarah RW merupakan wadah permusyawaratan dan
pemufakatan yang dihadiri oleh pengurus RW, pengurus RT
dan tokoh masyarakat.
(2) Musyawarah RW sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berfungsi untuk :
a. menentukan dan merumuskan program kerja RW;
b. sarana penyampaian keterangan pertanggungjawaban
pengurus;
c. memfasilitasi penyelesaian masalah di lingkungannya;
dan
d. memilih pengurus, membahas pemberhentian dan
pergantian pengurus.
(3) Musyawarah RW sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf a dan huruf b, diadakan sekurang-kurangnya 1 (satu)
kali dalam 1 (satu) tahun.
BAB VI ………
-20-
BAB VI
RUKUN TETANGGA
Bagian Kesatu
Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan
Paragraf 1
Tata Cara Pembentukan
Pasal 30
(1) Pembentukan RT dapat berasal pembentukan RT baru,
pemekaran dari 1 (satu) RT menjadi 2 (dua) RT atau lebih
dan penggabungan dari beberapa RT atau bagian RT yang
bersandingan.
(2) Pembentukan RT sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berasal dari prakarsa masyarakat setelah
mendapatkan pertimbangan dari Kepala Desa/Lurah.
(3) Setiap RT paling sedikit terdiri dari 50 KK untuk desa dan
75 KK untuk kelurahan.
(4) Pembentukan RT dapat dilaksanakan apabila dihadiri oleh
paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah Kepala
Keluarga.
(5) Pembentukan RT dinyatakan sah apabila disetujui
sekurang-kurangnya 1/2 (satu per dua) ditambah 1 (satu)
dari jumlah yang hadir dalam musyawarah tersebut.

Pasal 31
(1) Pembentukan RT dilakukan melalui musyawarah oleh para
Kepala Keluarga atau yang mewakili, pengurus RT dan
tokoh masyarakat serta dihadiri oleh Ketua RW setempat.
(2) Hasil musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dituangkan dalam berita acara dan disampaikan kepada
Kepala Desa/Lurah untuk mendapat penetapan.
(3) Pembentukan RT di Desa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan dengan Peraturan Desa.
(4) Pembentukan RT di Kelurahan ditetapkan dengan
Keputusan Camat.

Pasal 32
Nama-nama RT diberi nomor berdasarkan nomor urut
pembentukan di setiap RW dan diikuti dengan nama RW.

Paragraf 2 .........
-21-
Paragraf 2
Penghapusan dan Penggabungan
Pasal 33
(1) Penghapusan atau penggabungan RT dapat dilakukan
apabila dalam satu RT tidak lagi memenuhi persyaratan
jumlah kepala keluarga akibat dari perpindahan penduduk,
bencana alam dan peristiwa-peristiwa kependudukan
lainnya.
(2) Penghapusan atau penggabungan RT di desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Desa.
(3) Penghapusan atau penggabungan RT di kelurahan
ditetapkan dengan Keputusan Camat.

Bagian Kedua
Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Pengurus
Paragraf 1
Susunan Organisasi
Pasal 34
(1) Susunan Organisasi Pengurus RT terdiri dari :
a. ketua;
b. sekretaris;
c. bendahara; dan
d. seksi.
(2) Jumlah seksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d
dapat terdiri dari :
a. seksi kesejahteraan sosial;
b. seksi pemuda, olahraga dan kesenian;
c. seksi pembangunan
d. seksi kependudukan; dan
e. seksi ketentraman dan ketertiban.
(3) Seksi-seksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
disesuaikan dengan kebutuhan.

Paragraf 2
Tugas Pengurus
Pasal 35
(1) Ketua RT mempunyai tugas membantu Kepala Desa/Lurah
dalam pelayanan kepada masyarakat.
(2) Sekretaris RT mempunyai tugas membantu ketua RT dalam
menyelenggarakan administrasi dan pelayanan
ketatausahaan.
(3) Bendahara RT mempunyai tugas membantu ketua RT dalam
melaksanakan pengelolaan administrasi keuangan RT.
(4) Ketua Seksi mempunyai tugas membantu ketua RT dalam
memimpin dan mengendalikan kegiatan pada seksinya
masing-masing.
Paragraf 3 ………
-22-
Paragraf 3
Fungsi Pengurus
Pasal 36
(1) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 35 ayat (1), Ketua RT mempunyai fungsi :
a. memelihara kerukunan hidup warga;
b. menggerakkan partisipasi, gotong royong dan swadaya
masyarakat;
c. membantu mensosialisasikan dan melaksanakan setiap
program pemerintah;
d. mengelola dan mengendalikan data kependudukan di
wilayah kerjanya;
e. menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Kepala
Desa/Lurah; dan
f. menyampaikan laporan pelaksanaan tugas dan
fungsinya kepada kepala Desa/Lurah.
(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dalam Pasal 35
ayat (2), Sekretaris RT mempunyai fungsi:
a. mencatat seluruh pelaksanaan kegiatan;
b. melakukan pengumpulan dan pengolahan data
kependudukan; dan
c. melakukan pengelolaan administrasi dan pelaporan.
(3) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dalam Pasal 35
ayat (3), Bendahara RT mempunyai fungsi :
a. menerima, mencatat, menyimpan dan mengeluarkan
serta mempertanggungjawabkan keuangan RT; dan
b. melakukan pencatatan hasil swadaya dan/atau hasil
gotong-royong masyarakat dalam kegiatan
pembangunan.
(4) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dalam Pasal 35
ayat (4), Ketua Seksi mempunyai fungsi :
a. menyusun rencana, melaksanakan dan
mempertangungjawabkan kegiatan sesuai seksinya
masing-masing;
b. melakukan koordinasi dengan seksi lainnya demi
terwujudnya keserasian pelaksanaan tugas;
c. melakukan evaluasi dan pelaporan terhadap kegiatan
yang telah dilakukan; dan
d. memberikan saran dan pendapat kepada ketua.
Bagian Ketiga ………
-23-
Bagian Ketiga
Persyaratan menjadi Pengurus
Pasal 37
Pengurus RT harus memenuhi syarat-syarat :
a. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. setia dan taat kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
c. berdomisili dan mempunyai identitas sebagai warga di
wilayah setempat.
d. berpendidikan paling rendah tamatan Sekolah Dasar
dan/atau sederajat;
e. berusia paling rendah 21 (dua puluh satu) tahun untuk
laki-laki dan 19 (sembilan belas) tahun untuk perempuan
atau pernah menikah;
f. berkelakuan baik, jujur dan adil;
g. sehat jasmani dan rohani;
h. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di
Desa/Kelurahan setempat;
i. tidak dicabut hak pilihnya sesuai dengan putusan
pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap; dan
j. tidak merangkap sebagai pengurus lembaga
kemasyarakatan lainnya.

Bagian Keempat
Tata Cara Pengangkatan Pengurus
Pasal 38
(1) Pengurus RT dipilih dalam suatu musyawarah secara
mufakat oleh para kepala keluarga yang difasilitasi oleh
panitia dan disaksikan oleh Ketua RW.
(2) Kepala keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
adalah kepala keluarga yang telah memiliki KTP/KK atau
telah tercatat sebagai Warga dan bertempat tinggal di
wilayah RT.
(3) Apabila kepala keluarga berhalangan hadir, maka dapat
diwakilkan kepada salah satu anggota keluarga yang telah
berusia 17 (tujuh belas) tahun atau pernah menikah.
(4) Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk
berdasarkan rapat pengurus RT bersama tokoh masyarakat
yang di fasilitasi Ketua RW paling lama 1 (satu) bulan
sebelum berakhirnya masa bhakti kepengurusan RT.
(5) Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (4), terdiri dari
Ketua, Sekretaris dan beberapa anggota sesuai kebutuhan.
(6) Panitia Musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (5),
ditetapkan oleh Kepala Desa/Lurah.
(7)Tugas ………
-24-
(7) Tugas panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (6) yaitu :
a. melakukan sosialisasi tentang rencana pemilihan
pengurus RT;
b. menerima nama-nama calon pengurus RT;
c. melaksanakan musyawarah mufakat dalam pemilihan
pengurus RT; dan
d. membuat dan melaporkan berita acara hasil
musyawarah kepada Kepala Desa/Lurah melalui Ketua
RW.

Pasal 39
(1) Musyawarah Pemilihan Pengurus RT sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 38 diikuti oleh seluruh Kepala
Keluarga di lingkungan RT setempat dan dihadiri Ketua RW.
(2) Musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dinyatakan sah apabila dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per
tiga) dari jumlah yang diundang dan apabila jumlah peserta
tidak memenuhi quorum, maka dilakukan musyawarah
kembali paling lama 1 (satu) minggu setelah musyawarah
sebelumnya.
(3) Apabila dalam musyawarah kedua sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) tetap tidak memenuhi quorum, maka
pemilihan pengurus RT dapat dilanjutkan dan dianggap
sah.
(4) Musyawarah pemilihan Pengurus RT sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menetapkan
Ketua, Sekretaris dan Bendahara.
(5) Apabila dalam musyawarah mufakat tidak tercapai kata
mufakat, maka panitia dapat melaksanakan pemilihan
berdasarkan suara terbanyak.
(6) Ketua, Sekretaris dan Bendahara terpilih bertugas
menyusun kepengurusan lainnya.
(7) Hasil musyawarah pemilihan pengurus RT dituangkan
dalam berita acara hasil musyawarah serta ditandatangani
panitia dan disampaikan kepada Kepala Desa/Lurah
melalui ketua RW paling lama 2 (dua) hari setelah
pelaksanaan musyawarah untuk mendapat pengesahan.
(8) Pengurus RT terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
selanjutnya ditetapkan oleh Kepala Desa/Lurah dalam
Surat Keputusan.

Bagian Kelima ………


-25-
Bagian Kelima
Hak, Kewajiban dan Larangan Pengurus
Paragraf 1
Hak dan Kewajiban Pengurus
Pasal 40
(1) Pengurus RT mempunyai hak:
a. menyampaikan saran dan pertimbangan kepada Kepala
Desa atau Lurah atau pengurus RW mengenai hal-hal
yang berhubungan dengan kelancaran pelaksanaan
tugas pemerintahan, pembangunan dan
kemasyarakatan;
b. menyampaikan saran dan pertimbangan yang
berhubungan dengan aspirasi atau kepentingan warga;
c. mengajukan usul dan pendapat dalam musyawarah RW;
d. mendapatkan informasi kegiatan pembangunan di
wilayah kerjanya; dan
e. memperoleh biaya operasional penunjang kegiatan.
(2) Pengurus RT mempunyai kewajiban:
a. memimpin dan mengayomi masyarakat di wilayah
kerjanya;
b. melaksanakan tugas dan fungsinya;
c. melaksanakan keputusan musyawarah RT;
d. melaksanakan musyawarah RT;
e. membina kerukunan hidup warga.
f. menyampaikan laporan keterangan pelaksanaan tugas
dalam musyawarah warga; dan
g. melaporkan permasalahan yang timbul dalam
masyarakat kepada Kepala Desa/Lurah melalui ketua
RW untuk mendapat penyelesaian.

Paragraf 2
Larangan Pengurus
Pasal 41
Pengurus RT dilarang :
a. merangkap jabatan sebagai Kepala Desa, Ketua atau
anggota BPD, dan/atau pengurus lembaga kemasyarakatan
lainnya;
b. bersikap dan bertindak tidak adil, diskriminatif,
meresahkan sekelompok masyarakat serta mempersulit
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat;
c. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan, norma dan adat istiadat setempat;
dan
d. menghasut masyarakat untuk kepentingan pribadi,
kelompok atau golongannya;
Bagian Keenam ………
-26-
Bagian Keenam
Pemberhentian dan Pergantian Pengurus
Pasal 42
(1) Pengurus RT berhenti atau diberhentikan karena :
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri;
c. pindah tempat tinggal dan menjadi penduduk di wilayah
lain;
d. melanggar larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
41; dan
e. tidak melaksanakan tugas dan fungsinya.
(2) Apabila terdapat pengurus RT yang berhenti atau
diberhentikan sebelum masa bhaktinya berakhir, paling
lama 1 (satu) bulan harus dilakukan pengisian/pergantian
pengurus.
(3) Tata cara pergantian pengurus, dilakukan secara
musyawarah mufakat melalui rapat pengurus setelah
dikonsultasikan dengan Kepala Desa/Lurah.
(4) Dalam hal Ketua RT berhenti atau diberhentikan, maka
sekretaris melaksanakan tugas sampai terpilihnya ketua RT
yang baru.
(5) Masa bhakti pengurus pengganti sesuai dengan sisa masa
bhakti pengurus yang diganti.
(6) Hasil musyawarah pergantian pengurus RT, dituangkan
dalam berita acara musyawarah pengurus dan disampaikan
kepada Kepala Desa/Lurah melalui RW paling lama 2 (dua)
hari setelah pelaksanaan musyawarah untuk mendapat
pengesahan.

Bagian Ketujuh
Musyawarah RT
Pasal 43
(1) Musyawarah RT merupakan wadah permusyawaratan dan
pemufakatan anggota masyarakat dalam lingkungan RT
yang berfungsi untuk :
a. memilih pengurus;
b. menentukan dan merumuskan program kerja;
c. sebagai sarana penyelesaian permasalahan
kemasyarakatan di wilayahnya; dan
d. sebagai sarana penyampaian laporan pelaksanaan tugas
pengurus RT.
(2) Musyawarah RT sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b dan huruf d diadakan sekurang-kurangnya satu
kali dalam satu tahun.
(3) Musyawarah RT sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c, dilaksanakan apabila di pandang perlu.
BAB VII ………
-27-
BAB VII
KELENGKAPAN ADMINISTRASI LPMD/LPMK, RW DAN RT
Pasal 44
(1) Kelengkapan Kepengurusan LPMD/LPMK, RW dan RT
meliputi :
a. Bagan Struktur Organisasi Kepengurusan LPMD/LPMK,
RW dan RT;
b. Kop Surat;
c. Papan Nama;
d. Stempel; dan
e. buku administrasi.
(2) Bentuk, isi dan format kelengkapan kepengurusan
LPMD/LPMK, RW dan RT sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tercantum dalam lampiran I, lampiran II, lampiran IIII,
lampiran IV, lampiran V, lampiran VI dan lampiran VII
Peraturan Bupati ini.

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 45
(1) LPMD/LPMK, RW dan RT yang telah ada pada saat
diundangkannya Peraturan Bupati ini, tetap diakui
keberadaannya.
(2) Pengurus LPMD/LPMK, RW dan RT yang telah menjabat
pada saat diundangkannya Peraturan Bupati ini tetap
melaksanakan tugas sebagai Pengurus LPMD/LPMK,
Pengurus RW dan Pengurus RT, sampai dengan masa
bhaktinya berakhir.
(3) Dengan diundangkannya Peraturan Bupati ini, maka tata
cara pembentukan dan pengangkatan pengurus
LPMD/LPMK, RW dan RT, harus disesuaikan dengan
Peraturan Bupati ini.

BAB IX .........
-28-
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 46
Peraturan Bupati ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya
dalam Berita Daerah.

Ditetapkan di Cibinong
pada tanggal 2 Juli 2012

BUPATI BOGOR,

RACHMAT YASIN

Diundangkan di Cibinong
pada tanggal 2 Juli 2012

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BOGOR,

NURHAYANTI
BERITA DAERAH KABUPATEN BOGOR
TAHUN 2012 NOMOR 109
NOTA DINAS
Kepada : Yth. Bupati Bogor
Dari : Sekretaris Daerah
Nomor : /Nota/VII/Per-UU/2012
Tanggal : Juli 2012
Perihal : Permohonan Penandatanganan Naskah Peraturan Bupati
tentang Tata Cara Pembentukan, pengangkatan dan
pemberhentian Pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
Desa/Kelurahan, Rukun Warga dan Rukun Tetangga.

Bersama ini disampaikan Naskah Peraturan Bupati tentang Tata Cara


Pembentukan, pengangkatan dan pemberhentian Pengurus Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan, Rukun Warga dan Rukun
Tetangga.
Pertimbangan disampaikannya Naskah Peraturan Bupati ini adalah :
a. bahwa keberadaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Rukun
Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) sangat diperlukan dalam membantu
kelancaran pelaksanaan tugas Pemerintah Desa dan Kelurahan;
b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan dalam Pasal 10 dan Pasal 33
Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 9 Tahun 2011 tentang Lembaga
Kemasyarakatan di Desa dan Kelurahan, perlu mengatur tata cara
Pembentukan, pengangkatan dan pemberhentian pengurus Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Rukun Warga (RW) dan Rukun
Tetangga (RT);
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a
dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Bupati tentang Tata Cara
Pembentukan, pengangkatan dan pemberhentian Pengurus Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat Desa/Kelurahan, Rukun Warga dan Rukun
Tetangga;
Demikian, apabila Bapak berkenan Naskah Peraturan Bupati terlampir
dapat ditandatangani.

SEKRETARIS DAERAH,

[Link], SH, MM,MSI


Pembina Utama Madya
NIP. 195510261976032001
LAMPIRAN I PERATURAN BUPATI BOGOR
NOMOR : 31 TAHUN 2012
TANGGAL : 2 JULI 2012

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI LEMBAGA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA/KELURAHAN

Keterangan :
: Garis Komando
: Garis Koordinasi
BUPATI BOGOR,

RACHMAT YASIN
LAMPIRAN II PERATURAN BUPATI BOGOR
NOMOR : 31 TAHUN 2012
TANGGAL : 2 JULI 2012

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI RUKUN WARGA

Keterangan :
: Garis Komando
: Garis Koordinasi

BUPATI BOGOR,

RACHMAT YASIN
LAMPIRAN III PERATURAN BUPATI BOGOR
NOMOR : 31 TAHUN 2012
TANGGAL : 2 JULI 2012

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI RUKUN TETANGGA

Keterangan :
: Garis Komando
: Garis Koordinasi
BUPATI BOGOR,

RACHMAT YASIN
LAMPIRAN IV PERATURAN BUPATI BOGOR
NOMOR : 31 TAHUN 2012
TANGGAL : 2 JULI 2012

BENTUK KERTAS KOP SURAT LPMD/LPMK, RW DAN RT

A. KERTAS KOP SURAT LPMD :

B. KERTAS KOP SURAT RW :

C. KERTAS KOP SURAT RT :

[Link] ………
-2-
[Link] KOP SURAT LPMK :

E. KERTAS KOP SURAT RW :

F. KERTAS KOP SURAT RT :

BUPATI BOGOR,

RACHMAT YASIN
LAMPIRAN V PERATURAN BUPATI BOGOR
NOMOR : 31 TAHUN 2012
TANGGAL : 2 JULI 2012

PAPAN NAMA LPMD/LPMK, RW DAN RT

A. PAPAN NAMA LPMD : B. PAPAN NAMA LPMK :

KETERANGAN :
a. Warna :
1. Warna Papan Putih dengan tulisan hitam;
2. Warna lambang hitam;
3. Garis tepi/batas warna hitam.
b. Ukuran Papan :
1. Panjang : 100 CM
2. Lebar : 50 CM
c. Pemilikan dan Penggunaan
1. Papan nama dimiliki oleh Pengurus LPMD/LPMK pada setiap
Desa/Kelurahan setempat;
2. Ditempatkan di depan kantor LPMD/LPMK.

C. PAPAN NAMA RW : D. PAPAN NAMA RT :

SEKRETARIAT
SEKRETARIAT RW RT 007 – RW III

Keterangan :
a. Dibuat dari kayu atau plat seng berbentuk empat persegi panjang dengan
ukuran panjang 60 CM dan Lebar 40 CM;
b. Warna dasar putih;
c. Berisikan tulisan dengan huruf balok warna hitam.

1. Untuk Papan Nama RT : - 2/3 bagian untuk tulisan Ketua RT dan RW


- 1/3 bagian untuk tulisan nama
Desa/Kelurahan, Kecamatan dan
Kabupaten.
2. Untuk Papan Nama : - ½ bagian untuk tulisan Ketua RT dan RW;
RW - ½ bagian untuk tulisan nama
Desa/Kelurahan, Kecamatan dan
Kabupaten.
[Link] ………
-2-
d. Dipasang di halaman kantor atau rumah ketua RT/RW pada sebuah tiang
dengan cat putih setinggi 150 CM, atau ditempelkan pada dinding kantor
atau rumah yang mudah dibaca oleh umum.

BUPATI BOGOR,

RACHMAT YASIN
LAMPIRAN VI PERATURAN BUPATI BOGOR
NOMOR : 31 TAHUN 2012
TANGGAL : 2 JULI 2012

STEMPEL LPMD/LPMK, RW DAN RT

CONTOH :

A. LPMD : B. LPMK :

Keterangan :

a. Bentuk : Bulat
b. Ukuran : 2.1. Lingkaran luar dengan garis tengah : 3,5 CM
2.2. Lingkaran dalam dengan garis tengah : 2,5 CM

c. Pemilikan dan penggunaan :


1. Stempel dimiliki oleh Pengurus LPMD/LPMK pada setiap Desa/Kelurahan;
2. Penggunaannya pada setiap surat keluar disebelah kiri tanda tangan.

d. Ketentuan Lainnya
1. Nama LPMD/LPMK, Desa/Kelurahan, dan nama Kecamatan ditulis dengan
huruf balok;
2. Dicantumkan 2 (dua) Bintang pada kedua ujung empat persegi panjang.

B. Stempel RW : C. Stempel RT :

Keterangan :
1. Berbentuk Persegi Panjang;
2. Ukuran 3 CM x 5 CM;
3. Untuk Stempel RW menunjukan Kampung atau Dusun Jika ada.

BUPATI BOGOR,

RACHMAT YASIN
LAMPIRAN VII PERATURAN BUPATI BOGOR
NOMOR : 31 TAHUN 2012
TANGGAL : 2 JULI 2012

BUKU ADMINISTRASI LPMD/LPMK, RW DAN RT

1. BUKU TAMU

ASAL TAMU PESAN-PESAN


NO NAMA KEPERLUAN
(DINAS / PRIBADI ) KETERANGAN
1 2 3 4 5

Bogor, ……………………………………

MENGETAHUI
KETUA LPMD/LPMK SEKRETARIS LPMD/LPMK

__________________________ ___________________________

[Link] INVENTARIS ………


-2-
2. BUKU INVENTARISASI BARANG

BARANG YANG DIMILIKI


NO JUMLAH TEMPAT KETERANGAN
OLEH LPMD/LPMK
1 2 3 4 5

Bogor, ……………………………………

MENGETAHUI
KETUA LPMD/LPMK SEKRETARIS LPMD/LPMK

______________________ ___________________________

[Link] AGENDA ………


-3-
3. BUKU AGENDA

SURAT MASUK SURAT KELUAR


TGL
NOMOR TANGGAL SURAT NO TANGGAL DIKIRIM
NO SURAT PERIHAL PERIHAL
SURAT SURAT DARI SURAT SURAT KEPADA
MASUK
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

4. BUKU KAS
BULAN :
TAHUN :
MASUK KELUAR
JUMLAH N NOMOR JUMLAH
NO URAIAN URAIAN
(Rp) O BUKTI (Rp)
1 2 3 4 5 6 7

JUMLAH PENGELUARAN :
JUMLAH Rp. ……… SALDO :
JUMLAH :
Bogor, …………………………
keterangan : MENGETAHUI : MENGETAHUI : BENDAHARA
kas harus KADES/LURAH LPMD/LPMK LPMD/LPMK
ditutup setiap
bulan _____________________ ________________________ ____________________
5. BUKU NOTULEN ………
-4-
5. BUKU NOTULEN RAPAT

NO TANGGAL MATERI RAPAT KESIMPULAN RAPAT KETERANGAN


1 2 3 4 5

Bogor, …………………….

NOTULIS

______________
6. BUKU KEGIATAN
BULAN :
TAHUN :
UKURAN/ BIAYA
NO KEGIATAN LOKASI KETERANGAN
VOLUME (Rp)
1 2 3 4 5 6

Bogor, ……………………………
MENGETAHUI MENGETAHUI BENDAHARA LPMD/LPMK
KETUA LPMD/LPMK SEKRETARIS LPMD/LPMK KETUA SEKSI

_______________ __________________ ______________________

[Link] ………
-5-
7. PROGRAM KERJA

A. PROGRAM TAHUNAN (*)


B. PROGRAM JANGKA MENENGAH (*)
C. PROGRAM JANGKA PANJANG (*)
NAMA PROYEK / UKURAN / BIAYA TAHUN
NO LOKASI KETERANGAN
KEGIATAN VOLUME (Rp) DILAKSANAKAN
1 2 3 4 5 6 7

JUMLAH
Bogor,
……………………………

keterangan : MENGETAHUI MENGETAHUI BENDAHARA


KADES/LURAH KETUA LPMD/LPMK LPMD/LPMK
(*) Pilh sesuai Program

_____________ ________________ ______________

[Link] KEKAYAAN ………


-6-
8. BUKU KEKAYAAN DAN INVENTARIS
TAHUN :

Jumlah Pada Jumlah pada


Tambahan Tanggal Kurang
Nomo Nama Barang/ Januari Desember Keteranga
mulai
r Inventaris Banyakny Harga Banyakny Tanggal n
Baik Rusak Pakai Baik Rusak
a Beli a Hapus
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

9. BUKU PEMBANGUNAN

Tahun :
Pembiayaan dari Pelaksanaan
Nama
Nomo Manfaa
Pembanguna Swadaya Pemerintah Pemerinta Ket
r Pemerinta Pemerintah Mulai Selesai t
n Masyaraka Desa/Kelurah h Swasta Lokasi
h Kab Pusat Tgl Tgl
t an Prop

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

[Link] Induk ………


-7-
10. Buku Induk Penduduk

Nama Tempat &


Lengkap Jenis Status Tgl Lahir Dapat Kewarga Alamat Keduduka No. No.
N Agam Pendidika Pekerjaa Ke
/ Kelami Perkawina Membac negaraa Lengka n dlm KT KS
o Tempa Tg a n Terakhir n t
Panggila n n a Huruf n p Keluarga P K
t l
n
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

BUPATI BOGOR,

RACHMAT YASIN

Anda mungkin juga menyukai