TUGAS TUTORIAL 2
PENGANTAR PENDIDIKAN
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Dikerjakan Oleh
NAMA : DEDEN SUBRATA
NIM : 857525561
UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ BANDUNG
2024
Tugas.2
1. Anak tuna netra memiliki keterkaitan dengan beberapa indera karena
kekurangannya pada salah satu indera penglihatan. Jelaskan keterkaitan indera
pendengaran dan perabaan dengan anak tuna netra!
2. Seorang guru dituntut untuk memberikan layanan yang maksimal pada seluruh
peserta didiknya tidak terkecuali anak tuna netra. Berikan salah satu contoh media
yang dapat digunakan guru untuk membimbing anak netra dan jelaskan penggunaan
media tersebut!
3. Sistem Pendidikan segregasi, system Pendidikan inklusi dan system Pendidikan
integrasi merupakan sIstem Pendidikan yang dapat diterapkan pada anak tuna
rungu. Menurut Saudara sIstem Pendidikan manakah yang paling tepat digunakan
untuk anak tuna rungu dan berikan alasannya!
4. Jelaskan Chronological age dan mental age yang berkaitan dengan penyandang
tunagrahita dan buatlah bagannya!
5. Terdapat beberapa strategi pembelajaran yang dapat diterapkan pada anak tuna
grahita seperti strategi pengajaran diindividualisasikan, strategi kooperatif, dan
strategi modifikasi tingkah laku. Buatlah skenario pembelajaran yang sederhana
dari salah satu strategi tersebut yang menurut Saudara paling tepat diterapkan pada
anak tunagrahita!
1. Anak tuna netra memiliki keterkaitan dengan beberapa indera karena kekurangannya
pada salah satu indera penglihatan. Jelaskan keterkaitan indera pendengaran dan
perabaan dengan anak tuna netra!
Jawaban
Anak tunanetra sering mengungguli orang yang dapat melihat dalam tugas pendengaran,
misalnya dalam menemukan sumber suara. Hal ini bukan disebabkan organ sensorik, tapi
pada proses informasi sensorik di otak.
Anak yang menjadi tunanetra sejak kecil cenderung mengungguli orang-orang yang dapat
melihat dan yang menjadi buta setelah dewasa, dalam tugas persepsi yang
mengandalkan pendengaran dan sentuhan.
Namun tidak setiap Anak tunanetra secara otomatis menjadi ahli ekolokasi. Pengembangan
keterampilan seperti ekolokasi bergantung pada waktu yang dihabiskan untuk mempelajari
tugas ini–bahkan orang yang melihat dapat mempelajari keterampilan ini dengan pelatihan
yang cukup, tetapi Anak tunanetra mungkin akan mendapat manfaat dari otak mereka yang
lebih diatur kembali untuk lebih peka pada indra selain penglihatan.
Anak tunanetra akan lebih mengandalkan indra mereka yang tersisa untuk melakukan tugas
sehari-hari, yang berarti mereka melatih indra mereka yang tersisa setiap harinya.
Pengaturan ulang otak, disertai dengan pengalaman lebih dalam menggunakan indra
mereka yang tersisa, diyakini sebagai faktor penting yang membuat Anak tunanetra
memiliki keunggulan dalam hal pendengaran dan sentuhan dibandingkan dengan orang
yang dapat melihat.
2. Seorang guru dituntut untuk memberikan layanan yang maksimal pada seluruh peserta
didiknya tidak terkecuali anak tuna netra. Berikan salah satu contoh media yang dapat
digunakan guru untuk membimbing anak netra dan jelaskan penggunaan media
tersebut!
jawaban :
Selain kekhususan metode pengajaran yang di gunakan oleh anak tunanetra. Mereka pun
mempunyai kekhususan dalam menggunakan media pembelajaran. Karena kondisi
penglihatan mereka yang tak berfungsi dengan baik, maka media yang di gunakan untuk
pengajaran anak tunanetra ialah media yang dapat dijangkau dengan pendengaran dan
perabaannya dengan media pembelajaran Huruf.
•Contoh media atau metode yang dapat digunakan guru untuk membimbing anak
pembelajarannya ada 10 metode di antaranya yaitu:
● Metode Individual
Metode individual berarti dalam mendidik anak tunanetra, tenaga pendidik maupun
orangtua perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan individu anak.
Hal-hal seperti; perbedaan umum, mental, fisik, kesehatan dan tingkat ketunanetraan
setiap anak perlu diperhatikan dengan baik.
● Metode pengalaman Pengideraan
Beralih dari metode individual, prinsip berikutnya yang perlu diperhatikan ketika
mendidik anak tunanetra ialah metode pengindraan. Pengindraan yang dimaksudkan
di sini ialah pengalaman anak akan hal-hal yang ia pelajari. Pengalamaan
pengindraan ini mendorong anak agar lebih mudah memahami apa yang mereka
pelajari.
Guru atau orangtua perlu membangun strategi pembelajaran yang memungkinkan
anak-anak menerima pengalaman secara nyata terkait apa yang mereka pelajari. Ini
dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti suara atau sentuhan agar
pembelajaran yang diterima memberi pengalaman nyata.
● Metode Totalitas
Totalitas yang dimaksud di sini bukanlah berarti pembelajaran yang diberikan harus
menyangkut banyak mata pelajaran. Tetapi maksudnya ialah menggunakan seluruh
fungsi indra yang masih berfungsi pada anak tunanetra dengan baik dalam
pembelajaran. Semisal ketika anak belajar mengenai objek buah-buahan, orangtua
atau guru dapat mengajak anak untuk mengenal objek tersebut secara keseluruhan.
Mulai dari bentuk buah, sifat permukaannya, ukuran, rasa dan ciri khasnya
masing-masing. Ini membantu anak mengenali objek dengan sempurna
● Metode Self Activity
Metode yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan metode pendidikan bagi anak
tunanetra ialah, prinsip aktivitas mandiri. Ini berarti bahwa dalam melakukan kegiatan
belajar mengajar, anak-anak tunanetra haruslah aktif dan mandiri. Dalam proses
pendidikan, guru hanyalah akan bertindak sebagai fasilitator dan motivator yang
mendorong anak untuk mencari informasi dan belajar secara aktif dan mandiri.
Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses belajar yang sebaiknya dilakukan tidaklah
sebatas mendengarkan dan mencatat. Lebih dari itu, sebaiknya proses pembelajaran
dibentuk dan dilakukan agar anak terlibat dan mengalami secara langsung.
● Huruf Braille
Beralih dari metode dan prinsip yang perlu diperhatikan selagi mendidik anak
tunanetra, sekarang kita akan membahas beberapa alat atau media yang juga dapat
mendukung kegiatan belajarnya. Huruf braille seolah menjadi kebutuhan utama bagi
para penderita tunanetra. Melalui huruf yang ditemukan oleh Louis Braille inilah
mereka dapat membaca dan memahami tulisan.
Huruf braille merupakan kumpulan titik-titik timbul yang disusun untuk menggantikan
huruf biasa. Huruf ini tersusun atas enam buah titik, dua dalam posisi vertikal,
sedangkan tiga lainnya berada dalam posisi horizontal. Semua titik yang timbul ini
dapat ditutup menggunakan satu jari sehingga memudahkan anak dalam membaca
ataupun menulis braille.
● Kamera Touch Sight
Masih berhubungan dengan tulisan braille. Kali ini ada alat bernama kamera touch
sight yang berfungsi membantu tunanetra melalui penggunaannya.
Kamera ini mempunyai layar braille fleksibel yang menampilkan gambar tiga dimensi
dengan gambar timbul pada bagian permukaan. Alat ini digunakan dengan meletakan
kamera diletakkan pada kening pengguna untuk merekam suara selama tiga detik. Ini
yang menjadi petunjuk pengguna untuk mengatur foto.
● Reglet Stylus
Reglet merupakan alat untuk menulis braille khusus yang dapat digunakan oleh
anak-anak tunanetra. Alat tulis khusus ini digunakan untuk membuat tulisan dalam
huruf braille. Reglet sendiri biasanya dilengkapi dengan stylus atau pen. Reglet
memiliki bentuk seperti penggaris dengan 2 plat terhubung oleh engsel. Plat bawah
memiliki lubang-lubang tak tembus sebagai cetakan titik, sedangkan plat atas
berbentuk lubang-lubang tembus sebagai pengarah.
Sedangkan stylus atau pen berbentuk seperti paku kecil yang dengan ujung tajam
untuk menusuk kertas pada reglet. Terdapat juga ujung tumpul yang berfungsi untuk
menghapus huruf timbul braille jika salah menulis.
● Optacon
Optacon merupakan istilah dari Optical-to-Tactile converter. Optacon ini merupakan
alat yang memungkinkan pembaca tunanetra untuk membaca tulisan lawas.
Alat ini dapat mengubah tulisan atau gambar menjadi getaran yang dapat dirasakan
dan dibaca oleh penggunanya. Sebuah kamera dengan elemen photosensitive dalam
Optacon membuatnya dapat mendeteksi tulisan tertentu. Kamera ini dihubungkan ke
susunan sandi raba yang sesuai dengan huruf tertentu. Ketika salah satu huruf yang
terdeteksi oleh kamera, maka akan dihasilkan pola getaran tertentu yang bisa
dirasakan dengan meraba.
● Papan Hitung dan sempoa
Pelajaran menghitung tergolong sebagai salah satu pelajaran sulit yang perlu dihadapi
anak-anak. Maka dibuatlah beragam alat bantu hitung yang membantu anak-anak
meningkatkan kemampuan berhitungnya.
Anak tunanetra juga tentunya dapat menggunakan bantuan alat hitung melalui papan
hitung dan sempoa. Bulir-bulir yang terdapat pada sempoa memudahkan anak untuk
mengikuti pelajaran matematika.
● Alat perekam suara
Anak-anak tunanetra lebih mengandalkan kemampuan pendengaran mereka untuk
berinteraksi dan beraktivitas sehari-harinya. Itulah mengapa alat-alat yang berkaitan
dengan suara memiliki peran penting bagi anak tunanetra.
Alat perekam suara merupakan salah satu memiliki kemampuan untuk menyimpan
suara.
Kini perekam suara dapat digunakan dengan mudah melalui ponsel pintar. Melalui
alat tersebut, anak dapat belajar banyak hal. Dengan menyimpan informasi dalam
bentuk suara, anak dapat dengan mudah mengulang atau menangkap informasi
yang mereka terima.
Beberapa metode dan media tersebut sangat efektif untuk mendukung pembelajaran
anak tunanetra.
3. Sistem Pendidikan segregasi, system Pendidikan inklusi dan system Pendidikan
integrasi merupakan sIstem Pendidikan yang dapat diterapkan pada anak tuna rungu.
Menurut Saudara sIstem Pendidikan manakah yang paling tepat digunakan untuk anak
tuna rungu dan berikan alasannya!
Jawaban :
Menurut saya yang paling tepat adalah Pendidikan inklusi karena merupakan salah satu
bentuk pemerataan dan bentuk perwujudan pendidikan tanpa diskriminasi dimana anak
berkebutuhan khusus dan anak-anak pada umumnya dapat memperoleh pendidikan yang
sama. Pendidikan inklusi merupakan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang
mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dapat menerima pendidikan yang
setara di kelas biasa bersama teman-teman [Link] ini anak- anak yang memiliki
perbedaan kemampuan (difabel) disediakan fasilitas pendidikan khusus disesuaikan
dengan derajatdan jenis difabelnya yang disebut dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) .
penyelenggaraan pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus menciptakan
lingkungan yang menyenangkan, ramah, dan dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa
berkebutuhan khusus untuk mengenyam pendidikan yang layak sesuai dengan hak
mereka.
Kesimpulan = Jadi Sistem pendidikan yang paling tepat digunakan untuk anak tuna rungu
adalah Sistem Pendidikan Inklusi. Hal ini disebabkan karena dalam Pendidikan Inklusi
memiliki pendekatan lanjutan dari Auditori Verbal Terapi yang diterapkan kepada anak
sedari [Link] pembelajaran serta sosialisasi di sekolah inklusi menjadi aspek
tersendiri bagi proses penyesuaian diri siswa tunarungu di sekolah inklusi khususnya
dalam faktor komunikasi pengurangan kecemasan danketidakpastian yang dilakukan oleh
setiap anak tunarungu itu sendiri. Beberapa faktor kompleksitas yang mempengaruhi
adalah bagaimana proses pendidikan itu berlangsung di dalam setiap sekolah inklusi yang
realitasnya memakai pendekatan yang berbeda-beda, sistem pendampingan yang diberikan
oleh setiap sekolah terhadap anak tunarungu tersebut, lingkungan teman-teman sekolah
yang dihadapi oleh anak tunarungu tersebut maupun tingkatan hambatan pendengaran
yang dimiliki oleh anak tunarungu tersebut dalam menempatkan dan mengkomunikasikan
dirinya di dalam lingkungan
sekolah inklusi.
4. Jelaskan Chronological age dan mental age yang berkaitan dengan penyandang
tunagrahita dan buatlah bagannya!
Jawaban :
Mental age adalah kemampuan mental yang dimiliki oleh seorang anak pada usia tertentu.
Sebagai contoh anak yang berumur 6 tahun akan memiliki MA 6 tahun. Jika seorang anak
memiliki MA lebih tinggi dari umurnya (Cronology Age), maka anak tersebut memiliki
kemampuan mental atau kecerdasan diatas rata – rata. Anak tunagrahita selalu memiliki
MA lebih rendah CA-nya secara jelas. Misalnya anak normal mempunyai IQ 100, maka
anak tunagrahita mempunyai IQ 70 yaitu ia mengalami keterlambatan 2 x 15 = 30 maka
diperoleh IQ 70 tersebut. Penyesuaian perilaku maksudnya saat ini seorang dikatakan
tunagrahita bukanlah hanya dilihat IQ-nya akan tetapi perlu dilihat sampai sejauh mana
anak ini dapat menyesuaikan diri. Jadi bila anak ini dapat menyesuaikan diri maka
tidaklah lengkap ia dipandang sebagai anak tunagrahita. Terjadi pada masa perkembangan
maksudnya bila ketunagrahitaan ini terjadi setelah usia dewasa maka ia tidak tergolong
tunagrahita.
Level Keterbelakangan IQ
Stanforrd binet Skala Weschler
Ringan 68-52 69-55
Sedang 51-36 54-40
Berat 32-20 39-25
Sangat Berat 19 24
5. Terdapat beberapa strategi pembelajaran yang dapat diterapkan pada anak tuna
grahita seperti strategi pengajaran diindividualisasikan, strategi kooperatif, dan strategi
modifikasi tingkah laku. Buatlah skenario pembelajaran yang sederhana dari salah satu
strategi tersebut yang menurut Saudara paling tepat diterapkan pada anak tunagrahita!
Tahap Kegiatan
[Link] [Link] ( Advance [Link] menciptakan kesiapan
Organizer ) belajar siswa dengan
menimbulkan motivasi
perhatian siswa.
[Link] dan Modelling [Link] dengan berhati-hati
menjelaskan sesimpel
mungkin setiap langkah
kegiatan yang harus di
lakukan dan di
demonstrasikan dan
ketrampilan yang di bahas
siswa tersebut.
[Link] dengan pengawasan [Link] mempraktikkan tugas [Link] mempraktekkan
yang di pilih tugas yang di pilih dengan
bimbingan dari guru dan guru
memberikan pengamatan dan
umpan balik yang bersifat
[Link] mempraktikkan tugas korektif.
yang di pilih
[Link] secara mandiri [Link] mempraktikkan 4. Siswa mempraktekkan
keseluruhan tugas keseluruhan tugas dengan
suatu kriteria yang ditetapkan
dan guru memberikan
pengamatan dan umpan balik
yang bersifat korektif.
6. Siswa mempraktikkan [Link] mempraktekkan
berbagai tugas sejenis yang di tugas yang di sajikan dalam
pilih. berbagai materi dan buku
kerja dengan suatu kriteria
yang ditetapkan dan guru
memberikan pengamatan dan
umpan balik yang bersifat
korektif.