0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan22 halaman

Pengantar Osilator dalam Elektronika

Bab ini membahas tentang osilator sebagai rangkaian yang mengubah energi DC menjadi AC. Terdapat dua jenis osilator yaitu osilator balikan dan osilator relaksasi. Osilator balikan menggunakan rangkaian LC untuk menghasilkan gelombang sinus pada frekuensi resonansi tertentu.

Diunggah oleh

Yusman Alrizky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan22 halaman

Pengantar Osilator dalam Elektronika

Bab ini membahas tentang osilator sebagai rangkaian yang mengubah energi DC menjadi AC. Terdapat dua jenis osilator yaitu osilator balikan dan osilator relaksasi. Osilator balikan menggunakan rangkaian LC untuk menghasilkan gelombang sinus pada frekuensi resonansi tertentu.

Diunggah oleh

Yusman Alrizky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV

OSILATOR

Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah mempelajari topik per topik dalam bab ini, mahasiswa diharapkan :
 Dapat menyebutkan pengertian dan fungsi dari osilator
 Mampu menyebutkan dan memahami jenis-jenis osilator
 Dapat merancang osilator sederhana

Banyak sistem elektronik menggunakan rangkaian yang mengubah energi DC


menjadi berbagai bentuk AC yang bermanfaat. Osilator, generator, lonceng
elektronika termasuk kelompok rangkaian ini. Pada penerima radio misalnya, isyarat
DC diubah menjadi isyarat AC frekuensi-tinggi. Osilator juga digunakan untuk
menghasilkan isyarat horizontal dan vertikal untuk mengontrol berkas elektron pada
pesawat TV. Masih banyak lagi penerapan rangkaian ini pada sistem lain seperti
kalkulator, komputer dan transmiter RF.
Kita dapat mengelompokkan osilator berdasarkan metode pengoperasiannya
menjadi dua kelompok, yaitu osilator balikan dan osilator relaksasi. Masing-masing
kelompok memiliki keistimewaan tersendiri. Pada osilator balikan, sebagian daya
keluaran dikembalikan ke masukan yang miasalnya dengan menggunakan
rangkaian LC. Osilator biasanya dioperasikan pada frekuensi tertentu. Osilator
gelombang sinus biasanya termasuk kelompok osilator ini dengan frekuensi operasi
dari beberapa Hz sampai jutaan Hz. Osilator balikan banyak digunakan pada
rangkaian penerima radio dan TV dan pada transmiter.
Osilator relaksasi merespon piranti elektronik dimana akan bekerja pada
selang waktu tertentu kemudian mati untuk periode waktu tertentu. Kondisi
pengoperasian ini berulang secara mandiri dan kontinu. Osilator ini biasanya
merespon proses pemuatan dan pengosongan jaringan RC atau RL. Osilator ini
biasanya membangkitkan isyarat gelombang kotak atau segitiga. Aplikasi osilator ini
diantaranya pada generator penyapu horizontal dan vertikal pada penerima TV.
Osilator relaksasi dapat merespon aplikasi frekuensi-rendah dengan sangat baik.

1
Gambar 4.1 Balikan pada sistem-suara

4.1 Osilator Balikan (Feedback Oscillator)


Kita sering melihat contoh terjadinya balikan pada sistem-suara yang
digunakan pada suatu pertemuan. Jika mikropon terletak terlalu dekat dengan
speaker, maka sering terjadi proses balikan dimana suara dari speaker terambil
kembali oleh mikropon diteruskan ke amplifier menghasilkan dengung. Gambar
4.1 memperlihatkan proses terjadinya balikan dimaksud. Kondisi ini dikenal dengan
balikan mekanik. Terjadinya balikan pada sistem ini sangat tidak diharapkan,
namun sistem balikan pada osilator sangat diperlukan.

4.1.1 Dasar-dasar Osilator


Diagram blok osilator balikan diperlihatkan pada Gambar 4.2. Terlihat
osilator memiliki perangkat penguat, jaringan balikan, rangkaian penentu frekuensi
dan catu daya. Isyarat masukan diperkuat oleh penguat (amplifier) kemudian sebagian
isyarat yang telah diperkuat dikirim kembali ke masukan melalui rangkaian balikan.
Isyarat balikan harus memiliki fase dan nilai yang betul agar terjadi osilasi.

2
Gambar 4.2 Bagian-bagian utama osilator balikan

Gambar 4.3 Rangkaian tangki LC dalam proses pengisian: a) Rangkaian dasar, b)


Pengisian dan c) Kapasitor terisi.

3
4.1.2 Pengoperasian Rangkaian LC
Frekuensi osilator balikan biasanya ditentukan dengan menggunakan jaringan
induktor- kapasitor (LC). Jaringan LC sering disebut sebagai “rangkaian tangki”,
karena kemampuannya menampung tegangan AC pada “frekuensi resonansi”. Untuk
melihat bagaimana isyarat AC dapat dihasilkan dari isyarat DC, marilah kita lihat
rangkaian tangki LC seperti terlihat pada Gambar 4.3. Pada saat saklar ditutup
sementara (Gambar 4.3-a), maka kapasitor akan terisi sebesar tegangan baterai.
Perhatikan arah arus pengisian. Gambar 4.3-c memperlihatkan kapasitor telah
secara penuh termuati.
Selanjutnya akan kita lihat bagaimana rangkaian tangki menghasilkan
tegangan dalam bentuk gelombang sinus. Pertama, kita berasumsi kapasitor pada
Gambar 4.4-a telah termuati. Gambar 4.4-b memperlihatkan kapasitor dilucuti
melalui induktor. Arus pelucutan melewati L menyebabkan terjadinya
elektromagnet yang membesar di sekitar induktor. Gambar 4.4-c memperlihatkan
kapasitor telah terlucuti berakibat terjadinya penurunan elektromagnet di sekitar
induktor. Ini menyebabkan arus akan tetap mengalir dalam waktu yang singkat.
Gambar 4.4-d memperlihatkan proses pengisian kapasitor melalui arus induksi
dari hasil penurunan medan magnet. Selanjutnya kapasitor mulai dilucuti lagi melalui
L. Perhatikan pada Gambar 4.5-e, arah arus pelucutan berkebalikan dari sebelumnya.
Elektromagnet mulai membesar lagi (polaritas terbalik). Gambar 4.4-f menunjukkan
kapasitor telah terlucuti dan termuati lagi melalui arus induksi (gambar 4.4-g).
Demikian seterusnya proses ini akan berulang dan menghasilkan tegangan AC.
Frekuensi tegangan AC yang dibangkitkan oleh rangkaian tangki akan
tergantung dari harga L dan C yang digunakan. Ini yang disebut sebagai “frekuensi
resonansi” dengan harga

………………………………………….. (4.1)

dimana f r adalah frekuensi resonansi dalam hertz (Hz), L adalah induktasi dalam
henry dan C adalah kapasitansi dalam farad. Resonansi terjadi saat reaktansi kapasitif

C X besarnya sama dengan reaktansi induktif L X . Rangkaian tangkai akan
berosilasi pada frekuensi ini.

4
Gambar 4.4 Proses pengisian dan pelucutan rangkaian LC.

Pada frekuensi osilasi rangkaian tangki LC tentunya memiliki resistaansi


yang akan mengganggu aliran arus pada rangkaian. Akibatnya, tegangan AC akan
cenderung menurun setelah melakukan beberapa putaran osilasi. Gambar 4.5-a

5
memperlihatkan hasil gelombang rangkaian tangki. Perhatikan bagaimana omplitudo
gelombang mengalami penurunan yang biasa disebut sebagai gelombang sinus
teredam (damped sine wave). Dalam hal ini, rangkaian telah terjadi kehilangan
energi yang diubah dalam bentuk panas.
Osilasi rangkaan tangkai dapat dibuat secara kontinu jika kita menambahkan
energi secara periodik dalam rangkaian. Energi ini akan digunakan untuk mengganti
energy panas yang hilang. Gambar 4.5-b menunjukkan gelombang kontinu
(continuous wave-CW) pada rangkaian tangki yang secara periodik ditambahkan
energi pada rangkaian.

Gambar 4.5 Tipe gelombang: a) Osilator teredam dan b) Gelombang kontinu

Tambahan energi pada rangkaian tangki dengan menghubungkan kapasitor


dengan sumber DC, tidak mungkin dilakukan secara manual. Proses pemutusan

6
dan penyambungan dengan kapasitor dilakukan secara elektronik dengan
menggunakan jasa transistor.
Perlu diingat bahwa induktasi dari kumparan akan tergantung pada
frekuensi pengoperasian. Osilator LC biasanya dioperasikan pada daerah RF.
Bentuk kumparan osilator pada daerah RF diperlihatkan pada gambar 17.6.
Induktansi kumparan biasanya dapat diubah dengan menggeser batang “ferit” yang
ada di dalam kumparan. Ini akan membantu mengatur frekuensi dari rangkaian
tangki.

Gambar 4.6 Kumparan osilator RF

7
(a)

(b)
Gambar 4.7 Osilator Armstrong: a) Rangkaian dasar dan b) Kurva karakteristik

8
4.1.3 Osilator Armstrong
Osilator Armstrong seperti diperlihatkan pada Gambar 4.7 merupakan hasil
penerapan osilator LC. Rangkaian dasar dibuat dengan memberikan panjar maju
pada sambungan emitor-basis dan panjar mundur pada kolektor. Pemberian panjar
dilakukan lewat resistor R3 . Resistor R1 dan R2 berlaku sebagai pembagi tegangan.
Saat awal transistor diberi daya, resistor R1 dan R2 membawa transistor ke
titik pengoperasian Q pada bagian tengah garis beban (lihat Gambar 4.7-b). Keluaran
transistor (pada kolektor) secara ideal adalah 0 volt. Saat terjadi hantaran arus awal
pada saat dihidupkan, terjadi darau (noise) yang akan terlihat pada kolektor. Namun
biasanya berharga sangat kecil. Misalnya kita mempunyai isyarat -1 mV yang
Nampak pada kolektor. Transformator T1 akan membalik tegangan ini dan
menurunkannya dengan factor 10 (nisbah primer-sekunder 1:10). Isyarat sebesar
+0,1 mV akan Nampak pada C1 pada rangkaian basis.
Perhatikan bahwa transistor memiliki = 100. Dengan +0,1 mV berada pada
basis, Q1 akan memberikan isyarat keluaran sebesar -10 mV pada kolektor.
Perubahan polaritas dari + ke – pada keluaran akibat adanya karakteristik dasar
penguat emitor bersama. Tegangan keluaran sekali lagi akan mengalami penurunan
oleh transformator dan diberikan pada basis Q1. Isyarat kolektor sebesar -10 mV
sekarang akan menyebabkan terjadinya tegangan sebesar + 1 mV pada basis. Melalui
penguatan transistor, tegangan kolektor akan segera menjadi -100 mV. Proses ini
akan berlangsung, menghasilkan tegangan kolektor sebesar -1 V dan akhirnya -10 V.
Pada titik ini, transistor akan membawa garis beban sampai mencapai kejenuhan
(perhatikan daeran ini pada garis beban). Sampai pada titik ini tegangan kolektor
tidak akan berubah.
Dengan tanpa adanya perubahan pada VC pada kumparan primer T1 , tegangan
pada kumparan sekunder secepatnya akan menjadi nol. Tegangan basis secapatnya
akan kembali pada titik Q. Penurunan tegangan basis ke arah negatif ini (dari jenuh
ke titik Q) membawa VC ke arah positif. Melalui transformator, ini akan nampak
sebagai tegangan ke arah positif pada basis. Proses ini akan berlangsung melewati
titik Q sampai berhenti pada saat titik cutoff dicapai. Transformator selanjutnya akan
berhenti memberikan masukan tegangan ke basis. Transistor segera akan berbalik
arah. R1 dan R2 menyebabkan tegangan basis naik lagi ke titik Q. Proses ini akan

9
terus berulang: Q1 akan sampai di titik jenuh – kembali ke titik Q – ke cutoff -
kembali ke titik Q. Dengan demikian tegangan AC akan terjadi pada kumparan
sekunder dari transformator.
Frekuensi osilator Armstrong ditentukan oleh nilai C1 dan S (nilai induktasi
diri kumparan sekunder) dengan mengikuti persamaan frekuensi resonansi untuk LC.
Perhatikan C1 dan S membentuk rangkaian tangki dengan mengikutkan sambungan
emitor-basis dari Q1 dan R1 .
Keluaran dari osilator Armstrong seperti pada Gambar 4.7 dapat diubah
dengan mengatur harga R3. Penguatan akan mencapai harga tertinggi dengan
memasang R3 pada harga optimum. Namun pemasangan R3 yang terlalu tinggi akan
mengakibatkan terjadinya distorsi, misalnya keluaran akan berupa gelombang kotak
karena isyarat keluaran terpotong.

4.1.4 Osilator Hartley


Osilator Hartley seperti pada Gambar 4.8 banyak digunakan pada rangkaian
penerima radio AM dan FM. Frekuensi resonansi ditentukan oleh harga T1 dan C1.
Kapasitor C2 berfungsi sebagai penggandeng AC ke basis Q1 . Tegangan panjar Q1
diberikan oleh resistor R2 dan R1 . Kapasitor C4 sebagai penggandeng variasi
tegangan kolektor dengan bagian bawah T1. Kumparan penarik RF ( L1 ) menahan
AC agar tidak ke pencatu daya. L1 juga berfungsi sebagai beban rangkaian. Q1
adalah dari tipe n-p-n dengan konfigurasi emitor bersama.

Gambar 4.8 Rangkaian Osilator Hartley

10
Saat daya DC diberikan pada rangkaian, arus mengalir dari bagian negatif
dari sumber lewat R1 ke emitor. Kolektor dan basis keduanya dihubungkan ke bagian
positif dari VCC . Ini akan memberikan panjar maju pada emitor-basis dan panjar
mundur pada kolektor. Pada awalnya I E, IB dan I C mengalir lewat Q1 . Dengan I C
mengalir lewat L1 , tegangan kolektor mengalami penurunan. Tegangan ke arah
negative ini diberikan pada bagian bawah T1 oleh kapasitor C4. Ini mengakibatkan
arus mengalir pada kumparan bawah. Elektromagnet akan membesar di sekitar
kumparan. Ini akan memotong kumparan bagian atas dan memberikan tegangan
positif mengisi kapasitor C1. Tegangan ini juga diberikan pada Q1 melalui C2. Q1
akhirnya sampai pada titik jenuh dan mengakibatkan tidak terjadinya perubahan pada
VC . Medan di bagian bawah T1 akan dengan cepat habis dan mengakibatkan
terjadinya perubahan polaritas tegangan pada bagian atas. Keping C1 bagian atas
sekarang menjadi negative sedangkan bagian bawah menjadi positif.
Muatan C1 yang telah terakumulasi akan mulai dilucuti melalui T1 melalui
proses rangkaian tangki. Tegangan negatif pada bagian atas C1 menyebabkan Q1
berubah ke negatif menuju cutoff. Selanjutnya ini akan mengakibatkan VC membesar
dengan cepat. Tegangan ke arah positif kemudian ditransfer ke bagian bawah T1 oleh
C4, memberikan balikan. Tegangan ini akan tertambahkan pada tegangan C1.
Perubahan pada VC beragsur-angsur berhenti, dan tidak ada tegangan yang dibalikkan
melalui C4. C1 telah sepenuhnya terlucuti. Medan magnet di bagian bawah L1
kemudian menghilang. C1 kemudian termuati lagi, dengan bagian bawah berpolaritas
positif dan bagian atas negatif. Q1 kemudian berkonduksi lagi. Proses ini akan
berulang terus. Rangkaian tangki menghasilkan gelombang kontinu dimana
hilangnya isi tangki dipenuhi lagi melalui balikan.
Sifat khusus osilator Hartley adalah adanya tapped coil. Sejumlah variasi
rangkaian dimungkinkan. Kumparan mungkin dapat dipasang seri dengan kolektor.
Variasi ini biasa disebut sebagai osilator Series-fed Hartley. Rangkaian seperti pada
Gambar 4.8 termasuk osilator Shunt-fed Hartley.

11
Gambar 4.9 Osilator Cilpitts

4.1.5 Osilator Colpitts


Osilator Colpitts sangat mirip dengan osilator Shunt-fed Hartley. Perbedaan
yang pokok adalah pada bagian rangkaian tangkinya. Pada osilator Colpitts,
digunakan dua kapasitor sebagai pengganti kumparan yang terbagi. Balikan
dikembangkan dengan menggunakan “medan elektrostatik” melalui jaringan
pembagi kapasitor. Frekuensi ditentukan oleh dua kapasitor terhubung seri dan
induktor.
Gambar 4.9 memperlihatkan rangkaian osilator Colpitts. Tegangan panjar
untuk basis diberikan oleh R1 dan R2 sedangkan untuk emiitor diberikan oleh R4 .
Kolektor diberi panjar mundur dengan menghubungkan ke bagian positif dari VCC
melalui R3 . Resistor ini juga berfungsi sebagai beban kolektor. Transistor
dihubungkan dengan konfigurasi emitor-bersama.
Ketika daya DC diberikan pada rangkaian, arus mengalir dari bagian negatif
VCC melalui R4, Q1 dan R3 . Arus IC yang mengalir melalui R3 menyebabkan
penurunan tegangan VC dengan harga positif. Tegangan yang berubah ke arah negatif
ini dikenakan ke bagian atas C1 melalui C3. Bagian bawah C2 bermuatan positif dan
tertambahkan ke tegangan basis dan menaikkan harga IB . Transistor Q1 akan
semakin berkonduksi sampai pada titik jenuh.

12
Saat Q1 sampai pada titik jenuh maka tidak ada lagi kenaikan IC dan
perubahan VC juga akan terhenti. Tidak terdapat balikan ke bagian atas C2. C1 dan C2
akan dilucuti lewat L1 dan selanjutnya medan magnet di sekitarnya akan menghilang.
Arus pengosongan tetap berlangsung untuk sesaat. Keping C2 bagian bawah menjadi
bermuatan negatif dan keping C1 bagian atas bermuatan positif. Ini akan mengurangi
tegangan maju Q1 dan IC akan menurun. Harga VC akan mulai naik. Kenaikan ini
akan diumpankan kembali ke bagian atas keping C1 melalui C3. C1 akan bermuatan
lebih positif dan bagian bawah C2 menjadi lebih negatif. Proses ini terus berlanjut
sampai Q1 sampai pada titik cutoff.

Gambar 4.10 Rangaian setara kristal : a) resonansi seri dan b) resonansi paralel.

13
Saat Q1 sampai pada titik cutoff, tidak ada arus IC . Tidak ada tegangan
balikan ke 1 C . Gabungan muatan yang terkumpul pada C1 dan C2 dilucuti melalui
L1. Arus pelucutan mengalir dari bagian bawah C2 ke bagian atas C1 . Muatan negatif
pada C2 secepatnya akan habis dan medan magnet di sekitar L1 akan menghilang.
Arus yang mengalir masih terus berlanjut. Keping C2 bagian bawah menjadi
bermuatan positif dan keping C1 bagian atas bermuatan negatif. Tegangan positif
pada C2 menarik Q1 dari daerah daerah cutoff . Selanjutnya IC akan mulai mengalir
lagi dan proses dimulai lagi dari titik ini. Energi balikan ditambahkan ke rangkaian
tangki sesaat pada setiap adanya perubahan.
Besarnya balikan pada rangkaian osilator Colpitts ditentukan oleh “nisbah
kapasitansi” C1 dan C2. Harga 1 C pada rangkaian ini jauh lebih kecil dibandingkan
dengan C2 atau C1 C2 X X . Tegangan pada C1 lebih besar dibandingkan pada C2.
Dengan membuat 2 C lebih kecil akan diperoleh tegangan balikan yang lebih besar.
Namun dengan menaikkan balikan terlalu tinggi akan mengakibatkan terjadinya
distorsi. Biasanya sekitar 10-50% tegangan kolektor dikembalikan ke rangkaian
tangki sebagai balikan.

4.1.6 Osilator Kristal


Kristal osilator digunakan untuk menghasilkan isyarat dengan tingkat
kestabilan frekuensi yang sangat tinggi. Kristal pada osilator ini terbuat dari quartz
atau Rochelle salt dengan kualitas yang baik. Material ini memiliki kemampuan
mengubah energy listrik menjadi energi mekanik berupa getaran atau sebaliknya.
Kemampuan ini lebih dikenal dengan piezoelectric effect.
Kristal untuk osilator ini dilekatkan di antara dua pelat logam. Kontak dibuat
pada masing-masing permukaan kristal oleh pelat logam ini kemudian diletakkan
pada suatu wadah. Kedua pelat dihubungkan ke rangkaian melalui soket.
Pada osilator ini, kristal berperilaku sebagai rangkaian resonansi seri. Kristal
seolah-olah memiliki induktansi (L), kapasitansi (C) dan resistansi (R). Gambar 4.10-
a memperlihatkan rangkaian setara dari bagian ini. Harga L ditentukan oleh massa
kristal, harga C ditentukan oleh kemampuannya berubah secara mekanik dan R
berhubungan dengan gesekan mekanik.

14
Gambar 4.11 Osilator dengan kristal pengontrol: a) Hartley dan b) Colpitts

Rangkaian setara resonansi seri akan berubah jika kristal ditempatkan pada
suatu wadah atau “pemegang”. Kapasitansi akibat adanya keping logam akan
terhubung paralel dengan rangkaian setara kristal. Gambar 4.10-b memperlihatkan

15
rangkaian setara kristal yang dilekatkan pada pemegang. Jadi pada hal ini kristal
memiliki kemampuan untuk memberikan resonansi paralel dan resonansi seri.
Kristal ini dapat dioperasikan pada rangkaian tangki dengan fungsi sebagai
penghasil frekuensi resonansi paralel. Kristal sendiri dapat dioperasikan sebagai
rangkaian tangki. Jika kristal diletakkan sebagai balikan, ia akan merespon sebagai
piranti penghasil resonansi seri. Kristal sebenarnya merespon sebagai tapis yang
tajam. Ia dapat difungsikan sebagai balikan pada suatu frekuensi tertentu saja.
Osilator Hartley dan Colpitts dapat dimodifikasi dengan memasang kristal ini.
Stabilitas osilator akan meningkat dengan pemasangan kristal. Gambar 4.11
memperlihatkan pemasangan kristal pada osilator Hartley dan Colpitts.

Gambar 4.12 Osilator Pierce

4.1.7 Osilator Pierce


Osilator Pierce seperti diperlihatkan pada Gambar 4.12 menggunakan kristal
sebagai rangkaian tangkinya. Pada osilator ini kristal merespon sebagai rangkaian
resonansi paralel. Jadi osilator ini adalah merupakan modifikasi dari osilator Colpitts.
Pengoperasian osilator Pierce didasarkan pada balikan yang dipasang dari
kolektor ke basis melalui C1 dan C2. Kedua transistor memberikan kombinasi
pergeseran fase sebesar 180o. Keluaran dari emitor-bersama mengalami pembalikan

16
agar sefase atau sebagai balikan regeneratif. Nilai C1 dan C2 menentukan besarnya
tegangan balikan. Sekitar 10 – 50 % dari keluaran dikirim kembali sebagai balikan
untuk memberikan energi kembali ke kristal. Jika kristal mendapatkan energi yang
tepat, frekuensi resonansi yang dihasilkan akan sangat tajam. Kristal akan bergetar
pada selang frekuensi yang sangat sempit. Keluaran pada frekuensi ini akan sangat
stabil. Namun keluaran osilator Pierce adalah sangat kecil dan kristal dapat
mengalami kerusakan dengan strain mekanik yang terus-menerus.

4.2 Osilator Relaksasi


Osilator ralaksasi utamanya digunakan sebagai pembangkit gelombang sinusosidal.
Gelombang gigi gergaji, gelombang kotak dan variasi bentuk gelombang tak
beraturan termasuk dalam kelas ini. Pada dasarnya pada osilator ini tergantung pada
proses pengosongan-pengisian jaringan kapasitor-resistor. Perubahan tegangan pada
jaringan digunakan untuk mengubah-ubah konduksi piranti elektronik. Untuk
pengontrol, pada osilator dapat digunakan transistor, UJT (uni junction transistors)
atau IC (integrated circuit).

4.2.1 Rangkaian RC
Proses pengisian dan pengosongan kapasitor pada rangkaian seri RC telah
kita bahas sebelumnya pada bagian sebelumnya. Pengisian dan pengosongan
kapasitor akan mengikuti fungsi eksponensial dengan konstanta waktu yang
tergantung pada harga RC. Pada proses pengisian, satu konstanta waktu dapat
mengisi sebanyak 63% dari sumber tegangan yang digunakan dan akan penuh
setelah lima kali konstanta waktu. Sebaliknya saat terjadi pelucutan, isi kapasitor
akan berkurang sebanyak 37% setelah satu konstanta waktu dan akan terlucuti secara
penuh setelah lima konstanta waktu (lihat Gambar 4.13).

17
Gambar 4.13 Pengisian kapasitor: a) Rangkaian RC dan b) Kurva nilai

18
Waktu

Pengisian

Pengosongan

Waktu

(a)

Waktu

(b)

Gambar 4.14 Pengosongan kapasitor: a) Rangkaian RC dan b) Kurva nilai

19
Gambar 4.15 Osilator UJT

4.2.2 Osilator UJT


Pengisian dan pengosongan kapasitor melalui resistor dapat digunakan untuk
menghasilkan gelombang gergaji. Saklar pengisian dan pengosongan pada rangkaian
Gambar 4.13 dan 4.14 dapat diganti dengan saklar elektronik, yaitu dengan
menggunakan transistor atau IC. Rangkaian yang terhubung dengan cara ini
dikelompokkan sebagai osilator relaksasi. Saat piranti berkonduksi disebut “aktif” dan
saat tidak berkonduksi disebut “rileks”. Gelombang gergaji akan terjadi pada ujung kaki
kapasitor.
Pada Gambar 4.15 diperlihatkan penggunaan UJT untuk osilator relaksasi.
Jaringan RC terdiri atas R1 dan C1 . Sambungan dari jaringan dihubungkan dengan
emitor dari UJT. UJT tidak akan berkonduksi sampai pada harga tegangan tertentu
dicapai. Saat terjadi konduksi sambungan E-B1 menjadi beresistansi rendah. Ini
memberikan proses pengosongan C dengan resistansi rendah. Arus hanya mengalir
lewat R3 saat UJT berkonduksi. Pada rangkaian ini sebagai R3 adalah speaker.
Saat awal diberi catu daya, osilator UJT dalam kondisi tidak berkonduksi
Sambungan E- B1 berpanjar mundur. Dalam waktu singkat muatan pada C1 akan
20
terakumulasi (dalam hal ini ukuran waktu adalah R C ). Dengan termuatinya C1 akan
menyebabkan sambungan E-B1 menjadi konduktif atau memiliki resistansi rendah.
Selanjutnya terjadi pelucutan C1 lewat sambungan E- B1 yang memiliki resistansi
rendah. Ini akan menghilangkan panjar maju pada emitor. UJT selanjutnya menjadi
tidak berkonduksi dan C1 mulai terisi kembali melalui R1 . Proses ini secara kontinu
akan berulang.
Osilator UJT dipakai untuk aplikasi yang memerlukan tegangan dengan waktu
kenaikan (rise time) lambat dan waktu jatuh (fall time) cepat. Sambungan E- B dari UJT
memiliki keluaran tipe ini. Antara B1 dan “tanah” pada UJT menghasilkan pulsa tajam
(spike pulse). Keluaran tipe ini biasanya digunakan untuk rangkaian pengatur waktu dan
rangkaian penghitung. Sebagai kesimpulan osilator UJT sangat stabil dan akurat untuk
konstanta waktu satu atau lebih rendah.

Latihan:

1. Bagaimanakah hubungan nilai-nilai L dan C terhadap frekuensi resonansi osilator ?


2. Bagaimanakah rangkaian dan kurva karakteristik osilator amstrong ?
3. Apa yang dimaksud dengan piezoelectric effect?

Jawaban :

1. Pengaruh nilai-nila dari L dan C terhadap frekuensi resonansi adalah sebagaimana


ditunjukkan dalam persamaan 4.1..
2. Rangkaian dan kurva tanggapan transistor dalam rangkaian osilator Amstrong
adalah sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 4.7.
3. Kemampuan dari material quartz atau Rochelle salt (pada osilator Kristal) sehingga
mampu mengubah energy listrik menjadi energi mekanik berupa getaran atau
sebaliknya

21
Rangkuman :

1. Osilator relaksasi merespon piranti elektronik dimana akan bekerja pada selang
waktu tertentu kemudian mati untuk periode waktu tertentu. Kondisi
pengoperasian ini berulang secara mandiri dan kontinu.
2. Frekuensi osilator Armstrong ditentukan oleh nilai C1 dan S (nilai induktasi diri
kumparan sekunder) dengan mengikuti persamaan frekuensi resonansi untuk LC.
3. Kristal osilator digunakan untuk menghasilkan isyarat dengan tingkat kestabilan
frekuensi yang sangat tinggi. Kristal pada osilator ini terbuat dari quartz atau
Rochelle salt dengan kualitas yang baik. Material ini memiliki kemampuan
mengubah energy listrik menjadi energi mekanik berupa getaran atau
sebaliknya.
4. Osilator UJT dipakai untuk aplikasi yang memerlukan tegangan dengan waktu
kenaikan (rise time) lambat dan waktu jatuh (fall time) cepat.

Review :

1. Bagaimanakah prinsip kerja pengisian dan pengosongan dalam rangkaian RC ?

2. Apa kelebihan osilator Kristal?

3. Bagaimanakah mekanisme resonansi seri dan resonansi parallel?

4. Jelaskan perbedaan osilator Colpitts dengan osilator Hartley.

22

Anda mungkin juga menyukai