NAMA : RICKY PRANANDO
NIM : 57036961
MATAKULIAH : Pembelajaran PKN di SD
1. Apakah tujuan pendidikan kewarganegaraan di Sekolah Dasar?
Jawaban :
Dengan adanya pendidikan kewarganegaraan diharapkan dapat membentuk karakter
generasi penerus bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam
[Link] penerus bangsa adalah semua pemuda yang masih sekolah mulai
dari sekolah dasar sampai yang sudah melakukan pendidikannya di perguruan tinggi.
Pemuda-pemuda ini memiliki tanggung jawab terlibat dalam pembangunan bangsa
baik secara nasional maupun daerah . Oleh sebab itu, mereka perlu dibekali
pendidikan kewarganegaraan sebagai dasar kehidupan untuk membangun bangsa.
Jika para pemuda penerus bangsa ini sudah mendapatkan bekal pendidikan
kewarganegaraan, maka dari pemuda itulah akan tercipta warga negara yang
memiliki pengertahuan dan wawasan tentang [Link] pengetahuan
dan wawasan tersebut, akan timbul sikap mencintai tanah air dan bangga menjadi
bagian dari negara [Link] dapat disimpulkan tujuan pendidikan
kewarganegaraan yang diberikan di sekolah, yaitu untuk menghasilkan siswa yang
memiliki karakter dan kepriadian yang sesuai nilaiGenerasi penerus bangsa harus
memiliki bekal pendidikan kewarganegaraan karena mereka memiliki peran yang
penting untuk masa depan negara.
2. Jelaskan fungsi pendidikan kewarganegaraan di Sekolah Dasar sebagai
pendidikan nilai dan moral !
Jawaban :
Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan diantaranya sebagai berikut:
1) Membantu siswa atau mahasiswa sebagai generasi muda untuk mendapatkan
pemahaman cita-cita nasional dan tujuan Negara.
2) Siswa atau mahasiswa sebagai genersi baru bisa mengambil keputusan-
keputusan yang bertanggung jawab untuk menyelsaikan masalah pribadi,
masyarakat serta negara.
3) Bisa mengapresiasikan cita-cita nasional serta bisa membuat keputusan-
keputusan yang cerdas.
4) Wahana untuk membentuk warga negara yang cerdas, terampil, serta
berkarakter yang setia kepada bangsa dan juga negara Indonesia dengan
merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir juga bertindak sesuai dengan
amanat Pancasila dan UUD NKRI 1945.
Menyadari betapa pentingnya peran PKn dalam proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat, melalui pemberian keteladanan,
pembangunan kemauan, dan pengembangan kreativitas peserta didik dalam
proses pembelajaran maka dengan melalui PKn sekolah perlu dikembangkan
sebagai pusat pengembangan wawasan, sikap, dan keterampilan hidup dan
berkehidupan yang demokratis untuk membangun kehidupan demokrasi.
3. Jelaskan ruang lingkup dan pedagogis pendidikan kewarganegaraan di sekolah
dasar !
Jawaban :
Dalam lampiran Permendiknas No 22 tahun 2006 dikemukakan bahwa “mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata Pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukkan warga negara yang memahami dan mampu
melakssanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia
yang cerdas, terampil, dan berkarekter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD
1945”. Sedangkan tujuannya digariskan dengan tegas adalah agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menaggapi isu
kewarganegaraan.
2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara
cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta anti
korupsi
3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri
berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup
bersama dengan bangsa-bangsa lain
4) Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia secara
langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi.
Ditetapkan pula bahwa “Kedalaman muatan Kurikulum pada setiap Mata Pelajaran
pada setia Satuan Pendidikan di tuangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai
peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam Struktur
Kurikulum”.
Kompetensi yang dimaksud terdiri atas Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
yang dikembangkan berdasarkan standar Kompetensi Lulusan. Muatan Lokal dam
kegiatan Pengembangan Diri merupakan bagian integral dari stuktur kurikulum pada
jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Berdasarkan Pemendiknas No. 22 tahun
2006 Ruang lingkup Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Pendidikan
Dasar dan Menengah secara umum meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1) Persatuan dan Kesatuan Bangsa
2) Norma, Hukum dan Peraturan
3) Hak Asasi Manusia
4) Kebutuhan Warga Negara
5) Konstitusi Negara
6) Kekuasaan dan Pilitik
7) Pancasila
8) Globalisasi
Istilah Pedagogis diserap dari bahasa Inggris paedagogical. Akar kata dari paes dan
ago (bahasa latin), artinya Saya Membimbing. Kemudian muncul istilah paedagogy
yang artinya ilmu mendidik atau Ilmu Pendidikan (Purbakawatja 1956). Tututan
pedagogis dalam modul ini diartikan sebagai pengalaman belajar (learning
experiences) yang bagaimana diperlakukan untuk mencapai tujuan Pendidikan
Kewarganegaraan, dalam pengertian ketuntasan penguasaan kompetensi penguasaan
kompetesi kewarganegaraan yang tersurat dan tersirat dalam lingkup dan kompetensi
[Link] kompetensi dasar untuk setiap kelas menuntut prilaku nyata (overt
behavior). Hal ini berarti bahwa konsep dan nilai kewarganegaraan diajarkan tidak
boleh berhenti pada pemikiran semata, tetapi harus terwujudkan dalam perbuatan
nyata. Dengan kata lain, PKn menuntut terwujudnya pengalaman belajar yang bersifat
utuh memuat belajar kognitf, belajar nilai dan sikap, dan belajar perilaku. PKn
seharusnya tidak lagi memisah-misahkan domain-domain prilaku dalam
[Link] pendidikan yang menjadi kepedulian PKn adalah proses pendidikan
yang terpadu utuh, yang juga disebut sebagai bentuk confluent educatin (Mc, Neil,
1981), tuntutan pedagogis ini memerlukan persiapan mental, professionalitas, sossial
guru-Murid ysng kohesif. Guru siap memberi contoh dan menjadi contoh. Ingatlah
pada postulat bahwa Value is neither tough now cought, it is learned (Herman 1966).
Nilai tidak bisa diajarkan ataupun ditangkap sendiri, tetapi dicerna melalui proses
belajar. Oleh karena itu, nilai harus termuat dalam mater Pelaajaran [Link] mata
pelajaran dengan visi utama sebagai pendidikan demokrasi yang bersifat
multidimensional. Ia merupakan pendidikan demokrasi, pendidikan moral, pendidikan
sosial, dan masalah pendidikan politik. PKn dinilai sebagai mata pelajaran yang
mengusung misi Pendidikan Nilai dan Moral, dengan alasan sebagai berikut:
1) Materi PKn adalah Konsep- konsep nilai Pancasila dan UUD 1945 beserta
dinamika peerwujudan dalam kehidupan masyarakat negara Indonesia.
2) Sasaran akhir belajar PKn adalah perwujudan nilai-nilai tersebut dalam
prilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
3) Proses pembelajaran menuntut terlibatnya emosional, intelektual, dan sosial
dari peserta didik dan guru sehingga nilai-nilai itu bukan hanya dipahami
(bersifat kognitif) tetapi dihayati (bersifat objektif) dan dilaksanakan (bersifat
prilaku).
Sebagai pengayaan teoritik, pendidikan nilai dan moral sebagaimana dicakup dalam
PKn tersebut, dalam pandangan Lickona (1992) disebut “Educating for character”
atau “pendidikan watak”. Lickona mengartikan watak atau karakter sesuai dengan
pandangan filosof Michael Novak (Lickona 1992: 50-51). Yakni compatible mix of
all thoese virtues identified sense down traditions , litersry, stories, the sages, and
persons of common sense down through history. Artinya suatu perpaduan yang
harmomis dari berbagai kebijakan yang tertuang dalam keagamaan, sastra, pandangan
kaum, cerdik-pandai dan manusia pada umumnya sepanjang zaman. Liickona
(1992,51) memamdang karakter atau watak itu memiliki tiga unsur yang saling
berkaitan yakni: moral knowing, moral feeling, and moral behavior (Konsep moral,
sikap moral, Prilaku moral)
4. Uraikan hubungan intraktif pengembangan nilai dan moral dalam mata
pelajaran PKn di SD
Jawaban :
Nilai merupakan ukuran atau pedoman perbuatan manusia, karena itulah maka nilai
diungkapkan dalam bentuk norma dan norma ini mengatur tingkah laku manusia.
Sedangkan moral adalah keseluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia di
masyarakat untuk me;aksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar. Moral
dipakai untuk memberikan penilaian atau predikat terhadap tingkah laku seseorang.
Hubungan interaktif proses pengembangan nilai dan moral dengan proses pendidikan
di sekolah harus dilihat dalam paradigma pendidikan nilai secara konseptual dan
operasional. Setiap individu warga negara sebaiknya mengerti dan memiliki
komitmen terhadap dasar moral demokrasi yakni menghormati hak orang lain,
mematuhi hukum yang berlaku, berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat, dan
peduli terhadap perlunya kebaikan umum. Konsep-konsep pendidikan nilai,
pendidikan moral, education for virtues diperkenalkan sebagai program dan proses
pendidikan yang tujuannya selain mengembangkan pikiran juga untuk
mengembangkan nilai dan sikap. Jean piaget pada masa hidupnya pernah menjadi
wakil direktur "institute of education science" dan sebagai guru besar (profesor)
psikologi eksperimental pada university of geneva. Piaget bertolak dari
postulatasumsi dasar bahwa "moralita berada dalam suatu sistem aturan". Atas dasar
itu ia meneliti bagaimana anak menyadari adanya aturan dan bagaimana ia
menerapkan aturan itu dalam suatu permainan. Sifat heteronomi anak disebabkan
oleh faktor kematangan struktur kognitif yang ditandai sifat egosentrisme dan
hubungan interaktif dengan orang dewasa dimana anak merasa kurang berkuasa
dibanding orang dewasa. Sedang sifat autonomi dipengaruhi oleh kematangan
struktur kognitif yang ditandai oleh kemampuan mengkaji aturan secara kritis dan
menerapkannya secara selektif yang muncul dari sikap resiprositas dan kerjasama.
Berpijak dengan penuh kesadaran pada pemikiran tersebut, sejak dini sekolah
diharapkan mampu mengambil peran yang aktif dalam merancang dan melaksanakan
pendidikan nilai moral yang bersumber dari kebijakan dan keadaan demokrasi.
Dalam ruang lingkup mata pelajaran PKn untuk pendidikan dasar dan menengah,
menurut Permendiknas NO.22Tahun 2006 secara umum meliputi subtansi kurikuler
yang didalannya mengandung nilai dan moral sebagai berikut: Persatuan dan
Kesatuan bangsa, Norma, hukum. dan peraturan Hak Asasi Manusia Kebutuhan
warga negara Kostitusi Negara, Kekuasaan dan Politik, Pancasila Globalisasi.
5. Selain memiliki keterkaitan mata pelajaran IPS apakah mata pelajaran PKn
juga terkait dengan mata pelajaran lain jelaskan
Jawaban :
Selain dgn mata pelajaran IPS, pendidikan kewarganegaraan juga memiliki
keterkaitan dgn mata pelajaran sosiologi.
pendidikan kewarganegaraan brtjuan untuk menjadikan kita sebagai warga negara yg
baik, sdgkn mata pelajaran sosiologi adalah ilmu yg mmpljri ttg masyarakat, tdk
hanya mmbhas ttg aturan aturan yg ad dlm msyrkat, ttpi juga penyimpangan sosial.
jadi, sih satu penyebab dari penyimpangan sosial ini adalah kurangnya pemahaman
msyrkat trhdp hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara yg baik.
Selain dgn mata pelajaran sosiologi, pendidikan kewarganegaraan juga berkaitan dgn
mata pelajaran sejarah. untuk mnjdi warga negara yg baik, semua itu didasari dgn
latar belakang sejarah/peristiwa yg trjdi di waktu Klampau. dgn mempelajari sejarah
kita dpt mengetahui bagaimana perjuangan perjuangan bangsa ini. kita juga dpt
mengetahui kekurangan kekurangan apa yg trdpt di era dulu, dan dpt diperbaiki pada
masa sekarang hingga trdpt perbaikan dari waktu ke waktu dgn mempelajari sejarah
ini, dpt ditemukan hal positif yg dpt dipertahankan untuk tercapainya tujuan
pendidikan kewarganegaraan saat ini atau di masa yg akan [Link]
kewarganegaraan juga berkaitan dgn pendidikan agama dan budi pekerti. karena dgn
mmpljri pendidikan agama dan budi pekerti ini, kita diajari nilai moral dan etika,
tentu saja hal ini dapat mendorong kita untuk mnjdi warga negara yg lebih baik.