1
KREATIVITAS BUDIDAYA LEBAH MADU DALAM UPAYA MENINGKATKAN
EKONOMI KELUARGA
(Makalah)
Disusun,
RENDI SAPUTRA
2354232028
JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN, PERIKANAN, DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA
2024
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan petunjuk-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah dengan judul “Kreativitas Budidaya
Lebah Madu Dalam Upaya Meningkatkan Ekonomi Keluarga”. makalah ini kami buat berdasarkan
apa yang telah kami lakukan sebagai mata kuliah terkait.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Miftahul Ahmad makalah ini sebagai pengajar
mata kuliah Aneka Ternak dan Satwa Harapan saya yang telah memberikan saran dalam penulisan
makalah ini. Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan
kemampuan penulis. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
konstruktif untuk kesempurnaan penyusunan yang akan datang. Semoga kebaikan yang telah
diberikan dapat menjadi amal sholeh dan ibadah bagi kita semua dan mendapatkan pahala yang
setimpal dari Allah SWT.
Seputih Banyak, 21 April 2024
Penyusun
RENDI SAPUTRA
ii
3
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR..............................................................................................................ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................iv
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................................................4
B. Tujuan .......................................................................................................................4
C. Manfaat .....................................................................................................................5
II. ISI MAKALAH
A. Lebah Madu...............................................................................................................6
B. Teknik Budidaya Madu..............................................................................................7
C. Teknik Budidaya Secara Keluarga ............................................................................8
III. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN..........................................................................................................13
B. SARAN......................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA
iii
4
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lebah merupakan satu-satunya hewan yang bisa menghasilkan madu yang memiliki banyak
manfaat bagi tubuh, budidaya lebah madu sudah banyak dikembangkan masyarakat pedesaan
yang dekat disekitar hutan atau ladang bunga, Selain itu masyarakat juga harus bisa
mengembangkan kreativitas agar budidaya lebah madu ini lebih efektif dan efesien dalam
pengerjaannya sehingga dapat menghasilkan madu yang lebih banyak dalam waktu relatif tidak
lama seperti Menginovasi dengan alat atau teknologi yang lebih cangih seperti manajemen
kandang serta alat untuk memanen dan lain-lain.
Selanjutnya, pemilihan lokasi juga harus benar-benar diperhatiankan karena sangatlah penting
agar lebah bisa mencarimakan dengan mudah sehingga tidak pindah atau bermigrasi ketempat
yang lain selain itu pemilihan lokasi yang strategis juga bisa menguntungkan di bidang wisata
lebah madu, daerah yang dipilih pun harus berhawa sejuk dan nyaman dengan suhu udara 20–
340C dengan kelembaban 70-80% ,tidak berangin kencang, jauh dari lokasi berbau yang
menyengat mapun berasap, tersedia sumber air bersih sepanjang tahun, dan stup untuk menerima
sinar Walaupun proses dalam mengembangkan budidaya lebah madu Sangat sulit akan tetapi
masyarakat masih banyak yang membudidayakannya, dikarenakam banyak sekali yang
mengkonsumsi dari anak-anak hingga dewasa, dengan berbagai tujuan salah satu untuk
menyehatkan tubuh sehingga banyak sekali konsumennya dan juga memiliki harga jual yang
lumayan mahal sehingga dapat meningkatkan ekomomi keluarga sehingga masyarakat
mendapatkan penghasilan dari memproduksi madu, bukan hanya itu jika masyarakat dapat
memanajement dengan baik ini juga sangat berpotensi menambah pundi-pundi uang selain dari
penjualan madu dari mendirikan taman wisata lebah madu sebagai edukasi untuk mengetahui
cara-cara mendapatkan madu dari lebah nya langsung sehingga para wisatawan dapat merasakan
sensasi memanen madu dan langsung meminumnya dari sarang lebah yang dijinakan sehingga
tidak berbahaya bagi para wisatawan.
B. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mngetahui cara peternakan lebah madu dan
meningkatkan daya jual hasil panen madu lebah.
5
C. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah Meningkatan Ekonomi Keluarga dengan
mengetahui cara budidaya madu lebah.
6
II. ISI MAKALAH
A. Lebah Madu
Wilayah Indonesia merupakan wilayah penyebaran beberapa jenis lebah penghasil
madu. Beberapa jenis lebah madu yang sudah dikenal adalah Apis dorsata (lebah hutan), Apis
cerana (lebah madu), Apis florea (Lanceng – bahasa Jawa), dan Apis mellifera (lebah unggul
dari Eropa yang dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungan Indonesia). Lebah jenis
Apis mellifera pertama kali dibudidayakan di Indonesia oleh Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka pada tahun 1972, kemudian berkembang juga di masyarakat dan sampai sekarang
populasi lebah jenis ini ada sekitar 3.000 koloni (Perum Perhutani 1986).
Bunga dan beberapa tunas daun tertentu merupakan sumber makanan lebah, karena
makanan lebah adalah sari bunga (nektar) dan tepung sari (pollen). Apabila tidak ada bunga
yang cukup, kadang-kadang lebah juga mengambil embun tunas (honey dew) yang manis dari
tunas daun tertentu. Lebah madu memiliki bagian-bagian alat mulut yang lengkap, meliputi
mandibula (rahang) dan flabellum (lidah) yang ukurannya tertentu. Kebanyakan lebah madu
bersifat politropik, artinya mengambil makanan dari berbagai jenis bunga. Akan tetapi, pada
pengamatan suatu musim menunjukkan bahwa dalam satu perjalanan mencari makan, lebah
madu hanya mengunjungi bunga dari satu jenis tanaman saja (Perum Perhutani 1986).
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap biologi lebah dan produksi madunya
antara lain: tersedianya jenis-jenis tanaman penghasil nektar dan polen (beeforage); iklim yang
serasi untuk perkembangan biologi lebah dan beeforage tersebut; populasi koloni lebah yang
tinggi pada saat persediaan nektar paling banyak; serta kemampuan fisik lebah dan sifat-sifat
khusus koloninya (Perum Perhutani 1986).
Jenis-jenis tumbuhan beeforage (tanaman-tanaman sumber makanan lebah) di
daerah tropik terdapat dalam hutan-hutan seperti hutan hujan tropik dataran rendah dan hutan
pegunungan tropik. Selain itu, vegetasi sabana dan hutan monson, hutan payau dan hutan
mangrove, juga merupakan daerah tumbuhan beeforage (Perum Perhutani 1986).
Beberapa produk perlebahan yang bermanfaat diantaranya madu, royal jelly, lilin, propolin,
dan venom (sengat lebah). Selain itu, manfaat tidak langsung dari lebah madu ini yaitu berupa
peningkatan produksi hasil-hasil pertanian dari efek polinasi yang dilakukannya.
7
B. Teknik Budi Daya Lebah Madu
Dalam melakukan budidaya lebah madu harus memperhatikan beberapa aspek penting
yaitu peralatan, perolehan (mendatkan) lebah, memanipulasi suatu koloni, Pemberian pakan,
dan pemeriksaan peti sarang. Langkah awal pada peternakan lebah madu adalah memperoleh
dan merakit peralatan yang diperlukan. Memilih peralatan yang memadai dan mempersiapkan
penggunaannya adalah suatu proses yang progresif berjalan untuk mempertahankan atau
meningkatkan kotak sarang. Hal terpenting dari peralatan adalah membuat peti sarang yang
kuat dan kokoh.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memperoleh lebah dalam memulai
perlebahan, diantaranya adalah menangkap lebah yang memisah/minggat, memindahkan lebah
liar dari sarangnya, membeli inti koloni lebah dari pembibit lebah madu, dan membeli koloni
utuh setempat. Peti sarang lebah kosong dapat dibuat tertarik bagi lebah bila bagian dalam peti
dan sekitar lubang masuk (pintu) lebah diolesi dengan lilin atau malam lebah yang lebh dulu
dipanaskan.
Memanipulasi suatu koloni lebah adalah menemukan apa yang sedang berlangsung di
dalam koloni tanpa terlalu banyak disengat lebah. Tugas pertama dalam memanipulasi suatu
koloni adalah menyalakan peasap untuk mengontrol lebah dan harus dijaga agar tetap menyala
selama bekerja. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai sumber pengasap adalah serasah,
dedaunan, dan kantong kertas bekas. Setelah peasap menyala pelaku siap beraksi dengan
menggunakan pakaian pelindung, seperti topi dan pelindung terhadap lebah (masker), pakaian
pelindung seluruh tubuh yang cukup tebal, sarung tangan tebal, sepatu bot, dan laras.
Makanan pokok lebah madu adalah tanaman berbunga yang mengandung sumber
nektar dan pollen. Bila tidak cukup tersedia tumbuhan sebagai sumber nectar dan polen maka
perlu diberikan makanan tambahan atau makanan suplemen. Ada kalanya sumber air juga
langka dan hal ini harus ditanggulangi. Suplemen makanan dapat dibuat dari larutan gula
dengan cara melarutkan gula dalam air dengan perbandingan 1:1.
Pemeriksaan peti sarang meliputi pemeriksaan ratu lebah dan pemeriksaan kondisi
sarang. Pemeriksaan ini bertujuan untuk meneliti kondisi dan menentukan faktor penyebabnya,
menganalisa masalah yang dihadapi koloni dan menetapkan cara mengatasinya. Dalam
pemeriksaan ratu lebah, satu peti sarang yang berproduksi baik harus memiliki ratu yang
sanggup bertelur banyak. Seekor ratu petelur baku diperiksa sesering kali akan performa
(penampilan produksi) tanpa mencari ratu untuk pemeriksaan secara cermat. Kondisi dalam
sarang juga harus dievaluasi sewaktu memeriksa peti sarang. Pemeriksaan kondisi dalam
sarang ini dapat dilakukan dengan mengamati persediaan madu dan polen. Polen segar tampak
kering, dan polen lama agak berminyak. Madu baru akan tersebar di dalam sel-sel sarang
tetasan kosong atau di pinggir sisiran polen.
8
C. Teknik Pembudidayaan Secara Keluarga
1. PERSIAPAN
Langkahawaldalam menyiapkan pemeliharaan lebah adalah menilai daya dukung lingkungan.
Penilaian ini penting untuk menentukan layak atau tidaknya memelihara lebah di suatu lokasi.
Kelayakan ini juga mempertimbangkan jenis lebah yang akan dipelihara, dan jumlah koloni
yang akan dipelihara. Setiap jenis lebah memerlukan kondisi lingkungan yang spesifik. Tiap
jenis juga memiliki toleransi yang berbeda. Di Indonesia, meskipun perkembangan perlebahan
cukup pesat, namun literatur yang komprehensif mengenai penilaian lingkungan ini masih
sangat terbatas, dan umumnya masih bersifat kualitatif.
Aspek lingkungan yang pertama dinilai adalah kondisi fisik lingkungan. Parameter yang bisa
dilihat misalnya temperatur dan kelembaban udara, serta curah hujan rata-rata tahunan. Lokasi
ideal untuk budidaya lebah memiliki suhu udara yang sejuk (tidak panas namun juga tidak
dingin). Suhu 20-30 C menjadi kisaran yang cukup ideal. Curah hujan yang sangat tinggi
menyebabkan lebah kurang aktif. Selanjutnya, komponen yang diidentifikasi adalah potensi
sumber pakan (baik penghasil nektar maupun serbuk sari), sumber propolis, maupun
keberadaan air. Potensi sumber pakan harus terpenuhi sepanjang tahun, dan jumlahnya
melimpah. Informasi mengenai periode pembungaan dari berbagai jenis tanaman mutlak
diketahui seorang pembudidaya. Untuk mengetahui ketersediaan pakan, seorang pembudidaya
wajib memiliki kalender pembungaan. Pembudidaya biasanya menanam tanaman berbunga
sepanjang tahun sebagai cadangan dalam masa-masa krisis, saat sumber pakan sangat
terbatas.
Lebah memiliki radius jelajah terbang tertentu, tergantung dari jenisnya. Daya jelajah ini
dijadikan pertimbangan dalam penilaian daya dukung lingkungan. Usahakan penempatan
koloni lebah sedekat mungkin dengan sumberpakan. Selain untuk pertimbangan potensipakan
dan material sarang lebah dalam radius jelajah, juga perlu diperhatikan potensi ancaman bagi
koloni lebah, misalnya potensi lahan pertanian yang menggunakan pestisida. Lokasi yang
ideal untuk pemeliharaan lebah harus bebas dari paparan pestisida. Penilaian kondisi
lingkungan menjadi kunci awal kesuksesan budidaya lebah. Pembudidaya yang melalaikan
penilaian lingkungan seringkali menemukan kendala di belakangnya, seperti lebah yang tidak
pernah menghasilkan madu, atau bahkan koloni lebahnya semakin habis.
Kualitas lingkungan adalah kunci awal Kunci awal keberhasilan budidaya lebah adalah lokasi
yang tepat yang mendukung budidaya. Analisa daya dukung untuk memulai budidaya lebah
kelulut ada di artikel yang telah terbit sebelumnya. Kriteria umum lokasi yang ideal sebagai
tempat budidaya kelulut sebagai berikut:
- Beriklim sejuk, potensipakan melimpah sepanjangt ahun, tersedia air.
- Lokasidi mana secara alami banyak dijumpai koloniliar: sekitar hutan dan lahan
agroforestri.
9
Perlu diperhatikan bahwa untuk memulai meliponikultur perlu persiapan yang memadai,
meliputi:
1. Ketersediaanpakan
Lebah sangat membutuhkan lingkungan yang kaya akan sumber pakan maupun material sarang.
Bagi peternak lebah, memiliki lokasi yang ideal, di mana banyak tersedia tanaman penghasil
nectar dan pollen menjadi modal utama untuk mencapai kesuksesan. Jenis-jenis tanaman
pendukung budidaya adalah sebagai berikut:
a. Penghasil nektar
Nektar adalah cairan manis yang dihasilkan oleh tumbuhan pada kelenjarnektarin. Kelenjar ini
umumnya terletak pada bunga, meskipun kelenjar ini juga bisa dijumpai di ketiak daun.
Nectar yang dihasilkan kelenjar pada bunga biasanya disebut nectar floral, sedangkan nectar
dari kelenjar selain pada bunga disebut nectar ekstrafloral. Tanaman penghasil nektar floral
antara lain: randu, kaliandra, tanaman air mata pengantin. Sedangkan tanaman penghasil
nektar ekstrafloral misalnya akasia daun lebar Acacia mangium, dan karet.
b. Penghasilserbuksari(pollen)
Serbuk sari adalah pembawa gamet jantan pada perkembangbiakan tumbuhan. Pollen bisa
dijumpai pada bunga, tepatnya pada benangsari. Sumber pollen yang disukai misalnya kelapa,
bunga matahari, widelia, bayam.
c. Penghasil resin
Resin adalah eksudat tanaman yang keluar pada saat tanaman mengalami luka. Resin bisa
muncul dari berbagai bagian tumbuhan, seperti batang, dahan, bahkan bunga. Beberapa
contoh tumbuhan penghasil resin yang disukai lebah kelulut: mangga, manggis ,nangka,
damar, dan meranti-merantian.
Untuk mendapatkan gambaran ketersediaan kelompok tanaman pendukung, maka perlu dibuat
Kalender Pembungaan. Kalender pembungaan berisi daftar jenis tanaman sumber pakan dan
musim pembungaannya. Dengan adanya informasiini, peternak lebah bisa mengetahui bila ada
masa-masa kurang pakan, dan mengambil tindakan yang diperlukan
10
Gambar 1. Contoh kalender pembungaan sederhana.
2. Kondisi fisik lingkungan
Kondisi fisik lingkungan antara l ain terdiri dari:
Suhu, suhu ideal Antara 20-30o C, paling ideal sekitar 26oC
Kelembaban sedang, tidak terlalu kering, dan tidak terlalu lembab
Angin, lokasi hendaknya terlindung dari angin kencang
3. Kondisi lahan yang ideal
Lahan ideal hendaknya dekat dengan sumber pakan dan sumber material sarang (tanaman
bergetah) sesuai dengan poin pertama yang telah disebutkan di atas. Selain itu, hendaknya
lahan tempat budi daya memiliki pohon-pohon naungan. Tersedia air disekitar lokasi. Bebas
11
dari paparan pestisida dan bahan beracun bagi serangga. Keberadaan potensi sumber pakan
harus terpenuhi sepanjang tahun, sehingga penting mengetahui periode pembungaan dari
berbagai jenis tanaman. Jenis-jenis lebah kelulut kecil (marga Tetragonula) radius jelajahnya
hanya 100-500 meter, sedangkan jenis-jenis besar bisa lebih dari 1 km. Semakin dekat lebah
mencari pakan, maka produktivitasnya akan lebih baik.
4. Alat dan bahan
Material yang umum digunakan untukmem buat stup/kotak lebah adalah papan kayu, dengan
ketebalan setidaknya 2 cm. Untuk proses pemindahan, pemecahan koloni lebah, maupun
pemanenan produk lebah; diperlukan alat-alat bantu, alat seperti pisau tipis, dan
wadah/kontainer. Untuk menghindari gigitan lebah, maka sebaiknya gunakan topi lebah yang
didesain khusus untuk melindungi bagian kepala, serta mengenakan pakaian yang menutup
tubuh. Sarung tangan juga cukup membantu untuk melindungi gigitan pada tangan.
MEDIASARANG
Untuk bisa memelihara lebah madu, kita perlu menyiapkan media yang akan digunakan
sebagai tempat meletakkan koloni yang kita pelihara. Rumah lebah, bisa dibilang begitu.
Sederhananya, rumah lebah adalah media tempat hidup koloni. Ada banyak bentuk dan rupa
rumah lebah, stup atau peti lebah adalah yang paling umum digunakan.
Pada prinsipnya, rumah lebah merupakan wadah buatan yang digunakan untuk pemeliharaan
lebah, menjadi tempat hidup dan berkembang biak suatu koloni lebah. Didalam media sarang
ini lebah membangun sarang, meletakkan telur-telur sampai menetas, merawat lebah-lebah
muda, menyimpan cadangan makanan. Kelangsungan hidup satu koloni tergantung pada
media sarang ini.
Kotak budidaya yang terbuat dari papan kayu adalah tipe yang biasa digunakan. Bentuk stup
lebah perlu disesuaikan dengan karakteristik lebah yang akan dipelihara. Hal ini karena tiap
jenis lebah tanpa sengat memiliki konfigurasi bentuk sarang yang berbeda-beda. Sebenarnya
belum ada yang membuat aturan baku dalam mendesain kotak sarang bagi lebah trigona.
Sebagian besar berdasarkan pengalaman para peternak lebah, karenanya bisa kita jumpai
banyak variasi model atau desain stup.
Kotak budidaya untuk koloni lebah dari jenis Tetragonula laeviceps biasanya berbentuk kotak
memanjang dengan posisi lubang pintu sarang di bagian depan. Ukuran volume yang biasa
dipakai adalah 12x10x30 cm. Untuk memudahkan pemanenan madu dan beebread, bagian
tengah kotak bisa diberikan sekat sebagian yang memisahkan kotak menjadi dua
kompartemen, bagian depan untuk penempatan brood, bagian belakang untuk penyimpanan
madu.
12
Sedangkan untuk lebah kelulut dari jenis Heterotrigona itama, biasanya kotak
berbentuk memanjang ke atas, lubang pintu pada satu sisi. Mengingat ukuran tubuh
utama yang lebih besar, maka ukuran kotak juga lebih besar. Kami mengembangkan
stup untuk brood berukuran volume 15X15X18 cm. Pemelihara lebah iama juga bisa
menggunakan sistem topping, dimana sarang lebah dipertahankan di log kayu, dan
ditambahkan kotak untuk penyimpan madu yang diletakkan di bagian atasnya.
Selain kotak/stup papan kayu, masih ada banyak variasi jenis material maupun
desain rumah lebah tanpa sengat. Para pembudidaya jenis laeviceps menggunakan
bermacam-macam media sarang, seperti bambu, gerabah, dan batok kelapa.
Laeviceps merupakan jenis lebah kecil yang adaptif dan paling mudah dibudidaya.
Media pemeliharaan lebah kelulut hendaknya disesuaikan dengan jenisnya, secara
sederhana sebagai berikut:
Jenis-jenis kelulut besar: Geniotrigona thoracica, Heterotrigona itama,
Tetrigona spp bisa menggunakan log kayu atau stup (box kayu) dengan papan yang
cukup tebal (>2 cm)
Jenis-jenis kelulut kecil: Tetragonulaspp; bisa menggunakan stup, ruas bambu,
batok kelapa, gerabah, dll.
Memperoleh dan Merakit
Peralatan (Kandang Lebah)
Mendapatkan Lebah
Memanipulasi Koloni
-Pemeriksaan Ratu
Pemeriksaan Peti Sarang -Pemeriksaan Kondisi dalam
Sarang
Bagan 1 Teknik budidaya lebah madu
13
III. KESIMPULAN
Dari makalah yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Dalam pengambilan tempat budidaya ini bertujuan yang paling penting adalah mempu
menghasilkan nilai ekonomis keluarga secara berkelanjutan.
2. Petani lebah dapat menghasilkan madu juga propolis yang sangat tinggi harga jualnya.
3. Tempat di adakannya kandang ternak madu lebah itu sangat mempengaruhi hasil
madu juga dengan kualitas daya produksi.
14
B. SARAN
Adapun saran dari makalah ini adalah dapat di harapkan bagi kelurga untuk dapat
memperhatikan sebuah teknik pembudidayaan lebah madu secara berkala.
15
DAFTAR PUSTAKA
Artikel, Penertian Ekonomi Menurut Para Ahli. Diakses melalui
[Link] senin 12 Desember 2016
Bradbear,[Link]:Aguidetotheservicesprovidedby bees and
the sustainable harvesting, processing and marketing of their products. FAO, Rome.
Fitria Lestari, Pengaruh Jiwa Kewirausahaan Dan Kreativitas Terhadap kelangsungan
Keberhasilan Usaha pada Sentra Industri Rajutan Binong Jati Bandung, dikutip Dalam
Jurnal Skripsi ( Pdf), Hal. 8.
Leka Lutpiatina, EfektivitasEktrak Propolis Lebah Kelulut (Trigona Spp) dalamMenghambat
Pertumbuhan Salmonella typhi, Staphylococcus aureus dan Candida Albicans, , Jurnal
Skala Kesehatan Volume 6 No. 1 Tahun 2015, hal. 2.
Nanda Kurnia Saridkk,Analisis Finansial Usaha Budidaya Lebah Madu (di Dusun Sidomukti
Desa Buana Sakti Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur), jurnal Sylva
Lestari, vol.1, No.1, (2013),hal.30.