Hubungan Sanitasi Dasar dan Diare
Hubungan Sanitasi Dasar dan Diare
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
1
Abstract
___________________________________________________________________
Demak Regency ranks second as the area with the highest prevalence of diarrhea in Central Java, which is
11.69%. Tridonorejo Village is the village with the most diarrhea cases in the working area of the Bonang 1
Health Center with 2,18% cases. This study aims to determine the relationship between basic sanitation
conditions and the incidence of diarrhea in Tridonorejo Village, Demak Regency. The type of this research is
observational analytic with cross sectional design. The research was conducted in September - October 2022. A
total of 96 samples were taken using proportional random sampling [Link] data were collected using
questionnaires and observation sheets. Analysis results using Chi-square and Fisher test showed p-value of the
latrine conditions (p=0,008; PR= 4,5; CI 95%=1,573-12,913), clean water (p=0,081; PR=2,9; CI
95%=1,010-8,325), garbage disposal (p=0,175; PR=2,60; CI 95%=0,776-9,065), and wastewater disposal
(p=0,039; PR=3,7; CI 95%=1,159-11,937). It can be concluded that there is a relationship between latrine
and wastewater disposal conditions on the incidence of diarrhea in Tridonorejo Village.
Alamat korespondensi:
p ISSN 2541-5581
Gedung F5 FIK UNNES Kampus Sekaran
Kec. Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50229 e ISSN 2541-5603
E-mail: zidnifauziyah@[Link]
430
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
431
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
sanitasi dapat mencemari tanah dan sumber air responden pada penelitian ini berbeda dengan
bersih yang digunakan manusia (Putranti, penelitian sebelumnya yakni dilaksanakan di
2013). Sumber air bersih dapat berperan dalam Desa Tridonorejo pada bulan September-
terjadinya penularan penyakit menular seperti Oktober tahun 2022. Tujuan dilakukannya
diare. Selain itu, pembuangan kotoran pada penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi
tempat terbuka dapat dimanfaatkan oleh lalat atau hubungan antara kondisi sanitasi dasar
sebagai tempat berkembangbiak. Apabila dengan kejadian diare di Desa Tridonorejo
serangga tersebut hinggap di makanan, maka Kecamatan Bonang Kabupaten Demak.
dapat memindahkan bakteri pada makanan
yang dikonsumsi manusia. Demikian juga METODE
sarana pembuangan air limbah perlu dikelola
untuk mencegah adanya genangan dan menjadi Penelitian ini merupakan penelitian
tempat berkembangbiaknya vektor-vektor observasional analitik dengan rancangan studi
penyebab penyakit. Air limbah yang cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada
mengandung banyak sabun dan bulan September – Oktober 2022 di Desa
mikroorganisme dapat mencemari sumber air Tridonorejo Kecamatan Bonang Kabupaten
bersih. Pengelolaan sampah yang buruk serta Demak. Variabel bebas (independent variable)
tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan dalam penelitian ini yaitu kondisi sanitasi dasar
sanitasi dapat menjadi tempat bagi berbagai yang terdiri dari kondisi jamban, kondisi sarana
vektor yang dapat menimbulkan penyakit air bersih, kondisi sarana pembuangan sampah,
termasuk diare (Langit, 2016). dan kondisi sarana pembuangan air limbah.
Peningkatan fasilitas sanitasi merupakan Variabel terikat (dependent variable) dalam
elemen yang sangat penting untuk mengurangi penelitian ini adalah kejadian diare di Desa
prevalensi diare. Salah satu studi yang Tridonorejo.
dilakukan di India menunjukkan bahwa Data dalam penelitian ini dikumpulkan
perbaikan fasilitas sanitasi berdampak pada dengan menggunakan instrumen penelitian
penurunan prevalensi diare anak balita di India berupa lembar observasi (checklist) dan
sebesar 7% sehingga perluasan lebih lanjut dari kuesioner. Lembar observasi (checklist)
program sanitasi sangat diperlukan (Mallick, digunakan untuk keperluan pengamatan
2020). Selain itu, studi yang dilakukan di (observasi) mengenai kondisi jamban, air bersih,
Nigeria mengungkapkan bahwa kondisi higiene tempat pembuangan sampah, dan saluran
dan sanitasi rumah tangga merupakan faktor pembuangan air limbah (SPAL) yang
risiko diare. Studi ini menyimpulkan bahwa digunakan oleh responden. Sementara itu,
peningkatan kebersihan, praktik penanganan kuesioner digunakan untuk mengetahui
air, dan sanitasi dalam rumah tangga kejadian diare pada responden. Teknik
merupakan faktor penting dalam pemberantasan pengambilan data dilakukan dengan wawancara
diare (Oloruntoba, 2014). singkat dan observasi langsung. Sebelum
Keaslian penelitian ini diperoleh dari dilakukan observasi terkait kondisi sanitasi
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh dasar, responden ditanyakan mengenai adanya
Sintari Lindayani dan R. Azizah tahun 2013, kejadian diare di keluarga tersebut termasuk
Lintang Sekar Langit tahun 2016, serta Rina apakah diare yang dialami responden
Amelia tahun 2018. Penelitian ini berfokus pada diakibatkan oleh adanya alergi atau penyakit
kondisi sanitasi dasar yang terdiri dari kondisi tertentu. Kejadian diare pada penelitian ini
jamban, kondisi sarana air bersih, kondisi didasarkan pada diagnosis suspect yaitu apabila
tempat pembuangan sampah, serta kondisi responden selama 3 (tiga) bulan terakhir pernah
saluran pembuangan air limbah dalam mengalami kondisi buang air besar (BAB)
kaitannya terhadap kejadian penyakit diare. dengan konsistensi feses lebih encer dengan
Lokasi penelitian, waktu penelitian, dan frekuensi >3 kali dalam rentang waktu 24 jam.
432
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
Populasi pada penelitian ini yaitu Pada variabel kondisi jamban, terdapat 19
penduduk yang berdomisili di Desa responden (19,8%) yang tidak memenuhi syarat
Tridonorejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten dan terdapat 77 responden (80,2%) yang telah
Demak sejumlah 1.922 KK dengan sampel memenuhi syarat. Pada variabel kondisi sarana
sejumlah 96. Teknik proportional random sampling air bersih, terdapat 18 responden (18,75%) yang
digunakan dalam pengambilan sampel pada tidak memenuhi syarat dan 78 responden
penelitian ini. (81,25%) yang memenuhi syarat. Pada variabel
Data dalam penelitian ini dilakukan kondisi sarana pembuangan sampah, terdapat
analisis secara univariat dan bivariat. Analisis 12 responden (12,5%) yang tidak memenuhi
univariat digunakan untuk mengetahui syarat dan 84 responden (87,5%) yang telah
persentase serta distribusi frekuensi dari setiap memenuhi syarat. Pada variabel kondisi sarana
variabel yang akan diteliti. Sementara itu, pembuangan air limbah, terdapat 67 responden
analisis secara bivariat pada penelitian ini (69,8%) yang tidak memenuhi syarat dan 29
dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square responden (30,2%) yang telah memenuhi
dengan tingkat kepercayaan 95% serta uji persyaratan.
Fisher’s Exact Test. Analisis bivariat tersebut Berdasarkan hasil analisis hubungan
dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kondisi jamban dengan kejadian diare, dapat
variabel bebas dan variabel terikat. diketahui bahwa dari 19 responden dengan
kondisi jamban tidak memenuhi syarat,
HASIL DAN PEMBAHASAN terdapat 11 responden (57,9%) yang
mengalami kejadian diare dan 8 responden
Berdasarkan tabel distribusi frekuensi (42,1%) yang tidak mengalami kejadian diare.
variabel bebas dan variabel terikat, dapat Sementara itu, dari 77 responden yang memiliki
dijelaskan bahwa pada variabel kejadian diare, sarana jamban memenuhi syarat, terdapat 18
terdapat 29 responden (30,2%) yang mengalami responden (23,4%) yang mengalami kejadian
kejadian diare dan terdapat 67 responden diare dan 59 responden (76,6%) yang tidak
(69,8%) yang tidak mengalami kejadian diare. mengalami kejadian diare.
433
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi- dilengkapi dengan penutup. Lantai jamban
square, didapatkan p-value sebesar 0,008 sehingga harus dibuat dari bahan kedap air, tidak licin,
dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat serta harus tersambung dengan SPAL.
hubungan yang erat antara kondisi sarana Bangunan bawah jamban harus dilengkapi
jamban dengan kejadian diare di Desa dengan tangki septik/cubluk yang dapat
Tridonorejo Kabupaten Demak. Nilai Prevalence mencegah terjadinya pencemaran. Lubang
Ratio (PR) = 4,5 (95% CI = 1,573-12,913), penampungan kotoran dengan jenis cubluk
menunjukkan bahwa responden dengan kondisi hanya diperuntukkan bagi daerah pedesaan
jamban yang tidak memenuhi syarat berisiko 4,5 dengan kepadatan penduduk rendah dan
kali lebih besar untuk mengalami kejadian diare kekurangan air (Kemenkes RI, 2014).
jika dibandingkan responden dengan kondisi Berdasarkan hasil observasi, sebagian
sarana jamban yang telah memenuhi syarat. besar masyarakat Desa Tridonorejo telah
Hasil penelitian ini dikuatkan atau linear memiliki jamban pribadi dengan konstruksi
dengan studi yang menunjukkan hasil bahwa leher angsa. Jamban leher angsa merupakan
fasilitas jamban keluarga, fasilitas tempat jenis jamban yang paling baik untuk digunakan
sampah keluarga, dan fasilitas cuci tangan pakai menurut kesehatan lingkungan. Penggunaan
sabun berhubungan dengan kejadian penyakit jamban model ini dapat mencegah masuknya
(Agustina, 2021). Hasil penelitian ini juga vektor penyakit serta bau tidak sedap (Marjuni,
semakna dengan studi yang yang menunjukkan 2020). Responden dengan kondisi jamban tidak
hasil bahwa terdapat hubungan antara kondisi memenuhi syarat dalam penelitian ini
jamban keluarga, pengelolaan air sungai dan air disebabkan karena belum tersedianya tangki
sumur menjadi air minum, serta kondisi SPAL septik untuk menampung kotoran. Sebagian
dengan kejadian diare (Manek, 2015). Sebuah besar responden yang tidak memiliki tangki
studi di India juga menunjukkan hasil bahwa septik tersebut bertempat tinggal dekat dengan
kemungkinan terjadinya diare pada anak-anak sungai sehingga pembuangan kotoran yang
yang tinjanya dibuang secara tidak aman berasal dari jamban masih dialirkan ke sungai
diperkirakan 11% lebih besar jika dibandingkan terdekat. Hal tersebut tentu berpotensi untuk
dengan anak-anak yang tinjanya dibuang menyebabkan pencemaran air dan tanah di
dengan aman. Studi tersebut juga menjelaskan sekitarnya.
bahwa meningkatnya pembuangan tinja yang Kuman penyakit yang terdapat pada
tidak aman di masyarakat juga dapat kotoran manusia dapat ditularkan melalui
meningkatkan risiko terjadinya penyakit diare kondisi jamban yang tidak sehat. Kuman ini
(Bawankule, 2017). selanjutnya dapat masuk ke dalam tubuh
Berdasarkan Permenkes RI Nomor 3 melalui kontak langsung atau melalui perantara
Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis hewan seperti serangga (Irawan, 2014). Kotoran
Masyarakat, salah satu cara yang dapat manusia mengandung banyak virus atau bakteri,
dilakukan untuk memutus rantai penularan salah satunya yaitu Eschericia coli. Salah satu
penyakit yaitu dengan penggunaan jamban bagian penting dari sanitasi lingkungan
sehat. Setiap keluarga diwajibkan untuk adalah pembuangan tinja atau kotoran
memiliki dan menggunakan jamban sehat yang manusia. Ketidaktepatan dalam pembuangan
dapat dijangkau oleh setiap anggota keluarga. tinja dapat mengakibatkan kontaminasi pada
Bangunan atas jamban yang terdiri dari dinding tanah dan sumber air bersih serta memberikan
dan atap harus bisa melindungi penggunanya peluang yang lebih besar bagi perkembang
dari gangguan cuaca dan lainnya. Bangunan biakan suatu vektor penyakit (Aisiyah, 2022).
bagian tengah jamban harus memiliki lubang Kegiatan penanganan dan pembuangan
pembuangan kotoran dengan jenis leher angsa, tinja sesuai syarat sanitasi bertujuan untuk
sedangkan bagi bangunan yang tidak memisahkan tinja sedemikian rupa untuk
menggunakan konstruksi leher angsa harus menghindari terjadinya kontak baik secara
434
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
langsung maupun tidak langsung antara tinja dapat terdiri dari adanya bahan dan tenaga ahli
dengan manusia sehingga dapat mencegah di masyarakat, sedangkan faktor nonteknis
penularan faecal born disease dari penderita terdiri dari kondisi ekonomi, sosial, dan budaya
kepada orang sehat dan pencemaran lingkungan yang berkembang di lingkungan masyarakat
secara umum. Pembuangan tinja merupakan (Putranti, 2013). Maka dari itu, diperlukan
suatu bahan buangan yang banyak koordinasi lintas sektor seperti sektor
mendatangkan permasalahan dalam bidang pendidikan, kesehatan, serta swasta untuk
kesehatan salah satunya sebagai media perbaikan kondisi fasilitas sanitasi di Desa
penyebaran penyakit seperti diare sehingga Tridonorejo. Pengembangan sumber daya
memerlukan perhatian khusus (Putranti, 2013). manusia termasuk kepala desa, perangkat desa,
Sarana jamban yang tidak tertutup dan bidan, dan peningkatan pengetahuan kader
pembuangan feses pada tempat terbuka dapat kesehatan juga perlu dilakukan agar target dan
dimanfaatkan oleh lalat untuk bereproduksi implementasi kebijakan dapat tercapai (Tika,
dimana binatang ini banyak hidup dan 2019).
berkembang biak pada tempat dengan kondisi Berdasarkan temuan analisis hubungan
lembab dan kotor. Lalat tersebut memiliki peran kondisi sarana air bersih dengan kejadian diare,
dalam penyebaran penyakit melalui tinja. Lalat dapat diketahui bahwa dari 18 responden
dapat hinggap dan bertelur pada kotoran dengan sarana penyediaan air bersih tidak
manusia sehingga dapat dimungkinkan bahwa memenuhi syarat, terdapat 9 responden (50,0%)
bakteri penyebab diare dapat berpindah dari yang mengalami kejadian diare dan 9 responden
lalat ke tubuh manusia apabila lalat tersebut (50,0%) yang tidak mengalami kejadian diare.
hinggap pada makanan yang dikonsumsi Sementara itu, dari 78 responden dengan sarana
(Langit, 2016). Bakteri penyebab diare dapat air bersih memenuhi syarat, terdapat 20
menular melalui kontak langsung dengan tinja responden (25,6%) yang mengalami kejadian
penderita dan atau melalui jalur fecal-oral antara diare dan 58 responden (74,4%) yang tidak
lain melalui makanan dan minuman yang telah mengalami kejadian diare.
terkontaminasi (Putranti, 2013). Penyakit diare Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji
juga dapat ditularkan akibat kurangnya Chi-square, didapatkan nilai p-value sebesar 0,081
kebiasaan mencuci tangan. Apabila tangan yang sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak
mengandung kuman penyakit dari kotoran terdapat hubungan atau korelasi yang bermakna
manusia tidak dibersihkan dengan baik, maka antara kondisi sarana penyediaan air bersih
dapat menjadi sarana masuknya kuman dengan kejadian diare di Desa Tridonorejo
penyakit ke dalam tubuh (Amelia, 2018). Kabupaten Demak. Tidak adanya hubungan
Feses manusia apabila tidak ditangani antara variabel kondisi sarana air bersih dengan
dan diproses secara aman, maka dapat diakses kejadian diare pada penelitian in disebabkan
oleh vektor-vektor penyebab diare dan karena sebagian besar masyarakat Desa
selanjutnya dapat megkontaminasi makanan Tridonorejo telah memiliki sarana air bersih
dan minuman. Di samping itu, bakteri dengan kualitas fisik yang baik, diantaranya
penyebab diare dapat mencemari sumber air tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna.
bersih yang dimanfaatkan oleh masyarakat Tempat penampungan air milik warga sebagian
karena jaraknya yang terlalu dekat (<10 m) besar sudah dalam keadaan tertutup dan
antara tempat penampung kotoran dengan terhindar dari bahan pencemar atau kotoran.
sumber air bersih atau sumur (Mafazah, 2013). Menurut hasil wawancara singkat dengan
Terdapat beberapa faktor yang penduduk setempat, warga mengungkapkan
mempengaruhi beragamnya metode bahwa sumber air yang digunakan warga di
pembuangan tinja di lingkungan masyarakat. Desa Tridonorejo yang meliputi sumur artesis,
Faktor tersebut dapat digolongkan menjadi air PDAM, dan PAMSIMAS sebagian besar
faktor teknis dan faktor nonteknis. Faktor teknis dalam kondisi baik dan secara kuantitas
435
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
telah dapat mencukupi kebutuhan air warga tempat perindukan vektor (Kemenkes RI, 2017).
sehari-hari. Sumber air bersih berhubungan dengan sarana
Hasil dari penelitian ini bertentangan persampahan dan fasilitas pembuangan limbah.
dengan salah satu studi terhadap anak balita di Maka dari itu, sumber air bersih sangat rentan
Nigeria yang mengungkapkan bahwa terdapat terhadap pencemaran. Pengelolaan sampah dan
hubungan secara statistik antara kualitas limbah yang buruk berpotensi mencemari
lingkungan hidup termasuk air dan fasilitas sumber air dan menjadi sarana penularan
sanitasi terhadap kejadian penyakit diare pada bakteri penyebab diare (Oktariza, 2018).
balita. Studi ini juga mengungkapkan bahwa Salah satu bakteri patogen penyebab
kemungkinan terjadinya penyakit diare akan diare adalah bakteri Eschericia coli. Bakteri ini
meningkat sebesar 14% dan 16% pada seseorang berkembang biak dengan mudah, cepat
yang tidak memiliki akses terhadap toilet dan air menyebar, serta dapat ditularkan ke melalui
bersih dibandingkan seseorang yang memiliki makanan atau mulut sehingga sering dikaitkan
akses lebih baik terhadap fasilitas tersebut dengan penyakit diare. Pada saat hujan,
(Yaya, 2018). Hasil dari penelitian ini juga tidak mekanisme transmisi dapat terjadi. Dalam
sependapat dengan salah satu studi yang kondisi tersebut, limbah dari feses atau tinja
menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan dapat terbawa ke dalam tanah oleh air melalui
erat antara sanitasi dasar termasuk salah pori-pori permukaan tanah atau bahkan
satunya sumber air bersih dan sarana air bersih, mengalir ke sumber air. Selanjutnya, bakteri
personal hygiene Ibu, serta pengetahuan Ibu penyakit diare dapat berpindah masuk ke dalam
terhadap kejadian diare pada anak balita di tubuh melalui makanan, minuman, atau tangan
wilayah kerja Puskesmas Tasikmadu yang telah terkontaminasi feses (Langit, 2016).
Karanganyar (Putra, 2019). Berdasarkan hasil analisis hubungan
Menurut Permenkes RI Nomor 32 Tahun kondisi sarana pembuangan sampah dengan
2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan kejadian diare, didapati bahwa dari 12
Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air responden dengan sarana pembuangan sampah
untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam tidak memenuhi syarat, terdapat 6 responden
Renang, Solus per Aqua, dan Pemandian (50,0%) yang mengalami kejadian diare dan 6
Umum, menyebutkan bahwa air yang responden (50,0%) yang tidak mengalami
digunakan untuk hygiene sanitasi harus kejadian diare. Sementara itu, dari 84 responden
terlindung dari kontaminasi dan sumber dengan sarana pembuangan sampah yang telah
pencemar, hewan pembawa penyakit, serta memenuhi syarat, terdapat 23 responden
436
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
(27,4%) yang mengalami kejadian diare dan 61 hari serta tidak membiarkan sampah tersimpan
responden (72,6%) yang tidak mengalami di dalam rumah (Kemenkes RI, 2014).
kejadian diare. Segala sesuatu yang tidak terpakai lagi,
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji baik di rumah maupun akibat proses industri,
Fisher’s Exact Test, diperoleh p-value sebesar dapat dianggap sebagai sampah. Sampah adalah
0,175. Maka dari itu, dapat diambil kesimpulan salah satu pemicu terjadinya masalah
bahwa tidak terdapat korelasi atau hubungan ketidakseimbangan lingkungan. Sampah
yang bermakna antara kondisi sarana tersebut dapat mengeluarkan gas yang
pembuangan sampah dengan kejadian penyakit berbahaya bagi kesehatan manusia jika dibuang
diare di Desa Tridonorejo Kabupaten Demak. tanpa adanya pengelolaan yang baik. Di
Hasil penelitian ini tidak sependapat dengan samping itu, pendangkalan sungai juga dapat
salah satu studi pada di Indonesia yang terjadi akibat kebiasaan membuang sampah
membuktikan bahwa terdapat hubungan antara sembarangan. Adanya proses penguraian
sanitasi lingkungan termasuk salah satunya sampah mampu mencemari air permukaan
yaitu pembuangan sampah terhadap kejadian melalui banjir tersebut. Pengelolaan sampah
diare akut pada anak (Aisiyah, 2022). Temuan yang salah dapat berakibat pada buruknya
penelitian ini juga bertentangan dengan studi kualitas lingkungan. Untuk mencegah penyakit
lain di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Kota diare, maka perlu dilakukan upaya untuk
Medan yang menemukan hubungan antara mengatasi masalah pembuangan sampah itu
keadaan bangunan jamban, sistem pembuangan sendiri (Amelia, 2018).
sampah, sistem pembuangan limbah, serta Sampah dapat dibedakan menjadi
praktik cuci tangan pakai sabun. sampah organik dan anorganik. Sampah
Tidak adanya hubungan atau korelasi organik memiliki sifat mudah membusuk dan
antara sarana pembuangan sampah terhadap apabila dibiarkan terlalu lama dapat
kejadian diare pada penelitian ini diakibatkan menimbulkan bau yang bisa menarik binatang
karena sebagian besar warga Desa Tridonorejo atau vektor penyakit, salah satunya lalat. Lalat
telah memiliki pengelolaan sampah yang baik tersebut dapat masuk ke area pemukiman dan
dengan adanya sistem pengangkutan sampah mengkontaminasi makanan yang dikonsumsi
yang dikelola oleh desa yang diambil kurang manusia. Selain itu, sampah yang dibiarkan
lebih setiap 2-3 hari sekali sehingga variabel ini menumpuk dapat mencemari tanah dan sumber
bukan merupakan faktor yang dominan air yang dimanfaatkan manusia untuk
terhadap kejadian diare. Beberapa responden kebutuhan sehari-hari (Langit, 2016). Studi yang
dengan kondisi pembuangan sampah yang dilakukan di Vellore, India, menyebutkan
belum memenuhi syarat disebabkan karena bahwa pembuangan sampah di dekat rumah
adanya sampah yang berserakan di sekitar merupakan faktor risiko yang signifikan
rumah responden dan saluran limbah rumah terhadap kepadatan lalat yang nantinya
warga. berkaitan dengan kejadian diare akut (Collinet-
Berdasarkan Permenkes RI Nomor 3 Adler, 2015).
Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Berdasarkan hasil analisis hubungan
Masyarakat, pengamanan sampah di rumah kondisi sarana pembuangan air limbah dengan
tangga terdiri dari kegiatan pengumpulan, kejadian diare, dapat dilihat bahwa dari 67
pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, responden dengan sarana pembuangan limbah
atau pembuangan sampah dengan langkah yang tidak memenuhi syarat, terdapat 25 responden
tidak berbahaya baik bagi lingkungan dan (37,3%) yang mengalami kejadian diare serta 42
kesehatan masyarakat. Pengamanan sampah responden (62,7%) yang tidak mengalami
pada skala rumah tangga dapat dilaksanakan kejadian diare. Sementara itu, dari 29 responden
dengan melakukan dengan pembuangan setiap dengan sarana pembuangan sampah yang telah
437
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
438
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
439
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
Kemenkes RI. 2018. Laporan Nasional Riset Kesehatan Meranti Kabupaten Asahan. Jurnal Kesehatan
Dasar (RISKESDAS) 2018. Jakarta: Lingkungan: Jurnal dan Aplikasi Teknik
Balitbangkes Kemenkes RI. Kesehatan Lingkungan, 19(2): 159–164.
Kemenkes RI. 2019. Laporan Provinsi Jawa Tengah Oktariza, M., Suhartono, & Dharminto. 2018.
Riskesdas 2018, Kementerian Kesehatan RI. Gambaran Kondisi Sanitasi Lingkungan
Jakarta: Balitbangkes Kemenkes RI. Rumah dengan Kejadian Diare pada Balita di
Langit, L.S. 2016. Hubungan Kondisi Sanitasi Dasar Wilayah Kerja Puskesmas Buayan Kabupaten
Rumah Dengan Kejadian Diare Pada Balita Kebumen. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-
Di Wilayah Kerja Puskesmas Rembang 2. Journal), 6(4): 476–484.
Jurnal Kesehatan Masyarakat (JKM e-Journal), Oloruntoba, E.O., Folarin, T.B., & Ayede, A.I. 2014.
4(2): 160–165. Hygiene and Sanitation Risk Factors of
Mafazah, L. 2013. Ketersediaan Sarana Sanitasi Diarrhoeal Disease among Under-five
Dasar, Personal Hygiene Ibu dan Kejadian Children in Ibadan, Nigeria. African Health
Diare. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(2): 176– Sciences, 14(4): 1001–1011.
182. Pricilia, P.J., Sondakh, R. C., & Akili, R. H. 2021.
Mallick, R., Mandal, S., & Chouhan, P. 2020. Impact Gambaran Sanitasi Lingkungan pada Tempat
of Sanitation and Clean Drinking Water on Tinggal Balita Penderita Diare di Wilayah
the Prevalence of Diarrhea among the Under- Kerja Puskesmas Minanga Kota Manado
five Children in India. Children and Youth Tahun 2021. Kesmas, 10(4): 122–129.
Services Review, 118(105478): 1–6. Putra, A.D.P., Rahardjo, M., & Joko, T. 2019.
Manek, W., & Suherman, S. 2015. Hubungan Hubungan Sanitasi Dasar dan Personal
Sumber Air Minum, Jamban Keluarga, dan Hygiene Dengan Kejadian Diare Pada Balita
Saluran Pembuangan Air Limbah dengan di Wilayah Kerja Puskesmas Tasikmadu
Kejadian Diare di Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karanganyar. Jurnal Kesehatan
Kuras Kabupaten Pelalawan. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 5(1): 422–429.
Komunitas, 2(3): 132–135. Putranti, D., & Sulistyorini, L. 2013. Hubungan
Marjuni, I.D., & Sulasmi. 2020. Hubungan Kondisi antara Kepemilikan Jamban dengan Kejadian
Sarana Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare di Desa Karangagung Kecamatan
Diare di Lembaga Permasyarakatan Palang Kabupaten Tuban. Jurnal Kesehatan
Perempuan Kelas II A Sungguminasa. Jurnal Lingkungan, 7(1): 54–63.
Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika Sengkey, A., Joseph, W.B.S., & Warouw, F. 2020.
dan Masyarakat, 20(1): 24–30. Hubungan Antara Ketersediaan Jamban
Misriyanto, E., Sitorus, R.J., & Misnaniarti. 2020. Keluarga dan Sistem Pembuangan Air
Analysis of Environmental Factors with Limbah Rumah Tangga dengan Kejadian
Chronic Diarrhea in Toddlers in Jambi City in Diare pada Balita Usia 24-59 Bulan di Desa
2019. International Journal of Science and Society, Raanan Baru Kecamatan Motoling Barat
2(4): 300–310. Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal Kesmas,
Miswan, M., Ramlah, S., & Rasyid, R. 2018. 9(1): 182–188.
Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Tika, M., & Widya, C. 2019. Implementasi Rencana
Penyakit Diare pada Masyarakat di Desa Aksi Daerah Percepatan Kabupaten Demak
Tumpapa Indah Kecamatan Balinggi Bebas Buang Air Besar Sembarangan. Higeia
Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Journal of Public Health Research and
Tengah. UNM Environmental Journals, 1(2): 33- Development, 1(3): 625–634.
38. Workie, G.Y., Akalu, T.Y., & Baraki, A.G. 2019.
Muhajjar, M., Rahardjo, M., & Dewanti, N. 2016. Environmental Factors Affecting Childhood
Analisis Spasial Hubungan Kualitas Diarrheal Disease among Under-Five
Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Children in Jamma District, South Wello
Balita di Kecamatan Genuk Kota Semarang. Zone, Northeast Ethiopia. BMC infectious
Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 4(3): diseases, 19(1): 1–7.
807–816. Yaya, S., Hudani, A., Udenigwe, O., Shah, V.,
Nanda, M., Rizky, D.Z., Tamara, F., Sinaga, I.A., Ekholuenetale, M., & Bishwajit, G. 2018.
Anggreni, D., Anggraini, D., Pratiwi, D. Improving Water, Sanitation and Hygiene
2022. Gambaran Sanitasi Dasar di Desa Practices, and Housing Quality to Prevent
440
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)
441