0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan12 halaman

Hubungan Sanitasi Dasar dan Diare

Artikel ini membahas hubungan antara kondisi sanitasi dasar seperti jamban, air bersih, pembuangan sampah dan limbah dengan kejadian diare di Desa Tridonorejo, Kabupaten Demak. Penelitian menunjukkan ada hubungan antara kondisi jamban dan pembuangan limbah dengan diare di desa tersebut.

Diunggah oleh

jungsoojung696969
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan12 halaman

Hubungan Sanitasi Dasar dan Diare

Artikel ini membahas hubungan antara kondisi sanitasi dasar seperti jamban, air bersih, pembuangan sampah dan limbah dengan kejadian diare di Desa Tridonorejo, Kabupaten Demak. Penelitian menunjukkan ada hubungan antara kondisi jamban dan pembuangan limbah dengan diare di desa tersebut.

Diunggah oleh

jungsoojung696969
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HIGEIA 7 (3) (2023)

HIGEIA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH


RESEARCH AND DEVELOPMENT
[Link]

Kondisi Sanitasi Dasar dengan Kejadian Diare

Zidni Fauziyah1, Arum Siwiendrayanti1

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
1

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
Sejarah Artikel: Kabupaten Demak menempati urutan kedua sebagai daerah dengan prevalensi diare tertinggi di
Diterima Januari 2023 Jawa Tengah, yaitu sebesar 11,69%. Desa Tridonorejo menjadi desa dengan kasus diare terbanyak
Disetujui Maret 2023 di wilayah kerja Puskesmas Bonang 1 dengan 2,18% kasus. Penelitian ini bertujuan untuk
Dipublikasikan Juli 2023 mengetahui hubungan kondisi sanitasi dasar dengan kejadian diare di Desa Tridonorejo
________________ Kabupaten Demak. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan cross
Keywords: sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan September - Oktober 2022. Jumlah sampel sebanyak
Diarrhea, basic sanitation 96 yang diambil dengan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan
____________________ menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Hasil analisis menggunakan uji Chi-square dan uji
DOI: Fisher menunjukkan nilai p-value kondisi jamban (p=0,008; PR=4,5; CI 95%=1,573-12,913),
[Link] kondisi sarana air bersih (p=0,081; PR=2,9; CI 95%=1,010-8,325), kondisi sarana pembuangan
/higeia/v7i3/65317 sampah (p=0,175; PR=2,60; CI 95%=0,776-9,065), dan kondisi saluran pembuangan air limbah
____________________ (p=0,039; PR=3,7; CI 95%=1,159-11,937). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara
kondisi jamban dan saluran pembuangan air limbah terhadap kejadian diare di Desa Tridonorejo.

Abstract
___________________________________________________________________
Demak Regency ranks second as the area with the highest prevalence of diarrhea in Central Java, which is
11.69%. Tridonorejo Village is the village with the most diarrhea cases in the working area of the Bonang 1
Health Center with 2,18% cases. This study aims to determine the relationship between basic sanitation
conditions and the incidence of diarrhea in Tridonorejo Village, Demak Regency. The type of this research is
observational analytic with cross sectional design. The research was conducted in September - October 2022. A
total of 96 samples were taken using proportional random sampling [Link] data were collected using
questionnaires and observation sheets. Analysis results using Chi-square and Fisher test showed p-value of the
latrine conditions (p=0,008; PR= 4,5; CI 95%=1,573-12,913), clean water (p=0,081; PR=2,9; CI
95%=1,010-8,325), garbage disposal (p=0,175; PR=2,60; CI 95%=0,776-9,065), and wastewater disposal
(p=0,039; PR=3,7; CI 95%=1,159-11,937). It can be concluded that there is a relationship between latrine
and wastewater disposal conditions on the incidence of diarrhea in Tridonorejo Village.

© 2023 Universitas Negeri Semarang


Alamat korespondensi:
p ISSN 2541-5581
Gedung F5 FIK UNNES Kampus Sekaran
Kec. Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah 50229 e ISSN 2541-5603
E-mail: zidnifauziyah@[Link]

430
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

PENDAHULUAN wilayah kerja Puskesmas Bonang 1 menempati


urutan pertama sebagai desa dengan persentase
Penyakit diare adalah penyakit berbasis kasus diare tertinggi di wilayah kerja Puskesmas
lingkungan yang masih menjadi masalah Bonang 1 dengan persentase 2,18% atau
kesehatan di negara-negara berkembang sejumlah 42 kasus.
termasuk Indonesia. Diare didefinisikan sebagai Kondisi fasilitas sanitasi di Desa
kondisi buang air besar (BAB) dengan Tridonorejo belum seluruhnya mencapai 100%,
konsistensi feses lebih encer dengan frekuensi diantaranya 92,6% untuk pengelolaan air
>3 kali dalam 24 jam. Bayi berusia kurang dari minum, 51,01% untuk pengelolaan sampah, dan
1 bulan yang masih menyusui biasanya buang 50,30% untuk pengelolaan air limbah (Dinkes
air besar lebih sering (5-6 kali sehari) dan Demak, 2022). Meskipun sebagian besar
dianggap normal apabila feses dalam konsistensi masyarakat Desa Tridonorejo telah memiliki
baik (Kemenkes RI, 2018). Penyakit diare jamban permanen dengan konstruksi leher
adalah penyakit endemis yang berpotensi angsa, masih terdapat masyarakat yang belum
menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB) serta memiliki tangki septik terutama masyarakat
masih menjadi faktor penyebab kematian yang bertempat tinggal dekat dengan sungai
terutama pada anak usia balita di Indonesia. yang masih mengalirkan tinja ke aliran sungai.
Pada tahun 2020, angka kesakitan (incidence rate) Selain itu, meskipun sudah terdapat sistem
diare di Indonesia pada seluruh kelompok umur pengelolaan sampah di Desa Tridonorejo, masih
tercatat sejumlah 270 per 1.000 kelahiran hidup. banyak sampah yang tergenang dan menyumbat
Data Riskesdas pada tahun 2018 menunjukkan saluran pembuangan air limbah. Dalam hal
bahwa persentase diare pada bayi sebesar pengelolaan air limbah, masih ditemukannya
10,6%, balita sebesar 12,3%, dan pada seluruh masyarakat yang membuang limbah rumah
kelompok umur sebesar 8% (Kemenkes RI, tangga secara terbuka di halaman rumah dan
2018). menimbulkan genangan.
Data Riskesdas pada tahun 2013 dan Kondisi sanitasi dasar berkaitan erat
2018 menunjukkan adanya peningkatan dengan kejadian penyakit diare dimana risiko
kejadian diare di Provinsi Jawa Tengah dimana terjadinya diare dapat lebih tinggi dengan
angka Period Prevalence Rate yang didasarkan buruknya kondisi sanitasi dasar. Sanitasi dasar
pada gejala dan diagnosis tenaga kesehatan merupakan persyaratan kesehatan minimal yang
meningkat dari 6,7% menjadi 8,4% pada tahun wajib dimiliki oleh setiap rumah tangga agar
2018 dengan total sejumlah 132.565 kasus. tercipta lingkungan sehat yang memenuhi
Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan persyaratan kesehatan. Ruang lingkup sanitasi
rata-rata nasional yang sebesar 8,0%. Kabupaten dasar terdiri dari jamban sehat, sarana air
Demak menempati urutan kedua sebagai bersih, pembuangan sampah, dan pembuangan
wilayah dengan prevalensi diare tertinggi di air limbah (Nanda, 2022). Faktor lingkungan
Provinsi Jawa Tengah dengan persentase yang buruk serta kurangnya perilaku hidup
sebesar 13,24% (Kemenkes RI, 2019). bersih dapat berkontribusi terhadap kejadian
Pada tahun 2021, jumlah kasus diare penyakit diare. Hal ini tercermin dari kurangnya
berdasarkan laporan puskesmas di Kabupaten kepemilikan sarana sanitasi dasar yang terdiri
Demak tercatat sejumlah 30.080 kasus pada dari jamban keluarga, tempat sampah rumah
semua kelompok umur dengan angka kesakitan tangga, sarana pengelolaan air limbah, serta
sebesar 270 per 1.000 penduduk. Prevalensi rendahnya cakupan akses masyarakat terhadap
diare di wilayah kerja Puskesmas Bonang 1 air bersih (Dinkes Demak, 2021).
pada tahun 2021 tercatat sebesar 2,7% atau Penyakit berbasis lingkungan seperti diare
1.574 kasus (Dinkes Demak, 2021). Berdasarkan dapat menyebar akibat buruknya kondisi
data dari Puskesmas Bonang 1 selama 8 bulan keempat aspek sanitasi dasar. Tinja manusia
terakhir, Desa Tridonorejo yang terletak di yang dibuang tanpa memenuhi persyaratan

431
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

sanitasi dapat mencemari tanah dan sumber air responden pada penelitian ini berbeda dengan
bersih yang digunakan manusia (Putranti, penelitian sebelumnya yakni dilaksanakan di
2013). Sumber air bersih dapat berperan dalam Desa Tridonorejo pada bulan September-
terjadinya penularan penyakit menular seperti Oktober tahun 2022. Tujuan dilakukannya
diare. Selain itu, pembuangan kotoran pada penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi
tempat terbuka dapat dimanfaatkan oleh lalat atau hubungan antara kondisi sanitasi dasar
sebagai tempat berkembangbiak. Apabila dengan kejadian diare di Desa Tridonorejo
serangga tersebut hinggap di makanan, maka Kecamatan Bonang Kabupaten Demak.
dapat memindahkan bakteri pada makanan
yang dikonsumsi manusia. Demikian juga METODE
sarana pembuangan air limbah perlu dikelola
untuk mencegah adanya genangan dan menjadi Penelitian ini merupakan penelitian
tempat berkembangbiaknya vektor-vektor observasional analitik dengan rancangan studi
penyebab penyakit. Air limbah yang cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada
mengandung banyak sabun dan bulan September – Oktober 2022 di Desa
mikroorganisme dapat mencemari sumber air Tridonorejo Kecamatan Bonang Kabupaten
bersih. Pengelolaan sampah yang buruk serta Demak. Variabel bebas (independent variable)
tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan dalam penelitian ini yaitu kondisi sanitasi dasar
sanitasi dapat menjadi tempat bagi berbagai yang terdiri dari kondisi jamban, kondisi sarana
vektor yang dapat menimbulkan penyakit air bersih, kondisi sarana pembuangan sampah,
termasuk diare (Langit, 2016). dan kondisi sarana pembuangan air limbah.
Peningkatan fasilitas sanitasi merupakan Variabel terikat (dependent variable) dalam
elemen yang sangat penting untuk mengurangi penelitian ini adalah kejadian diare di Desa
prevalensi diare. Salah satu studi yang Tridonorejo.
dilakukan di India menunjukkan bahwa Data dalam penelitian ini dikumpulkan
perbaikan fasilitas sanitasi berdampak pada dengan menggunakan instrumen penelitian
penurunan prevalensi diare anak balita di India berupa lembar observasi (checklist) dan
sebesar 7% sehingga perluasan lebih lanjut dari kuesioner. Lembar observasi (checklist)
program sanitasi sangat diperlukan (Mallick, digunakan untuk keperluan pengamatan
2020). Selain itu, studi yang dilakukan di (observasi) mengenai kondisi jamban, air bersih,
Nigeria mengungkapkan bahwa kondisi higiene tempat pembuangan sampah, dan saluran
dan sanitasi rumah tangga merupakan faktor pembuangan air limbah (SPAL) yang
risiko diare. Studi ini menyimpulkan bahwa digunakan oleh responden. Sementara itu,
peningkatan kebersihan, praktik penanganan kuesioner digunakan untuk mengetahui
air, dan sanitasi dalam rumah tangga kejadian diare pada responden. Teknik
merupakan faktor penting dalam pemberantasan pengambilan data dilakukan dengan wawancara
diare (Oloruntoba, 2014). singkat dan observasi langsung. Sebelum
Keaslian penelitian ini diperoleh dari dilakukan observasi terkait kondisi sanitasi
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh dasar, responden ditanyakan mengenai adanya
Sintari Lindayani dan R. Azizah tahun 2013, kejadian diare di keluarga tersebut termasuk
Lintang Sekar Langit tahun 2016, serta Rina apakah diare yang dialami responden
Amelia tahun 2018. Penelitian ini berfokus pada diakibatkan oleh adanya alergi atau penyakit
kondisi sanitasi dasar yang terdiri dari kondisi tertentu. Kejadian diare pada penelitian ini
jamban, kondisi sarana air bersih, kondisi didasarkan pada diagnosis suspect yaitu apabila
tempat pembuangan sampah, serta kondisi responden selama 3 (tiga) bulan terakhir pernah
saluran pembuangan air limbah dalam mengalami kondisi buang air besar (BAB)
kaitannya terhadap kejadian penyakit diare. dengan konsistensi feses lebih encer dengan
Lokasi penelitian, waktu penelitian, dan frekuensi >3 kali dalam rentang waktu 24 jam.

432
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

Populasi pada penelitian ini yaitu Pada variabel kondisi jamban, terdapat 19
penduduk yang berdomisili di Desa responden (19,8%) yang tidak memenuhi syarat
Tridonorejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten dan terdapat 77 responden (80,2%) yang telah
Demak sejumlah 1.922 KK dengan sampel memenuhi syarat. Pada variabel kondisi sarana
sejumlah 96. Teknik proportional random sampling air bersih, terdapat 18 responden (18,75%) yang
digunakan dalam pengambilan sampel pada tidak memenuhi syarat dan 78 responden
penelitian ini. (81,25%) yang memenuhi syarat. Pada variabel
Data dalam penelitian ini dilakukan kondisi sarana pembuangan sampah, terdapat
analisis secara univariat dan bivariat. Analisis 12 responden (12,5%) yang tidak memenuhi
univariat digunakan untuk mengetahui syarat dan 84 responden (87,5%) yang telah
persentase serta distribusi frekuensi dari setiap memenuhi syarat. Pada variabel kondisi sarana
variabel yang akan diteliti. Sementara itu, pembuangan air limbah, terdapat 67 responden
analisis secara bivariat pada penelitian ini (69,8%) yang tidak memenuhi syarat dan 29
dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square responden (30,2%) yang telah memenuhi
dengan tingkat kepercayaan 95% serta uji persyaratan.
Fisher’s Exact Test. Analisis bivariat tersebut Berdasarkan hasil analisis hubungan
dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kondisi jamban dengan kejadian diare, dapat
variabel bebas dan variabel terikat. diketahui bahwa dari 19 responden dengan
kondisi jamban tidak memenuhi syarat,
HASIL DAN PEMBAHASAN terdapat 11 responden (57,9%) yang
mengalami kejadian diare dan 8 responden
Berdasarkan tabel distribusi frekuensi (42,1%) yang tidak mengalami kejadian diare.
variabel bebas dan variabel terikat, dapat Sementara itu, dari 77 responden yang memiliki
dijelaskan bahwa pada variabel kejadian diare, sarana jamban memenuhi syarat, terdapat 18
terdapat 29 responden (30,2%) yang mengalami responden (23,4%) yang mengalami kejadian
kejadian diare dan terdapat 67 responden diare dan 59 responden (76,6%) yang tidak
(69,8%) yang tidak mengalami kejadian diare. mengalami kejadian diare.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Variabel Bebas dan Variabel Terikat


No. Variabel Frekuensi Persentase
1. Kejadian diare
Diare 29 30,2%
Tidak diare 67 69,8%
Total 96 100%
2. Kondisi jamban
Tidak memenuhi syarat 19 19,8%
Memenuhi syarat 77 80,2%
Total 96 100%
3. Kondisi sarana air bersih
Tidak memenuhi syarat 18 18,75%
Memenuhi syarat 78 81,25%
Total 96 100%
4. Kondisi sarana pembuangan sampah
Tidak memenuhi syarat 12 12,5%
Memenuhi syarat 84 87,5%
Total 96 100%
5. Kondisi sarana pembuangan air limbah
Tidak memenuhi syarat 67 69,8%
Memenuhi syarat 29 30,2%
Jumlah 96 100%

433
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi- dilengkapi dengan penutup. Lantai jamban
square, didapatkan p-value sebesar 0,008 sehingga harus dibuat dari bahan kedap air, tidak licin,
dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat serta harus tersambung dengan SPAL.
hubungan yang erat antara kondisi sarana Bangunan bawah jamban harus dilengkapi
jamban dengan kejadian diare di Desa dengan tangki septik/cubluk yang dapat
Tridonorejo Kabupaten Demak. Nilai Prevalence mencegah terjadinya pencemaran. Lubang
Ratio (PR) = 4,5 (95% CI = 1,573-12,913), penampungan kotoran dengan jenis cubluk
menunjukkan bahwa responden dengan kondisi hanya diperuntukkan bagi daerah pedesaan
jamban yang tidak memenuhi syarat berisiko 4,5 dengan kepadatan penduduk rendah dan
kali lebih besar untuk mengalami kejadian diare kekurangan air (Kemenkes RI, 2014).
jika dibandingkan responden dengan kondisi Berdasarkan hasil observasi, sebagian
sarana jamban yang telah memenuhi syarat. besar masyarakat Desa Tridonorejo telah
Hasil penelitian ini dikuatkan atau linear memiliki jamban pribadi dengan konstruksi
dengan studi yang menunjukkan hasil bahwa leher angsa. Jamban leher angsa merupakan
fasilitas jamban keluarga, fasilitas tempat jenis jamban yang paling baik untuk digunakan
sampah keluarga, dan fasilitas cuci tangan pakai menurut kesehatan lingkungan. Penggunaan
sabun berhubungan dengan kejadian penyakit jamban model ini dapat mencegah masuknya
(Agustina, 2021). Hasil penelitian ini juga vektor penyakit serta bau tidak sedap (Marjuni,
semakna dengan studi yang yang menunjukkan 2020). Responden dengan kondisi jamban tidak
hasil bahwa terdapat hubungan antara kondisi memenuhi syarat dalam penelitian ini
jamban keluarga, pengelolaan air sungai dan air disebabkan karena belum tersedianya tangki
sumur menjadi air minum, serta kondisi SPAL septik untuk menampung kotoran. Sebagian
dengan kejadian diare (Manek, 2015). Sebuah besar responden yang tidak memiliki tangki
studi di India juga menunjukkan hasil bahwa septik tersebut bertempat tinggal dekat dengan
kemungkinan terjadinya diare pada anak-anak sungai sehingga pembuangan kotoran yang
yang tinjanya dibuang secara tidak aman berasal dari jamban masih dialirkan ke sungai
diperkirakan 11% lebih besar jika dibandingkan terdekat. Hal tersebut tentu berpotensi untuk
dengan anak-anak yang tinjanya dibuang menyebabkan pencemaran air dan tanah di
dengan aman. Studi tersebut juga menjelaskan sekitarnya.
bahwa meningkatnya pembuangan tinja yang Kuman penyakit yang terdapat pada
tidak aman di masyarakat juga dapat kotoran manusia dapat ditularkan melalui
meningkatkan risiko terjadinya penyakit diare kondisi jamban yang tidak sehat. Kuman ini
(Bawankule, 2017). selanjutnya dapat masuk ke dalam tubuh
Berdasarkan Permenkes RI Nomor 3 melalui kontak langsung atau melalui perantara
Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis hewan seperti serangga (Irawan, 2014). Kotoran
Masyarakat, salah satu cara yang dapat manusia mengandung banyak virus atau bakteri,
dilakukan untuk memutus rantai penularan salah satunya yaitu Eschericia coli. Salah satu
penyakit yaitu dengan penggunaan jamban bagian penting dari sanitasi lingkungan
sehat. Setiap keluarga diwajibkan untuk adalah pembuangan tinja atau kotoran
memiliki dan menggunakan jamban sehat yang manusia. Ketidaktepatan dalam pembuangan
dapat dijangkau oleh setiap anggota keluarga. tinja dapat mengakibatkan kontaminasi pada
Bangunan atas jamban yang terdiri dari dinding tanah dan sumber air bersih serta memberikan
dan atap harus bisa melindungi penggunanya peluang yang lebih besar bagi perkembang
dari gangguan cuaca dan lainnya. Bangunan biakan suatu vektor penyakit (Aisiyah, 2022).
bagian tengah jamban harus memiliki lubang Kegiatan penanganan dan pembuangan
pembuangan kotoran dengan jenis leher angsa, tinja sesuai syarat sanitasi bertujuan untuk
sedangkan bagi bangunan yang tidak memisahkan tinja sedemikian rupa untuk
menggunakan konstruksi leher angsa harus menghindari terjadinya kontak baik secara

434
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

langsung maupun tidak langsung antara tinja dapat terdiri dari adanya bahan dan tenaga ahli
dengan manusia sehingga dapat mencegah di masyarakat, sedangkan faktor nonteknis
penularan faecal born disease dari penderita terdiri dari kondisi ekonomi, sosial, dan budaya
kepada orang sehat dan pencemaran lingkungan yang berkembang di lingkungan masyarakat
secara umum. Pembuangan tinja merupakan (Putranti, 2013). Maka dari itu, diperlukan
suatu bahan buangan yang banyak koordinasi lintas sektor seperti sektor
mendatangkan permasalahan dalam bidang pendidikan, kesehatan, serta swasta untuk
kesehatan salah satunya sebagai media perbaikan kondisi fasilitas sanitasi di Desa
penyebaran penyakit seperti diare sehingga Tridonorejo. Pengembangan sumber daya
memerlukan perhatian khusus (Putranti, 2013). manusia termasuk kepala desa, perangkat desa,
Sarana jamban yang tidak tertutup dan bidan, dan peningkatan pengetahuan kader
pembuangan feses pada tempat terbuka dapat kesehatan juga perlu dilakukan agar target dan
dimanfaatkan oleh lalat untuk bereproduksi implementasi kebijakan dapat tercapai (Tika,
dimana binatang ini banyak hidup dan 2019).
berkembang biak pada tempat dengan kondisi Berdasarkan temuan analisis hubungan
lembab dan kotor. Lalat tersebut memiliki peran kondisi sarana air bersih dengan kejadian diare,
dalam penyebaran penyakit melalui tinja. Lalat dapat diketahui bahwa dari 18 responden
dapat hinggap dan bertelur pada kotoran dengan sarana penyediaan air bersih tidak
manusia sehingga dapat dimungkinkan bahwa memenuhi syarat, terdapat 9 responden (50,0%)
bakteri penyebab diare dapat berpindah dari yang mengalami kejadian diare dan 9 responden
lalat ke tubuh manusia apabila lalat tersebut (50,0%) yang tidak mengalami kejadian diare.
hinggap pada makanan yang dikonsumsi Sementara itu, dari 78 responden dengan sarana
(Langit, 2016). Bakteri penyebab diare dapat air bersih memenuhi syarat, terdapat 20
menular melalui kontak langsung dengan tinja responden (25,6%) yang mengalami kejadian
penderita dan atau melalui jalur fecal-oral antara diare dan 58 responden (74,4%) yang tidak
lain melalui makanan dan minuman yang telah mengalami kejadian diare.
terkontaminasi (Putranti, 2013). Penyakit diare Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji
juga dapat ditularkan akibat kurangnya Chi-square, didapatkan nilai p-value sebesar 0,081
kebiasaan mencuci tangan. Apabila tangan yang sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak
mengandung kuman penyakit dari kotoran terdapat hubungan atau korelasi yang bermakna
manusia tidak dibersihkan dengan baik, maka antara kondisi sarana penyediaan air bersih
dapat menjadi sarana masuknya kuman dengan kejadian diare di Desa Tridonorejo
penyakit ke dalam tubuh (Amelia, 2018). Kabupaten Demak. Tidak adanya hubungan
Feses manusia apabila tidak ditangani antara variabel kondisi sarana air bersih dengan
dan diproses secara aman, maka dapat diakses kejadian diare pada penelitian in disebabkan
oleh vektor-vektor penyebab diare dan karena sebagian besar masyarakat Desa
selanjutnya dapat megkontaminasi makanan Tridonorejo telah memiliki sarana air bersih
dan minuman. Di samping itu, bakteri dengan kualitas fisik yang baik, diantaranya
penyebab diare dapat mencemari sumber air tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna.
bersih yang dimanfaatkan oleh masyarakat Tempat penampungan air milik warga sebagian
karena jaraknya yang terlalu dekat (<10 m) besar sudah dalam keadaan tertutup dan
antara tempat penampung kotoran dengan terhindar dari bahan pencemar atau kotoran.
sumber air bersih atau sumur (Mafazah, 2013). Menurut hasil wawancara singkat dengan
Terdapat beberapa faktor yang penduduk setempat, warga mengungkapkan
mempengaruhi beragamnya metode bahwa sumber air yang digunakan warga di
pembuangan tinja di lingkungan masyarakat. Desa Tridonorejo yang meliputi sumur artesis,
Faktor tersebut dapat digolongkan menjadi air PDAM, dan PAMSIMAS sebagian besar
faktor teknis dan faktor nonteknis. Faktor teknis dalam kondisi baik dan secara kuantitas

435
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

Tabel 2. Hubungan Variabel Bebas dengan Variabel Terikat


Kejadian Diare
Tidak Total p- Prevalence Ratio
No Variabel Independen Diare
Diare value (95% CI)
n % n % N %
1. Kondisi Sarana Jamban
Tidak Memenuhi Syarat 11 57,9 8 42,1 19 100 0,008 4,5
Memenuhi Syarat 18 23,4 59 76,6 77 100 (1,573-12,913)
2. Kondisi Sarana Air Bersih
Tidak Memenuhi Syarat 9 50,0 9 50,0 18 100 0,081 2,9
Memenuhi Syarat 20 25,6 58 74,4 78 100 (1,010-8,325)
3. Kondisi Sarana
Pembuangan Sampah
Tidak Memenuhi Syarat 6 50,0 6 50,0 12 100 0,175 2,6
Memenuhi Syarat 23 27,4 61 72,6 84 100 (0,776-9,065)
4. Kondisi Sarana
Pembuangan Air Limbah
Tidak Memenuhi Syarat 25 37,3 42 62,7 67 100 0,039 3,7
Memenuhi Syarat 4 13,8 25 86,2 29 100 (1,159-11,937)

telah dapat mencukupi kebutuhan air warga tempat perindukan vektor (Kemenkes RI, 2017).
sehari-hari. Sumber air bersih berhubungan dengan sarana
Hasil dari penelitian ini bertentangan persampahan dan fasilitas pembuangan limbah.
dengan salah satu studi terhadap anak balita di Maka dari itu, sumber air bersih sangat rentan
Nigeria yang mengungkapkan bahwa terdapat terhadap pencemaran. Pengelolaan sampah dan
hubungan secara statistik antara kualitas limbah yang buruk berpotensi mencemari
lingkungan hidup termasuk air dan fasilitas sumber air dan menjadi sarana penularan
sanitasi terhadap kejadian penyakit diare pada bakteri penyebab diare (Oktariza, 2018).
balita. Studi ini juga mengungkapkan bahwa Salah satu bakteri patogen penyebab
kemungkinan terjadinya penyakit diare akan diare adalah bakteri Eschericia coli. Bakteri ini
meningkat sebesar 14% dan 16% pada seseorang berkembang biak dengan mudah, cepat
yang tidak memiliki akses terhadap toilet dan air menyebar, serta dapat ditularkan ke melalui
bersih dibandingkan seseorang yang memiliki makanan atau mulut sehingga sering dikaitkan
akses lebih baik terhadap fasilitas tersebut dengan penyakit diare. Pada saat hujan,
(Yaya, 2018). Hasil dari penelitian ini juga tidak mekanisme transmisi dapat terjadi. Dalam
sependapat dengan salah satu studi yang kondisi tersebut, limbah dari feses atau tinja
menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan dapat terbawa ke dalam tanah oleh air melalui
erat antara sanitasi dasar termasuk salah pori-pori permukaan tanah atau bahkan
satunya sumber air bersih dan sarana air bersih, mengalir ke sumber air. Selanjutnya, bakteri
personal hygiene Ibu, serta pengetahuan Ibu penyakit diare dapat berpindah masuk ke dalam
terhadap kejadian diare pada anak balita di tubuh melalui makanan, minuman, atau tangan
wilayah kerja Puskesmas Tasikmadu yang telah terkontaminasi feses (Langit, 2016).
Karanganyar (Putra, 2019). Berdasarkan hasil analisis hubungan
Menurut Permenkes RI Nomor 32 Tahun kondisi sarana pembuangan sampah dengan
2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan kejadian diare, didapati bahwa dari 12
Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air responden dengan sarana pembuangan sampah
untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam tidak memenuhi syarat, terdapat 6 responden
Renang, Solus per Aqua, dan Pemandian (50,0%) yang mengalami kejadian diare dan 6
Umum, menyebutkan bahwa air yang responden (50,0%) yang tidak mengalami
digunakan untuk hygiene sanitasi harus kejadian diare. Sementara itu, dari 84 responden
terlindung dari kontaminasi dan sumber dengan sarana pembuangan sampah yang telah
pencemar, hewan pembawa penyakit, serta memenuhi syarat, terdapat 23 responden

436
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

(27,4%) yang mengalami kejadian diare dan 61 hari serta tidak membiarkan sampah tersimpan
responden (72,6%) yang tidak mengalami di dalam rumah (Kemenkes RI, 2014).
kejadian diare. Segala sesuatu yang tidak terpakai lagi,
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji baik di rumah maupun akibat proses industri,
Fisher’s Exact Test, diperoleh p-value sebesar dapat dianggap sebagai sampah. Sampah adalah
0,175. Maka dari itu, dapat diambil kesimpulan salah satu pemicu terjadinya masalah
bahwa tidak terdapat korelasi atau hubungan ketidakseimbangan lingkungan. Sampah
yang bermakna antara kondisi sarana tersebut dapat mengeluarkan gas yang
pembuangan sampah dengan kejadian penyakit berbahaya bagi kesehatan manusia jika dibuang
diare di Desa Tridonorejo Kabupaten Demak. tanpa adanya pengelolaan yang baik. Di
Hasil penelitian ini tidak sependapat dengan samping itu, pendangkalan sungai juga dapat
salah satu studi pada di Indonesia yang terjadi akibat kebiasaan membuang sampah
membuktikan bahwa terdapat hubungan antara sembarangan. Adanya proses penguraian
sanitasi lingkungan termasuk salah satunya sampah mampu mencemari air permukaan
yaitu pembuangan sampah terhadap kejadian melalui banjir tersebut. Pengelolaan sampah
diare akut pada anak (Aisiyah, 2022). Temuan yang salah dapat berakibat pada buruknya
penelitian ini juga bertentangan dengan studi kualitas lingkungan. Untuk mencegah penyakit
lain di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Kota diare, maka perlu dilakukan upaya untuk
Medan yang menemukan hubungan antara mengatasi masalah pembuangan sampah itu
keadaan bangunan jamban, sistem pembuangan sendiri (Amelia, 2018).
sampah, sistem pembuangan limbah, serta Sampah dapat dibedakan menjadi
praktik cuci tangan pakai sabun. sampah organik dan anorganik. Sampah
Tidak adanya hubungan atau korelasi organik memiliki sifat mudah membusuk dan
antara sarana pembuangan sampah terhadap apabila dibiarkan terlalu lama dapat
kejadian diare pada penelitian ini diakibatkan menimbulkan bau yang bisa menarik binatang
karena sebagian besar warga Desa Tridonorejo atau vektor penyakit, salah satunya lalat. Lalat
telah memiliki pengelolaan sampah yang baik tersebut dapat masuk ke area pemukiman dan
dengan adanya sistem pengangkutan sampah mengkontaminasi makanan yang dikonsumsi
yang dikelola oleh desa yang diambil kurang manusia. Selain itu, sampah yang dibiarkan
lebih setiap 2-3 hari sekali sehingga variabel ini menumpuk dapat mencemari tanah dan sumber
bukan merupakan faktor yang dominan air yang dimanfaatkan manusia untuk
terhadap kejadian diare. Beberapa responden kebutuhan sehari-hari (Langit, 2016). Studi yang
dengan kondisi pembuangan sampah yang dilakukan di Vellore, India, menyebutkan
belum memenuhi syarat disebabkan karena bahwa pembuangan sampah di dekat rumah
adanya sampah yang berserakan di sekitar merupakan faktor risiko yang signifikan
rumah responden dan saluran limbah rumah terhadap kepadatan lalat yang nantinya
warga. berkaitan dengan kejadian diare akut (Collinet-
Berdasarkan Permenkes RI Nomor 3 Adler, 2015).
Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Berdasarkan hasil analisis hubungan
Masyarakat, pengamanan sampah di rumah kondisi sarana pembuangan air limbah dengan
tangga terdiri dari kegiatan pengumpulan, kejadian diare, dapat dilihat bahwa dari 67
pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, responden dengan sarana pembuangan limbah
atau pembuangan sampah dengan langkah yang tidak memenuhi syarat, terdapat 25 responden
tidak berbahaya baik bagi lingkungan dan (37,3%) yang mengalami kejadian diare serta 42
kesehatan masyarakat. Pengamanan sampah responden (62,7%) yang tidak mengalami
pada skala rumah tangga dapat dilaksanakan kejadian diare. Sementara itu, dari 29 responden
dengan melakukan dengan pembuangan setiap dengan sarana pembuangan sampah yang telah

437
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

memenuhi syarat, terdapat 4 responden (13,8%) Air limbah domestik didefinisikan


yang mengalami kejadian diare serta 25 sebagai air buangan yang bersumber dari
responden (86,2%) yang tidak mengalami kegiatan mandi, memasak, mencuci pakaian,
kejadian diare. dan kegiatan lain selain berasal dari
Dari hasil uji statistik dengan uji Chi- kotoran/tinja manusia serta dimungkinkan
square, didapatkan p-value sebesar 0,039 sehingga mengandung sejumlah kecil mikroorganisme
dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat patogen yang dapat berbahaya bagi kesehatan
hubungan yang signifikan antara kondisi sarana manusia (Miswan, 2018). Perancangan sarana
pembuangan limbah dengan kejadian diare. pembuangan air limbah di sekitar rumah
Nilai Prevalence Ratio (PR) = 3,7 (95% CI = ditujukan untuk mencegah timbulnya genangan
1,159 – 11,937), menunjukkan bahwa responden air yang dapat menjadi tempat perindukan
dengan kondisi sarana pembuangan air limbah serangga atau vektor serta untuk menghindari
yang tidak memenuhi syarat berisiko 3,7 kali pencemaran lingkungan dan sumber air
lebih besar untuk mengalami kejadian diare jika (Mafazah, 2013).
dibandingkan dengan responden dengan kondisi Berdasarkan hasil pengamatan atau
sarana pembuangan air limbah yang telah observasi yang telah dilakukan, mayoritas
memenuhi syarat. masyarakat Desa Tridonorejo masih belum
Hasil penelitian ini dikuatkan atau linear mempunyai sarana saluran pembuangan air
dengan hasil studi yang dilaksanakan di Distrik limbah (SPAL) yang telah memenuhi
Jamma Ethiopia yang mendapatkan hasil persyaratan sanitasi dan kesehatan. Diantaranya
bahwa praktik pembuangan limbah yang tidak masih terdapat masyarakat yang memiliki
tepat berpengaruh secara signifikan terhadap saluran limbah yang terbuka dan tidak mengalir
kejadian penyakit diare pada anak. Studi dengan lancar. Selain itu, banyaknya sampah
tersebut menyimpulkan bahwa peningkatan yang tergenang di selokan rumah warga
praktik cuci tangan, pasokan air bersih, menyebabkan saluran air tidak lancar sehingga
pembuangan limbah yang tepat, serta dapat menjadi tempat perindukan vektor
ketersediaan jamban akan meminimalkan penyebab penyakit serta menimbulkan bau yang
kejadian penyakit diare (Workie, 2019). Hasil kurang sedap. Beberapa masyarakat di desa
penelitian ini juga sependapat dengan studi yang tersebut juga masih membuang air limbah
menyebutkan bahwa saluran pembuangan secara langsung dan terbuka ke halaman
limbah memiliki hubungan yang signifikan rumah tanpa adanya sumur resapan dan
dengan kejadian diare kronis di Kota Jambi saluran pembuangan. Hal tersebut berpotensi
(Misriyanto, 2020). Berdasarkan Permenkes RI menimbulkan genangan dan mencemari tanah
Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total serta bau yang tidak sedap di sekitarnya.
Berbasis Masyarakat, untuk mencegah Pencemaran air tanah dapat diakibatkan
genangan air yang dapat menimbulkan penyakit oleh meresapnya air limbah ke dalam tanah dan
berbasis lingkungan, maka perlu dilakukan dapat menimbulkan penurunan kualitas air
pengamanan limbah cair. Saluran pembuangan tanah (Muhajjar, 2016). Buruknya pengelolaan
air limbah dan sumur resapan diperlukan untuk air limbah dapat berakibat pada tercemarnya air
menyalurkan limbah cair di tingkat rumah tanah dan air permukaan serta berdampak
tangga. Pengamanan limbah cair pada derajat negatif bagi kesehatan manusia. Diantaranya
rumah tangga melibatkan beberapa hal yaitu menjadi media transmisi atau penyebaran
mendasar, diantaranya tidak menimbulkan berbagai jenis penyakit, salah satunya adalah
bau dan genangan, tidak bercampur dengan penyakit diare (Pricilia, 2021). Ada sejumlah
saluran pembuangan jamban, tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat yang dapat
tempat perindukan vektor, serta tersambung timbul jika air limbah disalurkan ke sembarang
dengan sumur resapan atau saluran tempat, termasuk kemungkinan penularan
limbah umum/got (Kemenkes RI, 2014). penyakit. Selain itu, apabila limbah dibuang di

438
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

sembarang tempat, maka dapat mengganggu


estetika dan menimbulkan bau yang tidak sedap DAFTAR PUSTAKA
(Sengkey, 2020). Oleh karena itu, pengelolaan
limbah yang tepat sangat diperlukan agar air Agustina, Dukbain, O.M., Singga, S., Wanti, W.,
limbah tidak mencemari lingkungan, Suluh, D.G., & Mado, F.G. 2021. Home
menimbulkan bau, mencemari sumber air Sanitation Facilities and Prevalence of
Diarrhea for Children in Oelnasi Village,
tanah, serta menjadi tempat perindukan vektor
Kupang Tengah Sub-district. Gaceta Sanitaria,
penyakit seperti lalat.
35(S2): S393–S395.
Aisiyah, A., Hilmi, I.L., & Salman. 2022. The Effect
PENUTUP of Environmental Sanitation on the Risk of
Acute Diarrhea in Children in Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian dapat Jurnal Eduhealth, 13(02): 1018–1022.
diketahui bahwa terdapat 30,2% responden Amelia, R. 2018. The Relationship Between Basic
yang mengalami kejadian penyakit diare dan Sanitation and Personal Hygiene with The
Incidence of Diarrhea In Medan City. Public
69,8% responden yang tidak mengalami
Health International Conference (PHICo 2017), 9:
kejadian penyakit diare. Dapat disimpulkan
153–157.
bahwa terdapat korelasi atau hubungan erat Bawankule, R., Singh, A., Kumar, K., & Sarang, P.
antara kondisi jamban dan kondisi sarana 2017. Disposal of Children’s Stools and Its
saluran pembuangan air limbah dengan Association with Childhood Diarrhea in
kejadian diare di Desa Tridonorejo Kabupaten India. BMC Public Health, 17(1): 1–9.
Demak. Sementara itu, tidak terdapat hubungan Collinet-Adler, S., Babji, S., Francis, M., Kattula, D.,
yang signifikan antara kondisi sarana air bersih Premkumar, P.S., Sarkar, R., Mohan, V.R.,
dan sarana pembuangan sampah dengan Ward, H., Kang, G., Balraj, V., & Naumora,
E.N. 2015. Environmental Factors Associated
kejadian diare di Desa Tridonorejo Kabupaten
with High Fly Densities and Diarrhea in
Demak.
Vellore, India. Applied and Environmental
Kelemahan dari penelitian ini yaitu Microbiology, 81(17): 6053–6058.
peneliti tidak menggunakan hasil pemeriksaan Dinkes Demak. 2021. Profil Kesehatan Kabupaten
secara medis mengenai kejadian diare yang Demak Tahun 2021. Demak: Dinas Kesehatan
dialami oleh responden. Saran bagi peneliti Kabupaten Demak.
selanjutnya yaitu pengambilan data responden Dinkes Demak. 2022. Data Cakupan Akses 5 Pilar
sebaiknya dibantu dengan data pemeriksaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
medis sehingga diagnosis diare akan lebih tepat. Menurut Desa Kabupaten Demak Tahun 2022.
Demak: Dinas Kesehatan Kabupaten Demak.
Dalam hal implementasi pengadaan sarana
Irawan, A.Y. 2014. Hubungan antara Aspek
sanitasi dasar tentu tidak mudah karena
Kesehatan Lingkungan dalam PHBS Rumah
dibutuhkan keterlibatan dan partisipasi Tangga dengan Kejadian Penyakit Diare di
masyarakat untuk mendukung hal tersebut. Kecamatan Karangreja Tahun 2012. Unnes
Maka dari itu, disarankan bagi Journal of Public Health, 2(4): 1–9.
masyarakat Desa Tridonorejo untuk Kemenkes RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan
meningkatkan kesadaran terkait pentingnya Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 tentang
kondisi sanitasi dasar terutama mengenai Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Jakarta:
kondisi jamban dan sarana pembuangan Kementerian Kesehatan RI.
Kemenkes RI. 2017. Peraturan Menteri Kesehatan
air limbah dan dapat berupaya untuk
Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017
memperbaiki kualitas dan kondisi fasilitas
Tentang Standar Baku Mutu Kesehatan
sanitasi dasar yang dimiliki, yaitu dengan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air Untuk
membuat tangki septik (septic tank) bagi Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus
masyarakat yang belum memiliki serta Per Aqua dan Pemandian Umum, Peraturan
membangun saluran pembuangan air Menteri kesehatan Republik Indonesia. Jakarta:
limbah (SPAL) dan sumur resapan. Kementerian Kesehatan RI.

439
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

Kemenkes RI. 2018. Laporan Nasional Riset Kesehatan Meranti Kabupaten Asahan. Jurnal Kesehatan
Dasar (RISKESDAS) 2018. Jakarta: Lingkungan: Jurnal dan Aplikasi Teknik
Balitbangkes Kemenkes RI. Kesehatan Lingkungan, 19(2): 159–164.
Kemenkes RI. 2019. Laporan Provinsi Jawa Tengah Oktariza, M., Suhartono, & Dharminto. 2018.
Riskesdas 2018, Kementerian Kesehatan RI. Gambaran Kondisi Sanitasi Lingkungan
Jakarta: Balitbangkes Kemenkes RI. Rumah dengan Kejadian Diare pada Balita di
Langit, L.S. 2016. Hubungan Kondisi Sanitasi Dasar Wilayah Kerja Puskesmas Buayan Kabupaten
Rumah Dengan Kejadian Diare Pada Balita Kebumen. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-
Di Wilayah Kerja Puskesmas Rembang 2. Journal), 6(4): 476–484.
Jurnal Kesehatan Masyarakat (JKM e-Journal), Oloruntoba, E.O., Folarin, T.B., & Ayede, A.I. 2014.
4(2): 160–165. Hygiene and Sanitation Risk Factors of
Mafazah, L. 2013. Ketersediaan Sarana Sanitasi Diarrhoeal Disease among Under-five
Dasar, Personal Hygiene Ibu dan Kejadian Children in Ibadan, Nigeria. African Health
Diare. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(2): 176– Sciences, 14(4): 1001–1011.
182. Pricilia, P.J., Sondakh, R. C., & Akili, R. H. 2021.
Mallick, R., Mandal, S., & Chouhan, P. 2020. Impact Gambaran Sanitasi Lingkungan pada Tempat
of Sanitation and Clean Drinking Water on Tinggal Balita Penderita Diare di Wilayah
the Prevalence of Diarrhea among the Under- Kerja Puskesmas Minanga Kota Manado
five Children in India. Children and Youth Tahun 2021. Kesmas, 10(4): 122–129.
Services Review, 118(105478): 1–6. Putra, A.D.P., Rahardjo, M., & Joko, T. 2019.
Manek, W., & Suherman, S. 2015. Hubungan Hubungan Sanitasi Dasar dan Personal
Sumber Air Minum, Jamban Keluarga, dan Hygiene Dengan Kejadian Diare Pada Balita
Saluran Pembuangan Air Limbah dengan di Wilayah Kerja Puskesmas Tasikmadu
Kejadian Diare di Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karanganyar. Jurnal Kesehatan
Kuras Kabupaten Pelalawan. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 5(1): 422–429.
Komunitas, 2(3): 132–135. Putranti, D., & Sulistyorini, L. 2013. Hubungan
Marjuni, I.D., & Sulasmi. 2020. Hubungan Kondisi antara Kepemilikan Jamban dengan Kejadian
Sarana Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare di Desa Karangagung Kecamatan
Diare di Lembaga Permasyarakatan Palang Kabupaten Tuban. Jurnal Kesehatan
Perempuan Kelas II A Sungguminasa. Jurnal Lingkungan, 7(1): 54–63.
Sulolipu : Media Komunikasi Sivitas Akademika Sengkey, A., Joseph, W.B.S., & Warouw, F. 2020.
dan Masyarakat, 20(1): 24–30. Hubungan Antara Ketersediaan Jamban
Misriyanto, E., Sitorus, R.J., & Misnaniarti. 2020. Keluarga dan Sistem Pembuangan Air
Analysis of Environmental Factors with Limbah Rumah Tangga dengan Kejadian
Chronic Diarrhea in Toddlers in Jambi City in Diare pada Balita Usia 24-59 Bulan di Desa
2019. International Journal of Science and Society, Raanan Baru Kecamatan Motoling Barat
2(4): 300–310. Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal Kesmas,
Miswan, M., Ramlah, S., & Rasyid, R. 2018. 9(1): 182–188.
Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Tika, M., & Widya, C. 2019. Implementasi Rencana
Penyakit Diare pada Masyarakat di Desa Aksi Daerah Percepatan Kabupaten Demak
Tumpapa Indah Kecamatan Balinggi Bebas Buang Air Besar Sembarangan. Higeia
Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Journal of Public Health Research and
Tengah. UNM Environmental Journals, 1(2): 33- Development, 1(3): 625–634.
38. Workie, G.Y., Akalu, T.Y., & Baraki, A.G. 2019.
Muhajjar, M., Rahardjo, M., & Dewanti, N. 2016. Environmental Factors Affecting Childhood
Analisis Spasial Hubungan Kualitas Diarrheal Disease among Under-Five
Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Children in Jamma District, South Wello
Balita di Kecamatan Genuk Kota Semarang. Zone, Northeast Ethiopia. BMC infectious
Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 4(3): diseases, 19(1): 1–7.
807–816. Yaya, S., Hudani, A., Udenigwe, O., Shah, V.,
Nanda, M., Rizky, D.Z., Tamara, F., Sinaga, I.A., Ekholuenetale, M., & Bishwajit, G. 2018.
Anggreni, D., Anggraini, D., Pratiwi, D. Improving Water, Sanitation and Hygiene
2022. Gambaran Sanitasi Dasar di Desa Practices, and Housing Quality to Prevent

440
Fauziyah, Z., Siwiendrayanti, A. / Kondisi Sanitasi Dasar / HIGEIA 7 (3) (2023)

Diarrhea among Under-five Children in Nigeria.


Tropical Medicine and Infectious Diease, 3(2):
1–11.

441

Anda mungkin juga menyukai