0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Hubungan Konsep Diri Fisik dan Kepercayaan Diri

Artikel ini membahas hubungan antara konsep diri fisik dengan kepercayaan diri siswa SMP. Penelitian ini menemukan bahwa konsep diri fisik siswa umumnya baik dan kepercayaan dirinya cukup tinggi. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara konsep diri fisik dengan kepercayaan diri siswa.

Diunggah oleh

slow88
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Hubungan Konsep Diri Fisik dan Kepercayaan Diri

Artikel ini membahas hubungan antara konsep diri fisik dengan kepercayaan diri siswa SMP. Penelitian ini menemukan bahwa konsep diri fisik siswa umumnya baik dan kepercayaan dirinya cukup tinggi. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara konsep diri fisik dengan kepercayaan diri siswa.

Diunggah oleh

slow88
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Neo Konseling

Volume 2 Number 1 2020


ISSN: Print 2657-0556 – Online 2657-0564
DOI: 10.24036/00241kons2020
Received Januari 11, 2020; Revised Januari 16, 2020; Accepted Januari 20, 2020
Avalaible Online: [Link]

The Relationship between Physical Self-Concept and Student


Self-Confidence

Suci Mutia Lukman1, Herman Nirwana2


12
Universitas Negeri Padang
*Corresponding author, e-mail: sucimutia3@[Link]

Abstract
This research is motivated by the low self-confidence of middle school students.
Self-confidence is a positive attitude of individuals to develop positive assessments, both
towards themselves and the environment / situation being faced. One of the factors
suspected to affect the sel confidanace is physical Self-concept. This study aims to (1)
describe student confidence, (2) describe students' physical self-concepts, and (3) test
whether there is a significant positive relationship between physical self-concept and
student self-confidence. This research uses quantitative methods with correlational
descriptive analysis. The study population is 313 students Junior High School 2 Ampek
Angkek registered in July-December of periode academic 2019/2020 and a sample of
174 students were selected by stratified random [Link] instrument used was a
questionnaire. Data were analyzed using descriptive formulas and product moment
correlation formulas. The research findings reveal that (1) students' self-confidence is
generally in the high enough category, (2) students' physical self-concept is generally in
the good category, and (3) significant positive relationship between physical self-concept
and students' self-confidence with coefficients correlation of 0.431 and a significance
level of 0.000.

Keywords: Self-Confidance, Physical-Self Concept

How to Cite: Suci Mutia Lukman, Herman Nirwana. 2020. Hubungan Konsep Diri Fisik dengan
Kepercayaan Diri Siswa SMP. Konselor, VV (N): pp. XX-XX, DOI: 10.24036/00241kons2020

This is an open access article distributed under the Creative Commons 4.0 Attribution
License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium,
provided the original work is properly cited. ©2017 by author and UniversitasNegeri
Padang.
Introduction
Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang penting dalam masa
perkembangan remaja (Ifdil, Emria & Zola, 2018). Percaya diri adalah suatu perasaan dan
keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki untuk dapat meraih kesuksesan dengan berpijak
pada usahanya sendiri dan mengembangkan penilaian yang positif bagi dirinya sendiri maupun
lingkungannya sehingga, seseorang dapat tampil dengan penuh keyakinan dan mampu
menghadapi segala sesuatu dengan tenang (Ifdil, Emria & Zola, 2018). Individu dalam
mengembangkan potensi diri, perlu memahami dirinya, mengetahui apa kelebihan dan
kelemahan yang ada pada dirinya, apalagi pada masa remaja yang berada pada tahap kritis bagi
perkembangan fisik maupun psikis mereka (Taufik, Indah, & Winda, 2016). Kepercayaan diri
membentuk siswa yakin dan optimis terhadap dirinya, bahwa merespon adalah solusi untuk
ketidaktahuan, maupun memastikan kebenaran yang telah dimiliki (Herman, Marjohan, &
Zamratul, 2018).

Masa remaja merupakan salah satu masa yang dilewati dalam setiap perkembangan
individu. Masa perkembangan remaja adalah periode dalam perkembangan individu yang
merupakan masa mencapai kematangan mental, emosional, sosial, fisik dan pola peralihan dari

1
Suci Mutia Lukman1, Herman Nirwana2 2

masa kanak-kanak menuju dewasa sehingga menimbulkan karakteristik yang berbeda antara satu
remaja dengan remaja lain. Perubahan yang terjadi pada masa remaja seperti pertumbuhan
secara cepat baik fisik, psikis (stress, anxiety, depresi) dan sosial menimbulkan banyak persoalan
dan tantangan. Salah satu permasalahan yang banyak dirasakan dan dialami oleh remaja pada
dasarnya disebabkan oleh kurang percaya diri (Ifdil, Emria, & Zola, 2018).

Masa remaja seringkali dikenal dengan masa mencari jati diri. Masa remaja merupakan
salah satu tahap di dalam kehidupan manusia yang sangat kritis, karena masa remaja ini
merupakan tahap transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Afrizal, Indra, & Juliana,
2014). Masa remaja diartikan sebagai masa perkembangan anak-anak ke dewasa yang
mencangkup perubahan biologis, kognitif, dan sosial emosional. Perubahan fisik dan psikis
tersebut dapat menimbulkan kebingungan dikalangan remaja, sehingga remaja banyak
mengalami persoalan, tantangan dan konflik serta kebingungan dalam proses menemukan jati
diri dan tempat dalam masyarakat (Mursyid, Mudjiran, & Annisa, 2016). Self confidence atau
kepercayaan diri adalah milik pribadi yang sangat penting bagi tumbuh dan kembang siswa
sebagai remaja, yang ikut menentukan keberhasilan siswa dalam meraih prestasi dalam belajar
dan keberhasilan dalam hidupnya (Azrul, Indra, & Anggi, 2014).

Hurlock (dalam Asmidir, Ifdil, & Amandha, 2017). menjelaskan salah satu akibat
perubahan ini adalah hilangnya kepercayaan diri. Anak remaja yang awalnya sangat yakin pada
diri sendiri, menjadi kurang percaya diri dan takut pada kegagalan karena daya tahan fisik
menurun dan karena kritik yang bertubi-tubi datang dari orangtua dan teman-temannya. Anak
remaja yang awalnya sangat yakin pada diri sendiri, menjadi kurang percaya diri dan takut pada
kegagalan karena daya tahan fisik menurun dan karena kritik yang bertubi-tubi datang dari orang
tua dan teman-temannya (Asmidir, Ifdil, & Amandha, 2017). Sebagai individu remaja, siswa
mengalami proses transisi perkembangan menuju kedewasaan (Afdal, Rezki, & Salmi, 2018).

Kepercayaan diri pada remaja tampak pada sikap yang menerima diri sebagaimana adanya.
Penerimaan diri merupakan sikap yang mencerminkan rasa senang sehubungan dengan
kenyataan diri sendiri. Sikap tersebut merupakan perwujudan dari kepuasan terhadap kualitas
kemampuan diri yang nyata. Remaja yang puas pada kualitas dirinya akan cenderung merasa
aman, tidak kecewa dan tahu apa yang dibutuhkannya, sehingga dapat mandiri dan tidak
bergantung pada orang lain dalam memutuskan segala sesuatu secara objektif. Remaja yang
percaya diri juga cenderung mempunyai gambaran dan konsep diri yang positif. Reaksi positif
seseorang terhadap penampilan dirinya sendiri akan menimbulkan rasa puas yang akan
mempengaruhi perkembangan mentalnya (Ifdil, Emria, & Zola, 2018).

Menurut Lauster (dalam Neviyarni, & Monnalisza, 2018), seseorang yang kurang
percaya diri akan berfikir negatif terhadap dirinya, tidak yakin akan kemampuan yang
dimilikinya, selalu berfikir buruk, selain itu juga biasanya orang yang kurang percaya diri akan
bergantung pada orang lain dalam mengambil keputusan dan takut mengungkapkan
pendapatnya di depan umum serta takut mencoba hal-hal yang baru. Harapannya orang yang
percaya diri lebih mampu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, orang yang
percaya diri biasanya akan lebih mudah berbaur dan beradaptasi dibanding dengan yang tidak
percaya diri. Kepercayaan diri itu lahir dari kesadaran bahwa jika memutuskan untuk melakukan
sesuatu, maka sesuatu itu pula yang harus dilakukan. Kepercayaan diri itu akan datang dari
kesadaran individu bahwa individu tersebut memiliki tekad untuk melakukan apapun, sampai
tujuan yang ia inginkan tercapai. selain itu juga orang yang memiliki kepercayaan diri dapat
mengubah seseorang yang biasanya tidak berani dalam menghadapi sesuatu, dengan adanya
kepercayaan diri ini seseorang menjadi lebih yakin dan mampu dalam menghadapi atau
mengerjakan sesuatu. Karena orang yang percaya diri memiliki pegangan yang kuat, mampu
mengembangkan motivasi, ia juga sanggup belajar dan bekerja keras untuk kemajuan, serta
penuh keyakinan terhadap peran yang dijalaninya (Neviyarni, & Monnalisza, 2018).

Jurnal Neo Konseling, Open Access Journal: [Link]


Suci Mutia Lukman1, Herman Nirwana2 3

Dampak dari seseorang yang tidak memiliki kepercayaan diri, yang pertama mengalami
kegagalan, seseorang yang tidak memiliki rasa percaya diri biasanya akan mudah mengalami
kegagalan, karena tidak yakin akan kemampuan atau keahlian yang dimiliki dirinya dalam
melakukan suatu tindakan maupun mengambil suatu keputusan dalam memecahkan suatu
masalah yang sedang dihadapinya. Kedua, seseorang yang tidak memiliki rasa percaya diri akan
selalu mengeluh dan merasa tidak nyaman setiap kali diminta untuk melakukan suatu pekerjaan,
sikap seperti ini terjadi karena menganggap bahwa dirinya itu tidak mampu, dan merasa
terbebani bila mengerjakan tugas atau pekerjaan yang dilakukannya. Ketiga, jika seseorang
termasuk orang yang mudah putus asa, berarti ia memang tidak memiliki kekuatan untuk
percaya diri dari dalam dirinya. Ke empat, gelisah dan tidak percaya diri memang sudah
menyatu untuk mengganggu tujuan hidup seseorang. Dua perasaan inilah yang selalu
menghambat setiap kali seseorang ingin melakukan atau menyelesaikan tugas dan pekerjaannya.
Orang yang tidak punya rasa percaya diri akan mudah gelisah dan pada akhirnya akan
mengalami kegagalan (Neviyarni, & Monnalisza, 2018).

Kepercayaan diri merupakan hal yang tidak asing lagi dalam kehidupan para remaja.
Terkadang pun remaja mengalami krisis kepercayaan diri dalam menentukan perilaku yang
dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya. Kepercayaan diri dapat diartikan sebagai suatu yang
menunjukkan keyakinan terhadap tinggi atau rendahnya kemampuan yang dimiliki. Seseorang
dengan kepercayaan diri tinggi memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap kemampuan
dirinya dan memiliki pengetahuan yang akurat tentang kapasitas yang ada dalam dirinya.
Sebaliknya, seseorang dengan kepercayaan diri rendah atau kehilangan kepercayaan diri,
memiliki perasaan negatif terhadap dirinya, serta memiliki keyakinan lemah terhadap
kemampuan dirinya dan juga memiliki pengetahuan yang kurang akurat terhadap kapasitas yang
ada dalam dirinya (Neviyarni, & Monnalisza, 2018).

Salah satu faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri adalah konsep diri fisik. Konsep
diri fisik adalah sebagai kesan terhadap diri sendiri secara keseluruhan yang mencakup
pendapatnya terhadap diri fisiknya sendiri, pendapat tentang gambaran fisik diri di mata orang
lain dan pendapatnya tentang hal-hal yang dicapai. Baik atau buruknya konsep diri seseorang
tersebut tergantung pada dirinya, karena konsep diri akan mempengaruhi seseorang untuk
mengoptimalkan dirinya untuk lebih baik lagi (Mudjiran, Mori, & Nurhizrah, 2015).

Konsep diri fisik yang dimaksud adalah bayangan seseorang tentang penampilan fisik
dirinya sendiri pada saat ini dan bukanlah bayangan ideal dari dirinya sendiri sebagaimana yang
diharapkan atau yang disukai oleh individu bersangkutan. Sejumlah penelitian telah menemukan
penampilan fisik merupakan suatu kontributor yang sangat berpengaruh pada rasa percaya diri
remaja (Asmidir, Ifdil, & Amandha, 2017). Konsep diri remaja yang berhubungan dengan
ketertarikan fisik merupakan faktor terkuat untuk meramalkan rasa percaya diri keseluruhan dari
remaja.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa konsep diri fisik mempengaruhi
kepercayaan diri siswa. Konsep diri remaja yang berhubungan dengan ketertarikan fisik
merupakan faktor terkuat untuk meramalkan rasa percaya diri keseluruhan dari remaja.

Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif
korelasional. Populasi penelitian sebanyak 313 siswa di SMP Negeri 2 Ampek Angkek yang
terdaftar pada semester Juli-Desember tahun ajaran 2019/2020 dan sampel sebanyak 174 siswa
yang dipilih dengan teknik Stratified Random Sampling. Instrumen yang digunakan untuk
pengukuran variabel konsep diri fisik yaitu kuesioner konsep diri fisik dan kepercayaan diri yaitu
kuesioner kepercayaan diri. Data diolah dengan menggunakan teknik product moment dibantu
dengan program komputer SPSS 20,00 (Statistical Package For Sosial Sciens).

Jurnal Neo Konseling, Open Access Journal: [Link]


Suci Mutia Lukman1, Herman Nirwana2 4

Result and Discussion


Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, data hasil penelitian disajikan dan
dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian yang diajukan sebelumnya, yaitu mendeskripsikan
kepercayaan diri siswa, mendeskripsikan konsep diri fisik siswa, dan menguji hubungan positif
yang signifikan antara konsep diri fisik dengan kepercayaan diri siswa.

1. Kepercayaan diri
Secara keseluruhan kepercayaan diri siswa SMP Negeri 2 Ampek Angkek berada pada
kategori cukup tinggi. Temuan penelitian dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Kepercayaan diri


(n=174)

KEPERCAYAAN DIRI
KATEGORI
Sangat Sangat RATA-
SUB VARIABEL % KATEGORI
tinggi Tinggi Cukup Tinggi Rendah Rendah RATA
F % F % F % F % f %
Keyakinan
kemampuan diri 19 10,9 121 69,54 34 19,54 0 0 0 0 38,63 70,24 Tinggi
(11)

Optimis (8) 46 26,4 91 52,3 37 21,26 0 0 0 0 29,22 73,05 Tinggi

Objektif (5) 35 20,1 105 60,34 34 19,54 0 0 0 0 17,83 71,32 Tinggi

Bertanggung
71 40,8 83 47,7 20 11,49 0 0 0 0 11,92 79,47 Tinggi
jawab (3)

Rasional dan
47 27 114 65,52 13 7,47 0 0 0 0 33,74 74,98 Tinggi
realistis (9)
Cukup
0 0 88 50,57 84 48,28 2 1,15 0 0 104,36 57,98
KESELURUHAN Tinggi

Pada variabel keyakinan kemampuan diri dengan rata-rata 38,63 dan persentase 70,24
berada pada kategori tinggi, pada variabel optimis dengan rata-rata 29,22 dan persentase 73,05
berada pada kategori tinggi, pada variabel objektif dengan rata-rata 17,83 dan persentase 71,32
berada pada kategori tinggi, selanjutnya pada variabel bertanggung jawab dengan rata-rata 11,92
dan persentase 79,47 berada pada kategori tinggi, kemudian pada varibel rasional dan realistis
dengan rata-rata 33,74 dan persentase 74,98 berada pada kategori tinggi.

Hasil penelitian yang diperoleh pada kepercayaan diri berada pada kategori cukup tinggi,
hal ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Herman, Marjohan, & Zamratul (2018),
kepercayaan diri yang dimiliki siswa berada pada kategori cukup tinggi, selanjutnya hasil
penelitian yang dilakukan oleh Neviyarni & Monnalisza (2018), kepercayaan diri yang dimiliki
siswa berada pada kategori cukup tinggi, kemudian hasil penelitian yang dilakukan oleh Asmidir,
Ifdil, & Amandha (2017), kepercayaan diri yang dimiliki siswa berada pada kategori cukup
tinggi.

Artinya masih ada siswa yang belum mampu bersikap positif terhadap dirinya sendiri dan
kemampuan yang dimilikinya sehingga siswa cemas dalam melakukan setiap tindakan. Selain itu
siswa tidak dapat bebas melakukan hal-hal yang disukai dan siswa tidak dapat mengembangkan
kemampuan yang dimiliki untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkan. Hal ini disebabkan
siswa memiliki sikap pesimis dalam diri sehingga tidak mampu bersikap positif terhadap dirinya

Jurnal Neo Konseling, Open Access Journal: [Link]


Suci Mutia Lukman1, Herman Nirwana2 5

sendiri dan kemampuan yang dimilikinya (Asmidir, Ifdil, & Amandha, 2017). Kesuksesan di
dalam bidang apapun akan sulit dicapai oleh seseorang jika tidak memiliki rasa percaya diri yang
cukup (Herman, Marjohan, & Zamratul, 2018).

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa peraya diri, diantaranya
memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud,
siswa tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.

Selayaknya kepercayaan diri yang dimiliki siswa haruslah berada pada kategori sangat
tinggi. Hal ini dimaksud agar siswa mampu mengembangkan aspek-aspek yang ada dalam
dirinya dibutuhkan kepercayaan diri yang tinggi pada siswa tersebut. Dengan rasa percaya diri
tinggi yang dimilikinya, siswa akan cenderung berani dalam melakukan sesuatu serta dengan
mudah berinteraksi di dalam lingkungan sekitarnya (Herman, Marjohan, & Zamratul, 2018).

2. Konsep Diri Fisik


Secara keseluruhan konsep diri fisik siswa SMP Negeri 2 Ampek Angkek berada pada
kategori baik. Temuan penelitian dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Konsep diri fisik


(n=174)

Konsep Diri Fisik

Kategori
Sangat
Rata-
Sub Variabel Sangat Cukup Tidak Tidak % Kategori
rata
Baik Baik Baik Baik Baik

f % F % f % f % f %
Physical
9 5,17 160 91,95 5 2,87 0 0 0 0 57,34 71,68 Baik
Ability (16)
Physical
1 0,57 131 75,29 42 24,14 0 0 0 0 43,47 66,88 Baik
Appearance (13)

Keseluruhan (29) 0 0 78 44,83 94 54,02 2 1,15 0 0 100,81 69,52 Baik

Pada variabel physical ability dengan rata-rata 57,34 dan persentase 71,68 berda pada
kategori baik, selanjutnya pada variabel physical appearance dengan rata-rata 43,47 dan persentase
66,88 berada pada kategori baik.
Hasil penelitian yang diperoleh pada konsep diri fisik berada pada kategori baik, berbeda
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Taufik, Reski, & Ifdil (2017), konsep diri fisik yang
dimiliki siswa berada pada kategori cukup baik, kemudian penelitian yang dilakukan oleh
Mudjiran, Mori, & Gistituati (2015), menunjukkan konsep diri fisik yang dimiliki siswa berada
pada kategori cukup dan penelitian yang dilakukan oleh Riza, Yarmis, & Yeni (2019)
menunjukkan konsep diri fisik yang dimiliki siswa berada pada kategori cukup baik.
Artinya masih ada siswa yang memiliki keyakinan kurang baik terhadap diri sendiri
terkait dengan konsep diri fisik sehingga siswa tidak yakin dengan keadaan diri sendiri. Siswa
sulit untuk yakin dengan diri sendiri karena memiliki persepsi negatif tentang diri sendiri
terutama tentang konsep diri fisik. Persepsi yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi sikap
dan tindakan yang akan diambil (Rahmi, & Triyono, 2018).
3. Hubungan konsep diri fisik dengan kepercayaan diri siswa SMP
Selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Hipotesis yang diajukan dalam dalam penelitian ini
terdapat hubungan positif yang signifikan antara konsep diri fisik dengan kepercayaan diri siswa,
terdapat hubungan positif yang signifikan antara konsep diri fisik dengan kepercayaan diri siswa,
dengan koefisien sebesar 0,431 dengan nilai signifikan sig.(2-tailed) sebesar 0,000 hasil yang

Jurnal Neo Konseling, Open Access Journal: [Link]


Suci Mutia Lukman1, Herman Nirwana2 6

diperoleh dari pengajuan hipotesis terungkap bahwa Ha diterima terdapat hubungan antara
konsep diri fisik dengan kepercayaan diri siswa, artinya terdapat hubungan yang signifikan positif
antara hubungan konsep diri fisik dengan kepercayaan diri siswa.
Hubungan positif yang signifikan ini dapat diartikan, semakin baik konsep diri fisik siswa
maka kepercayaan diri siswa akan semakin tinggi pula. Sebaliknya, semakin tidak baik konsep
diri siswa maka kepercayaan diri siswa akan semakin rendah pula. Hal tersebut membuktikan
bahwa hipotesis yang menyatakan adanya korelasi antara konsep diri fisik dengan kepercayaan
diri siswa dapat diterima.
Sejalan dengan itu, sejumlah peneliti telah menemukan konsep diri fisik merupakan suatu
kontributor yang sangat berpengaruh pada rasa percaya diri siswa. Sebagai contoh adalah pada
penelitian Harter, konsep diri fisik secara konsisten berkorelasi paling kuat dengan rasa percaya
diri secara umum, yang baru kemudian diikuti oleh penerimaan sosial teman sebaya. Konsep diri
fisik yang sangat berpengaruh pada kepercayaan diri didasarkan bagaimana individu tersebut
melihat bagaimana physical ability (kemampuan fisik) dan physical appearance (penampilan fisik)
yang ia miliki serta bagaimana penilaian individu tersebut terhadap konsep diri fisik yang ia
miliki dan bagaimana keadaan fisik yang ia inginkan (Asmidir, Ifdil, & Amandha, 2017).
Konsep diri fisik adalah konsep diri yang dimiliki individu tentang penampilan tubuhnya
yang ideal. Setiap individu memiliki gambaran diri ideal seperti apa yang diinginkannya
termasuk bentuk tubuh seperti apa yang dimilikinya. Konsep diri fisik siswa banyak dipengaruhi
oleh persepsi tentang standar tubuh yang terpopuler dikalangan siswa saat ini, lalu siswa mulai
berlomba-lomba menyesuaikan tubuhnya dengan kondisi tersebut tanpa memandang baik buruk
terhadap tubuhnya. Inilah yang kemudiaan menjadikan konsep diri fisik siswa tentang tubuhnya
semakin lama semakin tidak baik.
Ketidaksesuaian antara bentuk tubuh yang dipersepsi oleh individu dengan bentuk tubuh
yang menurutnya ideal akan memunculkan rasa tidak percaya diri. Akibat persepsi tubuhnya
yang semakin buruk, siswa semakin tidak percaya diri baik itu pada penampilan di depan umum
maupun kemampuan terhadap dirinya sendiri. Tentu saja ini berbanding terbalik dengan teori
yang dikemukakan oleh Surya (dalam Asmidir, Ifdil, & Amandha, 2017) yang menyatakan
seseorang akan percaya diri ketika orang tersebut menyadari bentuk tubuhnya yang sangat ideal
dan orang tersebut merasa puas melihat bentuk tubuhnya, maka konsep diri fisik yang terbentuk
pun menjadi positif.

Conclusion

Berdasarkan temuan dan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: (1)
Kepercayaan diri siswa SMP Negeri 2 Ampek Angkek secara umum berada pada kategori cukup
tinggi, (2) Konsep diri fisik siswa SMP Negeri 2 Ampek Angkek secara keseluruhan berada pada
kategori baik, (3) Terdapat hubungan yang positif signifikan antara konsep diri fisik dengan
kepercayaan diri siswa. Artinya, semakin baik konsep diri fisik siswa maka kepercayaan diri
siswa juga akan semakin tinggi. Sebaliknya, semakin tidak baik konsep diri fisik siswa maka akan
semakin rendah kepercayaan diri siswa.
Saran yang dapat diberikan kepada beberapa pihak dengan dasar hasil penelitian adalah
diharapkan agar siswa dapat lebih berfikir positif tentang konsep diri fisik dan lebih
meningkatkan kepercayaan dirinya dalam apapun secara positif. Kepada guru BK diharapkan
dapat berperan aktif dalam mengarahkan pikiran positif terhadap konsep diri fisik dan
meningkatkan kepercayaan diri siswa. Guru BK dapat bekerjasama dengan personel sekolah agar
mampu meningkatkan keyakinan dan pemikiran positif terhadap konsep diri fisik dengan
kepercayaan diri siswa.
Diharapkan kepada guru mata pelajaran agar mampu memberikan penguatan kepada
siswa sehingga siswa mampu untuk mengembangkan aspek-aspek yang ada didalam dirinya dan
memiliki keyakinan dan berfikiran positif terhadap konsep diri fisik dan kepercayaan dirinya.
Kepada peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian lanjutan dengan meneliti veriabel
lain dan subjek penelitian yang berbeda, yang diperkirakan berkontribusi terhadap konsep diri
fisik dan kepercayaan diri siswa.

Jurnal Neo Konseling, Open Access Journal: [Link]


Suci Mutia Lukman1, Herman Nirwana2 7

References
Afdal., Hariko, R., & Salmi. (2017). Hubungan Kontrol Diri dengan Perilaku Bullying Siswa.
Jurnal Bimbingan dan Konseling. 8(2). 88-99.

Febriani, Rahmi. D., & Triyono. (2018). Persepsi Peserta Didik Sekolah Menengah Atas
Terhadap Pendidikan Lanjutan. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. 3(1). 72.
Ifdil, Emria, F., Zola, N. (2018). Profil Kepercayaan Diri Remaja serta Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia. 4(1), 1-2.

Ilyas, A., Ifdil., & Amandha, U.D. (2017). Hubungan Body Image dengan Kepercayaan Diri
Remaja Putri. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling. 2(3), 107-113.

Karneli, Y., Novilda, R., & Syukur, Y. (2019). Description of the Condition of Student’s Self
Concept. International Journal of Applied Counseling and Social Sciences. 1(1), 79-88.

Mudjiran., Mori, D., & Gistituati, N. (2015). Kontribusi Dukungan Sosial dan Konsep Diri
Terhadap Motivasi Berprestasi Siswa di SMP Negeri Kecamatan Batang Kapas Pesisir
Selatan. Konselor. 4(1), 19-20.

Neviyarni., & Monnalisza. (2018). Kepercayaan Diri Remaja Panti Asuhan Aisyiyah dan
Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling. Jurnal Penelitian Guru
Indonesia. 3(2), 77-83.

Nirwana, H., Marjohan., & Zamratul, A. (2018). Kontribusi Penguatan Guru Mata Pelajaran
Dan Kepercayaan Diri Siswa Terhadap Keaktifan Siswa Dalam Belajar. Jurnal Kajian
Konseling dan Pendidikan. 1(1), 1-11.
Ridha, M., Mudjiran., & Annisa, A. (2016). Hubungan Konsep Diri Siswa dengan Tingkah Laku
Sosial Siswa. Jurnal Pendidikan Indonesia. 2(2), 25-26.

Said, A., Ibrahim, I., & Anggi, A.M. (2014). Self Confidence Siswa Dalam Menyelesaikan Tugas
Dan
Implikasinya Terhadap Layanan Bimbingan Dan Konseling. Konselor. 3(3), 1412.

Sano, A., Ibrahim, I., & Juliana. (2014). Konsep Diri Remaja pada Masa Pubertas dan Implikasinya
terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling. Jurnal Konseling dan Pendidikan. 2(1), 1-2.

Sukmawati, I., Taufik., & Winda, P. S. (2016). Hubungan Konsep Diri Akademik Dengan
Motivasi Berprestasi. Jurnal Pendidikan Indonesia. 2(2), 35.

Taufik, Reski, N., & Ifdil. (2017). Konsep Diri Dan Kedisiplinan Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan
Indonesia. 3(2), 85-91.

Jurnal Neo Konseling, Open Access Journal: [Link]

Anda mungkin juga menyukai