0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan75 halaman

Terapi Diafragmatik untuk ADHF

Karya ilmiah ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan acute decompensated heart failure (ADHF) melalui terapi deep diaphragmatic breathing. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan ventilasi dan mengurangi sesak pada pasien ADHF.

Diunggah oleh

Zuhri Rais
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan75 halaman

Terapi Diafragmatik untuk ADHF

Karya ilmiah ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan acute decompensated heart failure (ADHF) melalui terapi deep diaphragmatic breathing. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan ventilasi dan mengurangi sesak pada pasien ADHF.

Diunggah oleh

Zuhri Rais
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

“M” DENGAN ADHF


(ACUTE DECOMPENSATED HEART FAILURE) MELALUI LATIHAN
DEEP DIAFRAGMATIK BREATHING DI RUANG BARITO
RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG
TAHUN 2024

KARYA ILMIAH AKHIR (KIA)

Disusun Oleh :

MUHAMMAD RIDHO FIKRAP


040STYJ23

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS TAHAP PROFESI
TAHUN 2024

ii
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. “M” DENGAN ADHF
(ACUTE DECOMPENSATED HEART FAILURE) MELALUI LATIHAN
DEEP DIAFRAGMATIK BREATHING DI RUANG BARITO
RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG
TAHUN 2024

KARYA ILMIAH AKHIR (KIA)

Untuk Memenuhi Gelar Sarjana Profesi Keperawatan ([Link].,Ners.)


Pada Program Studi Pendidikan Ners Tahap Profesi STIKES Yarsi Mataram

Disusun Oleh :

MUHAMMAD RIDHO FIKRAP


040STYJ23

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS TAHAP PROFESI
TAHUN 2024

iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

Saya yang bertanda tanga di bawah ini:

NAMA : Muhammad Ridho Fikrap


NIM : 040STYJ23
PROGRAM STUDI : Profesi Ners

Dengan ini menyatakan bahwa Karya Ilmiah Akhir (KIA) ini adalah karya
saya sendiri dan jika dikemudia hari terbukti melakukan plagiat terhadap karya
orang lain, maka saya bersediah menerima sanki dan institusi.

Mataram 24 Maret 2024


Yang Menyatakan

Muhammad Ridho Fikrap


040STYJ23

iv
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. “M” DENGAN ADHF
(ACUTE DECOMPENSATED HEART FAILURE) MELALUI LATIHAN
DEEP DIAFRAGMATIK BREATHING DI RUANG BARITO
RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG
TAHUN 2024

Karya Ilmiah Akhir (KIA) ini telah disetujui untuk diujikan dihadapan penguji
Program Studi Pendidikan Ners Tahap Profesi

STIKES Yarsi Mataram

Disusun Oleh :

MUHAMMAD RIDHO FIKRAP


040STYJ23

Mataram,

Pembimbing

BQ. Nurainun Apriani Idris.,Ners.,[Link].


Nik : 3061108

v
KARYA ILMIAH AKHIR (KIA)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. “M” DENGAN ADHF


(ACUTE DECOMPENSATED HEART FAILURE) MELALUI LATIHAN
DEEP DIAFRAGMATIK BREATHING DI RUANG BARITO
RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG
TAHUN 2024

Telah diseminarkan dan diujikan pada tanggal :

Oleh : MUHAMMAD RIDHO FIKRAP


040STYJ23

Penguji I Penguji II

(Supriyadi,[Link].,Ners.,[Link]) (BQ. Nurainun Apriani Idris,.Ners,.[Link].


NIK : 3030853 NIK : 3061108

Mengetahui
Ka. Prodi Pendidikan Ners

Maelina Ariyani, [Link],.Ners,.[Link].


NIDN : 0830058301

vi
ABSTRAK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. “M” DENGAN ADHF


(ACUTE DECOMPENSATED HEART FAILURE) MELALUI LATIHAN
DEEP DIAFRAGMATIK BREATHING DI RUANG BARITO
RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG
TAHUN 2024

Disusun Oleh :

MUHAMMAD RIDHO FIKRAP


040STYJ23

Penyakit jantung merupakan penyakit yang merenggut banyak nyawa.


Penyakit ini mengancam orang-orang dari segala penyakit, penyakit ini
merupakan penyakit dengan angka kematian yang tinggi dalam dunia
kesehatan. Faktor risiko penyakit jantung antara lain faktor keturunan, usia,
jenis kelamin, stres, kurang olahraga, merokok, kolesterol tinggi, tekanan darah
tinggi, diabetes, dan obesitas. Tujuan penulisan karya ilmiah akhir ini adalah
memberikan salah satu terapi non farmakologi yaitu terapi deep diafragmatic
brething selama 15 menit, untuk memaksimalkan ventilasi yang adekuat dan
mengurangi sesak pada penderita acute decompensated heart failure (ADHF).
Berdasarkan hasil study literatur dan case report yang dilakukan, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa pemberian terapi deep diaphragmatic breathing
dapat memaksimalkan ventilasi yang adekuat dan mengurangi sesak penderita
acute decompensated heart failure (ADHF).
Kata kunci : Acute Decompensated Heart Failure, Deep Diafragmatic
Breathing

vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
BimbingNya penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir (KIA) dengan
judul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. “M” Dengan ADHF (Acute
Decompensated Heart Failure) Melalui Latihan Deep Diafragmatik
Breathing Di Ruang Barito RSUD DR. Saiful Anwar Malang Tahun
2024” dapat terselesaikan Karya Ilmiah Akhir (KIA) ini merupakan salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Profesi Keperawatan
([Link].,Ners) pada program Studi Pendidikan Ners STIKES Yarsi Mataram.

Dalam penyusunan ini penulis mendapatkan bimbingan, dorongan baik


moral maupun material dari berbagai pihak maka dalam hal ini penulis
mengucapkan terima kasih yang sebsar-besarnya kepada:

1. Dr. H. Zulkafi.,[Link].,Ners.,[Link],selaku ketua STIKES Yarsi Mataram


yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada kami untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Studi Pendidikan Ners
Tahap Profesi.
2. Maelina Ariyanti, [Link]., Ners., [Link] selaku Ketua Program Studi
Pendidikan Ners STIKES Yarsi Mataram yang telah memberikan
kesempatan dan dorongan kepada kami untuk menyelesaikan Program
Studi Pendidikan Ners Tahap Profesi.
3. Ibu Bq. Nurainun Apriani Idris, Ners., [Link]. selaku pembimbing yang
telah banyak meluangkan waktu dan membimbing dengan sabar.
4. Responden yang telah membantu dalam penelitian ini.
5. Terimakasih kepada kedua orang tua saya, Alm. bapak Bunyamin dan
terutama mama tercinta Asni yang telah memberikan dukungan dan doa
dalam setiap langkah saya dalam menuntut ilmu.
6. Terimakasih untuk keluarga saya Mastura, Mutmainah, Khairunissa,
Nunung Asimah dan Nida’an Khofia yang telah memberikan dukungan,
dorongan dan doa selama Peneliti membuat tugas akhir.
Semoga Allah SWT membalas budi baik semua pihak yang telah
memberikan kesempatan, dukungan dan bantuan dalam menyelesaikan Karya
Ilmiah Akhir (KIA) [Link] menyadari bahwa Karya Ilmiah Akhir
(KIA) ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu diperlukan kritik maupun
saran yang bersifat membangun, demi kesempurnaan Karya Ilmiah Akhir

viii
(KIA) [Link] Karya Ilmiah Akhir (KIA) ini dapat menjadi pendoman
yang baik bagi peneliti dalam melakukan penelitian.

Mataram, 24 Maret 2024

Penulis

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................i
HALAMAN SAMPUL........................................................................................ii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN.............................iii
HALAMAN PERSETUJUAN............................................................................iv
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................v
ABSTRAK............................................................................................................vi
KATA PENGANTAR.........................................................................................vii
DAFTAR ISI........................................................................................................ix
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
A. Latar Belakang........................................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................................3
C. Tujuan Penuisan......................................................................................3
BAB II TINJAUAN TEORITIS.........................................................................5
A. KONSEP PENYAKIT HIPERTENSI...................................................5
1. Pengertian ADHF...............................................................................5
2. Anatomi Fisiologi Jantung..................................................................6
3. Klasfifikasi ADHF..............................................................................11
4. Faktor Resiko Terjadinya ADHF.......................................................11
5. Penyebab ADHF.................................................................................11
6. Tanda dan Gejala ADHF....................................................................12
7. Patafisiolgi ADHF..............................................................................13
8. Pathway ADHF...................................................................................15
9. Pemeriksaan Penunjang ADHF..........................................................16
10. Penetalaksanaan ADHF......................................................................17
11. Komplikasi ADHF..............................................................................18
B. FISIOLOGI PERNAPASAN..................................................................19
C. SATURASI OKSIGEN...........................................................................19
D. KONSEP DEEP DIAFRAGMATIC BREATHING...............................20
1. Definisi Deep Diafragmatic Breathing ...........................................20
2. Tujuan Deep Diafragmatic Breathing .............................................21
3. Manfaat Deep Diafragmatic Breathing ...........................................21
4. Indikasi Deep Diafragmatic Breathing............................................21
5. Fisiologi Pemberian Deep Diaphragmatic Breathing Terhadap
Peningkatan Saturasi Oksigen..........................................................21
6. Tehnik Deep Diafragmatic Breathing..............................................22
E. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN................................................23
1. Pengkajian........................................................................................24
2. Diagnosa...........................................................................................29
3. Intervensi..........................................................................................33
4. Implementasi....................................................................................36
5. Evaluasi............................................................................................36
BAB III TINJAUAN KASUS.............................................................................38
A. Pengkajian..............................................................................................38
B. Diagnosa.................................................................................................45
C. Intervensi................................................................................................46
D. Implementasi..........................................................................................46

x
E. Evaluasi..................................................................................................48
BAB IV PELAKSANAAN INTERVENSI........................................................49
A. Intervensi Berdasarkan EBN.................................................................49
B. Rincian Intervensi...................................................................................49
C. Jumlah Pasien yang dikelola..................................................................50
D. Proses Pelaksanaan Intervensi...............................................................50
E. Waktu Intervensi.....................................................................................52
BAB V PEMBAHASAN......................................................................................53
A. Analisis dan diskusi hasil........................................................................53
B. Keterbatasan Pelaksanaan.....................................................................56
BAB VI PENUTUP..............................................................................................57
A. Kesimpulan..............................................................................................57
B. Saran.........................................................................................................58
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................60
LAMPIRAN.........................................................................................................62

xi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit jantung merupakan penyakit yang merenggut banyak
nyawa. Penyakit ini mengancam orang-orang dari segala penyakit,
penyakit ini merupakan penyakit dengan angka kematian yang tinggi
dalam dunia kesehatan. Serta Penyebab penyakit ini umumnya kurang
dipahami (Riani et al., 2019).
Menurut WHO (World Health Organization) dan CDC (Centers for
Disease Control Frevention), penyakit jantung merupakan faktor kematian
terbesar di Inggris, Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Di Amerika
Serikat, 26,6 Juta (11,3% dari populasi orang dewasa) di diagnosis
penyakit jantung. Indonesia memiliki jumlah penderita penyakit jantung
tertinggi yang dibiayai oleh BPJS Kesehatan yaitu 11.592.990 kasus dan
menjadi penyebab kematian nomor dua di Indonesia, sehingga penyakit ini
ditakuti masyarakat hingga saat ini (Riani et al., 2019).
Beberapa faktor risiko penyakit jantung antara lain faktor keturunan,
usia, jenis kelamin, stres, kurang olahraga, merokok, kolesterol tinggi,
tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas. Memprediksi penyakit
jantung dapat berkontribusi pada pencegahan dan pengobatan yang lebih
efektif (Haryadi & Atmaja, 2021).
Penyakit gagal jantung sering menimbulkan gejala klinik berupa
dyspnea, orthopnea dan proxysmal nocturnal dyspnea yang diakibatkan
oleh kegagalan fungsi pulmonal. Kegagalan fungsi pulmonal pada gagal
jantung sering diakibatkan oleh adanya edema paru dan berdampak pada
penurunan saturasi oksigen. Gagal jantung saat kondisi istirahat saturasi
oksigen berkisar antara 91-95%. Komplikasi pasien adhf (gagal jantung)
seperti pembekuan darah dalam arteri koroner, pemakaian obat digitalis
berlebihan, efusi pleura, aritmia, pembentukan trombus pada ventrikel
kiri, dan pembesaran hati (Wijaya & Putri, 2013).
Peran perawat diperlukan pada penanganan klien dengan gagal
jantung diruangan IPJT, meliputi 3 bidang yaitu caring role: merawat klien

1
dan menciptakan lingkungan yang biologis, psikologis, sosiocultural serta
membantu penyembuhan, coordinating role; berkolaborasi terhadap
tindakan keperawatan dan komunikasi terapeutik sehingga terjalin
pelayanan yang efektif dan efesien, therapeutik role ; sebagai pelaksanaan
tugas dokter untuk tindakan diagnostik dan terapeutik (Akatsuki, 2011).
Pasien gagal jantung sering mengalami masalah keperawatan berupa
penurunan curah jantung, Pola napas tidak efektif dan intoleransi aktifitas.
Perawat dapat meningkatkan pola napas dan saturasi oksigen melalui
tindakan keperawatan kolaboratif dan mandiri. Salah satu intervensi yang
dilakukan pada pasien dengan penyakit gagal jantung untuk
memaksimalkan ventilasi paru adalah latihan pernapasan diafragma (Deep
Diapragmatic Breathing) dengan cara inspirasi maksimal pada hidung dan
mengurangi kerja otot pernapasan, sehingga meningkatkan perfusi dan
memperbaiki kinerja alveoli serta mengefektifkan difusi oksigen yang
akan meningkatkan kadar O2 dalam paru dan meningkatkan saturasi
oksigen (Mayuni et al, 2015).
Kontrol respirasi melalui Deep Diapragmatic Breathing akan
meningkatkan volume tidal, menurunkan kapasitas residu fungsional dan
meningkatkan pengambilan oksigen optimal, sehingga mampu
menstabilkan saturasi oksigen pada pasien dengan penyakit gagal jantung.
Latihan Deep Diapragmatic Breathing digunakan terapi non farmakologi
untuk penyakit gagal jantung dalam meningkatkan saturasi dan
menurunkan sesak nafas serta meningkatkan kemampuan aktifitas fisik
(Sepdianto, 2013).
Dalam jurnal Sepdianto dkk 2013 yang berjudul peningkatan pada
saturasi oksigen melalui latihan Deep Diafragmatic Breathing pada pasien
dengan penyakit gagal jantung menunjukkan rata-rata saturasi oksigen
97,38% sebelum latihan dan setelah latihan 98,36%. Terdapat terjadi
peningkatan saturasi oksigen 0,8%. Pada penelitian lain yang dilakukan
oleh Anita Yulia dkk 2019 dengan judul pengaruh nafas dalam dan posisi
terhadap saturasi oksigen dan frekuensi pernafasan pada pasien dengan
penyakit asma didapatkan SpO2 post mean 98,33 median 99,00 dan

2
standar deviasi 1,17. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan
nilai SpO2 antara kelompok intervensi yang diberikan intervensi melalui
nafas dalam dan pengaturan posisi dengan kelompok kontrol yang hanya
diberikan pengaturan posisi.
Berdasarkan uraian diatas, penulis akan melakukan Asuhan
keperawatan pada Tn. M dengan ADHF (acute decompensated heart
failure) melalui intervensi Deep Diapragmatic Breathing terhadap
peningkatan saturasi oksigen di Ruangan Barito RSUD Dr Saiful Anwar
Malang untuk dijadikan Karya Ilmiah Akhir Ners (KIAN) pada stase
keperawatan Medikal Bedah.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik
untuk membahas lebih dalam mengenai “Asuhan keperawatan pada Tn. M
dengan ADHF (acute decompensated heart failure) melalui latihan Deep
Diapragmatic Breathing di Ruang Barito RSUD Dr. Saiful Anwar
Malang”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mampu melakukan “Asuhan keperawatan pada Tn. M dengan ADHF
(acute decompensated heart failure) melalui latihan Deep
Diapragmatic Breathing di Ruang Barito RSUD Dr. Saiful Anwar
Malang”
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada “Asuhan keperawatan pada
Tn. M dengan ADHF (acute decompensated heart failure) melalui
latihan Deep Diapragmatic Breathing di Ruang Barito RSUD Dr.
Saiful Anwar Malang”
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan “Asuhan keperawatan
pada Tn. M dengan ADHF (acute decompensated heart failure)

3
melalui latihan Deep Diapragmatic Breathing di Ruang Barito
RSUD Dr. Saiful Anwar Malang”
c. Mampu menyusun rencana tindakan keperawatan pada “Asuhan
keperawatan pada Tn. M dengan ADHF (acute decompensated
heart failure) melalui latihan Deep Diapragmatic Breathing di
Ruang Barito RSUD Dr. Saiful Anwar Malang”
d. Mampu mengimplementasikan rencana keperawatan “Asuhan
keperawatan pada Tn. M dengan ADHF (acute decompensated
heart failure) melalui latihan Deep Diapragmatic Breathing di
Ruang Barito RSUD Dr. Saiful Anwar Malang”
e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan pada “Asuhan
keperawatan pada Tn. M dengan ADHF (acute decompensated
heart failure) melalui latihan Deep Diapragmatic Breathing di
Ruang Barito RSUD Dr. Saiful Anwar Malang”

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

4
A. KONSEP PENYAKIT ADHF
1. Pengertian
ADHF (Acute Decompensasi Heart Failure) yaitu penyakit gagal
jantung akut dimana serangan nya cepat dari gejala-gejala yang diakibat
oleh abnormalnya fungsi jantung. Disfungsi dapat berupa sistolik
maupun diastolik abnormalitas irama jantung. Gagal jantung bisa
terjadi pada seseorang dengan serangan baru tanpa kelainan jantung
sebelumnya. (Aaronson, 2010).
Decompensasi cordis adalah suatu kondisi dimana jantung
mengalami penurunan atau kegagalan dalam memompa darah dimana
terjadi penurunan kemampuan kontraktilitas fungsi pompa jantung
untuk mencukupi kebutuhan tubuh akan nutrisi dan oksigen secara
adekuat (Udjianti, 2010). Penyakit gagal jantung yaitu jantung tidak
mampu memompa pasokan darah, untuk mempertahankan sirkulasi
adekuat sesuai kebutuhan tubuh meskipun tekanan pengisian cukup,
dimana gejalanya seperti nafas sesak selama istirahat, beraktifitas dan
kelelahan, edema pulmonal kardiogenik dengan akumulasi cairan yang
cepat pada paru dan pembengkakan pada tungkai (Arif Muttaqin,
2009).
Jadi ADHF adalah gagal jantung akut yang gagal memompa
cukup darah untuk mencukupi kebutuhan tubuh serta tidak dapat
mempertahankan sirkulasi yang adekuat dan serangannya dirasakan
secara cepat (Yesa, 2019)

2. Anatomi fisiologi
a. Anatomi

5
Gambar 2.1 Anatomi Jantung
1) Sistem peredaran darah terdiri atas jantung, pembuluh darah,
dan saluran limfe. Jantung merupakan organ pemompa besar
yang memelihara peredaran melalui seluruh tubuh. Arteri
membawa darah dari [Link] membawa darah ke jantung.
kapiler menggabungkan arteri dan vena, terentang diantaranya
dan merupakan jalan lalu lintas antara makanan dan bahan
buangan. Disini juga terjadi pertukaran gas dalam cairan
ekstraseluler dan interstisial. Jantung adalah organ berupa otot,
berbentuk kerucut, berongga, basisnya diatas, dan puncaknya
dibawah. Apeksnya (puncaknya) miring kesebelah kiri. Berat
jantung kira-kira 300 gram. .(Yulian dkk,2020)
Kedudukan jantung: jantung berada didalam toraks, antara kedua
paru-paru dan dibelakang sternum, dan lebih menghadap ke kiri
daripada ke kanan.

6
Gambar 2.2 Posisi Jantung
Lapisan Jantung terdiri atas 3 lapisan yaitu :
1) Epikardium merupakan lapisan terluar, memiliki struktur yang
samma dengan perikardium viseral.
2) Miokardium, merupakan lapisan tengah yang terdiri atas otot
yang berperan dalam menentukan kekuatan kontraksi.
3) Endokardium, merupakan lapisan terdalam terdiri atas jaringan
endotel yang melapisi bagian dalam jantung dan menutupi
katung jantung. .(Yulian dkk,2020).
Katup jantung : berfungsi untuk mempertahankan aliran darah
searah melalui bilik jantung. ada dua jenis katup, yaitu katup
atrioventrikular dan katup semilunar.

Gambar 2.3 Katup Jantung

7
1) Katup atrioventrikular, memisahkan antara atrium dan
ventrikel. Katup ini memungkinkan darah mengalir dari masing
–masing atrium ke ventrikel saat diastole ventrikel dan
mencegah aliran balik ke atrium saat sistole ventrikel. Katup
atrioventrikuler ada dua, yaitu katup triskupidalis dan katup
biskuspidalis. Katup triskupidalis memiliki 3 buah daun katup
yang terletak antara atrium kanan dan ventrikel kanan. Katup
biskuspidalis atau katup mitral memiliki 2 buah dauh katup dan
terletak antara atrium kiri dan ventrikel kiri.
2) Katup semilunar, memisahkan antara arteri pulmonalis dan aorta
dari ventrikel. Katup semilunar yang membatasi ventrikel kanan
dan arteri pulmonaris disebut katup semilunar pulmonal. Katup
yang membatasi ventikel kiri dan aorta disebut katup semilunar
aorta. Adanya katup ini memungkinkan darah mengalir dari
masing-masing ventrikel ke arteri pulmonalis atau aorta selama
sistole ventrikel dan mencegah aliran balik ke ventrikel sewaktu
diastole ventrikel (Yulian dkk,2020).
Ruang jantung : jantung memiliki 4 ruang, yaitu atrium kanan,
atrium kiri, ventrikel kiri, dan ventrikel kanan. Atrium terletak diatas
ventrikel dan saling berdampingan. Atrium dan ventrikel dipisahkan
oleh katup satu arah. Antara organ rongga kanan dan kiri dipisahkan
oleh septum. .(Yulian dkk,2020).
b. Fisiologi
Siklus jantung adalah rangkaian kejadian dalam satu irama jantung.
Dalam bentuk yang paling sederhana, siklus jantung adalah kontraksi
bersamaan kedua atrium, yang mengikuti suatu fraksi pada detik
berikutnya karena kontraksi bersamaan kedua ventrikel.
Sisklus jantung merupakan periode ketika jantung kontraksi dan
relaksasi. Satu kali siklus jantung sama dengan satu periode sistole
(saat ventrikel kontraksi) dan satu periode diastole ( saat ventrikel
relaksasi). Normalnya, siklus jantung dimulai dengan depolarisasi

8
spontan sel pacemarker dari SA node dan berakhir dengan keadaan
relaksasi ventrikel (Yulian dkk,2020).
Pada siklus jantung, sistole (kontraksi) atrium diikuti sistole
ventrikel sehingga ada perbedaan yang berarti antara pergerakan
darah dari ventrikel ke arteri. Kontraksi atrium akan diikuti relaksasi
atrium dan ventrikel mulai ber kontraksi. Kontraksi ventrikel
menekan darah melawan daun katup atrioventrikuler kanan dan kiri
dan menutupnya. Tekanan darah juga membuka katup semilunar
aorta dan pulmonalis. Kedua ventrikel melanjutkan kontraksi,
memompa darah ke arteri. Ventrikel kemudian relaksasi bersamaan
dengan pengaliran kembali darah ke atrium dan siklus kembali.
(Yulian dkk,2020).
Curah jantung merupakan volume darah yang dipompakan selama
satu menit. Curah jantung ditentukan oleh jumlah denyut jantung
permenit dan stroke volume. Isi sekuncup ditentukan oleh :
1) Beban awal (pre-load)
a) Pre-load adalah keadaan ketika serat otot ventrikel kiri
jantung memanjang atau meregang sampai akhir diastole.
Pre-load adalah jumlah darah yang berada dalam ventrikel
pada akhir diastole.
b) Volume darah yang berada dalam ventrikel saat diastole ini
tergantung pada pengambilan darah dari pembuluh vena
dan pengembalian darah dari pembuluh vena ini juga
tergantung pada jumlah darah yang beredar serta tonus otot.
c) Isi ventrikel ini menyebabkan peregangan pada serabut
miokardium.
d) Dalam keadaan normal sarkomer (unit kontraksi dari sel
miokardium) akan teregang 2,0 μm dan bila isi ventrikel
makin banyak maka peregangan ini makin panjang.
e) Hukum frank starling : semakin besar regangan otot
jantung semakin besar pula kekuatan kontraksinya dan
semakin besar pula curah jantung. pada keadaan pre-load

9
terjadi pengisian besar pula volume darah yang masuk
dalam ventrikel.
f) Peregangan sarkomet yang paling optimal adalah 2,2 μm.
Dalam keadaan tertentu apabila peregangan sarkomer
melebihi 2,2 μm, kekuatan kontraksi berkurang sehingga
akan menurunkan isi sekuncup.(Yulian dkk,2020).
2) Daya kontraksi
a) Kekuatan kontraksi otot jantung sangat berpengaruh
terhadap curah jantung, makin kuat kontraksi otot jantung
dan tekanan ventrikel.
b) Daya kontraksi dipengaruhi oleh keadaan miokardium,
keseimbangan elektrolit terutama kalium, natrium, kalsium,
dan keadaan konduksi jantung.
c) Beban akhir
(1) After load adalah jumlah tegangan yang harus
dikeluarkan ventrikel selama kontraksi untuk
mengeluarkan darah dari ventrikel melalui katup
semilunar aorta.
(2) Hal ini terutama ditentukan oleh tahanan pembuluh
darah perifer dan ukuran pembuluh darah.
Meningkatnya tahanan perifer misalnya akibat
hipertensi artau vasokonstriksi akan menyebabkan
beban akhir. (Yulian dkk,2020).
3) Kondisi yang menyebabkan baban akhir meningkat akan
mengakibatkan penurunan isi sekuncup.
4) Dalam keadaan normal isi sekuncup ini akan berjumlah ±70ml
sehingga curah jantung diperkirakan ±5 liter. Jumlah ini tidak
cukup tetapi dipengaruhi oleh aktivitas tubuh.
5) Curah jantung meningkat pada waktu melakukan kerja otot,
stress, peningkatan suhu lingkungan, kehamilan, setelah makan,
sedang kan saat tidur curah jantung akan menurun.(Yulian
dkk,2020).

10
3. Klasifikasi ADHF
Menurut New York Heart Association (NYHA) klasifikasi gagal
jantung dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan tanda dan gejala pasien,
respon terapi dan status fungsional, yaitu :
1. Functional Class I ( FC I ) : asimptomatik tanpa hambatan aktivitas
fisik.
2. Functional Class II ( FC II ) : hambatan aktivitas fisik ringan,
pasien merasa nyaman saat istirahat tetapi mengalami gejala
dyspnea, fatigue, palpitasi atau angina dengan aktivitas biasa.
3. Functional Class III ( FC III ) : hambatan aktivitas fisik nyata,
pasien merasa nyaman saat istirahat tetapi mengalami gejala
dyspnea, fatigue, palpitasi atau angina dengan aktivitas biasa
ringan.
4. Functional Class IV ( FC IV ) : ketidaknnyamanan saat melakukan
aktivitas fisik apapun, dan timbul gejala sesak pada aktivitas saat
istirahat. (World Health Organization, 2013).

4. Faktor resiko terjadinya ADHF


a. Riwayat hipertensi
b. Obesitas
c. Riwayat gagal jantung
d. Perokok hebat
e. Aktivitas berlebihan dan mengkonsumsi alkohol (Price, 2013).

5. Penyebab ADHF
Menurut Wijaya dan Putri (2013) terjadinya gagal jantung dapat
disebabkan :
a. Disfungsi miokard (kegagalan miokardial)
Kegagalan miokard berkontraksi mengakibatkan isi sekuncup dan
curah jantung (cardiac output) terjadi menurun.
b. Beban tekanan berlebihan pembebanan sistolik (systolic overload)

11
Beban berlebihan pada kemampuan ventrikel menyebabkan
pengosongan ventrikel terhambat.
c. Beban volum berlebihan pembebanan diastolic (diastolic overload)
d. Preload yang berlebihan dan melampaui kapasitas ventrikel
(diastolic overload) akan menyebabkan volum dan tekanan pada
akhir diastolic dalam ventrikel meninggi.
e. Gangguan pengisian (hambatan input)
Hambatan dalam pengisian ventrikel dikarenakan gangguan pada
aliran masuk ventrikel akan menyebabkan pengeluaran ventrikel
yang berkurang sehingga curah jantung terjadi penurunan.
f. Hipertensi Sistemik / Pulmonal
Peningkatan beban kerja jantung mengakibatkan pengecilan serabut
otot jantung. Efeknya (hipertrofi miokard) sebagai mekanisme
kompensasi karena meningkatkan kontraktilitas jantung.
g. Penyakit jantung
Penyakit jantung lain seperti stenosis katup semilunar, temponade
perikardium, perikarditis konstruktif, stenosis katup AV.

6. Tanda Dan Gejala


Menurut Wijaya dan Putri dalam Yesa (2019) tanda gejala Acute
Decompensasi Heart Failure adalah:
a. Sesak nafas (dyspnea) muncul saat istirahat dan beraktivitas.
b. Ortopnue yaitu saat berbaring sesak nafas, memerlukan posisi tidur
setengah duduk dengan menggunakan bantal lebih dari satu.
c. Paroxysmal Nocturnal Dyspneu (PND) yaitu tiba-tiba pada malam
hari terasa sesak nafas dan disertai batuk-batuk
d. Takikardia dan berdeber-debar
e. Batuk-batuk terjadi akibat edema pada broncus dan penekanan
pada broncus oleh atrium kiri yang dilatasi. Batuk sering berupa
yang basah, berbusa dan disertai bercak darah. Bunyi tambahan
seperti ronkhi dapat disebabkan oleh penumpukan cairan di paru
akibat aliran balik darah ke paru-paru.

12
f. Mudah lelah (fatique)
g. Penumpukan cairan pada jaringan atau edema
Edema disebabkan oleh aliran darah yang keluar dari jantung
melambat, sehingga darah balik ke jantung menjadi terhambat. Hal
tersebut mengakibatkan cairan menumpuk di jaringan. Kerusakan
ginjal yang tidak mampu mengeluarkan natrium dan air juga
menyebabkan retensi cairan dalam jaringan. Penumpukan cairan di
jaringan ini dapat terlihat dari bengkak di kaki maupun pembesaran
perut.

7. Patofisiologi
Adhf dapat muncul pada organ yang sebelumnya menderita gagal
jantung atau belum pernah mengalami gagal jantung, etiologi adhf
dapat bersumber dari kardiovaskuler maupun non kardiovaskuler,
etiologi ini beserta dengan faktor presipitasi lainnya akan menimbulkan
kelainan atau kerusakan pada jantung akibat oleh proses iskemia
miokad atau hipertropi remodeling otot jantung atau kerusakan katup
jantung yang dapat menyebabkan disfungsi ventrikel sehingga terjadi
gangguan preload maupun afterload sehingga menurunkan curah
jantung. Bila curah jantung menurun, maka tubuh akan mengeluarkan
mekanisme ini melibatkan sistem adrenalin renin angiotensin dan
aldosteron sehingga terjadi peningkatan tekanan darah akibat
vasokontriksi arteriol dan retensi natrium dan air. Tetapi bila telah
mencapai ambang batas kompensasi, maka mekanisme ini akan
terdekompensasi sehingga muncul gejala klinis yang terganggu dari
ventrikel yang terkena lalu muncul adhf. .
Kelainan pada otot jantung karena berbagai sebab dapat menurunkan
kontraktilitas otot jantung sehingga menurunkan isi sekuncup dan
kekuatan kontraksi otot jantung sehingga terjadi penurunan curah
jantung. Demikian pula pada penyakit sistemik menyebabkan jantung
berkompensasi memenuhi kebutuhan oksigen jaringan. Bila terjadi

13
terus menerus, pada akhirnya jantung akan gagal berkompensasi
sehingga mengakibatkan penurunan curah jantung.
Hal ini akan menimbukan penurunan volume darah akibatnya terjadi
penurunan curah jantung, penurunan kontraktivitas miokard pada
ventrikel kiri (apabila terjadi infark di ventrikel kiri) akan menyebabkan
peningkatan beban ventrikel kiri. Hal ini disebabkan karena penurunan
kontraktivitas disertai dengan peningkatan venous return ( aliran darah
balik vena). Hal ini tentunya akan meningkatkan bedungan darah
diparu-paru. Bendungan akan mengakibatkan airan ke jaringan dan
alveolus paru terjadi edema pada paru. Edema ini tentunya akan
menimbulkan gangguan pertukara gas diparu-paru
Tanda dominan ADHF yaitu tekanan arteri dan vena meningkat.
Tekanan ini mengakibatkan peningkatan tekanan vena pulmonalis
sehingga cairan mengalir dari kapiler ke alveoli dan terjadilah odema
paru. Odema paru mengganggu pertukaran gas di alveoli sehingga
timbul dispnoe dan ortopnoe. Keadaan ini membuat tubuh memerlukan
energy yang tinggi untuk bernafas sehingga menyebabkan pasien
mudah lelah. Dengan keadaan yang mudah lelah ini penderita
cenderung immobilisasi lama sehingga berpotensi menimbulkan
thrombus intrakardial dan intravaskuler. Begitu penderita meningkatkan
aktivitasnya sebuah thrombus akan terlepas menjadi embolus dan dapat
terbawa ke ginjal, otak, usus dan tersering adalah ke paru-paru
menimbulkan emboli paru. Emboli sistemik juga dapat menyebabkan
stroke dan infark ginjal.
Odema paru dimanifestasikan dengan batuk dan nafas pendek
disertai sputum berbusa dalam jumlah banyak yang kadang disertai
bercak darah. Pada pasien odema paru sering terjadi Paroxysmal
Nocturnal Dispnoe (PND) yaitu ortopnoe yang hanya terjadi pada
malam hari, sehingga pasien menjadi insomnia (Yesa, 2019.

14
8. Pathway

Regurgitasi aorta Perikarditis, Hipertensi, stenosis


cacat septum tamponade, dan infark aorta

Preload meningkat Kontraktilitas menurun Afterload meningkat

Disfungsi sistolik dan atau


diastolik

Kegagalan jantung
memompa darah

Gagal jantung kanan Penurunan volume darah Kegagalan jantung


yang memompa (CO) memompa darah
Peningkatan aktivitas
andrenergik simpatik Penurunan curah Gagal jantung kiri
jantung

Vasokontriksi sistemik Edema paru

Ekskresi Na+ dan H2O Penurunan cairan di paru-paru


Urine

Penumpukan Penurunan Peningkatan


Urine output menurun, cairan pada alveoli produksi sekret
ekspansi paru
volume plasma meningkat,
tekanan hidrostatik
meningkat Difusi O2 dan CO2 Pola napas Observasij
terganggu tidak efektif alan napas
Edema sistemik
ekstermitas Intoleransi Gangguan Bersihan jalan
aktivitas pertukaran gas napas tidak efektif
Hipervolemia

(Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017

15
9. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk kasus ADHF menurut Putra dalam
Yesa (2019) yaitu:
1. Laboratorium :
a. Hematologi : Hb, Ht, Leukosit.
b. Elektrolit : K, Na, Cl, Mg.
c. Enzim Jantung (CK-MB , Troponin, LDH).
d. Gangguan fungsi ginjal dan hati : B UN, Creatinin, Urine
Lengkap, SGOT, SGPT.
e. Gula darah.
f. Kolesterol, trigliserida.
g. Analisa Gas Darah
2. Elektrokardiografi, untuk melihat adanya :
a. Penyakit jantung koroner : iskemik, infark.
b. Pembesaran jantung (LVH : Left Ventricular Hypertrophy).
c. Aritmia.
d. Perikarditis.
3. Foto Rontgen Thoraks, untuk melihat adanya :
a. Edema alveolar.
b. Edema interstitials.
c. Efusi pleura.
d. Pelebaran vena pulmonalis.
e. Pembesaran jantung.
f. Echocardiogram menggambarkan ruang –ruang dan katup
jantung
g. Radionuklir.
h. Mengevaluasi fungsi ventrikel kiri.
i. Mengidentifikasi kelainan fungsi miokard
4. Pemantauan Hemodinamika (Kateterisasi Arteri Pulmonal
Multilumen) bertujuan untuk :
a. Mengetahui tekanan dalam sirkulasi jantung dan paru.
b. Mengetahui saturasi O2 di ruang-ruang jantung

16
c. Biopsi endomiokarditis pada kelainan otot jantung.
d. Meneliti elektrofisiologis pada aritmia ventrikel berat recurrent.
e. Mengetahui beratnya lesi katup jantung.
f. Mengidentifikasi penyempitan arteri koroner.
g. Angiografi ventrikel kiri (identifikasi hipokinetik, aneurisma
ventrikel, fungsi ventrikel kiri).
h. Arteriografi koroner (identifikasi lokasi stenosis arteri coroner)
5. Echocardiogram untuk menggambarkan ruang –ruang dan katup
jantung.

10. Penatalaksanaan
Menurut Amin dan Hardi (2015) penatalaksanaan dalam kasus
Acute Decompensasi Heart Failure adalah :
1. Penatalaksanaan Medis
a. Terapi farmakologi :
1) Digitalis : untuk meningkatkan kekuatan kontraksi jantung
dan memperlambat frekuensi jantung misal: Digoxin
2) Diuretik : untuk memacu ekskresi natrium dan air melalui
ginjal serta mengurangi edema paru misal : Furosemide
(lasix)
3) Vasodilator :untuk mengurani tekanan terhadap
penyemburan darah oleh ventrikel misal :
Natriumnitrofusida, nitrogliserin
4) Angiotension Converting Enzyme Inhibitor (ACE
INHIBITOR) adalah agen yang menghambat pembentukan
angiotensi II sehingga menutunkan tekanan darah. Obat ini
juga menurunkan beban awal ( preload) dan beban akhir
(afterload) misal: catropil, ramipril, fosinopril
5) Inotropik (dopamin dan dobutamin). Dopamin untuk
meningkatkan tekanan darah, curah jantung dan produksi
urin pada syok kerdiogenik Dobutamin untuk menstimulasi

17
adrenoreseptor dijantung sehingga menigkatkan penurunan
tekanan darah.
b. Terapi non farmakologi :
1) Diet rendah garam
2) Pembatasan cairan
3) Mengurangi BB
4) Menghindari alcohol
5) Mengurangi stress
6) Pengaturan aktivitas fisik
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Tirah Baring
Dimana akan mengurangi kerja jantung yang meningkat
sehingga tenaga jantung menurunkan tekanan darah melalui
induksi diuresis berbaring.
b. Oksigen
Pemenuhan oksigen ini akan mengurangi pada demand
miokard yang membantu memenuhi kebutuhan oksigen pada
tubuh.
c. Diet
Pengaturan diet ini akan membuat ketegangan otot jantung
berkurang. Selain itu pembatasan natrium ditujukan untuk
mencegah, mengatur, atau mengurangi edema.

11. Komplikasi
Menurut Wijaya dan Putri (2013) komplikasi yang dapat terjadi
pada Acute Decompensasi Heart Failure adalah:
1. Edema paru akut dapat terjadi pada gagal jantung kiri
2. Syok kardiogenik akibat penurunan curah jantung sehingga perfusi
jaringan ke organ vital tidak adekuat.
3. Episode trombolitik, trombus terbentuk akibat immobilitas pasien
dan gangguan sirkulasi, trombus dapat menyebabkan penyumbatan
pembuluh darah

18
4. Efusi perikardial dan tamponade jantung dimana masuknya cairan
ke jantung perikardium, cairan dapat meregangkan pericardium
sampai ukuran maksimal. Cardiac output menurun dan aliran balik
vena ke jantung akan mengakibatkan tamponade jantung.
5. Efusi Pleura
Efusi pleura merupakan hasil dari peningkatan tekanan pada
pembuluh kapiler pleura. Peningkatan tekanan menyebabkan cairan
transudate pada pembuluh kapiler pleura berpindah ke dalam
pleura. Efusi pleura menyebabkan pengembangan paru-paru tidak
optimal sehingga oksigen yang diperoleh tidak optimal.

B. FISIOLOGI PERNAPASAN
Tubuh mengandung oksigen didalamnya yang dapat diatur
menurut keperluan. Jika tidak mendapatkan oksigen secara maksimal
maka akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada otak dan hingga
mencapai kematian. Bila oksigen tidak mencukupi terlihat mengalami
nafas sesak, sianosis terjadi pada bibir, telinga, lengan, dan kaki.
Pernafasan merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida yang
terjadi pada kedua paru-paru.
Oksigen dihirup melalui mulut dan hidung lalu masuk ketrakea
hingga alveoli mengalir dalam darah. Alveoli ini memisahkan oksigen dan
karbondioksida dalam darah, oksigen menembus membrane, lalu diikat sel
darah merah dibawa kejantung dan dipompakan keseluruh tubuh (Smeltzer
dalam Yesa, 2019).

C. SATURASI OKSIGEN
Saturasi oksigen adalah presentasi hemoglobin yang berkaitan dengan
oksigen dalam arteri, saturasi oksigen normal adalah antara 95-100%. Jika
saturasi oksigen dalam darah di bawah 95%, maka kurangnya oksigen
dalam darah yang ditandai dengan sesak nafas, detak jantung cepat,
sianosis, dan sakit kepala (Andarmoyo, 2012).

19
Saturasi oksigen yang rendah di dalam tubuh (<95%) dapat
menimbulkan beberapa masalah kesehatan diantaranya hipoksemia, yang
ditandai dengan napas sesak, frekuensi menjadi 35x/Menit, peningkatan
nadi cepat dan dangkal, sianosis dan terjadi penurunan kesadaran (Potter &
Perry Dalam Yesa, 2019).

D. KONSEP DEEP DIAFRAGMATIC BREATHING


1. Definisi Deep Diaphragmatic Breathing
Breathing Exercise merupakan latihan meningkatkan kinerja
pernafasan (Cahalin, 2014). Salah satu breathing exercise yang dapat
dilakukan adalah Deep Diaphragmatic Breathing (latihan nafas dalam).
Pasien gagal jantung sering mengalami masalah berupa penurunan
jantung, gangguan pola napas dan intoleransi aktivitas akibat penurunan
saturasi oksigen. Perawat dapat memfasilitasi peningkatan peningkatan
pola napas dan saturasi oksigen melalui tindakan keperawatan
kolaboratif dan mandiri. Deep Diaphragmatic Breathing adalah latihan
aktivitas yang merileksasikan, aktivitas saraf parasimpatis dan
sensitivitas baroreseptor dapat meningkat. Deep Diaphragmatic
breathing juga dapat menurunkan respirasi, menurunkan persepsi
terhadap dyspnea, saturasi oksigen meningkat dan kemampuan aktifitas
meningkat pada pasien penyakit gagal jantung (Bernardi dalam yesa,
2019).
Terapi nonfarmakologi dapat diberikan Latihan Deep
Diaphragmatic Breathing untuk penyakit gagal jantung, baik terapkan
dalam bentuk terapi mandiri. Menurut Sepdianto 2013 dalam jurnalnya
mengatakan bahwa Latihan ini mudah untuk dilakukan dirumah tanpa
adanya efek samping serta menurunkan biaya pengobatan bagi pasien
gagal jantung. Latihan ini dapat dilakukan minimal selama 14 hari
dengan frekuensi latihan 3 kali sehari dengan melakukannya secara
benar sehingga manfaatnya bisa dirasakan.

20
2. Tujuan Deep Diaphragmatic Breathing
Latihan pernafasan diafragma bertujuan agar klien pada gangguan
ventilasi dapat mencapai ventilasi yang baik, terkontrol, efisien, dapat
mengurangi kerja pernafasan, relaksasi otot meningkat, kecemasan
menghilang, membantu mengurangi sekresi, melambatkan frekuensi
pernafasan dan mengurangi kerja pernafasan, saturasi oksigen
meningkat dan meningkatkan kemampuan akivitas pada pasien
penyakit gagal jantung/ ADHF (Smeltzer dalam Yesa, 2019).

3. Manfaat Deep Diaphragmatic Breathing


Membantu meningkatkan dan melatih kembali otot pernafasan
sehingga berfungsi dengan baik serta mencegah distress pernafasan dan
membantu ventilasi lebih adekuat sehingga menunjang oksigenasi
jaringan (Nurbasuki, 2018).

4. Indikasi dan kontraindikasi Deep Diaphragmatic Breathing


a. Indikasi Deep Diapragma Breathing :
Meliputi sesak nafas, obstruksi jalan nafas, nyeri dada, kecemasan,
kelemahan otot pernafasan, klien dengan saturasi oksigen yang
rendah, dan ventilasi pernafasan yang kurang optimal.
b. Kontraindikasi Deep Diapragma Breathing :
Meliputi tension pneumothorak, tekanan intrakranial yang
meningkat, hipotensi dan infarkmiokard (Yesa, 2019).

5. Fisiologi Pemberian Deep Diaphragmatic Breathing Terhadap


Peningkatan Saturasi Oksigen
Latihan pernapasan diafragma yang dilakukan dengan inspirasi
melalui hidung, mengurangi kerja otot pernapasan, sehingga
meningkatkan perfusi dan memperbaiki kinerja alveoli sehingga difusi
oksigen menjadi efektif yang akan meningkatkan kadar O2 dalam paru
dan meningkatkan saturasi oksigen (Mayuni et al, 2015).

21
Peningkatan saturasi oksigen oleh pemberian Deep Diapragmatic
Breathing disebabkan ketika seseorang latihan nafas dalam untuk
peningkatan saturasi oksigen, maka aktivitas tubuh sistem saraf
parasimpatis dan sensitivitas baroreseptor meningkat. Hal ini
menyebabkan kontrol respirasi akan meningkatan volume tidal,
menurunkan kapasitas residu fungsional dan meningkatkan
pengambilan oksigen yang optimal, sehingga mampu saturasi oksigen
meningkat pada pasien penyakit gagal jantung. Saturasi oksigen yang
cukup akan memfasilitasi perfusi jaringan yang optimal untuk
memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan (Sepdianto, 2013).

6. Tehnik Deep Diaphragmatic Breathing


Tabel 1. Sop Deep Diaphragmatic Breathing
Pengertian Sebagai terapi nonfarmakologi untuk latiha
pernafasan yang dapat merileksasikan,
mengurangi sesak nafas. Latihan ini mudah
untuk dilakukan sendiri.
Tujuan Mencapai ventilasi yang baik, terkontrol
dan efisien, dapat mengurangi sesak nafas,
relaksasi otot meningkat, kecemasan
menghilang, membantu mengurangi sekresi,
saturasi oksigen meningkat dan
meningkatkan kemampuan akivitas.
Manfaat Membantu meningkatkan dan melatih
kembali otot pernafasan sehingga berfungsi
dengan baik serta mencegah distress
pernafasan dan membantu ventilasi lebih
adekuat sehingga menunjang oksigenasi
jaringan
Prosedur Pelaksanaan 1. Tahap pra interaksi
a. Mengecek program terapi
b. Mencuci tangan
2. Tahap orientasi
a. Memberikan salam sebagai
pendekatan terapeutik
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur
yang akan dilakukan
c. Menanyakan persetujuan dan
kesiapan klien sebelum melakukan
tindakan
d. Memberi kesempatan klien untuk
bertanya

22
3. Tahap kerja
a. Menjaga privasi klien
b. Mengatur posisi klien dengan
semifowler ditempat tidur atau kursi
c. Meletakkan satu tangan klien diatas
abdomen (tepat dibawah iga) dan
tangan lainnya pada tengah dada
untuk merasakan gerakan dada dan
abdomen saat bernafas.
d. Menghirup nafas dalam melalui
hidung selama 4 detik sampai dada
dan abdomen terasa terangkat serta
jaga mulut tetap tertutup selama
inspirasi dan tahan nafas 2 detik.
e. Menghembuskan nafas melalui
mulut dan sedikit terbuka sambil
merileksasikan otot selama 4 detik.
f. Melakukan jeda 2 detik tiap
pengulangannya.
g. Melakukan latihan selama 15 menit
3 kali sehari. (Smeltzer, et al, 2010).
4. Tahap terminasi
a. Mengevaluasi keadaan atau
perasaan klien setelah intervensi
b. Menganjurkan klien untuk
melakukan teknik yang telah dicoba
untuk mengatur pernafasan klien.
c. Berpamitan dengan klien dan
mencuci tangan
5. Evaluasi
Monitor respon klien sesudah diberikan
tindakan
6. Dokumentasi
Mencatat hasil dari tindakan yang telah
dilakukan

E. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


Proses keperawatan adalah suatu metode dimana suatu konsep
diterapkan dalam prktik keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu
pendekatan problem- solving yang memerlukan ilmu, teknik, dan
keterampilan intrapersonal dan ditujukan utuk memenuhi kebutuhan
klien/keluarga. (Sakinah,2019).
Asuhan keperawatan adalah factor penting dalam survival pasien dan
dalam aspek-aspek, rehabilitasi, dan preventif perawat kesehatan.

23
Langkah-langkah dalam penerapan asuhan keperawatan meliputi:
pengkajian, diagnose keperawatan, rencana tindakan keperawatan,
tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan. (Agustin, 2019).
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap yang sistematis dalam mengumpulkan
data tentang individu, keluarga, dan kelompok. Proses pengkajian
anak dengan infeksi saluran kemih menurut Cempaka (2018) sebagai
berikut:
a. Identitas pasien
Berisikan nama, umur, jenis kelamin, alamat, diagnose medis dan
tanggal masuk serta tanggal pengakajian dan identitas penanggung
jawab.
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
Untuk mengetahui bagaimana keadaannya sekrang,
2) Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui apakah pasien sekarang benar dalam
keadaan sehat, tidak menderita suatu penyakit kronis seperti
asma, jantung, TBC, Hipertensi, Ginjal, DM dan lainnya,
3) Riwayat kesehatan keluarga
Dikaji bila ada riwayat penyakit keturunan dalam keluarga ibu
maupun suami seperti jantung koroner, DM, asma, Hipertensi,
dan lainnya, karena dapat menurunkan kepada anggota
keluarga lainnya. (Khuratul,2022).
c. Pola kebiasaan
1) Nutrisi
Frekuensi makan dan minum berkurang atau tidak dikarenakan
bila adanya mual dan muntah. Apakah terdapat nafsu makan
menurun. Bagaimana keadaan nafsu makan anak sebelum dan
sesudah sakit.

24
2) Cairan
Bagaiamana kebutuhan cairan selama 24 jam, apa saja jenis
minuman yang dikonsumsi, dan berapa frekuensi minum
dalam 24 jam. Bagaimana intake dan ouput cairan.
3) Eliminasi
Buang air besar ada keluhan atau tidak, adakah dysuria pada
buang air kecil, bagaimana frekuensi miksi bertambah atau
berkurang. Adakah nyeri pada bagian suprapubik. Bagaimana
bau urine pasien adakah bau kekhasan, bagaimana warna air
kencingnya, bagaimana karakteristik urine, dan bagaimana
volume urine sebelum dan setelah sakit.
4) Istirahat dan tidur
Adakah gangguan tidur karena perubahan pola buang air kecil,
atau adanya rasa nyeri dan rasa mual muntah.
5) Personal Hygine
Bagaimana personal hygine pasien ditinjau dari pola mandi,
gosok gigi, mencuci rambut, dan memotong kuku.
6) Aktivitas atau mobilitas fisik
Pergerakan terbatas atau tidak dalam melaksanakan
aktivitasnya, apakah memerlukan bantuan perawat dan
keluarga.
7) Olahraga
Bagaimana kegiatan fisik keseharian dan olahraganya.
8) Rekreasi
Bagaimana kegiatan untuk melepas penat yang dilakukan.
(Khuratul,2022).
d. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan yaitu pemeriksaan fisik head
to toe yaitu pemeriksaan yang dilakukan mulai dari ujung kepala
hingga ujung kaki. Pemeriksaan ini meliputi:
1) Kepala

25
Mengetahui turgor kulit dan tekstur kulit dan mengetahui
adanya lesi atau bekas luka.
a) Inspeksi : lihat ada atau tidak adanya lesi, warna
kehitaman atau kecoklatan, edema, dan distribusi rambut
kulit.
b) Palpasi : diraba dan tentukan turgor kulit elastic atau tidak,
tekstur kepala kasar atau halus, akral dingin atau hangat.
2) Rambut
Mengetahui warna, tekstur dan percabangan pada rambut dan
untuk mengetahui mudah rontok dan kotor.
a) Inspeksi : distribusi rambut merata atau tidak, kotor atau
tidak, bercabang atau tidak.
b) Palpasi : mudah rontok atau tidak, tektur kasar atau halus.
3) Wajah
Mengetahui bentuk dan fungsi kepala dan untuk mengetahui
luka dan kelainan pada kepala.
a) Inspeksi : lihat kesimetrisan wajah jika muka kanan dan
kiri berbeda atau missal lebih condong ke kanan atau ke
kiri, itu menunjukkan ada parase/kelumpuhan.
b) Palpasi : cari adanya luka, tonjolan patologik dan respon
nyeri dengan menekan kepala sesuai kebutuhan.
4) Mata
Mengetahui bentuk dan fungsi mata (medan penglihatan visus
dan otot-otot mata), dan juga untuk mengetahui adanya
kelainan atau pandagan pada mata. Bila terjadi hematuria,
kemungkinan konjungtiva anemis.
a) Inspeksi : kelopak mata ada lubang atau tidak, reflek kedip
baik/tidak,konjungtiva dan sclera :merah atau
konjungtivitis,ikterik/indikasi hiperbilirubin atau
gangguan pada hepar, pupil : isokor, miosis atau
medriasis.

26
b) Palpasi : tekan secara rinagn untuk mengetahui adanya
TIO (tekanan intra okuler) jika ada peningkatan akan
teraba keras (pasien glaucoma/kerusakan dikus optikus)
kaji adanya nyeri tekan.
5) Telinga
Mengetahui kedalaman telinga luar, saluran telinga, gendang
telinga.
a) Inspeksi : daun telinga simetris atau tidak, warna, ukuran
bentuk, kebersihan, lesi.
b) Palpasi : tekan daun telinga apakah ada respon nyeri,
rasakan kelenturan kartilago.
6) Hidung
Mengetahui bentuk dan fungsi hidung dan mengetahui adanya
inflamasi atau sinusitis.
a) Inspeksi : apakah hidung simetris, apakah ada inflamasi,
apakah ada secret.
b) Palpasi : apakah ada nyeri tekan massa.
7) Mulut dan gigi
Mengetahui bentuk dan kelainan pada mulut, dan untuk
mengetahui kebersihan mulut dan gigi.
a) Inspeksi : amati bibir apa ada kelainan congenital (bibir
sumbing)warna,kesimetrisan,kelembaban,pembengkakan,
lesi, amati jumlah dan bentuk gigi, berlubang, warna plak
dan kebersihan gigi.
b) Palpasi : pegang dan tekan darah pipi kemudian rasakan
ada massa atau tumor, pembengkakan dan nyeri.
8) Leher
Menentukan struktur imtegritas leher, untuk mengetahui
bentuk dan organ yang berkaitan dan untuk memeriksa system
limfatik.

27
a) Inspeksi : amati mengenai bentuk, warna kulit, jaringan
parut, amati adanya pembengkakan kelenjar tiroid, amati
kesimetrisan leher dari depan belakan dan samping.
b) Palpasi : letakkan telapak tangan pada leher klien, minta
pasien menelan dan rasakan adanya kelenjar tiroid.
9) Abdomen
Mengetahui bentuk dan gerakan perut , mendengarkan bunyi
peristaltik usus, dan mengetahui respon nyeri tekan pada organ
dalam abdomen.
a) Inspeksi : amati bentuk perut secara umum, warna kulit,
adanya retraksi, penonjolan, adanya ketidak simetrisan,
adanya asites.
b) Palpasi : adanya massa dan respon nyeri tekan.
c) Auskultasi : bising usus normal 10-12x/menit.
d) Perkusi : apakah perut terdapat kembung/meteorismus.
10) Dada
Mengetahui bentuk kesimetrisan, frekuensi, irama pernafasan,
adanya nyeri tekan, dan untuk mendengarkan bunyi paru.
a) Inspeksi : amati kesimetrisan dada kanan kiri, amati
adanya retraksi interkosta, amati pergerakan paru.
b) Palpasi : adakah nyeri tekan , adakah benjolan
c) Perkusi : untuk menentukan batas normal paru.
d) Auskultasi : untuk mengetahui bunyi nafas, vesikuler,
wheezing/crecles.
11) Ekstremitas atas dan bawah
Mengetahui mobilitas kekuatan otot dan gangguan-
gangguan pada ektremitas atas dan bawah. Lakukan
inspeksi identifikasi mengenai ukuran dan adanya atrofil
dan hipertrofil, amati kekuatan otot dengan memberi
penahanan pada anggota gerak atas dan bawah.
12) Kulit

28
Mengetahui adanya lesi atau gangguan pada kulit klien.
Lakukan inspeksi dan palpasi pada kulit dengan mengkaji
kulit kering/lembab, dan apakah terdapat oedem
(Khuratul,2022).
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa kepeerawatan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017)
Tabel 2.7 Diagnosa Keperawatan
No Diagnosa Penyebab Tanda dan Gejala
1 D.0022 1. Gangguan Mayor
Hipervolemia mekanisme regulasi
2. Kelebihan asupan 1. Ortopnea
cairan 2. Dispnea
3. Kelebihan asupan 3. Paroxysmal nocturnal
natrium dyspnea (PND)
4. Gangguan aliran 4. Edema anasarka
balik vena dan/atau edema perifer
5. Efek agen 5. Berat badan meningat
farmakologi (mis, dalam waktu singkat
kortikosteroid, 6. Judular Venus Pressure
chlopropamide, (JVP) dan/atau Center
tolbutamide, Venus pressure (CVP)
vincristine,tryptiline meningkat
scarbamazepine) 7. Refleks hepatojugular
positif
Minor ‘

1. Distensi vena jugular


2. Terdengar suara nafas
tambahan
3. Hepalomegali
4. Kadar Hb/Ht turun
5. Oliguria
6. Intake lebih banyak dari
output (balance cairan
positif)
7. Kongesti paru
2 D.0008 1. Perubahan irama Mayor
Penurunan curah jantung. Perubahan irama jantung
jantung 2. Perubahan frekuensi
jantung 1. Paltisipasi
3. Perubahan 2. Bradikardi/takikardi
kontraktilitas 3. Gambar EKG aritmia
4. Perubahan preload atau gangguan konduksi
5. Perubahan afterload Perubahan preload

1. Lelah
2. Edema
3. Distensis vena jugularis
4. Central veneous

29
pressure (CVP)
Meningkat/Menurun
5. Hepatomegali
Perubahan afterload

1. Dispena
2. Tekanan darah meni
ngkat/menurun
3. Nadi perifer teraba
lemah
4. Capillary refill time >#
detik
5. Oliguria
6. Warna kulit pucat
dan/atau sianosis
Perubahan kontraktilitas

1. Proxsymal nocturnal
dyspnea (PND)
2. Ortopnea
3. Batuk
4. Terdengar suara jantung
S3 dan S4
5. Ejection fraction (EF)
menurn
Minor

Perubahan preload

1. Murmur jantung
2. Berat badan bertambah
3. Pulmonary artery
wedge pressure
(PAWP) menurn
Perubahan afterioad

1. Pulmonary vascular
resistance (PVR)
meningkat/menurun
2. Systemic vascular
resitance (SVR)
meningkat/menurun
Perubahan kontraktilitas

1. Cardiac indes (CI)


menurn
2. Left ventricular stroke
work index (LVSWI)
menurun
3. Stroke volume index
(SVI) menurun
Perilaku/emosi

1. Cemas

30
2. Gelisah
3 D.0056 1. Ketidakseimbangan Mayor
Intoleransi antara suplai dan 1. Frekuensi jantung
aktivitas kebutuhan oksigen meningkat >20% dari
2. Tirah baring kendisi istirahat
3. Kelemahan 2. Menegeluh lelah
4. Imobilitas Minor
5. Gaya hidup merokok
1. Dispnea saat atau setelah
beraktivitas
2. Merasa tidak nyaman
setelah beraktivitas
3. Merasa lemah
4. Tekanan darah berubah
>20% dari kondisi
istirahat
5. Gambarab EKG
menunjukkan aritmia
saat/setelah aktivitas
6. Gambar EKG
menunjukkan iskemia
7. Sianosis
4 D.0003 1. Ketidakseimbangan Mayor
Gangguan ventilas-perfusi 1. Dispnea
Pertukaran Gas 2. Perubahan membran 2. PCO2 meningkat/
alveolus-kapiler menurun
3. PO2 menurun
4. Takikardia
5. pH arteri meningkat/
menurun
6. Bunyi napas tambahan

Minor
1. Pusing
2. Penglihatan kabur
3. Sianosis
4. Gilasah
5. Napas cuping hidung
6. Pola napas abnormal
(cepat/lambat,
reguler/ireguler,
dalam/dangkal
7. Warna kulit abnormal
(mis. Pucat, kebiruan
8. Kesadaran menurun
5 D.0005 1. Depresi pusat Mayor
Pola Napas Tidak pernapasan 1. Dispnea
Efektif 2. Hambatan upaya 2. Penggunaan otot bantu
napas (mis. Nyeri pernapasan
saat bernapas, 3. Fase ekspirasi
kelemahan otot memanjang
pernapasan 4. Pola napas abnormal

31
3. Deformitas dinding (mis. Takipnea,
dada bradipnea,
4. Deformitas tulang hiperventilasi, kussmaul,
dada cheyne-stokes
5. Gangguan Minor
neuromuskular 1. Ortopnea
6. Gangguan 2. Pernapasan pursed-lip
neurologis (mis. 3. Pernapasan cuping
Eletroensefalogram hidung
(EEG positif, cedera 4. Diameter thoraks
kepala, gangguan anterior-posterior
kejang meningkat
7. Imaturitas 5. Ventilasi semenit
neurologis menurun
8. Penurunan energi 6. Kapasitas vital menurun
9. Obesitas 7. Tekanan ekspirasi
10. Posisi tubuh yang menurun
menghambat 8. Tekanan inspirasi
ekspansi paru menurun
11. Sindrom 9. Ekskursi dada berubah
hipoventilasi
12. Kerusakan inervasi
diafragma
(kerusakan saraf C5
ke atas
13. Cedera pada medula
spinalis
14. Efek agen
farmakologis
15. Kecemasan
6 D.0001 1. Spasme jalan napas Mayor
Bersihan Jalan 2. Hipersekresi jalan 1. Batuk tidak efektif
Napas Tidak napas 2. Tidak mampu batuk
Efektif 3. Disfungsi 3. Sputum berlebihan
neuromuskuler 4. Mengi, wheezing dan /
4. Benda asing dalam ronchi kering
jalan napas 5. Mekonium dijalan napas
5. Adanya jalan napas (pada neonatus
buatan Monior
6. Sekresi yang 1. Dispnea
tertahan 2. Sulit bicara
7. Hiperplasia dinding 3. Ortopnea
jalan napas 4. Geilsah
8. Proses infeksi 5. Sianosis
9. Respon alergi 6. Bunyi napas menurun
10. Efek agen 7. Frekuensi napas berubah
farmakologis (mis. 8. Pola napas berubah
anastesi
11. Merokok aktif
12. Merokok pasif
13. Terpajan polutan

32
3. Intervensi Keprawatan
(Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019) dan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI,
2018)
Tabel 2.8 Intervensi Keperawatan
No SDKI SLKI SIKI

1 Hipervolemia Keseimbangan Cairan Manajemen Hipervolemia


Tujuan : Setelah Observasi
dilakukan tindakan  Periksa tanda gejala hipervolemia
keperawatan 3x  Identifikasi penyebab hipervolemia
kunjungan di harapkan  Monitor status hemodinamik
keseimbangan cairan  Monitor intake dan output cairan
meningkat.  Monitor tanda hemokon sentrasi
Ktriteria Hasil : Teraupetik
1. Asupan cairan  Timbang berat badan setiap hari
meningkat pada waktu yang sama
2. Haluaran urine  Batasi asupan cairan dan garam
meningkat  Tinggikan kepala 30-40o
3. Edama menurun Edukasi
4. Asites menurun  Anjurkan melapor jika haluaran
urine ,
Teraupetik
 Kolaborasi pemberian
analgetik,jika perlu.
2 Penurunan Curah Jantung Perawatan Jantung
Curah Jantung Tujuan : Setelah Observasi:
dilakukan tindakan  Identifikasi tanda/gejala primer
keperawatan 3 x penurunan curah jantung
kunjungan diharapkan  Identifikasi tanda/gejala sekunder
Ketidakadekuatan penurunan curah jantung
jantung memompa darah  Monitor tekanan darah
meningkat.  Monitor intake dan output cairan
Kriteria Hasil :  Monitor saturasi oksigen
1. Tekanan darah  Monitor keluhan nyeri dada
menurun  Monitor EKG 12 Sandapan
2. CRT menurun Terapeutik:
3. Palpitasi menurun  Posisikan pasien semi fowler atau
4. Distensi vena fowler dengan kaki ke bawah atau
jagularis menurun posisi nyaman
5. Gambaran EKG  Berikan diet jantung yang sesuai
aritmia menurun  Fasilitasi pasien dan keluarga
6. Lelah menurun untuk memotivasi gaya hidup sehat
 Berikan terapi relaksasi untuk
mengurangi stres, jika perlu

33
 Berian dukungan emosional dan
spiritual
 Berikan oksigen untuk
mempertahankan saturasi oksigen
>94%
Edukasi
 Anjurkan beraktivitas fisik sesuai
toleransi
 Anjurkan beraktivitas fisik secara
bertahap
 Anjurkan berhenti merokok
 Anjurkan pasien dan keluarga
mengukur berat badan
 Anjurkan pasien dan keluarga
mengukur intake dan output cairan
harian
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian antiaritmia,
jika perlu
 Rujuk ke program rehabilitasi
jantung
3 Intoleransi Toleransi Aktivitas Manajemen Energi
aktvitas Tujuan : Setelah Observasi:
dilakukan tindakan  Identifikasi gangguan fungsi tubuh
keperawatan 3 x yang mengakibatkan kelelahan
kunjungan diharapakan  Monitor pola dan jam tidur
toleransi aktivitas  Monitor kelelahan fisik dan
meningkat emosional
Kriteria Hasil : Edukasi
1. Kemudahan dalam  Anjurkan tirah baring
melakukan aktivitas  Anjurkan melakukan aktivitas
sehari-hari secara bertahap
meningkat Terapeutik:
2. Kekuatan tubuh  Sediakan lingkungan nyaman dan
bagian atas dari rendah stimulus
bawah meningkat  Lakukan latihan rentang gerak
3. Keluhan lelah pasif dan/atau aktif
menurun  Berikan aktivitas distraksi yang
4. Dispnea saat menenangkan
aktivitas menurun  Fasilitasi duduk di sisi tempat
tidur, jika tidak dapat berpindah atau
berjalan
Kolaborasi
 Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
cara meningkatkan asupan
makanan
4 Gangguan Pertukaran Gas Pemantauan Respirasi
Pertukaran Tujuan : Setelah Observasi:
Gas dilakukan tindakan  Monitor pola nafas, monitor
keperawatan 3 x saturasi oksigen
kunjungan diharapakan  Monitor frekuensi, irama,
karbondioksida pada kedalaman dan upaya napas

34
membran alveolus-  Monitor adanya sumbatan jalan
kapiler dalam batas nafas
normal. Terapeutik
Kriteria Hasil :  Atur Interval pemantauan
1. Tingkat kesadaran respirasi sesuai kondisi pasien
meningkat Edukasi
2. Dispneu menurun  Jelaskan tujuan dan prosedur
3. Bunyi napas pemantauan
tambahan menurun  Informasikan hasil pemantauan,
4. Gelisah menurun jika perlu
5. Diaforosis menurun Terapi Oksigen
6. PCO2 membaik Observasi:
7. PO2 membaik  Monitor kecepatan aliran oksigen
8. Sianosis membaik  Monitor posisi alat terapi oksigen
 Monitor tanda-tanda hipoventilasi
 Monitor integritas mukosa hidung
akibat pemasangan oksigen
Terapeutik:
 Bersihkan sekret pada mulut,
hidung dan trakea, jika perlu
 Pertahankan kepatenan jalan
napas
 Berikan oksigen jika perlu
Edukasi
 Ajarkan keluarga cara
menggunakan O2 di rumah
Kolaborasi
 Kolaborasi penentuan dosis
oksigen
5 Pola Napas Pola Napas Pemantauan Respirasi
Tidak Efektif Tujuan : Setelah Observasi:
dilakukan tindakan  Monitor pola nafas, monitor
keperawatan 3 x saturasi oksigen
kunjungan diharapkan  Monitor frekuensi, irama,
inspiras dan ekspirasi kedalaman dan upaya napas
yang tidak memberikan  Monitor adanya sumbatan jalan
ventilasi adekuat nafas
membaik. Terapeutik
Kriteria Hasil :  Atur Interval pemantauan
1. Dispnea menurun respirasi sesuai kondisi pasien
2. Penggunaan otot Edukasi
bantu napas  Jelaskan tujuan dan prosedur
menurun pemantauan
3. Frekuensi napas  Informasikan hasil pemantauan,
membaik jika perlu
4. Kedalaman napas Terapi Oksigen
membaik Observasi:
 Monitor kecepatan aliran oksigen
 Monitor posisi alat terapi oksigen
 Monitor tanda-tanda hipoventilasi
 Monitor integritas mukosa hidung
akibat pemasangan oksigen

35
Terapeutik:
 Bersihkan sekret pada mulut,
hidung dan trakea, jika perlu
 Pertahankan kepatenan jalan
napas
 Berikan oksigen jika perlu
Edukasi
 Ajarkan keluarga cara
menggunakan O2 di rumah
Kolaborasi
 Kolaborasi penentuan dosis
oksigen
6 Bersihan Jalan Pertukaran Gas Manajemen Jalan Napas
Napas Tidak Tujuan : Setelah Observasi:
Efektif dilakukan tindakan  Monitor pola napas
keperawatan 3 x  Monitor bunyi napas tambahan
kunjungan diharapkan  Monitor sputum
oksigenasi dan/atau (jumlah,warna,aroma)
eliminasi Terapeutik
karbondioksida pada  Pertahankan kepatenan jalan napas
membran alveolus-  Posisikan semi fowler atau fowler
kapiler normal.  Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
Kriteria Hasil :  Lakukan penghisapan lendir kurang
1. Batuk efektif dari 15 detik
meningkat  Berikan oksigen, jika perlu
2. Produksi sputum Edukasi
menurun  Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari,
3. Mengi menurun jika tidak kontraindikasi
4. Sainosis menurun Kolaborasi
5. Gelisah menurun  Kolaborasi pemberian bronkodilator,
6. Pola napas membaik ekspektoran, mukolitik, jika perlu

4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai
tujuan yang spesifik, tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana
tindakan disusun dan diharapkan pada Nursing aders untuk membantu
klien mencapai tujuan yang diharapkan yang mencangkup
peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan
dan mempalisitai koping. Ada tiga tahap dalam tindakan keperawatan
yaitu : Persiapan, intervensi, dan dokumentasi. (Khuratul,2022).

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan,

36
rencana tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Adapun
komponen tahap evaluasi adalah pertama pencapaian kreteria hasil,
kedua keefektifan tahap-tahap keperawatn, ketiga revisi atau
terminasi keperawatan. (Khuratul,2022).
Evaluasi perencanaan kreteria hasil tulis pada catatan
perkembangan dalam bentuk SOAPIER :
S (Subyektif) : Keluhan-keluhan klien
O (Obyektif) : Apa yang dilihat, dicium, diraba dan dapat diukur
oleh perawat.
A (Analisa) : Kesimpulan tentang keadaan klien
P (Plan of care): Rencana tindakan keperawatan untuk
mengatasi diagnosa/masalah keperawatan klien.
I (Intervensi) : Tindakan yang dilakukan untuk kebutuhan klien
E (Evaluasi) : Respon klien terhadap tindakan perawat
R (Ressesment) : Mengubah rencana tindakan keperawatan yang
diperlukan. (Khuratul,2022).
Tujuan evaluasi ini adalah untuk melihat kemampuan klien dalam
mencapai tujuan. sehingga perawat dapat mengambil keputusan:
1) Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah
mencapai tujuan yang ditetapkan).
2) Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami
kesulitan untuk mencapai tujuan)
3) Meneruskan rencana tindakan keperawatan (kilen memerlukan
waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan.

37
BAB III
TINJAUAN KASUS

Nama Mahasiswa : Muhammad Ridho Fikrap


Tanggal pengkajian : 6 Maret 2024
NIM : 040STYJ2
Ruangan : Barito
A. Pengkajian
1. Data Umum Pasien
Identitas Pasien Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. “M” Nama : Ny. “S”
Umur : 44 Tahun Umur : 40 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh Bangunan Pekerjaan : IRT
Suku : Jawa Suku : Jawa
Alamat : Jl. Srigading Alamat : Jl. Srigading

2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama : Pasien mengeluh sasak
b. Riwayat Penyakit Sekarang : Klien datang ke RSUD DR. Saiful Anwar
Malang pada tanggal 5 maret 2024 sekitar pukul 10.30 WIB diantar
oleh keluarganya dengan keluhan sesak sejak 3 minggu terakhir ini dan
memberat sejak 1 minggu terakhir. Pasien juga mengeluh bengkak
diseluruh tubuhnya. Dari hasil pengkajian TTV didapatkan TD : 130/85
mmHg, N: 100 x/m, S: 36,60C, RR: 24 x/m, Spo2 : 98%.
3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
a. Riwayat Alergi :

38
Pasien mengatakan tidak pernah memiliki riwayat alergi makanan
maupun obat-obatan.
b. Riwayat Kecelakaan :
Pasien mengatakan tidak pernah memiliki riwayat kecelakaan
c. Riwayat Dirawat Di Rumah Sakit :
Pasien mengatakan sebelumnya pernah dirawat di Rumah Sakit pada
tahun 2023 karena penyakit DM dan melakukan tindakan amputasi kaki
sebelah kiri.
d. Penyakit yang Pernah Diderita
Pasien mengatakan penyakit yang diderita dari dulu hanya DM, sejak 1
tahun yang lalu.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
a. Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien mengatakan memiliki riwayat penyakit keluarga Diabetes
Melitius (ayah dan nenek dan Hipertensi (ibu dan saudara pertama.
b. Genogram

klien anak ke 3 dari 5 bersaudara, klien menikah dan tinggal


serumah dengan anaknya
Keterangan :
: Laki-laki / Perempuan

: Meninggal

: Garis pernikahan

: Garis keturunan

: Pasien

39
: Tinggal serumah

5. Pola Kebiasaan
a. Pola Nutrisi
Frekuensi Makan : 3 x sehari
Nafsu makan : Nafsu makan baik
Porsi makan yang dihabiskan : porsi nasi, ikan dan sayur
Makanan yang disukai : Sayur dan Buah
Makanan yang memicu alergi : Tidak ada
Makanan pantangan : Tidak ada
Makanan diet : DJ II & DM
Penggunaan obat sebelum makan : Tidak ada
Penggunaan alat (NGT) : Tidak ada
b. Pola Eliminasi
1) BAK : Terpasang DC (800 cc/ 9 jam
Frekuensi : - x sehari
Warna : Kuning
Keluhan : Tidak ada
2) BAB
Frekuensi : 1 x sehari
Waktu : pagi hari
Warna : kuning
Konsistensi : Lembek
Penggunaan laxatif : tidak ada
c. Pola Personal Hygiene
1) Mandi : 1 bulan terakhir tidak mandi hanya dilap-lap saja
Frekuensi : 2 x sehari
Waktu : pagi dan sore
2) Oral hygiene
Frekuensi : 1 x sehari
Waktu : pagi
3) Cuci rambut
Klien mengatakan sudah 1 bulan terakhir tidak pernah keramas

40
4) Menggunakan pakaian
Klien mengatakan mengganti pakaian 2x sehari setelah selesai dilap
– lap.

5) Pola Istirahat dan Tidur


Lama tidur siang : ± 1 jam/hari
Lama tidur malam : ± 3 - 4 jam dan sering terbangun
Kebiasaan sebelum tidur : Tidak ada
6) Pola Aktivitas dan Latihan
Waktu bekerja : Semenjak kaki di amputasi sudah tidak
pernah bekerja lagi
Olahraga : tidak pernah
7) Kebiasaan Yang Mempengaruhi Kesehatan :
Pasien mengatakan merokok sejak masih muda tetapi sudah berhenti
sejak 1 tahun yang lalu.
6. Pemeriksaan Fisik
Keadaann Umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis
GCS : Eye: 4, Verbal: 5, Motorik: 6 Total: 15
Tanda Vital : TD: 130/85 mmHg, N: 100x/menit,
S: 36,6ºC, RR: 24x/menit
Berat Badan : - kg,
Tinggi Badan : - cm
Pembesaran getah bening : Tidak ada
a. Sistem Penglihatan
1) Posisi mata : simetris
2) Kelopak mata : normal
3) Konjungtiva : anemis
4) Pupil : isokor
5) Sklera : ikterik
6) Fungsi penglihatan : baik
7) Tanda-tanda radang : tidak ada

41
8) Pemakaian kaca mata : tidak ada
b. Sistem Pendengaran
1) Daun telinga : normal
2) Cairan dan telinga : tidak ada
3) Kondisi telinga tengah : normal
4) Serumen : tidak ada
5) Rasa penuh ditelinga : tidak ada
6) Tinnitus : tidak ada
7) Fungsi pendengaran : normal
8) Penggunaan alat bantu : tidak ada
9) Gangguan keseimbangan : tidak
10) Pemakaian alat bantu : tidak
c. Sistem Wicara
Pasien berbicara dengan normal, pasien berbicara atau
berkomunikasi menggunaka bahasa jawa dan Indonesia.
d. Sistem Pernafasan
1) Jalan napas : bersih
2) Pernafasan : Sesak
3) Penggunaan otot bantu napas: Ya
4) Frekuensi napas : 24x/menit
5) Irama : teratur
6) Jenis pernafasan : Pernapasan dada
7) Batuk : Ya
8) Sputum : tidak ada
9) Inspeksi dada : Dada tampak simetris, tidak ada lesi pada
dada, dan adanya rektasi dinding dada.
10) Palpasi dada : Tidak teraba benjolan (-) jejas, (-) edema
11) Perkusi dada : Sonor
12) Auskultasi dada : Bunyi napas tambahan ronchi
13) Suara napas : Ronchi
14) Nyeri saat bernapas : Tidak
15) Penggunaan alat bantu napas : Ya

42
e. Sistem Kardiovaskuler
1) Sirkulasi perifer
Nadi : 100x/menit
Irama : teratur
Denyut : kuat
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Irama : teratur
Distensi vena jugularis : tidak
Temperature kulit : hangat
Warna kulit : pucat
Edema : Ya, ekstermitas atas dan ekstermitas
Bawah
2) Sirkulasi jantung : Ukuran membesar dengan CTR
69%
f. Sistem Hematologi
1) Gangguan hematologi
Pucat : tidak
Perdarahan : tidak
g. Sistem Persyarafan
1) Keluhan sakit kepala : Tidak
2) Tingkat kesadaran : compos mentis
3) GCS : E: 4, V: 5, M: 6 Total= 15
4) Tanda peningkatan TIK : tidak ada
5) Gangguan sistem persyarafan : tidak
h. Sistem Pencernaan
1) Keadaan mulut
Gigi : baik
Gigi palsu : tidak
Stomatitis : tidak
Lidah kotor : tidak
2) Muntah : tidak
3) Nyeri perut : tidak

43
Skala nyeri :-
Lokasi nyeri :-
Karakteristik nyeri: -
4) Diare : tidak
5) Warna feses : Kuning
6) Konsistensi : setengah padat
7) Konstipasi : tidak
i. Sistem Endokrin
1) Pembesaran kelenjar tiroid : Tidak
2) Nafas bau keton tidak : Tidak
3) Luka gangrene : Tidak
j. Sistem Urogenital
1) Perubahan pola kemih : Tidak
2) BAK : Terpasang DC (800cc/8
jam)
3) Warna : Kuning
4) Distensi kadung kemih : Tidak
5) Keluhan pinggang : Tidak
k. Sistem Integumen
1) Turgor : Baik
2) Warna kulit : Kuning kecoklatan dan
terdapat tato dikedua tangan
3) Keadaan kulit : Baik
4) Kelainan kulit : Tidak ada
5) Keadaan rambut
Tekstur : Baik
Kebersihan : Bersih
l. Sistem Muskuloskeletal
1) Kesulitan bergerak : Ya
2) Sakit pada sendi : Ya
3) Fraktur : Tidak
4) Kelainan bentuk tulang : Tidak ada

44
5) Kekuatan otot :
tanagan kanan 4, tangan kiri 4, kaki kiri 4, kaki kanan 4.
Keterangan : Post Op Os. Tibia dan Os. Fibula 1/3 middle-
distal sinistra.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Analisis Data
No Symptom Etiologi Problem
1 Ds : Preload meningkat Pola Napas
 Pasien mengatakan Tidak Efektif
napas sesak saat Disfungsi sistolik dan
berbaring telentang atau diastolik
 Pasien mengatakan
sering sesak malam Kegagalan jantung
hari memompa darah
 Pasien mengatakan
sesak saat dan setelah Gagal jantung kiri
aktivitas
 Pasien mengatakan saat Edema Paru
batuk napas terasa
sesak Penurunan cairan
Do : diparu-paru
 Terpasang nasal canul
4 lpm Penurunan ekspansi
 Tampak pola napas paru
dangkal dan cepat
 Bunyi napas tambahan Pola napas tidak
ronchi efektif
 Pasien tidak nyaman
dengan posisi telentang
 Penggunaan otot bantu
pernapasan
 TTV :
TD : 130/85 mmHg, N:
100 x/m, S: 36, 60C,
RR: 24 x/m. Spo2 NC
98%.

2. Diagnosa Keperawatan
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas
ditandai dengan pasien mengeluh sesak saat atau setelah aktivitas, saat
berbaring telentang, saat batuk, terpasang nasal canul 4 lpm, pola
napas cepat dan dangkal, bunyi napas ronchi, penggunaan otot bantu

45
pernapasan, TTV : TD : 130/85 mmHg, N: 100 x/m, S: 36, 60C, RR:
24 x/m. Spo2 NC 98%.

C. INTEREVNSI
No SDKI SLKI SIKI

1 Pola Pola Napas Pemantauan Respirasi


Napas Tujuan : Setelah dilakukan Observasi:
Tidak tindakan keperawatan 3 x  Monitor pola nafas, monitor
Efektif kunjungan diharapkan saturasi oksigen
inspiras dan ekspirasi yang  Monitor frekuensi, irama,
tidak memberikan ventilasi kedalaman dan upaya napas
adekuat membaik.  Monitor adanya sumbatan jalan
Kriteria Hasil : nafas
1. Dispnea menurun Terapeutik
2. Penggunaan otot bantu  Atur Interval pemantauan
napas menurun respirasi sesuai kondisi pasien
3. Frekuensi napas Edukasi
membaik  Jelaskan tujuan dan prosedur
4. Kedalaman napas pemantauan
membaik  Informasikan hasil pemantauan,
jika perlu
Kolaborasi
 Kolaborasi penentuan dosis
oksigen

D. IMPLEMENTSI
1. Implementasi hari 1
No Hari/ Implementasi Respon hasil Paraf
Tanggal/
Jam
1 Kamis, 7 1. Memonitoring pola 1. Pola napas tidak Ridho
Maret 2024, napas, saturasi oksigen adekuat, saturasi
15:00 Wita oksiegen 98%
2. Memonitoring frekuensi 2. Frekuensi 24x/Menit
napas
3. Memonitoring adanya 3. Tidak ada sumbatan
sumbatan jalan napas jalan napas
4. Menjelaskan tujuan dan 4. Pasien dan kelaurga
prosedur pemantauan pasien tampak paham
5. Menginformasikan hasil 5. Pasien dan keluarga
pemantauan, jika perlu pasien tampak
mendengarkan.
6. Memberikan tehnik non- 6. Pasien mengatakan

46
farmakologi untuk sesak napas sedikit
memaksimalkan berkurang
ventilasi yang adekuat.
(Terapi deep
diaphragmatic breathing
dilakukan 15 menit)
7. Menganjurkan tehnik 7. Pasien mengatakan akan
non-farmakologi 3 x melalukan tehnik terapi
sehari untuk mengurangi deep diaphragmatic
sesak. breathing 3 x sehari.
8. Berkolaborasi penentuan 8. Pasien tampak nyaman
dosis oksigen (4 Lpm)

2. Implementasi hari ke 2
No Hari/ Implementasi Respon hasil Paraf
Tanggal/
Jam
1 Jumat, 8 1. Memonitoring pola 1. Pola napas tidak adekuat, Ridho
Maret 2024, napas, saturasi oksigen saturasi oksiegen 99%
10:00 Wita 2. Memonitoring frekuensi 2. Frekuensi 22x/Menit
napas
3. Menginformasikan hasil 3. Pasien dan keluarga
pemantauan, jika perlu pasien tampak
mendengarkan.
4. Memberikan tehnik non- 4. Pasien mengatakan sesak
farmakologi untuk napas sedikit berkurang
memaksimalkan
ventilasi yang adekuat.
(Terapi deep
diaphragmatic breathing
dilakukan 15 menit)
5. Menganjurkan tehnik 5. Pasien mengatakan akan
non-farmakologi 3 x melalukan tehnik terapi
sehari untuk mengurangi deep diaphragmatic
sesak. breathing 3 x sehari.
6. Berkolaborasi penentuan 6. Pasien tampak nyaman
dosis oksigen (4 Lpm)

3. Implementasi hari 3
No Hari/ Implementasi Respon hasil Paraf
Tanggal/
Jam

47
1 Sabtu, 9 1. Memonitoring pola 1. Pola napas tidak adekuat, Ridho
Maret 2024, napas, saturasi oksigen saturasi oksiegen 100%
10:00 Wita 2. Memonitoring frekuensi 2. Frekuensi 22x/Menit
napas
3. Menginformasikan hasil 3. Pasien dan keluarga
pemantauan, jika perlu pasien tampak
mendengarkan.
4. Memberikan tehnik non- 4. Pasien mengatakan sesak
farmakologi untuk napas sedikit berkurang
memaksimalkan
ventilasi yang adekuat.
(Terapi deep
diaphragmatic breathing
dilakukan 15 menit)
5. Menganjurkan tehnik 5. Pasien mengatakan akan
non-farmakologi 3 x melalukan tehnik terapi
sehari untuk mengurangi deep diaphragmatic
sesak. breathing 3 x sehari.
6. Berkolaborasi penentuan 6. Pasien tampak nyaman
dosis oksigen (4 Lpm)

E. EVALUASI
No Hari/Tanggal/ jam Evaluasi Paraf
Sabtu, 9 Maret 2024 S : Pasien mengatakan napas Ridho
sesak berkurang
jam 13:30 Wita
O:
- Kedaan umum sedang
- Pola napas kadang-
kadang masih dangkal dan
cepat
- TTV: TD : 110/75 mmHg,
N : 92x/m, S : 36,30C,
RR: 22x/m, Spo2 NC 99%
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
1. M
enganjurkan pasien
melalukan terapi deep
diaphragmatic breathing 3 x
sehari selama 14 hari dan
ketika sesak.

48
BAB IV

PELAKSANAAN INTERVENSI

A. Intervensi Berdasaekan EBN


Deep Diaphragmatic Breathing adalah latihan aktivitas yang
merileksasikan, aktivitas saraf parasimpatis dan sensitivitas baroreseptor
dapat meningkat. Deep Diaphragmatic breathing juga dapat menurunkan
respirasi, menurunkan persepsi terhadap dyspnea, saturasi oksigen
meningkat dan kemampuan aktifitas meningkat pada pasien penyakit gagal
jantung.
Terapi nonfarmakologi dapat diberikan Latihan Deep Diaphragmatic
Breathing untuk penyakit gagal jantung, baik terapkan dalam bentuk terapi
mandiri. Menurut Sepdianto 2013 dalam jurnalnya mengatakan bahwa
Latihan ini mudah untuk dilakukan dirumah tanpa adanya efek samping
serta menurunkan biaya pengobatan bagi pasien gagal jantung.
Latihan pernafasan diafragma bertujuan agar klien pada gangguan
ventilasi dapat mencapai ventilasi yang baik, terkontrol, efisien, dapat
mengurangi kerja pernafasan, relaksasi otot meningkat, kecemasan
menghilang, membantu mengurangi sekresi, melambatkan frekuensi
pernafasan dan mengurangi kerja pernafasan, saturasi oksigen meningkat
dan meningkatkan kemampuan akivitas pada pasien penyakit gagal
jantung/ ADHF.

B. Rincian Intervensi
1. Tahap pra interaksi

49
- Mengecek program terapi
- Mencuci tangan
2. Tahap orientasi
- Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
- Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
- Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum melakukan
tindakan
- Memberi kesempatan klien untuk bertanya
3. Tahap kerja
- Menjaga privasi klien
- Mengatur posisi klien dengan semifowler ditempat tidur atau kursi
- Meletakkan satu tangan klien diatas abdomen (tepat dibawah iga)
dan tangan lainnya pada tengah dada untuk merasakan gerakan
dada dan abdomen saat bernafas.
- Menghirup nafas dalam melalui hidung selama 4 detik sampai dada
dan abdomen terasa terangkat serta jaga mulut tetap tertutup selama
inspirasi dan tahan nafas 2 detik.
- Menghembuskan nafas melalui mulut dan sedikit terbuka sambil
merileksasikan otot selama 4 detik.
- Melakukan jeda 2 detik tiap pengulangannya.
- Melakukan latihan selama 15 menit 3 kali sehari. (Smeltzer, et al,
2010).
4. Tahap terminasi
- Mengevaluasi keadaan atau perasaan klien setelah intervensi
- Menganjurkan klien untuk melakukan teknik yang telah dicoba
untuk mengatur pernafasan klien.
- Berpamitan dengan klien dan mencuci tangan
5. Evaluasi
- Monitor respon klien sesudah diberikan tindakan
6. Dokumentasi
- Mencatat hasil dari tindakan yang telah dilakukan

50
C. Jumlah Pasien Yang Dikelola
Jumlah pasien yang di kelola dalam kia ini berjumlah 1 orang yang
mengalami acute decompensated heart failure (ADHF), bertempat di
Ruang Barito RSUD DR. Saiful Anwar Malang.

D. Proses Pelaksanaan Intervensi


Proses tindakan dilakukan selama 3 hari dengan 1 kali tindakan, hari
pertama tindakan dilakukan pada hari jumat jam 15.00 wib, saat bertemu
pasien, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan observasi
saturasi oksigen pasien, intervensi terapeutik yang dilakukan adalah
memberikan tekhnik non farmakologis untuk memaksimalkan ventilasi
yang adekuat (terapi deep diaphragmatic breathing yang dilakukan selama
15 menit) sesuai dengan SOP yang ada, untuk edukasi dilakukan dengan
menjelaskan strategi untuk memaksimalkan ventilasi yang adekuat dan
mengurangi sesak pada pasien, pada hari pertama sebelum dilakukan terapi
deep diaphragmatic breathing saturasi oksigen pasien 97%, setelah
dilakukan tindakan terapi non farmakologi satutasi oksigen pasien menjadi
98%.
Hari kedua tindakan dilakukan pada hari jumat jam 10.00 wib, saat
bertemu pasien, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan
observasi saturasi oksigen pasien, intervensi terapeutik yang dilakukan
adalah memberikan tekhnik non farmakologis untuk memaksimalkan
ventilasi yang adekuat pasien terapi deep diaphragmatic breathing yang
dilakukan selama 15 menit) sesuai dengan SOP yang ada, untuk edukasi
dilakukan dengan menjelaskan strategi untuk memaksimalkan ventilasi
yang adekuat dan mengurangi sesak pada pasien, pada hari kedua sebelum
dilakukan terapi deep diaphragmatic breathing saturasi oksigen pasien
98%, setelah dilakukan tindakan terapi non farmakologi saturasi oksigen
pasien menjadi 99%
Hari ketiga tindakan dilakukan pada hari jumat jam 10.00 wib, saat
bertemu pasien, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan
observasi saturasi oksigen pasien, intervensi terapeutik yang dilakukan

51
adalah memberikan tekhnik non farmakologis untuk memaksimalkan
ventilasi yang adekuat pasien terapi deep diaphragmatic breathing yang
dilakukan selama 15 menit) sesuai dengan SOP yang ada, untuk edukasi
dilakukan dengan menjelaskan strategi untuk memaksimalkan ventilasi
yang adekuat dan mengurangi sesak pada pasien, pada hari ketiga sebelum
dilakukan terapi deep diaphragmatic breathing saturasi oksigen pasien
98%, setelah dilakukan tindakan terapi non farmakologi saturasi oksigen
pasien menjadi 100%
E. Waktu Intervensi
Proses pengkajian dilakukan hari Rabu pagi jam 10.00 wib,
Pelaksanaan intervensi dilakukan 1 hari sekali selama 3 hari kunjungan.
intervensi pertama dilakukan pada hari kamis sore, intervensi ke dua
dilakukan hari jumat pagi dan untuk intervensi ke tiga dilakukan sabtu pagi,
dimana waktu tersebut disesuaikan dengan jadwal piket penulis.

52
BAB V

PEMBAHASAN

A. Analisis dan diskusi hasil


Pemberian intervensi deep diaphragmatic breathing pada Tn. “M”
dengan diagnosa keperawatan Pola Napas Tidak Efektif dilakukan sejak
tanggal 6 Maret 2024 sampai 9 Maret 2024 dari tahap pengkajian sampai
dengan evaluasi, saat pengkajian diruang Barito RSUD DR. Saiful Anwar
Malang pasien pada hari Kamis tanggal 6 Maret 2024 pada jam 10:00 Wib.
Pasien mengatakan sesak saat atau setelah aktivitas, saat berbaring
telentang, saat batuk, terpasang nasal canul 4 lpm, pola napas cepat dan
dangkal, bunyi napas ronchi, penggunaan otot bantu pernapasan, TTV :
TD : 130/85 mmHg, N: 100 x/m, S: 36, 60C, RR: 24 x/m. Spo2 NC 98%.
Sehubungan dengan masalah keperawatan Pola Napas Tidak Efektif
penulis tertarik memberikan suatu terapi non farmakologis kepada pasien
yaitu dengan memberikan terapi deep diaphragmatic breathing, menurut
jurnal. Setelah dilakuakn kunjungan 3 hari untuk memberikan terapi non
farmakologi dan kolaborasi terjadi peningkatan saturasi oksigen dan sesak
berkurang yang dirasakan pasien yang dimana pada hari pertama saturasi
oksigen pasien 97%, setelah dilakukan tindakan saturasi oksigen menjadi
98%, pada hari kedua setelah dilakukan implementasi keperawatan sesak
berkurang dengan saturasi oksigen 99%, dan hari ke tiga kunjungan pasien
mengatakan sesak sudah mulai berkurang dengan saturasi oksigen 100%.
Pada penereapan EBN (deep diaphragmatic breathing) untuk
memaksimalkan ventilasi yang adekuat didapatkan hasil, hari pertama

53
tindakan dilakukan pada hari kamis jam 15.00 wita, saat bertemu pasien,
langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan observasi saturasi
oksigen pasien, intervensi terapeutik yang dilakukan adalah memberikan
tekhnik non farmakologis deep diaphragmatic breathing untuk
memaksimalkan ventilasi yang adekuat (terapi deep diaphragmatic
breathing yang dilakukan selama 15 menit) sesuai dengan SOP yang ada,
untuk edukasi dilakukan dengan menjelaskan strategi untuk
memaksimalkan ventilasi yang adekuat dan mengurangi sesak pada pasien,
pada hari pertama sebelum dilakukan terapi non-farmakologi deep
diaphragmatic breathing oksigen pasien 97%, setelah dilakukan tindakan
terapi non farmakologi deep diaphragmatic breathing saturasi oksigen
pasien menjadi 98%.
Hari kedua tindakan dilakukan pada hari jumat jam 10.00 wib, saat
bertemu pasien, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan
observasi saturasi oksigen pasien, intervensi terapeutik yang dilakukan
adalah memberikan tekhnik non farmakologis deep diaphragmatic
breathing untuk memaksimalkan ventilasi yang adekuat (terapi deep
diaphragmatic breathing yang dilakukan selama 15 menit) sesuai dengan
SOP yang ada, untuk edukasi dilakukan dengan menjelaskan strategi untuk
memaksimalkan ventilasi yang adekuat dan mengurangi sesak pada pasien,
pada hari kedua sebelum dilakukan terapi non-farmakologi deep
diaphragmatic breathing saturasi oksigen pasien 98%, setelah dilakukan
tindakan terapi non farmakologi deep diaphragmatic breathing saturasi
oksigen pasien menjadi 99%.
Hari ketiga tindakan dilakukan pada hari sabtu jam 10.00 wib, saat
bertemu pasien, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan
observasi saturasi oksigen pasien, intervensi terapeutik yang dilakukan
adalah memberikan tekhnik non farmakologis deep diaphragmatic
breathing untuk memaksimalkan ventilasi yang adekuat (terapi deep
diaphragmatic breathing yang dilakukan selama 15 menit) sesuai dengan
SOP yang ada, untuk edukasi dilakukan dengan menjelaskan strategi untuk
memaksimalkan ventilasi yang adekuat dan mengurangi sesak pada pasien,

54
pada hari pertama sebelum dilakukan terapi non-farmakologi deep
diaphragmatic breathing saturasi oksigen pasien 98%, setelah dilakukan
tindakan terapi non farmakologi deep diaphragmatic breathing saturasi
oksigen pasien menjadi 100%.
Teknik deep diaphragmatic breathing adalah latihan aktivitas yang
merileksasikan, aktivitas saraf parasimpatis dan sensitivitas baroreseptor
dapat meningkat. Deep Diaphragmatic breathing juga dapat menurunkan
respirasi, menurunkan persepsi terhadap dyspnea, saturasi oksigen
meningkat dan kemampuan aktifitas meningkat pada pasien penyakit gagal
jantung (Bernardi dalam yesa, 2019).
Pemberian deep diapragma breathing terhadap peningkatan saturasi
oksigen telah dibuktikan pada penelitian Sepdianto, et al. (2013) tentang
peningkatan saturasi oksigen melalui latihan deep diapragma breathing
pada pasien penyakit gagal jantung didapatkan hasil bahwa ada perbedaan
signifikan saturasi oksigen rata-rata sebelum dan sesudah melakukan
latihan deep diapragma breathing (p=0,000, α<0,05) dengan peningkatan
saturasi oksigen 0,8%.
Pemberian deep diapragma breathing bertujuan untuk melatih
pernafasan diafragma supaya masalah ventilasi bisa mencapai ventilasi
yang baik, terkontrol, efisien, dapat mengurangi kerja pernafasan, relaksasi
otot meningkat, kecemasan menghilang, membantu mengurangi sekresi,
melambatkan frekuensi pernafasan dan mengurangi kerja pernafasan,
saturasi oksigen meningkat dan meningkatkan kemampuan akivitas pasien
dengan penyakit gagal jantung (Smeltzer, et al, 2010).
Menurut Anita dkk, (2019) dalam penelitiannya mengemukakan
bahwa Pernafasan diafragma (deep diaprama breathing) yang dilakukan
berulang kali secara teratur dan rutin dapat membantu seseorang
menggunakan diafragmanya secara benar maka ketika dia bernafas akan
terjadi peningkatan volume tidal, kapasitas residu fungsional mengalami
penurunan, dan peningkatan pengambilan oksigen yang optimal. Melatih
otot-otot pernafasan dimana fungsi otot respirasi meningkat, beratnya
gangguan pernafasan berkurang, toleransi meningkat terhadap aktivitas,

55
dan gejala dyspnea menurun, sehingga terjadi perfusi dan perbaikan kinerja
alveoli meningkat dan difusi oksigen menjadi efektif serta meningkatkan
kadar O2 dalam paru dan saturasi oksigen meningkat (Susanto,M dkk
2015).
Menurut Asumsi Penulis terkait intervensi deep diaprama breathing
terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien ADHF (gagal jantung),
tindakan ini sangat efektif untuk saturasi oksigen meningkat. Apabila
saturasi oksigen dalam darah dibawah 95% maka kurangnya oksigen dalam
darah yang ditandai dengan sesak nafas, detak jantung cepat, sianosis dan
sakit kepala. Tindakan ini bisa melatih pernafasan diafragma pada masalah
ventilasi dapat mencapai ventilasi yang baik, terkontrol, efisien, dapat
mengurangi kerja pernafasan, merelaksasikan otot, saturasi oksigen
meningkat dan meningkatkan kemampuan akivitas pada pasien penyakit
gagal jantung.

B. Keterbatasan Penelitian
Implementasi yang telah dilakukan selama 3 hari dengan 1 kali
tindakan setiap harinya selama 15 menit, sehingga penulis belum bisa
memberikan terapi secara maksiamal yaitu 3x/hari, dikarenakan pemberian
intervensi menyesuaikan dengan jadwal piket penulis dan sampel yang
digunakan hanya satu responden sehingga tidak ada data untuk
perbandingan.

56
BAB VI

KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisisdasis dan pembahahsan pada bab sebelumnya
dapat disimpulkan bahwa :
1. Menganalisi kasus kelolaan ADHF
a. Pengkajaian
Pemberian intervensi Deep Diaphragmatic breathing pada Tn.
“M” dengan diagnosa keperawatan Pola Napas Tidak Efektif
dilakukan sejak tanggal 6 Maret 2024 sampai 9 Maret 2024 dari
tahap pengkajian sampai dengan evaluasi, saat pengkajian diruang
Barito RSUD DR. Saiful Anwar Malang pada hari rabu tanggal 6
Maret 2024 pada jam 10:00 Wita. Pasien mengatakan sesak saat
atau setelah aktivitas, saat berbaring telentang, saat batuk,
terpasang nasal canul 4 lpm, pola napas cepat dan dangkal,
bunyi napas ronchi, penggunaan otot bantu pernapasan, TTV :
TD : 130/85 mmHg, N: 100 x/m, S: 36, 60C, RR: 24 x/m. Spo2
NC 98%.
b. Diagnosa keperawtaan yang muncul dari pengkajian pada Tn “M”
adalah pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan
upaya napas
c. Perencanan interevnsi keperawatan yang diberikan : Pemantauan
Respirasi

57
1) Monitor pola nafas, monitor saturasi oksigen
2) Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas
3) Monitor adanya sumbatan jalan nafas
4) Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
5) Berikan tehnik non-farmakologi untuk memaksimalkan
ventilasi yang adekuat dan mengurangi sesak (deep
diaphragmatic breathing)
6) Atur Interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
7) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
8) Anjurkan tehnik non-farmakologi untuk memaksimalkan
ventilasi yang adekuat dan mengurangi sesak.
9) Kolaborasi pemberian dosis oksigen.
Dengan Kriteria Hasil:
1. Dispnea menurun
2. Penggunaan otot bantu napas menurun
3. Frekuensi napas membaik
4. Kedalaman napas membaik
d. Implementasi dari intervensi yang dilaksanakan selama 3 kali
kunjungan dengan diagnosa pola napas tidak efektif, mengatakan
Pasien mengatakan napas sesak berkurang dengan saturasi oksigen
99% NC, sehingga dikatakan implementasi yang dilakukan sesuai
dengan yang diharapkan
e. Evaluasi keperawatan, setelah dilakukan tindakan diatas di
harapakan kepeda pasien jika merasakan sesak diharapkan dapat
menenrapkan sesuai yang diajarkan.
2. Analisis asuhan kperawatan sesuai dengan EBN
Setelah dilakukan tindakan keperawatan yang sesuai dengan jurnal
yang digunakan didapatkan hasil adanya perubahan saturasi oksigen
pada penderita acute decompensated heart failure (ADHF) setelah
dilakukan tindakan terapi Deep Diaphragmatic Breathing yang
dilakukan selama 15 menit.

58
B. Saran
1. Bagi Intansi pendidikan
Dari hasil penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat meningkatkan
jumlah refrensi untuk implementasi keperawatan berdasarkan evidance
base nursing dan diharpakan instansi pendidikan untuk mendorong
mahasiswa supaya selalu berfikir kritis serta melakukan implemetasi
keperawatan berdasarkan Evidance base nursing yang ada.

2. Bagi profesi keperawatan.


Hasil penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan
gamabaran yang aplikatif dalam melakukan implementasi keperawatan
berdasarkan evidance base nursing serta dapat mengaplikasikan dalam
aktifitas memberikan asuhan keperawatan pada pasien.
3. Bagi mahasiswa keperawatan
Diharapkan mahasiswa dapat melakukan aktifitas riset ilmiah sebagai
pembuktian ilmiah dari temuan kasus yang sudah diuraiakan dengan
metode penelitian eksperiment.
4. Bagi penderita ADHF
Diharapkan penderita dapat menjadikan deep diaphragmatic breathing
menjadi terapi alternatif non farmakologis yang dilakukan secara rutin
untuk memaksiamalkan ventilasi yang adekuat dan mengurangi sesak.

59
DAFTAR PUSTAKA

A. Riani, Y. Susianto, and N. Rahman (2019). “Implementasi Data Mining Untuk


Memprediksi Penyakit Jantung Mengunakan Metode Naive Bayes,” J. Innov.
Inf. Technol. Appl., vol. 1, no. 01, pp. 25–34, 2019, doi:
10.35970/jinita.v1i01.64.
Aaronson, P. I., & Ward, J. P. (2010). At a Glance: Sistem Kardiovaskular. (R.
Estikawati, Ed., & d. J. Surapsari, Trans.) Jakarta: Penerbit Erlangga
Abrori, C., Nurfadhila, K., Sakinah, E. N. (2019). Uji Toksisitas Akut Ekstrak
Etanol Daun Kemangi (Ocimumsanctum) Diukur dari Nilai LD50 dan
Histopatologi Ginjal. Journal of Agromedicine and Medical Sciences. Vol. 5
(1): 13-19.
Agustin, A. E., Nabhani, & Mujiono, N. S. (2019). Penerapan Relaksasi Benson
Terhadap Pengurangan Skala Nyeri Pada Pasien Dengan Kegawatan Acute
Myocardial Infarct The. 3, 1205–1206.
Akatsuki. (2011). Peran Perawat Dalam Penanganan Gagal Jantung. Jakarta:
EGC
Amin H. Nurarif dan Hardi Kusuma (2015). Aplikasi NANDA NIC-NOC, jilid 1.
Jogyakarta: Mediaction
Andarmoyo. Sulistyo. (2012). Kebutuhan Dasar Manusia (Oksigenasi).
Yogyakarta: Graha Ilmu
Anita Yulia, (2019) Pengaruh Nafas Dalam dan Posisi Terhadap Saturasi
Oksigen dan Frekuensi Nafas Pada Pasien Asma Jurusan Keperawatan,
Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Indonesia
Arena, R., & Cahalin, L. P. (2014). Evaluation of cardiorespiratory fitness and
respiratory muscle function in the obese population. Progress in
cardiovascular. diseases, 56(4), 457 464.(online),
[Link]

60
Cempaka, C. (2018). Asuhan Keperawatan Pada An. S Dengan Infeksi Saluran
Kemih Di Ruang Rawat Inap Anak RSUD Dr. achmad Mochtar Bukittingi
Tahun 2018 (Doctoral dissertation, STIKes PERINTIS PADANG).
D. Haryadi dan D. M. U. Atmaja (2021), “Penerapan Algoritma K-Means
Clustering Untuk Pengelompokan Tingkat Risiko Penyakit Jantung,” Journal
of Informatics and Communications Technology (JICT), hlm. 1–16, 2021.
Mayuni, et al. (2015). Pengaruh diaphragmatic breathing exercise terhadap
kapasitas vital paru pada pasien asma di wilayah kerja puskesmas III
denpasar utara.
Muttaqin, Arif (2009). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan System
Kardiovaskuler Dan Hematologi. Jakarta : Salemba Medika
Nurbasuki. (2018). Handout FT Kardiopulmonal. Surakarta : Akademi Fisioterapi
Surakarta
Price, S.A. Wilson, L.M. (2013). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Edisi VI. Jakarta: EGC
Sepdianto, Tri Cahyo dan Maria Diah Ciptaning Tyas. (2013). Peningkatan
Saturasi Oksigen Melalui Latihan Deep Diaphragmatic Breathing pada
Pasien Gagal Jantung. Jurnal Keperawatan dan Kebidanan.
Siska Elviana Yesa (2019). Asuahan Keperawatan Pada Tn. S Dengan ADHF
(Acute Dekompensated heart failure) Melalui Latihan Deep Diafragmatic
Breathing DiRuangan ICU/ICCU RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukit Tinggi
Tahun 2019. Stikes Perintis Padang
Smeltzer, S. C., & Bare B. G. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth (Edisi 8 Volume 1). Jakarta: EGC
Susanto. M, dkk (2015). Pengaruh Terapi Nafas Dalam Terhadap Perubahan
Saturasi Oksigen Pada Pasien Asma di RS Wilayah Kabupaten Pekalongan.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019. Standar luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat.
Udjianti, W.J, (2010). Keperawatan Kardivaskuler. Jakarta: Salemba Medika
WHO. (2013). About Cardiovascular Diseases. World Health Organization.
Geneva. Cited
Wijaya,A,S & Putri. (2013). KMB 1 Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta:
Nuha Medika.

61
Yulian dkk.(2020). LAPORAN PENDAHULUAN AV BLOK. Program Studi
Profesi Ners Institusi Teknologi Kesehtan & Sains Wiyata Husada
Samarinda.

LAMPIRAN

SOP Deep Diafragmatic Breathing

Pengertian Sebagai terapi nonfarmakologi untuk latiha


pernafasan yang dapat merileksasikan, mengurangi
sesak nafas. Latihan ini mudah untuk dilakukan
sendiri.
Tujuan Mencapai ventilasi yang baik, terkontrol dan
efisien, dapat mengurangi sesak nafas, relaksasi
otot meningkat, kecemasan menghilang, membantu
mengurangi sekresi, saturasi oksigen meningkat
dan meningkatkan kemampuan akivitas.
Manfaat Membantu meningkatkan dan melatih kembali otot
pernafasan sehingga berfungsi dengan baik serta
mencegah distress pernafasan dan membantu
ventilasi lebih adekuat sehingga menunjang
oksigenasi jaringan
Prosedur Pelaksanaan 1. Tahap pra interaksi
- Mengecek program terapi
- Mencuci tangan
2. Tahap orientasi
- Memberikan salam sebagai pendekatan
terapeutik
- Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan
dilakukan
- Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien
sebelum melakukan tindakan
- Memberi kesempatan klien untuk bertanya
3. Tahap kerja
- Menjaga privasi klien
- Mengatur posisi klien dengan semifowler

62
ditempat tidur atau kursi
- Meletakkan satu tangan klien diatas
abdomen (tepat dibawah iga) dan tangan
lainnya pada tengah dada untuk merasakan
gerakan dada dan abdomen saat bernafas.
- Menghirup nafas dalam melalui hidung
selama 4 detik sampai dada dan abdomen
terasa terangkat serta jaga mulut tetap
tertutup selama inspirasi dan tahan nafas 2
detik.
- Menghembuskan nafas melalui mulut dan
sedikit terbuka sambil merileksasikan otot
selama 4 detik.
- Melakukan jeda 2 detik tiap
pengulangannya.
- Melakukan latihan selama 15 menit 3 kali
sehari. (Smeltzer, et al, 2010).
4. Tahap terminasi
- Mengevaluasi keadaan atau perasaan klien
setelah intervensi
- Menganjurkan klien untuk melakukan
teknik yang telah dicoba untuk mengatur
pernafasan klien.
- Berpamitan dengan klien dan mencuci
tangan
5. Evaluasi
- Monitor respon klien sesudah diberikan
tindakan
6. Dokumentasi
- Mencatat hasil dari tindakan yang telah
dilakukan

63
Dokumentasi Pemberian Terapi

64
65

Anda mungkin juga menyukai