0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan14 halaman

Prevalensi Epilepsi di Indonesia

Dokumen ini membahas tentang penyakit epilepsi, termasuk definisi, data prevalensi global dan Indonesia, patofisiologi, dampak, faktor risiko, pencegahan, dan surveilans penyakit epilepsi.

Diunggah oleh

Nadya Mufliha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan14 halaman

Prevalensi Epilepsi di Indonesia

Dokumen ini membahas tentang penyakit epilepsi, termasuk definisi, data prevalensi global dan Indonesia, patofisiologi, dampak, faktor risiko, pencegahan, dan surveilans penyakit epilepsi.

Diunggah oleh

Nadya Mufliha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penyakit Epilepsi

Disusun Oleh
Nama : Nadya Mufliha
Nim : 2211102413192
MATA KULIAH EPIDEMIOLOGI PENYAKIT
TIDAK MENULAR
Definisi
Kelainan otak ditandai dengan serangkaian gejala neurologis yang
ditandai dengan bangkitan epileptic
Serangan epileptic adalah episode kejang berulang yang tidak dipicu
oleh sebab langsung (intermediate cause)
Bangkitan Epileptik : Terjadinya tanda/gejala yang bersifat sesaat
akibat aktivitas neoronal yang abnormal dan berlebihan di otak
Data Global
Berdasarkan data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO)
tahun 2015, sekitar 50 juta orang di seluruh dunia mengalami epilepsi, dan
menjadikannya salah satu penyakit neurologis yang paling umum secara
global. Secara keseluruhan insiden epilepsi pada negara maju berkisar antara
40-70 kasus per 100.000 orang per tahun. Di negara berkembang, insiden
berkisar antara 100-190 kasus per 100.000 orang per tahun. Prevalensi dari
epilepsi bervariasi antara 5-10 kasus per 1.000 orang. Beberapa penelitian di
negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menunjukkan bahwa
proporsi yang jauh lebih tinggi, antara 7 dan 14 per 1000 orang.
Data Indonesia
Di Indonesia kasus epilepsi berjumlah paling sedikit 700.000-
1.400.000 kasus dengan pertambahan 70.000 kasus baru setiap tahun
dan diperkirakan sekitar 40%-50% dari prevalensi tersebut terjadi pada
anak-anak. Kasus baru epilepsi anak di Unit Rawat Jalan RSUD Dr.
Soetomo Surabaya, pada tahun 2013tercatat 103 pasien baru, terutama
pada laki-laki usia 1-5 tahun
Data Kaltim dan Samarinda
Jumlah penderita tahun 2018 menunjukkan terdapat 1280 orang dengan
menderita penyakit epilepsi di samarinda. Angka ini diperkirakan
meningkat menjadi 1440 orang pada tahun 2023. Prevalensi epilepsi di
samarinda adalah 1,4 per 1.000 penduduk.
Penyakit epilepsi terdapat pada semua usia paling sering terjadi pada
anak-anak dan orang tua. Dikota Samarinda sekitar 60% penderita epilepsi
berusia di bawah 18 tahun. 20% penderita epilepsi berusia di atas 65 tahun.
Patofisiologi
Terjadi karena tidak seimbangnya neuron eksitasi dan inhibisi.
Eksitasi adalah alat atau proses tapi bukan proses tapi bukan substansi signaling
(perangkat pensignalan), hanya sebagai respon sel postsonaptik (sel penerima
neurotransmitter) terhadap substansi pensignala tersebut.
Inhibisi adalah aktivitas hiperpolarisasi (menjadi lebih polar) secara ionik untuk merubah
potensial transmembran dari keadaan ledakan treshold (ambang pembuka untuk
eksitasi).
Eksitasi (berlebihan) = *ion masuk -Na+, Ca2+, *Neurotransmitter yang berpengaruh
glutamat, aspartat, asetilkolin.
Inhibisi (Kurang) = * Ion masuk - Cl-, Arus K+ Keluar , *Neurotransmitter yang
berpengaruh -GABA
Dampak bagi tubuh
Penyakit epilepsi dapat memiliki dampak negatif bagi tubuh, khususnya
otak. Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat yang dapat
menyebabkan serangan kejang tiba-tiba, yang dapat menyebabkan
kerusakan otak dan gangguan kecerdasan. Penderita epilepsi juga dapat
mengalami permasalahan sosial, seperti merasa kurang percaya diri, sering
dikeluarkan dari pekerjaan, dan tidak mendapatkan pekerjaan yang layak.
Penderita epilepsi juga dapat mengalami gangguan fungsi intelektual, dan
ia memiliki risiko tinggi untuk kecelakaan karena bangkitan epilepsi
Faktor Risiko
Faktor risiko penyakit epilepsi antara lain :
• Usia: Epilepsi paling sering terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua.
• Riwayat keluarga: Memiliki riwayat keluarga dengan epilepsi meningkatkan risiko Anda
terkena penyakit ini.
• Cedera kepala: Cedera kepala serius dapat menyebabkan epilepsi.
• Stroke: Stroke dapat merusak otak dan menyebabkan epilepsi.
• Infeksi otak: Infeksi otak, seperti meningitis, dapat menyebabkan epilepsi.
• Kelainan perkembangan: Beberapa kelainan perkembangan, seperti autisme dan
neurofibromatosis, dapat meningkatkan risiko epilepsi.
• Demensia: Demensia, seperti penyakit Alzheimer, dapat meningkatkan risiko epilepsi.
Pencegahan
Epilepsi adalah gangguan neurologis kronis yang ditandai dengan kejang berulang.
Meskipun tidak ada cara pasti untuk mencegah epilepsi, beberapa langkah dapat
membantu mengurangi risiko terkena penyakit ini:
1. Mencegah Cedera Kepala:
Gunakan helm saat mengendarai sepeda motor atau mobil.
Kenakan sabuk pengaman saat bepergian dengan kendaraan.
Gunakan pelindung kepala saat melakukan aktivitas berisiko tinggi.
Lakukan langkah-langkah untuk mencegah jatuh di rumah, seperti memasang
pegangan di tangga dan memastikan lantai tidak licin.
Pencegahan
2. Menjaga Kesehatan Kehamilan:
Konsultasikan dengan dokter sebelum hamil, terutama jika Anda memiliki riwayat
keluarga epilepsi.
Lakukan pemeriksaan prenatal secara rutin.
Hindari konsumsi alkohol, obat-obatan terlarang, dan rokok selama kehamilan.
3. Mengobati Infeksi:
Dapatkan vaksinasi lengkap sesuai jadwal.
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Lakukan seks yang aman.
Pencegahan
4. Menjaga Gaya Hidup Sehat:
Konsumsi makanan bergizi seimbang.
Berolahraga secara teratur.
Tidur yang cukup.
Kelola stres dengan baik.
5. Konsultasi Genetik:
Jika Anda memiliki riwayat keluarga epilepsi, konsultasikan dengan dokter atau ahli
genetika untuk mengetahui risiko Anda terkena penyakit ini.
Surveilans
Surveilans kematian akibat epilepsi: Surveilans ini mengumpulkan
data tentang kematian akibat epilepsi di suatu wilayah.
Surveilans kualitas hidup orang dengan epilepsi: Surveilans ini
mengumpulkan data tentang kualitas hidup orang dengan
epilepsi.
Surveilans stigma terkait epilepsi: Surveilans ini mengumpulkan
data tentang stigma terkait epilepsi di masyarakat.
Daftar Pustaka
[Link]
[Link]
[Link]
e/view/739
[Link]
w/1841
[Link]
Terimakasih

Anda mungkin juga menyukai