0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan15 halaman

Pengenalan Panel Surya dan Teknologinya

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai komponen-komponen utama sistem pembangkit listrik tenaga surya seperti panel surya, solar charge controller, dan baterai. Juga dibahas mengenai jenis-jenis panel surya seperti monocrystalline, polycrystalline, thin film solar cell.

Diunggah oleh

peterajabuat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan15 halaman

Pengenalan Panel Surya dan Teknologinya

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai komponen-komponen utama sistem pembangkit listrik tenaga surya seperti panel surya, solar charge controller, dan baterai. Juga dibahas mengenai jenis-jenis panel surya seperti monocrystalline, polycrystalline, thin film solar cell.

Diunggah oleh

peterajabuat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Solar Panel (Panel Surya)

Panel surya adalah peralatan utama system pembangkit listrik tenaga surya

yang berfungsi untuk mengkonversikan energi cahaya matahari menjadi energi

listrik secara langsung. Besar daya keluaran yang dihasilkan dari proses konversi

tersebut ditentukan oleh beberapa kondisi lingkungan dimana sebuah panel surya

berada seperti intensitas cahaya matahari, suhu, arah datangnya sinar matahari dan

spektum cahaya matahari. (Muhammad Rizal Fachri, Ira Devi Sara, dan Yuwaldi

Away,2015).

Gambar 2 1 Panel Surya


Sumber : [Link]
Photovoltaic, lebih dikenal Panel surya adalah perangkat yang dapat

mengubah energi matahari menjadi listrik (arus DC dan tegangan DC). Perangkat

Photovoltaic yang khas adalah sel surya, yang terdiri dari dua lapisan

semikonduktor dengan polaritas yang berlawanan. Salah satunya adalah lapisan

positif (tipe-p) dan yang lainnya adalah lapisan negatif (tipe-n). Ketika dua lapisan

semikonduktor ada secara independen, mereka menunjukkan netralitas listrik.


Ketika dua lapisan digabungkan bersama dengan kontak dekat, persimpangan p-n

akan terbentuk.

Pada antarmuka kontak di persimpangan p-n, elektron pada lapisan

semikonduktor tipe-n akan berdifusi ke dalam lapisan semikonduktor tipe-p.

Daerah muatan negatif dihasilkan di sekitar batas semikonduktor tipe-p. Demikian

pula, wilayah muatan positif juga dihasilkan di sekitar batas di sisi semikonduktor

tipe-n. Perilaku difusi muatan ini akan menghasilkan area muatan ruang, dan

membentuk medan listrik internal built-in, dengan arah menunjuk dari semi-

konduktor tipe-n ke semikonduktor tipe-p.

Area muatan ruang juga digambarkan sebagai daerah penipisan, yang pada

akhirnya akan menghambat perilaku difusi muatan lebih lanjut pada antarmuka.

Pada dasarnya panel surya terdiri atas sambungan p-n yang fungsinya sama

dengan diode. Ketika sinar matahari mengenai permukaan pada perangkat panel

surya, maka energi dari sinar matahari akan diserap oleh elektron pada sambungan

p-n untuk berpindah dari bagian diode p ke n dan selanjutnya akan mengalirke

luar melalui kabel yang terpasang ke perangkat panel surya. Bisa dilihat pada

gambar 2.2

Gambar 2 2 efek sambungan fotovoltaik p-n.

(Sumber: [Link]
Ketika dua lapisan semikonduktor ada secara independen, mereka

menunjukkan netralitas listrik. Ketika dua lapisan digabungkan bersama dengan

kontak dekat, persimpangan p-n akan terbentuk. Pada antarmuka kontak di efek p-

n , elektron pada lapisan semikonduktor tipe-n akan berdifusi ke lapisan

semikonduktor tipe-p, Daerah muatan negatif dihasilkan di sekitar batas

semikonduktor tipe-p.

Demikian pula, wilayah muatan positif juga dihasilkan di sekitar batas di

sisi semikonduktor tipe-n. Difusi muatan ini akan menghasilkan area muatan

ruang, dan membangun medan listrik internal bawaan, dengan arah yang

menunjuk dari semikonduktor tipe-n ke semikonduktor tipe-p. Area muatan ruang

juga digambarkan sebagai wilayah penipisan, yang pada akhirnya akan

menghambat perilaku difusi muatan lebih lanjut pada antarmuka.

Selanjutnya, keseimbangan antara medan listrik internal yang terpasang

dan medan listrik yang dihasilkan oleh fotovoltaik yang dibentuk oleh efek

fotovoltaik menghasilkan arus fotovotaik yang stabil. Elektron fotovoltaik yang

dihasilkan kemudian akan mengalir ke sirkuit eksternal untuk memberi daya pada

beban. Setelah bekerja, elektron akhirnya akan kembali ke elektroda yang

berlawanan dan bergabung kembali dengan lubang yang dihasilkan di pita valensi.

Ini adalah proses yang lengkap dari efek fotovoltaik. (L. Zhao, D. Luo, and R.

Zhu, 2018)
2.1.1 Solar Panel Flexible

Solar Panel Flexible adalah panel surya tipis dan lentur yang bisa ditekuk

mengikuti lokasi pemasangannya. Jenis panel surya ini memiliki lebar hanya

beberapa mikron jika dibandingkan dengan panel surya biasa. Panel surya seperti

Monocrystalline in terbuat dari bahan yang mengandung kristal silikon tunggal,

sedangkan Polycrystalline terbuat dari wafer silikon yang mengandung beberapa

kristal silikon tunggal. Sel Polycrystalline lebih mudah dan lebih murah untuk

dibuat, sehingga panel Polycrystalline biasanya sedikit lebih murah tetapi kurang

efisien. Sel-sel aktif dari panel itu sendiri biasanya selebar rambut manusia dan

kaku.

Gambar 2 3 Panel Surya Flexible


(Sumber : [Link]
Sel dari Solar Panel Flexible ini kurang tahan lama dibandingkan Solar

Panel yang biasa pada umum nya. Sel surya jenis ini juga lebih rentan terhadap

kerusakan. Sebelum menjadi standar industri, Solar Panel Flexible harus dibuat

untuk menahan elemen secara lebih efektif. Masalah lainnya adalah efisiensinya

yang lebih rendah dalam mengubah sinar matahari menjadi energi yang dapat

digunakan dibandingkan dengan panel surya tradisional.


Panel surya biasa seperti Polycrystalline dan Monocrystalline memiliki

tingkat efisiensi rata-rata 14-17%. Sementara, panel surya film tipis hanya 11-

13% efisien. Sementara Solar Panel Flexible berbasis graphene memiliki tingkat

efisiensi maksimum hanya sekitar 4%, dengan harapan dapat ditingkatkan hingga

10% di masa depan.

Solar Panel Flexible terbuat dari silikon, sama seperti panel surya biasa

(mono dan poly). Sementara bentuknya yang lebih tipis memungkinkan panel ini

memiliki beberapa tingkat fleksibilitas karena elektroda yang tertanam di

dalamnya rapuh. Perkembangan teknologi baru telah menghasilkan panel organik

dengan elektroda graphene. Bahan graphene membuat Solar Panel Flexible lebih

lentur dan memungkinkan lebih banyak fleksibilitas. Teknologi graphene masih

dalam tahap awal, tetapi para peneliti percaya bahwa bahan ini memiliki potensi

besar untuk masa depan. (pasangpanelsurya,2021)

[Link] Monocrystalline (Mono-Crystalline)

Gambar 2 4 Sel Surya Monocrystalline

(Sumber:[Link]
Sel berbasis matahari batu mulia tunggal atau mono diproduksi

menggunakan silicon permata tunggal melalui interaksi yang disebut Czohralski,

penyempurnaan material diselesaikan dengan siklus kristalisasi. Dalam

pengembangan batu mulia tunggal ini memerlukan perwatan yang sah sebagai

proses “rekristalisasi”, yang membuat sel berbasis sinar matahari ini lebih mahal

dan membutuhkan berbagai macam perwatan seperti obat-obatan. Panel surya

Monocrystalline ini memiliki efisiensi sampai 14-17%. Kekurangan dari panel

surya Monocrystalline adalah efisiensinya akan turun pada saat cuaca berawan.

(Suwarti, Wahyono, Budhi Prasetiyo, 2018)

[Link] Polycrystalline (Poly-Crytalline)

Sel berbasis matahari silikon Polycrystalline atau disebut silicon

Polycrystalline memiliki susunan kristal acak. Tipe Polycrystalline ini

memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingan dengan jenis

Monocrystalline untuk menghasilkan daya energi listrik yang sama, akan tetapi

kelebihan dari Polycrystalline ialah dapat menghasilkan listrik pada saat cuaca

berawan. Panel surya Polycrystalline ini memiliki efisiensi berkisar sampai 11,5-

14%. (Suwarti, Wahyono, Budhi Prasetiyo, 2018)

Gambar 2 5 Sel Surya Polycrystalline

(Sumber: [Link]
[Link] Thin film Solar Cell (TFSC)

Panel surya Thin film merupakan sebuah teknologi panel solar yang dibuat

dengan menggunakan sel surya yang tipis yang kemudian dipasangkan pada

sebuah lapisan dasar. Dengan begitu jika dilihat secara fisik, film solar sel ini

memiliki dua lapisan. Jenis sel surya ini diproduksi dengan cara menambahkan

beberapa material sel surya yang tipis kedalam lapisan dasar. Kelebihan dari film

tipis ini adalah PV film ramping tiga hub, memiliki kemampuan lebih tinggi

ketika daya yang dihasilkan oleh udara teduh 45% lebih tinggi daripada papan lain

dengan daya serupa. (Suwarti, Wahyono, Budhi Prasetiyo, 2018)

Gambar 2 6 Sel Surya Thin Film


(Sumber: [Link]
Sel surya jenis ini sangat tipis sehingga sangat ringan dan fleksibel. Jenis sel surya

ini dikenal juga dengan nama TFPV (Thin film Photovoltaic). Berdasarkan dari

materialnya, sel surya ini juga digolongkan menjadi:

a. Amorphous Thin-Film Silicon (a-Si) Solar Cells

b. Cadmium Telluride (CdTe) Solar Cells

c. Copper Indium Gallium Selenide (CIGS) Solar Cells


2.2 Solar Charge Controller (SCC)

Solar Charge Controller adalah peralatan elektronik yang digunakan untuk

mengatur arus searah (DC) yang diisi ke baterai dan siambil dari baterai ke beban,

solar charge controller mengatur overcharging dab kelebihan voltase dari panel

surya. Solar Charge Controller memliliki teknologi pulse width modulation

(PWM) yang berfungsi untuk mengatur fungsi pengisian baterai dan pembebasan

arus dari baterai ke beban. Tugas utama SCC adalah melindungi dan melakukan

otomatisasi pada pengisian baterai, hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan

sistem dan menjaga agar masa pemakaian dari baterai.

Gambar 2 7 Solar Charge Controller

(Sumber: [Link]
Monitoring temperatur baterai Charge controller biasanya terdiri dari satu input

(dua terminal) yang terhubung dengan output panel sel surya, satu output (dua

terminal) yang terhubung dengan baterai/aki dan satu output (dua terminal) yang

terhubung dengan beban. (Mukhamad Khumaidi Usman,2020)


2.3 Baterai

Gambar 2 8 Baterai

(Sumber: [Link]

Baterai Aki atau sering disebut accumulator, adalah salah satu komponen

utama dalam kendaraan bermotor, dan juga di pakai dalam PLTS. Aki dapat

digunakan untuk menyimpan dan memberikan tenaga listrik. Pada proses

pengisian, tenaga listrik diubah menjadi tenaga kimia, pada pembuangannya

muatan tenaga kimia yang tersimpan diubah menjadi tenaga listrik. Aki memiliki

kapasitas sebuah sel aki diukur dalam jam-Ampere (Ah), yang dimaksud dengan

kapasitas adalah jumlah Ah yang dapat diberikan oleh sebuah sel yang berisi

muatan sampai tegangannya turun menjadi kira-kira 1,83 V (99,1%). Sebuah aki

dengan kapasitas 100 Ah dapat memberikan arus 25 A selama 4 jam.

Setiap baterai memiliki terminal positif (katoda) dan terminal negatif

(anoda) dan elektrolit yang berfungsi sebagai pemandu. Hasil yang disampaikan

oleh baterai adalah arus searah (DC). Biasanya, ada dua jenis baterai, yaitu baterai

khusus yang harus digunakan satu kali (one time use) dan baterai opsional (baterai

bertenaga baterai) yang dapat digunakan dua kali. Baterai yang digunakan dalam

PLTS adalah baterai tambahan (baterai bertenaga baterai) karena cenderung diisi

jika daya habis.


2.3.1 Prinsip Kerja Baterai

Prinsip Kerja baterai yaitu pada saat pengisian/cas/charge energi listrik

diubah menjadi kimia dan saat pengeluaran/discharge energi kimia diubah

menjadi energi listrik. Baterai (dalam hal ini adalah baterai kapal), terdiri dari sel-

sel dimana tiap sel memiliki tegangan sebesar 2 V, artinya Accu pada permesinan

yang memiliki tegangan 12 V terdiri dari 6 sel yang dipasang secara seri (12 V = 6

x 2 V) sedangkan Accu yang memiliki tegangan 6 V memiliki 3 sel yang dipasang

secara seri (6 V = 3 x 2 V).

Antara satu sel dengan sel lainnya dipisahkan oleh dinding penyekat yang

terdapat dalam bak baterai, artinya tiap ruang pada sel tidak berhubungan karena

itu cairan elektrolit pada tiap sel juga tidak berhubungan (dinding pemisah antar

sel tidak boleh ada yang bocor/merembes). Di dalam satu sel terdapat susunan

pelat pelat yaitu beberapa pelat untuk kutub positif (antar pelat dipisahkan oleh

kayu, ebonit atau plastik, tergantung teknologi yang digunakan) dan beberapa

pelat untuk kutub negatif. Bahan aktif dari plat positif terbuat dari oksida timah

coklat (PbO2) sedangkan bahan aktif dari plat negatif ialah timah (Pb) berpori.

(seperti bunga karang).

Pelat-pelat tersebut terendam oleh cairan elektrolit yaitu asam sulfat

(H2SO4). Saat baterai mengeluarkan arus. Pada saat Baterai dalam keadaan

discharge maka hamper semua asam melekat pada pelat-pelat dalam sel sehingga

cairan eletrolit konsentrasinya sangat rendah dan terdiri dari air (H2O), Akibatnya

berat jenis cairan menurun menjadi sekitar 1,1 kg/dm3 dan ini mendekati berat

jenis air yang 1 kg/dm3. Sedangkan baterai yang masih berkapasitas penuh berat

jenisnya sekitar 1,285 kg/[Link] perbedaan berat jenis inilah kapasitas isi
baterai bisa diketahui apakah masih penuh atau sudah berkurang yaitu dengan

menggunakan alat hidrometer.

Hidrometer ini merupakan salah satu alat yang wajib ada di bengkel Accu

(bengkel yang menyediakan jasa setrum / cas Accu). Selain itu pada saat baterai

dalam keadaan discharge maka 85 persen cairan elektrolit terdiri dari air (H2O)

dimana air ini bisa membeku, bak baterai pecah dan pelat – pelat menjadi rusak.

Baterai yang menerima arus adalah baterai yang sedang disetrum / dicas atau

sedang diisi dengan cara dialirkan listrik DC, dimana kutup positif baterai

dihubungkan dengan arus listrik positif dan kutub negative dihubungkan dengan

arus listrik negatif. Tegangan yang dialiri biasanya sama dengan tegangan total

yang dimiliki baterai, artinya baterai 12 V dialiri tegangan 12 V DC, baterai 6 V

dialiri tegangan 6 V DC, dand uabaterai 12 V yang dihubungkan secara seri dialiri

tegangan 24 V DC (baterai yang dihubungkan seri total tegangannya adalah

jumlah dari masing maing tegangan baterai: Voltase1 + Voltase2 = Voltase total).

Hal ini bisa ditemukan di bengkel Accuatau di kapal dimana ada beberapa baterai

yang dihubungkan secara seri dan semuanya diestrum sekaligus. Berapa kuat arus

(ampere) yang harus dialiri bergantung juga dari kapasitas yang dimiliki baterai

tersebut. (P M Agung, 2020)

(A) (B)
(C)
Gambar 2 9 (a) Ilusi baterai terisi penuh (b) Ilusi baterai saat mengeluarkan arus
(c) Ilusi baterai dalam keadaan tak terisi
(Sumber: P M Agung · 2020)

2.4 Wattmeter

Gambar 2 10 Wattmeter Digital


(Sumber : [Link]
Watt Meter adalah instrumen pengukur daya listrik yang pembacaanya

dalam satuan watt dimana merupakan kombinasi voltmeter dan amperemeter.

Watt Meter pada dasarnya merupakan penggabungan dari dua alat ukur yaitu

Amperemeter dan Volt Meter yang berfungsi untuk mengukur secara langsung

daya yang terpakai pada suatu rangkaian listrik. (Togar Timoteus Gultom, 2022)

2.5 Modul Energi DC PZEM-017

PZEM017 adalah modul monitoring arus, tegangan, daya, frequency, dan

energy yang mempunyai protocol Modbus RTU dengan interface / port

komunikasi RS485. Prinsip kerja sistem ini yaitu modul PZEM017 mengukur

tegangan, arus, dan daya. Kemudian data tersebut dikirimkan ke microcontroller

Arduino Uno melalui RS485 untuk diolah dan data tersebut pada aplikasi Arduino

IDE. (A. F. Haykal,2021)


Gambar 2 11 modul energi dc pzem-017

(Sumber: [Link]

PZEM-017 merupakan modul buatan Peacefair, merek China yang sangat

terkenal dengan kualitas dan harga terjangkau dan mengkhususkan diri pada

produk Metering. Modul ini dapat mengukur Tegangan, Arus, Daya dan Energi.

Semua seri PZEM Energy Meters memiliki antarmuka komunikasi RS485 bawaan

menggunakan protokol Modbus-RTU yang mirip dengan kebanyakan perangkat

industry.( Abdullah Mubarak ‘Aafi, Jamaaluddin Jamaaluddin, Izza Anshory,

2022)

PZEM- 017 adalah modul komunikasi DC yang dapat mengukur daya DC

hingga 300V dan mengukur arus berlebih dengan pemasangan Shunt yang dari

50A sampai 300A. Modul PZEM-017 tidak memiliki display, tetapi modul ini

memiliki komunikasi yang menggunakan protocol Modbus-RTU yaitu RS485.

Nilai output yang diukur oleh PZEM-017 ini dapat ditampilkan pada komputer

dengan menggunakan converter UART to RS485 dengan perangkat lunak yang

disediakan (Solarduino, 2020)


2.6 Resistor Shunt

Shunt Resistor adalah alat presisi yang berfungsi untuk mengukur arus

dalam rangkaian listrik, dan juga dikenal sebagai shunt ammeter, ia bekerja

dengan mengukur penurunan voltase pada resistansi.

Gambar 2 12 Resistor Shunt

(Sumber: [Link]

Resistor shunt merupakan perangkat listrik yang menghasilkan jalur

resistansi rendah untuk arus listrik. Shunt juga dapat disebut sebagai shunt

ammeter atau resistor shunt arus, biasanya digunakan untuk pengukuran arus

tinggi dengan resistansi rendah. Penerapan hukum ohm V = I x R atau I = V / R

digunakan dalam resistor shunt tersebut, yang dimana V adalah tegangan, I adalah

Arus, dan R adalah resistansi. Jika resistansi diketahui dan nilai tegangan telah di

dapatkan, maka arus dapat ditentukan. (Abdullah Mubarak ‘Aafi, Jamaaluddin

Jamaaluddin, Izza Anshory, 2022)

2.7 Module XH-M603


Gambar 2 13 Module XH-M603
(Sumber: [Link]

XH-M603 adalah modul kontrol PCB yang digunakan untuk mengisi

baterai lithium, asam timbal, nikel-kadmium, nikel-logam hidrida, lithium-ion dan

polimer. Modul ini memasang pengisi daya baterai Lithium dengan menggunakan

modul pengisi daya ini. Modul juga bisa digunakan untuk panel surya.

Anda mungkin juga menyukai