100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
4K tayangan80 halaman

Portofolio Akhir: Computational Thinking

Laporan ini merupakan laporan akhir restrukturisasi portofolio mata kuliah Computational Thinking. Laporan ini berisi pengumpulan kembali artefak yang telah dibuat selama perkuliahan mata kuliah tersebut, meliputi diskusi, presentasi, dan refleksi mahasiswa pada berbagai topik seperti pemahaman Computational Thinking, integrasinya dalam kurikulum dan proyek STEM, serta evaluasi atas pengintegrasiannya dalam pembelajaran. Laporan ini bert
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
4K tayangan80 halaman

Portofolio Akhir: Computational Thinking

Laporan ini merupakan laporan akhir restrukturisasi portofolio mata kuliah Computational Thinking. Laporan ini berisi pengumpulan kembali artefak yang telah dibuat selama perkuliahan mata kuliah tersebut, meliputi diskusi, presentasi, dan refleksi mahasiswa pada berbagai topik seperti pemahaman Computational Thinking, integrasinya dalam kurikulum dan proyek STEM, serta evaluasi atas pengintegrasiannya dalam pembelajaran. Laporan ini bert
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN AKHIR

RESTRUKTURISASI PORTOFOLIO
MATA KULIAH COMPUTATIONAL THINKING

Laporan ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah computational Thinking

Dosen Pengampu: Dr. Esti Swatika Sari, [Link].,[Link]

Disusun Oleh:

ZAIMUL AFIF MAHZUM


NIM: 23105260028

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI


BIDANG STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
PROGRAM PENDIDIKAN GURU
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2024
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik, rahmat serta hidayah-Nya
sehingga proses penyusunan portofolio yang disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah
Computational Thinking ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Saya sadar bahwa apa yang
telah saya peroleh tidak semata-mata hasil dari jerih payah saya sendiri, tetapi hasil dari
keterlibatan semua pihak. Oleh sebab itu, saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Esti Swatika Sari, [Link].,[Link] selaku dosen pengampu mata kuliah Computational
Thinking yang telah membimbing dan mendidik saya selama satu semester ini.

2. Teman-teman mahasiswa PPG Prajabatan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Khususnya kelas C Universitas Negeri Yogyakarta yang telah belajar bersama pada mata kuliah
Computational Thinking ini.

3. Penyelenggara PPG Prajabatan yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar
lebih dalam pada mata kuliah Computational Thinking.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam pengerjaan portofolio ini masih banyak
kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, untuk itu kritik dan saran yang
bersifat membangun dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan portofolio ini. Akhir
kata saya berharap portofolio ini bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, 15 Mei 2024

ii
Halaman
JUDUL

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENGUMPULAN ARTEFAK 1


A. Cheklist Kelengkapan Bahan Portofolio untukTopik Pendalaman 1
Pemahaman CT
B. Pertanyaan Reflektif 2
BAB II RESTRUKTURISASI PORTOFOLIO 5
A. Topik-1 5
1. Ruang Kolaborasi 6
2. Demonstrasi Kontekstual 7
3. Aksi Nyata 12
B. Topik-2 15
1. Ruang Kolaborasi 15
2. Demonstrasi Kontekstual 20
3. Aksi Nyata 23
C. Topik-3 24
1. Ruang Kolaborasi 25
2. Aksi Nyata 56
D. Topik-4 57
1. Ruang Kolaborasi 57
2. Aksi Nyata 62
E. Topik 5 63
1. Ruang Kolaborasi 64
2. Demonstrasi kontekstual 70
3. Aksi Nyata 73
BAB III POST RESTRUKTURISASI 74

iii
BAB I
PENGUMPULAN ARTEFAK

A. Cheklist Kelengkapan Bahan Portofolio untukTopik Pendalaman Pemahaman CT

Apakah artefak
Topik Artefak portofolio
tersedia? (Y/T)

Hasil diskusi pada bagian Ruang


Kolaborasi (dapat berupa slide YA
presentasi/laporan)

Pendalaman
1 Feedback yang diberikan kelompok lain
pemahaman CT YA
pada saat Demonstrasi Kontekstual

Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi


YA
Nyata

Laporan Diskusi Pemahaman CP pada


YA
bagian ruang kolaborasi

CT dalam hasil feedback pada presentasi kelompok


2 YA
Kurikulum lain pada bagian demonstrasi kontekstual

Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi


YA
Nyata

mengoreksi dan memberi masukan untuk


lembar kerja hasil eksplorasi dari teman
YA
sekelompok pada ruang kolaborasi sub
topik 1
CT dalam problem
3
solving
Mengunggah hasil ruang kolaborasi dan
YA
eksplorasi

Mengerjakan soal bebras pada bagian


YA
demonstrasi kontekstual

1
Apakah artefak
Topik Artefak portofolio
tersedia? (Y/T)

mengoreksi dan memberi masukan untuk


lembar kerja hasil eksplorasi dari teman
YA
sekelompok pada ruang kolaborasi pada
sub topik 2

Lembar Kerja Mahasiswa pada aktifitas


Ekplorasi Konsep di bagian Lembar Kerja YA
Mahasiswa

Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi


YA
Nyata

Hasil proyek STEM sebelum dan sesudah


diintegrasikan dengan CT dan perbedaan YA
keduanya pada bagian ruang kolaborasi)
4 CT dan proyek

Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi


YA
Nyata

Hasil modifikasi materi ajar dengan


mengintegrasikan CT ke dalamnya pada YA
bagian ruang kolaborasi
Integrasi CT
5 dalam mata
Hasil evaluasi kelompok yang presentasi
pelajaran YA
pada bagian demonstrasi

Hasil refleksi dan RPP dari aksi nyata YA

2
B. Pertanyaan Reflektif
1. Apakah artefak yang Anda miliki lengkap? Jika tidak lengkap, tuliskan persentase
jumlah artefak protofolio yang berhasil Anda kumpulkan.
Jawab : Ya, artefak yang saya miliki lengkap 100%
2. Bacalah kembali capaian pembelajaran yang diberikan pada setiap awal topik. Apakah
artefak yang Anda kumpulkan sudah menggambarkan pencapaian tersebut? Setiap
topik, tuliskan kelebihan atau kekurangan dari artefak protofolio yang Anda miliki. Jika
ada kekurangan, bagian apa saja yang perlu Anda tambahkan atau koreksi?
Jawab:
Ya, artefak yang saya kumpulkan sudah menggambarkan capaian pembelajaran yang
diinginkan
 Pada tugas topik 1, artefak yang dikumpulkan telah sesuai dengan capaian mata
kuliah, yaitu memahami Computational Thinking (CT) sebagai pendekatan
pemecahan masalah. Dalam topik ini, mahasiswa mengerjakan lembar kerja
yang mencakup berbagai kegiatan yang membutuhkan CT namun tidak
menggunakan komputer. Melalui analisis kegiatan tersebut, mahasiswa dapat
memahami konsep-konsep CT dan fondasi berpikir komputasional. Kelebihan
dari topik ini adalah analisis kegiatan secara langsung membantu mahasiswa
memahami konsep berpikir CT dan cara memetakan CT dalam kegiatan sehari-
hari. Namun, kekurangan pada artefak ini adalah deskripsi setiap kegiatan yang
menunjukkan cara berpikir CT kurang lengkap.
 Pada tugas topik 2, artefak yang dikumpulkan sudah sesuai dengan capaian
mata kuliah, yaitu mengenai fondasi dan disposisi berpikir komputasional.
Artefak portofolio telah menjelaskan dan menggambarkan capaian CT dalam
fase pembelajaran peserta didik sesuai dengan jenjangnya serta menjelaskan
kemampuan berpikir komputasional yang harus dicapai sesuai dengan fase
belajar peserta didik. Kelebihan dari artefak ini adalah penjelasan rinci
mengenai capaian berpikir komputasional yang harus dicapai pada setiap fase
belajar, serta kaitannya dengan teori belajar Piaget.
 Pada tugas topik 3, artefak yang dikumpulkan sudah sesuai dengan capaian
pembelajaran. Artefak portofolio telah mengintegrasikan CT ke dalam berbagai
bidang mata pelajaran. Melalui konsep berpikir CT, mahasiswa mengerjakan
tugas berupa framework soal Bebras dan PISA. Kelebihan artefak ini adalah
pengerjaan soal Bebras dan PISA yang sesuai dengan fondasi CT.
3
 Pada tugas topik 4, artefak yang dikumpulkan telah sesuai dengan capaian mata
kuliah. Dalam topik ini, mahasiswa membuat proyek STEM dalam
pembelajaran dan mengintegrasikan CT ke dalamnya. Melalui pembelajaran ini,
mahasiswa memiliki kemampuan memecahkan masalah dengan berpikir
komputasional melalui pendekatan STEM. Kelebihan artefak ini adalah
menjelaskan proyek STEM yang dapat diterapkan pada materi IPAS dengan
menggunakan cara berpikir CT. Namun, kekurangannya adalah kurangnya
sistematika penulisan, sehingga artefak kurang runtut.
 Pada tugas topik 5, artefak yang dikumpulkan telah sesuai dengan capaian
pembelajaran. Mahasiswa membuat rancangan pembelajaran yang
mengintegrasikan konsep berpikir CT. Kegiatan pembelajaran yang dirancang
telah disesuaikan dengan empat fondasi CT. Kelebihan artefak ini adalah pada
bagian kegiatan pembelajaran, yang menggambarkan dengan jelas bagaimana
peserta didik diajak berpikir komputasional dalam memecahkan masalah.
Peserta didik menerapkan tahapan-tahapan dari keempat fondasi CT untuk
menyelesaikan persoalan yang ada dalam kegiatan pembelajaran.

4
BAB II
RESTRUKTURISASI PORTOFOLIO

A. TOPIK 1 (PENDALAMAN DAN PEMAHAMAN CT)

Computational Thinking adalah cara berpikir yang terstruktur dan sistematis untuk
menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep dan prinsip komputasi. Pemahaman
CT adalah kemampuan untuk memahami dan menerapkan cara berpikir tersebut dalam
menyelesaikan masalah. Pendalaman pemahaman CT memiliki empat fondasi yaitu
dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Harapan saya setelah mempelajari
topik ini adalah bisa menerapkan CT dalam kehidupan sehari-hari, membagi informasi
tentang pengetahuan CT kepada peserta didik dan menerapkan CT bersama peserta didik
untuk menyelesaikan setiap persoalan yang kompleks baik di materi pembelajaran maupun
masalah sehari-hari.
Pemahaman baru yang saya dapatkan setelah mempelajari CT bahwa computational
thinking merupakan salah satu ilmu penting dan sangat dibutuhkan untuk penyelesaian
pesoalan atau masalah di masa kini untuk menyiapkan generasi mendatang yang dapat
bersaing di era/zaman modern ini. Ilmu ini mengajarkan siswa untuk berpikir seperti cara
berpikir komputer, dalam penyelesaian masalah. Dan ini menjadi sangat penting karena di era
ini tidak dapat dipastikan apa yang akan terjadi, maka dari itu penguasaan computational
thinking sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah dengan cepat dan optimal.
Menurut saya, ilmu CT sangat penting dan diperlukan terutama di sekolah, karena pada
dasarnya pendidikan anak yang utama selain di keluarga juga bisa didapat dari sekolah, oleh
karena hal tersebut sebagai calon guru harus menjadi seorang problem solver yang baik di
sekolah maupun di rumah saat menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu CT juga memiliki
banyak manfaat seperti memudahkan kita untuk menyelesaikan masalah yang kompleks
dengan efektif dan efisien, melatih otak agar terbiasa berpikir sistematis, dan memudahkan
seseorang untuk mengamati dan menemukan solusi dari setiap persoalan. Saya merasa
senang dapat mempelajari tentang CT karena kita tahu betapa pentingnya CT dalam
kehidupan sehari-hari di perkembangan era digital yang sangat pesat ini.
Kendala yang saya hadapi dalam CT ini adalah cara mengimplementasikan CT kepada
peserta didik. Cara antisipasi nya adalah dengan mempelajari dan memahami lagi apa itu CT,
serta mencari cara penyampaian materi dengan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta
didik

5
1. Ruang Kolaborasi Topik 1

Nama/No. Kelompok: Kelompok 2

1. Zaimul Afif Mahzum


2. Dita Rahmayanti
3. Indah trihandayani
No. Induk / Nama Mahasiswa
4. Amri „Inayah
:
5. Neli Hayati
6. Dinnaasa Aprillia Fatonah

Hasil Diskusi secara umum :Dari berbagai kegiatan yang telah kelompok kami diskusikan,
semua kegiatan yang dicantumkan termasuk ke dalam CT.

Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot
tapi membutuhkan CT.
1. Mencuci baju
2. Berbelanja
3. Berlibur
4. Membagi waktu untuk mengerjakan tugas LMS PPG
5. Mengikuti organisasi
6. Memilih rute perjalanan
7. Pemilihan detergent
8. Mencuci motor

Penerapan fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari.


A. Jawaban yang sudah tepat

1. Dekomposisi : memisahkan pakaian sesuai jenisnya


2. Pengenalan Pola : mengelompokkan baju berwarna dan baju putih sesuai kelompoknya
3. Abstraksi : eliminasi barang sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan
4. Algoritma : penyiapan alat dan bahan, mencuci motor diawali dari kepala, body motor,
lalu diakhiri dengan mencuci bagian bawah atau ban motor.

B. Jawaban yang kurang tepat


Tidak ada karena semua termasuk CT.

(silakan dilanjutkan)

6
2. Demostrasi Kontekstual Topik 2

Nama/No. Kelompok: Kelompok 2

No. Induk / Nama Mahasiswa: 1. Adia Budjana

2. Annisa Aqil S

3. Dwi Yuli Megarahayu

4. Indah Oktaviani A

5. Niken Sri R

6. Sintya Kusuma Wardani

Feedback/pertanyaan: Tanggapan/solusi:

Saran dari peserta bahwa pada penerapan Menurut saya dari saran tersebut benar dimana
CT yang sudah benar pada kelompok 2 di untuk menyelesaikan persoalan mobil mainan
nomor 1 yaitu Merakit mobil mainan dengan jumlah yang banyak tidak optimal jika
dirasa masih kurang tepat karena jika hanya dikerjakan oleh satu orang, tentu saja
mobil mainan yang dirakit dengan jumlah membutuhkan sebuah teknologi agar
banyak tentu saja tidak optimal jika hanya penyelesaian dari merakit mobil mainan
dikerjakan oleh satu orang pekerja. tersebut dapat diselesaikan dengan waktu yang
cepat.

Pertanyaan kelompok 1 : Jawaban kelompok 2 :

Mengapa menyisir rambut dikategorikan Menyisir rambut dikatakan CT yang kurang


sebagai CT yang kurang tepat? padahal tepat karena tidak terdapat masalah kompleks
penerapannya sudah mengandung didalamnya sehingga tidak memerlukan CT.
dekomposisi, pengenalan pola,
alogaritma, dan abstraksi
Sanggahan kelompok 1 :

Ketika menyisir rambut tentunya ditemukan


permasalahan berupa rambut kusut yang perlu
diuraikan, rambut yang ikal memerlukan jenis
sisir yang berbeda dengan rambut yang lurus.

7
sehingga dalam menyisir rambut juga perlu
diuraikan permasalahannya agar ditemukan
solusi yang efektif. selain itu juga ditemukan
pengenalan pola berupa pola atau alur dalam
menyisir rambut. abstraksi dalam menyisir
rambut dapat berupa mengabaikan
permasalahan rambut yang lain (ketombe) dan
fokus penyelesaian pada menyisir rambut yang
kusut. alogaritma dalam menyisir rambut dapat
berupa langkah langkah dalam menyisir rambut
kusut yang tepat sesuai jenis rambut yang
dimiliki

Pada penerapan yang sudah tepat Menurut saya pada pernyataan yang
beberapa jawaban hanya mengandung 2 mengandung kurang dari 4 pondasi merupakan
CT jawaban yang kurang tepat dan belum
menerapkan berpikir komputasi. hal ini
dikarenakan seseorang dianggap telah berpikir
komputasi apabila telah menerapkan 4 pondasi
CT. Sehingga pada beberapa pernyataan
kelompok 2 yang hanya mengandung 1,2,3 CT
belum bisa dikategorikan penerapan CT yang
tepat.

Pertanyaan kelompok 1: Jawaban kelompok 2: Dapat tetap dikatakan


CT walaupun menggunakan 2 fondasi atau
Apakah Konsep dari CT sendiri dapat
tidak 4 fondasi.
dikatakan CT harus terdiri dari 4 fondasi
atau 2 fondasi saja sudah termasuk CT?

Menurut saya jawaban tersebut sudah benar,


tetapi untuk menggunakan CT mutlak 4
pondasi tersebut, tetapi 2 pondasi juga dapat
dikatakan konsep dari CT

8
Nama/No. Kelompok: Kelompok 4

No. Induk / Nama Mahasiswa: 1. Risma Dwi M

2. Aulia Wening Elvatriani

3. Arlianti Sinta

4. Meike Mertian Fanista

5. Nida'ul Husna

6. Aritha Etax Pratiwi

Feedback/pertanyaan: Tanggapan/solusi:

Contoh tentang pengenalan pola yang kurang Dari hasil presentasi tadi ternyata
tepat dimana disebutkan bahwa sebelumnya terdapat kesalahan pemilihan kata
pernah kehilangan surat penting misalnya sehingga ada kesalahpahaman terhadap
yaitu akta kelahiran, maka kita harus tau contoh penerapan pengenalan pola yang
bahwa tahapannya akan kurang lebih sama kurang tepat. Karena langkah-langkah
untuk menyelesaikan persoalan tersebut. dalam mengurus surat sebenarnya sudah
pertanyaannya “bagaimana pengenalan pola benar karena adanya kesamaan bagian-
pada contoh tersebut? bagiannya.

Pertanyaan kelompok 1: Atas dasar apa, Redaksi masih kurang tepat. Seharusnya
pada bagian pengenalan pola hal ini “Karena konteks yang diberikan bukan akta
sebelumnya sudah pernah kehilangan surat kelahiran karena pada kasusnya yaitu
penting yaitu akta kelahiran misalnya maka kehilangan barang yang ada di dompet.
kita tau bahwa tahapannya akan kurang lebih
sama untuk menyelesaikan persoalan
tersebut.” termasuk pada jawaban yang
kurang tepat? Apakah memang hal tersebut
kurang tepat atau memang masih kurang
tepat dalam redaksi?

9
Nama/No. Kelompok: Kelompok 5

No. Induk / Nama Mahasiswa: 1. Tihfani Astuti

2. Laeli mafumah

3. Rachel Theresia Hutagalung

4. Nila zakiyatul Maghfiroh

5. Fajar Mustofa

6. Regita Hidayatun N

Feedback/pertanyaan: Tanggapan/solusi:

Apakah penerapan CT harus Menurut saya penerapan CT tentu saja harus


memenuhi 4 fondasi ? memenuhi 4 fondasi untuk menemukan solusi yang
tepat pada setiap permasalahan, karena tanpa kita
sadari banyak sekali kegiatan yang kita lakukan itu
adalah kegiatan CT dimana kita ingin
menyelesaikan permasalahan secara cepat baik
yang belum optimal ataupun penerapan CT secara
optimal.

Kelompok 1: Menurut saya penerapan CT harus memenuhi 4


fondasi dari CT tersebut, karena tanpa disadari
Apakah penerapan 2 pondasi CT walaupun kita hanya menggunakan 2 fondasi saja
sudah dapat membuat hasil yang secara tidak langsung sebenarnya kita selalu
efektif? menerapkan 4 fondasi CT untuk mencapai solusi
yang efektif dan optimal.

Menurut kelompok 5 apakah konsep Menurut kelompok 5, dalam penyelesaian


CT harus masuk 4 fondasi CT karena persoalan yang menerapkan CT tidak harus
"beberapa kelompok kan ada yang memuat 4 pondasi CT karena berdasar dari konsep
setuju 4 format terpenuhi untuk bisa dasar CT adalah proses berpikir dalam

10
tepat berfikir secara CT atau hanya 1 memformulasikan persoalan dan berstrategi dalam
atau 2 format sudah bisa tepat?" (Adia menentukan/memilih solusi yang efektif, efisien,
Budjanai) optimal. Jika dengan menggunakan satu fondasi
CT telah dapat menghasilkan hasil yang
Sanggahan dibutuhkan maka hal tersebut sudah temasuk dalam
1. Indah Tri penerapan CT.

11
3. AKSI NYATA TOIK 1

12
13
14
B. TOPIK 2 (CT DALAM KURIKULUM)

Computational Thinking menjadi bagian penting dari kurikulum Pendidikan di berbagai


negara. Computational Thinking merupakan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang
fundamental untuk pemahaman teknologi dan kecerdasan buatan.
Pengetahuan baru yang saya dapat tentang CP dari CT adalah pada bagaimana
kedudukan CT pada Fase A-C dalam kurikulum merdeka, penerapan CT dalam berbagai
pelajaran, penerapan CT dalam berbagai tatanan global, dan keterkaitan CT pada pelajaran yang
saya ampu yaitu IPAS. Pengetahuan lain yang saya dapat yaitu, dapat mengetahui keterkaitan
anatara CP dan CP pada CT, dimana masing-masing fase memiliki CP CT yang bertujuan untuk
membentuk peserta didik agar memiliki proses berpikir melalui strategi pemikiran computational
thinking.

1. Ruang Kolaborasi

1. Amri „Inayah (23105260633)


Nama/NIM
2. Dinnaasa Aprillia Fatonah (23105260074)
anggota
3. Dita Rahmayanti (23105260694)
4. Indah Trihandayani (23105260230)
5. Neli Hayati (23105260336)
6. Zaimul Afif Mahzum (23105260028)

A, B, C
Fase
(A/B/C/D/E/F)

CP Fase A : Pada akhir fase A, peserta didik mampu menerapkan berpikir


komputasional dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari yang dialami
dengan mengidentifikasi, membandingkan, memilih, memilah,
mengelompokkan, dan mengurutkan objek konkrit.

Fase B : Pada akhir fase B, peserta didik mampu menerapkan berpikir

15
komputasional dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari dengan
membandingkan, memilih, memilah, menyusun, mengelompokkan, dan
mengurutkan himpunan data kecil hasil abstraksi benda konkrit menggunakan
berbagai cara untuk menghasilkan beberapa solusi dengan memanfaatkan
perkakas yang disediakan.

Fase C : Pada akhir fase C, peserta didik mampu menerapkan berpikir


komputasional dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari dengan
membandingkan, menyusun, mengelompokkan, dan mengurutkan himpunan
data hasil abstraksi benda konkrit yang lebih banyak dan kompleks dengan
menggunakan berbagai cara untuk menghasilkan lebih banyak alternatif solusi
yang mengintegrasikan berpikir komputasional dalam memanfaatkan perkakas
yang digunakannya.

Istilah dan makna dari kata-kata yang sudah disepakati oleh kelompok:

Fase A

1. Mengidentifikasi
2. Membandingkan
3. Memilih
4. Memilah
5. Mengelompokkan
6. Mengurutkan

Fase B

1. Membandingkan
2. Memilih
3. Memilah
4. Menyusun
5. Mengelompokkan

16
6. Mengurutkan
7. Menghasilkan

Fase C

1. Membandingkan
2. Menyusun
3. Mengelompokkan
4. Mengurutkan
5. Menghasilkan
6. Mengintegrasikan

Kata-kata yang dipahami sebagai makna yang berbeda oleh anggota kelompok. Diskusikan
lebih lanjut tentang perbedaan makna tersebut! Diskusikan juga dengan konsep pada saat
eksplorasi konsep!

1. Pada akhir Fase A, peserta didik mampu berbahasa sederhana untuk berkomunikasi,
memahami instruksi lisan sederhana, kata kata yang ditemui dalam kehidupan sehari-
hari dan kata-kata baru yang dibacakan dengan atau tanpa bantuan gambar. Peserta didik
mampu melafalkan kata dan dapat dipahami, bertanya jawab berdasarkan topik
sederhana.

Pada fase A capaian berpikir komputasional siswa masih berada pada level
mengidentifikasi, memilih dan mengelompokkan suatu persoalan. Contohnya pada
pelajaran bahasa indonesia pada fase A siswa diminta untuk mengidentifikasi kata-kata
yang diberikan guru dan mengelompokkannya kedalam kata benda atau kata sifat.

2. Pada akhir Fase B, peserta didik mampu merespons perintah/arahan sederhana dan
memahami pesan lisan atau informasi dari media audio dan isi teks aural (teks yang
dibacakan), mampu merangkai suku kata (kombinasi kv dan kvk) menjadi kata yang
sering ditemui, memahami informasi dari tayangan yang dipirsa dari teks cerita

17
pengalaman dan teks arahan/petunjuk.

Pada fase B siswa sudah dianggap memiliki kemampuan dasar mengidentifikasi,


memilih, mengelompokkan, dan mengurutkan suatu persoalan sehingga pada fase B
kemampuan berpikir CT pada siswa ditingkatkan lagi ke dalam tingkatan menghasilkan.
Contohnya setelah siswa mampu mengelompokkan kata ke dalam kata benda dan kata
sifat, siswa diminta untuk menghasilkan sebuah kalimat runtut yang sesuai dengan
struktur kalimat yang benar S-P-O-K.

3. Pada akhir Fase C, peserta didik mampu memahami pesan lisan atau informasi dari
media audio, audio visual dan isi teks aural (teks yang dibacakan), merangkai kata
menjadi kalimat sederhana yang sering ditemui, memahami informasi dari tayangan
yang diperiksa dalam teks cerita sederhana dan teks laporan sederhana. Peserta didik
mampu melafalkan kata dari kalimat yang terdiri atas tiga sampai empat kata dengan
tepat, berbicara dengan santun, menggunakan intonasi yang tepat, dan menceritakan
kembali informasi yang dibacakan guru atau didengar. Peserta didik mampu menulis
kata dan kalimat sederhana (tiga kata) dari teks cerita sederhana dan teks laporan
sederhana dengan atau tanpa bantuan gambar.

Pada fase C, siswa sudah diminta untuk mengintegrasikan atau menerapkan


penyelesaian masalah dengan cara identifikasi, memilih, memilah, mengelompokkan,
mengurutkan dan menghasilkan dalam kehidupan sehari-hari kedalam permasalahan
yang lebih kompleks. misalnya, pada fase C siswa sudah mampu menghasilkan sebuah
cerita pendek dan menyusun laporan sederhana tanpa bantuan gambar.

18
Tuliskan pemaknaan mengenai CP yang dibahas di kelompok, sesuai pemahaman bersama
seluruh anggota kelompok!

Capaian pembelajaran pada setiap fase terdapat perbedaan tingkatan pemahaman peserta didik.
Perbedaan tersebut berdasarkan pencapaian pembelajaran. Hal tersebut ditandai dengan
perbedaan istilah kata kerja operasional pada capaian pembelajaran. Selain perbedaan istilah
kata kerja operasional, kemampuan komputasi dalam setiap fase juga berbeda. Contoh : pada
fase A, capaian pembelajaran mencapai tahap konkrit. Pada fase B, capaian pembelajaran
mencapai tahap konkrit dengan berbagai cara. Pada fase C, capaian pembelajaran mencapai
tahap konkrit dengan berbagai cara untuk menghasilkan lebih banyak alternatif solusi. Hal
tersebut didukung oleh pendapat Piaget mengenai tahap-tahap perkembangan peserta didik
yaitu untuk peserta didik usia 7-11 tahun memasuki tahap operasional konkret, sedangkan
peserta didik usia 11-15 tahun memasuki tahap operasional formal. Pada tahap operasional
konkret, anak-anak telah menunjukkan penalaran yang logis dan konkret. Pada tahap ini anak
sudah memiliki kemampuan untuk mempertahankan ingatan. Sedangkan pada tahap operasional
formal, anak telah mampu berpikir secara abstrak dan mengembangkan hipotesis dengan logis.
Berbekal dari hal tersebut, anak mampu memecahkan masalah dan membentuk argumen dengan
kemampuan operasionalnya berkembang semakin kompleks. Anak pada tahap operasional
formal sudah semakin mahir menarik kesimpulan dan informasi yang ada.

19
2. Demonstrasi Kontekstual

Nama /Nim: Zaimul Afif Mahzum / 23105260028


Fase Istilah yang baru diketahui maknanya Makna dari istilah
A/B/C 1. Mengidentifikasi 1. Mengidentifikasi berarti mampu
2. Membandingkan mengenali atau memahami ciri-
3. Memilih ciri suatukrakteristik khusus
4. Mengelompokkan 2. Membandingkan berarti mampu
5. Mengurutkan menemukan perbedaan atau
6. Menghasilkan persamaan dari dari suatu hal
7. Mengintegrasikan 3. Memilih berarti mampu
menetapkan atau menentukan
suatu hal.
4. Mengelompokkan berarti
memisahkan atau memasukkan
suatu hal ke dalam sebauh grup
berdasarkan hal tertentu.
5. Mengurutkan berarti meyusun,
menjajarkan sesuatu sesuai
dengan aturan atau kaidah yang
berlaku
6. Menghasilkan berarti mampu
menciptakan, mewujudkan atau
membangun sesuatu yang
bermanfaat atau memiliki nilai
dan kegunaan
7. Mengintegrasikan berarti
mampu mengabungkan ,
menyatukan atau
mengorganisasikan cara berpikir
CT menggunakan 4 fondasi CT

20
sehingga dapat efektif, efisien
dan optimal
Tuliskan pemahaman yang anda dapat dari presentasi rekan anda mengenal CP CT pada fase
yang berdeba dari fase yang anda kerjakan dalam kelompok!
A/B/C Berdasarkan persetasi ari rekan saya, saya memperoleh pemahaman bahwa
capai fase CT sesuai dengan capaian pembelajajaran mata pelajaran
disekolah. CP dar i CT disesuai dengan cara berpikir peserta didik sesuai
dengan teori Piaget. Diman pada fase A dan B merupakan fase konkret, dan
fase C merupakan peralihan dari
fase konkret ke fase formasl,

21
3. Aksi Nyata Topik-2

22
23
C. TOPIK 3 (CT DALAM PROBLEM SOLVING)
Dalam problem solving, CT membantu seseorang untuk memecahkan masalah secara
sistematis dan terstruktur. Pertama, CT mengajarkan seseorang untuk memecahkan masalah
besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau dekomposisi. Setelah masalah telah dipecah
menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, CT membantu seseorang untuk mengenali pola dan
hubungan diantara data dan informasi yang diberikan.

Saat mempelajari topik ini saya menemukan pengalaman yang cukup menarik.
Pengalaman menarik yang dialami ketika mengimplementasikan CT adalah penyelesaian
berbagai jenis persoalan yang saya hadapi dengan menggunakan urutan CT secara sistematis.
Keberhasilan yang didapatkan ketika mempelajari CT adalah dapat berpikir kritis dan sistematis
dalam memecahkan sebuah permasalahan yang kompleks. Kegagalan yang dialami adalah ketika
kurang mampu memilah masalah berdasarkan fondasi CT, maka saya harus terus belajar agar
terbiasa menggunakan cara berpikir komputasional dalam menghadapi persoalan. Setelah
mempelajari topik ini terjadi banyak perubahan terhadap cara berpikir khususnya dalam proses
pemecahan masalah. Dengan perubahan cara berpikir maka dapat menyelesaikan masalah dengan
efektif dan efisien, termasuk dalam mengevaluasi dan memecahkan masalah secara sistematis,
serta memilih solusi alternatif.

Perbaikan yang dapat saya akan saya lakukan setelah mempelajari topik ini adalah dapat
mengevaluasi cara mengajar untuk memastikan bahwa dapat disediakan contoh yang beragam
dari masalah yang dapat dipecahkan dengan menggunakan CT dan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berlatih menggunakan metode CT dalam berbagai situasi, maka dapat
menyediakan umpan balik yang berkualitas

24
1. Ruang Kolaborasi sub Topik-1
Nama/NIM : Zaimul Afif Mahzum/23105260028
Jenjang : Computational Thinking (CT)
Judul Soal : Eksplorasi Konsep (6) Subtopik 1
No Pertanyaan Jawaban
1 Tuliskan solusi untuk masing-masing SD: Salah satu cara dengan melacak jumlah
soal! titik di bagian atas setelah setiap langkah, dan
memperhatikan bahwa pada dadu, sisi 6
berlawanan dengan 1; 5 dengan 2; 4 dengan 3.
Dadu dengan jumlah titik lima berada diatas
SMP: Cara untuk memecahkan tantangan ini
adalah dengan mengamati posisi semua sisi
dadu saat dadu itu berputar. Tapi sebaliknya,
kita dapat mengurangi kompleksitasnya
dengan mengamati 3 sisi saja, karena 3 sisi
yang lainnya bisa ditentukan berdasarkan sisi
yang berlawanan dengannya. Sisi yang
menghadap ke bawah di petak terakhir adalah
4, karena sisi 3 berada di sebelah atas.
SMA: Pengerjaan sama dengan jenjang SMP ,
mencatat posisi awal dadu dengan sisi 3, 5,
dan 6 yang berada di posisi kanan, depan dan
atas. Kita terus mengamati posisi 3 sisi ini saat
dadu berputar, selangkah demi selangkah
sampai ke petak terakhir. Setelah dadu selesai
bergerak, kita bisa tahu sisi mana yang berada
di bawah, jumlah titik tiga di dasar dadu saat
dadu mencapai petak hijau di ujung
2 Tuliskan langkah-langkah berfikir Anda Pada jenjang SMP, pertama-tama kita dapat
hingga mendapat solusi dari masing- mencatat posisi awal dadu dengan sisi 3, 5,
masing soal. Jika Anda menggunakan dan 6 yang berada di posisi kanan, depan dan

25
salah satu cara berfikir, tuliskan pada atas. Kita terus mengamati posisi ketiga sisi ini
jenjang mana Anda menggunakan cara saat dadu 3, 5 dan 6 berputar, selangkah demi
berpikir tersebut selangkah sampai ke petak terakhir. Setelah
dadu selesai bergerak, kita bisa tahu sisi mana
yang berada di bawah. Jadi sisi yang
menghadap ke bawah di petak terakhir adalah
4, karena sisi 3 berada di sebelah ata
3 Identifikasi 4 fondasi CT yang anda  Dekomposisi : Persoalan ini dapat dibagi 3
gunakan dalam menyelesaikan sub persoalan di mana masing-masing
persoalan ini. mewakili satu dadu
 Pengenalan Pola : Perlu mengenali Pola
perubahan nomor dadu dari setiap langkah
untuk dapt menemukan jawaban sesuai
 Algoritma : untuk menemukan solusi dari
persoalan ini, perlu melakukan langkah-
langkah
4 Apakah contoh pada kehidupan sehari-  Soal seperti ini sering terjadi dalam
hari yang mengimplementasikan konsep kehidupan sehari-hari seperti dalam suatu
yang ada pada soal ini. permasalahan kita didhadapkan oleh
beberapa pilihan yang mengaharuskan kita
memilih, contoh pada hari ini kita di
hadapkan dengan pemilihan presiden.
Dalam memilih presiden, hal pertama yang
penting adalah mengumpulkan informasi
tentang semua calon. Ini termasuk tahu
tentang latar belakang, pengalaman, dan
apa yang mereka rencanakan untuk negara
kita. Kemudian, kita harus cek informasi
yang mereka beri, pastikan benar. Lihat
juga rencana mereka untuk negara, apakah
bisa dilakukan dan cocok dengan apa yang

26
kita butuhkan. Jangan lupa, kita harus lihat
juga bagaimana sikap dan kejujuran
mereka selama ini. Kadang-kadang, kita
harus waspada akan informasi yang bisa
bikin kita terdorong pada satu pilihan saja,
jadi kita perlu pikir dengan hati-hati.
Bandingkan pilihan yang ada, lihat
kelebihan dan kekurangannya, dan
pikirkan bagaimana mereka menghadapi
masalah sebelumnya. Terus, gunakan akal
sehat dalam mempertimbangkan argumen
mereka. Bicarakan juga dengan orang lain,
lihat dari pandangan yang berbeda-beda.
Terakhir, setelah pikirannya matang, buat
keputusan berdasarkan apa yang kita
pelajari dan pikirkan. Dengan berpikir
kritis seperti ini, kita bisa yakin keputusan
kita tentang presiden adalah yang terbaik
untuk negara kita.
5 Tuliskan perbedaan kompleksitas  Perbedaan dalam kompleksitas di setiap
persoalan untuk masing-masing jenjang tingkatan adalah jumlah langkah yang
yang terdapat di soal ini! terlibat. Ketika kita melihat tingkatan yang
lebih tinggi, kita menemukan bahwa ada
lebih banyak langkah yang harus diambil,
dan seringkali langkah-langkah tersebut
melibatkan lebih banyak variasi dan
penyesuaian. Dengan kata lain, semakin
tinggi tingkatan tersebut, semakin rumit
dan beragam langkah-langkah yang harus
dihadapi.

27
Tabel 3.1 Penilaian Teman Kelompok

Kriteria Penilaian Anggota 1 Anggota 2 Anggota 3


Dita Indah
Neli Hayati Rahmayanti trihandayani
Apakah cara mengerjakan soal yang A A A
dituliskan dapat dipahami?
Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? A A A

Apakah cara mengerjakan dapat diikuti A A A


tanpa menimbulkan keambiguan?

Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar? A A A

Apakah 4 fondasi CT yang dituliskan A A A


dijelaskan dengan lengkap?
Apakah contoh masalah sehari-hari yang A A A
dituliskan sesuai dengan persoalan yang
diselesaikan?

Tabel 3.2 Perbaikan yang Perlu Dilakukan


Nomor soal Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan

1. Solusi Permasalahan Sebaiknya memberikan


penjelasan langkah-langkah
solusi menggunakan kata-kata
yang lebih sederhana dan efektif.

Tabel 3.3 Rubrik Penilaian untuk Masing-masing Kriteria


A (Sangat Baik) B (Baik) C (Cukup) D (Kurang)

Jika ketiga soal Jika hanya 2 soal Jika hanya 1 soal Jika ketiga-tiganya tidak
memenuhi kriteria yang memenuhi yang memenuhi memenuhi kriteria
kriteria kriteria

28
2. Ruang Kolaborasi Subtopik 2

02.04.01 Lembar Kerja Mahasiswa 1 (Literasi Membaca pada Tes PISA)

Nama/NIM: : Zaimul Afif Mahzum/ 23105260028

Literasi Membaca

Mengapa literasi membaca dibutuhkan oleh siswa?

Dengan belajar membaca dengan baik, siswa bisa paham apa yang ada di dalam bacaan. Kemampuan ini bisa
berguna dalam kehidupan sehari-hari, karena mereka bisa lebih mudah mengerti hal-hal yang mereka baca.

29
Pengertian dari literasi membaca pada tahun 2018 adalah kemampuan untuk mengerti, menggunakan,
merefleksikan teks untuk suatu tujuan. Literasi membaca juga mencakup siswa memiliki motivasi untuk
mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks. Apa makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam
konteks literasi membaca?

1. Mengerti teks:

Menangkap atau memahami isi dari teks.

2. Menggunakan teks:

Menerapkan informasi yang dipahami dari sebuah teks.

3. Merefleksikan teks:

Menilai dan merefleksikan diri sendiri atau mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan terkait
dengan penerapan informasi.

4. Memiliki motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks:

Gairah atau motivasi yang sangat kuat yang mendorong seseorang untuk menjelajahi, memahami, dan
mendalami suatu teks. Ini mencakup keinginan yang mendalam dan penuh semangat untuk menyerap
pengetahuan, mengeksplorasi ide-ide yang terkandung dalam teks, dan mencapai pemahaman yang
lebih dalam tentang materi yang disajikan.

30
Apa saja jenis teks yang digunakan pada tes PISA untuk literasi membaca?

Terdapat 6 level progress pada reading literacy. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau
melewati level tersebut! Level 1b diberikan sebagai contoh.

Level Apa yang dapat dilakukan siswa

1b Siswa dapat menemukan sebuah informasi yang mudah didapat dari sebuah teks sederhana.
Informasi yang dicari biasanya sering diulang di dalam teks. Informasi yang dicari juga bisa
dinyatakan dalam gambar dan grafik sehingga memudahkan siswa menemukan informasi
tersebut.

1a Para siswa bisa menemukan satu atau lebih bagian dari informasi yang jelas-jelas dinyatakan
dalam teks. Mereka juga dapat mengidentifikasi ide utama atau tujuan penulis dalam teks tentang
topik yang sudah dikenal, atau membuat hubungan yang sederhana antara informasi dalam teks
dan pengetahuan umum sehari-hari. Biasanya, informasi yang penting dalam teks sangat terlihat
dan hanya sedikit, jika ada, informasi yang membingungkan. Siswa diberikan petunjuk secara

31
langsung untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang relevan dalam tugas dan dalam teks.

2 Para siswa bisa menemukan satu atau lebih informasi dalam teks, yang mungkin perlu
disimpulkan atau memenuhi beberapa kondisi tertentu. Mereka dapat mengidentifikasi ide-ide
utama dalam teks, memahami hubungan antar gagasan, atau menafsirkan makna dalam bagian-
bagian tertentu dari teks ketika informasinya tidak terlalu jelas dan pembaca harus membuat
kesimpulan yang sederhana. Tugas pada tingkat ini mungkin melibatkan perbandingan atau
kontras berdasarkan satu fitur dalam teks. Tugas refleksi yang biasa pada tingkat ini meminta
pembaca untuk membuat beberapa perbandingan atau hubungan antara teks dan pengetahuan
mereka sendiri, dengan menggunakan pengalaman dan pandangan pribadi.

3 Para siswa dapat menemukan informasi dalam teks, dan dalam beberapa situasi, mereka bisa
mengenali hubungan antara beberapa informasi yang memenuhi beberapa syarat tertentu. Mereka
juga bisa mengintegrasikan beberapa bagian teks untuk mengidentifikasi ide-ide utama,
memahami hubungan antar gagasan, atau menafsirkan makna kata atau frasa. Mereka perlu
mempertimbangkan banyak fitur saat membandingkan, membedakan, atau mengkategorikan
informasi. Terkadang, informasi yang diperlukan tidak terlalu jelas atau ada banyak informasi
yang bersaing satu sama lain, atau ada rintangan lain dalam teks seperti ide yang bertentangan
atau bernada negatif. Tugas refleksi pada tingkat ini mungkin memerlukan membuat koneksi,
perbandingan, dan penjelasan, atau bisa juga mengharuskan pembaca untuk mengevaluasi fitur-
fitur dalam teks. Beberapa tugas refleksi mengharuskan pembaca untuk menunjukkan pemahaman

32
yang baik tentang teks dalam hubungannya dengan pengetahuan sehari-hari yang sudah dikenal.
Sedangkan, tugas lain tidak terlalu memerlukan pemahaman detail tentang teks, tetapi meminta
pembaca untuk menggunakan pengetahuan yang tidak umum.

4 Para siswa memiliki kemampuan untuk menemukan dan mengatur beberapa informasi yang
tertanam dalam teks. Mereka juga bisa memahami subtansi bahasa dalam suatu bagian teks
dengan memperhatikan keseluruhan teks. Dalam tugas interpretasi lainnya, siswa menunjukkan
pemahaman dan penerapan kategori dalam konteks yang tidak familiar. Selain itu, siswa pada
tingkat ini dapat menggunakan pengetahuan formal atau umum untuk membuat hipotesis atau
mengevaluasi kritis sebuah teks. Pembaca harus menunjukkan pemahaman yang akurat tentang
teks yang mungkin panjang atau kompleks, dan isi atau bentuknya mungkin tidak biasa bagi
mereka.

5 Siswa mampu mengidentifikasi dan mengatur beberapa informasi yang disajikan dalam teks, serta
menyimpulkan informasi yang relevan. Tugas-tugas reflektif memerlukan evaluasi kritis atau
pembuatan hipotesis berdasarkan pengetahuan yang spesifik. Baik tugas interpretasi maupun
refleksi memerlukan pemahaman yang menyeluruh dan rinci tentang teks yang mungkin memiliki
konten atau bentuk yang tidak dikenali. Dalam semua aspek membaca, tugas pada tingkat ini
umumnya melibatkan penanganan konsep yang bertentangan dengan harapan.

33
6 Siswa seringkali mampu membuat beberapa kesimpulan, perbandingan, dan kontras yang
terperinci dan akurat. Mereka menunjukkan pemahaman yang komprehensif dan terperinci dari
satu atau lebih teks dan bisa menggabungkan informasi dari berbagai sumber. Tugas mungkin
meminta pembaca untuk menangani ide-ide yang asing di tengah informasi yang menonjol, serta
untuk mengembangkan kategori abstrak untuk penafsiran. Siswa dapat membuat hipotesis atau
mengevaluasi secara kritis teks kompleks tentang topik yang tidak dikenal, dengan
mempertimbangkan berbagai kriteria atau sudut pandang dan menerapkan pemahaman yang
canggih dari luar teks. Keterampilan utama yang dibutuhkan untuk menangani tugas pada tingkat
ini adalah kemampuan menganalisis dengan tepat dan memberikan perhatian yang cermat
terhadap detail-detail yang mungkin tidak mencolok dalam teks.

34
02.04.02 Lembar Kerja Mahasiswa 2 (Literasi Matematika pada Tes PISA)

Nama/NIM: : Zaimul Afif Mahzum/ 23105260028

Literasi Matematika

Mengapa literasi matematika dibutuhkan oleh siswa?

Siswa perlu memiliki kemampuan literasi matematika untuk menyelesaikan masalah dan melakukan
pemikiran kritis. Literasi matematika didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk merumuskan,
menggunakan, dan menafsirkan konsep matematika. Konsep-konsep ini (merumuskan, menggunakan, dan
menafsirkan) memberikan struktur yang signifikan dalam mengatur proses matematika yang mencakup
bagaimana individu mengaitkan konteks masalah dan menyelesaikannya.

Pengertian dari literasi matematika 2012 juga digunakan pada tahun 2015 dan 2018. Literasi matematika adalah
kemampuan seseorang untuk memformulasikan sebuah situasi secara matematika, menggunakan konsep, fakta,
prosedur, dan penalaran matematika, dan menginterpretasikan hasil matematika untuk berbagai konteks. Apa
makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam literasi matematika?

1. Memformulasikan sebuah situasi secara matematika:

Kata merumuskan atau memformulasikan dalam pengertian literasi matematika mengacu pada
kemampuan individu untuk mengenali dan mengidentifikasi kesempatan menggunakan matematika, lalu

35
memberikan kerangka matematika untuk menyelesaikan masalah yang disajikan dalam berbagai konteks.
Saat merumuskan situasi menjadi bentuk matematis, individu menentukan di mana mereka bisa
menemukan konsep matematika yang penting untuk menganalisis, mengatur, dan menyelesaikan
masalah tersebut. Mereka mengubah situasi dari dunia nyata ke dalam domain matematika dan
memberikan masalah dunia nyata dengan struktur, representasi, dan detail matematika. Mereka juga
berpikir logis dan memahami batasan serta asumsi yang ada dalam masalah tersebut.

2. Menggunakan konsep, fakta, prosedur dan penalaran matematika:

Istilah "mempekerjakan" dalam konteks literasi matematika merujuk pada kemampuan individu untuk
menggunakan konsep matematika, fakta, prosedur, dan penalaran untuk menyelesaikan masalah yang
dirumuskan secara matematis dan mencapai kesimpulan matematis. Saat menggunakan konsep
matematika, fakta, prosedur, dan penalaran untuk menyelesaikan masalah, individu melakukan langkah-
langkah matematika yang diperlukan untuk mencapai hasil dan menemukan solusi matematis. Ini
termasuk melakukan perhitungan aritmatika, menyelesaikan persamaan, membuat deduksi logis
berdasarkan asumsi matematika, melakukan manipulasi simbol matematika, serta mengekstrak informasi
matematika dari tabel dan grafik.

3. Menginterpretasikan hasil matematika:

Istilah "interpret" yang diterapkan dalam pengertian literasi matematika menyoroti kemampuan individu
untuk merenungkan solusi, hasil, atau kesimpulan matematika dan memahaminya dalam situasi
kehidupan sehari-hari. Ini mencakup mengubah kembali solusi matematika atau penalaran ke dalam

36
konteks masalah yang relevan dan menilai kecukupan serta kelayakan hasil dalam konteks tersebut.
Proses matematika ini termasuk dalam kategori "interpretasi" dan "evaluasi" seperti yang didefinisikan
dalam model literasi matematika yang telah ada sebelumnya. Individu yang terlibat dalam proses ini
mungkin diminta untuk menyusun dan menyampaikan penjelasan serta argumen dalam konteks masalah
yang dipertimbangkan, mencerminkan proses pemodelan dan hasilnya.

Terdapat 6 level progress pada literasi matematika. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada
atau melewati level tersebut!

Level Apa yang dapat dilakukan siswa

1 Para siswa dapat menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan konteks yang sudah dikenal di
mana semua informasi yang relevan tersedia dan pertanyaannya dijelaskan dengan jelas. Mereka
mampu mengenali informasi dan melaksanakan langkah-langkah rutin sesuai dengan instruksi
langsung dalam situasi yang terang-terangan. Mereka dapat melakukan tindakan yang hampir
selalu jelas dan langsung mengikuti petunjuk yang diberikan.

2 Para siswa bisa menafsirkan dan mengenali situasi dalam konteks yang memerlukan inferensi
langsung yang sederhana. Mereka dapat mengekstrak informasi yang relevan dari satu sumber dan
menggunakan satu mode representasi. Siswa pada tingkat ini dapat menggunakan algoritma dasar,
rumus, prosedur, atau konvensi untuk menyelesaikan masalah yang melibatkan bilangan bulat.

37
Mereka juga dapat membuat interpretasi harfiah dari hasil.

3 Para siswa mampu mengikuti prosedur yang dijelaskan secara jelas, termasuk yang membutuhkan
keputusan berurutan. Interpretasi mereka cukup masuk akal untuk digunakan sebagai dasar dalam
pembuatan model sederhana atau dalam pemilihan serta penerapan strategi pemecahan masalah
yang sederhana. Siswa pada tingkat ini mampu menafsirkan dan menggunakan berbagai
representasi berdasarkan informasi dari berbagai sumber, serta alasan langsung dari informasi
tersebut. Biasanya, mereka menunjukkan kemampuan dalam menangani persentase, pecahan, dan
angka desimal, serta dalam bekerja dengan hubungan proporsional. Solusi yang mereka hasilkan
mencerminkan keterlibatan mereka dalam interpretasi dan penalaran dasar.

4 Para siswa memiliki kemampuan untuk beroperasi secara efisien dengan model eksplisit untuk
situasi konkret yang kompleks, yang mungkin melibatkan batasan atau membutuhkan asumsi.
Mereka mampu memilih dan menggabungkan berbagai representasi, termasuk simbolis, dan
mengaitkannya langsung dengan aspek-aspek dunia nyata. Siswa pada tingkat ini dapat
menggunakan keterampilan terbatas mereka secara kreatif dan dapat bernalar dengan pemahaman
yang terbatas, terutama dalam konteks yang langsung. Mereka mampu membangun dan
menyampaikan penjelasan serta argumen berdasarkan interpretasi, argumen, dan tindakan mereka.

5 Para siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan menggunakan model dalam
menghadapi situasi yang kompleks, mengidentifikasi kendala, dan membuat asumsi yang

38
diperlukan. Mereka mampu memilih, membandingkan, dan mengevaluasi strategi pemecahan
masalah yang sesuai untuk menangani masalah yang kompleks dan terkait dengan model yang
digunakan. Siswa pada tingkat ini dapat menggunakan keterampilan berpikir dan penalaran yang
luas dan berkembang dengan baik, serta menerapkan representasi yang relevan, termasuk
karakterisasi simbolis dan formal, serta memiliki wawasan yang berhubungan dengan situasi
tersebut. Mereka mulai melakukan refleksi terhadap pekerjaan mereka dan dapat merumuskan
serta menyampaikan interpretasi serta penalaran mereka.

6 Para siswa memiliki kemampuan untuk menghasilkan konsep, menggeneralisasikan, dan


menggunakan informasi yang diperoleh melalui penyelidikan serta pemodelan situasi masalah
yang kompleks, dan mereka dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam konteks yang tidak
biasa. Mereka dapat mengaitkan berbagai sumber informasi dan representasi, serta dengan
fleksibel mengonversi di antara keduanya. Siswa pada tingkat ini memiliki kemampuan untuk
berpikir dan bernalar matematika pada tingkat yang lebih tinggi. Mereka dapat menerapkan
pemahaman dan wawasan mereka, bersama dengan penguasaan operasi dan hubungan
matematika simbolis dan formal, untuk mengembangkan pendekatan dan strategi baru dalam
menghadapi situasi yang baru. Siswa pada tingkat ini dapat merefleksikan tindakan mereka, dan
mereka mampu merumuskan serta menyampaikan dengan tepat tindakan dan refleksi mereka
tentang temuan, interpretasi, argumen, dan relevansinya dengan situasi aslinya.

39
02.04.03 Lembar Kerja Mahasiswa 3 (Literasi Sains pada Tes PISA)

Nama/NIM: Zaimul Afif Mahzum/ 23105260028

Literasi Sains

Mengapa literasi sains dibutuhkan oleh siswa?

Literasi sains melibatkan pemahaman tentang bagaimana pengetahuan tentang ilmu pengetahuan
memengaruhi cara individu berinteraksi dengan dunia dan bagaimana hal itu dapat digunakan untuk
mencapai tujuan yang lebih besar. Kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan informasi secara aktif
dianggap sebagai kompetensi kunci dalam literasi sains.

40
Literasi sains adalah kemampuan untuk terlibat aktif dalam masalah dan ide yang berhubungan dengan sains.
Kompetensi yang diperlukan oleh seseorang yang memiliki literasi dalam sains adalah kemampuan untuk
menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah, dan
menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah. Jelaskan masing-masing kompetensi di bawah ini!

1. Menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah:

Menjelaskan beberapa fenomena ilmiah membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan untuk mengingat
dan menerapkan teori, gagasan penjelas, informasi, dan fakta (pengetahuan konten). Memberikan
penjelasan ilmiah juga memerlukan pemahaman tentang bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh dan
seberapa percaya individu terhadap klaim ilmiah apa pun. Oleh karena itu, individu juga membutuhkan
pemahaman tentang format dan prosedur yang umum digunakan dalam penelitian ilmiah untuk
memperoleh pengetahuan tersebut (pengetahuan prosedural), serta kesadaran akan peran dan fungsi
mereka dalam membenarkan pengetahuan yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan.

2. Mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah:

Literasi sains menekankan perlunya siswa memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan penyelidikan
ilmiah, yakni untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat dipercaya tentang alam. Data yang diperoleh
melalui pengamatan dan eksperimen, baik di laboratorium maupun di lapangan, digunakan untuk
mengembangkan model dan hipotesis penjelasan yang memungkinkan pembuatan prediksi yang
selanjutnya dapat diuji secara eksperimental.

3. Menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah:

41
Menafsirkan data merupakan kegiatan yang esensial bagi semua ilmuwan. Umumnya dimulai dengan
mengidentifikasi pola, seringkali melalui pembuatan tabel sederhana atau representasi grafis. Setiap
korelasi atau pola dalam data kemudian harus diinterpretasikan dengan menggunakan pengetahuan
tentang pola yang umum dikenal.

Terdapat 6 level progress pada literasi sains. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau
melewati level tersebut!

Level Apa yang dapat dilakukan siswa

1b Para siswa bisa menggunakan pengetahuan dasar ilmiah atau pengalaman sehari-hari untuk
mengenali unsur-unsur yang dikenal atau fenomena yang sederhana. Mereka memiliki kemampuan
untuk mengidentifikasi pola yang sederhana dalam data, mengenali istilah ilmiah dasar, dan
mengikuti instruksi secara jelas untuk melaksanakan prosedur ilmiah.

42
1a Para siswa memiliki kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dasar atau pengalaman sehari-
hari serta pemahaman prosedural untuk mengenali atau mengidentifikasi penjelasan fenomena
ilmiah yang sederhana. Dengan bantuan, mereka dapat melakukan penyelidikan ilmiah yang
terstruktur yang melibatkan tidak lebih dari dua variabel. Mereka dapat mengenali hubungan kausal
atau korelasional yang sederhana dan menginterpretasikan data grafis serta visual yang
membutuhkan tingkat pemikiran yang rendah. Siswa pada level 1a dapat memilih penjelasan ilmiah
yang paling sesuai untuk data yang diberikan dalam konteks yang dikenal secara pribadi, lokal, dan
global.

2 Para siswa memiliki kemampuan untuk menggunakan pengetahuan sehari-hari dalam konten dan
pemahaman prosedural dasar untuk mengenali penjelasan ilmiah yang sesuai, mengartikan data, dan
mengenali pertanyaan yang sedang dibahas dalam desain eksperimen yang sederhana. Mereka dapat
menggunakan pengetahuan ilmiah dasar atau sehari-hari untuk menemukan kesimpulan yang valid
dari data yang sederhana. Siswa pada level 2 menunjukkan pemahaman dasar tentang epistemologi
dengan mampu mengenali pertanyaan yang dapat diinvestigasi secara ilmiah.

3 Siswa dapat menggunakan pengetahuan konten yang relatif rumit untuk mengenali atau merancang
penjelasan tentang fenomena yang telah dikenal. Dalam konteks yang kurang dikenal atau lebih
kompleks, mereka dapat membuat penjelasan dengan bantuan atau dukungan yang relevan. Mereka
bisa menggunakan elemen pengetahuan prosedural atau epistemik untuk melakukan eksperimen
yang sederhana dalam situasi yang terbatas. Siswa pada level 3 memiliki kemampuan untuk

43
memisahkan antara masalah-masalah yang bersifat ilmiah dan yang bukan ilmiah serta
mengidentifikasi bukti yang mendukung klaim ilmiah.

4 Siswa memiliki kemampuan untuk menggunakan pengetahuan konten yang lebih kompleks atau
abstrak, baik yang disediakan maupun diingat, untuk mengembangkan penjelasan tentang peristiwa
dan proses yang lebih rumit atau kurang dikenal. Mereka dapat melaksanakan eksperimen yang
melibatkan dua atau lebih variabel independen dalam batasan tertentu. Mereka mampu
membenarkan desain eksperimental mereka dengan mengandalkan elemen pengetahuan prosedural
dan epistemik. Siswa pada level 4 dapat menginterpretasikan data yang berasal dari kumpulan data
yang cukup kompleks atau dalam konteks yang kurang dikenal, menghasilkan kesimpulan yang
tepat yang melampaui data tersebut, dan memberikan alasan untuk pilihan mereka.

5 Para siswa memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan ide atau konsep ilmiah yang abstrak untuk
menjelaskan fenomena, peristiwa, dan proses yang kompleks dan tidak dikenal, yang melibatkan
banyak hubungan sebab akibat. Mereka mampu menggunakan pengetahuan epistemik yang canggih
untuk mengevaluasi berbagai desain eksperimental alternatif dan memberikan alasan atas pilihan
mereka, serta memanfaatkan pengetahuan teoretis untuk menafsirkan informasi atau membuat
prediksi. Siswa pada level 5 memiliki kemampuan untuk menilai cara-cara untuk menyelidiki
pertanyaan ilmiah yang diberikan dan mengenali batasan dalam menginterpretasi kumpulan data,
termasuk sumber dan dampak ketidakpastian dalam data ilmiah.

44
6 Para siswa memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai ide dan konsep ilmiah yang
terkait dari berbagai cabang ilmu seperti fisika, kehidupan, bumi, dan ruang angkasa. Mereka
menggunakan pengetahuan konten, prosedural, dan epistemik untuk mengemukakan hipotesis
penjelas tentang fenomena ilmiah baru, peristiwa, atau proses, serta untuk membuat prediksi. Dalam
proses menafsirkan data dan bukti, mereka mampu membedakan informasi yang relevan dari yang
tidak relevan, dan mereka dapat mengaplikasikan pengetahuan di luar kurikulum sekolah biasa.
Mereka juga mampu membedakan antara argumen yang berdasarkan bukti dan teori ilmiah dengan
yang berdasarkan pertimbangan lain. Siswa pada level 6 memiliki kemampuan untuk mengevaluasi
desain eksperimen yang kompleks, studi lapangan, atau simulasi yang bersaing, serta memberikan
justifikasi atas pilihan mereka.

45
02.04.04 Lembar Kerja Mahasiswa 4 (Literasi Finansial pada tes PISA)

Nama/NIM: Zaimul Afif Mahzum/ 23105260028

Literasi Finansial

Mengapa literasi finansial dibutuhkan oleh siswa?

Literasi keuangan merujuk pada beragam pengetahuan dan kemampuan yang berkaitan dengan meningkatkan
kapasitas untuk mengelola kebutuhan keuangan sehari-hari dan menghadapi ketidakpastian masa depan
dalam masyarakat modern.

Seseorang yang memiliki literasi finansial adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman
mengenai konsep dan resiko finansial. Selain itu, dia juga memiliki kemampuan, motivasi dan kepercayaan diri
untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahamannya untuk membuat keputusan yang efektif pada berbagai
konteks masalah-masalah finansial. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu
maupun masyarakat. Literasi finansial juga memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi.
Jelaskan apa makna dari istilah-istilah berikut ini:

1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial:

Literasi keuangan secara fundamental melibatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar dalam dunia
keuangan, termasuk konsep utama keuangan dan karakteristik serta tujuan produk keuangan dasar. Ini

46
juga melibatkan pemahaman tentang risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas keuangan serta
perlindungan melalui asuransi dan rencana pensiun. Diharapkan bahwa pada usia 15 tahun, individu
mulai memperoleh pemahaman ini dan mendapatkan pengalaman dalam lingkungan keuangan yang
mereka dan keluarga mereka hadapi, serta risiko utama yang terkait. Kebanyakan dari mereka
kemungkinan telah melakukan pembelian barang rumah tangga atau pribadi, dan sebagian telah terlibat
dalam percakapan keluarga tentang manajemen uang dan pertimbangan atas kebutuhan dan kemampuan
keuangan. Beberapa juga mungkin telah memiliki pengalaman dengan produk keuangan melalui
rekening bank atau kontrak telepon. Pemahaman konsep seperti bunga, inflasi, dan nilai uang menjadi
semakin penting bagi kesejahteraan keuangan mereka.

2. Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial:

PISA memfokuskan pada kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan pemahamanmdalam situasi
kehidupan sehari-hari daripada sekadar mengulang pengetahuan yang telah dipelajari. Dalam menilai
literasi keuangan, ini diartikan sebagai kemampuan generasi muda untuk menerapkan apa yang mereka
pelajari tentang keuangan pribadi dalam pengambilan keputusan yang efektif. "Keputusan yang efektif"
dalam konteks ini merujuk pada keputusan yang dibuat secara terinformasi dan bertanggung jawab, yang
memenuhi kebutuhan yang spesifik.

3. Motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial:

Motivasi dan keyakinan dalam menerapkan pengetahuan dan pemahaman keuangan: Literasi keuangan
tidak hanya melibatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan dalam mengelola masalah

47
keuangan, tetapi juga aspek non-kognitif, seperti motivasi untuk mencari informasi dan nasihat
keuangan, serta keyakinan untuk terlibat dalam aktivitas keuangan dan kemampuan untuk mengelola
emosi serta faktor psikologis yang mempengaruhi pengambilan keputusan keuangan. Atribut ini
dianggap penting dalam pendidikan keuangan dan berperan dalam membangun pengetahuan dan
keterampilan keuangan.

4. Berbagai konteks masalah-masalah finansial:

Keputusan keuangan yang efektif dapat mencakup berbagai aspek keuangan yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari dan pengalaman generasi muda saat ini, serta langkah-langkah yang kemungkinan
akan mereka ambil dalam waktu dekat saat menjadi dewasa. Misalnya, generasi muda mungkin saat ini
membuat keputusan keuangan yang relatif sederhana seperti bagaimana mengelola uang saku atau
memilih paket telepon seluler, tetapi mereka mungkin akan segera dihadapkan pada keputusan yang
lebih berdampak dalam hal pendidikan dan karier dengan implikasi keuangan jangka panjang.

5. Meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat:

Literasi keuangan pribadi atau rumah tangga dibedakan dari literasi ekonomi yang mencakup konsep-
konsep seperti teori penawaran dan permintaan, serta struktur pasar. Literasi keuangan terkait dengan
cara individu memahami, mengelola, dan merencanakan keuangan mereka sendiri dan rumah tangga
mereka, yang seringkali mencakup keluarga mereka. Namun, diakui bahwa pemahaman, manajemen,
dan perencanaan keuangan yang baik oleh individu memiliki dampak kolektif pada masyarakat yang

48
lebih luas, berkontribusi pada stabilitas nasional dan bahkan global, produktivitas, dan pembangunan.

6. Memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi:

Literasi keuangan menyoroti peran penting individu sebagai anggota masyarakat yang cerdas dan aktif.
Individu yang memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi lebih siap untuk membuat keputusan yang
menguntungkan bagi diri mereka sendiri, serta untuk berpartisipasi secara positif dalam memberikan
dukungan dan kritik terhadap ekonomi di lingkungan tempat tinggal mereka.

49
50
51
52
53
54
55
3. Aksi Nyata Topik 3

SEL.09.2-T3-12 Aksi Nyata

1. Pengalaman menarik apa saja yang Anda dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk
menyelesaikan berbagai jenis persoalan? Anda bisa menceritakan keberhasilan dan
kegagalan yang Anda alami dalam mempelajari topik ini.
2. Apakah terjadi perubahan cara berpikir yang Anda alami setelah mempelajari topik CT
dalam problem solving?
3. Apakah ada perbaikan yang dapat Anda lakukan terhadap cara mengajar Anda nantinya
setelah mempelajari topik CT dalam problem solving?

Jawaban
1. Pengalaman menarik yang saya alami ketika mengimplementasikan CT
adalah penyelesaian berbagai jenis persoalan yang saya hadapi dengan menggukan urutan
CTsecara sistematis. Keberhasilan yang saya alami ketika mempelajari CT adalah saya
bisalebih berfikir sistematis dalam memecahkan sebuah permasalahan yang
[Link] yang saya alami adalah ketika saya tidak bisa memilah masalah
melaluilangkha-langkah dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. akan
tetapisetelah saya ulangi dan terus belajar saya menjadi lebih paham dan terbiasa
menggunakan berpikir komputasi dalam setiap persoalan yang saya hadapi
2. Iya, terjadi banyak perubahan dengan cara berpikir saya khususnya dalam hal
problemsolving. Saya bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih efektif dan
efisien,termasuk mengevaluasi dan memecahkan masalah secara sistematis,
mengeksplorasisolusi alternatif, dan mengevaluasi hasil akhir.
3. Setelah mempelajari topik CT dalam problem solving, saya dapat mengevaluasi
danmengevaluasi cara mengajar saya untuk memastikan bahwa saya menyediakan
contohyang beragam dari masalah yang dapat dipecahkan dengan menggunakan CT
danmemberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menggunakan metode CT
dalamsituasi yang berbeda. Saya juga dapat menyediakan umpan balik yang berkualitas
tinggi

56
D. TOPIK 4.( CT DAN PROYEK)

Dalam sebuah proyek, CT dapat membantu dan menyelesaikan masalah dengan lebih
efektif dan efisien. Pendekatan ini dapat membantu dalam mengorganisir data yang terkait
dengan proyek , membuat rencana atau algoritma untuk menyelesaikan masalah yang ditemui
serta mengimplementasikan solusi tersebut dalam bentuk yang mudah dimengerti.
Pengalaman yang saya dapatkan setelah mempelajari topik ini adalah dari proses
pembelajaran integrasi CT ke dalam proyek STEM adalah dapat menganalisis komponen apa
saja yang ada di proyek STEM ke dalam pembelajaran. Namun dalam prosesnya terdapat
beberapa kendala sehingga hal itu menjadi tantangan dalam pembelajaran kali ini.
Rencana yang akan saya lakukan dalam mengintegrasikan CT dalam proyek STEM di
kelas adalah memberikan pemahaman kepada peserta didik akan proyek STEM, Mengajarkan
kepada peserta didik mengenai Proyek STEM yang diintegrasikan dengan CT serta bersama-
sama dengan peserta didik untuk membuat dan mengerjakan proyek STEM dalam pembelajaran
menggunakan langkah-langkah 4 fondasi CT dalam proses pemecahan masalahnya.

1. Ruang Kolaborai Topik 4


Nomor Kelompok 1

Anggota Kelompok
1. Amri „Inayah

2. Dinnaasa Aprillia Fatonah

3. Dita Rahmayanti

4. Indah Trihandayani

5. Neli Hayati

6. Zaimul Afif Mahzum

Judul Proyek STEM yang Penyaringan Air


Dipilih

57
Sumber Agustina, Dewi., Mugara, Ronny., Rohmalina. 2020.
Pembelajaran STEM Pada Pembuatan Instalasi
Penjernihan Menggunakan Botol Plastik Air Mineral
Untuk Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini.
Jurnal Ceria. Vol 3 (4) : 323-328.

Deskripsi Singkat tentang Penerapan STEM dalam pembuatan Penyaringan Air


Proyek STEM yang Dipilih dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Science
Peserta didik dapat mengidentifikasi bahan yang dapat
digunakan untuk penyaringan air.
2. Technology
Peserta didik dibimbing melalui video yang
ditampilkan dengan LCD dan Proyektor
3. Engineering
Peserta didik merancang prosedur pembuatan
Penyaringan Air serta menerapkan berbagai teknik
dalam melaksanakan prosedur tersebut seperti
menyiapkan alat dan bahan, menyusun penyaringan
air sesuai dengan urutan, menguji coba penyaringan
air, dan evaluasi cara kerja penyaringan air.
4. Mathematics
 Peserta didik dapat mengetahui jumlah bahan yang
dibutuhkan dalam membuat alat penyaring air.
 Peserta didik dapat menghitung jumlah volume air
dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan
proses penyaringan.

58
Nomor Kelompok 1

Anggota Kelompok
1. Amri „Inayah
2. Dinnaasa Aprilia Fatonah
3. Dita Rahmayanti
4. Indah Trihandayani
5. Neli Hayati
6. Zaimul Afif Mahzum

Nama Proyek Penyaringan Air

Deskripsi Singkat Proyek Pada kegiatan ini, peserta didik memanfaatkan alat dan
bahan yang telah disediakan untuk penyaringan air.
Peserta didik belajar memanfaatkan bahan-bahan
sederhana yang ada di sekitar lingkungan.

Outline Proyek ● Minggu 1 - 2 : peserta didik mengidentifikasi


bahan-bahan yang digunakan untuk menyaring
air.
● Minggu 3 - 4 : peserta didik merancang dan
mengujicoba alat penyaring air.

Tujuan Pembelajaran Peserta didik dapat mengidentifikasi bahan yang


digunakan untuk menyaring air sehingga mampu
merancang alat penyaring air dan diharapkan mampu
dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Driving Question Bagaimana cara merancang alat penyaring air? Apa saja
alat dan bahan yang digunakan untuk membuat alat
penyaring air?

Produk Akhir Sebuah rancangan alat penyaring air.

Hands-on Activities Perancangan alat penyaring air.

59
Asesmen Peserta didik dapat merancang alat penyaring air
sederhana menggunakan alat dan bahan yang ada di
lingkungan sekitar.

Resources yang Dibutuhkan Botol air mineral 1500ml, kerikil, air, pasir, dan serabut
kelapa.

Integrasi CT dalam proyek Abstraksi: Peserta didik mampu mengidentifikasi bahan


STEM (Baek et al., 2021) yang dapat digunakan untuk penyaringan air

Algoritma:Peserta didik menyiapkan alat dan bahan


yang akan digunakan, dan menentukan langkah-langkah
dalam merancang penyaring air sederhana sesuai dengan
urutan. kemudian peserta didik juga melakukan uji coba
alat yang telah dibuat serta mengevaluasi cara kerja
penyaring air sederhana.

Komunikasi: Peserta didik mempresentasikan hasil


karya atu hasil proyek yang telah dibuatnya serta
mendemonstrasikan penyaring air yang telah dibuat.

Conditional Logic: peserta didik mampu menerapkan


logika kondisional dalam mendesain penyaring air
sederhana, yaitu memanfaatkan bahan-bahan seperti
kerikil, pasir, dan serabut kelapa yang digunakan untuk
proses penyaringan air sederhana, misalnya : jika bahan
yang digunakan kurang tepat maka akan
mempengaruhi……

Pengumpulan Data: mengumpulkan data hasil uji coba


penyaring air sederhana

60
Struktur Data, Analisis dan Representasi Data:
mengumpulkan data hasil demonstrasi untuk
menyimpulkan alat, bahan, cara kerja, dan hasil yang
didapat dari penyaring air sederhana.

Dekomposisi: Peserta didik mampu memetakan masalah


pada proses penyaringan air sederhana seperti pra
penyaringan, tahap penyaringan, dan pasca penyaringan.

Pengenalan Pola:

1. peserta didik mampu mengetahui tingkat kekeruhan


air

2. peserta didik mengetahui efektifitas bahan yang


digunakan dalam proses penyaringan air sederhana.

3. Peserta didik mengetahui pola susunan bahan yang


digunakan dalam membuat penyaring air sederhana.

Pemodelan dan Simulasi: Peserta didik mampu


menggunakan pemodelan dan simulasi dari rancangan
penyaring air sederhana yang telah diibuat untuk
dilakukan uji coba.

Sebelum diintegrasikan dengan CT Sesudah Diintegrasikan dengan CT

Proyek STEM sebelum diintegrasikan Sedangkan setelah diintegrasikan dengan


dengan CT biasanya hanya fokus pada CT, proyek STEM menjadi lebih terarah dan
aplikasi teknologi tanpa mempertimbangkan komprehensif dalam menyelesaikan
kebutuhan dari suatu permasalahan atau masalah, karena CT membantu mengatur
konteks tertentu. cara berpikir dan merancang algoritma
untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hal

61
ini memungkinkan proyek STEM untuk
lebih fokus pada solusi yang tepat dan
efektif.

Secara keseluruhan proyek STEM sebelum Setelah diintegrasikan dengan CT proyek


diintegrasikan dengan CT, proyek STEM dijabarkan dengan cukup kompleks, proyek
hanya dijabarkan dengan cukup sederhana STEM juga menjadi lebih efektif dalam
mengembangkan kemampuan pemecahan
masalah dan keterampilan berpikir tingkat
tinggi pada peserta didik. Integrasi ini dapat
membantu peserta didik belajar bagaimana
memecahkan masalah secara sistematis dan
logis.

Proyek berjalan secara normal, belum Pemaparan proyek lebih mudah


memiliki gambaran secara terperinci akan dilaksanakan, terlihat lebih sistematis, dan
bentuk seperti apa proyek tersebut, hanya teratur, mulai dari proses awal sampai akhir,
ulasan sekilas. tujuan serta proyek terlihat tepat sasaran dan
substansial

Prosesnya masih belum terarah dan belum Proses pembuatan proyek sudah terarah dan
jelas alurnya. sesuai dengan langkah-langkah fondasi CT

2. Aksi Nyata Topik 4

SEL.09.2-T4-7. Aksi Nyata

1. Pengalaman apa saja yang Anda dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam
proyek STEM?
2. Bagaimana perasaan Anda pada saat mengerjakan modul ini?
3. Jelaskan bagaimana rencana Anda dalam mengintegrasikan CT di dalam proyek STEM di
kelas yang Anda ajar kelak.

Jawaban:

1. Pengalaman yang saya dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam proyek
STEM (Science, Technology, Engineering and Math) yaitu mengetahui bahwa dengan
mengimplementasikan CT ke dalam proyek STEM pembelajaran lebih terstruktur dan
lebih mudah dipahami. Merancang prototype untuk dikembangkan terhadap kemampuan

62
peserta didik pada aspek kognitf, psikomotor dan afektif. Sebelum mengintegrasikan
proyek STEM pada pembelajaran berdiferensiasi. Dengan mengintegrasikan CT maka
proyek STEM yang akan dibuat mudah di selesaikan dengan membagi hal-lul yang
kompleks menjadi masalah yang kecil dan hanya berfokus pada hal penting sehingga
dapat membantu mencapai tujuan pembelajaran.
2. Perasaan saya ketika mengerjakan modul ajar ini saya berkeyakinan bahwa saya mampu
mengintegrasikan CT terhadap proyek STEM pada saat PPL yang akan
diimplementasikan pada proses pembelajaran. Saya juga merasakan modul ini membuat
saya untuk berpikir kreatif tentang rancangan prototip yang relevan untuk peserta didik
pada proyek STEM yang berbasis CT.
3. Rencana dalam mengintegrasikan CT di dalam proyek STEM di kelas yang akan di ajar
kelak, sebagai berikut:
 Menentukan proyek STEM yang akan dibuat
 Memetakan rencana proyek STEM dengan memenuhi unsur nama proyek deskripsi
singkat proyek, outline, tujuan pembelajaran, driving question. produk akhir,
handson activities, asesmen, dan resource yang dibutuhkan
 Mendefinisikan komponen-komponen CT yang lebih luas dari fondasi CT
 Menempatkan berbagai komponen CT ke dalam proyek STEM.
 Menerapkan proyek STEM yang telah direncanakan.

63
E. TOPIK 5 (CT DALAM MATA PELAJARAN)

Integrasi CT dalam mata pelajaran adalah pendekatan dalam pembelajaran yang


mengajarkan siswa untuk berpikir secara komputasional dalam memecahkan masalah.
Pendekatan ini melibatkan penggunaan pemikiran sistematis, logika, dan algoritma untuk
memecahkan masalah dan mengembangkan solusi yang efektif.
Pengalaman yang saya dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam mata
pelajaran yang saya ampu yaitu dengan mengerjakan aktivitas-aktivitas yang ada pada modul ini
dapat melatih diri saya untuk berpikir kritis, logis, serta terstruktur dan Menyusun segala
pemecahan masalah yang efektif, efisien, dan lebih optimal, khususnya dalam melakukan
langkah-langkah pada kegiatan belajar mengajar. Serta pemahaman yang saya peroleh mengenai
CT semakin mendalam, hal ini kaitannya dengan pengintegrasian CT ke dalam mata pelajaran
yang saya ampu sebagai salah satu pilihan penerapan/pengaplikasian pemikiran CT tersebut.
1. Ruang olaborasi Topik-5

NIM/nama anggota 1: 1. Amri „Inayah (23105260633)


NIM/nama anggota 2: 2. Dinnaasa Aprillia Fatonah (23105260074)
3. Dita Rahmayanti (23105260694)
4. Indah Trihandayani (23105260230)
5. Neli Hayati (23105260336)
6. Zaimul Afif Mahzum (23105260028)

Mata pelajaran: IPAS

Materi ajar: Sumber Daya di Indonesia

Tujuan pembelajaran: Melalui aktivitas pengamatan lingkungan sekitar, peserta didik


mengidentifikasi dan menunjukan kekayaan alam yang ada
disekitarnya dan merefleksikannya terhadap kekayaan di Indonesia.
Deskripsi penyampaian Penyampaian materi sebelum integrasi CT yaitu melalui peta
materi sebelum integrasi persebaran flora di Indonesia dan menggunakan lembar kerja peserta
CT didik.

64
Deskripsi penyampaian Penyampaian materi setelah integrasi CT yaitu :
materi setelah integrasi
1. Peserta didik membuat media pembelajaran flash card flora
CT
dan fauna di Indonesia dengan bahan tertentu
2. Guru memberikan arahan penggunaan aplikasi plickers
untuk asesmen pembelajaran

Penjelasan konsep CT 1. Dekomposisi


yang diintegrasikan pada
materi ajar Peserta didik membagi alat dan bahan yang digunakan dalam
membuat flash card.

2. Pengenalan pola

Peserta didik mengelompokkan flora dan fauna berdasarkan


persebarannya (wilayah timur, tengah, dan barat)

3. Abstraksi

Peserta didik hanya berfokus pada flora dan fauna


berdasarkan persebarannya.

4. Algoritma
Peserta didik mengikuti langkah-langkah dalam pembuatan
flash card, seperti berikut :

 Menyiapkan alat dan bahan


 Memotong kardus dan gambar sesuai ukuran kartu.
 Menempelkan gambar ke kardus yang sudah
dipotong.

Tuliskan perbedaan yang terdapat pada materi ajar yang belum diintegrasikan dengan CT dan
materi ajar yang telah diintegrasikan dengan CT!

65
Perbedaan yang terdapat pada materi ajar yang belum diintegrasikan dengan CT dan materi ajar
yang telah diintegrasikan dengan CT yaitu penyampaian materi sebelum integrasi CT melalui
peta persebaran flora di Indonesia dan menggunakan lembar kerja peserta didik. Sedangkan
penyampaian materi setelah integrasi CT yaitu peserta didik membuat media pembelajaran
flash card flora fauna di Indonesia dengan bahan tertentu dan menggunakan aplikasi plickers
untuk asesmen pembelajaran.

66
NIM/nama anggota 1: 1. Amri „Inayah (23105260633)
NIM/nama anggota 2: 2. Dinnaasa Aprillia Fatonah (23105260074)
3. Dita Rahmayanti (23105260694)
4. Indah Trihandayani (23105260230)
5. Neli Hayati (23105260336)
6. Zaimul Afif Mahzum (23105260028)

Mata pelajaran: Bahasa Indonesia

Materi ajar: Teks Prosedur

Tujuan pembelajaran: 1. Melalui kegiatan menceritakan kembali isi teks, peserta didik
dapat menyebutkan ide pokok dan ide pendukung pada teks
dengan benar. Modul Ajar Bahasa Indonesia SD Kelas 4
2. Melalui kegiatan berkreasi, peserta didik membuat kreasi
celengan dari bahan bekas yang berada di sekitar lingkungan
peserta didik.
3. Melalui kegiatan berkreasi dengan membuat celengan,
peserta didik dapat menulis teks prosedur dengan baik.
4. Melalui kegiatan menulis teks prosedur, peserta didik dapat
menulis kalimat dengan baik sesuai kaidah Bahasa Indonesia.
Deskripsi penyampaian Penyampaian materi sebelum diintegrasikan dengan CT hanya
materi sebelum integrasi melalui bahan bacaan. Selain itu, guru juga belum
CT menjelaskan struktur teks prosedur dan langkah-langkah pembuatan
teks prosedur.

Deskripsi penyampaian Setelah diintegrasikan dengan CT :


materi setelah integrasi
1. Guru memberikan pertanyaan pemantik
CT
2. Guru menjelaskan struktur teks prosedur

67
3. Guru menjelaskan mengenai langkah-langkah membuat teks
prosedur menggunakan media kuis interaktif menyusun teks
prosedur
4. Peserta didik membuat celengan berdasarkan teks prosedur
yang telah disusun.

Penjelasan konsep CT 1. Dekomposisi


yang diintegrasikan
Peserta didik mengetahui struktur teks prosedur yaitu:
pada materi ajar

a. Judul
b. Tujuan
c. Alat dan bahan
d. Langkah-langkah
2. Pengenalan pola

Peserta didik mampu mengelempokkan bagian-bagian ke


dalam struktur teks prosedur

3. Abstraksi
a. Peserta didik menentukan langkah praktis menulis
teks prosedur yang tepat
b. Peserta didik menentukan langkah praktis dalam
pembuatan proyek dari teks prosedur yang telah
dibuat.
4. Algoritma
a. Membuat teks prosedur terkait celengan dari barang
bekas
b. Menyiapkan alat dan bahan pembuatan celengan
c. Membuat kreasi celengan dari barang bekas

Tuliskan perbedaan yang terdapat pada materi ajar yang belum diintegrasikan dengan CT dan
materi ajar yang telah diintegrasikan dengan CT!

68
Perbedaan yang terdapat pada materi ajar yang belum diintegrasikan dengan CT dan materi
ajar yang telah diintegrasikan dengan CT yaitu penyampaian materi sebelum integrasi CT
hanya melalui bahan bacaan. Selain itu, guru juga belum menjelaskan struktur teks prosedur
dan langkah-langkah pembuatan teks prosedur. Sedangkan penyampaian materi setelah
integrasi CT yaitu guru menyampaikan struktur teks prosedur dan menjelaskan mengenai
langkah- langkah membuat teks prosedur menggunakan media kuis interaktif menyusun teks
prosedur. Selain itu, langkah-langkah pembelajaran sudah sesuai dengan fondasi CT.

69
2. Demonstrasi Kontekstual

NIM / Nama anggota 1. Regita Hidayatun Ni‟mah / 23105260056


2. Tihfani Astuti / 23105260114
Kelompok yang presentasi:
3. Nila Zakiyatul M / 23105260428
4. Fajar Mustofa / 23105260343
5. Laeli Ma‟fumah / 23105260279

NIM / Nama anggota 1. Amri „Inayah (23105260633)


2. Dinnaasa Aprillia Fatonah (23105260074)
Kelompok yang memberikan
3. Dita Rahmayanti (23105260694)
evaluasi:
4. Indah Trihandayani (23105260230)
5. Neli Hayati (23105260336)
6. Zaimul Afif Mahzum (23105260028)

Mata pelajaran: IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial)

Materi ajar: Perubahan wujud membeku dan mencair

Ide baru yang didapatkan Sebelum CT dalam proses peserta didik hanya menonton
terkait integrasi CT di dalam vidio Iklan. Setelah materi ajar diintegrasikan ke CT
peserta didik mengetahui langkah-langkah proses
mata pelajaran:
pembuatan iklan dan mampu membuat iklan sederhana

Evaluasi/saran untuk 1. Penyampaian materi pembelajaran belum


kelompok yang sedang terintegrasi dengan CT
presentasi: 2. Belum terdapat modifikasi dari materi
pembelajaran sebelum dan sesudah diintegrasikan
dengan CT
3. Bagian dekomposisi pada penjabaran CT belum
sesuai dengan CT karena contoh kegiatan atau
instruksi yang diberikan kurang rinci.
4. Bagian pengenalan pola pada penjabaran CT belum

70
sesuai dengan CT karena contoh yang diberikan
mengarah pada proses pembelajaran bukan pada
materi ajar.
5. Sebaiknya terdapat kejelasan skenario langkah pada
bagian abstraksi.
6. Bagian alogaritma hanya fokus terhadap langkah-
langkah kegiatan pembelajaran, bukan pada proses
pemecahan masalah mengenai materi ajar.

NIM / Nama anggota 1. Rachel Theresia Hutagalung (23105260256)


2. Intan Ani Purnama (23105260629)
Kelompok yang presentasi:
3. Siti Nuri Muslimah (23105260457)
4. Nur Maqfirah (23105260459)
5. Leni Maulisa (23105260695)
6. Efendi (23105260054)

NIM / Nama anggota 1. Amri „Inayah (23105260633)


2. Dinnaasa Aprillia Fatonah (23105260074)
Kelompok yang memberikan
3. Dita Rahmayanti (23105260694)
evaluasi:
4. Indah Trihandayani (23105260230)
5. Neli Hayati (23105260336)
6. Zaimul Afif Mahzum (23105260028)

Mata pelajaran: Bahasa Indonesia

Materi ajar: Pantun

Ide baru yang didapatkan Sebelum diintegrasikan CT materi ajar hanya


terkait integrasi CT di dalam menggunakan buku bacaan atau proses pembelajaran
monoton. Sedangkan setelah materi ajar diintegrasikan

71
mata pelajaran: kedalam CT, peserta didik dapat mengenal pantun dari
tokoh fiksi anak² yaitu "jarjit" dan peserta didik mampu
mengelompokkan pantun berdasarkan jenis dan bentuknya

Evaluasi/saran untuk 1. Bagian dekomposisi sebaiknya peserta didik


kelompok yang sedang mampu mengetahui ciri-ciri dari pantun
presentasi: dibandingkan menentukan dan mengelompokkan
bentuk pantun dari tokoh jarjit karena bentuk
pantun jarjit tidak berkaitan pada pembahasan
selanjutnya.
2. Pada bagian algoritma sebaiknya dijelaskan
bagaimana langkah-langkah peserta didik dalam
mengelompokkan pantun.

72
3. Aksi Nyata Topik 5
T5-8. Aksi Nyata Computatioanal Thinking

1. Pengalaman apa saja yang Anda dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam
mata pelajaran yang Anda ampu? Apakah ada kendala yang Anda hadapi?
2. Bagaimana perasaan Anda pada saat mengerjakan modul ini?

Jawaban:

1. Sebagai seorang calon guru yang sedang melakukan integrasi Computational Thinking
(CT) ke dalam mata pelajaran yang saya ampu, saya telah mendapatkan beberapa
pengalaman berharga. Salah satunya adalah meningkatnya minat dan keterlibatan siswa
dalam pembelajaran karena pendekatan yang lebih interaktif dan terlibat dalam
menerapkan CT. Siswa lebih terlibat dalam menyelesaikan masalah, menerapkan
algoritma, dan melakukan analisis data, yang telah meningkatkan keterampilan berpikir
kritis dan kreativitas mereka. Namun, saya juga menghadapi beberapa kendala, terutama
terkait dengan kesiapan saya sendiri dalam memahami dan mengimplementasikan konsep
CT secara efektif. Saya membutuhkan waktu tambahan untuk belajar dan berkembang
dalam hal ini.
2. Saya merasa sangat termotivasi dan bersemangat saat mengerjakan modul ini.
Memikirkan pengalaman saya dalam mengintegrasikan Computational Thinking ke
dalam pembelajaran mata pelajaran, serta merenungkan tantangan dan pencapaian yang
telah saya alami, memberi saya kesempatan untuk merefleksikan proses pembelajaran
yang telah saya lalui. Selain itu, merancang modul ini juga merupakan kesempatan bagi
saya untuk membagikan pengalaman saya kepada orang lain dan berharap dapat
memberikan inspirasi atau wawasan bagi mereka yang tertarik untuk mengintegrasikan
CT ke dalam pembelajaran mereka. Dengan demikian, secara keseluruhan, saya merasa
puas dan bersemangat untuk terus berkontribusi dalam memajukan pendidikan yang
berbasis Computational Thinking.

73
Bab III
POST-RESTRUKTURISASI PORTOFOLIO

No Pertanyaan Reflektif Jawaban

 Abstraksi : digunakan untuk mengidentifikasi


ide-ide umum dalam memecahkan masalah serta
mengurangihal-hal yang tidak penting
 Algoritma : digunakan untuk mengembangkan
Fondasi CT apa sajakah yang prosedur atau Langkah- langkah yang sistematis
Anda gunakan dalam untuk menyelesaikan masalah restrukturisasi
restrukturisasi portofolio Anda? portofolio dan mencapai tujuan
1.
Jelaskan pada bagian mana saja  Dekomposisi : digunakan untuk membagi
fondasi CT tersebut masalah restrukturisasi portofolio menjadi
dimanfaatkan! bagian yang lebih kecil dan lebih mudah
dipahami
 Pengenalan Pola: digunakan untuk
mengidentifikasi pola yang terkait dengan
restrukturisasi portofolio

Menurut saya, portofolio yang saya susun


sudahterdekomposisi dengan baik. Karena
portofolio yang saya buat sudah memenuhi
beberapa syaratberikut ini :
Secara struktur, apakah
2. portofolio Anda sudah  Strukturnya jelas, setiap topik yang saya
terdekomposisi dengan baik? cantumkan dalam portofolio ini memiliki
hubungan yang erat dengan tujuan dari tiap
topik pembahasannya
 Setiap bagiannya dijelaskan secara spesifik
Sudah disesuaikan dengan kebutuhan dan
tujuan yang diinginkan

74
No Pertanyaan Reflektif Jawaban

 Terdapat kemajuan di setiap


transisitopiknya
 Portofolio sudah dilengkapi dengan
refleksi

Menurut saya, portofolio yang saya susun


sudah terabstraksi dengan baik, karena
portofolio ini sudah memenuhi beberapa syarat
seperti berikut :

Apakah setiap bagian dari  Sudah menggambarkan konsep umum /


3. portofolio Anda telah prinsip dasar yang terkait dengan topik
terabstraksi dengan baik? tertentu
 Sudah menerapkan pada situasi yang
berbeda dan tidak hanya terbatas pada satu
proyek tertentu
 Memiliki kerangka konseptual
 Tidak mencantumkan hal yang tidak
penting

Apakah secara keseluruhan


Ya, sudah terabstraksi dengan baik karena sudah
4. portofolio Anda telah
memenuhi syarat yang sudah dijelaskan diatas
terabstraksi dengan baik?

Apakah kalimat, gambar atau


sajian lainnya diuraikan secara
Ya, sudah diuraikan secara runtut, jelas, dan
5. runut, jelas, sistematis dalam
sistematis dalam bahasa yang mudah dipahami
bahasa yang mudah dipahami
pembacanya?

75
No Pertanyaan Reflektif Jawaban

Apakah Anda merasa puas


Ya, saya merasa puas dengan portofolio saya
dengan portofolio Anda?
6. karena saya telah Menyusun portofolio ini sesuai
Jelaskan alasan dari jawaban
dengan apa yang selama ini telah saya pelajari
Anda!

Hal baru yang saya dapatkan dari penyusunan


portofolio ini adalah :

 Pemahaman mendalam mengenai cara


Hal baru apa saja yang Anda Menyusun portofolio mengenai
7 peroleh dari penyusunan Computational Thinking yang baik
portofolio ini?  Memahami pola dan sistematika dalam
penyusunan portofolio Mengetahui
keterampilan yang saya miliki selama
perkuliahan khususnya untuk mata kuliah
Computational Thinking

Rencana Tindakan nyata saya dalam penerapan


CT dalam mata pelajaran yang saya ampu,
sebagaiberikut :
Mengacu ke mata pelajaran
 Menekankan pada pemahaman
yang akan Anda, ampu, apa
konsep dasar, misalnya memberikan
rencana tindakan nyata saya
8. pertanyaanreflektif di akhir
dalam penerapan CT dalam
pembelajaran
mata pelajaran yang saya ampu
 Mendorong siswa untuk
?
mengembangkanaktivitas dan
keterampilan mereka dalam
memecahkan masalah. Melalui
identifikasimasalah, memahami

76
No Pertanyaan Reflektif Jawaban

informasi yang relevan dan


mengembangkan solusi dari masalah
tersebut
 Meningkatkan aktivitas diskusi dan
kolaborasi serta membantu siswa dalam
memahami konsep dan mengeksplorasi
masalah

77

Anda mungkin juga menyukai